Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 10, 2020

Agama Jahudi

Agama Yahudi atau Yudaisme (dari kata Ibrani יהודה, Yehudah ) adalah agama asli bangsa Yahudi, yang merangkum seluruh tradisi dan peradaban religi, budaya, maupun hukum bangsa Yahudi.  Bagi umat Yahudi yang taat, agama Yahudi adalah ungkapan nyata dari perjanjian antara Tuhan dan Bani Israel. Agama ini menyimpan khazanah susastra, amalan, wawasan teologi, dan tatanan organisasi yang kaya. Kitab Taurat adalah bagian dari khazanah susastra yang terdiri atas kumpulan Tanak atau Alkitab Ibrani, dan kumpulan tradisi tutur yang baru dibukukan kemudian hari, semisal Midras dan Talmud. Dengan jumlah pemeluk sekitar 14,5 sampai 17,4 juta jiwa, Agama Yahudi menempati peringkat ke-10 dalam daftar agama besar dunia.

 

Ada bermacam-macam mazhab dalam agama Yahudi, kebanyakan berpangkal dari mazhab Yahudi Rabani, yang yakin bahwa Tuhan mewahyukan syariat dan titah-titah-Nya kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dari masa ke masa, ada saja golongan yang menyanggah seluruh atau sebagian dari keyakinan semacam ini, misalnya kaum Saduki dan kaum Yahudi Yunani pada zaman Haikal ke-2, kaum Yahudi Karayi dan kaum Yahudi Sabatayi pada awal dan akhir Abad Pertengahan, serta mazhab-mazhab Yahudi non-Ortodoks pada Zaman Modern. Ada pula mazhab-mazhab modern, semisal mazhab Yahudi Humanis, yang tidak mementingkan keimanan kepada Tuhan. Mazhab-mazhab terbesar saat ini adalah Yahudi Ortodoks (Yahudi Haredi dan Yahudi Ortodoks Modern), Yahudi Konservatif, dan Yahudi Pembaharuan. Satu mazhab berbeda dengan mazhab lain dalam pendekatan terhadap syariat Yahudi, tradisi Rabani, dan arti penting negara Israel. Mazhab Yahudi Ortodoks berkeyakinan bahwa Taurat maupun syariat Yahudi berasal dari Tuhan, bersifat kekal dan ajek, serta wajib dipatuhi. Mazhab Yahudi Konservatif dan Yahudi Pembaharuan berpandangan lebih liberal. Dibanding mazhab Yahudi Pembaharuan, mazhab Yahudi Konservatif pada umumnya mengusung tafsir yang lebih tradisional atas syariat Yahudi. Mazhab Yahudi Pembaharuan lazimnya berpendirian bahwa syariat Yahudi harus dipandang sebagai seperangkat pedoman umum alih-alih sebagai seperangkat larangan dan perintah yang wajib dipatuhi segenap umat Yahudi. Di masa lampau ada mahkamah khusus bagi penegakan syariat Yahudi. Sekarang ini pun masih ada mahkamah-mahkamah syariat Yahudi, tetapi pengamalan syariat Yahudi kini lebih banyak bergantung pada kerelaan umat.  Wibawa keilmuan di bidang teologi dan syariat tidak ditumpukan pada seorang tokoh atau suatu lembaga tertentu, melainkan pada Kitab Suci dan para mufasir Kitab Suci, yakni para rabi dan alim-ulama.

 

Agama Yahudi terlembagakan di Timur Tengah pada Zaman Perunggu. Agama ini adalah pengembangan dari kepercayaan Bani Israel sekitar tahun 500 SM, dan dipandang sebagai salah satu kepercayaan paling tua kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebutan "orang Ibrani" maupun "Bani Israel" sudah tergantikan dengan istilah "orang Yahudi" dalam kitab-kitab Tanak terkemudian, misalnya Kitab Ester. Di dalam kitab ini, istilah "orang Yahudi" digunakan sebagai ganti istilah "Bani Israel". Susastra, tradisi, dan nilai-nilai agama Yahudi berpengaruh besar terhadap agama-agama Abrahamik terkemudian, yakni agama Kristen, agama Islam, dan agama Baha'i. Ada banyak unsur agama Yahudi yang turut mempengaruhi etika dan hukum sipil di luar ranah agama di Dunia Barat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagaimana Yunanisme, Ibranisme juga merupakan salah satu faktor penting pembentuk peradaban Barat pada Abad Kuno, dan sebagai lingkungan yang melatarbelakangi kemunculan agama Kristen, agama Yahudi cukup banyak berjasa membentuk cita-cita luhur dan etika Dunia Barat sedari zaman Gereja Perdana.

 

Umat Yahudi adalah kelompok etnoreligius yang beranggotakan orang-orang Yahudi sejak lahir maupun orang-orang yang baru memeluk agama Yahudi. Pada tahun 2015, jumlah umat Yahudi sedunia diperkirakan mencapai 14,3 juta jiwa, atau kurang lebih 0,2% dari populasi dunia.  Dari jumlah keseluruhan ini, kira-kira 43% menetap di Israel, 43% lagi menetap di Amerika Serikat dan Kanada, sebagian besar dari sisanya menetap di Eropa, sementara selebihnya terserak di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Australia.

 

Berbeda dari ilah-ilah yang dahulu kala disembah masyarakat Timur Dekat, Tuhan orang Ibrani dikatakan maha esa dan tiada duanya, sehingga mustahil menjalin hubungan dengan ilah lain, melainkan dengan makhluk-Nya sendiri, teristimewa manusia. Dengan demikian agama Yahudi bermula dengan monoteisme etis, yakni mengimani bahwa Tuhan itu esa dan peduli pada tindak-tanduk manusia. Menurut Tanak (Alkitab Ibrani), Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan Ia jadikan bangsa yang besar. Setelah anak cucu Abraham beranak pinak menjadi bangsa Israel, Tuhan menurunkan perintah kepada mereka untuk mengasihi dan menyembah-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan perintah bagi umat Yahudi untuk menanggapi kepedulian Tuhan terhadap makhluk-Nya. Tuhan juga menurunkan perintah kepada bangsa Israel untuk saling mengasihi satu sama lain, yang merupakan perintah bagi umat Yahudi untuk meneladani kecintaan Tuhan terhadap umat manusia. Perintah-perintah ini hanyalah dua di antara sekian banyak titah dan syariat yang menjadi isi dari perjanjian antara Tuhan dan Abraham beserta keturunannya. Perjanjian istimewa inilah yang menjadi inti sari agama Yahudi.

 

Oleh karena itu, kendati di dalam agama Yahudi terdapat tradisi suluk (kabalah), pakar susastra Rabani, Max Kadushin, menyifatkan agama Yahudi normatif sebagai "laku kebatinan normal", karena melibatkan penghayatan pribadi akan keberadaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang lumrah bagi semua umat Yahudi, yakni menjalankan syariat (bahasa Ibrani: הֲלָכָה, halakah) dan melisankan doa syukur setiap kali menggenapi satu perintah Tuhan (bahasa Ibrani: ברכת המצוות, birkat ha mitswot).

 

Hal-hal dan kejadian-kejadian yang lumrah dan akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, merupakan kesempatan-kesempatan untuk menghayati keberadaan Tuhan. Hal-hal semisal rezeki sehari-hari, yang dinikmati pada hari itu juga, dirasakan sebagai wujud nyata kasih sayang Tuhan, sehingga menggugah orang untuk melisankan Berakot. Kedusyah, kekudusan, yang tidak lain dari tindakan meneladani Tuhan, erat kaitannya dengan perilaku sehari-hari, dengan sikap santun dan welas asih, dengan tindakan menghindari kenajisan akibat penyembahan berhala, zina, dan pertumpahan darah. Birkat Ha Mitswot menggugah kesadaran akan kekudusan dalam upacara ibadat Rabani, tetapi benda-benda yang digunakan dalam kebanyakan upacara ibadat ini tidaklah kudus dan sangat biasa, sementara beberapa benda kudus justru bukan sarana ibadat. Malah bukan hanya hal-hal dan kejadian-kejadian lumrah yang mampu menggugah penghayatan akan keberadaan Tuhan, melainkan juga segala sesuatu yang dialami seseorang, baik maupun buruk, karena ada juga Berakah yang dilisankan saat menerima kabar buruk. Oleh karena itu, sekalipun menghayati keberadaan Tuhan adalah pengalaman yang lain daripada yang lain, ada banyak sekali kesempatan untuk menyadari keberadaan-Nya, kendati kita hanya memperhitungkan hal-hal yang menggugah kita untuk melisankan Berakot.

Sekalipun filsuf-filsuf Yahudi kerap berbantah soal Tuhan itu tasybih ataukah tanzih, dan soal manusia itu punya kehendak bebas ataukah sudah disuratkan takdirnya sejak semula, halakah tetap merupakan tatanan yang memungkinkan setiap orang Yahudi bertindak menghadirkan Tuhan ke dalam dunia.

 

Monoteisme etis menjiwai seluruh susastra suci maupun susastra syariat agama Yahudi. Kendati demikian, monoteisme tidaklah senantiasa diamalkan. Tanak memuat riwayat-riwayat serta kecaman-kecaman yang berulang kali dilontarkan terhadap maraknya penyembahan ilah lain oleh bangsa Israel pada masa lampau.  Pada zaman Gerika-Romawi, muncul berbagai macam tafsir atas keesaan Tuhan dalam agama Yahudi, termasuk tafsir-tafsir yang menjadi cikal bakal agama Kristen.

 

Selain itu, ada pula pihak-pihak yang berpandangan bahwa agama Yahudi adalah agama tak bersyahadat, yang tidak mewajibkan pemeluknya untuk mengimani keberadaan Tuhan. Bagi sebagian pihak, menjalankan syariat jauh lebih penting daripada mengimani keberadaan Tuhan itu sendiri. Pada Zaman Modern, sejumlah mazhab agama Yahudi yang berhaluan liberal menolak gagasan tentang adanya ilah berpribadi yang aktif campur tangan dalam sejarah umat manusia. Perihal ada tidaknya agama Yahudi yang asli atau yang normatif bukan hanya menjadi pokok perbantahan di kalangan umat Yahudi yang taat beragama, melainkan juga di kalangan sejarawan.

 

Rukun iman

 

Sepanjang sejarah, alim-ulama Yahudi sudah menghasilkan berbagai rumusan pokok-pokok keimanan Yahudi, tak satu pun rumusan yang lolos dari kritik.  Rumusan terpopuler adalah 13 rukun iman yang disusun Rabi Musa bin Maimun (bahasa Ibrani: רבי משה בן מימון, Rabi Mosye ben Maimon) pada abad ke-12. Menurut Rabi Musa bin Maimun, orang Yahudi yang mengingkari salah satu dari rukun-rukun iman ini dapat dianggap sudah murtad dan menyimpang dari iman yang lurus. Alim-ulama Yahudi menganut pandangan-pandangan lain yang sedikit banyak menyimpang dari rukun-rukun iman Rabi Musa bin Maimun.

 

Saat Rabi Musa bin Maimun masih hidup pun daftar rukun iman yang disusunnya sudah mendapat kecaman dari Rabi Hasdai Kreskes dan Rabi Yosef Albo. Menurut Rabi Yosef Albo dan Rabi Abraham bin Daud, rukun-rukun iman yang disusun Rabi Musa bin Maimun mengandung terlalu banyak unsur yang tidak bersifat asasi dalam agama Yahudi, kendati benar.

 

Sejalan dengan pendapat ini, sejarawan Yahudi pada Abad Kuno, Flavius Yosefus, juga lebih mementingkan pengamalan serta kepatuhan pada syariat daripada keimanan. Ia memaknai murtad sebagai kegagalan mematuhi syariat, dan menegaskan bahwa syarat-syarat masuk agama Yahudi harus mencakup khitan dan ketaatan pada adat-istiadat Yahudi. Rukun-rukun iman yang disusun Rabi Musa bin Maimun lebih sering diabaikan selama beberapa abad.  Kemudian hari, dua saduran puitis dari rukun-rukun iman ini (Ani Ma'amin dan Yigdal) dimasukkan ke dalam tata ibadat Yahudi, sehingga akhirnya diterima oleh hampir semua umat Yahudi sedunia.

 

Pada Zaman Modern, agama Yahudi tidak memiliki lembaga keulamaan terpusat yang berwenang mengeluarkan fatwa mengenai rukun iman, sehingga muncul beragam variasi rumusan rukun iman Yahudi. Sekalipun demikian, semua mazhab agama Yahudi sedikit banyak didasarkan atas asas-asas keimanan yang termaktub dalam Alkitab Ibrani dan kitab-kitab ulasannya, semisal Talmud dan Midras. Semua mazhab agama Yahudi juga mengakui wujudnya perjanjian antara Tuhan dan Abraham Sang Pitarah, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Kitab Suci, serta aspek-aspek dari perjanjian tersebut yang diwariskan turun-temurun, sebagaimana yang diwahyukan kepada Musa, nabi terbesar dalam agama Yahudi. Di dalam Misnah, salah satu pustaka utama Yahudi Rabani, pengakuan bahwa perjanjian ini bersumber dari Tuhan dianggap sebagai aspek hakiki agama Yahudi, dan orang-orang yang mengingkari perjanjian ini dianggap telah menyia-nyiakan peluang mereka untuk selamat di akhirat.

 

Menetapkan rukun-rukun iman Yahudi pada Zaman Modern justru lebih sulit lagi, mengingat sudah sedemikian banyak dan beragamnya mazhab agama Yahudi sekarang ini. Sekalipun ruang lingkupnya dibatasi pada kecenderungan-kecenderungan intelektual yang paling berpengaruh pada abad ke-19 dan ke-20, urusan ini tetap saja ruwet. Sebagai gambaran, tanggapan Rabi Joseph Soloveitchik (dianggap sebagai tokoh mazhab Yahudi Ortodoks Modern) terhadap modernitas didasarkan atas pengidentikan agama Yahudi dengan pelaksanaan syariat, yang tujuan akhirnya adalah menghadirkan kekudusan ke dalam dunia. Rabi Mordecai Kaplan, pendiri mazhab Yahudi Rekonstruksionistis, meninggalkan gagasan agama Yahudi sebagai suatu kepercayaan kepada Tuhan demi mengidentikkannya dengan peradaban, dan melalui pandangan bahwa agama Yahudi adalah suatu peradaban serta melalui penerjemahan gagasan-gagasan pokok agama Yahudi menjadi gagasan-gagasan yang tidak berkaitan dengan agama, ia berusaha merangkul sebanyak mungkin mazhab agama Yahudi. Sebaliknya, mazhab Yahudi Konservatif Rabi Solomon Schechter identik dengan tradisi yang dipahami sebagai tafsir atas Taurat, yang pada hakikatnya merupakan sejarah pemutakhiran dan penyesuaian secara terus-menerus atas hukum Musa melalui tafsir kreatif. Yang terakhir, Rabi David Philipson menetapkan garis-garis besar mazhab Yahudi Pembaharuan dengan mempertentangkan mazhab ini dengan pendekatan mazhab Yahudi Rabani yang tradisional dan ketat, sehingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang serupa dengan kesimpulan-kesimpulan mazhab Yahudi Konservatif.

 

Susastra syariat

 

Landasan hukum dan adat-istiadat Yahudi (halakah) adalah Taurat (Pancasastra). Menurut tradisi Rabani, Taurat mengandung 613 butir titah. Ada titah-titah yang hanya berlaku bagi kaum lelaki atau kaum perempuan, ada yang hanya berlaku bagi puak-puak imam, yakni Kohanim dan Lewiyim (warga suku Lewi), dan ada pula yang hanya berlaku bagi kaum tani di Tanah Israel. Ada banyak titah yang hanya berlaku selama Haikal Yerusalem masih berdiri, dan hanya 369 butir titah yang masih dapat diberlakukan sekarang ini.

 

Kendati ada golongan yang hanya berpedoman kepada ayat-ayat tersurat dalam Taurat (misalnya kaum Saduki dan kaum Karayi), sebagian besar umat Yahudi juga berpedoman kepada hukum lisan, yang dilestarikan dalam bentuk tutur dari generasi ke generasi oleh kaum Farisi, dan kelak dibukukan sekaligus dijabarkan lebih lanjut oleh para rabi.

 

Menurut tradisi Rabani, Tuhan menurunkan hukum-hukum-Nya kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk tulisan (Taurat) maupun lisan (hukum lisan). Hukum lisan adalah tradisi tutur yang diturunkan Tuhan kepada Musa, dan dari Musa diturunkan serta diajarkan kepada alim-ulama besar (tokoh-tokoh Yahudi Rabani) dari generasi ke generasi.

 

Selama berabad-abad, Taurat hanya dipandang sebagai suratan ayat-ayat yang diwariskan turun-temurun bersama-sama tradisi tutur. Lantaran khawatir ajaran-ajaran dalam bentuk tutur akan lekang dari ingatan orang, Rabi Yehudah Ha Nasi pun berusaha menghimpun berbagai macam pendapat ulama dalam satu kitab hukum yang kelak dikenal dengan sebutan Misnah.

 

Misnah terdiri atas 63 risalah hukum Yahudi, yang merupakan dasar dari kitab Talmud. Menurut Rabi Abraham bin Daud, Misnah dihimpun oleh Rabi Yehudah Ha Nasi sesudah Yerusalem diluluhlantakkan pada tahun 3949 berdasarkan perhitungan tarikh Dunia, atau pada tahun 189 berdasarkan perhitungan tarikh Masehi.

 

Selama empat abad berikutnya, Misnah dibahas dan diperdebatkan oleh komunitas-komunitas utama umat Yahudi, yakni di Israel dan di Babel. Ulasan-ulasan dari masing-masing komunitas pada akhirnya dibukukan menjadi dua kitab Talmud, yakni Talmud Yerusalem (Talmud Yerusyalmi) dan Talmud Babel (Talmud Babli). Isi kedua kitab Talmud ini selanjutnya dijabarkan lagi dengan ulasan-ulasan alim-ulama Taurat dari abad ke abad.

 

Ayat-ayat Taurat mengandung banyak kata yang dibiarkan tak terpahami artinya, dan banyak prosedur yang tidak disertai penjelasan maupun petunjuk. Fenomena semacam ini adakalanya digunakan untuk membenarkan pandangan yang mengatakan bahwa hukum tertulis sejak semula diwariskan berbarengan dengan tradisi tutur yang berkaitan dengannya. Menurut pandangan ini, pembaca Taurat mampu memahami ayat-ayat yang dibaca karena sudah mengetahui penjabarannya dari sumber lain, yakni sumber-sumber lisan.

 

Dengan demikian, Halakah, syariat warisan para rabi, berlandaskan perpaduan pembacaan Taurat dan tradisi tutur, yakni Misnah, Midras Halakah, dan Talmud beserta ulasan-ulasannya. Halakah berkembang perlahan-lahan, melalui suatu sistem berbasis preseden. Susastra yang memuat pertanyaan-pertanyaan kepada para rabi berikut jawaban-jawabannya disebut Soal Jawab (bahasa Ibrani: שאלות ותשובות, sye'elot u'tesyubot). Seiring perjalanan waktu dan perkembangan amalan ini, hukum-hukum agama Yahudi pun dirumuskan dan dibukukan dengan berpedoman kepada Soal Jawab. Kitab hukum yang paling utama, yakni Syulhan Aruk, sangat mempengaruhi amalan Yahudi Ortodoks sekarang ini.

 

Filsafat Yahudi

 

Filsafat Yahudi mengacu pada pertembungan ilmu filsafat dengan ilmu teologi Yahudi. Filsuf-filsuf besar Yahudi antara lain adalah Sulaiman bin Jabirul, Said bin Yusuf Al Fayumi, Yahuda Al Lawi, Musa bin Maimun, dan Lewi bin Jarsun. Perubahan-perubahan besar yang muncul sebagai tanggapan terhadap gerakan Pencerahan (akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19) melahirkan filsuf-filsuf Yahudi pasca-Pencerahan. Filsafat Yahudi modern terdiri atas filfasat-filsafat yang berhaluan Ortodoks maupun non-Ortodoks. Filsuf-filsuf Yahudi Ortodoks terkemuka antara lain adalah Eliyahu Eliezer Dessler, Joseph B. Soloveitchik, dan Yitzchok Hutner. Filsuf-filsuf Yahudi non-Ortodoks terkemuka antara lain adalah Martin Buber, Franz Rosenzweig, Mordecai Kaplan, Abraham Joshua Heschel, Will Herberg, dan Emmanuel Lévinas.

 

Ilmu tafsir Rabani

 

Umat Yahudi Ortodoks dan sejumlah besar umat Yahudi dari berbagai mazhab lain percaya bahwa wahyu Taurat tidaklah semata-mata terdiri atas huruf-huruf tersurat, melainkan terdiri pula atas tafsir-tafsirnya. Dalam agama Yahudi, mengkaji Taurat (dalam makna yang paling luas, mencakup puisi, narasi, dan hukum, serta Alkitab Ibrani dan Talmud) adalah seni suci yang mahapenting. Oleh karena itu, bagi para ulama besar Misnah dan Talmud, serta para penerus mereka sekarang ini, mengkaji Taurat bukanlah semata-mata suatu sarana untuk memahami wahyu Tuhan, melainkan justru suatu tujuan akhir yang hendak dicapai. Menurut Talmud,

 

Perkara-perkara yang mendatangkan bunga pahala untuk dinikmati di dunia dan pokok pahala untuk dinikmati di akhirat adalah menghormati kedua orang tua, mencintai perbuatan-perbuatan baik, dan mendamaikan satu orang dengan orang lain. Akan tetapi mengkaji Taurat setara dengan ketiga-tiganya. (Talmud Sabat 127a).

Dalam agama Yahudi, "mengkaji Taurat dapat menjadi sarana untuk menghayati keberadaan Tuhan". Sehubungan dengan sumbangsih para Amoraim dan Tanaim (alim-ulama terdahulu) bagi agama Yahudi masa kini, Profesor Jacob Neusner mengemukakan bahwa:

 

Telaah logis dan rasional rabi bukanlah pemubaziran logika belaka, melainkan usaha yang teramat bersungguh-sungguh dan substantif untuk mengubek-ubek hal-hal kurang penting demi menemukan asas-asas hakiki dari kehendak Tuhan yang terwahyukan guna mengarahkan dan menguduskan tindakan-tindakan yang paling tertentu dan konkret dalam kehidupan sehari-hari di duniawi ini .... Berikut ini adalah misteri ajaran Yahudi Talmud, yaitu keyakinan teguh yang asing dan jauh bahwa nalar bukanlah perkakas ketidakyakinan dan penghilangan kesakralan, melainkan perkakas pengudusan."

Dengan demikian, mengkaji Taurat Tersurat dengan bantuan Taurat Tutur serta mengkaji Taurat Tutur dengan bantuan Taurat Tersurat adalah juga mengkaji cara mengkaji firman Tuhan.

 

Dalam mengkaji Taurat, alim-ulama besar merumuskan dan mengikuti berbagai asas logika dan ilmu tafsir. Menurut David Stern, seluruh ilmu tafsir Rabani dilandaskan pada dua aksioma asasi, yakni:

 

Yang pertama, kepercayaan akan kemahapentingan Kitab Suci, akan kebermaknaan tiap-tiap kata, aksara, bahkan juga (menurut salah satu laporan terkenal) tanda-tanda tambahan yang dibubuhkan juru tulis; yang kedua, klaim tentang kesatuan hakiki Kitab Suci sebagai wujud nyata kehendak ilahi yang tunggal.

Dua asas ini memungkinkan munculnya beraneka ragam tafsir. Menurut Talmud,

 

Satu ayat mengandung beberapa makna, tetapi tidak ada dua ayat yang bermakna sama. Di perguruan Rabi Ismael diajarkan bahwa, 'bukankah firman-Ku laksana api, demikian firman Tuhan, dan laksana godam yang meremukkan cadas?' (Yeremia 23:29). Sebagaimana godam mencetuskan sekaligus beberapa percik bunga api tatkala menghantam cadas, demikian pula satu ayat mengandung beberapa makna sekaligus." (Talmud Sanhedrin 34a).

Oleh karena itu umat Yahudi yang taat beragama menganggap Taurat bersifat dinamis, karena mengandung begitu banyak tafsiran di dalamnya.

 

Menurut tradisi Rabani, semua tafsiran Taurat Tersurat telah diwahyukan kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk lisan, dan diwariskan turun-temurun dari guru kepada murid, oleh karena itu wahyu lisan sama tuanya dengan Talmud itu sendiri. Bilamana mewariskan tafsir yang bertentangan dengan tafsir rabi lain, para rabi adakalanya merujuk kepada asas-asas ilmu tafsir guna melegitimasi dalil-dalil mereka; sejumlah rabi mengklaim bahwa asas-asas ini pun diwahyukan Tuhan kepada Musa di Tur Sina.

 

Oleh karena itu, Rabi Hillel mengemukakan tujuh asas ilmu tafsir yang lazim digunakan dalam penafsiran hukum-hukum (baraita pada permulaan Sifra), dan Rabi Ismael mengemukakan tiga belas asas (baraita pada permulaan Sifra, asas-asas Rabi Ismael sebagian besar merupakan pengayaan asas-asas Rabi Hilel), sementara Rabi Eliezer ben Yose Ha Gelili mengemukakan 32 asas, yang lebih banyak dipakai dalam tafsir penjabaran unsur-unsur naratif dari Taurat. Semua aturan ilmu tafsir yang tersebar di berbagai bagian Talmud-Talmud dan Midras-midras telah dihimpun oleh Rabi Malbim dalam Ayelet Ha Syahar (Bintang Kejora), pengantar kepada ulasannya atas Sifra. Bagaimanapun juga, 13 asas Rabi Ismael mungkin merupakan asas-asas yang paling terkenal. Asas-asas Rabi Ismael merupakan sumbangsih penting sekaligus salah satu sumbangsih terawal dari agama Yahudi bagi ilmu logika, ilmu tafsir, dan ilmu teori hukum. Yehudah Hadasi memasukkan asas-asas Rabi Ismael ke dalam ajaran mazhab Yahudi Karayi pada abad ke-12. Ketiga belas asas Rabi Ismael kini dimasukkan ke dalam buku sembahyang Yahudi agar dapat dibaca setiap hari oleh umat Yahudi yang taat beragama.

 

Asal usul istilah "agama Yahudi"

 

Istilah "Yahudi" dalam bahasa Indonesia diturunkan dari kata Arab اليهودي, Al Yahudi, yang juga berasal dari kata Ibrani יְהוּדִי, Yehudi, artinya "orang Yehuda". Frasa "agama Yahudi" adalah padanan untuk kata Iudaismus, bentuk Latin dari kata Yunani Ἰουδαϊσμός, Ioudaismos (dibentuk dari kata kerja ἰουδαΐζειν, ioudaizein, yang berarti "memihak atau menyerupai orang Yudea"). Cikal bakal kata ini adalah kata Ibrani יהודה, Yehudah,  yang juga adalah cikal bakal dari kata Ibrani untuk agama Yahudi, yakni יַהֲדוּת, Yahadut. Istilah Ioudaismos pertama kali muncul dalam Kitab 2 Makabe, yang ditulis pada abad ke-2 SM. Sesuai dengan konteks zamannya, istilah ini menyiratkan usaha "mencari atau membentuk jati diri budaya" bangsa, sebagaimana kebalikannya, Helenismos (Ἑλληνισμός), menyiratkan ketertundukan bangsa kepada adat-istiadat Yunani. Konflik antara Iudaismos dan Helenismos melatarbelakangi Pemberontakan Makabe, dan oleh karena itu juga melatarbelakangi kemunculan istilah Iudaismos.

 

Dalam bukunya yang berjudul The Beginnings of Jewishness, Shaye J. D. Cohen mengemukakan bahwa:

 

Tentu saja kita tergoda untuk menerjemahkan Ioudaïsmós menjadi "agama Yahudi," tetapi terjemahan ini terlalu dangkal, karena ketika pertama kali muncul, istilah Ioudaïsmós belum digunakan sebagai sebutan bagi suatu agama. Istilah ini justru berarti "himpunan seluruh karakteristik yang membuat orang-orang Yudea layak disebut orang Yudea (atau membuat orang-orang Yahudi layak disebut orang Yahudi)." Himpunan karakteristik ini tentu saja mencakup pula amalan-amalan dan keyakinan-keyakinan yang sekarang ini kita sebut "agama," tetapi amalan-amalan dan keyakinan-keyakinan bukanlah satu-satunya cakupan istilah ini. Jadi, Ioudaïsmós seharusnya bukan diterjemahkan menjadi "Agama Yahudi" melainkan Keyudeaan.

 

Beda antara Yahudi selaku bangsa dan Yahudi selaku agama

Menurut Daniel Boyarin, perbedaan hakiki antara kebangsaan dan agama tidaklah dikenal dalam agama Yahudi, malah merupakan salah satu wujud nyata paham dualisme jasmani-rohani dari ajaran filsafat Plato yang berhasil menyusup masuk ke dalam ajaran-ajaran Yahudi Yunani. Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa agama Yahudi tidak bisa begitu saja dimasukkan ke dalam kategori-kategori yang sudah lumrah di Dunia Barat, semisal agama, suku bangsa, maupun kebudayaan. Menurut Daniel Boyarin, hal ini antara lain mencerminkan kenyataan bahwa sebagian besar dari sejarah agama Yahudi, yang sudah berumur lebih dari 3000 tahun itu, terjadi sebelum kebangkitan budaya Barat, dan berlangsung di luar Dunia Barat (Eropa, khususnya Eropa pada Abad Pertengahan dan Zaman Modern). Sepanjang perjalanan sejarahnya, bangsa Yahudi mengalami sendiri bagaimana rasanya diperbudak, membentuk pemerintahan sendiri yang bersifat anarkis dan teokratis, melancarkan aksi penaklukan, dijajah, dan menjadi orang buangan. Di luar tanah leluhur, mereka mengenal dan terpapar budaya Mesir, Babel, Persia, serta Yunani, maupun gerakan-gerakan Zaman Modern semisal gerakan Pencerahan (baca artikel Haskalah) dan gerakan Kebangkitan Nasional, yang kelak membuahkan pendirian negara bangsa Yahudi di tanah leluhur mereka, Tanah Israel. Bangsa Yahudi juga menyaksikan bagaimana agama mereka diterima dan dipeluk oleh suatu bangsa yang besar dan terkemuka (bangsa Kazar), tetapi kemudian sirna begitu saja setelah negeri bangsa besar ini jatuh ke tangan bangsa Rus, kemudian ke tangan bangsa Mongol. Oleh karena itu, Daniel Boyarin berpandangan bahwa "keyahudian mendobrak batasan kategori-kategori jati diri, karena Yahudi bukan sekadar bangsa, bukan sekadar nasab, dan bukan sekadar agama, melainkan semua-muanya, dalam ketegangan dialektis."

 

Bertolak belakang dengan pandangan ini, mazhab-mazhab semisal Yahudi Humanis justru menolak aspek religi dari keyahudian, dan hanya mempertahankan tradisi-tradisi budaya tertentu.

 

Siapa itu orang Yahudi

 

Menurut pandangan Yahudi Rabani, orang Yahudi adalah siapa saja yang beribu kandung seorang Yahudi, dan siapa saja yang masuk Yahudi seturut syariat agama Yahudi. Menurut pandangan Yahudi Rekonstruksionistis dan Yahudi Pembaharuan, orang Yahudi adalah siapa saja yang beribu atau berayah kandung seorang Yahudi, dan dibesarkan sebagai orang Yahudi oleh orang tuanya. Semua mazhab utama agama Yahudi kini membuka pintunya bagi siapa saja yang berniat memeluk agama Yahudi, kendati umat Yahudi sudah turun-temurun diimbau sejak zaman Talmud untuk tidak menerima pemeluk baru. Proses yang dilakoni seseorang untuk berpindah keyakinan ke agama Yahudi dengan cermat ditelaah oleh pihak yang berwenang, demikian pula ketulusan niat serta pengetahuan yang bersangkutan tentang agama Yahudi.  Seorang Yahudi pemula disebut ben Abraham (Abrahamputra) atau bat Abraham (Abrahamputri). Adakalanya perpindahan agama malah dimentahkan kembali oleh pihak berwenang. Pada tahun 2008, pengadilan tinggi agama di Israel membatalkan perpindahan 40.000 orang ke dalam agama Yahudi, sekalipun sudah dinyatakan sahih oleh seorang rabi Yahudi Ortodoks. Sebagian besar dari mereka adalah keluarga-keluarga imigran dari Rusia.

 

Menurut pandangan Yahudi Rabani, begitu seseorang menjadi Yahudi, baik karena terlahir Yahudi maupun karena masuk Yahudi, sampai mati ia tetap Yahudi. Dengan demikian, orang Yahudi yang mengaku ateis atau sudah berganti agama tetap saja diakui sebagai orang Yahudi menurut pandangan tradisional dalam agama Yahudi. Menurut beberapa sumber, mazhab Yahudi Pembaharuan berpendirian bahwa orang Yahudi yang pindah ke agama lain sudah bukan lagi orang Yahudi. Pendirian yang sama juga dijadikan pedoman oleh pemerintah Israel dalam penuntasan perkara dan statuta di Mahkamah Agung.  Sekalipun demikian, mazhab Yahudi Pembaharuan menjelaskan bahwa pendirian semacam ini tidak boleh diamalkan secara kaku, karena situasi-situasi yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda pula. Sebagai contoh, orang-orang Yahudi yang murtad di bawah paksaan dapat diizinkan kembali memeluk agama Yahudi "tanpa syarat selain niat yang tulus untuk bersatu kembali dengan komunitas Yahudi", dan "orang yang pernah masuk Yahudi lalu murtad tetap saja terhitung Yahudi".

 

Umat Yahudi Karayi percaya bahwa jati diri keyahudian hanya dapat diwarisi seseorang dari ayah kandungnya, kendati sekarang ini banyak yang percaya bahwa jati diri keyahudian diwarisi seseorang dari kedua orang tua kandungnya, bukan ayah saja. Menurut umat Yahudi Karayi, jati diri keyahudian hanya dapat diwariskan dari ayah kepada putra kandung karena semua alur silsilah yang dijabarkan di dalam kitab Taurat adalah alur silsilah laki-laki.

 

Persoalan tentang hal-hal yang menentukan Yahudi tidaknya seseorang di Negara Israel kembali ramai dibahas tatkala David Ben-Gurion meminta fatwa perihal mihu Yehudi ("siapa itu orang Yahudi") dari para pemuka agama dan alim-ulama Yahudi sedunia pada era 1950-an dalam rangka menuntaskan masalah-masalah kewarganegaraan. Persoalan ini tak kunjung tuntas, dan sesekali mencuat kembali di tengah pusaran politik Israel.

 

Pemahaman tentang identitas Yahudi secara turun-temurun berpedoman kepada ketentuan syariat bahwa orang Yahudi adalah setiap orang yang beribu kandung seorang Yahudi atau menjadi pemeluk agama Yahudi menurut aturan syariat. Definisi-definisi terkait "siapa itu orang Yahudi" sudah dirumuskan semenjak Taurat Tutur dituangkan secara tertulis ke dalam Talmud Babel sekitar tahun 200 tarikh Masehi. Tafsir-tarsif atas bagian-bagian tertentu dari Tanak, semisal Keluaran 7:1–5, oleh alim-ulama Yahudi terkemuka, digunakan sebagai peringatan kepada umat Yahudi untuk menghindari amalan kawin campur dengan orang Kanaan, karena suami non-Yahudi "akan membuat anak-anakmu berpaling dari Aku dan memuja ilah bangsa-bangsa lain." Imamat 24:10 menetapkan bahwa anak laki-laki yang lahir dari perkawinan seorang perempuan Ibrani dengan seorang laki-laki Mesir "terhitung sebagai orang Israel." Dalil ini dikuatkan oleh ayat-ayat Ezra 10:2–3, yang meriwayatkan ikrar orang Israel untuk meninggalkan istri-istri dari bangsa lain berikut anak-anak yang mereka lahirkan.  Ada teori populer bahwa pemerkosaan terhadap kaum perempuan Yahudi semasa hidup di tanah pembuangan adalah cikal bakal dari ketentuan bahwa orang Yahudi adalah orang yang beribu kandung seorang Yahudi, tetapi teori ini ditentang oleh para ulama dengan dalil bahwa hukum ini sudah ditetapkan di dalam Talmud sebelum zaman pembuangan.  Tafsir-tafsir identitas keyahudian berdasarkan syariat mulai disanggah semenjak munculnya gerakan Haskalah yang bersifat antiagama pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19.

 

Demografi Yahudi

 

Jumlah umat Yahudi sedunia sukar untuk dipastikan lantaran adanya kesimpangsiuran dalam penentuan "siapa itu orang Yahudi". Tidak semua orang Yahudi mengaku Yahudi, dan sebagian pihak yang mengaku Yahudi justru tidak dianggap Yahudi oleh sesama orang Yahudi. Menurut Buku Tahunan Yahudi edisi 1901, populasi umat Yahudi sedunia pada tahun 1900 mencapai sekitar 11 juta jiwa. Data termutakhir disajikan oleh Survei Populasi Yahudi Sedunia tahun 2002 dan Kalender Yahudi tahun 2005. Menurut Survei Populasi Yahudi Sedunia, jumlah keseluruhan umat Yahudi pada tahun 2002 mencapai 13,3 juta Jiwa. Menurut Kalender Yahudi, jumlah umat Yahudi sedunia pada tahun 2005 mencapai 14,6 juta jiwa. Angka pertumbuhan populasi Yahudi sekarang ini hampir mendekati nol persen, yakni 0,3% dari tahun 2000 sampai 2001.

 

Yahudi Rabani

 

Yahudi Rabani (bahasa Ibrani: יהדות רבנית, Yahadut Rabanit) adalah mazhab utama agama Yahudi semenjak abad ke-6 tarikh masehi, sesudah penyusunan kitab Talmud. Ciri khas mazhab ini adalah keyakinan bahwa Taurat Tersurat (hukum tertulis) tidak dapat ditafsirkan dengan benar tanpa merujuk kepada Taurat Tutur dan berjilid-jilid tebal susastra agama yang memerinci segala macam perilaku yang benar menurut hukum syariat.

 

Munculnya gerakan Pencerahan Yahudi pada akhir abad ke-18 mengakibatkan umat Yahudi Askenasi (umat Yahudi Dunia Barat) terpecah belah menjadi sejumlah mazhab, khususnya di Amerika Utara dan negara-negara penutur bahasa Inggris. Mazhab-mazhab besar di luar Israel sekarang ini adalah Yahudi Ortodoks, Yahudi Konservatif, dan Yahudi Pembaharuan.

 

Mazhab Yahudi Ortodoks berpendirian bahwa baik Taurat Tersurat maupun Taurat Tutur adalah wahyu Tuhan kepada Musa, dan segala hukum yang terkandung di dalamnya bersifat mengikat serta ajek. Jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks pada umumnya menganggap ulasan-ulasan yang termaktub di dalam Syulhan Aruk (kitab rangkuman syariat yang menjadi pegangan umat Yahudi Sefardi) sebagai kitab hukum agama Yahudi yang bersifat definitif. Mazhab Yahudi Ortodoks menjunjung tinggi ke-13 rukun iman Rabi Musa bin Maimun sebagai definisi iman Yahudi.

Mazhab Yahudi Ortodoks lazimnya dibedakan menjadi mazhab Yahudi Ortodoks Modern dan mazhab Yahudi Haredi. Mazhab Yahudi Haredi kurang terbuka terhadap kemajuan zaman dan kurang meminati hal-hal non-Yahudi. Mazhab ini dapat dibedakan dari mazhab Yahudi Ortodoks Modern dengan menilik gaya berbusana jemaatnya serta amalan-amalannya yang lebih saksama. Cabang-cabang mazhab Yahudi Haredi adalah mazhab Yahudi Hasidi, yang berakar di dalam kabalah serta sangat bergantung pada seorang rebe (ulama besar), dan mazhab Yahudi Haredi Sefardi, yang tumbuh di kalangan umat Yahudi Sefardi (umat Yahudi Asia dan Afrika Utara) di Israel.

 

Mazhab Yahudi Konservatif terbedakan dari mazhab-mazhab lain oleh kesungguhan mereka menjalankan syariat, yang meliputi hukum hari Sabat dan hukum kasrut, mengusung ajaran tentang rukun iman yang sengaja dibuat tidak bersifat asasi, bersikap positif terhadap budaya modern, dan menerima pandangan-pandangan Rabani maupun ulama modern sehubungan dengan khazanah susastra agama Yahudi. Mazhab Yahudi Konservatif mengajarkan bahwa syariat tidak bersifat ajek, melainkan senantiasa tumbuh dan berkembang seturut perubahan zaman. Mazhab ini meyakini bahwa kitab Taurat adalah susastra suci yang ditulis para nabi berdasarkan ilham dari Tuhan serta mencerminkan kehendak Tuhan, tetapi menolak pendirian Yahudi Orthodoks bahwasanya ayat-ayat Taurat didiktekan Tuhan kepada Musa. Mazhab Yahudi Konservatif percaya bahwa Hukum Lisan itu suci dan normatif, tetapi percaya pula bahwa Hukum Tertulis maupun Hukum Lisan boleh saja ditafsir para rabi sedemikian rupa sehingga mencerminkan kepekaan terhadap kemajuan zaman serta cocok dengan kondisi-kondisi Zaman Modern.

Mazhab Yahudi Pembaharuan, yang disebut pula mazhab Yahudi Liberal atau Yahudi Progresif di banyak negara, menonjolkan unsur-unsur yang bersifat universal dari agama Yahudi, menolak sebagian besar tata upacara dan hukum seremonial Taurat sembari menaati hukum-hukum etika

, dan mengutamakan seruan nabi-nabi untuk menegakkan akhlakul karimah. Mazhab Yahudi Pembaharuan mengembangkan ragam ibadat berjemaah yang dijiwai semangat kesetaraan antarsesama insan dalam bahasa tutur masyarakat di sekitarnya (sering kali bersama-sama dengan bahasa Ibrani), dan mementingkan hubungan yang bersifat pribadi dengan tradisi Yahudi.

 

Mazhab Yahudi Rekonstruksionistis, sebagaimana mazhab Yahudi Pembaharuan, tidak menganggap syariat sebagai himpunan perintah dan larangan yang wajib ditaati, tetapi berbeda dari mazhab Yahudi Pembaharuan, mazhab ini menonjolkan peran komunitas dalam pengambilan keputusan mengenai perintah dan larangan mana yang patut dituruti.

Mazhab Yahudi Pemulihan adalah mazhab baru di Amerika Utara yang berfokus pada kerohanian dan keadilan sosial, tetapi tidak masuk ke ranah syariat. Laki-laki maupun perempuan dilibatkan dalam sembahyang berjemaah selaku insan-insan yang sederajat.

Mazhab Yahudi Humanis adalah mazhab nonteisme yang berpusat di Amerika Utara dan Israel. Mazhab ini menonjolkan kebudayaan dan sejarah bangsa Yahudi sebagai sumber jati diri keyahudian.

 

Sefardi dan Mizrahi

 

Kendati adat-istiadat memang berbeda-beda dari satu komunitas Yahudi ke komunitas Yahudi lainnya, umat Yahudi Sefardi dan umat Yahudi Mizrahi pada umumnya boleh dikata tidak mengikuti tatanan mazhab sebagaimana umat Yahudi Askenasi. Umat Sefardi dan Mizrahi mengesampingkan mazhab-mazhab karena lebih suka menerapkan pendekatan "kemah besar" yang mengayomi semua orang.  Kebijakan inilah yang kini berlaku di Israel, tempat tinggal komunitas umat Sefardi dan Mizrahi yang terbesar di dunia. Meskipun demikian, seorang Yahudi Sefardi atau Mizrahi dapat saja menjadi warga jemaat atau mengikuti sembahyang berjemaah di sinagoga milik jemaat salah satu mazhab.

 

Amalan-amalan umat Sefardi dan Mizrahi cenderung konservatif, tercermin pada teks upacara-upacara sembahyang mereka yang nyaris tidak berubah sejak pertama kali tersurat. Umat Sefardi yang taat boleh saja menganut ajaran mazhab tertentu atau ulama tertentu, misalnya Ketua Rabi Israel dari kalangan Sefardi.

 

Mazhab-mazhab di Israel

 

Kebanyakan warga Yahudi Israel menyebut diri dengan istilah "sekuler" (hiloni), jika bukan "tradisional" (masorti), "agamawi" (dati), atau haredi. Istilah "sekuler" lebih banyak digunakan oleh keluarga-keluarga Israel asal Eropa Barat, yang mungkin saja sangat bangga menjadi orang Yahudi, tetapi tidak menganggap keyahudian dirinya bergantung penuh pada iman dan amalan warisan leluhur. Warga Yahudi "sekuler" nyaris tidak mempedulikan tata kehidupan beragama, baik dari jawatan resmi alim-ulama Israel (Yahudi Ortodoks) maupun dari mazhab-mazhab berhaluan liberal yang lazim dianut di luar Israel (mazhab Yahudi Pembaharuan, dan mazhab Yahudi Konservatif).

 

Istilah "tradisional" (masorti) lebih lumrah digunakan oleh keluarga-keluarga Israel asal Dunia Timur (Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara). Istilah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mazhab Yahudi Konservatif, yang juga menyebut diri "masorti" di luar Amerika Utara. Makna istilah "sekuler" dan "tradisional" di Israel sangatlah taksa, sering kali saling tumpang tindih, dan sangat luas cakupannya sehubungan dengan wawasan dunia dan pengamalan agama. Istilah "ortodoks" tidak populer digunakan dalam wacara di Israel, sekalipun persentase umat Yahudi yang berhaluan ortodoks jauh lebih besar di Israel daripada di luar Israel. Apa yang disebut "ortodoks" di luar Israel bisanya disebut dati (agamawi) atau haredi (ultra-Ortodoks) di Israel. Sebutan dati mencakup kalangan yang disebut komunitas "Sionisme Religius" atau "Nasional Religius", maupun kalangan yang kurang lebih sedasawarsa lalu disebut haredi-leumi (haredi nasionalis) atau "Hardal", yang memadukan cara hidup ala haredi dengan ideologi kebangsaan. Dalam bahasa Yidi, umat Yahudi Ortodoks yang taat beragama disebut frum, kebalikan dari frei, yakni umat Yahudi yang lebih liberal.

 

Istilah haredi digunakan untuk menyebut populasi umat Yahudi yang kurang lebih dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan suku bangsa dan ideologi. Ketiga golongan tersebut adalah "umat Lituania" alias umat Haredim Askenasi non-Hasidi, umat Haredim Askenasi Hasidi, dan umat Haredim Sefardi.

 

Karayi dan Samiri

 

Umat Yahudi Karayi mengaku sebagai sisa-sisa dari jemaat-jemaat Yahudi non-Rabani pada zaman Haikal ke-2, semisal kaum Saduki. Umat Karayi, alias umat Qari'un atau umat Kitabi, hanya berpegang pada Alkitab Ibrani dan apa yang mereka anggap sebagai pesyat (makna yang "bersahaja" dari ayat-ayat Kitab Suci). Mereka tidak memedomani susastra selain Kitab Suci. Sejumlah umat Karayi Eropa malah menganggap diri mereka bukan bagian dari umat Yahudi, kendati sebagian besar umat Karayi tidak berpandangan demikian.

 

Umat Yahudi Samiri adalah komunitas kecil umat Yahudi yang seluruh anggotanya bermukim di sekitar Gunung Gerizim di Tepi Barat, dan di Holon, kota tetangga Tel Aviv, di Israel. Umat Samiri mengaku sebagai keturunan rakyat Kerajaan Israel. Amalan-amalan mereka didasarkan pada makna harfiah dari ayat-ayat Taurat (Pancasastra Musa), yang mereka pedomani sebagai satu-satunya Kitab Suci.

 

Haymanot

 

Haymanot (artinya "keimanan" atau "agama" dalam bahasa Ge'ez dan bahasa Amara) adalah sebutan bagi ragam agama Yahudi yang dipeluk bangsa Etiopia. Ragam Yahudi Etiopia ini pada hakikatnya berbeda dari ragam Yahudi Rabani, Karayi, maupun Samiri. Umat Yahudi Etiopia sudah sejak semula menempuh jalan yang berbeda dari rekan-rekan mereka sesama umat Yahudi. Kitab Suci mereka, Orit (Astasastra), ditulis dalam bahasa dan aksara Ge'ez, alih-alih dalam bahasa dan aksara Ibrani, sementara hukum kasrut mereka semata-mata didasarkan atas ayat-ayat Orit, tanpa dibantu ulasan-ulasan penjelas. Hari-hari raya mereka pun berbeda. Sejumlah hari raya khas Yahudi Rabani tidak dirayakan oleh umat Yahudi Etiopia, dan sebaliknya ada hari-hari raya Yahudi Etiopia yang tidak dirayakan oleh umat Yahudi selebihnya, semisal hari raya Sigid (sujud).

 

Amalan

 

Etika Yahudi berpedoman kepada syariat, asas-asas kesusilaan, maupun kebajikan-kebajikan utama menurut agama Yahudi. Amalan-amalan etika Yahudi lazimnya dipahami sebagai amalan-amalan yang mengandung nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebenaran, kerukunan, kasih sayang (hesed), welas asih, kerendahan hati, dan harga diri. Amalan-amalan etika Yahudi yang bersifat khusus mencakup tindakan bederma (ber-tsedakah) dan memelihara tutur kata (pantang ber-lasyon hara). Amalan-amalan etika seputar urusan syahwat dan berbagai macam urusan lain merupakan pokok perbantahan di kalangan umat Yahudi.

 

Sembahyang

 

Menurut tradisi, umat Yahudi bersembahyang tiga kali sehari, yakni menunaikan Syaharit (sembahyang pagi), Minha (sembahyang siang), dan Ma'rib (sembahyang malam), ditambah lagi dengan Musaf (sembahyang tambahan) setiap hari Sabat dan hari-hari raya. Inti dari setiap sembahyang Yahudi adalah Amidah (doa sambil berdiri) atau Syemoneh Esreh (delapan belas doa). Doa penting lain dalam sembahyang Yahudi adalah pemakluman iman, yakni Syema Yisrael (dengarlah ya Israel) atau Syema (dengarlah). Syema adalah pelantunan ayat Ulangan 6:4 dalam kitab Taurat, yang berbunyi syema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Ehad (dengarlah ya Israel, Sang Rabb itu Tuhan kita, Sang Rabb itu esa).

 

Sebagian besar doa Yahudi tradisional dapat didaraskan dalam sembahyang pribadi, kendati orang lebih suka bersembahyang secara berjemaah. Sembahyang berjemaah hanya mungkin terlaksana jika jumlah hadirin mencukupi kuorum sepuluh orang Yahudi akil balig, yang disebut minyan. Sehubungan dengan penentuan tercapai tidaknya minyan ini, hampir semua jemaat Yahudi Ortodoks dan segelintir jemaat Yahudi Konservatif hanya memperhitungkan jumlah hadirin laki-laki, sementara sebagian besar jemaat Yahudi Konservatif dan jemaat-jemaat Yahudi dari mazhab-mazhab lain memperhitungkan pula jumlah hadirin perempuan.

 

Selain bersembahyang, umat Yahudi yang masih berpegang teguh pada amalan warisan leluhur juga mendaraskan doa dan restu setiap kali mengerjakan sesuatu. Umat Yahudi mendaraskan doa setiap kali bangun pagi, sebelum menyantap berbagai jenis hidangan, seusai bersantap, dan seterusnya.

 

Pendekatan terhadap urusan sembahyang berbeda-beda dari satu mazhab ke mazhab lain. Perbedaan-perbedaan antarmazhab dalam urusan sembahyang mencakup perbedaan kalimat-kalimat doa, kekerapan bersembahyang, banyaknya doa yang didaraskan dalam berbagai acara keagamaan, pemanfaatan alat musik dan paduan suara, serta bahasa yang dipakai saat mendaraskan doa. Pada umumnya jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks dan Yahudi Konservatif lebih taat mengikuti amalan warisan leluhur, sementara jemaat-jemaat Yahudi Pembaharuan dan Yahudi Rekonstruksionistis lebih suka menggunakan terjemahan dan karya-karya tulis mutakhir dalam persembahyangan. Dalam kebanyakan jemaat Yahudi Konservatif, seluruh jemaat Yahudi Pembaharuan, dan seluruh jemaat Yahudi Rekonstruksionistis, kaum perempuan ikut terlibat dalam persembahyangan selaku insan yang setara dengan kaum lelaki, termasuk dalam pelaksanaan tugas-tugas yang menurut tradisi hanya dilaksanakan kaum lelaki, misalnya melantunkan ayat-ayat Taurat. Selain itu, banyak rumah ibadat Yahudi Pembaharuan juga menggunakan musik pengiring persembahyangan, seperti iringan organ dan paduan suara campuran.

 

Pakaian khusus

 

Kipah (bahasa Ibrani: כִּפָּה, jamak: kipot; bahasa Yidi: יאַרמלקע, yarmulke) adalah kopiah bundar yang dikenakan banyak orang Yahudi saat berdoa, bersantap, mendaraskan restu, serta mengkaji susastra agama, dan dikenakan sepanjang waktu oleh sebagian kaum lelaki Yahudi. Di lingkungan Yahudi Ortodoks, hanya kaum lelaki yang mengenakan kipah, sementara di kalangan Yahudi non-Ortodoks, ada juga kaum perempuan yang mengenakannya. Ada bermacam-macam ukuran kipah, mulai dari kopiah bundar setelapak tangan yang hanya menyungkupi puncak batok kepala, sampai sebesar kupluk yang menyelubungi seluruh batok kepala.

 

Tsitsit (bahasa Ibrani: צִיציִת, jamak: tsitsiyot) adalah jumbai atau jurai bersimpul khusus pada keempat ujung talit (bahasa Ibrani: טַלִּית, jamak: talitot) alias tudung sembahyang. Talit dikenakan oleh kaum lelaki dan segelintir kaum perempuan Yahudi saat bersembahyang. Komunitas-komunitas umat Yahudi memelihara amalan yang berbeda-beda perihal kapan seorang Yahudi boleh mulai mengenakan talit. Dalam komunitas Yahudi Sefardi, kaum lelaki mulai mengenakan talit sejak usia bar mitswah. Di sejumlah komunitas Yahudi Askenasi, kaum lelaki baru mulai bertalit sesudah kawin. Talit katan (talit kecil) adalah baju berjurai yang dikenakan sepanjang hari sebagai baju dalam. Di sejumlah komunitas Yahudi Ortodoks, jurainya sengaja dibiarkan terjulur bebas dari tepi bawah baju luar.

 

Tefilin (bahasa Ibrani: תְפִלִּין) atau tali sembahyang, adalah dua kotak kecil dari kulit, diisi secarik kertas bertuliskan ayat-ayat Alkitab, dan dipasang pada sabuk kulit. Tefilin dililitkan ke sekeliling dahi dan lengan kanan selama menunaikan sembahyang pagi pada hari-hari biasa oleh kaum lelaki dan segelintir kaum perempuan Yahudi yang taat beragama.

 

Kitel (bahasa Yidi: קיטל) adalah jubah luar putih selutut yang dikenakan oleh pemimpin persembahyangan dan oleh sejumlah orang Yahudi yang masih memegang teguh adat lama pada hari-hari dahsyat. Di sejumlah komunitas Yahudi, sudah diadatkan bagi keluarga untuk mengenakan kitel selama berlangsungnya Seder Paskah, dan adakalanya dikenakan pula oleh mempelai pria saat berdiri di bawah naungan teratak pengantin. Sebelum dikubur, jenazah laki-laki diselubungi talit, dan kadang-kadang juga dipakaikan kitel, sebagai bagian dari takrikim (kafan).

 

Hari raya

 

Hari-hari raya Yahudi adalah hari-hari istimewa dalam penanggalan Ibrani. Hari-hari besar ini merupakan kesempatan khusus untuk memperingati peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah bangsa Yahudi dan tema-tema utama dalam hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, semisal penciptaan, pewahyuan, dan penyelamatan.

 

Hari Sabat

 

Sabat adalah hari istirahat mingguan, terhitung sejak terbenamnya matahari pada hari Jumat sampai dengan terbenamnya matahari pada hari Sabtu. Sabat dirayakan untuk memperingati hari istirahat Tuhan selepas enam hari penciptaan.  Sabat berperan penting dalam pengamalan agama Yahudi, dan diatur dengan banyak hukum agama. Selagi matahari terbenam pada hari Jumat, ibu-ibu rumah tangga menyambut datangnya Sabat dengan menyalakan dua atau lebih pelita seraya melisankan restu. Santap malam diawali dengan Kidus, restu yang dilisankan atas secawan anggur, dan Mohtsi, restu yang dilisankan atas roti. Lazimnya orang menyajikan halah, dua ketul roti kepang, di atas meja. Selama hari Sabat, umat Yahudi tidak dibenarkan melakukan kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam 39 kategori melakah, yang secara harfiah berarti "kerja". Kegiatan-kegiatan yang dilarang pada hari Sabat sesungguhnya bukanlah "kerja" dalam arti sehari-hari, melainkan tindakan-tindakan tertentu seperti menyalakan api, menulis, membelanjakan uang, dan mengangkut barang di ruang publik. Pada Zaman Modern, pantangan menyalakan api diperluas sehingga mencakup pula tindakan mengemudi mobil, yang berkaitan dengan pembakaran bahan bakar, dan pemanfaatan tenaga listrik.

 

Hari-hari ziarah

 

Hari-hari raya (hagim) Yahudi merupakan peringatan peristiwa-peristiwa yang menjadi tonggak sejarah Yahudi, semisal peristiwa hijrah besar-besaran dari Mesir atau peristiwa nuzulut Taurat, dan adakalanya merupakan peringatan peralihan musim dan masa pancaroba yang erat kaitannya dengan daur bercocok tanam. Tiga hari raya utama Yahudi, yakni Sukot, Paskah, dan Syabuot, disebut "regalim" (dari kata Ibrani "regel", yang berarti "kaki"). Pada ketiga regalim ini, lazimnya bangsa Israel berziarah ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Haikal.

 

Pesah (Paskah) adalah perayaan sepekan penuh mulai dari petang hari tanggal 14 bulan Nisan (bulan pertama menurut penanggalan Ibrani). Pesah diselenggarakan untuk memperingati peristiwa hijrah besar-besaran dari Mesir. Di luar negara Israel, Pesah dirayakan selama delapan hari. Pada masa lampau, Pesah bertepatan dengan masa panen jelai. Pesah adalah satu-satunya perayaan yang dilaksanakan dengan upacara khusus di rumah tinggal masing-masing. Upacara khusus di rumah ini disebut Seder (tatanan). Menjelang perayaan Pesah, bahan-bahan pangan beragi (hamets) disingkirkan dari dalam rumah, dan tidak dikonsumsi seminggu penuh. Rumah dibersihkan secara menyeluruh guna memastikan tidak ada lagi roti maupun olahan sampingan dari roti yang masih tertinggal di dalamnya, dan sisa-sisa hamets dibakar secara simbolis pada pagi hari menjelang Seder. Sebagai ganti roti, orang menyantap matsah (roti tidak beragi).

Syabuot (Pentakosta) adalah peringatan nuzulut Taurat di Tur Sina kepada Bani Israel, yang juga dikenal sebagai hari raya Bikurim (tuaian perdana). Pada masa lampau, Syabuot bertepatan dengan masa panen gandum. Syabuot dirayakan dengan amalan tikun leil syabuot (tadarus semalam suntuk), menyantap penganan berbahan dasar susu (kue bolu keju dan kue dadar isi keju sangat digemari orang), membaca Kitab Rut, menghias rumah dan sinagoga dengan dedaunan hijau, dan berpakaian putih, lambang kemurnian.

Sukot (Pondok Daun) adalah peringatan pengembaraan empat puluh tahun Bani Israel di padang gurun dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. Sukot dirayakan dengan membangun pondok-pondok sementara yang disebut sukah (jamak: sukot), lambang dari kemah-kemah tempat bernaung Bani Israel selama mengembara di padang gurun. Sukot bertepatan dengan masa panen buah, dan menandai berakhirnya satu daur bercocok tanam. Umat Yahudi sedunia bersantap di dalam sukah selama tujuh hari tujuh malam. Sukot ditutup dengan Syemini Atseret (sembahyang minta hujan) dan Simhat Torah (bersukacita atas Taurat), yakni perayaan yang menandai berakhirnya satu daur pembacaan Taurat dan bermulanya daur baru. Simhat Torah dirayakan dengan menyanyi dan menari sambil membawa Sifrut Taurat. Syemini Atseret dan Simhat Torah secara teknis dianggap sebagai satu hari raya tersendiri, bukan bagian dari Sukot.

 

Hari-hari dahsyat.

 

Hari-hari dahsyat (Yamim Noraim) adalah hari-hari peringatan akan hisab dan ampunan Tuhan.

 

Ros Ha Syanah (Tahun Baru), yang juga disebut Yom Ha Zikaron (Hari Zikir) dan Yom Teruah (Hari Peniupan Sangkakala), adalah perayaan Tahun Baru Yahudi, kendati jatuh pada tanggal 1 bulan Tisri, bulan ketujuh menurut penanggalan Ibrani. Perayaan Ros Ha Syanah menandai awal jangka waktu penebusan dosa selama 10 hari menjelang perayaan Yom Kipur. Selama jangka waktu 10 hari tersebut, umat Yahudi diperintahkan untuk mewawas diri dan menebus dosa-dosa yang sudah diperbuat selama setahun, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Ros Ha Syanah dirayakan dengan meniup syofar (sangkakala dari tanduk domba jantan) di dalam sinagoga, menyantap apel dan madu, serta mendaraskan restu atas sejumlah makanan simbolis, semisal buah delima.

Yom Kipur (Hari Kifarah) adalah hari tersuci dalam penanggalan Yahudi. Pada hari ini, umat Yahudi berpuasa dan memohon ampunan Tuhan atas dosa-dosa mereka. Umat Yahudi yang taat beragama akan tinggal di sinagoga sepanjang hari, adakalanya diselingi rihat singkat selepas tengah hari, untuk mendaraskan doa-doa yang termaktub di dalam mahzor, buku sembahyang khusus untuk hari raya. Banyak orang Yahudi yang tidak begitu taat beragama juga menyempatkan diri untuk menghadiri sembahyang berjemaah di sinagoga maupun berpuasa pada hari Yom Kipur. Pada malam Yom Kipur, sebelum pelita-pelita dinyalakan, umat Yahudi menyantap hidangan prapuasa yang disebut seudah ha mafseket. Sembahyang berjemaah di sinagoga pada malam Yom Kipur diawali dengan sembahyang kol nidrei (pembatalan nazar, kaul, dan ikrar). Lazimnya orang mengenakan pakaian putih pada hari Yom Kipur, khususnya saat menghadiri sembahyang malam Yom Kipur, serta tidak mengenakan sepatu berbahan kulit. Keesokan harinya, sembahyang berjemaah dilaksanakan sejak pagi hingga petang. Sembahyang penutup, yang disebut ne'ilah, diakhiri dengan tiupan panjang sangkakala.

 

Purim

 

Purim (bahasa Ibrani: פורים, pûrîm, "undi") adalah hari raya sukacita untuk memperingati luputnya umat Yahudi Persia dari muslihat jahat Haman, yang hendak membinasakan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Ester. Purim dirayakan dengan melantunkan ayat-ayat Kitab Ester di hadapan sidang jemaat, saling bertukar hantaran makanan dan minuman, bederma kepada fakir miskin, dan menggelar perjamuan makan minum (Ester 9:22). Ada pula yang merayakannya dengan menenggak anggur, menyantap kue khusus yang disebut hamantas, mengenakan topeng dan pakaian yang aneh-aneh, serta berpawai dan berpesta.

 

Purim dirayakan setiap tanggal 14 bulan Adar menurut penanggalan Ibrani, antara bulan Februari dan Maret menurut penanggalan Gregorius.

 

Hanukah

 

Hanukah (bahasa Ibrani: חֲנֻכָּה, "penahbisan") juga dikenal sebagai Hari Raya Nur, adalah perayaan selama delapan hari, mulai dari tanggal 25 bulan Kislew menurut penanggalan Ibrani. Perayaan dilaksanakan di rumah tinggal masing-masing dengan cara menyalakan delapan pelita satu demi satu selama delapan malam. Satu pelita dinyalakan pada malam pertama, dua pelita pada malam kedua, dan seterusnya.

 

Hari raya ini dinamakan Hanukah (penahbisan) karena merupakan peringatan penyucian kembali Haikal Yerusalem, setelah sempat dinajiskan oleh Antiokos Epifanes, Maharaja Syam dari wangsa Seleukos. Dari segi rohani, Hanukah adalah peringatan "Mukjizat Minyak". Diriwayatkan di dalam Talmud bahwa tatkala Haikal disucikan kembali sesudah Makabe bersaudara mengecundangi Kemaharajaan Wangsa Seleukos, persediaan minyak zaitun murni untuk menyalakan nur abadi hanya cukup untuk sehari, sementara kegiatan mengempa biji zaitun dan mengolah minyak perasannya sampai menjadi bahan bakar siap pakai memerlukan waktu delapan hari. Tanpa disangka-sangka nur abadi terus menyala tanpa tambahan minyak selama delapan hari, yakni sampai ada lagi minyak zaitun murni untuk ditambahkan ke dalam pelita-pelita nur abadi pada kandil Haikal.

 

Hanukah tidak diriwayatkan di dalam Kitab Suci, dan tidak dianggap sebagai hari yang penting untuk dirayakan, tetapi kini dirayakan dengan semakin meriah dan oleh semakin banyak orang karena bertepatan dengan perayaan Natal, dan karena sesuai dengan semangat kebangsaan Yahudi yang terus digembar-gemborkan sejak berdirinya negara Israel.

 

Hari-hari puasa

 

Tanggal 9 bulan Ab (bahasa Ibrani: תשעה באב, Tisyah Be Ab) adalah hari berkabung dan berpuasa untuk mengenang peristiwa penghancuran gedung Haikal pertama dan gedung Haikal ke-2, serta peristiwa pengusiran umat Yahudi dari negeri Spanyol.

 

Ada lagi tiga hari puasa lain untuk memperingati berbagai peristiwa seputar penghancuran Haikal, yakni tanggal 17 bulan Tamuz, tanggal 10 bulan Tebet, dan hari Tsom Gedalyah (saum Gedalyah) yang jatuh tiap tanggal 3 bulan Tisri.

 

Hari-hari besar nasional Israel

 

Hari-hari besar nasional Israel yang erat kaitannya dengan agama dan bangsa Yahudi adalah Yom Ha Syoah (Hari Bencana), Yom Ha Zikaron (Hari Pahlawan), dan Yom Ha Atsmaut (Hari Kemerdekaan). Yom Ha Syoah adalah hari untuk mengenang para korban musibah Holokaus, Yom Ha Zikaron adalah hari untuk mengenang para prajurit Israel yang telah gugur serta para korban aksi terorisme, sementara Yom Ha Atsmaut adalah hari peringatan proklamasi kemerdekaan negara Israel.

 

Ada sebagian pihak yang memilih untuk memperingati musibah Holokaus setiap tanggal 10 bulan Tebet.

 

Membaca Taurat dengan yad (tuding mengaji)

 

Pembacaan Taurat

 

Inti persembahyangan pada hari-hari Sabat dan hari-hari raya adalah pembacaan ayat-ayat kitab Taurat dan pembacaan Haftarah, yakni ayat-ayat kitab lain dalam Tanak yang masih berkaitan dengannya, di hadapan sidang jemaat. Seluruh isi Taurat habis dibacakan dalam jangka waktu setahun, dari satu musim gugur ke musim gugur berikutnya, dimulai pada hari raya Simhat Torah.

 

Sinagoga dan prasarana keagamaan

 

Sinagoga atau kanisah (bahasa Ibrani: בית כנסת, Bet Keneset, "balai sidang") adalah rumah ibadat sekaligus tempat pengajian agama Yahudi. Biasanya bangunan sinagoga terdiri atas ruangan-ruangan terpisah untuk keperluan sembahyang berjemaah, sidang pengajian, acara ramah-tamah, dan pendidikan. Tidak ada ketentuan khusus mengenai rancang bangun rumah ibadat Yahudi, sehingga muncul beraneka macam bentuk bangunan dan desain interior gedung sinagoga. Umat Yahudi Pembaharuan lebih suka menyebut rumah ibadat mereka dengan istilah "haikal". Unsur-unsur tradisional dari sebuah sinagoga antara lain adalah:

 

Tabut (disebut aron ha kodes oleh umat Yahudi Askenasi, dan haikal oleh umat Yahudi Sefardi) adalah mihrab atau anjung tempat menyimpan Sifrut Taurat. Pintu tabut sering kali hanya bertutup tirai bersulam (paroket), yang dipasang pada sisi luar atau sisi dalam ambang pintu.

Mimbar tilawah (disebut bimah oleh umat Yahudi Askenasi, dan tebah oleh umat Yahudi Sefardi) adalah tempat ayat-ayat kitab Taurat dibacakan. Di sinagoga-sinagoga Yahudi Sefardi, mimbar tilawah juga difungsikan sebagai tempat mengimami sembahyang.

Nur abadi (ner tamid) adalah pelita atau lentera yang dijaga agar terus bernyala sebagai pengingat akan pelita-pelita pada kandil yang senantiasa bernyala menerangi Haikal Yerusalem

Meja mimbar (amud) di depan tabut, tempat imam atau hazan mengimami sembahyang seraya berdiri menghadap tabut.

Prasarana penting lainnya dalam agama Yahudi adalah yesyibah (madrasah Yahudi), dan mikwah (bak mandi berendam untuk keperluan bersuci).

 

Kasrut

 

Kasrut adalah hukum halal-haram santapan dalam agama Yahudi. Santapan yang diolah dan dihidangkan dengan berpedoman kepada hukum kasrut disebut makanan kosyer (laik santap), sementara makanan non-kosyer disebut terefah (cacat). Tindakan menjalankan hukum kasrut dengan tekun lazimnya disebut "memelihara kosyer".

 

Ada banyak pasal hukum kasrut yang mengatur tentang santapan berbahan dasar hewani. Sebagai contoh, satwa menyusui yang boleh diolah menjadi santapan kosyer haruslah berkuku belah sekaligus memamah biak. Babi adalah contoh paling terkenal dari satwa non-kosyer.  Kendati berkuku belah, babi tidak memamah biak.  Satwa laut yang boleh diolah menjadi boga bahari kosyer haruslah bersirip dan bersisik. Dengan demikian, satwa laut bercangkang serta segala macam udang, kepiting, dan belut merupakan satwa-satwa non-kosyer. Kendati Taurat memuat senarai unggas non-kosyer, beberapa nama di antaranya tidak dapat lagi diketahui artinya maupun dipastikan jenisnya. Meskipun demikian, umat Yahudi masih melestarikan tradisi yang berkaitan dengan status kasrut unggas. Sebagai contoh, kebanyakan komunitas Yahudi menganggap ayam dan kalkun sebagai unggas kosyer. Jenis-jenis satwa selebihnya, yakni satwa dwialam, satwa melata, dan kebanyakan jenis serangga, terlarang untuk disantap.

 

Selain itu, daging satwa selain ikan harus berasal dari satwa sehat yang disembelih mengikuti syehitah, kaidah penyembelihan. Penyembelihan yang menyimpang dari syehitah akan membuat sembelihan menjadi terefah. Penerapan syehitah dimaksudkan untuk membuat proses penyembelihan berlangsung cepat dan relatif tidak menyakitkan. Darah, lapisan lemak, dan urat daging pangkal paha, terlarang untuk disantap.

 

Daging satwa menyusui tidak boleh disantap bersama-sama dengan olahan susu. Lama jeda antara menyantap daging dan menyantap olahan susu berbeda-beda berdasarkan urutan penyantapan serta kebiasaan komunitas yang mengamalkannya, dan dapat saja berlangsung sampai enam jam. Pasal ini didasarkan atas larangan Alkitab untuk memasak anak binatang di dalam air susu induknya, dan kebanyakan bersumber dari Taurat Tutur, Talmud, serta hukum Rabani. Daging unggas kosyer dianggap sama dengan daging satwa menyusui, tetapi larangan menyantap daging unggas bersama-sama dengan olahan susu bukanlah larangan Alkitabiah, melainkan larangan Rabani.

 

Kecerobohan dalam pemanfaatan wadah, alat makan, dan panggangan akan membuat makanan kosyer menjadi terefah. Peralatan dapur yang pernah dipakai untuk mengolah santapan non-kosyer, atau wadah saji yang pernah dipakai untuk menghidangkan daging, kemudian dipakai lagi untuk menghidangkan olahan susu, akan membuat makanan kosyer menjadi terefah berdasarkan syarat-syarat tertentu.

 

Selain itu, para ulama Yahudi Ortodoks dan beberapa ulama Yahudi Konservatif melarang konsumsi olahan buah anggur yang dihasilkan orang-orang non-Yahudi, lantaran adanya amalan pagan yang memanfaatkan minuman anggur dalam upacara peribadatannya.  Sejumlah ulama Yahudi Konservatif memperbolehkan konsumsi minuman anggur dan sari buah anggur yang diproduksi tanpa pengawasan para rabi.

 

Sebagian besar dari aturan kasrut termaktub di dalam kitab Taurat tanpa disertai keterangan mengenai alasan-alasan khusus yang melatarbelakanginya.  Meskipun demikian, alim-ulama telah mengedepankan sejumlah penjelasan, antara lain adalah untuk memelihara ketahiran diri, melatih pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan ketakwaan, meningkatkan kesehatan, mengurangi perilaku kejam terhadap binatang, dan demi lestarinya keistimewaan yang membedakan umat Yahudi dari umat manusia selebihnya.  Berbagai macam pasal hukum makan minum mungkin dirumuskan karena ada alasan khusus, dan beberapa pasal mungkin pula wujud lantaran lebih dari satu alasan. Sebagai contoh, larangan mengonsumsi darah ungggas dan satwa menyusui didasarkan atas pernyataan Taurat bahwa nyawa binatang terkandung di dalam darahnya.  Di lain pihak, Taurat sendiri melarang Bani Israel menyantap satwa-satwa non-kosyer hanya lantaran satwa-satwa itu "keji".  Kabalah memaparkan tentang pijar-pijar kekudusan yang terpancar lepas berkat tindakan menyantap makanan kosyer, tetapi pijar-pijar ini terlampau erat terbelenggu di dalam makanan-makanan non-kosyer sehingga sukar dilepaskan melalui penyantapan.

 

Selain mengatasi sebagian besar isi syariat, keselamatan nyawa manusia juga mengatasi seluruh pasal hukum kasrut.

 

Ketahiran diri

 

Tanak menjabarkan hal-hal yang dapat mengubah keadaan diri seseorang dari taharah (tahir) menjadi tumah (cemar), antara lain bersentuhan dengan jenazah, kubur, cairan kemaluan laki-laki, cairan kemaluan perempuan, dan darah haid, maupun bersentuhan dengan orang yang sudah cemar akibat salah satu dari hal-hal tersebut.  Di lingkungan Yahudi Rabani, para kohanim, yakni puak-puak imam dari zaman Haikal, dilarang menginjakkan kaki di tanah pekuburan maupun menyentuh jenazah. Pada zaman Haikal, para kohanim hanya dibenarkan menyantap roti sesaji (terumah) dalam keadaan tahir. Hukum khusus bagi para imam ini akhirnya memunculkan hukum-hukum yang lebih kaku sifatnya, semisal hukum membasuh tangan, yang diwajibkan bagi semua orang Yahudi setiap kali hendak menyantap roti biasa.

 

Ketahiran rumah tangga

 

Salah satu bagian penting dari hukum ketahiran diri adalah pemencilan perempuan yang sedang haid. Pasal-pasal yang berkaitan dengan urusan ini disebut nidah (pemencilan) atau ketahiran rumah tangga. Meskipun merupakan unsur penting dari halakah, nidah lazimnya tidak diamalkan oleh umat Yahudi dari mazhab-mazhab yang berhaluan liberal.

 

Hukum-hukum Alkitabiah diperluas lagi dengan ketetapan-ketetapan para rabi, teristimewa di kalangan Yahudi Ortodoks. Sebagai contoh, Taurat mewajibkan kaum perempuan untuk berpantang sanggama selama tujuh hari selepas haid. Perempuan yang haidnya masih berlanjut harus berpantang sanggama tujuh hari lagi sesudah pendarahan berhenti. Para rabi menggabungkan nidah biasa dengan perpanjangan masa haid, yang disebut zabah dalam Taurat, dan menetapkan bahwa seorang perempuan tidak boleh bersanggama dengan suaminya sejak mulai haid sampai tujuh hari selepas haid. Selain itu, hukum Rabani melarang suami untuk bersentuhan maupun tidur seranjang dengan istrinya selama masa pantang sanggama. Selepas masa pantang, pentahiran dapat dilaksanakan di kolam khusus untuk mandi berendam yang disebut mikwah.

 

Umat Yahudi Etiopia, yang masih memelihara amalan leluhur mereka, memencilkan perempuan yang sedang haid ke pondok yang terpisah dari rumah tinggal keluarga. Sama seperti umat Yahudi Karayi, mereka juga melarang perempuan yang sedang haid untuk memasuki rumah ibadat demi memelihara kesucian tempat istimewa itu. Sesudah hijrah ke Israel, orang-orang Yahudi Etiopia dipengaruhi oleh ajaran mazhab-mazhab Yahudi lainnya sehingga akhirnya menerima amalan-amalan nidah yang lebih normatif.

 

Upacara daur hidup

 

Umat Yahudi melestarikan sejumlah upacara daur hidup yang dilaksanakan pada saat-saat tertentu dalam kehidupan seorang Yahudi. Upacara-upacara ini bertujuan mengukuhkan keyahudian seseorang, dan menciptakan ikatan batin yang mempersatukannya dengan segenap umat Yahudi.

 

·         Brit milah – Upacara menerima bayi laki-laki ke dalam ikatan perjanjian antara Tuhan dan Abraham dengan cara memotong kulup si bayi saat genap berumur delapan hari. Dalam upacara ini, bayi yang dikhitan juga diberi nama khas Ibrani. Kendati tidak begitu populer, ada pula upacara penyambutan bayi perempuan dalam bentuk pemberian nama Ibrani, yakni upacara zebed ha bat atau brit bat.

·         Bar mitswah dan bat mitswah – Upacara peralihan dari masa kanak-kanak ke masa akil balig. Di kalangan Yahudi Ortodoks dan beberapa jemaat Yahudi Konservatif, upacara ini dilaksanakan pada saat anak perempuan genap berumur dua belas tahun dan anak laki-laki genap berumur tiga belas tahun, sementara di kalangan Yahudi Pembaharuan, dilaksanakan pada saat si anak, baik laki-laki maupun perempuan, genap berumur tiga belas tahun. Upacara dilaksanakan dengan cara mempersilahkan si anak, yang baru saja mencapai umur akil balig itu, untuk memimpin doa berjemaah, dan selanjutnya melantunkan satu dua ayat Taurat disaksikan sidang jemaat.

·         Perkawinan – Perkawinan adalah peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan seorang Yahudi. Upacara perkawinan dilaksanakan di bawah naungan hupah, atau teratak pengantin, yang melambangkan rumah tangga bahagia. Pada akhir upacara, mempelai pria memijak sebuah gelas hingga pecah, lambang dari perkabungan berkesinambungan atas hancurnya Haikal Yerusalem dan terpencarnya bangsa Yahudi dari tanah leluhur.

·         Perkabungan – Umat Yahudi mengamalkan perkabungan berlapis. Lapis pertama disebut syibah (tujuh), yakni masa berkabung sepekan penuh sesudah si mati dikubur. Selama masa syibah, pihak yang berkabung duduk di rumah sambil dihibur sanak saudara dan handai tolan. Lapis kedua disebut syelosyim (tiga puluh), yakni masa berkabung sebulan penuh sesudah si mati dikubur. Khusus bagi pihak yang berkabung lantaran ditinggal mati ayah atau ibunya, masih ada lagi lapis ketiga, yang disebut yud bet kodes (dua belas bulan), yakni masa berkabung setahun penuh sesudah si mati dikubur.

 

Pemuka agama

 

Peranan imam dalam agama Yahudi sudah sangat mengecil semenjak Haikal ke-2 diluluhlantakkan pada tahun 70 M. Sebelum itu, para imam adalah orang-orang yang berwenang mengurusi Haikal dan persembahan. Imam adalah jabatan pusaka yang diwariskan turun-temurun, dan kendati tidak ada lagi Haikal dan kurban persembahan untuk diurusi, para imam masih dimuliakan oleh banyak komunitas Yahudi. Banyak komunitas Yahudi Ortodoks percaya bahwa tenaga para imam akan dibutuhkan kembali jika kelak Haikal ke-3 berhasil didirikan, sehingga harus bersiap sedia mulai sekarang untuk menjalankan tugasnya di kemudian hari.

 

Kohen (imam) – semua laki-laki dari nasab Harun, abang Musa. Di Haikal, para kohanim bertanggung jawab mempersembahkan kurban. Kini kohen adalah orang pertama yang akan diundang naik ke mimbar tilawah untuk membacakan Taurat, memberi restu keimaman, serta melaksanakan hukum dan upacara-upacara unik lainnya, termasuk upacara ruwatan anak sulung.

Lewi (orang Lewi) – semua laki-laki dari nasab Lewi bin Yakub, selain yang termasuk nasab Harun. Di Haikal, para lewiyim bertugas mengidungkan ayat-ayat Mazmur, merawat dan mengamankan bangunan Haikal, membantu para imam menunaikan tugas, dan adakalanya menjabarkan tafsir hukum serta makna upacara-upacara Haikal kepada sidang jemaat. Kini lewi adalah orang kedua yang diundang naik ke mimbar tilawah untuk membacakan Taurat.

 

Imam sembahyang

 

Sedari zaman Misnah dan Talmud sampai sekarang ini, agama Yahudi mewajibkan adanya tenaga ahli atau orang yang berwenang melaksanakan sejumlah laku upacara. Sebagian besar laku sembahyang Yahudi dapat dilaksanakan seorang diri, tetapi sejumlah laku sembahyang hanya sah dilaksanakan dalam sembahyang berjemaah, yang sekurang-kurangnya dihadiri oleh satu minyan (sepuluh orang Yahudi akil balig), yakni membacakan Taurat dan haftarah (bacaan pelengkap dari Nebi'im atau Ketubim), mendaraskan doa perkabungan, mendaraskan restu ke atas pasangan pengantin, serta mendaraskan doa syukur lengkap sehabis bersantap.

 

Rohaniwan profesional yang paling lazim dijumpai di sinagoga adalah:

 

Rabi jemaat – ulama yang bertugas menjawab pertanyaan-pertanyaan warga jemaat seputar syariat agama Yahudi. Untuk menduduki jabatan ini, seseorang harus terlebih dahulu dikukuhkan oleh ulama besar yang dimuliakan jemaat, yakni seorang rabi Yahudi Ortodoks yang disegani, atau dikukuhkan oleh lembaga pendidikan ulama Yahudi, jika jemaat yang bersangkutan bermazhab Yahudi Konservatif atau Yahudi Pembaharuan. Jemaat dapat saja berdiri tanpa rabi, dan ada jemaat-jemaat yang memiliki rabi tetapi mengizinkan warganya menjadi syats (imam sembahyang) maupun ba'al keriyah (qari).

Rebe – rabi pemimpin sebuah wangsa Hasidi.

Hazan (penembang) – juru tembang terlatih yang menjadi syats dalam sembahyang berjemaah. Dipilih karena bersuara merdu, menguasai cara menembang tradisional, memahami makna doa-doa, dan mampu melantunkan doa-doa tersebut dengan penuh ketulusan. Hazan bukan unsur yang wajib ada dalam suatu jemaat.

Sembahyang berjemaah dalam agama Yahudi memang melibatkan dua peranan khusus, yang dalam banyak jemaat adakalanya dilaksanakan sekaligus oleh seorang rabi atau seorang hazan. Dalam jemaat-jemaat lain, kedua peranan ini dijalankan oleh warga jemaat secara bergiliran:

 

Syaliah tsibur atau syats (harfiah: "wali" jemaat) – mengimami sembahyang dan kadang-kadang mendaraskan doa-doa atas nama sidang jemaat. Saat mendaraskan doa atas nama sidang jemaat, syats bukan bertindak selaku perantara, melainkan fasilitator. Sidang jemaat juga ikut serta dalam pendarasan doa dengan cara mengaminkannya, sehingga doa yang didaraskan syats juga menjadi doa seluruh hadirin. Jelas semua orang dewasa yang mampu mendaraskan doa dapat mengimami sembahyang. Dalam jemaat-jemaat Yahudi Ortodoks dan beberapa jemaat Yahudi Konservatif, hanya kaum lelaki yang boleh mengimami sembahyang, tetapi semua jemaat yang berhaluan progresif kini mengizinkan kaum perempuan untuk menjalankan peranan ini.

Ba'al keriyah atau ba'al koreh (tuan qari) – membacakan bagian kitab Taurat yang dijadwalkan untuk pekan yang bersangkutan. Syarat-syarat menjadi ba'al keriyah sama dengan syarat-syarat menjadi syats. Seorang ba'al keriyah boleh saja mengimami sembahyang andaikata mampu, demikian pula seorang syats boleh membacakan isi Taurat jikalau mampu.

Banyak jemaat, terutama jemaat-jemat besar, juga mengandalkan seorang:

 

Gabai (lebai) – mengundang orang untuk naik ke mimbar tilawah, menunjuk imam sembahyang jika jemaat tidak memiliki syats tetap, serta memelihara kebersihan dan mengurusi segala keperluan sinagoga.

Ketiga peranan di atas biasanya bersifat sukarela dan dianggap sebagai suatu kehormatan bagi orang yang ditunjuk untuk menjalankannya. Sejak Abad Pencerahan, sinagoga-sinagoga besar mulai menggaji rabi dan hazan untuk menjadi syats dan ba'al keriyah. Kebiasaan ini sekarang sudah menjadi amalan lumrah bagi banyak jemaat Yahudi Konservatif dan Yahudi Pembaharuan. Meskipun demikian, di sebagian besar sinagoga Yahudi Ortodoks, peranan-peranan ini dijalankan secara bergilir oleh warga jemaat biasa. Kendati sebagian besar jemaat biasanya menggaji satu dua orang rabi, pemanfaatan tenaga hazan profesional pada umumnya mengalami penurunan di Amerika, dan pemanfaatan tenaga profesional untuk peranan-peranan lainnya juga tetap lebih rendah.

 

Jabatan-jabatan khusus

 

·         Dayan (hakim) – Rabi spesialis hukum di bet din (pengadilan agama). Di Israel, pengadilan agama menangani perkara-perkara perkawinan dan perceraian, perpindahan agama, serta sengketa keuangan yang timbul dalam komunitas Yahudi.

·         Mohel (mantri khitan) – Pakar hukum khitan hasil didikan seorang mohel terkemuka, yang bertugas melaksanakan upacara brit milah (khitanan).

·         Syohet (mantri jagal) – Pakar hukum kasrut hasil didikan seorang syohet senior, yang bertugas menyembelih hewan sesuai syariat agar terjamin kosyer.

·         Sofer (katib) – Ahli seni kaligrafi Ibrani, yang berwenang membuat salinan kitab Taurat, menuliskan ayat-ayat suci pada carikan perkamen yang akan dimasukkan ke dalam kotak tefilin dan mezuzah, serta membuat gitin (surat talak).

·         Ros Yesyibah (rais madrasah) – Pakar Taurat yang mengasuh sebuah madrasah Yahudi.

·         Masgiah ruhani (penilik rohani) – Rabi madrasah yang bertugas mengawasi tingkat kehadiran, adab, kematangan emosi, dan pertumbuhan rohani para siswa, serta mengajarkan mata kuliah musar (ilmu etika Yahudi), tergantung pada kebijakan madrasah.

·         Masgiah (penilik) – Pakar hukum kasrut hasil didikan seorang rabi, atau seorang rabi yang bertanggung jawab mengawasi industri manufaktur makanan kosyer, usaha impor pangan, usaha makanan siap saji, dan rumah-rumah makan, agar makanan dan bahan pangan yang disalurkan kepada umat Yahudi terjamin kosyer.

 

Sep 9, 2020

Makedonia

Makedonia atau Makedon (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía) adalah sebuah kerajaan kuno yang terletak di pinggiran Yunani pada masa Arkais dan Klasik, dan kemudian menjadi negara yang dominan di Yunani pada masa Helenistik. Kerajaan ini dibentuk oleh Dinasti Argeadai, tetapi dalam sejarahnya juga pernah dikuasai oleh Dinasti Antipatridai dan Antigonidai. Kerajaan tempat tinggal orang Makedonia Kuno ini mula-mula berpusat di bagian timur laut Semenanjung Yunani,  yang berbatasan dengan Epiros di barat, Paionia di utara, Trakia di timur, dan Tesalia di selatan.

 

Sebelum abad ke-4 SM, Makedonia merupakan sebuah kerajaan kecil di luar wilayah yang didominasi oleh negara kota besar seperti Atena, Sparta, dan Tivai, dan Makedonia juga sempat tunduk kepada Akemeniyah (Persia). Nasib Makedonia berubah pada masa pemerintahan seorang raja Argeadai yang bernama Filipos II (m. 359 SM – 336 SM). Filipos II mereformasi militer Makedonia salah satunya dengan memperkenalkan formasi falangs Makedonia yang dipersenjatai dengan tembiang sarissa, dan berkat reformasi ini ia dapat mengalahkan Atena dan Tivai dalam Pertempuran Kaironeia pada 338 SM. Salah satu putra Filipos II yang dikenal dengan julukan Aleksander Agung melanjutkan upaya ayahnya untuk menguasai seluruh Yunani dan ia menghancurkan kota Tivai setelah kota tersebut mencoba memberontak. Aleksander lalu berhasil menjatuhkan Kekaisaran Akemeniyah dan menaklukkan wilayah yang terbentang hingga ke Sungai Indus. Semenjak itu, seni dan sastra Yunani berkembang di wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan, dan kemajuan dalam bidang filsafat, teknik, dan sains pun menyebar di wilayah-wilayah tersebut.

 

Setelah kematian Aleksander Agung pada tahun 323 SM, Perang Diadokhoi meletus akibat perebutan kekuasaan yang melibatkan para jenderal yang dahulu berperang bersama Aleksander, dan kemudian wilayah yang telah ditaklukan pun dibagi-bagi. Hal tersebut tidak membuat Makedonia kehilangan status sebagai pusat kebudayaan dan politik Yunani di kawasan Mediterania bersama dengan Mesir Ptolemaik, Kekaisaran Seleukia, dan Kerajaan Pergamon. Makedonia mulai mengalami kemunduran setelah meletusnya Peperangan Makedonia dan kebangkitan Romawi sebagai negara terkuat di kawasan Mediterania. Sesudah kemenangan Romawi dalam Perang Makedonia Ketiga pada tahun 168 SM, monarki Makedonia dibubarkan dan digantikan oleh negara-negara pengekor Romawi. Monarki sempat dipulihkan pada masa Perang Makedonia Keempat pada tahun 150–148 SM, tetapi upaya tersebut tidak berhasil dan Romawi akhirnya mendirikan provinsi Makedonia.

 

Raja-raja Makedonia memiliki kekuasaan absolut dan mengendalikan sumber daya negara seperti emas dan perak. Mereka mengadakan kegiatan-kegiatan penambangan untuk mencetak uang, mendanai pasukan mereka, dan pada masa Filipos II juga untuk membangun armada laut. Tidak seperti negara-negara diadokhoi yang didirikan sepeninggalan Aleksander Agung, kultus kekaisaran yang digalakkan oleh Aleksander tidak pernah diberlakukan di Makedonia, tetapi penguasa Makedonia tetap berperan sebagai imam agung kerajaan dan merupakan pendukung berbagai kultus dari dalam dan luar negeri. Wewenang raja secara teoretis dibatasi oleh lembaga militer, sementara beberapa kota di persemakmuran Makedonia dianugerahi otonomi yang besar, termasuk memiliki pemerintahan demokratis dengan majelis rakyat.

 

Nama Makedonia (bahasa Yunani: Μακεδονία, Makedonía) berasal dari etnonim Μακεδόνες (Makedónes), yang mengakar dari kata dalam bahasa Yunani Kuno μακεδνός (makednós), yang berarti "tinggi" (kemungkinan mendeskripsikan orang-orangnya). Asal mula kata tersebut sama dengan asal usul kata sifat μάκρος (mákros), yang bermakna "panjang" atau "tinggi" dalam bahasa Yunani Kuno. Nama ini awalnya diyakini memiliki arti "orang dataran tinggi", "orang tinggi", atau "orang yang bertumbuh tinggi".  Namun, Robert S. P. Beekes mengklaim bahwa kedua istilah tersebut berasal dari substratum Pra-Yunani dan tak dapat dijelaskan dengan menggunakan morfologi Indo-Eropa.

 

Sejarawan-sejarawan Yunani Klasik seperti Herodotos dan Thukidides mencatat sebuah legenda yang menyatakan bahwa raja-raja Makedonia dari Dinasti Argeadai adalah keturunan Temenos, raja Argos, sehingga raja-raja tersebut dapat mengklaim bahwa Herakles adalah salah satu leluhur mereka, dan bahwa mereka adalah keturunan langsung Zeus, dewa utama dalam mitologi Yunani.  Pernyataan bahwa keluarga Argeadai merupakan keturunan Temenos diterima kebenarannya oleh para juri Hellanodikai dalam ajang Olimpiade Kuno, sehingga Raja Aleksander I dari Makedonia (m. 498 SM – 454 SM) diperbolehkan ikut bertanding berkat identitas Yunani-nya. Tidak banyak yang diketahui mengenai masa pemerintahan ayah Aleksander, yaitu Amintas I dari Makedonia (m. 547 SM – 498 SM), pada periode Arkais. Namun, terdapat pula legenda lain yang menyatakan bahwa pendiri Dinasti Argeadai adalah Perdikas I dari Makedonia atau Karanos dari Makedonia, dan terdapat lima atau delapan raja sebelum Amintas I.

 

Kerajaan Makedonia terletak di sepanjang sungai Haliakmon dan Aksios di kawasan Makedonia Hilir yang terletak di sebelah utara Gunung Olimpus. Sejarawan Robert Malcolm Errington menduga bahwa salah satu raja Argeadai terawal mendirikan kota Aigai (sekarang Vergina) sebagai ibu Setahun setelah Darius I dari Persia (m. 522 SM – 486 SM) melancarkan serangan ke Eropa melawan orang-orang Skitia, Paionia, Trakia, dan beberapa negara-kota Yunani di Balkan, jenderal Persia Megabazos menggunakan cara diplomasi untuk membujuk Amintas I agar bersedia menjadi vasal Kekaisaran Akemeniyah, sehingga dimulailah periode Makedonia Akemeniyah. Hegemoni Akemeniyah sempat terganggu oleh Pemberontakan Ionia (499–493 SM), tetapi jenderal Persia Mardonius berhasil mengembalikan kekuasaan Akemeniyah di Makedonia.  Makedonia diberikan otonomi yang besar dan tidak pernah dijadikan satrapi (semacam provinsi) Akemeniyah, tetapi wilayah tersebut tetap dituntut untuk menyediakan pasukan kepada Akemeniyah. Aleksander I memberikan dukungan militer Makedonia kepada Xerxes I (m. 486 SM – 465 SM) selama invasi Yunani kedua pada 480–479 SM, dan pasukan Makedonia bahkan bertarung di pihak Persia dalam Pertempuran Plataia pada tahun 479 SM. Setelah kemenangan besar Yunani di Salamis pada 480 SM, Aleksander I ditugaskan sebagai diplomat Akemeniyah dengan tugas mengusulkan perjanjian perdamaian dan persekutuan dengan Atena, tetapi tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Tak lama sesudahnya, pasukan Akemeniyah terpaksa mundur dari daratan Eropa, alhasil berakhirlah kekuasaan Persia di Makedonia. kota pada pertengahan abad ke-7 SM. Sebelum abad ke-4 SM, kerajaan tersebut mencakup kawasan di sekitaran bagian barat dan tengah wilayah Makedonia di Yunani modern. Kerajaan tersebut secara bertahap meluas ke wilayah Makedonia Hulu, yang ditinggali oleh suku Linkestis dan Elimiotis (keduanya termasuk ke dalam puak Yunani), dan ke kawasan Ematia, Eordaia, Botiaia, Migdonia, Krestonia, dan Almopia (wilayah-wilayah yang ditempati oleh berbagai suku bangsa seperti Trakia dan Frigia).  Orang-orang non-Yunani yang tinggal bersebelahan dengan Makedonia adalah orang Trakia yang tinggal di kawasan timur laut, Iliria di barat laut, dan Paionia di utara, sementara wilayah Tesalia di selatan dan Epiros di barat ditinggali oleh orang Yunani dengan budaya yang serupa dengan orang Makedonia.

 

Keterlibatan dalam peradaban Yunani Klasik.

 

Meskipun awalnya merupakan vasal Persia, Aleksander I dari Makedonia tetap menjalin hubungan diplomatik yang bersahabat dengan bekas musuh-musuhnya di Yunani, yaitu Liga Delia yang dipimpin oleh Atena dan Liga Peloponesos pimpinan Sparta.  Namun, penerus Aleksander I, yakni Perdikas II (m. 454 SM – 413 SM) memimpin Kerajaan Makedonia dalam empat konflik terpisah melawan Atena; pada saat yang sama, wilayah Makedonia di timur laut terancam oleh serangan-serangan yang dilancarkan oleh seorang penguasa Trakia yang bernama Sitalkes dari Kerajaan Odrisia. Mulanya negarawan Atena Perikles berupaya menggalakkan pendirian permukiman di daerah Sungai Strimon di dekat Kerajaan Makedonia, dan kota Amfipolis didirikan pada 437/436 SM agar Atena dapat memperoleh persediaan emas dan perak ditambah dengan kayu dan damar gegala untuk angkatan laut Atena.  Perdikas sempat tidak mengambil tindakan dan mungkin malah menyambut kedatangan Atena karena mereka sama-sama bermusuhan dengan orang-orang Trakia. Keadaan berubah setelah Atena bersekutu dengan saudara dan sepupu Perdikas II yang telah memberontak melawannya. Dua perang terpisah terjadi antara Makedonia dan Atena dari tahun 433 dan 431 SM. Raja Makedonia membalas tindakan Atena dengan mendukung pemberontakan di wilayah sekutu Atena di Kalkidiki dan berhasil mengambil alih kota Potidaia yang strategis. Kota Potidaia lalu dikepung oleh Atena setelah mereka merebut kota Therma dan Veria dari Makedonia, tetapi pengepungan tersebut mengalami kegagalan; Therma kemudian dikembalikan kepada Makedonia dan sebagian besar wilayah Kalkidiki pun diserahkan kepada Atena sesuai dengan perjanjian perdamaian yang ditengahi oleh Sitalkes, yang memberikan bantuan militer kepada Atena untuk mendapatkan sekutu-sekutu Trakia yang baru sebagai gantinya.

 

Pada 429 SM, di tengah berkecamuknya Perang Peloponesos (431–404 SM) antara Atena dan Sparta, Perdikas II mengirim bantuan militer kepada Sparta di Akarnania, tetapi pasukan Makedonia terlambat datang, sehingga pasukan Atena dapat memenangkan Pertempuran Naupaktus.  Pada tahun yang sama, pasukan Atena mencoba membalas tindakan ini dengan meyakinkan Sitalkes untuk menyerang Makedonia, tetapi Atena menolak mengirimkan angkatan lautnya untuk membantu Sitalkes di Kalkidiki, kemungkinan karena Atena merasa takut dengan ambisi sang raja Trakia. Sitalkes mundur dari Makedonia akibat kurangnya persediaan untuk para tentara pada musim dingin. Pada 424 SM, Perdikas II membantu meyakinkan sekutu-sekutu Atena di Trakia untuk membelot dan bersekutu dengan Sparta.  Sebagai gantinya, jenderal Sparta Brasidas bersedia membantu Perdikas II memadamkan pemberontakan Arabaios, penguasa Linkestis (di Makedonia Hulu), meskipun ia sempat mengungkapkan kekhawatirannya karena Arabaios didukung oleh pasukan Iliria dalam jumlah yang besar dan juga karena sekutu Sparta di Kalkidiki rentan diserang Atena ketika pasukan Sparta sedang disibukkan di tempat lain. Dalam Pertempuran Linkestis, pasukan Makedonia panik dan melarikan diri sebelum pertarungan dimulai, sehingga Brasidas mengamuk, dan pasukan-pasukannya menjarah kereta kuda pengangkut perbekalan milik Makedonia yang telah ditinggalkan.  Akibatnya, Perdikas II berbalik melawan Sparta dan kembali bersekutu dengan Atena, sehingga menghadang bala bantuan Liga Peloponesos di Tesalia dan memaksa Arabaios dan para pemberontak lainnya untuk menyerah dan menerima raja Makedonia sebagai penguasa mereka.

Brasidas meninggal dunia pada tahun 422 SM, yang juga merupakan tahun ketika Atena dan Sparta menyetujui Perjanjian Perdamaian Nikias yang membebaskan Makedonia dari segala kewajiban untuk membantu sekutunya, Atena. Setelah kemenangan Sparta dalam Pertempuran Mantinea pada tahun 418 SM, Sparta membentuk sebuah persekutuan dengan Argos, dan Perdikas II sendiri ingin bergabung dengan persekutuan ini karena terdapat kemungkinan bahwa sekutu-sekutu Sparta akan tetap berada di Kalkidiki. Namun, setelah Argos mendadak berbalik mendukung Atena, angkatan laut Atena dapat memblokade pelabuhan-pelabuhan Makedonia dan menyerang Kalkidiki pada tahun 417 SM. Perdikas II mengajak berdamai pada 414 SM dan membentuk sebuah persekutuan dengan Atena yang kemudian akan dilanjutkan oleh putranya sekaligus penerusnya, Arkelaos I (m. 413 SM – 399 SM). Alhasil angkatan laut Atena memberikan dukungan kepada Arkelaos I selama pengepungan Pidna oleh Makedonia pada tahun 410 SM, dan sebagai gantinya Makedonia memasok Atena dengan kayu dan peralatan laut.

 

Meskipun Arkelaos I menghadapi beberapa pemberontakan di dalam negeri dan harus menghalau serangan Iliria yang dipimpin oleh Siras dari Linkestis, ia mampu merambah ke wilayah Tesalia dengan mengirim bantuan militer kepada sekutu-sekutunya.  Walaupun ia masih mempertahankan Aigai sebagai pusat upacara dan keagamaan, Arkelaos I memindahkan ibu kota kerajaan ke utara di Pela, yang pada saat itu terletak di pinggir danau yang dihubungkan oleh sebuah sungai ke Laut Aegea.  Ia memperkuat mata uang Makedonia dengan mencetak koin-koin yang memiliki kandungan perak yang lebih tinggi serta dengan mengeluarkan koin tembaga yang terpisah.  Istana kerajaannya diisi oleh cendekiawan-cendekiawan ternama seperti seorang dramawan Atena yang bernama Euripides.  Setelah pembunuhan Arkelaos I (diduga akibat hubungan homoseksual dengan hamba muda di istananya), Kerajaan Makedonia mengalami kekacauan; dari tahun 399 hingga 393 SM, terdapat paling tidak empat penguasa: Orestes (putra Arkelaos I), Aeropos II (paman, wali raja, dan pembunuh Orestes), Pausanias (putra Aeropos II), dan Amintas II (yang menikahi putri bungsu Arkelaos I).  Tidak banyak yang diketahui mengenai masa yang kacau ini, tetapi masa ini berakhir setelah Amintas III (m. 393 SM – 370 SM, putra Aridaios dan cucu Amintas I) membunuh Pausanias dan merebut takhta Makedonia.

 

Amintas III sempat melarikan diri dari kerajaannya sekitar tahun 393 atau 383 SM (berdasarkan catatan-catatan sejarah yang saling bertentangan), dalam rangka menghindari serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh suku Dardani dari Iliria yang dipimpin oleh Bardilis. Seorang pengklaim takhta yang bernama Argaios memerintah selama kepergian Amintas III, tetapi Amintas III kemudian dapat kembali ke kerajaannya dengan bantuan sekutu-sekutunya di Tesalia.  Amintas III juga hampir dilengserkan oleh pasukan kota Olintos yang memimpin Liga Kalkidiki, tetapi berkat bantuan dari Teleutias (saudara Raja Sparta Agesilaos II), pasukan Makedonia berhasil membuat Olintos menyerah dan membubarkan Liga Kalkidiki pada 379 SM.

 

Aleksander II (putra dari Euridike I dan Amintas III, m. 370 SM – 368 SM) menggantikan ayahnya dan langsung menyerbu Tesalia dan mengobarkan perang melawan tagus (pemimpin militer tertinggi Tesalia) Aleksander dari Ferai, dan mereka berhasil menaklukkan kota Larisa.  Pasukan Tesalia ingin menjatuhkan Aleksander II sekaligus Aleksander dari Ferai, sehingga mereka meminta bantuan kepada Pelopidas dari Tivai; Pelopidas berhasil merebut kembali Larisa dan kemudian menerima sandera berupa adik kandung Aleksander II (yang kelak akan menjadi Raja Filipus II, m. 359 SM – 336 SM), sesuai dengan ketentuan perjanjian yang telah disepakati dengan Makedonia.  Setelah nyawa Aleksander dicabut oleh saudara iparnya, Ptolemaios dari Aloros, Ptolemaios bertindak sebagai wali untuk Raja Perdikas III (adik Aleksander II, m. 368 SM – 359 SM); setelah Perdikas III mencapai usia dewasa pada tahun 365 SM, ia memerintahkan agar Ptolemaios dihukum mati. Masa kekuasaan Perdikas III merupakan masa kestabilan politik dan pemulihan keuangan.  Namun, serangan dari Atena yang dipimpin oleh Timoteos (anak Konon) mengakibatkan jatuhnya kota Metone dan Pidna, dan kemudian keadaan semakin memburuk setelah Bardilis dari Iliria kembali melancarkan serangan yang berujung pada kematian Perdikas III dan 4.000 pasukan Makedonia dalam pertempuran.

 

Kebangkitan Makedonia

 

Filipos II berusia dua puluh empat tahun saat ia naik takhta pada 359 SM.  Berkat kemampuan diplomasinya, ia berhasil meyakinkan orang-orang Trakia yang dipimpin oleh Berisades untuk tidak lagi membantu salah seorang pengklaim takhta Makedonia yang bernama Pausanias, dan ia juga berhasil membuat Atena menghentikan dukungan mereka kepada seorang pengklaim takhta yang lain, yaitu Argaios II.  Ia melakukannya dengan menyuap orang-orang Trakia dan Paionia (yang merupakan sekutu Trakia), dan juga dengan menyepakati perjanjian dengan Atena yang menyatakan bahwa Makedonia mencabut klaimnya atas kota Amfipolis. Selain itu, ia berhasil berdamai dengan orang-orang Iliria yang sempat mengancam wilayah perbatasan Makedonia.

 

Filipos II mengawali masa pemerintahannya dengan merombak pasukan Makedonia. Ia mengubah susunan, peralatan, dan pelatihan pasukannya, termasuk dengan memperkenalkan formasi falangs Makedonia yang bersenjatakan tembiang panjang (sarissa), dan reformasi ini terbukti mujarab setelah mereka berhasil mengalahkan Iliria dan Paionia.  Catatan-catatan sejarah kuno yang saling berseberangan telah memicu perdebatan di kalangan ahli modern mengenai seberapa besar sumbangsih para pendahulu Filipos II terhadap reformasi militer ini, dan sejauh mana gagasannya dipengaruhi oleh masa-masa remajanya saat ia ditawan di Tivai sebagai sandera politik, khususnya setelah ia bertemu dengan jenderal Epaminondas.

 

Orang Makedonia dan orang-orang Yunani pada umumnya mempraktikkan monogami, tetapi Filipos II melakukan poligami dan mempunyai tujuh istri, dan mungkin hanya satu istrinya yang tidak memiliki latar belakang sebagai persembahan tanda kesetiaan dari keluarga ningrat atau sekutu barunya. Ia menikah dengan Fila dari Elimeia yang berasal dari golongan ningrat Makedonia Hulu, serta seorang putri Iliria yang bernama Audata dengan tujuan membentuk persekutuan. Untuk membentuk persekutuan dengan Larisa di Tesalia, ia menikahi seorang bangsawati Tesalia yang bernama Filina pada tahun 358 SM, dan dari pernikahannya ini Filipos II dikaruniai seorang putra yang kelak akan memerintah dengan nama Filipos III Aridaios (m. 323 SM – 317 SM).  Pada 357 SM, ia menikahi Olimpias untuk bersekutu dengan Aribas, yang merupakan Raja Epiros dan Molosoi. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang putra yang kemudian memerintah dengan sebutan Aleksander III (lebih dikenal dengan julukan Aleksander Agung) dan mengklaim sebagai keturunan Akhilles dalam legenda melalui garis keturunan Raja Epiros.  Tidak diketahui secara pasti apakah raja-raja Akemeniyah-lah yang berpengaruh terhadap praktik poligami Filipos II, meskipun pendahulunya Amintas III memiliki tiga putra yang diyakini lahir dari istri keduanya, Gigaea: Arkelaos, Aridaios, dan Menelaus.  Filipos II memerintahkan penghukuman mati Arkelaos pada 359 SM, sementara dua bersaudara yang lain melarikan diri ke Olintos, yang kemudian menjadi sebuah casus belli untuk memulai Perang Olintia (349–348 SM).

 

Saat Atena sedang disibukkan dengan Perang Sosial (357–355 SM), Filipos II merebut kembali Amfipolis dari Atena pada 357 SM dan pada tahun berikutnya juga berhasil menguasai kembali Pidna dan Potidaia; ia lalu menyerahkan Potidaia kepada Liga Kalkidiki seperti yang telah dijanjikan sebelumnya.  Pada 356 SM, ia mengambil alih Krinides dan mendirikan kembali kota tersebut dengan nama Filipi, sementara salah satu jenderalnya yang bernama Parmenion berhasil mengalahkan raja Iliria Grabos dari Grabaei.  Selama pengepungan Methone tahun 355–354 SM, Filipos II kehilangan mata kanannya akibat tembakan panah, tetapi tetap berhasil merebut kota tersebut dan memperlakukan para penduduknya dengan baik, tidak seperti Potidaia yang telah diperbudak rakyatnya.

 

Filipos II lalu turut serta dalam Perang Suci Ketiga (356–346 SM). Perang ini dimulai setelah Fokis menaklukkan dan menjarah kuil Apollo di Delfi daripada harus melunasi denda yang belum dibayarkan. Akibat tindakan tersebut, Liga Amfiktionia menyatakan perang terhadap Fokis, dan pada saat yang sama perang saudara juga meletus di antara para anggota Liga Tesalia karena masing-masing dari anggota liga tersebut ada yang bersekutu dengan Fokis atau Tivai.  Kampanye militer yang dikobarkan oleh Filipos II melawan Ferai di Tesalia pada 353 SM (atas desakan dari Larisa) sempat mengalami kegagalan akibat dua kekalahan besar di tangan jenderal Fokis Onomarkos. Walaupun begitu, Filipos II berhasil mengalahkan Onomarkos dalam Pertempuran Lapangan Krokus pada 352 SM, sehingga Filipos II terpilih sebagai pemimpin (arkhon) Liga Tesalia, mendapatkan satu kursi di Dewan Amfiktionia, dan dapat membentuk persekutuan dengan Ferai melalui pernikahan dengan Nikesipolis, kemenakan tiran Iason dari Ferai.

 

Setelah bertempur melawan penguasa Trakia Kersobleptes, pada tahun 349 SM, Filipos II memulai perang melawan Liga Kalkidiki, yang telah didirikan kembali pada 375 SM.  Meskipun Karidemos dari Atena mencoba membantu Kalkidiki,  Olintos ditaklukan oleh Filipos II pada 348 SM, sementara para penduduknya dijual sebagai budak, termasuk beberapa warga Atena.  Atena berupaya meyakinkan sekutu-sekutunya untuk melancarkan serangan balasan (termasuk pidato-pidato Demostenes), tetapi upaya-upaya ini gagal, sehingga pada 346 SM Atena menyepakati Perjanjian Perdamaian Filokrates dengan Makedonia.  Perjanjian tersebut menyatakan bahwa Atena akan mencabut klaim atas wilayah pesisir Makedonia, Kalkidiki, dan Amfipolis; sebagai gantinya, orang-orang Atena yang telah diperbudak akan dilepaskan, dan Filipos II juga memberikan jaminan bahwa mereka tak akan menyerang permukiman-permukiman Atena di Kersonesos Trakia.  Sementara itu, Fokis dan Termopilai ditaklukkan oleh pasukan Makedonia, para perampok kuil Delfi dihukum mati, dan Filipos II memperoleh dua kursi Fokis di Dewan Amfiktionia serta jabatan pembawa acara dalam ajang Pesta Olahraga Pitia.  Atena awalnya menentang keanggotaan Makedonia di dewan dan menolak hadir dalam ajang tersebut sebagai tanda protes, tetapi pada akhirnya mereka bersedia menerimanya, mungkin setelah diyakinkan oleh Demostenes dalam orasinya, Tentang Perdamaian.

 

Dalam rentang waktu beberapa tahun sesudahnya, Filipos II merombak pemerintahan-pemerintahan lokal di Tesalia, berperang melawan penguasa Iliria Pleuratos I, melengserkan Aribas di Epiros dan menggantikannya dengan saudara ipar Filipos II, Aleksander I (melalui pernikahan Filipos II dengan Olimpias), serta mengalahkan Kersobleptes di Trakia. Dengan ini ia dapat memperluas kendali Makedonia ke wilayah Helespontos untuk mengantisipasi serangan dari Akemeniyah.  Pada tahun 342 SM, Filipos II menaklukkan sebuah kota Trakia yang terletak di wilayah yang kini menjadi bagian dari Bulgaria, dan lalu mengganti namanya menjadi Filipopolis (sekarang Plovdiv).  Perang melawan Atena meletus pada tahun 340 SM, sementara Filipos II disibukkan oleh pengepungan terhadap kota Perintos dan Bizantion yang mengalami kegagalan, disusul dengan perang melawan Skitia di sepanjang sungai Donau yang berhasil dimenangkan oleh Makedonia, serta keterlibatan Makedonia dalam Perang Suci Keempat melawan Amfisa pada 339 SM.  Tivai kemudian mengusir garnisun Makedonia dari Nikea (dekat Termopilai), sehingga Tivai bergabung dengan Atena, Megara, Korintos, Akhaia, dan Euboia dalam upaya terakhir mereka untuk membendung Makedonia dalam Pertempuran Kaironeia pada 338 SM.  Setelah Makedonia berhasil memenangkan pertempuran tersebut, Filipos II mendirikan sebuah oligarki di Tivai, tetapi mereka tidak mengambil tindakan keras terhadap Atena, karena mereka masih ingin memanfaatkan angkatan laut mereka dalam rencana penyerangan terhadap Akemeniyah. Ia lalu membentuk Liga Korintos yang meliputi negara-negara kota Yunani besar kecuali Sparta. Walaupun Kerajaan Makedonia secara resmi tidak tergabung ke dalam liga tersebut, pada tahun 337 SM, Filipos II terpilih sebagai pemimpin (hegemon) dewan liga tersebut (sinedrion) serta panglima tertinggi (strategos autokrator) dalam kampanye militer yang akan datang melawan Akemeniyah.  Salah satu alasan yang mendasari keputusan Filipos II untuk menyerang Akemeniyah mungkin adalah ketakutan di Yunani bahwa Persia akan kembali melakukan serangan. Persia menawarkan bantuan kepada Perintos dan Bizantion pada 341–340 SM, mengingat Makedonia perlu menguasai kawasan Trakia dan Laut Aegea untuk mempersiapkan serangan ke Akemeniyah, sementara Raja Persia Artaxerxes III terus memperkukuh kekuasaannya atas provinsi-provinsi di Anatolia barat. Filipos II sendiri menginginkan wilayah Anatolia barat, karena sumber daya alam di tempat tersebut jauh lebih kaya daripada di Balkan.

 

Setelah Filipos II menikahi Kleopatra Euridike (keponakan jenderal Atalus), perbincangan mengenai calon penerus yang baru selama pesta pernikahan membuat murka istri Filipos II, Olimpias, dan anak mereka, Aleksander (yang juga merupakan veteran Pertempuran Kaironeia). Aleksander dan Olimpias bersama-sama melarikan diri ke Epiros sebelum akhirnya Aleksander dipanggil lagi ke Pela oleh Filipos II. Saat Filipos II berencana menjodohkan anaknya Aridaios dengan Ada dari Karia (putri seorang satrap Persia di Karia yang bernama Pixodarus), Aleksander meminta agar dirinya yang dinikahkan dengan Ada. Filipos lalu membatalkan pernikahan tersebut dan mengasingkan para penasihat Aleksander (Ptolemaios, Nearkos, dan Harpalos).  Agar tetap rukun dengan Olimpias, Filipos II menikahkan putri mereka Kleopatra dengan saudara Olimpia (dan paman Kleopatra), Aleksander I dari Epiros, tetapi Filipos II malah dibunuh oleh penjaganya Pausanias dari Orestis saat pesta pernikahan tersebut digelar, sehingga ia digantikan oleh Aleksander pada 336 SM.

 

Kekaisaran

 

Para ahli modern telah memperdebatkan kemungkinan keterlibatan Aleksander III dan ibunya Olimpias dalam pembunuhan Filipos II, terutama mengingat bahwa Filipos II sudah memutuskan untuk tidak melibatkan Aleksander dalam rencana serangannya ke Asia dan sebagai gantinya akan menjadikannya sebagai wali raja Yunani dan wakil hegemon Liga Korintos; faktor lain yang membuat ahli-ahli mencurigai keterlibatan mereka berdua adalah kemungkinan lahirnya calon penerus laki-laki yang lain dari pernikahan Filipos II dengan istri barunya, Kleopatra Euridike.  Aleksander III (m. 336 SM – 323 SM) dinyatakan sebagai raja oleh sebuah majelis yang terdiri dari para tentara dan ningrat, dengan Antipatros dan Parmenion sebagai tokoh-tokoh paling penting di majelis tersebut. Pada akhir masa pemerintahan dan karier militernya pada 323 SM, Aleksander menguasai sebuah kekaisaran yang membentang di Yunani daratan, Asia Kecil, Syam, Mesir Kuno, Mesopotamia, Persia, dan berbagai wilayah di Asia Tengah dan Selatan (termasuk wilayah yang sekarang menjadi Pakistan).  Salah satu tindakan pertamanya adalah memakamkan ayahnya di Aigai.  Para anggota Liga Korintos memberontak setelah mendengar kabar kematian Filipos II, tetapi pemberontakan tersebut tak lama kemudian dipadamkan oleh pasukan militer dan juga dengan menggunakan diplomasi, sehingga Aleksander terpilih sebagai hegemon liga tersebut yang akan melaksanakan rencana serangan ke Akemeniyah.

 

Pada tahun 335 SM, Aleksander mengobarkan perang melawan salah satu suku Trakia yang disebut Tribali di Haemus Mons dan di sepanjang sungai Donau, sehingga suku tersebut terpaksa menyerah di Pulau Peuke. Tak lama setelahnya, raja Iliria Kleitos dari Dardani mengancam akan menyerang Makedonia, tetapi Aleksander mengambil tindakan terlebih dahulu dengan mengepung suku Dardani di Pelion (sekarang di Albania). Ketika Tivai kembali memberontak melawan Liga Korintos dan mengepung garnisun Makedonia di Kadmia, Aleksander meninggalkan front Iliria dan bergerak menuju Tivai, yang kemudian ia kepung. Setelah berhasil menembus tembok kota, pasukan Aleksander membunuh 6.000 orang, menawan 30.000 warga, dan membakar kota tersebut hingga rata dengan tanah sebagai peringatan terhadap negara-negara Yunani lainnya (kecuali Sparta) supaya mereka tidak mencoba menentang Aleksander.

 

Sepanjang karier militernya, Aleksander memenangkan setiap pertempuran yang ia pimpin secara langsung. Kemenangan pertamanya melawan bangsa Persia di Asia Kecil dalam Pertempuran Granikos pada 334 SM diwujudkan dengan mengirimkan kontingen kavaleri kecil sebagai pengalih perhatian agar pasukan infanterinya dapat menyeberangi sungai, dan disusul oleh serbuan dari kavaleri "hetairoi".  Aleksander memimpin serbuan kavaleri dalam Pertempuran Isos pada 333 SM, sehingga Raja Persia Darius III dan tentaranya terpaksa melarikan diri.  Meskipun jumlah pasukannya lebih unggul, Darius III lagi-lagi terpaksa mundur akibat kekalahan dalam Pertempuran Gaugamela pada 331 SM. Sang Raja Persia kemudian ditangkap dan dihukum mati oleh seorang satrap Baktria sekaligus kerabatnya, Besos, pada 330 SM. Aleksander lalu memburu dan menghukum mati Besos di sebuah tempat yang sekarang berada di Afganistan, sesambil menguasai kawasan Sogdia. Dalam Pertempuran Hidaspes pada tahun 326 SM (sekarang di Punjab), gajah-gajah perang Raja Puru dari Paurawa mengancam pasukan Aleksander, alhasil Aleksander memerintahkan pasukannya untuk membentuk barisan terbuka, mengepung gajah-gajah, dan menjatuhkan pengendali gajah dengan menggunakan tembiang sarissa. Ketika pasukan Makedonia mengancam akan melakukan pemberontakan pada 324 SM di Opis, Babilonia (sekarang di dekat Baghdad, Irak), Aleksander malah menawarkan gelar-gelar militer Makedonia dan tanggung jawab yang lebih besar kepada para perwira Persia, sehingga pasukannya terpaksa memohon pengampunan dalam perjamuan makan yang diadakan untuk merukunkan kembali Persia dan Makedonia.

 

Aleksander mungkin telah melemahkan pemerintahannya sendiri dengan menunjukkan tanda-tanda megalomania. Selain mengeluarkan propaganda yang efektif seperti kisah pemotongan Ikatan Gordia, ia juga berupaya menggambarkan dirinya sebagai seorang dewa hidup dan putra Zeus setelah ia mengunjungi orakel di Siwah, Gurun Libya (sekarang Mesir), pada 331 SM. Pada tahun 327 SM, ia mencoba meminta bawahannya untuk bersujud di hadapannya di Baktra, yang merupakan sebuah tindakan proskinesis yang diserap dari praktik di istana Persia, tetapi upaya ini dicap sebagai penistaan agama oleh bawahan-bawahannya di Makedonia dan Yunani setelah seorang sejarawan istana yang bernama Kalistenes menolak mengikuti ritual tersebut. Ketika Aleksander membunuh Parmenion di Ekbatana (sekarang dekat Hamadan, Iran) pada 330 SM, hal ini menjadi "gejala melebarnya jurang antara kepentingan raja dengan kepentingan negara dan rakyatnya", sebagaimana diamati oleh Errington. Pembunuhan Kleitos yang Hitam pada 328 SM oleh Aleksander juga disebut sebagai tindakan yang "berdendam dan sembrono" oleh Dawn L. Gilley dan Ian Worthington.  Selain itu, Aleksander meneruskan kebiasaan poligami ayahnya; ia mendorong pasukannya untuk menikahi perempuan-perempuan di Asia, dan ia memberikan contoh secara langsung dengan menikahi Roxana, seorang putri Baktria yang berasal dari Sogdia. Aleksander kemudian menikahi Stateira II (putri sulung Darius III) dan Parisatis II (putri bungsu Artaxerxes III) dalam upacara pernikahan Susa pada 324 SM.

 

Sementara itu, di Yunani, Raja Sparta Agis III berupaya memimpin pemberontakan Yunani melawan Makedonia. Ia dikalahkan pada 331 SM dalam Pertempuran Megalopolis oleh Antipatros. Sebelum Antipatros berangkat untuk melancarkan kampanye militer di Peloponesos, gubernur Trakia yang bernama Memnon berhasil dibujuk untuk tidak memberontak dengan menggunakan cara diplomasi. Antipatros menyerahkan urusan hukuman terhadap Sparta kepada Liga Korintos yang dikepalai oleh Aleksander, yang pada akhirnya memutuskan untuk mengampuni Sparta asalkan mereka mengirim lima puluh bangsawan sebagai sandera. Kekuasaan Antipatros tidak terlalu disukai di Yunani akibat tindakannya (mungkin atas perintah dari Aleksander) yang menempatkan pasukan-pasukan Makedonia di kota-kota dan mengasingkan orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinannya, tetapi pada tahun 330 SM, Aleksander mengumandangkan bahwa tirani-tirani yang ada di Yunani akan dihapuskan dan kebebasan Yunani akan dipulihkan.

 

Setelah Aleksander Agung meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM, Olimpias langsung melayangkan tuduhan kepada Antipatros dan faksinya bahwa mereka telah meracuninya, meskipun tak ada bukti yang membenarkan hal ini. Akibat ketiadaan pewaris takhta secara resmi, komando militer Makedonia pun terpecah: satu pihak menyatakan saudara tiri Aleksander, Filipos III Aridaios (m. 323 SM – 317 SM), sebagai raja, sementara yang lainnya berpihak kepada bayi putra Aleksander dari pernikahannya dengan Roxana, Aleksander IV (m. 323 SM – 309 SM). Sepeninggalan Aleksander, orang-orang Yunani (kecuali Euboia dan Boiotia) juga langsung memberontak melawan Antipatros dan memulai Perang Lamia (323–322 SM). Setelah Antipatros mengalami kekalahan dalam Pertempuran Termopilai pada 323 SM, ia melarikan diri ke Lamia, dan kemudian ia dikepung oleh komandan Atena Leostenes. Antipatros lalu diselamatkan oleh pasukan Makedonia yang dipimpin oleh Leonatos.  Antipatros pada akhirnya berhasil memadamkan pemberontakan tersebut. Kematiannya pada 319 SM mengakibatkan kekosongan kekuasaan, sementara dua orang yang dinyatakan sebagai raja menjadi pion dalam perebutan kekuasaan di antara para diadokhoi (bekas jenderal pasukan Aleksander).

 

Peristiwa lain yang terjadi setelah kematian Aleksander adalah pertemuan dewan tentara di Babilonia. Dewan tentara tersebut mengangkat Filipos III sebagai raja dan kiliarkos Perdikas sebagai walinya. Antipatros, Antigonos Monoftalmos, Krateros, dan Ptolemaios membentuk sebuah koalisi melawan Perdikas dalam sebuah perang saudara yang disulut oleh perampasan pengangkut jenazah Aleksander Agung oleh Ptolemaios.  Perdikas menyerang Ptolemaios di Mesir untuk menghukumnya, tetapi serangan itu mengalami kegagalan, dan 2.000 pasukannya tewas tenggelam saat sedang bergerak di kawasan Sungai Nil; Perdikas kemudian dibunuh oleh para perwiranya sendiri di tengah kampanye militer tersebut pada tahun 321 SM. Sementara itu, Eumenes dari Kardia berhasil membunuh Krateros dalam pertempuran, tetapi hal ini tidak terlalu berdampak terhadap jalannya Pembagian Triparadeisos pada tahun 321 SM di Siria, ketika koalisi yang memenangkan perang menyelesaikan permasalahan perwalian raja yang baru dan hak-hak wilayah.  Antipatros diangkat sebagai wali atas dua raja. Sebelum Antipatros wafat pada 319 SM, ia mengangkat seorang loyalis Argeadai yang bernama Poliperkones sebagai penerusnya, sehingga melewatkan anak kandung Antipatros, Kasandros, dan menghiraukan hak raja untuk memilih walinya sendiri (karena Filipos III dianggap memiliki kondisi kejiwaan yang tidak stabil), dan juga mengabaikan dewan tentara.

 

Setelah bersekutu dengan Ptolemaios, Antigonos, dan Lisimakos, Kasandros memerintahkan perwiranya Nikanor untuk merebut benteng Munikia di kota pelabuhan Atena, Pireas; tindakan ini melanggar dekret dari Poliperkones yang menyatakan bahwa kota-kota Yunani harus terbebas dari garnisun Makedonia, sehingga meletuslah Perang Diadokhoi Kedua (319–315 SM). Akibat kekalahan-kekalahan Poliperkones, pada tahun 317 SM, Filipos III (dengan keterlibatan istri Filipos III yang aktif secara politik, Euridike II dari Makedonia) secara resmi menjadikan Kasandros sebagai pengganti Poliperkones.  Sesudah itu, Poliperkones meminta bantuan dari Olimpias di Epiros. Pasukan gabungan Epiros, Aitolia, dan Poliperkones menyerang Makedonia dan berhasil memaksa pasukan Filipos III dan Euridike untuk menyerah, sehingga Olimpias dapat menghukum mati sang raja dan memaksa sang ratu untuk bunuh diri. Olimpias kemudian memerintahkan agar Nikanor dan puluhan bangsawan Makedonia lainnya dibunuh, tetapi pada musim semi tahun 316 SM, Kasandros berhasil mengalahkan pasukan Olimpias, menangkapnya, dan menyeretnya ke meja hijau atas dakwaan pembunuhan, dan akhirnya Olimpias dijatuhi hukuman mati.

 

Kasandros menikahi putri Filipos II yang bernama Thessalonike dan memperluas kendali Makedonia ke wilayah Iliria hingga mencapai Epidamnos. Pada 313 SM, wilayah tersebut direbut kembali oleh raja Iliria Glaukias dari Taulanti. Pada 316 SM, Antigonos merebut wilayah Eumenes dan memutuskan untuk mengusir Seleukos Nikator dari wilayah Seleukos di Babilonia, sehingga Kasandros, Ptolemaios, dan Lisimakos melayangkan ultimatum terhadap Antigonos pada tahun 315 SM yang menuntut agar ia menyerahkan berbagai wilayah di Asia.  Antigonos langsung bersekutu dengan Poliperkones yang berbasis di Korintos, dan Antigonos lalu juga mengeluarkan sebuah ultimatum kepada Kasandros yang menuduhnya sebagai pembunuh Olimpias dan menuntut agar ia menyerahkan keluarga kerajaan, yaitu Raja Aleksander IV dan ibu suri Roxana.  Konflik tersebut berlangsung hingga musim dingin tahun 312/311 SM, dan kemudian perjanjian perdamaian yang baru mengakui Kasandros sebagai jenderal Eropa, Antigonos sebagai "yang pertama di Asia", Ptolemaios sebagai jenderal Mesir, dan Lisimakos sebagai jenderal Trakia.  Kasandros lalu memerintahkan agar Aleksander IV dan Roxana dihukum mati pada musim dingin tahun 311/310 SM. Kemudian, pada tahun 306–305 SM, para diadokhoi dinyatakan sebagai raja di wilayah mereka masing-masing.

 

Era Helenistik

 

Era Yunani Helenistik ditandai dengan percekcokan antara Dinasti Antipatridai yang dipimpin oleh Kasandros (m. 305 SM – 297 SM) melawan Dinasti Antigonidai pimpinan jenderal Makedonia Antigonos I Monofthalmos (m. 306 SM – 301 SM) dan putranya yang kelak akan menjadi raja Demetrios I (m. 294 SM – 288 SM). Kasandros mengepung Atena pada 303 SM, tetapi terpaksa mundur ke Makedonia ketika Demetrios menyerbu Boiotia untuk memutus jalur mundur pasukan Kasandros. Walaupun Antigonos dan Demetrios berupaya membentuk kembali Liga Helenik seperti pada masa Filipos II dengan mereka berdua sebagai hegemon, sebuah koalisi tandingan didirikan oleh Kasandros, Ptolemaios I Soter (m. 305 SM – 283 SM) dari Dinasti Ptolemaik Mesir, Seleukos I Nikator (m. 305 SM – 281 SM) dari Kekaisaran Seleukia, dan Raja Trakia Lisimakos (m. 306 SM – 281 SM); koalisi ini berhasil mengalahkan pasukan Antigonidai dalam Pertempuran Ipsos pada 301 SM, yang menewaskan Antigonos dan memaksa Demetrios untuk melarikan diri.

 

Kasandros wafat pada tahun 297 SM, dan putranya Filipos IV yang sakit juga tutup usia pada tahun yang sama; Filipos IV lalu digantikan oleh dua anak laki-laki Kasandros yang lain, yaitu Aleksander V dari Makedonia (m. 297 SM – 294 SM) dan Antipatros II dari Makedonia (m. 297 SM – 294 SM), sementara ibu mereka Thessalonike dari Makedonia bertindak sebagai wali raja. Ketika Demetrios sedang bertempur melawan pasukan Antipatridai di Yunani, Antipatros II membunuh ibunya sendiri untuk memperoleh kekuasaan. Aleksander V yang merasa tersudut lalu meminta bantuan dari Piros dari Epiros (m. 297 SM – 272 SM), yang pernah bertempur bersama dengan Demetrios dalam Pertempuran Ipsos, tetapi Piros kemudian dikirim sebagai sandera ke Mesir sebagai bagian dari perjanjian antara Demetrios dan Ptolemaios I. Sebagai balasan karena telah mengalahkan pasukan Antipatros II dan membuat Antipatros II melarikan diri ke istana Lisimakos di Trakia, Piros dianugerahi wilayah paling barat kerajaan Makedonia.  Demetrios lalu memerintahkan pembunuhan keponakannya, Aleksander V, dan kemudian dinyatakan sebagai raja Makedonia, tetapi bawahan-bawahannya menentang gaya kepemimpinan otokrasinya.

 

Perang pecah antara Piros dan Demetrios pada tahun 290 SM setelah Lanasa (istri Piros dan putri Agatokles dari Sirakousai) mencampakkan Piros, mendekati Demetrios, dan menawarkan kepada Demetrios pulau Korkira yang sebelumnya diperolehnya sebagai maskawin.  Perang berlangsung sampai tahun 288 SM, ketika Demetrius tidak lagi didukung oleh rakyat Makedonia dan melarikan diri dari negara tersebut. Makedonia kemudian terbagi antara Piros dan Lisimakos; Piros menguasai Makedonia barat, sementara Lisimakos mengendalikan Makedonia timur.  Pada tahun 286 SM, Lisimakos mengusir Piros dan pasukannya dari Makedonia.  Pada 282 SM, perang meletus antara Seleukos I melawan Lisimakos; Lisimakos tewas dalam Pertempuran Kurupedion, sehingga Seleukos I dapat mengambil alih wilayah Trakia dan Makedonia. Namun, Seleukos I dibunuh pada tahun 281 SM oleh salah seorang perwiranya yang bernama Ptolemaios Keraunos, putra Ptolemaios I dan cucu Antipatros. Ptolemaios Keraunos kemudian dinyatakan sebagai raja Makedonia, tetapi ia gugur dalam pertempuran melawan para penyerang Kelt pada tahun 279 SM selama invasi Galia ke Yunani.  Tentara Makedonia menyatakan jenderal Sostenes dari Makedonia sebagai raja, meskipun ia tampaknya menolak gelar tersebut.  Setelah mengalahkan pasukan seorang penguasa Galia yang bernama Bolgios dan memukul mundur pasukan yang dipimpin oleh Brenos, Sostenes wafat dan meninggalkan Makedonia dalam keadaan yang kacau.  Pasukan Galia kembali meluluhlantakkan Makedonia sampai Antigonos Gonatas (putra Demetrios) mengalahkan mereka di Trakia pada tahun 277 SM dalam Pertempuran Lismakeia dan kemudian dinyatakan sebagai raja Antigonos II dari Makedonia (m. 277 SM – 274 SM; m. 272 SM – 239 SM).

 

Pada 280 SM, Piros melancarkan kampanye militer di Magna Gresia (Italia selatan) melawan Republik Romawi, dan konflik ini dikenal dengan sebutan Perang Piros, dan kemudian ia juga melancarkan serangan ke Sisilia yang berada di bawah kendali Kartago pada masa itu.  Ptolemaios Keraunos sendiri mengamankan jabatannya di Makedonia dengan memberikan lima ribu prajurit dan dua puluh gajah perang kepada Piros. Setelah mengalami kegagalan, Piros kembali ke Epiros pada 275 SM, dan kemenangan Romawi dalam konflik tersebut telah memperkuat negara ini, karena kota-kota Yunani di Italia selatan (seperti Tarentum) telah menjadi sekutu Romawi.  Piros lalu menyerang Makedonia pada tahun 274 SM dan berhasil mengalahkan tentara Antigonos II yang sebagian besar terdiri dari tentara bayaran dalam Pertempuran Aous pada tahun 274 SM. Piros juga berhasil mengusirnya dari Makedonia, sehingga Antigonos II terpaksa mengungsi bersama dengan armadanya.

 

Piros kehilangan dukungan dari banyak orang di Makedonia pada tahun 273 SM setelah tentara bayarannya yang berasal dari Galia menjarah pemakaman kerajaan di Aigai.  Piros mengejar Antigonos II di Peloponesos, tetapi Antigonos II pada akhirnya berhasil menaklukkan kembali Makedonia.  Piros tewas saat mengepung Argos pada 272 SM, alhasil Antigonos II dapat mengklaim kembali wilayah Yunani lainnya.  Ia kemudian merestorasi pemakaman Dinasti Argeadai di Aigai dan mencaplok wilayah Kerajaan Paionia.

 

Liga Aitolia menghambat ambisi Antigonos II di Yunani tengah. Pembentukan Liga Akaya pada 251 SM juga mengakibatkan terusirnya pasukan Makedonia dari sebagian besar wilayah Peloponesos, dan pada masa-masa tertentu liga ini turut menguasai Atena dan Sparta.  Meskipun Kekaisaran Seleukia bersekutu dengan Dinasti Antigonidai di Makedonia dalam upaya melawan Mesir Ptolemaik pada masa Perang Siria, angkatan laut Ptolemaik sangat mengganggu upaya Antigonos II untuk mengendalikan daratan utama Yunani.  Dengan bantuan dari angkatan laut Ptolemaik, negarawan Atena Kremonides melancarkan sebuah pemberontakan melawan Makedonia yang dikenal sebagai Perang Kremonides (267–261 SM).  Pada 265 SM, Atena dikepung oleh pasukan Antigonos II, dan armada Ptolemaik dikalahkan dalam Pertempuran Kos. Atena akhirnya menyerah pada 261 SM.  Setelah Makedonia membentuk sebuah persekutuan dengan penguasa Seleukia Antiokos II, sebuah kesepakatan damai antara Antigonos II dan Ptolemaios II Filadelfos dari Mesir akhirnya tercapai pada 255 SM.

 

Pada 251 SM, Aratos dari Sikion melancarkan sebuah pemberontakan melawan Antigonos II, dan pada 250 SM, Ptolemaios II menyatakan dukungannya kepada Aleksander dari Korintos yang telah menyatakan dirinya sebagai raja. Walaupun Aleksander wafat pada 246 SM dan Antigonos berhasil memenangkan pertempuran laut melawan Ptolemaios di Andros, Akrokorintos direbut oleh pasukan Aratos pada 243 SM, dan kemudian Korintos tergabung ke dalam Liga Akaya. Antigonos II berdamai dengan Liga Akaya pada 240 SM dan harus merelakan wilayah yang telah lepas di Yunani. Antigonos II meninggal dunia pada 239 SM dan digantikan oleh putranya, Demetrios II dari Makedonia (m. 239 SM – 229 SM). Dalam upaya untuk membentuk persekutuan dengan Makedonia untuk mempertahankan diri dari serangan Aitolia, ibu suri dan wali raja Epiros, Olimpias II, menawarkan putrinya Ftia dari Makedonia untuk dinikahkan dengan Demetrios II. Demetrios II menerima usulannya, tetapi hubungannya dengan Seleukia rusak akibat perceraiannya dengan Stratonike dari Makedonia. Walaupun pernikahan ini membuat Aitolia bersekutu dengan Liga Akaya, Demetrios II menyerang Boiotia dan berhasil merebutnya dari Aitolia pada 236 SM.

 

Liga Akaya berhasil menaklukkan Megalopolis pada 235 SM, dan pada akhir masa pemerintahan Demetrios II, sebagian besar wilayah Peloponesos (kecuali Argos) telah direbut dari Makedonia. Persekutuan Demetrios II dengan Epiros juga bubar setelah sistem monarki dilengserkan oleh sebuah revolusi republikan.  Demetrios II meminta bantuan kepada raja Iliria Agron dalam upaya untuk mempertahankan Akarnania dari Aitolia, dan pada 229 SM, mereka berhasil mengalahkan gabungan angkatan laut Aitolia dan Liga Akaya dalam Pertempuran Paxos. Seorang penguasa Iliria yang lain, yaitu Longaros dari Kerajaan Dardania, menyerang Makedonia dan mengalahkan pasukan Demetrios II tak lama sebelum Demetrios tutup usia pada tahun 229 SM.  Meskipun putranya yang masih muda (Filipos) mewarisi takhta Makedonia, wali rajanya yang bernama Antigonos III Doson (keponakan Antigonos II, m. 229 SM – 221 SM) dinyatakan sebagai raja oleh tentaranya, dengan Filipos sebagai pewarisnya, setelah Makedonia berhasil memenangkan sejumlah pertempuran melawan pasukan Iliria di utara dan pasukan Aitolia di Tesalia.

 

Aratos mengirim utusan ke istana Antigonos III pada 226 SM untuk mengajak bersekutu, karena raja Kleomenes III dari Sparta telah menjadi ancaman bagi wilayah-wilayah Yunani lainnya selama Perang Kleomenes (229–222 SM).  Antigonos III bersedia membantu Aratos, tetapi sebagai gantinya ia menuntut pengembalian wilayah Korintos kepada Makedonia, dan Aratos akhirnya bersedia pada tahun 225 SM. Pada 224 SM, pasukan Antigonos III merebut Arkadia dari Sparta. Setelah membentuk sebuah liga Helenistik yang serupa dengan Liga Korintos pada masa Filipos II, Antigonos III berhasil mengalahkan Sparta dalam Pertempuran Selasia pada 222 SM.  Sparta lalu diduduki oleh negara asing untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan Makedonia pun kembali menjadi negara terkuat di Yunani. Antigonos wafat setahun kemudian, kemungkinan akibat tuberkulosis, dan ia mewariskan sebuah kerajaan Helenistik yang kuat kepada penerusnya, Filipos V.

 

Kekuasaan Filipos V dari Makedonia (m. 221 SM – 179 SM) menghadapi ancaman dari Liga Aitolia dan suku Dardani dari Iliria  Filipos V dan sekutu-sekutunya berhasil mengalahkan pasukan Aitolia dan sekutunya dalam Perang Sosial (220–217 SM), tetapi ia memutuskan untuk berdamai dengan Aitolia setelah mendengar kabar mengenai serangan suku Dardani di utara dan kemenangan Kartago atas Romawi dalam Pertempuran Danau Trasimene pada 217 SM. Demetrios dari Faros diduga adalah orang yang telah meyakinkan Filipos V untuk mengamankan wilayah Iliria terlebih dahulu sebelum menyerang semenanjung Italia.  Pada 216 SM, Filipos V mengirim seratus kapal-kapal perang ringan ke Laut Adriatik untuk menyerang Iliria, sebuah tindakan yang membuat Skerdilaidas dari Kerajaan Ardiaea memohon bantuan kepada Romawi. Romawi menanggapinya dengan mengirim sepuluh kapal kuinkuireme berat dari Sisilia Romawi untuk menjaga wilayah pesisir Iliria, sehingga Filipos V memerintahkan agar armadanya menarik diri untuk menghindari konflik secara terbuka.

 

Konflik dengan Roma

 

Pada tahun 215 SM, di tengah berkecamuknya Perang Punisia Kedua, aparat Romawi mencegat sebuah kapal di kawasan lepas pantai Calabria. Kapal tersebut mengangkut seorang utusan Makedonia dan duta besar Kartago yang membawa sebuah perjanjian yang disusun oleh Hanibal Barka; perjanjian tersebut mengumandangkan persekutuan antara Kartago dengan Filipos V.  Perjanjian ini juga menyatakan bahwa Kartago berhak menentukan ketentuan-ketentuan menyerahnya Romawi apabila mereka berhasil memenangkan perang, dan Kartago juga menjanjikan bantuan apabila Romawi mencoba menuntut balas terhadap Makedonia atau Kartago.  Meskipun Makedonia mungkin hanya ingin mengamankan wilayah yang baru mereka taklukan di Iliria, Romawi berhasil menggagalkan ambisi Filipos V di kawasan Adriatik selama Perang Makedonia Pertama (214–205 SM). Pada 214 SM, Romawi menempatkan armadanya di Orikos, dan Makedonia kemudian menyerang armada tersebut sekaligus kota Apolonia di Iliria. Setelah Makedonia menaklukkan Lisos pada 212 SM, Senat Romawi membalasnya dengan menghasut Liga Aitolia, Sparta, Elis, Mesinia, dan Atalos I (m. 241 SM – 197 SM) dari Pergamon untuk mengobarkan perang melawan Filipos V, alhasil pasukan Makedonia disibukkan di Yunani dan dapat dijauhkan dari wilayah Italia.

 

Liga Aitolia menyetujui sebuah perjanjian perdamaian dengan Filipos V pada 206 SM, dan Republik Romawi juga menyepakati Perjanjian Foinike dengan Makedonia pada 205 SM, sehingga perang berakhir dan Makedonia diperbolehkan mempertahankan beberapa permukiman yang telah direbut di Iliria. Meskipun Romawi menolak permintaan Aitolia pada 202 SM agar Romawi kembali mengobarkan perang melawan Makedonia, Senat Romawi sangat mempertimbangkan tawaran serupa yang diajukan oleh Pergamon dan sekutunya, Rodos, pada 201 SM. Negara-negara ini merasa khawatir dengan persekutuan antara Filipos V dan Antiokos III Agung dari Kekaisaran Seleukia; Seleukia sendiri telah menyerang Dinasti Ptolemaik yang sudah dilelahkan oleh perang dan juga kehabisan dana selama Perang Siria Kelima (202–195 SM), sementara Filipos V merebut permukiman-permukiman Ptolemaik di kawasan Laut Aegea.  Walaupun para utusan Romawi berperan penting dalam meyakinkan Atena untuk bergabung dengan persekutuan anti-Makedonia bersama dengan Pergamon dan Rodos pada 200 SM, comitia centuriata (majelis rakyat) menolak usulan Senat Romawi untuk menyatakan perang terhadap Makedonia. Sementara itu, Filipos V menaklukkan wilayah-wilayah di Helespontos dan Bosporos serta Samos Ptolemaik, sehingga Rodos membentuk sebuah persekutuan dengan Pergamon, Bizantion, Kizikos, dan Kios. Meskipun Filipos V didukung oleh Seleukia, armada Makedonia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Kios pada 201 SM.

 

Saat Filipos V sedang disibukkan dengan perang melawan sekutu-sekutu Romawi di Yunani, Romawi mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk menghukum Makedonia karena mereka telah membantu Hanibal sekaligus untuk memperoleh kemenangan yang gemilang tanpa perlu mengeluarkan banyak sumber daya. Senat Romawi menuntut agar Filipos V berhenti bertikai dengan negara-negara Yunani dan menyelesaikan perselisihan dengan membawa perkara ke komite arbitrasi internasional. Setelah comitia centuriata menyetujui pernyataan perang terhadap Makedonia pada tahun 200 SM dan menyerahkan ultimatum kepada Filipos V yang menuntut agar kerugian yang dialami oleh Rodos dan Pergamon ditinjau oleh pengadilan, raja Makedonia menolak mentah-mentah ancaman tersebut. Perang Makedonia Kedua (200–197 SM) pun meletus, dan Publius Sulpisius Galba Maksimus kemudian memimpin operasi-operasi militer di Apolonia.

 

Pasukan Makedonia berhasil mempertahankan wilayah mereka sepanjang hampir dua tahun, namun konsul Romawi Titus Quinctius Flamininus berhasil mengusir Filipos V dari Makedonia pada 198 SM, sehingga pasukan Filipos V terpaksa mengungsi ke Tesalia. Ketika Liga Akaya membelot dan mulai mendukung Romawi, raja Makedonia meminta berdamai, tetapi ketentuan-ketentuan yang ditawarkan oleh lawan dianggap terlalu berat, dan sehingga perang berlanjut.  Pada Juni 197 SM, pasukan Makedonia dikalahkan dalam Pertempuran Kinoskefalon. Romawi kemudian meratifikasi sebuah perjanjian yang memaksa Makedonia untuk melepaskan sebagian besar wilayah-wilayahnya di Yunani yang berada di luar wilayah utama Makedonia, dan mungkin Romawi membiarkan Makedonia tetap berdiri hanya sebagai wilayah pembatas dari serangan suku-suku Iliria dan Trakia. Meskipun beberapa orang Yunani curiga bahwa Romawi ingin menggantikan Makedonia sebagai kekuatan yang dominan di Yunani, Flaminius mengumumkan saat Pesta Olahraga Istmia pada tahun 196 SM bahwa Roma berniat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Yunani dengan tidak menempatkan garnisun dan juga dengan tidak memungut upeti. Pemenuhan janjinya sempat tertunda oleh proses perundingan dengan raja Sparta Nabis yang telah menaklukkan Argos, tetapi pada akhirnya pasukan Romawi mundur dari Yunani pada tahun 194 SM.

 

Raja Seleukia Antiokos III merasa terdorong dengan seruan Liga Aitolia untuk membebaskan Yunani dari Romawi, sehingga ia dan pasukannya mendarat di Demetrias, Tesalia, pada 192 SM, dan dipilih menjadi strategos oleh Aitolia.  Makedonia, Liga Akaya, dan negara-negara kota Yunani lainnya masih tetap mempertahankan persekutuan mereka dengan Romawi.  Pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan Seleukia pada 191 SM dalam Pertempuran Termopilai serta Pertempuran Magnesia pada 190 SM, alhasil Seleukia terpaksa menandatangani Traktat Apamea pada 188 SM yang mewajibkan mereka untuk membayarkan pampasan perang, membubarkan sebagian besar angkatan lautnya, dan mencabut klaimnya atas wilayah-wilayah di sebelah utara atau barat Pegunungan Tauros.  Dengan persetujuan dari Romawi, pada 191–189 SM, Filipos V merebut beberapa kota di Yunani tengah yang pernah bersekutu dengan Antiokos III, sementara Rodos dan Eumenes II (m. 197 SM – 159 SM) dari Pergamon memperoleh wilayah di Asia Kecil.

 

Setelah gagal memuaskan semua pihak yang terlibat dalam berbagai persengketaan wilayah, Senat Romawi memutuskan pada 184/183 SM untuk memaksa Filipos V meninggalkan Ainos dan Maronea, karena wilayah tersebut telah dinyatakan sebagai kota merdeka dalam Perjanjian Apamea.  Tindakan ini meredakan ketakutan Eumenes II akan ancaman Makedonia terhadap wilayah Eumenes II di Helespontos. Sementara itu, Filipos V mangkat pada tahun 179 SM dan digantikan oleh Perseus dari Makedonia (m. 179 SM – 168 SM). Perseus kemudian menghukum mati adiknya sendiri, Demetrios, yang disukai oleh Romawi namun didakwa melakukan pengkhianatan oleh Perseus.  Perseus lalu berupaya membentuk persekutuan dengan Prusias II dari Kerajaan Bitinia dan Seleukos IV Philopator dari Seleukia dengan mengusulkan pernikahan, dan ia juga memperbaharui hubungan dengan Rodos, tetapi tindakan ini membuat khawatir Eumenes II. Eumenes II mencoba merusak hubungan-hubungan ini, tetapi Perseus berhasil bersekutu dengan Liga Boiotia, memperluas kekuasaannya di Iliria dan Trakia, dan pada 174 SM juga dipilih sebagai anggota Dewan Amfiktonia yang mengurus Kuil Apolo.

 

 

Eumenes II tiba di Roma pada 172 SM dan menyampaikan sebuah pidato di hadapan Senat yang mengecam kejahatan dan pelanggaran yang konon telah dilakukan oleh Perseus. Akibatnya, Senat Romawi mengumandangkan Perang Makedonia Ketiga (171–168 SM). Meskipun pasukan Perseus berhasil memperoleh kemenangan melawan pasukan Romawi dalam Pertempuran Kalinikos pada 171 SM, Makedonia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Pidna pada Juni 168 SM.  Perseus melarikan diri ke Samotrakia, tetapi ia menyerahkan diri tak lama setelahnya; ia lalu dibawa ke Roma untuk mengikuti pawai kemenangan Lusius Emilius Paulus Makedonikus, dan kemudian dijadikan tahanan rumah di Alba Fucens hingga ia tutup usia pada 166 SM. Romawi membubarkan monarki Makedonia dan menggantikannya dengan empat republik yang terpisah, masing-masing beribu kota di Amfipolis, Tesalonika, Pela, dan Pelagonia.  Romawi memberlakukan hukum-hukum yang menghalangi interaksi ekonomi dan sosial di antara penduduk-penduduk republik-republik tersebut, termasuk larangan pernikahan di antara mereka dan larangan (sementara) terhadap penambangan emas dan perak. Kemudian, seseorang yang bernama Andriskos mengklaim dirinya sebagai keturunan Antigonidai, memberontak melawan Romawi, dan diangkat menjadi raja Makedonia. Ia berhasil mengalahkan pasukan praetor Romawi yang dipimpin oleh Publius Yuvensius Talna, tetapi ia dikalahkan oleh Kuintus Sesilius Metelus Makedonus dalam Pertempuran Pidna Kedua pada 148 SM. Kemudian Romawi juga berhasil menghancurkan kota Kartago pada tahun 146 SM dan mengalahkan Liga Akaya dalam Pertempuran Korintos pada tahun yang sama, sehingga dimulailah era kekuasaan Romawi di Yunani dan didirikanlah provinsi Makedonia Romawi secara bertahap.

 

Pembagian kekuasaan.

 

Kepala pemerintahan Makedonia adalah raja (basileus). Paling tidak dari masa pemerintahan Filipos II, raja dibantu oleh hamba kerajaan (basilikoi paides), pengawal (somatofilakes), sahabat (hetairoi), teman (filoi), sebuah majelis yang meliputi para anggota militer, dan (pada masa Helenistik) magistrat.  Kurang terdapat bukti yang dapat memastikan apakah terdapat pembagian wewenang di antara raja dengan kelompok-kelompok tersebut, dan apakah keberadaan kelompok-kelompok tersebut dilandaskan pada sebuah kerangka konstitusi resmi. Sebelum masa pemerintahan Filipos II, satu-satunya lembaga yang dapat dibuktikan keberadaannya lewat bukti-bukti tekstual adalah lembaga monarki.

 

Jabatan raja dan pemerintahan kerajaan

Jenis pemerintahan paling awal yang diketahui keberadaannya di Makedonia adalah sistem monarki yang berdiri hingga sistem tersebut dibubarkan oleh Romawi pada tahun 167 SM. Monarki di Makedonia sudah ada paling tidak dari zaman Yunani Arkais, dan kelompok ningratnya mungkin sudah mengakar dari zaman Yunani Mikenai.  Tukidides menulis bahwa pada zaman sebelumnya, Makedonia terbagi menjadi suku-suku kecil, dan masing-masing memiliki rajanya sendiri, tetapi kemudian suku-suku Makedonia Hilir disatukan oleh satu raja besar yang juga berkuasa di atas raja-raja kecil di Makedonia Hulu.  Garis keturunan bapak-anak di Kerajaan Makedonia terputus setelah pembunuhan Orestes dari Makedonia pada 396 SM (diduga dilakukan oleh walinya yang lalu menjadi penggantinya, Aeropos II dari Makedonia), alhasil muncul perdebatan di kalangan sejarawan modern mengenai apakah pewarisan kepada anak sulung laki-laki merupakan adat yang sudah ada dari sebelumnya, atau apakah memang terdapat hak konstitusional bagi majelis tentara atau rakyat untuk memilih raja yang lain.  Tidak diketahui secara pasti apakah anak laki-laki ratu akan selalu diutamakan daripada yang lainnya mengingat Arkelaos I dari Makedonia (anak Perdikas II dan seorang budak wanita) dapat naik takhta, walaupun Arkelaos sendiri berkuasa setelah membunuh pewaris takhta yang ditunjuk oleh ayahnya.

 

Raja-raja Makedonia sebelum Filipos II bertanggung jawab menyambut para diplomat asing, menentukan kebijakan luar negeri kerajaan, dan merundingkan persekutuan dengan negara-negara asing. Setelah Yunani menang di Salamis pada tahun 480 SM, komandan Persia Mardonios mengirim Aleksander I dari Makedonia ke Atena sebagai utusan utama dengan maksud untuk membahas kemungkinan pembentukan persekutuan antara Akemeniyah dengan Atena. Keputusan untuk mengirim Aleksander didasarkan pada pernikahannya dengan keluarga bangsawan Persia dan hubungan resminya dengan negara-kota Atena. Sementara itu, raja-raja Makedonia juga mengendalikan sumber daya alam di negaranya, termasuk emas, perak, kayu, dan tanah kerajaan, sehingga mereka dapat menyogok orang-orang di dalam dan luar negeri dengan hadiah-hadiah yang luar biasa.

 

Tidak banyak yang diketahui mengenai sistem kehakiman di Makedonia Kuno selain fakta bahwa raja bertindak sebagai kepala hakim di kerajaan. Raja-raja Makedonia juga menjadi panglima tertinggi militer. Sementara itu, Filipos II menjadi sosok yang sangat terpandang karena ia menjalankan tugasnya sebagai imam agung negara dengan penuh kesalehan. Ia melakukan ritual pengorbanan setiap harinya dan juga memimpin perayaan keagamaan. Aleksander meniru berbagi aspek pemerintahan ayahnya, seperti pemberian tanah dan hadiah kepada para pengikut dari golongan ningrat yang setia, namun ia kehilangan dukungan dari mereka setelah ia mulai menerapkan kebiasaan-kebiasaan Persia, seperti hubungan "tuan dan hamba" (seperti yang diamati oleh Carol J. King) ketimbang hubungan "rekan seperjuangan" yang telah menjadi hubungan tradisional raja-raja Makedonia dengan sahabat-sahabat mereka. Walaupun begitu, ayah Aleksander, Filipos II, diduga dipengaruhi oleh tradisi-tradisi Persia saat ia mendirikan lembaga-lembaga yang mirip dengan yang dapat ditemukan di Akemeniyah, seperti sekretaris kerajaan, arsip kerajaan, dan hamba muda.

 

Hamba-hamba muda adalah remaja laki-laki dan pria muda yang diambil dari rumah tangga ningrat dan mungkin sudah melayani raja-raja Makedonia dari masa pemerintahan Filipos II, meskipun bukti yang lebih kuat mengenai keberadaan mereka di istana kerajaan berasal dari masa pemerintahan Aleksander Agung. Hamba-hamba muda kerajaan tidak terlibat langsung dalam politik tingkat tinggi dan mereka dibawa ke istana dengan maksud untuk memperkenalkan kehidupan politik kepada mereka. Setelah masa pelatihan dan pelayanan, para hamba muda diangkat menjadi pengiring raja.  Pada masa pelatihan, mereka ditugaskan menjaga raja saat ia tidur, menyediakan kuda untuknya, membantunya menaiki kuda, menemaninya saat berburu, dan melayaninya selama simposia (pesta minum-minum resmi).  Walaupun hamba-hamba muda yang dibawa ke istana dapat meniti karier seumur hidup di istana atau bahkan memperoleh jabatan gubernur, mereka juga dapat dianggap sebagai sandera yang ditawan oleh istana untuk memastikan agar ayah mereka tetap setia dan patuh kepada raja. Penghukuman para hamba muda dengan cara yang kasar (seperti pencambukan) telah memicu intrik dan persekongkolan melawan raja, dan begitu pula hubungan homoseksual antara para hamba muda dengan elit (atau bahkan dengan raja).  Pada masa Antigonidai, tidak terdapat banyak bukti mengenai keberadaan hamba muda di istana, tetapi terdapat sekelompok hamba muda yang melarikan diri bersama dengan Perseus dari Makedonia ke Samothraki setelah ia dikalahkan oleh Romawi pada tahun 168 SM.

 

Pengawal

 

Pengawal merupakan orang-orang terdekat raja di istana maupun di medan tempur. Mereka terbagi menjadi dua kategori: agema dari hipaspistai, yaitu sejenis pasukan khusus pada zaman kuno yang biasanya berjumlah ratusan, dan kelompok pasukan yang lebih kecil dan dipilih langsung oleh raja, baik itu karena bakat mereka maupun untuk menghormati keluarga mereka. Maka dari itu, para pengawal (yang terbatas jumlahnya) tidak selalu bertanggung jawab melindungi nyawa raja di medan tempur maupun dalam keadaan damai; gelar dan jabatan mereka lebih menjadi tanda kekhasan, yang mungkin dimaksudkan untuk menghentikan persaingan di antara keluarga-keluarga ningrat.

 

Sahabat, teman, dewan, dan majelis

 

Para sahabat (termasuk kavaleri elit dan infanteri pezhetairoi) mewakili sebuah kelompok yang lebih besar jumlahnya ketimbang para pengawal raja. Para sahabat dengan pangkat paling tinggi dan yang paling dipercayai oleh raja membentuk sebuah dewan yang berperan sebagai badan penasihat untuk raja. Namun, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan keberadaan sebuah majelis tentara pada masa-masa perang dan majelis rakyat pada masa-masa damai.

 

Para anggota dewan memiliki hak untuk berbicara; meskipun tak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa mereka dapat memberikan suara terkait dengan urusan negara, paling tidak raja kadang-kadang terpaksa memenuhi tuntutan-tuntutan mereka. Majelis tampaknya diberi hak untuk menghakimi perkara pengkhianatan terhadap negara dan menjatuhkan hukuman kepada mereka, seperti saat Aleksander Agung bertindak sebagai jaksa penuntut dalam sidang tiga orang yang didakwa bersekongkol membunuh ayahnya (sementara banyak orang lainnya yang dibebaskan dari segala tuduhan). Namun, tidak terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa lembaga dewan dan majelis terus dipertahankan atau dilandaskan pada konstitusi, dan keputusan mereka mungkin juga tidak selalu diterima oleh raja. Sepeninggalan Aleksander Agung, para sahabatnya langsung membentuk sebuah dewan untuk mengambil alih pemerintahan, tetapi kemudian terkendala oleh konflik bersenjata di antara para anggotanya. Sementara itu, militer sendiri sering kali memberontak untuk mencapai tujuan politik mereka.

 

Magistrat, persemakmuran, pemerintahan setempat, dan negara sekutu

 

Raja-raja Makedonia dari Dinasti Antigonidai dibantu oleh para pejabat regional dalam mengatur urusan negara, termasuk pejabat-pejabat kota berpangkat tinggi, seperti strategos militer dan politarkh atau gubernur yang dipilih (arkhon) dari sebuah kota besar (polis), serta pejabat politik-keagamaan yang disebut epistates. Tak ada bukti yang menjelaskan latar belakang pribadi para pejabat tersebut, meskipun mereka mungkin juga berasal dari golongan ningrat filoi dan hetairoi.

 

Di Atena Kuno, sistem demokrasi pernah didirikan kembali sebanyak tiga kali setelah kota tersebut ditaklukkan oleh Antipatros pada 322 SM. Saat berada di bawah kekuasaan Makedonia, Atena diperintah oleh sebuah oligarki yang diangkat oleh Makedonia dan terdiri dari orang-orang terkaya di kota tersebut.  Negara kota lainnya diperlakukan secara berbeda dan dianugerahi otonomi yang lebih besar.  Setelah Filipos II menaklukkan Amfipolis pada 357 SM, kota tersebut diperbolehkan mempertahankan sistem demokrasi, termasuk konstitusi, majelis rakyat, dewan kota (boule), dan pemilihan tahunan pejabat baru, tetapi garnisun Makedonia ditempatkan di dalam tembok kota bersama dengan seorang komisioner kerajaan Makedonia (epistates) untuk memantau urusan politik di kota tersebut. Filipi, sebuah kota yang didirikan oleh Filipos II, merupakan satu-satunya kota lainnya di persemakmuran Makedonia yang memiliki sistem pemerintahan demokratis dengan keberadaan majelis rakyat, sementara majelis (eklesia) di Tesaloniki tampaknya hanya memiliki peranan yang bersifat pasif.  Beberapa kota juga diperbolehkan menyimpan pendapatannya sendiri. Raja Makedonia dan pemerintah pusat sendiri mengelola pendapatan yang dikumpulkan oleh kuil-kuil dan para imam.

 

Terdapat beberapa bukti dari abad ke-3 SM yang menunjukkan bahwa di dalam persemakmuran Makedonia, hubungan luar negeri diurus oleh pemerintah pusat. Meskipun kota-kota Makedonia turut serta dalam ajang-ajang Panhelenik sebagai entitas-entitas independen, pada kenyataannya pemberian asilia (kekebalan diplomatik dan hak suaka di tempat suci) kepada kota-kota tertentu diurus secara langsung oleh raja. Sementara itu, negara kota yang tergabung ke dalam koina (dalam kata lain federasi kota negara, simpoliteia) Yunani yang sezaman dengan Makedonia mematuhi dekret-dekret federal yang disetujui secara kolektif oleh anggota-anggota liga.  Di negara kota yang tergabung ke dalam liga atau persemakmuran, hak untuk memberikan proxenia (dalam kata lain, penerimaan duta besar asing) biasanya merupakan hak yang dimiliki oleh pemerintah setempat sekaligus pusat. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa penganugerahan proxenia adalah prerogatif eksklusif pemerintah pusat di Liga Epiros, dan beberapa bukti juga mengindikasikan bahwa hal serupa berlaku untuk persemakmuran Makedonia,  sementara negara kota yang bersekutu dengan Makedonia mengeluarkan dekret-dekret mereka sendiri yang terkait dengan proxenia.

 

Liga-liga asing juga pernah membentuk persekutuan dengan raja-raja Makedonia, seperti saat Liga Kreta menandatangani perjanjian dengan Demetrios II Aitolikos dan Antigonos III Doson yang memastikan perekrutan tentara bayaran Kreta ke dalam militer Makedonia, dan memilih Filipos V dari Makedonia sebagai pelindung kehormatan (prostates) liga tersebut.

 

Militer

 

Pasukan Makedonia awal

Struktur dasar pasukan Makedonia Kuno adalah pembagian antara kavaleri (hetairoi) dan infanteri (pezhetairoi), yang dilengkapi dengan pasukan-pasukan sekutu, prajurit asing, dan tentara bayaran. Infanteri mungkin sudah ada sejak masa pemerintahan Aleksander I dari Makedon.  Kavaleri Makedonia (yang mengenakan kuiras otot) mulai naik daun di Yunani pada masa Perang Peloponesos.  Infanteri Makedonia pada masa ini terdiri dari para gembala dan petani yang kurang terlatih, sementara anggota-anggota kavaleri berasal dari golongan bangsawan.  Seperti yang dapat dilihat dalam karya seni dari awal abad ke-4 SM, terdapat pengaruh Sparta yang menonjol pada pasukan Makedonia sebelum masa Filipos II.  Nicholas Viktor Sekunda menyatakan bahwa pada permulaan masa kekuasaan Filipos II pada 359 SM, pasukan Makedonia terdiri dari 10.000 infanteri dan 600 kavaleri, sementara Malcolm Errington memperingatkan bahwa angka yang dikutip oleh para penulis dari zaman kuno sebaiknya tidak asal diterima begitu saja.

 

Filipos II dan Aleksander Agung

Informasi lebih lanjut: Kavaleri Tesalia

Setelah menjadi sandera politik selama bertahun-tahun di Tivai, Filipos II ingin meniru contoh latihan militer dan pemberian perlengkapan standar untuk pasukan, dan ia kemudian berhasil mengubah militer Makedonia dari pasukan yang terdiri dari para petani yang tidak profesional, menjadi pasukan yang sepenuhnya profesional dan terlatih dengan baik. Filipos II menerapkan beberapa taktik militer musuhnya, seperti formasi kavaleri embolon dari bangsa Skitia. Infanterinya memegang perisai peltai yang menggantikan perisai bergaya hoplon dari masa sebelumnya, dan mereka juga dilengkapi dengan ketopong pelindung, pelindung kaki, dan perisai dada kuiras atau perisai perut kotibos; selain itu, mereka dipersenjatai dengan tembiang sarissa ditambah dengan belati sebagai senjata kedua. Infanteri elit hipaspistai, yang terdiri dari pasukan berpangkat pezhetairoi, dibentuk pada masa kekuasaan Filipos II dan tampaknya masih dikerahkan pada masa kekuasaan Aleksander Agung. Filipos II kemungkinan juga merupakan orang yang mendirikan satuan pengawal kerajaan (somatofilakes).

 

Untuk pasukan penembak ringan, Filipos II mempekerjakan pemanah-pemanah Kreta serta para pemanah, pelempar lembing, dan pelempar umban dari Trakia, Paionia, dan Iliria. Ia juga menggunakan jasa para teknisi seperti Polidos dari Tesalia dan Diades dari Pela, yang mampu membangun mesin kepung yang paling terkini pada masa itu dan juga artileri yang menembakkan busur besar. Setelah Makedonia menguasai tambang-tambang di Krinides (lalu diganti namanya menjadi Filipi), kerajaan tersebut mampu menanggung biaya militer profesional permanen.  Meningkatnya pendapatan negara di bawah kekuasaan Filipos II juga memungkinkan pembentukan angkatan laut kecil untuk pertama kalinya, yang meliputi kapal-kapal trireme.

 

Satu-satunya satuan kavaleri Makedonia yang tercatat keberadaannya pada masa kekuasaan Aleksander Agung adalah kavaleri hetairoi,  tetapi ia juga membentuk sebuah hiparkia (satuan yang terdiri dari ratusan pasukan berkuda) yang secara keseluruhan terdiri dari orang Persia pada saat ia sedang berperang di Asia.  Ketika pasukannya sedang bergerak menuju Asia, Aleksander juga membawa 1.800 pasukan kavaleri dari Makedonia, 1.800 pasukan kavaleri dari Tesalia, 600 pasukan kavaleri dari wilayah Yunani lainnya, dan 900 kavaleri prodromoi dari Trakia. Sementara itu, Antipatros dapat dengan cepat menghimpun 600 pasukan kavaleri Makedonia asli untuk bertarung dalam Perang Lamia saat perang tersebut dimulai pada 323 SM. Sebagian besar anggota elit hipaspistai pimpinan Aleksander disebut agema, dan sebuah istilah baru untuk hipaspistai muncul setelah Pertempuran Gaugamela pada 331 SM, yaitu argiraspides (perisai perak).  Argiraspides masih bertugas setelah masa pemerintahan Aleksander Agung dan mungkin berasal dari Asia. Secara keseluruhan, infanteri falangs bersenjatakan tembiang pada masa Aleksander berjumlah sekitar 12.000 orang, 3.000 di antaranya adalah hipaspistai elit dan 9.000 di antaranya adalah pezhetairoi. Aleksander masih menggunakan jasa para pemanah Kreta dan juga mulai merekrut pemanah asli Makedonia. Seusai Pertempuran Gaugamela, pemanah yang memiliki latar belakang Asia Barat sering ditemui di dalam pasukan Aleksander.

 

Militer zaman Antigonidai

 

Pasukan Makedonia masih terus mengalami perubahan pada masa Dinasti Antigonidai. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak orang yang diangkat menjadi somatofilakes, yang berjumlah delapan orang pada akhir pada pemerintahan Aleksander Agung, sementara hipaspistai tampaknya telah berubah menjadi asisten somatofilakes. Dalam Pertempuran Kinoskefalon pada 197 SM, militer Makedonia memiliki sekitar 16.000 pasukan falangs. Regu kavaleri hetairoi pada masa Aleksander terdiri dari 800 orang, dan jumlahnya juga sama untuk pasukan kavaleri di dalam skuadron suci (Latin: sacra ala; Yunani: hiera ile) yang dikomandani oleh Filipos V dari Makedonia selama Perang Sosial pada 219 SM.  Kavaleri Makedonia biasa berjumlah 3.000 di Kalinikos, yang terpisah dari skuadron suci dan kavaleri kerajaan.

 

Berkat inskripsi-inskripsi dari Amfipolis tahun 218 SM dan dari Greia tahun 181 SM, para sejarawan dapat mengumpulkan dan merangkai informasi mengenai susunan militer Antigonidai pada masa kekuasaan Filipos V. Setidaknya dari zaman Antigonos III Doson, sebagian besar anggota infanteri elit merupakan prajurit peltastes, yaitu pasukan yang lebih ringan dan lebih bermanuver dengan senjata berupa lembing peltai, pedang, dan perisai perunggu yang lebih kecil ketimbang perisai milik falangs Makedonia (meskipun mereka kadang-kadang mereka juga memiliki peranan seperti falangs). Di antara para peltastes, terdapat sekitar 2.000 orang yang terpilih untuk bertugas di dalam pasukan elit agema, sementara anggota peltast lainnya berjumlah sekitar 3.000 orang.  Jumlah peltastes berubah-ubah seiring berjalannya waktu, dan mungkin tak pernah lebih dari 5.000 orang.  Mereka bertarung bersama dengan pasukan falangs, dan pasukan falangs sendiri pada masa itu sudah terbagi menjadi khalkaspides (perisai perunggu) dan leukaspides (perisai putih).

 

Raja-raja Antigonidai terus memperbesar dan memperkuat angkatan laut mereka.  Kasandros mempertahankan sebuah armada kecil di Pidna, Demetrios I dari Makedonia memiliki satu armada di Pela, dan Antigonos II Gonatas (saat mengabdi sebagai seorang jenderal untuk Demetrios di Yunani) menggunakan angkatan laut untuk mengamankan wilayah Makedonia di Demetrias, Kalkis, Pireas, dan Korintos. Angkatan laut semakin diperbesar pada masa Perang Kremonides (267–261 SM), sehingga angkatan laut Makedonia dapat mengalahkan angkatan laut Mesir Ptolemaik dalam Pertempuran Kos tahun 255 SM dan Pertempuran Andros tahun 245 SM, dan juga memperluas pengaruh Makedonia hingga ke Kiklades. Antigonos III Doson menggunakan angkatan laut Makedonia untuk menyerang Karia, sementara Filipos V mengirim 200 kapal untuk bertarung dalam Pertempuran Kios pada 201 SM. Angkatan laut Makedonia dikurangi menjadi enam kapal saja sesuai dengan isi perjanjian perdamaian tahun 197 SM yang mengakhiri Perang Makedonia Kedua dengan Republik Romawi, meskipun Perseus dari Makedonia dengan cepat menghimpun beberapa kapal lemboi saat pecahnya Perang Makedonia Ketiga pada 171 SM.

Kekuasaan

Menurut Harold D.laswel Kekuasaan adalah suatu hubungan dimana sesorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain kearah pihak pertama, perumusan yang paling umum dikenal yaitu kekuasaan merupakan kemampuan seseorang pelaku untuk mempengaruhi pelaku seorang pelaku lain dalam hal ini kekuasaan selalu berlangsung minimal antara dua pihak jadi di antara pihak itu terkait atau saling berhubungan. Jika bicara kekuasaan selalu identik dengan politik yang dimana dapat kita lihat politik tanpa kekuasaan itu seperti agama tanpa moral,namun satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa konsep kekuasaan bukan satu-satunya konsep dalam ilmu politik, kekuasaan merupakan suatu hal yang selalu berhubungan antar manusia, dalam pemegang kekuasaan dapat seorang indivu, kelompok, ataupun pemerintah sasaran kekuasaan dapat berupa indivu ataupun kelompok. Dalam kehidupan kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat baik itu dalam masyarakat yang multikultur ataupun majemuk walaupun kekuasaan selalu ada namun kekuasaan tidak dapat dibagi rata pada semua anggota masyarakat, justru karena pembagian yang tidak merata tadi timbul makna pokok dari bentuk kekuasaan yaitu adanya orang atau individu yang dapat mempengaruhi pihak lain karena adanya suatu hal yang dikuasai 

 

Sumber Kekuasaan

Kekuasaan tentu tidak begitu saja diperolah namun ada proses dan hal yang menunjang untuk menempatkan diri pada pemegang kekuasaan, sumber kekuasaan itu sendiri sangat lah bermacam-macam ada dengan kekayaan, sarana paksaan fisik, keahlian, kedudukan serta agama.

 

kekayaan merupakan sumber kekuasaan, yang dimana kekayaan dapat berupa uang, emas, tanah dan barang-barang berharga, orang yang memiliki kekayaan dalam jumlah besar setidak-tidaknya secara potensial akan memiliki akan memiliki kekeuasaan. misalnya seorang tuan tanah mempunyai lahan perkebunan yang luas dan tuan tanah tersebut secara langsung mempunyai kekuasaan atas pekerja-pekerja di tanah tersebut.

sarana paksaan fisik merupakaan sumber kekuasaan yang lebih bersifat memaksa sehingga membuat orang lain dapat mengikuti apa yang dikehendaki. Misal seorang preman dipasar untuk mempengaruhi pola prilaku orang lain, preman tersebut menggunakan senjata sebagai ancaman, dan dalam hal ini secara tidak langsung dapat kita lihat bahwa preman tersebut dapat mempengaruhi pola prilaku orang lain dengan ancaman senjata yang dimiliki.

keahlian merupakan sumber kekuasaan yang muncul dari penilaian orang lain bahwa pemberi pengaruh mempunyai pengetahauan khusus yang tidak dimiliki orangt lain. Misal seorang dokter sebagai kepala rumah sakit, dalam hal ini penempatan kekuasaannya bedasarkan keahliannya.

kedudukan merupakan sumber kekuasaan yang timbul karena adanya pengakuan sehingga secara sah dapat mempengaruhi prilaku orang lain misalnya seorang kepala sekolah terhadap guru-gurunya, dalam kasus ini bawahan dapat ditindak jika melanggar aturan yang telah ditetapkan.

Agama merupakan sumber kekuasaan yang yang didapat melalui keyakinan bahwa indivu itu (ulama/pendeta) harus wajib diperhitungkan dari proses pembuatan suatu keputusan sehingga dalam hal ini indivu tersebut ulama/pendeta mempunyai kekuasaan terhadap orang lain atau umatnya.

Dari penjabaran tentang sumber kekuasaan maka dapat disimpulkan sumber kekuasaan di ibaratkan seperti supplement yang ditambahkan di dalam tubuh manusia yang digunakan untuk menguatkan kemampuan dalam mempengaruhi orang lain, dalam suatu hubungan kekuasaan selalu ada satu pihak yang lebih kuat dari pihak lain, jadi selalu ada hubungan tidak seimbang dan akibatnya ketidakseimbangan itu sering menimbulkan ketergantungan, dan lebih timpang hubungan ini maka lebih besar pula sifat ketergantungannya. .

 

Pembagian Kekuasaan

Dalam pembagian kekuasaan dimaksudkan agar membatasi kekuasaan, pemegang kekuasaan tidak dianugrahkan dengan kekuasaan tanpa batas karena jika itu terjadi maka akan banyak penyimpangan-penyimpangan dalam menyelenggarakan tampuk kekuasaan.

 

Pembagian atau pemisah kekuasaan sebagai berikut :

 

Menurut Gabriel Almond

Rule Making Function.

Rule Application Function.

Rule Adjudication Function.

Menurut Montesquieu

Kekuasaan Legeslatif yaitu pembuat undang-undang.

Kekuasaan Eksekutif yaitu pelaksana undang-undang.

Kekusaan Yudikatif yaitu yang menggendalikan badan peradilan.

Menurut Abdul Kadir Audah

Sultah Tanfiziyah yaitu Kekuasaan penyelenggaraan undang-undang.

Sultah Tashri’iyah yaitu kekuasaan pembuatan undang-undang.

Sultah Qadhaiyah yaitu kekuasaan kehakiman.

Sultah Malhiyah yaitu kekuasaan keuangan.

Sultah Muraqabah yaitu kekuasaan pengawasan masyarakat.

Menurut John Lock

Kekuasaan Legislatif.

Kekuasaan Eksekutif.

Kekuasaan Federatif.

 

Pengertian yang erat kaitannya dengan kekuasaan

Wewenang Menurut Robert Biersted wewenang adalah kekuasaan yang dilembagakan dengan nada yang sama dikatakan oleh Harold D.Laswel bahwa wewenang adalah kekuasaan formal, disini dianggap bahwa yang mempunyai wewenang berhak mengeluarkan perintah dan membuat peraturan serta berhak mengharapkan wewenang tersebut dapat dipatuhi, dalam wewenang perlu yang namanya keabsahan yang dimana keabsahan adalah keyakinan anggota-anggota masyarakat bahwa wewenang yang ada pada seseorang, kelompok atau penguasa adalah wajar dan patut dihormati, kaabsahan dalam dunia politik sama dengan legitimasi.

Pengaruh beberapa sarjana kontemporer melihat pengaruh sebagai bentuk khusus dari kekuasaan, dapat dilihat salah satunya pendapat dari Norman Barry yaitu pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seseorang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. Dalam pandangan masyarakat umum banyak yang berpendapat bahwa kekuasaan dapat menimbulkan pengaruh tertentu.

Perbudakan

Perbudakan adalah segala hal mengenai pengendalian terhadap seseorang oleh orang lain dengan cara paksaan. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Orang yang dikendalikan disebut dengan budak. 

Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia. 

Sejarah awal

 Bukti-bukti keberadaan perbudakan sudah ada sebelum tulis-menulis, dan telah ada dalam berbagai kebudayaan. Kuburan prasejarah di Mesir Bawah sejak 8000 SM menunjukkan bahwa suatu masyarakat Lybia telah memperbudak suatu suku. 

Pada catatan terawal perbudakan sudah dianggap sebagai institusi yang mapan. Kode Hammurabi (sekitar 1760 SM) contohnya, menyatakan bahwa hukuman mati dijatuhkan bagi siapa saja yang membantu seorang budak melarikan diri sebagaimana orang yang menyembunyikan seorang buronan.

Perbudakan dikenal hampir dalam semua peradaban dan masyarakat kuno, termasuk Sumeria, Mesir Kuno, Tiongkok Kuno, Imperium Akkad, Asiria, India Kuno, Yunani Kuno, Kekaisaran Romawi, Khilafah Islam, orang Ibrani di Palestina dan masyarakat-masyarakat sebelum Columbus di Amerika. Institusi tersebut berupa gabungan dari perbudakan-hutang, hukuman atas kejahatan, perbudakan terhadap tawanan perang, penelantaran anak, dan lahirnya anak dari rahim seorang budak.

Zaman Kuno Klasik

Catatan mengenai perbudakan di Yunani Kuno ada sejak zaman Yunani Mycenaia. Athena Klasik memiliki populasi budak terbesar yang mencapai 60.000 jiwa pada abad ke-5 dan ke-6 SM. Ketika Republik Romawi memperluas wilayah, banyak masyarakat yang diperbudak mengakibatkan naiknya suplai di Eropa dan Mediteran. Orang Yunani, Iliria, Berber, Jerman, Inggris, Trasia, Galia, Yahudi, Arab, dll. melakukan perbudakan bukan hanya untuk pekerjaan keras namun juga untuk hiburan.

Di Amerika Serikat

Perbudakan di Amerika Serikat berlangsung secara legal hingga diambilnya Amendemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865. Perbudakan sudah dimulai sejak kolonisasi Britania di Virginia tahun 1607, meskipun budak Afrika sudah dibawa ke Florida Spanyol pada tahun 1560-an.

Perbudakan di Amerika Serikat adalah perlembagaan absah mengenai perbudakan manusia yang pernah ada di Amerika Serikat pada abad ke-18 dan 19. Perbudakan pernah dilaksanakan di Amerika Utara jajahan Britania dari masa-masa awal penjajahan, dan diakui juga di Tigabelas Koloni pada saat Proklamasi Kemerdekaan tahun 1776. Ketika Amerika Serikat didirikan, meskipin beberapa orang berwarna bebas ada juga, status para budak biasanya bersamaan dengan keturunan Afrika, hal ini membuat sebuah sistem dan tradisi di mana ras memainkan peran yang sangat berpengaruh. Meskipun beberapa penduduk asli dan orang berkulit hitam juga memiliki budak. Terdapat pula budak berkulit putih, tetapi jumlahnya sedikit. Mayoritas pemilik budak berada di Amerika Serikat Selatan, di mana kebanyakan dijadikan "mesin" untuk pertanian.