Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Mar 2, 2019

Patriark Antiokhia

Patriark Antiokhia adalah sebuah gelar tradisional yang dipegang oleh Uskup Antiokhia. Sebagai "petinggi" tradisional (ἐπίσκοπος, episkopos, asal mula dari kata bishop (bahasa Indonesia: uskup)) dari komunitas Kristen non-Yahudi pertama, sebuah jabatan yang memiliki pengaruh utama dalam gereja dari periode terawal-nya. Keuskupan tersebut adalah salah satu dari beberapa keuskupan yang nama-nama uskupnya berasal dari nama-nama rasul awal. Saat ini, lima gereja menggunakan gelar Patriark Antiokhia: Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Katolik Suriah, Gereja Ortodoks Yunani Antiokhia, Gereja Katolik-Yunani Melkit, dan Gereja Maronit; dan, dalam sejarah, terdapat juga Patriark Latin Antiokhia.

Menurut tradisi gereja, Kepatriarkan kuno ini didirikan oleh Rasul Santo Petrus. Suksesi patriarkal tersebut diperebutkan pada masa skisma Meletian pada 362 dan terjadi kembali setelah Konsili Kalsedon pada 451, ketika terdapat Melkite dan pengklaim non-Kalsedonia berusaha merebut tahta tersebut. Setelah berebutan tahta pada abad ke7 di gereja Melkite, bangsa Maronit juga mulai memilih seorang Patriark Maronite. Setelah Perang Salib Pertama, Gereja Katolik mulai memilih seorang Patriark Ritus Latin Antiokhia, meskipun jabatan tersebut menjadi jabatan tituler setelah Kejatuhan Antiokhia pada 1268, dan ditiadakan secara menyeluruh pada 1964. Pada abad ke-18, perebutan suksesi dalam Gereja Ortodoks Yunani dan Ortodoks Suriah di Antiokhia membuat faksi-faksi dari gereja-gereja tersebut masuk dalam komuni dengan Roma dibawah kepemimpinan para pengklaim kepatriarkan tersebut: masing-masing adalah Patriark Katolik Yunani Melkite Antiokhia dan Patriark Katolik Suriah Antiokhia. Pesaing Ortodoks mereka masing-masing adalah Patriark Ortodoks Yunani Antiokhia dan Patriark Ortodoks Suriah Antiokhia.

Sejarah

Pada zaman Romawi, Antiokhia adalah sebuah kota penting dari Provinsi Romawi Suriah, dan kota terbesar keempat di Kekaisaran Romawi, setelah Roma, Efesus dan Aleksandria.

Di kota Antiokhia (sekarang di Antakya, tenggara Turki), penganut Kristen mula-mula disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:26. Menurut tradisi gereja, Santo Petrus mendirikan sebuah gereja di Antiokhia, dan menjadi uskup pertama di kota tersebut, sebelum pergi ke Roma untuk mendirikan Gereja disana.  Ignatius dari Antiokhia (menjadi martir pada sekitar tahun 107), yang dipilih menjadi uskup ketiga dari kota tersebut, menjadi seorang bapak apostolik berpengaruh. Pada abad ke-4, uskup Antiokhia menjadi uskup paling senior di sebuah wilayah yang pada masa sekarang meliputi timur Turki, Lebanon, Israel dan Palestina, Suriah, Yordania, Irak, dan Iran. Hierarki-nya melayani jumlah penganut Kristen terbesar yang diketahui dunia pada waktu itu.

Antiokhia di Pisidia

Antiokhia di Pisidia (Yunani: Ἀντιόχεια τῆς Πισιδίας, Latin: Antiochia Caesareia atau Antiochia Caesaria) adalah sebuah kota di Daerah Danau Turki, yang terletak di persimpangan Laut Tengah, Laut Aegea dan daerah Anatolia Tengah, dan sebelumnya di perbatasan Pisidia dan Frigia, oleh sebab itu dikenal juga sebagai Antiokhia di Frigia. Situs ini terletak sekitar 1 km timur laut Yalvac, kota modern dari Provinsi Isparta. Kota ini berada di sebuah bukit dengan titik tertinggi 1.236 m di utara.

Geografi
Kota ini dikelilingi di sebelah timur oleh ngarai dalam dari Sungai Anthius yang mengalir ke Danau Eğirdir, dengan pegunungan Sultan di sebelah timur laut, Gunung Karakuş di sebelah utara, Kızıldağ ("Gunung Merah") di sebelah tenggara, Gunung Kirişli serta pantai utara Danau Eğirdir di sebelah barat daya

Meskipun di peta kelihatan dekat dengan Laut Tengah, iklim hangat di selatan tidak dapat melampaui ketinggian Pegunungan Taurus. Karena iklim itu, tidak ada industri kayu, melainkan tanaman perkebunan yang tumbuh di daerah tersebut dengan suplai air dari Pegunungan Sultan, yang mencapai rata-rata curah hujan tahunan sekitar 1000 mm pada puncak-puncak dan 500 mm pada lereng-lerengnya. Aliran ini mengairi dataran tinggi dan kota Antiokhia. Kota-kota lain di Pisidia seperti Neapolis, Tyriacum, Laodicea Combusta (Laodiceia Katakekaumene) dan Philomelium didirikan di lereng-lereng, mengambil manfaat dari kesuburannya.

Sejarah
Selama pemerintahan kaisar Romawi, Augustus, delapan koloni didirikan di Pisidia, tetapi hanya kota Antiokhia yang diberi kehormatan dengan gelar "Kaisarea" serta mendapat hak Ius Italicum, mungkin karena posisi strategisnya. Kota ini menjadi koloni Romawi penting yang meningkat menjadi posisi ibu kota dengan nama "Colonia Caesarea".

Proses Helenisasi menjadi Latinisasi selama periode Romawi dan diterapkan dengan baik di Antiokhia. Kota ini dibagi atas tujuh kwartir yang disebut "vicus" (bentuk jamak: "vici") semuanya didirikan di atas tujuh bukit seperti kota Roma. Bahasa resmi adalah bahasa Latin sampai akhir abad ke-3. Kesuburan tanah dan suasana damai pada masa Augustus (Pax Romana: Masa Damai Romawi) memudahkan para veteran sebagai kolonis di daerah itu untuk menjalin hubungan baik dan berintegrasi dengan penduduk setempat.

Salah satu dari tiga salinan yang masih terlestarikan dari Res Gestae Divi Augusti, inskripsi terkenal yang mencatat dokumen agung dari Kaisar Agustus yang ditemukan di depan Augusteum di Antiokhia. Aslinya dipahat pada lempengan perunggu dan dipertontonkan di depan Mausoleum Augustus di kota Roma, tetapi sayangnya sudah hilang. Salinan di Antiokhia terbuat dari batu, ditulis dalam bahasa Latin, yang menunjukkan tanda pentingnya kota ini sebagai markas militer dan budaya Romawi di Asia. (Salah satu salinan, dalam bahasa Yunani dan Latin, berada di Ankara, satu lainnya, dalam bahasa Yunani di Apollonia - Uluborlu).

Masa awal Kekristenan - Bizantin
Antiokhia menjadi ibu kota banyak budaya berbeda karena aktivitas ekonomi, militer dan agamawi di daerah itu. Inilah alasan mengapa rasul Paulus menyampaikan kotbah pertamanya kepada orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13:13–52) di sini, dan mengunjungi kota ini setiap kali dalam perjalanan misinya, membantu Antiokhia menjadi suatu pusat kekristenan di Anatolia.

Pembebasan Kekristenan oleh kaisar Konstantinus I pada tahun 311 dan dikeluarkannya hukum yang mendukung hal itu, menyebabkan banyak orang menganut agama baru tersebut. Antiokhia memainkan peranan penting sebagai kota metropolitan untuk pertemuan konsili-konsili gereja. Kota ini menjadi ibu kota Provinsi Kristen Pisidia, yang didirikan pada abad ke-4 dan menjadi tempat pemimpin negara bagian dan keuskupan agung.

Barnabas

Barnabas adalah salah satu anggota jemaat mula-mula di Yerusalem.  Nama aslinya adalah Yusuf. Ia dipanggil Barnabas oleh para rasul. Arti Barnabas adalah "anak penghiburan". Ia kemudian dikenal sebagai penginjil di Antiokhia dan Siprus, serta teman seperjalanan Paulus.

Etimologi
Nama asli Barnabas, "Yusuf", pada naskah jenis teks Bizantin ditulis Ιὠσης, Iōsēs, 'Joses', suatu variasi Yunani untuk nama "Yosef". Setelah ia menjual hartanya dan menyerahkan uang hasil penjualan kepada para rasul di Yerusalem, ia diberi nama baru "Barnabas". Nama ini tampaknya dari bahasa Aram בר נביא, bar naḇyā, artinya 'putra nabi'. Namun, teks bahasa Yunani pada Kisah Para Rasul 4:36 menjelaskan namanya sebagai υἱός παρακλήσεως, hyios paraklēseōs, artinya "putra penghiburan" atau "putra pendorong". Hubungan serupa antara "kenabian" dan "pendorongan" ditemukan pada surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, yaitu 1 Korintus 14:3.

Pertemuan dengan Paulus

Barnabas adalah orang Yahudi dari keturunan suku Lewi yang berasal dari Siprus. Barnabas dikenal sebagai orang jujur yang menjual ladangnya dan uang hasil penjualannya diletakkan di depan kaki rasul-rasul (Kisah Para Rasul 4:37). Barnabas pertama kali berjumpa dengan Paulus ketika Paulus berkunjung ke Yerusalem dan Barnabaslah yang kemudian memperkenalkan Paulus kepada para rasul (Kisah Para Rasul 9:27). Barnabaslah yang meyakinkan pengikut Yesus, jika Paulus yang saat itu dikenal sebagai Saulus yang terkenal penganiaya pengikut Yesus, sekarang sudah menjadi bagian dari murid-murid Yesus sejak Paulus melihat Tuhan dan mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 9:27).

Pelayanan
Bersama dengan Paulus, Barnabas diutus oleh jemaat di Antiokhia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Kemudian Yohanes yang disebut Markus ikut bergabung bersama mereka untuk memberitakan Injil ke Siprus. Buah dari pekabaran Injil di Siprus adalah bertobatnya Gubernur pulau itu yakni Sergius Paulus. Bernabas terus mengikut Paulus melanjutkan perjalanan demi mengabarkan Injil ke Pisidia, Ikonium, Listra dan Derbe hingga kembali ke Antiokhia. Ketika ia berada di Listra, banyak orang menganggapnya sebagai Zeus. Di Antiokhia, Barnabas bersama Paulus menghadapi keributan yang terjadi dalam jemaat mengenai sunat. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menjadi Kristen harus disunat. Barnabas dan Paulus menolak pendapat tersebut. Barnabas terlibat dalam perselisihan dengan Paulus ketika mereka hendak melakukan perjalanan Pekabaran Injil untuk kedua kalinya. Barnabas bersikeras ingin membawa Yohanes yang disebut Markus tetapi Paulus menolak dengan alasan Markus sudah tidak setia. Akhirnya mereka berdua berpisah. Paulus pergi bersama Silas sedangkan Barnabas berangkat ke Siprus bersama Markus (Kisah Para Rasul 15:35-41). Namun demikian, Barnabas tetap berhubungan baik dengan Paulus (Galatia 2:9; 2 Timotius 4:11).

Perang Salib Pertama

Perang Salib Pertama (1096–1099) merupakan yang pertama dari sejumlah perang salib yang berupaya untuk merebut Tanah Suci, disahkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Perang ini dimulai sebagai suatu peziarahan yang meluas dalam Kekristenan Barat dan berakhir sebagai suatu ekspedisi militer oleh bangsa Eropa Katolik Roma untuk mendapatkan kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1099

Perang Salib I dimaklumkan pada tanggal 27 November 1095 oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama menanggapi suatu permohonan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos, yang mana mengajukan permintaan agar para relawan dari barat datang untuk membantunya menghalau kaum Turki Seljuk dari Anatolia. Suatu tujuan tambahan segera menjadi sasaran utama, yaitu penaklukan kembali oleh kaum Kristen atas kota suci Yerusalem dan Tanah Suci serta membebaskan kaum Kristen Timur dari kekuasaan kaum Muslim.

Selama perang salib, para ksatria, petani, dan hamba dari banyak negara Eropa Barat melakukan perjalanan darat dan laut, pertama ke Konstantinopel dan kemudian menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, para tentara salib melancarkan serangan atas kota tersebut dan merebutnya pada bulan Juli 1099. Mereka juga mendirikan negara-negara tentara salib yaitu: Kerajaan Yerusalem, County Tripoli, Kepangeranan Antiokhia, dan County Edessa.

Perang Salib Pertama kemudian dilanjutkan dengan Perang Salib Kedua sampai Kesembilan. Peristiwa ini juga merupakan langkah besar pertama menuju pembukaan kembali perdagangan internasional sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Karena Perang Salib Pertama utamanya berkaitan dengan Yerusalem, suatu kota yang tidak berada di bawah kekuasaan kaum Kristen selama 461 tahun, dan bala tentara salib menolak untuk mengembalikan tanah tersebut ke dalam kendali Kekaisaran Bizantium, maka status Perang Salib Pertama sebagai sesuatu yang sifatnya defensif atau agresif masih menjadi kontroversi.

Asal mula

Pada umumnya asal mula Perang-perang Salib, dan khususnya Perang Salib Pertama, diperdebatkan secara luas di kalangan sejarawan. Perang-perang Salib paling sering dikaitkan dengan situasi sosial dan politik di Eropa pada abad ke-11, timbulnya suatu gerakan reformasi di dalam kepausan, juga konfrontasi keagamaan dan politik antara Kekristenan dan Islam di Eropa dan Timur Tengah. Kekristenan telah menyebar di seluruh Eropa, Afrika, dan Timur Tengah pada Abad Kuno Akhir, tetapi pada awal abad ke-8 kekuasaan kaum Kristen di Eropa dan Anatolia menjadi terbatas setelah berbagai penaklukan oleh kaum Muslim.

Kekhalifahan Umayyah telah menaklukkan Suriah, Mesir, dan Afrika Utara dari Kekaisaran Bizantium yang didominasi kaum Kristen, serta Hispania dari Kerajaan Visigoth. Di Afrika Utara, Kekhalifahan Umayyah kemudian runtuh dan sejumlah kerajaan Muslim yang lebih kecil bermunculan, misalnya Aghlabiyyah yang menyerang Italia pada abad ke-9. Pisa, Genoa, dan Kepangeranan Catalunya mulai bertempur melawan berbagai kerajaan Muslim agar dapat menguasai Cekungan Mediterania, ditunjukkan dengan kampanye Mahdiya tahun 1087 serta pertempuran di Mallorca dan Sardinia.

Pada dasarnya, antara tahun 1096 dan 1011, bangsa Yunani Bizantium mengalami perang salib ini setibanya di Konstantinopel dalam tiga gelombang terpisah.

Pada awal musim panas tahun 1096, kelompok besar pertama yang sulit dikendalikan tiba di pinggiran Konstantinopel. Gelombang ini dikabarkan tidak disiplin dan tidak memiliki perlengkapan layaknya suatu pasukan sebagaimana dicatat dalam Perang Salib Rakyat. Kelompok pertama ini sering disebut sebagai Perang Salib Rakyat atau Petani, dipimpin oleh Peter sang Pertapa dan Gautier Sans-Avoir serta tidak mengetahui ataupun menghormati keinginan-keinginan Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos.

Gelombang kedua juga tidak berada di bawah komando sang Kaisar dan terdiri dari sejumlah pasukan dengan para komandan mereka masing-masing. Secara keseluruhan, kelompok ini dan gelombang pertama diperkirakan berjumlah 60.000.

Gelombang kedua dipimpin oleh Hugues I, Comte Vermandois, saudara Raja Philippe I dari Perancis. Selain itu dalam gelombang kedua juga ada Raymond IV, Comte Toulouse, dan pasukan dari Provença. "Adalah gelombang kedua para tentara salib ini yang kemudian melintasi Asia Kecil, merebut Antiokhia pada tahun 1098 dan akhirnya merebut Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099."

Gelombang ketiga, yang mana terdiri atas kontingen-kontingen dari Lombardia, Perancis, dan Bavaria, tiba di Yerusalem pada awal musim panas tahun 1101.

Situasi di Eropa
Di pinggiran barat Eropa dan dalam menghadapi ekspansi kaum Islam, Reconquista di Semenanjung Iberia masih terus berlangsung pada abad ke-11; hal ini sesekali merupakan isu ideologis, sebagaimana dibuktikan oleh Kodeks Vigilanus yang disusun pada tahun 881. Pada abad ke-11 semakin banyak ksatria dari luar, kebanyakan dari Perancis, yang datang ke Iberia untuk membantu kaum Kristen dalam upaya-upaya mereka. Sesaat menjelang Perang Salib Pertama, Paus Urbanus II telah mendorong kaum Kristen Iberia agar merebut kembali Tarragona dengan menggunakan banyak retorika dan simbolisme yang sama seperti yang digunakan kemudian untuk berkhotbah mengenai perang salib kepada orang-orang Eropa.

Jantung Eropa Barat dipandang telah dilakukan stabilisasi setelah Kristenisasi bangsa Hongaria, Viking, dan Saxon sampai akhir abad ke-10. Namun pemecahan Kekaisaran Karoling menimbulkan suatu kelas prajurit seluruhnya yang kini hanya sedikit melakukan sesuatu selain saling bertengkar sendiri. Kekerasan acak yang dilakukan oleh kelas kesatria ini secara teratur dikutuk oleh gereja tersebut, dan untuk menanggapinya dibuat penetapan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah (Peace and Truce of God) untuk melarang pertempuran pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Pada saat yang sama, kepausan yang berorientasi pada pembaharuan itu terlibat konflik dengan para Kaisar Romawi Suci, sehingga mengakibatkan Kontroversi Penobatan. Para Paus seperti Paus Gregorius VII membenarkan peperangan berikutnya untuk melawan para pedukung kaisar dalam aspek teologis. Kemudian hal ini menjadi dapat diterima bagi sang Paus untuk memanfaatkan para kesatria atas nama dunia Kristen, bukan hanya terhadap musuh-musuh politik Kepausan tersebut, tetapi juga terhadap Al-Andalus, atau, secara teoretis, terhadap Dinasti Seljuk di timur.

Di sebelah timur Eropa terdapat Kekaisaran Bizantium, terdiri dari kaum Kristen yang telah lama menggunakan suatu ritus Ortodoks tersendiri; Gereja Ortodoks Timur dan Katolik Roma telah mengalami perpecahan sejak tahun 1054. Para sejarawan berpendapat bahwa keinginan untuk memaksakan otoritas Gereja Roma di wilayah timur mungkin menjadi salah satu tujuan perang salib ini, kendati Urbanus II yang mana mengawali Perang Salib Pertama tidak pernah menyebut tujuan demikian dalam surat-suratnya mengenai praktik perang salib. Bangsa Turki Seljuk saat itu telah mengambil alih hampir seluruh Anatolia setelah kekalahan Bizantium dalam Pertempuran Manzikert tahun 1071. Bagaimanapun penaklukan mereka dilakukan satu demi satu dan dipimpin oleh para panglima perang semi-independen, bukan oleh sang sultan. Suatu keruntuhan yang dramatis atas posisi kekaisaran pada malam menjelang Konsili Clermont membawa Bizantium menuju ambang kehancuran. Pada pertengahan tahun 1090-an, wilayah Kekaisaran Bizantium utamanya hanya sebatas Eropa bagian Balkan dan pinggiran barat laut Anatolia; mereka menghadapi musuh-musuhnya dari bangsa Norman di barat serta bangsa Turki di timur. Sebagai tanggapan atas kekalahan di Manzikert dan berbagai kehilangan selanjutnya yang dialami Bizantium di Anatolia pada tahun 1074, Paus Gregorius VII memanggil milites Christi ("para prajurit Kristus") agar pergi untuk membantu Bizantium. Panggilan ini kebanyakan diabaikan dan bahkan ditentang. Alasannya adalah walaupun kekalahan di Manzikert mengejutkan, namun hanya memiliki arti penting yang terbatas dan tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan besar bagi Kekaisaran Bizanium, setidaknya dalam jangka pendek.

Situasi di Timur Tengah

Sampai kedatangan para tentara salib, kaum Bizantium terus berjuang melawan orang Seljuk dan dinasti Turki lainnya demi penguasaan atas Anatolia dan Suriah. Orang Seljuk, yang mana merupakan kaum Muslim Sunni yang ortodoks, sebelumnya memerintah Kesultanan Seljuk Raya, namun saat berlangsungnya Perang Salib Pertama telah terbagi-bagi menjadi beberapa negara kecil setelah wafatnya Malik-Shah I pada tahun 1092.

Malik-Shah digantikan oleh Kılıç Arslan I di Kesultanan Rûm di Anatolia, dan di Suriah oleh Tutuş I yang kemudian wafat pada tahun 1095 saudaranya. Para putra Tutuş, yaitu Fahrülmülk Rıdvan dan Dukak berturut-turut mewarisi Aleppo dan Damaskus; mereka selanjutnya membagi-bagi Suriah di antara para amir yang saling bermusuhan, serta Kürboğa, atabeg dari Mosul.

Mesir dan banyak daerah Palestina berada dalam kendali Kekhalifahan Fatimiyah penganut Syi'ah Arab, yang mana wilayahnya lebih kecil secara signifikan sejak kedatangan orang Seljuk. Peperangan antara Fatimiyah dan Seljuk menyebabkan gangguan yang sangat besar bagi kaum Kristen setempat dan para peziarah dari Barat. Kekhalifahan Fatimiyah, yang mana secara nominal berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Musta'li namun sesungguhnya berada di bawah kendali Wazir Al-Afdhal Syahansyah, telah kehilangan Yerusalem karena direbut Kesultanan Seljuk pada tahun 1073 (kendati beberapa catatan yang lebih lama menyebutkan tahun 1076). Mereka merebutnya kembali pada tahun 1098 dari Dinasti Artuqid, suatu suku bangsa Turki Seljuk yang lebih kecil, sesaat sebelum kedatangan para tentara salib.

Antiokhia

Antiokhia (bahasa Yunani: Αντιόχεια η επί Δάφνη, Αντιόχεια η επί Ορόντου or Αντιόχεια η Μεγάλη; bahasa Latin: Antiochia ad Orontem; juga Antiochia dei Siri, Antiokhia Suriah; bahasa Turki: Antakya; bahasa Suryani: ܐܢܛܝܘܟܝܐ Anṭiokia; bahasa Ibrani: אנטיוכיה, antiyokhya; bahasa Georgia: ანტიოქია; bahasa Armenia: Անտիոք Antiok) adalah sebuah kota tua yang terletak di sisi timur sungai Orontes, terletak di tempat kota modern di Antakya, Turki. Kota ini merupakan pusat agama Kristen pada abad-abad pertama Masehi dan disebut dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Di kota inilah murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan istilah Kristen (artinya "Kristus kecil" atau "golongan Kristus") menurut catatan kitab Kisah Para Rasul 11.

Kota ini didirikan sekitar akhir abad ke-4 SM oleh Seleukos I Nicator, salah satu jendral Alexander Agung, Antiokhia didirikan untuk menyaingi Alexandria. Aslinya kota ini dibangun dengan tata kota yang mirip dengan Alexandria di Mesir oleh arsitek Xenarius. Libanius menggambarkan gedung pertama dan tatanan kota ini (i. p. 300. 17). Benteng utama (citadel) terletak di Gunung Silpius. Kota itu terletak sebagian besar di tanah rendah di sebelah utara, dekat dengan sungai. Dua jalan berpilar berpotongan di tengah kota. Tidak lama kemudian kawasan ke-2 dibangun, di sebelah timurnya, oleh Antiokhos I, yang menurut tulisan Strabo, tampaknya dihuni penduduk asli, bukan orang Yunani. Kawasan ini ditutupi oleh dinding tembok sendiri

Di sungai Orontes, sebelah utara kota, terdapat sebuah pulau besar dan di pulau ini Seleukos II Callinicus memulai kota bertembok ketiga, yang diselesaikan oleh Antiokhos III. Kawasan keempat dan terakhir ditambahkan oleh Antiokhos IV Epiphanes (175-164 SM); dan sejak itu Antiokhia dikenal sebagai Tetrapolis ("Empat kota"). Dari barat ke timur seluruhnya berdiameter sekitar 6 km dan sedikit lebih pendek dari utara ke selatan, di mana terdapat banyak taman.