Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jun 3, 2017

Khirbet Qeiyafah, bukti kerajaan Daud

Apa kata para arkeolog mengenai situs Khirbet Qeiyafah, yang dikatakan sebagai bukti eksistensi kerajaan Daud dan Solomon? ini adalah terjemahan bebas dari artikel Haaretz, dengan judul asli "Kunci Menuju Kerajaan", artikel ini tidak mencerminkan hasil akhir dari perdebatan status Khirbet Qeiyafah yang hingga saat ini di tahun 2015 belum ditemukan kesimpulan final.

 Apakah raja Daud pernah memerintah sebuah kerajaan besar, seperti yang ditulis dalam Alkitab? Atau apakah kerajaan yang diperintahnya hanyalah sebuah kerajaan kesuku-an, Proffesor Yossi Garfinkel mengklaim proyek penggaliannya di Khirbet Qeiyafa membuktikan kebenaran kisah dalam Alkitab, tapi arkeolog lain mencibir pendapatnya.

Di setiap musim panas selama empat tahun belakangan, Prof. Yosef Garfinkel meninggalkan Institut Arkeolog di Hebrew University, Yerusalem, selalu dengan mengenakan topi koboi dan bergegas menuju sebuah bukit berbatu di lembah Elah. Dari bawah, bukit itu nampak biasa saja dan tidak memiliki keistimewaan. Tapi ketika mencapai puncak, Garfinkel melirik raut wajah para pengunjung yang baru pertama kali melihat lokasi penggalian benteng kuno tersebut.

Di penggalian situs Khirbet Qeiyafa (Benteng Elah), Garfinkel sambil mengitari reruntuhan benteng berkata "Ini adalah situs yang paling fotogenik di negeri ini." Dan lanjutnya : "Ini adalah sebuah benteng kota dengan tembok setinggi 6 meter dan berpenduduk 500 hingga 600 jiwa. Anda tidak akan menemukan rumah, tembok, tangga dan gerbang seperti ini di Israel." Keunikan kota ini adalah dikelilingi oleh tembok casemate - tembok ganda yang memuat sebuah ruangan diantaranya. Reruntuhan tembok saat ini berkisar antara 2 hingga 3 meter dan luas nya sekitar 2,5 hektar. Sekitar 90 reruntuhan bangunan berjejer pada tembok benteng, ini baru beberapa yang berhasil di gali. Menurut Garfinkel setelah menggali selama 4 tahun, ia berkesimpulan bahwa situs ini adalah bukti untuk eksistensi kota yang menjadi bagian dari kerajaan Daud sekitar 10 abad sebelum masehi (menurut perhitungan Daud memerintah pada 1010-970 sm). "Ini adalah bukti pertama dan terakhir", ujarnya. "Hingga saat ini, tidak ada yang menyerupai Benteng Elah ditemukan di negeri ini".

Jika Garfinkel benar, penemuannya mungkin akan berimplikasi secara signifikan terhadap panasnya perdebatan panjang antar pegiat studi dan Arkeologi Alkitab. Awal muasal perdebatan ini terjadi pada abad ke 19; dan mencapai puncaknya dalam 2 dekade terakhir, ketika kelompok utama para arkeolog dan sarjana Alkitab membentuk sebuah pemahaman tentang realitas dari kerajaan Daud dan Solomon yang mana ternyata tidak seperti yang dituliskan dalam Alkitab, yakni berupa kesatuan kerajaan (Yehuda dan Israel) yang sangat berpengaruh, luas dan kuat.
Pandangan ini berasal dari fakta bahwa tidak ada bukti arkeologi yang berasal dari abad ke 10 SM yang menguatkan klaim tentang kerajaan superpower yang membentang dari Be'er Sheva diselatan hingga Dan di utara, yang dituliskan oleh Alkitab.

Para sarjana dan arkeolog ini berkesimpulan bahwa yang disebut kerajaan Daud hanyalah sebuah entitas kecil kesukuan, yang sangat kecil, bahkan tidak membentang melewati Yerusalem dan sekitarnya. Dan kini Garfinkel sedang menangani sebuah bukti tentang adanya kota berbenteng di lembah Elah, yang jaraknya sehari perjalanan dari Yerusalem, dan mungkin adalah bagian dari Kerajaan Daud, jika benar maka hal ini akan membantah argument dari para "minimalist".

Menurut Garfinkel, kerajaan yang pernah berdiri pada abad ke 10 SM adalah sesuatu diantara dua versi: Tidak-lah sekecil sangkaan para minimalis, tapi juga tidak lah sebesar yang tertulis dalam Alkitab. Kerajaan tersebut terdiri dari 3 kota besar: Yerusalem, Hebron dan kota di Khirbet Qieyafah ini. Bahkan jika hanyalah sebesar skala tersebut, ia menekankan, kerajaan tersebut ternyata lebih besar dari desa kecil seperti yang diucapkan oleh para arkeolog minimalis. Disaat yang bersamaan, ada arkeolog lain yang direkrut turut serta dalam penggalian Khirbet Qeiyafa mendukung klaim tentang sebuah kerajaan bersatu dan powerful.

"Situs ini jelas merefleksikan adanya sebuah pemerintahan yang handal." ujar Dr. Eilat Mazar dari Hebrew University, salah satu yang paling vokal dari kelompok yang ber-"teori" tentang eksistensi sebuah kerajaan Daud yang superpower. "Dengan informasi dari situs ini, masihkah kita berasumsi bahwa tidak ada pusat pemerintahan yang luas dan terpusat? Tidak masuk akal", ujarnya Dr. Mazar.

Garfinkel mengatakan bahwa sebelum ia menggali di situs ini, ia tidak terlibat dalam perdebatan tentang polemik kerajaan Daud. Keahlian utamanya adalah pada periode Neolithic dan Chalcolithic. Dinasti Daud dan kerajaan Israelnya dikalkulasi berada pada periode Iron age (zaman besi), ribuan tahun kemudian.

"Saya tidak mengerjakan proyek ini untuk mencari fakta-fakta tentang Daud. Saya tidak mau ber-opini tentang polemik tersebut; Saya tidak berpihak" ujarnya. Setelah banyak generasi pendahulu di bidang arkeologi bibilikal telah pensiun, ujarnya, institusi-nya saat ini lebih fokus mencari meriset pada penggalian zaman perunggu atau zaman besi. "Saya mengajar arkeologi pada zaman itu pula," ujarnya. "Saya dipersiapkan secara professional untuk mengerjakan proyek-proyek pada zaman besi di Yehuda." Pada tahun 2007, Garfinkel tiba di Khirbet Qeiyafa untuk memeriksa reruntuhan benteng. Dia menemukan 2 lapisan arkeologi, satu dari zaman Hellenistik, dan satunya dari zaman besi. Ia pun memutuskan untuk bekerja disini. "Banyak situs yang mengandung hingga 20 lapisan kota yang saling menumpuk, setiap penggalian satu lapisan kota terjadi pencampuran dengan lapisan dibawahnya, dan segalanya menjadi kacau balau. Saya lebih suka bekerja dengan dua lapisan, yang mana tingkat kerusakan lapisannya sangat rendah," ujarnya.

Alsace-Lorraine di Levant (Syam)

Garfinkel mungkin tidak bermaksud untuk bergabung dengan perselisihan akademik mengenai status Daud dan kerajaannya, tapi ketika ia sudah memasuki arena, ia akan merapat pada salah satu pihak yang bertikai. "Kota ini adalah benteng pengawas bagi kerajaan Yehudah," katanya, sambil menunjuk pada sisi lembah. "Lihat, anda dapat melihat orang-orang dibawah sana. Lembah Elah ini adalah bagian dari rute daerah pantai menuju perbukitan. Dan pada satu sisi, anda dapat memantau 5 kota di negeri Filistin, dan di sisi bagian timur, adalah Kerajaan Yehuda. Ini adalah daerah yang krusial, seperti Alsace-Lorraine, yang diperebutkan oleh Perancis dan Jerman selama ratusan tahun. Situs ini sangat penting secara geopolitik."

Garfinkel mengidentifikasi situs yang ia gali adalah kota benteng Sha'arayim, yang disebutkan dalam Alkitab di I Samuel. Ia mengidentifiasi dari adanya penampakan 2 gerbang disisi barat dan sisi selatan benteng ini (Sha'arayim berarti 2 gerbang dalam bahasa yahudi). "Anda tidak akan menemukan kota lain di Israel atau Yehuda dengan 2 gerbang," imbuhnya, "Alkitab, menyebut kata Sha'arayim hanya pada periode Daud, dan di daerah lembah Elah: ketika Daud membunuh Goliat, tentara Filistin melarikan diri melalui Sha'arayim. Dimana Daud membunuh goliat? Disini, diantara Socoh dan Azekah."

Satu hal yang disetujui oleh para arkeolog tentang Khirbet Qeiyafa adalah, situs ini sangat mengagumkan. Selain itu, segala sesuatu-nya menjadi perdebatan. Prof. Israel Finkelstein arkeolog dari Tel Aviv University, yang pada awal tahun 1990 ikut serta memformulasikan pandangan bahwa kisah-kisah di Alkitab tidak mempunyai dasar historis yang kuat, ia berkomentar, bahwa ia tidak yakin kalau situs yang digali oleh Garfinkel adalah bagian dari benteng milik Daud, dan bukannya milik bangsa Filistin atau Kanaan. Bahkan jika ternyata situs tersebut adalah benteng milik kerajaan Yehuda, ujarnya, ia tidak berpikir hal itu menjadi dasar bagi pandangan tentang kerajaan Daud yang maju dan berkembang. Koleganya dari Tel Aviv University, Ahli sejarah Prof. Nadav Na'aman, mengingatkan bahwa walau data tentang situs itu belum di publikasi, "Ber-hipotesis tentang keterkaitan benteng dengan kekuasaan yang berpusat di Yerusalem sangat tidak meyakinkan."

Tetapi beberapa arkeolog lain ber-argumen bahwa kini telah terungkap sebuah penemuan yang signifikan tentang Kesatuan kerajaan monarki Israel kuno. Dan para arkeolog pendukung kisah Alkitab kini dapat mengangkat dagu mereka setelah bertahun-tahun tersudut dalam pertempuran melawan Finkelstein dan koleganya.

Mazar pernah mengklaim telah menemukan reruntuhan istana Daud di sekitar dinding kota tua Yerusalem. (Penggaliannya didanai oleh dua organisasi sayap kanan, The Shalem Center dan Elad). Mazar menemukan sebuah struktur yang berlokasi disebuah puncak bukit di bagian utara Yerusalem, sebelah selatan Temple Mount, yang berdekatan dengan pemukiman Palestina di Silwan, yang dikenal sebagai City of David. Struktur tersebut berupa teras dengan tumpukan bebatuan setinggi 16,5 meter, yang dikenal dengan "Stepped stone structure".

Menurut Mazar, teras tersebut adalah penopang dari dinding sebuah istana. Ini adalah penemuan Mazar yang paling menonjol, tapi penanggalan yang ia ajukan menjadi kontroversi. karena ia menggunakan kepingan keramik yang berada pada bagian atas dan bawah dari strata atau lapisan yang ia gali, bukan pada strata yang sedang diteliti. Mazar kemudia menyimpulkan struktur tersebut berasal dari abad ke 10 SM, tetapi arkeolog lain mengatakan bahwa struktur tersebut dibuat di abad berikutnya. Bahkan website City of David tidak menganggap hal itu adalah bagian dari istana Daud.

Beberapa bulan yang lalu, sebuah penemuan arkeologi lain ditemukan dan menjadi headline media, yang mana Mazar ikut terlibat, sebuah tembok besar, sepanjang 70 meter dan memiliki ketinggian 6 meter, berlokasi diarea yang sama. Mazar mengklaim tembok tersebut berasal dari masa raja Solomon. Sekali lagi, penanggalannya dipertanyakan, bahkan oleh pihak arkeolog konservatif (penganut metode Alkitab).

"Tidak ada yang setuju dengan saya," keluh Mazar, kepercayaan dirinya terlihat seakan tak tergoyahkan. "Tidak diragukan jika banyak yang menerima pendapat yang mengecilkan peran Yerusalem sebagai desa kecil yang terbengkalai. Tapi kini terjadi perubahan, Yerusalem ternyata menunjukkan pada kita bahwa ia mempunyai konstruksi level istana yang mengagumkan."

Beberapa sarjana juga mengutip tentang penemuan di Yordania yang menguatkan pendapat tentang kerajaan yang maju dan berkembang. Antropolog dari Amerika, Prof. Thomas Levy, dari University of California, San Diego, saat ini sedang menggali situs di Khirbat en-Nahas diselatan Yordania, yang ternyata merupakan reruntuhan tambang tembaga kuno dan berkolasi di daerah yang dipercaya milik bangsa Edom. Dengan menggunakan penanggalan carbon-14, Levy menetapkan bahwa situs tersebut berasal dari akhir abad ke 10 SM, atau pada era raja Solomon. Menurut para arkeolog konservatif, penemuan ini meningkatkan kredibilitas kisah dari Alkitab, yang mengatakan adanya sebuah negeri yang sangat maju di daerah Edom dan terlibat peperangan dengan kerajaan Israel.

Akan tetapi, Prof. Finkelstein menolak penafsiran ini. "Tidak ada tulisan yang ditemukan yang dapat mengarah tentang kerajaan Solomon," katanya. "Tidak ada peninggalan impresif dari era periode classic Edom. penemuan Levy lebih dekat dengan bukti hegemoni bangsa Assyria dan jejak pedagang Arab di daerah tersebut."

Finkelstein menawarkan debat ke topik yang berbeda yang seharusnya menjadi isu fundamental untuk memahami sejarah Israel. Menurutnya para ahli seharusnya membahas pertanyaan, kapan penduduk yang mendiami daerah Israel kuno berpindah dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan yang maju. Finkelstein dan koleganya menyebut pandangan ini sebagai "low chronology" atau "late chronology". Intinya adalah segala bukti-bukti arkeologi yang selama ini mengacu pada abad ke 10 sebenarnya berasal dari periode berikutnya, bahkan mencapai 1 abad. Metode low chronology secara efektif otomatis menghapus eksistensi dari kerajaan Saul, Daud, Solomon di abad ke 11 dan 10 SM.

Garkinfel, sangat yakin bahwa tembok kota yang ia temukan sangatlah kuat dan mampu menahan serangan dari pihak musuh. Tidak masalah apakah kota itu bagian dari kerajaan Yehuda, Kanaan atau Filistin, imbuhnya, Khirbet Qeiyafah telah ada sejak abad ke 10 SM, "Bukti kami sudah menghancurkan teori low chronology" ucapnya dengan puas.

Tapi Finkelstein bersikeras. "Sangatlah sulit untuk membuatku berubah pikiran dan soal 4 sample pembacaan carbon-14 tidak akan mengubah 400 pembacaan yang sudah ada. Khirbet Qeiyafah adalah situs yang sangat penting tapi tidak akan mengubah alur kronologis."

Pertaruhan besar.

Dalam konteks Negara Israel, perdebatan akademik ini berlanjut pada hal-hal politik. Hal ini berkaitan dengan klaim ikatan historis oleh bangsa Yahudi terhadap sekotak tanah di Palestina saat ini. Lebih luasnya lagi, kontroversi ini menjadi bagian dari perdebatan panjang selama hampir lebih dua abad mengenai validitas historis atas sebagian besar isi kitab suci.

Permulaannya dimulai ketika muncul kritikan terhadap isi Alkitab di negara seperti Jerman dan Skandinavia pada abad ke 19, mereka  mempertanyakan mengenai validitas kisah historis dalam Alkitab.

Reaksi perlawanan atas kritikan Alkitab pertama kali muncul sekitar tahun 1920 dan 1930 dari beberapa arkeolog bibilikal. Dan yang menjadi paling depan dari gerakan ini adalah seorang sarjana asal Amerika Serikat kelahiran Chili, William Albright. Ia memiliki kemampuan mumpuni sekelas ensiklopedia, dan ahli dalam bidang arkeologi, riset Alkitab dan bahasa-bahasa kuno. Ia adalah anak dari seorang misionaris Protestan yang sangat taat, ia adalah figur yang paling menonjol dari gelombang para ahli yang berasal dari Inggris, Perancis, Jerman dan Amerika, yang lalang melintang menjelajahi daerah timur-tengah (Levant/Syam) pada abad ke 19, untuk mencari artifak biblikal.

Para ahli ini berniat untuk mencari bukti bahwa kisah mengenai Abraham, Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, penaklukan bangsa Kanaan dan eksistensi dari kerajaan Daud mempunyai fakta historis. Mereka meyakini bahwa secara garis besar kisah dalam Alkitab dapat diandalkan. Dan dengan bukti arkeologi, mereka yakin hal ini akan mengurangi kritikan terhadap Alkitab.

Ketika negara Israel berdiri, mereka dibantu oleh generasi baru arkeolog Israel. Mereka yang berada digaris depan adalah Yigael Yadin dan Benjamin Mazar (Kakek dari Dr. Eilat Mazar) - walau tidak memiliki kesamaan dengan motif kekristenan Albright. Tujuan mereka adalah mencari akar untuk nasionalisme yang sedang terbentuk di Israel, dan intinya mereka mengikuti metode yang digunakan oleh Albright dan kawan-kawan: Alkitab ditangan kanan - sekop ditangan kiri.

"Ada keperluan yang sangat mendesak saat itu untuk menciptakan kultur, akar budaya, dan nasionalisme baru bagi para imigran yang berdatangan ke Israel dengan latar belakang berbagai negara, dan arkeologi adalah alat yang sangat ampuh untuk hal tersebut." jelas Finkelstein. "Setiap orang digerakkan dalam usaha mencari pembenaran akan keyakinan ini, dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Yadin memandang bahwa sejarah sedang terulang: penaklukan tanah Palestina pada masa lalu dan saat ini, dan kemegahan kerajaan Daud dan Solomon pada masa lalu dan saat ini, para Argeolog berperan penting, mereka tidak dapat dikritik untuk hal tersebut."

Pada masa itu, Alkitab nampak seperti kompas dan menuntun pada penemuan-penemuan yang impresif. Para arkeolog mencari bukti keberadaan kerajaan Daud di Hatzor, Megiddo dan Gezer, yang disebut dalam kitab Raja-raja sebagai proyek konstruksi skala besar raja Solomon.

I Raja-raja 9:15 "Beginilah hal orang-orang rodi yang telah dikerahkan oleh raja Salomo. Mereka dikerahkan untuk mendirikan rumah TUHAN, dan istana raja, dan Milo, dan tembok Yerusalem, dan juga untuk memperkuat Hazor, Megido dan Gezer."

Pada akhir tahun 1950, Yadin berhasil menggali 6 ruangan besar di sebuah reruntuhan gerbang, di Hatzor. Dengan hanya berdasarkan strata (lapisan) arkeologis dan pecahan keramik pada situs tersebut, Yadin dan Yohanan Aharoni, seorang arkeolog dan ahli lokasi bersejarah, menanggalkan situs tersebut berada pada zaman raja Solomon diakhir abad ke 10 SM. Berdasarkan kisah Alkitab Yadin kemudian menuju Meggido dan Gezer, dimana mereka kembali menemukan struktur yang serupa. Ia kemudian mengambil kesimpulan, berdasarkan temuannya, bahwa di abad ke 10 SM, sebuah pemerintahan yang maju dan berkembang sedang berkuasa disana yang mampu membuat sebuah master plan sebuah struktur monomental seperti itu yang kemudian dibangun diseluruh negeri. Penemuannya tampak sesuai dengan konsep eksistensi kerajaan besar yang setidaknya mencapai Hatzor, yang berada di utara danau Galilea.

Tapi beberapa dekade kemudian, pendekatan ini menjadi perdebatan antar kubu konservatif dan Finkelstein, yang mempertanyakan teknik penanggalan situs. Akan tetapi sebelumnya, sekitar tahun 1970 hingga 1980, sekelompok sarjana dari Eropa, kebanyakan mereka berasal dari Copenhagen dan Sheffield, menolak kisah-kisah bersejarah di Alkitab. Para "maximalis" menganggap bahwa kisah-kisah di Alkitab adalah valid dan benar sehingga dipakai secara maximal sebagai penuntun, sedangkan para "minimalis" menganggap bahwa Alkitab hanyalah cerita rakyat yang disusun dan dibukukan pada zaman Persia atau Yunani - beratus-ratus tahun setelah kejadian - sehingga memiliki nilai historis yang sangat minim. Cara optimal yang seharusnya digunakan untuk men-verifikasi kisah-kisah di Alkitab, adalah dengan menggunakan sumber dokumen kuno lain dari luar Alkitab.

Menurut para minimalis, kerajaan Daud tidak pernah terpisah menjadi dua kerajaan, Yehudah dan Israel, karena hal itu tidak pernah ada. Menurut mereka kedua kerajaan ini muncul dan berkembang secara berdampingan, dimana kerajaan Yehuda yang berpusat di Yerusalem, tumbuh dan berkembang di saat yang berbeda, yaitu setelah ditaklukkannya kerajaan Israel pada abad ke 8-9 SM oleh bangsa Assyria. Dalam penafsiran ini, Daud dan Solomon adalah figur fiksi.

Dua Kerajaan.

Pada tanggal 21 July 1993, sebuah penemuan besar terjadi di penggalian Tel Dan, di daerah utara Israel. Dan memicu perdebatan diantara para sarjana. Kepala proyek penggalian ini, Prof. Avraham Biran, menemukan sebuah tugu peringatan  yang terbuat dari batu basalt dengan karakter aramaik dan tercantum kata "BeitDavid" (house of David - dinasti Daud) sebagai satu kata. Dan tulisan ini diteliti berasal dari abad ke 9 SM, tertulis disana tentang seorang raja dari Aram sedang membanggakan keberhasilannya menumpas 70 raja-raja, diantaranya adalah Jehoroam anak dari Ahab raja Israel, yang disebut sebagai keturunan dari house of David - adalah kebiasaan di daerah levant untuk menyebut pemerintahan sebuah negeri dengan nama pendirinya. Biran pada mulanya dituduh memalsukan tulisan tersebut, tapi tidak lama kemudian menjadi jelas bahwa ini adalah bukti pertama dari luar Alkitab yang menyebut tentang eksistensi dinasti Daud.

Penemuan ini kemudian membuat paham minimalis mereformulasi ulang pemahamannya, dan Finkelstein adalah yang pertama melakukannya. Pada pertengahan tahun 1990, ia mempublikasikan artikel berseri untuk persiapan thesis nya, yang menggabungkan kritik dari paham minimalis kedalam bentuk yang lebih moderat. Pada tahun 2001, ia dan Neil Asher Silberman, seorang editor dari majalah Arkeolog, menulis buku "The Bible Unearthed," yang mengupas mengenai validistas historis dari kisah di Alkitab.

Seperti para minimalis, Finkelstein dan Silberman berpendapat bahwa kedua kerajaan muncul secara hampir bersamaan dari orang-orang asli di Kanaan; mereka tidaklah unik, bukan pula sebuah bangsa yang berasal dari sekumpulan bekas budak yang keluar dari negeri Mesir, dan kemudian menaklukkan tanah tersebut secara militer lewat kepemimpinan Yoshua bin Nun. Menurut pemahaman ini, tidak pernah ada kerajaan bersatu Israel versi Daud dan Solomon pada abad ke 10 SM, tetapi pada abad ke 9 SM, kerajaan Israel mulai muncul dan pada abad ke 8 SM ia kemudian berkembang, yang kemudian di taklukkan oleh kerajaan Assyria. Kerajaan Yehuda, sebaliknya, hanyalah kerajaan keci dan tidak secara signifikan tersentralisasi hingga abad ke 7 SM. yang mana kemudian rakyat dari kerajaan di utara (yang disebut 10 suku dari kerajaan Israel) mengungsi dan menetap di kerajaan Yehudah ketika Josiah berkuasa.

Menurut Finkelstein, kisah mengenai Abraham sang bapak bangsa, serta kisah penaklukan Kanaan, mulai ditulis dengan tujuan mencoba menetapkan sebuah asas kesamaan historis antara rakyat dari kerajaan Israel dan Yehudah. Sebuah "pan-Israelis" ideologi seperti ini dapat melegalkan ambisi teritorial dari raja Josiah, sang raja Yehuda, yang menganggap dirinya sebagai ahli waris dari kerajaan Daud yang sedang terpecah.

"Bersyukurlah pada kemampuan menulis, dan konsep theologi yang mumpuni serta kreativitas yang luar biasa, kisah ini kemudian menjadi sangat berpengaruh hingga saat ini" ujar Finkelstein. Beginilah variasi pemikiran ia dan koleganya membaca - dan menolak - sisi lain dari kisah sejarah di Alkitab.

Saat ini, ada kesepakatan umum di antara sebagian arkeolog dan para sarjana Alkitab, bahwa tidak ada dasar historis untuk membenarkan kisah sang bapak bangsa Abraham, keluarnya bangsa Israel dari negeri Mesir dan penaklukan Kanaan, ataupun adanya bukti arkeologi yang dapat mengubah pemikiran ini. Tetapi menurut Prof. Amihai Mazar (kemenakan dari Benjamin Mazar), dari Institut Arkeologi di Hebrew University, yang menganggap dirinya tipe konservatif yang moderat, "Sangat mustahil untuk menganggap kisah hingga penaklukan Kanaan adalah kisah historis." Tetapi, tambahnya, "Dimulai dari kitab hakim-hakim, kisah mengenai kondisi sosial-ekonomi-politik-keadaan internasional pada masa itu, Alkitab sangat konsisten dengan realitas penemuan arkeologi. Itu pasti berlaku juga dengan kisah kesatuan kerajaan Israel. Inilah isu yang sebenarnya, apakah kesatuan kerajaan Israel pernah ada? dan jika benar, seberapa besar? ini lah yang menjadi garis pembatas antara dua kubu.

Finkelstein bersikeras bahwa kesatuan kerajaan Israel kuno pada abad ke 10 SM, yang mencakup wilayah Dan hingga Be'er Sheva, tidak pernah ada. "Secara demografi dan ekonomi", katanya, "yerusalem hanyalah sebuah wilayah yang kecil dan sederhana, pada abad ke 10 SM kita berbicara tentang 20 pemukiman skala kecil diantara pegunungan Yehuda. Jika kita kalkulasi, total maksimal hanya berjumlah 5.000 jiwa dan di Yerusalem sendiri hanya berkisar ratusan jiwa.

Dalam hal ini, apakah Yadin telah salah ketika menetapkan penanggalan gerbang di Megiddo, Gezer dan Hatzor pada abad ke 10 SM dan menyebut mereka sebagai bukti adanya kesatuan kerajaan Daud? Situs tersebut berada jauh diluar dari batas wilayah yang digambarkan oleh Finkelstein dan Silberman. Seharusnya, kata mereka gerbang tersebut ditanggalkan ke abad ke 9 dan abad ke 8 SM, setelah kematian Solomon, dan mereka seharusnya mengaitkannya dengan kerajaan utara (Israel) yang sedang berkembang. Mereka mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pecahan keramik yang ditemukan pada strata tanah yang sudah hancur di Megiddo. Seperti halnya, kata Finkelstein, pengetesan radiocarbon pada Hatzor yang akhirnya menunjukkan bahwa situs itu berasal pada abad ke 9 SM.

Siapakah orang-orang Yehuda?

Semua kritikan pada penemuan sebelumnya oleh Finkelstein dan koleganya, mungkin dapat memudahkan bagi Garfinkel untuk mengantisipasi kritikan yang akan muncul. Ia pun mengklaim bahwa di Khirbet Qeiyafah, investigasi dilakukan secara berbeda. Karena ini adalah pemukiman kerajaan Yehudah yang pertama kali ditanggalkan secara radiocarbon pada abad ke 10 SM dan juga menunjukkan ketinggian level konstruksi mereka. Dengan kata lain, menurut Garfinkel ini akan menjadi bukti paling kuat dan membenarkan konsep bahwa pada abad ke 10 SM ada sebuah kerajaan yang maju dan membantah anggapan bahwa Daud adalah "seorang sheik dalam tenda kaum beduin" (menyindir pendapat Finkelstein).

Namun, hipotesis bahwa Khirbet Qeiyafa adalah reruntuhan kerajaan Yehuda belum diterima oleh kebanyakan arkeolog. Ini adalah ujian berat bagi Garfinkel. Hal yang paling utama dari penemuannya adalah sebuah ostracon-pecahan keramik yang mengandung tulisan kuno, yang menurut beberapa ahli, adalah tulisan Ibrani kuno. "Ada tiga ahli di Israel yang menyatakan itu adalah bahasa Ibrani biblikal, dan tiga lainnya masih belum yakin" ujar Amihai Mazar.

Namun, Prof. Gershon Galil dari University of Haifa, yang baru-baru ini mempublikasi hasil terjemahan ostracon tersebut, ujarnya "Ada 30 periset yang menyetujui hasil terjeemahan kami, yang menunjukkan bahwa tulisan tersebut adalah salah satu dari bahasa Ibrani kuno, dari  sekitar 18 kata yang ada pada ostracon tersebut, 8 kata muncul pula di Alkitab."

Garfinkel juga menyebut bahwa struktur kota adalah bukti affiliasi dengan kerajaan Daud. Seperti yang dicantumkan oleh Garfinkel pada website tentang Khirbet Qeiyafah, "Perencanaan pembangunan benteng Elah termasuk dinding kota yang berbentuk casemate dan sekumpulan rumah yang menempel dengan dinding benteng sehingga menyatu dengan konstruksi benteng." Ini adalah tipe dari tata kota, imbuhnya, "ada empat situs serupa dengan benteng Elah ini, dan semuanya berada di daerah kerajaan Yehuda. Tidak ada dinding casemate di kebudayaan Kanaan atau Filistin. Atau pun rumah yang terintegrasi dengan tembok benteng di kerajaan Israel; ini adalah ciri khas kerajaan Yehuda."

Bukti selanjutnya, kata Garfinkel, adalah apa yang tidak ditemukan pada situs: tulang babi. Tidak ada satupun tulang dari binatang non-khoser (haram) ditemukan oleh para arkeo-zoologist yang memeriksa 3000 tulang yang ditemukan dilokasi penggalian.

Garfinkel memberitahu bahwa penemuan-penemuan lain yang oleh ia dan timnya, sebentar lagi akan diumumkan untuk publik untuk pertama kali, dan ia juga sedang menyiapkan thesis bahwa kota tersebut adalah bagian dari kerajaan Daud. Di suatu ruangan dari situs tersebut, ditemukan  sebuah altar keagamaan bersama dengan cawan atau sloki untuk peralatan ibadah. Dan bersama dengan kasus temuan tulang, Garfinkel semakin teryakini karena ia pun ternyata tidak menemukan disekitar rumah ibadah tersebut patung berhala.

"Tidak ada ikon manusia atau binatang diseluruh kota, bahkan diarea yang disucikan. Situs ini benar-benar anti ikon," katanya, ini mengacu pada praktik pelarangan membuat representasi dari mahluk bernyawa atau dewa-dewi (patung berhala). "Ada banyak kontroversi mengenai kapan konsep monoteistik muncul di Israel dan kapan konsep pelarangan mematung berevolusi. Banyak argumen  mengatakan hal ini baru muncul ketika masa akhir dari kuil ke dua atau ketika periode bangsa Persia dan Hellenistik. Tapi jika dibandingkan dengan apa yang ditemukan diruangan ini dengan situs-situs di Kanaan atau Filistin, anda menemukan pelarangan biblikal ada disini: tidak ada tulang babi dan tidak ada ritualdengan patung atau berhala.

Jika kita menambahkan penemuan ini dengan dua gerbang yang menunjukkan bahwa situs adalah Sha'arayim, kata Garfinkel, menjadi sangat jelas bahwa kota berbenteng ini adalah milik kerajaan Daud dan kerajaan itu cukup maju dan berkembang hingga mampu melaksanakan rekayasa dan pengorganisasian proyek seperti benteng Elah ini. "Situs ini berbeda dari semua desa-desa kecil yang menjadi karakter utama pemukiman masyarakat pada abad ke 12 atau ke 11 SM" katanya.

Namun, Prof. Nadav Na'aman, yang cenderung pada pemahaman minimalis, ia mempunyai banyak pertanyaan untuk kesimpulan yang dibuat oleh  Garfinkel. Satu per satu ia membantah argumen Garfinkel: "Tidak ada satupun bukti temuan yang disebutkan oleh Garfinkel layak untuk dihubungkan bahwa Khirbet Qeiyafah mempunyai hubungan pusat dan daerah dengan Yerusalem, atau juga kepada penduduk yang berada dipegunungan sana. Yang mana baik penduduk Khirbet Qeiyafah dan di daerah pegunungan pada era zaman besi juga tidak mengkonsumi babi. Pada zaman besi di negeri Yehuda, tidak ada kota lain dengan struktur seperti di Khirbet Qeiyafah. Ini adalah bangunan yang berasal dari era sesudahnya.

"Dan apa hubungan tidak ditemukannya patung di Khirbet Qeiyafah maka itu adalah milik dari negeri Yehuda? lagian, pada era zaman besi di pemukiman daerah pegunungan banyak ditemukan patung-patung. Mengenai dua gerbang (Jika memang ada dua gerbang disana) juga tidak otomatis menjadi rujukan atas afiliasi tempat itu".

Finkelstein mempunyai pandangan yang serupa mengenai thesis Garfinkel. Ia terlihat gusar akan klaim keberadaan dua gerbang. "Tidak ada dua gerbang disana, cuma ada satu, pintu bagian barat. 90% dari apa yang anda lihat di gerbang selatan adalah hasil rekonstruksi. Saya akan menerbitkan foto yang menunjukkan bahwa pada saat akhir dari penggalian dan saat setelah rekonstruksi, dan semua orang yang memiliki mata mampu melihat bahwa tidak ada gerbang disana sebelumnya." Merespon tentang tidak adanya patung disitus itu, Finkelstein berkata, "Apa Garfinkel sedang bercerita bahwa ada kaum monotheis fanatik berdiam di Khirbet Qeiyafah pada abad ke 10 SM? apa ini hasil peninggalan mereka?" ujarnya sambil tertawa sinis, tambahnya "Saya sudah menggali beberapa tempat dan tidak menemukan objek ritual, tapi tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa penduduknya adalah kaum monotheis fanatik."

Mengenai situs yang nampak seperti struktur kerajaan Yehuda, katanya, "Pada tahun 1980 saya pernah menggali disebuah situs di timur laut Yerusalem, yang berasal dari zaman yang sama dengan Khirbet Qeiyafah. Ada juga dinding serupa. Dan ketika mengunjungi Moav kami juga menemukan reruntuhan benteng dengan diding casemate yang serupa dari waktu yang sama. Jadi ini bukan sesuatu yang baru kita lihat."

Penggalian pribadi.

Walau demikian Finkelstein tidak menutup kemungkinan jika itu adalah salah satu kota Yehudah. "Berbicara soal kemungkinan, ini bisa saja adalah kota Yehudah,  Dan hal ini tidak akan membuatku merubah pandangan akan hasil riset saya mengenai asal muasal kerajaan Israel dan Yehuda."

Beberapa hari sebelum bertemu dengan Finkelstein, saya berbincang dengan Garfinkel ketika kami mengelilingi reruntuntuhan Khirbet Qeiyafah. Ketika ia membicarakan tafsirannya akan situs tersebut, ia tiba-tiba terdiam dan memandang saya. "Masalahnya ada pada Finkelstein," ujarnya, "ia tidak pernah setuju dengan pendapat orang lain. Ia selalu harus menjadi orisinil. Dan ia selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda. Jika saya mengatakan jaket anda abu-abu, ia akan berkata itu adalah coklat tua." lalu sambil tertawa Garfinkel berkata, "Jika saya katakan ini adalah kota Filistin, ia akan berkata kota Yehudah."

Finkelsten menyebut ini "sikap paranoid." (ia tidak medapat kesempatan untuk menggali di Khirbet). "Tidak ada perbedaan antara Garfinkel dan Yadin dan Albright," ungkapnya. Ada beberapa ahli yang, pemikirannya seperti kubu Finkelstein, saat ini sedang menahan diri dan tidak ingin memutuskan status etnis yang mendiami Khirbet Qeiyafa. Menurut Amihai Mazar, "Khiber Qieyafah sangat menarik, apakah orang Ibrani yang mendiami tempat itu? sangat sulit untuk membuktikannya." Hal serupa dikemukakan oleh Prof, Avi Faust, dari Departemen Studi negeri Israel dan Arkeologi di Bar-Ilan University, yang mengafiliasikan diri dengan kubu konservatif, ungkapnya, "kita belum memahami secara utuh tentang Khirbet Qeiyafa. kita belum sukses menempatkan Khirbet Qeiyafah secara tepat kedalam gambaran besar mengenai daerah selatan dari negeri Israel, terlihat bukan situs Filistin tapi juga tidak 100% yakin ini adalah situs Yehudah."

Garfinkel, bersama dengan koleganya, Saar Ganor dari Otoritas sejarah Israel (The Israel Antiquities Authority), saat ini mempresentasikan penemuan terakhir dari penggalian mereka, dan berusaha mempromosikan hasil penafsirannya. Selain menerima kritikan dari kaum moderat minimalis, ia sangat yakin jika ia tidak keliru. "Qeiyafa seperti tulang yang nyangkut ditenggorokan kaum minimalis," ujarnya. "Kota ini nyata, bagaimana anda menjelaskannya? Secara bertahap akan muncul penemuan situs serupa dari periode zaman besi."

Finkelstein berujar "Tidak dapat dipungkiri bahwa kami saat ini sedang mengalami gelombang kritik demi kritik yang sangat kuat, kami menyebutnya revolusi-perlawanan. Seperti itu lah riset bekerja." Tetap saja, ia menolak untuk meninjau ulang thesisnya; beban pembuktian berada pada pihak konservatif."

Perpolitikan para arkeolog.

Selama beberapa dekade perdebatan mengenai status historis kisah biblikal tentang kerajaan Daud, dibayang-bayangi oleh usaha untuk membuktikan atau membantah klaim orang Yahudi mengenai ikatan historis mereka dengan tanah dimana Negara Israel moderen berdiri, terutama tempat Yerusalem. Bahkan pada saat ini, kata Prof. Aharon Meir, seorang arkeolog dari Bar-Ilan University, "salah satu masalah adalah motivasi politis." Contohnya, adalah Eilat Mazar, yang saat ini sedang melakukan penggalian di Yerusalem. "Ia akan berkata ia bekerja tidak dengan motivasi politik tertentu, namun anda dapat melihat dari penyandang dana proyeknya [sebagian besar dari The nationalist Elad association] dan dari cara berpikirnya selama ini," Kata Meir. Kemudian dia menarik ucapannya dan berkata Mazar mungkin saja tidak mempunyai agenda politis.

Banyak yang bergelut dalam bidang arkeologi dan sarjana Alkitab, melalui komentar-komentarnya selama ini, mengatakan menghindari hal-hal ideologis dan politis. Prof. Amihai Mazar mengatakan bahwa secara sosio-politis dari para arkeolog Israel kebanyakan sangat homogen. "Semua yang terlibat  dalam bidang ini kebanyakan adalah orang-orang sekuler, dan sama sekali bukan berpandangan ektrim, baik ekstrim kanan atau pun ekstrim kiri. Saya rasa tujuan politis tidaklah terlalu mencolok."

Hal senada diungkapkan oleh Prof. Avi faust dari Bar-Ilan University, Bahwa walau para arkeolog Israel mungkin terbentuk dengan pengaruh keadaan politis di Israel, mereka tidak akan bias dan mengikuti secara membabi buta sebuah agenda.

Tel Aviv vs Jerusalem

Ketegangan dan kompetisi antar para arkeolog kadangkala menghasilkan perang komentar pedas bersifat pribadi yang sama sekali tidak berkaitan dengan kejadian 3000 tahun yang lalu. Contohnya, Dr. Gabriel Barkai, yang berasal dari kelompok konservativ, mengatakan bahwa Finkelstein memaksakan "konsep kolektivisme" ketika ia menjabat sebagai kepala departemen di Tel Aviv University, yang akhirnya membuat Barkai hengkang dari institusi pada tahun 1997, setalah 27 tahun berbakti. Barkai menilai semakin nampak terjadi perselisihan antara Hebrew University dan Tel Aviv University mengenai pembahasan Alkitab, hal ini terjadi sejak Finkelstein menjabat. (Finkelstein menolak merespon pernyataan ini.)

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Prof, Aharon Meir dari Bal-ilan University, bahwa ia tidak melihat adanya perpecahan antar kedua institusi. "Pada tahun 1960an hingga 1970an ada perselisihan dominan antar Yigael Yadin dan Yohanan Aharoni, antara Yerusalem dan Tel Aviv. Jika Yadin berkata saat ini pagi, maka Aharoni menjawab ini malam. Kedua kubu ini sangat militan. tapi saat ini saya tidak melihat yang sama terjadi."

Baru-baru ini, Koresponden Haaretz Nir Hasson mengungkap insiden. Ada dua kelompok arkeolog berkeinginan menggali di Tel Socoh, tidak jauh dari Khirbet Qeiyafah: satu pihak terdiri dari Prof. Yuval Goren dan Prof. Oded Lipschits, dari Tel Aviv University, dan pihak lain Prof. Garfinkel dan koleganya asal Amerika Serikat Prof. Michael Hasel. Menurut Goren, Prof Garfinkel tidak berhak menggali disana karena secara regulasi dari badan otoritas kesejarahan (Antiquities Authority) melarang seorang arkeolog menggali dua situs secara bersamaan.

Goren telah mendapat izin bulan lalu, tetapi menurut Prof. Lipschits, ia melihat Garfinkel turut menggali dilokasi walau tidak memiliki izin. Ia telah mengirim surat komplain kepada Dr. Gideon Avni, kepala unit perizinan penggalian di Badan kesejarahaan (Antiquities Authority), tapi ditolak.

"Ada hubungan tidak lazim antara Antiquities Authority dan Hebrew Universities," ujar Lipschits. "Avni dan Garfinkel adalah pengajar di Hebrew University dan Garfinkel adalah salah satu kepala dari penggalian di Khirbet Qeiyafah bersama Saar Ganor (kepala bidang pengamanan situs bersejarah - Prevention of antiquities thefts), dan ketika melaporkan penggalian illegal di Tel Socoh ke Badan kesejarahaan, yang harus dihubungi di Badan tersebut adalah Ganor"

Garfinkel merespon keras tentang hal ini: "Jika seorang yang terhormat seperti Prof. Oded Liptschits tidak dapat membedakan antara pencurian benda bersejarah dan survey penggalian, ia berada pada level bawah. Sangat menyedihkan ia menuduh kami sebagai penjarah. Ini tuduhan serius." Tambahnya ketika ia memulai untuk menggali di Khirbet Qeiyafah, ia mengalami gangguan dari staf periset dari Tel Aviv University. "Orang-orang di Tel Aviv berusaha menghalangi kami. Finkelstein adalah dalangnya. Dari mana Yuval Goren mendapat dana penggalian jika bukan dari Finkelstein?" (Finkelstein dan Badan kesejarahan Israel-The Israel Antiquities Authority menolak berkomentar)

Kemerdekaan Israel 1948 menggenapi nubuatan banyak nabi

Tetapi Engkau, ya YAHWEH, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun. Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya. (Maz 102:13-14)

Setiap tanggal 14 April dunia mengingat suatu perkara yang ajaib: Israel hidup kembali sebagai  sebuah negara yang merdeka, di tanahnya sendiri. 
Untuk bangsa Israel, moderator Senjata Rohani weblog mengucapkan, “Selamat Merdeka, Israel! Kuatkan dan teguhkan hatimu, sebab Elohim YAHWEH, Elohim nenek moyangmu besertamu! 
Berpeganglah teguh kepada seluruh perintah-Nya, maka engkau akan berhasil dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa!
Alkitab menulis bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Elohim untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa (Abraham: Kej 12:3; 22:18; Ishak: Kej 26:4; Yakub: Kej 28:14). Nubuatan raja Daud pada Mazmurnya di atas dan lahirnya kembali negara Israel, bangsa Israel hidup di tanah air mereka kembali, di tahun 1948 adalah suatu bukti bahwa YAHWEH, Elohim Israel, menggenapi firman-Nya. 

Artikel ini menunjukkan banyak nabi Israel seperti Yehezkiel, Yeremiah, Amos, Yesaya bahkan Musa telah menubuatkan lahirnya kembali negara Israel. Nubuatan mereka tersebut telah tertulis dari rentang waktu sediktinya 2519 tahun sampai 3388 tahun sebelum tahun 1948. 

Film “Against All Odds:  In the search of Miracles“ (kumpulan peristiwa-peristiwa yang “aneh” tetapi nyata di abad 20  juga suatu bukti dari pemeliharaan dan perlindungan YAHWEH atas Israel sebagai suatu bangsa dan negara. 

Lahirnya kembali negara Israel sungguh Ajaib
Nabi Yehezkiel Pelayanannya: 593-571 BC, pada jaman Zedekia, raja Yehuda. Di waktu pembuangan ke Babilon, Irak. Lihat Yeh 1:1-3 dan 29:17.

a. Nubuatan kapan Israel akan dibangun kembali Bendera Israel dan buah Zaitun
Berbaringlah engkau pada sisi kirimu dan Aku akan menanggungkan hukuman kaum Israel atasmu. Berapa hari engkau berbaring demikian, selama itulah engkau menanggung hukuman mereka. Beginilah Aku tentukan bagimu: Berapa tahun hukuman kaum Israel, sekian harilah engkau menanggung hukuman mereka, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari. Kalau engkau sudah mengakhiri waktu ini, berbaringlah engkau untuk kedua kalinya, tetapi pada sisi kananmu dan tanggunglah hukuman kaum Yehuda empat puluh hari lamanya; Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun. (Yeh 4:4-6)

Elohim menghukum Israel kuno  selama 430 tahun atas dosa penyembahan berhala. Nubuatan ini menurut ahli kitab Grant Jeffrey tepat menggenapi tahun kemerdekaan Israel 1948. 

  1. Penduduk Yahuda dibuang ke Babilon, dan Koresh/ Cyrus (Raja Parsi)  mengalahkan Babilon di tahun 539 BC. Sekitar tahun 536  raja Koresh/ Cyrus memperbolehkan orang Yahudi (penduduk Yahuda dipembuangan) kembali ke tanah mereka, ini tepat 70 tahun setelah Yehuda dikalahkan raja Nebukadnezar (Babilon). Perbuatan Koresh menggenapi nubuatan nabi Yeremia.
  2. Karena sebagian besar orang pembuangan ini memilih untuk tinggal di Babilon dan tetap menyembah berhala, sisa tahun hukuman 360 tahun (= 430-70) ditambah 7 kali sesuai firman YAHWEH (Imamat 26:18-28) yaitu menjadi 2520 tahun.
  3. Kalender Yahudi berdasarkan kalender lunar, 2520 tahun dalam kalender modern (matahari) akan menjadi 2484 tahun. (~2520x360hari:365hari)
  4. 2484 tahun dari tahun 536 BC adalah tahun 1948, dimana Israel merdeka kembali.

b. Nubuatan bahwa Israel akan dihidupkan kembali.
Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Adonai YAHWEH (the Lord GOD): Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah YAHWEH, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, YAHWEH, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman YAHWEH.” (Yeh 37:10-14). Lihat juga Yeh 34:13.

c. Nubuatan bahwa negara Israel akan  lahir sebagai satu kerajaan, bukan dua (Yehuda dan Samaria/ Israel Utara). Kemudian datanglah firman YAHWEH kepadaku: “Hai engkau anak manusia, ambillah sepotong papan dan tulis di atasnya: Untuk Yehuda dan orang-orang Israel yang bersekutu dengan dia. Kemudian ambillah papan yang lain dan tulis di atasnya: Untuk Yusuf–papan Efraim–dan seluruh kaum Israel yang bersekutu dengan dia. Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu. (Yeh 37:15-17), katakanlah kepadanya: Beginilah firman Adonai YAHWEH (the Lord GOD): Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan. (Yeh 37:21-22)

Pada jaman nabi Yehezkiel, kerajaan Israel yang terdiri dari 12 suku dipecah oleh Elohim menjadi dua kerajaan; Yehuda dua suku, dan Samaria 10 suku dibawah raja Yerobeam. Kedua kerajaan ini dikuasai oleh dua kerajaan besar yang berbeda Babilonia menguasai yang pertama dan Assur menguasai yang kedua.

Nabi Yeremiah
Kitabnya ditulis dari 627 sampai sekitar 586 BC. Pelayanan kenabiannya dimulai pada jaman raja Yosiah sampai Zedekiah

a. Exodus kedua Israel dinubuatkan.
Sebab itu, demikianlah firman YAHWEH, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi YAHWEH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi YAHWEH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka. (Yer 16:14-15)
Exodus ini, berbeda dengan Exodus pertama, disebabkan penganiayaan Nazi dan Komunis Rusia. Kemudian menyusul dari negara-negara lainnya, seperti Ethiopia, Irak, Iran, Burma dll.
b. Nubuatan bahwa Israel akan dipatrol/ dijaga oleh YAHWEH dari musuh-musuhnya
Dengarlah firman YAHWEH, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab YAHWEH telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. (Yer 31:10-11)

Nabi Amos
Ditulis sekitar 750 BC pada jaman Yerobeam II raja Israel Utara, atau Uzia raja Yehuda. Di masa pembuangan ke Asyur, Irak utara dan sekitarnya. Lihat Amos 1:1.
Israel akan dikembalikan ke tanah mereka dan makmur kembali.
Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka,” firman YAHWEH, Elohimmu. (Amos 9:14-15)
Nabi Yesaya
Pelayanannya sekitar 767-716 BC. Yesaya hidup pada waktu bersamaan dengan nabi Mika, selama pemerintahan Uzia (Uzziyah; Strengh of Yah), Jotam, Ahas dan Hezekhia,(Strengthened of Yah) raja-raja Yehuda. Sebelum pembuangan ke Babilon. Yes 1:1
Nubuat Exodus kedua akan datang dari jauh,utara, barat dan dari tanah Sinim
  • Maka sekarang firman YAHWEHTentara Israel berhasil merebut kembali kota Yerusalem, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya–maka aku dipermuliakan di mata YAHWEH, dan Elohimku menjadi kekuatanku–,firman-Nya: … Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim.” (Yes 49:5,12). Ayat 20-21 adalah konflik dekade sekarang: perluasan pembangunan rumah tinggal di ‘tanah pendudukan.’
    Sinim: beberapa ahli menduga sebagai tanah China dikenal sebagai “Tschin” artinya “a Chinaman,” Ref.: Albert Barnes, Notes on the Bible.
  • Nubuat status Israel (Sion/Zion) sebagai umat YAHWEH akan dipulihkan dan akan dijaga sepanjang 24 jam.

    Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. (1) Engkau tidak akan disebut lagi “yang ditinggalkan suami”, dan negerimu tidak akan disebut lagi “yang sunyi“, tetapi engkau akan dinamai “yang berkenan kepada-Ku” dan negerimu “yang bersuami“, sebab YAHWEH telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. (4) Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan YAHWEH kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang Orang akan menyebutkan mereka “bangsa kudus”, “orang-orang tebusan YAHWEH”, dan engkau akan disebutkan “yang dicari”, “kota yang tidak ditinggalkan”.  (Yes 62:1,4,6,12).  Juga Yes 49:19.
  • Israel akan dilahirkan kembali dengan segera, ”dalam satu hari .”
    Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki. Siapakah yang telah mendengar hal yang seperti itu, siapakah yang telah melihat hal yang demikian? Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari, atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali? Namun baru saja menggeliat sakit, Sion sudah melahirkan anak-anaknya. Masakan Aku membukakan rahim orang, dan tidak membuatnya melahirkan? firman YAHWEH. Atau masakan Aku membuat orang melahirkan, dan menutup rahimnya pula? firman Elohimmu. Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! (Yes 66:7-10)

    Ayat-ayat ini menubuatkan dengan tepat apa yang terjadi pada hari ”kelahiran” tersebut:
Kemerdekaan Israel bukan hasil menang perang, tidak mengalami rasa sakit yang berat.
Beberapa jam sebelum Pernyataan Kemerdekaan dinyatakan, PBB mencabut perintah penguasaan Britania Raya atas tanah Israel, yang dinamai saat itu tanah Palestina, yang berarti secara tiba-tiba negara Israel ”keluar kembali dari rahim” setelah 2900 tahun terhilang dari peta politik.

Belum mencapai 24 jam hari kemerdekaannya, Israel diserang oleh negara-negara tetangganya (Mesir, Syria, Yordania, Irak dan Arab Saudi). Penderitaan dan sakit akibat perang terjadi setelah ia lahir.

Nabi Musa
Kemungkinan kitab Taurat ditulis 1400-1440 BC, setelah keluar dari Mesir dan sebelum bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan.
Nubuatan bangsa Israel akan terserak namun dikumpulkan kembali. Maka YAHWEH, Elohimmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana YAHWEH, Elohimmu, telah menyerakkan engkau. Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun YAHWEH, Elohimmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau. YAHWEH, Elohimmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu. (Ul 30:3-5)

Nubuatan ini menunjukkan bahwa Musa nabi yang special, Ia diperlihatkan YAHWEH sekitar 869 tahun kemuka, yakni sebelum pembuangan bangsa Yehuda ke Babel (1440-593; dari akhir pelayanan nabi Yehezkiel di atas) dan 3388 tahun ke muka, yakni sebelum negara Israel lahir kembali (1440+1948). YAHWEH berjanji kepada Israel bahwa seorang nabi SEPERTI nabi Musa yang dasyat ini akan diberikan dikemudian hari – telah genap 2000 tahun yang lalu.

Jelas terlihat bahwa Alkitab ditulis berdasarkan ilham Roh Kudus, Alkitab adalah Firman Elohim.
Nubuatan ketika disampaikan nampak ”nonsance” untuk akal yang paling sehat sekalipun, namun jika nubuatan itu datangnya dari Elohim maka nubuatan tersebut akan tergenapi pada waktu-Nya.

Pelajaran untuk kita yang hidup saat ini: Karikatur Dry Bones Kemerdekaan bangsa Israel

1. Dari ayat ini: Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Elohimmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan YAHWEH dua kali lipat karena segala dosanya. (Isa 40:1-2),  kita mengerti bahwa: YAHWEH, Elohim Sebaot (Elohim Semesta alam) telah mematahkan penghambaan bangsa-bangsa atas Israel dan telah mengampuni dosa Israel – menerima kembali Israel sebagai umat pilihan-Nya. Karenanya, siapa yang melawan Israel berarti = memberontak melawan Elohim Sebaot. Berhati-hatilah!

2. Nubuatan Alkitab yang belum terjadi: perang Armagedon, Yeshua Ha Mashiah datang kembali sebagai hakim, Sorga dan Neraka, yang kedengarannya “nonsance” juga akan tergenapi pada waktu-Nya. Pesan Yeshua pada setiap orang yang hidup di akhir jaman ini:  Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari atau saat itu [hari kembalinya Yeshua Ha Mashiah] tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” (Mar 13:31-33)

Paulus mengulangi peringatan Adonai Yeshua untuk kita semua: Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Yahweh datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman–maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin–mereka pasti tidak akan luput. (1Tes 5:1-3)

Generasi Bangsa Arya (Iran), Sumeria (Iraq) dan Israel (Yahudi Modern)

Semit atau lebih terkenal dengan nama Semitik, memiliki rumpun bahasa semit yang mencakup 5 bangsa dan 3 peradaban besar, Mesopotamia (Iraq), Parsi (Iran), Arabia (Jazirah Arab), Ethiopia dan Kanaan (Israel dan Yerussalem). Negara Iraq sekarang ini dulunya memiliki latar belakang Peradaban Mesopotamia. Dari peradaban Mesopotamia ini maka berdirilah kerajaan Babilonia kuno dan Babilonia Modern (Neo Babilonia). Sementara negara Iran adalah negara yang dulunya memiliki latarbelakang kejayaan kerajaan Persia (Parsi). Keturunan bangsa Iraq berawal dari bangsa sumeria, bangsa ini pula menjadikan Babilonia terkenal dulu nya. Mantan Presiden Iraq yaitu Saddam Husein adalah salahsatu garis keturunan dari bangsa SUMERIA itu sendiri. Garis keturunan Saddam Hussein masih memiliki garis keturunan raja-raja bangsa sumeria dulunya dimasa babilonia dan peradaban mesopotamia berjaya. Akhirnya, bangsa sumeria ini ditaklukkan bangsa Akkadia oleh raja SARGON, kemudian bangsa akkadia ini adalah merupakan cikal bakal Suku KURDI di Iraq. 

Sementara itu, kerajaan persia yang berada tepat posisinya di negara iran saat ini adalah negara yang mayoritasnya merupakan bangsa yahudi kuno (bangsa Arya), Bangsa yahudi di iran ini nenekmoyang mereka berasal dari bangsa arya, erat kaitannya dengan bangsa arya yang pernah disebutkan oleh Adolf Hitler dulu semasa perang dunia II. Jadi bangsa arya ini adalah para keturunan generasi yang telah mendirikan peradaban kerajaan persia dulu. Hitler ingin membangkitkan kejayaan itu kembali. Bangsa Arya ini sebenarnya adalah bangsa pendatang yang hijrah ke iran pada milinium ke-III, sebelumnya peradaban di iran di kuasai oleh ELAM dan Proto-Iran. Peradaban iran tertua dan pertamakalinya adalah Peradaban Proto-Iran dan ELAM itu sendiri, tapi kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arya. Selanjutnya keturunan anak bangsa arya ini lah yang berkuasa di iran. Kemudian mendirikan kekaisaran Media dan Akhemeniyah, kekaisaran Media dan Akhemeniyah ini dikuasai oleh raja yang bernama Koresh Yang Agung. Setelah Koresh yang agung mangkat, maka selanjutnya beberapa generasi di gantikan oleh kekaisaran DARIUS YANG AGUNG (Darius I, II dan III). 

Lalu kaisar Darius yang agung mangkat, selanjutnya kekaisaran persia (Akhemeniyah) diserang oleh kerajaan yunani kuno hegemoni dari kerajaan Makedonia (pemimpinnya adalah Alexander Agung), kemudian Alexander agung berkuasa di Persia (Iran), dia lah raja dari kerajaan Makedonia (Yunani Kuno). Lalu, terjadi transisi penguasa dan bangsa pada masa Alexander agung berkuasa. Pada akhirnya pun Alexander agung wafat penyebabnya karena di racun, maka generasi penerusnya adalah Seleukus, dia adalah jendral terkuat yang dimiliki oleh Alexander agung. Pada masa kerajaan persia berdiri lawan tanding kerajaan ini adalah kerajaan Romawi. Persia dan Romawi adalah 2 kerajaan yang saling berperang sesuai diceritakan dalam al qur'an. Jadi intinya adalah bangsa iran sekarang ini adalah keturunan dari bangsa arya dulunya. Gelar kebangsawan mereka adalah AGUNG dan SHAH. Gelar shah ini pertama kalinya digunakan pada masa kekaisaran SASSANIA. 

Orang-orang sassania memanggil raja mereka dengan istilah ERANSHAHR, atau Iranshahaer artinya yaitu (penguasaan orang arya). Kerajaan Sassania ini sangat berjaya sekali, sampai masa penaklukkan Islam di Iraq. Jadi, tidak benar kalau syiah sekarang ini adalah keturunan dari khalifah ali bin abi thalib. Syiah di iran sekarang ini adalah anak keturunan dari bangsa Arya (Yahudi Kuno), termasuk didalamnya Khomeini, Shah Pahlevi, Ahamdinejad dan lain-lainnya, mereka itu adalah satu garis keturunan Yahudi Kuno (bangsa arya). Sementara itu, bangsa Romawi kuno (Peradaban Yunani Kuno, Athena dan Sparta) tak ada hubungannya dengan bangsa Arab (anak keturunan suku kedar, yaitu anak pertama nabi ismail yang melahirkan nabi Muhammad) dan bangsa arya (Keturunan raja persia, Iran). 

Bangsa Arab dan Arya ini adalah satu garis keturunan mereka kepada nabi Ibrahim (satu garis keturunan kakek moyang), seharusnya antara Iran dan Arabsaudi mustinya akur dan serasi, namun kenyataannya tidak. Termasuk didalamnya 12 suku bangsa israel yaitu suku penerusnya Solomon (nabi sulaiman), 12 suku israel ini nantinya setelah solomon mangkat, terpecah menjadi 2 kerajaan (Kerajaan Israel Utara, Samaria dan Kerajaan Israel Selatan, Yerussalem). Kemudian 2 kerajaan israel ditaklukkan oleh Koresh Yang Agung (dari kerajaan Persia, tepatnya Babel). Istilah nama Suku Kedar, diambil dari nama anak nabi ismail yang pertama yang bernama KEDAR. 

Kemudian dari keturunan suku kedar inilah lahir rumpun bahasa semit modern. Lebih tepatnya suku kedar adalah termasuk Rumpun bahasa semit sub bangsa arab modern. Penjelasan lebih rincinya sebagai berikut : Nabi ibrahim (abraham) memiliki 2 orang putera yaitu : 1. Ismail , 2. Ishaq. Dari Ismail turunlah generasi suku kedar (semit arab modern), dan dari keturunan Ishaq muncullah Yakub (Israil), lalu dari yakub turun 12 suku generasi penerus selanjutnya, yang berasal dari 12 anak Yakub sendiri. Nabi Yakub memiliki 4 orang isteri ( 2 Isteri dan 2 Gundik), Isteri pertama bernama Lea dan isteri kedua bernama Rachel, dari kedua isteri sah nabi Yakub ini memiliki anak sebanyak 8 orang, masing-masing isteri memiliki budak, Lea memiliki seorang budak perempuan dan Rachel memiliki seorang budak perempuan pula, lalu ke 2 budak perempuan ini pun diperisteri (Gundik) oleh YAKUB, dan melahirkan 4 orang anak, karena pada masa nabi Yakub hidup aturan pernikahan dalam kaumnya diperbolehkan untuk memelihara gundik. Meskipun statusnya adalah gundik tapi tetap anak dari gundik tersebut sah sebagai golongan dari penerus suku Yakub. 

Maka total generasi penerus nabi yakub ada sebanyak 12 suku (12 anak). Ke-12 suku penerus generasi Yakub, Ishaq dan Ibrahim ini adalah tidak lain merupakan saudara sedarah satu kakek dengan suku kedar tadi. Ke-12 suku penerus Yakub ini nanti pada akhirnya terpecah menjadi dua kelompok, dan mendirikan kerajaan masing-masing suku. 1. Kerajaan israel utara (yang berada di kota samaria/israil), dan 2. Kerajaan israel selatan (yang berada dikota Yerussalem). Kerajaan israel utara (samaria) terdiri dari anak keturunan suku Yusuf beserta 9 suku lainnya, sementara Kerajaan israel selatan (Yerussalem) terdiri dari anak keturunan 2 suku saja yaitu, Yehuda dan Benyamin (Bunyamin), biasanya ke 12 suku generasi penerus yakub ini juga kita kenal dengan istilah kumpulan suku bangsa ibrani ( rumpun bangsa semit ibrani ). 

Rumpun bahasa semit ibrani ke 12 suku generasi penerus yakub ini hidup pada zaman besi, dan juga memakai bahasa sehari-hari yaitu bahasa Kanaan. Ke 12 suku penerus Israel (semit ibrani/kanaan ibrani) ini, terpecah 2 kerajaan dikarenakan ulah ayah mereka sendiri yaitu Nabi Sulaiman (Solomon). Solomon (nabi sulaiman) melanggar perjanjian tuhan israel (allah) yang melarangnya untuk menikahi wanita asing yang bukan berasal dari sukunya sendiri. Tuhan melarang nabi sulaiman karena takut nantinya generasi penerus solomon ini akan berpaling dari tuhan bangsa israel. Sementara itu solomon adalah penganut monotheisme (satu tuhan) bukan polytheisme (banyak tuhan). Bahasa sederhananya begini : Tuhan melarang solomon menikahi wanita yang berpaham polytheisme. Tuhan takut itu akan memalingkan solomon dari nya.Ternyata larangan tuhan ini tanpa sadar dilanggar oleh solomon, nabi sulaiman lupa dan tenggelam akan kecintaan dan kecantikan wanita asing. 

Makanya tak heran selama nabi sulaiman hidup beliau telah memiliki koleksi 700 isteri dan 300 gundik. Dari 700 isteri dan 300 gundiknya tersebut, beberapa diantara wanitanya adalah penganut paham POLYTHEISME (banyak tuhan), lalu tuhan marah dan memberikan sanksi kepada solomon, karena kemarahan tuhan inilah makanya 12 suku israel terpecah menjadi 2 kerajaan israel (Israel utara, samaria dan israel selatan, yehuda atau yerussalem). Pertanyaannya sekarang adalah, kapankah istilah yahudi modern atau israel modern itu ada dan muncul? Yahudi modern (israel modern) itu tercipta dari keturunan anaknya nabi solomon yaitu REHABEAM (raja kerajaan israel selatan), ibunya bernama Naamah orang amon (isteri Solomon). 

Rehabeam ini setelah solomon mangkat digantikan posisi raja kepadanya. Tapi, raja rehabeam banyak ditentang oleh pengikutnya, termasuk didalamnya adalah YEROBEAM. Sosok Yerobeam ini masih masuk golongan ke 12 suku israel, tapi tidak keturunan langsung dari solomon, Rehabeam lah keturunan langsung solomon. Akhirnya Yerobeam berontak kepada raja Rehabeam, akibat ulah Yerobeam ini pula lah kerajaan Israel serikat terpecah menjadi 2 kerajaan, 1. Kerajaan utara (10 suku termasuk Yerobeam), 2. Kerajaan selatan (2 suku termasuk Rehabeam). Nah, anak cicit dan buyut generasi penerus keturunan dari Rehabeam inilah, yang saat ini dikenal dengan nama YAHUDI MODERN atau ISRAEL MODERN. Selama 200 tahun, era 2 kerajaan israel utara dan selatan ini berdiri kokoh, sampai pada saatnya dikalahkan dan ditaklukkan oleh NEBUKADNEZAR II (dari Iraq). Raja nebukadnezar II adalah keturunan dari bangsa Babilonia Modern (percampuran suku akkadia dgn non semit). 

Kerajaan babilonia modern ini berdiri karena hasil pecahan dari kerajaan Asyur (babilonia kuno). Keturunan raja asyur ini ditaklukkan oleh Nabopolasar (Ayahnya Nebukadnezar II). Raja Nabopolasar inilah pendiri kerajaan babilonia modern, selanjutnya anak nabopolasar ini adalah NEBUKADNEZAR II yang memerintah di babilonia modern. Nah, ditangan Raja Nebukadnezar II inilah kerajaan israel serikat tumbang dan hancur. Lalu ke 12 suku israel penerus keturunan solomon dan yakub tadi melakukan eksodus besar-besaran ke tanah peradaban kerajaan persia, IRAN (bangsa arya, yahudi kuno), sebagian kecil lagi eksodus ke babilonia (iraq). Ternyata raja Nebukadnezar II ini telah memiliki 2 musuh besar, yaitu 1. Suku keturunan raja Asyur dan 2. Suku israel keturunan Solomon dan Yakub (anak keturunan penerus Yerobeam dan Rehabeam). Suku keturunan raja Asyur hijrah dan eksodus (suaka) ke tempat raja firaun mesir dan keturunan suku israel solomon pergi suaka ke Persia. D

imulai lah petualangan baru bagi 2 musuh besar raja Nebukadnezar II ini. Makanya tak heran sekarang ini negara IRAN banyak terpusat dan berkumpulnya suku yahudi kuno (Arya) dan modern (Israel) disana. Maka terjadilah pernikahan yang menghasilkan suatu Asimilasi keturunan dari suku arya dan israel ini nantinya. Karena faktor eksodus, makanya ada terjadi pembauran suku bangsa arya dengan suku bangsa israel keturunan solomon. Termasuk didalamnya Shah pahlevi, khomeini, dan ahmadinejad sekarang ini. Jadi jangan ngeles (beralasan) kalau ahmadinejad dibilang keturunan yahudi. Ahmadinejad dan khomeini itu masih satu garis keturunan dari rumpun bahasa semitik bangsa ibrani, kanaan ! tapi sudah bercampur (asimilasi) dengan bangsa Arya. Seharusnya sosok Ahmadinejad tidak menyerang Negara Israel dong ??? Dan Seharusnya pula ahmadinejad tidak membiayai pejuang palestina, hamas untuk menggempur militer israel dong ??? Padahal satu garis keturunan moyang, Ahmadinejad tega menyerang suku bangsa israel di yerussalem sekarang ini. 

Dan ini lagi ! pejuang palestina yang mengaku pejuang hamas dan fatah itu keturunan dari suku mana ya ??? Suku arab ??? Suku arab dari hongkong ! Asal suku bangsa keturunan generasi pejuang hamas dan fatah dipalestina sekarang ini tidak lain dari generasinya suku raja Asyur yang disebutkan diatas tadi. Generasi anak raja Asyur (suku asyur) itu eksodus (suaka) ke Mesir (Perbatasan bukit sinai, Mesir – Palestina), minta perlindungan kepada raja Firaun Neko II. Keturunan raja Asyur ini eksodus karena serangan raja Nabopolassar (ayahnya Nebukadnezar II tadi), raja Asyur kalah perang maka lahir neo babilonia. Neo babilonia (Babilonia Modern) berdiri berkat perjuangan suku Kasdim, suku ayah Nebukadnezar II. 

Suku asyur yang eksodus ke mesir tersebut nantinya cikal bakal menjadi suku bangsanya rakyat palestina sekarang ini (keturunan pejuang hamas dan fatah). Masih bingung atau sudah paham ???? Keturunan raja Asyur adalah keturunan dari babilonia kuno, suku Asyur adalah generasi penerus raja Asyur, yang dikalahkan oleh Nabopolassar (suku Kasdim). Bahasa simpelnya, suku Asyur adalah asli dari babilon (Iraq) lalu pindah ke Mesir beranak pinak menjadi penerus suku palestina sekarang ini. Selanjutnya, 12 suku israel keturunan solomon dan yaqub (samaria dan yerussalem) tadi pindah ke negara Iran (Kerajaan Parsi). Di parsi 12 suku israel ini (yahudi modern) membaur dengan suku bangsa asli parsi (ARYA) ! Bermukin diparsi, menikah dengan wanita suku Arya, berana pinak menghasilkan generasi penerus yaitu Shah Pahlevi, Khomeini, Ahmadinejad dan lain-lain. Mungkin saya rasa ada sebagian penganut syiah Iran akan membantah dengan ulasan detail garis keturunan sejarah yang saya uraikan barusan. Sah-sah saja kalau ada bantahan, silahkan saja tapi inilah fakta sejarahnya. Makanya tak heran kalau sosok Ahmadinejad tahu benar HOLOCAUST yang sebenarnya.

Israel kuno dan Yudea

Israel dan Yudea adalah kerajaan Zaman Besi terkait dari Levant kuno. Kerajaan Israel didirikan sebagai kekuatan lokal berpengaruh pada abad ke-9 SM sebelum jatuh ke tangan Kekaisaran Neo-Asiria pada 722 SM. Tetangga selatan Israel, Kerajaan Yudea, berdiri pada abad ke-8 SM[1] dan menikmati masa kejayaan sebagai negara klien Asiria pertama dan kemudian Babilonia sebelum pemberontakan melawan Kekaisaran Neo-Babilonia yang berujung pada kehancurannya pada 586 SM. Setelah Babilonia jatuh ke tangan raja Persia Sirus Agung pada 539 SM, beberapa orang Yudea yang diasingkan kembali ke Yerusalem, memulai periode formatif dalam pengembangan identitas Yudea khas di provinsi Persia Yehud. Yehud dimasukkan dalam kerajaan-kerajaan Hellenistik setelah penaklukan Aleksander Agung, namun pada abad ke-2 SM, bangsa Yudea memberontak terhadap Kerajaan Seleukia dan membuat kerajaan Hasmonean. kerajaan tersebut, yang menjadi kerajaan Yudea independen secara nominal terakhir, berakhir pada 63 SM saat ditaklukan oleh Pompey dari Roma. Dengan pembentukan kerajaan-kerajaan klien di bawah kekuasaan Dinasti Herodian, Kerajaan Israel dihadapai dengan gangguan-gangguan sipil yang terjadi dalam Perang Romawi-Yahudi Pertama, penghancuran Bait Allah, munculnya Yudaisme Rabbinik dan Gereja Perdana.

May 4, 2017

Putri Persia

Doqdu - 1756 B.C

Beliau adalah ibunda dari "Asho Zarathushtra", filusuf besar dan nabi bangsa Persia kuno. Pada masa sekitar 1737 SM, Zarathushtra lahir. Sebagai anak muda yang kritis, ia tertarik pada fenomena alam dan ingin tahu bagaimana dunia diciptakan. Pencariannya akan hakikat penciptaan serta tempaan meditasi bertahun-tahun, membawanya kepada suatu pemahaman yang mirip seperti ajaran monotheisme Ibrahim (Abraham). Zarathushtra membawa bangsa Persia ke arah Monoteisme, konsep ajaran tentang satu Tuhan.
Nama "Doqdu" berarti: "Terpilih."

Chista - 1725 B.C.

Ia adalah putri dari "Asho Zarathushtra", sang nabi ajaran Zoroaster. Ayahnya mengajarkan kepadanya konsep Monotheisme murni. Secara arkeologis, Zoroaster adalah agama monotheisme tertua di dunia yang pernah tercatat dalam literatur arkeologis. Filsafat Zoroaster diringkas dalam 3 ajaran, "Hati yang baik", “Perkataan yang baik", dan "Perbuatan yang baik". Namun seiring pergantian generasi dan zaman, ajaran ini berangsur-angsur menyimpang ke arah penyembahan terhadap benda-benda alam. Sebagai contoh yang paling populer di Persia kuno adalah Api.
Nama "Chista" berarti: "Kecerdasan."

Pantea Arteshbod - 559 B.C.

Ia adalah salah satu panglima terbesar Persia sepanjang masa. Mulai dikenal pada masa pemerintahan Cyrus (559-529 SM). Dia adalah istri dari Jendral Aryasb (Akhemenid's Arteshbod). Dia memainkan peran penting dalam menjaga hukum dan ketertiban di Babilonia setelah penaklukan Neo-Babilonia 547 SM oleh kekaisaran Cyrus Agung. Komandan Pantea termasuk komandan militer penting Cyrus Agung, yang kehadirannya di medan perang selalu menjadi penentu kemenangan, serta ikut berperan dalam membangun pondasi kemiliteran kuno.

Selama masa ekspansi Kekaisaran Achaemenid, Ia adalah komandan pasukan elit tentara Persia yang berperan ganda, yaitu sebagai Pasukan Pengawal Kekaisaran dan Pasukan Pendobrak. Pasukan elit ini dikenal sebagai "Immortal" karena mereka terus menerus beregulasi pada kekuatan 10.000 tentara. Setiap ada anggota yang terbunuh atau terluka parah, segera diganti untuk menggenapi jumlah 10.000, sehingga di medan perang seakan-akan jumlahnya tidak pernah berkurang. Itu sebabnya bangsa Yunani menyebut mereka Immortal. Untuk menjamin kesetiaan prajurit, maka anggota resmi “mesin tempur” kekaisaran Persia ini direkrut turun temurun dari marga tertentu, dan diberlakukan program latihan anak usia dini (usia 7+). Tidak semua orang bisa menjadi anggotanya, sebab sejak awal pelatihan ini sangat ketat dan keras baik secara fisik dan psikologis. Mereka juga mengikuti kepatuhan pada agama Zarathustra dan ajaran-ajarannya. "Pasukan Immortal" biasa diterjunkan ketika pertempuran memasuki babak-babak akhir sebagai strategi untuk mengejutkan musuh.
Nama "Pantea" berarti: "Kuat dan abadi."

Amitis Shahbanu -559 B.C.

Beliau adalah Ratu Kekaisaran Achaemenid Persia dan putri Shah Astiak Mad (Raja Median), Istri Cyrus Agung (Kaisar Persia pertama dan penulis pertama deklarasi hak asasi manusia di dunia yang dikenal sebagai Silinder Cyrus). Menurut Herodotus, Cyrus sangat mencintainya dan, ketika dia meninggal, dia memerintahkan semua rakyat untuk menyelenggarakan "hari berkabung besar". Ada catatan dalam laporan Nabonidus, ketika "istri raja meninggal," terlihat duka rakyat Babilon yang berlangsung selama berminggu-minggu, dan bahwa ratu dimakamkan di menara yang disebut Zendaan –e Solaymaan di Persia.
Nama "Amitis" berarti: "Teman yang Bijak."

Artemisia I - 485 B.C.

Ia diangkat menjadi penguasa di Halicarnassius (sebuah negara Kota Yunani yang ditaklukan menjadi koloni Kekaisaran Persia). Memerintah di bawah kekuasaan Kaisar Persia Xerxes I (Kheshayar Shah). Dia adalah seorang Laksamana legendaris pemimpin Angkatan Laut Persia. Seorang wanita kuat, mandiri dan cerdas yang memenangkan banyak pertempuran selama era Dinasti Achaemnid. Anda dapat melihat semangat Cyrus pada latar belakang lukisan.

Ketika Raja Xerxes pergi berperang melawan Yunani pada 480 SM, Artemisia mendukungnya dengan kapal-kapal yang kuat dan membantu Xerxes mengalahkan Yunani pada pertempuran laut di Salamis. Orang Yunani menawarkan hadiah 10.000 drachma untuk kepala Artemisia, tapi tidak ada yang berhasil. Perlu diketahui bahwa saat itu, Persia adalah satu-satunya negara adidaya, sedangkan Yunani terdiri dari puluhan negara kota yang terpisah-pisah, masing-masing mempunyai otonomi sendiri.

Artemisia dan unit pasukan wanita persia
Dia berjuang dalam perang seperti laki-laki dan dia menunjukkan kejeniusannya dalam taktik militer. Xerxes belum pernah melihat seorang wanita yang seperti dia. Artemisia akhirnya menjadi kekasih Xerxes. Namun Xerxes tidak pernah menikah dengannya, entah bagaimana Xerxes kemudian akhirnya menikahi Esther, seorang putri Yahudi. Ya, tidak peduli berapa dalam romansa cinta antara Xerxes dan Artemisia, namun mereka tidak pernah menikah. Artemisia adalah seorang legenda abadi dan teladan bagi para wanita Persia.
Nama "Artemisia" berarti: "Penutur kebenaran."

Esther - 478 B.C,

Lahir di wilayah Hadassah, dan merupakan istri Xerxes Agung dari Kekaisaran Persia. Dia adalah ratu Persia dari bangsa Yahudi yang pertama. Menurut Bibel Kitab Ester, suatu ketika Raja Xerxes dari Persia mengadakan 180 hari pesta di Susan untuk menunjukkan kekayaan dan kemegahan kerajaannya. Sang Raja memerintahkan istrinya yaitu ratu Vashti tampil sebelum dia dan tamu-tamunya dengan mengenakan mahkota untuk memamerkan kecantikannya. Tetapi Ratu Vashti menolak untuk datang. Marah dengan penolakan ini, Raja Xerxes bertanya kepada orang-orang bijak dan ketujuh penasihat Persia. Sesuai dengan hukum, mereka menyarankan Raja untuk mencari ratu yang baru.

Raja mengikuti nasihat ini, kemudian mulai mencari ratu yang baru melalui sebuah kontes kecantikan. Maka gadis-gadis cantik dari setiap provinsi dikumpulkan ke istana. Esther ikut serta dalam kontes ini yang didukung oleh Mordekhai, sepupunya sekaligus walinya. Selama 12 bulan, setiap wanita menjalani perawatan kecantikan di harem, setelah itu ia akan pergi menghadap Raja. Pada akhirnya Raja Xerxes memilih Ester untuk menjadi istrinya dan dan menjadi ratu kekaisaran Persia.

Dalam kitab Bibel, ada bagian yang dinamai dengan namanya yaitu Kitab Ester. Sebagai hasil pernikahan ini, maka pengaruh orang-orang Yahudi yang tinggal di Kekaisaran Persia mulai menanjak. Xerxes kemudian mengikuti jejak Cyrus Agung dalam menunjukkan belas kasihan kepada orang Yahudi Persia.
Nama "Esther" berasal dari bahasa Persia: "bintang."

Sissy Cambis - 381 B.C.

Ia adalah Ratu Persia dan ibunda Darius III. Ia adalah seorang wanita Akhemenid luar biasa yang berjuang mempertahankan kekaisaran dan tidak pernah menyerah kepada Alexander dari Macedonia. Menurut Sejarawan Yunani, Alexander pun sangat menghargainya dan baru dapat mengalahkannya dengan usaha yang keras.
Nama "Sissy" berarti: "Beruntung."

Youtab Aryobarzan - 334 B.C.

Dia adalah salah satu komandan pasukan Dinasti Akhemenid Persia, adik dari pahlawan legendaris Persia, Aryobarzan (Jendral Akhemenid). Ia berdampingan dengan kakaknya melawan serbuan Yunani Macedonia sampai tetes darah terakhir pada masa pendudukan Alexander yang Agung dari Macedonia.
Nama "Youtab" berarti: "Unik."

Roxana Akhemenid - 326 B.C.

Ia adalah putri Darius III, Syahansyah dari Kekaisaran Persia. Dia menikah dengan Raja Makedonia: Alexander ketika menyatakan cintanya di atas benteng sekitar 327 SM. Roxana dengan gagah berani menemaninya menyerbu India pada tahun 326 SM. Dia melahirkan seorang anak yang diberi nama anumerta Aleksander IV Aegus. Namun setelah kematian Alexander secara mendadak, Roxana dan anaknya menjadi korban dari intrik-intrik politik menjelang runtuhnya Kekaisaran Alexandria. Roxana akhirnya membunuh janda Alexander lainnya, yaitu Stateira II dan adiknya Drypteis. Roxana dan anaknya dilindungi oleh ibunda Alexander, Olympias di Macedonia, tapi akhirnya terbunuh pada 316 SM. Karena puteranya yaitu Alexander IV Aegus adalah pewaris sah kerajaan Alexandria, maka Cassander salah seorang mantan jendral Alexander yang berambisi merebut kekuasaan, memerintahkan pembunuhannya sekitar 309 SM.
Nama "Roxana" berarti: "Fajar yang bercahaya."

Sekedar untuk diketahui, Persia dari masa ke masa telah diperintah oleh berbagai Dinasti. Di antaranya yang terkenal adalah Dinasti Achaemenid, Alexandria, Askhanid Parthia, dan yang terakhir adalah Sassania. Sepanjang sejarahnya, Persia telah dua kali mengalami restorasi, yaitu pada saat penyerangan Alexander yang Agung, dan pada saat kebangkitan Islam.