Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 8, 2013

Majapahit

Sebelum Majapahit muncul dan menggantikan Sriwijaya sebagai kerajaan yang besar, muncullah beberapa kerajaan kecil di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kerajaan Kalingga (abad VII), Sanjaya (abad VIII), dan Syailendra (abad VII dan IX) terdapat di Jawa Tengah. Pada masa berdirinya kerajaan-kerajaan itu, banyak terdapat hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang berwujud sebagai karya-karya budaya.

Candi Borobudur dan Candi Prambanan merupakan peninggalan yang tak ternilai harganya. Begitu hebat serta tinggi nilai budayanya, sehingga sanggup mengundang kekaguman siapa saja yang melihatnya. Di samping itu, penggunaan teknologi juga cukup mengagumkan. Sebagai contoh adalah perekat yang digunakan untuk kedua candi tersebut, yang selain tahan lama dan sukar dimasuki air juga aman terhadap cendawan.

Bangunan yang hebat dan mengagumkan itu hanya dapat terwujud dengan bekerja keras atas dasar semangat gotong-royong. Di samping itu, adanya bangunan yang hebat dan mengagumkan itu juga dilandasi oleh jiwa keagamaan, yaitu ketaatan serta rasa pengabdian yang mendalam kepada agama.

Di Jawa Timur, berkembanglah kerajaan-kerajaan Isana (abad IX), Darmawangsa (abad X), Airlangga (abad XI), Kediri (abad XII), dan kerajaan Singasari (abad XIII). Kerajaan Singasari memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1293 - 1520, Kerajaan Majapahit dapat dipandang sebagai negara kerajaan kuno Indonesia yang besar.

Majapahit mencapai puncak kejayaan pada zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk dengan Gajag Mada sebagai Maha Patihnya, serta Nala sebagai Laksamana dengan armadanya yang ampuh pada tahun (1350 - 1389). Dengan kerja sama yang baik di kalangan pimpinan pemerintah negara, Majapahit dapat berkembang dengan pesatnya, sehingga menjadi kerajaan besar yang disegani. Dalam hal ini dukungan rakyat tidak dapat dilupakan.

Majapahit memperlakukan negara lain juga sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Jadi tingkat kedudukannya sama tinggi. Demikianlah seharusnya kita memperlakukan sesama manusia atau sesama negara. Kita tidak boleh menganggap orang lain lebih rendah, lebih bodoh, lebih melarat dan sebagainya.

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, di Majapahit ada 2 agama yang hidup berdampingan dan berkembang dengan baik, yaitu agama Hindu dan Budha Kedua agama ini dapat hidup berdampingan secara damai (selangkapnya lihat di artikel sejarah Kerukunan umat Hindu dan Budha masa Kerajaan). Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu itu telah ada toleransi beragama.

Karena kelemahan dari dalam negeri yang disebabkan oleh perang saudara, Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh.

Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa jika kita berperang atau bertikai antar sesama, maka bangsa ini pun akan hancur. Malapetaka dapat dihindari jika kita hidup rukun dan bersatu padu. Persatuan dan kesatuan perlu dikembangkan dan dibina terus-menerus. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Peradaban China Kuno

Sebagian besar wilayah negeri Cina terdiri dari pegunungan. Di sebelah utara mengalir Sungai Hoang Ho atau Sungai Kuning. Di sebelah selatan mengalir Sungai Yang Tse Kiang. Di lembah Sungai Hoang Ho inilah berkembang kebudayaan Cina Kuno.

Nama Tiongkok berasal dari kata Chung Kuo yang berarti "Negeri Tengah". Orang Cina Kuno mengenggap negerinya berada di tengah-tengah dunia. Penduduknya disebut Chung Hua yang berarti "Penduduk Negeri Tengah". Dari kata Chung kuo berubah menjadi Tiongkok, sedangkan dari kata Chung Hua menjadi Tionghoa.

Kehidupan masyarakat Cina Kuno dapat dilihat dari dua sisi kehidupan, yaitu kehidupan ekonomi dan sosial.

Kehidupan Ekonomi
Pada masa Dinasti Shang, mata pencaharian penduduk Cina Kuno sebagai petani. Para petani saat itu sudah menggunakan bajak untuk mengolah tanah. Selain itu, ada juga yang beternak, berburu dan menangkap ikan. Pada masa Dinasti Chou, kehidupan masyarakat semakin berkembang. Ada yang menjadi pedagang, penenun, pengrajin, penebang kayu dan buruh. Pada masa Dinasti Chin, mata pencaharian utama penduduk adalah petani dan penenun.

Kehidupan Sosial
Dalam kehidupan sosial masyarakat Cina Kuno diatur dalam aturan feodalisme. Kelompok bangsawan berkuasa atas rakyat. Rakyat wajib membayar upeti/pajak kepada bangsawan. Masyarakat Cina Kuno menghormati beberapa kekuatan gaib. Penghormatan itu ditujukan kepada:

    Dewa Langit (Syangit) sebagai dewa tertinggi.
    Kekuatan alam.
    Arwah leluhur.

Sedangkan sistem pemerintahan yang lazim digunakan di Cina ketika itu adalah sistem dinasti. Sistem ini menganut pergantian kekuasaan secara turun-temurun. Dinasti-dinasti yang pernah berkuasa di Cina adalah:

    Dinasti Shang
    Dinasti Chou
    Dinasti Chin
    Dinasti Han
    Dinasti Tang
    Dinasti Shung

1. Dinasti Shang
Pemerintahan Dinasti Shang dipusatkan di kota Anyang di dekat Sungai Kuning. Kota ini merupakan kota tertua dan terpenting di Cina pada masanya. Corak pemerintahan Dinasti Shang dititik beratkan pada bidang militer. Oleh karena itu, prajuritnya ahli dalam berperang dengan menggunakan kereta berkuda yang disertai busur dan anak panah.

2. Dinasti Chou
Pada masa ini, raja-raja menyerahkan tugas pemerintahan kepada para bangsawan. Tugas pemerintahan itu meliputi pengurusan pajak, keamanan dan lain-lain. Sebagai imbalannya para bangsawan memperoleh sebidang tanah yang disebut vazal. Sistem vazal akhirnya merugikan pemerintah, karena sering terjadi kekacauan antar bangsawan meupun pemberontakan. Kemudian Dinasti Chou melemah, dan sebagai gantinya adalah berkuasa Dinasti Chin.

3. Dinasti Chin
Raja yang terkenal pada dinasti ini ialah Kaisar Shin Huang Ti. Dia sangat memperhatikan kemakmuran rakyat. Dalam bidang perdagangan, raja membuat ukuran timbangan yang seragam. Dia merintis hubungan dagang dengan India. Untuk menghadapi serangan bangsa Syung-Nu, dibuatlah tembok raksasa. Tembok raksasa itu kini dikenal dengan sebutan "Great Wall" atau "Tembok Besar Cina".

4. Dinasti Han
Raja yang terkenal pada dinasti ini adalah Han Hwu Tie. Agama Konfusionisme dijadikan sebagai agama negara. Pedagangan dengan negara-negara lain ditingkatkan. Masyarakat pada dinasti ini sudah dapat membuat kertas. Bahannnya terbuat dari kulit kayu dan kain-kain bekas.

5. Dinasti Tang
Dinasti Tang mengalami kejayaan waktu diperintah oleh Li Shih Min Tang tai Tsung. Bidang seni syair dan seni lukis mengalami kemajuan yang baik.

6. Dinasti Shung
Raja-raja Dinasti Shung sangat memperhatikan bidang seni dan ilmu pengetahuan. Kerajinan porselin juga berkembang dengan bak.

Tiongkok diserang bangsa Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan. Bangsa Mongol berhasil menduduki Tiongkok. Pada abad 14, bangsa Mongol berhasil dikalahkan Tiongkok. Setelah itu Tiongkok diserang oleh bangsa Mansyuria.

Seni Sastra
Seni sastra Cina Kuno bersumber pada ajaran-ajaran filsafat. Pada masa Dinasti Chou muncul filsuf-filsuf besar seperti, Lao Tse, Kong Fu Tse dan Meng Tse. Pengaruh ajaran tersebut menjadikan keadaan pemerintahan yang semula kacau menjadi baik.

Lao Tse mengajarkan agar manusia mengikuti jalan yang ditentukan oleh alam dan menolak kehidupan duniawi. Menurut ajaran ini, terdapat kekuatan gaib yang mengatur alam semesta.. Kekuatan gaib ytersebut dinamakan Tao. Keadilan dan ketentraman akan tercapai bila setiap orang tunduk pada Tao. Oleh karena itu, ajaran Lao Tse terkenal dengan nama Taoisme. Tao artinya "jalan". Ajaran Lao Tse dimuat dalam buku yang berjudul Tao Te Ching.

Kong Fu Tse mengajarkan agar orang-orang Cina kembali pada kehidupan lama, sebagaimana tradisi atau kebiasaan para leluhur. Selain itu, Kong Fu Tse mengajarkan orang harus mengutamakan akhlak yang baik. Ajaran ini dinamakan "Konfusianisme Kong Fu Tse", atau disebut Konfusius.

Meng Tse mengajarkan ajaran yang menyangkut soal pemerintahan. Ia berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai pembawaan yang baik. Bila seseorang berbuat jahat, hal itu akibat tidak puas atas pemerintahan yang buruk. Menurut dia, rakyat mempunyai hak untuk memberontak jika kaisar yang berkuasa tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Bangsa Cina kuno telah mengenal tulisan sejak zaman Dinasti Shang. Tulisan-tulisan biasanya terdapat pada kulitpenyu, tulang-tulang binatang atau pada piring-piring. Tulisannya berbentuk gambar atau lambang (pictograf). Pada masa Dinasti Chou, tulisan dipahatkan pada potongan-potongan bambu. Tiap daerah mempunyai bentuk tulisan sendiri. Pada Dinasti Chin, tulisan Cina berhasil disatukan.

Dibidang seni bangunan, bangsa Cina Kuno telah memiliki keahlian yang tinggi. Hal ini terbukti dari hasil-hasil seni bangunan seperti Kuil Langit, Tembok Besar atau Pintu Gerbang Kuil. Kuil Langit dibangun untuk menghormati Dewa Langit ini terdapat di Peking.

Tembok Besar Cina dibangun pada masa Dinasti Chin. Tembok Besar ini merupakan salah satu keajaiban dunia. Tembok ini disebut besar atau raksasa karena ukurannya. Panjangnya 2.430 Km, lebar 8 m, dan tinggi 16 m. Tembok ini dibangun selama 20 tahun dengan tenaga 1.000.000 orang. Tembok Besar dibangun untuk menahan serangan dari suku-suku Barbar di sebelah utara, seperti suku Hsiung-Nu.

Pada masa peradaban Cina Kuno, Peking adalah tempat kediaman Kaisar. Di situ banyak istana dan kuil. Pintu gerbang kuil Kong Fu Tse sangat bagus buatannya. Dinding-dindingnya dihiasi tegel berwarna-warni. Atapnya berbentuk melengkung ke atas. Pintu gerbang ini merupakan jalan masuk menuju kuil. Kuil itu merupakan tempat untuk menghormati arwah guru besar bangsa Tionghoa.

Oct 7, 2013

Sejarah Buddha

Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisi Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

Kehidupan Buddha

Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Ia juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya").

Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan pada kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada ). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.

Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya "Buddha" saja, sebuah kata dalam Sanskerta yang berarti "ia yang sadar" (dari kata budh+ta).

Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah India (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda.

Keengganan Buddha untuk mengangkat seorang penerus atau meresmikan ajarannya mengakibatkan munculnya banyak aliran dalam waktu 400 tahun selanjutnya: pertama-tama aliran-aliran mazhab Buddha Nikaya, yang sekarang hanya masih tersisa Theravada, dan kemudian terbentuknya mazhab Mahayana, sebuah gerakan pan-Buddha yang didasarkan pada penerimaan kitab-kitab baru.

Tahap awal agama Buddha

Sebelum disebarkan di bawah perlindungan maharaja Asoka pada abad ke-3 SM, agama Buddha kelihatannya hanya sebuah fenomena kecil saja, dan sejarah peristiwa-peristiwa yang membentuk agama ini tidaklah banyak tercatat. Dua konsili (sidang umum) pembentukan dikatakan pernah terjadi, meski pengetahuan kita akan ini berdasarkan catatan-catatan dari kemudian hari. Konsili-konsili (juga disebut pasamuhan agung) ini berusaha membahas formalisasi doktrin-doktrin Buddhis, dan beberapa perpecahan dalam gerakan Buddha.

Konsili Buddha Pertama (abad ke-5 SM)

Konsili pertama Buddha diadakan tidak lama setelah Buddha wafat di bawah perlindungan raja Ajatasattu dari Kekaisaran Magadha, dan dikepalai oleh seorang rahib bernama Mahakassapa, di Rajagaha(sekarang disebut Rajgir). Tujuan konsili ini adalah untuk menetapkan kutipan-kutipan Buddha (sutta (Buddha)) dan mengkodifikasikan hukum-hukum monastik (vinaya): Ananda, salah seorang murid utama Buddha dan saudara sepupunya, diundang untuk meresitasikan ajaran-ajaran Buddha, dan Upali, seorang murid lainnya, meresitasikan hukum-hukum vinaya. Ini kemudian menjadi dasar kanon Pali, yang telah menjadi teks rujukan dasar pada seluruh masa sejarah agama Buddha.

Konsili Kedua Buddha (383 SM)

Konsili kedua Buddha diadakan oleh raja Kalasoka di Vaisali, mengikuti konflik-konflik antara mazhab tradisionalis dan gerakan-gerakan yang lebih liberal dan menyebut diri mereka sendiri kaum Mahasanghika.

Mazhab-mazhab tradisional menganggap Buddha adalah seorang manusia biasa yang mencapai pencerahan, yang juga bisa dicapai oleh para bhiksu yang mentaati peraturan monastik dan mempraktekkan ajaran Buddha demi mengatasi samsara dan mencapai arhat. Namun kaum Mahasanghika yang ingin memisahkan diri, menganggap ini terlalu individualistis dan egois. Mereka menganggap bahwa tujuan untuk menjadi arhat tidak cukup, dan menyatakan bahwa tujuan yang sejati adalah mencapai status Buddha penuh, dalam arti membuka jalan paham Mahayana yang kelak muncul. Mereka menjadi pendukung peraturan monastik yang lebih longgar dan lebih menarik bagi sebagian besar kaum rohaniwan dan kaum awam (itulah makanya nama mereka berarti kumpulan "besar" atau "mayoritas").

Konsili ini berakhir dengan penolakan ajaran kaum Mahasanghika. Mereka meninggalkan sidang dan bertahan selama beberapa abad di Indian barat laut dan Asia Tengah menurut prasasti-prasasti Kharoshti yang ditemukan dekat Oxus dan bertarikh abad pertama.

Dakwah Asoka (+/- 260 SM)

Maharaja Asoka dari Kekaisaran Maurya (273–232 SM) masuk agama Buddha setelah menaklukkan wilayah Kalingga (sekarang Orissa) di India timur secara berdarah. Karena menyesali perbuatannya yang keji, sang maharaja ini lalu memutuskan untuk meninggalkan kekerasan dan menyebarkan ajaran Buddha dengan membangun stupa-stupa dan pilar-pilar di mana ia menghimbau untuk menghormati segala makhluk hidup dan mengajak orang-orang untuk mentaati Dharma. Asoka juga membangun jalan-jalan dan rumah sakit-rumah sakit di seluruh negeri.

Periode ini menandai penyebaran agama Buddha di luar India. Menurut prasasti dan pilar yang ditinggalkan Asoka (piagam-piagam Asoka), utusan dikirimkan ke pelbagai negara untuk menyebarkan agama Buddha, sampai sejauh kerajaan-kerajaan Yunani di barat dan terutama di kerajaan Baktria-Yunani yang merupakan wilayah tetangga. Kemungkinan besar mereka juga sampai di daerah Laut Tengah menurut prasasti-prasasti Asoka.

Konsili Buddha Ketiga (+/- 250 SM)

Maharaja Asoka memprakarsai Konsili Buddha ketiga sekitar tahun 250 SM di Pataliputra (sekarang Patna). Konsili ini dipimpin oleh rahib Moggaliputta. Tujuan konsili adalah rekonsiliasi mazhab-mazhab Buddha yang berbeda-beda, memurnikan gerakan Buddha, terutama dari faksi-faksi oportunistik yang tertarik dengan perlindungan kerajaan dan organisasi pengiriman misionaris-misionaris Buddha ke dunia yang dikenal.

Kanon Pali (Tipitaka, atau Tripitaka dalam bahasa Sanskerta, dan secara harafiah berarti "Tiga Keranjang"), yang memuat teks-teks rujukan tradisional Buddha dan dianggap diturunkan langsung dari sang Buddha, diresmikan penggunaannya saat itu. Tipitaka terdiri dari doktrin (Sutra Pitaka), peraturan monastik (Vinaya Pitaka) dan ditambah dengan kumpulan filsafat (Abhidharma Pitaka).

Usaha-usaha Asoka untuk memurnikan agama Buddha juga mengakibatkan pengucilan gerakan-gerakan lain yang muncul. Terutama, setelah tahun 250 SM, kaum Sarvastidin (yang telah ditolak konsili ketiga, menurut tradisi Theravada) dan kaum Dharmaguptaka menjadi berpengaruh di India barat laut dan Asia Tengah, sampai masa Kekaisaran Kushan pada abad-abad pertama Masehi. Para pengikut Dharmaguptaka memiliki ciri khas kepercayaan mereka bahwa sang Buddha berada di atas dan terpisah dari anggota komunitas Buddha lainnya. Sedangkan kaum Sarvastivadin percaya bahwa masa lampau, masa kini dan masa depan terjadi pada saat yang sama.

Dunia Helenistik

Beberapa prasati Piagam Asoka menulis tentang usaha-usaha yang telah dilaksanakan oleh Asoka untuk mempromosikan agama Buddha di dunia Helenistik (Yunani), yang kala itu berkesinambungan tanpa putus dari India sampai Yunani. Piagam-piagam Asoka menunjukkan pengertian yang mendalam mengenai sistem politik di wilayah-wilayah Helenistik: tempat dan lokasi raja-raja Yunani penting disebutkan, dan mereka disebut sebagai penerima dakwah agama Buddha: Antiokhus II Theos dari Kerajaan Seleukus (261–246 SM), Ptolemeus II Filadelfos dari Mesir (285–247 SM), Antigonus Gonatas dari Makedonia (276–239 SM), Magas dari Kirene (288–258 SM), dan Alexander dari Epirus (272–255 SM).
Dakwah agama Buddha semasa pemerintahan maharaja Asoka (260–218 SM).

Penaklukan Dharma telah dilaksanakan dengan berhasil, pada perbatasan dan bahkan enam ratus yojana (6.400 kilometer) jauhnya, di mana sang raja Yunani Antiochos memerintah, di sana di mana empat raja bernama Ptolemeus, Antigonos, Magas dan Alexander bertakhta, dan juga di sebelah selatan di antara kaum Chola, Pandya, dan sejauh Tamraparni." (Piagam Asoka, Piagam Batu ke-13, S. Dhammika)

Kemudian, menurut beberapa sumber dalam bahasa Pali, beberapa utusan Asoka adalah bhiksu-bhiksu Yunani, yang menunjukkan eratnya pertukaran agama antara kedua budaya ini:

Ketika sang thera (sesepuh) Moggaliputta, sang pencerah agama sang Penakluk (Asoka) telah menyelesaikan Konsili (ke-3) […], beliau mengirimkan thera-thera, yang satu kemari yang lain ke sana: […] dan ke Aparantaka (negeri-negeri barat yang biasanya merujuk Gujarat dan Sindhu), beliau mengirimkan seorang Yunani (Yona) bernama Dhammarakkhita". (Mahavamsa XII).

Tidaklah jelas seberapa jauh interaksi ini berpengaruh, tetapi beberapa pakar mengatakan bahwa sampai tingkat tertentu ada sinkretisme antara falsafah Yunani dan ajaran Buddha di tanah-tanah Helenik kala itu. Mereka terutama menunjukkan keberadaan komunitas Buddha di Dunia Helenistik kala itu, terutama di Alexandria (disebut oleh Clemens dari Alexandria), dan keberadaan sebuah ordo-monastik pra-Kristen bernama Therapeutae (kemungkinan diambil dari kata Pali "Theraputta"), yang kemungkinan "mengambil ilham dari ajaran-ajaran dan penerapan ilmu tapa-samadi Buddha" (Robert Lissen).

Mulai dari tahun 100 SM, simbol "bintang di tengah mahkota", juga secara alternatif disebut "cakra berruji delapan" dan kemungkinan dipengaruhi desain Dharmacakra Buddha, mulai muncul di koin-koin raja Yahudi, Raja Alexander Yaneus (103-76 SM). Alexander Yaneus dihubungkan dengan sekte falsafi Yunani, kaum Saduki dan dengan ordo monastik Essenes, yang merupakan cikal-bakal agama Kristen. Penggambaran cakra atau roda berruji delapan ini dilanjutkan oleh jandanya, Ratu Alexandra, sampai orang Romawi menginvasi Yudea pada 63 SM.

Batu-batu nisan Buddha dari era Ptolemeus juga ditemukan di kota Alexandria, dengan hiasan Dharmacakra (Tarn, "The Greeks in Bactria and India"). Dalam mengkomentari keberadaan orang-orang Buddha di Alexandria, beberapa pakar menyatakan bahwa "Kelak pada tempat ini juga beberapa pusat agama Kristen yang paling aktif didirikan" (Robert Linssen "Zen living").

Ekspansi ke Asia

Di daerah-daerah sebelah timur anak benua Hindia (sekarang Myanmar), Budaya India banyak memengaruhi sukubangsa Mon. Dikatakan suku Mon mulai masuk agama Buddha sekitar tahun 200 SM berkat dakwah maharaja Asoka dari India, sebelum perpecahan antara aliran Mahayana dan Hinayana. Candi-candi Buddha Mon awal, seperti Peikthano di Myanmar tengah, ditarikh berasal dari abad pertama sampai abad ke-5 Masehi.

Seni Buddha suku Mon terutama dipengaruhi seni India kaum Gupta dan periode pasca Gupta. Gaya manneris mereka menyebar di Asia Tenggara mengikuti ekspansi kerajaan Mon antara abad ke-5 dan abad ke-8. Aliran Theravada meluas di bagian utara Asia Tenggara di bawah pengaruh Mon, sampai diganti secara bertahap dengan aliran Mahayana sejak abad ke-6.

Agama Buddha konon dibawa ke Sri Lanka oleh putra Asoka Mahinda dan enam kawannya semasa abad ke-2 SM. Mereka berhasil menarik Raja Devanampiva Tissa dan banyak anggota bangsawan masuk agama Buddha. Inilah waktunya kapan wihara Mahavihara, pusat aliran Ortodoks Singhala, dibangunt. Kanon Pali dimulai ditulis di Sri Lanka semasa kekuasaan Raja Vittagamani (memerintah 29–17 SM), dan tradisi Theravada berkembang di sana. Beberapa komentator agama Buddha juga bermukim di sana seperti Buddhaghosa (abad ke-4 sampai ke-5). Meski aliran Mahayana kemudian mendapatkan pengaruh kala itu, akhirnya aliran Theravada yang berjaya dan Sri Lanka akhirnya menjadi benteng terakhir aliran Theravada, dari mana aliran ini akan disebarkan lagi ke Asia Tenggara mulai abad ke-11.

Ada pula sebuah legenda, yang tidak didukung langsung oleh bukti-bukti piagam, bahwa Asoka pernah mengirim seorang misionaris ke utara, melalui pegunungan Himalaya, menuju ke Khotan di dataran rendah Tarim, kala itu tanah sebuah bangsa Indo-Eropa, bangsa Tokharia.

Penindasan oleh dinasti Sungga (abad ke-2 sampai abad ke-1 SM)

Dinasti Sungga (185–73 SM) didirikan pada tahun 185 SM, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya maharaja Asoka. Setelah membunuh Raja Brhadrata (raja terakhir dinasti Maurya), hulubalang tentara Pusyamitra Sunga naik takhta. Ia adalah seorang Brahmana ortodoks, dan Sunga dikenal karena kebencian dan penindasannya terhadap kaum-kaum Buddha. Dicatat ia telah "merusak wihara dan membunuh para bhiksu" (Divyavadana, pp. 429–434): 84.000 stupa Buddha yang telah dibangun Asoka dirusak (R. Thaper), dan 100 keping koin emas ditawarkan untuk setiap kepala bhiksu Buddha (Indian Historical Quarterly Vol. XXII, halaman 81 dst. dikutip di Hars.407). Sejumlah besar wihara Buddha diubah menjadi kuil Hindu, seperti di Nalanda, Bodhgaya, Sarnath, dan Mathura.

Interaksi Buddha-Yunani (abad ke-2 sampai abad pertama Masehi)

Di wilayah-wilayah barat Anak benua India, kerajaan-kerajaan Yunani yang bertetangga sudah ada di Baktria (sekarang di Afghanistan utara) semenjak penaklukan oleh Alexander yang Agung pada sekitar 326 SM: pertama-tama kaum Seleukus dari kurang lebih tahun 323 SM, lalu Kerajaan Baktria-Yunani dari kurang lebih tahun 250 SM.
Arca Buddha-Yunani, salah satu penggambaran Buddha, abad pertama sampai abad ke-2 Masehi, Gandhara.

Raja Baktria-Yunani Demetrius I dari Baktria, menginvasi India pada tahun 180 SM dan sampai sejauh Pataliputra. Kemudian sebuah Kerajaan Yunani-India didirikan yang akan lestari di India bagian utara sampai akhir abad pertama SM.

Agama Buddha berkembang di bawah naungan raja-raja Yunani-India, dan pernah diutarakan bahwa maksud mereka menginvasi India adalah untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Kekaisaran Maurya dan melindungi para penganut Buddha dari penindasan kaum Sungga (185–73 SM).

Salah seorang raja Yunani-India yang termasyhur adalah Raja Menander I (yang berkuasa dari +/- 160–135 SM). Kelihatannya beliau masuk agama Buddha dan digambarkan dalam tradisi Mahayana sebagai salah satu sponsor agama ini, sama dengan maharaja Asoka atau seorang raja Kushan dari masa yang akan datang, raja Kaniska. Koin-koin Menander memuat tulisan "Raja Penyelamat" dalam bahasa Yunani, dan "Maharaja Dharma" dalam aksara Kharosti. Pertukaran budaya secara langsung ditunjukkan dalam dialog Milinda Panha antara raja Yunani Menander I dan sang bhiksu Nagasena pada sekitar tahun 160 SM. Setelah mangkatnya, maka demi menghormatinya, abu pembakarannya diklaim oleh kota-kota yang dikuasainya dan ditaruh di stupa-stupa tempat pemujaannya, mirip dengan sang Buddha Gautama (Plutarkhus, Praec. reip. ger. 28, 6).

Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha kemungkinan memiliki pengaruh dalam perkembangan aliran Mahayana, sementara kepercayaan ini mengembangkan pendekatan falsafinya yang canggih dan perlakuan Buddha yang mirip dengan Dewa-Dewa Yunani. Kira-kira juga kala seperti ini pelukisan Buddha secara antropomorfis dilakukan, seringkali dalam bentuk gaya seni Buddha-Yunani: "One might regard the classical influence as including the general idea of representing a man-god in this purely human form, which was of course well familiar in the West, and it is very likely that the example of westerner's treatment of their gods was indeed an important factor in the innovation" (Boardman, "The Diffusion of Classical Art in Antiquity").

Berkembangnya aliran Mahayana (Abad Pertama SM-Abad ke-2)

Berkembangnya agama Buddha Mahayana dari abad ke-1 SM diiringi dengan perubahan kompleks politik di India barat laut. Kerajaan-kerajaan Yunani-India ini secara bertahap dikalahkan dan diasimilasi oleh kaum nomad Indo-Eropa yang berasal dari Asia Tengah, yaitu kaum Schytia India, dan lalu kaum Yuezhi, yang mendirikan Kekaisaran Kushan dari kira-kira tahun 12 SM.

Kaum Kushan menunjang agama Buddha dan konsili keempat Buddha kemudian dibuka oleh maharaja Kanishka, pada kira-kira tahun 100 Masehi di Jalandhar atau di Kashmir. Peristiwa ini seringkali diasosiasikan dengan munculnya aliran Mahayana secara resmi dan pecahnya aliran ini dengan aliran Theravada. Mazhab Theravada tidak mengakui keabsahan konsili ini dan seringkali menyebutnya "konsili rahib bidaah".

Konon Kanishka mengumpulkan 500 bhiksu di Kashmir, yang dikepalai oleh Vasumitra, untuk menyunting Tripitaka dan memberikan komentar. Maka konon pada konsili ini telah dihasilkan 300.000 bait dan lebih dari 9 juta dalil-dalil. Karya ini memerlukan waktu 12 tahun untuk diselesaikan.

Konsili ini tidak berdasarkan kanon Pali yang asli (Tipitaka). Sebaliknya, sekelompok teks-teks suci diabsahkan dan juga prinsip-prinsip dasar doktrin Mahayana disusun. Teks-teks suci yang baru ini, biasanya dalam bahasa Gandhari dan aksara Kharosthi kemudian ditulis ulang dalam bahasa Sanskerta yang sudah menjadi bahasa klasik. Bagi banyak pakar hal ini merupakan titik balik penting dalam penyebaran pemikiran Buddha.

Wujud baru Buddhisme ini ditandai dengan pelakuan Buddha yang mirip dilakukan bagaikan Dewa atau bahkan Tuhan. Gagasan yang berada di belakangnya ialah bahwa semua makhluk hidup memiliki alam dasar Buddha dan seyogyanya bercita-cita meraih "Kebuddhaan". Ada pula sinkretisme keagamaan terjadi karena pengaruh banyak kebudayaan yang berada di India bagian barat laut dan Kekaisaran Kushan.

Penyebaran Mahayana (Abad pertama sampai abad ke-10 Masehi)

Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang dan menyebar ke arah timur. Dari India ke Asia Tenggara, lalu juga ke utara ke Asia Tengah, Tiongkok, Korea, dan akhirnya Jepang pada tahun 538.

Kelahiran kembali Theravada (abad ke-11 sampai sekarang)

Mulai abad ke-11, hancurnya agama Buddha di anak benua India oleh serbuan Islam menyebabkan kemunduran aliran Mahayana di Asia Tenggara. Rute daratan lewat anak benua India menjadi bahaya, maka arah perjalanan laut langsung di antara Timur Tengah lewat Sri Lanka dan ke Cina terjadi, menyebabkan dipeluknya aliran Theravada Pali kanon, lalu diperkenalkan ke daerah sekitarnya sekitar abad ke-11 dari Sri Lanka.

Raja Anawrahta (1044–1077), pendiri sejarah kekaisaran Birma, mempersatukan negara dan memeluk aliran Theravada. Ini memulai membangun ribuan candi Budha Pagan, ibu kota, di antara abad ke-11 dan abad ke-13. Sekitar 2.000 di antaranya masih berdiri. Kekuasaan orang Birma surut dengan kenaikan orang Thai, dan dengan ditaklukannya ibu kota Pagan oleh orang Mongolia pada 1287, tetapi aliran Buddha Theravada masih merupakan kepercayaan utama rakyat Myanmar sampai hari ini.

Kepercayaan Theravada juga dipeluk oleh kerajaan etnik Thai Sukhothai sekitar 1260. Theravada lebih jauh menjadi kuat selama masa Ayutthaya (abad ke-14 sampai abad ke-18), menjadi bagian integral masyarakat Thai. Di daratan Asia Tenggara, Theravada terus menyebar ke Laos dan Kamboja pada abad ke-13.

Tetapi, mulai abad ke-14, di daerah-daerah ujung pesisir dan kepulauan Asia Tenggara, pengaruh Islam ternyata lebih kuat, mengembang ke dalam Malaysia, Indonesia, dan kebanyakan pulau hingga ke selatan Filipina.

Oct 5, 2013

Lewi dan Matius

Selain dari tentara Rom di Palestina, tidak ada orang yang paling dibenci oleh rakyat dari pada seorang pemungut cukai. Sebabnya ialah pajak yang dituntut oleh kuasa asing adalah merupakan gangguan yang terus menerus kepada bangsa Yahudi, karena hal ini hanyalah mengingatkan pada mereka bahwa kemerdekaan mereka telah hilang. Dan pemungut cukai ini bukan saja menjadi alat penindasan Rom, tetapi mereka juga mencahari keuntungan diri sendiri dengan menggaruk harta orang banyak. Seorang Yahudi yang menerima pekerjaan ini di bawah pengawasan bangsa Rom dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsanya. Ia dihina sebagai seorang yang telah murtad dan digolongkan dengan orang yang terjahat dalam masyarakat. Matius orang Lewi ini termasuk dalam golongan ini, seorang yang telah dipanggil untuk bekerja bagi Kristus setelah empat murid yang lain dipanggil di Nazaret. Orang Parisi menghakimkan Matius menurut pekerjaannya, tetapi Yesus melihat di dalam orang ini suatu hati yang terbuka untuk menerima pekabaran. Matius telah mendengar pengajaran Juruselamat. Pada saat Roh Allah yang meyakinkan itu menyatakan akan hidupnya yang penuh dosa itu, ia rindu mencahari pertolongan dari Kristus tetapi ia telah biasa terpencil dari rabbi‑rabbi dan tidak berpikir bahwa Guru Besar ini akan memperhatikan dirinya.

Pada suatu hari sementara ia duduk di kursi pemungut cukai, ia melihat Yesus yang sedang datang menuju padanya. Ia sangat heran mendengar perkataan yang ditujukan kepada dirinya, "Ikutlah Aku." Oleh Matius "ditinggalkannya semua, lalu bangun mengikut Yesus." Tidak terdapat keragu‑raguan dalam hatinya, atau pertanyaan dalam pikirannya mengenai pekerjaannya yang akan diganti dengan kemiskinan dan kesukaran. Telah cukup baginya jika ia telah bersama‑sama dengan Yesus, agar ia boleh mendengar akan firman‑Nya, dan bersatu dengan Dia di dalam pekerjaan‑Nya. Demikian pula dengan murid‑murid yang mula‑mula dipanggil. Apabila Yesus memanggil Petrus dan kawan‑kawannya untuk mengikuti Dia, dengan segera mereka meninggalkan perahu dan jala mereka itu. Beberapa dari murid‑murid ini mempunyai kawan‑kawan yang hidupnya bergantung pada mereka itu; tetapi bila mereka menerima undangan Juruselamat, mereka tidak ragu‑ragu dan bertanya "Bagaimana saya akan hidup dan membiayai keluargaku? Mereka patuh pada panggilan‑Nya. dan setelah itu bila Yesus bertanya kepada mereka, "Tatkala Aku menyuruhkan kamu keluar dengan tiada membawa pundi‑pundi atau tempat bekal atau kasut, adakah kamu kekurangan barang sesuatu?" Maka jawab mereka itu, "Tidak". gembiranya mereka itu akan mengikut Dia.

Panggilan pada Matius menjadi seorang murid Kristus, telah menimbulkan suatu kemarahan yang besar. Bagi seorang guru agama memilih seorang pemungut cukai dengan secara tiba‑tiba menjadi seorang pengikut‑Nya adalah suatu hal yang menentang syarat‑syarat agama, sosial dan adat istiadat bangsa. Dengan membangkitkan syak hati orang banyak, orang Parisi berharap dapat merubah aliran perasaan orang banyak untuk menentang Yesus.

Di antara pemungut cukai telah timbul suatu perhatian yang baru. Hati mereka tertarik kepada Guru Ilahi. Dalam kesukaannya karena telah menjadi seorang murid yang baru, Matius rindu membawa kawan‑kawannya kepada Yesus. Itulah sebabnya ia telah mengadakan suatu pesta di rumahnya sendiri, dan telah mengundang kaum keluarga dan sahabat‑sahabatnya. Bukan saja pemungut cukai yang termasuk, tetapi banyak yang lain lagi yang nama baiknya diragukan, dan yang dipersalahkan oleh tetangga‑tetangga mereka yang lebih teliti.

Pesta ini telah diadakan untuk menghormati Yesus, dan Ia tidak menolak untuk menerima kehormatan ini. Ia mengetahui dengan pasti bahwa hal ini akan menyinggung cara‑cara pesta orang Parisi, dan janggal pada pemandangan orang banyak. Tetapi tidak ada soal peraturan yang dapat mempengaruhi tindakan‑Nya itu. Bagi‑Nya perbedaan luar itu tidak ada artinya. Apa yang menarik hati‑Nya ialah jiwa yang haus akan air hidup.

Yesus duduk sebagai seorang tamu terhormat di meja pemungut‑cukai, oleh perasaan simpati dan keramah‑tamahan‑Nya, menunjukkan bahwa Ia mengenal akan keagungan kemanusiaan itu; dan manusia rindu mendapat kepercayaan‑Nya. Di atas hati mereka yang haus perkataan‑Nya jatuh bersama kuasa yang memberkati serta memberikan hidup. Dorongan yang baru telah dibangunkan, dan kemungkinan suatu hidup yang baru terbuka bagi suatu masyarakat yang terpencil dan dibenci ini.

Pada perkumpulan seperti ini, bukan sedikit orang yang telah digerakkan oleh pengajaran Juruselamat, yang tidak mengenal Dia sampai sesudah kenaikan‑Nya. Apabila Roh Suci dicurahkan, tiga ribu jiwa yang telah ditaubatkan dalam sehari, dan dari antara jiwa‑jiwa ini banyaklah orang yang pertama kali mendengar akan kebenaran di meja pemungut cukai ini dan beberapa dari mereka itu telah menjadi pengabar Injil. Bagi Matius sendiri, teladan Yesus di pesta itu menjadi suatu pelajaran yang meresap di dalam jiwanya. Pemungut cukai yang dihina itu menjadi salah seorang pengabar Injil yang paling berserah, dan di dalam pekerjaannya sendiri ia mengikut dengan teliti akan jejak‑jejak Tuhannya.

Apabila rabbi‑rabbi mengetahui bahwa Yesus menghadiri pesta Matius. mereka mengambil kesempatan untuk menuduh Dia. Tetapi mereka memilih kepada Matius dengan kekayaannya dan kepada Andreas serta Petrus dengan kekurangannya, ujian yang sama telah diberikan dan penyerahan yang sama pula dibuat oleh mereka itu masing‑masing. Pada saat mereka makmur, ialah bila jala mereka itu penuh dengan ikan dan disaat dorongan kehidupan yang lama menjadi lebih kuat, Yesus minta kepada murid‑murid yang berada di tepi pantai itu untuk meninggalkan segala sesuatu untuk pengabaran Injil. Oleh sebab itu tiap‑tiap jiwa diuji di dalam hal manakah yang lebih kuat kerinduannya bagi harta duniawi atau persekutuannya dengan Kristus.

Prinsip selamanya tepat. Tidak ada seorang dapat maju di dalam pekerjaan Allah kecuali seluruh hatinya berada di dalam pekerjaan itu dan ia menganggap segala sesuatu itu kerugian adanya untuk kebaikan pengetahuan Kristus. Tidak seorang pun yang masih mempunyai cadangan dalam hidupnya yang dapat menjadi murid Kristus, ataupun menjadi teman kerja‑Nya. Apabila manusia menghargai akan keselamatan yang besar itu. maka pengorbanan diri yang dilihat di dalam kehidupan Kristus akan terlihat dalam hidup mereka itu juga. Ke mana saja Ia pergi, dengan gembiranya mereka itu akan mengikut Dia.

Panggilan pada Matius menjadi seorang murid Kristus, telah menimbulkan suatu kemarahan yang besar. Bagi seorang guru agama memilih seorang pemungut cukai dengan secara tiba‑tiba menjadi seorang pengikut‑Nya adalah suatu hal yang menentang syarat‑syarat agama, sosial dan adat istiadat bangsa. Dengan membangkitkan syak hati orang banyak, orang Parisi berharap dapat merubah aliran perasaan orang banyak untuk menentang Yesus.

Di antara pemungut cukai telah timbul suatu perhatian yang baru. Hati mereka tertarik kepada Guru Ilahi. Dalam kesukaannya karena telah menjadi seorang murid yang baru, Matius rindu membawa kawan‑kawannya kepada Yesus. Itulah sebabnya ia telah mengadakan suatu pesta di rumahnya sendiri, dan telah mengundang kaum keluarga dan sahabat‑sahabatnya. Bukan saja pemungut cukai yang termasuk, tetapi banyak yang lain lagi yang nama baiknya diragukan, dan yang dipersalahkan oleh tetangga‑tetangga mereka yang lebih teliti. Pesta ini telah diadakan untuk menghormati Yesus, dan Ia tidak menolak untuk menerima kehormatan ini. Ia mengetahui dengan pasti bahwa hal ini akan menyinggung cara‑cara pesta orang Parisi, dan janggal pada pemandangan orang banyak. Tetapi tidak ada soal peraturan yang dapat mempengaruhi tindakan‑Nya itu. Bagi‑Nya perbedaan luar itu tidak ada artinya. Apa yang menarik hati‑Nya ialah jiwa yang haus akan air hidup. Yesus duduk sebagai seorang tamu terhormat di meja pemungut‑cukai, oleh perasaan simpati dan keramah‑tamahan‑Nya, menunjukkan bahwa Ia mengenal akan keagungan kemanusiaan itu; dan manusia rindu mendapat kepercayaan‑Nya. Di atas hati mereka yang haus perkataan‑Nya jatuh bersama kuasa yang memberkati serta memberikan hidup. Dorongan yang baru telah dibangunkan, dan kemungkinan suatu hidup yang baru terbuka bagi suatu masyarakat yang terpencil dan dibenci ini.

Pada perkumpulan seperti ini, bukan sedikit orang yang telah digerakkan oleh pengajaran Juruselamat, yang tidak mengenal Dia sampai sesudah kenaikan‑Nya. Apabila Roh Suci dicurahkan, tiga ribu jiwa yang telah ditaubatkan dalam sehari, dan dari antara jiwa‑jiwa ini banyaklah orang yang pertama kali mendengar akan kebenaran di meja pemungut cukai ini dan beberapa dari mereka itu telah menjadi pengabar Injil. Bagi Matius sendiri, teladan Yesus di pesta itu menjadi suatu pelajaran yang meresap di dalam jiwanya. Pemungut cukai yang dihina itu menjadi salah seorang pengabar Injil yang paling berserah, dan di dalam pekerjaannya sendiri ia mengikut dengan teliti akan jejak‑jejak Tuhannya.

Apabila rabbi‑rabbi mengetahui bahwa Yesus menghadiri pesta Matius. mereka mengambil kesempatan untuk menuduh Dia. Tetapi mereka memilih untuk memperalat murid‑murid‑Nya. Dengan membangkitkan prasangka mereka, maka mereka mengharap dapat merenggangkan murid‑murid daripada Tuhan mereka. Adalah menurut peraturan mereka untuk menuduh Kristus kepada murid‑murid‑Nya dan murid‑murid itu kepada Kristus, sambil mengarahkan anak panah mereka ke sasaran di mana mereka lebih suka dilukai. Inilah caranya setan bekerja sejak terjadi pemberontakan di surga, dan segala orang yang mencoba untuk menyebabkan perpecahan dan keretakan dihasut oleh roh setan ini.

"Apakah sebabnya Guru kamu makan bersama dengan orang pemungut cukai dan orang berdosa?" tanya seorang rabbi yang penuh dengan perasaan dengki.
Yesus tidak menunggu murid‑murid‑Nya untuk menjawab tuduhan ini, tetapi Ia sendiri yang telah menjawabnya dengan: "Orang yang sehat itu tiada memerlukan tabib, hanyalah orang yang sakit. Tetapi pergilah kamu sambil memikirkan arti perkataan ini, bahwa belas kasihan yang Aku kehendaki bukanlah persembahan, karena bukannya Aku datang memanggil orang yang benar, hanyalah orang yang berdosa." Orang Parisi merasa pengakuan kerohanian mereka itu telah sehat, sebab itu tidak perlu lagi seorang tabib, di saat mereka menganggap pemungut cukai dan orang kapir sedang dibinasakan oleh penyakit rohani. Bukankah ini pekerjaan‑Nya, sebagai seorang tabib, pergi kepada tiap‑tiap golongan manusia yang memerlukan pertolongan‑Nya?

Tetapi walau pun orang Parisi menganggap diri mereka begitu tinggi, sebenarnya mereka berada di dalam suatu keadaan yang lebih buruk daripada orang‑orang yang mereka anggap hina itu. Pemungut cukai itu tidak menyombongkan diri dan merasa diri mereka sanggup, sehingga hati mereka lebih terbuka bagi kebenaran. Yesus berkata kepada rabbi‑rabbi itu: "Pergilah kamu sambil memikirkan arti perkataan ini bahwa belas kasihan yang Aku kehendaki bukanlah persembahan.'' Dengan demikian Ia menunjukkan bahwa tatkala mereka mengaku mentafsirkan firman Allah, sebenarnya mereka tidak tahu sama sekali akan rohnya.

Orang Parisi berdiam seketika lamanya, tetapi hanya menjadi lebih keras dalam permusuhan mereka. Sesudah itu mereka pergi mencari murid‑murid Yohanes Pembaptis, dan mencoba menghasut mereka untuk menentang Juruselamat. Orang orang Parisi ini tidak menerima pekerjaan pekabaran Yohanes Pembaptis. Mereka menunjuk dengan secara menghina pada kehidupannya yang bertarak, kebiasaannya yang sederhana, pakaiannya yang kasar. serta menyatakan bahwa ia adalah seorang yang fanatik. Oleh karena ia menempelak sifat mereka yang pura‑pura itu, mereka menolak pekabarannya dan berusaha menghasut orang banyak untuk melawan Yohanes. Roh Allah telah bekerja di dalam hati pengolok‑pengolok ini, meyakinkan segala dosa mereka itu; tetapi mereka telah menolak nasihat Allah, dan mengatakan bahwa Yohanes telah dirasuk roh setan. Kini apabila Yesus datang bercampur gaul dengan orang banyak, makan dan minum bersama‑sama di hadapan meja, mereka menuduh Dia sebagai seorang pelahap dan seorang pemabuk. Orang yang mengajukan tuduhan ini sebenarnya bersalah. Sebagaimana Allah dilukiskan salah, dan dibungkus oleh Setan dengan sifatnya sendiri, demikian juga dengan pesuruh‑pesuruh Allah telah dipalsukan oleh orang‑orang jahat ini.

Orang‑orang Parisi tidak mau memikirkan bahwa Yesus duduk makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa ini untuk membawa terang surga kepada mereka yang sedang berada dalam kegelapan. Mereka tidak melihat bahwa tiap‑tiap perkataan yang terbit dari bibir Guru Besar ini adalah sebagai suatu benih yang hidup yang akan bertumbuh dan mengeluarkan buah‑buah bagi kemuliaan Allah. Mereka telah bertekad untuk tidak menerima terang itu; dan walau pun mereka telah menentang pekerjaan Yohanes Pembaptis, mereka kini sedia untuk mengadakan persahabatan dengan murid‑muridnya sambil mengharap dapat bekerja sama dengan mereka itu untuk menentang Yesus. Mereka mengatakan bahwa Yesus telah meniadakan tradisi‑tradisi dahulu kala; dan mereka membandingkan kesucian dan kesetiaan Yohanes Pembaptis dengan sikap Yesus di dalam turut bersama dalam pesta pemungut cukai dan orang berdosa. Murid‑murid Yohanes saat itu sedang berada dalam dukacita yang besar. Saat itu ialah sebelum kunjungan mereka kepada Yesus dengan menyampaikan berita mengenai Yohanes. Guru mereka yang sangat dikasihi kini meringkuk di dalam penjara dan mereka sangatlah bersusah hati dengan hal ini. Dan Yesus pun tidak berusaha untuk melepaskan Yohanes, dan juga seakan‑akan merendahkan pengajarannya. Jikalau Yohanes telah diutus oleh Allah, mengapakah Yesus dan murid‑murid‑Nya memberikan pelajaran yang sangat berbeda?

Murid‑murid Yohanes tidak mempunyai pengertian yang jelas mengenai pekerjaan Kristus; mereka merasa bahwa ada alasan untuk tuduhan orang Parisi. Mereka mengikuti banyak peraturan yang dikeluarkan oleh rabbi‑rabbi dan juga mengharap dibenarkan oleh perbuatan taurat. Berpuasa dijalankan oleh orang Yahudi sebagai suatu perbuatan kebajikan dan orang yang benar‑benar beragama berpuasa dua hari dalam setiap minggu. Orang‑orang Parisi serta murid‑murid Yohanes sedang berpuasa bila mereka datang pada Yesus dengan pertanyaan, "Apa sebabnya kami dan orang Parisi pun puasa, tetapi murid‑murid‑Mu sendiri tidak?" Dengan sangat lemah lembut Yesus menjawab pada mereka itu. Ia tidak mencoba mengoreksi pengertian mereka yang salah tentang berpuasa, tetapi Ia hanya menjelaskan pada mereka itu mengenai pekerjaan‑Nya sendiri. Dan Ia mengemukakan hal ini dengan memakai gambaran yang sama yang telah digunakan oleh Yohanes sendiri dalam kesaksiannya dari hal Yesus. Yohanes telah berkata, "Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh." Yohanes 3:29. Murid‑murid Yohanes tidak dapat melupakan perkataan ini dari guru mereka, dan sementara mengemukakan ilustrasi ini, Yesus berkata: "Bolehkah sahabat‑sahabat mempelai itu disuruh puasa olehmu, selagi ada mempelai itu sertanya?"

Putera surga sedang berada di antara umat‑Nya. Anugerah Allah yang terbesar telah diberikan kepada dunia. Kesukaan kepada orang miskin karena Kristus telah datang untuk menjadikan mereka ahli waris kerajaan‑Nya Kesukaan kepada orang kaya; karena Ia akan mengajar mereka itu bagaimana mendapat kekayaan yang kekal. Kesukaan kepada bodoh; karena Ia akan menjadikan mereka bijaksana kepada keselamatan. Kesukaan kepada yang terpelajar; karena Ia akan membuka pada mereka rahasia yang lebih dalam yang mereka pernah selami; kebenaran yang telah tersembunyi sejak bumi ini dialaskan akan dibuka kepada manusia oleh pekerjaan Juruselamat. Yohanes Pembaptis telah bersuka melihat Juruselamat. Alangkah gembiranya bila seorang murid mendapat kesempatan berjalan‑jalan dan berkatakata dengan Raja surga. Ini bukan saatnya bagi mereka untuk berduka dan berpuasa. Mereka patut membuka hati mereka untuk menerima terang kemuliaan‑Nya, agar mereka dapat memancarkan terang itu kepada mereka yang berada dalam kegelapan dan dalam bayang maut.

Suatu gambaran yang terang yang diingatkan oleh perkataan Kristus; tetapi di seberangnya terletak suatu bayangan yang gelap, yang hanya dapat dilihat oleh mata‑Nya sendiri. "Harinya akan tiba", kata‑Nya, "apabila mempelai laki‑laki akan diangkat dari mereka itu, dan kemudian mereka akan berpuasa pada hari‑hari itu." Apabila mereka melihat Tuhan dikhianati dan dipalangkan, murid‑murid akan berduka dan berpuasa. Dalam perkataan‑Nya yang terakhir di ruangan atas, Ia berkata: "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita." Yohanes 16:19, 20. Pada saat Ia keluar dari dalam kubur, duka‑cita mereka akan berubah menjadi suka‑cita. Setelah Ia naik, maka secara pribadi Ia tidak bersama‑sama dengan mereka itu lagi; tetapi melalui Penghibur, Ia akan tetap bersama‑sama dengan mereka dan tidak patut lagi mereka berduka‑cita. Hal inilah yang dikehendaki setan. Ia menghendaki mereka itu memberikan kepada dunia suatu kesan bahwa mereka telah ditipu dan dikecewakan; tetapi oleh percaya, mereka harus memandang pada kaabah yang di dalam surga, di mana Yesus sedang bekerja bagi mereka itu; mereka harus membuka hati mereka kepada Roh Suci, wakil‑Nya dan bersuka‑cita di dalam terang hadirat‑Nya. Tetapi walau pun demikian, hari‑hari pencobaan dan ujian akan tiba, apabila mereka akan dibawa untuk berperang melawan penghulu‑penghulu dunia ini dan pemimpin‑pemimpin kerajaan kegelapan; serta apabila Kristus secara pribadi tidak dapat bersama‑sama mereka itu, dan mereka gagal melihat Penghibur itu, maka ada baiknya bagi mereka untuk berpuasa.

Orang Parisi mencoba meninggikan diri mereka dengan perbaktian secara bentuk, tetapi hati mereka itu dipenuhi dengan perasaan cemburu dan perbantahan. "Pandanglah" kata Kitab Suci, "sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan?" Yesaya 58:4, 5.

Puasa yang benar bukanlah hanya mengikuti acara yang biasa. Kitab Suci menerangkan bahwa puasa yang telah dipilih Allah,"membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas." Yesaya 58:6, 10. Di sinilah letaknya roh dan sifat pekerjaan Kristus. Seluruh kehidupan‑Nya dikorbankan untuk menyelamatkan dunia. Baik di saat berpuasa di padang pencobaan, atau makan sehidangan dengan pemungut‑pemungut cukai pada pesta Matius, Ia memberikan kehidupan‑Nya untuk menebus yang hilang. Bukannya dalam duka‑cita yang malas atau di dalam pengorbanan badani dan di hadapan orang banyak, roh penyerahan yang benar itu dinyatakan, tetapi haruslah ditunjukkan di dalam penyerahan diri, di dalam kerelaan hati untuk melayani Allah dan sesama manusia.

Menyambung jawab‑Nya kepada murid‑murid Yohanes, Yesus telah memberikan sebuah perumpamaan katanya: "Maka seorang pun tiada menampalkan secarik kain yang baharu pada pakaian yang lama, karena koyaklah pula penampal itu, yaitu kain yang baharu mengoyak yang lama itu sehingga koyaknya lebih besar lagi." Pekabaran Yohanes Pembaptis tidak patut dicampur baur dengan tradisi dan ketahyulan. Suatu usaha untuk mencampurkan kepura‑puraan orang Parisi dengan penyerahan Yohanes, hanyalah lebih menyatakan perbedaan di antara mereka itu.

Atau sama pula dengan mencampurkan azas pengajaran Kristus dengan agama orang Parisi yang secara bentuk saja. Kristus tidak akan menutup keretakan yang telah dibuat oleh ajaran Yohanes. Ia akan lebih menjelaskan pemisahan di antara yang lama dan yang baru. Lebih lanjut Yesus menerangkan fakta ini katanya: "Seorang pun tiada membubuh air anggur yang baru ke dalam kerbat kulit yang lama, karena air anggur yang baharu itu kelak memecahkan kerbat kulit." Kerbat kulit yang dipergunakan untuk mengisi anggur baru, setelah sedikit waktu akan menjadi kering dan rapuh dan tidak layak lagi dipakai untuk maksud yang sama. Dalam ilustrasi yang biasa ini Yesus mengemukakan keadaan para pemimpin Yahudi, para imam dan katib‑katib serta penghulu‑penghulu yang telah diikat oleh roda upacara dan tradisi. Hati mereka telah rapuh, sebagaimana kerbat kulit air anggur yang telah kering itu. Selama mereka tetap merasa puas dengan suatu agama yang sah, maka mustahillah bagi mereka itu untuk menjadi tempat simpanan kebenaran surga yang hidup itu. Mereka merasa bahwa cukuplah dengan kebenaran mereka sendiri, dan tidak menghendaki lagi suatu bahan yang baru yang harus dimasukkan ke dalam agama mereka. Kehendak Allah yang baik bagi manusia tidak diterima oleh mereka karena sesuatu yang terpisah dari diri mereka sendiri. Mereka menghubungkan hal itu dengan kebajikan mereka sendiri karena perbuatan mereka baik yang baik itu. Iman yang bekerja oleh kasih dan menyucikan jiwa tidak mendapat tempat di dalam agama orang Parisi yang hanya terdiri dari upacara‑upacara dan syarat‑syarat buatan manusia. Usaha untuk mempersatukan ajaran Kristus dengan agama yang dibangunkan akan sia‑sia belaka. Kebenaran Allah yang penting ini, sebagai anggur yang baru, akan memecahkan berkas tradisi bangsa Parisi yang lama serta yang sedang menjadi busuk itu.

Orang Parisi merasa diri mereka terlalu pandai sehingga mereka tidak memerlukan lagi petunjuk; merasa diri mereka terlalu benar sehingga tidak memerlukan lagi keselamatan; merasa diri mereka terlalu tinggi sehingga tidak memerlukan lagi penghormatan yang berasal daripada Kristus. Iuruselamat berbalik dari mereka dan mencahari orang lain yang akan menerima pekabaran dari surga. Di dalam nelayan yang tidak terdidik ini, di dalam pemungut cukai yang bekerja di pasar‑pasar, di dalam perempuan Samaria, di dalam orang banyak yang suka mendengar Dia dengan suka hati inilah Ia mendapat kerbat untuk anggur yang baru itu. Perkakas yang akan dipergunakan di dalam pekerjaan Injil ini adalah jiwa‑jiwa yang dengan gembira menerima terang yang diberikan Allah kepada mereka itu. Mereka inilah yang menjadi alat‑alat‑Nya untuk memberikan pengetahuan dari hal kebenaran kepada seluruh isi dunia. Jika oleh anugerah Kristus umat‑Nya akan menjadi kerbat yang baru, Ia akan mengisi mereka itu dengan anggur yang baru pula. Ajaran Kristus, walau pun itu diumpamakan dengan air anggur yang baru, bukanlah berarti bahwa itu adalah suatu doktrin yang baru pula tetapi sebaliknya adalah suatu kenyataan tentang apa yang telah diajarkan sejak permulaan dunia. Tetapi kepada orang Parisi kebenaran Allah itu telah hilang artinya yang asli serta keindahannya. Bagi mereka itu ajaran Kristus adalah sangat baru hampir dalam segala segi, dan hal itu tidak dikenal serta tidak diketahui.

Yesus menunjukkan kuasa pengajaran palsu yang membinasakan penghargaan dan kerinduan seseorang terhadap kebenaran. "Tiada seorangpun" kata‑Nya, "yang minum air anggur yang lama, ingin akan air anggur yang baharu; karena katanya, yang lama itulah sedap rasanya." Segala kebenaran yang telah diberikan kepada dunia melalui bapa‑bapa dan nabi‑nabi bersinar dalam suatu keindahan yang baharu dalam perkataan Kristus. Tetapi katib‑katib dan orang Parisi tidak merindukan anggur yang baru itu. Sehingga walau pun kosong dari tradisi lama, adat istiadat, serta kebiasaan, dalam hati mereka tidak terdapat suatu tempat apa pun bagi pengajaran Kristus. Mereka bergantung pada syarat‑syarat agama yang mati, dan berpaling dari kebenaran yang hidup dan dari kuasa Allah. Hal inilah yang membawa kebinasaan bangsa Yahudi, dan hal ini pulalah yang akan membawa kebinasaan banyak jiwa pada zaman kita sekarang ini. Beribu‑ribu orang melakukan kesalahan yang sama seperti orang Parisi yang telah ditegur oleh Kristus pada pesta Matius itu. Daripada membuang beberapa pendapat yang dipelihara atau menyingkirkan beberapa pikiran terhadap berhala, banyak yang menolak akan kebenaran yang datang dari Bapa terang. Mereka menaruh percaya pada diri mereka sendiri, dan bergantung pada kepandaian mereka sendiri serta tidak mau menyadari kekurangan kerohanian mereka. Mereka bertahan dengan suatu pendapat bahwa merekalah yang dapat diselamatkan dengan melakukan beberapa pekerjaan yang penting. Apabila mereka melihat bahwa tidak ada jalan untuk memboncengkan diri dalam suatu pekerjaan, mereka menolak akan keselamatan yang telah disediakan.

Agama yang menurut undang‑undang tidak pernah akan membawa jiwa kepada Kristus, karena tidak mempunyai cinta dan tidak mempunyai Kristus. Berpuasa atau berdoa yang didorong oleh roh mementingkan diri sendiri menjadi suatu kebencian pada pemandangan Allah. Perkumpulan perbaktian yang tekun, ucapan‑ucapan agama bersama, kerendahan hati secara lahir, korban yang mengesankan, itu semua menyatakan bahwa orang yang berbuat perkara‑perkara itu menganggap dirinya sebagai seorang yang suci dan berhak masuk dalam kerajaan surga, tetapi semuanya itu adalah suatu penipuan belaka. Perbuatan kita sendiri tidak dapat membeli keselamatan berupa apa pun.

Sebagaimana pada zaman Kristus, begitu pula pada zaman ini; orang‑orang Parisi tidak mengetahui kekurangan kerohanian mereka. Kepada mereka itu datanglah pekabaran ini, "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat." Wahyu 3: 17, 18.

Iman dan kasih adalah emas yang telah diuji di dalam api. Tetapi bagi kebanyakan orang, emas itu telah suram dan harta yang mewah itu telah hilang. Kebenaran Kristus bagi mereka itu sebagai suatu jubah yang tidak dapat dipakai, suatu sumber air yang tidak dapat dijamah. Bagi mereka itu dikatakan "Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." Wahyu 2:4, 5.

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." Mazmur 51:19. Seorang harus mengosongkan dirinya sebelum ia dapat menjadi seorang pengikut Kristus yang sebenarnya. Apabila diri itu disingkirkan, maka Tuhan dapat menjadikan seseorang suatu kejadian yang baharu. Kerbat yang baru dapatlah diisi dengan air anggur yang baru pula. Kasih Kristus akan memberikan pada orang percaya itu suatu kehidupan yang baharu. Di dalam orang yang memandang kepada permulaan dan kesudahan dari iman kita, tabiat Kristus akan nyata.

Oct 4, 2013

Artefak Terkait Alkitab

Ada banyak dari daftar ini yang tidak ada keterangan lengkapnya.

Berikut adalah daftar artefak yang berkaitan dengan Alkitab, yaitu barang-barang buatan manusia yang mempunyai arti penting dalam sejarah yang dicatat dalam Alkitab Ibrani maupunAlkitab Kristen.

2000 SM
  • Epos Gilgames atau Prasasti Air Bah (Deluge Tablet) – merupakan catatan Babilonia tentang air bah (lihat Nuh)
  • Epos Atrahasis - memuat kisah penciptaan dan air bah dari Babilonia.
  • Prasasti-prasasti hukum (Law tablets) – sejumlah prasasti berisi hukum di wilayah Timur Dekat kuno: Piagam Hammurabi (Code of Hammurabi), Hukum Eshnuna (Laws of Eshnunna, sekitar 1930 SM), Kode Ur-Nammu (Code of Ur-Nammu), raja Ur (sekitar 2050 SM), dan Kodeks Lipit-Ishtar dari Isin (Codex of Lipit-Ishtar of Isin) (sekitar 1870 SM). Prasasti hukum lain setelah zaman Hammurabi antara lain Kode Nesilim (Code of the Nesilim), Hukum orang Het (Hittite laws), Hukum Asyur (Assyrian laws), dan "613 Mitzvot" dari Hukum Musa, yang meliputi Sepuluh Perintah (Ten Commandments).
  • Tulisan-tulisan orang Het (Hittite texts) (Abad ke-17 SM dan seterusnya)
  • Ledakan gunung Minoa (Minoan Eruption) - bekas abu yang ditemukan di berbagai tempat penggalian (Tel) bertanggalkan Zaman Perunggu Akhir
1500 SM
  • Teks keagamaan Ugarit (Ugaritic religious texts) – (Abad ke-14 – 12 SM) mendukung catatan Filo, diawetkan dalam tulisan Eusebius, berkaitan dengan agama-agama orangKanaan.
  • Surat-surat Amarna (c. 1300-an SM) – lempengan tanah liat berisi surat-surat korespondensi antara pemerintah Mesir dengan sejumlah pemimpin negara atau daerah di Timur Tengah, termasuk di Kanaan dalam periode Kerajaan Baru Mesir.
  • Papirus Ipuwer (c. Abad ke-13 SM) – naskah papirus kuno yang menggambarkan Mesir sedang dilanda bencana alam dan dalam keadaan kacau. Mengandung pernyataan seperti "sungai menjadi darah" dan sejumlah keterangan yang dianggap sebagai catatan orang Mesir mengenai sepuluh tulah yang dicatat dalam Kitab Keluaran di Alkitab.
  • Keramik Midian (Midianite pottery) – (Abad ke-13 sampai 12 SM) Alkitab mencatat bahwa Musa tinggal di daerah Midian selama 40 tahun di antara waktu ia melarikan diri dari Mesir setelah membunuh seorang Mesir, sampai kembali untuk memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir. Selama di Midian, ia menikahi Zipora, putri Yitro, imam di Midian. Di masa-masa kemudian, orang Midian menjadi musuh dan penjajah orang Israel, paling sedikit sebagai hukuman Allah terhadap penyembahan berhala oleh orang Israel.
  • Prasasti Merneptah (Merneptah Stele) (c. 1209/1208 SM).- salah satu rujukan tertua tentang Kerajaan Israel atau bangsa Israel.
Abad ke-10 SM
  • Gerbang berkamar enam (6-chamber gates) - (Abad ke-10 SM) - "Gerbang-gerbang ini ditemukan di Hazor, Megido, Gezer, serta Lakhis, dan khususnya oleh Yigael Yadindihubungkan dengan proyek pembangunan raja Salomo."
  • Inskripsi Khirbet Qeiyafa (Khirbet Qeiyafa inscription/pottery sherd) – (Abad ke-10 SM) Inskrispsi yang ditemukan dalam ekskavasi dekat lembah Elah, Israel.
  • Kalender Gezer (Gezer calendar) (Abad ke-10 SM) – kalender dari kota Gezer yang disebut di Alkitab. Salah satu contoh tulisan bahasa Ibrani tertua.
  • Keramik Tell es-Safi (Tell es-Safi Potsherd) (Abad ke-10 sampai pertengahan ke-9 SM) – Potsherd bertulisan dua nama "alwt" dan "wlt", secara etimologi berkaitan dengan nama Goliat dan menunjukkan bahwa nama itu cocok dengan konteks budaya Filistin di akhir abad ke-10 sampai awal abad ke-9 SM. Ditemukan di Tell es-Safi, yang merupakan identifikasi tradisional untuk kota kuno Gat.
  • Struktur Batu Besar (Large Stone Structure) – diduga lokasi istana raja Daud(penanggalan sementara abad ke-10 sampai ke-9 SM).
  • Struktur Batu Bertingkat (Stepped Stone Structure) – (1000-900 SM) - diduga adalah bangunan orang Yebus, Millo, atau bagian dari "Struktur Batu Besar", yang diyakini sebagai bagian dari istana raja Daud.
  • Gerbang Bubastis (Bubastis portal) – memuat seri inskripsi yang mengisahkan serangan Firaun Shishaq ke Yudea dan Israel (diyakini pada tahun 925 SM), terletak di luar Kuil Amun di Karnak.(1 Raja-raja 14:25; 2 Tawarikh 12:1–12).
  • Ukiran Shishak (Shishaq Relief) – menggambarkan kemenangan raja Shishak atas Yehuda (diduga raja Rehabeam ~ 925 SM, pada saat menjarah Bait Allah yang didirikan oleh Salomo di Kerajaan Yehuda).
  • Tempat pemujaan Khirbet Qeiyafa (Khirbet Qeiyafa shrines) - barang-barang pemujaan yang dilihat sebagai bukti "penyembahan berhala di Yehuda pada zaman raja Daud" dan dengan ciri-ciri (triglyph dan pintu yang tersembunyi) mirip dengan gambaran Bait Allah yang didirikan oleh Salomo.
  • Ostrakon Isbeth Sartah (Isbeth Sartah ostracon) - ostrakon bertulisan yang berasal dari abad ke-11 SM dan memuat bahasa Proto-Kanaan. Aaron Demsky menganggapnya "tulisan tertua yang muncul dari lingkungan budaya Ibrani." Juga dianggap sebagai contoh kemampuan baca tulis di masa purba.
Abad ke-9 SM
  • Inskripsi Citadel Amman (Amman Citadel Inscription – Inskripsi dari abad ke-9 SM dalam bahasa Amon, satu dari sedikit tulisan peninggalan bangsa Amon.
  • Prasasti Tel Dan (Tel Dan Stele) – (abad ke-9 SM) prasasti memperingati kemenangan orang Aram terhadap orang Israel yang mengandung nama "Daud".
  • Melcarth/Ben-Hadad stele – (Abad ke-9 sampai ke-8 SM) William F. Albrightmengidentifikasi Bir-hadad dengan raja Aram Benhadad I, yang sezaman dengan rajaAsa dan Baesa di Israel.
  • Stempel Yukhal (Seal of Jehucal) – (Abad ke-9 SM ?) Yehukal atau Yukhal yang disebut dalam Kitab Yeremia pasal 37 dan 38 di mana ditulis bahwa raja Zedekiamenyuruh Yukhal bin Selemya dan imam Zefanya bin Maaseya kepada nabi Yeremiauntuk meminta: "Berdoalah hendaknya untuk kami kepada TUHAN, Allah kita!" (Yeremia 37:3).
  • Prasasti Kurkh (Kurkh Monolith) (~859–824 SM) - British Museum – menyebut nama raja Ahab dari Israel, didirikan oleh Shalmaneser III untuk memperingati Pertempuran Karkar, di mana Ahab berpartisipasi bersama banyak pemimpin daerah setempat.
  • Prasasti Obelisk Hitam (Black Obelisk of Shalmaneser III) (~858–824 SM) - British Museum – Prasasti ini menggambarkan Yehu "putra" Omri (seorang raja Israel yang disebut dalam Kitab 2 Raja-raja), atau duta yang dikirim Yehu, membayar upeti kepada raja Asyur Shalmaneser III (~825 SM); salah satu gambar tertua yang ditemukan dari seorang bangsa Israel. Tulisannya mencatat "upeti dari Yehu, putra Omri: aku menerima darinya perak, emas, mangkok emas, vas emas dengan dasar runcing, guci emas, timba emas, timah, tongkat raja dan tombak-tombak."
  • Ostraca House – (~850 SM, atau sebelum 750 SM) 64 ostraca yang dapat dibaca ditemukan dalam penyimpanan harta rajaAhab – ditulis dengan huruf kuno Ibrani.
  • Mesha Stele (juga disebut Batu Moab; Moabite stone) (c. 850 SM) – sebuah prasasti dari daerah sebelah timur sungai Yordan yang menggambarkan kemenangan raja MoabMesa terhadap Kerajaan Israel. Pakar Perancis André Lemaire menemukan bahwa baris ke-31 Prasasti ini mengandung frasa "Rumah Daud" (dalam Biblical Archaeology Review [May/June 1994], halaman 30–37).
  • Balaam inscription (c. 840–760 SM) Prasasti dari abad ke-9 atau ke-8 SM yang menulis tentang seorang nabi bernama Bileam bin Beor (bandingkan dengan Kitab Bilangan pasal 22 dan seterusnya).
Abad ke-8 SM
  • Prasasti Sefire (Sefire stele) – (Abad ke-8 SM) dikatakan sebagai "sumber terbaik di luar Alkitab untuk pengucapan berkat dan kutuk dalam upacara tradisi Semitik Barat" ("the best extrabiblical source for West Semitic traditions of covenantal blessings and curses."
  • Inskripsi Siloam (Siloam inscription) – Catatan pembangunan "Terowongan Hizkia" (Hezekiah's tunnel) dari mata air Gihon ke kolam Siloam pada abad ke-8 SM.
  • Prasasti Zakkur (Stele of Zakkur) – (Abad ke-8 SM) menyebut nama Hazael rajaAram.
"Shebna lintel", dari makam pengurus istana yang ditemukan di Siloam, bertarikh abad ke-7 SM.
  • Inskripsi Sebna (Shebna's lintel inscription) – (Abad ke-8 sampai ke-7 SM ?) Tulisan yang ditemukan di palang pintu masuk sebuah makam, yang ternyata adalah milik panitera raja Hizkia, Sebna.
  • Tawarikh Babilonia (Babylonian Chronicles ~ 747–247 SM) – antara lain mencatat pengepungan Nebukadnezar terhadap Yerusalem (587 SM), Zedekia dan peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Kitab 2 Raja-raja, Kitab Yeremia, dan Kitab Ratapan. Termasuk di dalamnya antara lain:

Tawarikh Nabonassar sampai Shamash-shum-ukin
Tawarikh tahun-tahun pertama pemerintahan Nebukadnezar (Tawarikh Yerusalem)
Tawarikh Nabonidus

  • Segel Raja Ahas (King Ahaz's Seal) (732-716 SM) – Ahas adalah raja Yehuda yang tidak melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan Allahnya seperti nenek moyangnya, Daud" (2 Raja-raja 16:2; 2 Tawarikh 28:1). Ia menyembah berhala dan mengikuti kelakukan orang-orang asing. "Ia bahkan melewatkan putranya di atas api, menurut praktek kekejian bangsa-bangsa lain" (2 Raja-raja 16:3). Ahas adalah putra dan penerus Yotam.
  • Bullae (~715–687 SM atau 716–687 SM), sebuah lempeng bulat dari tanah liat yang dicap dengan stempel pribadi menandai pemilik suatu barang, pengarang suatu dokumen dan sebagainya. Seperti ostraka, bulla ini sering ditemukan baik dalam penggalian maupun pasar barang antik. Identifikasi pemiliknya dengan nama-nama di Alkitab adalah cukup sulit, tetapi sudah menghasilkan sejumlah nama penting, antara lain raja Hizkia dan abdi-abdinya (bentuk jamak ab'dim dalam bahasa Ibrani).
  • Terusan Hizkia (Hezekiah's tunnel) (c. 701 SM) – terusan air yang dibangun oleh rajaHizkia dalam persiapan menghadapi serangan tentara Asyur. Dari National Geographic: "Terusan atau terowongan yang panjangnya sekitar 500 meter (550 yards), membawa air dari mata air Gihon, yang terletak sekitar 300 meter (330 yards) di luar tembok kota tua Yerusalem, ke Kolam Siloam di dalam kota kuno itu. Dibuat untuk melindungi suplai air kota selama pengepungan tentara Asyur".
  • Prasasti Lakhis (Lachish relief) – bagian dari pahatan yang dibuat oleh raja Sanherib, yang menggambarkan tawanan dari Yehuda dibawa ke pembuangan setelah direbutnya kota Lakhis pada tahun 701 SM.
  • Prisma Taylor (Taylor Prism) – prisma dari tanah liat yang bertulisan annal (catatan tahunan) raja Asyur, Sanherib, yang terkenal karena mencatat mengenai pengepungannya atas kota Yerusalem pada tahun ~701 SM dalam masa pemerintahan raja Hizkiah. Peristiwa ini dicatat di beberapa kitab di Alkitab termasuk Kitab Yesayapasal 33 dan 36; 2 Raja-raja 18:17; 2 Tawarikh 32:9. Peristiwa tersebut juga dicatat oleh sejarawan Yunani, Herodotus.
  • Annal Tiglat-Pileser III – 730 SM, mencatat pemberian upeti dari raja-raja Yehuda dan Israel; Ahas raja Yehuda, Menahem, Pekah dan Hosea raja-raja Israel. Annal ini juga menyebut Ahazia yang oleh par pakar diduga sama dengan Uzia, raja Yehuda.
Abad ke-7 SM
  • Inskripsi Ekron (Ekron dedicatory inscription (Abad ke-7 SM) – sebuah inskripsi peresmian yang dibuat pada abad ke-7 SM oleh raja Ekron, Akish. Akish adalah nama yang digunakan dalam Alkitab Ibrani bagi dua orang Filistin penguasa kota Gat. Inskripsi ini menyatakan "Kuil ini dibangun oleh 'Akish, bin Padi, bin Yasid, bin Ma, bin Ya'ir, penguasa Ekron" Inskripsi ini tidak hanya memastikan identitas tempat itu, tetapi juga memberikan daftar singkat nama penguasa Ekron, dari bapa kepada putranya: Ya'ir, Ma, Yasid, Padi, 'Akish.
  • Bulla Yukhal (Bulla of Jehucal – putra Shelemya, bin Shevi. Orang ini disebutkan dua kali dalam Kitab Yeremia dan hidup di akhir abad ke-7 SM (yaitu pada zamanYeremia). (lihat Large Stone Structure untuk kisah penemuannya) (lihat pula Kitab Yeremia).
  • LMLK seal dalam pegangan periuk penyimpanan, diekskavasi dari strata yang dihasilkan dari penyerbuan Sanherib dalam zaman pemerintahan Hizkia, raja Yehuda(sekitar 700 SM).
  • Necho II basalt cartouche - (~ 610–595 SM) ditemukan di Sidon, mengindikasikan keterlibatan firaun Nekho II di daerah tersebut. (lihat Yosia)
  • Bulla of Shaphan (~ 609–598 SM) – kemungkinan berhubungan dengan tokoh pada zaman pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda.
  • Beit Lehi memuat tulisan Ibrani paling kuno untuk kata "Yerusalem" berasal dari abad ke-7 SM, dalam kalimat "Akulah YHWH (TUHAN) Allahmu. Aku akan menerima kota-kota Yehuda dan Aku akan menebus Yerusalem" "Bebaskanlah kami o Allah yang pemurah. Bebaskanlah kami o YHWH"
  • Three shekel ostracon adalah sebuah pecahan keramik dengan inskripsi mengenai sumbangan untuk Rumah Yahweh.
  • Mesad Hashavyahu Ostracon adalah pecahan keramik bertulisan yang berasal dari Abad ke-7 SM dan ditulisan dalam bahasa Ibrani kuno. Mengandung rujukan tertua di luar Alkitab mengenai upacara Sabat.
Abad ke-6 SM
  • Ketef Hinnom priestly blessing – Kemungkinan adalah tulisan tertua yang ditemukan dari Alkitab Ibrani – "Berkat Imam" (Priestly blessing) bertanggalkan 600 SM. Tulisan dari Kitab Bilangan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama). Disebut sebagai "salah satu penemuan paling penting" bagi studi Alkitab.
  • Prasasti Jatah Yoyakhin (Jehoiachin's Rations Tablets; abad ke-6 SM) – berisi pembagian jatah untuk tawanan kerajaan yang diidentifikasikan sebagai Yoyakhin, raja Yehuda (bandingkan 2 Raja-raja 24:12,15–6; 25:27–30; 2 Tawarikh 36:9–10; Yeremia 22:24–6; 29:2; 52:31–4; Yehezkiel 17:12).
  • Prasasti Nebu-Sarsekim (Nebo-Sarsekim Tablet) – (sekitar 595 SM) sebuah tulisan huruf paku kuneiform pada lempeng tanah liat mengenai seorang pejabat istanaNebukadnezar II, raja Babel, kemungkinan besar sama dengan yang disebut namanya dalam Kitab Yeremia pasal 39:3.
  • Surat Lakhis (Lachish letters) – surat-surat yang ditulis dengan tinta karbon olehHoshaiah, seorang pejabat militer yang bertugas di dekat Yerusalem, kepada Yoashseorang kepala pasukan di Lakhis pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Zedekia,raja Yehuda dan zaman nabi Yeremia (~588 SM) (lihat Nehemiah 12:32, Yeremia 42:1, 43:2). Lakhis jatuh tidak lama kemudian, dua tahun sebelum jatuhnya kota Yerusalem.
  • Silinder Koresh (Cylinder of Cyrus) (~ 559-530 SM) - British Museum – mengenai perlakuan raja Koresh Agung terhadap agama, yang berkaitan erat dengan Kitab 2 Tawarikh dan Kitab Ezra.
  • Silinder Nabonidus (Cylinder of Nabonidus) (555–539 SM) - British Museum – membuktikan bahwa Belsyazar pernah hidup dan memerintah (lihat Daniel 5; 7:1; 8:1).Daniel 5 mengisahkan pesta raja Belsyazar di mana terlihat tangan yang menulis di dinding sebuah kalimat teka-teki mene mene tekel ufarsin meramalkan jatuhnya Kerajaan Babel di tangan Kerajaan Persia. (lihat pula Tawarikh Nabonidus)
  • Trumpeting place inscription – (setelah 516 SM?) Sebuah batu (2.43x1 meter) dengan tulisan bahasa Ibrani "Ke tempat meniup terompet" (To the Trumpeting Place) diekskavasi oleh B. Mazar di sudut barat daya Bukit Bait Allah (Temple Mount). Diyakini sebagai petunjuk jalan bagi para imam yang bertugas meniup terompet untuk menandai permulaan dan akhir hari Sabat pada masa Bait Kedua. 
Abad ke-5 SM
  • Naskah-naskah Elefantin (Elephantine papyri), naskah yang ditulis di atas papirus dalam bahasa Aram oleh orang Yahudi dari abad ke-5 SM, menyebut nama 3 orang yang disebut dalam Kitab Nehemia: Darius II, Sanbalat orang Horon dan Imam BesarYohanan bin Elyasib.
  • Tawarikh Nabonidus (Nabonidus Chronicle) – (Abad ke-5 SM) Amélie Kuhrtmenyebutnya "kisah yang paling dapat dipercaya dan jujur mengenai kejatuhan Babilon."
Abad ke-2 SM
  • Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) (250 SM - 70 M)
  • Mata uang Hasmonea (Hasmonean coinage) (164 SM – 35 SM)
Abad ke-1 SM
  • Bait Allah Herodes (Herod's temple) (c. 19 SM)
  • Western Wall – (~ 19 SM) adalah suatu situs keagamaan penting bagi oranng Yahudi yang terletak di kota tua Yerusalem. Dibalik tembok tersebut, setengah dari tembok, termasuk 17 anak tangga yang berada di bawah permukaan jalan, berasal dari akhir zaman Bait Suci kedua, mulai dibangun pada tahun 19 SM oleh Herodes Agung. Lapisan sisanya ditambahkan sejak abad ke-7 M dan seterusnya.
  • Inskripsi dari Bait Suci Kedua – dari akhir abad ke-1 SM. Berisi peringatan bagi orang asing untuk tidak memasuki batas Bait Suci dengan ancaman hukuman siksaan sampai mati.
Abad ke-1 M
  • Paku Penyaliban Jehohanan (Jehohanan Crucifixion Nail – Peninggalan kerangka seseorang yang mati disalib, menunjukkan sebatang paku yang menembus tulang kakicalcaneus kanan. Memberikan gambaran metode penyaliban yang digunakan sekitar zaman Yesus Kristus.
  • Gerbang Titus (Arch of Titus) – (~ 82 M) ukiran yang menggambarkan barang-barang jarahan dari penghancuran Yerusalem oleh tentara Romawi di bawah pimpinan Tituspada tahun 70 M. Antara lain memperlihatkan menorah, beberapa terompet/nafiri, serta semacam "Meja Persembahan Roti" (Table of Showbread) dari Bait Suci Yerusalem. (Lihat: Judaea Capta coinage)
  • Inskripsi Erastus (periode Romawi)
  • Herodium (setelah 40 SM)
  • Judaea Capta coinage (setelah 70 M)
  • Inskripsi Nazaret (Nazareth Inscription) memuat surat perintah (edict) Kaisar yang melarang perampokan makam; berkaitan dengan klaim kebangkitan orang mati.
Abad ke-2 M
  • Daftar Papirus Perjanjian Baru (New Testament papyri) (setelah 100 M)
Periode yang tidak jelas
  • "Ostrakon" dari zaman alkitabiah (pecahan keramik yang dipakai untuk menulis catatan pendek di zaman kuno) sering ditemukan dalam penggalian arkeologis. Sebuah ostracon yang ditemukan di lembah Elah memuat kemungkinan contoh tertua tulisan bahasa Ibrani.
  • Bulla milik Gedalyahu/Galihu Ben Immer – Sebuah bulla diekskavasi dan memuat bagi sebuah nama "Galihu putra Imer", saudara "Pashur bin Imer" yang disebutkan dalamKitab Yeremia (Yeremia 20:1 sebagai imam dan pejabat Bait Suci.
  • Gua Makhpela (Cave of the Patriarchs) – Bangunan yang terletak di kota kuno Hebron, merupakan tempat paling suci kedua bagi orang Yahudi (setelah bukit Bait Allah di Yerusalem) dan juga dikeramatkan oleh orang Kristen dan Islam yang semuanya meyakini tempat itu merupakan kuburan tiga pasang tokoh Alkitab terhormat: (1)Abraham dan Sara; (2) Ishak dan Ribka; (3) Jakub dan Lea.
  • Foundation Stone – batu yang juga disebut "Sumur Jiwa-jiwa" (Well of Souls), sekarang terletak di dalam Dome of the Rock. Menurut Alkitab, raja Daud membeli tempat pemerasan anggur milik Araunah orang Yebus, dan orang percaya bahwa di atas batu inilah Daud mempersembahkan korban seperti dicatat dalam ayat Alkitab tersebut. Daud berniat untuk membangun Bait Allah di Yerusalem, tetapi karena tangannya banyak menumpahkan darah, ia dilarang melakukannya sendiri. Proyek itu dilaksanakan oleh putranya, raja Salomo, yang menyelesaikan Bait Suci Pertama pada sekitar tahun 950 SM.
  • Pim weight – bukti penggunaan sumber asing pada Kitab Samuel karena pemakaian istilah kuno.
  • "Daftar budak Sifrah" (Shiphrah slave list) – Sifrah adalah salah satu dari dua bidan yang membantu mencegah pembunuhan bayi-bayi laki-laki Israel atas perintah Firaun menurut Kitab Keluaran (Keluaran 1:15–21). Nama ini ditemukan dalam daftar budak-budak di Mesir pada masa pemerintahan Firaun Sobekhotep III. Daftar terdapat pada Brooklyn 35.1446, sebuah gulungan papirus yang disimpan di Brooklyn Museum.
  • Kota Susan – Susan disebut dalam bagian Ketuvim di Alkitab, terutama dalam Kitab Ester, tetapi juga masing-masing satu kali dalam Kitab Nehemia dan Kitab Daniel. Baik Daniel dan Nehemia tinggal di kota Susan selama Pembuangan ke Babel pada abad ke-6 SM. Alkitab mencatat bahwa Ester dinobatkan menjadi ratu di kota ini, dan menyelamatkan orang Yahudi dari pembantaian. Makam Daniel dikatakan ada di sana, dikenal sebagai Shush-Daniel. Makam itu ditandai dengan kerucut batu putih yang unik, tidak beraturan maupun simetri. Banyak pakar percaya bahwa itu asalnya adalahBintang Daud.
  • Makam Daniel (Tomb of Daniel) (sebelum 1160 M)
  • Makam Rahel (Rachel's Tomb) di dekat Bethlehem (sebelum abad ke-4 M)
  • Prasasti Uzia (Uzziah Tablet) – (Abad ke-8 SM atau 30-70 M?) prasasti kontroversial ditemukan pada tahun 1931 oleh Professor Eleazar L. Sukenik dari Hebrew University of Jerusalem dalam suatu biara Rusia.
  • Warren's Shaft – sebuah saluran yang kemungkinan sesuai dengan kisah Yoab, panglima raja Daud, merupakan jalur penyerangan mendadak terhadap orang-orang Yebus yang menguasai Yerusalem.
  • Kolam Betesda (Pool of Bethesda) – Pada abad ke-19, arkeolog menemukan bekas kolam tepat seperti yang digambarkan dalam Injil Yohanes.
  • Sumur dari Bait Suci pertama (First Temple period water cistern) di Yerusalem, dekat Bukit Bait Suci (Temple Mount), ditemukan tahun 2012. Tempat cadangan air yang besar ini dibangun antara tahun 1000-586 SM. Menurut Dr. Tvika Tsuk, kepala arkeolog "Israel Nature and Parks Authority", sumur ini digunakan oleh peziarah yang naik ke Bait Suci.