Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 29, 2018

Romawi Kuno

Romawi Kuno adalah sebuah peradaban yang tumbuh dari negara-kota Roma didirikan di Semenanjung Italia di sekitar abad ke-8 (753) SM. Selama keberadaanya selama 12 abad, kebudayaan Romawi berubah dari sebuah monarki ke sebuah republik oligarki sampai ke kekaisaran yang luas. Dia datang untuk mendominasi Eropa Barat dan wilayah sekitar di sekitar Laut Tengah melalui penaklukan dan asimilasi. Namun beberapa faktor menyebabkan kemerosotannya. Sebelah barat kekaisaran, termasuk Hispania, Gaul, dan Italia, akhirnya pecah menjadi kerajaan merdeka pada abad ke-5; kekaisaran timur, diatur dari Konstantinopel, disebut sebagai Kekaisaran Romawi Timur setelah tahun 476, tanggal tradisional "kejatuhan Romawi" dan kelanjutannya Zaman Pertengahan.

Peradaban Romawi seringkali dikelompokan sebagai "klasik antik" bersama dengan Yunani kuno, sebuah peradaban yang menginspirasikan banyak budaya Romawi Kuno. Romawi Kuno menyumbangkan banyak kepada pengembangan hukum, perang, seni, literatur, arsitektur, dan bahasa dalam dunia Barat, dan sejarahnya terus memiliki pengaruh besar dalam dunia sekarang ini. Beberapa peninggalan kebudayaan Romawi yang masih digunakan hingga saat ini adalah arsitektur lengkung dan kubah serta campuran semennya yang tahan lama, bahasa latin yang menjadi akar dari banyak bahasa di seluruh dunia, angka romawi, dan permainan tic-tac-toe.

Kekaisaran Romawi Suci

Kekaisaran Romawi Suci adalah kumpulan berbagai satuan politik di Eropa Tengah yang pernah ada dari tahun 962 (ada yang menyebut sejak 843) sampai 1806. Wilayah awalnya adalah daerah Kerajaan Franka Timur, pecahan dari Kerajaan Franka setelah pembagian menurut Perjanjian Verdun (843), dan Kerajaan Lombardia (di wilayah Italia sekarang).

Kumpulan ini menyebut dirinya "kekaisaran" atau "imperium" dan pemimpinnya disebut "kaisar" (bahasa Latin: imperator). Meskipun demikian, kaisar tidak memiliki kekuasaan absolut atas anggota-anggotanya, sehingga berbeda dari model Kekaisaran Romawi atau Kerajaan Perancis yang kekuasaannya lebih absolut.

Imperium ini berlangsung delapan abad lebih, sebelum membubarkan diri pada tanggal 6 Agustus 1806 akibat Perang Napoleon. Oleh Adolf Hitler, Kekaisaran Romawi Suci dibangga-banggakan sebagai Das Erste Reich ("Imperium Pertama") bagi bangsa Jerman.

Wilayahnya luas sehingga banyak mewarnai sejarah Eropa pada Abad Pertengahan. Selain itu, banyak dongeng klasik dari Eropa yang memiliki latar belakang imperium ini.

Penyebutan kekaisaran ini berubah-ubah. Pada masa Franka Timur, wilayah kekuasaan dinamai Regnum Teutonicum (Deutsches Reich, "Kerajaan Jerman"). Setelah penggabungan dengan Lombardia, kerajaan disebut sebagai Imperium Romanum ("Kekaisaran Romawi") karena ada wilayah bekas pusat Kekaisaran Romawi di dalamnya. Penamaan ini resmi dipakai pada masa kekuasaan Kaisar Konrad II (1034) setelah sebagian wilayah Kerajaan Burgundia ditaklukkan. Pada perkembangan selanjutnya, imperium dinamai Sacrum Imperium ("Kekaisaran Suci") sejak Kaisar Friedrich I Barbarossa, karena mulai saat itu Kaisar tidak lagi bergantung pada Paus dan merupakan wakil Tuhan di bumi. Penyebutan lengkap Sacrum Romanum Imperium baru dimulai secara resmi sejak 1254, dan terus berlaku hingga masa pembubaran. Nama Sacrum Romanum Imperium Nationis Germaniae, "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman", sempat dipakai setelah Perdamaian Pfalz selama sekitar 150 tahun hingga pertengahan abad ke-16, meskipun anggota-anggotanya tidak semuanya berasal dari puak-puak Germanik.

Perkembangan wilayah politik
Lihat pula: Kolonisasi daerah Timur oleh bangsa Jerman Setelah Perjanjian Verdun (843), Ludwig si Jerman, salah satu dari tiga anak laki-laki Karel Agung, memperoleh bagian Kerajaan Franka Timur yang meliputi wilayah puak-puak Germanik timur seperti Saksonia, Frankonia, Alemania, Bavaria, serta Karinthia. Secara kasar wilayahnya adalah bagian timur Sungai Rhein. Perluasan wilayah terjadi pada masa pemerintahan Heinrich I (919-936) dan anaknya Otto I Agung (936-973). Setelah Otto I menguasai Kerajaan Langobardia di Italia, ia merasa berhak menyandang gelar "Kaisar" (Imperator) seperti pada masa Kekaisaran Romawi dulu dan dinobatkan oleh Paus pada 962.

Selanjutnya, wilayah-wilayah di barat Rhein masuk ke dalam wilayah kekaisaran, mencakup wilayah yang sekarang menjadi bagian timur Perancis, Belgia, Belanda, dan Luxemburg (Benelux), Swiss, sebagian besar Austria (kecuali Burgenland), dan sebelah utara Italia. Batas timur semula adalah Sungai Elba, namun kemudian meluas ke wilayah bangsa Slavia, seperti Avar, Salzburg, dan Bohemia (sekarang Republik Ceko). Perluasan ini terjadi melalui berbagai cara, seperti penaklukan, kristenisasi, serta pembukaan pemukiman oleh petani yang mencari lahan baru. Sejak abad ke-12 pergerakan ke timur berlanjut ke wilayah Polandia sekarang, hingga ke Prusia di pantai Baltik. Pada abad ke-13 daerah Silesia mulai dihuni, terus ke timur hingga wilayah Siebenburger di Rumania sekarang.

Pada abad ke-18, daerah negara anggota-anggotanya menjangkau wilayah negara-negara modern Jerman, Republik Ceko, Austria, Liechtenstein, Slovenia, Belgia dan Luxemburg, juga sebagian besar Polandia dan sebagian kecil Belanda. Sebelumnya malah juga menjangkau seluruh Belanda dan Swiss, dan sebagian dari Perancis dan Italia.

Bersamaan dengan perluasan ke timur, batas wilayah barat perlahan-lahan terdesak ke timur karena dicaplok oleh negara-negara tetangganya. Sejak abad ke-14 secara sistematis Kerajaan Perancis menjalankan politik "penyatuan kembali" (reunion) wilayah-wilayah di barat Rhein. Swiss memisahkan diri dari Kekaisaran sejak 1648, lewat Perdamaian Westphalia. Belanda memisahkan diri pada tahun yang sama melalui perjanjian yang sama. Wilayah Luxemburg (1794) dan Belgia (Flandria dan Wallonia) (1797) dicaplok Perancis, di bawah pemerintahan Revolusioner.

Karakter kekaisaran

Kekaisaran Romawi Suci adalah sebuah institusi yang unik dalam sejarah dunia dan oleh karena itu sulit untuk dipahami. Untuk dapat memahaminya, kita mungkin perlu mengetahui bahwa Kekaisaran Romawi Suci bukan merupakan suatu nation-state seperti dalam pengertian modern. Meskipun etnis penguasanya (hampir selalu) adalah etnis Jerman, namun sejak awal banyak etnis yang membentuk Kekaisaran Romawi Suci. Banyak dari keluarga bangsawan penting dan pejabat tertunjuk datang dari luar komunitas penutur bahasa Jerman. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini mencakup hampir seluruh wilayah dari Jerman, Austria, Swiss, Liechtenstein, Belgia, Belanda, Luxemburg, Republik Ceko, Slovenia, dan juga timur Perancis, utara Italia dan barat Polandia sekarang ini. Oleh karena itu, bahasanya tidak hanya terdiri dari bahasa Jerman dan banyak dialek dan turunannya saja, tetapi juga banyak bahasa Slavia, dan bahasa yang menjadi bahasa Perancis dan Italia modern. Lebih jauh lagi, pembagiannya menjadi wilayah-wilayah yang diatur oleh para pangeran sipil dan gerejawi, prelate, count, ksatria kerajaan, dan kota bebas membuatnya lebih erat dari negara modern yang bermunculan di sekitarnya.

Pada masanya, kekaisaran ini lebih dari sebuah konfederasi. Konsep Reich tidak hanya mencakup pemerintah dari wilayah tertentu, tetapi juga memiliki konotasi keagamaan Kristen yang kuat (suci sebagai namanya). Sampai 1508, raja-raja Jerman tidak dianggap sebagai kaisar dari Reich sebelum Paus, wakil Kristus di bumi, memahkotainya secara resmi sebagai kaisar. Reich, oleh karena itu dapat dijelaskan sebagai sebuah persilangan antara negara dan konfederasi keagamaan.

Seorang kaisar haruslah seorang berumur minimal 18 tahun dengan watak yang baik. Keempat kakek-neneknya diharapkan memiliki darah bangsawan. Tak ada hukum yang mewajibkan dia harus seorang Katolik, meskipun hukum kekaisaran menganggap demikian. Dia tidak mesti harus seorang Jerman (sebagai contoh Alfonso X dari Kastilia dan Richard dari Cornwall). Memasuki abad ke-17 para kandidat umumnya memiliki wilayah kekuasaan di dalam Reich.

Sulit untuk menjelaskan bentuk kekaisaran ini karena ia tidak menyerupai bentuk-bentuk negara yang kita kenal saat ini. Sejarawan Samuel Pufendorf dalam penjelasannya De statu imperii Germanici, diterbitkan dengan nama alias Severinus de Monzambano pada tahun 1667, menulis dalam bahasa Latin: "Nihil ergo aliud restat, quam ut dicamus Germaniam esse irregulare aliquod corpus et monstro simile ..." ("Jadi kita kemudian hanya dapat menyebut Jerman sebagai suatu himpunan yang tidak tunduk pada satu aturan dan menyerupai monster"). Voltaire, seorang filsuf Perancis abad ke-18, di kemudian hari juga mengatakan bahwa entitas ini "bukan kekaisaran, tidak suci dan juga tidak Romawi". Meskipun dikritik oleh banyak negarawan, politisi dan filsuf, struktur Uni Eropa pada zaman sekarang ini menyerupai struktur Kekaisaran Romawi Suci.

Jan 16, 2018

Thommanon

Thommanon (bahasa Khmer: ប្រាសាទធម្មនន្ទ) adalah sebuah candi Hindu yang dibangun oleh Raja Suryawarman II (1113–1150) yang terletak di kota kuno Angkor, Kamboja. Candi kecil yang anggun ini terletak di sebelah timur Gerbang Kemenangan kota Angkor Thom dan terletak di utara candi Chau Say Tevoda yang merupakan candi kembaran Thommanon. Bangunan ini merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO, dimasukkan dalam piagam tahun 1992 oleh UNESCO. Candi ini dipersembahkan untuk memuliakan dewa Siwa dan Wishnu. 

Para arkeolog yang mempelajari ukiran dewata di dinding Thommanon menyimpulkan bahwa candi ini dibangun pada kurun waktu yang sama dengan awal pembangunan Angkor Wat. Akan tetapi terdapat ketidaksepakatan mengenai kapankah sebenarnya candi ini dibangun. Beberapa pihak percaya gaya ukiran dewata perempuan Apsara menunjukan gaya pada era pemerintahan Jayawarman VI (1080–1113 M), pada kuuurun waktu menjelang akhir abad ke-11. Akan tetapi kesepakatan umum di antara para sejarahwan bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan Suryawarman II sezaman dengan candi Angkor Wat dan Beng Mealea dari tahun 1113–1150 M 

Aliran Waisnawa dianut di Kamboja pada masa pemerintahan Jayawarman II dan putranya Jayawarman III. Di bawah para penguasa ini aliran Saiwa dikalahkan oleh aliran Waisnawa, seperti terdapat pada candi Thommaman, Beng, Melea, Chausey, Tevoda, Bantay Samre, dan Angkor Wat. 

Thommanon terletak tepat berseberangan dengan candi bayangannya Chau Say Tevoda dan hanya 500 meter dari Gerbang Kemenangan dalam jalan yang menuju ke candi Ta Keo.Pada tahun 1960-an, candi ini dipugar sepenuhnya dan didanai oleh École française d'Extrême-Orient (EFEO). Para arkeolog Perancis memugarnya dan menambahkan atap beton. 

Thommanon adalah candi bermenara tunggal yang menghadap timur, dimahkotai sebuah prasat atau menara. Pintu asuk dari timur melalui gapura dan kemudian mandapa, atau kamar antarala, sebelum mencapai ruangan pusat yang tersuci. Ukiran pada candi ini dalam kondisi yang sangat baik, dan batu pasir ini memberikan kontras dengan hutandi sekelilingnya. Gaya arsitektur candi ini serupa dengan gaya Angkor Wat dan candi Chau Say Tevoda yang terletak di dekatnya. Candi ini dalam kondisi yang lebih baik daripada candi Chau Say Tevoda yang ada di dekatnya, yang kini tengah dipugar, meskipun demikian kedua candi kembar ini memiliki rancangan yang serupa. Alasan mengapa candi ini lebih bertahan dibanding candi lainnya di dekatnya, karena candi ini tidak menggunakan palang kayu penyangga atap seperti yang digunakan candi lain. 

Tembok pembatas kompleks candi sudah hilang, menyisakan hanya pintu gerbang di sisi timur dan barat; menara tengah dan sisa candi utama. Diduga kedua candi kembar Thommanon dan Chau Say Thavoda terhubung dalam satu kawasan dengan gapura yang besar. bangunan terpisah dari candi utama disebut perpustakaan. 

Para Dewata

Tampilan dewata, figur dewi, seperti yang ditampilkan disini sebagaimana di candi Khmer lainnya. Figur apsara ini adalah daya tarik utama candi Thommanon. Apsara ini mengenakan mahkota bunga, kain sampot (kain Kamboja), kalung, kelat bahu, sabuk dan gelang kaki. Mudra yang ditampilkan sangat rumit. Cara apsara memegang bunga sangat unik, jari tengah dan jari manis menggenggam batang bunga dengan jempol menekannya, sementara jari telunjuk dan jari kelingking lurus. Sikap tangan ini kerap disebut “dewata mudra”, dan juga lazim terdapat di Angkor Wat. Jenis sampot juga dibagi dalam dua jenis sampot, satu jenis berupa gaya kuno sampot berlipit, seperti yang terlihat di relief candi periode Bakheng di Lolei dan Phnom Bok (900 M), dan jenis yang lainnya adalah kain berpola dengan lipatan dan ekor seperti yang terlihat di Angkor Wat. 

Banteay Kdei

Banteay Kdei (bahasa Khmer: ប្រាសាទបន្ទាយក្តី; Prasat Banteay Kdei), yang dalam Bahasa Khmer bermakna "Benteng Berkamar", juga dikenal dengan nama "Benteng dengan banyak kamar Biksu", adalah sebuah kompleks candi Buddha di Angkor, Kamboja. Candi ini terletak di sebelah tenggara candi Ta Prohm dan sebelah timur kota Angkor Thom. Dibangun pada pertengahan abad ke-12 M pada masa pemerintahan Jayawarman VII (yang memiliki nama pedharmaan anumerta "Maha Paramasangata Pada" Candi ini berarsitektur gaya Bayon, mirip dengan candi Ta Prohm dan Preah Khan, akan tetapi lebih sedeerhana dan berukuran lebih kecil. Bangunan-bangunan dalam kompleks candi ini terdapat dalam lingkungan dua yang dibatasi dua lapis tembok, dan terdiri dari dua galeri konsentrik yang ditengahnya menjulang menara, lalu bersambung ke sisi timur dengan sebuah kloister. 

Candi ini dapat dianggap sebagai kompleks biara Buddha, tempat kediaman para bhiksu, akan tetapi kini dalam kondisi yang kurang baik, karena bangunan ini menggunakan batu pasir berkualitas rendah yang mudah tergerus, kini bangunan ini tengah dipugar. Banteay Kdei pernah dihuni oleh para bhiksu dalam beberapa interval kurun waktu selama berabad-abad hingga tahun 1960-an. 

Banteay Kdei, adalah salah satu dari banyang candi di Angkor, dan kini terletak dalam kawasan Taman Purbakala Angkor seluas sekitar 400 square kilometer (150 sq mi). Kota kuno Angkor pada masa Kerajaan Khmer membentang dari tepi danau Tonle Sap di selatan hingga ke pegunungan Kulen di ut meliputi kawasan yang amat luas sekitar 1.000 square kilometer (390 sq mi). Candi ini terhubung dengan gapura timur candi Ta Prohm dengan jalan sepanjang 600 meter (2.000 ft). Jalan ini terhubung dengan gapura barat candi Banteay Kdei. Candi ini berjarak sekitar 3 kilometer (1,9 mi) ke arah timur dari Angkor Thom. 

Periode Angkor Kerajaan Khmer berlangsung pada kurun tahun 802 sampai 1431, awalnya di bawah pengaruh ajaran Hindu hingga akhir abad ke-12 M, dan kemudian di bawah pengaruh ajaran Buddha. Periode itu adalah masa keemasan pembangunan candi-candi agung yang megah dan mewah, dan mencapai puncaknya pada kurun pemerintahan Suryawarman II hingga tahun 1191, dan kemudian pada abad ke-12 hingga ke-13 M. Meskipun Jayawarman VII dianggap berjasa karena membangun banyak candi megah, ia juga dianggap memboroskan keuangan negara dan sumber daya masyarakat dengan membangun banyak candi mewah. Ia membangun candi buddha dengan mengangkat Boddhisatwa Awalokiteswara sebagai pujaan yang utama. Candi ini dibangun mengikuti gaya bangunan candi Ta Prohm dan Preah Khan yang terletak di dekatnya, dibangun pada periode yang sama pada masa pemerintahan Jayawarman VII, tetapi Banteay Kdei berukuran lebih kecil. Banteay Kdei dibangun sebagai kompleks biara bhiksu Buddha di tempat yang pernah berdiri candi abad ke-10 yang dibangun raja Rajendrawarman. Beberapa prasasti kecil menyebutkan pembangunan candi ini oleh Jayawarman VII dan perancangnya adalah arsitek kerajaan Kawindrarimathana. 

Jayavarman VII berkuasa pada usia 55 tahun setelah mengalahkan balatentara Champa yang telah menyerbu, merusak, dan menjajah Angkor. Karya besarnya adalah memulihkan Kamboja dari kehancuran. Ia adalah penggagas utama pembangunan kembali ibu kota Angkor Thom dan disanjung sebagai "Pembangun Agung". Ia berjasa membangun banyak candi, yang selain candi Banteay Kdei, ia juga membangun candi Bayon, Preah Khan, Ta Prohm dan banyak lagi, juga membangun banyak rumah persinggahan di penjuru negeri untuk para musafir, pedagang, dan peziarah dalam perjalanan. Alasan pembangunan cndi ini di lokasi ini tidak diketahui. Akan tetapi dipercaya candi ini merupakan versi kontemporer atau tiruan gaya Angkor Wat karena memiliki banyak kemiripan, demikian juga candi candi Phimai di Thailand. Candi ini disebutkan sebagai candi pertama yang dibangun oleh Jayawarman VII pada tahun 1181, dan candi ini berhadapan dengan baray (kolam besar penampungan air) Srah Srang. 

Pada abad ke-13, kebanyakan candi yang dibangun oleh Jayawarman VII dirusak. Hal ini terkait dengan meletusnya kericuhan antara pendukung agama Hindu aliran Saiwa dan Wishnu melawan pendukung Buddha Mahayana. Akan tetapi beberapa ukiran Buddha Mahayana pada bagian depan dan lintel masih dalam kondisi baik. Terdapat pula pandangan arkeolog bahwa candi ini dibangun oleh Jayawarman VII untuk memuliakan guru spiritualnya. 

Selama beberapa abad setelah berakhirnya kerajaan Khmer di Angkor, candi ini ditelantarkan dan dipenuhi belitan tumbuhan tropis. Candi ini kemudian dibersihkan dari jeratan tumbuhan rimba pada kurun 1920–1922. Pekerjaan ini di bawah pengawasan Henri Marchal (saat itu menjabat konservator Angkor) dan Ch. Battuer, dengan menerapkan prinsip pemugaran anastilosis, yang dengan sangat efektif telah diterapkan otoritas Belanda di Hindia Belanda (kini Indonesia) untuk memugar candi-candi di Jawa seperti Borobudur.  

Selama sepuluh tahun hingga Maret 2002, Misi Universitas Sophia dari Jepang menjalankan proyek riset arkeologi atas candi banteay Kdei. Pada saar penelitian dan penggalian tahun 2001 ditemukan 274 fragmen rupang Buddha dari bahan batu pasir, bersama dengan benda seni dari logam. Direncanakan akan dibangun rumah penyimpanan untuk menyimpan benda-benda temuan ini.  

Candi suci ini terhimpun dalam lingkungan seluas 65×50 m (213×160 ft) dengan tiga pagar pembatas dalam kawasan luas yang dikelilingi pagar berukuran 700×300 m (2,300×980 ft), yang terbuat dari batu laterit. Pintu masuk utama dari sisi timur, dengan gapura timur berdenah salib yang terukir wajah Lokeswara. Candi ini adalah mahakarya perpaduan gaya arsitektur Bayon dan Angkor Wat. Kompleks ini hanya terdiri dari satu lantai. 

Lingkungan luar terdiri atas empat pagar konsentrik, yang memiliki empat gapura yang mirip dengan gapura Ta Phrom, semuanya dalam kondisi yang cukup baik. Pada keempat sisinya, menara gapura ini terukir wajah Lokeswara (Boddhisatwa Buddha Awalokiteswara) di atas patung Garuda (ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa wajah-wajah ini adalah wajah tersenyum Raja Jayawarman II, seperti yang terdapat di candi Bayon ). Gapura timur memiliki patung Garuda dalam kondisi yang sangat baik di sudutnya. Dua ratus metyer dari dari gapura barat terdapat parit, yang dihiasi patung singa dan pagar langkan naga yang ditunggangi garuda. Parit ini sendiri membatasi kawasan ketiga berukuran 320×300 m (1,050×980 ft), juga dibatasi tembok batu laterit.  Arca Buddha dalam kondisi yang cukup baik terdapat di gerbang menuju parit dekat gerbang kawasan dalam kedua, hal ini istimewa mengingat banyak arca buddha dari candi ini yang telah rusak atau dicuri. 

Kawasan ketiga memiliki gapura yang berdenah salib. Bangunan ini memiliki pilar yang menopang pelengkung. Terdapat tiga jalan masuk menuju kawasan ini, dua di kedua sisi berdiri sendiri, dengan tembok laterit. Relung-relung memiliki arca-arca kecil, sebuah apsara besar atau sepasang apsara tengah menari. Arca Buddha besar di lapangan dalam lingkungan ini dalam kondisi rusak wajahnya. Sebuah jalan beralas batu mengarah ke bangunan suci utama, yang terdiri atas dua lingkungan bergaleri. Pada pintu masuk kawasan ini dari ujung timur terdapat "Bangsal Para Penari", yang memiliki empat lapangan terbuka dan tiang-tiang yang dihiasi ukiran apsara. 

Kawasan kedua
Kawasan kedua adalah bagian dari candi utama, berukuran 58×50 m (190×160 ft). Bangunan ini memiliki gapura pada sisi timur juga gapura kedua di sisi barat. Pintu masuk terdapat di ujung utara dan selatan. Gapura ini dibangun menyerupai galeri dengan tembok luar dan dua baris tiang ganda yang membuka ke lapangan dalam yang kebanyakan memiliki tembok tepi dengan bukaan kecil di bawah untuk sirkulasi udara. Relung-relung ini dihiasi ukiran apsara, dan arca buddha di ruangan tengah telah dirusak wajahnya. gaya arsitektur Bayon dapat ditemukan seperti jendela berpagar langkan palsu, serta apsara bermahkota cakram berapi disusun berbentuk segitiga. Atap lorong yang terbuat dari batu laterit telah roboh di beberapa bagian galeri. Di lingkungan dalam ini terdapat bangunan perpustakaan pada sisi utara dan selatan, dan juga di bagunan suci bagian tengah. 

Kawasan dalam
Kawasan dalam candi utama berdenah berukuran 36×30 m (118×98 ft). Lingkungan ini memiliki empat menara sudut dengan gapura kecil di tengahnya. Galeri memanjang sepanjang poros menghubungkan menara dan gapura ke bangunan suci utama di tengah. Menara di sudut timur lautr dan tenggara terhubung dengan galeri kedua dimana terdapat arca Buddha dalam posisi duduk dangan latar langit terbuka. Ruang suci utama di bagian tengah berukuran bujur sangkar bersisi 2.75 m (9 ft) dan terdapat bekas lapik tempat meletakan arca. Seluruh bagian ini tidak dibangun dalam gaya Bayon, tetapi dibangun dalam gaya yang lebih tua. Sisa langit-langit kayu juga terdapat disini. Pintu masuk menuju ruangan tersuci diapit oleh dua penjaga dwarapala dikelilingi oleh apsara. 

Srah Srang

Srah Srang atau dalam bahasa Khmer berarti "Kolam Pemandian Kerajaan" terletak di sisi timur candi Banteay Kdei, yang digali dengan ukuran 700 meter (2.300 ft) x 300 meter (980 ft) pada masa pemerintahan raja Rajendrawarman pada abad ke-10 M. Kolam ini kemudian diperindah oleh raja Jayawarman VII dengan tanggul pembatas menghadap matahari. Kolam ini dikelilingi pohon besar dan memiliki air berwarna hijau toska sepanjang tahun. Tangga yang menurun menuju air diapit oleh patung singa yang dihiasi pagar langkan Nāga. Kolam ini digunakan oleh raja dan istri-istrinya. Sebuah alas batu terdapat di pulau di tengah kolam ini, mungkin sebagai alas candi kayu tempat raja bermeditasi. Kolam yang ditanami bunga teratai ini sangat indah kala matahari terbenam. Air kolam ini kini digunakan untuk mengairi sawah di sekitarnya. 

Beberapa gaya arsitektur ynag spesifik yang berevolusi dari gaya bayon dengan jelas terlihat di candi ini. Atap ditopang oleh pilar berdiri bebas di paviliun timur dan barat di kawasan ketiga, dibangun berdenah salib dengan barisan tiang dalam menopang atap. Pilar ini juga dikaitkan dengan tembok dengan gelagar penghubung dengan teknik "kaitan mortise–dan–tenon" seperti struktur kayu. Empat pilar utama di paviliun barat diperkuat dengan penopang sementara berupa balok batu laterit. Ukiran buddha terdapat di semua pilar ini, akan tetapi kebanyakan wajahnya telah dirusak. Sistem penopang sementara atas atap berpenopang pilar bebas ini menunjukkan masalah rancangan konstruksi pada candi periode ini. 

Scan laser dan pencitraan candi Banteay Kdei dan jalan barat Angkor Wat dilakukan dalam proyek yang dimulai pada Maret 2004 oleh Universitas California dan Universitas Sophia Tokyo, dengan kemitraan bersama yayasan nirlaba CyArk. Informasi yang didapat telah memfasilitasi pemugaran bangunan ini, yang dibiayai oleh Universitas Sophia, dan data proyek dapat diakses publik melalui Situs Web CyArk. Otoritas APSARA memperoleh kemajuan berarti dalam upaya pelestarian monumen di Angkor. Beberapa menara dan koridor tengah dipugar, maka akibatnya beberapa bagian candi ditutup dari kunjungan wisatawan umum. Upaya penguatan juga terlihat pada beberapa bagian interior candi, di mana beberapa bagian yang rawan runtuh diikat dengan kabel. 

Bayon

Bayon (bahasa Khmer: ប្រាសាទបាយ័ន, Prasat Bayon) adalah candi agung Kerajaan Khmer di kawasan Angkor, Kamboja. Dibangun pada akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13, candi yang kaya ukiran ini adalah candi agung resmi kerajaan yang bersifat Buddha Mahayana yang dibangun atas prakarsa Raja Jayawarman VII. Candi Bayon berdiri menjulang tepat di pusat ibu kota milik Jayawarman VII Angkor Thom. Setelah Jayawarman wafat, candi ini kerap diubah fungsinya menjadi candi Hindu dan Buddha Theravada sesuai keinginan raja berikutnya.

Ciri utama candi Bayon adalah terdapat banyak wajah berukuran raksasa dengan ekspresi yang tenang, teduh, dan anggun, terukir pada menara-menara candi yang mengelilingi puncak utama.[1] Candi ini juga terkenal dengan dua set bas relief yang menampilkan kombinasi antara mitologi, sejarah, serta adegan sehari-hari pada masa Kerajaan Angkor. Kini upaya pemugaran utama dilakukan oleh pihak konservasi Jepang untuk pelestarian Angkor (Japanese Government team for the Safeguarding of Angkor/JSA) yang menggambarkan candi ini sebagai "sebuah perwujudan paling mengagumkan dari gaya barok" dalam Arsitektur Khmer, yang dibandingkan dengan gaya klasik Angkor Wat.[2]

Simbolisme Buddhis dan pembangunan candi oleh Raja Jayawarman VII


Candi Bayon berfungsi sebagai candi agung negara yang dibangun di pusat Angkor, dan satu-satunya candi negara Angkor yang bersifat Buddha Mahayana dan dipersembahkan kepada Buddha, meskipun banyak dewata rendah dan setempat yang diwujudkan sebagai melambangkan ranah kekuasaan kerajaan. Candi ini adalah candi terpenting yang menjadi pusat dan lambang kekuasaan Jayawarman VII, termasuk juga proyek pembangunan besar lainnya seperti pembangunan tembok kota, jembatan nāga dan seluruh kota Angkor Thom, termasuk candi Preah Khan, Ta Prohm, dan Banteay Kdei.

Kemiripan 216 wajah berukuran besar pada menara candi dengan patung raja membuat para sejarahwan menafsirkan bahwa wajah ini adalah perwujudan wajah sang Raja Jayawarman VII sendiri. Penafsiran lain menganggap bahwa wajah-wajah ini merupakan perwujudan bodhisatwa welas asih Awalokiteswara atau Lokeswara.[3] Kedua hipotesis ini tidak dapat dipandang berdiri sendiri. Menurut sejarahwan Angkor George Coedès, Jayawarman tetap teguh setia dengan tradisi para raja Khmer yang menganggap diri mereka sebagai "dewaraja" (dewa-raja), hal yang membedakan adalah raja-raja pendahulunya yang menganut agama Hindu mengaitkan diri mereka sebagai penitisan Siwa dan mendirikan lingga sebagai lambang Siwa, atau sebagai Wisnu sebagaimana diwujudkan di candi Angkor Wat, sementara Jayawarman yang menganut agama Buddha mengaitkan dirinya sebagai penitisan Buddha sekaligus Bodhisatwa.[4]

Perombakan setelah kematian Jayawarman VII

Setelah mangkatnya Jayawarman VII, candi Bayon mengalami perombakan dan perubahan oleh raja-raja berikutnya.[5] Pada masa pemerintahan Jayawarman VIII pada pertengahan abad ke-13, Kerajaan Khmer kembali memeluk agama Hindu, dan candi negara ini diubah fungsinya menjadi candi Hindu. Pada abad-abad berikutnya ketika kebanyakan masyarakat Khmer beralih memeluk agama Buddha Theravada candi ini juga diubah fungsi sesuai agama tersebut, sebelum akhirnya kota ini ditinggalkan penghuninya dan ditelan lebatnya hutan rimba. Beberapa bagian bangunan yang bukan bagian asli yang ditambahkan kemudian misalnya teras di sisi timur candi, perpustakaan, sudut-sudut melengkung di lorong galeri bagian dalam, serta beberapa bagian di teras atas.