Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 13, 2017

Kutukan Ham

Kutukan Ham merupakan istilah untuk satu bagian riwayat dalam pasal 9 Kitab Kejadian pada Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di alkitab Kristen. Sebenarnya istilah ini tidak seluruhnya cocok karena kutukan itu terjadi atas Kanaan, putra keempat Ham, yang dijatuhkan oleh Nuh untuk menghukum perbuatan Ham.

Cerita ini terjadi dalam Kitab Kejadian mengenai kemabukan Nuh yang lalu diikuti dengan perbuatan memalukan yang dilakukan oleh anaknya Ham, bapa orang Kanaan (Kejadian 9:20-27). Kontroversi yang timbul dari cerita ini mengenai sifat pelanggaran Ham, dan mengapa Nuh mengutuk Kanaan ketika Ham-lah yang berdosa, telah menjadi perdebatan selama dua ribu tahun. Objektif cerita semula adalah untuk membenarkan penundukan orang Kanaan kepada orang Israel, tetapi pada abad-abad mendatang, cerita ini diinterpretasikan oleh beberapa orang Yahudi, Kristen dan Muslim sebagai kutukan, penjelasan untuk kulit gelap, dan juga perbudakan. Meskipun demikian, kebanyakan denominasi Kristen sangat tidak setuju dengan interpretasi ini, karena faktanya dalam tulisan alkitabiah, Ham sendiri tidak dikutuk dan ras atau kulit tidak pernah disebutkan. 

Keil dan Delitzsch (1885) mengusulkan bahwa kutukan tersebut merupakan sebuah ramalan dari sejarah suku bangsa yang diturunkan dari Kanaan, sedangkan Robert Alter berpendapat bahwa objektif keseluruhan dari cerita tersebut adalah untuk membenarkan status tunduknya bangsa Kanaan, keturunan Ham, kepada bangsa Israel, keturunan Sem. Bagaimanapun juga, menurut Nahum Sarna, cerita dari kutukan Ham dipenuhi dengan berbagai kesulitan. Adalah tidak jelas sifat dari pelanggaran Ham itu bagaimana sebenarnya. Ayat 22 telah menjadi pokok perdebatan, entah apakah itu harus diterima secara harafiah, atau sebagai sebuah eufemisme dari pelanggaran susila yang keterlaluan. Dalam ayat 25, Nuh menyebut Sem dan Yafet sebagai "saudara" (New Living Translation menyebut "sanak") dari Kanaan, tujuh ayat setelahnya mengindikasikan bahwa mereka adalah paman dari Kanaan. Kejadian 10 menggambarkan Kanaan dan Misraim (Mesir) di antara anak-anak Ham (10:6). Dalam Kitab Mazmur, Mesir disamakan dengan Ham. Perlakuan atas Yafet dalam ayat 26-27 menimbulkan pertanyaan: Mengapa TUHAN disebutkan sebagai Allah Sem, tetapi Yafet tidak? Apa artinya bahwa Allah akan "meluaskan" tempat kediaman Yafet? Dan mengapa Yafet akan "tinggal dalam kemah-kemah Sem?" Kesulitan lebih lanjut termasuk Ham disebut sebagai "anak bungsu", sedangkan dalam daftar-daftar lainnya mengindikasikan bahwa ia adalah anak kedua dari Nuh. Menurut Sarna, tantangan terbesar dari cerita ini adalah mengapa Kanaan yang dikutuk, bukannya Ham, dan detil dari peristiwa memalukan yang disembunyikan ini mengandung sikap bungkam yang sama dengan pelanggaran seksual Ruben. 

Cerita yang memiliki lima ayat pendek ini memberikan indikasi bahwa kedudukan Ham sebagai bapa Kanaan pasti memiliki arti yang besar bagi pembawa cerita atau penyusun, menurut Sarna, yang menambahkan: "Kutukan atas Kanaan, melibatkan reaksi terhadap kerusakan moral, merupakan isyarat pertama dari tema kebusukan dari bangsa Kanaan, sebagai pembenaran dari dirampasnya tanah mereka dan sebagai pergantian tanah tersebut kepada keturunan Abraham." 

Pelanggaran oleh Ham

Komentator mayoritas, baik kuno maupun modern, merasakan bahwa peristiwa Ham melihat ayahnya telanjang bukanlah kejahatan yang serius untuk menjelaskan hukuman yang mengikutinya. Meskipun demikian, dalam Kejadian 9:23, dimana Sem dan Yafet menutupi Nuh dengan sehelai kain sambil memalingkan muka, menyarankan bahwa perkataan tersebut harus diterima secarah harafiah, dan baru-baru ini telah ditunjukkan bahwa pada milenium pertama Babilonia, melihat aurat orang lain dianggap sebagai persoalan yang serius. 

Komentator kuno yang lain mengusulkan bahwa kesalahan Ham lebih dari apa yang dikatakan oleh Alkitab. Targum Onqelos (terjemahan bahasa Aramaik dari Alkitab, tertanggal beberapa abad pertama AD – Setelah Kristus) dan beberapa sumber lainnya menyebut bahwa Ham menggunjingkan aib kemabukan ayahnya "di jalan" (sebuah bacaan yang memiliki dasar dalam bahasa Yahudi), jadi apa yang membuat Nuh murka adalah dijadikan ejekan publik; seperti yang dinyatakan oleh Cave of Treasures (abad ke-4), "Ham menertawakan aib ayahnya dan tidak menutupinya, tetapi tertawa keras dan menghinanya." 

Komentar-komentar kuno juga memperdebatkan bahwa "melihat" ketelanjangan seseorang berarti berhubungan seksual dengan orang tersebut (contoh Imamat 20:17). Ide yang sama juga diangkat oleh para rabi abad ke-3, dalam Talmud Babilonia (sekitar tahun 500 AD), yang memperdebatkan bahwa Ham entah mengebiri atau mensodomi ayahnya. Penjelasan yang sama ditemukan dalam tiga terjemahan Yunani dari Alkitab, yang menggantikan kata "melihat" dalam ayat 22 dengan kata lain yang menunjukkan hubungan homoseksual. Teori pengebirian memiliki rekan modernnya dalam persamaan yang ditemukan dalam pengebirian Uranus oleh Kronos dan mitos Het mengenai dewa tertinggi Anu yang auratnya "digigit putus oleh Kumarbi anaknya yang pemberontak, yang merupakan pembawa cangkir, yang setelah itu bersuka cita dan tertawa sampai kemudian Anu mengutukinya". 

Sarjana modern telah mengusulkan bahwa "membuka ketelanjangan" seorang pria berarti berhubungan seksual dengan istri pria tersebut (contoh Imamat 20:11). Jika Ham berhubungan seksual dengan ibunya, dan Kanaan merupakan produk dari penyatuan terlarang ini, itu dapat menjelaskan mengapa kutukan jatuh atas keturunannya; kelemahannya, bagaimanapun juga, bahwa Kejadian 9:21 menyatakan bahwa Ham "melihat" ketelanjangan ayahnya, bukannya "membuka"nya. 

Kitab Yobel

Dalam Kitab Yobel, keseriusan kutukan Ham dipersulit oleh pentingnya perjanjian Tuhan untuk "tidak pernah lagi mendatangkan air bah ke atas bumi". Dalam respon terhadap perjanjian ini, Nuh membangun sebuah mezbah pengorbanan "untuk menebus tanah".[Yobel 6:1-3] Praktik dan fungsi seremonial Nuh sama dengan festival Shavuot sepertinya ia adalah prototype perayaan dari pemberian Taurat. Fungsi "imam"nya juga berusaha menyamai sebagai "imam pertama" menurut halakha seperti diajarkan dalam karya Qumran. Dengan mengubah peristiwa meminum anggur menjadi upacara keagamaan, Kitab Yobel mengurangi perasaan kuatir yang mungkin ditimbulkan oleh peristiwa kemabukan Nuh. Dengan demikian, pelanggaran Ham merupakan sebuah perbuatan tidak hormat bukan hanya terhadap ayahnya, tetapi juga terhadap peraturan festival. 

Yudaisme Abad Pertengahan

Komentar abad pertengahan oleh Rashi (Rabbi Shlomo Yitzchaki 1040-1105), yang menyebutkan sumber-sumber tua dari Taurat Lisan Yudaisme, yang dipercaya oleh sarjana Yahudi tradisional sebagai komentar paling dasar untuk saat ini, memberikan sebuah penjelasan pengantar. (Kejadian 9:22-27):
Kejadian 9:22: Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat: "Ada orang di antara rabi kami yang mengatakan bahwa Kanaan melihat dan memberitahukan bapanya [Ham] dan inilah mengapa Kanaan disebutkan berkenaan dengan persoalan tersebut dan dikutuk." (Tanhuma 15; Bereshith Rabba 36:7). Maka [Ham] melihat aurat ayahnya.: "Ada orang di antara rabi kami yang mengatakan ia mengebirinya, dan ada yang mengatakan ia melakukan hubungan (homoseksual) dengannya." Traktat Sanhedrin 70a. [Opini yang berpendapat bahwa Ham melakukan hubungan homoseksual dengannya sependapat bahwa Ham juga mengebiri Nuh.] 

Kejadian 9:23: Sesudah itu Sem dan Yafet menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka: "untuk Ham yang mencemarkan ayahnya, dikatakan tentang keturunannya 'demikianlah raja Asyur akan menggiring orang Mesir sebagai tawanan dan orang Etiopia sebagai buangan, tua dan muda, telanjang dan tidak berkasut dengan pantatnya kelihatan, suatu penghinaan bagi Mesir." (Yesaya 20:4). (Tanhuma 15: Bereshith Rabba 36:6). 

Kejadian 9:24: anak bungsunya: "yang 'cacat' (Bereshith Rabba 36:6) dan yang 'memalukan'. ['kecil' tidak berarti 'yang bungsu' karena Ham lebih tua dari Sem] sama dengan 'Sebab sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, dihinakan di antara manusia.'" (Yeremia 49:15, Obaja 1:2). 

Kejadian 9:25: berkatalah ia: Terkutuklah Kanaan: "Engkau menyebabkanku tidak lagi dapat memiliki anak keempat, satu anak lagi untuk melayaniku. Semoga anak keempatmu [Kanaan adalah anak keempat Ham, lihat Kejadian 10:6] terkutuk dengan melayani keturunan yang lebih besar ini [dari Sem dan Yafet] Apa yang dilihat Ham sehingga ia mengebirinya? Ia mengatakan kepada saudara-saudaranya bahwa Adam, manusia pertama hanya memiliki dua anak (Kain dan Habel) namun yang satu membunuh yang lain karena warisan dunia [Kain membunuh Habel atas sengketa bagaimana membagi dunia di antara mereka berdasarkan Bereshith Rabba 22:7] dan ayah kita memiliki tiga anak namun ia masih meminta anak keempat." 

Kejadian 9:26: Terpujilah TUHAN, Allah Sem: "Yang ditakdirkan memegang janjiNya terhadap keturunan [Sem] untuk memberikan Tanah Kanaan" tetapi hendaklah Kanaan: "Kanaan akan menjadi hamba mereka untuk membayar upeti." 

Kejadian 9:27: tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.: "Bahkan setelah keturunan Sem akan diasingkan, budak-budak akan dijual bagi mereka dari anak-anak Kanaan." [Rashi menjelaskan mengapa kutukan itu terulang.] 

Kutukan terhadap Kanaan
Kejadian 9:25: berkatalah ia: "Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya."
Adalah penting untuk diperhatikan bahwa kutukan tersebut dibuat oleh Nuh, bukan oleh Tuhan. Beberapa sarjana Injil menyatakan bahwa ketika sebuah kutukan dibuat oleh seorang manusia, ia hanya dapat efektif jika Tuhan menyokongnya, tidak seperti kutukan terhadap Ham dan keturunannya, yang tidak dikonfirmasi oleh Tuhan atau, setidaknya, tidak disebutkan di dalam Alkitab bahwa Ia mengkonfirmasinya.

Gulungan Laut Mati

4Q252, sebuah pesher (interpretasi) Kitab Kejadian ditemukan di antara Gulungan Laut Mati, menjelaskan bahwa karena Ham telah diberkati oleh Tuhan (Kejadian 9:1), ia tidak dapat dikutuk oleh Nuh. Gulungan 4Q252 mungkin tertanggal dari paruh kedua abad pertama BC (sebelum Kristus). Satu abad kemudian, sejarawan Yosefus memperdebatkan bahwa Nuh menahan diri dari mengutuk Ham karena kedekatan kekerabatannya, jadi ia malah mengutuk anak Ham. 

Sebuah interpretasi alternatif baru dari Gulungan Laut Mati 4Q181 yang adalah gulungan Kejadian serupa dengan Kitab Yobel, mengusulkan bahwa Kanaan dikutuk karena ia menantang pembagian tanah oleh Nuh. 

Kitab Yobel

Kitab Yobel juga menceritakan peristiwa antara Ham dan Nuh, dan kutukan Nuh terhadap Kanaan, dalam istilah yang sama. Bagaimanapun juga, kemudian, Yobel menjelaskan lebih lanjut bahwa Nuh telah menyediakan Kanaan sebuah daratan sebelah barat Nil bersama dengan saudara-saudaranya, tetapi ia melanggar perjanjian ini dan malah memilih berjongkok di atas daratan yang digambarkan untuk Sem (dan kemudian Abraham), dan karenanya layak dikutuki dengan perbudakan. 

Yudaisme Klasik

Filo dari Aleksandria, seorang filsuf Yahudi abad pertama BC (sebelum Kristus), mengatakan bahwa Ham dan Kanaan sama-sama bersalah, jika bukan dari apa yang telah dilakukan terhadap Nuh, maka kejahatan lainnya, "karena keduanya bersama telah melakukan perbuatan bodoh dan salah dan melakukan dosa-dosa lainnya." Rabbi Eleazar memutuskan bahwa Kanaan merupakan yang pertama melihat Nuh, dan kemudian pergi dan memberitahukan ayahnya, yang kemudian memberitahukan saudara-saudaranya di jalan; ini, kata Eleazar, "tidak mengindahkan perintah untuk menghormati ayahnya." Interpretasi lain adalah bahwa "anak bungsu" Nuh tidak mungkin Ham, yang merupakan anak tengah: "karena alasan ini mereka katakan bahwa anak bungsunya adalah Kanaan". 

Kejadian 9:25: berkatalah ia: Terkutuklah Kanaan: "Engkau menyebabkanku tidak lagi dapat memiliki anak keempat, satu anak lagi untuk melayaniku. Semoga anak keempatmu [Kanaan adalah anak keempat Ham, lihat Kejadian 10:6] terkutuk dengan melayani keturunan yang lebih besar ini [dari Sem dan Yafet] Apa yang dilihat Ham sehingga ia mengebirinya? Ia mengatakan kepada saudara-saudaranya bahwa Adam, manusia pertama hanya memiliki dua anak (Kain dan Habel) namun yang satu membunuh yang lain karena warisan dunia [Kain membunuh Habel atas sengketa bagaimana membagi dunia di antara mereka berdasarkan Bereshith Rabba 22:7] dan ayah kita memiliki tiga anak namun ia masih meminta anak keempat." 

Kejadian 9:26: Terpujilah TUHAN, Allah Sem: "Yang ditakdirkan memegang janjiNya terhadap keturunan [Sem] untuk memberikan Tanah Kanaan” tetapi hendaklah Kanaan: “Kanaan akan menjadi hamba mereka untuk membayar upeti." 

Kejadian 9:27: tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.: "Bahkan setelah keturunan Sem akan diasingkan, budak-budak akan dijual bagi mereka dari anak-anak Kanaan." [Rashi menjelaskan mengapa kutukan itu terulang.] 

Asal Mula Ketidakcocokan Istilah

Di masa lalu, beberapa orang mengklaim "kutukan Ham" sebagai pembenaran alkitabiah untuk membebankan perbudakan atau rasisme atas orang kulit hitam, walaupun konsep ini pada dasarnya sebuah ketidakcocokan istilah yang didorong secara ideologis. Mengenai masalah ini, pemimpin Kristen, Martin Luther King Jr. menyebutkan usaha ini "sebuah penghujatan" yang "bertentangan dengan semua pendirian agama Kristen." 

Yudaisme Awal dan Islam

Walaupun Kejadian 9 tidak pernah mengatakan bahwa Ham berkulit hitam, ia dihubungkan dengan kulit hitam, melalui etimologi-rakyat yang berasal dari sebuah kata yang mirip, tetapi sebenarnya tidak berhubungan, yang berarti "gelap" atau "coklat". Selanjutnya, fabel tertentu menurut tradisi kuno Yahudi. Menurut satu legenda yang terpelihara dalam Talmud Babilonia, Tuhan mengutuk Ham karena ia melanggar larangan seks di dalam bahtera dan dikutuk dengan kulit gelap; menurut yang lain, Nuh mengutuknya karena ia mengebiri ayahnya. Walaupun Talmud menunjuk hanya kepada Ham, dalam Midras lebih lanjut mengatakan "Ham, dimana Kush berasal darinya" dalam referensi kepada kulit gelap, bahwa kutukan itu tidak berlaku kepada semua keturunan Ham tetapi hanya anak tertuanya Kush, Kush menjadi seorang Afrika sub-Sahara. Dengan demikian, terdapat dua tradisi berbeda, yang satu menjelaskan kegelapan kulit sebagai akibat dari kutukan Ham, yang lain menjelaskan perbudakan oleh kutukan terpisah atas Kanaan. 

Kedua konsep tersebut mungkin digabungkan pada abad ke-7 oleh beberapa penulis Muslim, produk dari sebuah budaya dengan sejarah panjang perbudakan orang kulit hitam Afrika; asal mula dari "Kutukan atas Ham", dimana Ham, kulit yang gelap dan perbudakan menjadi sebuah kutukan tunggal, dengan demikian hasil dari kebutuhan Islam untuk mitos yang dibenarkan. Banyak otoritas Muslim abad pertengahan termasuk At-Tabari, Ibnu Khaldun, dan bahkan Kitab Zanj yang kemudian semuanya menegaskan pandangan bahwa pengaruh dari kutukan Nuh atas keturunan Ham termasuk kulit hitam, perbudakan, dan sebuah syarat untuk tidak membiarkan rambut tumbuh melewati telinga. Meskipun faktanya bahwa cerita tentang kemabukan Nuh tidak termasuk dalam Qur'an. Islam berpendapat bahwa nabi Allah adalah sempurna. 
Bagaimanapun, interpretasi independen dari kutukan dijatuhkan atas semua keturunan Ham berlangsung dalam Yudaisme, terutama karena anak-anak Ham yang lain terletak di benua Afrika, contoh Misraim memperanakkan orang-orang Mesir, Kush memperanakkan orang-orang Kush, dan Put memperanakkan orang-orang Libya. 

Perbudakan Abad Pertengahan dan ‘Pseudo-Berossus’

Dalam penafsiran Kristen abad pertengahan, yang dianggap sebagai dosa Ham adalah tertawa (mengejek ayahnya dan tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaannya).
Di lain tempat di Eropa abad pertengahan, "Kutukan Ham" juga digunakan sebagai pembenaran atas perbudakan. Honorius Augustodunensis (sekitar tahun 1100) merupakan orang pertama yang tercatat untuk mengusulkan sistem kasta yang menghubungkan Ham dengan perbudakan, dengan menulis bahwa budak merupakan keturunan Ham, bangsawan dari Yafet, dan orang merdeka dari Sem. Bagaimanapun, ia juga mengikuti interpretasi dari 1 Korintus 7:21 oleh Ambrosiaster (akhir abad ke-4), yang berpendapat bahwa sebagai budak dalam dunia sementara, orang-orang "Ham" ini kemungkinan besar menerima upah lebih besar dalam dunia yang kemudian daripada kebangsawanan Yafet. 

Ide bahwa budak merupakan keturunan dari Ham segera dipromosikan secara luas di Eropa. Sebuah contoh adalah Dame Juliana Berners (sekitar tahun 1388), dalam risalah mengenai burung elang, menyatakan bahwa keturunan "kasar" dari Ham telah mendiami Eropa, keturunan Sem yang berkepala dingin di Afrika, dan keturunan bangsawan Yafet di Asia – sebuah tanggapan yang berbeda dari aransemen normal, yang menempatkan Sem di Asia, Yafet di Eropa, dan Ham di Afrika – karena ia menganggap Eropa sebagai "negara orang-orang kasar", Asia negara orang-orang ningrat, dan Afrika negara orang-orang kepala dingin. Dengan perbudakan semakin berkurang pada era akhir abad pertengahan, interpretasi dari budak merupakan keturunan Ham berkurang juga. 

Ham juga digambarkan dalam sebuah karya yang sangat berpengaruh yang disebut Commentaria super opera diversorum auctorum de antiquitatibus. Pada 1498, Annius dari Viterbo menyatakan telah menerjemahkan arsip Berossus, seorang imam dan sarjana Babylonia kuno; yang pada hari ini dianggap sebuah pemalsuan yang rumit. Bagaimanapun, mereka memperoleh pengaruh besar terhadap cara berpikir Renaissance tentang populasi dan migrasi, mengisi celah sejarah mengikuti cerita alkitabiah mengenai air bah. Menurut catatan ini, Ham mempelajari seni jahat yang dipraktikkan sebelum air bah, yang karena itu dikenal dengan "Cam Esenus" (Ham si Cabul), juga asal mula Zoroaster dan Saturn (Kronos). Ia menjadi iri hati atas tambahan anak-anak Nuh yang dilahirkan setelah air bah, dan mulai memandang ayahnya dengan kebencian, dan suatu hari, ketika Nuh terbaring mabuk dan telanjang dalam kemahnya, Ham melihatnya dan menyanyikan sebuah mantera ejekan yang menyebabkan Nuh steril untuk sementara, seakan dikebiri. Catatan ini mengandung beberapa persamaan lainnya yang menghubungkan Ham dengan mitos Yunani mengenai pengebirian Uranus oleh Kronos, maupun legenda Italia mengenai Saturn dan/atau Camesis memerintah Zaman Keemasan dan melawan Titanomakhia. Ham dalam versi ini juga meninggalkan istrinya yang telah berada di dalam bahtera dan telah memperanakkan orang-orang Afrika, dan malah mengawini saudara perempuannya, Rhea, anak perempuan Nuh, memperanakkan ras raksasa di Sisilia.

Perbudakan Eropa/Amerika, abad ke-17 dan ke-18

Penjelasan bahwa orang kulit hitam Afrika, sebagai "anak-anak Ham", terkutuk, mungkin "dihitamkan" oleh dosa mereka, muncul hanya sekali-sekali selama abad pertengahan, tetapi ia kemudian menjadi biasa selama perdagangan budak pada abad ke-18 dan ke-19. Pembenaran perbudakan itu sendiri melalui dosa Ham cocok dengan kepentingan ideologis orang-orang elit; dengan munculnya perdagangan budak, versi rasialnya membenarkan eksploitasi tenaga kerja Afrika.

Di beberapa bagian Afrika dimana Kekristenan tumbuh subur pada masa awal, tetapi masih ilegal di Roma, ide ini tidak pernah bertahan, dan interpretasi kitab suci tidak pernah diadopsi oleh Gereja Koptik Afrika. Komentar bahasa Amhar modern terhadap Kitab Kejadian mencatat teori abad ke-19 dan Eropa awal bahwa orang kulit hitam tunduk kepada orang kulit putih sebagai akibat dari "kutukan atas Ham", tetapi menganggap ini sebagai ajaran palsu yang tidak didukung oleh tulisan dalam Alkitab, dengan tegas menunjukkan bahwa kutukan Nuh tidak jatuh atas semua keturunan Ham, tetapi hanya keturunan Kanaan, dan menegaskan bahwa kutukan tersebut telah dipenuhi ketika Kanaan diduduki oleh Semit (Israel) dan Yafet (Filistin kuno). Komentar ini lebih lanjut mencatat bahwa orang-orang Kanaan tidak ada lagi secara politik setelah Perang Punic Ketiga (149 BC – Sebelum Kristus), dan bahwa keturunan mereka sekarang tidak diketahui dan berserak di antara semua bangsa. 

Robert Boyle, seorang ilmuwan abad ke-17 yang juga seorang teolog dan Kristen yang saleh, menyangkal ide bahwa kulit hitam merupakan Kutukan Ham, dalam bukunya Experiments and Considerations Touching Colours (1664). Di sana Boyle menjelaskan bahwa Kutukan Ham digunakan sebagai penjelasan dari corak kulit dari orang-orang berwarna merupakan misinterpretasi yang dianut oleh "penulis vulgar", pelancong, pengkritik dan juga "orang pencatat" pada waktu mereka. Dalam karyanya, ia menantang visi itu dengan menjelaskan:
Dan bukan hanya kita tidak menemukannya dalam Alkitab, bahwa Kutukan oleh Nuh yang ditujukan kepada Cham, merupakan Kehitaman dari Keturunannya, tetapi kita juga dengan sederhana menemukan bahwa Kutukan tersebut sama sekali mengenai hal lain, yaitu bahwa ia harus menjadi Hamba dari Para Hamba, yang oleh serorang Ebraisme, seorang Hamba yang Hina bagi Saudaranya, yang mana sebagian kutukan ini telah berlalu, ketika bangsa Israel keturunan dari Sem, menundukkan bangsa Kanaan, yang diturunkan dari Cham, dan terus menahan mereka dalam Penaklukkan yang hebat. Juga tidak jelas bahwa Kehitaman Kulit adalah sebuah Kutukan, karena para Ahli Navigasi memberitahukan kepada kami mengenai Bangsa Kulit Hitam, yang berpikir sebaliknya mengenai kondisi mereka, dimana mereka melukis Setan berkulit Putih. Juga bukannya Kehitaman Kulit tidak konsisten dengan Kecantikan, yang bahkan bagi Mata Eropa kami terdiri tidak begitu banyak dalam warna, sebagai sebuah Perawakan Tinggi yang Menguntungkan, sebuah Simetri Molek dari bagian Tubuh, dan Fitur yang Baik di Wajah. Jadi saya tidak melihat mengapa Kehitaman Kulit harus dipikir sebagai sebuah Kutukan bagi orang-orang Negro
Sejumlah sarjana lain juga mendukung klaim bahwa versi rasial dari Kutukan Ham dirancang pada masa itu karena ia cocok dengan kepentingan ideologis dan ekonomis dari orang-orang elit Eropa dan pedagang budak yang mau membenarkan eksploitasi tenaga kerja Afrika. Sedangkan Robinson (2007) mengklaim bahwa versi demikian tidak pernah ada sebelumnya, sejarawan David Brion Davis memperdebatkan juga, bahwa kebalikan dari klaim sejarawan terkemuka, baik Talmud maupun tulisan Yahudi paska-alkitabiah tidak menghubungkan kehitaman kulit dengan kutukan apapun juga. 

Setelah kematian Joseph Smith, penemu gerakan Orang Suci Zaman Akhir, pemimpin dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (LDS Church) mengajarkan bahwa orang Afrika kulit hitam berada dibawah kutukan Ham, walaupun akan datang hari dimana kutukan itu akan dihapuskan melalui kuasa keselamatan Yesus Kristus. Dengan tambahan, berdasarkan interpretasinya mengenai Kitab Abraham, Brigham Young percaya bahwa sebagai akibat dari kutukan ini orang-orang Negro dilarang dari Kependetaan Mormon. Pada tahun 1978, Spencer W. Kimball, presiden gereja ini pada saat itu, mengatakan ia menerima wahyu yang memperluas Kependetaan kepada semua anggota laki-laki yang layak dari Gereja LDS. 

Dec 11, 2017

Alkitabiah Mengakui Yerusalem Ibukota Israel

1. Yerusalem disebutkan lebih dari 800 kali di dalam Alkitab.
Yesaya 62:1 (AI) Demi Zion, aku tidak akan diam; dan demi Yerusalem, aku tidak akan beristirahat; sampai kebenarannya memancar seperti cahaya, dan Y’shua (keselamatan) seperti obor yang menyala.
Yerusalem disebut dengan nama 662 kali dan Zion disebutkan lebih dari 150 kali di dalam Alkitab (Tanakh), belum lagi ribuan referensi tambahan di seputar literatur Yahudi kuno dan sumber-sumber Rabbinik. Tidak ada satu pun penyebutan Yerusalem dalam teks suci Islam, bahkan nabi Muhammad tidak pernah mengunjungi kota suci tersebut.

2. Raja Daud menyatakannya 3000 tahun yang lalu!
2Tawarikh 6:6 (AI) Namun Aku telah memilih Yerusalem supaya Nama-Ku ada sana, dan Aku telah memilih Daud untuk berkuasa atas umat-Ku Israel.
Tidak ada lembaga pemilihan atau voting parlemen untuk memilih Raja Israel. Elohim Yang Maha Kuasa memilih Daud sebagai pemimpin Israel, dan memilih Yerusalem sebagai ibu kota kerajaan Yahudi, di mana Raja Daud memerintah selama 33 tahun. Meskipun diduduki selama berabad-abad oleh banyak kerajaan asing, tidak ada bangsa lain yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota selain orang-orang Yahudi. Ketika dihadapkan dengan kritik terhadap klaim Israel terhadap kota suci tersebut, Perdana Menteri Menachem Begin menjawab, “Kami tidak menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota kami, Raja Daud telah mendeklarasikannya 3.000 tahun yang lalu!”

3. Orang-orang Yahudi tidak pernah melupakan Yerusalem.
Mazmur 137:5-6 (AI) Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah tangan kananku lupa keterampilannya; biarlah lidahku melekat pada langit-langit mulutku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak meninggikan Yerusalem di atas semua sukacitaku.
Meskipun terserak di keempat penjuru bumi, orang-orang Yahudi tidak pernah melupakan kota tersuci mereka. “Aku berada di barat, tapi hatiku ada di timur,” kata penyair Yahudi abad pertengahan yang terkenal, Yudah Halevi. Bahkan pada hari-hari orang Yahudi yang paling membahagiakan, mereka berhenti sejenak untuk merenungkan penghancuran Bait Suci kuno di Yerusalem. Pada semua pernikahan Yahudi, pengantin laki-laki mendeklarasikannya dari bawah kanopi (chuppah) pengantin, “Jika aku melupakan engkau Yerusalem, biarkan tangan kananku layu,” dan kemudian dia menghancurkan sebuah gelas untuk menjadi pengingat yang menyedihkan bahwa tidak ada peristiwa yang benar-benar membahagiakan karena tidak adanya Bait Suci.

4. Negara berdaulat Israel mendirikan Yerusalem sebagai ibukotanya.
Zakharia 8:3 (AI) Beginilah firman YAHWEH: Aku telah kembali ke Zion, dan akan tinggal di tengah-tengah Yerusalem. Dan Yerusalem akan disebut: Kota Kebenaran, dan gunung YAHWEH Tsebaot: Gunung Kudus.
Pemerintah Israel memutuskan bahwa shekel adalah mata uang nasionalnya, Hatikvah adalah lagu kebangsaannya, dan ibukotanya adalah Yerusalem. Menempatkan kedutaan di kota lain Israel, berarti menyangkal kedaulatan Israel dan hal ini tidak pernah terdengar di dalam dunia politik. Faktanya, Israel adalah satu-satunya negara di dunia di mana Kedutaan Amerika tidak berada di ibukota fungsionalnya, hingga sekarang ini.

5. Di sepanjang sejarah selalu ada kehadiran Yahudi yang tidak terputus di Yerusalem.
Yoel 3:20 (AI) Tetapi Yehuda akan didiami selama-lamanya, dan Yerusalem dari generasi ke generasi.
Kisah epik pertama kepahlawanan Alkitab terjadi ketika Abraham membawa Ishak, putra tunggalnya, dan mendemonstrasikan imannya yang tidak tergoyahkan kepada Elohim di Gunung Moria, pusat Yerusalem. Situs yang sama adalah tempat Daud mendirikan tempat kedudukan kerajaannya, di mana putranya Salomo membangun Bait Suci Pertama, dan setelah penghancurannya, tempat di mana Bait Suci Kedua juga didirikan di bawah pimpinan Zerubabel, Ezra dan Nehemia. Meskipun berbagai usaha untuk mengasingkan orang-orang Yahudi dari Tanah Israel, dan di hadapan penindasan yang terus-menerus oleh para penjajah asing, orang-orang Yahudi tetap setia, dan selalu kembali, di kota tersuci Yahudi.

6. Yerusalem selalu menjadi fokus ibadah Yahudi.
Yeremia 31:6 (AI) Sebab akan ada suatu hari ketika para penjaga di Gunung Efraim akan berseru, “Bangkitlah dan marilah kita naik ke Zion, kepada YAHWEH, Elohim kita!”
Di zaman modern, Yerusalem adalah pusat ritual dan praktik keagamaan Yahudi, sama seperti pada zaman dahulu kala. Meskipun orang Yahudi tidak lagi memiliki mandat Alkitab untuk naik tiga kali setahun untuk menyembah di Bait Elohim, setiap hari, orang-orang Yahudi terus-menerus menunjuk Yerusalem di dalam ucapan-ucapan berkat dan doa-doa sehari-hari mereka. Doa utama Yahudi, diucapkan tiga kali sehari, termasuk permohonan agar Elohim “membuka mata kami untuk pemulihan Zion.” Demikian juga, pada waktu makan, orang-orang Yahudi memohon Yang Mahakuasa untuk “Membangun kota suci Yerusalem,” dan pada penutup setiap ibadah Yom Kippur dan Seder (makan) Paskah, mereka dengan bersungguh-sungguh menyerukan, “Tahun depan di Yerusalem!”

7. Israel yang melindungi tempat-tempat suci dari semua agama.
Yesaya 56:7 (AI) bahkan mereka akan Aku bawa ke gunung-Ku yang kudus, dan membuat mereka bersukacita di dalam rumah doa-Ku. Persembahan bakaran mereka dan kurban-kurban mereka akan diterima di atas mezbah-Ku, karena rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”
Bahkan pada puncak nasionalisme Yahudi kuno, pada zaman Bait Suci, para imam dan orang-orang Lewi yang melayani di Yerusalem dengan hangat menerima persembahan ibadah dan korban persembahan orang-orang Yahudi maupun orang-orang bukan Yahudi. Sayangnya, tidak semua orang-orang di wilayah ini memiliki kebijakan pintu terbuka seperti itu. Ketika Muslim menguasai Yerusalem sampai tahun 1967, situs-situs suci Yahudi dan Kristen kuno telah dijarah dan dinodai. Sekarang ini, kota suci berkembang sekali lagi. Itu terbuka bagi semua agama dan menyambut jutaan peziarah setiap tahun dari seluruh dunia.

8. Orang Yahudi di seluruh dunia berdoa ke arah Yerusalem.
Mazmur 128:5 (AI) YAHWEH akan memberkati engkau dari Zion; dan engkau akan melihat kebaikan Yerusalem sepanjang umur hidupmu.
Tidak ada cara yang lebih baik untuk memahami apa yang dicintai seseorang selain mengetahui apa yang mereka doakan. Nilai-nilai terdalam seseorang dan prioritas-prioritas tertinggi muncul dari kedalaman doa-doa hatinya. Bukan sekadar detail sepele, arah kiblat ke mana seseorang banyak mengucapkan doa-doa menunjukkan ke mana kesetiaan mereka. Muslim, misalnya, bahkan pada saat mereka sedang berdoa di Bukit Bait Suci, mengarahkan sajadah mereka ke arah Mekkah, Arab Saudi, sementara orang-orang Palestina yang tinggal di bagian lain Israel, bersama-sama berpaling membelakangi Yerusalem ketika berdoa. Sebaliknya, setiap sinagog Yahudi di dunia dibangun dengan menghadap ke Yerusalem. Sinagog-sinagog di Amerika Utara dibangun menghadap ke timur, sementara sinagog-sinagog di Asia menghadap ke barat, sehingga setiap kali seorang Yahudi berdoa, dia menghadap ke Yerusalem.

9. Undang-undang Amerika sudah menetapkan Kedutaan Besar untuk pindah ke Yerusalem.
Yesaya 62:6 (AI) Aku telah menempatkan para penjaga di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka terus-menerus tidak akan diam; hai kamu yang mengingatkan YAHWEH, janganlah berdiam diri.
Pada tahun 1995, Undang-Undang Relokasi Kedutaan Yerusalem disahkan oleh Kongres ke-104 dengan suara mutlak 93-5 di Senat dan 374-37 di Dewan Perwakilan Rakyat. Delapan belas tahun yang lalu, Kongres meloloskan undang-undang “memulai dan mendanai pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, tidak lebih dari tanggal 31 Mei 1999.” Mengungkapkan kehendak rakyat Amerika, undang-undang tersebut juga disebut bagi “Yerusalem tetap menjadi kota yang tak terbagi dan supaya itu diakui sebagai ibu kota Negara Israel.”

Pada Senin malam, 4 Desember 2017, Presiden Donald Trump melewatkan batas waktu tengah malam untuk menandatangani surat “pengabaian” pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem selama enam bulan berikutnya.

Surat “pengabaian” Undang-Undang Relokasi Kedutaan Yerusalem, yang mengamanatkan bahwa AS harus memindahkan kedutaannya, telah ditandatangani dengan setia setiap enam bulan oleh setiap presiden sejak diluncurkan pada 1995. Surat ini pertama kali diajukan untuk peninjauan di bawah kepemimpinan Trump pada bulan Juni, namun mengecewakan Israel dan basis pemilih Kristen, presiden memilih untuk menandatangani “pengabaian” ini – dan menunda pemindahan tersebut, hingga pada akhirnya Senin malam kemarin, dia tidak menandatanganinya. Dan secara otomatis Undang-undang Relokasi Kedutaan Yerusalem berlaku dan harus dijalankan.

10. Nama Yerusalem mengandung berkat untuk perdamaian.
Mazmur 122:6 (AI) Berdoalah untuk damai sejahtera (shalom) atas Yerusalem; mereka akan sejahtera yang mengasihi engkau.
Sementara orang-orang Palestina mengancam dengan kekerasan dan amarah, esensi sesungguhnya Yerusalem muncul dari nama Ibrani yang kudus, Yerushalayim. Pada intinya ada kata ‘Shalom’ yang memiliki tiga makna dalam bahasa Ibrani: halo, selamat tinggal dan damai sejahtera. Shalom adalah cara sesama teman saling menyapa, begitulah cara orang-orang Israel menjawab telepon mereka dan mengawali email. Tapi, Shalom lebih dari sekedar ucapan, itu juga adalah suatu berkat. Damai sejahtera adalah karunia terpenting yang bisa kita minta dari Elohim, pada tingkatan individu, sama seperti keluarga dan bangsa. Oleh karena itu, sangat penting bahwa kota tersuci di dunia, Yerusalem, memiliki Shalom pada intinya, karena hanya jika Yerusalem ada dalam damai (shalom), maka seluruh dunia dapat menikmati damai sejahtera (shalom) di bumi.

11. Penggenapan Nubuat
Zakharia 12:2 (AI) “Lihatlah! Aku akan membuat Yerusalem cawan yang memusingkan bagi semua bangsa sekelilingnya, dan itu akan juga terhadap Yehuda, pada saat pengepungan terhadap Yerusalem.
Sekarang bahwa Amerika telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dunia telah memasuki pergeseran signifikan secara geopolitik, spiritual, dan profetik, dan ini mempersiapkan jalan bagi berdirinya Bait Suci ke-3, masa Tribulasi, kebangkitan Antikristus, kemudian Yerusalem akan diinjak-injak bangsa-bangsa yang tidak mengenal Elohim selama 42 bulan, dan akhirnya Perang Harmageddon, sebelum datangnya Raja Shalom (Sar-Shalom) itu di Yerusalem.
Yesaya 9:6 (AI) Sebab bagi kita seorang Anak telah lahir; kepada kita seorang Putra telah diberikan; dan pemerintahan ada di bahu-Nya; dan Nama-Nya disebut: Pele-Yo’etz El Gibbor Avi-‘Ad Sar-Shalom (Ajaib, Penasihat, El Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai Sejahtera).

Bangsa Kuno dengan Budaya Maksiat

Setiap bangsa punya kebudayaan masing-masing. Kebudayaan yang baik jadi inspirasi bangsa lain karena bermanfaat bagi masyarakat. Namun, ada juga kebudayaan yang buruk, bahkan hingga mencelakakan bangsanya sendiri.

Sampai-sampai banyak yang bilang kalau sekarang kita hidup pada masa menjelang kiamat. Hampir semua agama percaya kalau kiamat hanya akan terjadi jika orang-orang yang tersisa rusak moralnya. Memang, enggak bisa dimungkiri kalau manusia di muka Bumi ini sangat senang melakukan kemaksiatan. Contohnya, saat ini banyak bayi yang lahir karena hasil kemaksiatan.

Ternyata, tindakan tersebut enggak hanya dilakuin orang-orang zaman sekarang. Ini udah jadi hal umum sejak dulu. Melakukan perbuatan yang dibenci Tuhan mengakibatkan “kiamat” bagi bangsa tersebut. Berikut rangkuman bangsa-bangsa di dunia yang dikenal karena punya kebudayaan maksiat.

1. Bangsa Pompeii

Terdapat sebuah kota pada zaman Romawi kuno yang hancur dan sekarang hanya tinggal puing-puing di dekat Kota Napoli, Italia. Pernah enggak lo bayangin, ada tempat yang masyarakatnya bebas melakukan seks di mana pun, termasuk di tempat umum. Di Pompeii, setiap orang bebas ngelakuin seks dengan siapa pun dan kapan pun. Bahkan, sebagian besar rumah-rumah penduduk dipakai sebagai rumah bordil.

Di zaman dulu, Bangsa Pompeii merupakan bangsa dengan peradaban maju dengan rakyat yang makmur. Kota ini jadi kota tujuan wisata orang-orang kaya buat nyalurin hasrat gilanya. Pada suatu siang, Gunung Vesuvius yang ada di utara Kota Pompeii mengalami erupsi dahsyat. Namun, enggak ada yang menyadari bahaya tersebut. Semua orang masih sibuk dengan aktivitas gila mereka. Parahnya, penduduk Pompeii baru sadar ada bahaya ketika lava gunung udah ada di depan pintu rumah mereka.

Akhirnya, penduduk Pompeii enggak sempat melarikan diri. Karena langsung tersapu lava, mereka berubah jadi patung-patung manusia yang hingga kini masih ada. Mereka yang jadi mayat-mayat terawetkan ini menunjukkan raut muka yang sangat ketakutan. Kisah bangsa ini diangkat dalam sebuah film berjudul Pompeii pada 2014 lalu.

2. Bangsa Romawi

Bangsa Romawi kuno juga dikenal dengan kebiasaan maksiatnya. Bahkan, dinobatin sebagai tempat memuaskan hasrat. Romawi masih menganut patriarki. Para cowok dianggap lebih tinggi daripada cewek. Hingga, cowok bisa memperlakukan apa pun kepada cewek Romawi.

Para cowok dibolehin macarin seluruh cewek. Para cewek Romawi yang dianggap rendah cuma bisa menerima keadaan. Sama seperti Pompeii, banyak rumah penduduk yang dijadikan rumah bordil. Enggak cuma itu, cowok bangsa ini juga dibolehin memiliki budak seks untuk ngelampiasin hasratnya.


Terdengar lebih gila lagi ketika ada adat ekstrem untuk cowok yang baru menikah, yaitu ngelewatin malam pertama dengan cewek lain yang bukan istrinya. Karena ini, para cewek enggak bisa ngelawan..

3. Bangsa Sodom dan Gomorrah

Pasti sering dengar cerita tentang betapa amoralnya kedua bangsa ini. Di kitab suci Alquran atau pun Alkitab, juga dikisahkan. Tuhan menghukum kedua bangsa tersebut atas kemaksiatan yang mereka lakukan. Bangsa Sodom dan Gomorrah tinggal berdekatan dengan Laut Mati dengan peradaban yang makmur.

Penduduk Sodom dan Gomorrah terkenal dengan perilaku mereka yang amoral. Penduduk cowok dan ceweknya enggak menikah satu sama lain. Bahkan, hubungan sesama jenis udah bukan hal yang aneh lagi. Mereka bebas ngelakuin di tempat terbuka. Ada mitos, ketika ada pendatang yang tampan, dia bakal jadi rebutan para pria untuk diajak berhubungan seks, begitu sebaliknya.


Hingga akhirnya, kedua bangsa ini mengalami gempa besar. Seketika, Sodom dan Gomorrah hilang dari peta dunia.

4. Mesir Kuno

Bangsa yang memiliki budaya maksiat selanjutnya adalah Mesir Kuno. Mereka memang enggak melakukan hubungan badan di tempat umum dan mendirikan banyak rumah bordil seperti ketiga bangsa tadi. Lebih parah, penduduk Mesir Kuno udah terbiasa melakukan hubungan inses, yaitu hubungan dengan saudaranya sendiri. Berhubungan seks antara ibu dengan anak atau saudara dengan saudara yang lain jadi hal yang wajar dalam bangsa ini. Bisa dibilang, tatanan kekeluargaan penduduk Mesir sangat kacau. Yap, soalnya, seorang ibu posisinya bisa menjadi saudara, anak, atau bahkan istri.


Hubungan terlarang ini juga dicontoh oleh keluarga kerajaan. Sudah biasa kalau seorang raja menikah dengan adik kandungnya sendiri. Ini dilakukan agar keluarga kerajaan tetap mempertahankan keturunan spesial dari keluarga kerajaan. FYI, anak yang terlahir dari hubungan inses akan punya disabilitas fisik. Namun, hal itu enggak bikin kelakuan tersebut berhenti dilakuin, bahkan anak itu dianggap dewa.

5. India Kuno

Bangsa India Kuno emang jarang dikaitin dengan perilaku suka bermaksiat. Padahal, bangsa ini memang melakukan kemaksiatan. Cara mereka melakukan kemaksiatan terlihat “cantik”. Terlihat dari adanya pahatan-pahatan erotis pada sebagian besar candi di India. Pahatan-pahatan yang menunjukkan hal amoral terlihat dari relief yang menggambarkan aksi berhubungan badan secara beramai-ramai, termasuk dengan binatang. Relief tersebut merepresentasikan apa yang jadi kebiasaan penduduk saat itu.

Dec 8, 2017

Bintang Natal

Bintang Natal atau Bintang Betlehem adalah bintang yang hadir di langit, sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang Majus dari Timur untuk mencari Raja yang lahir di Israel yaitu Yesus Kristus. Bintang ini tercatat dalam Alkitab di Injil Matius sebagai kejadian alam yang menjadi pertanda akan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Sepanjang sejarah, banyak orang berusaha mencari tahu kira-kira bintang apakah yang dilihat orang Majus tersebut: Apakah bintang tersebut adalah sebuah kejadian alam yang benar-benar terjadi atau hanya sebuah mitos rohani yang merupakan sebuah tanda supranatural.

Pengamatan astronomi

Bintang yang dilihat oleh orang-orang Majus itu pun kemudian menimbulkan perdebatan selama berabad-abad.

Di Tiongkok, ahli perbintangan mencatat adanya sebuah komet yang sebentar kelihatan sebentar hilang selama sekitar 70 hari pada tahun 5 SM.

Pada tahun 1603 M, Johannes Kepler, seorang ahli astronomi Jerman dengan menggunakan teleskopnya berhasil mengamati sebuah konjungsi planet Yupiter dan Saturnus pada rasi bintang Pisces. Dan melalui perhitungan yang cermat Johannes Kepler menemukan bahwa konjungsi seperti ini pernah juga terjadi berabad sebelumnya, sekitar tahun 7 atau 6 SM. Selama bertahun-tahun temuan ini tidak dihargai.

Pada tahun 1925 ditemukan manuskrip-manuskrip kuno di sebuah bekas sekolah astrologi yang terkenal di Zippar, Babilonia, yang memang mencatat adanya pengamatan konjungsi planet Yupiter dan Saturnus pada rasi bintang Pisces selama sekitar 5 bulan pada tahun 7 SM.

Bintang Natal dalam Alkitab

Kutipan Matius 2:1-9: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: 
"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi (Kitab Mikha): Dan engkau Bethelem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel."
Dalam Alkitab tidak dijelaskan lebih dalam mengenai ciri-ciri bintang tersebut, namun dikatakan bahwa bintang tersebut tampak di sebelah barat dari tempat asal orang-orang Majus dan di sebelah selatan dari Yerusalem yaitu ke arah Betlehem, Yudea.

Teori komet, meteor dan supernova

Meteor

Meteor adalah kilatan cahaya di langit yang terjadi ketika debu-debu angkasa memasuki atmosfer Bumi dan terbakar. Umumnya meteor yang dilihat hanya seukuran pasir dan akan habis terbakar di atmosfer. Bila bintang natal adalah meteor yang dilihat oleh orang-orang Majus maka harus muncul di arah timur. Memang kemunculan meteor dapat dari arah mana pun dilihat dari muka Bumi. namun durasinya yang singkat biasanya hanya beberapa detik, membuatnya sukar dikesani sebagai “diam” di atas Kota Bethlehem oleh orang-orang Majus seperti pada alkitab. Bila dikaitkan dengan tradisi, penampakan meteor tidak pernah dianggap sebagai pertanda kelahiran calon pemimpin.

Nova dan supernova

Nova, berasal dari Nova Stella yang berarti "bintang baru", merupakan bintang yang cahayanya menjadi sangat terang secara tiba-tiba. Kini diketahui nova adalah bintang meledak. Terang cahaya nova bisa 50.000 kali lebih terang daripada Matahari dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan sebelum akhirnya meredup kembali. Peristiwa supernova jauh lebih dahsyat daripada nova. Bintang yang meledak bisa miliaran kali lebih terang daripada sebelumnya. Catatan astronomi menunjukkan, sejak penemuan teleskop tahun 1610 hingga kini, belum ditemukan supernova dalam galaksi kita, Bima Sakti.

Supernova terakhir di Bima Sakti ditemukan tahun 1054 (dicatat oleh astronom Cina dan Jepang), 1572 (diamati oleh Tycho Brahe, astronom Denmark), dan 1604 (diamati oleh Johannes Kepler). Dalam catatan astronomi Cina kuno tidak ditemukan supernova pada sekitar 5 SM, hanya sebuah nova pada sekitar tanggal 10 Maret-27 April 5 SM di rasi Capricornus (Kambing Laut). Nova ini bisa jadi yang dimaksud oleh orang-orang Majus sebagai bintang yang mereka lihat terbit di timur. Namun, Nova, seperti bintang-bintang lainnya, posisinya relatif tetap dan tidak akan tampak bergerak. Selain itu, penampakan nova di langit malam akan membuatnya menjadi objek yang mencolok dan mudah dikenali, sehingga semestinya tidak hanya orang majus yang memperhatikannya, tetapi semua orang saat itu pasti melihatnya.

Komet

Teori lain menyebutkan komet. Meskipun manuver yang diperlukan dalam syarat Bintang Natal dipenuhi bintang berekor ini, dalam berbagai budaya komet identik dengan pertanda buruk atau bencana. Jadi, sejumlah pakar beranggapan bahwa komet tidak mungkin sebagai Bintang Bethlehem. Namun, pada tahun 5 SM, catatan astronomi Tiongkok dan Korea melaporkan adanya sebuah komet yang dapat dilihat selama 70 hari (= 10 minggu) lamanya.
Laporan dari Tiongkok, yaitu Tawarikh “Ch'ien-han-shu” (Ho Peng-Yoke 20 katalog nomor 63 ), berbunyi demikian:
"Pada tahun kedua periode Ch'ien-p'ing, bulan kedua, sebuah "hui-hsing" muncul di Ch'ien-niu selama lebih dari 70 hari" 
Catatan ini dapat diterjemahkan:
“Selama interval antara 10 Maret dan 7 April 5 SM, sebuah "komet" yang kelihatan lebih dari 70 hari muncul dekat dengan Alpha dan Beta Capricornii” 
Catatan Tiongkok mempunyai istilah-istilah khusus untuk membedakan benda-benda langit. "Komet berekor" disebut "sui-hsing" atau "hui-hsing", artinya "bintang sapu", di mana "sapu" melambangkan "ekor komet". "Komet tanpa ekor" disebut "po-hsing", dan suatu "nova" disebut "k'o-hsing", artinya "bintang tamu". Laporan di atas menyatakan yang dilihat adalah sebuah “hui-hsing”, atau “bintang/komet berekor”, tetapi catatan selanjutnya mengandung elemen-elemen yang tidak konsisten dengan ciri-ciri komet. Misalnya, tawarikh tersebut menyatakan posisi benda langit tersebut tetap di satu tempat selama dua setengah bulan, tidak masuk akal bila itu sebuah komet. Dapat dibandingkan dengan laporan komet Halley ("po-hsing") pada tahun 12 SM yang sebenarnya redup dan tidak cukup menakjubkan, tetapi sangat rinci laporannya, dengan runtunan jalur pergerakannya di langit jelas dilaporkan. Sedangkan benda langit pada tahun 5 SM ini hampir tidak disebutkan detailnya, meskipun dilaporkan lebih terang dan ada ekornya. Biasanya pula komet yang terang dilaporkan pergerakannya, panjang ekornya, bentuk dan kadangkala warnanya pula. Namun, di sini tidak ada laporan semacam itu.

Selain laporan Tiongkok, ada catatan kedua yang lebih kontroversial ditemukan di Korea, dalam tulisan "Sejarah Tiga Kerajaan - Tawarikh Silla (Samguk Sagi)”, yang berbunyi:
“Tahun 54 Hyokkose Wang, bulan kedua, (hari) Chi-yu, sebuah "po-hsing" muncul di Ho-Ku”
Catatan Korea dari masa itu kurang detail dan kurang dapat dipercaya, nyata dari sejumlah inkonsistensi catatan ini jika dibandingkan dengan catatan Tiongkok. Penulis tanpa sadar mencatat 30 Februari. Sekarang dipahami bahwa "Chi-yu" seharusnya adalah "I-yu", sebuah karakter yang mirip dalam tulisan Tionghoa dan seringkali dirancukan. Demikian juga dicurigai bahwa tahun yang dicatat di Korea terlambat 1 tahun dari seharusnya. Jika dikoreksi demikian, maka dapat ditafsirkan:
“Pada tanggal 31 Maret 5 SM, sebuah bintang sapu muncul dekat dengan Altair”
Rasi bintang Tiongkok, Ho-Ku, termasuk Altair, yaitu bintang paling terang di daerah langit tersebut di antara bintang-bintang dari sisi selatan rasi bintang Aquila, yang berbatasan dengan Capricornus. Nyatanya di antara rasi-rasi bintang Tiongkok, Ho-Ku dan Chi’en-Niu, yang meliputi bintang-bintang di sisi paling utara Capricornus, terdapat tempat kosong yang jarang terlihat bintangnya. Dengan demikian Altair dan Alpha serta Beta Capricornii merupakan titik rujukan yang jelas di angkasa. Meskipun bintang itu terletak di sebelah selatan Aquila dan dekat Alpha serta Beta Capricornii, kemungkinan astronom Korea mengambil mudahnya dengan merujuk pada bintang Altair, yang lebih terang.

Dengan demikian dapat diperkirakan posisi bintang yang muncul kira-kira dalam wilayah dengan radius 5 derajat di sebelah selatan Aquila atau di sebelah utara Capricornus dan muncul di pertengahan sampai akhir bulan Maret 5 SM, mempunyai posisi rujukan kira-kira: "R.A. 18h30m, Dec. –12º (J2000)", yaitu antara Theta Aquilae dan Alpha Capricornii.

Pada bulan Maret/April rasi bintang Capricornus terbit di timur terlihat dari Arabia, Persia dan sekitarnya dan pertama kali tampak di fajar pagi hari. Hal ini cocok dengan yang disampaikan oleh orang-orang majus dari Timur yang mengatakan bahwa: "Kami melihat bintang-Nya di timur" atau ada terjemahan alternatif: "melihat bintang-Nya saat terbit di timur." Jika terjemahan ini benar, maka hal ini sesuai dengan catatan astronomi Tiongkok mengenai munculnya benda langit itu pada waktu pagi di arah timur.

Dalam catatan tersebut juga disebutkan bahwa bintang itu tampak terus menerus selama 70 hari, bukannya dilihat dua kali sebagaimana komet (sekali ke arah perihelion, sekali menjauhinya). Lamanya penampakan ini sesuai dengan perkiraan lamanya perjalanan para orang Majus itu, yaitu 1-2 bulan, dan kemungkinan pergerakan bintang itu dari timur ke selatan. Jadi, setelah orang-orang Majus tersebut melihat pertama kali setelah perihelion di timur, di Capricornus, pada pagi hari, dan bergerak ke arah barat daya (lebih ke selatan), mereka mengikutinya sampai ke Yerusalem (sebelah barat daya dari Persia), yang memakan waktu sekitar 1-2 bulan, dan melihat bintang itu di selatan dan akhirnya menghilang setelah 70 hari lebih.

Teori konjungsi planet Jupiter-Saturnus

Teori astronomi yang paling kuat mendekati adalah peristiwa konjungsi planet Jupiter-Saturnus. Sepanjang tahun 7 SM, terjadi 3 kali konjungsi yang melibatkan Jupiter dan Saturnus di rasi bintang Pisces (Ikan) dimulai dengan konjungsi pertama pada tanggal 29 Mei, kemudian diikuti konjungsi kedua pada 1 oktober dan yang ketiga 4 Desember. Setelah itu pada Februari 6 SM, terjadi lagi konjungsi antara Mars, Jupiter dan Saturnus yang terjadi setiap 805 tahun. Dalam konjungsi pertama pada tahun 7 SM, Jupiter dan Saturnus baru terbit setelah lewat tengah malam, sehingga akan tampak di arah timur sebelum Matahari terbit. Pada konjungsi kedua, kedua planet terbit saat Matahari terbenam dan akan terlihat sepanjang malam. Selang waktu terjadinya konjungsi memungkinkan para Majus melakukan perjalanan dari Timur menjumpai Herodes, setelah melihat bintangNya di timur (Matius 2:2).

Tak bisa dimungkiri kalau kelahiran seseorang pada masa itu seringkali dikaitkan dengan tanda-tanda tertentu di langit. Nah, pada masa itu konjungsi Yupiter (mag -2.5) dan Saturnus (mag 0.8) bisa dikatakan merupakan tanda ideal kehadiran raja baru. Yupiter dikenal sebagai “Planet of Kings” (Planet raja-raja) sementara Saturnus dikenal sebagai “Protector of Jews” (Pelindung bangsa Yahudi), memberi indikasi kedatangan “Raja yang akan melindungi seluruh bangsa Yahudi”.

Bagi astrolog zaman dahulu, rasi bintang Pisces (ikan) dikenal sebagai rumah bangsa Ibrani, Jupiter merupakan “ruler of the universe” (penguasa alam semesta) dan Saturnus diasosiasikan dengan Palestina. Hal ini memberi kesan kalau konjungsi tersebut merupakan pertanda “King of Israel and Ruler of a Universe about to be born in Israel” (Raja Israel dan penguasa alam semesta akan lahir di Israel). Yang perlu diingat dan ditandai, peristiwa konjungsi Yupiter Saturnus sangatlah jarang, dan hanya terjadi dalam interval waktu antara 40 - 338 tahun. Tentulah kejadian ini akan dianggap spektakuler oleh orang-orang yang mempelajari benda-benda langit dan mulai mengasosiasikannya dengan suatu kejadian. Bagi orang-orang Majus yang juga mengenali sejarah Bangsa Yahudi dan kepercayaannya. kejadian ini menjadi pertanda kalau Mesias yang dinubuatkan akan lahir dan menyelamatkan bangsa Yahudi.
"Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.”(Matius 2:9)
Setelah bertemu Herodes, orang-orang Majus kemudian menuju kota Betlehem kira-kira 10 kilometer (6,2 mi) di arah selatan Yerusalem. Dalam pengamatan mereka, bintang yang mereka lihat di Timur sudah bergerak mendahului mereka dan berhenti di atas kota Betlehem. Pada pertemuan pertama Yupiter dan Saturnus memang terlihat di timur setelah lewat tengah malam, namun saat terjadi konjungsi kedua dan ketiga (Oktober dan Desember 7 SM) keduanya akan tampak berada di zenith (titik tertinggi yang dicapai dalam gerak harian benda langit) setelah matahari terbenam. Hal inilah yang menyebabkan kedua planet ini seolah-olah berhenti di atas langit kota Betlehem, memberi tanda pada orang Majus kalau sang Raja itu ada di sebuah rumah tertentu.

Bukti arkeologis dan budaya

Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan "di Timur", en te anatole. Artinya, bisa diterjemahkan juga: "yang terbit sangat terang". In its rising. Barangkali ini mencerminkan pengalaman dahsyat orang Majus karena sangat terang benderangnya bintang itu. Sangat pantaslah, bahwa sekian trilyun kali cahaya matahari harus dipancarkan untuk menandai kelahiran "Sang Terang Dunia". Orang-orang Majus itu mesti mencari makna astrologisnya.

Kalau diterima bahwa bintang itu adalah konjungsi planet Yupiter dan Saturnus pada tahun 7 SM, maka ini cocok dengan lempengan batu ditemukan di Menara kuno Zippar, di tepi sungai Efrat. Jadi tempatnya juga sekaligus cocok dengan asal orang-orang Majus tadi. Bunyi lempengan batu itu, dalam bahasa Babel kuno: MULLU-BABA U KAIWANU INA ZIPPATI. Artinya: "Yupiter dan Saturnus dalam rasi bintang Pisces." Perhitungan tanggalnya juga cocok, Desember 7 SM. Bukti-bukti arkeologi lain juga dijumpai dalam sebuah papyrus dari tahun 42 Masehi, yang juga mencatat konjungsi 2 planet itu. Sekarang papyrus ini disimpan di Berlin. Kembali ke lempengan Zippar dan hubungannya dengan orang Majus. Lempengan Zippar ini pertama kali ditemukan oleh seorang sarjana Jerman bernama P.Scanable pada tahun 1925. Menurut Scanable, di kota Zippar terdapat sekolah Astrologi yang terkenal pada zaman Babel kuno.

Lempengan Zippar menyebut dalam bahasa Babel KAIWANU, istilah Aramnya: KAWBAH. Jadi mungkin ucapan orang Majus itu mendekati dialeknya dengan terjemahan Peshitta: Hazin Geir Kawbah be Madintah. "Kami telah melihat bintangnya yang terbit di Timur". Dalam proses pertukaran bunyi, the ponetic corespondence, itu lazim terjadi dalam kajian bahasa serumpun. Kaiwanu, menjadi: Kawbah, dalam bahasa Aram. Dan paralel istilah bahasa Arabnya, barangkali: Kawakib, Kawkabat. Artinya sama, bintang atau sebuah bintang. Nah, lebih menarik lagi kalu kita coba melacak kira-kira adakah makna tertentu dalam "simbols of Babylonian Astrology". Ternyata ada. Bintang-bintang itu, dalam astrologi Babel kadang-kadang diidentikkan dengan bangsa-bangsa tetangga mereka, selain dikaitkan dengan makna lain. Dari hasil penelitian naskah-naskah kuno agama Babel, Pisces itu lambang the End Times, "zaman akhir". Jupiter sebagai planet terbesar, the royal planet in Babylonian astrology, melambangkan The Ruler, Raja atau Penguasa. Sedangkan Saturnus melambangkan Negara Palestina. Jadi, berdasarkan cara berfikir orang Babel, fenomena perbintangan itu dapat diartikan:"Seorang Raja, Penguasa telah datang pada zaman akhir ini, di Palestina".

Teori konjungsi Jupiter-Regulus

Konjungsi ini muncul pada kisaran tahun 3 SM - 2 SM di saat perayaan Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashanah. Saat itu di bulan September saat orang Majus mengamati langit, tampak Jupiter memulai proses konjungsinya dengan bintang Regulus.
Regulus berasal dari kata Regal, orang Babilon menyebut Regulus “Sharu”, yang berarti raja. Orang Romawi menyebutnya Rex, yang juga berarti raja. Dan pada awal tahun Yahudi, “Planet of Kings” bertemu dengan “Star of Kings”. Yang menarik, saat itu Jupiter bergerak berlawanan dengan gerak bintang. Gerak inilah yang kita kenal sebagai gerak retrograde. Mungkin gerak retrograde Jupiter inilah yang menarik perhatian orang Majus, karena setelah mengalami konjungsi dengan jarak terdekatnya dari Regulus, Jupiter memasuki masa gerak retrogradenya. Tapi kemudian, Jupiter berubah pikiran dan kembali bergerak mendekati Regulus dan mengalami konjungsi kedua. Setelah pertemuan kedua, Jupiter kembali berbalik arah dan bertemu untuk ketiga kalinya dengan Regulus. Maka terjadilah triple conjunction. Kejadian seperti ini sangatlah jarang, dan setelah beberapa bulan yang terlihat Raja Planet ini sedang menari halo di atas Regulus. Laksana penobatan sang raja.
"Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” " (Wahyu 5:5)
Bukan hanya itu. Pertemuan Jupiter dan Regulus sendiri berlangsung di rasi bintang Leo, yang berlambang singa dan diasosiasikan dengan bangsa Yehuda. Sedangkan, Singa Yehuda sendiri merupakan perlambangan dari Yesus, Mesias yang akan datang dari bangsa Yehuda. Fenomena alam ini sepertinya memberi pertanda akan kedatangan Raja Yahudi. Inilah yang bisa jadi menjadi alasan orang Majus mengikuti bintang terang tersebut menuju Bethlehem menemui Yesus. Tuhan memakai kejadian sehari-hari yang biasa ditemui orang Majus untuk membawa mereka datang kepada Kristus. Kejadian alam yang diasosiasikan dengan kepercayaan setempat membawa kesimpulan akan kelahiran seorang Raja di tengah mereka.

Makna bintang Natal


Kisah Bintang Natal sampai saat ini masih tetap menjadi misteri yang menarik. Belum ada kesepakatan, teori astronomi mana yang paling tepat menggambarkan peristiwa Bintang Natal ini. Namun di antara misteri dan ketidakpastian itu satu hal yang pasti, kemuliaan Allah dinyatakan di antara bangsa-bangsa lewat kehadiran peristiwa alam, budaya, dan mitologi masyarakat zaman itu yang menghantarkan orang-orang majus menemukan Raja yang baru lahir yaitu Yesus Kristus.

Malam Kudus

"Malam Kudus" adalah sebuah Kidung Natal tradisional yang populer. Kata-kata lagu ini aslinya yang berjudul Stille Nacht ditulis dalam bahasa Jerman oleh seorang pastor Austria Fr. Josef Mohr sementara lagunya disusun oleh pemimpin paduan suara Austria Franz X. Gruber. Versi melodinya yang biasanya dinyanyikan sekarang agak berbeda sedikit (khususnya dalam bagian akhirnya) dari lagu aslinya karangan Gruber.

Sejarah

Lagu ini pertama kali dibawakan di Nicola-Kirche (Gereja St. Nikolas) di Oberndorf, Austria pada 25 Desember 1818. Sebelumnya, Mohr sudah menyusun kata-katanya pada 1816, tetapi pada malam Natal ia membawanya ke Gruber dan memintanya untuk menyusun melodinya serta iringan gitarnya untuk lagu itu. Hal ini disebabkan karena orgel di Nicola-Kirche sedang rusak malam itu. Mulanya, Gruber tidak setuju dengan usul Mohr karena ia khawatir bahwa orang-orang yang datang ke gereja itu tidak akan menyukai musiknya yang dimainkan dengan gitar. Tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Gruber akhirnya menerima usul Mohr dan mengerjakan musiknya. Ketika musiknya selesai disusun, misa hanya tinggal beberapa jam saja. Mulanya orang-orang yang datang ke gereja itu terheran-heran mendengarkan musik itu dibawakan dengan gitar, namun mereka segera terpesona oleh melodinya yang indah.

Nicola-Kirche dihancurkan pada awal 1900-an karena rusak akibat banjir dan karena pusat kota itu dipindahkan ke hulu sungai yang lokasinya lebih aman, dengan sebuah gereja baru yang dibangun di sana dekat jembatan yang baru. Sebuah kapel kecil, yang disebut "Stille-Nacht-Gedächtniskapelle" (Kapel Peringatan Malam Kudus), dibangun di tempat gereja lama yang sudah dibongkar dan sebuah rumah di dekatnya dijadikan museum, menarik banyak wisatawan dari seluruh dunia sepanjang tahun, namun terutama di bulan Desember.

Manuskrip aslinya telah hilang, namun sebuah manuskrip yang ditemukan pada 1995 ditulis tangan oleh Mohr dan diperkirakan oleh para peneliti berasal dari sekitar tahun 1820. Manuskrip ini memperlihatkan bahwa Mohr menulis kata-katanya pada 1816 ketika ia ditempatkan di sebuah gereja peziarah di Mariapfarr, Austria, dan bahwa musiknya dikarang oleh Gruber pada 1818. Ini adalah naskah tertua yang ada dan satu-satunya yang ditulis oleh Mohr. Komposisi Gruber dipengaruhi oleh tradisi musik daerah pedesaan tempat tinggalnya. Melodi Malam Kudus mirip dengan aspek-aspek musik rakyat dan yodeling Austria.

Sebuah cerita populer mengklaim bahwa setelah dibawakan, lagu Natal ini segera terlupakan. Baru ketika seorang reparasi orgel menemukan naskah ini pada 1825 dan menghidupkannya kembali. Namun Gruber menerbitkan berbagai aransemen dari lagu ini sepanjang hidupnya, dan kini kita memiliki kumpulan aransemen Mohr (sekitar 1820) yang disimpan di Museum Carolino Augusteum di Salzburg.