Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 17, 2017

Kisah Nuh Mabuk Tanpa Sehelai Pakaian

Penggunaan kosa kata literal tidak dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa penafsir yang menggunakan pemahaman tersebut tidak menyadari atau bertahan terhadap tambahan makna. Tapi bukan berarti bahwa mereka sangat tidak nyaman atau bahkan menentang keras, metafora sepenuhnya tidak terjadi dalam sejarah. Intinya, setiap orang berhak untuk memeriksa bukti dan mencapai kesimpulan sendiri, sejauh mana mitologi kuno harus dipahami secara harfiah.

Banyak kasus sejarah yang menggunakan pemahaman harfiah pada kitab suci untuk mendukung kepentingan besar, pelanggaran sistem hukum universal alam, juga termasuk kekejaman yang dapat dilihat pada definisi modern genosida, contohnya antara lain: 
  • Konversi Kristen yang dilakukan tentara Charlemagne di Eropa Utara 
  • Penghancuran tempat ibadah dan budaya, kekejaman para penjelajah Eropa pada masyarakat asli Amerika 
  • Sistem perbudakan antargenerasi dengan metode perdagangan budak Atlantik, Amerika, yang ditemukan Columbus dan para sahabatnya.
Contoh lain yang menggunakan pemahaman hermeneutika literal, tetulis dalam kitab Kejadian yang melibatkan Sem, Ham, Yafet dan ayahnya (Nuh) yang pada waktu itu dianggap 'mabuk'. Menurut penafsiran bahwa kisah ini menggunakan metafora yang disalahgunakan untuk memecah belah manusia di masa lalu. Pendekatan sastra literal menggambarkan Sem, Ham dan Yafet sebagai individu historis, dimana mereka juga mewakili silsilah keturunan berbagai kelompok (suku bangsa) yang hidup saat ini.
Dan Nuh menjadi petani, dan dia menanam kebun anggur. Dan dia minum anggur, kemudian mabuk; dia ditemukan dalam tendanya. Dan Ham, ayah Kanaan, melihat aurat ayahnya, mengatakan kepada dua saudaranya. Sem dan Yafet mengambil pakaian dan meletakkannya di atas kedua bahu ayahnya, dan berada di belakang menutupi ketelanjangan ayah mereka; dan wajah mereka berpaling dan tidak melihat ketelanjangan ayahnya. Dan Nuh sadar dari mabuknya, dan dia mengetahui apa yang anaknya lakukan kepadanya (Ham, berada didepannya). Dan Nuh berkata, Terkutuklah Kanaan; hamba yang harus menjadi hamba kepada saudara-saudaranya. Dan dia berkata, Terpujilah Tuhan, Allah Sem; dan Kanaan akan menjadi hambanya. Allah akan memperbesar Yafet, dan dia akan tinggal di tenda-tenda Sem; dan Kanaan akan menjadi hambanya.
Pemahaman metafora seharusnya menghasilkan pesan yang menyatukan umat manusia, daripada memecah kelompok manusia melalui pemahaman literalis seringkali dilakukan. Kisah Sem, Ham dan Yafet ditemukan dalam kitab Kejadian, ayat-ayat ini telah digunakan pada masa lalu untuk menyatakan bahwa Hamitic atau orang-orang yang dianggap sebagai keturunan Ham yang telah dikutuk. Pemahaman ini telah lama digunakan dan disalah artikan, bahwa mereka merupakan suku yang melayani atau budak.

Penafsiran Nuh Mabuk Tanpa Sehelai Pakaian


Beberapa sejarawan menganggap keturunan Ham dan berkembang menjadi penduduk non-Israel yang hidup di tanah Kanaan. Setelah banjir besar, Nuh menanam kebun anggur dan dia dianggap sebagai manusia pertama yang minuman anggur dan mabuk. Ham mendatangi ayahnya yang tertidur dan mabuk tanpa busana, dan mengatakan kepada saudaranya Sem dan Yafet. Kedua saudara Ham memasuki tenda untuk membantunya menutupi aurat ayah mereka, berjalan mundur agar tak melihat peristiwa itu. Ketika Nuh terbangun dari tidur, dia melihat Ham dan mengutuk keturunan Ham (Kanaan) kemudian memberkati Sem dan Yafet. Dalam hal ini, Ham melihat aurat ayahnya dianggap sebagai kejahatan yang mengerikan sehingga pemahaman tentang keturunan Ham (Kanaan) diartikan sebagai perbudakan abadi.

Pemahaman lain dari kisah yang melibatkan Ham, Kanaan dan ketelanjangan Nuh, dianggap sebagai pembenaran untuk penaklukan Israel, orang-rang Kanaan dan orang Filistin. Sejak zaman Nuh, keturunan Sam (Israel) ditakdirkan untuk menguasai keturunan Ham (Kanaan) dan Yafet (orang Filistin). Tapi orang-orang Filistin ditoleransi, mereka tinggal di tenda-tenda (perlindungan, atau membantu) Israel, sementara orang Kanaan tidak. 

Menurut sebagian besar interpretasi para rabi kuno, peristiwa kutukan Ham mengisyaratkan perselingkuhan dimana Ham mengebiri atau memperkosa ayahnya, hingga Nuh marah dan mengutuknya. Sejak Ham melakukan tindakan ini, tidak mungkin ada anak Nuh yang lain setelahnya. Kutukan Nuh telah membuat anak-anak Ham (Kanaan) menjadi budak yang melayani kedua saudaranya. Para rabi kuno beranggapan bahwa mungkin Ham mencabuli ayahnya dan tidak mengebiri, meskipun mereka tidak yakin mengapa perilaku ini mengakibatkan kutukan Kanaan.

Dalam pemahaman orang-orang Kristen kuno, menurut mereka bahwa dosa Ham tidak begitu besar karena tidak menghormati ayahnya. Ham menertawakan ayahnya tanpa busana dan mengolok-olok ayahnya di depan umum. Pendapat para uskup abdak ke-4 M mengatakan, ketika Nuh mabuk anggur, dia diejek, asumsi ini mengisyaratkan hal yang sama seperti Kristus (Isa) yang dicerca. Ham membuka aibnya sendiri karena tertawa saat melihat ayahnya telanjang, tetapi kedua saudaranya menerima karunia berkat karena menghormati ayah mereka. Pemahaman ini menitik beratkan pada adab, dimana kedua saudara Ham jauh lebih mengerti tentang makna utusan Tuhan. 

Sebaliknya, pembaca kontemporer lebih sering terbujuk teori yang mengatakan bahwa Ham mengalami pelecehan seksual. Mereka berpendapat bahwa Ham terlibat hubungan sedarah. Penafsiran ini berdasarkan ungkapan Ibrani dalam konteks Alkitab lainnya disebutkan 'melihat ketelanjangan ayahnya'. Ketelanjangan yang dimaksud merupakan kata-kata halus untuk menyebutkan aktivitas seksual terlarang, dimana orang-orang Israel diperintahkan untuk tidak mengungkap aurat (aib) keluarganya, tersebut dalam Kitab Imamat (Leviticus 18: 6-8):
Tak satu pun dari kalian akan mendekati orang terdekat dari kerabat untuk mengungkap auratnya: Akulah Tuhan. Kau tidak akan mengungkap aurat ayahmu, yang merupakan aurat ibumu... kau tidak akan mengungkap aurat isteri ayahmu; itu adalah aurat ayahmu...
Dalam Kitab Imamat, aktivitas seksual yang tidak pantas diidentifikasi 'ketelanjangan' menggambarkan inces (hubungan sedarah). Jika seorang pria mengambil adiknya, putri ayahnya atau anak ibunya, dan melihat dirinya dalam 'ketelanjangan', dan dia sebenarnya melihat ketelanjangannya, itu merupakan aib, dan mereka harus disingkirkan. Dengan melihat atau mengungkap salah satu aurat, juga merupakan 'ketelanjangan seorang istri', ketelanjangan ibu dimiliki ayah dan bukan milik seorang anak. 

Penafsiran lain, bahwa bahwa Ham terlibat hubungan sedarah tidak dengan ayahnya, tetapi dengan ibunya. Aurat seorang ibu yang diidentifikasi sebagai ketelanjangan seorang ayah. Bahwa hubungan Ham dengan ibunya telah mempermalukan atau menelanjangi ayahnya. Nuh mabuk dan tersadar, kemudian mengutuk keturunan Ham (Kanaan), seperti Yhwh (Yahweh) mengutuk keturunan Daud dan perzinahan Batsyeba yang menyebabkan kematian anak pertama mereka.

Siapakah Keturunan Ham, Kanaan?

Sebuah peta pernah digambarkan Charles Monin, map itu menggambarkan perjalanan Nuh di Eropa dan keturunannya menyebar di dunia, Sam menyebar diwilayah yang bergaris merah. Keturunan Yafet tersebar diwilayah bergaris hijau, dan keturunan Ham tersebar diwilayah bergaris biru. Tapi menurut Mathisen, peta ini berdasarkan hermeneutika literalis sesat yang akan menimbulkan kesalahan pemahaman dimasa mendatang.

Menurut David Mathisen tentang fakta bahwa Sam, Ham dan Yafet, adalah penggambaran tokoh dari langit dan bukan manusia dalam sejarah literal. Salah satu bukti terlihat dalam kitab suci yang menyebutkan bahwa manusia keturunan dari makhluk yang hidup dari luar Bumi. Maka ajaran ini menyiratkan bahwa manusia terhubung dengan langit dan bintang, dan  ekstensi manusia terhubung ke semua alam semesta.
Dengan kata lain, bahwa setiap manusia pernah berada di 'alam semesta kecil' yang berisi seluruh alam semesta. Hal ini terlihat dalam ucapan 'Namaste' serta kata-kata kuno dan isyarat tangan (yang memohon) ketika mengucapkan kata 'Amin'.
Jika teks dan naskah suci mengatakan bahwa semua manusia berasal dari 'bintang' atau dari alam yang jauh dari luar Bumi, maka secara metaforis mengajarkan sesuatu tentang kosmologi alam semesta dan tentang keberadaan manusia itu sendiri. Dapat juga diartikan, untuk mengajarkan keberadaan dunia roh dari mana manusia dan segala sesuatu materi di dunia telah diproyeksikan (dengan cara apapun dan tak mampu dijelaskan). Setiap orang, makhluk hidup laun dan alam materi, yang pernah kita temui setiap saat mengandung unsur 'percikan ilahi'. Apa yang disebutkan Mathisen, secara tak langsung mengatakan bahwa Tuhan sedang mengawasi setiap pergerakan dan perbuatan manusia tanpa terlewatkan sedikitpun, konsep yang hampir sama seperti sufisme.

Konsep ini juga sudah dimulai sejak abad ke-7 M yang ditulis oleh beberapa penulis muslim yang menggambarkan budaya perbudakan Afrika berkulit hitam. Kutukan Ham ditafsirkan dengan kegelapan dan perbudakan yang didasarkan pada mitos. Menurut Muhammad bin Jarir al-Tabari, Ibnu Khaldun, dan kitab Zanj, semua berpandangan bahwa efek dari kutukan Nuh pada keturunan Ham termasuk kegelapan, perbudakan, dan persyaratannya menegaskan bahwa rambut tidak tumbuh melewati telinga.  
Semua ini ditulis penulis muslim walaupun fakta sejarah tentang Nuh mabuk tidak ditemukan dalam Quran, literatur Islam menyatakan bahwa Nuh merupakan nabi Allah yang sempurna. Sementara penafsiran pada umumnya merujuk pada keturunan Ham dipertahankan dalam literatur Yudaisme, terutama karena keturunan Ham terletak di benua Afrika yaitu, Misraim ayah orang Mesir, Cush orang Etiopia, dan Phut di Libya.
Apa makna dari mabuk dan 'ketelanjangan' yang dialami Nuh? Dari teks dan naskah yang mungkin bisa diterima dan dipahami, apakah mungkin seorang utusan Allah mabuk berat tanpa menggunakan pakaian? Penggunaan kosa kata ini sangat mendalam, mabuk diinterpretasikan seperti halnya pemahaman 'Musa tak sadarkan diri'. Ketika Nuh mengeluarkan perkataan Tuhan dan mengutuk perbuatan Ham yang sudah dianggap berdosa dan tidak lebih beradap dari kedua saudaranya, sehingga sastra menuliskan 'Nuh mabuk' sebagai ungkapan yang tidak bisa dikendalikan Nuh. Metafora ini menggambarkan Nuh telah menerima aib (ketelanjangan) dengan mengutuk Ham, jadi sebenarnya dia tidak telanjang seperti penafsiran literal pada umumnya.

Sem

Salah satu di antara tiga putra Nuh; dari mereka ini ”seluruh penduduk bumi tersebar luas” setelah Air Bah seluas dunia. Kej 6:10; 9:18, 19.

Meskipun ketiga putra itu secara konsisten disebutkan dengan urutan ”Sem, Ham, dan Yafet”, urutan kelahiran mereka kurang dapat dipastikan. Fakta bahwa Sem disebutkan pada urutan pertama bukan petunjuk yang pasti bahwa Sem adalah putra sulung Nuh, karena putra sulung Sem sendiri (Arpakhsyad) disebutkan pada urutan ketiga dalam silsilah-silsilah. (Kej 10:22; 1Taw 1:17) Teks Ibrani asli Kejadian 10:21 dapat diterjemahkan menjadi lebih dari satu versi; beberapa terjemahan menyebut Sem sebagai ”adik dari Yafet, putra sulung [”yang tua”, TL, ”lebih tua”, KJ]”, sedangkan yang lain-lain menyebut dia ”abang Yafet”. (TB, BIS, AT, AS, Dy, RS, JB, Ro) Terjemahan-terjemahan kuno juga berbeda—Septuaginta dan terjemahan karya Simakhus serta Targum Onkelos menyebutkan Yafet sebagai yang lebih tua, sedangkan Pentateukh Samaria, Vulgata Latin, dan terjemahan-terjemahan bahasa Siria menyatakan Sem sebagai abang Yafet. Akan tetapi, catatan selanjutnya dalam Alkitab memberikan banyak bukti bahwa Sem mungkin adalah putra Nuh yang kedua, yang lebih muda daripada Yafet.

Catatan menunjukkan bahwa Nuh mulai memperanakkan putra-putra setelah berusia 500 tahun (2470 SM), dan Air Bah terjadi ketika ia berusia 600 tahun. (Kej 5:32; 7:6) Sem sudah menikah pada waktu Air Bah (Kej 6:18), tetapi dikatakan bahwa ia memperanakkan putra pertamanya, Arpakhsyad, dua tahun setelah Air Bah (2368 SM) ketika ia, Sem, berusia 100 tahun. (Kej 11:10) Ini berarti Sem lahir ketika Nuh berusia 502 tahun (2468 SM); dan karena Ham tampaknya disebut sebagai ’putra bungsu’ (Kej 9:24), masuk akal jika Yafet adalah putra pertama yang diperanakkan Nuh ketika berusia 500 tahun.

Setelah lahirnya Arpakhsyad, Sem memperanakkan putra-putra lain (dan juga putri-putri), termasuk Elam, Assyur, Lud, dan Aram. (Kej 10:22; 11:11) Setelah Aram, kisah yang sejajar di 1 Tawarikh 1:17 juga menyebutkan ”Uz, Hul, Geter, dan Mas”, tetapi di Kejadian 10:23 diperlihatkan bahwa mereka adalah putra-putra Aram. Jadi, bukti berdasarkan Alkitab dan sumber sejarah lain menunjukkan bahwa Sem adalah leluhur bangsa Semitik: orang Elam, orang Asiria, orang Khaldea masa awal, orang Ibrani, orang Aram (atau Siria), berbagai suku Arab, dan mungkin orang Lidia dari Asia Kecil. Ini berarti bahwa keturunan Sem terutama berdiam di sudut barat daya benua Asia, yaitu di sebagian besar daerah Bulan Sabit Subur dan menduduki banyak bagian di Sem. Arab Lihat artikel-artikel di bawah nama putra-putra Sem.

Ketika Sem dan saudaranya, Yafet, menutupi aurat Nuh, ayah mereka, sewaktu Nuh mabuk karena anggur, mereka tidak hanya memperlihatkan respek yang sepatutnya sebagai anak, tetapi juga respek kepada pribadi yang telah Allah gunakan untuk menyelamatkan mereka selama Air Bah. (Kej 9:20-23) Setelah itu, dalam berkat yang diucapkan Nuh, ditunjukkan bahwa keturunan Sem khususnya akan mendapat perkenan Allah dan akan berperan dalam penyucian nama Allah, sebab Nuh menyebut Yehuwa sebagai ”Allah Sem”. (Kej 9:26) Dari Sem, melalui putranya, Arpakhsyad, muncullah Abraham, dan kepadanya diberikan janji mengenai Benih yang melaluinya semua keluarga di bumi akan memperoleh berkat. (1Taw 1:24-27; Kej 12:1-3; 22:15-18) Ramalan Nuh bahwa Kanaan akan menjadi ”budak” Sem digenapi sewaktu orang Israel, yang termasuk bangsa Semitik, menaklukkan orang Kanaan beserta tanah mereka.Kej 9:26.

Sem hidup 500 tahun setelah memperanakkan Arpakhsyad, dan mati pada usia 600 tahun. (Kej 11:10, 11) Jadi, ia mati kira-kira 13 tahun setelah Sara mati (1881 SM) dan sepuluh tahun setelah Ishak menikah dengan Ribka (1878 SM). Mengingat hal ini, ada pendapat bahwa Sem mungkin adalah Melkhizedek (artinya ”Raja Keadilbenaran”), raja-imam yang kepadanya Abraham membayar sepersepuluhan. (Kej 14:18-20) Akan tetapi, catatan Alkitab tidak mengatakan hal ini, dan rasul Paulus memperlihatkan bahwa tidak ada silsilah atau keterangan penting lain mengenai Melkhizedek, sehingga dia cocok untuk menggambarkan Kristus Yesus, yang adalah Raja-Imam untuk selamanya. Ibr 7:1-3.

Jan 6, 2017

Dinasti Ptolemeus

Pada tahun 332 SM, Alexander yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah. Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah. Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus.
Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir. Penguasa dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Beberapa tradisi akhirnya bergabung. Dewa-dewa Yunani dan Mesir disinkretkansebagai dewa gabungan (contoh: Serapis). Bentuk skulptur Yunani Kuno juga memengaruhi motif-motif tradisional Mesir. Meskipun telah terus berusaha memenuhi tuntutan warga, dinasti Ptolemeus tetap menghadapi berbagai tantangan, seperti pemberontakan, persaingan antar keluarga, dan massa di Iskandariyah yang terbentuk setelah kematianPtolemeus IV. Lebih lagi, bangsa Romawi memerlukan gandum dari Mesir, dan mereka tertarik akan situasi politik di negeri Mesir. Pemberontakan yang terus berlanjut, politikus yang ambisius, serta musuh yang kuat di Suriah membuat kondisi menjadi tidak stabil, sehingga bangsa Romawi mengirim tentaranya untuk mengamankan Mesir sebagai bagian dari kekaisarannya.

Mesir menjadi provinsi Kekaisaran Romawi pada tahun 30 SM setelah Oktavianus berhasil mengalahkan Mark Antony dan Ratu Cleopatra VII dalamPertempuran Actium. Romawi sangat memerlukan gandum dari Mesir, dan legiun Romawi, di bawah kekuasaan praefectus yang ditunjuk oleh kaisar, memadamkan pemberontakan, memungut pajak yang besar, serta mencegah serangan bandit.

Meskipun Romawi berlaku lebih kasar daripada Yunani, beberapa tradisi, seperti mumifikasi dan pemujaan dewa-dewa, tetap berlanjut. Seni potret mumi berkembang, dan beberapa kaisar Romawi menggambarkan diri mereka sebagai firaun (meskipun tidak sejauh penguasa-penguasa dinasti Ptolemeus). Pemerintahan lokal diurus dengan gaya Romawi dan tertutup dari gaya Mesir asli.

Pada pertengahan abad pertama, Kekristenan mulai mengakar di Iskandariyah. Agama tersebut dipandang sebagai kultus lain yang akan diterima. Akan tetapi, Kekristenan pada akhirnya dianggap sebagai agama yang ingin menggantikan paganisme dan mengancam tradisi agama lokal, sehingga muncul penyerangan terhadap orang-orang Kristen. Penyerangan terhadap orang Kristen memuncak pada masa pembersihan Diokletianus yang dimulai tahun 303. Akan tetapi, Kristen berhasil menang. Pada tahun 391, kaisar Kristen Theodosius memperkenalkan undang-undang yang melarang ritus-ritus pagan dan menutup kuil-kuil. Iskandariyah menjadi latar kerusuhan anti-pagan yang besar. Akibatnya, budaya pagan Mesir terus mengalami kejatuhan. Meskipun penduduk asli masih mampu menuturkan bahasa mereka, kemampuan untuk membaca hieroglif terus berkurang karena melemahnya peran pendeta kuil Mesir. Sementara itu, kuil-kuil dialihfungsikan menjadi gereja, atau ditinggalkan begitu saja

Kerajaan Baru

Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas pengaruh firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Firaun-firaun Kerajaan juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun juga membangun monumen untuk memuliakan pencapaian mereka sendiri, baik nyata maupun imajiner. Firaun perempuan Hatshepsut menggunakan propaganda semacam itu untuk mengesahkan kekuasaannya. Masa kekuasaannya yang berhasil dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Punt, kuil kamar mayat yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak.

Sekitar tahun 1350 SM, stabilitas Kerajaan Baru terancam ketika Amenhotep IV naik tahta dan melakukan reformasi yang radikal dan kacau. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten. Akhenaten memuja dewa matahari Aten sebagai dewa tertinggi. Ia lalu menekan pemujaan dewa-dewa lain. Akhenaten juga memindahkan ibukota ke kota baru yang bernama Akhetaten (kini Amarna). Ia tidak memperdulikan masalah luar negeri dan terlalu asyik dengan gaya religius dan artistiknya yang baru. Setelah kematiannya, kultus Aten segera ditinggalkan, dan firaun-firaun selanjutnya, yaitu Tutankhamun, Ay, dan Horemheb, menghapus semua penyebutan mengenai bidaah Akhenaten.

Ramses II naik tahta pada tahun 1279 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada firaun-firaun lain dalam sejarah. Sebagai seorang pemimpin militer yang berani, Ramses II memimpin tentaranya melawan bangsa Het dalam pertempuran Kadesh. Setelah bertempur hingga mencapai kebuntuan (stalemate), ia menyetujui traktat perdamaian pertama yang tercatat sekitar 1258 SM.

Kekayaan menjadikan Mesir sebagai target serangan, terutama oleh orang-orang Laut dan Libya. Tentara Mesir mampu mengusir serangan-serangan itu, namun Mesir akan kehilangan kekuasaan atas Suriah dan Palestina. Pengaruh dari ancaman luar diperburuk dengan masalah internal seperti korupsi, penjarahan makam, dan kerusuhan. Pendeta-pendeta agung di kuil Amun, Thebes, mengumpulkan tanah dan kekayaan yang besar, dan kekuatan mereka memecahkan negara pada masa Periode Menengah Ketiga

Amenemhat III, penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan.

Firaun Kerajaan Pertengahan berhasil mengembalikan kesejahteraan dan kestabilan negara, sehingga mendorong kebangkitan seni, sastra, dan proyek pembangunan monumen. Mentuhotep II dan sebelas dinasti penerusnya berkuasa dari Thebes, tetapi wazir Amenemhat I, sebelum memperoleh kekuasaan pada awal dinasti ke-12 (sekitar tahun 1985 SM), memindahkan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Dari Itjtawy, firaun dinasti ke-12 melakukan reklamasi tanah dan irigasi untuk meningkatkan hasil panen. Selain itu, tentara kerajaan berhasil merebut kembali wilayah yang kaya akan emas di Nubia, sementara pekerja-pekerja membangun struktur pertahanan di Delta Timur, yang disebut “tembok-tembok penguasa”, sebagai perlindungan dari serangan asing.

Maka populasi, seni, dan agama negara mengalami perkembangan. Berbeda dengan pandangan elitis Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami peningkatan ungkapan kesalehan pribadi. Selain itu, muncul sesuatu yang dapat dikatakan sebagai demokratisasi setelah akhirat; setiap orang memiliki arwah dan dapat diterima oleh dewa-dewa di akhirat. Sastra Kerajaan Pertengahan menampilkan tema dan karakter yang canggih, yang ditulis menggunakan gaya percaya diri dan elok,  sementara relief dan pahatan potret pada periode ini menampilkan ciri-ciri kepribadian yang lembut, yang mencapai tingkat baru dalam kesempurnaan teknis.

Penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan, Amenemhat III, memperbolehkan pendatang dari Asia tinggal di wilayah delta untuk memenuhi kebutuhan pekerja, terutama untuk penambangan dan pembangunan. Penambangan dan pembangunan yang ambisius, ditambah dengan meluapnya sungai Nil, membebani ekonomi dan mempercepat kemunduran selama masa dinasti ke-13 dan ke-14. Semasa kemunduran, pendatang dari Asia mulai menguasai wilayah delta, yang selanjutnya mulai berkuasa di Mesir sebagai Hyksos