Seusai Perang Peloponnesos, semua kota di Yunani mengalami kerusakan dan kemiskinan. Akibatnya, banyak orang Yunani yang menjadi tentara bayaran bagi Persia. Sementara sebagian lainnya berupaya membangun kembali kota-kota mereka. Pada masa inilah muncul Sokrates dan muridnya Plato, keduanya merupakan filsuf besar.
Di sebelah utara Yunani terdapat sebuah negara yang disebut Makedonia. Rajanya, Philippos, menyadari bahwa Yunani sedang lemah. Ia pun mmeutuskan untuk menyerang Yunani dan berhasil merebut satu per satu kota Yunani. Setelah Philippos dibunuh pada 336 SM, putranya Aleksander diangkat sebagai raja Makedonia, yang juga berkuasa atas Yunani. Aleksander baru berusia 20 tahun ketika menjadi raja. Akan tetapi, pada usia semuda itu, ia sudah berani memimpin pasukan besar Yunani-Makedinia dan menyerang Kekaisaran Persia.
Aleksander adalah jenderal yang hebat, sedangkan Persia sedang lemah saat itu. Akibatnya, sedikit demi sedikit Aleksander berhasil menguasai wilayah Persia, dimulai dari Turki, lalu berlanjut ke Fenisia, Israel, Mesir, Mesopotamia, hingga wilayah pusat Persia. Aleksander bahkan terus melanjutkan serangannya hingga tiba di Afghanistan dan India. Di India, pasukan Aleksander sudah amat kelelahan sehingga tak mau bertempur lagi, memaksa Aleksander untuk berhenti dan pulang. Dalam perjalanan pulang, banyak tentaranya yang mati, dan pada 323 SM di Babilonia, Aleksander juga meninggal pada usia 33 tahun akibat suatu penyakit.
Aleksander wafat tanpa meninggalkan anak lelaki dewasa, sehingga kerajaannya dibagi-bagi oleh para jenderalnya menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil. Ada tiga wilayah utama hasil dari pembagian ini, yaitu Mesir yang dipimpin oleh Ptolemaios, Seleukia (Israel, Suriah, Irak, Iran, dan Afghanistan modern) yang dipimpin oleh Seleukos, Anatolia-Thrakia yang dipimpin oleh Lysimakhos, dan Yunani-Makedonia yang dipimpin oleh Kassandros. Kerajaan-kerajaan ini saling berperang satu sama lain, namun periode Hellenistik merupakan masa kemakmuran dan pengetahuan. Sebuah universitas besar didirikan di Aleksandria, Mesir. Filsuf Aristoteles hidup di Athena. Banyak filsuf dan ilmuwan yang bepergian ke dan dari Yunani dan India. Gabungan pengetahuan Asia Barat, India, dan Yunai mendorong munculnya banyak perkembangan dalam sains, filsafat, dan seni.
Sejarah Dunia Kuno
Apr 2, 2016
Zaman Klasik
Pada 510 SM, seorang pria bernama Kleisthenes, seorang aristokrat di Athena, menciptakan bentuk pemerintahan baru, yaitu demokrasi. Kleisthenes, seperti aristokrat lainnya, ingin memperoleh lebih banyak kekuasaan. Namun sistem tiran tidak terlalu populer di Athena. Kleisthenes pun memutuskan untuk memberi lebih banyak kuasa kepada rakyat miskin. Semua pria Athena memiliki satu suara. Mereka berkumpul dan melakukan pemilu untuk mengambil keputusan. Pertemuan ini disebut Majelis.
Namun semua pria tidak dapat berkumpul setiap hari karena harus bekerja. Oleh karena itu, dibentuk dewan berisi 500 orang. Anggota dewan dipilih melalui undian dan diganti tiap tahun. Meskipun terkesan adil, Kleisthenes mengatur supaya keluarganya, keluarga Alkmaionid, memiliki lebih banyak suara daripada orang lain.
Pada 490 SM Persia menyerang Athena. Orang-orang ketakutan karena merasa bahwa Persia memiliki tentara yang hebat. Beberapa orang berpendapat bahwa Athena harus kembali menerapkan sistem pemerintahan laim, yakni oligarki, seandainya demokrasi tak bekerja dengan baik. Mereka mengatakan bahwa demokrasi membuat pengambilan keputusan berjalan lambat
Para pria Athena berarak menghadapi pasukan Persia di Marathon. Awalnya mereka mengira akan kalah. Namun pasukan Athena bertempur menggunakan dinding perisai, yang ternyata lebih unggul daripada pasukan Persia. Akhirnya pasukan Athena pun menang.
Pada 480 SM, Persia, dipimpin raja baru mereka Xerxes, menyerang lagi. Kali ini sebagian besar kota di Yunani bersatu dan membentuk persekutuan untuk menghadapi Persia. Mereka awalnya menghadang pasukan Persia di Thermopylae namun berakhir dengan kekalahan. Akan tetapi, pada pertempuran selanjutnya di Salamis dan Plataia, pasukan Yunani memperoleh kemenangan. Lagi-lagi pasukan Persia harus pulang dengan kegagalan
Athena berupaya meyakinkan kota-kota Yunani lainnya untuk mempertahankan angkatan laut yang kuat untuk berjaga-jaga seandainya Persia menyerang kembali. Pada awalnya, kota-kota lain setuju, kecuali Sparta, yang menolak. Athena lalu menyatakan bahwa, jika mereka tak sanggup mengirimkan kapal atau tentara, maka mereka boleh menggantinya dengan mengirimkan uang kepada Athena sehingga Athena dapat membuat kapal. Kota-kota Yunani pun melakukan itu sehingga Athena memperoleh banyak uang.
Akan tetapi, Persia ternyata tidak menyerang lagi dalam waktu yang lama sehingga sejumlah kota ingin berhenti mengirimkan uang kepada Athena, yang kemudian memmanfaatkan angkatan lautnya yang besar untuk memaksa kota-kota itu terus mengirimkan uang. Ketika pulau Naxos menolak, Athena menghancurkan dinding kota utama Naxos.
Athena juga menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membangun kota mereka. Ini membuat rakyat Athena tak perlu lagi membayar pajak. Mereka menggunakan uang ini salah satunya adalah untuk membangun kuil-kuil besar, contohnya kuil Parthenon.
Tindakan Athena membuat kota-kota lain di Yunani marah. Mereka pun meminta Sparta untuk membantu menghentikan Athena. Sebagian kota memihak Sparta dan sebagian lainnya memihak Athena. Terjadi perang besar, sejak 431 SM hingga 404 SM (hampir tiga puuh tahun). Peristiwa ini disebut Perang Peloponnesis. Pada akhirnya, dengan bantuan Persia, Sparta berhasil menang dan mengalhkan Athena. Meskipun demikian, kehancuran akibat perang ini menimpa seluruh Yunani, sekaligus mengakhiri periode Yunani Klasik.
Namun semua pria tidak dapat berkumpul setiap hari karena harus bekerja. Oleh karena itu, dibentuk dewan berisi 500 orang. Anggota dewan dipilih melalui undian dan diganti tiap tahun. Meskipun terkesan adil, Kleisthenes mengatur supaya keluarganya, keluarga Alkmaionid, memiliki lebih banyak suara daripada orang lain.
Pada 490 SM Persia menyerang Athena. Orang-orang ketakutan karena merasa bahwa Persia memiliki tentara yang hebat. Beberapa orang berpendapat bahwa Athena harus kembali menerapkan sistem pemerintahan laim, yakni oligarki, seandainya demokrasi tak bekerja dengan baik. Mereka mengatakan bahwa demokrasi membuat pengambilan keputusan berjalan lambat
Para pria Athena berarak menghadapi pasukan Persia di Marathon. Awalnya mereka mengira akan kalah. Namun pasukan Athena bertempur menggunakan dinding perisai, yang ternyata lebih unggul daripada pasukan Persia. Akhirnya pasukan Athena pun menang.
Pada 480 SM, Persia, dipimpin raja baru mereka Xerxes, menyerang lagi. Kali ini sebagian besar kota di Yunani bersatu dan membentuk persekutuan untuk menghadapi Persia. Mereka awalnya menghadang pasukan Persia di Thermopylae namun berakhir dengan kekalahan. Akan tetapi, pada pertempuran selanjutnya di Salamis dan Plataia, pasukan Yunani memperoleh kemenangan. Lagi-lagi pasukan Persia harus pulang dengan kegagalan
Athena berupaya meyakinkan kota-kota Yunani lainnya untuk mempertahankan angkatan laut yang kuat untuk berjaga-jaga seandainya Persia menyerang kembali. Pada awalnya, kota-kota lain setuju, kecuali Sparta, yang menolak. Athena lalu menyatakan bahwa, jika mereka tak sanggup mengirimkan kapal atau tentara, maka mereka boleh menggantinya dengan mengirimkan uang kepada Athena sehingga Athena dapat membuat kapal. Kota-kota Yunani pun melakukan itu sehingga Athena memperoleh banyak uang.
Akan tetapi, Persia ternyata tidak menyerang lagi dalam waktu yang lama sehingga sejumlah kota ingin berhenti mengirimkan uang kepada Athena, yang kemudian memmanfaatkan angkatan lautnya yang besar untuk memaksa kota-kota itu terus mengirimkan uang. Ketika pulau Naxos menolak, Athena menghancurkan dinding kota utama Naxos.
Athena juga menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membangun kota mereka. Ini membuat rakyat Athena tak perlu lagi membayar pajak. Mereka menggunakan uang ini salah satunya adalah untuk membangun kuil-kuil besar, contohnya kuil Parthenon.
Tindakan Athena membuat kota-kota lain di Yunani marah. Mereka pun meminta Sparta untuk membantu menghentikan Athena. Sebagian kota memihak Sparta dan sebagian lainnya memihak Athena. Terjadi perang besar, sejak 431 SM hingga 404 SM (hampir tiga puuh tahun). Peristiwa ini disebut Perang Peloponnesis. Pada akhirnya, dengan bantuan Persia, Sparta berhasil menang dan mengalhkan Athena. Meskipun demikian, kehancuran akibat perang ini menimpa seluruh Yunani, sekaligus mengakhiri periode Yunani Klasik.
Zaman Arkaik
Sekitar 1000 SM penduduk Yunani mulai membangun kembali peradaban mereka seusai Zaman Kegelapan. Populasi Yunani mulai bertambah banyak dan banyak bangunan baru yang didirikan. Meskipun demikian, istana para raja tidak dibangun lagi karena sebagian besar kota Yunani tak lagi diperintah oleh raja. Alih-alih, banyak kota yang kini dipimpin oleh sekelompok orang kaya yang disebut aristokrat. Bentuk pemerintahan ini disebut oligarki. Di bekas lokasi istana, orang Yunani membangun kuil untuk para dewa, biasanya di atas bukit.
Saking tingginya peningkatan populasi Yunani, banyak orang yang bermigrasi dari Yunani ke berbagai daerah yang belum dihuni untuk mendirikan kota-kota baru di sebagian Eropa dan Afrika. Salah satu contohnya adalah kota Marseilles di Prancis selatan. Contoh lainnya adalah kota di pesisir Laut Hitam yang disebut Byzantion, yang kini menjadi Istanbul. Kota-kota ini disebut dengan istilah koloni.
Bangsa Yunani (terutama orang Korinthos) juga mulai berdagang lagi dengan Asia Barat, terutama dengan orang Fenisia. Mereka mempelajari alfabet Fenisia sekitar 750 SM. Setelah menguasai alfabet, bangsa Yunani pun mampu membuat tulisan, salah satunya adalah kisah Perang Troya karya Homeros. Bangsa Yunani juga belajar seni dari Asia Barat. Selain itu, mereka juga kembali bekerja sebagai tentara bayaran di Mesir dan Lydia (Turki).
Sekitar 650 SM, muncul inovasi baru dalam dua bidang. Kedua inovasi ini kemungkinan diciptakan sendiri oleh bangsa Yunani tanpa meniru bangsa lain. Yang pertama adalah cara bertempur. Pada masa sebelumnya, pertempuran berlangsung tanpa pola yang jelas, kedua pasukan saling berlari menerjang musuhnya sambil berteriak. Mereka bertempur hingga salah satu pihak melarikan diri atau menyerah. Dengan cara yang baru, pasukan bertempur dalam barisan yang teratur, setiap orang memegang perisai yang melindungi orang di sampingnya, membentuk dinding perisai. Cara baru ini membutuhkan kerjasama, disiplin, dan latihan yang banyak. Selain itu, setiap orang harus memiliki perisai. Namun, jika dilakukan dengan baik, cara ini dapat menjadi lebih sukses dibanding cara lama. Tentara yang bertempur dengan cara ini disebut hoplites.
Gagasan lainnya adalah jenis pemerintahan yang baru. Beberapa kota Yunani masih memiliki raja, contohnya Sparta, namun sebagian besar dipimpin oleh kelompok aristokrat. Para aristokrat ini sering berselisih satu sama lain demi kekuasaan. Beberapa berusaha mengajak para aristokrat lainnya untuk bekerjasama. Namun kemudian ada aristokrat yang berusaha mendekati rakyat miskin, yang memang jarang diperhatikan. Aristokrat yang didukung oleh rakyat dapat menguasai kota, namun ia tidak disebut raja, melainkan tiran. Tiran pertama muncul di Korinthos. Dengan cepat gagasan ini menyebar ke berbagai kota lain di Yunani dan Asia Barat. Pada 550 SM, banyak kota masih dipimpin oleh para aristokrat, terutama kota yang dihuni oleh orang Doria, namun banyak pula yang kini diperintah oleh tiran, khususnya di kota-kota Ionia, seperti Athena. Tiran dibenci oleh para aristokrat namun didukung oleh rakyat. Sebagian besar tiran memerintah dengan lumayan baik. Mereka mendirikan banyak bangunan dan mempermudah perdagangan dengan kota atau bangsa lain.
Saking tingginya peningkatan populasi Yunani, banyak orang yang bermigrasi dari Yunani ke berbagai daerah yang belum dihuni untuk mendirikan kota-kota baru di sebagian Eropa dan Afrika. Salah satu contohnya adalah kota Marseilles di Prancis selatan. Contoh lainnya adalah kota di pesisir Laut Hitam yang disebut Byzantion, yang kini menjadi Istanbul. Kota-kota ini disebut dengan istilah koloni.
Bangsa Yunani (terutama orang Korinthos) juga mulai berdagang lagi dengan Asia Barat, terutama dengan orang Fenisia. Mereka mempelajari alfabet Fenisia sekitar 750 SM. Setelah menguasai alfabet, bangsa Yunani pun mampu membuat tulisan, salah satunya adalah kisah Perang Troya karya Homeros. Bangsa Yunani juga belajar seni dari Asia Barat. Selain itu, mereka juga kembali bekerja sebagai tentara bayaran di Mesir dan Lydia (Turki).
Sekitar 650 SM, muncul inovasi baru dalam dua bidang. Kedua inovasi ini kemungkinan diciptakan sendiri oleh bangsa Yunani tanpa meniru bangsa lain. Yang pertama adalah cara bertempur. Pada masa sebelumnya, pertempuran berlangsung tanpa pola yang jelas, kedua pasukan saling berlari menerjang musuhnya sambil berteriak. Mereka bertempur hingga salah satu pihak melarikan diri atau menyerah. Dengan cara yang baru, pasukan bertempur dalam barisan yang teratur, setiap orang memegang perisai yang melindungi orang di sampingnya, membentuk dinding perisai. Cara baru ini membutuhkan kerjasama, disiplin, dan latihan yang banyak. Selain itu, setiap orang harus memiliki perisai. Namun, jika dilakukan dengan baik, cara ini dapat menjadi lebih sukses dibanding cara lama. Tentara yang bertempur dengan cara ini disebut hoplites.
Gagasan lainnya adalah jenis pemerintahan yang baru. Beberapa kota Yunani masih memiliki raja, contohnya Sparta, namun sebagian besar dipimpin oleh kelompok aristokrat. Para aristokrat ini sering berselisih satu sama lain demi kekuasaan. Beberapa berusaha mengajak para aristokrat lainnya untuk bekerjasama. Namun kemudian ada aristokrat yang berusaha mendekati rakyat miskin, yang memang jarang diperhatikan. Aristokrat yang didukung oleh rakyat dapat menguasai kota, namun ia tidak disebut raja, melainkan tiran. Tiran pertama muncul di Korinthos. Dengan cepat gagasan ini menyebar ke berbagai kota lain di Yunani dan Asia Barat. Pada 550 SM, banyak kota masih dipimpin oleh para aristokrat, terutama kota yang dihuni oleh orang Doria, namun banyak pula yang kini diperintah oleh tiran, khususnya di kota-kota Ionia, seperti Athena. Tiran dibenci oleh para aristokrat namun didukung oleh rakyat. Sebagian besar tiran memerintah dengan lumayan baik. Mereka mendirikan banyak bangunan dan mempermudah perdagangan dengan kota atau bangsa lain.
Zaman Kegelapan
Setelah sebagian besar istana Mykenai hancur sekitar 1200 SM, tak terjadi pembangunan ulang. Satu dari sedikit istana yang tidak ikut dihancurkan adalah istana di Athena. Meskipun demikian, bahkan rakyat Athena pun mengalami masa-masa sulit selama beberapa ratus tahun berikutnya. Pada masa ini, tidak ada raja, tidak ada penarikan pajak, tidak ada perbaikan jalan, sehingga jalanan menjadi amat rusak dan tidak dapat dilalui gerobak.
Kemungkinan banyak orang yang meninggal karena sedikitnya populasi Yunani pada masa ini. Dalam hal ekonomi, masyarakat Yunani menjadi amat miskin. Tampaknya tidak ada tukang tembikar, tukang sepatu, atau perajin lainnya karena tidak ditemukan perhiasan emas di makam-makam dari masa ini. Orang-orang mungkin harus membuat sendiri berbagai perlengkapan, seperti guci, dan hasilnya pun tidak bagus. Tanpa emas, orang juga berhenti berlayar ke negeri-negeri lain.
Saking buruknya kondisi Yunani saat itu, suatu kaum di utara Yunani berhasil menyerbu Yunani dan menguasai banyak kota Yunani. Kaum ini biasanya disebut sebagai bangsa Doria, sedangkan bangsa Yunani Mykenai dari Zaman Perunggu disebut sebagai bangsa Ionia.
Banyak orang Ionia yang melarikan diri dari para penyerbu, atau dari masa-masa sulit di Yunani, dan pergi ke tempat lainnya selama Zaman Kegelapan. Banyak di antaranya yang pindah ke pesisir Turki, dan wilayah itu kemudian disebut Ionia karena banyak orang Ionia yang tinggal di sana. Yang lainnya pindah ke pesisir Laut Hitam. Sejumlah orang Yunani, atau orang yang seperti mereka, pindah ke Israel dan kemudian disebut bangsa Filistin.
Ada pula hal-hal bagus yang terjadi pada masa ini. Pengetahuan tentang cara membuat perlengkapan dari besi menyebar dari Het ke seluruh Mediterania, sehingga kini bangsa Yunani dapat menempa besi. Besi lebih kuat daripada perunggu. Selain itu besi juga lebih murah karena dapat ditemukan di Yunani. Saking murahnya besi, orang miskin pun mampu memperolehnya. Akibatnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin pada masa ini tidak terlalu kentara.
Meskipun tidak benar-benar akurat, peta yang digambar oleh H.G. Wells ini dapat menunjukkan pola migrasi orang Yunani kuno beserta kaum-kaum lainnya.
Orang Yunani kuno terbagi menjadi tiga kaum, bangsa Doria, Aiolia, dan Ionia. Sekitar 1100 SM, bangsa Doria yang tinggal di utara, mulai menyerang Mikenai. Seluruh kota Mikenai dihancurkan dan dijarah. Peradaban Mikenai akhirnya runtuh dan Yunani mengalami suatu periode yang disebut Zaman Kegelapan Yunani.
Banyak teori mengenai penyebab keruntuhan bangsa Mikenai. Bencana alam mungkin melemahkan ekonomi Mikenai, yang bersandar pada pertanian, sehingga mereka digantikan oleh bangsa Doria. Bangsa Doria mengembangkan perdagangan di penjuru Mediterania untuk menggantikan ekonomi lama. Daerah Attika (termasuk Athena) mulai muncul sebagai daerah yang dominan sebagai pusat perdagangan. Meskpin begitu, perubahan ini tidak terjadi dengan cepat karena seluruh Yunani butuh pemulihan pasca keruntuhan Mikenai. Namun kontak Yunani dengan bangsa dari luar ini membawa dampak yang sangat drastis bagi masa depan Yunani.
Penyebaran dialek Yunani Kuno sekitar 400 SM. Bangsa Doria berwarna coklat, Ionia ungu, dan Aiolia kuning.
Perubahan paling drastis di Yunani pada periode ini adalah menghilangnya tulisan. Tidak ada catatan tertulis dari periode ini, dan tulisan dari peridoe setelah ini amatlah berbeda dibandingkan periode sebelum ini. Bangsa Doria menuturkan dialek yang berbeda dibanding bangsa Mikenai, dan hanya sedikit diketahui mengenai bahasa mereka. Semua dialek Yunani modern berakar dari Yunan Attika (Yunani Klasik), dengan satu pengecualian: dialek Tsakonia, yang berasal dari dialek Doria.
Bangsa Doria melakukan kontak dengan bangsa Funikia, bangsa penjelajah laut dari Levant. Bangsa Yunani lalu mengadaptasi konsep alfabet dari bangsa Funikia dan terciptalah alfabet Yunani. Alfabet Yunai tersebar melalui perdagangan ke seluruh Mediterania. Alfabet Yunani ini adalah yang pertama mempergunakan huruf vokal. Setelah sekian lama, akhirnya tulisan kembali ada di Yunani.
Bangsa Doria suka berperang. Seiring Yunani memasuki Zaman besi, maka besi pun secara luas dipakai untuk membuat senjata, menggantikan penggunaan perunggu. Dengan besi, senjata menajdi lebih murah, lebih kuat, dan lebih efektif dalam pertempuran. Pada periode ini, pasukan infantri menjadi sangat populer, dan Hoplite adalah nama untuk prajurit infantri Yunani kuno.
Bangsa Doria tidak menaklukan setiap wilayah menjadi wilayah mereka, sehingga pada Zaman Kegelapan, polis atau negara kota, mulai berkembang. Daerah Yunani yang berpegunungan menjadikan sulit untuk meunculnya satu kekuasaaan tunggal yang meliputi seluruh Yunani. Akibatnya kota-kota menguasai lanskap di sekelilingnya, dan menjadi unit politik mandiri. Setiap negara kota secara alami dilindungi oleh gunung di dekatnya.
Setelah Invasi Doria, sistem pemerintahan kerajaan muncul hampir di semua negara kota. Walaupun raja memegang posisi keagamaan yang tinggi, namun tidak dalam pemerintahan. Sebagian besar pemerintahan di beberapa polis didominasi oleh aristokrasi. Tiran juga muncul pada peridoe ini. Seorang Tiran adalah aristokrat yang memperoleh cukup kekuasaan untuk mengendalikan polis. Mereka didukung oleh pasukan hoplite pribadi, dan membuat pemerintahan otokrasi
Meskipun gunung-gunung menyebabkan Yunani sulit bersatu, namun polis-polis saling berbagi budaya, agama, dan bahasa yang sana. Pada peridoe inilah, orang Yunani mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai bangsa Hellen. Meskipun berada pada polis yang berbeda, orang Hellen menuturkan bahasa yang sama, berpakaian dengan gaya yang sama, dan membuat arsitektur dengan gaya yang sama. Hal inilah yang menyatukan mereka sebagai bangsa Hellen.
Kemungkinan banyak orang yang meninggal karena sedikitnya populasi Yunani pada masa ini. Dalam hal ekonomi, masyarakat Yunani menjadi amat miskin. Tampaknya tidak ada tukang tembikar, tukang sepatu, atau perajin lainnya karena tidak ditemukan perhiasan emas di makam-makam dari masa ini. Orang-orang mungkin harus membuat sendiri berbagai perlengkapan, seperti guci, dan hasilnya pun tidak bagus. Tanpa emas, orang juga berhenti berlayar ke negeri-negeri lain.
Saking buruknya kondisi Yunani saat itu, suatu kaum di utara Yunani berhasil menyerbu Yunani dan menguasai banyak kota Yunani. Kaum ini biasanya disebut sebagai bangsa Doria, sedangkan bangsa Yunani Mykenai dari Zaman Perunggu disebut sebagai bangsa Ionia.
Banyak orang Ionia yang melarikan diri dari para penyerbu, atau dari masa-masa sulit di Yunani, dan pergi ke tempat lainnya selama Zaman Kegelapan. Banyak di antaranya yang pindah ke pesisir Turki, dan wilayah itu kemudian disebut Ionia karena banyak orang Ionia yang tinggal di sana. Yang lainnya pindah ke pesisir Laut Hitam. Sejumlah orang Yunani, atau orang yang seperti mereka, pindah ke Israel dan kemudian disebut bangsa Filistin.
Ada pula hal-hal bagus yang terjadi pada masa ini. Pengetahuan tentang cara membuat perlengkapan dari besi menyebar dari Het ke seluruh Mediterania, sehingga kini bangsa Yunani dapat menempa besi. Besi lebih kuat daripada perunggu. Selain itu besi juga lebih murah karena dapat ditemukan di Yunani. Saking murahnya besi, orang miskin pun mampu memperolehnya. Akibatnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin pada masa ini tidak terlalu kentara.
Meskipun tidak benar-benar akurat, peta yang digambar oleh H.G. Wells ini dapat menunjukkan pola migrasi orang Yunani kuno beserta kaum-kaum lainnya.
Orang Yunani kuno terbagi menjadi tiga kaum, bangsa Doria, Aiolia, dan Ionia. Sekitar 1100 SM, bangsa Doria yang tinggal di utara, mulai menyerang Mikenai. Seluruh kota Mikenai dihancurkan dan dijarah. Peradaban Mikenai akhirnya runtuh dan Yunani mengalami suatu periode yang disebut Zaman Kegelapan Yunani.
Banyak teori mengenai penyebab keruntuhan bangsa Mikenai. Bencana alam mungkin melemahkan ekonomi Mikenai, yang bersandar pada pertanian, sehingga mereka digantikan oleh bangsa Doria. Bangsa Doria mengembangkan perdagangan di penjuru Mediterania untuk menggantikan ekonomi lama. Daerah Attika (termasuk Athena) mulai muncul sebagai daerah yang dominan sebagai pusat perdagangan. Meskpin begitu, perubahan ini tidak terjadi dengan cepat karena seluruh Yunani butuh pemulihan pasca keruntuhan Mikenai. Namun kontak Yunani dengan bangsa dari luar ini membawa dampak yang sangat drastis bagi masa depan Yunani.
Penyebaran dialek Yunani Kuno sekitar 400 SM. Bangsa Doria berwarna coklat, Ionia ungu, dan Aiolia kuning.
Perubahan paling drastis di Yunani pada periode ini adalah menghilangnya tulisan. Tidak ada catatan tertulis dari periode ini, dan tulisan dari peridoe setelah ini amatlah berbeda dibandingkan periode sebelum ini. Bangsa Doria menuturkan dialek yang berbeda dibanding bangsa Mikenai, dan hanya sedikit diketahui mengenai bahasa mereka. Semua dialek Yunani modern berakar dari Yunan Attika (Yunani Klasik), dengan satu pengecualian: dialek Tsakonia, yang berasal dari dialek Doria.
Bangsa Doria melakukan kontak dengan bangsa Funikia, bangsa penjelajah laut dari Levant. Bangsa Yunani lalu mengadaptasi konsep alfabet dari bangsa Funikia dan terciptalah alfabet Yunani. Alfabet Yunai tersebar melalui perdagangan ke seluruh Mediterania. Alfabet Yunani ini adalah yang pertama mempergunakan huruf vokal. Setelah sekian lama, akhirnya tulisan kembali ada di Yunani.
Bangsa Doria suka berperang. Seiring Yunani memasuki Zaman besi, maka besi pun secara luas dipakai untuk membuat senjata, menggantikan penggunaan perunggu. Dengan besi, senjata menajdi lebih murah, lebih kuat, dan lebih efektif dalam pertempuran. Pada periode ini, pasukan infantri menjadi sangat populer, dan Hoplite adalah nama untuk prajurit infantri Yunani kuno.
Bangsa Doria tidak menaklukan setiap wilayah menjadi wilayah mereka, sehingga pada Zaman Kegelapan, polis atau negara kota, mulai berkembang. Daerah Yunani yang berpegunungan menjadikan sulit untuk meunculnya satu kekuasaaan tunggal yang meliputi seluruh Yunani. Akibatnya kota-kota menguasai lanskap di sekelilingnya, dan menjadi unit politik mandiri. Setiap negara kota secara alami dilindungi oleh gunung di dekatnya.
Setelah Invasi Doria, sistem pemerintahan kerajaan muncul hampir di semua negara kota. Walaupun raja memegang posisi keagamaan yang tinggi, namun tidak dalam pemerintahan. Sebagian besar pemerintahan di beberapa polis didominasi oleh aristokrasi. Tiran juga muncul pada peridoe ini. Seorang Tiran adalah aristokrat yang memperoleh cukup kekuasaan untuk mengendalikan polis. Mereka didukung oleh pasukan hoplite pribadi, dan membuat pemerintahan otokrasi
Meskipun gunung-gunung menyebabkan Yunani sulit bersatu, namun polis-polis saling berbagi budaya, agama, dan bahasa yang sana. Pada peridoe inilah, orang Yunani mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai bangsa Hellen. Meskipun berada pada polis yang berbeda, orang Hellen menuturkan bahasa yang sama, berpakaian dengan gaya yang sama, dan membuat arsitektur dengan gaya yang sama. Hal inilah yang menyatukan mereka sebagai bangsa Hellen.
Zaman Perunggu Akhir
Sekitar 1600 SM, bangsa Yunani telah sepenuhnya bercampur dengan orang Lerna, dan mereka mulai melakukan hal yang lebih besar. Yang pertama, mereka mulai mencari tahu mengenai bangsa-bangsa lain yang tinggal di sekitar Laut Tengah, terutama bangsa Fenisia, Kreta, dan Mesir. Mereka tampaknya telah mulai bekerja sebagai tentara bayaran bagi Mesir, yang membayar mereka dengan emas.
Mereka juga mulai membeli barnag-barang dari orang Fenisia (atau Kanaan) menggunakan emas mereka. Makam-makam Yunani dari masa ini yang berhasil digali di Mykenai berisi banyak gelas dan perhiasan emas serta pedang indah di dalamnya. Semua benda itu kini disimpan di Museum Arkeologi Athena, Yunani. Bangsa Yunani pada masa ini biasanya disebut bangsa Mykenai, dari nama situs tersebut.
Seiring bangsa Yunani mengenali bangsa-bangsa lain, mereka juga mulai meniru cara hidupnya. Bangsa Yunani mulai memiliki raja alih-alih kepala desa. Para raja ini tinggal di istana dan menarik pajak yang disimpan di gudang besar. Istana mereka memiliki dinding batu besar di sekelilingnya. Batu-batu tersebut begitu besar sehingga orang Yunani setelahnya menganggap bahwa dinding tersebut dibangun oleh para raksasa yang mereka sebut Kyklops.
Sejumlah orang Yunani belajar menulis menggunakan aksara yang disebut Linear B. Mereka menulis untuk menyimpan catatan mengenai pajak yang dikumpulkan. Mereka juga memiliki jalan berlapis bata.
Selain bekerja sebagai tentara bayaran untuk bangsa lain, orang Yunani tampaknya berlayar menjelajahi Laut Tengah dan Laut Hitam. Mereka juga berperang dengan sesama orang Yunani, merebut hartanya, dan melakukan perbudakan.
Salah satu serangan yang dilancarkan orang Yunani terjadi sekitar 1250 SM dan kemugkinan bertujuan mmenaklukan Troya di Turki utara. Kisah mengenai Perang Troya diwariskan selama bertahun-tahun oleh para penyair dan dituliskan oleh seorang penyair bernama Homeros sekitar 700 SM.
Homeros menyebutkan bahwa ketika pasukan Yunani kembali dari Troya, mereka mendapati bahwa Yunani mengalami kekacauan, dengan banyaknya perampokan dan kejahatan. Kekacauan ini memang terjadi, karena arkeologi menunjukkan bahwa sekitar 1200 SM sebagian besar istana Yunani hancur, termasuk satu istana di Mykenai.
Tidak diketahui penyebab semua itu, namun diperkirakan terjadi kemunduran ekonomi di negara-negara di Mediterania Timur dan Asia Barat pada masa itu, khususnya di Mesir dan Het. Akibatnya, orang Yunani pun ikut mengalami dampaknya karena banyak orang yang menjadi pengangguran.
Mereka juga mulai membeli barnag-barang dari orang Fenisia (atau Kanaan) menggunakan emas mereka. Makam-makam Yunani dari masa ini yang berhasil digali di Mykenai berisi banyak gelas dan perhiasan emas serta pedang indah di dalamnya. Semua benda itu kini disimpan di Museum Arkeologi Athena, Yunani. Bangsa Yunani pada masa ini biasanya disebut bangsa Mykenai, dari nama situs tersebut.
Seiring bangsa Yunani mengenali bangsa-bangsa lain, mereka juga mulai meniru cara hidupnya. Bangsa Yunani mulai memiliki raja alih-alih kepala desa. Para raja ini tinggal di istana dan menarik pajak yang disimpan di gudang besar. Istana mereka memiliki dinding batu besar di sekelilingnya. Batu-batu tersebut begitu besar sehingga orang Yunani setelahnya menganggap bahwa dinding tersebut dibangun oleh para raksasa yang mereka sebut Kyklops.
Selain bekerja sebagai tentara bayaran untuk bangsa lain, orang Yunani tampaknya berlayar menjelajahi Laut Tengah dan Laut Hitam. Mereka juga berperang dengan sesama orang Yunani, merebut hartanya, dan melakukan perbudakan.
Salah satu serangan yang dilancarkan orang Yunani terjadi sekitar 1250 SM dan kemugkinan bertujuan mmenaklukan Troya di Turki utara. Kisah mengenai Perang Troya diwariskan selama bertahun-tahun oleh para penyair dan dituliskan oleh seorang penyair bernama Homeros sekitar 700 SM.
Homeros menyebutkan bahwa ketika pasukan Yunani kembali dari Troya, mereka mendapati bahwa Yunani mengalami kekacauan, dengan banyaknya perampokan dan kejahatan. Kekacauan ini memang terjadi, karena arkeologi menunjukkan bahwa sekitar 1200 SM sebagian besar istana Yunani hancur, termasuk satu istana di Mykenai.
Tidak diketahui penyebab semua itu, namun diperkirakan terjadi kemunduran ekonomi di negara-negara di Mediterania Timur dan Asia Barat pada masa itu, khususnya di Mesir dan Het. Akibatnya, orang Yunani pun ikut mengalami dampaknya karena banyak orang yang menjadi pengangguran.
Subscribe to:
Posts (Atom)