Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jun 3, 2015

Israel Yang Sesungguhnya

Sejarah Israel yang menjadi latar belakang konflik Timur Tengah masa kini.
  1. Tanah Perjanjian yang diberikan kepada bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Ishak dan Yakub adalah tindakan Allah yang diakui di dalam kitab-kitab suci agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam.
  2. Bangsa Israel telah memiliki negeri itu lewat peparangan terhadap suku-suku Kanaan mulai 3500 tahun yang lalu sampai mereka telah menguasai wilayah luas antara Mesir di sebelah Selatan dan Siria dan Libanon di sebelah Utara, dan di antara Laut Tengah di sebelah Barat dan yang kini disebut Yordan di sebelah Timur.
  3. Perbatasan bangsa Israel masa kini (2005-2013) adalah lebih kecil ketimbang Israel zaman Yesus, 2000 tahun yang lalu, karena Gaza dan Tepi Barat di zaman itu adalah bagian dari Israel.
  4. Israel sejak zaman Nebukadnezzar, sekitar 536 sM, tidak pernah berkuasa di atas bangsanya sendiri atau kota Yerusalem sampai kepada proklomasi kemerdekaannya oleh PBB pada tahun 1948 dan proklomasi Yerusalem sebagai ibu kotanya pada tahun 1980. Sesuai nubuatan Firman Tuhan, nubuatan 7 kali
  5. Masa, atau lebih kurang 2520 tahun, Israel akan di bawah dominasi bangsa-bangsa non-Yahudi. Nubuatan itu benar-benar digenapi
  6. Israel akan dimurkai Tuhan karena ketidaktaatannya kepada Firman Tuhan dan akan diusir dari negerinya dan akan mengembara di antara bangsa-bangsa di mana mereka akan dikejar-kejar, diburu dan dianiaya sehingga banyak di antara mereka akan dibunuh. Hal itu benar-benar terjadi di sepanjang sejarah mulai tahun 70 M ketika bangsa Roma menghancurkan Yerusalem dan mengusir orang-orang Yahudi dari tanah airnya. Walaupun mayoritas penduduk Israel diusir, selalu ada sisa yang tertinggal di dalam negeri itu sampai zaman modern.
  7. Tuhan sudah berjanji bahwa Dia akan mengingat janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Dia akan panggil mereka kembali dari segala bangsa dan Israel akan lahir kembali sebagai persiapan akhir zaman dan kedatangan kembali Tuhan Yesus. Setelah 1870'an tahun mengembara, dan setelah mulai pogrom-pogrom di Rusia di awal abad ke-20 dan Holocaust di Jerman dari 1939-1945, maka Israel kembali ke tanah perjanjian itu dan menjadi bangsa kembali pada tahun 1948.
  8. Lewat berbagai perang, 1948, 1956, 1965, 1973 ditambah dengan intifada-intifada Palestina pada tahun 1987-1993 dan 2000-2005, terjadi ketidakdamaian di seluruh dunia. Akibat dari dukungan Israel oleh bangsa-bangsa Barat telah menyebabkan bangkitnya berbagai gerakan jihad dan terorisme global, misalnya serangan Olimpiade Munich 1972 oleh PLO, berbagai pesawat yang dibajak atau diledakkan, serangan 9/11 di USA, perang Iraq, Afghanistan dll sebagainya.
  9. Nubuatan-nubuatan Firman Tuhan sudah menubuatkan instabilitas yang telah terjadi bahkan bahwa akan ada perang-perang besar lagi di kawasan Timur Tengah yang akan berakhir dengan Perang Harmagedon, perang terakhir, ketika Yesus akan datang kembali dan membawa penghakiman kekal bagi semua manusia.
Israel yang Sejati

Sejak awal pewahyuan kepada Abraham, Israel diberi dua gambar: Israel jasmani, yaitu, pasir di tepi laut, dan Israel sorgawi, yaitu bintang-bintang di langit.

Kejadian 22:17,
"Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya."

Bintang-Bintang Di Langit & Pasir Di Tepi Laut

Perbedaan dari dua jenis manusia dalam Israel diungkapkan dalam Perjanjian Baru pada waktu dipisahkan antara orang yang beriman dan yang tidak beriman yang menentukan siapa sebenarnya adalah seorang Israel.

Roma 9:7-8,
"Tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu." Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar."

Artinya, lahir sebagai seorang Israel jasmani sama sekali tidak menguntungkan dalam rencana Allah kecuali orang itu beriman. Bukan sunat fisik yang berarti tetapi sunat hati, yaitu pertobatan dan lahir baru. Dengan demikian semua orang yang lahir baru menjadi ahli waris Abraham, menjadi seorang Israel sejati bahkan juga disebut sebagai seorang Yahudi! Di dalam Kristus baik Yahudi dan non-Yahudi dipersatukan dalam satu Israel, yaitu satu Tubuh Kristus, satu Manusia Baru, satu Rumah. Tidak ada dua Rumah Allah. Tuhan tidak berkata untuk bangun banyak Rumah, "Build My Homes", No! Tuhan mau kita membangun satu Rumah saja. Build My Home! Inilah yang disebut "Israel, milik Allah", Galatia 6:16.

Galatia 3:28-29,
"Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Efesus 2:14-20,
"Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru."

Roma 2:28-29,
"Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah."

Rasul Paulus Dan Kedua Pohon Zaitun

Untuk menjelaskan kebenaran itu, yaitu, bahwa keduanya – yang Yahudi dan non-Yahudi – telah menjadi satu Manusia Baru, satu Rumah, satu Tubuh Kristus yang terdiri dari hanya orang yang beriman kepada Kristus, Mesias itu. Hanya ada satu jalan keselamatan dan jalan itulah Yesus. Maka, baik Yahudi, maupun non-Yahudi, untuk diselamatkan harus menjadi percaya sungguh kepada Yesus. Perhatikan uraian Rasul Paulus dalam Roma 11.

Roma 11:16-26
"Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus. Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri. Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Dalam rencana Tuhan tidak ada dua pohon, hanya ada satu. Akarnya adalah Perjanjian Kekal dengan Abraham, Ishak dan Yakub, dan tunas yang bertumbuh adalah Yesus, sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya, Yeremia, Zakaria (Yesaya 4:1-6; 11:1-5; 22:22-25; 53:1-5; Yeremia 23:5; 33:15; Zakharia 3:8; 6:12). Bandingkanlah dengan penjelasan Yohanes dan Yesus sendiri (Wahyu 5:5; 22:16) karena Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tunas Daud.
Jadi Rasul Paulus telah menyimpulkan sejarah Israel sejarah Alkitabiah bahwa Israel yang sejati hanyalah orang-orang yang beriman, yang mengakui dan mengikuti Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Juruselamat. Dan mereka datang dari setiap suku, kaum, banga dan bahasa dan mereka bersama dengan semua orang Yahudi yang percaya menjadi satu Manusia Baru, satu Mempelai Wanita Kristus, satu Tubuh Kristus, satu Rumah Allah dan satu Pohon Zaitun! Siapa Diselamatkan?

Roma 11:26,
"Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Siapa selamat? Seluruh Israel! Siapakah Israel? Semua orang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Juruselamat: "Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Kita sudah selamat. Kita sudah menjadi bagian dari Israel sejati. Kita sudah menjadi ahli waris bersama-sama dengan Yesus. Kita sudah menjadi satu Rumah, Bangsa, dan Tubuh tetapi jangan menjadi sombong. Jangan tawar hati melainkan pegang teguh kepada Tuhan dan maksud abadi-Nya supaya kita juga akan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya di akhir zaman dan untuk selama-lamanya!
Kita bukan hanya pembaca atau penonton sejarah Israel, kita sungguh berpatisipasi di dalamnya dan menjadi pencipta sejarah. Karena itu, marilah kita memenuhi panggilan kita sebagai umat-Nya dan menjadi Israel milik Allah!

Nubuatan Israel

Ringkasan Sejarah Perhambaan 536 sM – 1948 M
  • 536 sM – Nebukadnezar menguasai Israel dan menghancurkan Bait Suci. Perhambaan di Babel selama 70 tahun
  • 457 sM - Karena Kerajaan Babel dikalahkan Kerajaan Medo-Farsi, Raja Koresh membebaskan bangsa Yahudi kembali membangun Yerusalem dan Bait Suci.
  • 457 sM – 332 sM – Israel di bawah Kerajaan Medo-Farsi (kini Iran) dengan Koresh, Darius, Artahsasta sampai Iskandar Agung berkuasa di Timur Tengah
  • 332 sM – 63 sM – Pertama Yunani lalu Israel menjadi wilayah kacau dengan berbagai pemerintahan Yunani, Mesir dan Syria sampai tiba Pompey Agung dengan tentara Roma.
  • 63 sM – 638 M - Kerajaan Roma dan Bizantium berkuasa sampai tiba tentara Islam dari Arab Saudi yang membawa Timur Tengah di bawah kedaulatan Arab-Islam sampai tentara Turki menguasainya pada Abad ke-15.
  • 30 M – 70 M – Perpecahan masyarakat Yahudi sehingga terjadi dua bagian besar: Yahudi tradisional yang masih menantikan kedatangan Mesias dan Yahudi Mesianik yang percaya Mesias sudah datang yaitu Yesus. Pada tahun 70 M Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan oleh General Titus, putera Kaisar Vespanianus, yang kemudian menjadi Kaisar Roma juga.
  • 115 M – 117 M – Perang Kitos – perang terakhir orang-orang Yahudi terhadap Kerajaan Roma dan Kaisar Hadrian. Komunitas-komunitas Yahudi yang sudah mengungsi ke Cypus, Libya, Mesir, Syria dan Iraq telah memberontak terhadap Roma sehingga pembunuhan massal ratusan ribu masyarakat Yahudi menyusul dan sisanya terbuang untuk mengembara di berbagai bangsa di dunia.
  • 131 M – 136 M – Kaisar Hadrian membunuh 580.000 ribu Yahudi, mengubah nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina, dan nama Israel diubah menjadi Syria Palestina dalam usaha Kaisar Hadrian untuk memusnahkan total bangsa Yahudi.
  • 638 M – 1453 M – Israel dikuasai tentara Arab-Islam sampai Kerajaan Ottoman (Turki) berkuasa.
  • 1453 – 1918 – Israel adalah bagian dari Kerajaan Ottoman.
  • 1918 – 1947 – Israel di bawah Kerajaan Inggris
  • 1948 - Mei 14, 1948, Israel dinyatakan BANGSA MERDEKA oleh PBB.
  • 1967 - Perang Enam Hari – Yerusalem dimerdekakan
  • 1973 - Perang Yom Kippur
  • 1980 - Pemerintah Israel menyatakan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Israel.
Setelah sekitar 2520 Israel sudah merdeka dengan Yerusalem sebagai Ibu Kota dan inilah sesuatu yang ajaib. Sejak Nebukadnezar (536 sM) sampai 1980, inilah pertama kali Israel merdeka dan Yerusalem adalah Ibu Kotanya!

Nubuatan-nubuatan tentang Israel 

Israel diperingati oleh Tuhan bahwa kedurhakaannya akan menyebabkan Israel dihukum. Hukuman itu akan nyata dalam beberapa hal:
  1. Israel akan kehilangan kontrol atas bangsanya selama 2520 tahun. Ini disebut nubuatan 7 masa (7 x 360 = 2520 hari yang menjadi 2520 tahun – lihat prinsip 1 hari menjadi 1 tahun dalam Yehezkiel 4:6-8), Imamat 26:18-28. Awal penggenapannya adalah di zaman Nebukadnezar sehingga dia mengalami kegilaan 7 masa, Daniel 4:16-32.
  2. Israel akan diusir dari bangsanya, Bait Suci akan dihancurkan dan mereka akan dikejar-kejar dan dibunuh di mana-mana atas permukaan bumi karena kejahatannya di hadapan Tuhan, Imamat 26:31-33; Ulangan 28:33-37; Lukas 21:20-24.
  3. Israel akan dibawa pulang ke tanah airnya dari antara segala bangsa, sehingga bangsa yang mati, bangkit kembali, Ulangan 30:3-5; Yeremia 23:3-8; Yehezkiel 36:22-24; Roma 11:11-26.
Setelah orang-orang Yahudi kembali dan Israel lahir kembali, dan bangsa-bangsa sekitar digoncangkan maka akan terjadi kegerakan rohani besar sehingga akan ada jalan raya dari Mesir melalui Israel ke Asyur (Iraq/Syria) dan bangsa-bangsa itu, dan suku-suku Arab lainnya, akan menjadi percaya kepada Yesus. Yerusalem akan menyambut Yesus sebagai Mesias, Yesaya 19:19-25; 60:1-22; Yehezkiel 36:24-36; Matius 23:39.

Tanggapan Umat Kristen terhadap Israel

Ada dua pandangan utama dalam sejarah Gereja terhadap nasib Israel.
  1. Pandangan bahwa Israel adalah bangsa terkutuk yang dimurkai Tuhan
    Mulai dari zaman ahli theologia gereja, Augustine dari Hippo, Aljazir, pada abad ke-4, pandangan umum gereja adalah sangat negatif. Orang-orang Yahudi dianggap oleh gereja sebagai hama yang harus dimusnahkan. Orang-orang Yahudi dianggap sebagai pembunuh Mesias, pembunuh Allah! Oleh karena itu, kemana pun mereka pergi, mereka dianiaya, dibunuh atau diusir. Penganiayaan selama 1600 tahun itu memuncak pada abad ke-20 dengan 4 juta orang Yahudi tewas dalam pogrom-pogrom Rusia dari tahun 1917-1965 dan pembunuhan massal 6 juta orang Yahudi oleh bangsa kelahiran Protestan, Jerman, dengan pertolongan 26 Synode Gereja Lutheran yang mendukung Adolf Hitler. Ini posisi resmi Gereja Lutheran dalam Konferensi Lutheran tahun 1935.

    Gereja Anglikan, Gereja Katolik dan banyak gereja tradisional lainnya telah mengambil sikap serupa dalam penolakan orang Yahudi dan pandangan bahwa kini gereja telah menggantikan Israel sebagai Umat Allah. Sebagian besar dari gereja-gereja itu, sampai sekarang, melawan Israel dan mendukung hak orang-orang Arab Palestina untuk menguasai seluruh wilayah Israel sebagai tanah airnya dan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.
  2. Pandangan bahwa Israel akan dipulihkan Allah sebagai bangsa

    Berdasarkan keyakinan bahwa nubuatan-nubuatan Alkitab menyatakan bahwa Allah setia kepada janji-Nya dan bahwa bangsa Israel harus dipulihkan di akhir zaman mendahului kedatangan kembali Tuhan Yesus, gereja-gereja Injili, Karismatik dan Pentakosta telah mengambil pandangan positif terhadap Israel. Sebagian besar dari kelompok ini percaya bahwa gereja tidak menggantikan Israel tetapi gereja adalah bagian integral dari Israel yang sesungguhnya, yaitu semua orang yang percaya yang menjadi anak-anak Abraham, Roma 9:6-8; 11:11-24; Galatia 3:29. Pandangan ini percaya bahwa pemulangan orang-orang Yahudi ke tanah Israel adalah kehendak Allah pada akhir zaman.

Empat Perang Dan Kemerdekaan Israel


Untuk memperjuangkan kemerdekaan dan sejak kemerdekaannya, Israel telah terlibat dalam empat perang besar:
  1. Perang Kemerdekaan – 1947-1948

    Hanya dua tahun setelah Hitler mati dan Perang Dunia ke-2 berakhir, ratusan ribu orang Yahudi yang telah selamat dari barak-barak pembunuhan Hitler, dan penganiayaan bangsa-bangsa Kristen Eropa, telah berusaha kembali ke Israel. Penghalang utama adalah perlawanan bangsa Inggris yang sudah berjanji kepada bangsa-bangsa Arab bahwa mereka akan menolak para pengungsi Yahudi. Kapal-kapal pengungsi ditenggelamkan Angkatan Laut Inggris, namun usaha kembali ke tanah airnya berhasil. Setelah 2 tahun perang gerilyawan melawan Inggris dan penduduk Arab, akhirnya Inggris mundur dan menyerahkan persoalannya kepada PBB yang telah mengakui kedaulatan bangsa Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

    Dengan proklamasi kemerdekaan tersebut, Yordan, Syria, Lebanon, Mesir dan Iraq, dengan dukungan bangsa-bangsa Arab lain telah menyerang Israel. Wilayah PBB di Tepi Barat dan sekitar Yerusalem (Yerikho sampai Ramallah dan Yerusalem sampai Hebron) diambil alih oleh Yordan. Gaza dan sebagian Sinai yang masuk Israel, diambil oleh Mesir dan ketinggian Golan dikuasai oleh Syria. Desa-desa Arab telah memberontak sekaligus untuk memusnahkan desa-desa Yahudi. Secara mukjizat, orang-orang Yahudi menang, walaupun kehilangan akses ke wilayah-wilayah yang dulu dikuasai PBB. Orang-orang Yahudi diusir dari Tepi Barat dan semua wilayah yang dikontrol Yordan, namun Israel tetap berdaulat dan merdeka.
  2. Perang Suez – 1956 – penguatan kedaulatan perbatasan nasional

    General Nasser, Presiden Mesir telah ambil alih Terusan Suez dari Inggris. Israel telah menjadi sekutu Inggris dan Perancis dan telah menggunakan kesempatan untuk mengambil ulang beberapa wilayahnya yang diambil Mesir pada tahun 1948 di pinggiran wilayah Sinai dan menguatkan perbatasannya di bagian selatan Israel.
  3. Perang Enam-Hari – 1967 – merebut kontrol atas Bukit Moria (lokasi Bait Suci)

    Selama beberapa tahun 1965-1967 ada krisis air yang mengganggu hubungan Israel dengan bangsa-bangsa Arab. Israel sudah mulai mengambil air dari Danau Galilea untuk irigasi sampai ke wilayah padang gurun Negev. Syria sudah mulai membalas dengan rencana mengalihkan aliran air sungai Yordan ke arah Syria supaya tidak lagi mengisi Danau Galilea. Oleh karenanya terjadi perang. Dalam enam hari saja Israel telah mengalahkan bangsa-bangsa Arab sehingga Israel sanggup memperluas kekuasaannya, perbatasannya dan kontrol atas kota Yerusalem. Pada waktu itu penduduk Yahudi di Israel adalah 2.3 juta orang. Penduduk bangsa Arab pada waktu yang sama adalah 125 juta.
  4. Perang Yom Kippur – 1973 – menguat posisi di Tepi Barat

    Perang 1973 disebut Perang Yom Kippur karena hari awal perang adalah Yom Kippur atau Hari Pendamaian, hari paling kudus di Israel di mana tidak ada yang bekerja dan seluruh bangsa berpuasa. Di saat itu, tanpa diduga, Israel diserang oleh Iraq, Syria, Yordan, Arab Saudi, Mesir dan Libanon. Pada awal perang Israel seperti kalah dan mundur tetapi tiba-tiba, di bawah pimpinan General Moshe Dayan, Israel melakukan manuver militer sehingga mereka menangkap seluruh tentara Mesir, Syria dan Yordan. Dalam 24 jam berikut Israel akan masuk menguasai Kairo, Damsyik dan Amman. Namun USA dan Rusia berkata kepada Israel, "Stop! Kamu sudah cukup mempermalukan mereka!" Maka perang itu berakhir dengan Israel sebagai pemenang.
Bagaimana di masa depan?

Nubuatan Perang Akhir – Perang Harmagedon

Kini populasi Yahudi di Israel adalah 6 juta orang dan populasi Arab di Timur Tengah adalah 360 juta dalam 22 negara. Kemungkinan terjadi perang lagi selalu ada namun karena "musim semi Arab" kemungkinan terjadi perang besar lagi dari bangsa-bangsa Arab sudah berkurang. Ada begitu banyak masalah di Iraq, Libanon, Libya, Syria dan Mesir sehingga perang lagi rupanya masih jauh. Namun, yang non-Arab, Iran, rupanya menjadi ancaman terbesar kini dengan kemungkinan membuat roket dan bom nuklear.

Walaupun demikian, Alkitab masih menubuatkan suatu perang besar lagi yang akan terjadi di Israel dan perang itu disebut Perang Harmagedon. Perang itu dibahas dalam Yehezkiel 38-39 dan dalam Wahyu 16 dan Wahyu 19 menjelang kedatangan kembali Yesus. Untuk kita yang penting adalah selalu dekat kepada Yesus sebab hanya Dia adalah jaminan kita.

Mazmur 91:2-11,
"Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu."

Jun 1, 2015

Masa Khilafah Ottoman

Semakin nyata dalam pembahasan tentang Khilafah Ottoman 1517-1917 bahwa inilah periode yang sangat berpengaruh atas latar belakang situasi Timur Tengah yang masa kini kian hari kian berbahaya. Oleh sebab itu, kita akan melihat dalam dua artikel tentang sejarah dan keadaan Palestina karena sejarah masa lampau adalah kunci memahami masa kini dan arah perjuangan berbagai pihak yang kini semakin nyata. Pembahasan ini tidak bermaksud menyerang satu atau lain pihak, sebaliknya untuk memeriksa fakta-fakta sejarah demi memahami dasar pergolakan Timur Tengah.

Pada tahun 1517 Yerusalem dan seluruh Tanah Suci dikalahkan dan dikuasai oleh Khilafah Ottoman yang berpusat di Turkey dan mereka berkuasa selama empat abad sampai tahun 1917, waktu tentara Inggris meraih Kota Yerusalem dan menetapkan yang disebut "Mandat Palestin". Peristiwa itu telah menandakan berakhirnya Khilafah Ottoman, yang sampai tahun itu telah menjadi satu-satunya pemerintahan atas seluruh wilayah Arab dan atas setiap bangsa Arab. Mulai tahun 1917 bangsa-bangsa Arab mulai mengklaim otonomi dan kemerdekaannya sehingga masa kini ada 22 bangsa Arab yang independen dan berdaulat di Timur Tengah. Walaupun zaman itu sering disebut Zaman Emas Islam ternyata dampak positifnya hanya dirasakan di Palestina selama 50 tahun pertama pemerintahan Ottoman di Timur Tengah.

Nubuatan dan Kalkulasi Rabbi Judah Ben Samuel

Di akhir Abad ke-12, Rabbi Judah Ben Samuel telah menerbitkan hasil penyelidikan Alkibabiah, yang disebut Gematria bersama dengan perhitungan ilmu falak. Hasilnya di laporkan dalam majalah Israel Today, Nopember 2012. Ben Samuel mengatakan:

Bilamana kaum Ottoman menguasai Yerusalem mereka akan memerintah di Yerusalem selama delapan Yobel (8 x 50 = 400 tahun). Setelah itu Yerusalem akan kembali menjadi wilayah yang tidak dimiliki siapapun selama satu Yobel (50 tahun), lalu pada Yobel kesembilan, Yerusalem akan kembali dimiliki oleh bangsa Yahudi dan ini akan menunjukkan awal akhir zaman yeng menunjukkan zaman Mesianik."


Bahwa satu Yobel adalah 50 tahun dapat dibaca dalam Imamat 25:8-10,

Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.
 
Kalkulasi Ben Samuel mulai menjadi realita 300 tahun kemudian. Khilafah Mamluk telah menguasai Yerusalem sejak 1250, lalu dikalahkan pada tahun 1517 oleh Kerajaan Ottoman. Khilafah Ottoman benar berkuasa selama delapan Yobel (8 x 50 = 400 years), sampai tahun 1917, ketika Kerajaan Ottoman dikalahkan oleh Kerajaan Inggris. Awalnya tanah Yerusalem adalah bagian dari Mandat Inggris yang sesudah Perang Dunia Kedua, ditangani PBB sampai tahun 1967. Selama 50 tahun itu (1917-1967), Yerusalem dibagi dan tidak dikuasai siapapun.

Lalu pada waktu Israel merebut Yerusalem dalam Perang Enam Hari, 1967, tepat satu Yobel (50 tahun) setelah kekalahan Ottoman. Sejak tahun 1967 itu, Yerusalem telah dipimpin oleh negara Yahudi, Israel. Menurut Judah Ben Samuel, zaman Mesianik sebagai permulaan akhir zaman telah mulai.

Sultan Sulaiman Alqanuni merebut Yerusalem 1517

Pasca Perang Salib dan bangkitnya dominasi Islam di seluruh Timur Tengah oleh Khilafah Abbuyid dan Mamluk, telah muncul suatu kekuatan baru yang berpusat di Istambul (dulu Konstaninopel) sehingga pada tahun 1517 Yerusalem jatuh ke tangan Khilafah Ottoman yang akan berkuasa di seluruh Timur Tengah sampai 1917. Khilafah Ottoman akhirnya dikalahkan oleh Attaturk yang telah menjadi Presiden pertama Turkey modern yang telah menjadikan Turkey bangsa sipil dengan Islam sebagai agama utama di antara beberapa agama lainnya.

Walaupun Khilafah Ottoman telah sangat menghargai Mesjid Al Aqsa dan Mesjid Kubah Al-Saqra sebagai tempat terhormat ketiga dalam agama Islam, namun Sultan Sulaiman tidak menganggap Yerusalem cocok untuk menjadi ibukota wilayah itu.

Limapuluh tahun pertama kepemimpinan Ottoman adalah masa kemakmuran di Yerusalem, sebagaimana di seluruh kedaulatan Turkey. Di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Alqanuni, mencapai puncak pemulihannya secara budaya, ekonomi dan militer. Pada tahun 1532 sistem perairan diperbaiki dan di antara 1538 dan 1541, setelah 320 tahun, tembok Yerusalem diperbaiki dan dibangun kembali. Inilah tembok-tembok yang masih ada di keliling Kota Tua Yerusalem sampai hari ini.

Pemulihan Tembok Yerusalem dilakukan karena tentara Ottoman takut tentara Mamluk mau berusaha merebut kembali Kota Yerusalem. Selain itu Sultan Sulaiman telah memperindah Kubah Al-Saqra dengan tehel-tehel berwarna hijau dan biru yang terbaik dari Persia. Namun setelah zaman Sultan Sulaiman Alqanuni, keadaan Yerusalem dan seluruh wilayah Palestina dibiarkan. Ekonominya menurun drastis, penduduknya mengungsi ke Suria, Libanon dan Mesir, dan wilayah itu kembali menjadi wilayah yang sangat sunyi.

Bagaimana Keadaan Palestina 1517-1917?


Kesaksian para sejarahwan telah mencatat keadaan wilayah Palestina selama 400 tahun dominasi pemerintahan Ottoman sebagai masa yang sepi. Pada tahun 1590 seorang Inggris yang berkunjung ke Yerusalem telah menulis: "Tidak ada apa-apa yang kelihatan selain sebagian tembok-tembok tua, yang lain hanya rumput, jamur dan jerami." (Gunner Edward Webbe, Palestina Exploration Fund, Quarterly Statement, p. 86; de Haas, History, p. 338+).
"Tanah Palestina kekurangan orang untuk mengolah tanahnya yang subur". (Arkeolog Inggris, Thomas Shaw, pertengahan 1700'an.)
"Palestina adalah tanah yang hancur dan sunyi". (Count Constantine François Volney, sejarahwan dan penulis Perancis, Abad Ke-18.)
"Penduduk Arab sendiri hanya dapat dianggap penduduk sementara. Mereka memasang kemahnya di ladang rumput atau membangun pondoknya di antara reruntuhan kota-kota. Mereka tidak membangun apa-apa yang tetap. Karena mereka adalah orang asing di negeri ini mereka juga tidak menguasai keadaannya. Angin padang gurun yang membawa mereka ke sini juga satu hari akan membawa mereka ke lain tempat tanpa meninggalkan tanda apapun waktu mereka melewati daerah ini." (Catatan Gereja tentang Suku Arab di Palestina pada tahun 1800'an.)
"Daerah itu sangat sunyi, dan kami telah jalan di antara berbagai air terjun yang tidak lagi ada air. Kami tidak melihat binatang-binatang yang bergerak di antara batu-batuannya; mungkin kami juga tidak melihat lebih dari 12 ekor burung di sepeanjang perjalanan." (William Thackeray dalam "From Jaffa To Jerusalem", 1844).
"Seluruh negeri sudah hampir kosong dari penduduk dan karenanya sangat memerlukan sejumlah besar penduduk." (James Finn, British Consul, 1857).
"Tidak ada satu desa pun di sepanjang lembah Jizreel, Galilea; tidak ada sejauh tigapuluh kilometer dalam tiap arah... Seorang dapat jalan 16 km dari sini dan tidak melihat sampai 10 orang. Kalau mau mencari kesunyian yang akan melelahkan, datanglah ke Galilea. ... Keadaan Nazaret sungguh menyedihkan ... Yerikho adalah puing-puing yang berjamur ... Betlehem dan Betania, dalam kemiskinan dan kehinaannya ... tidak berpenduduk makhluk yang hidup ... Suatu negeri yang sunyi-senyap yang walaupun tanahnya cukup subur, namun hanya dipakai semata-mata untuk rumput dan jerami ... suatu tempat yang sunyi dan memilukan ... Kami tidak melihat seorang manusia di sepanjang perjalanan ... Hampir saja tidak ada pohon ataupun semak. Bahkan pohon-pohon zaitun dan kaktus, teman setia kepada tanah yang tak berharga juga sudah hampir melarikan diri dari negeri ini ... Wilayah Palestina seolah-olah duduk dalam kain kabung dan abu ... sunyi dan tidak indah". (Mark Twain, "The Innocents Abroad", 1867.)
"Ada banyak bukti, seperti reruntuhan masa lampau, terowongan air yang patah dan pecah, dan sisa-sisa jalan-jalan yang lama, yang menyatakan bahwa daerah ini tidak selamanya kosong seperti sekarang. Dalam lembah antara Bukit Karmel dan Jaffa jarang sekali kelihatan desa atau tanda manusia masih hidup di sini. Ada beberapa pabrik gilingan sederhana yang menggunakan tenaga air sungai. Perjalanan naik kuda selama setengah jam membawa kami ke peninggalan puing-puing kota Kaisaria, yang dulu berpenduduk 200.000 orang, ibu kota Palestina di zaman Romawi, tetapi sekarang sunyi total." (B. W. Johnson, dalam "Young Folks in Bible Lands": Chapter IV, 1892.)

Catatan para musafir dan peziarah sepanjang Abad Ke-16 sampai Abad Ke-19 telah memberi kesaksian yang serupa, termasuk nama-nama terkenal seperti Alphonse de Lamartine, Sir George Gawler, Sir George Adam Smith, Siebald Rieter, Pastor Michael Nuad, Martin Kabatnik, Arnold Van Harff, Johann Tucker, Felix Fabri, Edward Robinson dll. Semuanya telah menemukan tanah Palestina sunyi dan hampir kosong sama sekali, selain beberapa Arab Beduin yang mengembara sini-sana dan sejumlah pedesaan Yahudi di Yerusalem, Shekhem, Hebron, Haifa, Safed, Irsuf, Kaisaria, Gaza, Ramleh, Acre, Sidon, Tzur, El Arish, dan beberapa desa di Galilea, yaitu: Ein Zeitim, Pekiin, Biria, Kefar Alma, Kefar Hanania, Kefar Kana dan Kefar Yassif. Bahkan Napoleon I Bonaparte, setelah berkunjung ke Tanah Suci menyatakan wilayah itu sangat memerlukan penduduk.

Napoleon pernah membahas kemungkinan pemulangan Yahudi secara massal ke negerinya sendiri dari Eropa. Dia ingin mengatasi masalah Yahudi di Eropa dan dia mengakui bahwa Palestina adalah negeri asal Yahudi, bahkan adalah negeri milik Yahudi. Pengalaman kunjungannya ke sana tidak memberi kesan kepada Napoleon bahwa negeri Palestina dihuni, diduduki, dikuasai ataupun dipimpin kaum Arab dan selama berabad-abad tidak pernah didengar suara yang mengklaim tanah itu sebagai hak orang Arab Palestina. Sebaliknya Napoleon telah menyaksikan bahwa mayoritas penduduk Palestina pada zamannya adalah masyarakat Yahudi, bukan Arab. (Green, Elliott, A., The Land of Israel and Jerusalem in 1900.)

Karl Marx juga mencatat bahwa mayoritas penduduk Palestina pada pertengahan Abad Ke-19, adalah Yahudi (New York Tribune 04-15-1854).
Penulis Perancis, Gérardy Santine, yang menerbitkan bukunya tentang keadaan Yerusalem pada tahun 1860 (Trois ans en Judée, 1860), telah menulis bahwa masyarakat Yahudi "adalah lebih separuh penduduk Kota Kudus," yaitu pada tahun 1860 itu.

Laporan Komisi Kerajaan Inggris, 1913

"Seluruh wilayah kekurangan penduduk sehingga tidak maju secara ekonomi sampai kedatangan pelopor Zionis pada tahun 1880'an, yang datang untuk membangun kembali tanah Yahudi itu. Negeri itu telah lama mempertahankan statusnya sebagai "Tanah Suci" dalam kesadaran agama, sejarah dan hati nurani manusia, yang telah mengkaitkannya dengan Alkitab dan sejarah masyarakat Yahudi. Dengan perkembangan yang dilakukakan kaum Yahudi baru maka telah mulai terjadi imigrasi baru pula, baik Yahudi maupun Arab. Jalan dari arah Gaza ke utara hanya merupakan jalan sempit yang hanya cocok untuk transportasi dengan unta atau gerobak. ... Semua rumah dibuat dari lumpur. Tidak ada jendela yang kelihatan ... Bajak dorongan yang dipakai dibuat dari kayu saja ... Hasil pertanian sangat minim ... Keadaan kesehatan dan kebersihan (MCK) di desa [Yabna] sangat parah ... Sekolah-sekolah tidak ada ... Angka kematian anak-anak sangat tinggi ... Bagian barat, ke arah laut, sudah hampir menjadi padang pasir ... Desa-desa di daerah itu sangat sedikit dan hanya sedikit penduduknya. Banyak reruntuhan desa-desa terlihat di berbagai tempat, dan karena banyak malaria, banyak desa lain ditinggalkan penduduknya".
Demikianlah keadaan Palestina pada akhir Zaman Khilafah Ottoman. Hanya 50 tahun pertama dari 1517 sampai 1567 Palestina telah menikmati zaman emas itu lalu selama 350 tahun berikutnya, tanah Palestina telah melarat, menjadi sunyi, kosong dan miskin yang tidak disenangi. Tetapi dengan terjadi Perang Dunia Ke-I dan rubuhnya Khilafah Ottoman semua keadaan itu segera akan berubah. Palestina-Israel akan menjadi tanah yang dicari bahkan direbut dan hal itu akan menjadi bahan pembahasan berikut.

Apakah tanah itu disimpan dalam keadaan kosong oleh Tuhan sebagai persiapan penggenapan janji Firman-Nya? Baca dan fahamilah Yehezkiel 36:24, "Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu."

Palestina Pasca Perang Salib & Masa Kedaulatan Islam (1187-1516 M)

Biasanya, Perang Salib dibagi menjadi delapan periode, yaitu :

1. Periode 1095-1101;
2. Periode 1145-1147;
3. Periode 1188-1192;
4. Periode 1204;
5. Periode 1217;
6. Periode 1239;
7. Periode 1249-1252;
8. Periode 1270.

Pada dasarnya Perang Salib adalah kebijakan politik Gereja Katolik, khususnya para Paus yang selama periode itu lebih berkuasa daripada raja-raja yang ada di bangsa-bangsa Eropa. Terjadinya Reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther mulai tahun 1517 telah membawa perubahan besar dalam pandangan dunia Kristen terhadap peranan agama Kristen dalam perang dan penginjilan. Karena terjadi Reformasi yang dipimpin Martin Luther pada tahun 1517, maka rencana Paus Leo X untuk mengadakan Perang Salib baru pada tahun tersebut agar supaya merebut kembali kota Konstantinopel (Istambul) batal. Konstantinopel telah direbut Islam pada tahun 1453 oleh Ottoman Sultan Mehmed II. Para pemimpin Reformasi, Gerakan Protestan yang dipimpin Luther menyatakan bahwa Perang Salib adalah dosa, karena Tuhan telah memakai orang-orang Turki untuk menghukum dunia Kristen Katolik, karena dosa-dosanya sangat banyak. Sebetulnya, di wilayah Palestina, laskar-laskar Salib diusir secara total pada tahun 1291, ketika mereka diusir dari kota Acre. Setelah itu, wilayah Palestina memasuki "masa kegelapan" karena pemerintahan dengan kekerasan oleh Kerajaan Mamluk dari Mesir ditambah beberapa pandemi penyakit.

Masa Ayyubid – Mamluk

Pada tahun 1187, Salah al-Din (Saladin) telah menetapkan kembali pemerintahan Abbasid atas Fatimid Misir dan menaklukkan kota Yerusalem. Selama 700 tahun berikut, Yerusalem dikuasai oleh pemerintahan Islam (Abbuyid dan Ottoman). Walau Salah al-Din berkemurahan atas masyarakat yang tidak berperang dan memelihara semua tempat ibadah, tapi ia berusaha untuk menghapuskan semua tanda hadirnya para laskar Perang Salib. Bangunan-bangunan yang dianggap milik Islam dan telah dipakai sebagai Gereja, seperti Mesjid Dome of the Rock, dikembalikan untuk dipakai sebagai mesjid lagi dan sejumlah besar bangunan pemerintahan Kristen dijadikan bangunan Islam.

Akibat buruk dari Perang Salib adalah merosotnya posisi masyarakat Kristiani di Tanah Suci. Dulu, sejak tentara Islam masuk ke Palestina dari pertengahan abad ke-7, umat Kristiani sebagai minoritas diberi hak dan hormat di bawah pemerintahan Islam. Setelah Pemerintahan Perang Salib, atau Kerajaan Gereja Katolik berkuasa, maka hak-hak mereka malah berkurang. Karena ancaman Perang Salib Ketiga, Salah al-Din dan para penerusnya membangun kembali tembok-tembok Yerusalem. Namun, baru selesai dibangun pada tahun 1219, keponakan Salah al-Din, al-Malik al Mu'azzam 'Isa, memberi perintah untuk membongkar kembali semuanya. Setelah itu, banyak penduduk yang meninggalkan kota Yerusalem, karena dianggap tidak aman dan mustahil dilindungi dari serangan. Hanya setelah 320 tahun berlalu, pada zaman Ottoman, tembok-tembok kota diperbaiki kembali. Selama masa singkat, pemerintahan Kaisar Hohenstaufen, Frederick II (1229-1244), yang tidak efektif sehingga terjadi pengungsian massal lagi dari kota Yerusalem. Serangan Khawarism Turki membantai 7000 penduduk Kristen yang diam di Yerusalem, kecuali 300 penduduk yang telah melarikan diri ke Yoppa.

Pada tahun 1260 tentara Mamluk, laskar budak Turki yang telah menjadi tentara elit kalahkan oleh semua sarangan dari laskar Salib dan dari tentara Mongol di Perang Ein Jalut di Lembah Yizreel. Setelah itu, Yerusalem hampir-hampir tidak berpenduduk lagi. Tetapi, setelah Kesultanan Mamluk menegakkan kembali hukum dan tata tertib kota, sebagian kecil masyarakat kembali lagi ke kota Yerusalem dan merasa aman walau temboknya belum dibangun kembali. Namun, pemerintahan tidak mengembangkan ekonomi kota atau berbuat banyak agar menarik lebih banyak penduduk untuk kembali. Menjelang kedatangan Kerajaan Ottoman, di Yerusalem tercatat ada 44 madrasah. Hal ini menunjukkan adanya sedikit peningkatan dalam sarana pendidikan, walaupun pendidikan berdasarkan agama Islam.

Pada tahun 1275, Marco Polo sempat singgah di Yerusalem dalam perjalanannya ke China. Ia menjelaskan bahwa kota itu sangat kecil dengan sedikit saja penduduknya. Pada tahun 1348, Maut Hitam mulai melanda Yerusalem dan lebih dari 50% penduduk meninggal atau meninggalkan Yerusalem. Lalu, pada tahun 1438 dicatat bahwa Rabbi Obadiah dari Bertinoro, Italia, datang ke Yerusalem untuk memberi bimbingan kepada masyarakat Yahudi yang masih bertahan di kawasan Yerusalem. Pada akhir zaman Mamluk, ternyata Yerusalem begitu hancur sehingga jumlah total penduduknya hanya kira-kira 4000 jiwa. Bukan lagi kota malah hanya bersifat desa saja.

Orang Yahudi bertahan di Palestina 1097-1518

Para Laskar Salib membenci kaum Yahudi karena mereka dituduh sebagai bangsa yang terlaknat dengan membunuh Yesus. Pada abad ke-11 Laskar Salib sama sekali tidak berkemurahan atas masyarakat Yahudi dan berusaha melenyapkan mereka dengan semua tanda tradisi dari Israel, namun tidak berhasil. Pada tahun 1165, Benjamin dari Tudela, seorang musafir Spanyol menemukan bahwa "Akademi Yerusalem" telah didirikan di Damascus, Suria. Walau tentara Laskar Salib hampir saja "melenyapkan" masyarakat Yahudi dari Yerusalem, Acre, Kaisaria dan Haifa, tapi tetap saja ada orang-orang Yahudi yang tidak mau berangkat, termasuk kawasan Galilea dan beberapa lagi perkampungan Yahudi ternyata mampu bertahan. Kota Acre telah menjadi pusat pendidikan Yahudi di Palestina pada abad ke-13. Sebagiannya beragama Kristen walaupun mayoritas beragama Yahudi dan hidup damai bersama masyarakat Muslim. Dengan keadaan yang lebih aman selama abad ke-12 dan abad ke-13, makin banyak orang Yahudi mulai kembali ke Israel dari pengungsiannya di Afrika Utara dan dari wilayah Islam di Semenanjung Arabia.

Masyarakat Yahudi dari Gaza, Ramle dan Safed dianggap "pemandu ideal" di Tanah Suci pada abad ke-14, kata Jacques dari Verona, seorang pastor yang berziarah ke Palestina. Dia mencatat bahwa ada "masyarakat Yahudi yang sudah lama tinggal di kaki Bukit Sion, di Yerusalem". Pastor itu berkata, "seorang peziarah yang ingin melihat kota-kota tua di Tanah Suci tidak akan dapat menemukannya tanpa pemandu yang baik, yang mengenal tempat-tempat dan sejarahnya dengan teliti karena pengetahuannya diturunkan kepadanya turun-temurun. Jadi, tiap kali saya ke sana saya dapat minta dan memperolah pemandu yang sangat baik dari kalangan Yahudi."

Banyak orang Yahudi yang kembali dari pengungsian semakin bertambah dan mereka tidak pernah lagi meninggalkan Palestina. Pada tahun 1486, jumlah orang Yahudi semakin bertambah banyak. Itulah pengamatan Wakil Pastor Katedral Mainz, Jerman, Bernhard von Breidenbach. Setelah penganiayaan Gereja Katolik di Spanyol atas orang Yahudi dan Kristen Protestan pada 1518, maka semakin banyak orang Yahudi kembali ke Palestina dan dapat hidup relatif aman di bawah pemerintahan Ottoman.

Gaza 1481

Sejarah telah mencatat bahwa Kota Gaza adalah kota makmur dalam masa pemerintahan Mameluk. Pada tahun 1481, Meshulam dari Volterra, peziarah Yahudi menemukan bahwa ada 60 keluarga Yahudi yang telah tinggal di Kota Gaza di bawah pelindungan pemerintah Mamluk.

Apakah Penduduk Mayoritas Palestina bangsa Arab?


Setelah tentara Islam mengalahkan Kerajaan Roma dan mulai berkuasa di kota Yerusalem pada tahun 638, maka terjadilah migrasi penduduk Arab dari Semenanjung Arabia ke berbagai negara di Afrika Utara, Mesir, wilayah Palestina, Suria dan Iraq. Ini adalah masa kejayaan Islam. Tentaranya mampu dengan semangat juang yang tinggi dan para ilmuwan Islam telah berkembang pesat dan menjadi terkenal. Buah pemerintahan dari seluruh wilayah Khilafah Islam menarik penduduknya untuk merantau dan memakan hasil kemenangannya di berbagai daerah. Hal ini makin nyata dalam pembahasan berikut tentang Khilafah Ottoman 1517-1917, dan menjadi periode yang sangat berpengaruh atas latar belakang situasi Timur Tengah di masa kini, yang kian hari kian berbahaya. Oleh sebab itu, janganlah kita bodoh terhadap sejarah, karena sejarah masa lampau merupakan kunci untuk memahami masa kini dan arah perjuangan yang semakin nyata.

Penolakan Bani Israel

Sejak Allah berfirman kepada Musa dalam Keluaran 6:7, Palestina dinyatakan sebagai milik Allah sendiri yang diserahkan-Nya kepada bangsa Israel. Bahwa tanah itu diserahkan Allah kepada Israel secara sah diteguhkan dalam Al-Qur'an, Surah Al Maidah 5:20-21.

Namun, Israel ternyata adalah bangsa yang keras kepala, pemberontak dan pelanggar hukum Allah di sepanjang sejarah, sehingga mereka seringkali dimurkai oleh Tuhan karena dosa-dosanya.

Setelah masa jaya Israel dalam pemerintahan Saul, Daud dan Solomo, terjadilah perpecahan sehingga muncul dua kerajaan di Israel sekitar tahun 922sM. Sepuluh suku di bagian utara Israel yang disebut Bani Israel, berpisah dari dua suku di bagian selatan Israel yang disebut Bani Yehuda. Perpecahan ini membuat dilema bagi Bani Israel karena pusat ibadah dan Bait Suci ada di Yerusalem di daerah Bani Yehuda. Oleh sebab itu, Bani Israel membuat pusat ibadah baru di Dan di bagian utara.

Penolakan Bani Israel atas perintah-perintah Allah mengakibatkan mereka harus diserahkan oleh Allah ke dalam tangan Kerajaan Asyur sekitar tahun 722 sM. Hal ini mengakibatkan Bani Israel lenyap terhilang sampai sekarang sebagai kerajaan yang terpisah sesuai dengan nubuatan-nubatan Firman Tuhan. Namun mereka tetap akan dipulihkan kembali dalam Kerajaan "Daud" atau Bani Yehuda (Yehz 37; Amos 9). Bani Yehuda tidak kehilangan identitasnya sebagai "Israel" dan hanya masuk ke dalam pembuangan di Babel selama 70 tahun dari zaman Raja Nebukadnezar sampai zaman Raja Koresh.

Nubuatan Daniel (Daniel 2) menyatakan bahwa akan ada lima kerajaan yang berkuasa dan mempengaruhi sejarah Timur Tengah, yaitu Kerajaan Babel, Kerajaan Medi-Farsi (Media - Persia), Kerajaan Yunani, Kerajaan Roma dan Kerajaan Allah, "Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya," (Daniel 2:44).

Persis seperti dinubuatkan oleh Daniel, Yesaya, Yehezkiel dan Yeremia, Allah yang mengangkat dan menurunkan bangsa-bangsa dan raja-raja, menguasai sejarah dan melakukan penghukuman-Nya. Ia mempersiapkan wilayah Palestina-Israel ini untuk peristiwa yang terajaib dalam sejarah, yaitu lahirnya Mesias, yang akan mengubah sejarah dunia.

Maka jelaslah, bahwa wilayah Palestina-Israel adalah tanah milik Allah dan Dia berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mengapakah Israel tidak pernah diizinkan untuk hidup dengan tenang dan damai di wilayah itu sepanjang sejarah? Apakah Tuhan mencabut hak-Nya yang sudah diberikan-Nya ke Israel? Kita harus bertanya lagi: Siapakah yang sebenarnya berhak atas wilayah itu? Siapakah yang berkuasa untuk menentukan sejarah dan apa Kerajaan Allah yang dikatakan "kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya"?

Pemahaman akan hal-hal ini bisa mengubah dan membentuk pandangan kita tentang Timur Tengah dan berbagai nubuatan Firman Tuhan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di wilayah itu di akhir zaman.