Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Feb 9, 2020

Gallia

Gallia (berasal dari Bahasa Latin), adalah kawasan Eropa Barat yang saat ini adalah negara Italia bagian utara, Prancis, Belgia, Swiss bagian barat, serta bagian wilayah Belanda dan Jerman di barat Sungai Rhein.

Dalam Bahasa Inggris, kata Gaul juga merujuk pada orang Keltik yang menghuni kawasan tersebut dahulu kala. Orang Gallia menyebar di Eropa pada zaman Romawi, mereka menggunakan Bahasa Gallia. Selain itu, terdapat orang Lepontii yang menghuni di lereng Pegunungan Alpen Italia, yakni di Raetia.

Menurut kesaksian dari Julius Caesar, Gaul dibagi menjadi tiga bagian, Gallia Celtica, Belgica dan Aquitania. Secara arkeologis, Galia adalah pembawa budaya La Tène, yang diperluas di seluruh Gaul, ke timur Rhaetia, Noricum, Pannonia dan barat daya Germania dari abad ke-5 sampai abad ke-1 SM. Selama abad 2 dan 1 SM, Gaul jatuh di bawah kekuasaan Romawi yaitu Galia Cisalpina ditaklukkan pada 203 SM dan Galia Narbonensis di 123 SM. Gaul diserbu oleh Cimbri dan Teuton setelah 120 SM, yang pada gilirannya dikalahkan oleh Roma dengan 103 SM. Setelah 120 SM, Gaul diserbu oleh Cimbri dan Teuton, yang pada gilirannya dikalahkan oleh Roma dengan 103 SM. Julius Caesar akhirnya menaklukan dalam Perang Galia dari 58-51 SM.
Dying Gaul, tiruan patung dari marmer, diduga aslinya dibuat dari perunggu antara tahun 230-220 SM atas perintah Attalos I dari Pergamon untuk merayakan kemenangannya atas Orang-orang Galatia
.
Perang Gallia

Perang Gallia terjadi pada 58-51 SM, atas ambisi Julius Caesar memperluas wilayah Romawi ke utara. Bangsa Gallia di bawah Vercingetorix melawan dengan gigih, mereka akhirnya menyerah setelah benteng mereka dikelilingi oleh barikade oleh tentara Caesar untuk mencegah bangsa Gallia mendapat makanan dari luar. Kegigihan bangsa Gallia mengilhami kartunis René Goscinny dan Albert Uderzo menciptakan tokoh kartun Asterix dan Obelix.

Sejarah Siprus

Sejarah Siprus adalah sejarah sebuah pulau yang terletak di persimpangan Eropa, Levant dan Afrika di Laut Tengah.

Pulau Siprus disebut "Alachia" oleh orang Mesir Kuno, "Iatnana" oleh orang Asiria Kuno dan "Enkomi" oleh orang Fenisia. Pada masa kuno, pulau ini sudah menjadi persimpangan penting dalam jalur perdagangan maritim di Laut Tengah dan penduduknya mengasimilasi kebudayaan-kebudayaan yang berbeda, dari budaya Minoa Kreta hingga Mykenai di Yunani. Namanya dalam bahasa Yunani "Kupros " ("Κύπρος") berarti "tembaga"; nama ini mengacu kepada kandungan besar tembaga yang terdapat di pulau ini, yang juga memperkaya pulau ini pada masa kuno.

Setelah lama menjadi wilayah yang merdeka dan otonom di bawah wewenang raja-raja yang yang menjadi kepala sepuluh kerajaan-kota Siprus, pada abad ke-6 SM Siprus diperebutkan oleh bangsa Persia dan Yunani. Pulau ini dikuasai oleh bangsa Persia, dan kemudian ditaklukan oleh Aleksander yang Agung, dan sesudah kematiannya jatuh ke tangan Dinasti Ptolemeus di Mesir. Pada periode ini, pulau ini mengalami helenisasi, dan pulau ini tetap memiliki budaya Yunani pada masa kekuasaan Romawi dari tahun 58 SM, kemudian Romawi Timur, dan lalu Tentara Salib pada tahun 1192, Republik Venesia pada tahun 1489, Utsmaniyah pada tahun 1571 dan Britania pada tahun 1878.

Saat ini pulau Siprus dihuni oleh sekitar 1.200.000 penduduk dengan etnis Yunani sebagai mayoritas dan etnis Turki sebagai minoritas. Sementara itu, Britania masih tetap menguasai beberapa pangkalan militer di pulau ini, yaitu Akrotiri dan Dhekelia. Wilayah utara pulau ini diduduki oleh Turki pada tahun 1974. Kini Siprus terbagi menjadi dua, yaitu Republik Siprus yang mayoritas penduduknya adalah orang Yunani dan Republik Siprus Utara yang dikuasai oleh orang Turki, meskipun negara Siprus Utara tidak diakui oleh dunia internasional. Kedua negara ini dipisahkan oleh Zona Penyangga Perserikatan Bangsa-Bangsa di Siprus yang juga disebut "garis hijau" atau "garis Attila".

Zaman Klasik

Zaman Klasik adalah kurun waktu abad ke-8 Pra-Masehi sampai abad ke-6 Tarikh Masehi dalam sejarah peradaban kawasan Laut Tengah,  teristimewa peradaban Yunani Kuno dan peradaban Romawi Kuno, dua serangkai yang lazim disebut Dunia Yunani-Romawi. Pada kurun waktu inilah masyarakat Yunani-Romawi berkembang dan meluaskan pengaruhnya ke seluruh Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat.

Zaman Klasik sudah jamak dianggap bermula pada masa penulisan naskah tertua yang memuat syair-syair gubahan Homeros dalam bahasa Yunani langgam wiracarita (abad ke-8 sampai abad ke-7 SM), masih berlangsung sewaktu agama Kristen naik marak dan Wilayah Barat Kekaisaran Romawi jatuh terpuruk (abad ke-5 M), lantas berakhir manakala kebudayaan Yunani-Romawi meluntur pada penghujung Akhir Abad Kuno (tahun 300–600 M). Rentang sejarah dan bentang wilayah yang sedemikian luas merangkum banyak sekali peradaban dan kurun waktu yang istimewa tiada bandingnya. Istilah "Zaman Klasik" juga mengacu kepada visi muluk orang-orang zaman kemudian tentang apa yang disebut Edgar Allan Poe sebagai "kegemilangan nan dahulu Gerika, dan kemegahan nan dahulu Roma". Istilah lain untuk Zaman Klasik adalah Era Klasik, Abad Klasik, dan Abad Kuno Klasik.

Kebudayaan bangsa Yunani Kuno serta beberapa unsur kebudayaan masyarakat Timur Dekat Kuno mendasari tolok-tolok ukur kesempurnaan di bidang seni rupa, filsafat, tata kemasyarakatan, dan pendidikan Dunia Yunani-Romawi sampai dengan Zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi melestarikan, meniru, dan menyebarluaskan tolok-tolok ukur kesempurnaan ini ke seluruh Eropa sampai mereka mampu bersaing dengan kebudayaan Yunani, yakni ketika penggunaan bahasa Latin sudah meluas ke mana-mana, dan Dunia Yunani-Romawi sudah terbiasa bertutur dalam bahasa Yunani sekaligus bahasa Latin. Asas kebudayaan Yunani-Romawi ini sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa, politik, hukum, sistem pendidikan, filsafat, ilmu pengetahuan, hal ihwal berperang, seni puisi, historiografi, etika, retorika, seni rupa, dan arsitektur Zaman Modern. Semenjak abad ke-14, suatu gerakan kebangunan kembali berangsur tumbuh di atas sisa-sisa warisan peninggalan Zaman Klasik, yakni gerakan yang kelak disebut Renaisans di Eropa. Gerakan ini kembali mencuat ketika gerakan-gerakan neoklasik marak bermunculan pada abad ke-18 dan ke-19.

Zaman Arkais (ca. abad VIII – ca. abad VI SM)

Kurun waktu terawal pada Zaman Klasik adalah kurun waktu sebelum kemunculan kembali sumber-sumber sejarah secara perlahan-lahan selepas kemerosotan Akhir Zaman Perunggu. Sebagian besar dari kurun waktu abad ke-8 dan ke-7 SM masih merupakan Zaman Protosejarah, manakala piagam-piagam beraksara Yunani ragam tertua mulai marak bermunculan pada paruh pertama abad ke-8 SM. Homeros sudah jamak dianggap hidup pada abad ke-8 atau ke-7 SM, dan tarikh masa hidupnya seringkali digunakan sebagai tarikh permulaan Zaman Klasik. Pada kurun waktu ini pula Olimpiade Kuno mulai diselenggarakan, yakni pada tahun 776 SM.

Orang Fenisia, orang Kartago, dan orang Asyur

Orang Fenisia mula-mula menyebar dari bandar-bandar Kanaan, dan pada abad ke-8 SM telah mendominasi kegiatan niaga di kawasan Laut Tengah. Kota Kartago didirikan oleh para perantau Fenisia pada tahun 814 SM. Pada tahun 700 SM, orang Kartago telah berhasil mendirikan pangkalan-pangkalan pertahanan di Sisilia, Semenanjung Italia, dan Sardinia, sehingga menimbulkan konflik kepentingan dengan Etruria. Sebuah prasasti yang ditemukan di Kition, Siprus, mengabadikan warta kemenangan Raja Sargon II atas tujuh orang raja di Pulau Siprus pada tahun 709 SM, yang menandai salah satu langkah penting dalam usaha pembebasan Siprus dari cengkeraman orang Tirus oleh bala tentara Asyur.

Zaman Yunani Arkais

aman Yunani Arkais bermula selepas Abad Kegelapan Yunani. Pada zaman inilah teori politik mengalami kemajuan-kemajuan penting, muncul demokrasi, filsafat, teater, serta puisi, dan terjadi revitalisasi bahasa tulis yang sempat menghilang pada Abad Kegelapan Yunani.

Di bidang pembuatan tembikar, pada zaman ini berkembang langgam Orientalisasi, yang mengisyaratkan peralihan dari langgam Geometris khas Abad Kegelapan Yunani serta akumulasi pengaruh dari Mesir, Fenisia, dan Suriah.

Langgam-langgam dalam seni kriya tembikar yang dikaitkan dengan bagian akhir dari Zaman Yunani Arkais adalah langgam sosok hitam yang mula-mula muncul di Korintus pada abad ke-7 SM, beserta penggantinya, langgam langgam sosok merah yang dipelopori oleh Si Pelukis Andokides sekitar tahun 530 SM.
Koloni-koloni orang Yunani

Zaman Besi Italia

Orang Etruski sudah mengukuhkan cengkeraman politiknya atas Semenanjung Italia pada penghujung abad ke-7 SM, dan menjadi golongan ningrat serta penguasa di kawasan itu. Kekuasaan orang Etruski agaknya meredup pada penghujung abad ke-6 SM. Ketika itulah suku-suku Italik menegakkan kembali kedaulatan mereka dengan mengasaskan sebuah negara republik, yang menghalangi penguasa untuk berlaku sewenang-wenang.

Zaman Kerajaan Romawi

Menurut legenda, kota Roma didirikan pada tanggal 21 April 753 SM oleh Romulus dan Remus, anak kembar keturunan Aeneas, kesatria ningrat asal Troya. Konon kelangkaan perempuan di kota Roma memaksa orang Latini untuk menggunakan tipu daya demi mendapatkan istri. Mereka mengundang orang Sabini ke sebuah perayaan, lalu melarikan anak-anak gadis mereka, sehingga orang Latini dan orang Sabini akhirnya hidup berbaur.

Bukti-bukti arkeologi memang menunjukkan tanda-tanda keberadaan sebuah permukiman perdana di lingkungan Forum Romanum pada pertengahan abad ke-8 SM, kendati permukiman-permukiman di Bukit Palatinus mungkin saja sudah didirikan pada abad ke 10 SM.

Raja Roma yang ke-7 sekaligus yang terakhir adalah Tarquinius Superbus. Selaku anak dari Tarquinius Priscus dan menantu dari Servius Tullius, Tarquinius Superbus adalah orang Etruski. Pada masa pemerintahannyalah kekuasaan orang Etruski mencapai titik zenit.

Tarquinius Superbus menyingkirkan dan menghancurkan semua punden dan mazbah orang Sabini di Cadas Tarpeius sehingga mengobarkan kemarahan warga Roma. Rakyat akhirnya bangkit menentang kekuasaan Tarquinius Superbus ketika ia menutup mata terhadap perbuatan bejat putranya menggagahi Lucretia, seorang bangsawati Romawi. Sanak Lucretia, Lucius Iunius Brutus (leluhur Marcus Brutus), mengumpulkan para anggota Senat dan berjuang mengusir Tarquinius Superbus sekaligus mengenyahkan monarki dari Roma pada tahun 510 SM. Selepas pengusiran Tarquinius Superbus, Senat memutuskan untuk tidak lagi tunduk di bawah pemerintahan seorang raja, dan mengubah bentuk pemerintahan kota Roma dari kerajaan menjadi republik pada tahun 509 SM. Kata "raja" (bahasa Latin: rex) pun menjadi istilah yang keji dan dibenci bangsa Romawi sepanjang zaman republik, bahkan sampai ke zaman kekaisaran.

Zaman Yunani Klasik (abad V – abad IV SM)

Kurun waktu klasik pada Zaman Yunani Kuno berlangsung antara abad ke-5 dan ke-4 SM, khususnya sejak tumbangnya tirani di Athena pada tahun 510 SM sampai dengan mangkatnya Aleksander Agung pada tahun 323 SM. Pada tahun 510 SM, bala tentara Sparta membantu warga Athena menumbangkan Tiran Hipias putra Peisistratos. Kleomenes I, Raja Sparta, mengisi kekosongan pemerintahan dengan membentuk pemerintahan oligarki Athena pro-Sparta yang diketuai oleh Isagoras.

Perang-perang Yunani-Persia (499–449 SM), yang berakhir dengan Perjanjian Damai Kalias, bukan hanya menjadi peluang bagi Yunani, Makedonia, Trakia, dan Ionia untuk lepas dari cengkeraman Persia, melainkan juga melambungkan Athena ke posisi dominan dalam Liga Delos, sehingga menimbulkan konflik dengan Sparta dan Liga Peloponesos. Konflik ini akhirnya bermuara pada Perang Peloponesos (431–404 SM), yang berakhir dengan kemenangan di pihak Sparta.

Memasuki abad ke-4 SM, Yunani berada di bawah hegemoni Sparta. Akan tetapi pada tahun 395 SM, para penguasa Sparta menggulingkan Lisandros dari kedudukannya, dan Sparta pun kehilangan supremasi baharinya. Athena, Argos, Tebai dan Korintus (Tebai dan Korintus adalah mantan sekutu Sparta) menentang dominasi Sparta dalam Perang Korintus, yang usai tanpa hasil pada tahun 387 SM. Kemudian hari, pada tahun 371 SM, Epaminondas dan Pelopidas, panglima-panglima bala tentara Tebai, berjaya dalam Pertempuran Leuktra. Pertempuran ini menumbangkan supremasi Sparta sekaligus menjadi pangkal dari hegemoni Tebai. Tebai pun akhirnya digeser dari posisi puncak oleh Makedonia pada tahun 346 SM.

Di bawah pimpinan Raja Filipos II (359–336 SM), Makedonia mencaplok tanah air orang Paionia, orang Trakia, dan orang Iliria. Aleksander Agung (356–323 SM), putra Raja Filipos II, sempat pula memperluas wilayah kedaulatan Makedonia melampaui batas-batas negeri Yunani sampai ke Persia dan Mesir, bahkan sampai ke India. Kurun waktu klasik sudah lumrah dianggap berakhir ketika Aleksander Agung mangkat pada tahun 323 SM. Pada waktu ini pula wilayah luas yang susah payah ia rampas dari bangsa-bangsa asing akhirnya dipecah belah oleh para diadokoi.

Zaman Helenistik (323–146 SM)

Kurun waktu klasik pada Zaman Yunani Kuno mulai beralih ke kurun waktu helenistik ketika Makedonia berjaya dan Aleksander Agung melancarkan aksi-aksi penaklukannya. Bahasa Yunani tersebar keluar dari batas-batas negeri Yunani dan menjadi lingua franca di negeri-negeri asing, sementara kebudayaan Yunani berinteraksi dengan kebudayaan-kebudayaan yang berkembang di Persia, Kerajaan Israel, Kerajaan Yehuda, Asia Tengah, dan Mesir. Pada kurun waktu ini pula bangsa Yunani, khususnya para pengikut Aristoteles (penganut paham Aristotelianisme), mencapai kemajuan-kemajuan penting di bidang ilmu pengetahuan, yakni di bidang ilmu bumi, ilmu falak, matematika, dan lain-lain. Zaman Helenistik berakhir ketika Republik Romawi bangkit menjadi negara adidaya di kawasan Laut Tengah pada abad ke-2 SM, dan menaklukkan Yunani pada tahun 146 SM.

Zaman Republik Romawi (abad V – abad I SM)

Kurun waktu republik pada Zaman Romawi Kuno bermula sejak pemerintah monarki digulingkan sekitar tahun 509 SM dan berlangsung selama lebih dari 450 tahun sampai pemerintah republik digulingkan melalui serangkaian perang saudara. Manakala kurun waktu republik beralih ke kurun waktu kekaisaran, bentuk pemerintahan pun berubah menjadi principatus (keketuaan) dan kemudian dominatus (ketuanan). Selama setengah milenium kurun waktu republik, status Roma meningkat dari negara jago kandang di daerah Latium menjadi negara adidaya jago tandang di dalam maupun di luar Semenanjung Italia. Proses penyatuan wilayah Semenanjung Italia di bawah hegemoni Romawi berlangsung sedikit demi sedikit sebagai hasil dari serangkaian konflik yang terjadi pada abad ke-4 dan abad ke-3 SM, yakni perang beruntun melawan orang Samniti, perang melawan orang-orang Latini, dan perang melawan Piros. Kemenangan romawi dalam perang beruntun melawan orang Kartago dan perang beruntun melawan orang Makedonia, yang melambungkan Roma menjadi negara adidaya di luar kandang pada abad ke-2 SM, diikuti oleh pencaplokan negeri Yunani dan Asia Kecil. Malangnya, peningkatan kekuasaan yang sedemikian besar terjadi berbarengan dengan peningkatan kerawanan ekonomi dan ketidakpuasan masyarakat, yang berbuntut pada upaya makar Katilina, Perang Sekutu, pembentukan triumviratus yang pertama, dan transformasi menjadi Kekaisaran Romawi pada separuh akhir abad pertama SM.

Zaman Kekaisaran Romawi (abad I SM – abad V M)

Penentuan tarikh pasti berakhirnya kurun waktu republik masih menjadi pokok perdebatan di kalangan sejarawan Zaman Modern. Masyarakat Romawi ketika itu belum sadar kalau negara Republik Romawi sudah tamat riwayatnya. "Kaisar-kaisar" Romawi terdahulu yang berasal dari wangsa Iulia-Claudia masih berusaha mempertahankan keberadaan res publica (pemerintahan demi kemaslahatan rakyat), kendati di bawah perlindungan kewenangan luar biasa mereka, and would eventually kembali ke bentuk republik to its full Republican form. Negara bangsa Romawi tunak menyebut diri negara res publica selama masih menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resmi negara.

Negara bangsa Romawi mulai bersifat kekaisaran secara de facto semenjak tahun 130 SM, dengan pencaplokan wilayah Galia Cisalpina, Iliria, Yunani, dan Hispania. Sifat kekaisaran negara ini akhirnya paripurna dengan pencaplokan wilayah Yudea, Asia Kecil, dan Galia pada abad pertama SM. Saat keluasan wilayah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus (117 M), negara bangsa Romawi menguasai seluruh kawasan sekitar Laut Tengah, Galia, sejumlah daerah di Germania dan Britania, Semenanjung Balkan, Dacia, Asia Kecil, kawasan Pegunungan Kaukasus, serta Mesopotamia.

Dari segi kebudayaan, Kekaisaran Romawi sangat terhelenisasi, tetapi juga terimbas maraknya tradisi-tradisi "timur" yang sinkretis, misalnya penyembahan dewa Mitra, ajaran-ajaran Gnostik, dan teristimewa agama Kristen. Kekaisaran Romawi mulai terpuruk saat terjadi Krisis Abad Ketiga.

Kendati terkadang disama-samakan, hal ihwal rumah tangga dalam masyarakat Romawi Klasik sesungguhnya jauh berbeda dari yang ada dalam masyarakat Yunani Klasik. Dalam masyarakat Romawi Klasik, para ayah berkuasa penuh atas anak-anak mereka, demikian pula para suami atas istri-istri mereka. Kekuasaan ayah atas anak maupun kekuasaan suami atas istri bahkan lazim disama-samakan dengan kekuasaan majikan atas budak belian. Makna asli kata "famiglia" dalam bahasa Italia sesungguhnya sama dengan makna kata "kulawarga", cikal bakal kata "keluarga" dalam bahasa Indonesia. Baik istilah "famiglia" maupun "kulawarga" mengacu kepada orang-orang yang tunduk di bawah kewenangan seorang bapak kepala rumah tangga, termasuk orang-orang yang tidak berkerabat dengannya, misalnya budak-budak belian dan pelayan-pelayan upahan. Dalam ikatan perkawinan, baik suami maupun istri saling bersetia dan saling berbagi harta kekayaan. Perceraian diperbolehkan untuk pertama kalinya pada abad pertama SM, dan dapat dilakukan atas kehendak suami maupun istri.

Akhir Abad Kuno (abad IV – abad VI M)

Pada Akhir Abad Kuno, agama Kristen terangkat derajatnya berkat jasa Kaisar Konstantinus I, dan akhirnya menjadi agama negara menggantikan kultus penuhanan kaisar berdasarkan Maklumat Kaisar Teodosius I tahun 393. Invasi beruntun suku-suku Jermanik akhirnya menuntaskan keterpurukan Wilayah Barat Kekaisaran Romawi pada abad ke-5, sementara Wilayah Timur Kekaisaran Romawi bertahan melewati Abad Pertengahan. Sisa wilayah kedaulatan negara bangsa Romawi ini tetap disebut Kekaisaran Romawi oleh warganya, tetapi kemudian hari diberi nama Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantin oleh para sejarawan. Filsafat Helenistik berganti dengan perkembangan berkesinambungan sistem filsafat Platonisme dan sistem filsafat Epikureanisme. Sistem filsafat Neoplatonisme kemudian hari mempengaruhi ajaran teologi Bapa-Bapa Gereja.

Banyak penulis sudah mencoba menetapkan tarikh pasti dari "akhir" simbolis Abad Kuno. Tarikh-tarikh yang paling mengemuka adalah tarikh pemakzulan Kaisar Romawi untuk Wilayah Barat (tahun 476),  tarikh penutupan Perguruan Plato di Athena oleh Kaisar Yustinianus I (tahun 529),  dan tarikh penaklukan sebagian besar kawasan Laut Tengah oleh bala tentara Muslim (tahun 634–718).  Penaklukan Suriah (tahun 637), Mesir (tahun 639), Siprus (tahun 654), Afrika Utara (tahun 665), Hispania (tahun 718), kawasan selatan Galia (tahun 720), Kreta (tahun 820), Sisilia (tahun 827), dan Malta (tahun 870), maupun aksi-aksi pengepungan ibu kota Wilayah Timur Kekaisaran Romawi (aksi pengepungan Konstantinopel tahun 674–678) dan aksi pengepungan Konstantinopel tahun 717–718) yang dilakukan bala tentara Muslim merusak sendi-sendi ekonomi, kebudayaan, dan politik yang menyatukan kebudayaan-kebudayaan klasik di kawasan sekitar Laut Tengah dari generasi ke generasi, dan menamatkan Abad Kuno (baca artikel Tesis Pirenne).
Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 650, sesudah bangsa Arab menaklukkan provinsi Suriah dan provinsi Mesir, bertepatan dengan waktu bermukimnya masyarakat Slav Perdana di Semenanjung Balkan.

Senat Romawi masih terus menerbitkan maklumat sampai menjelang akhir abad ke-6, dan Kaisar Romawi Timur terakhir yang menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa sidang majelis istana di Konstantinopel adalah Kaisar Maurisius, yang bertakhta sampai tahun 602. Pemakzulan Kaisar Maurisius melalui dahagi yang dilakukan angkatan bersenjata Satuan Donau di bawah pimpinan panglima Fokas memicu invasi orang Slav atas Semenanjung Balkan, memundurkan budaya perkotaan Balkan dan Yunani (yang memaksa masyarakat penutur bahasa Latin di Semenanjung Balkan untuk mengungsi ke daerah pegunungan, baca artikel asal-usul orang Rumania), serta memancing timbulnya Perang Romawi-Sasani 602–628 yang berbuntut pada pencaplokan semua kota besar Wilayah Timur selain Konstantinopel. Kekisruhan yang diakibatkannya baru reda sesudah aksi-aksi penaklukan yang dilancarkan kaum Muslim pada abad ke-7 menuntaskan hilangnya kedaulatan Kekaisaran Romawi Timur atas semua kota besar selain ibu kota. Kaisar Heraklius di Konstantinopel, yang memerintah pada kurun waktu ini, menggunakan bahasa Yunani alih-alih bahasa Latin sebagai bahasa sidang majelis istana, kendati bahasa Yunani memang sudah sejak semula menjadi bahasa ketatausahaan di daerah-daerah Wilayah Timur Kekaisaran Romawi. Sendi-sendi pemersatu Timur-Barat pun melemah dengan berakhirnya Zaman Kepausan Bizantin.

Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, menjadi satu-satunya kota besar peninggalan Kekaisaran Romawi terdahulu yang masih dikuasai bangsa Romawi, sekaligus menjadi kota terbesar di Eropa. Sepanjang milenium berikutnya, budaya Romawi kota Konstantinopel lambat laun mengalami perubahan, sehingga para sejarawan Zaman Modern merasa perlu mengubah sebutan "Romawi" menjadi "Romawi Timur" atau "Bizantin", kendati banyak buku, arca, dan teknologi Zaman Klasik maupun khazanah boga dan tradisi-tradisi keilmuan Romawi Klasik masih tetap lestari di negara Kekaisaran Romawi Timur sampai "ditemukan kembali" pada Abad Pertengahan oleh Laskar Salib dari Barat. Warga Konstantinopel bahkan masih menyebut diri "orang Romawi", demikian pula pihak yang menaklukkan mereka pada tahun 1453, yakni orang Turki Osmanli (baca artikel Rûm). Budaya dan ilmu pengetahuan Zaman Klasik yang masih lestari di Konstantinopel dibawa serta oleh warganya yang mengungsi ke Barat pada tahun 1453 dan turut berjasa mencetuskan Renaisans (baca artikel Cendekiawan Yunani dalam Renaisans).

Perubahan struktur sosial ekonomi yang berlangsung perlahan, ruwet, dan bertahap dalam perjalanan sejarah Eropalah yang akhirnya bermuara pada peralihan dari Zaman Klasik ke Abad Pertengahan, dan tidak ada tarikh tertentu yang dapat ditetapkan sebagai tarikh terjadinya peralihan tersebut.

Warisan politik

Di bidang politik, gagasan dari penghujung Zaman Romawi Kuno tentang kekaisaran sebagai sebuah negara sejagat, yang dikepalai satu orang pemimpin tertinggi pilihan Tuhan, bergandengan dengan agama Kristen sebagai satu agama sejagat, yang juga dikepalai oleh satu orang batrik tertinggi, terbukti sangat berpengaruh, bahkan sesudah pemerintahan kekaisaran sirna dari Wilayah Barat. Kecenderungan berpola pikir seperti ini memuncak ketika Karel Agung dinobatkan menjadi "Kaisar Romawi" pada tahun 800, yang bermuara pada pembentukan Kekaisaran Romawi Suci. Gagasan bahwa kaisar adalah kepala monarki yang mengatasi raja muncul untuk pertama kalinya pada kurun waktu ini. Menurut gagasan politis ini, akan selalu ada negara semacam Kekaisaran Romawi, yakni negara dengan yurisdiksi seluas dunia beradab.

Pola pemerintahan semacam ini tetap lestari di Konstantinopel sepanjang Abad Pertengahan. Kaisar Romawi Timur dipandang sebagai penguasa tertinggi seluruh Dunia Kristen. Batrik Konstantinopel adalah rohaniwan tertinggi di Kekaisaran Romawi Timur, tetapi ia tetap kawula kaisar, "Wakil Tuhan di muka bumi". Rakyat Kekaisaran Romawi Timur dari generasi ke generasi tetap menyebut diri "orang Romawi" sampai dengan berdirinya negara baru bangsa Yunani pada tahun 1832.

Seudah Konstantinopel jatuh ke tangan bangsa Turki pada tahun 1453, para ksar (gelar yang diambil dari kata Caesar) di Rusia menyatakan diri sebagai pelindung agama Kristen Ortodoks, Moskwa pun disebut-sebut sebagai "Roma Ketiga", dan para ksar memerintah selaku kaisar pilihan Tuhan sampai dengan abad ke-20.

Despite the fact that the Western Roman secular authority disappeared entirely in Europe, it still left traces. Lembaga Kepausan dan Gereja Katolik masih melestarikan bahasa, budaya, dan kepandaian baca-tulis Latin selama berabad-abad. Sampai sekarang pun paus masih digelari Pontifex Maximus (Imam Besar), salah satu gelar kaisar pada Zaman Klasik, dan Dunia Kristen menjadi penerus peradaban Eropa bersatu, bahkan sesudah kesatuan politiknya sirna.

Gagasan politis tentang kaisar di Barat yang sederajat dengan kaisar di Timur masih tersimpan dalam ingatan orang kendati Wilayah Barat Kekaisaran Romawi sudah runtuh. Gagasan ini dihidupkan kembali dengan penobatan Karel Agung pada tahun 800, dan negara yang menyebut dirinya Kekaisaran Romawi Suci pun merajai kawasan tengah Eropa sampai tahun 1806.

Gagasan Renaisans tentang nilai-nilai luhur Romawi Klasik yang hilang dilamun Abad Pertengahan masih kuat mengakar dalam ranah politik Eropa pada abad ke-18 dan abad ke-19. Para pengasas negara Amerika Serikat maupun tokoh-tokoh revolusi Amerika Latin sangat mengagumi tatanan republik ciptaan bangsa Romawi. Alih-alih menggunakan istilah-istilah Inggris yang sudah lazim seperti commonwealth (persemakmuran) dan parliament (parlemen), Amerika Serikat justru menggunakan istilah-istilah Latin. Sistem pemerintahannya diberi nama republik (dari frasa res publica), lembaga legislatifnya diberi nama Senat (dari kata senatus), dan lembaga eksekutifnya diberi nama Presiden (dari kata praesidens).

Semangat yang sama juga melanda Prancis pada Zaman Revolusi dan Zaman Napoleon, manakala tatanan republik dan nilai-nilai kewiraan Romawi dijunjung tinggi oleh negara, tercermin pada arsitektur Panthéon dan Arc de Triomphe maupun lukisan-lukisan Jacques-Louis David. Pada Zaman Revolusi, Prancis mengulangi proses peralihan dari tatanan kerajaan ke tatanan kediktatoran, lantas berlanjut ke tatanan kekaisaran (lengkap dengan pemakaian lambang rajawali kekaisaran), sebagaimana yang pernah terjadi di Roma berabad-abad silam.

Yunani Kuno

Yunani Kuno adalah peradaban dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani Arkais pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga berahirnya Zaman Kuno dan dimulainya Abad Pertengahan Awal. Peradaban ini mencapai puncaknya pada periode Yunani Klasik, yang mulai berkembang pada abad ke-5 sampai ke-4 SM. Pada periode klasik ini Yunani dipimpin oleh negara-kota Athena dan berhasil menghalau serangan Kekaisaran Persia. Masa keemasan Athena berakhir dengan takluknya Athena kepada Sparta dalam Perang Peloponnesos pada tahun 404 SM. Seiring penaklukan oleh Aleksander Agung, kebudayaan Yunani, yang dikenal sebagai peradaban Hellenistik, berkembang mulai dari Asia Tengah sampai ujung barat Laut Tengah.

Istilah "Yunani Kuno" diterapkan pada wilayah yang menggunakan bahasa Yunani pada Zaman Kuno. Wilayahnya tidak hanya terbatas pada semenanjung Yunani modern, tetapi juga termasuk wilayah lain yang didiami orang-orang Yunani, di antaranya Siprus dan Kepulauan Aigea, pesisir Anatolia (saat itu disebut Ionia), Sisilia dan bagian selatan Italia (dikenal sebagai Yunani Besar), serta pemukiman Yunani lain yang tersebar sepanjang pantai Kolkhis, Illyria, Thrakia, Mesir, Kyrenaika, Galia selatan, Semenanjung Iberia timur dan timur laut, Iberia, dan Taurika.

Oleh sebagian besar sejarawan, peradaban ini dianggap merupakan peletak dasar bagi Peradaban Barat. Budaya Yunani memberi pengaruh kuat bagi Kekaisaran Romawi, yang selanjutnya meneruskan versinya ke bagian lain Eropa. Peradaban Yunani Kuno juga sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni, mendorong Renaisans di Eropa Barat, dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.

Tidak ada kesepakatan yang tetap dan universal mengenai waktu awal dan akhir masa Antikuitas Klasik. Biasanya dimulai sejak abad ke-8 SM sampai abad ke-6 M, atau sekitar 1300 tahun.

Antikuitas Klasik di Yunani didahului oleh Zaman Kegelapan Yunani (1100 - 750 SM), yang secara arkeologis dicirikan dengan gaya tembikar protogeometris dan geometris, yang dilanjutkan oleh Periode Oriental, yaitu pengaruh yang kuat terhadap Yunani dari budaya Suriah-Hittit, Asiria, Punisia dan Mesir.

Secara tradisional, periode Arkais di Yunani kuno dimulai dari kuatnya pengaruh Oriental pada abad ke-8 SM, yang merupakan salah satu faktor yang menjadikan Yunani memiliki huruf alfabet sendiri. Dengan alfabet, muncullah karya tulis Yunani kuno, yang paling terkenal adalah buatan Homeros dan Hesiodos. Setelah periode Arkais, dimulailah periode Klasik sekitar 500 SM, yang pada gilirannya dilanjutkan oleh periode Hellenistik setelah kematian Aleksander Agung pada 323 SM.

Sejarah Yunani pada Antikuitas Klasik dapat dibagi menjadi beberapa periode berikut:

    Periode Arkais (750 - 500 SM) adalah ketika para seniman membuat patung berdiri dalam pose yang kaku dan keramat dengan 'senyum arkais'. Periode Arkais biasanya disebut berakhir dengan penggulingan kekuasaan tiran Athena yang terakhir pada 510 SM.
    Periode Klasik (500 - 323 SM) dicirikan dengan gaya yang oleh para pengamat berikutnya disebut sebagai contoh, atau klasik, misalnya Parthenon. Dalam politik, periode Klasik didominasi oleh Athena dan Liga Delos pada abad ke-5 SM, yang digantikan oleh Hegemoni Sparta pada awal abad ke-4 SM, sebelum kekuasaan beralih pada Thebes dan Liga Boiotia dan akhirnya pada Liga Korinthos yang dipimpin oleh Makedonia.
    Periode Hellenistik (323-146 SM) adalah ketika budaya dan kekuasaan Yunani menyebar sampai ke Timur Dekat dan Timur Tengah. Periode ini dimulai setelah kematian Aleksander Agung dan berakhir dengan penaklukan Yunani oleh Romawi.
    Yunani Romawi adalah periode yang berlangsung sejak Romawi menaklukan Korinthos dalam Pertempuran Korinthos pada 146 SM sampai didirikannya Bizantium oleh kaisar Konstantinus sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi pada 330 SM.
    Fase akhir Antikuitas adalah periode Kristenisasi dari akhir abad ke-4 M sampai abad ke-6 M, biasanya disebut berakhir setelah ditutupnya Akademi Neoplatonik oleh kaisar Yustinianus I pada 529 M.

Historiografi

Periode bersejarah di Yunani kuno adalah unik dalam sejarah dunia karena merupakan periode pertama yang dibuktikan dengan adanya historiografi yang layak, sedangkan protosejarah dan sejarah kuno yang lebih awal lebih banyak diketahui melalui bukti situasional, misalnya annal, atau daftar raja, dan epigrafu pragmatis.

Herodotos dikenal secara luas sebagai "bapak sejarah", judul karyanya, Historia, menjadi asal kata untuk history. Karya Herodotos ditulis antara 450 SM sampai 420 SM dan cakupannya mencapai satu abad ke belakang, membahas tokoh-tokoh bersejarah dari abad ke-6 seperti Darius I dari Persia, Kambises II dan Psamtik III, serta menyinggung beberapa tokoh dari abad ke-8 semisal Kandaules.

Herodotos dilanjutkan oleh para penulis semacam Thukydides, Xenophon, Demosthenes, Plato dan Aristoteles. Sebagian besar dari para penulis ini adalah orang Athena atau pro-Athena, sehingga sejarah dan politik kota Athena lebih banyak diketahui daripada kota-kota lainnya. Cakupan mereka terbatas pada sejarah diplomasi, militer, dan politik, dan mengabaikan sejarah ekonomi dan sosial.

Sejarah

Periode Arkais dimulai pada abad ke-8 SM, ketika Yunani mulai bangkit dari Zaman Kegelapan yang ditandai dengan keruntuhan peradaban Mykenai. Peradaban baca-tulis telah musnah dan aksara Mykenai telah dilupakan, akan tetapi bangsa Yunani mengadopsi alfabet Punisia, memodifikasinya dan menciptakan alfabet Yunani. Sekitar abad ke-9 SM catatan tertulis mulai muncul.  Yunani saat itu terbagi-bagi menjadi banyak komunitas kecil yang berdaulat, terbentuk sesuai pola geografis Yunani, dimana setiap pulau, lembah, dan dataran terpisah satu sama lain oleh laut atau pengunungan.

Perang Lelantin (710–650 SM) adalah konflik yang berlangsung pada masa ini dan merupakan perang tertua yang berhasil terdokumentasikan dari masa Yunani kuno. Konflik ini adalah pertikaian antara Polis (negara kota) Khalkis dan Eretria dalam memperebutkan tanah Lelantina yang subur di Euboia. Kedua kota itu menderita kemunduran akibat lamanya perang, meskipun Khalkis menjadi pemenangnya.

Kaum saudagar berkembang pada paruh pertama abad ke-7 SM, ditunjukkan dengan diperkenalkannya mata uang koin sekitar 680 SM. Hal ini tampaknya menimbulkan ketegangan pada banyak negara kota. Rezim kaum aristokrat yang secara umum memerintah polis kini terancam oleh para saudagar kaya, yang pada gilirannya menginginkan juga kekuasaan politik. Sejak tahun 650 SM, para aristokrat harus berusaha supaya tidak digulingkan dan digantikan oleh tiran populis. Kata ini berasal dari kata Yunani non-peyoratif, τύραννος "("tyrannos"), bermakna 'penguasa tidak sah', meskipun gelar ini berlaku baik untuk pemimpin yang bagus maupun yang buruk.

Populasi yang bertambah dan kurangnya lahan tampaknya telah memicu perselisihan internal antara kaum kaya dan kaum miskin di banyak negara kota. Di Sparta, Perang Messenia terjadi dan akibatnya Messenia ditaklukan dan penduduknya dijadikan budak. Perang ini dimulai pada paruh kedua abad ke-8 SM, dan merupakan suatu tindakan tanpa pendahulu di Yunani kuno. Praktik ini memungkinkan terjadinya revolusi sosial. Penduduk yang diperbudak, yang kemudian disebut helot, dipaksa untuk bertani dan bekerja untuk rakyat Sparta, sementara semua lelaki Sparta menjadi prajurit dan masuk ke dalam Pasukan Sparta. Ini telah menjadikan Sparta sebagai negara yang termiliterisasi secara permanen. Bahkan orang kaya juga harus hidup dan berlatih sebagai prajurit seperti halnya kaum miskin. Penyetaraan ini bertujuan mengurangi potensi terjadinya konflik sosial antara kaum kaya dan kaum miskin. Reformasi ini disebut-sebut dilakukan oleh Lykurgos dari Sparta dan kemungkinan selesai pada 650 SM.

Athena menderita krisis tanah dan pertanian pada akhir abad ke-7 SM dan lagi-lagi mengalami perang saudara. arkhon (hakim kepala) Drako membuat beberapa perubahan terhadap kode hukum pada 621 SM, tetapi tindakan ini gagal meredakan konflik. Pada akhirnya reformasi terjadi berkat Solon (594 SM), yang memperbanyak tanah untuk orang miskin tetapi menempatkan kaum aristokrat sebagai pemegang kekuasaan. Reformasi ini cukup membuat Athena stabil.

Pada abad ke-6 SM beberapa negara kota telah tumbuh menjadi kekuatan dominan Yunani, antara lain Athena, Sparta, Korinthos, dan Thebes. Masing-masing menaklukkan wilayah pedesaan dan kota kecil sekitarnya. Sementara Athena dan Korinthos juga menjadi kekuatan maritim dan perdagangan terkemuka.

Pertumbuhan penduduk yang pesat pada abad ke-8 dan ke-7 SM telah mengakibatkan perpindahan penduduk Yunani ke koloni-koloninya di Yunani Besar (Italia selatan dan Sisilia), Asia Minor dan wilayah lainnya. Emigrasi ini berakhir pada abad ke-6 yang pada saat itu dunia Yunani, secara budaya dan bahasa, mencakup kawasan yang jauh lebih luas dari negara Yunani sekarang. Koloni Yunani ini tidak diperintah oleh kota pembangunnya, meskipun mereka tetap menjalin hubungan keagamaan dan perdagangan.

Pada periode ini, perkembangan yang pesat dalam bidang ekonomi terjadi di Yunani dan juga di daerah-daerah koloninya, yang menikmati kemajuan dalam perdagangan dan manufaktur. Periode ini juga ditandai dengan meningkatnya standar hidup di Yunani dan koloninya. Beberapa studi memperkirakan bahwa rata-rata ukuran rumah tangga Yunani, pada periode 800 SM sampai 300 SM, meningkat sampai lima kali lipat, yang mengindikasikan adanya peningkatan tajam dalam hal pendapatan para penduduknya.

Pada paruh kedua abad ke-6 SM, Athena jatuh dalam cengkeraman tirani Peisistratos dan putranya; Hippias dan Hipparkhos. Akan tetapi pada tahun 510 SM pada pelantikan aristokrat Athena Keisthenes, raja Sparta Kleomenes I membantu rakyat Athena menggulingkan sang tiran. Setelah itu Sparta dan Athena berulang kali saling serang, pada suatu saat Kleomenes I mengangkat Isagoras yang pro-Sparta menjadi arkhon Athena. Untuk mencegah Athena menjadi negara boneka Sparta, Kleisthenes meminta warga Athena untuk melakukan suatu revolusi politik: bahwa semua warga Athena memiliki hak dan kewajiban politik yang sama tanpa memandang status: dengan demikian Athena menjadi "demokrasi". Gagasan ini disambut oleh warga Athena dengan bersemangat sehingga setelah berhasil menggulingkan Isagoras dan menerapkan reformasi Kleisthenes, Athena dengan mudah berhasil menangkal tiga kali serangan Sparta yang berusaha mengembalikan kekuasaan Isagoras. Bangkitnya demokrasi memulihkan kekuatan Athena dan memicu dimulainya 'masa keemasan' Athena.

Yunani Klasik

Athena dan Sparta bersekutu untuk menghadapi ancaman asing yang sangat kuat dan berbahaya, Kekaisaran Persia. Setelah menindas Pemberontakan Ionia, Kaisar Darius I dari Persia, Maharaja Kekaisaran Akhemeniyah memutuskan untuk menaklukan Yunani. Serangan Persia pada tahun 490 SM diakhiri dengan kemenangan Athena dalam Pertempuran Marathon di bawah kepemimpina Miltiades Muda.

Xerxes I, putra dan pewaris Darius I, mencoba kembali menaklukan Yunani 10 tahun kemudian. Akan tetapi pasukan Persia yang berjumlah besar menderita banyak korban dalam Pertempuran Thermopylae, dan persekutuan Yunani menang dalam Pertempuran Slamis dan Pertempuran Plataia. Perang Yunani-Persia berlangsung hingga 449 SM, dipimpin oleh Athena serta Liga Delosnya, pada saat ini Makedonia, Thrakia, dan Kepulauan Aigea serta Ionia semua terbebas dari pengaruh Persia.

Posisi dominan kemaharajaan maritim Athena mengancam posisi Sparta dengan Liga Peloponnesos-nya, yang meliputi kota-kota di daratan Yunani. Konflik tak terhindarkan ini berujung pada Perang Peloponnesos (431-404 SM). Meskipun berulang kali berhasil menghambat perang, Athena berulang kali terpukul mundur. Wabah Wabah penyakit yang menimpa Athena pada 430 SM disusul kegagalan ekspedisi militer ke Sisilia sangat melemahkan Athena. Diduga sepertiga warga Athena tewas, termasuk Perikles, pemimpin mereka.

Sparta berhasil memancing pemberontakan para sekutu Athena, dan akhirnya melumpuhkan kekuatan militer Athena. Peristiwa penting terjadi pada 405 SM ketika Sparta berhasil memotong jalur suplai pangan Athena dari Hellespont. Terpaksa menyerang, armada angkatan laut Athena yang pincang dihancurkan oleh pasukan Sparta di bawah pimpinan Lysandros dalam Pertempuran Aigospotami. Pada 404 SM Athena mengajukan permohonan perdamaian, dan Sparta menentukan persyaratannya; Athena harus kehilangan tembok kotanya (termasuk Tembok Panjang), armada lautnya, dan seluruh koloninya di seberang laut.

Abad ke-4 SM

Yunani memasuki abad ke-4 SM di bawah hegemoni Sparta, akan tetapi jelas dari awal bahwa Sparta memiliki kelemahan. Krisis demografi menyebabkan kekuasaan Sparta terlalu meluas sedangkan kemampuannya terbatas untuk mengelolanya. Pada 395 SM Athena, Argos, Thebes, dan Korinthos merasa mampu menantang dominasi Sparta, yang berujung pada Perang Korinthios (395-387 SM). Perang ini berakhir dengan status quo, dengan diselingi intervensi Persia atas nama Sparta.

Hegemoni Sparta berlangsung trus selama 16 tahun setelah peristiwa itu, hingga Sparta berusaha memaksakan kehendanya kepada warga Thebes, Sparta kalah telak dalam Pertempuran Leuktra pada tahun 371 SM. Jenderal Thebes Epaminondas memimpin pasukan Thebes memasuki semenanjung Peloponesos, sehingga banyak negara-kota memutuskan hubungannya dengan Sparta. Pasukan Thebes berhasil memasuki Messenia dan membebaskan rakyatnya.

Kehilangan tanah dan penduduk jajahan, Sparta jatuh menjadi kekuatan kelas dua. Hegemoni Thebes kemudian berdiri meski berusia singkat. Dalam Pertempuran Mantinea pada tahun 362 SM melawan Sparta dan sekutunya, Thebes kehilangan pemimpin pentingnya, Epamonides, meskipun mereka meraih kemenangan. Akibat kekalahan ini, baik Thebes maupun Sparta sama-sama menderita kerugian besar sehingga tak satupun di antara mereka atau sekutunya yang dapat meraih dominasi di Yunani.

Melemahnya berbagai negara-kota di jantung Yunani terjadi bersamaan dengan bangkitnya Makedonia, yang dipimpin oleh Philippos II. Dalam waktu dua puluh tahun, Philipos berhasil mempersatukan kerajaannya, memperluasnya ke utara dengan memojokkan suku-suku Illyria, dan kemudian menaklukkan Thessalia dan Thrakia. Kesuksesannya terjadi berkat inovasinya, yang mereformasi pasukan Makedonia. Berulang kali Philippos campur tangan dalam urusan politik negara-kota di selatan, yang berujung pada invasinya pada tahun 338 SM.

Setelah mengalahkan gabungan tentara Athena dan Thebes secara telak dalam Pertempuran Khaironeia pada tahun 338 SM, Philippos secara de facto menjadi hegemon seluruh Yunan, kecuali Sparta. Ia memaksa mayoritas negara-kota Yunani untuk bergabung ke dalam Liga Korinthos dan bersekutu dengannya, serta mencegah mereka saling menyerang. Philiposp memulai serangan terhadap Kekaisaran Akhemeniyah, akan tetapi ia dibunuh oleh Pausanias dari Orestis pada awal konflik.

Aleksander Agung, putra dan pewaris Philippos, melanjutkan perang. Aleksander mengalahkan Darius III dari Persia dan menghancurkan Kekaisaran Akhemeniyah sepenuhnya, serta memasukkannya ke dalam Kekaisaran Makedonia. Karena kehebatannya, ia memperoleh gelar 'Agung'. Kerika Aleksander wafat pada 323 SM, kekuasaan dan pengaruh Yunani berada pada puncaknya. Terjadi perubahan politik, sosial dan budaya yang mendasar; semakin menjauh dari polis (negara-kota) dan lebih bekembang menjadi kebudayaan Hellenistik.

Yunani Hellenistik

Periode Hellenistik bermula pada 323 SM, ditandai dengan berakhirnya penaklukan Aleksander Agung, dan diakhiri dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Meskipun demikian berdirinya kekuasaan Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani, yang tetap tidak berubah hingga bangkitnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.

Teknologi Yunani kuno

Teknologi Yunani kuno berkembang pada abad ke-5 SM, berlanjut dan meliputi periode Romawi, dan setelahnya. Penemuan-penemuan yang dianggap dibuat oleh bangsa Yunani kuno meliputi gir, sekrup, kincir putar, pers sekrum, teknik pemasangan perunggu, jam air, organ air, katapult torsi, penggunaan uap untuk mengoperasikan beberapa mesin dan mainan eksperimental, dan sebuah chart untuk menemukan bilangan prima. Beberapa temuan tersebut terjadi pada akhir periode Yunani, seringkali terinspirasi oleh kebutuhan senjata dan taktik perang. Namun, penggunaan damai ditampilkan oleh pengembangan awal kincir air, sebuah perangkat yang dieksplorasi lebih lanjut pada skala besar oleh bangsa Romawi. Mereka mengembangkan alat ukur dan matematika untuk sebuah kemajuan, dan beberapa kemajuan teknik mereka diterbitkan oleh para filsuf, seperti Archimedes dan Heron.