Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jul 10, 2015

Gerakan Sionisme (1862 - 1917)

Sepanjang sejarah 3500 tahun sejak bangsa Israel menguasai wilayah Palestina, daerah itu adalah tanah air yang dikaruniakan Allah kepadanya sebagaimana dicatat dalam Al-Qur'an (Surah Al Maidah 5:20-21) dan Alkitab (Keluaran 6:7). Kita sudah lihat pula bahwa sepanjang 3500 tahun itu tidak pernah ada waktu di mana tidak ada masyarakat Israel yang tinggal di sana.

Tujuh Periode Pengembangan dan Pembentukan Israel

    Perbudakan di Mesir – 2100 sM – 1500 sM.
    Perbudakan di Babel – 536 sM-457 sM
    Kekuasaan Farsi – 457 sM – 332 sM
    Kekuasaan Yunani – 332 sM – 52 sM
    Jajahan Roma – 52 sM – 70 M
    Pembuangan ke seluruh dunia – 70 M – 1948
    Pemulangan diaspora ke Palestina – 18 – 1948

Bangsa Israel pernah melalui berbagai masa jajahan atau perbudakan. Dalam masa-masa itu telah terjadi tiga kali masa pembangunan, kembalinya masyarakat sejarah massal atau pemulihan Israel sebagai bangsa yang menduduki Palestina. Ketiga masa itu adalah:

1. Zaman Keluaran 3 juta orang yang keluar dari Mesir untuk menjadi bangsa Israel di Palestina – 1500 sM
2. Zaman pemulangan dari Babel atas perintah Raja Farsi, Koresh – 457 sM
3. Zaman pemulangan diaspora di zaman modern – 1700-1948.

Memang wilayah itu telah mengalami pergantian pemerintahan, penjajah dan penduduk berulang kali tetapi satu-satunya bangsa yang selalu dan selamanya ada di sana adalah kaum Yahudi. Walaupun sampai 85% kaum Yahudi sudah masuk diaspora di berbagai bangsa, yang 15% itu tetap tinggal di wilayah Palestina. Kadang-kadang mereka adalah penduduk mayoritas, kadang-kadang minoritas, tergantung jumlah penjajah yang masuk. Namun karena wilayah itu tandus, tidak produktif dan terdapat banyak tantangan, penduduk-penduduk baru biasanya tidak tahan lama.

Mulai pada awal 1700'an ada gerakan pemulangan antara yang 85% yang di diaspora itu berkaitan dengan situasi politik dunia, penganiayaan dan perubahan situasi ekonomi. Gerakan pemulangan ini menjadi terkenal sebagai Gerakan Sionisme. Dalam edisi yang lalu kita sudah melihat "Makna Sionisme" dan "Sebabnya Muncul Sionisme". Sekarang kita akan melihat beberapa hal lainnya yaitu Sionisme Sosialis, Religius, Nasionalis dan  Kultural dan pengaruhnya dalam pemulangan kaum Yahudi ke Palestina.

Visi Pemulangan Yahudi ke Palestina

Visi Sionisme Sosialis
Pada tahun 1862, penulis Yahudi, Moses Hess telah menerbitkan visinya untuk kaum Yahudi kembali ke Palestina. Bukunya berjudul, Rome and Jerusalem; The Last National Question. Buku ini mengemukanan visi kaum Yahudi kembali ke Palestina sebagai sarana menyelesaikan masalah identitas nasionalnya. Hess menginginkan negara sosialis di mana kaum Yahudi menjadi negara petani yang akan "menebus tanah" dan mengubahnya menjadi bangsa yang sesungguhnya yang menguasai semua lapisan ekonomi yang produktif sebagai pemilik tanah daripada yang non-produktif yaitu lapisan perdagangan. Gerakan ini telah melahirkan gerakan Sionis Sosialisme yang menjadi pelopor sistem kibbutz yang banyak dipakai di Israel sampai masa kini.

Visi Sionisme Religius
Juga pada tahun 1862, Rabbi Zvi Hirsch Kalischer seorang Yahudi Jerman Ortodoks menerbitkan tulisannya, Derishat Sion, yang mengemukakan Sionisme Religius yang menjanjikan keselamatan kepada kaum Yahudi sesuai janji-janji para nabi dan bahwa pertolongan Tuhan hanya akan terjadi bilamana bangsa Yahudi sendiri bersedia bertindak dan menolong dirinya sendiri.

Walaupun Sionisme sangat berakar dalam tradisi-tradisi agama Yahudi yang mengikat kaum Yahudi ke Tanah Israel, gerakan pemulangan modern lebih bersifat sekuler sebagai reaksi terhadap anti-Semitisme yang berkembang bahkan membludak pada akhir abad ke-19 di Eropa. Buku "The Protocols of the Elders of Zion" sebuah buku yang ditulis oleh beberapa orang yang membenci kaum Yahudi. Buku tersebut diedarkan seolah-olah ditulis tokoh-tokoh Yahudi dengan rencana besar untuk menaklukkan seluh dunia. Buku itu tidak ditulis kaum Yahudi tetapi justru oleh kaum anti-semitis guna menimbulkan lebih banyak kebencian terhadap kaum Yahudi. Tujuan mereka dicapai. Penganiayaan meningkat bahkan dipakai Hitler untuk membenarkan holocaust. Semuanya ini mendorong kaum Yahudi untuk harus pulang ke Palestina.

Visi Sionisme Nasionalis
Berkaitan dengan keinginan kembali ke Palestina telah muncul Sionisme yang bersifat Nasionalis, suatu gerakan kemerdekaan nasional kaum Yahudi. Gerakan ini telah bertumbuh pada abad ke-19 dalam konteks nastionalisme umum yang berkembang dalam semua bangsa Eropa. Sionisme menyatukan dua tujuan besar, kemerdekaan dan kesatuan. Kedua hal ini dapat dicapai dengan mengembangkan visi memerdekakan kaum Yahudi dari penganiayaan, kebencian dan penekanan pemerintahan asing di Eropa lalu memanggil semua diaspora Yahudi untuk bersatu kembali dengan suatu pemulangan global dari keempat penjuru dunia dan mendirikan kembali Tanah Airnya, Israel.

Pada tahun 1880an di Eropa Timur ada beberapa kelompok aktifis gerakan Sionisme ini seperti Hibbat Sion di mana emansipasi kaum minoritas belum terjadi seperti di Eropa Barat. Penganiayaan anti-Yahudi yang disebut pogrom telah menyusul asasinasi Kaisar Aleksander II dan ini membuat emansipasi bagi kaum Yahudi semakin sulit sehingga gerakan dan visi pemulangan menjadi semakin populer.

Di samping itu, di Perancis pada tahun 1894 terjadi skandal yang disebut The Dreyfus Affair yang melapaskan gerakan anti-Semitisme yang sangat mengejutkan Eropa. Perancis sebelumnya dianggap bangsa terkemuka dalam toleransi. Karenanya, seorang wartawan Yahudi, Theodore Herzl, telah menulis sebuah buku, "Negara Yahudi" yang mengungkapkan skandal Dreyfus sebagai pemicu mengubah visi banyak orang Yahudi yang tadinya tidak mendukung Sionisme tetapi sekarang telah menjadi seperti suatu banjir besar sehingga kerinduan kaum Yahudi untuk kembali ke tanah airnya menjadi sulit dibendung lagi. Pada tahun 1897 the Gerakan Sionis Sedunia dibentuk dan Herzl menjadi Presiden Sionisme yang pertama dan pengaruh gerakan nasionalis menjadi semakin luas.

Visi Sionisme Kultural
Sionisme juga mengembangkan visi pemulihan dan pertahanan kebudayaan Yahudi, khususnya bahasa Ibrani yang secara utuh sudah menghilang dari bahasa-bahasa dunia.

Hasil visi itu adalah bahasa Ibrani dibangkitkan kembali sebagai bahasa yang hidup yang dipakai dalam pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan keilmuan, sebuah bahasa yang dipakai oleh semua orang Yahudi sebagai bahasa pemersatu.

Seorang pemikir Sionis, Asher Ginsberg, yang lebih dikenal dengan nama samaran Ahad Ha'am, dalam bukunya One of the People  telah menolak pentingnya Sionisme Politik untuk mencapai Negara Israel karena dia berpendapat bahwa persatuan melalui kebudayaan dan bahasa jauh lebih penting. Ahad Ha'am telah menyadari bahwa gerakan kemerdekaan dan pendirian Negara Israel pasti akan menimbulkan konflik dengan masyarakat Arab yang sudah ada di Palestina apalagi dengan penguasa daerah itu, Kerajaan Ottoman dan penguasa kolonial Eropa yang pada saat itu sedang berusaha merebutnya juga dari tangan Ottoman.

Daripada langsung mengusahakan Negara Israel lewat jalur politik, Ahad Ha'am lebih cenderung membangun gerakan pemulihan kebudayaan dan bahasa yang akan menyatukan kaum Yahudi dan tidak kelihatan sebagai ancaman terhadap penguasa-penguasa tsb. Gerakan seperti itu bisa membangun suatu momentum alamiah sehingga menjadi otomatis dan nyata bahwa ada bangsa Yahudi sebagai penduduk mayoritas Palestina.

Tokoh sebagai pelopor gerakan memulihkan bahasa Ibrani yang hidup adalah Eliezer Ben Yehuda. Pada tahun 1880'an kebanyakan kaum Yahudi Eropa hanya berbahasa bahasa Yiddish, sebuah bahasa campuran berdasarkan bahasa Jerman kuno campur kata-kata Ibrani. Ben Yehuda dan para pendukungnya mulai menganjurkan pemulihan bahasa Ibrani lalu mulai mengajarkan bahasa Ibrani modern berdasarkan bahasa Ibrani Alkitabiah. Setelah 1800 tahun bahasa Ibrani dianggap bahasa mati. Ben Yehuda telah menghidupkannya kembali.

Ben Yehuda telah tiba di Palestina mengikuti Aliyah Pertama pada tahun 1881 lalu memimpin proyek pemulihan bahasa Ibrani. Aliyah adalah kata bahasa Ibrani dengan arti 'mendaki', dan bermakna, "mendaki ke Tanah Kudus". Dengan pertolongan Nissim Bechar, Dekan Alliance Israelite Universelle, Ben Yehuda mulai mengajarkan bahasa Ibrani. Kemudian dia menerbitkan surat kabar harian Hatzvi dan mendirikan sebuah Dewan Linguistik. Karya Ben Yehuda telah berhasil menyelidiki, memulihkan dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani sebagai bahasa modern.

Bahasa Ibrani mulai menjadi faktor pemersatu para pendatang baru dan para penduduk lama. Banyak dari mereka mulai mengambil nama-nama baru, nama-nama Ibrani.

Perkembangan kota modern baru, Tel Aviv, sebagai kota pertama yang berbahasa Ibrani modern bersamaan dengan perkembangan gerakan kibbutz, dan perkembangan institusi-institusi ekonomi Yahudi lainnya telah meletakkan dasar kuat untuk nasionalisme baru yang menjadi nyata pada Perang Dunia Pertama (1914-1918) yang juga mendukung deklarasi Inggris pada tahun 1917 yang disebut Deklarasi Balfour, yang meluncurkan gerakan dari bangsa adidaya itu untuk mendirikan kembali Negara Israel di Palestina. Realita dari deklarasi itu kemudian disaksikan setelah Perang Dunia Kedua (1939-1945) berakhir.

Kombinasi berbagai faktor ini, Sionisme Sosialis, Sionisme Religius, Sionisme Nasionalis dan Sionisme Kultural telah melahirkan suatu gerakan yang menyatukan semua elemen kaum Yahudi dengan visi bahwa pada generasi mereka, doa, kerinduan dan perjuangan mereka selama 1800 tahun untuk "tahun depan di Yerusalem" dapat terwujud dengan sesungguhnya.

Namun, munculnya Sionisme, publikasi buku fabrikasi The Protocols of the Elders of Zion, tekanan-tekanan politik dan ekonomi di antara bangsa-bangsa Eropa telah membuat gerakan anti-semitisme membludak dan memuncak dengan pogrom-pogrom dan kemudian komunisme di Rusia, penganiayaan di Perancis, fasisme di Italia dan Spanyol dan nazisme di Jerman dan sebagainya sehingga suatu solusi harus ditemukan. Untuk kaum Yahudi solusi adalah pemulangan ke Palestina. Untuk Hitler solusinya, yang dia sebut "Solusi Akhir", adalah eksterminasi semua orang Yahudi dari permukaan bumi.

Sionisme & Gerakan Pemulihan Israel 1878-1948

Usaha-usaha Sionisme dalam mendirikan negara Israel sebagai Tanah Air kaum Yahudi sedunia. Orang-orang Yahudi di diaspora (pengasingan) sudah dibenci dan dianiaya di Eropa dan penguasa baru di Palestina, Kerajaan Inggris, juga menjadi penjajah, penganiaya dan penghalang dalam usaha mendirikan negara Israel. Di dalam beberapa artikel berikut, kita akan melihat berbagai tantangan yang dihadapi kaum Yahudi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sehingga mudah disimpulkan bahwa adalah mustahil agar impian berdirinya bangsa Israel akan bisa menjadi realita. Bilamana Israel kemudian menjadi negara merdeka dan berdaulat adalah mukjizat sejarah dan ekistensinya ke depan tetap merupakan suatu tantangan besar.

Gerakan dan Usaha Pemulangan ke Palestina

Gerakan Aliyah

Aliyah adalah kata bahasa Ibrani dengan arti "mendaki", yang mempunyai arti secara rohani "mendaki" ke Tanah Kudus. Istilah ini dipakai untuk menyebut rombongan-rombongan pemulangan orang-orang Israel dari Eropa sejak tahun 1878 hingga proklamasi kemerdekaan Israel pada tahun 1948.
1878 – Awal Gerakan Aliyah dan Ekspansi Pendatang Sionis
Pedesaan pertama Sionis, Petah Tikva, didirikan pada tahun 1878. Pemimpinnya, namanya Biluim telah biasa memakai kaffiyeh sebagai penutup kepala. Penduduk Petah Tikva, awalnya diduduki oleh orang-orang Yahudi yang dulu tinggal di Yerusalem yang ingin keluar dari Yerusalem Tua yang sangat padat penduduknya dan dibatasi oleh tembok-tembok besar.
Kemudian pedesaan Rishon LeSion didirikan pada tanggal 31 Juli 1882 oleh 10 orang Yahudi yang adalah anggota kelompok Sionis yang disebut Hovevei Sion yang berasal dari Kharkov, atau masa kini disebut, Ukraine. Pedesaan baru ini dipimpin oleh Zalman David Levontin. Komite Perintis Pedesaan Yahudi yang sudah dibentuk di Yaffa, pelabuhan ketibaan kebanyakan pendatang baru telah membeli 340 hektar (3.4 km²) tanah dekat desa Arab yaitu Uyun Qara.

Gerakan Sionis

Pada tahun 1883, Nathan Birnbaum, yang berumur 19 tahun, mendirikan organisasi Kadimah di Austria. Organisasi ini adalah Asosiasi Mahasiswa Yahudi pertama di Vienna. Tahun berikut terbitannya yang pertama, Selbstemanzipation atau Emasipasi Diri muncul. Tujuannya adalah untuk menggairahkan kawan-kawan Yahudi untuk mencari kebebasan dari tekanan dan aniaya yang sering menargetkan kaum Yahudi di Eropa. Di manakah tempat kebebasan itu? Jawabannya hanya satu: di Eretz Israel.
Theodor Herzl berbicara di Kongres II Sosialis Sionisme tahun 1898
Bersama dengan Nathan Birnbaum, Herzl telah merencanakan Kongres Sionis pertama di Basel, Switzerland. Pada kongres itu, hasil kesepakatannya adalah:
Sionisme akan berusaha mendirikan tanah air untuk kaum Yahudi di Eretz-Israel yang dilindungi hukum. Kongres itu sepakat untuk melakukan hal-hal berikut untuk mencapai tujuannya:
  1. Promosi secara wajar pendudukan Eretz-Israel dengan petani-petani Yahudi, kaum buruh dan pabrik-pabrik.
  2. Mengurus dan mempersatukan seluruh kaum Yahudi dengan menggunakan institusi-institusi yang wajar, baik lokal maupun internasional, sesuai dengan hukum di masing-masing negara di mana kaum Yahudi sudah berada.
  3. Menguatkan dan mendukung rasa nasionalis kaum Yahudi dan kesadaran akan kewarganegaraannya sebagai warga Yahudi.
  4. Melakukan langkah-langkah awal untuk memperoleh izin dari berbagai negara, untuk mencapai tujuan gerakan Sosialis Sionisme.
Pada tahun 1909, kibbutz Degania, didirikan di Israel Utara. Inilah yang diakui sebagai kibbutz yang pertama. Kibbutz-kibbutz merupakan desa-desa atau kebun-kebun Sosialis Sionisme yang menjadi ciri khas unik perkembangan Israel hingga masa kini.
Juga pada tahun 1909, kota Tel Aviv didirikan. Namanya berasal dari hasil karya Theodor Herzl. Kota ini yang kemudian telah menjadi kota terbesar di Israel, telah didirikan di daerah padang pasir yang kosong sedikit ke utara dari pelabuhan Yaffa.

Konflik dengan Orang Arab

Pada akhir abad ke-19, nationalisme Arab sama sekali belum ada, bahkan jumlah penduduk Arab di wilayah Palestina sangat sedikit dan mereka merupakan penduduk yang bersifat non-politik. Karena jumlah penduduk Palestina adalah mayoritas Yahudi maka kebanyakan pemimpin Sionis telah percaya bahwa tidak akan terjadi konflik di antara masyarakat orang-orang Arab dan masyarakat Yahudi baru yang sedang pulang setelah hampir 1800 tahun pengasingan yang bergabung dengan orang-orang Yahudi yang sejak awal ada di situ. Karena seluruh masyarakat itu, Yahudi yang asli dan Arab, telah hidup bersama dengan cukup damai selama lebih dari 1200 tahun maka mereka telah yakin konflik dapat dihindari dengan ketambahan Yahudi yang kembali dari pengasingan di Eropa. Pada waktu itu kedua belah pihak telah merasa untung dengan pengharapan perkembangan ekonomi yang akan terjadi. Kaum Yahudi sudah sangat mengharapkan dan percaya bahwa kaum Arab akan menyetujuinya dan akan sepenuhnya bekerja bersama. Namun, impian itu tidak pernah tercapai.

Memang, telah makan cukup banyak waktu untuk kaum Sionis menyadari betapa dalamnya perasaan dan intensitas konflik yang mulai terjadi, yang pada hakekatnya adalah konflik antara dua kelompok orang yang dua-duanya merasa memiliki hak milik atas seluruh tanah itu sebagai tanah airnya sendiri. Kaum Yahudi karena dasar keyakinan agama, sejarahnya dan bahwa daerah Palestina tidak pernah kosong dari penduduk Yahudi, walaupun di sebagian waktu mereka adalah penduduk minoritasnya. Kaum Arab merasa memilikinya sebab sudah 1200 tahun Palestina di bawah pemerintahan Arab atau Kalifat Ottoman, kerajaan Islam itu. Jadi mulai dari awal gerakan Aliyah itu, konflik sudah mulai terjadi.

Sionisme dan para penduduk Arab

Kaum Yahudi lokal Palestina yang sudah selamanya tinggal di wilayah Palestina telah hidup melalui suatu sejarah interaksi dengan penguasa Muslim dan para tetangga Arab yang sukar, yang justru menjadi semakin rumit karena permusuhan antara agama Islam dan agama Yahudi.
Di luar kota Yerusalem, kota Safed dan kota Tiberias, masyarakat Arab dan masyarakat Muslim non-Arab merupakan mayoritas besar masyarakat, sedangkan di tiga wilayah tersebut, masyarakat Yahudi adalah mayoritas besar. Kaum perintis Sionisme adalah sangat sadar tentang ketidakseimbangan ini, namun mereka mengklaim bahwa semua penduduk akan memperoleh untung dari imigrasi kaum Yahudi dari diaspora itu. Di samping itu, kaum imigran itu telah memilih untuk tidak memasuki wilayah mayoritas Arab/Islam agar menghindari konflik sehingga mereka lebih memilih untuk menduduki wilayah-wilayah yang kosong, seperti di dataran pesisir dan di Lembah Yizreel. Slogan propaganda Sionisme, "Tanah tanpa masyarakat untuk masyarakat tanpa tanah," telah menyimpulkan visi Sionisme, yaitu untuk menduduki tanah yang kosong bukan untuk menduduki tanah milik orang lain. Namun slogan itu telah mengabaikan fakta bahwa kaum Arab adalah kaum pengembara yang merasa tanah apapun yang pernah didudukinya, walaupun kini telah ditinggalkan adalah milik abadinya. Di sini kita dapat melihat benih konflik soal hak milik Palestina sudah ditanam dan setelah bertumbuh selama puluhan tahun akan menyebabkan permusuhan, kebencian dan konflik yang meledak pada waktu proklomasi kemerdekaan negara Israel pada tahun 1948. Sebenarnya benih-benih itu sudah lama sekali tertanam di daerah itu, tetapi setelah gerakan aliyah dan kedatangan ratusan ribu kaum Yahudi yang pulang dari diaspora, maka benih-benih itu disiram dan mulai bertunas kembali.

Peranan Kalifat Ottoman

Walaupun sebagian penduduk Arab Palestina sudah menghadap pemerintahan Ottoman pada tahun 1880an (Kalifat Ottoman adalah Kerajaan Islam Turki yang adalah penjajah Timur Tengah selama 500 ratus tahun) untuk memprotes penjualan tanah kepada pendatang Yahudi baru. Namun perlawanan serius terhadap perkembangan Sionisme dan penjualan tanah kepada kaum Yahudi yang baru datang mulai berkembang dengan cepat pada tahun 1890an setelah visi luas Sionisme menjadi semakin nyata. Adalah penting untuk diketahui bahwa perkembangan dan perluasan pembelian tanah oleh orang-orang Yahudi baik dari Kerajaan Ottoman bahkan dari masyarakat Arab disetujui oleh Kalifat Ottoman yang melihat keuntungan ekonomi dalam mengisi tanah yang kosong dengan masyarakat yang mungkin sekali akan menghasilkan untung ekonomi bagi kerajaan Ottoman itu.

Perlawanan kaum Arab pada waktu itu tidak bersumber pada rasa nasionalisme kaum Arab sebab pada waktu itu belum ada rasa nasionalisme di antara kaum Arab melainkan perlawanan itu bersumber pada rasa ancaman terhadap nafkah dan sumber pendapatan masyarakat Arab. Kekuatiran itu telah berkembang pada awal Abad ke-20 karena usaha pengembangan ekonomi oleh kaum Sionis yang tidak mau menggunakan tenaga kerja Arab, yang dianggapnya malas, sedangkan tenaga kerja Yahudi dianggap rajin dan bersedia bekerja keras. Di manapun ada usaha untuk mempekerjakan tenaga kerja Arab, terjadi perlawanan dari Perserikatan Kaum Buruh Ibrani yang menunutut agar pendatang-pendatang baru sajalah yang dipekerjakan. Dengan demikian benih-benih kekuatiran, kecurigaan, kebencian dan permusuhan terus disiram sehingga menjadi suatu kekuatan yang di kemudian waktu akan meledak dan buah-buahnya sedang dituai pada masa kini.

Dalam usaha mendirikan negara Israel setelah Kalifat Ottoman digulingkan pada tahun 1917 yang menjadi langkah yang sangat signifikan dalam lahirnya kembali negara Israel dan perkembangan konflik di Timur Tengah terhadap ekistensi negara Israel itu. Dalam hal ini peran Deklarasi Balfour di Inggris menjadi penting sekali dalam membentuk gambar masa depan wilayah Palestina.

Mendirikan Negara Israel

Setelah kita menyelidiki perkembangang berbagai bentuk Sionisme dalam Artikel sebelumnya, kini kita akan melihat usaha-usaha Sionisme dalam mendirikan negara Israel sebagai Tanah Air kaum Yahudi sedunia. Orang-orang Yahudi di diaspora (pengasingan) sudah dibenci dan dianiaya di Eropa dan penguasa baru di Palestina, Kerajaan Inggris juga menjadi penjajah, penganiaya dan penghalang dalam usaha mendirikan negara Israel. Di dalam beberapa artikel berikut, kita akan melihat berbagai tantangan yang dihadapi kaum Yahudi sehingga mudah disimpulkan bahwa adalah mustahil impian berdirinya bangsa Israel akan bisa menjadi realita. Bilamana Israel kemudian menjadi negara merdeka dan berdaulat adalah mukjizat sejarah dan ekistensinya ke depan tetap merupakan suatu tantangan besar.

Sionisme. Sarana untama Pemulangan Bangsa Yahudi

Sarana utama yang Allah pakai untuk memulihkan masyarakat Yahudi kembali ke tanah Israel adalah gerakan Sionisme. Sionisme adalah gerakan agamawi dan sosio-politik yang mempromosikan pemulangan bangsa Yahudi ke Tanah Israel. Di dalam hati semua orang Yahudi ada perasaan tidak utuh bila mereka di luar Israel.
Mazmur 137:4-6, "Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!"
Kerinduan itu sudah mendalam di hati setiap orang Yahudi sejak pembuangannya dari Israel pada waktu penghancuran Bait Suci di tangan Roma pada tahun 70 M. Di abad ke-19 dan abad ke-20, keinginan Yahudi itu sudah meninggi.

Mimpi Yahudi: Pemulihan Israel

Selama masa Diaspora, masa Israel mengembara di luar wilayah Palestina, selamanya ada orang-orang Yahudi yang tinggal di wilayah Palestina. Kebanyakan telah tinggal di daerah Galilea, dan kadang-kadang mereka diizinkan mengunjungi dan tinggal di dekat kawasan Bukit Moria, bukit letaknya Bait Suci dulu di Yerusalem. Tembok Ratapan menmjadi tempat ziarah yang diizinkan bagi mereka.
Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun ada keyakinan bahwa satu ketika mereka akan melihat suatu pemulangan massal menjelang kedatangan Mesias. Hal yang sama diyakini umat Kristen sehingga baik umat Yahudi dan umat Kristen telah memiliki kepentingan yang serupa. Maimonides, seorang rabi yang terkenal, bersama dengan cukup banyak rabi lainnya mengedepankan visi itu. Mereka telah yakin sekali bahwa Mesias akan mendatangkan perdamaian universal.
Selama berabad-abad ada usaha-usaha untuk orang-orang Yahudi kembali ke Palestina tetapi kebanyakan usaha telah gagal. Hanya dengan munculnya gerakan Sionis pada bagian kedua abad ke-19, baru terjadi pemulangan signifikan sehingga kini ada 6 juta dari 16 juta orang Yahudi di dunia yang tinggal di Israel.

Peranan Inggris

Pemikiran untuk membantu pemulangan bangsa Yahudi telah mulai dibahas secara umum di Inggris pada Abad ke-19. Tidak semua masyarakat Inggris yang menyetujui pemulangan tersebut, namun mayoritas telah mendukungnya. Pandangan sebagian mereka dibentuk oleh keyakinan pada perjanjian Allah dalam Alkitab. Yang lain karena faham filosofi Semitisme, khususnya antara kaum elit yang berpendidikan tinggi atau oleh pandangan politik bahwa pemulangan tersebut akan membantu perluasan Kerajaan Inggris.
Atas dorongan Lord Shaftesbury, pemerintah Inggris telah menetapkan konsulat pertama di Yerusalem pada tahun 1838. Ini adalah pos diplomatik pertama di Tanah Israel. Pada tahun 1839, Gereja Skotlanda mengutus Andrew Bonar dan Robert Murray M'Cheyne untuk menyelidiki dan melaporkan keadaan orang-orang Yahudi di Palestina. Laporan mereka diterbitkan dan disebarkan secara luas sehingga diedarkan "Memorandum kepada semua kepala Kerajaan Protestan Eropa guna Pemulihan bangsa Yahudi ke Palestina." Pada bulan Agustus 1840, surat kabar 'The Times' telah melaporkan bahwa pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan persetujuan untuk mendukung pemulangan bangsa Yahudi.

Lord Lindsay menulis pada tahun 1847: "Tanah ladang-ladang Palestina masih sedang menikmati sabat-sabatnya, dan sedang menantikan pemulangan anak-anaknya yang sudah dibuang, dan aplikasi industri, yang sesuai dengan kapasitas pertaniannya, agar meledak dengan perkembangan kekayaan dan kesuburan universal, lalu menjadi sama seperti pernah ada di zaman Salomo." Janji Damai Paris (1856) telah memberikan hak kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen untuk tinggal di Palestina dan janji tersebut telah membuka jalan untuk imigrasi makin banyak orang Yahudi. Dalam bukunya pada tahun 1876, Daniel Deronda, George Eliot semakin kuat mendukung pemulangan masyarakat Yahudi: "Pemulihan negara Yahudi yang didirikan di tanah yang lama sebagai pusat perasaan nasional, merupakan suatu sumber perlindungan yang terhormat, suatu jalur khusus untuk energi spesial agar ada ketambahan suara di majelis-majelis dunia." Maksudnya, pemulangan Yahudi adalah sesuatu yang penting dan terhormat bagi bangsa-bangsa.

Benjamin Disraeli, seorang Perdana Menteri Inggris, menulis sebuah artikel berjudul: "Soal Yahudi adalah Tujuan Perjuangan Mulia" (1877) yaitu bahwa di dalam jangka waktu 50 tahun akan ada sejuta orang Yahudi yang tinggal di Palestina di bawah perlindungan dan bimbingan Inggris. Seorang Yahudi terkemuka di Inggris, Moses Montefiore telah mengunjungi Tanah Israel tujuh kali untuk mengembangkan pemulihannya.

Karena Kerajaan Ottoman telah menyerah kepada tuntutan Kerajaan Inggris di wilayah Palestina sehingga Kerajaan Inggris diizinkan mendirikan Misi Diplomatik dan untuk memulai berbagai kegiatan dan proyek sosial di seluruh wilayah Palestina. Maka pemerintah Inggris telah mulai membangun banyak rumah sakit, proyek-proyek ilmiah, arkeologi dan pembangunan perkambungan baru untuk orang-orang Yahudi yang sedang kembali ke Palestina di bagian akhir abad ke-19. Hal itu terjadi demi kepentingan Inggris dalam melindungi jalan menuju India yang dianggap sangat penting demi kejayaan Inggris.
Para pemimpin Sionis telah menganggap Inggris sebagai calon sekutu dalam perjuangannya untuk pemulangan ke tanah nenek moyangnya. Pada waktu itu Inggris bukan saja negara adidaya terkuat; Inggris juga adalah negara di mana orang-orang Yahudi telah tinggal berabad-abad dalam keadaan aman dan damai – antara mereka adalah para pemimpin politik dan budaya Inggris yang sangat berpengaruh seperti Disraeli, Montefiore dan Lord Rothschild.

Penemuan Chaim Weizmann, yaitu sejenis bahan peledak (cordite) yang sangat penting demi kemenangan Inggris dan sekutunya dalam Perang Dunia Ke-1. Dalam pertemuan-pertemuannya dengan Perdana Menteri Inggris, Lloyd George dan Pemimpin Utama Angkatan Laut Inggris Winston Churchill, Weizmann, pemimpin gerakan Sionis sejak 1904, menjadi sanggup memajukan tujuan Sionis dalam masa perang yang sangat menguntungkan visi Sionis tersebut.

Harapan mereka itu terealisir pada tahun 1917 waktu Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, membuat deklarasi yang sangat terkenal yang bertujuan untuk "mendirikan di Palestina sebuah rumah nasional untuk masyarakat Yahudi". Deklarasi tersebut telah menggunakan kata 'rumah' daripada kata 'negara' dan telah menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak boleh "mengganggu hak sipil dan hak agama masyarakat non-Yahudi yang juga mendiami wilayah Palestina."

Dukungan Inggris dan Bangsa-bangsa lain

Sepanjang abad ke-19 sampai di awal abad ke-20, pemulangan bangsa Yahudi ke Tanah Kudus telah didukung secara luas oleh tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh, misalnya Ratu Victoria (Inggris), Raja Edward VII (Inggris), Presiden John Adams (USA), General Smuts (Afrika Selatan), President Masaryk (Czechoslovakia), Lloyd George (Perdana Menteri Inggris), Arthur Balfour (Menteri Luar Negeri dan kemudian Perdana Menteri Inggris), President Woodrow Wilson (USA), Benedetto Croce (ahli filosof dan sejarahwan Italy), Henry Dunant (pendiri Yayasan Palang Merah dan penulis Konvensi Geneva tentang hak-hak azasi), Fridtjof Nansen (ilmuwan Norwegia dan pendukung hak-hak kemanusiaan).
Di masa itu pemerintah Perancis, melalui salah satu menteri, M. Paul Cambon, telah komit secara resmi untuk mendukung "pemulihan nasional hak kewarganegaraan orang-orang Yahudi di tanah dari mana masyarakat Israel itu diusir begitu banyak abad yang lalu". Bahkan di China di zaman pemerintahan Nasionalis sebelum zaman komunis, Wang, Menteri Luar Negeri, menyatakan bahwa "pemerintah Nationalis adalah penuh simpati dengan masyarakat Yahudi dalam keinginannya untuk mendirikan sebuah negara bagi dirinya sendiri."

Pada tahun 1873, Shah Nasr-ed-Din (Raja Persia-Iran) telah bertemu dengan para pemimpin Yahudi Inggris, termasuk Sir Moses Montefiore, dalam perjalanannya ke Eropa. Pada waktu itu, pemimpin Persia telah mengusulkan bahwa orang-orang Yahudi membeli tanah di Palestina agar mendirikan negara untuk masyarakat Yahudi.

Raja Faisal I dari Iraq juga telah mendukung ide Sionisme lalu menandatangani kesepakatan Faisal-Weizmann pada tahun 1919. Dia tulis: "Kami masyarakat Arab, khususnya kami yang berpendidikan, memandang dengan simpati yang mendalam gerakan Sionis. Delegasi kami di sini di Paris memahami sepenuhnya semua proposal yang diajukan kemarin kepada wakil organisasi Sionis yang mengikuti Konferensi Perdamaian, dan kami menganggap proposal-proposal itu moderat, tepat dan sesuai."
Baik dalam mandat Palestina dari League of Nations 1922 dan mandat PBB untuk Partisi Palestina tahun 1947 telah mendukung tujuan Sionisme untuk memiliki tanah air untuk masyarakat Yahudi. Kesepakatan pada tahun 1947 itu adalah kesepakatan langkah antara Uni Soviet dan USA di zaman Perang Dingin.

Arthur Balfour: Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Inggris

Balfour, seorang yang telah berjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan sebagai Perdana Menteri Inggris telah memperjuangkan Palestina sebagai "rumah" tempat kediaman Yahudi dan bukan sebagai "negara". Walaupun dia mengingini wilayah Palestina menjadi negara Israel, dia juga menyadari bahwa hak-hak masyarakat Arab yang sudah lebih 1000 tahun mendiami Palestina bersamaan dengan masyarakat Yahudi. Di kebanyakan waktu selama 1000 tahun itu, masyarakat Arab merupakan mayoritas penduduk setempat. Deklarasi Balfour diumumkan pada tanggal 2 November 1917.
Pada zaman itu, pemerintahan Inggris telah memiliki kuasa politik atas Yerusalem dan Tanah Perjanjian, dan sudah berinklinasi untuk mendukung pemulangan bangsa Yahudi. Namun, pemerintahan lokal di wilayah Palestina tidak menyetujui peningkatan masyarakat Yahudi yang tentu akan terjadi bila pemulangan Yahudi diizinkan.

Persahabatan Arthur Balfour dan Chaim Weizmann

Inti Deklarasi Balfour 1917 adalah hasil persahabatan unik antara Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour dan seorang aktivis gerakan Sionis Chaim Weizmann, yang kemudian menjadi Presiden Organisasi Sionis Sedunia, bahkan menjadi Presiden pertama Negara Israel pada tahun 1948. Kedua pria itu sangat berpengaruh dan efektif di dalam karir masing-masing, dan bersamaan telah menjadi mitra yang sangat kuat dalam mengubah arah sejarah yang menghasilkan kelahiran bangsa Israel.
Balfour adalah seorang Kristen Injili yang menulis beberapa buku termasuk Foundations of Belief (Dasar Iman), di mana dia mengungkapkan pengajaran dasar Firman Tuhan. Dia sangat percaya nubuatan-nubuatan Alkitab tentang pemulangan bangsa Yahudi ke Israel sebagai langkah penting dalam persiapan dunia untuk kedatangan kedua Yesus di akhir zaman. Dia menjadi Perdana Menteri Inggris dari 1902 sampai 1905. Kemudian dia menjadi Menteri Luar Negeri di bawah David Lloyd George, Perdana Menteri Inggris selama Perang Dunia Ke-I.

Weizmann adalah seorang Sionis yang sangat semangat yang sering berkomunikasi dengan pelopor gerakan Sionis, Theodore Herzl, di Inggris dan Eropa. Dia sangat ingin untuk meningkatkan jumlah kibbuts (perkebunan Yahudi secara kolektif) di Palestina. Gerakan itu memang telah mulai dengan adanya penganiayaan terhadap masyarakat Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Mereka telah menemukan tempat aman dengan pindah ke Palestina dan membangun kibbuts-kibbuts di sana, khususnya di daerah Galilea.

Walaupun hasil karya Balfour dalam pemerintahan Inggris adalah banyak, namun, menjelang kematiannya, dia menyatakan bahwa hasil utama hidupnya adalah Deklarasi Balfour yang mendukung pemulangan bangsa Yahudi ke tanah airnya. Dalam hal ini dia telah merasa dirinya serupa Raja Farsi, Koresh, yang membebaskan bangsa Yahudi kembali ke Yerusalem pada zaman Daniel, Ezra dan Nehemia.

Palestina sebagai Mandat Inggris

Sebelum Perang Dunia Ke-1, Palestina telah di bawah kekuasaan Turki (Ottoman) sejak tahun 1453. Karena Turki menjadi sekutu Jerman pada Perang Dunia Ke-1, Inggris telah menyerangnya dari Mesir dan melalui wilayah Palestina. Zaman itu penuh drama. Jenderal Inggris, Edmund Allenby merebut Yerusalem dari Turki. Pada waktu Perang Dunia menuju kesudahannya, Palestina dinyatakan sebagai Wilayah Perlindungan Inggris. Karena itu, Inggris harus memutuskan bagaimana cara memerintah wilayah tersebut dan bagaimana mengimplementasi Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah air kepada bangsa Yahudi di Palestina. Pemulangan Yahudi ke Palestina telah kelihatan sebagai solusi terbaik.
Deklarasi Balfour telah memulai proses yang mengubah pemulangan Yahudi dari rintik-rintik menjadi hujan deras sehingga untuk pertama kali dalam 1800 tahun ada gerakan serius untuk pemulangan massal bangsa Yahudi ke tanah Israel. Banyak ahli nubuatan Alkitab telah melihat peristiwa ini sebagai tanda penggenapan berbagai nubuatan Alkitab dan awal dari suatu masa atau suatu abad yang disebut "zaman akhir".

Walaupun ada banyak orang percaya melihat hal-hal ini sebagai langkah positif yang akan mempercepat kedatangan kembali Yesus, ternyata masih ada sebagian nubuatan tentang Israel dan Yahudi yang belum digenapi. Di samping itu, Setan pun tidak senang untuk nubuatan-nubuatan itu digenapi karena itu adalah tanda bahwa kekalahan akhirnya mendekat. Oleh karena itu dia juga turut aktif agar semuanya ini tidak terjadi. Sejak waktu itu damai sudah diambil dari dunia. Perang dan terorisme terjadi di berbagai tempat. Namun Setan tidak akan mampu menghalangi rencana Yesus dan Dia pasti akan kembali tepat waktunya. Yang penting adalah bahwa kita adalah siap untuk menyambut Yesus waktu Dia kembali.

Nubuatan, Holocaust, Perang dan Kemerdekaan Israel

Ringkasan Sejarah Perhambaan 536 sM – 1948 M
  • 536 sM – Nebukadnezar menguasai Israel dan menghancurkan Bait Suci. Perhambaan di Babel selama 70 tahun.
  • 457 sM - Karena Kerajaan Babel dikalahkan Kerajaan Medo-Farsi, Raja Koresh membebaskan bangsa Yahudi kembali membangun Yerusalem dan Bait Suci.
  • 457 sM – 332 sM – Israel di bawah Kerajaan Medo-Farsi (kini Iran) dengan Koresh, Darius, Artahsasta sampai Iskandar Agung berkuasa di Timur Tengah
  • 332 sM – 63 sM – Pertama Yunani lalu Israel menjadi wilayah kacau dengan berbagai pemerintahan Yunani, Mesir dan Syria sampai tiba Pompey Agung dengan tentara Roma.
  • 63 sM – 638 M - Kerajaan Roma dan Bizantium berkuasa sampai tiba tentara Islam dari Arab Saudi yang membawa Timur Tengah di bawah kedaulatan Arab-Islam sampai tentara Turki menguasainya pada Abad ke-15.
  • 30 M – 70 M – Perpecahan masyarakat Yahudi sehingga terjadi dua bagian besar: Yahudi tradisional yang masih menantikan kedatangan Mesias dan Yahudi Mesianik yang percaya Mesias sudah datang yaitu Yesus. Pada tahun 70 M Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan oleh General Titus, putera Kaisar Vespanianus, yang kemudian menjadi Kaisar Roma juga.
  • 115 M – 117 M – Perang Kitos – perang terakhir orang-orang Yahudi terhadap Kerajaan Roma dan Kaisar Hadrian. Komunitas-komunitas Yahudi yang sudah mengungsi ke Cypus, Libya, Mesir, Syria dan Iraq telah memberontak terhadap Roma sehingga pembunuhan massal ratusan ribu masyarakat Yahudi menyusul dan sisanya terbuang untuk mengembara di berbagai bangsa di dunia.
  • 131 M – 136 M – Kaisar Hadrian membunuh 580.000 ribu Yahudi, mengubah nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina, dan nama Israel diubah menjadi Syria Palestina dalam usaha Kaisar Hadrian untuk memusnahkan total bangsa Yahudi.
  • 638 M – 1453 M – Israel dikuasai tentara Arab-Islam sampai Kerajaan Ottoman (Turki) berkuasa.
  • 1453 – 1918 – Israel adalah bagian dari Kerajaan Ottoman.
  • 1918 – 1947 – Israel di bawah Kerajaan Inggris
  • 1948 - Mei 14, 1948, Israel dinyatakan BANGSA MERDEKA oleh PBB.
  • 1967 - Perang Enam Hari – Yerusalem dimerdekakan
  • 1973 - Perang Yom Kippur
  • 1980 - Pemerintah Israel menyatakan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Israel.
Setelah sekitar 2520 Israel sudah merdeka dengan Yerusalem sebagai Ibu Kota dan inilah sesuatu yang ajaib. Sejak Nebukadnezar (536 sM) sampai 1980, inilah pertama kali Israel merdeka dan Yerusalem adalah Ibu Kotanya!

Nubuatan-nubuatan tentang Israel

Israel diperingati oleh Tuhan bahwa kedurhakaannya akan menyebabkan Israel dihukum. Hukuman itu akan nyata dalam beberapa hal:

Israel akan kehilangan kontrol atas bangsanya selama 2520 tahun. Ini disebut nubuatan 7 masa (7 x 360 = 2520 hari yang menjadi 2520 tahun – lihat prinsip 1 hari menjadi 1 tahun dalam Yehezkiel 4:6-8), Imamat 26:18-28. Awal penggenapannya adalah di zaman Nebukadnezar sehingga dia mengalami kegilaan 7 masa, Daniel 4:16-32.
Israel akan diusir dari bangsanya, Bait Suci akan dihancurkan dan mereka akan dikejar-kejar dan dibunuh di mana-mana atas permukaan bumi karena kejahatannya di hadapan Tuhan, Imamat 26:31-33; Ulangan 28:33-37; Lukas 21:20-24.
Israel akan dibawa pulang ke tanah airnya dari antara segala bangsa, sehingga bangsa yang mati, bangkit kembali, Ulangan 30:3-5; Yeremia 23:3-8; Yehezkiel 36:22-24; Roma 11:11-26.
Setelah orang-orang Yahudi kembali dan Israel lahir kembali, dan bangsa-bangsa sekitar digoncangkan maka akan terjadi kegerakan rohani besar sehingga akan ada jalan raya dari Mesir melalui Israel ke Asyur (Iraq/Syria) dan bangsa-bangsa itu, dan suku-suku Arab lainnya, akan menjadi percaya kepada Yesus. Yerusalem akan menyambut Yesus sebagai Mesias, Yesaya 19:19-25; 60:1-22; Yehezkiel 36:24-36; Matius 23:39.

Tanggapan Umat Kristen terhadap Israel

Ada dua pandangan utama dalam sejarah Gereja terhadap nasib Israel.
  1. Pandangan bahwa Israel adalah bangsa terkutuk yang dimurkai Tuhan
    Mulai dari zaman ahli theologia gereja, Augustine dari Hippo, Aljazir, pada abad ke-4, pandangan umum gereja adalah sangat negatif. Orang-orang Yahudi dianggap oleh gereja sebagai hama yang harus dimusnahkan. Orang-orang Yahudi dianggap sebagai pembunuh Mesias, pembunuh Allah! Oleh karena itu, kemana pun mereka pergi, mereka dianiaya, dibunuh atau diusir. Penganiayaan selama 1600 tahun itu memuncak pada abad ke-20 dengan 4 juta orang Yahudi tewas dalam pogrom-pogrom Rusia dari tahun 1917-1965 dan pembunuhan massal 6 juta orang Yahudi oleh bangsa kelahiran Protestan, Jerman, dengan pertolongan 26 Synode Gereja Lutheran yang mendukung Adolf Hitler. Ini posisi resmi Gereja Lutheran dalam Konferensi Lutheran tahun 1935.

    Gereja Anglikan, Gereja Katolik dan banyak gereja tradisional lainnya telah mengambil sikap serupa dalam penolakan orang Yahudi dan pandangan bahwa kini gereja telah menggantikan Israel sebagai Umat Allah. Sebagian besar dari gereja-gereja itu, sampai sekarang, melawan Israel dan mendukung hak orang-orang Arab Palestina untuk menguasai seluruh wilayah Israel sebagai tanah airnya dan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.
  2. Pandangan bahwa Israel akan dipulihkan Allah sebagai bangsa

    Berdasarkan keyakinan bahwa nubuatan-nubuatan Alkitab menyatakan bahwa Allah setia kepada janji-Nya dan bahwa bangsa Israel harus dipulihkan di akhir zaman mendahului kedatangan kembali Tuhan Yesus, gereja-gereja Injili, Karismatik dan Pentakosta telah mengambil pandangan positif terhadap Israel. Sebagian besar dari kelompok ini percaya bahwa gereja tidak menggantikan Israel tetapi gereja adalah bagian integral dari Israel yang sesungguhnya, yaitu semua orang yang percaya yang menjadi anak-anak Abraham, Roma 9:6-8; 11:11-24; Galatia 3:29. Pandangan ini percaya bahwa pemulangan orang-orang Yahudi ke tanah Israel adalah kehendak Allah pada akhir zaman.

Empat Perang Dan Kemerdekaan Israel


Untuk memperjuangkan kemerdekaan dan sejak kemerdekaannya, Israel telah terlibat dalam empat perang besar:
  1. Perang Kemerdekaan – 1947-1948

    Hanya dua tahun setelah Hitler mati dan Perang Dunia ke-2 berakhir, ratusan ribu orang Yahudi yang telah selamat dari barak-barak pembunuhan Hitler, dan penganiayaan bangsa-bangsa Kristen Eropa, telah berusaha kembali ke Israel. Penghalang utama adalah perlawanan bangsa Inggris yang sudah berjanji kepada bangsa-bangsa Arab bahwa mereka akan menolak para pengungsi Yahudi. Kapal-kapal pengungsi ditenggelamkan Angkatan Laut Inggris, namun usaha kembali ke tanah airnya berhasil. Setelah 2 tahun perang gerilyawan melawan Inggris dan penduduk Arab, akhirnya Inggris mundur dan menyerahkan persoalannya kepada PBB yang telah mengakui kedaulatan bangsa Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

    Dengan proklamasi kemerdekaan tersebut, Yordan, Syria, Lebanon, Mesir dan Iraq, dengan dukungan bangsa-bangsa Arab lain telah menyerang Israel. Wilayah PBB di Tepi Barat dan sekitar Yerusalem (Yerikho sampai Ramallah dan Yerusalem sampai Hebron) diambil alih oleh Yordan. Gaza dan sebagian Sinai yang masuk Israel, diambil oleh Mesir dan ketinggian Golan dikuasai oleh Syria. Desa-desa Arab telah memberontak sekaligus untuk memusnahkan desa-desa Yahudi. Secara mukjizat, orang-orang Yahudi menang, walaupun kehilangan akses ke wilayah-wilayah yang dulu dikuasai PBB. Orang-orang Yahudi diusir dari Tepi Barat dan semua wilayah yang dikontrol Yordan, namun Israel tetap berdaulat dan merdeka.
  2. Perang Suez – 1956 – penguatan kedaulatan perbatasan nasional

    General Nasser, Presiden Mesir telah ambil alih Terusan Suez dari Inggris. Israel telah menjadi sekutu Inggris dan Perancis dan telah menggunakan kesempatan untuk mengambil ulang beberapa wilayahnya yang diambil Mesir pada tahun 1948 di pinggiran wilayah Sinai dan menguatkan perbatasannya di bagian selatan Israel.
  3. Perang Enam-Hari – 1967 – merebut kontrol atas Bukit Moria (lokasi Bait Suci)

    Selama beberapa tahun 1965-1967 ada krisis air yang mengganggu hubungan Israel dengan bangsa-bangsa Arab. Israel sudah mulai mengambil air dari Danau Galilea untuk irigasi sampai ke wilayah padang gurun Negev. Syria sudah mulai membalas dengan rencana mengalihkan aliran air sungai Yordan ke arah Syria supaya tidak lagi mengisi Danau Galilea. Oleh karenanya terjadi perang. Dalam enam hari saja Israel telah mengalahkan bangsa-bangsa Arab sehingga Israel sanggup memperluas kekuasaannya, perbatasannya dan kontrol atas kota Yerusalem. Pada waktu itu penduduk Yahudi di Israel adalah 2.3 juta orang. Penduduk bangsa Arab pada waktu yang sama adalah 125 juta.
  4. Perang Yom Kippur – 1973 – menguat posisi di Tepi Barat

    Perang 1973 disebut Perang Yom Kippur karena hari awal perang adalah Yom Kippur atau Hari Pendamaian, hari paling kudus di Israel di mana tidak ada yang bekerja dan seluruh bangsa berpuasa. Di saat itu, tanpa diduga, Israel diserang oleh Iraq, Syria, Yordan, Arab Saudi, Mesir dan Libanon. Pada awal perang Israel seperti kalah dan mundur tetapi tiba-tiba, di bawah pimpinan General Moshe Dayan, Israel melakukan manuver militer sehingga mereka menangkap seluruh tentara Mesir, Syria dan Yordan. Dalam 24 jam berikut Israel akan masuk menguasai Kairo, Damsyik dan Amman. Namun USA dan Rusia berkata kepada Israel, "Stop! Kamu sudah cukup mempermalukan mereka!" Maka perang itu berakhir dengan Israel sebagai pemenang.
Bagaimana di masa depan?

Nubuatan Perang Akhir – Perang Harmagedon

Kini populasi Yahudi di Israel adalah 6 juta orang dan populasi Arab di Timur Tengah adalah 360 juta dalam 22 negara. Kemungkinan terjadi perang lagi selalu ada namun karena "musim semi Arab" kemungkinan terjadi perang besar lagi dari bangsa-bangsa Arab sudah berkurang. Ada begitu banyak masalah di Iraq, Libanon, Libya, Syria dan Mesir sehingga perang lagi rupanya masih jauh. Namun, yang non-Arab, Iran, rupanya menjadi ancaman terbesar kini dengan kemungkinan membuat roket dan bom nuklear.

Walaupun demikian, Alkitab masih menubuatkan suatu perang besar lagi yang akan terjadi di Israel dan perang itu disebut Perang Harmagedon. Perang itu dibahas dalam Yehezkiel 38-39 dan dalam Wahyu 16 dan Wahyu 19 menjelang kedatangan kembali Yesus. Untuk kita yang penting adalah selalu dekat kepada Yesus sebab hanya Dia adalah jaminan kita.

Mazmur 91:2-11,
"Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu."

Israel yang sesungguhnya masa kini

Tanah Perjanjian yang diberikan kepada bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Ishak dan Yakub adalah tindakan Allah yang diakui di dalam kitab-kitab suci agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam. Bangsa Israel telah memiliki negeri itu lewat peparangan terhadap suku-suku Kanaan mulai 3500 tahun yang lalu sampai mereka telah menguasai wilayah luas antara Mesir di sebelah Selatan dan Siria dan Libanon di sebelah Utara, dan di antara Laut Tengah di sebelah Barat dan yang kini disebut Yordan di sebelah Timur.

Perbatasan bangsa Israel masa kini (2005-2013) adalah lebih kecil ketimbang Israel zaman Yesus, 2000 tahun yang lalu, karena Gaza dan Tepi Barat di zaman itu adalah bagian dari Israel.
Israel sejak zaman Nebukadnezzar, sekitar 536 sM, tidak pernah berkuasa di atas bangsanya sendiri atau kota Yerusalem sampai kepada proklomasi kemerdekaannya oleh PBB pada tahun 1948 dan proklomasi Yerusalem sebagai Ibu Kotanya pada tahun 1980. Sesuai nubuatan Firman Tuhan, nubuatan 7 kali Masa, atau lebih kurang 2520 tahun, Israel akan di bawah dominasi bangsa-bangsa non-Yahudi. Nubuatan itu benar-benar digenapi

Israel akan dimurkai Tuhan karena ketidaktaatannya kepada Firman Tuhan dan akan diusir dari negerinya dan akan mengembara di antara bangsa-bangsa di mana mereka akan dikejar-kejar, diburu dan dianiaya sehingga banyak di antara mereka akan dibunuh. Hal itu benar-benar terjadi di sepanjang sejarah mulai tahun 70 M ketika bangsa Roma menghancurkan Yerusalem dan mengusir orang-orang Yahudi dari tanah airnya. Walaupun mayoritas penduduk Israel diusir, selalu ada sisa yang tertinggal di dalam negeri itu sampai zaman modern.
Tuhan sudah berjanjia bahwa Dia akan mengingat janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Dia akan panggil mereka kembali dari segala bangsa dan Israel akan lahir kembali sebagai persiapan akhir zaman dan kedatangan kembali Tuhan Yesus. Setelah 1870'an tahun mengembara, dan setelah mulai pogrom-pogrom di Rusia di awal abad ke-20 dan Holocaust di Jerman dari 1939-1945, maka Israel kembali ke tanah perjanjian itu dan menjadi bangsa kembali pada tahun 1948.

Kelahiran kembali Israel sebagai bangsa di Timur Tengah menjadi pemicu peperangan lokal dan global yang kini sudah berjalan 65 tahun. Bangsa-bangsa Arab yang penduduknya mulai berkuasa dan menjadi penduduk mayoritas di wilayah Palestina pada waktu perang jihad di awal sejarah Islam di abad ke-7 dan sudah menjadi penguasa negeri perjanjian selama hampir 1300 tahun, tidak mau menyerahkan tanah itu kepada masyarakat Yahudi.

Lewat berbagai perang, 1948, 1956, 1965, 1973 ditambah dengan intifada-intifada Palestina pada tahun 1987-1993 dan 2000-2005, terjadi ketidakdamaian di seluruh dunia. Akibat dari dukungan Israel oleh bangsa-bangsa Barat telah menyebabkan bangkitnya berbagai gerakan jihad dan terorisme global, misalnya serangan Olimpiade Munich 1972 oleh PLO, berbagai pesawat yang dibajak atau diledakkan, serangan 9/11 di USA, perang Iraq, Afghanistan dll sebagainya.

Nubuatan-nubuatan Firman Tuhan sudah menubuatkan instabilitas yang telah terjadi bahkan bahwa akan ada perang-perang besar lagi di kawasan Timur Tengah yang akan berakhir dengan Perang Harmagedon, perang terakhir, ketika Yesus akan datang kembali dan membawa penghakiman kekal bagi semua manusia.

Israel yang sesungguhnya masa kini menurut Firman Tuhan.

Israel yang Sejati

Sejak awal pewahyuan kepada Abraham, Israel diberi dua gambar: Israel jasmani, yaitu, pasir di tepi laut, dan Israel sorgawi, yaitu bintang-bintang di langit. Kejadian 22:17,
"Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya."

Bintang-Bintang Di Langit  & Pasir Di Tepi Laut

Perbedaan dari dua jenis manusia dalam Israel diungkapkan dalam Perjanjian Baru pada waktu dipisahkan antara orng yang beriman dan yang tidak beriman yang menentukan siapa sebenarnya adalah seorang Israel.

Roma 9:7-8,
"Tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu." Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar."

Artinya, lahir sebagai seorang Israel jasmani sama sekali tidak menguntungkan dalam rencana Allah kecuali orang itu beriman. Bukan sunat fisik yang berarti tetapi sunat hati, yaitu pertobatan dan lahir baru. Dengan demikian semua orang yang lahir baru menjadi ahli waris Abraham, menjadi seorang Israel sejati bahkan juga disebut sebagai seorang Yahudi! Di dalam Kristus baik Yahudi dan non-Yahudi dipersatukan dalam satu Israel, yaitu satu Tubuh Kristus, satu Manusia Baru, satu Rumah. Tidak ada dua Rumah Allah. Tuhan tidak berkata untuk bangun banyak Rumah, "Build My Homes", No! Tuhan mau kita membangun satu Rumah saja. Build My Home! Inilah yang disebut "Israel, milik Allah", Galatia 6:16.

Galatia 3:28-29,
"Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."

Efesus 2:14-20,
"Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru."

Roma 2:28-29,
"Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah."

Rasul Paulus Dan Kedua Pohon Zaitun

Untuk menjelaskan kebenaran itu, yaitu, bahwa keduanya – yang Yahudi dan non-Yahudi – telah menjadi satu Manusia Baru, satu Rumah, satu Tubuh Kristus yang terdiri dari hanya orang yang beriman kepada Kristus, Mesias itu. Hanya ada satu jalan keselamatan dan jalan itulah Yesus. Maka, baik Yahudi, maupun non-Yahudi, untuk diselamatkan harus menjadi percaya sungguh kepada Yesus. Perhatikan uraian Rasul Paulus dalam Roma 11.

Roma 11:16-26
"Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus. Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri. Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Dalam rencana Tuhan tidak ada dua pohon, hanya ada satu. Akarnya adalah Perjanjian Kekal dengan Abraham, Ishak dan Yakub, dan tunas yang bertumbuh adalah Yesus, sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya, Yeremia, Zakaria (Yesaya 4:1-6; 11:1-5; 22:22-25; 53:1-5; Yeremia 23:5; 33:15; Zakharia 3:8; 6:12). Bandingkanlah dengan penjelasan Yohanes dan Yesus sendiri (Wahyu 5:5; 22:16) karena Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tunas Daud.
Jadi Rasul Paulus telah menyimpulkan sejarah Israel sejarah Alkitabiah bahwa Israel yang sejati hanyalah orang-orang yang beriman, yang mengakui dan mengikuti Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Juruselamat. Dan mereka datang dari setiap suku, kaum, banga dan bahasa dan mereka bersama dengan semua orang Yahudi yang percaya menjadi satu Manusia Baru, satu Mempelai Wanita Kristus, satu Tubuh Kristus, satu Rumah Allah dan satu Pohon Zaitun! Siapa Diselamatkan?
Roma 11:26, "Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Siapa selamat? Seluruh Israel! Siapakah Israel? Semua orang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Juruselamat: "Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan."

Kita sudah selamat. Kita sudah menjadi bagian dari Israel sejati. Kita sudah menjadi ahli waris bersama-sama dengan Yesus. Kita sudah menjadi satu Rumah, Bangsa, dan Tubuh tetapi jangan menjadi sombong. Jangan tawar hati melainkan pegang teguh kepada Tuhan dan maksud abadi-Nya supaya kita juga akan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya di akhir zaman dan untuk selama-lamanya!
Kita bukan hanya pembaca atau penonton sejarah Israel, kita sungguh berpatisipasi di dalamnya dan menjadi pencipta sejarah. Karena itu, marilah kita memenuhi panggilan kita sebagai umat-Nya dan menjadi Israel milik Allah!