Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Sep 3, 2012

Topeng Teater Kuno di Turki


Arkeolog temukan topeng kuno berbahan besi yang ditemukan pada penggalian dekat desa Girnavaz, berlokasi di bagian tenggara Turki, provinsi Mardin. Selain topeng kuno yang diyakini digunakan pada pentas teater, arkeolog juga menemukan beberapa perunggu.

Periode topeng Roma tampaknya berasal dari sebuah kelompok teater keliling yang datang ke wilayah Turki sejak dua ribu tahun yang lalu. Pengaruh Roma yang kuat terlihat pada desain topeng. Hal itu membuat para arkeolog percaya bahwa pemain teater itu merupakan aktor yang berasal dari Roma.

Kendati demikian, arkeolog belum dapat memastikan bagaimana atau mengapa topeng teater itu bisa ditinggalkan di situs tersebut. "Ini mengungkapkan bahwa artefak bersejarah ini berasal dari Kekaisaran Romawi. Topek itu telah dibawa ke Mardin oleh kelompok teater, yang mana di wilayah Turki pada waktu itu tidak memiliki pertunjukan teater," jelas Davut Beliktay dari Mardin Culture and Tourism Director.

Ia mengatakan bahwa teater keliling ini kemungkinan datang dari arah barat ke timur. Beberapa topeng ditemukan bercampur dengan artefak lainnya yang digali di situs penggalian Girnavaz. Karena topeng itu merupakan yang pertama dan hanya jenis ini yang ditemukan di Turki.

Penggalian dilakukan oleh arkeolog dari Museum of Mardin di Ilisu Dam. Setelah penemuan artefak topeng tersebut, mereka membawanya ke laboratorium di museum untuk restorasi dan penelitian.

"Setelah restorasi selesai, topeng-topeng itu akan dipamerkan di Museum Mardin. Kami sangat senang bahwa topeng ini telah ditemukan di Mardin. Mardin memiliki sejarah yang kaya. Tim kami melanjutkan pekerjaan penggalian benda bersejarah tersebut," pungkasnya.

Misteri Kehancuran Suku Maya


Negara kota kekaisaran Maya kuno berkembang di wilayah selatan Meksiko dan utara Amerika Tengah sekira enam abad silam. Pada 900 masehi, peradaban tersebut mendadak pecah.

Dua penelitian baru yang mencoba mengungkap misteri di balik kehancuran tersebut menemukan, suku Maya sendiri turut andil dalam kehancurannya.

Sebelumnya, para ilmuwan memang telah menemukan bahwa kekeringan turut berperan penting dalam hal ini. Namun, suku Maya juga berperan dalam memperburuk masalah tersebut dengan cara menebang kanopi hutan demi membuka ladang dan kota.

"Kami tidak mengatakan perusakan hutan sebagai penyebab seluruh kekeringan yang terjadi, tapi hal itu juga menjelaskan sebagian besar dari kekeringan yang diperkirakan terjadi," terang pemimpin penelitian tersebut, Benjamin Cook.

Pria yang juga berprofesi sebagai pembuat model iklim di NASA Goddard Institute for Space Studies ini membuat simulasi model iklim bersama rekan-rekannya.

Melalui model tersebut mereka meneliti bagaimana mengubah hutan menjadi ladang, misalnya ladang jagung, bisa berperan dalam perubahan iklim. Hasilnya menunjukkan bahwa pembukaan hutan berperan besar sekira 60 persen dari kekeringan yang terjadi.

Alasannya adalah perubahan dari pohon menjadi ladang jagung dapat mengurangi jumlah air yang ditransfer dari lahan ke atmosfer. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya curah hujan.

Sementara itu, penelitian lain yang dipimpin ilmuwan sosial di Arizona State University, B.L. Turner mengungkap keruntuhan Central Maya Lowlands di semenanjung Yukatan merupakan hasil interaksi rumit antara manusia dan lingkungan.

Selain itu, dinamika sosial dan ekonomi juga turut berperan. Saat itu, rute dagang melalui semenanjung Yukatan yang biasanya dilakukan melalui jalur darat bergeser ke jlaur laut. Perubahan ini diperkirakan sebagai faktor lain yang melemahkan negara kota kekaisaran Maya yang sedang menghadapi perubahan iklim.

"Struktur ekonomi dan politik kuno yang didominasi penguasa setengah dewa mulai membusuk. Petani, perajin dan yang lain tampaknya meninggalkan rumah dan kota mereka demi mencari peruntungan ekonomi di wilayah Maya lainnya," jelas tim tersebut.

Makam Pangeran Suku Maya Kuno

Para penggali telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai sisa-sisa seorang pangeran Maya berusiai 1.300 tahun. Pangeran itu dimakamkan dalam kompleks kerajaan kota kuno Uxul, yang terletak di Meksiko dekat perbatasan Guatemala.



Fosil manusia ini diperkirakan berusia antara 20 dan 25 saat meninggal. Para peneliti menemukannya dalam posisi berbaring telentang dengan lengan terlipat di dalam kubur sedalam 1,5 meter di bawah lantai sebuah gedung kompleks kerajaan kota.

Mereka juga menemukan total sembilan potongan keramik di bagian bawah kaki tengkorak itu, termasuk piring yang dicat dengan gaya khas Codex Maya yang menutupi tengkorak manusia. Pada situs Maya, tidak jarang menemukan piring ditempatkan di atas tengkorak mayat.

Namun, jika anak muda ini dulunya adalah pangeran, tampaknya dia tidak digariskan untuk naik tahta. Para peneliti meyakini hal ini karena di kubur tersebut tidak ditemukan penanda status tertentu, seperti perhiasan giok.

Salah satu keramik yang ditemukan memiliki gambar pemandangan, termasuk tanggal yang terkait dengan tahun 711 masehi. "Kemungkinan cangkir minum tersebut didedikasikan pada waktu itu dan jika kita mengasumsikan cangkir itu milik seseorang yang meninggal di usia antara 20 dan 25, kita menentukan tanggal kematiannya," ujar Field Director proyek penggalian itu, Kai Delvendahl.

Kota Uxul terletak jauh di dalam hutan dan dapat diakses oleh para arkeolog hanya untuk dua sampai tiga bulan dalam setahun selama musim kering. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa Uxul diperintah oleh dinasti Calakmul, sebuah wilayah yang merentang 34 kilometer ke timur laut.

Temukan Domba Batu Berusia 9.500 Tahun

Israel Antique Authority mengatakan para arkeolog telah menggali dua buah ukiran batu berusia 9.500 tahun di dekat Jerusalem. Artifak tersebut membantu mengungkap misteri tentang agama dan masyarakat zaman batu.
Inline image 1

Artifak tersebut paralel dengan penemuan serupa di Gobeklitepe, sebuah situs purbakala di Turki yang menyimpan benda-benda religius tertua buatan manusia.

Para arkeolog menggali dua ukiran tersebut pekan lalu di Tel Motza, suatu wilayah antara Jerusalem dan Tel Aviv. Mereka menemukannya saat penggalian yang dilakukan sebelum terselenggaranya rencana perluasan jalan tol di sana.

Salah satu dari artifak tersebut memiliki bentuk seperti domba dan terbuat dari batu kapur. Sementara itu artifak lain berwujud ox (sejenis banteng) dengan bahan dolomit. Keduanya memiliki panjang 15 centimeter.

Artifak tersebut diduga berfungsi sebagai tanda keberuntungan atau simbol penjinakkan hewan. Sedangkan tempat temuan yang lain, yakni Gobeklitepe, merupakan kuil di puncak bukit yang terletak di sebuah gunung.

Kutub Mencair Perburuk Pemanasan Global

Lapisan es yang mencair di Kutub Utara justru menambah jumlah karbon dioksida di atmosfer, yang jelas meningkatkan pemanasan global dan radiasi matahari berlebihan.

Tahun ini mungkin tahun-tahun terpanas sepanjang hidup saya, kita juga tidak pernah tahu apakah tahun-tahun mendatang akan lebih panas atau mungkin berselimut tebal (mudah-mudahan tidak). Ada suatu yang menarik dibalik besarnya berita pemanasan global, saya menemukan hasil studi yang menyatakan bahwa lapisan es di Kutub juga ikut menjadi penyebab pemanasan global.

Pencairan Lapisan Es Memperburuk Pemanasan Global

Permafrost atau lapisan es di Arktik, saat ini mengalami pencairan akibat pemanasan global. Proses geologi ini melepaskan jumlah karbon jauh lebih besar daripada efek rumah kaca. Analisa ini diperoleh dari studi internasional Denmark yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature. Salah satunya Per Roos, seorang peneliti senior di DTU Riso, Laboratorium Nasional untuk Energi Berkelanjutan di bawah Technical University of Denmark (DTU).

Ilmuwan sudah mengetahui sejak lama bahwa pencairan lapisan es di Arktik merupakan sumber emisi gas setara efek rumah kaca yang memenuhi atmosfer, tapi mereka belum meyakini ukuran emisi tersebut dengan konsekuensi perkembangan alam lebih lanjut lebih memprihatinkan. Karbon dengan jumlah yang sangat besar tersimpan dalam lapisan es, adanya pemanasan global akan semakin menambah jumlah karbon dioksida di atmosfer.



Permafrost banyak ditemukan, tapi karakteristik ini lebih dominan berada di sepanjang garis pantai Siberia, sekitar 7000 km timur Kutub Utara. Lapisan tanah disini mencapai 30 meter telah dibekukan secara permanen dengan suhu dibawah 0 derajat Celcius selama ratusan ribu tahun. Permafrost berfungsi sebagai penopang garis pantai, tapi setelah pencairan es lapisan-lapisan tanah mengikis dan runtuh ke dasar laut. Bahan-bahan yang terkikis itu mengandung jutaan ton karbon kuno yang disimpan utuh dalam lapisan beku permafrost. Dengan cara ini, karbon kuno yang tersimpan sebelumnya menambah pemanasan global.

Permafrost di wilayah Kutub Utara diteliti melepaskan 44 juta ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahun, sedangkan bahan bakar fosil melepaskan 6000 hingga 7000 juta ton per tahun. Nilai yang kecil, tapi pelepasan karbon dioksida di Kutub Utara sangat mempengaruhi pemanasan global.

Aerosol Kurangi Radiasi Matahari Dan Cegah Pemanasan Global

Sebuah analisis baru muncul, metode ini menggunakan material halus Aerosol yang disebarkan ke atmosfer menggunakan pesawat khusus. Metode penyebaran aerosol guna mengurangi radiasi matahari ke bumi yang akan mengurangi dampak pemanasan global dan menunjukkan bahwa hal tersebut sangat memungkinkan dengan biaya terjangkau.

Analisis geoengineering diterbitkan Institute of Physics (IOP) Publishing's Journal Environmental Research Letters, 31 Agustus 2012. Menyatakan bahwa penelitian teknologi saat ini sangat memungkinkan dan bisa diimplementasikan dalam berbagai bentuk berbeda dengan biaya kurang dari 5 miliar dollar per tahun. Biaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida saat ini diperkirakan antara 0,2 hingga 2,5 persen dari anggaran teknologi yang ada atau setara dengan USD 200 hingga USD 2000 miliar hingga tahun 2030.

Analisis Solar Radiation Management (SRM) menginduksi efek serupa terhadap pengamatan tersebut setelah terjadinya letusan gunung berapi, pencairan lapisan es, namun para penulis menyatakan bahwa hal itu bukanlah strategi pilihan dan analisis tersebut hanya bisa dilakukan setelah penyelidikan menyeluruh, risiko dan implikasi biaya yang berkaitan dengan isu-isu ini.

Para penulis analisis ini mengingatkan bahwa pengurangan efek radiasi matahari tersendat dengan bertambahnya konsentrasi gas emisi di atmosfer maupun kenaikan kandungan asam dari lautan, diantaranya pencairan lapisan es yang berujung pengikisan tanah ke dasar laut. Mereka mencatat bahwa penelitian lain telah menunjukkan efek radiasi matahari yang tidak seragam justru akan menyebabkan perubahan suhu dan curah hujan berbeda di negara yang berbeda. Dalam studi tersebut, para peneliti dari Aurora Flight Sciences, Harvard University dan Carnegie Mellon University, melakukan analisis biaya rekayasa pada enam sistem yang mampu memberikan 1-5 juta metrik ton material pada ketinggian 18-30 km. Pesawat yang ada dirancang pada ketinggian maksimum hingga 30 km, dan pesawat hibrida baru dilengkapi dengan roket yang akan membawa gas ataupun material halus ke atmosfer.

Berdasarkan penelitian yang ada dalam manajemen radiasi matahari, para peneliti melakukan analisis mereka untuk sistem yang dapat memberikan kontribusi sekitar satu juta ton Aerosol setiap tahun pada ketinggian antara 18 hingga 25 km di berbagai lintang 30°N dan 30°S wilayah Amerika.

Studi ini menyimpulkan bahwa dengan menggunakan pesawat akan mempermudah analisis, termasuk manufaktur teknik dan operasi. Pengembangan baru pesawat khusus tampaknya menjadi pilihan yang paling murah dengan biaya sekitar 1 hingga 2 miliar dollar per tahun. Pesawat yang ada akan lebih mahal karena jenis yang ada tidak dioptimalkan pada ketinggian yang diinginkan dan akan membutuhkan modifikasi yang cukup mahal.

Meskipun yang satu ini sepenuhnya hanya berupa teoritis, ide membangun pipa gas besar 20 km diatas atmosfer dan didukung platform helium mengambang, justru akan menawarkan biaya terendah dibanding menyebarkan aerosol melalui pesawat. Pembangunan pipa dan pengujian untuk memastikan keamanan, ketinggian, seluruh sistem membawa ketidakpastian yang besar. Profesor Apt menyatakan, mereka berharap penelitian ini akan membantu ilmuwan lain melihat metode baru yang lebih baik untuk menyebarkan partikel aerosol dan membantu mereka untuk mengeksplorasi metode dengan peningkatan efisiensi hingga risiko lingkungan akan berkurang.

Penelitian ini jelas menyatakan bahwa mereka tidak berusaha untuk menjawab isu tentang Aerosol di stratosfer, atau isu-isu risiko terhadap lingkungan, efektivitas atau pemerintahan yang akan menambah biaya geoengineering manajemen radiasi matahari. Dan saat ini, aerosol dianggap salah satu materi yang memenuhi syarat guna mengurangi radiasi matahari, terlebih pemanasan global tahun ini semakin meningkat.