Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 4, 2018

Zaman Hellenistik

Seusai Perang Peloponnesos, semua kota di Yunani mengalami kerusakan dan kemiskinan. Akibatnya, banyak orang Yunani yang menjadi tentara bayaran bagi Persia. Sementara sebagian lainnya berupaya membangun kembali kota-kota mereka. Pada masa inilah muncul Sokrates dan muridnya Plato, keduanya merupakan filsuf besar.

Di sebelah utara Yunani terdapat sebuah negara yang disebut Makedonia. Rajanya, Philippos, menyadari bahwa Yunani sedang lemah. Ia pun mmeutuskan untuk menyerang Yunani dan berhasil merebut satu per satu kota Yunani. Setelah Philippos dibunuh pada 336 SM, putranya Alexander diangkat sebagai raja Makedonia, yang juga berkuasa atas Yunani. Alexander baru berusia 20 tahun ketika menjadi raja. Akan tetapi, pada usia semuda itu, ia sudah berani memimpin pasukan besar Yunani-Makedinia dan menyerang Kekaisaran Persia.

Alexander adalah jenderal yang hebat, sedangkan Persia sedang lemah saat itu. Akibatnya, sedikit demi sedikit Alexander berhasil menguasai wilayah Persia, dimulai dari Anatolia, lalu berlanjut ke Fenisia, Israel, Mesir, Mesopotamia, hingga wilayah pusat Persia. Alexander bahkan terus melanjutkan serangannya hingga tiba di Afghanistan dan India. Di India, pasukan Alexander sudah amat kelelahan sehingga tak mau bertempur lagi, memaksa Alexander untuk berhenti dan pulang. Dalam perjalanan pulang, banyak tentaranya yang mati, dan pada 323 SM di Babilonia, Alexander juga meninggal pada usia 33 tahun akibat suatu penyakit.

Alexander wafat tanpa meninggalkan anak lelaki dewasa, sehingga kerajaannya dibagi-bagi oleh para jenderalnya menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil. Ada tiga wilayah utama hasil dari pembagian ini, yaitu Mesir yang dipimpin oleh Ptolemaios, Seleukia (Israel, Suriah, Irak, Iran, dan Afghanistan modern) yang dipimpin oleh Seleukos, Anatolia-Thrakia yang dipimpin oleh Lysimakhos, dan Yunani-Makedonia yang dipimpin oleh Kassandros. Kerajaan-kerajaan ini saling berperang satu sama lain, namun periode Hellenistik merupakan masa kemakmuran dan pengetahuan. Sebuah universitas besar didirikan di Alexandria, Mesir. Filsuf Aristoteles hidup di Athena. Banyak filsuf dan ilmuwan yang bepergian ke dan dari Yunani dan India. Gabungan pengetahuan Asia Barat, India, dan Yunai mendorong munculnya banyak perkembangan dalam sains, filsafat, dan seni.

Zaman Arkaik

Sekitar 1000 SM penduduk Yunani mulai membangun kembali peradaban mereka seusai Zaman Kegelapan. Populasi Yunani mulai bertambah banyak dan banyak bangunan baru yang didirikan. Meskipun demikian, istana para raja tidak dibangun lagi karena sebagian besar kota Yunani tak lagi diperintah oleh raja. Alih-alih, banyak kota yang kini dipimpin oleh sekelompok orang kaya yang disebut aristokrat. Bentuk pemerintahan ini disebut oligarki. Di bekas lokasi istana, orang Yunani membangun kuil untuk para dewa, biasanya di atas bukit.

Saking tingginya peningkatan populasi Yunani, banyak orang yang bermigrasi dari Yunani ke berbagai daerah yang belum dihuni untuk mendirikan kota-kota baru di sebagian Eropa dan Afrika. Salah satu contohnya adalah kota Marseilles di Prancis selatan. Contoh lainnya adalah kota di pesisir Laut Hitam yang disebut Byzantion, yang kini menjadi Istanbul. Kota-kota ini disebut dengan istilah koloni.

Bangsa Yunani (terutama orang Korinthos) juga mulai berdagang lagi dengan Asia Barat, terutama dengan orang Fenisia. Mereka mempelajari alfabet Fenisia sekitar 750 SM. Setelah menguasai alfabet, bangsa Yunani pun mampu membuat tulisan, salah satunya adalah kisah Perang Troya karya Homeros. Bangsa Yunani juga belajar seni dari Asia Barat. Selain itu, mereka juga kembali bekerja sebagai tentara bayaran di Mesir dan Lydia (Turki).

Sekitar 650 SM, muncul inovasi baru dalam dua bidang. Kedua inovasi ini kemungkinan diciptakan sendiri oleh bangsa Yunani tanpa meniru bangsa lain. Yang pertama adalah cara bertempur. Pada masa sebelumnya, pertempuran berlangsung tanpa pola yang jelas, kedua pasukan saling berlari menerjang musuhnya sambil berteriak. Mereka bertempur hingga salah satu pihak melarikan diri atau menyerah. Dengan cara yang baru, pasukan bertempur dalam barisan yang teratur, setiap orang memegang perisai yang melindungi orang di sampingnya, membentuk dinding perisai. Cara baru ini membutuhkan kerjasama, disiplin, dan latihan yang banyak. Selain itu, setiap orang harus memiliki perisai. Namun, jika dilakukan dengan baik, cara ini dapat menjadi lebih sukses dibanding cara lama. Tentara yang bertempur dengan cara ini disebut hoplites.

Gagasan lainnya adalah jenis pemerintahan yang baru. Beberapa kota Yunani masih memiliki raja, contohnya Sparta, namun sebagian besar dipimpin oleh kelompok aristokrat. Para aristokrat ini sering berselisih satu sama lain demi kekuasaan. Beberapa berusaha mengajak para aristokrat lainnya untuk bekerjasama. Namun kemudian ada aristokrat yang berusaha mendekati rakyat miskin, yang memang jarang diperhatikan. Aristokrat yang didukung oleh rakyat dapat menguasai kota, namun ia tidak disebut raja, melainkan tiran. Tiran pertama muncul di Korinthos. Dengan cepat gagasan ini menyebar ke berbagai kota lain di Yunani dan Asia Barat. Pada 550 SM, banyak kota masih dipimpin oleh para aristokrat, terutama kota yang dihuni oleh orang Doria, namun banyak pula yang kini diperintah oleh tiran, khususnya di kota-kota Ionia, seperti Athena. Tiran dibenci oleh para aristokrat namun didukung oleh rakyat. Sebagian besar tiran memerintah dengan lumayan baik. Mereka mendirikan banyak bangunan dan mempermudah perdagangan dengan kota atau bangsa lain.

Yunani Pra-Hellen

Yunani telah dihuni oleh manusia sejak periode Neolitikum (kadang pada akhir Zaman Batu, antara 7000 sampai 3000 SM). Orang-orang primitif ini telah mampu melakukan kegiatan pertanian dan peternakan. Mereka juga membuat tembikar sehingga, dengan produksi makanan yang banyak, mereka bisa menyokong lebih banyak orang dalam satu pemukiman. Kaum Neolitikum ini berbeda dari orang-orang Paleolitikum yang hidup pada Zaman Es (sebelum 10,000 SM), yang merupakan pemburu dan pengumpul, dan hidup berpindah-pindah. Pertanian adalah suatu cara memproduksi makanan, dan metode ini menjadi sangat penting seiring berakhirnya Zaman Es ketika es mulai mencair dan suhu menjadi lebih sejuk. Periode Neolitikum di darah Timur dimulai lebih dulu, sekitar 7000 SM, daripada di Yunani. Pemukiman terawal ditemukan di Gua Frankhthi di Argolid dan di Nea Nikomedia di Makedonia, di sana tembikar yang ditemukan berasal dari tahun 6500-an SM. Pemukimannya berukuran seluas desa kecil. Rumah-rumah berbentuk sederhana. Peralatan batu Neolitikum semakin diperhalus dan beberapa alat cocok untuk digunakan dalam pertanian.

Setelah periode Neolitikum, cara hidup orang-orang berubah secara drastis, terutama ketika mereka mampu membuat peralatan dari tembaga dan perunggu. Metalurgi diperkenalkan ke Yunani dari Timur. Peradaban tercipta di Yunani seiring dimulainya Zaman Perunggu, sekitar 2880 SM sampai 1050 SM.

Zaman Perunggu di Aigea dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu Awal, Pertengahan, dan Akhir. Pembagian ini juga dapat dibagi lagi menjadi beberapa fase, misalnya Minoa Pertengahan III (1700-1550 SM), Minoa Akhir IA (1550-1500 SM) atau Hellad Akhir IIIB (1300-1200 SM). Tiap fase dibedakan berdasarkan gaya, bentuk, dan dekorasi tembikarnya, selain juga dengan cara Penanggalan Karbon.

Peradaban Zaman Perunggu Awal (3000-2000 SM) di Yunani dan Kreta sangat mungkin dihuni oleh orang non-Yunani yang kemungkinan berbicara bahasa Aitolia. Kreta adalah pusat peradaban Zaman Perunggu, dengan perdagangannya yang makmur, dan istana-istananya yang megah, terutama di Knossos dan Faistos. Istana-istana ini mulai dibangun sejak sekitar 2000 SM, dan beberapa kali hancur akibat kebakaran, gempa bumi, atau serangan dari luar. Kreta banyak berpengaruh terhadap daratan utama Yunani dan kepulauan Kiklad. Karena istana-istananya yang rumit dan detail, para arkeolog dan sejarawan menamakan periode yang megah di Kreta ini sebagai "Peradaban Minoa", dari nama Minos, raja Kreta.

Kepulauan Kiklad kemungkinan pertama kali ditempati oleh bangsa Karia (yang berbicara bahasa Anatolia), namun kemudian terusir oleh orang-orang Minoa dari Kreta. Bangsa Karia kemudian pergi Asia Minor barat daya. Kepulauan Kiklad melakukan perdagangan dengan Kreta dan menciptakan tembikar dan peralatan perunggu dengan gaya mereka sendiri.

Daratan utama Yunani (kadang disebut sebagai periode Hellad) kurang berkembang dibandingkan dibandingkan Kreta pada masa awal Zaman Perunggu. Pengetahuan mereka tentang metalurgi juga diketahui dari Kreta.

Adalah pada masa Zaman Perunggu Yunani ketika orang-orangnya disebut bangsa Yunani pra-Hellen, yang kemungkinan tiba di Yunani pada awal milenium kedua SM. Sebelum kedatangan mereka, Yunani dihuni oleh orang non-Yunani. Siapa mereka masih belum diketahui. Yang kita ketahui adalah bahwa setelah kedatangan orang Yunani pra-Hellen, beberapa kota masih bertahan, karena nama-namanya tetap, misalnya kota Korinthos dan Tirins.

Namun, sudah ada peradaban Yunani di Yunani dan kepulauannya, jauh sebelum kedatangan orang-orang Hellen. Bukti-bukti mengenai orang-orang pra-Hellen ditemukan di situs-situs arkeologi di daratan utama Yunani, misalnya di Orkhomenos dan Thebes di Boiotia, Athena di Attika, Korinthos di Isthmos, Tirins dan Mikenai di Argolis, Pilos di Messenia.

Tulisan sudah ada pada peradaban Zaman Perunggu di Mikenai dan Kreta, dan dikenal sebagai Linear B, biasanya ditulis dalam lembaran tanah liat. Sebelumnya kemungkinan sudah ada sistem penulisan lain di Kreta, yang disebut Linear A, namun bahasa yang digunakan dalam Linear A masih belum dapat ditafsirkan. Kebanyakan lembaran tanah liat ditemukan di Kreta dan Pilos. Tulisan-tulisan ini berisi tentang penghitungan dan inventaris istana, alih-alih catatan sejarah atau sastra.

Sparta dan Athena

Setelah Zaman Kegelapam Yunani, periode antara periode Mikenai dan periode Klasik disebut periode Arkais. Pada periode Arkais (abad 9-6 SM), Yunani mengalami perkembangan dalam bidang tulisan, filsafat, ilmu pasti, seni, ekonomi, politik, dan militer.

Secara tradisional, Olimpiade dimulai pada periode ini (776 SM).

Pada periode Arkais, banyak negara kota (polis) menerapkan sistem pemerintahan baru yang berbeda dari sistem pemerintahan monarki. Sistem baru tersebut di antaranya adalah aristokrasi, tirani, dan oligarki.

Ada dua negara kota yang berkembang pesat pada periode Arkais, yaitu Sparta dan Athena. Bangsa Sparta adalah orang-orang yang gila perang dan suka menaklukan daerah-daerah di sekitarnya. Pertama mereka mengaklukan Messenia, lalu Arkadia, lalu Argos, dan dengan demikian menjadikan Sparta berkuasa di Peloponnesos. Sparta menerapkan sistem oligarki, dengan dua raja yang saling berbagi kekuasaan, lima efor yang memegang kekuasaan cukup besar, dan gerousia, yaitu dewan para tetua.

Pada akhir abad ke-6 SM, sebuah pemerintahan baru, bangkit. Para penduduk Athena menggulingkan kekuasaan Hippias sang tiran. Seorang pria bernama Kleisthenines menciptakan demokrasi, dan semua orang (kecuali wanita, non-wara negara, dan budak) berhak memilih sepuluh hakim atau jenderal yang disebut strategos. Setiap warga Athena berhak menjabat posisi ini, seperti misalnya sejarawan Thukidides dan dramawan Sofokles.

Namun, Athena ikut campur terhadap kekuasaan Persia di Asia Minor, akibatnya terjadilah perang antara Kekaisaran Persia yang besar, dipimpin oleh Darius I, melawan negara kota Athena yang kecil. Secara luar biasa, pasukan Athena berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Marathon pada 490 SM. Sepuluh tahun kemudian, Xerxes, putra Darius, berniat membalas kekalahan ayahnya. Xerxes memimpin pasukan besar menuju Yunani. Pada 480 SM, raja Sparta (Leonidas) bersama sekelompok prajurit menahan pasukan Persia di celah sempit Thermopilai, di Thessalia, selama tiga hari, sebelum akhirnya pasukan Sparta pun dikalahkan. Ini memberi waktu bagi Athena untuk mengevakuasi rakyatnya sehingga rakyat Athena bisa menyelamatkan diri ke pulau Salamis dan Peloponnesos. Persia memaksa orang Thessalia dan Boiotia (termasuk Thebes) untuk menjadi prajurit Persia. Kota Athena pada akhirnya dengan mudah ditaklukan namun kota itu sudah kosong karena sebagian besar penduduknya sudah melarikan diri.

Di bawah pemimpinan jenderal Themistokles dari Athena, pasukan Athena beserta Sparta dan sekutu mereka berusaha menghadapi armada Persia di Salmais. Pertempuran laut yang luar biasa, terjadi di Teluk Saronik, di sana armada Yunani berhasil menghancurkan dan menenggelamkan banyak sekali kapal Persia. Setelah kalah, Xerxes membawa sisa-sisa armada lautnya meninggalkan Yunani. Sementara jenderalnya, bersama sepasukan prajurit, ditinggalkan di Yunani untuk berhadapan dengan pasukan Yunani di darat. Pasukan Yunani sendiri dipimpin oleh jenderal Pausanias dari Sparta. Pada 479 SM, sisa-sisa pasukan Persia diluluhlantakan di Plataia, dan jenderal terbaik Xerxes, Mardonius, terbunuh dalam pertempuran.

Kemenangan di Plataia bisa terwujud berkat keberanian, kedisiplinan, dan kehebatan prajurit Yunani, selain juga berkat hoplite (infantri berat) Yunani dan taktik falanga mereka.

Rakyat Athena kembali ke kota Athena dan mulai membangun kembali kota mereka. Mereka mengembangkan armada laut yang tangguuh, dan mendirikan Liga Delos. Dalam perkumpulan ini, sebagian besar anggotanya, yang merupakan kota-kota di pulau-pulau Aigea, harus mengumpulkan uang atau kapal perang. Pada awalnya, ini merupakan cara Athena untuk menyerang kekaisaran Persia, namun strategi mereka berubah. Harta hasil sumbangan anggota-anggota Liga Delos awalnya disimpan di pulau Delos. namun setelah Perikles, jenderal dan pemimpin Athena, berkuasa, dia memindahkan semua harta itu ke kota Athena. Dengan semua kekayaan itu, Athena menjadi kekuatan maritim terbesar di Yunani. Setelah itu, Athena membubarkan Liga Delos dan mendirikan Kekaisaran Athena.

Dengan kekayaan itu pula, kota Athena menjadi semakin berkembang pada pertengahan abad kelima SM. Arsitektur dan seni mencapai level yang lebih tinggi ketika Perikles membangun kuil Parthenon di Akropolis untuk memuja dewi penjaga mereka, dewi Athena. Selain sebagai pusat kekayaan dan kekuatan, Athena juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Berbagai bidang keilmuan berkembang pesat, misalnya pengobatan, ilmu pasti, filsafat, dan sastra. Muncul banyak cendekiawan di Athena: Fidias dalam bidang seni, Iktinos dan Kallikrates dalam bidang arsitektur, Sofokles dan Euripides adalah penulis drama tragedi yang sangat terkenal, sedangkan Aristofanes menulis drama komedi. Dalam filsafat, Sofokles mengajari orang-orang melalui pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berpikir.

Karena merasa sangat kuat, Athena pun menjadi arogan. Athena menyerang kota Korinthos dan Thebes, yang merupakan sekutu Sparta. Akibatnya Sparta pun terlibat dalam konflik ini dan terjadilah perang Athena-Sparta, yang disebut Perang Perloponnesos (431-404 SM). Athena memperoleh beberapa kemenangan kecil, namun Athena kehilangan banyak orang penting, termasuk Perikles, yang mati oleh wabah ketika kota Athena dikepung.

Athena mulai lemah, terutama setelah mereka kalah dalam pertempuran di Trakia (423 SM), dan dalam pengepungan Sirakos (414-413 BC). Athena kehilangan sebagian besar armada lautnya pada pertempuran di Notion (406 SM) dan Aigospotami (405 SM), pada saat itu Sparta dipimpin oleh jenderal Lisandros. Biasanya Sparta lemah dalam hal pertempuran laut, tapi kali ini Sparta dibantu oleh Kekaisaran Persia. Athena akhirnya dikepung dan terpaksa menyerah pada 404 SM.

Pada abad keempat SM, Sparta menjadi kekuasaan terkuat di Yunani setelah Athena menyerah. Pada awalnya, Sparta berniat menginvasi Kekaisaran Persia. Tetapi, Sparta kemudian mencoba memasukkan orang-orang Sparta ke dalam tampuk kekuasaan di kota-kota sekutunya, Korinthos dan Thebes. Akibatnya, Sparta melakukan kesalahan yang dulu dilakukan Athena. Sparta pun akhirnya dikalahkan oleh Thebes pada pertempuran dI Liuktra (371 SM) dan Mantinia (362 SM), melalui kepemimpinan jenderal Epaminondas, meskipun dia meninggal pada pertempuran Mantinia.

Tanpa Epaminondas, supremasi Thebes hanya berlangsung sebentar. Sementara itu, dengan mengadapatsi taktik Epaminondas, Filippos II dari Makedonia berhasil menaklukan Yunani. Filippos menguasai Yunani setelah menang dalam serangkaian pertempuran melawan daerah-daerah di sekitarnya (kota-kota Trakia dan Thessali), kemudian Filippos mengalahkan daerah Yunani yang lainnya, yang berujung pada Pertempuran Khaironia (338 SM).

Abad keempat SM ditandai dengan munculnya Plato dan Aristoteles, namun hanya sedikit tulisan mengenai mitologi yang dibuat pada masa ini.

Neolitikum

Sekitar 7000 SM populasi manusia di Yunani mulai bertambah secara signifikan. Ini kemungkinan terjadi karena perubahan iklim yang memicu orang untuk bermigrasi dari Turki ke Yunani. Pada masa ini, semakin sulit untuk memperoleh makanan hanya melalui berburu dan mengumpulkan. Oleh karena itu, banyak orang yang mulai bertani. Bertani membutuhkan tenaga yang lebih banyak namun dapat menghasilkan makanan yang banyak pula. Selain pertanian, orang juga mulai beternak kambing dan domba.

Pada 5800 SM, ada sebuah desa kecil yang disebut Nea Nikomedia. Penghuni desa ini tinggal di rumah kecil dari kayu dan lumpur. Mereka sudah mampu membuat tembikar dari tanah liat. Kemungkinan mereka mempelajari pembuatan tembikar dari orang Asia Barat. Untuk melindungi desa dari orang jahat, Nea Nikomedia dikelilingi oleh pagar kayu dan dua parit. Di desa lain di dekatnya, yakni, Makriyalos, mayat-mayat manusia dilemparkan ke parit tanpa dikuburkan, kemungkinan korban perang.

Sekitar 5000 SM, orang mulai menggunakan pondasi batu untuk membangun rumah, dan desa dilindungi oleh dinding batu yang dilengkapi gerbang rumit untuk mencegah penyerang masuk. Mereka mungkin bertempur menggunakan tombak, gada, umban, dan panah. Mereka menyukai tembikar dan yang berhiaskan corak merah dan putih, dan ada pula perdagangan tembikar antardesa. Tembikar terbaik pada masa ini dihasilkan di desa Sesklo.

Desa-desa lainnya mencoba meniru tembikar Sesklo namun tak pernah mampu menyamainya. Pada masa ini pula, desa-desa di Yunani sudah cukup besar untuk memilih pemimpin yang bertugas mengelola desa, menyelesaikan sengketa, dan memimpin perang.

Sekitar 4000 SM, desa Sesklo hancur akibat kebakaran, yang bisa jadi berasal dari kelalaian warganya atau mungkin karena peperangan melawan kaum pendatang baru.

Kelompok orang baru bermukim dan membangun desa-desa di Yunani, salah satu desa baru ini adalah Dimini yang memiliki satu bangunan besar di tengahnya, serta memiliki beberapa dinding batu di sekelilingnya dengan gerbang rumit. Nea Nikomedia dan Sesklo juga memiliki satu rumah besar di tengah desa. Kemungkinan rumah besar ini ditempati oleh pemimpin desa yang mewariskan kekuasaan secara turun temurun.