Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

May 30, 2022

Fragmen Salib Yesus Ditemukan di Turki?

Fragmen yang diklaim sebagai bagian dari salib Yesus ditemukan para arkeolog di sebuah peti batu yang terletak di Gereja Balatlar, Provinsi Sinop, Turki. Selain fragmen tersebut, para arkeolog juga menemukan batu yang dipahat dengan gambar salib dalam ekskavasi itu.

Pimpinan penelitian itu, Profesor Gulgun Koroglu, dari Mimar Sinan University of Fine Arts, Turki mengatakan bahwa penemuan ini merupakan sejarah penting. "Kami telah menemukan benda suci dalam peti. Ini adalah bagian salib. Peti batu ini sangat penting bagi kita. Peti ini punya sejarah dan artefak paling penting yang kita temukan selama ini," katanya seperti dikutip Hurryet Daily News,

Mengenai kisah fragmen salib Yesus sendiri adalah cerita masa lalu mengenai Helena, Ibu Kaisar Konstantin yang menemukan kayu salib itu dan lalu menyebarkan potongan ke pemimpin agama di Yerusalem, Roma, dan Konstantinopel (kini Turki). Bahkan, pada abad ke-4, Santo Cycril dari Yerusalem mengatakan bahwa potongan kayu salib telah menyebar ke seluruh dunia.

Hingga saat ini temuan tersebut belum bisa dikonfirmasi kebenarannya dan masih akan dipelajari. Koroglu sendiri mengatakan, dirinya telah melakukan penelitian di gereja yang telah dibangun sejak tahun 660 itu sejak 2009. Ia juga menemukan bekas pemandian Roma dan lebih dari 1.000 tulang belulang.

Hagia Sophia, Persinggahan Rumah Ibadah Dua Agama Turki

Turki menjadi salah satu persinggahan pelancong yang hendak menyusuri sejarah masa lampau yang masih utuh di sudut-sudut kota Istanbul. Turki juga menjadi tujuan wisata religi bagi yang hendak membuktikan kisah yang ditulis oleh Dan Brown dalam novelnya Inferno.

Adalah Hagia Sophia, bangunan megah bergaya arsitektur khas Byzantium menjadi satu dari sekian banyaknya saksi bahwa peralihan dan perubahan bisa terjadi dari masa ke masa. Bila berkesempatan melancong ke Turki, jangan pernah lupa berkunjung ke bekas rumah ibadah dua agama ini. Pasalnya, gedung yang terletak di depan Blue Mosque, di Ayasofya Meydani kawasan Sultanahmet ini membuka sejarah unik tentang persinggahan rumah ibadah agama Kristen dan Islam.

Ibarat kambium pohon, setiap lapisan menandakan pembabakan sejarah yang berbeda pula. Dibangun sebagai katedral bagi umat Katolik Ortodoks, konon Hagia Sophia pernah menjadi Gereja Katolik Roma terbesar di dunia dan dianggap sebagai Holy Wisdom Church.

Kala itu Hagia Sophia dihiasi dengan emas, bertahtakan permata pada dinding gerejanya, ratusan lukisan mozaik dan hasil karya seni lainnya menambah indah bangunan ini dan membuat orang-orang yang ada didalamnya merasa dihujani bintang-bintang. Hagia Sophia diakui sebagai salah satu masterpiece yang membuat mata terbelalak akan keindahannya. Gedung ini telah dijadikan sebagai gereja selama 916 tahun lamanya hingga Konstantinopel jatuh dalam penguasaan Ottoman dan Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid oleh Sultan Mehmed II.

Kendati begitu, arsitekstur Hagia Sophia tetap saja menyimpan jejak sejarah lampau yang masih utuh. Hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya mosaik besar Bunda Maria yang terletak di sekitar lekungan kubah yang dihimpit oleh kaligrafi Allah dan Muhammad.

Terdapat pula Mosaik Deesis, yang menjadi salah satu ikon Hagia Sophia. Mosaik ini memuat gambar diri Kristus Pantokrator, diapit Bunda Maria di sisi kanan dan Johanes Pembaptis di sisi kiri. Mosaik ini dilambangkan sebagai kekuasaan Kristus. Ada juga lukisan Yesus yang bersebelahan dengan kaligrafi Al Quran, yang menyiratkan sebuah perpaduan yang langka dan indah.

Sejak tahun 1935, saat Turki menjadi Republik, Presiden pertamanya Musatafa Kemal Ataturk memutuskan mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum. Simbol-simbol lukisan sakral Kekristenan yang dihilangkan selama dijadikan rumah ibadah Muslim kembali dinampakkan. Pemerintah lalu menampakkan dua simbol agama Islam dan Kristen dalam bangunan ini.

Berusia 1600 Tahun, Sisa Bangunan Gereja Turki Ini Ditemukan di Bawah Danau

Penemuan sebuah gereja berusia 1600 tahun tergenang di sebuah danau di Turki dianggap sebagai bukti iman yang bertahan di negara itu selama berabad-abad lamanya.

Para arkeolog belum lama ini menemukan sisa gereja itu di Kota Iznik, Turki. Kota Iznik juga dikenal dengan nama Nicea, yang saat ini adalah Turki bagian barat laut. Mereka mengklaim bahwa sisa gereja itu berada di kedalaman 5-7 meter.

"Kami menemukan sisa-sisa gereja. Ini dalam rencana basilika dan memiliki tiga ruangan," kata Mustafa Sahin, profesor arkeolog di Universitas Bursa Uludag.

Bangunan ini pertama kali ditemukan dari foto udara yang diambil pada tahun 2014 silam.

"Saat aku pertama kali melihat gambar danau itu, aku cukup terkejut melihat struktur gereja yang sangat jelas. Aku melakukan survei lapangan di Iznik (sejak 2006) dan belum menemukan struktur yang luar biasa seperti itu," kata Sahin.

Dalam kisahnya, Neophytos tewas ditangan pasukan Diokletianus. Setelah itu orang-orang percaya di sana membangun basilika tepat dimana dia dibunuh oleh tentara Romawi, yaitu di tepi Danau Iznik. Sementara pembangunan basilika itu diduga kuat dilakukan pada tahun 325 oleh Kaisar Konstantin Agung.

"Kemungkinan besar (gereja) itu dibangun pada tahun 325 setelah pertemuan dewan pertama di Iznik. Atas apapun, kamu berpikir kalau gereja dibangun pada abad ke-4," katanya.

Namun gereja itu akhirnya hancur ketika gempa bumi melanda Turki pada tahun 740 masehi. Gereja itupun mulai tenggelam di bawah permukaan danau dan hanya menyisakan pondasi lantai dan dinding. Sementara reruntuhannya tak lagi tampak.

Menyusul temuan ini, para arkeolog rencananya akan dipamerkan kepada publik. Pemerintah setempat akan menjadikan sisa bangunan gereja itu sebagai museum arkeologi bawah laut pertama di Turki.

Pemerintah akan membangun menara onservasi setinggi 20 meter di sekitar danau dan membangun klub selam bagi pengunjung yang ingin menjelajah situs itu secara langsung ke dasar danau. Rencananya museum ini akan resmi dibuka tahun depan.

Turki, Tempat Lahirnya Gereja Mula-mula Yang Kini Hampir Mati.

Pada 3 Agustus 2019 lalu, Turki untuk pertama kalinya mengizinkan pembangunan gereja baru dalam kurun waktu 100 tahun sejak berdirinya negara republik pada tahun 1923. Bahkan Presiden Recep Tayyip Erdogan hadir pada acara peletakan batu pertama tersebut.

Gereja yang mendapatkan izin untuk membangun gereja baru tersebut adalah dari sinode Kristen Ortodok Suriah. Gereja tersebut didesain akan dapat menampung sekitar 700 jemaat. Gereja Kristen Ortodok Suriah di Istanbul sendiri diperkirakan memiliki 17.000 jemaat dan memiliki sebuah gereja namun jaraknya jauh. Gereja yang baru ini akan dibangaun di dekat Bandar Udara Ataturk di seberang selat Bosporus.

"Sudah merupakan tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhan kaum minoritas itu dengan mengizinkan pembangunan rumah ibadah", demikian pernyataan Erdogan yang dirilis oleh laman DW.com.

Populasi penduduk Kristen Turki saat ini

Saat ini penganut agama Kristen di Turki hanya sekitar 0.3-0.4 persen dari total populasi penduduk, atau sekitar 200 ribu hingga 320 ribu orang saja dari sekitar 80 juta penduduk Turki. Umat Kristen Turki mayoritas dari Gereja Ortodoks, yaitu sekitar 80-90 jemaat. Sisanya adalah Gereja Katolik, Protestan, Injili dan sejumlah kecil kelompok karismatik.

Turki, tempat lahirnya gereja mula-mula

Sejarah Kekristenan di Turki sangat panjang, hingga bisa ditarik hingga 2.000 tahun lalu. Rasul Paulus dan juga jemaat mula-mula yang saat itu tersebar membawa berita Injil ke wilayah yang saat ini disebut Turki tersebut, hal ini kita bisa baca dan telusuri dengan membaca kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat  Paulus.

Bahkan Rasul Yohanes di Pulau Patmos menuliskan dalam kitab Wahyu peringatan kepada ke tujuh jemaat kota yang berada di sebelah barat Turki, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia (Wahyu 1:11).

Pada masa-masa awal di jaman Rasul Paulus  karena tekanan dan aniaya dari Romawi, gereja mula-mula adalah gerakan bawah tanah, dimana mereka beribadah di rumah-rumah dan tempat-tempat yang tersembunyi. Di wilayah Turki inilah pertama kalinya sebutan Kristen muncul, yang mengacu kepada para pengikut Kristus.

Pernah menjadi pusat Kekristenan

Namun sekitar 300 tahun sejak masa gereja mula-mula, dibawah kepemimpinan Kaisar Konstantine gereja memasuki masa keemasannya dan menjadi agama negara. Kota Byzantium yang sekarang bernama Istanbul menjadi pusat Kekristenan.

Kekaisaran Byzantium memegang peranan penting dalam Kekristenan, hal ini dilihat dari fakta bahwa pada masa kekaisaran  inilah diselenggarakannya tujuh pertemuan Konsili, yaitu Konsili Nicea (325), Konsili Konstantinopel I (381), Konsili Efesus (431), Konsili Kalsedon (451), Konsili Konstantinopel II (553), Konsili Konstantinopel III (680) dan Konsili Nicea (787).

Runtuhnya Kekristenan di Turki

Terjadinya Perpecahan Besar, yaitu munculnya Gereja Timur yaitu Gereja Ortodoks dan Gereja Barat yaitu Katolik Roma, hal ini menjadi awal melemahnya Kekristenan, terutama di Turki.

Jatuhnya ibu kota Kekaisaran Bizantium yaitu Konstantinopel ke tangan Kesultanan Ottoman Turki pada tahun 1453 menambah tekanan pada orang-orang Kristen saat itu. Dengan politik Islamisasi membuat Kekristenan secara pelan-pelan kehilangan pengaruh di Turki.

Runtuhnya Kesultanan Ottoman pada Perang Dunia I, tidak membawa angin segar bagi umat Kristen saat itu. Pada tahun 1915, sekitar 1 juta orang Armenia dan Suriah tewas di wilayah Turki, hal itu memperlemah peran Gereja Ortodoks Armenia dan membuat tensi politik dengan Rusia dimana Anatolia, yang merupakan pusat Gereja Ortodoks Armenia berada.

Setelah berdirinya Republik Turki, berbagai tekanan dan diskriminasi terus dialami oleh kelompok minoritas baik keagamaan maupun etnis. Hal ini memaksa jutaan orang pergi meninggalkan Turki, termasuk kelompok minoritas Kristen Ortodoks Yunani yang memiliki kembali ke negara asalnya.

Hanya ada 2 gereja yang resmi diakui oleh negara Turki sejak tahun 1923

Sejak berdirinya negara Republik Turki pada tahun 1923, negara tersebut hanya mengaku dua gereja yang resmi, yaitu Gereja Ortodoks Yunani dan Gereja Ortodoks Armenia. Jika jemaat kedua gereja ini disatukan maka jumlahnya mendekati 70% dari total keseluruhan orang Kristen di Turki.

Tambahnya adalah Kristen Ortodoks Suriah yang tidak masuk dalam perlindungan Perjanjian Lausanne, sebuah perjanjian perdamaian yang dilakukan di Swiss pada tahun 1923. Namun pada tahun 2000, setelah melewati proses pengadilan yang panjang, Gereja Protestan Istambul di Altintepe akhirnya mendapatkan ijin resmi dan pengakuan negara.

Kondisi Kekristenan Turki saat ini

Dibawah pemerintahan Erdogan, setelah peristiwa kudeta 2016, banyak kelompok minoritas di Turki mengalami tekanan. Termasuk gereja dan orang-orang Kristen.

Bukan hanya dari pemerintah, kelompok radikal pun menyebarkan sentimen anti-Kekristenan dan mengkaitkan Kristen dengan paham barat. Pesan yang mereka tekankan adalah orang Kristen bukanlah rakyat Turki, dan bahkan paham radikal ini mulai disebarkan di sekolah-sekolah.

Menjawab pertanyaan apakah Kekristenan akan bisa bangkit kembali di Turki? Maka jawabannya adalah tentu dengan seijin Tuhan, hal itu bisa terjadi. Namun dengan kondisi saat ini maka kemungkinan yang bisa tergambar adalah gereja di Turki harus kembali kepada bentuk gereja mula-mula, yaitu gereja bawah tanah.

Mari berdoa agar dari tempat lahirnya gereja mula-mula ini, umat Kristen disana mengalami kebangunan rohani kembali. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu kepada jemaat Efesus, kiranya mereka kembali kepada kasih mula-mula mereka (Wahyu 2:4-5).