Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Nov 19, 2020

Hagar

Hagar atau Hajar (bahasa Ibrani: הָגָר, Modern Hagar Tiberias Hāgār; bahasa Yunani: Ἄγαρ Agar; bahasa Latin: Agar; bahasa Arab: هاجر;‎ Hājar) adalah tokoh dalam agama Abrahamik. Ia adalah hamba perempuan Sara, yang kemudian diberikan oleh Sara kepada Abraham, suaminya, untuk menjadi istrinya guna melahirkan anak. Hagar kemudian melahirkan Ismail.

Kisah
Dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen), kisah Hagar disebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 16 dan 21. Dalam Islam, Hagar disebut sebagai Hajar dan namanya tidak disebut dalam Al-Qur'an (kitab suci Islam), tetapi riwayatnya disinggung dalam satu baris doa Ibrahim dalam Surah Ibrahim.  Meskipun Hagar tidak disebut namanya, Hagar dianggap orang yang disinggung dalam doa Ibrāhīm tersebut. Di luar sumber Al-Qur'an, Hagar beberapa kali disebutkan dalam kitab-kitab hadits.

Latar belakang
Terkait asal-usulnya, beberapa sumber Islam dan Yahudi menyebutkan bahwa Hagar adalah seorang putri. Midras Bereshith Rabba dan sebagian literatur Muslim menyebutkan bahwa Hagar adalah anak perempuan dari Fir'aun (penguasa Mesir) yang berusaha mengambil Sarah sebagai istri atau selirnya saat rombongan Abraham singgah di Mesir. Saat mengetahui bahwa Sarah adalah wanita yang dilindungi Allah, Fir'aun memberikan putrinya pada Sarah dan mengatakan, "Lebih baik bagi putriku untuk menjadi pelayan di rumah wanita seperti itu (Sarah) daripada nyonya di rumah lain." Pendapat lain bahwa Hagar diserahkan menjadi istri Abraham sebagai ganti Sarah yang diambil Fir'aun menjadi istrinya.  Sebagai catatan, Fir'aun saat itu mengira bahwa Sarah adalah saudari Abraham, bukan istrinya.

Pendapat lain menyatakan bahwa dia adalah anak perempuan dari seorang raja Maghreb yang masih keturunan Nabi Shaleh. Ayah Hagar kalah dalam peperangan dan raja yang menang perang (yang mengambil Sarah di kemudian hari) kemudian menjadikan Hagar tawanan dan pelayan di istananya. Namun karena dia memiliki darah raja, Hagar menjadi kepala dari semua budak perempuan di istana dan memiliki jalan ke semua harta Fir'aun.

Setelahnya, kafilah Abraham kembali menuju Kanaan dan menetap di sana.

Memberikan Hagar kepada Abraham

Lantaran yakin tidak dapat mengandung, Sarah kemudian memberikan Hagar sebagai selir atau istri Abram. Namun Hagar menjadi merasa lebih mulia dari Sarah setelah mengandung sehingga Sarah menindas Hagar. Hagar kemudian melarikan diri, tetapi malaikat mendatanginya, menyuruh untuk kembali dan menjelaskan bahwa Tuhan akan memperbanyak keturunannya sampai tak bisa dihitung, juga menyuruhnya untuk menamai anaknya Ismael sebab Tuhan mendengar penindasan atas Hagar. Ismael lahir pada saat Abraham berusia 86 tahun. Beberapa ulama, seperti Ibnu Katsir, juga mengutip Alkitab dalam karyanya terkait kisah ini.

Pengusiran
Saat pesta penyapihan Ishak, Sara melihat Ismael bermain bersama Ishak dan dia tidak menyukai hal tersebut. Sara mengatakan pada Abraham, "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak."  Meski Abraham kesal dengan perkataan Sara, Tuhan menyuruh Abraham mendengar perkaraan Sara. Abraham kemudian meminta pergi dan Hagar menggendong perbekalan berikut Ismael di bahunya sampai padang gurun.  Merujuk pada ayat-ayat dalam Kitab Kejadian, diperkirakan Ismael berusia sekitar enam belas tahun saat kejadian tersebut, mengingat dia lebih tua empat belas tahun dari Ishak.

Pada umumnya, sumber-sumber Islam dari hadits dan tafsiran para ulama sepakat bahwa Hagar dan Ismael diungsikan saat Ismael masih kecil dan menyusu. Abraham juga dikisahkan ikut serta mengantar Hagar dan Ismael sampai padang gurun. Kisah pengusiran mereka tidak tercantum dalam Al-Qur'an, tapi dijelaskan dalam riwayat hadits. Diterangkan bahwa Abraham mendapat perintah untuk mengungsikan Hagar dan Ismael dari Kanaan dan menempatkan mereka di tengah padang pasir tak berpenghuni. Saat Abram beranjak pergi, Hagar membuntutinya dan bertanya, "Wahai Ibrahim (Abraham), engkau hendak ke mana? Apakah kamu akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada suatu tanamanpun ini?" Namun Abraham tetap tidak menjawab meski Hagar bertanya berkali-kali. Setelahnya, Hagar mengganti pertanyaannya, "Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan semuanya ini?" Barulah Abraham memberi jawaban, "Iya." Hagar kemudian membalas, "Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami."

Sumur
Dalam Alkitab disebutkan bahwa setelah perbekalan habis, Hagar melempar Ismael ke semak-semak dan duduk agak menjauh darinya sambil menangis karena tidak tahan melihat putranya yang kehausan tersebut mati. Lalu malaikat berkata, "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Allah kemudian membukakan mata Hagar sehingga dia melihat sebuah sumur. Hagar kemudian bergegas memenuhi wadahnya dengan air dan memberi minum Ismael. Disebutkan bahwa mereka tinggal di gurun Paran ("Faran" dalam ejaan Arab).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa di tengah gurun tersebut, Hagar menyusui Ismael dan Hagar sendiri makan dan minum dari perbekalan yang dia bawa. Setelah perbekalannya habis, Hagar merasa kehausan dan begitu pula Ismael sehingga dia menangis. Di tengah kebingungan, Hagar lantas berlari ke puncak bukit Shafa, mencari seseorang yang sekiranya dapat memberikan bantuan. Tidak melihat seorangpun, Hagar menuruni bukit Shafa dan, sembari berlari-lari kecil, menaiki bukit Marwah, tetapi juga tak melihat manusia. Hagar menuruni Marwah dan kembali ke Shafa dan bolak-balik ke kedua bukit tersebut sampai tujuh kali. Saat Hagar berada di puncak Marwah untuk yang ketujuh kalinya, dia mendengar sebuah suara. Hagar bergumam pada dirinya sendiri, "Diamlah," kemudian melanjutkan, "Engkau telah memperdengarkan suaramu. (Tampakkanlah wujudmu) jika engkau bermaksud memberikan pertolongan."

Ternyata suara tersebut adalah dari seorang malaikat yang mengais tanah menggunakan tumitnya, atau ada yang mengatakan sayapnya, hingga air memancar dari tempat tersebut. Hagar bergegas menampung air menggunakan tangannya, kemudian menciduknya dan memasukkannya ke dalam wadah. Mata air inilah yang kemudian disebut Zamzam.  Upaya Hajar saat bolak-balik antara Shafa dan Marwah diabadikan dalam ibadah haji yang disebut sa'i.

Hagar dan Ismael tetap hidup berdua di sana sampai sekelompok suku Arab Jurhum melewati daerah tersebut. Saat melihat burung berputar-putar di suatu tempat dekat posisi mereka, salah seorang mereka berkata, "Burung ini berputar-putar di tempat itu, pasti karena ada genangan air. Padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air sama sekali." Akhirnya mereka mengutus orang untuk melihat tempat burung-burung tersebut, yang ternyata adalah tempat Hagar dan Ismael berdiam di dekat mata air zamzam. Utusan tersebut kemudian mengabarkan hal tersebut pada anggota sukunya yang lain dan mereka semua pindah ke tempat tersebut bersama Hagar dan Ismael. Mereka juga mengirim utusan kepada keluarga mereka agar tinggal bersama-sama di tempat tersebut. Setelah beranjak belia, Ismael belajar bahasa Arab dari orang-orang tersebut. Tempat tersebut di kemudian hari menjadi Makkah. Disebutkan bahwa Abraham beberapa kali mengunjungi Ismael yang tinggal di Makkah. Sebagian pendapat bahwa Abraham menunggang buraq saat hendak mengunjungi putranya tersebut.
Ketura
Alkitab menyebutkan bahwa setelah Sarah wafat, Abraham menikah dengan seorang perempuan bernama Ketura. Beberapa penafsir Yahudi berpendapat bahwa Ketura sebenarnya adalah Hagar. Disebutkan bahwa Ketura adalah nama asli Hagar dan Hagar sendiri adalah julukan atau label yang bermakna "orang asing".

Pihak yang tidak sepakat memandang bahwa pendapat tersebut hanyalah gagasan rabinik tua yang tidak memiliki dasar. Disebutkan dalam Kitab Yobel bahwa Abraham menikah dengan Ketura setelah Hagar wafat.

Sara

Sara atau Sarah (bahasa Ibrani: שָׂרָה, Modern Sara Tiberias Śārāh; bahasa Arab: سارة, translit. Sārah‎) adalah tokoh dalam agama Abrahamik. Dia adalah istri dari Abraham/Ibrahim. Baik dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, dia digambarkan sebagai sosok perempuan saleh yang terkenal akan kecantikannya.

"Dia (Sarah) berkata, 'Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.' Mereka (para malaikat) berkata, 'Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepadamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.'"

 Hud (11): 72-73
"Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham, 'Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa, raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.'"

 Kejadian 17: 15-16

Kisah
Dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen), kisah Sarah disebutkan dalam Kitab Kejadian, sedangkan dalam Al-Qur'an termuat pada surah Hud (11): 71-72 dan Adz-Dzariyat (51): 29-30.

Latar belakang
Awalnya Sarah bernama Sarai (bahasa Ibrani: שָׂרַי/שָׂרָי, Modern Saray Tiberias Śāray/Śārāy ; "Putriku"). Namanya adalah bentuk perempuan dari kata sar (Ibrani: שַׂר), yang bermakna "ketua" atau "pangeran."

Terdapat beberapa pendapat mengenai asal-usul Sarah. Bila didasarkan pada perkataan harfiah Abraham (disebut Ibrahim dalam Islam) kepada Abimelekh, Sarah adalah saudarinya seayah, tetapi berbeda ibu. Namun dalam Talmud disebutkan bahwa Sarah adalah sosok yang sama dengan Yiska, anak perempuan Haran. Haran sendiri adalah saudara Abraham. Dengan demikian, Sarah adalah keponakan Abraham dan saudari Lot (disebut Lut dalam Islam). Terkait pernyataan Abraham bahwa Sarah adalah saudarinya, Rabbi Shlomo Yitzchaki menafsirkan bahwa sebagaimana istilah "putri" dapat digunakan pada cucu perempuan, maka "saudari" juga dapat digunakan untuk keponakan perempuan.

Beberapa ulama berpendapat bahwa Sarah adalah putri seorang lelaki bernama Haran yang merupakan paman Abraham/Ibrahim. Dalam riwayat hadits, disebutkan bahwa Abraham tidak pernah berbohong seumur hidup, kecuali pada tiga kesempatan, salah satunya saat Abraham mengatakan bahwa Sarah adalah saudarinya.  Dalam Alkitab, pernyataan bahwa Sarah adalah saudari Abraham berasal dari perkataan Abraham saat di Mesir  dan pada Abimelekh. Terkait penjelasan mengenai keturunan Terah dalam Alkitab pada Kitab Kejadian pasal 11, keterangan mengenai latar belakang Sarah disebutkan dua kali: kali pertama menyebutkan bahwa Sarah (saat itu bernama Sarai) adalah istri Abraham (saat itu bernama Abram), kali kedua menyebutkan bahwa Sarah adalah menantu Terah dan istri Abraham. Tidak ada keterangan bahwa dia merupakan anak perempuan Terah.

Tidak ada catatan dalam Alkitab mengenai Sarai sebelum dia meninggalkan Mesopotamia. Midras dan Aggadah memberikan catatan tambahan mengenai kehidupannya, berikut perannya dalam agama Yahudi. Disebutkan bahwa Sarai lahir di Ur Kasdim, Mesopotamia, pada masa kekuasaan Raja Nimrod (Namrud).

Kisah awal
Sumber Islam menyebutkan bahwa Sarai termasuk orang yang beriman kepada seruan suaminya, Ibrahim (Abram), yang mengajak masyarakat kembali ke jalan Allah dan meninggalkan penyembahan berhala.

Disebutkan bahwa Nimrod biasanya memiliki jatah makanan yang dibagikan kepada penduduk. Namun Abram tidak mendapat jatah lantaran perdebatannya dengan Nimrod. Untuk menenangkan keluarganya, dia mengisi kantongnya dengan pasir. Saat dia pulang dan tidur, Sarai membuka kantong tersebut yang ternyata telah menjadi bahan makanan. Sarai lantas mengolahnya menjadi hidangan lezat. Saat Abram menanyakan asal makanan tersebut, Sarai menjawab bahwa ini berasal dari kantong yang dibawa Abram. Abram menyadari bahwa itu merupakan rezeki yang dikaruniakan Allah.

Keluar dari Ur Kasdim
Setelahnya, Allah memerintahkan Abram meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi menuju suatu negeri yang tidak diketahui (belakangan diidentifikasikan sebagai Kanaan (Syam)). Beberapa yang ikut bersama Abram adalah Sarai, Terah (ayah Abram), dan Lot (keponakan Abram). Mereka singgah di sebuah tempat bernama Haran (yang kerap diidentifikasikan sebagai Harran). Terah meninggal di tempat tersebut pada usia 205 tahun.

Setelahnya, rombongan Abram melanjutkan perjalanan ke Kanaan. Namun terjadi paceklik hebat di sana sehingga Abram harus mengungsi sementara di Mesir. Namun saat para punggawa istana mengetahui kecantikan Sarai, mereka melaporkannya pada Firaun. Laporan tersebut membuat Firaun penasaran dan tertarik sehingga memerintahkan Sarai untuk dihadirkan di hadapannya.

Merasa khawatir akan dibunuh bila tahu dia adalah suaminya, Abram meminta Sarai mengaku sebagai saudarinya. Sarai kemudian diambil Firaun dan Abram diberi harta kekayaan yang sangat banyak. Namun Firaun dan seisi istananya kemudian terkena tulah. Firaun kemudian menyalahkan Abram karena mengaku bahwa Sarai adalah saudarinya. Kemudian Sarai dikembalikan kepada Abram.

Meski tidak tercantum dalam Al-Qur'an, beberapa riwayat hadits membahas kejadian tersebut. Setelah Sarai dibawa ke istana, Raja berusaha menyentuh Sarai, tetapi tangannya menjadi lumpuh mendadak. Raja memohon agar Sarai berdoa pada Allah untuk menyembuhkannya dan Sarai melakukannya. Setelah tangannya pulih, Raja kembali mengulangi perbuatannya, tetapi dia mengalami kelumpuhan yang lebih berat dari sebelumnya. Raja kembali meminta Sarai mendoakannya dan berjanji tidak akan mengganggunya lagi. Setelahnya, Raja memerintahkan agar Sarai dipulangkan kepada Abram (Ibrahim) dan dia diberi budak perempuan bernama Hajar (Hagar) sebagai hadiah.

Memberikan Hagar kepada Abraham

Lantaran yakin tidak dapat mengandung, Sarai kemudian memberikan Hagar sebagai selir atau istri Abram. Namun Hagar menjadi merasa lebih mulia dari Sarai setelah mengandung sehingga Sarai menindas Hagar. Hagar kemudian melarikan diri, tetapi malaikat mendatanginya, menyuruh untuk kembali dan menjelaskan bahwa Tuhan akan memperbanyak keturunannya sampai tak bisa dihitung, juga menyuruhnya untuk menamai anaknya Ismael sebab Tuhan mendengar penindasan atas Hagar. Ismael lahir pada saat Abram berusia 86 tahun. Beberapa ulama, seperti Ibnu Katsir, juga mengutip Alkitab dalam karyanya terkait kisah ini.

Perjanjian sunat
Allah kemudian mengganti nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sarah. Allah menjanjikan Abraham menjadi bapa sejumlah bangsa besar, menganugerahi anak cucu yang banyak, dan akan muncul raja-raja dari keturunannya. Allah juga menjanjikan Abraham dan keturunannya memberikan tanah Kanaan. Perjanjian ini dipenuhi lewat Ishak, walaupun Tuhan berjanji bahwa Ismael akan menjadi bangsa yang besar pula. Sebagai tanda perjanjian, Allah memerintahkan semua laki-laki dalam keluarga dan rumah tangga Abraham untuk bersunat. Perjanjian sunat (tidak seperti janji-janji lainnya) memiliki dua sisi dan bersyarat: bila Abraham dan keturunannya memenuhi janji mereka, Tuhan akan menjadi Tuhan mereka dan memberi mereka negeri tersebut. Abraham, Ismael, dan semua laki-laki di rumah tangga Abraham kemudian disunat. Perjanjian sunat ini dilakukan saat Abraham berusia 99 tahun. Praktik sunat ini masih diteruskan oleh umat Yahudi dan Islam.

Tamu Abraham

Dalam Alkitab disebutkan bahwa saat Abraham sedang duduk-duduk di pintu kemahnya saat panas terik, tiga tamu asing datang dan Abraham bersujud pada mereka sebagai bentuk penghormatan. Abraham kemudian menghidangkan anak lembu, roti, dan susu, dan para tamu tersebut menyantapnya. Setelahnya, mereka mengabarkan bahwa pada tahun depan, Abraham dan Sarah akan memiliki anak laki-laki. Sarah tertawa mendengar kabar tersebut, kemudian Tuhan menanyakan alasan Sarah tertawa, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sarah kemudian menyangkal bila tadi tertawa karena takut.

Dalam versi Al-Qur'an disebutkan bahwa Abraham kemudian menyuguhkan daging anak sapi panggang, tetapi para tamu tersebut sama sekali tidak menjamah hidangan tersebut sehingga perbuatan tidak lazim mereka ini membuat Abraham takut. Para tamu tersebut kemudian menenangkan Abraham dan menyatakan bahwa mereka adalah para malaikat yang diutus untuk membinasakan kaum Lot (Sodom). Selain itu, mereka juga datang untuk mengabarkan bahwa Abraham dan Sarah akan dikaruniai anak laki-laki bernama Ishaq. Mendengar hal tersebut, Sarah tercengang sembari menepuk mukanya sendiri lantaran merasa heran karena dia adalah wanita mandul yang sudah tua, begitu juga Abraham yang merasa keheranan. Para malaikat menjawab, "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang yang berputus asa." Abraham menjawab, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat."  

Pindah ke Gerar
Abraham kemudian pindah ke Gerar, dan di sana kembali istrinya diambil oleh raja Gerar untuk dijadikan istrinya, setelah Sarah mengaku sebagai saudara perempuan Abraham. Namun, Abimelekh diperingatkan oleh Allah dalam sebuah mimpi agar tidak menyentuh Sarah. Ketika Abimelekh mengecam Abraham karena penipuan ini, Abraham membenarkan dirinya dengan menjelaskan bahwa Sarah adalah anak perempuan dari ayahnya, tetapi bukan dari ibunya.

Ishak
Segera setelah kejadian ini, Sarah melahirkan seorang anak, Ishak. Allah menyuruh Abraham menamainya sesuai dengan tertawa Abraham ketika ia mendengar nubuat malaikat tentang kelahiran anaknya itu. Menurut Rashi, orang mempertanyakan Abraham yang berusia 100 tahun itu benar-benar merupakan bapak anak itu, karena ia dan Sarah telah hidup bersama-sama selama puluhan tahun tetapi tidak juga mendapatkan anak. Sebaliknya, orang menyebarkan gosip bahwa Abimlekeh adalah ayah biologisnya. Lantaran alasan ini, menurut Rashi, Allah menjadikan ciri-ciri Ishak persis seperti Abraham, sehingga tak seorangpun dapat mengklaim bahwa ia adalah ayah Ishak.

Saat pesta penyapihan Ishak, Sarah melihat Ismael bermain bersama Ishak dan dia tidak menyukai hal tersebut. Sarah mengatakan pada Abraham, "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." Meski Abraham kesal dengan perkataan Sarah, Tuhan menyuruh Abraham mendengar perkaraan Sarah. Abraham kemudian meminta pergi dan Hagar menggendong perbekalan berikut Ismael di bahunya sampai padang gurun. Merujuk pada ayat-ayat dalam Kitab Kejadian, diperkirakan Ismael berusia sekitar enam belas tahun saat kejadian tersebut, mengingat dia lebih tua empat belas tahun dari Ishak.  Al-Qur'an tidak mengisahkan mengenai pengusiran Hagar dan Ismael, tapi riwayat hadits dan tafsiran ulama biasanya menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung saat Ismael masih dalam usia menyusu.

Wafat
Sarah meninggal di Kiryat-arba (קרית ארבע), atau Hebron, pada usia 127 tahun. Saat itu Ishak masih berusia 36 tahun dan belum menikah. Abraham kemudian membeli sebidang tanah ladang beserta suatu gua yang bernama gua Makhpela di sebelah timur Mamre di Hebron, dari Efron bin Zohar dari Bani Het seharga 400 syikal perak.

Legenda mengaitkan kematian Sarah dengan penyembelihan Ishak  dan ada dua versi kisah terkait hal ini. Versi pertama, Samael mendatangi Sarah dan mengatakan bahwa Abraham mengikat Ishak untuk dikorbankan, sementara Ishak hanya dapat menangis tanpa bisa lolos dari ayahnya. Mendengar hal tersebut, Sarah meninggal karena duka. Versi kedua menyebutkan bahwa setan, menyamar menjadi lelaki tua, memberitahu Sarah bahwa Abraham hendak mengorbankan Ishak. Sarah menangis, tetapi kemudian menenangkan dirinya bahwa pengorbanan tersebut pastinya merupakan perintah Allah. Dia kemudian keluar dan menanyai orang-orang tempat Abraham pergi. Setan, menyamar menjadi manusia, kemudian menjawab bahwa Ishak tidak disembelih dan masih hidup dan akan kembali pulang bersama ayahnya. Mendengar hal tersebut, Sarah meninggal dengan bahagia. Saat di rumah, Abraham dan Ishak tidak menemukan Sarah di rumah dan mereka kemudian mencarinya di Hebron, menemukannya telah wafat di sana.

Sarah tidak disebut-sebut lagi dalam kanon Ibrani, kecuali dalam Yesaya 51:2 saat nabi mengimbau kepada para pendengarnya agar "memandang kepada Abraham, bapa leluhurmu, dan kepada Sarah yang telah melahirkanmu."

Makam Abraham/Ibrahim dan Sarah menjadi bagian dari kekuasaan kekhalifahan pada tahun 637 dan setelahnya dibangun masjid di situs tersebut dengan nama Masjid Ibrahimi.

Yahudi
Dalam sastra Rabinik, Sarah adalah keponakan Abraham, karena ia adalah anak perempuan Haran, saudara Abraham. Ia juga disebut dengan nama "Yiska" (Kejadian 21:29), karena kecantikannya menarik perhatian dan kekaguman umum. Ia begitu cantiknya sehingga orang-orang lain kelihatan seperti kera bila dibandingkan dengannya. Bahkan kesulitan yang dialami dalam perjalanannya bersama Abraham tidak memengaruhi kecantikannya. Menurut penjelasan lain, ia disebut Yiska karena mempunyai visi kenabian. Ia adalah "mahkota" suaminya; dan Abraham menaati kata-katanya karena ia mengakui keunggulan Sarah dalam hal ini. Sarah adalah satu-satunya perempuan yang dianggap Allah layak disapa-Nya secara langsung; semua nabiah (nabi perempuan) lainnya menerima wahyu melalui para malaikat. Dalam perjalanan mereka, Abraham mentobatkan kaum laki-laki, dan Sarah kaum perempuan. Semula ia dinamai "Sarai" yang berarti "putriku," karena ia adalah putri di keluarganya dan di sukunya; belakangan ia dinamai "Sarah" = "putri" karena ia diakui secara umum sebagi putri.

Kristen
Simon Petrus memuji Sarah atas kepatuhannya pada suaminya. Sarah juga dipuji atas keimanannya bersama dengan tokoh-tokoh Tanakh/Perjanjian Lama yang lain.

Paulus juga menyebut Sarah dan Yerusalem surgawi sebagai "perempuan yang merdeka". Sarah dan Hagar juga dipakai sebagai perumpaan untuk menunjukkan perbedaan perjanjian lama dan perjanjian baru. Hagar diumpamaka sebagai perjanjian lama yang ditetapkan di gunung Sinai. Sarah diibaratkan perjanjian baru. Anak-anaknya, yakni istilah yang merujuk pada mereka yang percaya pada Kristus, merupakan anak-anak Allah yang sejati.

Islam
Sarah termasuk tokoh yang dihormati dalam Islam. Meski di antara istri-istri Ibrahim, Hajar kerap dipandang lebih dekat dengan umat Muslim lantaran merupakan moyang Nabi Muhammad, justru Sarah yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an walaupun secara sepintas, tidak dengan Hajar. Sarah tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran dan hanya disebutkan sebagai istri Ibrahim.

Sebagian ulama menyatakan bahwa Sarah adalah seorang nabiah atau nabi perempuan. Meski demikian, kebanyakan ulama berpandangan bahwa tidak ada perempuan yang sampai pada jenjang kenabian.

Pengulangan dalam cerita
Kisah kehidupan Sarah, meskipun singkat dan tidak lengkap, memberikan pengulangan-pengulangan yang mengusik perhatian, misalnya kejadian dengan Firaun dan kejadian serupa dengan Abimelekh (Kejadian 12:10 dan seterusnya dan 20:1 dan seterusnya). Pernikahan dengan saudara tiri, dalam suatu masyarakat matriarkhi primitif, tidak dianggap sumbang, sampai dengan diberikannya hukum Taurat kepada Musa (lihat Imamat 18). Dari sudut pandangan sejarah kebudayaan cerita-cerita ini penuh dengan pengajaran. Namun sebagian orang menganggap agaknya tidak mungkin bahwa Abraham mengalami risiko ini dua kali. Lebih dari itu, sebuah kejadian serupa juga dilaporkan sehubungan dengan Ishak dan Ribka (Kejadian 26:6-11). Pengulangan ini menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa tak satupun dari laporan-laporan itu yang harus diterima sebagai laporan historis. Mereka berpendapat bahwa ketiganya adalah variasi dari suatu tema yang sama bagi sejarah lisan populer tentang para Leluhur. Bahwa perempuan menikah dengan cara ini tidak perlu diragukan. Maksud cerita ini adalah menonjolkan para tokoh pahlawan perempuannya sebagai orang-orang yang paling cantik dan memperlihatkan bahwa para Leluhur berada dalam perlindungan yang khusus dari Allah. Janji Ishak dan penjelasan tentang nama diberikan dua kali. Pertama, Abraham adalah penerima janji itu, dan ia tertawa (Kejadian 27:15-21). Dalam kisah kedua (Kejadian 28), Abraham kembali diberikan janji itu, tetapi Sarah tertawa. Akhirnya nama itu mendapatkan pembenaran yang ketiga dalam seruan kegembiraan Sarah pada saat kelahirannya.

Perhitungan waktu
Selisih usia
Sarah lebih muda dari
Abraham: 9 tahun (Kejadian 21:5)
Sarah lebih tua dari
Ismael: 77 tahun (Kejadian 16, Kejadian 17)
Ishak: 91 tahun (Kejadian 17, Kejadian 21)
Masa hidup
Sarah berusia 66 tahun ketika bersama Abraham (yang saat itu berusia 75 tahun) berangkat dari Haran ke tanah Kanaan (Kejadian 12:4).
Sarah berusia 76 tahun ketika ia memberikan Hagar hambanya kepada Abraham supaya mendapat anak; waktu itu mereka sudah tinggal di Kanaan 10 tahun (Kejadian 16:3).
Sarah berusia 77 tahun dan Abram berusia 86 tahun ketika Hagar melahirkan Ismael bagi Abraham (Kejadian 16:16)
Sarah berusia 90 tahun ketika Abraham, yang saat itu berusia 99 tahun, disunat (Kejadian 17:17 dan 24).
Sarah berusia 91 tahun ketika ia melahirkan Ishak bagi Abraham, yang saat itu berusia 100 tahun (Kejadian 21:5).
Sarah mati pada usia 127 tahun, ketika Ishak berusia 36 tahun dan Abraham 136 tahun (Kejadian 23:1).

Dalam Alkitab disebutkan bahwa saat Abraham sedang duduk-duduk di pintu kemahnya saat panas terik, tiga tamu asing datang dan Abraham bersujud pada mereka sebagai bentuk penghormatan. Abraham kemudian menghidangkan anak lembu, roti, dan susu, dan para tamu tersebut menyantapnya. Setelahnya, mereka mengabarkan bahwa pada tahun depan, Abraham dan Sarah akan memiliki anak laki-laki. Sarah tertawa mendengar kabar tersebut, kemudian Tuhan menanyakan alasan Sarah tertawa, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sarah kemudian menyangkal bila tadi tertawa karena takut.

Dalam versi Al-Qur'an disebutkan bahwa Abraham kemudian menyuguhkan daging anak sapi panggang, tetapi para tamu tersebut sama sekali tidak menjamah hidangan tersebut sehingga perbuatan tidak lazim mereka ini membuat Abraham takut. Para tamu tersebut kemudian menenangkan Abraham dan menyatakan bahwa mereka adalah para malaikat yang diutus untuk membinasakan kaum Lot (Sodom). Selain itu, mereka juga datang untuk mengabarkan bahwa Abraham dan Sarah akan dikaruniai anak laki-laki bernama Ishaq. Mendengar hal tersebut, Sarah tercengang sembari menepuk mukanya sendiri lantaran merasa heran karena dia adalah wanita mandul yang sudah tua, begitu juga Abraham yang merasa keheranan. Para malaikat menjawab, "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang yang berputus asa." Abraham menjawab, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat."

Pindah ke Gerar
Abraham kemudian pindah ke Gerar, dan di sana kembali istrinya diambil oleh raja Gerar untuk dijadikan istrinya, setelah Sarah mengaku sebagai saudara perempuan Abraham. Namun, Abimelekh diperingatkan oleh Allah dalam sebuah mimpi agar tidak menyentuh Sarah. Ketika Abimelekh mengecam Abraham karena penipuan ini, Abraham membenarkan dirinya dengan menjelaskan bahwa Sarah adalah anak perempuan dari ayahnya, tetapi bukan dari ibunya.

Ishak
Segera setelah kejadian ini, Sarah melahirkan seorang anak, Ishak. Allah menyuruh Abraham menamainya sesuai dengan tertawa Abraham ketika ia mendengar nubuat malaikat tentang kelahiran anaknya itu. Menurut Rashi, orang mempertanyakan Abraham yang berusia 100 tahun itu benar-benar merupakan bapak anak itu, karena ia dan Sarah telah hidup bersama-sama selama puluhan tahun tetapi tidak juga mendapatkan anak. Sebaliknya, orang menyebarkan gosip bahwa Abimlekeh adalah ayah biologisnya. Lantaran alasan ini, menurut Rashi, Allah menjadikan ciri-ciri Ishak persis seperti Abraham, sehingga tak seorangpun dapat mengklaim bahwa ia adalah ayah Ishak.

Saat pesta penyapihan Ishak, Sarah melihat Ismael bermain bersama Ishak dan dia tidak menyukai hal tersebut. Sarah mengatakan pada Abraham, "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." Meski Abraham kesal dengan perkataan Sarah, Tuhan menyuruh Abraham mendengar perkaraan Sarah. Abraham kemudian meminta pergi dan Hagar menggendong perbekalan berikut Ismael di bahunya sampai padang gurun.  Merujuk pada ayat-ayat dalam Kitab Kejadian, diperkirakan Ismael berusia sekitar enam belas tahun saat kejadian tersebut, mengingat dia lebih tua empat belas tahun dari Ishak. Al-Qur'an tidak mengisahkan mengenai pengusiran Hagar dan Ismael, tapi riwayat hadits dan tafsiran ulama biasanya menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung saat Ismael masih dalam usia menyusu.

Wafat
Sarah meninggal di Kiryat-arba (קרית ארבע), atau Hebron, pada usia 127 tahun. Saat itu Ishak masih berusia 36 tahun dan belum menikah. Abraham kemudian membeli sebidang tanah ladang beserta suatu gua yang bernama gua Makhpela di sebelah timur Mamre di Hebron, dari Efron bin Zohar dari Bani Het seharga 400 syikal perak.

Legenda mengaitkan kematian Sarah dengan penyembelihan Ishak dan ada dua versi kisah terkait hal ini. Versi pertama, Samael mendatangi Sarah dan mengatakan bahwa Abraham mengikat Ishak untuk dikorbankan, sementara Ishak hanya dapat menangis tanpa bisa lolos dari ayahnya. Mendengar hal tersebut, Sarah meninggal karena duka.  Versi kedua menyebutkan bahwa setan, menyamar menjadi lelaki tua, memberitahu Sarah bahwa Abraham hendak mengorbankan Ishak. Sarah menangis, tetapi kemudian menenangkan dirinya bahwa pengorbanan tersebut pastinya merupakan perintah Allah. Dia kemudian keluar dan menanyai orang-orang tempat Abraham pergi. Setan, menyamar menjadi manusia, kemudian menjawab bahwa Ishak tidak disembelih dan masih hidup dan akan kembali pulang bersama ayahnya. Mendengar hal tersebut, Sarah meninggal dengan bahagia. Saat di rumah, Abraham dan Ishak tidak menemukan Sarah di rumah dan mereka kemudian mencarinya di Hebron, menemukannya telah wafat di sana.

Sarah tidak disebut-sebut lagi dalam kanon Ibrani, kecuali dalam Yesaya 51:2 saat nabi mengimbau kepada para pendengarnya agar "memandang kepada Abraham, bapa leluhurmu, dan kepada Sarah yang telah melahirkanmu."

Makam Abraham/Ibrahim dan Sarah menjadi bagian dari kekuasaan kekhalifahan pada tahun 637 dan setelahnya dibangun masjid di situs tersebut dengan nama Masjid Ibrahimi.

Kedudukan
Yahudi
Dalam sastra Rabinik, Sarah adalah keponakan Abraham, karena ia adalah anak perempuan Haran, saudara Abraham. Ia juga disebut dengan nama "Yiska" (Kejadian 21:29), karena kecantikannya menarik perhatian dan kekaguman umum. Ia begitu cantiknya sehingga orang-orang lain kelihatan seperti kera bila dibandingkan dengannya.  Bahkan kesulitan yang dialami dalam perjalanannya bersama Abraham tidak memengaruhi kecantikannya. Menurut penjelasan lain, ia disebut Yiska karena mempunyai visi kenabian. Ia adalah "mahkota" suaminya; dan Abraham menaati kata-katanya karena ia mengakui keunggulan Sarah dalam hal ini.  Sarah adalah satu-satunya perempuan yang dianggap Allah layak disapa-Nya secara langsung; semua nabiah (nabi perempuan) lainnya menerima wahyu melalui para malaikat. Dalam perjalanan mereka, Abraham mentobatkan kaum laki-laki, dan Sarah kaum perempuan.  Semula ia dinamai "Sarai" yang berarti "putriku," karena ia adalah putri di keluarganya dan di sukunya; belakangan ia dinamai "Sarah" = "putri" karena ia diakui secara umum sebagi putri.

Kristen
Simon Petrus memuji Sarah atas kepatuhannya pada suaminya.  Sarah juga dipuji atas keimanannya bersama dengan tokoh-tokoh Tanakh/Perjanjian Lama yang lain.

Paulus juga menyebut Sarah dan Yerusalem surgawi sebagai "perempuan yang merdeka".  Sarah dan Hagar juga dipakai sebagai perumpaan untuk menunjukkan perbedaan perjanjian lama dan perjanjian baru. Hagar diumpamaka sebagai perjanjian lama yang ditetapkan di gunung Sinai. Sarah diibaratkan perjanjian baru. Anak-anaknya, yakni istilah yang merujuk pada mereka yang percaya pada Kristus, merupakan anak-anak Allah yang sejati.

Islam
Sarah termasuk tokoh yang dihormati dalam Islam. Meski di antara istri-istri Ibrahim, Hajar kerap dipandang lebih dekat dengan umat Muslim lantaran merupakan moyang Nabi Muhammad, justru Sarah yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an walaupun secara sepintas, tidak dengan Hajar. Sarah tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran dan hanya disebutkan sebagai istri Ibrahim.

Sebagian ulama menyatakan bahwa Sarah adalah seorang nabiah atau nabi perempuan. Meski demikian, kebanyakan ulama berpandangan bahwa tidak ada perempuan yang sampai pada jenjang kenabian.

Pengulangan dalam cerita
Kisah kehidupan Sarah, meskipun singkat dan tidak lengkap, memberikan pengulangan-pengulangan yang mengusik perhatian, misalnya kejadian dengan Firaun dan kejadian serupa dengan Abimelekh (Kejadian 12:10 dan seterusnya dan 20:1 dan seterusnya). Pernikahan dengan saudara tiri, dalam suatu masyarakat matriarkhi primitif, tidak dianggap sumbang, sampai dengan diberikannya hukum Taurat kepada Musa (lihat Imamat 18). Dari sudut pandangan sejarah kebudayaan cerita-cerita ini penuh dengan pengajaran. Namun sebagian orang menganggap agaknya tidak mungkin bahwa Abraham mengalami risiko ini dua kali. Lebih dari itu, sebuah kejadian serupa juga dilaporkan sehubungan dengan Ishak dan Ribka (Kejadian 26:6-11). Pengulangan ini menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa tak satupun dari laporan-laporan itu yang harus diterima sebagai laporan historis. Mereka berpendapat bahwa ketiganya adalah variasi dari suatu tema yang sama bagi sejarah lisan populer tentang para Leluhur. Bahwa perempuan menikah dengan cara ini tidak perlu diragukan. Maksud cerita ini adalah menonjolkan para tokoh pahlawan perempuannya sebagai orang-orang yang paling cantik dan memperlihatkan bahwa para Leluhur berada dalam perlindungan yang khusus dari Allah. Janji Ishak dan penjelasan tentang nama diberikan dua kali. Pertama, Abraham adalah penerima janji itu, dan ia tertawa (Kejadian 27:15-21). Dalam kisah kedua (Kejadian 28), Abraham kembali diberikan janji itu, tetapi Sarah tertawa. Akhirnya nama itu mendapatkan pembenaran yang ketiga dalam seruan kegembiraan Sarah pada saat kelahirannya.

Perhitungan waktu
Selisih usia
Sarah lebih muda dari
Abraham: 9 tahun (Kejadian 21:5)
Sarah lebih tua dari
Ismael: 77 tahun (Kejadian 16, Kejadian 17)
Ishak: 91 tahun (Kejadian 17, Kejadian 21)
Masa hidup
Sarah berusia 66 tahun ketika bersama Abraham (yang saat itu berusia 75 tahun) berangkat dari Haran ke tanah Kanaan (Kejadian 12:4).
Sarah berusia 76 tahun ketika ia memberikan Hagar hambanya kepada Abraham supaya mendapat anak; waktu itu mereka sudah tinggal di Kanaan 10 tahun (Kejadian 16:3).
Sarah berusia 77 tahun dan Abram berusia 86 tahun ketika Hagar melahirkan Ismael bagi Abraham (Kejadian 16:16)
Sarah berusia 90 tahun ketika Abraham, yang saat itu berusia 99 tahun, disunat (Kejadian 17:17 dan 24).
Sarah berusia 91 tahun ketika ia melahirkan Ishak bagi Abraham, yang saat itu berusia 100 tahun (Kejadian 21:5).
Sarah mati pada usia 127 tahun, ketika Ishak berusia 36 tahun dan Abraham 136 tahun (Kejadian 23:1).

Silsilah
Menurut catatan Alkitab, silsilah Sarah adalah sebagai berikut:



Agama Abrahamik

Peta menunjukkan penyebaran yang luas dari agama "Abrahamik" (ungu) dan "Dharmik" (kuning) di masing-masing negara.
Dalam ilmu perbandingan agama, agama Abrahamik, atau agama Ibrahimiah, yang kadang-kadang disebut pula agama samawi, adalah agama-agama yang muncul dari suatu tradisi Semit kuno bersama dan yang ditelusuri oleh para pemeluknya. Karena didasari keterkaitannya oleh sosok leluhur ini, Ibrahim Bahasa Arab ابراهيم ("Ibrahim") atau Abraham (Bahasa Ibrani אַבְרָהָם ("Avraham"), yang kisah hidupnya diriwayatkan dalam Kitab Suci agama Yahudi, agama Kristen, agama Islam dan beberapa agama Abrahamik lainnya. Istilah "monoteisme padang pasir" kadang-kadang digunakan untuk maksud perbandingan serupa dalam konteks historis, dan sekarang istilah ini dianggap menghina.

Agama-agama samawi seperti Yahudi, Kristen, Islam dan beberapa agama Abrahamic lainnya, totalnya memiliki pengikut lebih dari setengah dari seluruh pengikut agama di dunia. Namun, banyak dari para pemeluk agama ini yang menolak pengelompokan agama atau kepercayaan mereka seperti ini dengan alasan bahwa agama mereka pada intinya dan dasarnya mengandung gagasan-gagasan yang berbeda, mengenai Abraham, kitab suci, bahkan konsep ketuhanan dan nama Tuhan dalam masing-masing agama juga berbeda. Saat ini di dunia diperkirakan ada sekitar 3,7 miliar orang pemeluk agama Abrahamik.

Menurut tradisi Yahudi, Abraham adalah orang pertama dari masa pasca air bah yang menolak penyembahan berhala melalui analisis yang rasional (Sem dan Eber melanjutkan tradisi dari Nuh), dan karena itu ia secara simbolis muncul sebagai tokoh fundamental untuk agama monoteistik. Dalam pengertian ini, agama Abrahamik dapat disebut secara sederhana sebagai agama monoteistik, tetapi tidak semua agama monoteistik adalah agama Abrahamik.

Abraham atau Ibrahim diyakini sebagai bapak para Nabi bangsa Arab melalui keturunannya Ismail yang berada dalam rangkaian nabi-nabi Islam, dan dijuluki sebagai Ibrahim Al-khalilullah (kesayangan Allah) dan al-Hanif (yang lurus).

Dalam dua dasawarsa terakhir ini ada gejala menarik di kalangan Kristen dimana banyak umat mengunjungi Israel untuk melihat situs-situs yang diceritakan dalam Alkitab. Diantara para peziarah itu ada yang kemudian terpengaruh adat-istiadat Yahudi kemudian mempraktekkannya di gereja mereka di Indonesia seperti perayaan Pondok Daun dan juga tari-tarian Yahudi. Namun, diantara mereka ada juga yang terpengaruh fanatisme sekte ortodox Yahudi fundamentalis yang kemudian mengganti nama mereka dengan nama Ibrani (seperti ben Abraham), ada yang terpengaruh Yudaisme kemudian menggugat amanat agung penginjilan (Matius 28:19), dan puncaknya ada yang memuja nama 'Yahwe' (sebutan yang tepat adalah Yahweh) dalam bahasa asli Ibrani dan tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun.

Perlu disadari bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa surgawi, dan kenyataannya Tenakh (Kitab Suci Yahudi yang kemudian diterima Kristen sebagai Alkitab Perjanjian Lama) sekitar abad-3sM, dengan restu Imam Besar Eliezer di Yerusalem, diterjemahkan di Aleksandria ke dalam bahasa Yunani dalam bentuk Septuaginta (LXX) dimana nama Yahweh diganti menjadi 'Kurios' dan El/Elohim menjadi 'Theos.' Septuagintalah yang digunakan Yesus dan umat Yahudi pada masa Yesus hidup (selain bahasa rakyat Aram), mengingat bahwa bahasa Ibrani kala itu hanya terdiri dari huruf mati sehingga sulit menjadi bahasa percakapan dan hanya menjadi bahasa suci di Bait Allah. Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani mengikuti kaidah dalam Septuaginta, dan firman Pentakosta disampaikan Rasul didengar dalam bahasa lokal termasuk Arab (Kisah 2:7-11).

Namun, kelompok pemuja nama Yahwe ini kemudian ingin memaksakan kehendak mereka dengan mengganti semua nama Tuhan dalam Alkitab Indonesia dan menggantinya dengan 'Yahwe' dan Allah dengan 'Eloim.' Bagi pemuja nama Yahwe, nama Allah dianggap nama 'Dewa Air atau Bulan' (lihat brosur 'Siapakah Yang Bernama Allah Itu' yang diterbitkan oleh Bet Yeshua Hamasiah) sehingga kalau umat menggunakan nama itu, itu berarti menghujat Yahwe. Semangat anti-Arab ini sempat membuat marah kalangan Islam tertentu (lihat 'Fatwa Mati Untuk Seorang Penginjil', Gatra, 10 Maret 2001), namun ada juga kalangan Islam tertentu yang menganggap serius masalah ini dan menganggap bahwa nama 'Allah' adalah milik Islam dan melarang umat Kristen menggunakannya.

Benarkah klaim-klaim demikian, ataukah pandangan itu fanatisme sempit yang justru merupakan masalah dan bukan masalah sebenarnya? Untuk mengerti lebih dalam soal ini ada baiknya kita mempelajari siapa Allah sesembahan Semitik/Samawi itu. Kita perlu menyadari bahwa ketiga agama Yahudi, Kristen maupun Islam, disebut sebagai agama Semitik/Samawi karena ketiganya berasal dari rumpun yang sama yang mendasarkan diri pada tradisi keturunan Sem, anak Nuh. Lebih dekat lagi ketiganya bisa disebut agama Abrahamik karena ketiganya berasal dari Abraham (Ibrahim dalam Islam) yang dikenal sebagai 'Bapa Orang Beriman' (Juga disebut bapak Monotheisme).

Il Semitik

Tuhan El (dengan padanannya Elohim & Eloah), nama Tuhan yang pertama digunakan dalam Alkitab Kejadian, sebenarnya berasal dari sesembahan 'il' Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam dialek-dialek suku-suku keturunan yang kemudian terpencar dari sumber itu. Kita perlu menyadari bahwa para leluhur yang diceritakan dalam kitab Kejadian sebelum migrasi Terah, tinggal di Mesopotamia sekitar sungai Efrat dan Tigris (lihat daftar suku-suku dalam Alkitab Kejadian 10-12). Kemudian Terah dan keluarganya termasuk anaknya Abram (kemudian menjadi Abraham) meninggalkan Mesopotamia dan bermigrasi ke Kanaan (Kejadian 11:31).

Sebagai nama sesembahan, istilah 'il' Semitik lebih banyak digunakan sebagai 'sebutan/panggilan/gelar' pada awal bahasa rumpun Semitik. Kenyataan ini ditunjukkan dengan jelas di Semitik Timur, Akkadian Kuno (ilu) dan dialek-dialek di bawahnya sebelum masa Sargon (pra 2360sM) dan berlanjut sampai masa Babilonia Akhir. Penggunaan sebagai sebutan juga terlihat di Semitik Barat Laut, di Amorit (ilu, ilum, ila), Ugarit, Ibrani (el), dan Funisia. Di Semitik Selatan sebutan 'il' umum dipakai dalam dialek-dialek Arab Selatan, tetapi di Arab Utara, il disebut 'ilah.'

Ternyata di kalangan Semitik 'ilu' dan 'el' juga digunakan sebagai nama diri. Penemuan teks Ugarit pada tahun 1929, menunjukkan bahwa ternyata dalam pentheon Kanaan, 'il' adalah nama diri kepala pantheon dan penggunaan sebagai sebutan jarang digunakan. Di Semitik Timur juga dijumpai penggunaan 'il' sebagai nama diri sesembahan, juga di Akkadian Kuno. Nama diri ini juga disebut sebagai 'ilu' dan 'ilum'. Seringnya penggunaan 'il' sebagai nama diri dalam tulisan ketuhanan di Akkadian menunjukkan bahwa sesembahan 'il' (kemudian 'el' semitik) adalah tuhan kepala di dunia Semitik Mesopotamia pada masa pra-Sargon.

Penemuan penggalian di Amorit menunjukkan bahwa pada abad-18sM, tuhan 'il' memiliki peran besar, dan acapkali dipanggil sebagai 'ila' atau 'ilah.' Di Arab Selatan, juga banyak dijumpai 'il' sebagai nama diri. Dapat disimpulkan bahwa sejak masa awal bahasa-bahasa Semitik di Semitik Timur, Semitik Barat Laut, dan Semitik Selatan, 'il/el' sudah digunakan bersama baik sebagai sebutan maupun nama diri, sebagai Bapak dan Pencipta Kosmos.

Dari fakta-fakta di atas kita dapat mengetahui bahwa 'il' atau 'el' memang berasal dari sejarah Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam berbagai dialek menjadi il, ilu, ilum, ila, ilah', yang dalam dialek Ibrani menjadi 'el' yang adalah pencipta langit dan bumi dan yang mengutus Abraham. Kelihatannya untuk membedakan dengan nama sesembahan lain, kepada Musa kemudian dinyatakan nama kedua yaitu 'Yahweh' (Keluaran 6:1-2) sebagai Tuhannya khas orang Israel yang keluar dari Mesir, namun selanjutnya, nama diri 'El' juga masih digunakan sebagai sinonim Yahweh (bandingkan El Elohe Yisrael, Kejadian 33:20 dengan Yahweh Elohe Yisrael, Yosua 8:30).

Dalam dialek Semitik Arab, 'il' disebut 'ila' atau 'ilah' (Allah = al-ilah, ilah itu. Dalam dialek Semitik Ibrani penggunakan kata sandang untuk 'el' tidak umum). Kita mengetahui bahwa dari sumber Islam maupun Kristen bangsa Arab adalah keturunan dari empat jalur Semitik, yaitu melalui keturunan Aram (anak Sem - Palestina Timur Laut), keturunan Yoktan (anak Eber - Arab Selatan), keturunan Ismael (anak Abraham – Arab Utara), dan juga melalui keturunan Ketura (selir Abraham). Dari sini kita dapat melihat bahwa bangsa Arab dapat disebut termasuk rumpun Semitik (keturunan Aram anak Sem), Ibranik (keturunan Quathan/Yoktan anak Eber), dan juga Abrahamik (keturunan Adnan, keturunan Ismael anak Ibrahim), jadi bersaudara dengan orang Israel yang juga termasuk rumpun Semitik (keturunan Arphaksad anak Sem), Ibranik (keturunan Pelek anak Eber), dan Abrahamik (keturunan Ishak anak Abraham).

Dari kitab suci Yahudi (Tenakh/Perjanjian Lama), Kristen (Perjanjian Lama & Baru), maupun Islam (Al-Quran), kita dapat melihat nama-nama yang menunjuk orang-orang yang sama sekalipun dengan dialek berbeda (Abraham/Ibrahim, Yesus/Isa), dan pengajaran/aqidah yang berbeda pula. Peringatan Idul-Adha jelas terlihat menunjuk pada nama sesembahan yang sama yaitu El Abraham (Ibrani) atau Allah Ibrahim (Arab), namun berbeda dalam pengajaran/aqidahnya. Perjanjian Lama (Kejadian 22:1-2) maupun Perjanjian Baru (Ibrani 11:17-19) menyebut Ishak yang dikorbankan Abraham, Al-Quran (QS.37:99-113) tidak secara eksplisit menyebutkannya tetapi tradisi Arab menyebut nama Ismael sebagai yang dikorbankan Ibrahim.

Persaudaraan Yahudi dan Arab tidak bisa disangkali dari fakta sejarahnya. Sumber Islam mengakui bahwa bangsa Arab adalah termasuk rumpun Semitik, jadi bersaudara dengan Yahudi:

"Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia ... . Masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab tersebar di sepanjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan ... . Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupakan keturunan dari seorang nabi bernama Quahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Utara yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk keturunan Isma'il, putra Ibrahim ... . Istilah Arab berarti "Nomads". Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quahthan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta'arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-'Aribah (Arab Asli) ... . Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh." (Bangsa Arab' dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, 49-50)

"Adnan. Anak turunan Nabi Isma'il yang menjadi nenek moyang suku-suku Arabia Utara ... nenek moyang suku Arabia Selatan adalah Quahthan, yang dalam Bibel disebut Joktan." ('Adnan' dalam Glasse, 12-13)

Sedangkan sumber Kristen pun juga mengakui bahwa sebenarnya bangsa Arab bersaudara dengan bangsa Yahudi:

"Berita Alkitab yang pertama yang memberikan penjelasan mengenai penduduk Arabia adalah Daftar Bangsa-Bangsa dalam kitab Kejadian 10, yang mencantumkan sejumlah orang-orang Arab Selatan sebagai keturunan Yoktan dan Kusy. Kemudian hari sejumlah suku-suku dari Arab Utara disebut sebagai keturunan Abraham melalui Keturah dan Hagar (Kejadian 25). Lagi di antara keturunan Esau (Kejadian 36) sejumlah orang Arab disebut. Di masa Yakub, dua kelompok keturunan Abraham yaitu orang-orang Ismaili dan Medianit dijumpai sebagai pedagang-pedagang caravan (Kejadian 37:25-36)." ('Arabia' dalam The New Bible Dictionary, 54)

"orang Arab mencakup keturunan Aram (Kejadian 10:22), Eber (Kejadian 10:24-29), Abraham dari Keturah (Kejadian 25:1-4) dan dari Hagar (Kejadian 25:13-16) ... Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup beberapa suku Arab (Kejadian 10:26-29)." ('Arabians' dalam The Interpreter's Dictionary of the Bible, vol-1, 182)

Jadi, apakah ada yang mau menerima atau tidak, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dan Arab adalah saudara sedarah dengan adanya nenek moyang yang sama, dan dengan demikian sesembahan nenek moyang mereka adalah sama dengan nama 'Allah' dalam dialek Arab, sekali pun ajaran/aqidahnya berbeda karena perbedaan dalam menerima wahyu yang tercantum dalam kitab suci masing-masing yang dianggap masing-masing sebagai benar dan berotoritas.

Allah, 'Il' dialek Arab

Memang nama tuhan 'il' semitik yang disebut dengan berbagai dialek pada suku-suku keturunan Sem yang menyebar bisa menyimpang dari aqidah aslinya, namun dalam suku Israel dan Arab kesamaan itu masih besar melalui tiga jalur keturunan penting, apalagi ketiga agama semitik/samawi mempercayai 'el/ilah' Abraham/Ibrahim sebagai bapak Orang Beriman atau bapak Monotheisme. Jadi penggunaan dialek 'ilah' sudah lama digunakan suku-suku Arab, baik pra Abraham/Ibrahim maupun sesudah masa Abraham/Ibrahim, jauh sebelum masa Kristen (abad-1) dan masa Islam (abad-7). Penggunaan dialek 'ilah' (yang ditekankan menjadi 'Allah' dengan kata sandang definitif) dikalangan Arab pada masa pra-Islam dipergunakan oleh suku-suku Arab baik yang menganut agama Yahudi, Kristen maupun kaum Arab 'hanif' yang menganut agama Abraham/Ibrahim (terutama suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah).

Di kalangan bangsa Arab masakini yang mayoritasnya menganut agama Islam, penggunaan nama 'Allah' digunakan secara luas secara bersama bahkan dalam Al-Quran nama itu disebut digunakan bersama baik oleh umat Islam maupun Nasrani seperti dalam kutipan berikut:

"Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah diatas bumi (Adam). Maka jawab mereka itu: Adakah patut Engkau jadikan diatas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguh-nya Aku mengetahui apa2 yang tiada kamu ketahui". (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.2:30)

"Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah". (Yunus, QS.2:136).

"(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah ter-hadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang meno-long (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS.22:40)

Saat ini ada empat Alkitab dalam bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama 'Allah', dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak menjadi masalah (dalam Alkitab bahasa Aram-Siria Peshita, disebut 'Alaha'). Memang di Malaysia pernah ada negara bagian yang melarang penggunaan nama 'Allah' sehingga Alkitab dalam bahasa Indonesia pernah dilarang masuk ke Malaysia, namun sekarang Alkitab berbahasa Indonesia yang memuat nama Allah sudah bebas masuk ke Malaysia, dan sekarang juga terbit terjemahan Alkitab dalam Bahasa Melayu (BM) yang juga menggunakan nama Allah.

Nurcholish Majid, cendekiawan Muslim ketua universitas 'Paramadina,' mengenai banyaknya umat Islam Indonesia yang mengira bahwa istilah "Allah" itu khusus Islam, Cak Nur mengingatkan bahwa selain claim itu bertentangan dengan Qur'an sendiri (QS.12:106), juga bertentangan dengan kenyataan bahwa dari dahulu sampai sekarang, di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok non-Islam, yaitu Yahudi dan Kristen dan mereka juga menyebut Allah." (Islam, Doktrin dan Peradaban, h.xcv)

Olaf Schumann, doktor teologi yang memperdalam Islamologi di Universitas Al-Ashar - Mesir selama tiga tahun, jadi tahu dengan benar situasi apa yang terjadi di negara Arab, mengungkapkan dengan jelas bahwa nabi Muhammad sendiri mengakui bahwa orang Kristen menggunakan nama yang sama unuk sesembahan mereka namun memang ada masalah di sini:

"Hal itu diakui pula dalam Al-Quran sendiri di mana nabi Muhammad dalam percakapan dengan orang Kristen dan Yahudi menggunakan pula kata Allah dan dengan sendirinya dicatatlah dalam buku suci umat Islam itu bahwa orang Yahudi dan Kristen menggunakan kata yang sama. Dalam tradisi Islam berbahasa Arab pun tidak pernah dipersoalkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menggunakan istilah yang sama dengan orang Islam untuk menyatakan Dia yang menjadi tujuan ibadah dan amal mereka. ... Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya." (Keluar Dari Benteng Pertahanan, 175,177).

Sekalipun faktanya penggunaan nama 'Allah' oleh orang Arab penganut agama Yahudi & Kristen dan orang Arab 'hanif' keturunan Ibrahim dan Ismael sudah lama terjadi sebelum kelahiran agama Islam, belakangan ini di Indonesia mulai ada kelompok tertentu baik di kalangan Kristen maupun Islam yang terlalu menekankan simbol-simbol agama daripada esensi agama itu, dan yang sekarang mulai lagi mempersoalkan hal itu (dengan kata lain menganggap peringatan Idul-Adha yang menceritakan tentang 'Allah' Ibrahim (QS.37:99-113) dianggap berbeda dengan 'Allah' Abrahamnya orang Arab penganut agama Yahudi & Kristen (Alkitab Kejadian 22:1-2/Ibrani 11:17-19)).

Ensyclopaedia Britannica menyebut bahwa nama 'Allah' dipergunakan baik oleh orang Kristen maupun Islam:

"Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonim for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." (dibawah kata Allah).

Banyak kalangan Islam di Indonesia sendiri terbuka pemikirannya untuk mengerti kebenaran sejarah dan menyadarinya, bahkan Ensiklopedia Islam menyebut:

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. (Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.50).

"Kata "Allah" merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan, yang melalui kata tersebut dapat memanggil-Nya secara langsung. Ia merupakan kata pembuka menuju Esensi (hakikat) ketuhanan, yang berada di balik kata tersebut bahkan yang tersembunyi di balik dunia ini. Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan; misalnya nama Abd al-Allah (hamba Allah), nama Ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan." (Glasse, hlm.23).

Tiga Agama Samawi

Kita perlu sadar bahwa ketiga agama Semitik/Samawi menyembah El/Allah yang sama yang disembah Abraham/Ibrahim yang sama pula. Yang membedakan adalah pengajaran/aqidah mengenai Allah yang sama itu berbeda. Agama Yahudi mempercayai Allah Abraham yang memberikan perjanjian melalui Abraham, Ishak dan Yakub (sesuai kitab suci Tenakh/Perjanjian Lama). Agama Kristen mempercayai hal itu namun juga penggenapannya dalam Tuhan Yesus Kristus (Perjanjian Lama & Baru), ini diragukan keotentikannya oleh agama Yahudi. Agama Islam secara implisit beriman pada kitab-kitab Yahudi & Kristen (QS 2:136) namun secara eksplisit meragukan keotentikannya, dan beriman pada Allah Ibrahim namun juga wahyu yang dipercayai diterima oleh Nabi Muhammad. Wahyu ini diragukan keontentikannya oleh agama Yahudi maupun Kristen.

Memang benar bahwa nama 'Allah' pada masa jahiliah pernah merosot ditujukan kepada dewa berhala kafir, namun Islam ingin mengembalikan pengertian itu pada 'Allah' kaum Hanif yang menganut ajaran Ibrahim. Demikian juga dalam sejarah Yahudi, nama 'Elohim' dan 'Yahweh' juga pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Keluaran 32:1-6 & 1Raja 12:28) namun Musa ingin mengembalikan pengertian itu kembali kepada 'Yahweh, Elohim Israel.' (Keluaran 32:26-27).

Perlu disadari bahwa bahasa Arab sebagai salah satu dialek Semitik, dan nama Allah dalam bahasa Arab terutama lisan sebelum ada budaya tulis, sudah lama ada sebelum agama Islam hadir, maka sekalipun Islam sekarang menjadi agama mayoritas yang dianut orang Arab, tentu tidak bisa mengklaim bahwa nama itu adalah nama eksklusif milik agama tertentu, padahal nabi Muhammad dalam Al-Quran dan orang Arab sendiri mengakuinya sebagai milik bersama para penganut agama Semitik/Samawi (yang notabena diturunkan dari bahasa Semitik dan Aram itu).

Nama Allah dalam bahasa Arab sudah masuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, dan Alkitab bahasa Indonesia sudah menggunakan nama itu seperti saudara/i Kristen di tanah Arab selama 4 abad dan tidak ada masalah selama itu dan andaikan ada konflik antar agama isu nama Allah tidak pernah menjadi penyebab. Karena itu kalau sekarang timbul anggapan bahwa masalah nama sesembahan itu dijadikan isu seakan-akan mengganggu kerukunan beragama, tentu patut disayangkan sebab di Malaysia sendiri sudah tidak dipermasalahkan lagi, bahkan di negara-negara berbahasa Arab sendiri tidak pernah dipersoalkan. Baru ketika kelompok Kristen yang terpengaruh Yudaisme dan yang kurang mengerti sejarah Arab dan bahasanya mempersoalkannya isu ini naik kepermukaan.

Sekalipun berbeda dalam ajaran/aqidah, kesamaan Allah semitik/samawi yang disembah ketiga agama semitik/samawi itu seharusnya bisa menjadi perekat kesatuan bangsa Indonesia yang selama ini berdampingan secara damai. Seharusnya kita sadar bahwa gerakan fanatisme Yudaisme melalui orang-orang tertentu yang mau meresahkan hubungan dengan disatu sisi meremehkan sesembahan tertentu dan disisi lain menyalahkan penganut tertentu, bisa kita hadapi dengan hati-hati dan panjang hati. Dengan demikian kerukunan beragama menjadi nyata dan kesatuan bangsa Indonesia tercapai tanpa kita harus menghilangkan identitas pengajaran/aqidah agama masing-masing.

Etimologi
Kata "Samawi" berasal dari bahasa Arab As-Samawat (السماوات) yang mempunyai arti "langit", menurut tradisi Islam agama samawi memiliki arti agama dari langit, karena para pengikutnya meyakini agama samawi dibangun berdasarkan wahyu Tuhan melalui perantara malaikat kepada para nabi dan rasul yang kemudian disampaikan kepada umat manusia sebagai panduan jalan hidup. Sedangkan kebalikan dari Agama Samawi mereka sebut sebagai "Agama Ardhi" (أرض) yang artinya Agama Bumi.

Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi jika:

Mempunyai definisi Tuhan yang jelas
Mempunyai penyampai risalah (Nabi/Rasul)
Mempunyai kumpulan wahyu dari Tuhan yang berbentuk lembaran yang ditulis pada kulit hewan, dedaunan, lempengan batu yang diukir dan kitab suci

Pengantar

Di dalam Torah dan Al Qur'an, Abraham digambarkan sebagai seorang leluhur yang diberkati oleh Allah (orang-orang Yahudi menyebutnya "Bapa kami Abraham"), dan dijanjikan banyak hal yang besar. Orang Yahudi dan Kristen menganggapnya sebagai bapak bangsa Israel melalui anaknya Ishak; Orang Muslim juga menganggapnya sebagai bapak bangsa Arab melalui anaknya Ismail. Dalam keyakinan Kristen, Abraham adalah teladan bagi iman, dan niatnya untuk taat kepada Allah dengan mempersembahkan Ishak dipandang sebagai pendahulu atau bayang-bayang dari persembahan oleh Allah sendiri atas Anak-Nya, Yesus.

Dalam syariat Islam dikisahkan bahwa yang akan dijadikan qurban adalah Ismail dan bukan Ishak, Ibrahim taat kepada Allah dengan mempersembahkan Ismail dan dianggap sebagai salah satu nabi terpenting yang diutus oleh Allah. Dalam Al-Qur'an, Ibrahim disebutkan bukan penganut Yudaisme dan bukan pula seorang penganut Nasrani, tetapi dia memiliki kepercayaan terhadap Allah yang disebut Millah Ibrahim atau al-Hanafiyyah (Agama Hanif). Dalam Al-Qur'an, disebutkan Nabi Ibrahim memiliki lembaran-lembaran suci yang disebut sebagai suhuf.

Tinjauan umum
Semua agama Abrahamik berkaitan (atau bahkan berasal dari) Yudaisme sebagaimana yang dipraktikkan di kerajaan Israel dan Yehuda kuno sebelum pembuangan ke Babel, pada awal milennium pertama SM. Banyak orang percaya bahwa Yudaisme di Israel kuno pada zaman Alkitab diperbarui pada abad ke-6 SM oleh Ezra dan oleh para imam lainnya yang kembali ke Israel dari pembuangan.

Meskipun menerima orang-orang yang pindah menjadi pemeluknya, Yudaisme tidak menganjurkannya, dan karena itu tidak mempunyai misionaris. Yudaisme menyatakan bahwa orang-orang non-Yahudi dapat hidup benar dengan mengikuti Hukum Nuh, yaitu tujuh perintah universal yang diharapkan diikuti oleh orang-orang non-Yahudi. Dalam konteks ini Rambam (Rabi Moses Maimonides, salah seorang guru Yahudi penting) berkomentar, "Mengutip dari para bijak kita, orang-orang yang benar dari bangsa-bangsa lain mempunyai tempat di dunia yang akan datang, bila mereka telah menemukan apa yang seharusnya mereka pelajari tentang Sang Pencipta." Karena perintah-perintah yang dapat diterapkan kepada orang-orang Yahudi jauh lebih terinci dan berat daripada hukum-hukum Nuh, para sarjana Yahudi biasanya mengatakan bahwa lebih baik menjadi seorang non-Yahudi yang baik daripada seorang Yahudi yang tidak baik, karenanya mereka tidak menganjurkan perpindahan agama. Yang umumnya terjadi, orang-orang yang berpindah ke Yudaisme adalah mereka yang menikah dengan orang Yahudi; di Amerika Serikat, jumlah orang-orang ini diperkirakan mencapai 10.000-15.000 setiap tahunnya. Lihat pula Perpindahan ke Yudaisme.

Agama Baha'i memberikan tekanan khusus untuk tidak melakukan proselitisme. Malah hal ini dilarang. Orang-orang Baha'i memang menerima orang-orang yang pindah dari latar belakang segala agama dan etnis dan secara aktif mendukung orang-orang yang secara pribadi melakukan penelaahan tentang kepercayaan ini. Umat Baha'i mempunyai "perintis-perintis" dan "guru-guru keliling" khusus yang pindah ke wilayah-wilayah yang komunitas Baha'inya kecil untuk menolong memperkuat dan memperluasnya.. Para pemeluk agama lain sangat dihormati dan dalam banyak hal dipandang sebagai orang-orang yang secara spiritual atau rohani sejajar. Sementara umat Baha'is memandang hukum-hukum dan wahyu Baha'i unik, mereka tidak menghalangi para pemeluk agama lain dalam upaya spiritual mereka. Mereka juga menjadi pemimpin dalam berbagai upaya antar-iman.

Sudut Pandang Islam

Nabi Ibrahim menjadi Imam bagi seluruh Manusia
" Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". "
Quran 2:124

Bandingkan dengan konsep dalam Kitab Perjanjian Lama orang Kristen dan Yudaisme yang menyebut bahwa Abraham akan membuat semua manusia diberkati karena keturunannya. Walau demikian umat Kristen dalam Kitab Perjanjian Baru juga mengakui bahwa "Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati" (Yakobus 2:14-26). Jika dibaca keseluruhan teks tersebut, Kristen dan Islam memiliki pandangan yang mirip mengenai firman Allah kepada Ibrahim bahwa janji Allah tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.

Kematian Muhammad

Kematian Nabi dan Rasul Islam Muhammad (570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang dia alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya. Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, di dalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril pada tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan. Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam. Wafatnya Muhammad terjadi hari Senin, 8 Juni 632 atau 12 Rabiul Awwal 10 H di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, di kamar Aisyah, yang kini menjadi makam Muhammad. Kini makam Muhammad termasuk kedalam Masjid Nabawi, tepatnya dibawah naungan Kubah Hijau, sebuah ikon yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi. Muhammad memberikan dua petunjuk yang dijadikan pedoman bagi manusia untuk selama-lamanya, yakni Al-Qur'an dan Hadits – ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad – kini digunakan sebagai petunjuk bagi umat Muslim. Muhammad dimakamkan di kamar Aisyah, kemudian didampingkan bersama kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab di sisi makam Muhammad. Setelah kematian Muhammad, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Empat Sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khulafa'ur Rasyidin. Dua diantara mereka – Abu Bakar dan Umar bin Khattab – dimakamkan di samping makam Muhammad, masing-masing tahun 634 dan 644 M.

Muhammad lahir sekitar tahun 570 (Tahun Gajah) kota Arab Mekkah, Muhammad menjadi yatim piatu di usia mudanya; ia tumbuh di bawah pengasuhan Abu Talib. Secara berangsur-angsur, ia lebih banyak menyepi di sebuah gua bernama Hira selama beberapa malam untuk berdoa; kemudian, di usianya yang ke 40, dia dilaporkan dikunjungi Malaikat Jibril kedalam gua,  ketika ia menyatakan dirinya menerima wahyu pertama dari Allah. Tiga tahun kemudian, tahun 610  Muhammad memulai menyebarkan wahyu ke publik,  memproklamirkan bahwa "Tuhan itu Satu" yang memenuhi "berserah diri" (lit. islam) kepadanya dan mengikuti jalan yang benar (din), Dia adalah seorang Nabi dan Rasul, seperti Nabi lain dalam Islam.

Muhammad bersama beberapa pengikut awal, menerima siksaan dari penduduk Mekkah. Untuk menghindari penyiksaan, Muhammad mengirim beberapa sahabat ke Habsyah sebelum dia dan pengikutnya pindah dari Mekkah ke Madinah (sebelumnya dikenal dengan Yatsrib) pada tahun 622. Peristiwa ini, Hijrah, menjadi tanda dimulainya kalender Islam, juga dikenal sebagai Kelender Hijriyah. Di Madinah, Muhammadmempersatukan beberapa kabilah di bawah Konstitusi Madinah. Di Desember 629, setelah delapan tahun mengalami konflik dengan kabilah di Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10,000 pasukan muslim dan membebaskan Mekkah. Kekuatan tersebut cukup besar dan Muhammad menaklukan kota dengan sedikit pertumpahan darah. Di 632, beberapa bulan setelah kembali dari Haji Wada', ia jatuh sakit dan wafat. Sebelum kematiannya, kebanyakan Semenanjung Arabia menjadi menjadi beragama Islam.

Haji perpisahan
Pada tahun 632, pada akhir tahun kesepuluh setelah hijrah ke Madinah, Muhammad menyelesaikan ziarah Islam pertamanya yang benar, menetapkan prioritas untuk Ziarah Agung tahunan, yang dikenal sebagai haji. Setelah menyelesaikan ziarah tersebut, Muhammad menyampaikan sebuah pidato terkenal, yang dikenal sebagai Khotbah Perpisahan (Khotbah Wada'), di Gunung Arafah di sebelah timur Mekkah. Dalam khotbah ini, Muhammad menasehati para pengikutnya untuk tidak mengikuti adat pra-Islam tertentu. Misalnya, dia bilang kulit putih tidak memiliki keunggulan dibanding warna hitam, atau hitam memiliki keunggulan dibanding kulit putih kecuali oleh kesalehan dan tindakan baik. Dia menghapus perseteruan darah lama dan perselisihan berdasarkan sistem suku sebelumnya dan meminta janji lama untuk dikembalikan sebagai implikasi dari penciptaan komunitas Islam yang baru. Mengomentari kerentanan perempuan di masyarakatnya, Muhammad meminta pengikut laki-lakinya untuk menjadi baik bagi perempuan, karena mereka adalah tawanan yang tidak berdaya di rumah Anda. Anda membawa mereka ke dalam kepercayaan Allah, dan melegitimasi hubungan seksual Anda dengan Firman Tuhan, maka masuklah ke indra Anda orang-orang, dan dengarkan kata-kata saya ... Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka berhak mendisiplinkan istri mereka tapi harus melakukannya dengan baik. Dia berbicara tentang masalah warisan dengan melarang klaim palsu tentang ayah atau hubungan klien dengan almarhum, dan melarang pengikutnya untuk meninggalkan kekayaan mereka kepada pewarisnya. Dia juga menjunjung tinggi kesucian empat bulan lunar setiap tahun. Menurut tafsir Sunni, ayat Alquran berikut disampaikan dalam acara ini: Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu, dan melengkapi nikmat-Ku untukmu dan memilih Islam sebagai agama bagimu (Quran 5: 3).  Menurut tafsir Saba, ini menunjuk pada pengangkatan Ali bin Abi Thalib di kolam Khumm sebagai penerus Muhammad, ini terjadi beberapa hari kemudian ketika umat Islam kembali dari Mekkah ke Madinah

Khotbah ini disampaikan oleh Nabi Muhammad pada tanggal 9 Zulhijah, 10 Kalender Hijriyah (6 Maret 632).  di Uranah lembah Gunung Arafah, selama haji. Muhammad al-Bukhari mengacu khotbah dan mengutip bagian dari itu di 'nya' Sahih al-Bukhari .  Bagian dari itu juga hadir di Sahih Muslim  dan Sunan Abu Dawud.

Kalimat berikut dikatakan oleh Nabi Muhammad pada akhir ibadah Haji.

Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan senang hati yang telah diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.
Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi. (Sebagai contoh) hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi'ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu. Transaksi riba yang dilakukan pada masa jahiliyah juga tidak sudah tidak berlaku lagi sejak hari ini. Transaksi yang aku nyatakan tidak berlaku lagi adalah transaksi riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya seluruh transaksi riba itu semuanya batal dan tidak berlaku lagi.
Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kalian telah mengambil mereka dengan amanah atas nama Allah dan hubungan badan dengan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai kewajiban terhadap isteri kalian dan isteri kalian mempunyai kewajiban terhadap diri kalian. Kewajiban mereka terhadap kalian adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras/tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.
Waspadalah terhadap syetan demi keselamatan agama kamu, dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara bersar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil.
Ghadir Khum
Pada bulan April 623, Nabi Muhammad mengirim Ubaidah bin Harits dengan enam senar Muhajirun ke lembah Rabigh. Mereka mengharapkan untuk mencegat Quraisy yang kembali dari Suriah di bawah perlindungan Abu Sufyan bin Harb dan 200 pembalap bersenjata.  Partai Muslim melakukan perjalanan sejauh sumur di Thanyat al-Murra, di mana Sa'ad bin Abi Waqqas menembakkan anak panah ke arah orang Quraisy. Ini dikenal sebagai panah pertama Islam. Terlepas dari serangan mendadak ini, mereka tidak menghunuskan pedang atau pendekatan satu sama lain, dan orang-orang Muslim kembali dengan tangan hampa.

Wahyu terakhir

Wahyu terakhir yang diterima Muhammad adalah 5:3

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kalimat yang di cetak tebal merupakan wahyu terakhir yang diterima Muhammad, setelah dia menerima wahyu di Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun, dengan detail waktu penurunan ayat dari awal sampai akhir – 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari – atau dibulatkan menjadi 23 tahun.

Wafat

Beberapa bulan setelah ziarah perpisahan, Muhammad jatuh sakit dan menderita selama beberapa hari dengan demam, sakit kepala, dan kelemahan. Dia meninggal pada hari Senin, 8 Juni 632, di Madinah, pada usia 62 atau 63, di rumah istrinya Aisha. Dengan kepalanya bertumpu pada pangkuan Aisha, dia memintanya untuk membuang barang dagangan terakhirnya (tujuh koin), lalu mengucapkan kata-kata terakhirnya:

Ya Allah, kepada Ar-Rafiq Al-A'la (sahabat yang agung, tempat tertinggi di surga)  

Ar-Rafiq Al-A'la mungkin mengacu pada Tuhan.  Dia dikuburkan di tempat dia meninggal di rumah Aisha.  Pada masa pemerintahan khalifah Umayyah al-Walid I, al-Masjid an-Nabawi (Masjid Nabi) diperluas untuk mencakup tempat makam Muhammad. Kubah Hijau di atas makam dibangun oleh Sultan Mamluk Al Mansur Qalawun pada abad ke-13, meskipun warna hijau ditambahkan pada abad ke-16, di bawah pemerintahan Sultan Ottoman Suleiman yang Luar Biasa. Di antara makam yang berdekatan dengan Muhammad adalah milik sahabatnya (Sahabat), dua khalifah pertama Muslim Abu Bakr dan Umar, dan yang kosong yang diyakini umat Islam sedang menunggu Yesus.  Ketika bin Saud membawa Madinah pada tahun 1805, makam Muhammad dilucuti dari perhiasan emas dan perhiasannya. Penganut kepada Wahhabisme, pengikut bin Sauds menghancurkan hampir semua kubah makam di Madinah untuk mencegah penghormatan mereka,  dan yang dikatakan Muhammad telah lolos secara sempit.   Kejadian serupa terjadi pada tahun 1925 ketika milisi Saudi mundur - dan kali ini berhasil mempertahankan - kota.  Dalam interpretasi Wahhabi tentang Islam, penguburan terjadi di kuburan yang tidak bertanda. Meskipun dikutuk oleh orang Saudi, banyak peziarah terus melakukan ziyarat - sebuah kunjungan ritual - ke makam.

Kuburan Muhammad terletak di dalam batas-batas rumah yang dulu adalah rumah istrinya dan Aisha, Hujra. Selama hidupnya disatukan masjid. Masjid tersebut diperluas pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid I untuk memasukkan makamnya. Kuburan Muhammad adalah alasan penting bagi kesucian masjid yang tinggi, karena Dome of the Prophet menandai lokasi makam tersebut.  Jutaan mengunjunginya setiap tahun, karena ini adalah tradisi untuk mengunjungi masjid setelah berziarah ke Mekah.

Dua khalifah pertama, Abu Bakr dan Umar dimakamkan di samping Muhammad. Umar diberi tempat di samping Muhammad oleh Aisha, yang semula ditujukan untuknya. Tempat kosong di samping makam Muhammad diperuntukkan bagi Yesus. Menurut komentator Quran Baidawi, Yesus akan kembali ke Tanah Suci untuk membunuh Antikristus dan memerintah selama 40 tahun, kemudian dimakamkan di samping Muhammad.

Kuburan Muhammad sendiri tidak dapat dilihat karena daerah itu ditutup oleh sebuah jala emas dan tirai hitam karena ajaran Wahhabi yang melarang memberi makna penting bagi kuburan (kunjungan kuburan dan almarhum diperbolehkan di hampir semua sekte utama Islam lainnya). Kuburan itu sendiri ditutupi oleh sarkofagus simbolis dan dihiasi dengan sutra hijau.

Isu penggalian
Pada tahun 2014 lalu, ada isu penggalian makam Muhammad yang akan dilakukan oleh Pemerintahan Arab Saudi. Namun, isu tersebut sebenarnya tidaklah benar. Masjid Nabawi memang ingin diperluas, tetapi makam itu tidak akan dihancurkan. KH Amidan, pengurus Majelis Ulama Indonesia mengatakan bahwa isu itu adalah isu yang disebarkan untuk mengadu-domba kalangan Muslim. Menurutnya, kalau memang makam itu akan dibongkar, pastilah Arab Saudi akan didemo umat Islam seluruh dunia, dan ia juga merasa bahwa Arab Saudi tidak akan berani melakukannya. Berita ini kali pertama disebarkan oleh media di Iran, yakni Fars Media Agency dan diikuti pers Indonesia.

Selain dari itu, kabar kebohongan ini juga mengutip dari The Independent dan Daily Mail yang berkantor pusat di Inggris. Mereka menyebar berita pada September 2014. Kabar ini diambil dari sebuah dokumen setebal 61 halaman yakni jurnal ilmiah Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang tidak diterjemahkan dengan baik. Pimpinan redaksi koran Mekkah, Muwafaq an-Nuwasyar, menuding dua surat kabar ini secara serampangan mengambil berita dan salah terjemah, sehingga koran Independent jatuh dalam perangkap kesalahpahaman. Kaum Muslim Indonesia sempat terpancing dengan berita ini, sehingga telah ada pernyataan dari duta besar Indonesia kepada Saudi Arabia, Mustafa bin Ibrahim al-Mubarak – sebagaimana menurut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin – bahwa Arab Saudi memang tidak ada rencana untuk memindahkan makam dan memiliki komitmen yang tinggi menjaga keberadaan makam tersebut. Selain itu Menteri Agama menghimbau semua organisasi masyarakat Islam Indonesia supaya tidak perlu menguras tenaga dan emosi hanya karena berita yang tak berdasar tidak jelas itu.

Kubah Hijau

Dibangun pada 1279 M atau 678 H pada masa pemerintahan Mamluk Sultan Al Mansur Qalawun, struktur aslinya terbuat dari kayu dan tidak berwarna, dilukis putih dan biru di restorasi selanjutnya. Setelah kebakaran serius melanda Masjid pada tahun 1481, masjid dan kubah tersebut telah dibakar dan sebuah proyek restorasi diprakarsai oleh Sultan Qaitbay yang memiliki sebagian besar basis kayu diganti dengan struktur bata untuk mencegah runtuhnya kubah di masa depan. Dan piring bekas timbal untuk menutupi kubah kayu baru. Bangunan tersebut, termasuk Makam Nabi, diperbarui secara ekstensif melalui patronase Qaitbay. Kubah saat ini ditambahkan pada tahun 1818 oleh Sultan Mahmud II Ottoman. Kubah itu pertama kali dicat hijau pada tahun 1837.

Ketika Saud bin Abdul Aziz membawa Medina pada tahun 1905, para pengikutnya, kaum Wahhabi, menghancurkan hampir semua kubah makam di Madinah berdasarkan keyakinan mereka bahwa pemujaan terhadap makam dan tempat yang dianggap memiliki kekuatan supernatural adalah pelanggaran terhadap tawhid. Makam Muhammad dilucuti dari ornamen emas dan perhiasannya, namun kubah tersebut dipelihara baik karena usaha yang gagal untuk menghancurkan strukturnya yang mengeras, atau karena beberapa waktu yang lalu. Abd al-Wahhab menulis bahwa dia tidak ingin melihat kubah tersebut hancur meski dia memiliki keengganan untuk orang-orang berdoa di makam. Kejadian serupa terjadi pada tahun 1925 ketika milisi Saudi merebut kembali - dan kali ini berhasil mempertahankan - kota  Pada tahun 2007, menurut Independent, sebuah pamflet, yang diterbitkan oleh Kementerian Urusan Islam Saudi dan didukung oleh mufti besar Arab Saudi, menyatakan bahwa kubah hijau akan dibongkar dan tiga kuburan diratakan di Masjid Nabawi.

Upaya pencurian

Menurut riwayatnya, ada beberapa kali usaha pencurian yang tercatat di dalam sejarah:

Pertama, pada masa al-Hakim bi Amrillah al-Ubaidiy, dia hendak menarik perhatian masyarakat Mesir dengan hendak mendatangkan jasad Muhammad. Tetapi, usahanya gagal karena datangnya badai ke Madinah.
Kedua, pada masa pemerintahan al-Ubaidiy pada tahun 408 Hijriah. al-Ubaidiy mengatakan bahwa dirinya Tuhan. Ia menyuruh orang untuk tinggal di dekat Masjid Nabawi. Orang-orang ini membuat terowongan menuju makam Muhammad. Upaya tersebut gagal karena ada suara penyeru, Nabi kalian akan digali! Nabi kalian akan digali! Maka para penduduk segera melakukan penyelidikan dan membunuh para utusan tersebut.
Ketiga, orang-orang Nasrani dari Maroko dahulu pernah hendak menggali makam ini. Tetapi, Nuruddin Zanki, sebelumnya, bermimpi tentang keberadaan orang-orang ini. Para penggali kubur berhasil diakali dengan siasat sang panglima Nuruddin dengan memberi uang manakala ada penduduk yang berhasil menemui kedua penjahat ini. Di bawah sebuah tikar di rumah sang penjahat, ditemui terowongan menuju makam Muhammad. Setelah dipukuli penduduk, keduanya mengaku gagal karena adanya guncangan hebat di bumi. Karena adanya bukti, keduanya dibunuh. Lantas, karena kejadian ini, sang panglima membuat tembok dari timah tebal di sekitar makam Muhammad. Kejadian ini terjadi pada 1164 Masehi atau 554 Hijriah,  
Keempat, orang-orang Nasrani pernah merampok kafilah jamaah haji. Setelah merampok, mereka bertekad menggali makam Rasulullah secara terang-terangan. Tapi digagalkan sebuah kapal dari Mesir yang mengikutinya hingga Madinah. Orang-orang ini ditangkap dan ditawan.
Usaha kelima dilakukan dengan rencana menggali makam Abu Bakar dan Umar. Itu terjadi di pertengahan abad ke tujuh Hijriyah. Sejumlah orang yang mencapai 40 orang laki-laki ingin menggali kubur pada malam hari. Kemudian bumipun terbelah dan menelan mereka. Hal ini diceritakan oleh pelayan al-Haram an-Nabawy pada saat itu. Dia adalah Shawwab, as-Syamsu al-Malthiy.

Wasiat

Al-Qur'an adalah Wasiat utama yang diberikan Muhammad kepada umatnya, sebuah teks keagamaan yang paling utama dan sebagai sumber Hukum Islam. Muslim percaya bahwa kitab ini adalah ucapan Tuhan yang diwahyukan kepada Muhammad melalui Malaikat Jibril. Wasiat lain yang disampaikan Muhammad adalah koleksi Hadits, tindakan perbuatan fisik dan ucapan yang berisi pengajaran dan tradisi dari Muhammad. Hadits dikumpulkan oleh generasi setelah kematian Muhammad termasuk Muhammad al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Abdurrahman An-Nasa'i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Malik bin Anas.

Penerus

Muhammad mempersatukan sebagian besar kabilah-kabilah di Jazirah Arab menjadi sebuah negara Arab Muslim yang bersatu dalam keagamaan selama akhir masa hidupnya. Dengan kematian Muhammad, ketidak setujuan pecah antara para pewarisnya. Umar bin Khattab, seorang sahabat Muhammad yang setia, mengusulkan Abu Bakar, sahabat dan pengikut Muhammad. Dengan tambahan dukungan, Abu Bakar di daulat sebagai khalifah pertama. Pemilihan ini disangkal beberapa sahabat Muhammad, yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Talib, sepupu dan menantunya, telah dipilih sebagai pewaris oleh Muhammad di Rabigh. Abu Bakar secara perlahan memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Bizantium (atau Kekaisaran Romawi Timur).  Timur Tegah pra-Islam di dominasi oleh Bizantium dan Sassaniyah. Pertempuran antara Romawi dan Persia meluluh lantakkan wilayah, membuat kekaisaran tidak disukai sebagian besar kabilah setempat. Selanjutnya, wilayah yang akan ditaklukkan oleh Muslim dari sekte Kekristenan (Nestoria, Monofisit, Yakubit dan Koptik) yang tidak puas dari Gereja Ortodoks Timur yang menganggap mereka sesat atau bid'ah. Dengan sebuah dekade Muslim menaklukkan Mesopotamia, Bizantium Suriah, Bizantium Mesir, sebagian besar persia, dan didirikannya Kekhalifahan Rasyidin.

Syekh Muhammad Nawawi

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني‎) atau Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M - meninggal di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M) adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).

Biografi
Syekh Nawawi lahir dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, Desa Padaleman, Kecamatan Tanara, Serang) pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani. Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad .

Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak: Nafisah, Maryam, Rubi'ah. Sang istri wafat mendahului dia.
Silsilah
Berikut adalah silsilah Syekh Nawawi al-Bantani sampai kepada Rasulullah  

Syekh Nawawi al-Bantani bin
Syekh Umar al-Bantani bin
Syekh Arabi al-Bantani bin
Syekh Ali al-Bantani bin
Syekh Jamad al-Bantani bin
Syekh Janta al-Bantani bin
Syekh Masbuqil al-Bantani bin
Syekh Maskun al-Bantani bin
Syekh Masnun al-Bantani bin
Syekh Maswi al-Bantani bin
Syekh Tajul Arsy al-Bantani (Pangeran Sunyararas) bin
Sultan Maulana Hasanuddin bin
Sultan Syarif Hidayatullah bin
Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin
Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin
Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin
Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin
Sayyid Abdullah Azmatkhan bin
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin
Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin
Sayyid Ali Khali' Qasam bin
Sayyid Alawi ats-Tsani bin
Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Sayyid Alawi Awwal bin
Sayyid al-Imam 'Ubaidillah bin
Sayyid Ahmad al-Muhajir bin
Sayyid 'Isa Naqib ar-Rumi bin
Sayyid Muhammad an-Naqib bin
Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin
Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin
Sayyidina Muhammad al-Baqir bin
Sayyidina Ali Zainal Abidin bin
Sayyidina Husain bin
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti
Sayyidina Muhammad

Pendidikan
Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.

Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.

Guru-Gurunya
Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi :

Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya)
K.H. Sahal al-Bantani
Syekh Baing Yusuf Purwakarta
Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi
Syekh Ahmad Zaini Dahlan
Syekh Abdul Ghani al-Bimawi
Syekh Yusuf Sumbulaweni
Syekh Abdul Hamid Daghestani
Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi
Syekh Ahmad Dimyati
Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali
Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki
Syekh Junaid al-Batawi
Syekh Zainuddin Aceh
Syekh Syihabuddin
Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad al-Banjari
Syekh Abdush Shamad bin Abdurahman al-Falimbani
Syekh Mahmud Kinan al-Falimbani
Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani
Dan lain sebagainya.

Peranan dan Perjuangan
Nasionalisme dan Pengabdian di Masjidil Haram
Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid . Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya ia kembali ke Mekkah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Begitu sampai di Mekkah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya.

Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekkah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.  

Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekkah dan Madinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan namanya begitu masyhur.

Pemikiran Penting

Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawwi. Dia menginspirasi komunitas al-Jawwi untuk lebih terlibat dalam studi Islam secara serius, tetapi juga berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka. Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.

Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme.

Di samping itu, upaya pembinaan yang dilakukan Syekh Nawawi terhadap komunitas al-Jawwi di Mekkah juga menjadi perhatian serius dari pemerintahan Belanda di Indonesia. Produktivitas komunitas al-Jawwi untuk menghasilkan alumni-alumni yang memiliki integritas keilmuan agama dan jiwa nasionalisme, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Untuk mengantisipasi ruang gerak komunitas al-Jawwi ini maka pemerintah Belanda mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje untuk berkunjung ke Mekkah pada tahun 1884 - 1885. Kedatangan Snouck ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut dan melihat secara langsung berbagai hal yang telah dilakukan oleh ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas al-Jawwi.

Pendapat Penentangan di Arab Saudi

Meskipun saat itu Arab Saudi dikuasai oleh pemerintahan yang berfaham Wahabisme, namun Syekh Nawawi berani berbeda pendapat dalam hal ziarah kubur. Kerajaan Arab Saudi melarang ziarah kubur dengan alasan bidah, namun Syekh Nawawi tidak menentang praktik ini. Pendapat ini dilandasi temuan Syekh Nawawi tentang ketentuan hukumnya dalam ajaran Islam. Syekh Nawawi bahkan menganjurkan umat Islam untuk menghormati makam-makam orang yang berjasa dalam sejarah Islam, termasuk makam Nabi  dan para sahabat. Menurut Syekh Nawawi, Mengunjungi makam Nabi  adalah praktik ibadah yang identik dengan bertemu muka (tawajjuh) dengan Nabi  dan mengingatkan kebesaran perjuangan dan prestasi yang patut untuk diteladani.

Murid-Muridnya

Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain

Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi
Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura
Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri
Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang
Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara
Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram
Sayyid Ali bin Ali al-Habsy - Pengajar di Masjidil Haram
Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand
Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi
K.H. Saleh Darat as-Samarani
K.H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama
K.H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah
K.H. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong
K.H. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar
K.H. Raden Asnawi, Kudus
Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatra Barat
K.H. Thahir Jamaluddin, Singapura
K.H. Dawud, Perak, Malaysia
K.H. Hasan Asyari, Bawean
K.H. Najihun, Mauk, Tangerang
K.H. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang
K.H. Ilyas, Kragilan, Serang
K.H. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888
K.H. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888
K.H. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888
K.H. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888
K.H. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888
K.H. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888
Dan lain sebagainya.

Kisah Syekh Nawawi dan Murid-muridnya
K.H. Hasyim Asyari
K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Tebuireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syekh Nawawi. Kenangan terhadap sang gurunya itu amat mendalam di hatinya hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan kepada para santrinya.

Gelar-gelar
Di antara gelar kehormatan yang disematkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebagai berikut:

al-Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (tokoh ulama Hijaz) atau Sayyidul Hijaz (penjaga Hijaz)
Nawawi at-Tsani (Nawawi kedua). Orang pertama yang memberi gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani
al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam)
A'yan 'Ulama al-Qarn ar-Ram 'Asyar Li al-Hijrah (tokoh ulama abad 14 Hijriyah)
Imam 'Ulama Al-Haramain (Imam Ulama Dua Kota Suci)
Doktor Ketuhanan (orang pertama yang memberikan gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Christiaan Snouck Hurgronje)
asy-Syaikh al-Fakih (disematkan oleh kalangan pesantren)
Bapak Kitab Kuning Indonesia (disematkan oleh para Ulama Indonesia).

Karya-Karyanya

Kepakaran Syekh Nawawi tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syekh 'Umar 'Abdul Jabbar dalam kitabnya "al-Durus min Madhi al-Ta'lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram" (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik.

Sebagian dari karya-karya Syekh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:  

al-Tsamar al-Yani'ah syarah al-Riyadl al-Badi'ah
al-'Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubîn
Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi'ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-'Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
Marâqi al-'Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
Nashâih al-'Ibâd syarah al-Manbaĥâtu 'ala al-Isti'dâd li yaum al-Mi'âd
Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
Qâmi'u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu'bu al-Imân
al-Tafsir al-Munîr li al-Mu'âlim al-Tanzîl al-Mufassir 'an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma'nâ Qur΄an Majîd
Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
Nur al-Dhalâm 'ala Mandhûmah al-Musammâh bi 'Aqîdah al-'Awwâm
Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
Madârij al-Shu'ûd syarah Maulid al-Barzanji
Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
Fath al-Shamad al 'Âlam syarah Maulid Syarif al-'Anâm
Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
Murâqah Shu'ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu'b al-Îmâniyyah
'Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
Naqâwah al-'Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-'Aqîdah
Sulûk al-Jâdah syarah Lam'ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu'ah wa almu'âdah
Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
al-Fushûsh al-Yâqutiyyah 'ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
al-Riyâdl al-Fauliyyah
Mishbâh al-Dhalâm'ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
Dzariyy'ah al-Yaqîn 'ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
Baghyah al-'Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
Lubâb al-bayyân fi 'Ilmi Bayyân.
Karya tafsirnya, al-Munir, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsir al-Jalalain, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal. Sementara Kasyifah al-Saja merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumeir al-Hadhramy. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya adalah Tijan ad-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, Kasyifah al-Saja, dan yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa yaitu Syarah 'Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Adapun Qami'u al-Thugyan, Nashaih al-'Ibad dan Minhaj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf.

Karamah

Telunjuk Bersinar dan Dapat Menjadi Lampu Penerang
Pada suatu waktu di sebuah perjalanan dalam syuqduf (rumah-rumahan di punggung unta) Syekh Nawawi pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yang ia tumpangi, sementara aspirasi untuk menulis kitab tengah kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu, menerangi jari kanan yang akan digunakannya untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayarnya dengan cacat pada jari telunjuk kiri, karena cahaya yang diberikan Allah pada telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang.

Melihat Ka'bah dari Tempat Lain yang Jauh

Karamah lain Syekh Nawawi juga diperlihatkannya di saat ia mengunjungi Masjid Pekojan, Jakarta. Masjid yang dibangun oleh Sayyid Utsman bin 'Agil bin Yahya al-'Alawi (mufti Betawi keturunan Rasulullah ) itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri

Tak ayal, saat Syekh Nawawi yang dianggapnya hanya seorang anak remaja tak dikenal menyalahkan penentuan kiblat, Sayyid Utsman sangat terkejut. Diskusipun terjadi antara keduanya, Sayyid Utsmân tetap berpendirian bahwa kiblat Mesjid Pekojan tersebut sudah benar, sementara Syekh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat haruslah dibetulkan. Saat kesepakatan tidak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syekh Nawawi remaja menarik lengan baju Sayyid Utsmân dan dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat, kemudian berkata:

"Lihatlah Sayyid!, itulah Ka'bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka'bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka'bah." "
Sayyid Utsman termangu. Ka'bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syekh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari bahwa remaja yang bertubuh kecil di hadapannya itu telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Yang dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka'bah akan tetap terlihat.  Dengan penuh hormat Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil Syekh Nawawi. Sampai saat ini di Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser dan tidak sesuai aslinya.

Jasad yang Tetap Utuh

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota dan lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan tersebut dijalankan tanpa pandang bulu hingga menimpa pula pada makam Syekh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya, yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet dan tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan penutup jasad Syekh Nawawi tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil, yaitu larangan dari pemerintah untuk membongkar makam Syekh Nawawi. Jasadnya lalu dikuburkan kembali seperti sediakala, dan hingga sekarang makam Syekh Nawawi tetap berada di Ma'la, Mekah.

Shalat di Dalam Mulut Ular Besar

Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi istirahat di sebuah tempat untuk azan kemudian salat. Setelah ia azan ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu salat sendirian. Usai shalat Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. Akhirnya ia tersadar bahwa ternyata ia salat di dalam mulut ular yang sangat besar itu.

Menghasilkan Karya-karya yang Fenomenal

Karamah Syekh Nawawi yang paling tinggi dapat dirasakan ketika membuka lembar demi lembar Tafsir Munir yang ia karang. Kitab Tafsir fenomenal tersebut menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami firman Allah. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kasyifah al-Saja yang menerangkan syariat. Dan ratusan hikmah di dalam kitab Nashaih al-'Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan Syekh Nawawi al-Bantani.

Wafat

Syekh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.

Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Tanara, Serang, asuhan K.H. Ma'ruf Amin  Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara.