Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 3, 2017

Asyur

Asyur adalah sebuah negeri yang berbatasan dengan pegunungan Ararat di Armenia (utara), daratan tinggi Media (timur), sungai Zab bawah (selatan), dan melalui Tigris sampai ke Laut Tengah (barat). Sejarah Asyur berawal pada milenium ketiga SM. Ibukota kerajaan Asyur yang sangat terkenal adalah Niniwe (Kejadian 10:11). Asyur mencapai puncak perluasan wilayah kekuasaan mulai dari Teluk Persia sampai ke Laut Tengah pada tahun 700 SM atau pada zaman pelayanan nabi Yesaya. Masuknya Asyur dalam kancah percaturan politik dunia, ditandai dengan menyusulnya kemunduran kerajaan Babel di bawah kekuasaan dinasti Hammurabi pada abad 16 SM. Raja-raja Asyur seperti Tiglat-Pileser I, Ashurbanipal II, Salmaneser III, Tiglat- Pileser III, Salmaneser IV, Sargon II, Sanherib, Esarhaddon dan Ashurbanipal sangat berperan penting dalam membawa Asyur menjadi penguasa dunia. Salah satu sistem politik yang diterapkan oleh Asyur adalah menempatkan para gubernur di wilayah yang mereka telah taklukkan. Israel Utara takluk kepada Asyur di bawah pemerintahan raja Salmaneser IV dan Sargon II pada tahun 722 SM. Kemudian Sanherib ingin juga merebut wilayah Yehuda, namun dihentikan oleh Tuhan (2 Raja-raja 19:35-36).

Tuhan melalui nabi Yesaya menubuatkan bahwa Asyur akan dihancurkan karena perlakuan kejamnya atas umat-Nya (Yesaya 14:24-27) dan Nahum menubuatkan lebih spesifik tentang kehancuran Niniwe, ibukota Asyur yang akan kita bahas secara terpisah berikutnya (Nahum 1:1-15;2:1-13;3:1-19).

Di bawah pemerintahan Ashurbanipal gejala kejatuhan Asyur sudah terlihat dari pemberontakan Mesir. Setelah kematiannya, Asyur semakin mendekati ujung tanduk di bawah pimpinan raja Assuretililani, dan pada pemerintahan Sinsariskun kerajaan Asyur jatuh oleh serangan yang dilancarkan duo-kekuatan bersatu dari pasukan gubenur Babilonia, Nabopolasar dan pasukan Kyaxeres dari Media.

Sep 19, 2017

Kota Daud

Kota Daud (bahasa Inggris: City of David; (bahasa Ibrani: עיר דוד, Ir David; Arab: مدينة داوود‎) adalah nama yang diberikan oleh orang Israel untuk daerah pemukiman tertua di Yerusalem dan situs arkeologi utama di kota itu. Merupakan suatu tebing sempit yang memanjang ke arah selatan dari Al-Haram asy-Syarif (tempat berdirinya Bait Suci dahulu. Sekarang terletak di wilayah "Silwan" yang sebagian besar dihuni oleh orang Palestina di bagian Yerusalem Timur. Pada Zaman Perunggu merupakan sebuah kota bertembok, dan menurut tradisi, adalah tempat di mana raja Daud mendirikan istananya dan membangun ibukotanya. Kota Daud memiliki keuntungan pertahanan dari posisinya yang dikelilingi oleh lembah Tyropoeon di sebelah barat, sekarang sudah banyak ditimbun; lembah Hinom di sebelah selatan, dan lembah Kidron di sebelah timur.
Dalam zaman purba sebelum ditempati orang Israel, daerah ini terpisah dari Al-Haram asy-Syarif oleh suatu tempat yang disebut Ofel, yaitu suatu wilayah tak berpenghuni yang kemudian menjadi pusah pemerintahan orang Israel. Selama pemerintahan raja Hizkia, tembok-tembok kota ini dikembangkan ke arah barat, menutupi daerah yang sebelumnya tidak terlindung tembok, yang sekarang dikenal sebagai daerah Kota Lama Yerusalem, sebelah barat Al-Haram asy-Syarif.

Nahal Kidron, yang memisahkan Ofel dari Kota Tua sekarang, terletak tersembunyi di bawah puing-puing selama berabad-abad. Eksplorasi arkeologi daerah ini dimulai pada abad ke-19. Yang digali termasuk beberapa situs terkenal, antara lain Terowongan Hizkia (sistem pengadaan air), di mana ditemukan Inskripsi Siloam, Warren's shaft (struktur yang lebih tua, diduga merupakan sistem pengadaan air yang lebih kuno), dan Kolam Siloam (sekarang yang ada berasal dari zaman Bizantin, dan yang baru diketemukan berasal dari periode Bait Suci Herodes). Semua sistem pengadaan air ini bersumber dari mata air Gihon yang terletak di lereng sebelah timur Ofel, dan umumnya dianggap sebagai alasan dibangunnya Kota ini di lokasi tersebut.
Lokasi mata air Gihon dan Kolam Siloam telah dimasukkan ke dalam suatu Taman Arkeologi yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat berjalan melalui Terowongan Hizkia, di mana air masih mengalir sejak zaman purba.

Daud

Daud (bahasa Ibrani: דָּוִד; bahasa Inggris Davíd; bahasa Tiberia Dāwíð; bahasa Arab: داوود (transliterasi: Daawuud) atau داود Dā'ūd; bahasa Tigrinya: Dāwīt) merupakan seorang nabi dalam agama Islam, Kristen dan Yahudi dan merupakan raja kedua dan yang paling populer dalam kerajaan Israel. Dalam agama Islam Nabi Daud menerima kitab Zabur, sementara dalam agama Kristen Daud menuliskan banyak Mazmur yang dikumpulkan ke dalam kitab Mazmur. Daud adalah moyang dari Yesus atau Isa al-masih menurut Injil Matius, Injil Lukas dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Masa hidupnya secara umum diperkirakan bertarikh ~1040–970 SM, pemerintahannya atas Kerajaan Yehuda di Hebron ~ 1010–1002 SM, dan pemerintahannya atas seluruh Israel ~ 1002–970 SM.

Daud menurut pandangan Yahudi dan Kristen

Masa muda dan pengurapan sebagai raja

Menurut catatan Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, Daud dilahirkan di Betlehem, Efrata, di wilayah Yehuda. Ayahnya bernama Isai. Ia adalah putra bungsu dari 8 anak laki-laki Isai. Ia mempunyai 2 saudara perempuan. Masa remajanya dilewatinya sebagai seorang gembala kambing domba.

Pada waktu ia masih muda, datanglah Samuel ke Betlehem. Ketika itu Samuel sedang berdukacita karena Saul yang diurapinya menjadi raja pertama Kerajaan Israel melakukan sejumlah pelanggaran terhadap perintah Allah, sehingga telah ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel. Karena itu Samuel disuruh Allah untuk mengisi "tabung tanduk"-nya dengan minyak, untuk mengurapi raja yang baru, dan pergi kepada Isai, orang Betlehem, sebab di antara anak-anaknya Allah telah memilih seorang raja bagi-Nya. Samuel kuatir kalau Saul mengetahui rencana kepergiaannya dan akan menghalang-halangi bahkan membunuhnya, tetapi Allah telah menyediakan suatu alasan yang kuat supaya Samuel dengan aman pergi melaksanakan pengurapan itu, yaitu dengan membawa seekor lembu muda dan mengatakan: "Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN". Ini bukanlah suatu alasan yang dicari-cari, melainkan suatu upacara pengurapan penting, apalagi pengurapan raja, harus disertai persembahan korban kepada Allah.
Setibanya di Betlehem, Samuel menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. Lalu Isai memanggil putra-putranya satu per satu dan menyuruhnya lewat di depan Samuel. Mulanya Samuel kagum melihat putra sulung Isai, Eliab, dan mengira dialah bakal raja yang harus diurapinya, tetapi Allah berfirman:
"Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Tujuh putra Isai sudah lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawab Isai: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari." Kemudian disuruhnyalah orang menjemput putra bungsu itu. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Hanya dengan disaksikan oleh keluarga terdekat Daud, Samuel mengurapi Daud menjadi raja Israel, sementara Saul masih menjabat sebagai raja. Lalu Samuel pulang ke Rama.
Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. 1 Samuel 16:13

Bermain kecapi untuk raja Saul

Bersamaan dengan berkuasanya Roh Tuhan atas Daud, maka raja Saul yang telah ditolak oleh Tuhan ditinggalkan oleh Roh Tuhan, sehingga mulai diganggu oleh roh-roh jahat. Untuk mengurangi gangguan itu, para pegawai Saul mengusulkan agar raja memanggil seorang pemain kecapi, sekaligus mengusulkan Daud bin Isai sebagai pemain kecapi tersebut. Setiap kali apabila roh yang daripada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur daripadanya. Sejak itu Daud selalu pulang pergi daripada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem.

Membunuh Goliat

Suatu kali, ketika sedang menggembalakan dombanya, Daud diperintahkan ayahnya mengantarkan bekal makanan kepada ketiga abangnya, anak Isai yang besar-besar yaitu Eliab, anak sulung, Abinadab, anak yang kedua dan Syama, anak yang ketiga, yang sedang bersiap berperang bersama Saul melawan tentara-tentara Filistin. Orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim. Sedangkan Saul dan orang-orang Israel berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin; mereka mengatur barisan perangnya berhadapan dengan orang Filistin. Jadi medan pertempuran itu tidak jauh dari rumah Daud. Isai berkata kepada Daud, anaknya: "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka. Saul dan mereka itu dan semua orang Israel ada di Lembah Tarbantin tengah berperang melawan orang Filistin." Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya.

"Daud dan Goliat"

Daud sampai ke perkemahan tentara Israel, ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang. Orang Israel dan orang Filistin itu mengatur barisannya, barisan berhadapan dengan barisan. Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat. Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju seorang pendekar bernama Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Tingginya 6 hasta sejengkal (3,5 meter). Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini 5.000 syikal tembaga. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu 600 syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya. Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami. Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang."

Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan 40 hari lamanya. Ia selalu mengucapkan kata-kata yang sama, dan kali ini Daud mendengarnya. Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka daripadanya dengan sangat ketakutan. Berkatalah orang-orang Israel itu: "Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar, raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel." Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan daripada Allah yang hidup?" Rakyat itupun menjawabnya dengan perkataan tadi: "Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia."

Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!" Lalu berpalinglah ia daripadanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul.

Raja Saul menyuruh memanggil Daud menghadap kepadanya. Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." Tetapi Daud berkata kepada Saul:
"Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu daripada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan daripada Allah yang hidup. TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."

Maka Saul berkata kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya.

Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud dan berkata pula kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang." Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: :"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka. Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron. Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka. Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata Goliat ditaruhnya dalam kemahnya.

Menjadi pemimpin tentara Saul

Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu, berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: "Anak siapakah orang muda itu, Abner?" (menurut para rabbi Yahudi maksudnya: dari keluarga bangsawan mana Daud itu berasal) Jawab Abner: "Demi tuanku hidup, ya raja, sesungguhnya aku tidak tahu." Kemudian raja berkata: "Tanyakanlah, anak siapakah orang muda itu." Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya. Kata Saul kepadanya: "Anak siapakah engkau, ya orang muda?" Jawab Daud: "Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu."

Pada hari itu Saul menahan Daud untuk menjadi prajuritnya dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, maka Yonatan putra Saul bersahabat karib dengan Daud. Dikatakan "berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri". Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya. Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.

Pada waktu Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Keesokan harinya roh jahat itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Saul memegang tombak dan melemparkan tombak itu, karena pikirnya: "Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang daripada Saul Ia telah undur. Sebab itu Saul menjauhkan Daud dari dekatnya dan mengangkat dia menjadi kepala pasukan seribu, sehingga ia berada di depan dalam segala gerakan tentara. Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia. Ketika dilihat Saul, bahwa Daud sangat berhasil, makin takutlah ia kepadanya; tetapi seluruh orang Israel dan orang Yehuda mengasihi Daud, karena ia memimpin segala gerakan mereka.

Menjadi menantu raja Saul

Berkatalah Saul kepada Daud: "Ini dia anakku perempuan yang tertua, Merab; dia akan kuberikan kepadamu menjadi isterimu, hanya jadilah bagiku seorang yang gagah perkasa dan lakukanlah perang TUHAN." Sebab pikir Saul: "Janganlah tanganku memukul dia, tetapi biarlah ia dipukul oleh tangan orang Filistin." Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Siapakah aku dan siapakah sanak saudaraku, kaum ayahku, di antara orang Israel, sehingga aku menjadi menantu raja?" Tetapi ketika tiba waktunya untuk memberikan Merab, anak Saul itu, kepada Daud, maka anak perempuan itu diberikan kepada Adriel, orang Mehola, menjadi isterinya.

Tetapi Mikhal, anak perempuan Saul, jatuh cinta kepada Daud; ketika hal itu diberitahukan kepada Saul, maka iapun menyetujuinya; sebab pikir Saul: "Baiklah Mikhal kuberikan kepadanya; biarlah ia menjadi jerat bagi Daud, dan biarlah tangan orang Filistin memukul dia!" Lalu berkatalah Saul kepada Daud untuk kedua kalinya: "Pada hari ini engkau boleh menjadi menantuku." Lagi Saul memerintahkan kepada para pegawainya: "Katakanlah kepada Daud dengan diam-diam, demikian: Sesungguhnya, raja suka kepadamu dan para pegawainya mengasihi engkau; maka sebab itu, jadilah engkau menantu raja." Lalu para pegawai Saul menyampaikan perkataan itu kepada Daud, tetapi Daud menjawab: "Perkara ringankah pada pemandanganmu menjadi menantu raja? Bukankah aku seorang yang miskin dan rendah?" Para pegawai Saul memberitahukan kepada raja, katanya: "Demikianlah jawab yang diberi Daud." Kemudian berkatalah Saul: "Beginilah kamu katakan kepada Daud: Raja tidak menghendaki mas kawin selain dari 100 kulit khatan orang Filistin sebagai pembalasan kepada musuh raja." Saul bermaksud untuk menjatuhkan Daud dengan perantaraan orang Filistin. Ketika para pegawainya memberitahukan perkataan itu kepada Daud, maka setujulah Daud menjadi menantu raja. Waktunya belum genap, tetapi Daud sudah bersiap, ia pergi dengan orang-orangnya dan menewaskan dari orang Filistin itu 200 orang serta membawa kulit khatan mereka; dan dalam jumlah yang genap diberikan merekalah semuanya itu kepada raja, supaya Daud menjadi menantu raja. Kemudian Saul memberikan Mikhal, anaknya, kepadanya menjadi isterinya. Namun, Mikhal tidak mempunyai anak dari Daud.

Lalu mengertilah Saul dan tahulah ia, bahwa TUHAN menyertai Daud, dan bahwa seluruh orang Israel mengasihi Daud. Maka makin takutlah Saul kepada Daud. Saul tetap menjadi musuh Daud seumur hidupnya. Apabila raja-raja orang Filistin maju berperang, setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat masyhur.

Menjadi raja Israel

Akhirnya Allah tidak lagi berkenan atas Saul dan menyerahkan Saul untuk dibunuh orang-orang Filistin. Daud pun menggantikannya menjadi raja Israel yang kedua. Mula-mula Isyboset, putra Saul yang masih hidup, diangkat oleh pegawai-pegawai Saul menjadi raja setelah kematian Saul. Daud diangkat oleh pengikutnya menjadi raja atas kaum Yehuda (Kerajaan Yehuda) selama tujuh tahun enam bulan dan bertahta di Hebron sebagai ibukotanya.
Setelah Isyboset mati dibunuh pegawai-pegawainya sendiri, bangsa Israel mengangkat Daud menjadi raja mereka, dan Daud memerintah di Yerusalem selama 33 tahun.

Jadi Daud menjadi raja seluruhnya selama 40 tahun.

Dosa Daud

Kitab Suci Ibrani dan Kristen tidak melihat Daud sebagai tokoh yang serba sempurna, karena ternyata ia pun pernah terjatuh ke dalam dosa. Suatu hari Daud sedang berjalan-jalan di atap istananya. Dari atas ia melihat Batsyeba yang cantik jelita. Sayang sekali ternyata Batsyeba adalah istri Uria orang Het, seorang perwira Daud sendiri. Dengan berbagai tipu muslihat Daud akhirnya berhasil menyingkirkan Uria, dan ia pun memperistri Batsyeba. Namun Allah mengetahui kebusukan Daud, dan melalui nabi Natan, Allah menegur Daud. Daud menyesali dosa-dosanya.

Rencana Pembangunan Bait Allah

Daud bermaksud hendak mendirikan "rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN" dan "untuk tumpuan kaki Allah", dalam bentuk "Bait Allah". Ia juga telah membuat persediaan untuk mendirikannya. Tetapi Allah telah berfirman kepadanya: "Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah." Namun TUHAN, Allah Israel, telah memilih Daud dari antara segenap puaknya untuk menjadi raja atas Israel selama-lamanya; sebab Ia telah memilih Yehuda menjadi pemimpin, dan puak Daud dari antara kaum Yehuda, dan dari antara anak-anak ayahnya Ia berkenan kepada Daud untuk mengangkatnya sebagai raja atas seluruh Israel. Dan dari antara anak-anak Daud sekalian sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadanya Ia telah memilih Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel. Allah telah berfirman kepada Daud: "Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku."

Kematian

Daud berumur 30 tahun, pada waktu ia menjadi raja; 40 tahun lamanya ia memerintah; jadi Daud meninggal pada usia 70 tahun. Ia "mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya" (wafat) pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, lalu ia dikuburkan di kota Daud, maka kemudian naik rajalah Salomo, anaknya, menggantikan dia.

Keluarga Daud

Silsilah Daud mulai dari Adam
Adam  · Set  · Enos · Kenan · Mahalaleel · Yared · Henokh · Metusalah · Lamekh · Nuh · Sem  · Arpakhsad · Selah · Eber · Peleg · Rehu · Serug · Nahor · Terah · Abraham  · Ishak  · Yakub  · Yehuda  · Peres · Hezron · Ram · Aminadab · Nahason · Salmon  · Boas  · Obed · Isai · Daud

Saudara-saudara Daud
Isai, ayah Daud, mempunyai 8 putra dan 2 putri. Dalam Alkitab, nama 1 putra tidak disebutkan.
Kedelapan putranya adalah:
* Eliab, anak sulungnya
* Abinadab
* Simea atau Syama
* Netaneel
* Radai
* Ozem
tidak disebutkan

Daud, anak yang bungsu
Kedua putrinya adalah:
Zeruya. Zeruya melahirkan tiga orang putra yang menjadi perwira-perwira utama Daud:
* Abisai
* Yoab
* Asael
Abigail. Abigail melahirkan seorang putra, Amasa. Ayah Amasa ialah Yeter (atau Yitra), orang Ismael.
Daftar anak-anak
(Sumber: Kitab 1 Tawarikh 3:1-9; 2 Samuel 3:2-5; 2 Samuel 5:14-16; 1 Tawarikh 14:4-7)

Lahir di Hebron
Daud memerintah 7 tahun 6 bulan lamanya di kota Hebron. Selama itu ia dikaruniai 6 orang putra:
* Amnon (anak sulung), dari Ahinoam, perempuan Yizreel
* Kileab atau Daniel, dari Abigail, perempuan Karmel, bekas istri Nabal
* Absalom, anak Maakha, yakni anak perempuan Talmai, raja Gesur
* Adonia, anak Hagit
* Sefaca, dari Abital
* Yitream, dari Egla, isterinya itu.

Lahir di Yerusalem
Daud memerintah 33 tahun lamanya di Yerusalem. Selama itu Ia dikaruniai sejumlah putra dan putri
Empat orang putra dari Batsyua binti Amiel
* Syamua atau Simea
* Sobab
* Natan (dari keturunannya, lahirlah Maria binti Eli, yang melahirkan Yesus Kristus)
* Salomo (dari keturunannya, lahirlah raja-raja Yehuda dan Yusuf, suami Maria yang melahirkan Yesus Kristus)
Sembilan orang putra dari istri-istri lain yang tidak disebutkan namanya
* Yibhar
* Elisua atau Elisama
* Elifelet atau Elpelet
* Nogah
* Nefeg
* Yafia
* Elisama
* Elyada atau Beelyada
* Elifelet

Semuanya itu anak-anak Daud, belum terhitung anak-anak dari gundik-gundik.
Tamar ialah saudara perempuan mereka

Anak-anak yang mempunyai sejarah khusus

Dari Batsyeba, Daud mendapatkan seorang anak yang dinamainya Salomo yang kelak menggantikannya sebagai raja Israel yang ketiga. Daud mempunyai sejumlah anak lainnya. Antara lain adalah Absalom, seorang pemuda yang sangat tampan, yang sangat disayangi oleh Daud. Suatu kali Amnon, anak sulung Daud, memperkosa Tamar, adik perempuan Absalom. Absalom sangat marah. Dua tahun kemudian ia membalas dendam dengan menyuruh anak buahnya membunuh Amnon. Daud marah karena Amnon dibunuh, namun kemudian ia mengampuni Absalom.
Belakangan Absalom mengadakan pemberontakan terhadap Daud. Dalam pemberontakan ini Absalom mati dibunuh oleh Yoab, panglima Daud.
Di hari tuanya, Adonia, putranya yang keempat mengangkat diri menjadi raja tanpa sepengetahuan Daud. Saat diberitahu, Daud segera memerintahkan untuk mengurapi Salomo sebagai raja. Setelah Daud wafat, Salomo menghukum mati Adonia.

Mazmur Daud

Menurut tradisi Kitab Mazmur (Zabur dalam Islam) disebut sebagai karangan Daud. Sebenarnya kitab ini merupakan kumpulan 150 syair nyanyian (mazmur) yang berisi berjenis-jenis puisi berupa doa, nyanyian pujian, ratapan, doa penyesalan, dll. Banyak gubahan Daud termasuk ke dalamnya, bersama dengan mazmur gubahan Musa, Asaf bin Berekhya dan beberapa penggubah lainnya. Salah satu mazmur gubahan Daud yang terkenal adalah Mazmur 23 "Tuhan adalah gembalaku".

Anak Daud

Anak Daud adalah salah satu gelar Yesus Kristus, karena Ia berasal dari keturunan Raja Daud.

Daud dalam Islam

Daud ( داود Dāwūd) ialah nabi sekaligus raja Bani Israil. Semenjak masih muda telah menyertai tentara Bani Israil di bawah pimpinan Thalut melawan pasukan bangsa Palestin yang dipimpin Jalut . Daudlah yang berhasil membunuh Jalut, sehingga dipuji sebagai pahlawan perang. Setelah Raja Thalut meninggal, Daud menggantikannya sebagai raja. Allah mengangkat Daud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan kitab Zabur. Ia memiliki sejumlah mukjizat, kecerdasan akal, mengerti bahasa burung, dan melembutkan besi hanya dengan menggunakan tangan kosong dan Daud juga memiliki suara yang paling merdu dari semua suara umat manusia, sama seperti Yusuf yang diberikan wajah yang paling tampan.
Daud yang mulai pembangunan Bait Suci yaitu Baitul Muqaddis yang telah diselesaikan oleh anaknya Sulaiman, yang kemudian sekarang menjadi tempat Masjid Al-Aqsa. Daud meninggal dalam usia 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak)

Fakta sejarah

Prasasti Tel Dan yang memuat nama "Rumah Daud".

Sejumlah penemuan arkeologi, yang terutama adalah Prasasti Tel Dan dan Mesha Stele, mempunyai hubungan langsung dengan bukti kehidupan Daud dalam sejarah umum. Prasasti Tel Dan adalah batu bertulis yang memuat peringatan kemenangan orang Aram, ditemukan pada tahun 1993 di situs Tel Dan dan bertarikh ~850–835 SM. Prasasti ini memuat frasa ביתדוד (bytdwd), dibaca "Bait Daud" atau "Rumah Daud" dan ini "sekarang diterima luas".  Mesha Stele berasal dari Moab, bertarikh kurang lebih pada masa yang sama, juga diyakini memuat nama "Daud" pada baris ke-12, di mana penafsirannya masih diperdebatkan, dan pada baris ke-31, di mana ada satu huruf yang rusak.
Ada pula bukti-bukti dari penelitian di permukaan tanah yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Yehuda pada zaman Daud memang merupakan suatu kerajaan suku yang kecil. Peninggalan Zaman Perunggu dan Zaman Besi pada Kota Daud, yaitu pusat kota asli dari Yerusalem, diidentifikasi berasal dari pemerintahan Daud dan Salomo, telah diteliti besar-besaran pada tahun 1970-an dan 1980-an di bawah pimpinan Yigal Shiloh dari Hebrew University, tetapi gagal menemukan bukti kediaman selama abad ke-10 SM. Pada tahun 2005 Eilat Mazar melaporkan penemuan Struktur Batu Besar yang diklaimnya berasal dari istana Daud, tetapi situs itu dianggap terkontaminasi dan tidak dapat ditentukan tarikhnya secara tepat.

Bintang Daud

Perisai Daud atau dalam bahasa Ibrani: Magen David, מָגֵן דָּוִד dengan nikkud atau tanpa nikkud דוד, diucapkan Magen David [ma.'gen da.'vid] dalam Ibrani modern dan Mogein Dovid ['mɔ.geɪn 'dɔ.vid] atau Mogen Dovid ['mɔ.gen 'dɔ.vid] dalam bahasa Ibrani Ashkenazi dan Yiddish adalah sebuah lambang yang umumnya dikenali dari Komunitas Yahudi dan Yudaisme. Nama ini diambil dari nama raja Israel kuno, dan mulai digunakan pada Abad Pertengahan, bersama-sama dengan lambang yang lebih tua lagi yaitu menorah.
Dengan terbentuknya negara Israel pada 1948 Bintang Daud pada Bendera Israel juga telah menjadi lambang Israel.

Sebagai lambang Yahudi

Menurut sejumlah sumber Yudais, Bintang/Perisai Daud melambangkan angka tujuh: yaitu, keenam ujungnya ditambah dengan pusatnya. Teks Yahudi tertua yang masih ada yang menyebutkannya adalah Eshkol Ha-Kofer oleh seorang Karait bernama Judah Hadassi, dari abad ke-12M: "Tujuh nama malaikat mendahuli mezuzah: Mikail, Gabriel, dll. Kiranya Tetragrammaton melindungi engkau! Demikian pula dengan tanda ini, yang disebut 'Perisai Daud', diletakkan di samping nama masing-masing malaikat."

Angka tujuh mempunyai makna keagamaan dalam Yudaisme, mis. enam hari Penciptaan ditambah dengan istirahat pada hari ketujuh, enam hari kerja ditambah Sabat, Ketujuh Roh Allah, serta Menorah di Bait Suci kuno, yang ketujuh lampu minyaknya diletakkan di atas ketujuh cabangnya. Dan seterusnya. Mungkin Bintang Daud akhirnya digunakan sebagai lambang standar di sinagoga karena susunannya memperlihatkan 3+3+1, sesuai dengan Menorah Bait Suci, yang merupakan lambang yang lebih tradisional untuk Yudaisme pada zaman dulu.
Asal-usul yang pasti dari hubungan lambang ini dengan identitas Yahudi tidak diketahui. Beberapa teori dikemukakan. Menurut sebuah hipotesis, Bintang Daud membentuk dua dari tiga huruf dalam nama Daud. Dalam ejaan Ibrani (דוד), kata ini hanya mengandung tiga huruf, dua di antaranya adalah "D" (atau "Dalet", dalam bahasa Ibrani). Di zaman dulu, huruf ini ditulis dalam bentuk yang sangat mirip dengan segitiga, serupa dengan huruf Yunani Delta (Δ), yang memiliki kemiripan bunyi dan posisi (keempat) dalam abjadnya masing-masing. Lambang ini mungkin mulanya merupakan sebuah perisai keluarga yang dibentuk dengan membalikkan dan menyandingkan dua huruf yang paling penting dalam nama ini.

Magen David Adom

Magen David Adom (MDA) (Bintang Daud Merah atau, terjemahan harafiahnya, Perisai Merah Daud) adalah satu-satunya dinas medis darurat, kecelakaan dan ambulans Israel. Ia adalah anggota resmi dari Komite Palang Merah Internasional.

Menara Daud

Menara Daud (bahasa Inggris: Tower of David; bahasa Ibrani: מגדל דוד, Migdal David, برج داود, Burj Daud), juga dikenal sebagai Benteng Yerusalem (bahasa Inggris: Jerusalem Citadel), adalah sebuah benteng kuno yang terletak di dekat jalan masuk ke Gerbang Jaffa di tepi barat dari Kota Lama Yerusalem.

Benteng yang berdiri hari ini bertarikh pembuatan pada zaman Mamluk dan Utsmani. Dibangun di lokasi yang sebelumnya merupakan fortifikasi kuno dari zaman Hashmonayim, Herodian, Bizantium dan Islam awal, setelah dihancurkan berulang kali selama dekade terakhir pada Perang Salib di Tanah Suci oleh penguasa Ayyubiyah dan Mamluk. Benteng ini memuat penemuan arkeologi penting bertarikh lebih dari 2.000 tahun lalu termasuk tambang yang bertarikh zaman Bait Pertama, merupakan tempat populer untuk menyelenggarakan acara amal, pameran kerajinan tangan, konser, dan pertunjukan suara-dan-cahaya.

Dan Bahat menulis bahwa tiga menara asli Hasmonean diubah oleh Herodes, dan "menara di timur laut digantikan oleh menara yang lebih besar dan kokoh, dinamai "Menara Daud" ("Tower of David") di awal abad ke-5 Masehi" Nama "Menara Daud" diberikan oleh orang Kristen Bizantium yang meyakini tempat itu sebagai situs istana Raja Daud. Mereka meminjam nama "Menara Daud" dari Kitab Kidung Agung, yang ditulis oleh raja Salomo, anak raja Daud, yang memuat kata-kata: "Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya." (Kidung Agung 4:4).

Sebagaimana dibuktikan oleh penemuan arkeologi Tembok Lebar, Raja Hizkia adalah orang pertama yang secara khusus membentengi daerah ini. Penguatan kota ini menunjukkan bahwa pada akhir abad kedelapan SM kota itu telah diperluas untuk mencakup bukit di sebelah barat dari kompleks Baitul Maqdis. Motivasi pembangunan tembok fortifikasi ini adalah persiapan menghadapi invasi Yudea oleh Sanherib. Tembok ini mungkin dirujuk dalam Nehemia 3:8 dan Yesaya 22:9-10.
Selama abad ke-2 SM, Kota Tua Yerusalem diperluas lebih jauh ke bagian yang disebut Bukit Barat (Western Hill). Perbukitan setinggi 773 meter ini sekarang meliputi Kuartir Armenia dan Yahudi serta Gunung Sion, dibatasi oleh lembah-lembah curam di semua sisi kecuali bagian utara. Pemukiman pertama di daerah ini didirikan sekitar tahun 150 SM pada zaman raja-raja Hasmonea dengan pembangunan apa yang dinamakan oleh Flavius Yosefus sebagai Tembok Pertama.

Herodes Agung, yang merampas kekuasaan dari dinasti Hasmonea, menambahkan tiga menara besar ke benteng di 37-34 SM. Ia membangunnya pada bagian rentan di sudut barat laut dari Bukit Barat, di mana benteng ini sekarang berada. Tujuannya adalah tidak hanya untuk mempertahankan kota, tetapi untuk menjaga istananya sendiri yang terletak di dekatnya di Gunung Sion. Herodes menamakan menara tertinggi, 145 meter tingginya, Phasael untuk mengenai saudara laki-lakinya yang bunuh diri saat dalam pengasingan. Menara lain dinamai Mariamne, untuk mengenang istri keduanya yang dihukum mati olehnya sendiri dan dimakamkan di sebuah gua di sebelah barat menara. Menara ketiga dinamakan Hippicus yaitu nama salah satu temannya. Dari tiga menara, hanya dasar dari salah satu dari antaranya yang bertahan sampai hari ini - entah Phasael atau Hippicus, seperti yang dikatakan oleh arkeolog Hillel Geva yang melakukan penggalian pada benteng ini. Dari menara kuno (yang sekarang disebut Menara Dauh), enam belas baris dari batu ashlars asli masih dapat dilihat muncul di atas permukaan tanah, dan di atasnya ditambahkan batu-batu kecil di periode selanjutnya, yang menambah tingginya secara signifikan. Selama perang Yahudi dengan Roma, Simon bar Giora membuat menara ini tempat tinggalnya.

Setelah penghancuran Yerusalem oleh Romawi pada tahun 70 M, tiga menara itu dilestarikan sebagai kesaksian kekuatan benteng yang berhasil diatasi oleh legiun Romawi, dan situs dipakai sebagai barak pasukan Romawi.

Ketika kekaisaran mengadopsi Kekristenan sebagai agama favoritnya pada abad ke-4 Masehi, suatu komunitas para biarawan berdiri sendiri dalam benteng ini. Dalam zaman Bizantium inilah menara Herodian yang tersisa, dan termasuk pula benteng secara keseluruhan, memperoleh nama alternatif - Menara Daud - karena orang Bizantium keliru mengidentifikasi bukit itu sebagai Gunung Sion, sehingga menduga benteng itu adalah istana Daud yang disebutkan dalam 2 Samuel 5:11, 11:1-27, 16:22.

Setelah penaklukan Yerusalem oleh orang Arab pada tahun 638, penguasa Muslim yang baru memperbaiki benteng itu. Struktur yang kuat itu mampu bertahan dari serangan tentara Salib pada tahun 1099, dan baru menyerah ketika orang yang bertahan di sana dijamin ke luar dari kota dengan selamat.

Citadel (Menara Daud) dengan temuan arkeologis di halaman dan minaret zaman Ottoman, seperti yang terlihat saat ini

Selama periode perang Salib, ribuan peziarah melakukan ziarah ke Yerusalem dengan melalui pelabuhan laut di Jaffa. Untuk melindungi umat dari ancaman perampok jalan raya, tentara Salib membangun sebuah menara yang dikelilingi oleh parit pada benteng itu, dan menempatkan para pengintai untuk menjaga jalan ke Jaffa. Benteng ini juga melindungi istana baru untuk raja-raja Yerusalem dari tentara Salib, yang terletak langsung di sebelah selatan benteng tersebut.
Pada tahun 1187, Sultan Saladin merebut kota termasuk benteng ini. Pada tahun 1239 emir Ayyubiyah Karak, An-Nasir Dawud, menyerang garnisun tentara Salib dan menghancurkan benteng ini. Pada tahun 1244 orang Khwarazmia mengalahkan dan mengusir tentara Salib dari Yerusalem untuk terakhir kalinya, menghancurkan seluruh kota dalam pertempuran itu. Orang Mamluk menghancurkan benteng itu pada tahun 1260.
Pada tahun 1310 benteng ini dibangun kembali oleh sultan Mamluk Al-Nasir Muhammad bin Qalawun, dengan banyak bentuk yang terlestarikan sampai sekarang.

Benteng ini dipe rluas antara 1537 dan 1541 oleh sultan Utsmaniyah, Suleiman, di mana para arsiteknya merancang pintu masuk yang besar, dengan landasan meriam tepat di belakangnya.[diragukan – diskusikan] Selama 400 tahun, benteng ini menjadi garnisun pasukan Turki. Kesultanan Utsmaniyah juga mendirikan sebuah masjid di dekat sudut barat daya benteng, dan membangun sebuah minaret dalam tahun-tahun 1635-1655. Pada abad ke-19 minaret yang mencolok tersebut, yang masih berdiri hingga saat ini, mengambil alih nama "Menara Daud", sehingga nama itu sekarang dapat merujuk pada seluruh benteng atau pada minaret itu sendiri.

Selama Perang Dunia I, pasukan Inggris di bawah Jenderal Edmund Allenby merebut Yerusalem. Jenderal Allenby secara resmi mengumumkan peristiwa tersebut dengan berdiri di atas platform di luar gerbang timur benteng tersebut.
Selama periode Mandat Inggris (1917-1948), Komisaris Tinggi membentuk Masyarakat Pro-Yerusalem (Pro-Jerusalem Society) untuk melindungi kawasan cagar budaya kota. Organisasi ini membersihkan dan merenovasi benteng tersebut dan membukanya kembali untuk umum sebagai tempat untuk konser, acara amal dan tempat pameran para seniman lokal. Pada tahun 1930-an, museum rakyat Palestina dibuka di benteng, menampilkan kerajinan tradisional dan pakaian daerah.

Setelah Perang Arab–Israel 1948, Legiun Arab merebut Yerusalem dan mengembalikan peran sejarah benteng itu kembali sebagai pos militer, karena memberikan pandangan yang dominan di garis gencatan senjata Yahudi ke Yerusalem. Dengan kemenangan Israel 1967 setelah Perang Enam Hari, peran budaya benteng itu dihidupkan kembali.

Museum Menara Daud

Museum Menara Daud mengenai Sejarah Yerusalem ("Tower of David Museum of teh History of Jerusalem") dibuka pada tahun 1989 oleh Yerusalem Foundation. Terletak di sebuah rangkaian kamar-kamar asli dalam benteng, museum ini meliputi suatu halaman yang berisi reruntuhan arkeologi bertarikh sejak 2.700 tahun lalu.

Isi museum ini menggambarkan 4.000 tahun sejarah Yerusalem, dari awal sebagai kota orang Kanaan sampai zaman modern. Menggunakan peta, rekaman video, hologram, gambar dan model, masing-masing ruangan menggambarkan Yerusalem di bawah pemerintahan berbagai penguasa. Pengunjung juga dapat naik ke atas benteng, dengan pemandangan 360 derajat ke arah Kota Tua dan Kota Baru Yerusalem.
Pada tahun 2002, Yerusalem Foundation melaporkan bahwa lebih dari 3,5 juta pengunjung telah mendatangi museum ini.