Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 9, 2014

12 Suku Israel Bersatu Memimpin Dunia. Nubuat Yerusalem Baru,


Dalam Alkitab Ibrani, kitab Yehezkiel, disebutkan tentang nubuat Yerusalem Baru atau sebuah Kota dimana Yehuwa-Syammah akan muncul disana. Sebuah visi kenabian Yehezkiel dalam kota yang berpusat pada Bait Suci, Kuil Ketiga, yang akan didirikan di Yerusalem. Semua ini akan menjadi ibukota Kerajaan Mesianik, tempat pertemuan 12 suku Israel dan negara-negara dunia selama era Mesianik. Nubuat ini ditulis Yehezkiel, dia menerima visi pada Yom Kippur tahun 3372 (menurut kalender Yahudi).



Istilah Yerusalem Baru disebutkan dua kali dalam Perjanjian Baru dan Kitab Wahyu. Dua bab terakhir Kitab Wahyu berkaitan dengan John Patmos tentang visi Yerusalem Baru. Menurut John, Yerusalem Baru merupakan emas murni bagaikan kaca bening dan cemerlang seperti batu yang sangat mahal, bagai batu jasper sejernih kristal. Jalanan kota terbuat dari emas murni bagaikan kaca bening. Dasar kota ini ditata alun-alun dan dikelilingi dinding yang terbuat dari jasper.

Yohanes menulis bahwa dinding itu lebarnya 144 hasta, sekitar 65 atau 72 meter. Angka 12 sangat penting bagi orang Yahudi dan Kristen awal, mewakili 12 suku Israel dan 12 rasul Kristus, dimana 12 merupakan akar kuadrat dari 144. Empat sisi kota mewakili empat arah mata angin yaitu Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Tidak ada bangunan kuil di Yerusalem Baru, Allah disembah di mana-mana. Pohon kehidupan tumbuh ditengah jalan dan kedua sisi, atau di tengah jalan dan di kedua sisi sungai. Pohon itu menghasilakn dua belas buah yang berbuah setiap bulan, dimana daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Naskah Yerusalem Baru, 12 Suku Israel Bersatu


Ada dua belas pintu gerbang disepanjang dinding, masing-masing tiga di sebelah timur, utara, selatan, dan barat. Malaikat disetiap gerbang, gerbang ini terbuat dari satu butir mutiara dan memberi mereka nama sesuai 12 suku Israel. Gerbang Yerusalem Baru berkaitan dengan gerbang yang disebutkan dalam Kitab Henokh, Bab 33-35, disebutkan bahwa gerbang surgawi membuka ke surga. Tiga diantaranya jelas dipisahkan.

Yerusalem Baru, 12 suku israel

Penafsiran berikut ini diambil dari buku 'Dead Sea Scrolls Uncovered - First Complete Translation and Interpretation' karya Robert Eisenman and Michael Wise, terbit tahun 1992. Buku ini sempat dilarang peredarannya oleh Vatikan karena alasan tertentu yang dianggap (mungkin) meresahkan, termasuk dalam hal penerjemahan sastra naskah Laut Mati. Beberapa penggalan kata tidak dapat ditafsirkan karena naskah laut mati rusak ataupun hilang.

enam belas dan mereka semuanya, dari gedung ini dan dia mengukur dari sudut timur laut ke arah selatan, ke gerbang pertama, berjarak tiga puluh lima res. Nama gerbang ini disebut Gerbang Simeon. Dari gerbang ini sampai gerbang tengah, dia mengukur tiga puluh lima merah. Nama gerbang ini, dimana mereka menunjuknya sebagai Gerbang Lewi. Dari gerbang ini dia mengukur arah selatan sepanjang tiga puluh lima res. Nama gerbang mereka sebut Gerbang Yehuda. Dari gerbang ini dia mengukur sampai sudut tenggara, kemudian dia mengukur dari sudut ini ke arah barat sepanjang dua puluh lima res. Nama gerbang ini mereka sebut Gerbang Yusuf. Lalu dia mengukur dari pintu gerbang ini hingga ke gerbang tengah, dua puluh lima res. Gerbang ini mereka sebut Gerbang Benyamin. Dari gerbang ini dia mengukur sejauh gerbang ketiga, dua puluh lima res. Mereka menyebut yang satu ini dengan sebutan Gerbang Ruben. Dan dari gerbang ini dia mengukur kearah sudut barat, sejauh dua puluh lima res. Dari sudut ini ia mengukur sejauh

dia mengukur dua puluh lima res. Mereka menyebut gerbang ini Gerbang Dan (Daniel). Dan dia mengukur dari pintu gerbang ini untuk menentukan gerbang tengah, dua puluh lima res. Dan mereka menyebutnya sebagai Gerbang Naftali. Dari gerbang ini dia mengukur pintu gerbang dan mereka memanggil nama gerbang itu sebagai Gerbang Asher. Dan dia mengukur dari pintu gerbang itu ke sudut utara, dua puluh lima res.  Dan ia membawa aku ke kota, dan mengukur panjang dan lebar setiap blok 51 tongkat persegi, 357 hasta disetiap arah. Dan ruang bebas dikelilingi kotak diluar setiap jalan, pengukuran tiga tongkat, 21 hasta. Dia menunjukkan pengukuran semua kotak. Antara setiap dua kotak melewati jalan, pengukuran lebar berkisar enam tongkat, 42 hasta. Adapun jalan-jalan besar yang keluar dari timur ke barat, lebar sepuluh tongkat, 70 hasta untuk keduanya. Yang ketiga berada dibagian utara Kuil, dia mengukur lebarnya 18 tongkat, seratus dua puluh enam hasta. Adapun lebar jalan-jalan yang keluar dari selatan ke utara, dua diantaranya berlapis sembilan dimana masing-masing selebar 4 hasta, 67 hasta. Dan dia mengukur satu pusat yang berada di tengah-tengah kota. Lebarnya 13 tongkat dan satu hasta,. 92 hasta. Dan setiap jalan dan seluruh kota telah diaspal dengan batu putih.

marmer dan jasper. Dan dia menunjukkan padaku dimensi delapan puluh pintu samping. Lebar pintu samping dua tongkat, yaitu empat belas hasta. setiap gerbang memiliki dua pintu yang terbuat dari batu. Lebar pintu itu satu tongkat, yaitu tujuh hasta. Kemudian dia menunjukkan dimensi dua belas. lebar gerbang mereka adalah tiga tongkat, yaitu dua puluh satu hasta. Setiap gerbang tersebut memiliki dua pintu. Lebar pintu satu dan satu setengah tongkat, yakni sepuluh dan satu setengah hasta Di samping setiap gerbang terdiri dari dua menara, satu ke kanan dan satu ke kiri. Lebar dan panjangnya identik, lima tongkat, berdasarkan hasta senilai 35. Tangga yang naik di samping gerbang bagian dalam, disebelah kanan menara, ketinggiannya sama dengan menara. Lebarnya lima hasta, menara dan tangga berukuran lima tongkat dan lima hasta, yaitu empat puluh hasta disetiap arah gerbang. Kemudian dia menunjukkan dimensi gerbang blok dari rumah. Lebarnya dua tongkat, yaitu empat belas hasta. Dan lebar pengukuran dalam hasta.

Kemudian dia mengukur lebar masing-masing ambang batas, dua tongkat, yaitu empat belas hasta dan atap satu hasta. Dan di atas masing-masing ambang dia mengukur pintu yang memilikinya. Dia mengukur struktur interior ambang, panjang empat belas hasta dan lebar dua puluh satu hasta. Dia membawaku ke dalam ambang pintu, dan ada ambang lain dan belum gerbang lain. Dinding interior ke kanan mempunyai dimensi yang sama seperti gerbang eksterior, lebarnya empat hasta, puncaknya tujuh hasta. Memiliki dua pintu, didepan gerbang ini merupakan ambang yang diperluas ke dalam. Lebarnya satu tongkat tujuh hasta dan panjangnya diperpanjang dua tongkat kearah dalam atau empat belas hasta. Tingginya dua tongkat, yaitu empat belas hasta. Gerbang saling berhadapan, terbuka ke arah bagian dalam blok rumah, masing-masing memiliki dimensi pintu gerbang luar. Pada bagian kiri di jalan masuk, dia menunjukkan sebuah bangunan perumahan bertangga spiral. Lebarnya sama disetiap arah, dua tongkat, yaitu empat belas hasta. Gerbang saling berhadapan, masing-masing dengan dimensi yang berhubungan dengan rumah. Sebuah pilar terletak di tengah-tengah struktur yang diatasnya terdapat tangga berputar keatas. 

Lebar pilar dan panjang berukuran tunggal, enam hasta persegi. Tangga yang naik sisinya berukuran empat hasta, spiral ke atas hingga ketinggian dua tongkat sampai.. Kemudian dia membawaku dalam blok rumah dan menunjukkan rumah disana, lima belas gerbang, delapan gerbang satu arah disudut, dan gerbang lainnya di tujuh sudut. Panjang rumah tiga tongkat, yaitu dua puluh satu hasta, dan lebarnya dua tongkat, yaitu empat belas hasta. Dari ukuran yang sesuai dengan semua bilik. Tinggi badan mereka dua tongkat, yaitu empat belas hasta, dan masing-masing memiliki sebuah pintu di tengahnya. tepung. Panjang dan tinggi tongkat tunggal, yaitu tujuh hasta.  panjang dan lebar mereka adalah dua belas hasta. Sebuah rumah disampingnya ada sebuah selokan luar tingginya adalah hasta. , dan lebarnya hasta.  dua tongkat, yaitu empat belas hasta satu dan satu setengah, dan interior tingginya atap yang ada diatas mereka dua tongkat, yaitu empat belas hasta hasta pengukuran yang kota fondasinya. Lebarnya dua tongkat, yaitu empat puluh hasta dan tingginya tujuh tongkat, yaitu empat puluh sembilan hasta.

Dan itu sepenuhnya dibangun dari elektrum dan safir serta kalsedon, dengan lapisan emas. Menara (kota) berjumlah seribu empat ratus tiga puluh dua. Lebar dan panjang dimensi tunggal, dan tingginya sepuluh tongkat, yaitu tujuh puluh hasta dua tongkat, yaitu empat belas hasta. panjangnya tengah satu hasta dua sampai pintu gerbang disetiap arah terdapat tiga menara yang diperpanjang setelah dia dan Kerajaanyang Kitim setelah dia, semua dari mereka satu demi satu lain yang besar dan miskin dengan mereka dengan mereka Edom dan Moab dan bani Amon Babel. Di seluruh bumi tidak ada dan mereka akan menindas keturunanmu hingga waktu yang di antara semua bangsa, Kerajaan dan bangsa-bangsa akan melayani mereka.

Ada beberapa catatan yang meyebutkan tentang masa depan, salah satunya Yerusalem Baru disebutkan dalam teks naskah laut mati yang ditemukan di gua Qumran ke-1, 2, 4, 5 dan gua ke-11. Naskah yang menceritakan tentang Yerusalem paling banyak tercatat pada naskah yang berasal dari Gua ke-4 dan 5. Penulis naskah mungkin telah menungkan segala inspirasi dan visi Yehezkiel tentang Bait Allah yang baru atau hari akhir keberadaan Kuil. Visi ini mengurai, meluaskan makna yang tergambar, dan bagaimana bentuk ideal Yerusalem dimasa mendatang.

Penafsiran Nubuat Yerusalem Baru

Visi yang tercurah dalam naskah laut mati mengingatkan bahwa tidak hanya deskripsi Yehezkiel, tetapi juga menjelaskan bagaimana dirinya menafsirkan Bait Allah yang baru. Dalam pandangan visi Yerusalem Baru, kemungkinan besar berasal dari Yehezkiel meskipun dalam fragmen masih ada beberapa naskah yang tidak tercantum namanya, seperti pemimpin kota yang berdiri disitus Sion. Sementara itu juga disebutkan keberadaan orang sekelilingnya, atau rekan, mungkin dia sosok malaikat atau bahkan mungkin Jibril atau Mikail. Visi ini menggambarkan berbagai struktur dilengkapi tongkat sepanjang tujuh hasta atau sekitar 10,5 meter.

Pemahaman naskah laut mati memang tidak terlalu tepat dan sulit dipahami karena beberapa masalah. Diantaranya penggunaan kosakata langka atau tidak diketahui artinya, beberapa kalimat naskah memudar atau hilang, dan kesulitan dalam menggunakan kata-kata untuk menyampaikan ide yang sesuai dengan maksud naskah. 

Dalam naskah menceritakan kuil berada dalam kota berukuran besar berbentuk persegi panjang sekitar 13 x 18 km. Sekeliling kota dipenuhi dinding dimana manusia akan melewati dua belas gerbang, masing-masing mewakili 12 suku Israel. Menurut naskah, penekanan makna umumnya merujuk pada teks-teks lain seperti Perjanjian Lewi atau Perjanjian Kehat, mungkin menjelaskan tentang Makabe atau setidaknya etos pro-Makabe. Dimana Gerbang Levi berdiri pada posisi terhormat ditengah dinding timur, secara langsung sejalan dengan altar pengorbanan dan pintu masuk ke kuil.

Dalam naskah laut mati yang ditemukan di Gua ke-4, disebutkan setidaknya kota itu hampir memiliki 1500 menara. Setiap menara lebih dari dari 100 kaki yang digunakan untuk menjaga kota. Sementara fragmen terakhir menjelaskan motif yang lebih apokaliptik dan eskatologis, khususnya menyebutkan keberadaan orang-orang Kitim (Khitim, Kittim). Penegasan ini juga tertulis dalam Kitab Daniel (11:30) disebutkan 'Khitim merujuk kepada Roma', tetapi dalam Makabe (1:1) merujuk pada pasukan Alexander Agung.

Kitim merupakan konsep utama dalam literatur yang ditemukan di Qumran, dan referensi yang merujuk pada orang-orang Kitim tersebar luas di Corpus, terutama dalam naskah Perang, contohnya penyebutan Nahum Pesher, Habakuk Pesher , Pesher Yesaya, dan Pemimpin Mesianik. Referensi yang terdapat dalam naskah memperkuat kesan homogenitas Corpus, bahwa isi naskah Perang yang menyebut Nahum Pesher dan Habakuk Pesher, maka referensinya merujuk pada Edom. Moab dan sejenisnya merujuk pada kerajaan kecil, seperti yang tertulis dalam Dokumen Damaskus yang disebut Raja Rakyat seperti Herodian dan lainnya.

Di akhir kerajaan Yerusalem Baru, Aram setara dengan kata 'isyarat masyarakat. Sebuah ungkapan yang digunakan dalam hukum Romawi merujuk kepada kerajaan kecil dibagian timur Kekaisaran. Dokumen Damaskus mengekspresikan Raja Rakyat sebenarnya digunakan pada kosakata Habakuk Pesher, istilah ha-'Amim dan Yeter ha-'Amim merupakan makna yang sama. Ungkapan ini umumnya sejajar dengan penggunaan kata Paulus saat menjelaskan kegiatan misionaris.

Menurut penafsiran naskah laut mati, jelas bahwa Israel menuju kemenangan dan bahkan ada referensi yang menegaskan kerajaan Mesianik tidak akan berlalu, salah satunya ditegaskan dalam Kitab Daniel (2:45) dan Kitab Wahyu, dimana kata yang sama (Babilonia) juga merujuk pada Roma.

Sementara itu, ajaran Baha'i menganggap Yerusalem Baru sebagai pembaharuan agama yang terjadi setiap seribu tahun menuju kemakmuran dunia. Baha'ullah menafsirkan Yerusalem Baru sebagai wahyu-Nya dan lebih khusus terkait dengan Hukum Allah. Abdu'l-Baha, putra Baha'ullah, menjelaskan bahwa Yerusalem Baru turun dari surga, bukan merupakan kota sebenarnya yang diperbaharui, melainkan hukum Allah karena turun dari surga melalui wahyu baru dan memperbaharui yang lama.

Supervolcano Toba, Magma Berlapis Masih Aktif

Lava yang keluar dari letusan Supervolcano Toba dianggap luar biasa daripada letusan gunung yang terakumulasi selama jutaan tahun sebelum dapur magma terbentuk dikerak bumi. Reservoir (dapur magma) terdiri dari magma yang bercampur ke dalam kerak untuk membentuk berbagai lapisan, berorientasi secara horizontal melapisi satu sama lain.

Baru-baru ini, sebuah tim geoscientists dari Novosibirsk, Paris dan Potsdam memngeluarkan hasil penelitian supervolcano toba dalam jurnal Science edisi akhir Oktober 2014. Mereka menyelidiki teka-teki tentang volume magma yang dikeluarkan dari kaldera besar selama terjadinya letusan Supervolcano Toba.

Magma Berlapis 7 Km Dibawah Supervolcano Toba

Menurut para ilmuwan, penelitian ini berbeda dari letusan gunung berapi besar seperti Pinatubo Gunung St Helens. Supervolcano toba merupakan kejadian ekstrem, dimana kaldera di zona subduksi Sumatera berasal dari salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah bumi terjadi sekitar 74000 tahun yang lalu. Volume lava yang terpancar sekitar 2800 kilometer kubik yang berdampak secara global pada iklim dan lingkungan, akibat letusan supervolcano toba, sebuah danau terbentuk sepanjang 80 km.

Ilmuwan Geoscientists yang terlibat dalam penelitian ini tertarik untuk mengetahui bagaimana material erupsi berperan dalam membentuk sebuah gunung berapi super terakumulasi pada kerak bumi. Apakah letusan supervolcano toba hanya terjadi ribuan tahun yang lalu, atau mungkin akan terjadi lagi?

Ilmuwan dari GFZ Jerman berhasil memasang jaringan seismometer didaerah danau Toba untuk menyelidiki teka-teki dapur magma. Data ini diberikan kepada semua ilmuwan yang berpartisipasi melalui arsip GEOFON. Christoph Sens-Schonfelder menjelaskan bahwa metode seismologi terbaru mampu menyelidiki struktur internal reservoir magma dibawah kaldera Toba.

Mereka menemukan bahwa kerak tengah bawah supervolcano Toba berbentuk horizontal berlapis, terletak pada struktur reservoir magma. Sekitar 7 kilometer dibawahnya terdiri beberapa kerak magma, dimana sebagian besar horizontal dengan intrusi magmatik masih mengandung bahan cair ,dengan kata lain supervolcano toba masih aktif.


Para ilmuwan menduga bahwa volume besar magma yang dikeluarkan selama letusan supervolcano toba perlahan-lahan terakumulasi selama jutaan tahun terakhir dalam bentuk intrusi. Semua ini terbukti dan dikonfirmasi dengan hasil pengukuran lapangan, dimana ilmuwan GFZ menggunakan metode seismologi baru untuk membuka tabir teka-teki letusan supervolcano toba. Selama enam bulan mereka merekam suara seismik ambient, getaran alami yang biasanya dianggap sebagai sinyal yang mengganggu.

Melalui pendekatan statistik, para ilmuwan menganalisis data dan menemukan bahwa kecepatan gelombang seismik dibawah supervolcano Toba tergantung pada arah gelombang geser kerak bumi. Diatas kedalam 7 kilometer, deposito letusan supervolcano Toba terakhir telah membentuk zona kecepatan rendah. Dibawah kedalaman 7 kilometer ditemukan anisotropi seismik yang disebabkan gangguan horizontal berlapis, struktur reservoir seperti berlapis-lapis tercermin dalam data seismik.

Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dibelahan bumi lainnya juga terdapat supervoclcano seperti ini. Pada umumnya supervolcano meletus setiap beberapa ratus ribu tahun, kemudian disusul letusan raksasa. Hal ini disebabkan ukuran supervolcano Toba tidak menciptakan pegunungan, tapi menonjolkan permukaannya dengan kawah besar yang terbentuk selama letusan. Gunung api yang dikenal lainnya termasuk daerah supervolcano Yellow Stone Park, gunung berapi Andes, kaldera Danau Taupo Selandia Baru.

Runtuhnya Kerajaan Asyur,

Sejarah kehancuran peradaban terdahulu tidak hanya disebabkan perang sipil, konflik internal dan eksternal pemerintahan, kerusuhan politik, tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor iklim dan pertumbuhan penduduk. Asiria, atau Asyur merupakan kerajaan yang berpusat disekitar hulu sungai Tigris, Mesopotamia, wilayah Irak. Kerajaan Asyur merupakan salah satu contoh peradaban yang mengalami kehancuran karena ledakan penduduk dan kekeringan.

Salah satu analisis yang diungkapkan Adam Schneider dari Universitas California-San Diego, Amerika Serikat, dan Selim Adali dari Research Center for Anatolian Civilizations di Turki, bahwa kerajaan Asyur yang pernah berdiri di Irak Utara telah mengalami perluasan wilayah secara terus menerus, ledakan penduduk tak terkendali. Makalah ini diterbitkan dalam jurnal Springer, Climatic Change, edisi November 2014.

Runtuhnya Kerajaan Asyur

Asiria, atau Asyur merupakan kerajaan yang berpusat disekitar hulu sungai Tigris, Mesopotamia, wilayah Irak. Pada masa Asiria kuno yang berkembang pada abad ke-20 hingga ke-15 SM, orang-orang Asyur menguasai sebagian besar Mesopotamia Hulu dan sebagian wilayah Asia Kecil. Periode Asiria Pertengahan terjadi pada abad ke-15 hingga ke-10 SM, saat ini pengaruh kerajaan memudar dan bangkit kembali melalui berbagai penaklukan.



Kerajaan Asyur pada zaman besi awal sekitar 911 – 612 SM telah meluas kebeberapa wilayah. Perluasan ini dibawah kepemimpinan Ashurbanipal yang memimpin sekitar tahun 668 – 627 SM, selama beberapa dekade kerajaan Asyur menguasai seluruh wilayah Bulan Sabit Subur hingga akhirnya kalah yang disebabkan perluasan kekuasaan Kerajaan Neo-Babilonia dan Median.

Asyur merupakan nama asli sebuah kota kuno kerajaan Asiria yang mulai berdiri sejak tahun 2600 SM. Wilayah ini merupakan salah satu kota awal yang pernah berdiri, termasuk juga kota Akkadia di Mesopotamia. Pada tahun 2334 sampai 2154 SM, Raja Asiria tunduk pada Sargon dari Akkadia, yang menyatukan semua bangsa Semit Akkadia dan masyarakat Sumeria berbahasa Mesopotamia dibawah Kekaisaran Akkadia. Setelah jatuhnya Kekaisaran Akkadia tahun 2154 SM, Dinasti Uruk Sumeria Ketiga memerintah Asyur Selatan tapi tidak berlangsung lama, sehingga kerajaan Asyur merdeka kembali.

Pada abad ke-9 SM, kerajaan Asyur Irak utara mulai memperluas ke sebagian besar wilayah Near East kuno. Kerajaan Asyur mencapai puncak kejayaan pada awal abad ke-7 SM, mereka termasuk kerajaan terbesar di Near East. Penurunan kejayaan kekaisaran Asyur dimulai pada akhir abad ke-7, hal ini membuat sejarawan bingung menanggapi penyebab kemunduran kerajaan. Sebagian sarjanawan menganggap kemunduran itu disebabkan perang saudara, kerusuhan politik, dan penghancuran ibu kota Asyur, Niniwe, yang dilakukan koalisi Babilonia dan pasukan Median pada tahun 612 SM.

Walaupun berbagai hipotesis dicetuskan sejarawan, kehancuran kerajaan Asyur tetap menjadi misteri, mengapa sebuah negara adidaya militer di zamannya jatuh secara tiba-tiba dan begitu cepat. Menurut Schneider dan Adali, faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk dan kekeringan juga memberi kontribusi terhadap runtuhnya kerajaan Asyur. Data analisis paleoklimatik menunjukkan bahwa kondisi sekitar Near East menjadi lebih kering selama paruh kedua abad ke-7 SM.

Selama ini, wilayah Near East juga mengalami pertumbuhan penduduk yang signifikan ketika masyarakat sekitar kerajaan Asyur ditaklukkan secara paksa dan dipindahkan. Tentunya hal ini secara substansial mengurangi kemampuan kerajaan dalam menghadapi kekeringan parah seperti yang yang melanda wilayah Near East pada tahun 657 SM. Kedua sarjanawan juga berpendapat bahwa dalam lima tahun masa kekeringan, stabilitas politik dan ekonomi dari kerajaan Asyur telah terkikis sehingga serangkaian perang sipil yang fatal telah melemahkan kekuatan militer.

Faktor-faktor demografi dan iklim tentunya memainkan peran secara tidak langsung, secara signifikan telah meruntuhkan Kerajaan Asyur. Schneider dan Adali menganalisa kesejajaran antara runtuhnya Kerajaan Asyur dan beberapa konsekuensi ekonomi dan politik dari perubahan iklim didaerah yang sama saat ini. Kekeringan parah diikuti kerusuhan, kekerasan, yang terjadi di Suriah dan Irak selama akhir abad ke-7 SM. Kemiripan ini sangat mencolok dengan kekeringan parah dan konflik politik kontemporer berikutnya di Suriah dan Irak Utara saat ini.

Pada skala yang lebih global mereka menyimpulkan, bahwa masyarakat modern bisa menggaris bawahi apa yang terjadi ketika kebijakan ekonomi dan politik jangka pendek lebih diprioritaskan, daripada orang-orang yang mendukung ketahanan ekonomi jangka panjang dan pengurangan risikonya. Kerajaan Asyur berkembang sampai batas tertentu untuk memfokuskan tujuan ekonomi atau politik jangka pendek. Hal ini meningkatkan risiko kerajaan Asyur mengalami dampak negatif perubahan iklim, mengingat kapasitas teknologi dan tingkat pemahaman ilmiah tentang alam.

Suku Khoisa 150 Ribu Tahun Tertua Di Dunia

Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU Singapore) dan Penn State University AS telah berhasil menemukan salah satu garis keturunan tertua pada manusia modern melalui urutan gen Khoisa. Khoisa adalah nama pemersatu bagi dua kelompok masyarakat Afrika Selatan, populasi ini memiliki karakteristik linguistik fisik dan diduga berbeda dari budaya Bantu.

Menurut Profesor Stephan Christoph Schuster, temuan ini merupakan yang pertama kalinya menyebutkan tentang sejarah populasi manusia dianalisis dan disesuaikan dengan kondisi iklim bumi selama 200,000 tahun terakhir. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications edisi 4 Desember 2014. Proyek ini melibatkan enam peneliti NTU dan Penn State University. Lembaga lain yang berpartisipasi termasuk Ohio State University dan Sao Paulo State University, Brasil. Prof Schuster akan terus berupaya mencari dan menemukan lebih banyak genetik non-campuran yang berada diwilayah lain, seperti di Amerika Selatan dan Asia Selatan (termasuk Indonesia) dimana suku terasing masih ada.

Genom Tertua Suku Khoisa, Afrika Selatan

Khoisa berasal dari dua kata yaitu pencari makan yang disebut San, atau manusia semak belukar, dan Khoi pastoral dikenal sebagai Hottentots. San termasuk penduduk asli Afrika Selatan sebelum migrasi Bantu selatan dari Afrika Tengah dan Timur mencapai wilayah mereka. Beberapa Khoi ditinggalkan pastoralism dan mengadopsi ekonomi pemburu-pengumpul dari San, mungkin karena iklim kering. Demikian pula, orang-orang Bantu Damara yang bermigrasi ke selatan kemudian meninggalkan pertanian dan mengadopsi ekonomi Khoi. Populasi Khoisa tetap berada didaerah kering, terutama di Gurun Kalahari.

Dalam studi sebelumnya, genom suku Khoisa telah dianalisis oleh tim yang sama pada tahun 2010. Studi baru kali ini menghasilkan urutan genom lengkap berkualitas tinggi yang memungkinkan analisis campuran dan sejarah populasi. Genom Afrika Selatan berkualitas tinggi memungkinkan penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah populasi dan cabangnya.



Para ilmuwan mengurutkan genom yang diambil dari lima orang suku pemburu-pengumpul yang hidup di Afrika Selatan, dan membandingkannya dengan 420,000 varian genetik pada 1462 genom yang diperoleh dari 48 kelompok etnis global. Dengan menggunakan analisis perhitungan canggih, tim ilmuwan menemukan bahwa suku Khoisa di Afrika Selatan secara genetik berbeda, tidak hanya dari Eropa dan Asia, tetapi juga dari semua orang Afrika lainnya.

Para ahli genetik juga menemukan keberadaan individu suku Khoisa dimana nenek moyang mereka tidak kawin silang dengan salah satu kelompok etnis lain selama 150,000 tahun terakhir. Khoisa merupakan kelompok mayoritas yang hidup pada periode waktu sekitar 20,000 tahun yang lalu. Analisis ini menggunakan pengurutan genetik guna mengungkap garis keturunan leluhur dari setiap kelompok etnis, bahkan hingga 200,000 tahun yang lalu. Jika ditemukan individu non campuran seperti kasus Khoisa, hal ini akan menunjukkan bukti terjadinya perubahan genetik penting bagi keturunan nenek moyang mereka, karena kawin silang atau migrasi terjadi selama berabad-abad.

Kelompok Khoisa, kaum pemburu dan pengumpul di Afrika Selatan selalu menganggap dirinya sebagai orang tertua. Studi ini membuktikan bahwa mereka termasuk salah satu yang paling kuno dalam garis keturunan manusia. Dan urutan genom berkualitas tinggi akan membantu ilmuwan lebih memahami sejarah populasi manusia. Data baru yang dikumpulkan memungkinkan ilmuwan lebih memahami bagaimana genom manusia berkembang dan menciptakan pengobatan yang lebih efektif untuk penyakit genetik tertentu.

Dari lima suku yang merupakan anggota tertua dari suku Ju/'hoansi dan suku-suku lain yang tinggal di kawasan laut Namibia, dua orang memiliki genom yang tidak tercampur dengan kelompok etnis lain. Suku Ju/'hoansi terkenal sejak adanya film 'The Gods Must Be Crazy' di tahun 80-an dan 90-an. Menurut Dr Lim Kim Hie, bahwa kelompok ini tampaknya tidak kawin dengan suku tetangga non-Khoisa selama ribuan tahun. Karena orang-orang Khoisa dan manusia modern hidup bersama nenek moyang mereka sekitar 150,000 tahun yang lalu.

Dalam budaya dan tradisi suku Khoisa, perkawinan silang terjadi sangat lama diantara kelompok Khoisa atau hasil perkawinan perempuan yang meninggalkan suku mereka setelah menikah dengan pria non-Khoisa. Bahkan setelah 150,000 tahun, individu tunggal non-campuran atau keturunan mereka yang tidak kawin silang dengan populasi terpisah dapat teridentifikasi dalam populasi Ju/'hoansi.

Dec 4, 2014

Penetapan 25 Desember Hari NATAL

Sesungguhnya, tidak seorang pun tahu kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan ke dalam dunia ini. Tidak ada suatu Akta Kelahiran zaman kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan dia dilahirkan. Tidak ada seorang saksi hidup yang bisa ditanyai.

Berlainan dari tuturan kisah-kisah kelahiran Yesus yang dapat dibaca dalam pasal-pasal permulaan Injil Matius dan Injil Lukas, sebetulnya pada waktu Yesus dilahirkan, bukan di Betlehem, tetapi di Nazaret, tidak banyak orang menaruh perhatian pada peristiwa ini. Paling banyak, ya selain ayah dan ibunya, beberapa tetangganya juga ikut sedikit disibukkan oleh kelahirannya ini, di sebuah kampung kecil di provinsi Galilea, kampung Nazaret yang tidak penting.

Baru ketika Yesus sesudah kematiannya diangkat menjadi sang Mesias Kristen agung oleh gereja perdana, atau sudah dipuja dan disembah sebagai sang Anak Allah, Raja Yahudi, dan Juruselamat, disusunlah kisah-kisah kelahirannya sebagai kelahiran seorang besar yang luar biasa, seperti kita dapat baca dalam pasal-pasal awal Injil Matius dan Injil Lukas (keduanya ditulis sekitar tahun 80-85 M). Penulis Injil Kristen tertua intrakanonik, yakni Injil Markus (ditulis tahun 70 M), sama sekali tidak memandang penting untuk menyusun sebuah kisah kelahiran Yesus.

Dalam tuturan penulis Injil Lukas, kelahiran Yesus diwartakan sebagai kelahiran seorang tokoh Yahudi yang menjadi pesaing Kaisar Agustus, yang sama ilahi dan sama berkuasanya, yang kelahiran keduanya ke dalam dunia merupakan "kabar baik" (euaggelion) untuk seluruh bangsa karena keduanya adalah "Juruselamat" (sōtēr) dunia (bdk Lukas 2:10,11 dan prasasti dekrit Majelis Provinsi Asia tentang Kaisar Agustus yang dikeluarkan tahun 9 M). Dalam tuturan penulis Injil Matius, kanak-kanak Yesus yang telah dilahirkan, yang diberitakan sebagai kelahiran seorang Raja Yahudi, telah menimbulkan kepanikan pada Raja Herodes Agung yang mendorongnya untuk memerintahkan pembunuhan semua anak di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah (Matius 2:2, 3, 16).

Dalam kisah-kisah kelahiran Yesus dalam kedua injil inipun, bahkan dalam seluruh Perjanjian Baru, tidak ada suatu catatan historis apapun yang menyatakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Jika demikian, bagaimana tanggal 25 Desember bisa ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus, hari Natal? Dalam kebudayaan kuno Yahudi-Kristen dan Yunani-Romawi, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan hari kelahiran Yesus.

Cara pertama

Seperti dicatat dalam dokumen Yahudi Rosh Hashana (dari abad kedua), sudah merupakan suatu kelaziman di kalangan Yahudi kuno untuk menyamakan hari kematian dan hari kelahiran bapak-bapak leluhur Israel. Dengan sedikit dimodifikasi, praktek semacam ini diikuti oleh orang-orang Kristen perdana ketika mereka mau menetapkan kapan Yesus Kristus dilahirkan. Sebetulnya, praktek semacam ini berlaku hampir universal dalam orang menetapkan hari kelahiran tokoh-tokoh besar dunia yang berasal dari zaman kuno. Dalam kepercayaan para penganut Buddhisme, misalnya, hari kelahiran, hari pencapaian pencerahan (samma sambuddha) dan hari kematian (parinibbana) Siddharta Gautama sang Buddha dipandang dan ditetapkan (pada tahun 1950 di Sri Langka) terjadi pada hari yang sama, yakni Hari Waisak atau Hari Trisuci Waisak.

Ketika orang-orang Kristen perdana membaca dan menafsirkan Keluaran 34:26b (bunyinya, "Janganlah engkau memasak anak kambing dalam susu induknya"), mereka menerapkannya pada Yesus Kristus. "Memasak anak kambing" ditafsirkan oleh mereka sebagai saat orang Yahudi membunuh Yesus; sedangkan frasa "dalam susu induknya" ditafsirkan sebagai hari pembenihan atau konsepsi Yesus dalam rahim Bunda Maria. Dengan demikian, teks Keluaran ini, setelah ditafsirkan secara alegoris, menjadi sebuah landasan skriptural untuk menetapkan bahwa hari kematian Yesus sama dengan hari pembenihan janin Yesus dalam kandungan ibunya, sekaligus juga untuk menuduh orang Yahudi telah bersalah melanggar firman Allah dalam teks Keluaran ini ketika mereka membunuh Yesus.

Kalau kapan persisnya hari kelahiran Yesus tidak diketahui siapapun, hari kematiannya bisa ditentukan dengan cukup pasti, yakni 14 Nisan dalam penanggalan Yahudi kuno, dan ini berarti 25 Maret dalam kalender Gregorian. Sejumlah bapak gereja, seperti Klemen dari Aleksandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, dan juga sebuah catatan dalam dokumen Acta Pilatus, menyatakan bahwa hari kematian Yesus jatuh pada tanggal 25 Maret. Demikian juga, Sextus Julianus Afrikanus (dalam karyanya Khronografai, terbit tahun 221), dan Santo Agustinus (menulis antara tahun 399 sampai 419), menetapkan 25 Maret sebagai hari kematian Yesus. Dengan demikian, hari pembenihan janin Yesus dalam rahim Maria juga jatuh juga pada 25 Maret.

Kalau 9 bulan ditambahkan pada hari konsepsi Yesus ini, maka hari kelahiran Yesus adalah 25 Desember. Sebuah traktat yang mendaftarkan perayaan-perayaan besar keagamaan, yang ditulis di Afrika dalam bahasa Latin pada tahun 243, berjudul De Pascha Computus, menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Hippolytus, dalam Tafsiran atas Daniel 4:23 (ditulis sekitar tahun 202), menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Sebuah karya yang ditulis dengan tangan, dalam bahasa Latin, pada tahun 354 di kota Roma, yang berjudul Khronografi, juga menyebut 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Meskipun banyak dokumen dari abad ketiga sampai abad keempat menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, tidak semua orang pada waktu itu menyetujui adanya perayaan hari Natal. Origenes, teolog Kristen dari Aleksandria, misalnya, dalam karyanya Homili atas Kitab Imamat, menyatakan bahwa "hanya orang-orang berdosa seperti Firaun dan Raja Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka." Begitu juga, seorang penulis Kristen bernama Arnobus pada tahun 303 memperolok gagasan untuk merayakan hari kelahiran dewa-dewi.

Pada sisi lain, kalangan Montanus menolak kalau kematian Yesus jatuh pada 25 Maret; bagi mereka Yesus wafat pada 6 April. Dengan demikian 6 April juga hari konsepsi Yesus dalam kandungan Maria, ibunya. Kalau setelah 6 April ditambahkan 9 bulan, maka hari kelahiran Yesus jatuh pada 6 Januari. Di kalangan Gereja Timur (yang berbahasa Yunani), berbeda dari Gereja Barat (yang berbahasa Latin), hari Natal tidak dirayakan pada 25 Desember, tetapi pada 6 Januari.

Cara kedua

Sebelum kekristenan lahir dan tersebar di seantero kekaisaran Romawi dan kemudian dijadikan satu-satunya agama resmi (religio licita) kekaisaran melalui dekrit Kaisar Theodosius pada tahun 381, orang Romawi melakukan penyembahan kepada Matahari (= heliolatri).

Dalam heliolatri ini, Dewa Matahari atau Sol menempati kedudukan tertinggi dan ke dalam diri Dewa Sol ini terserap dewa-dewa lainnya yang juga disembah oleh banyak penduduk kekaisaran, antara lain Dewa Apollo (dewa terang), Dewa Elah-Gabal (dewa matahari Syria) dan Dewa Mithras (dewa perang bangsa Persia).

Heliolatri, yakni pemujaan dan penyembahan kepada Dewa Sol sebagai Dewa Tertinggi, menjadi sebuah payung politik-keagamaan untuk mempersatukan seluruh kawasan kekaisaran Romawi yang sangat luas, dengan penduduk besar yang menganut berbagai macam agama dan mempercayai banyak dewa.

Pada tahun 274 oleh Kaisar Aurelianus Dewa Sol ditetapkan secara resmi sebagai Pelindung Ilahi satu-satunya atas seluruh kekaisaran dan atas diri sang Kaisar sendiri dan sebagai Kepala Panteon Negara Roma. Menyembah Dewa Sol sebagai pusat keilahian berarti menyentralisasi kekuasaan politik pada diri sang Kaisar Romawi yang dipandang dan dipuja sebagai titisan atau personifikasi Dewa Sol sendiri.

Dalam heliolatri ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari perayaan religius utama untuk memuja Dewa Sol, hari perayaan yang harus dirayakan di seluruh kekaisaran Romawi. Ketika winter solstice, saat musim dingin ketika matahari (Latin: sol) tampak "diam tak bergeming" (Latin: sistere) di titik terendah di kaki langit Eropa sejak tanggal 21 Desember, persis pada tanggal 25 Desember matahari mulai sedikit terangkat dari kaki langit dan mulai sedikit demi sedikit beranjak naik ke atas, seolah sang Sol ini hidup atau lahir kembali. Peristiwa astronomikal ini ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol tak terkalahkan, bangkit dari kematian, yang dalam bahasa Latinnya disebut sebagai Sol Invictus (=Matahari Tak Terkalahkan). Dengan demikian, tanggal 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan, Dies Natalis Solis Invicti. Karena Kaisar dipercaya sebagai suatu personifikasi Dewa Sol, maka sang Kaisar Romawi pun menjadi Sang Kaisar atau Sang Penguasa Tak Terkalahkan, Invicto Imperatori, seperti diklaim antara lain oleh Kaisar Septemius Severus yang wafat pada tahun 211.

Nah, ketika kekristenan disebarkan ke seluruh kekaisaran Romawi, para pemberita injil dan penulis Kristen, sebagai suatu taktik misiologis mereka, mengambil alih gelar Sol Invictus dan mengenakan gelar ini kepada Yesus Kristus sehingga Yesus Kristus menjadi Matahari Tak Terkalahkan yang sebenarnya. Mereka memakai teks-teks Mazmur 19:5c-6 ("Ia memasang kemah di langit untuk Matahari yang keluar bagaikan Pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya."), Maleakhi 4:2 ("bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.") dan Lukas 1:78-19 ("Oleh rakhmat dan belas kasihan Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya Pagi dari tempat yang tinggi.") sebagai landasan skriptural untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sebenarnya.

Dengan jadinya Yesus Kristus sebagai Sol Invictus baru, maka tanggal 25 Desember sebagai hari natal Dewa Sol juga dijadikan hari Natal Yesus Kristus. Seorang penulis Kristen perdana, Cyprianus, menyatakan, "Oh, betapa ajaibnya: Allah Sang Penjaga, Pemelihara dan Penyelenggara telah menjadikan Hari Kelahiran Matahari sebagai hari di mana Yesus Kristus harus dilahirkan." Demikian juga, Yohanes Krisostomus, dalam khotbahnya di Antikohia pada 20 Desember 386 (atau 388), menyatakan, "Mereka menyebutnya sebagai 'hari natal Dia Yang Tak Terkalahkan'. Siapakah yang sesungguhnya tidak terkalahkan, selain Tuhan kita…?"

Selanjutnya, mulai dari Kaisar Konstantinus yang (menurut sebuah mitologi Romawi) pada 28 Oktober 312 melihat sebuah tanda salib dan sebuah kalimat In Hoc Signo Vinces (="Dengan tanda ini, kamu menang") di awan-awan, perayaan keagamaan yang memuja Sol Invictus pada 25 Desember diubah menjadi perayaan keagamaan untuk merayakan hari Natal Yesus Kristus. Dengan digantinya Dewa Sol dengan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sejati, dan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal Yesus Kristus, sang Kaisar berhasil mengonsolidasi dan mempersatukan seluruh wilayah negara Roma yang di dalamnya warga yang terbesar jumlahnya adalah orang Kristen, yang, menurut Eusebius, adalah warga "Gereja Katolik yang sah dan paling kudus" (Eusebius, Historia Ecclesiastica 10.6).

Dan sejak itu juga, para uskup/paus sama-sama mengendalikan seluruh kekaisaran Roma di samping sang Kaisar sendiri; ini melahirkan apa yang disebut Kaisaropapisme. Kalau sebelumnya heliolatri menempatkan Dewa Sol sebagai Kepala Panteon yang menguasai seluruh dewa-dewi yang disembah dalam seluruh negara Romawi dan sebagai pusat kekuasaan politik, maka ketika Yesus Kristus sudah menjadi Sol Invictus pengganti, sang Kristus inipun mulai digambarkan sebagai sang Penguasa segalanya (=Pantokrator), yang telah menjadi sang Pemenang (=Kristus Viktor) di dalam seluruh kekaisaran Romawi.

Jelas sudah, tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Seperti telah dinyatakan pada awal tulisan ini, kembali perlu ditekankan bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia pada zaman kuno dan pada masa kini mengetahui kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan. Ketika Yesus baru dilahirkan, dia bukanlah seorang penting apapun. Hanya beberapa orang saja yang memedulikannya. Hanya ketika dia sudah diangkat menjadi sang Kristus gereja dan dipercaya sebagai sang Juruselamat dunia, dia baru menjadi penting dan kisah-kisah hebat tentang kelahirannya pun disusun.

Pada zaman gereja awal dulu, orang tidak sepakat kapan persisnya Yesus dilahirkan, meskipun berbagai cara penghitungan telah diajukan; dan juga orang tidak selalu sependapat bahwa hari kelahiran Yesus Kristus perlu dirayakan. Siapapun, dengan suatu pertimbangan teologis kultural, pada masa kini dapat menetapkan sendiri hari Natal Yesus Kristus buat dirinya dan buat komunitas gerejanya. Sebetulnya, cara merayakan Natal Yesus Kristus yang sebenarnya adalah dengan menjelmakan kembali dirinya, terutama bela rasanya, dalam seluruh gerak kehidupan orang yang menjadi para pengikutnya di masa kini.