Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Sep 15, 2014

Angka 666 (Why 13:18) Adalah Sri Paus?

Ada satu buku yang sekitar dua tahun yang lalu disebarluaskan di Italia oleh sekte tertentu. Buku itu berjudul "Cosa si nasconde dietro il nuovo ordine mondiale?" (=Apa yang tersembunyi di balik tata dunia yang baru?"). Buku ini merupakan kumpulan kutipan dari buku Ellen Gould White yang berjudul "The Great Controversy between Christ and Satan." Cukup mengherankan bahwa buku yang sudah berumur seratus tahun ini ternyata dewasa ini masih sering dipropagandakan oleh pihak-pihak tertentu. Isinya antara lain menuduh paus dan para imamnya sebagai kaki tangan Setan. Berikut ini kami berikan beberapa kutipan saja dari terjemahan Indonesianya yang pernah kami pinjam dari seorang teman :

"Gantinya memenuhi tuntutan Allah, jemaat menerima teori-teori dan tradisi manusia. Pertobatan Kaisar Constantine mendatangkan kegembiraan besar pada permulaan abad keempat. Tetapi dia hanya mengenakan jubah kebenaran sewaktu memasuki jemaat. Sekarang moral manusia begitu cepat merosot … Doktrin, upacara-upacara kebaktian serta tahyul-tahyulnya telah berbaur dalam iman dan perbaktian orang-orang yang mengaku pengikut Kristus."

"Doktrin Romanisme yang terutama ialah bahwa paus itulah kepala jemaat Kristus yang kita lihat. Dia diberikan kuasa untuk mengepalai semua imam dan pastor di seluruh dunia. Lebih dari itu, paus diberi gelar ke-allahan … dan dinyatakan tidak bersalah. Dia menuntut penghormatan dari semua manusia. Tuntutan yang dikemukakan oleh setan di padang gurun pencobaan masih dihadapkan melalui Gereja Roma … "

"Setelah menolak Kristus, jemaat tergoda untuk mengabdi kepada wakil-wakil setan yaitu imam-imam Roma."

"Melalui pemimpin-pemimpin jemaat yang tidak berserah, setan juga mengubah hukum keempat dan mencoba menyingkirkan hari Sabat kuno yaitu hari yang diberkati Allah dan disucikan. Sebagai gantinya mereka meninggikan hari pesta orang kafir sebagai "hari matahari yang patut dimuliakan." Pada abad pertama hari Sabat yang benar disucikan oleh semua orang Kristen. … Tetapi dengan kelicikan setan bekerja sama dengan wakil-wakilnya untuk mencapai tujuannya. Supaya perhatian manusia tertarik pada hari Minggu, maka hari itu dijadikan hari pesta untuk menghormati kebangkitan Kristus."

Dibutuhkan studi khusus tentang sejarah dan dokumen-dokumen Gereja Katolik untuk menilai pernyataan-pernyataan Ellen G. White itu. Namun bukan waktunya kita bicarakan di sini. Kita kembali pada buku "Apa yang tersembunyi di balik tata dunia yang baru?" Pada halaman 48-49 dari buku ini kita temukan data berikut ini (yang langsung kami terjemahkan):

Bilangan 666

"Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam." (Why 13:18)

"Sekarang kami menantang dunia untuk menemukan suatu nama lain yang mengandung bilangan yang sama dalam tiga bahasa (Yunani, Ibrani dan Latin). Lihat Yoh 19:20.

- Joseph F.Berg, dalam "The Great Apostasy", hlm. 156-158.

Tanggapan kita

Data di atas bermaksud membuktikan bahwa kaki tangan iblis yang namanya tersembunyi di balik angka 666 itu adalah paus Roma (katolik). Vicarius Filii Dei berarti Wakil Anak Allah, yakni Paus yang menurut keyakinan Katolik adalah Vicarius Christi, artinya Wakil Kristus di dunia. Sepintas lalu data yang disajikan di atas sangat meyakinkan. Namun kalau kita dengan tenang menilainya, muncullah banyak masalah yang jelas membuat kita sama sekali tidak bisa menerima data di atas. Namun sebelum kita melihat kelemahan-kelemahan teori Joseph F.Berg yang dikutip oleh Ellen G. White dalam bukunya, baiklah lebih dahulu kita bahas secara singkat soal penafsiran binatang dalam Why 13 ini.

Kitab Wahyu, yang merupakan buku terakhir dari Perjanjian Baru, termasuk dalam jenis sastera apokaliptik (dari kata kerja Yunani apokalypto yang berarti "membuka atau menyingkap sesuatu yang terselubung"). Adapun latar belakang jenis sastra ini adalah umat Allah yang sedang menderita, dikejar-kejar musuh Allah dan mengalami krisis iman yang cukup hebat. Tidak jarang di tengah penderitaan dan kesukaran hidup yang hebat semacam itu orang beriman menjadi putus asa dan mengira bahwa Allah tidak peduli lagi pada mereka. Mereka pun melihat bahwa dunia ini terlalu jahat, tak ada harapan untuk bisa dipertahankan. Nah, kepada orang-orang seperti inilah ditulis kitab-kitab apokaliptik. Satu dua abad menjelang kedatangan Yesus Kristus ke dunia, dan masih sesudahnya juga, jenis sastra apokaliptik berkembang subur di kalangan orang Yahudi. Dalam sastra apokaliptik itu diungkapkan iman pengarang bahwa dunia yang jahat ini suatu saat akan berakhir dan Allah akan menggantinya dengan dunia yang baru. Allah tidak tinggal diam;suatu saat Allah akan mengadakan intervensi dan akan menang secara definitif atas Iblis. Dengan memakai gambaran-gambaran yang aneh dan lambang-lambang yang tidak selalu mudah ditebak maknanya (agar para kaisar penindas tidak sampai memahaminya), sastra apokaliptik mau menyingkap rahasia sejarah dunia yang akan berakhir dengan kemenangan Allah. Namun hampir semua ahli berpendapat bahwa apa yang diuraikan dalam kitab apokaliptik bukanlah sejarah dalam arti sepenuhnya atau sebenarnya, meskipun tentu saja sastra apokaliptik mengandung unsur-unsur sejarah juga.

Jenis sastra apokaliptik ternyata dipakai juga oleh umat Yesus Kristus! Pada masa yang sulit, yakni masa pengejaran dan penindasan oleh para kaisar Romawi, orang-orang kristen perlu mendapat penghiburan. Iman mereka perlu diteguhkan. Mereka perlu diyakinkan bahwa Iblis beserta kaki tangannya nampaknya menang, namun itu semua cuma sementara waktu saja. Suatu saat Iblis akan dikalahkan dan dibelenggu serta dihukum untuk selama-lamanya (Why 20). Suatu saat langit dan bumi yang lama ini diganti dengan langit & bumi yang baru (Why 21). Apa yang diungkapkan di sini adalah iman semacam itu, bukan suatu sejarah dunia yang mendetil dalam arti kata sebenarnya. Sikap yang baik dalam menafsir kitab Wahyu kiranya sebagai berikut: sedapat mungkin ayat-ayat dalam kitab Wahyu itu dihubungkan dengan sejarah yang dikenal oleh pengarang Wahyu sendiri, yakni dengan kejadian-kejadian sekitar 1900 tahun yang lalu. Tetapi kita tahu bahwa kejadian-kejadian yang dipaparkan dalam kitab Wahyu bisa juga terulang lagi sepanjang sejarah. Kitab Wahyu memberikan pola-pola atau model-model peristiwa yang berlaku sepanjang jaman. Namun tidak berarti, kitab Wahyu boleh ditafsirkan ayat demi ayat dan setiap hal dihubungkan terus dengan sejarah dunia dari dulu sampai sekarang.

Dengan pengantar singkat di atas kita mau menanggapi tuduhan bahwa angka 666 dalam Why 13:18 adalah paus di Roma. Dalam kitab Wahyu digambarkan ada tiga musuh Allah (Why 12; 13; 16:13; 19:20 dan 20:10). Ketiga musuh Allah itu merupakan tiga serangkai yang ingin meniru Tritunggal Mahakudus. Mereka itu adalah naga yang melambangkan Iblis atau Satan (Why 12:9) beserta kedua binatang yang menjadi kaki tangannya, yaitu binatang yang keluar dari lautan (Why 13:1-10) dan yang keluar dari permukaan bumi (Why 13:11-18). Bukan tempatnya di sini memberikan tafsiran yang rinci atas ayat-ayat di atas. Hanya saja perlu dicatat di sini bahwa kebanyakan ahli tafsir (Protestan maupun Katolik) berpendapat bahwa binatang yang muncul dari laut adalah para kaisar Romawi, karena macam-macam alas an, utamanya karena ciri-ciri binatang yang dilukiskan di situ cocok sekali dengan ciri-ciri para kaisar Romawi dahulu. Misalnya, dalam Why 13:3 dilukiskan bagaimana satu dari tujuh kepala binatang yang keluar dari laut itu "seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh …" Hal ini cocok dengan kaisar Nero yang pernah mencoba bunuh diri dengan menusuk lehernya sendiri. Tetapi menurut legenda dia itu tidak sampai mati, melainkan tetap hidup dan bersembunyi di negeri lain; suatu hari ia akan kembali untuk merebut takhta. Baiklah kami kutip di sini kesimpulan yang ditulis oleh Dr. J.J. de Heer, seorang ahli tafsir dari Gereja Reformasi (supaya lebih netral):

Di abad ke-17 dan abad ke-18 di kalangan para penafsir Protestan ada kecenderungan yang kuat untuk melihat dalam binatang ini Paus Roma (yang berusaha menjalankan kuasa duniawi maupun kuasa rohani); tetapi di zaman kita ini kebanyakan penafsir ilmiah kitab Wahyu, baik dari pihak Protestan maupun dari pihak Katolik, berkeyakinan bahwa binatang dalam Wahyu 13 itu adalah Kekaisaran Romawi.

Sekarang mengenai binatang kedua yang keluar dari muka bumi. Binatang ini bertanduk dua seperti domba (Why 13:11-18). Siapakah yang dilambangkan oleh binatang kedua ini? Berdasarkan perbandingan dengan Why 19:20 dan 20:10 bisa disimpulkan bahwa binatang kedua (yang adalah kaki tangan naga dan binatang pertama tadi) adalah para imam atau nabi di Asia Kecil yang bertugas di kuil-kuil kafir Romawi. Mereka itu orang setempat (maka digambarkan muncul dari permukaan bumi). Mereka ikut mempropagandakan pendewaan kaisar Romawi dan membujuk bahkan memaksa rakyat (dengan segala macam tipu muslihat) agar mereka mau menyembah patung kaisar. Hal ini terbukti dari sejarah kuno.Tetapi baiklah kita segera kembali pada pembicaraan pokok kita, yakni tentang binatang yang pertama (Why 13:1-10). Angka 666 yang disebut pada Why 13:18 mengacu pada binatang pertama, jadi mengacu pada kekaisaran Romawi, utamanya dalam diri kaisar Nero. (Di atas sudah kita lihat bahwa kebanyakan ahli tafsir memandang binatang pertama ini sebagai lambang kekaisaran Romawi, bukan para paus di Roma!). Untuk dapat memahami tafsiran ini perlu kita ketahui bahwa setiap alfabet Ibrani berfungsi juga sebagai angka, misalnya huruf pertama (alef) sama dengan 1, huruf kedua (bet) sama dengan 2, huruf kesebelas (kaf) sama dengan 20, huruf kedua belas (lamed) sama dengan 30, dan seterusnya. Hal yang sama juga terjadi pada bahasa Yunani: huruf pertama (alfa) sama dengan 1, huruf kedua (beta) sama dengan 2, dan seterusnya. Nah, binatang yang menjadi kaki tangan Iblis itu namanya berjumlah 666:

"Barangsiapa bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam" (Why 13:18)

Sepanjang jaman sudah banyak orang mencoba mencari nama seseorang yang cocok dengan bilangan 666 itu. Puluhan nama telah ditemukan orang, antara lain: kaisar Domitianus, Napoleon, Leo X (paus), Knox, Luther, dan lain-lain. Namun patut diperhatikan apa yang ditulis oleh J.J. de Heer ini:

Sudah barang tentu haruslah ditolak sebagai salah usaha untuk memilih buat bilangan 666 ini nama seseorang dari zaman modern, misalnya Napoleon dan sebagainya. Pada zaman ketika Hitler merajalela di Eropa, ada orang-orang yang mencoba apakah huruf-huruf namanya memberi bilangan 666. Usaha-usaha semacam itu adalah salah karena dalam ayat kita kita ini dikatakan dengan jelas bahwa pembaca-pembaca pertama kitab Wahyu pada zaman Yohanes dapat menebak rahasia bilangan itu dengan hikmat & kebijaksanaan. Bagaimana mungkin mereka menebak nama Napoleon atau Hitler?

Marilah kita perhatikan jumlah nama kaisar Nero yang ditulis dalam bahasa Ibrani, yakni QSR NERWN (baca: kesar neron) :

Bilangannya 666

Bilangan Kaisar Nero

Anda mungkin heran, mengapa di sampingnya ada alternative QSR NRW (baca: kesar Nero) yang hanya berjumlah 616 saja? Nama kaisar Nero dalam bahasa Latinnya tidak berakhiran "n" tetapi berbunyi "Nero" saja. Kalau dibaca secara demikian, maka  QSR NRW hanya berjumlah 616. Nah, patut diketahui pula bahwa dalam manuskrip atau naskah kuno dari kitab Wahyu yang tertulis adalah angka 616, bukan 666. Kalau begitu, baik angka 666 yang dimuat oleh kebanyakan manuskrip maupun angka 616 (yang dimuat oleh beberapa naskah kuno) dapat dicocokkan dengan nama kaisar Nero: qsr nrwn (=666) maupun qsr nrw (616). Padahal hal-hal semacam ini bisa mempengaruhi tafsiran.

Dengan uraian di atas sebagai latar belakang, marilah kita menilai ucapan Joseph F.Berg yang dikutip E.G. White dalam buku "The Great Apostasy", hlm. 156-158: "Sekarang kami menantang dunia untuk menemukan suatu nama lain yang mengandung bilangan yang sama dalam tiga bahasa (Yunani, Ibrani dan Latin). Lihat Yoh 19:20. Pertanyaan-pertanyaan atau keberatan-keberatan kita kepada ucapan Joseph F.Berg ini adalah sebagai berikut:

Apa dasar yang dia pakai untuk menafsirkan bahwa penulis Why 13:18 menyuruh pembacanya untuk menebak makna 666 itu sekaligus dalam tiga bahasa, yakni Ibrani, Yunani dan Latin (dengan mengacu pada Yoh 19:20)? Tidak ada dasarnya untuk menghubungkan Why 12:18 dengan Yoh 19:20!
Seandainya (sekali lagi cuma seandainya!) ada hubungan antara Why 13:18 dengan Yoh 19:20, tetap ada hal yang sama sekali tidak pas. Dalam Yoh 19:20 yang ditulis dalam tiga bahasa itu adalah satu kalimat/frasa yang sama, yang dalam bahasa apapun akhirnya berbunyi: Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi. Namun dalam teori J.F. Berg di atas, yang ditemukan adalah tiga hal yang berbeda-beda. Untuk bahasa Latin Berg menemukan gelar paus Vicarius Fillii Dei. Untuk bahasa Yunani ia memakai penemuan Santo Irenaeus, yakni kata Lateinos (yang berarti "orang Latin"). Dan untuk bahasa Ibrani ia menemukan kata benda romiith, yang berarti kerajaan Romawi. Selain gado-gado yang ia ciptakan, masih ada pertanyaan mendasar ini: bagaimana mungkin ia mengidentikkan paus dengan kekaisaran Romawi? Tidak sama, bukan? Bagaimana ia menyamakan begitu saja "orang Latin" dengan Gereja Katolik atau dengan para paus di Roma? Mana bisa!
Cara menghitung huruf-huruf Latin juga tidak bisa diterima. Mengapa untuk "VICARIUS FILII DEI' ia hanya menghitung huruf-huruf Romawi yang kebetulan dipakai untuk menyebut bilangan, yakni huruf D (=500); C (=100); L (=50); V (=5) dan I (=1), sedangkan huruf-huruf lain (A, R, S, F, E) diberi nilai nol saja. Kalau begitu sistim penghitungannya tidak sama dengan sistim penghitungan kata Yunani (Lateinos) dan kata Ibrani (romiith). Bukankah untuk kata Yunani dan Ibrani tersebut setiap huruf dihitung? Bagaimana mungkin sistim penghitungannya tidak konsisten? Bisakah pembaca kitab Wahyu mereka-reka semacam itu, padahal gelar "Vicarius Filii Dei" atau Vicarius Christi" untuk paus belum ada pada waktu kitab Wahyu ditulis?
Namun keberatan yang paling serius berasal dari ilmu tafsir yang sudah kami terangkan di atas. Menurut kebanyakan ahli tafsir, angka 666 itu harus dicari dalam diri seorang manusia. Why 13:18 sendiri mengatakan, angka 666 itu adalah "bilangan seorang manusia", bukan bilangan gelar paus (seperti Vicarius Filii Dei", Wakil Anak Allah), bukan pula bilangan suatu kata benda (seperti romiith, = kekaisaran Roma). Sekali lagi, yang harus ditemukan di balik misteri angka 666 itu adalah nama seorang manusia! Di samping itu, bagaimana dengan naskah kitab Wahyu yang memuat angka 616? Tak cocok lagi bukan dengan teori Joseph F.Berg? Sedangkan, kalau nama manusia yang dimaksud adalah kaisar Nero, maka kedua versi naskah Yunani itu (baik yang menulis 666 maupun 616) bisa dihubungkan dengan nama kaisar yang sama, kaisar Nero; perbedaannya cuma cara menyebutnya: Neron (ucapan orang Yahudi) atau Nero (ucapan orang Latin) yang kedua-duanya terbukti dipakai orang dalam sejarah.

Demikianlah tanggapan kita terhadap teori Joseph F. Berg. Dalam segala hal kita perlu waspada dan tidak boleh terlalu mudah terpukau oleh data-data yang mengherankan kita. Hal ini perlu kami tekankan karena seringkali orang terpukau dengan cara tafsir yang sepintas lalu cocok, tetapi ternyata tidak mempunyai dasar yang kuat. Sebagai penutup bagian ini, baiklah kami memberi contoh lain. Pernah beredar juga buku "Saat Pengangkatan Jemaat Sudah Di Ambang Pintu" (untuk kalangan sendiri). Dalam buku ini beberapa kali Gereja Katolik mendapat tuduhan yang keras baik secara langsung maupun secara amat tersamar. Misalnya Gereja Katolik dituduh memperjualbelikan pengampunan dosa, adanya menara (obelisk) di depan Gereja S. Petrus (Roma) dianggap sebagai penjelmaan kembali menara Babel, dan lain-lain. Dalam buku itu ada juga uraian mengenai angka 666. Angka 666 itu ternyata dihubungkan dengan tahun 1776, yaitu tahun berdirinya satu organisasi yang anti-Kristen, bernama Illuminati. Organisasi ini berasal dari Bavaria, Jerman Selatan, dan mengandung paham-paham organisasi Masonry yang dilarang Gereja. Tahun 1776 adalah juga tahun berdirinya Amerika Serikat dan tahun meletusnya Revolusi Perancis. Nah, sekarang bagaimana buku "Saat Pengangkatan Jemaat Sudah di Ambang Pintu" menafsirkan tahun 1776 itu? Pada lambang Illuminati terdapat tulisan MDCCLXXVI, yang berarti 1776, yakni tahun berdiri organisasi itu. Menurut buku ini bilangan dasar dari tahun 1776 (M D C C L X X V I) adalah : D, C, L, X, V, dan I. Tetapi bagaimana dengan huruf M (yang bernilai 1000)? Oh, M adalah D ganda, yaitu D + D (500 + 500=1000); jadi huruf "M" tidak usah dihitung. Maka jumlah tahun 1776 adalah 666, hasil penjumlahan dari D (500) + C (100) + L (50) + X (10) + V (5) + I (1). Maka dari itu buku tersebut di atas mengambil kesimpulan berikut ini:

"Kerajaan antikristus akan berasal dari Romawi dalam hal ini Romawi baru."

Beberapa keberatan kita terhadap tafsiran ini:

  • a) kalau orang hanya menghitung huruf/bilangan dasar suatu angka, misalnya meskipun angka C dan X dua kali muncul dalam MDCCLXXVI ini, keduanya dihitung cuma satu kali, dan kalau orang boleh menghilangkan huruf M karena M adalah D ganda, maka orang bisa menemukan banyak sekali tahun lain yang angka dasarnya mengandung huruf M, D, C, L, X, V, I atau D, C, L, X, V, I. Kita ambil beberapa contoh saja: tahun 766 (DCCLXVI), 867 (DCCCLXVII), tahun 1877 (MDCCCLXXVII); tahun 1678 (MDCLXXVIII) dan seterusnya.

  • b)  dalam menafsirkan tahun 1776 di atas, huruf M (=1000) dihilangkan dengan alasan M itu sama dengan ganda D, yakni D + D (500 + 500). Bagaimana kalau huruf C saja yang kita lenyapkan karena bukankah C (100) adalah ganda L (L + L = 50 + 50= 100)? Atau huruf X saja, sebab X adalah ganda V.

Jadi, keberatan mendasar terhadap tafsiran-tafsiran semacam itu ialah kesewenang-wenangan orang dalam mengotak-atik angka itu.

Antikristus

Dunia telah mengenal angka 666. Angka ini sering disangkut pautkan dengan aliran musik underground, metal, atau aliran gelap lainnya. Sebenarnya 666 itu merupakan salah satu agama ilegal yang umatnya memuja satan. Angka 6 disimbolkan sebagai manusia, sedangkan 7 disimbolkan sebagai Tuhan. Lalu apa itu '666′? Angka itu berarti super manusia, yaitu angka 6 sebanyak tiga buah yang berarti satan. Tetapi sebenarnya 666 itu adalah sebuah lambang dari super manusia yang artinya menegaskan bahwa itu adalah satan.

Mengapa lambangnya harus angka '666′?
Pada waktu rasul Yohanes dibuang di Patmos, dia mengirim surat. Dalam menuliskannya, ia berhati-hati, sebab kalau suratnya menyebut kaisar Nero, menyebut Romawi, suratnya pasti disortir dan dibuang, oleh karena itu dia pakai simbol, supaya jangan sampai suratnya dibuang.

Kata Romawi dia ganti dengan nama Babel, dan kata Nero dia ganti dengan nama 666. Nero adalah antikris yang pertama pada zaman dulu.

Mengapa logonya harus double star?

Coba perhatikan lambang double star 666, jika anda teliti, double star 666 tersebut akan terlihat sebagai kepala satan atau iblis yang berbentuk seperti kambing. Satu sudut bintang di bawah sebagai dagu, kedua sudut bintang di samping sebagai telinga, dan kedua sudut bintang di atas sebagai tanduk.


Menurut pengertian saya, angka 666 adalah angka abundan (angka hasil atau summary yang bersifat alami), mengapa? Coba saja hitung penjumlahan di bawah ini:
1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 + 13 + 14 + 15 + 16 + 17 + 18 + 19 + 20 + 21 + 22 + 23 + 24 + 25 + 26 + 27 + 28 + 29 + 30 + 31 + 32 + 33 + 34 + 35 + 36
Hasilnya Enam ratus enam puluh enam alias 666.

Bilangan binatang itu adalah bilangan manusia :

"Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam."
(Wahyu 13:18)

Manusia ini adalah Kaisar Nero, yaitu Antikristus yang akan datang.
"Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi. Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja. Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu dan ia menuju kepada kebinasaan."

(Wahyu 17:8,10,11,)

Mengapa Kaisar Nero?

Di dunia, hanya ada 2 bangsa yang angka bilangannya sama dengan huruf alfabetnya, yakni Roma dan Ibrani. Misalnya : Angka 10, dalam bahasa Romawi di tulis dengan alfabet X. Bilangan nama Kaisar Nero dalam abjad Ibrani adalah 666, karena kitab Wahyu ditulis pada masa kekaisaran Romawi, maka Yohanes tidak menyinggung nama Nero, namun menyatakannya dengan bilangan. Sebab itu, perlu ada hikmat untuk memahaminya.

Menurut wikipedia, Kaisar Nero adalah kaisar yang sangat kejam. Ia membunuh ibunya, saudara-saudaranya sendiri, dan juga kekristenan pada masa itu, dan ia sendiri mati dibunuh Binatang itu, yang adalah Antikristus, "telah ada" dalam diri Kaisar Nero sebelum Yohanes menulis kitab ini. Pada saat Yohanes menulis kitab ini, dia "tidak ada" karena saat itu Nero sudah mati. "Dia akan muncul dari jurang maut," menyiratkan roh Nero sekarang berada di jurang maut, dan akan muncul dari sana untuk merasuk tubuh Antikristus yang terbunuh namun hidup kembali, seperti yang dinyatakan di dalam Wahyu 13:3 :

"Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu."

Wahyu 17:10 menjelaskan mengenai tujuh raja yang mengacu kepada tujuh Kaisar dari Kerajaan Romawi. Lima Kaisar yang pertama "sudah jatuh," yaitu mati secara tidak wajar (Hak. 3:25; 2 Sam. 1:10, 25, 27). Kelima Kaisar itu adalah Yulius Kaisar, Tiberius, Kaligula, Klaudius, dan Nero. Mereka mati dibunuh atau bunuh diri sebelum Yohanes menulis kitab ini. Yang keenam, Domitian, yang juga dibunuh, masih hidup ketika Yohanes menulis kitab ini. Sebab itu di sini dikatakan dia masih "ada." "Yang lain," yaitu yang ketujuh, adalah Antikristus, pada saat itu dia "belum datang." Pada waktu dia datang, dia hanya bertahan sebentar, kemudian terbunuh, dan dia akan hidup kembali karena roh Kaisar yang kelima, yaitu Nero, menjadi yang kedelapan.

Dalam Wahyu 17:11 menerangkan Antikristus adalah Kaisar ketujuh yang akan datang, tetapi juga yang kedelapan. Menurut Wahyu 13:3, Antikristus akan terbunuh dan hidup kembali. Ketika hidup kembali, roh Nero (Kaisar yang kelima) akan muncul dari jurang maut (yaitu pada saat Iblis dilemparkan ke bumi – 12:10, 13), masuk ke dalam tubuh Antikristus (Kaisar ketujuh) yang telah mati serta menggerakkan dan menghidupkan tubuh itu; dengan demikian meniru kebangkitan Kristus.

Kaisar ini, gabungan dari Kaisar kelima dan ketujuh, adalah Kaisar yang kedelapan. Karenanya, dia "berasal dari yang ketujuh itu," mempunyai tubuh dari yang ketujuh dan roh dari yang kelima. Sebab itu, dia akan lebih cakap, lebih pandai, lebih hebat dalam memikat, memperdaya, menipu, menyelewengkan orang-orang yang tidak percaya pada Kristus. Tidaklah aneh orang akan heran melihat oknum yang demikian istimewa ini, lalu mengikutinya (ay. 8; 13:3).

Kaisar Nero Bunuh Diri

Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus (15 Desember 37–9 Juni 68) adalah salah satu kaisar tergila di Romawi. Ia adalah kaisar Romawi kelima dan terakhir dari dinasti Julio-Claudian. Nero diadopsi oleh pamannya, Claudius untuk menjadi penerus tahtanya. Ia naik tahta pada tanggal 13 Oktober 54 karena kematian Claudius.

Nero berkuasa dari tahun 54 sampai tahun 68. Awalnya ia fokus dengan diplomasi, perdagangan, dan meningkatkan budaya ibu kota kekaisaran. Ia memerintahkan pembangunan teater dan permainan atletik. Kekuasaannya juga berhasil memenangkan perang dan berdamai dengan kekaisaran Parthian (58–63) dan menambah tali hubungan diplomasi dengan Yunani.

Kelakuan Nero saat memerintah memang luar biasa gila. Ia terkadang tampil sebagai perempuan. Menghibur warga Roma dengan membunuh orang-orang Kristen. Ia juga tampil di sejumlah petunjukan untuk menghibur warga Roma. Salah satu suguhan Nero kepada warga Roma adalah membakar kota Roma. Dan suguhannya ini dicatat dalam sejarah sebagai kaisar yang membakar kotanya sendiri demi memuaskan nafsunya.

Tak tahan dengan kelakuan Nero yang semakin gila, pada tahun 68, militer melakukan kudeta dan menurunkan Nero. Saat akan menghadapi eksekusi pada hari ini di tahun 68, ia memilih bunuh diri.

Sep 3, 2014

Suku Dogon

Suku Dogon Kuasai Astronomi Sejak Tahun 3200 SM

Dogon merupakan suku asli yang menempati suatu wilayah Mali, di selatan Gurun Sahara Afrika. Setidaknya terdapat sekitar 100,000 anggota suku Dogon, suku tertutup dan hidup di gua dan lereng bukit pertanian, dataran tinggi berbatu ditenggara Mali, Afrika Barat. Mereka juga disebutkan tinggal di Pegunungan Homburi dekat Timbuktu.

Suku ini terisolasi topografi dan budaya dunia luar selama berabad-abad, mereka muncul pertama kali dengan membawa pengetahuan astronomi. Suku Dogon diyakini merupakan keturunan Mesir, setelah tinggal sementara waktu di Libya, mereka menetap di Mali, Afrika Barat, dengan membawa legenda astronomi pada masa sebelum tahun 3200 SM. Ilmuwan Eropa dan Barat pertama yang mengunjungi dan mempelajari orang-orang Dogon adalah antropolog Perancis, Drs Marcel Griaule dan Germaine Dieterlen. Pada awalanya mereka membuat kontak dengan pada tahun 1931, penelitian terus dilanjutkan selama tiga dekade berikutnya, dan puncak studi antara tahun 1946 hingga 1950. 

Bintang Sirius, Astronomi Kuno Suku Dogon

Antropolog mendokumentasikan mitologi dan kepercayaan tradisional Dogon, termasuk pengetahuan kuno tentang Sirius, Bintang Anjing. Menurut petuah para imam terdahulu mengatakan mitos rahasia Dogon tentang bintang Sirius yang berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi. Para imam mengatakan bahwa Sirius juga memiliki bintang pendamping yang tak terlihat oleh mata manusia, bintang bergerak dalam 50 tahun orbit elips di sekitar Sirius, kecil dan sangat berat serta berputar pada porosnya.

Saat ini, Sirius A terlihat melalui teleskop pada tahun 1862 dan mulai difoto tahun 1970. Suku Dogon mengatakan Sirius B (Po Tolo) terdiri dari kata 'tolo' yang berarti bintang dan 'Po' artinya terkecil. Melalui nama ini mereka menggambarkan kekerdilan bintang dengan kiasan 'hal yang terkecil' dan juga mengklaim bahwa Sirius B adalah bintang terberat berwarna putih.
Suku Dogon beranggapan bahwa Po sangat misterius, terdiri dari logam super-padat bahkan lebih berat dari semua besi yang ada di Bumi. Pada tahun 1926, pengetahuan astronomi modern menemukan bukti bahwa bintang kecil yang dimaksud disebut bintang kerdil putih ditandai dengan kepadatan luar biasa. Astronom memperkirakan bahwa satu meter kubik materi Sirius B beratnya bisa mencapai sekitar 20,000 ton.
Banyak artefak suku Dogon yang ditemukan bergambar sistem bintang, termasuk patung yang pernah diperiksa oleh Dieterlen berusia setidaknya 400 tahun. Menurut legenda Dogon, sistem bintang ini memiliki orbit elips dengan Sirius A disalah satu fokus elips, periode orbit sekitar 50 tahun, dan bintang berputar pada porosnya sendiri. Suku Dogon juga menggambarkan bintang ketiga dalam sistem Sirius, yang disebut 'Emme Ya' atau 'Sorghum Wanita', salah satu satelit yang berada di orbit sekitar bintang Sirius. Tetapi sampai saat ini, Emme Ya belum teridentifikasi oleh astronom walaupun menggunakan teleskop luar angkasa.

Pengetahuan kuno suku Dogon tentang bintang Sirius B juga meliputi mitologi cincin Saturnus dan empat bulan utama planet Jupiter. Mereka memiliki empat kalender, perhitungan Matahari, Bulan, Sirius, Venus, dan sejak dahulu mereka sudah mengetahui bahwa planet-planet mengorbit matahari. Suku Dogon mengatakan bahwa pengetahuan astronomi diberikan kepada mereka oleh Nommos, makhluk amfibi yang dikirim ke Bumi dari Sirius untuk kepentingan umat manusia. Asal nama Dogon diartikan 'untuk membuat satu minuman' dan Nommos disebut 'Guru'.

Dewa Nommos, Mitologi Suku Dogon

Orang-orang suku Dogon menceritakan legenda Nommos, makhluk mengerikan yang muncul tiba-tiba bersamaan dengan api dan guntur. Setelah tiba, Nommos membuat aliran air ke bumi kemudian terjun kedalamnya. Ada beberapa referensi dalam tradisi lisan, tablet peninggalan suku Dogon terdahulu menggambarkan makhluk manusia yang memiliki kaki tetapi berkulit ikan. Nommos lebih mirip ikan daripada manusia dan hidup di air, dianggap penyelamat dan wali spiritual. 

Nommos membagi tubuhnya di antara manusia untuk memberi makan mereka, itulah sebabnya dia juga mengatakan bahwa dirinya bagian dari alam semesta. Nommo disalibkan dan dibangkitkan, dimasa depan dia akan kembali mengunjungi Bumi dalam bentuk ras manusia lain. Kemudian Nommos akan berubah menjadi bentuk amfibi dan akan memerintah dunia dari kerajaan air. Mitologi Dogon hanya diketahui oleh beberapa imam dan merupakan sistem yang kompleks pengetahuan, rahasia ini dijaga ketat dan tidak akan diungkapkan kepada orang asing. Jika bintang Emme Ya akhirnya ditemukan dalam sistem Sirius, maka mitologi Dogon akan memberi dampak berbeda masa mendatang.
Nommos bisa hidup didarat, tetapi sebagian besar berdiam di laut, seperti Duyung. Makhluk serupa telah tercatat dalam mitologi peradaban kuno lainnya seperti Sumeria (Enki), Babilonia (Oannes), Acadia (Ea), dan Mesir (Isis). Dogon mengklaim bahwa bintang ketiga (Emme Ya) ada dalam sistem Sirius, yang lebih besar dan lebih ringan dari Sirius B, bintang ini berada di Sirius juga dan mengorbit planet tempat asal Nommos.
Menurut Carl Sagan, suku Dogon tidak bisa memperoleh pengetahuan astronomi tanpa kontak dengan peradaban teknologi maju. Afrika Barat telah memiliki berbegai pengunjung dari masyarakat teknologi yang terletak di planet bumi. Awal dari wujud amfibi pertama kali muncul di kerajaan Babilonia, mereka dikenal sebagai Annedoti yang diartikan 'menjijikkan'. Meskipun penampilan tidak menarik, mereka cukup berpengaruh bagi orang-orang Babilonia untuk menerima ajaran mereka dan memperoleh prinsip dasar peradaban. Sementara Oannes digambarkan Babilonia kuno sebagai makhluk hybrida manusia dan ikan, dengan kepala seorang pria berjanggut bertubuh ikan.

Menurut legenda Babilonia, dewa air ini akan naik ke darat pada siang hari mengajar orang-orang, dan akan menyelam kembali pada malam hari ke Teluk Persia, tempat dimana dia tinggal disebuah istana bawah laut yang disebut Apsu. Oannes dalam agama orang Filistin (sekarang Israel) adalah ikan, dewa bertubuh manusia disebut Dagon. Pharos, di Mesir utara dikatakan rumah dewa amfibi dikenal sebagai Proteus, putra Oceanus dan orang-orang Yunani kuno menyebutnya Oracle. Legenda tradisional secara khusus menyatakan bahwa makhluk ini sering berlindung disebuah gua untuk menghindari panasnya Sirius.

Babilonia Kuno

Siapa sebenarnya pendiri kerajaan Babilonia kuno? Dalam beberapa teks sejarah, pernah disebutkan bahwa Raja Namrud dan Ratu Semiramis sebagai pendiri Babilonia kuno, tapi ada beberapa bukti teks lainnya yang menyatakan bahwa Mesir jauh lebih tua, dimana Raja Belus dari Mesir pindah kesuatu daerah untuk mendirikan kerajaan baru, Babilonia kuno.

Diodorus Siculus mengatakan, Raja Belus dari Mesir pergi meninggalkan Mesir bersama koloninya dan menetap didekat sungai Efrat. Pausanias seorang ahli bahasa Yunani dan geografi tahun 110 M menyatakan bahwa Raja Belus (Babilonia) menggunakan namanya di Mesir, menurut cara orang-orang Mesir dia dibebaskan dari pajak sehingga bisa mengabdikan diri untuk mempelajari Astrologi dan melakukan pengamatan langit. 

Raja Belus Mesir, Pendiri Babilonia Kuno

Belus dianggap sebagai raja perkasa yang mendirikan Babilonia kuno, sejarawan Romawi Eusebius menuliskan, bahwa semua wilayah Babilonia pada awalnya air dan disebut laut. Tapi Raja Belus mengakhirinya, dan menyelesaikan tugasnya disetiap wilayah serta membangun Babilonia yang dikelilingi dinding, kemudian pada waktu yang ditentukan dia menghilang. Setelah periode itu, Nebukadnezar dikisahkan telah meneruskan dan membangun tembok yang tetap utuh pada masa Kekaisaran Macedonia yang dilengkapi dengan gerbang kuningan. 



Herodotus telah mengunjungi Babilonia dan mengatakan bahwa kota itu ditata seperti persegi dengan sisi 12 mil. Seluruh kota dikelilingi tembok setinggi 350 meter dan setebal 87 kaki, dibangun dengan batu bata besar dan disemen dengan aspal. Kota ini juga mencakup parit besar berisi air, tanah galian yang digali dari parit digunakan untuk membuat batu bata tembok raksasa. Kota Babilonia memiliki 100 gerbang kuningan, 25 gerbang ditempatkan disetiap empat sisi, diantara dua gerbang terdapat tiga menara diatas dinding setinggi sepuluh meter. Sungai Efrat membagi kota menjadi dua bagian yang dihubungkan dengan jembatan selebar 60 meter. Pusat-pusat kota Babilonia juga dibangunh benteng, berdiri istana para raja dan tempat suci Jupiter.

Map Nebuchadnezzar II, Babilonia Kuno

Beberapa pendapat berbeda menjelaskan periode kapan Raja Belus hidup dan berapa lama dia memerintah Babilonia kuno. Menurut Philo, seorang filsuf Yahudi Helenistik Alexandria tahun 50 M, Belus membangun Babilonia 2000 tahun sebelum periode Semiramis, istri Ninus yang naik tahta setelah kematian suaminya dan membawa berbagai karya seni agung serta arsitektur sipil di seluruh kerajaannya. 
Menurut Diodorus Siculus, Ninus hidup sekitar tahun 1950 tahun sebelum Masehi, hampir bersamaan dengan waktu nabi Ibrahim. Artinya Raja Belus hidup 2000 tahun sebelum Ninus, hampir 3950 tahun sebelum Masehi. Sangat dekat dengan periode akhir Dwapara Yuga dalam sistem India Yuga tahun 3976 SM (Kalender Saptarshi sebagai dasar Siklus Yuga). 
Raja Namrud memerintah bersama Ratu Semiramis, digambarkan sebagai tiran perkasa dan salah satu makhluk yang hidup setelah banjir besar Nuh. Orang Arab meyakini bahwa setelah bencana banjir, Raja Namrud membangun kembali struktur menakjubkan termasuk di Baalbek Lebanon dengan tiga batu yang beratnya masing-masing 800 ton. Dia memerintah wilayah yang saat ini berada di Lebanon, pusat kerajaan pertama Namrud adalah Babilonia, Akkad dan tanah Sinear (Sumeria). Jadi, Namrud sebenarnya membangun kembali kerajaan yang hancur dihantam banjir besar, bukan pendiri pertama Babilonia.

Dalam teks Genesis disebutkan bahwa ayah dari Raja Namrud adalah Cush, dia dikenal sebagai Bel atau Belus, anak dari Ham sekaligus cucu dari Nuh. Cush dikenal sebagai dewa Hermes, yang berarti Anak Ham, Ham atau Khem diartikan sebagai 'terbakar' dan mungkin terhubung dengan ibadah menyembah matahari, sebuah jaringan dewa muncul dari Babilonia dan kemudian terhubung dengan Mesir.

Belus juga mendirikan dinasti kerajaan Babilonia kuno yang memerintah selama berabad-abad. Nebukadnezar II (562 SM) juga diceritakan telah membangun kembali dan menghiasi kota Babilonia dan menganggap dirinya telah menerima tahta dari Raja Belus. Raja Belus juga dianggap sebagai dewa setelah kematiannya dan dipuja oleh orang Ibrani sebagai Bel atau Dewa Baal.

Di Mesir, Raja Belus memainkan peran sangat signifikan yang sebagian besar tetap belum diselidiki. Sesuai dengan teks kuno, dia telah digulingkan dari seorang raja tiran bernama Busiris dan mengangkat anaknya Ramses diatas takhta Mesir, hal ini dianggap sebagai fase baru dalam sejarah Mesir. Sesuai dengan Periode Predinastik Mesir khususnya terkait Naqada I atau Periode Amratian dari tahun 4000 SM hingga 3500 SM.