Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Mar 2, 2016

Bulan Januari

Januari diambil dari nama Dewa Janus yaitu dewa Romawi yang bertugas sebagai penjaga gerbang/pintu sehingga pantas saja, Januari ‘membuka’ tahun yg baru. Dewa ini mempunyai dua muka sehingga ia bisa melihat ke depan dan ke belakang secara bersamaan, selain dapat melihat kedepan dan belakang, dewa janus juga dapat melihat ke masa lalu dan masa depan. Janus dikenal sebagai dewa permulaan dan akhir. Bangsa Romawi bila ingin melakukan permulaan suatu pekerjaan selalu memohon pertolongan dewa Janus.

1 Januari pertama kali dirayakan

Jika berbicara tentang 1januari maka tidak akan lepas dari Julius Caesar. Julius Caesar adalah salah seorang dari tokoh politik yang punya daya kharisma serta penuh bakat. Dia seorang politikus yang sukses, seorang jendral yang brilian, mempesona serta seorang penulis yang bagus. “De bello Gallico” adalah buku yang ditulisnya. Caesar seorang berani, penuh energi, dan ganteng.

1 Januari tahun 45 SM, untuk pertama kali dalam sejarah dirayakan sebagai tahun baru. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi. Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, penetapan 90 hari dimaksudkan untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penetapan ini membuat bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat dengan perhitungan purnama. Walaupun sebenarnya dasar dari kalender Romawi adalah luni-solar. Akhirnya dengan nasehat Sosigenes, seorang astronom dari Alexandria, Caesar menetapkan kalendernya menjadi 12 bulan, masing-masing dengan jumlah hari tertentu seperti sekarang, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun, dengan keyakinan bahwa panjang 1 tahun surya adalah 365.25 hari saat itu.

Setelah Caesar meninggal penerapan tahun kabisat salah terap. Kabisat diberlakukan tiap menginjak tahun ke 4, jadi 3 tahun sekali. Kesalahan terap ini kemudian diperbaiki oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi. Setelah itu kalender Julian berfungsi dengan jauh lebih baik.

Asal Usul Nama Bulan

Januari: nama bulan pertama ini diadopsi dari nama janus, yaitu dewa romawi penjaga pintu gerbang. Dewa dengan dua wajah yang bertolak belakang. Satu wajah menatap ke depan, sedang lainnya menoleh ke belakang. Hal ini sebagai perlambang tatapan masa lalu dan pandangan ke masa datang. Janus yang kemudian menjadi januari adalah gambaran bulan mawas diri, yaitu sebagai pemisah tahun lalu dan tahun baru.

Februari: berasal dari kalata latin februa. Suatu istilah untuk pesta penyucian yang diselenggarakan oleh bangasa romawo kuno pada tiap tanggap 15 februari. Bulan ini adalah bulan yang paling sedikit jumlah harinya, yaitu hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat. Tahun kabisat datang 4 tahun sekali untuk mengimbangi kekurangan dan kelebihan akibat perhitungan hari dalam setahun yang tidak bulat, yaitu 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik.

Maret: semula maret adalah bulan pertama dalam kalender romawi. Namun, pada tahun 45 sm, julius caesar menambahkan bulan januari dan februari di depannya, sehingga maret menjadi bulan ketiga dalam penanggalan gregorian. Nama maret berasal dari nama dewa perang romawi, mars. Dewa mars sangat terkenal karena kegarangan dan keberaniannya yang tiada tara.

April: asal kata nama bulan keempat ini masih belum disepakati secara pasti. Sebagian mengatakan bahwa april berasal dari kata aphrodite, yang berarti dewi cinta. Agak mendekati kebenaran jika ditilik dari asal kata adalah aperire yang berarti membuka. Pikiran ini muncul karena orang yunani menyebut musim semi yang dimulai bulan april dengan istilah “pembukaan”.

Mei: kata mei diperkirakan diambil dari nama maia majesta, atau dewi musim semi. Musim semi disambut meriah dengan festival-festival oleh banyak rakyat eropa. Gadis tercantik dan pria tertampan dipilih untuk dinobatkan menjadi raja dan ratu yang akan memimpin tari-tarian dalam festival itu. Di inggris tradisi ini masih dilakukan tiap bulan mei, ratu disebut maid marian dan sang raja robin hood.

Juni: kata juni berasal dari dewi juno, istri dewa jupiter. Juno adalah dewi feminin yang melambangkan harkat kewanitaan yang membawa kebahagian keluarga. Bagi sementara kelangan, terutama masyarakat eropa, bulan juni dianggap bulan yang paling baik untuk melangsungkan perkimpoian. Mereka percaya bahwa kimpoi pada bulan juni akan membawa kebahagiaan bagi pasangan pengantin dan keturunannya.

Juli: bulan ketujuh ini pada mulanya bernama quintilis dan aslinya terletak pada urutan kelima. Tetapi ketika roma dikuasai oleh mark anthony nama bulan itu diubah menjadi juli, diambil dari nama julius caesar sebagai penghormatan kepada kaisar romawi yang terkenal itu. Tidak disebutkan apakah mark anthony juga memindahkan urutan bulan seperti tersebut diatas.

Agustus: bulan kedelapan ini juga berasal dari nama kaisar roma; agustus. Bahkan dia sendiri pula menempatkan namanya dalam kalender tersebut. Konon untuk kekuasaannya dia merubah jumlah hari, mengurangi jumlah pada bulan februari lalu menambahkannya pada bulan agustus. Itu sebabnya maka bulan februari menjadi bulan paling sedikit jumlah harinya.

September: september berasal dari kata septa, bahasa latin berarti tujuh. Pada mulanya bulan september memang berada pada urutan ketujuh pada kalender julian. Tapi pada abad kedelapan sebelum masehi, pembagian tahun dirubah dari 10 bulan menjadi 12 bulan, tanpa merubah namanya terlebih dahulu bulan september ditempatkan di urutan kesembilan dan berlaku sampai saat ini

Oktober: nama bulan oktober berasal dari kata okto, bahasa latin yang berarti delapan, semula berada pada urutan kedelapan dan bergeser keurutan sepuluh mengikuti pergeseran perubahan bulan-bulan dalam satu tahun.

November: mengikuti urutan bilangan latin, november berasal dari kata novem yang berarti sembilan. Sebelum diadakan pembaharuan di jaman julius caesar, bulan november hanya mempunyai 29 hari, bukan 30 hari seperti yang dikenal sekarang.

Desember: baik pada zaman romawi kuno maupun pada masa modern sekarang ini, bulan desember merupakan bulan terakhir dari penanggalan setahun. Desember berasal dari kata decem yang berarti kesepuluh. Hal ini dikarenakan dahulunya bulan ini berada pada urutan ke-10 bukan pada urutan ke-12 pada saat sekarang.

Tahun Kabisat 29 Februari

Kalender seharusnya sesuai dengan tahun matahari, dengan kata lain, lamanya waktu yang dibutuhkan untuk Bumi dalam  sekali mengelilingi Matahari. Tapi banyak hal yang tidak sesederhana itu.

Sebenarnya Bumi  untuk menyelesaikan dalam mengelilingi matahari   terjadi  dalam waktu  65 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik  (sekitar 365 1/4 hari). Jam tersebut dapat bertambah secara bertahap sehingga setelah empat tahun pada kalender terjadi penambahan waktu  sekitar satu hari. Menambahkan satu hari setiap empat tahun memungkinkan kalender untuk menyesuaikan lagi dengan tahun matahari .
Namun, karena tahun matahari tidak tepat 365 hari, bahkan menambahkan hari kabisat setiap empat tahun sekali berarti bahwa sistem kalender masih di luar dari tahun matahari karena kekurangan waktu 11 menit dan 14 detik setiap tahunnya. Selama 400 tahun ini akan menambah hingga tambahan tiga hari. Untuk mengatasi masalah ini diputuskan untuk meninggalkan tahun kabisat tiga kali setiap 400 tahun. Jadi, aturan baru itu, tahun abad (1600, 1700, 1800, dll) hanya akan menjadi tahun kabisat jika tahun itu dapat dibagi  habis dengan angka 400. Ini berarti bahwa tahun 2000 adalah tahun kabisat, tetapi 2100 tidak terjadi (2100 : 400 = 5 sisanya 100 atau 5,25 bukan angka bulat) .

Orang Mesir adalah orang pertama untuk memikirkan menambahkan hari kabisat ke kalender setiap empat tahun. Kemudian, orang-orang Romawi menyempurnakan gagasan itu. Pada 1582 Paus Gregorius XIII mereformasi kalender Julian (diperkenalkan oleh Julius Caesar pada 45 SM). Pada saat Paus Gregory kalender telah bergeser 14 hari dari jalur. Ia dengan rapi memecahkan ini dengan memotong sepuluh hari dari kalender, mengatakan kepada semua orang bahwa sehari setelah 4 Oktober akan menjadi 15 Oktober. Sial buat orang yang hari ulang tahunnya  pada waktu itu.

Kalender Romawi lebih awal, jauh sebelum waktu Julius Caesar, mulai tahun ini dengan bulan Maret. Itu terdiri dari sepuluh bulan, masing-masing berlangsung sekitar 30 hari, berakhir dengan Desember. Mereka sepertinya tidak sudah menghitung bulan-bulan musim dingin. Diperkirakan bahwa dua bulan tambahan, Januari dan Februari, ditambahkan sekitar tahun 715-673 SM.

Hal ini akan membuat Februari pada akhir tahun, yang mungkin menjelaskan mengapa hari kabisat ditambahkan ke bulan itu. Kemudian ia memutuskan untuk memulai tahun ini dengan Januari, satu bulan yang berisi perayaan yang didedikasikan untuk Janus, dewa pintu gerbang.

Kalender Masehi

Perhitungan kalender Masehi berdasarkan pada rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya) dan revolusi bumi (peredaran bumi mengelilingi matahari). Menurut sistem Yustisian 1 tahun = 365,25 hari dan hitungan kesatu (tahun pertama masehi) dimulai pada kelahiran Yesus menurut keyakinan kaum Nasrani. Dasar perhitungan menurut sistem Yustisian tersebut adalah : pertama, rotasi bumi disebut satu hari = 24 jam dan kedua revolusi bumi disebut satu tahun = 365,25 hari.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Kaisar Romawi pada tahun 47 SM menetapkan kalender dengan ketentuan :
  • Satu tahun berumur 365 hari dengan kelebihan 6 jam setiap tahun
  • Setiap tahun yang keempat atau angkanya habis dibagi 4 maka umurnya menjadi 366 hari disebut tahun kabisat (tahun panjang), sedangkan tahun biasa (non kabisat atau tahun pendek) berumur 365 hari. Cara menetapkannya ialah apabila tahun tersebut habis dibagi 4 berarti tahun kabisat. Misalnya tahun 1995 : 4 = 498,7 bukan tahun kabisat sedangkan tahun 1996 : 4 = 499 adalah tahun kabisat.
Perkembangan selanjutnya pada abad ke-16 terjadi pergeseran dari biasanya yaitu musim semi yang biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret telah maju jauh, maka dilakukan suatu koreksi. Apabila sebelum perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari maka sejak saat itu satu tahun menjadi 365,2425 hari. Itu berdasar pada perhitungan bahwa revolusi bumi bukan 365 hari lebih 6 jam tetapi tepatnya 365 hari 5 jam 56 menit atau 365 hari lebih 6 jam kurang 4 menit.

Oleh sebab itu pada tanggal 21 Maret 1582 terjadi pergeseran sehingga awal musim semi jatuhnya lebih maju di Eropa. Untuk koreksi akibat adanya pembulatan 4 menit selama 15 abad tersebut maka Paus Gregorius XIII menetapkan sebagai berikut :
  • Setiap tahun tang habis dibagi 100 meskipun habis dibagi 4 yang menurut ketentuan sebelumnya adalah tahun kabisat tidak lagi menjadi tahun kabisat. Hal itu karena pembulatan satu hari untuk tahun kabisat setiap 4 tahun tersebut mendahului beberapa menit dari sebenarnya, maka diadakan pembulatan lagi pada setiap 100 tahun.
  • Setiap 400 tahun sekali diadakan pembulatan satu hari, jadi meski habis dibagi 100 maka tetap menjadi tahun kabisat. Dasar perhitungannya adalah dengan kelebihan 4 menit setahun maka 400 tahun menjadi 1600 menit = 26 jam 40 menit.
  • Untuk menghilangkan kelebihan dari pembulatan yang telah terjadi sebelumnya maka dilakukan pemotongan hari, yaitu sesudah tanggal 4 Oktober 1582, hari berikutnya langsung menjadi tanggal 15 Oktober 1582. jadi tanggal 5 – 14 Oktober 1582 (selama 10 hari) tidak pernah ada dalam penanggalan Masehi.
Dengan dasar perhitungan koreksi tersebut maka sejak tahun 1600 sampai 2000 terjadi koreksi 3 kali yaitu tahun 1700, 1800 dan 1900. Hal ini adalah karena sesuai ketentuan sebelum tahun 1582 setiap tahun habis dibagi 4 adalah tahun kabisat. Namun sejak tahun 1582 berlaku ketentuan baru bahwa setiap tahun yang habis dibagi 100 tidak menjadi tahun kabisat kecuali untuk tahun yang habis dibagi 400. Dengan demikian tahun 1600 dan 2000 tetap tahun kabisat karena habis dibagi 400. tahun yang habis dibagi 4 yang tidak menjadi tahun kabisat untuk masa setelah tahun 2000 adalah tahun 2010, 2200, 2300 sedangkan tahun 2400 tetap tahun kabisat karena habis dibagi 400.

Kesimpulan yang bisa didapat pada perjalanan tahun Masehi dari tahun 1 – 2000 adalah :
  • tahun 1 – 1582 semua tahun yang habis dibagi 4 adalah tahun kabisat
  • tanggal 5 – 15 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam kalender penanggalan
  • tahun 1700, 1800, 1900 bukan merupakan tahun kabisat (3 tahun terjadi koreksi 3 hari)
Siklus tahun Masehi adalah 4 tahunan untuk siklus kecil (4 X 365) + 1 = 1461 hari sedangkan siklus besarnya setiap 400 tahun (100 X 1461) – 3 = 146097. Bulan Februari pada tahun biasa (bukan kabisat) berumur 28 hari sedang pada bulan tahun kabisat berumur 29 hari. Bulan yang berumur 31 hari adalah bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember. Bulan yang berumur 30 hari ialah bulan April, Juni, September dan Nopember.

Tahun Kabisat

Tahun kabisat 2016 adalah tahun dimana bulan februari terhitung mengalami perhitungan 29 hari setiap empat tahun sekali, hal ini berbeda pada bulan februari di tiga tahun sebelumnya yang mengalami perhitungan hanya sebanyak 28 hari.

Setiap 4 tahun sekali kita mengalami tahun kabisat dimana pada satu tahun tertentu ada penambahan satu hari di bulan februari yang kemudian mempengaruhi total hari dalam tahun kabisat menjadi 366 hari, berbeda dengan tahun biasanya yang berjumlah 365 hari.

Perhitungan tahun kabisat diambil dari tahun yang dapat dibagi dengan empat, asal mula menentukan tahun kabisat adalah karena adanya kejanggalan jumlah hari ketika planet bumi mengelilingi matahari dalam periode satu tahun, dimana kita mengenal sebelumnya waktu yang diperlukan bumi berotasi untuk mengelilingi bintang matahari membutuhkan 365 hari padahal kenyataannya memerlukan waktu 365 lebih 1/4 hari.

Cara menentukan tahun kabisat

Ada perhitungan khusus untuk menentukan tahun kabisat, algoritma ini diambil berdasarkan pembagian menurut angka 100, 400 dan angka 4 yang menentukan hasil pasti tahun kabisat

  • Jika jumlah angka tahun habis dibagi 400 maka tahun tersebut bisa dipastikan bukan tahun kabisat.
  • Jika jumlah angka tahun tidak habis dibagi 400 tetapi bisa habis dibagi dengan 100 maka tahun itu pastilah juga bukan tahun kabisat.
  • Jika jumlah angka tahun tersebut tidak habis dibagi 400 juga tidak habis dibagi dengan angka 100 akan tetapi bisa habis dibagi 4, maka tahun itu bisa ditetapkan sebagai tahun kabisat.
  • Jika jumlah angka tahun tidak habis dibagi 400, tidak pula habis dibagi dengan 100, dan tidak juga habis dibagi dengan angka 4, maka tahun tersebut bukanlah merupakan tahun kabisat.

Sejarah Tahun Kabisat Dan Asal Mulanya

Dalam perjalanan sejarah tahun kabisat banyak mengalami perubahan karena adanya penyesuaian-penyesuaian untuk menggenapkan perhitungan tahun agar habis dbagi 4, tercatat penentuan ini dilakukan pertama kali pada masa Julius caesar yang memerintahkan astronomnya untuk menentukan penanggalan yang pasti.

Ahli perbintangan dimasa itu bernama Sosigenes mengambil perhitungan hari disetiap tahunnya mendapatkan jumlah 365,25 kemudian menetapkan satu tahun masing-masing berjumlah 365 hari, dan untuk menetapkan sisanya yang berjumlah 1/4 hari dikompensasikan pada setiap 4 tahun sekali dibulan februari yang kemudian dikenal dengan tahun kabisat.

Perhitungan untuk menentukan tahun kabisat akan tetap berlanjut karena harus menyesuaikan dengan perubahan penanggalan yang “bersisa” yaitu 365,25 menurut edaran bumi yang mengelilingi matahari tak terkecuali dengan tahun kabisat 2016 dibulan februari yang terjadi setiap 4 tahun sekali.