Sejarah Dunia Kuno
Feb 10, 2016
Negara Republik Turki
Negara Turki adalah negara di dua benua. Dengan luas wilayah sekitar 814.578 kilometer persegi, 97% (790.200 km persegi) wilayahnya terletak di benua Asia dan sisanya sekitar 3% (24.378 km persegi) terletak di benua Eropa. Posisi geografi yang strategis itu menjadikan Turki jembatan antara Timur dan Barat. Bangsa Turki diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam, Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Ustmani dan pengaruh negara-negara Barat Modern. Hingga saat ini bangunan-bangunan bersejarah masa Bizantium masih banyak ditemukan di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki. Yang paling terkenal adalah Aya Sofya, suatu gereja di masa Bizantium yang berubah fungsinya menjadi masjid pada masa Khalifah Ustmani dan sejak pemerintahan Mustafa Kemal hingga kini dijadikan museum.
Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Ustmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam yang muncul di Jazirah Arab dan telah berkembang lama di wilayah Persia, berkembang di wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki dengan membawa peradaban dua bangsa tersebut. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan pengaruh yang kuat kedua peradaban tersebut ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Kondisi ini menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab. Suatu anggapan yang keliru yang selalu ingin diluruskan oleh bangsa Turki sejak tumbuhnya nasionalisme pada abad ke-19. Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki.
Masyarakat Indonesia mengenal Turki sebagai suatu negara berpenduduk mayoritas Muslim. Kita juga mengenal Turki sebagai bangsa yang pernah memimpin dunia Islam selama tujuh ratus tahun, dari permulaan abad ke-13 hingga jatuhnya Kekhalifahan Ustmani pada awal abad ke-20. Fenomena kehidupan masyarakat Turki menjadi menarik ketika negara Turki yang berdiri tahun 1923 menyatakan sebagai sebuah negara sekuler, di mana Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad, dijauhkan peranannya dan digantikan oleh sistem Barat.
KONSPIRASI MENGHANCURKAN KHALIFAH
Di dalam negara, ahli dzimmah-khususnya orang Kristen yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khalifah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535), dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini dimanfaatkan misionaris yang mulai menjalankan gerakan sejak abad 16 . Malta dipilih sebagai pusat gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773. Di tengah mundurnya intelektualitas dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Pusat kajian ini kebanyakan milik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang digunakan Barat untuk mengemban kepemimpinan intelektualnya di Dunia Islam, disertai serangan mereka terhadap pemikiran Islam. Serangan ini sudah lama dipersiapkan orientalis Barat, yang mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad 14.
Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di dunia Islam. Untuk menguasainya, meminjam istilah Imam al-Ghozali. Islam sebagai asas harus hancur, dan khalifah Islam harus runtuh. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam. Sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khalifah sebagai "Orang Sakit". Agar kekuatan khalifah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khalifah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz.
Sejak pertengahan abad ke-18 gerakan ini dimanfaatkan Inggris melalui agennya Ibn Sa'ud untuk menyulut pemberontakan di beberapa wilayah Hijaz dan sekitarnya, yang sebelumnya gagal dilakukan Inggris lewat gerakan kesukuan. Walau begitu, akhirnya gerakan ini bisa dibendung di beberapa wilayah oleh khalifah lewat Muhammad Ali Pasha, Gubernur Mesir yang ternyata agen Prancis didukung Prancis. Di Eropa, wilayah yang dikuasai khalifah diprovokasi agar memberontak (abad 19-20 M), seperti kasus Serbia, Yunani, Bulgaria, Armenia dan terakhir Krisis Balkan, sehingga khalifah Turki Utsmani kehilangan banyak wilayahnya, dan yang tersisa hanya Turki.
Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khalifah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah khalifah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, Kedunbes Inggris dan Perancis di Istanbul dan daerah-daerah basis khalifah seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah telah menjadi pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istanbul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khalifah.
Kedubes negara Eropa pun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul 'Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum Literal dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913 M, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis di Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khalifah yang didukung Inggris dan Prancis.
Di Markas Istanbul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan universitas lewat propaganda. Mereka ingin memukul khalifah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai dilakukan Rasyid Pasha, MenLu zaman Sultan Abdul Mejid II (1839 M). Tahun itu juga, Naskah Terhormat(Kholkhonah) yang dijiplak dari UU di Eropa diperkenalkan. Tahun 1855 M, negara-negara Eropa khususnya Inggris memaksa khalifah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855 M). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September 1876 M). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port pun enggan melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari'at. Midhat Pasha pun dipecat dari kedudukan perdana menteri. Turki Muda yang berpusat di Salonika pusat komunitas Yahudi Dunamah memberontak (1908 M). Khalifah dipaksanya yang menjalankan keputusan Konferensi Berlin mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam khalifah Turki Utsmani (17 November 1908 M). Bekerja sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir.
Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan khalifah Turki Ustmani secara total. Perang Dunia I (1914 M) dimanfaatkan Inggris menyerang Istanbul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah kampanye Dardanella yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915 M). Ia agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika melakukan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khalifah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dll mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme. Masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.
TURKI DI BAWAH PIMPINAN MUSTAFA KEMAL PASHA (ATATURK)
Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan. Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Meskipun demikian, Mustafa Kemal bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp, seorang sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp adalah sintesa antara tiga unsur yang membentuk karakter bangsa Turki, yaitu ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi.Dengan demikian Mustafa dan pengikutnya menggerakkan reformasi-reformasi di Turki dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh para pembaru-pembaru di kekhalifahan Turki. Pada perkembangan selanjutnya ide-ide reformasi Mustafa Kemal menjadi suatu gerakan politik pemerintah yang dikenal dengan sebutan Kemalisme.
KEMALISME: SUATU REVOLUSI BUDAYA DAN NEGARA (1923-1950)
Politik Kemalis ingin memutuskan hubungan Turki dengan sejarahnya yang lalu supaya Turki dapat masuk dalam peradaban barat. Oleh karena itulah penghapusan kekhalifahan merupakan agenda pertama yang dilaksanakan. Pada tanggal 1 November 1922 Dewan Agung Nasional pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan kekhalifahan. Selanjutnya pada tanggal 13 Oktober 1923 memindahkan pusat pemerintahan dari Istanbul ke Ankara. Akhirnya Dewan Nasional Agung pada tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan terbentuknya negara Republik Turki dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik Turki.
Setelah meniadakan kekhalifahan, politik Kemalisme menghapuskan lembaga-lembaga syariah, meskipun sebenarnya peranan lembaga ini sudah sangat dibatasi oleh para pembaru Kerajaan Ustmani. Bagi Kemalis, syariat adalah benteng terakhir yang masih tersisa dari sistem keagamaan tradisional. Lebih lanjut lagi Kemalis menutup sekolah-sekolah madrasah yang sudah ada sejak tahun 1300-an sebagai suatu lembaga pendidikan Islam. Reformasi agama adalah salah satu contoh tindakan ekstrim dari rezim Kemalis setelah penghapusan khalifah. Reformasi ini bertujuan untuk memisahkan agama dari kehidupan politik negara dan mengakhiri kekuatan tokoh-tokoh agama dalam masalah politik, sosial dan kebudayaan. Selain itu Mustafa Kemal juga mengajukan pemikiran tentang nasionalisme agama. Menurutnya agama merupakan suatu lembaga sosial dan karena itu harus disesuaikan dengan sosial dan budaya masyarakat Turki.
Suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi di Universitas Istanbul untuk memodernisasikan Islam. Komite ini menyebarkan keinginan Mustafa kemal untuk mengganti bentuk dan suasana mesjid seperti bentuk dan suasana gereja di negara-negara barat, dengan menekankan pada: pentingnya masjid yang bersih, dengan bangku-bangku dan ruang tempat menyimpan mantel, mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih, menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki, menyediakan alat-alat musik ditempat shalat untuk memperindah bentuk shalat, dan mengubah teks-teks khutbah yang telah ada dengan khutbah yang berisi pemikiran agama berdasarkan filsafat barat. Pada tahun 1932 pemerintah mengeluarkan kebijakan mengganti pengucapan adzan ke dalam bahasa Turki, yang amat ditentang oleh mayoritas masyarakat Muslim Turki.
Reformasi agama, yang bentuknya upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam ini merupakan bentuk campur tangan pemerintah Kemalis dalam kehidupan beragama di masyarakat Turki. Sekularisme yang sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan, dimana negara menjamin kebebasan beribadah, bagi warga negara, pada pelaksanaannya dijalankan dengan semangat nasionalisme yang radikal dan dipaksakan oleh Kemalis. Namun penerapan nasionalisasi agama ini hanya bertahan hingga akhir pemerintahan Kemalis (Partai Rakyat Republik). Sejak tahun 1950, adzan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Masjid-masjid di Turki pun hingga saat ini tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana masjid di negara-negara lainnya.
Peradaban menurut Mustafa Kemal, berarti peradaban barat. Tema utama dari pandangannya tentang pem-Barat-an adalah bahwa Turki harus menjadi bangsa barat dalam segala tingkah laku. Untuk itu Pemerintah Kemalis mengeluarkan kebijakan larangan menggunakan pakaian-pakaian yang dianggap pakaian agama di tempat-tempat umum dan menganjurkan masyarakat Turki menggunakan pakaian sebagaimana orang-orang barat berpakaian (berjas dan bertopi). Peraturan ini mulai efektif pada November 1925 dan hingga saat ini masyarakat Turki menggunakan pakaian ala Barat. Sampai saat ini pemakaian jas sudah menjadi ciri umum dari masyarakat Turki. Sedangkan pemakaian topi menghilang bersamaan dengan menghilangnya kebiasaan memakai topi itu pada masyarakat Eropa.
Mustafa Kemal juga mengkritik pemakaian jilbab oleh wanita-wanita Turki, tapi semasa hidupnya tidak ada undang-undang yang secara tegas melarang pemakaian jilbab tersebut. Pelarangan jilbab secara konstitusional baru terjadi pada tahun 1998, sebagai reaksi militer atas munculnya fenomena kesadaran yang tinggi dari muslimah-muslimah Turki dalam menggunakan jilbab dan juga reaksi atas kemenangan Partai Islam Refah pada pemilu tahun 1995.
Selain reformasi agama, reformasi yang paling penting dari rezim Kemalis adalah reformasi bahasa. Tulisan Arab diganti dengan tulisan Latin, berdasarkan undang-undang yang diputuskan oleh Dewan Nasional Agung pada 3 Novemeber 1928. Tujuan reformasi bahasa adalah membebaskan bahasa Turki dari ‘belenggu’ bahasa asing. Penekanannya adalah pemurnian bahasa Turki dari bahasa Arab dan Persi. Mustafa Kemal mengadakan kunjungan di banyak tempat untuk mengajar secara langsung tulisan baru pada rakyat Turki. Reformasi bahasa ini memberi sumbangan yang berharga bagi perkembangan linguistik bahasa Turki saat ini. Penelitian yang mendalam terhadap akar bahasa dan struktur bahasa Turki membuktikan bahwa bahasa Turki termasuk kelompok bahasa Altay, yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah yang membentang dari Finlandia hingga Manchuria. Dari segi gramatikal, bahasa Turki termasuk bahasa aglutinatif, yaitu bahasa berimbuhan. Struktur sintaksis memperlihatkan pola Objek-Predikat, dimana Predikat selalu berada di akhir kalimat.
Ciri-ciri struktural bahasa Turki memperlihatkan perbedaannya yang jelas dengan bahasa Arab.
Komite ahli hukum mengambil Undang-Undang sipil Swiss untuk memenuhi keperluan hukum di Turki menggantikan Undang-Undang Syariah, berdasarkan keputusan Dewan Nasional agung tanggal 17 februari 1926. Undang-Undang Sipil yang mulai diberlakukan pada tanggal 4 Oktober 1926 ini antara lain tentang: menerapkan monogami, melarang poligami dan memberikan persamaan hak antara pria dan wanita dalam memutuskan perkawinan dan perceraian. Sebagai konsekuensi dari persaman hak dan kewajiban ini hukum waris berdasarkan Islam dihapuskan. Selain itu undang-undang sipil juga memberi kebebasan bagi perkawinan antar agama. Pada I Januari 1935, pemerintah mengharuskan pemakaian nama keluarga bagi setiap orang Turki dan melarang pemakaian gelar-gelar yang biasa dipakai pada masa Turki Ustmani. Mustafa Kemal menambahkan nama Ataturk, yang berarti Bapak Bangsa Turki, sebagai nama keluarga. Pada tahun 1935 sistem kalender hijriyah diganti dengan sistem kalender masehi, hari Minggu dijadikan sebagai hari libur menggantikan hari libur sebelumnya yaitu hari Jumat.
Tentang sekularisasi dan modernisasi di Turki pada masa Rezim Kemalis seperti diuraikan di atas, Bryan S. Turner, seorang guru besar sosiologi di Universitas Flinders (Australia Selatan), menyimpulkan bahwa sekularisme tersebut merupakan suatu bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukanlah sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negara-negara Eropa. Selain itu sekularisasi di Turki pada saat itu merupakan peniruan secara sadar pola tingkah laku masyarakat Eropa yang dianggap modern dan lebih maju (1984:318). Bagi kemalis, manusia Turki baru tidak saja harus berpikiran rasional seperti orang-orang Eropa, tetapi juga harus meniru tatacara berperrilaku dan berpakaian seperti mereka.
MASYARAKAT TURKI PASCA KEMALISME
Mustafa Kemal meninggal dunia pada tanggal 10 November 1938, setelah tiga kali menjabat sebagai presiden Republik Turki, yaitu pada tahun 1927, 1931 dan 1935. Mustafa Kemal diakui berhasil menciptakan sistem pemerintahan parlementer dan meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi kehidupan demokratisasi di Turki. Partai Republik Rakyat adalah partai politik yang dibentuk Mustafa Kemal untuk menjalankan roda Pemerintahan. Meskipun demikian, sejarah Turki menunjukkan pemerintahan Kemal dengan sistem pemerintahan satu partai tidak memberi ruang bagi kemunculan partai oposisi. Iklim Demokrasi muncul kemudian sejak Turki menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1945 dan terus berkembang menunjukkan kemajuan yang pesat. Daniel Lerner (di dalam Memudarnya Masyrakat Tradisional, 1983) telah melakukan penelitian yang mendalam di suatu kota dekat Ankara pada tahun 1950-an, dan menyimpulkan bahwa negara Turki telah tumbuh menjadi negara yang relatif lebih stabil dan demokratis di banding dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
Reformasi budaya, terutama sekularisasi agama dan pemakaian hukum Barat menggantikan hukum Islam, memperlihatkan proses dinamis dari penerimaan dan penolakan masyarakat Turki. Sekularisasi agama pada masa Kemalis (1923-1950) melahirkan generasi Turki yang jauh dari agamanya. Bahasa Turki yang ditulis dalam bahasa latin telah menjadi bahasa nasional Turki. Sedangkan pemakaian hukum-hukum Barat juga diadaftasi dengan berbagai tingkatan kesulitan di berbagai lapisan msyarakat.
Pada pemilu 1950, kekuasaan tunggal Partai Republik Rakyat berakhir dan digantikan oleh partai sekuler beraliran liberal, yaitu Partai Demokrat. Partai pimpinan Adnan Menderes ini mencoba mengoreksi penyimpangan-penyimpangan sekularisasi yang sudah dijalankan oleh Partai Republik Rakyat sejak berdirinya negara Turki. Namun Adnan menderes juga tidak ingin Kemalisme digantikan dengan ideologi lain. Sejak masa pemerintahan Partai Demokrat inilah masyarakat Muslim yang merupakan mayoritas (98 persen dari 70 juta jiwa) penduduk Turki dapat melakukan shalat di masjid-masjid umum, berpuasa dan melakukan ibadah naik haji, yang pada masa Rezim Kemalis sulit dilakukan. Selain itu madrasah-madrasah kembali di buka, sehingga para orang tua dapat kembali menyekolahkan anak mereka di sekolah agama, setelah mereka menyadari bahwa mereka tumbuh sebagai suatu generasi yang kering dari nilai dan ilmu agama. Madrasah-madrasah ini kembali ditutup pada tahun 1998 setelah dianggap sebagai lembaga yang mendidik kelompok Islam fundamental yang keberadaannya menguat dan mengancam ideologi sekuler Turki
Perkembangan masyarakat di Turki menemukan karakter sendiri yang unik sebagai suatu bentuk pertentangan yang rumit antara pemikiran Kemalisme, yang fundamental dan radikal, pemikiran liberalis yang meskipun menentang Kemalisme tetapi tidak ingin ideologi ini diganti, dan pemikiran Islam, baik yang konservatif maupun moderat. Semangat masyarakat Turki modern untuk menjadi suatu bangsa yang modern dan demokratis, selalu disertai dengan kesadaran yang mendalam tentang watak dan idealisme ke-Turki-an dan ke Islaman. Penulis melihat bahwa gagasan sintesa tentang Islam, Turki dan Barat yang pernah dimunculkan oleh Ziya Gokalp (Bapak naasionalis Turki) mulai terimplementasikan dengan wajar dan alami, sedangkan Kemalisme dijadikan ideologi negara yang keberadaannya sangat dijaga oleh kekuatan militer Turki.
Militer Turki mengambil peran sebagai penjaga ideologi Kemalisme sebagai prinsip negara. Jatuhnya pemerintahan Partai Islam Refah pada tahun 1998 adalah suatu bukti masih dominannya pengaruh politik militer di Turki. Namun kebangkitan Islam, baik itu suatu fenomena kesadaran umat Islam Turki untuk kembali mempelajari nilai-nilai Islam di tengah kebijakan sekuler pemerintah dan fenomena dukungan masyarakat Islam terhadap kemenangan partai politik yang dianggap membawa aspirasi Islam terus memperlihatkan kemajuan ke arah yang positif. Aspirasi dan dukungan yang besar dari masyarakat Turki kembali mengantarkan kemenangan partai berbasis Islam, Partai Keadilan dan Pembangunan dalam pemilu 2002. Meskipun secara tegas pemimpin partai ini menyatakan bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan bukanlah partai Islam dan mereka menyatakan komitmennya yang sungguh-sungguh menjaga ideologi sekularisme di Turki, nampaknya Rakyat Turki lebih melihat mereka sebagai sosok-sosok muslim yang shaleh yang diharapkan dapat membawa Turki ke arah yang lebih maju.
Feb 9, 2016
Gereja Berumur 1.500 Tahun di Kapadokia Turki
Sebuah gereja Bizantium bawah tanah berumur sekitar 1.500 tahun telah ditemukan di Turki dengan lukisan dinding yang menggambarkan Yesus.
Gereja ini ditemukan di dunia kota bawah tanah terbesar di wilayah Kapadokia Turki tengah.
Lukisan dinding menggambarkan peristiwa Yesus naik ke Surga. Ada juga yang menunjukkan Yesus menghancurkan si jahat di Pengadilan Akhir Zaman. lukisan dinding lainnya menggambarkan para rasul, orang-orang kudus dan para nabi.
Arkeolog menyarankan gereja bisa berusia lebih dari 1.500 tahun dan masih memegang banyak rahasia yang bisa terungkap, karena hanya atap dan bagian-bagian paling atas dari dinding yang telah ditemukan.
Penemuan ini terjadi saat dimulainya proyek perumahan perkotaan di kota Nevsehir.
“Kita tahu bahwa lukisan dinding tersebut sejauh ini tidak pernah terlihat di gereja lain,” kata Hasan Unver, Wali Kota NevĂ…ehir. “Gereja itu dibangun di bawah tanah dan memiliki lukisan dinding asli yang bertahan sampai hari ini. Tempat ini bahkan lebih besar dari gereja-gereja bersejarah lainnya di Kapadokia.”
“Dilaporkan bahwa beberapa lukisan dinding di sini adalah unik. Ada penggambaran yang menarik, misalnya ikan jatuh dari tangan Yesus Kristus, dia naik ke langit, dan jiwa-jiwa yang jahat dimusnahkan. Ketika gereja benar-benar terungkap, Kapadokia bisa menjadi pusat ziarah gereja Ortodoks,” kata Unver.
Penggalian akan terus dilakukan di musim semi. Ketika pertama kali ditemukan, gereja dipenuhi dengan tanah, dan potongan lukisan harus dikumpulkan secara terpisah. Peneliti utama dari gereja dan kota bawah tanah, Semih Istanbulluoglu, mengatakan, “Struktur ini ditemukan beberapa waktu yang lalu. Lukisan dinding ini akan kembali ke tampilan aslinya setelah restorasi dan pembersihan.”
Kapadokia
Kota Kapadokia adalah salah wilayah dengan komunitas Kristen mula-mula yang cukup signifikan. Penulis surat Petrus menyebut khusus komunitas ini (1 Ptr 1:1). Bisa jadi, komunitas ini terbentuk setelah peristiwa Pentakosta lima puluh hari setelah Kebangkitan Yesus (Kis 2:9), orang-orang Yahudi dari daratan Asia Kecil ini tercatat hadir di Yerusalem.
Daerah ini akhirnya dijadikan sebagai provinsi Romawi oleh Tiberius, 17 M, pada waktu kematian Arkhelaus. Pada tahun 70 M Vespasianus menyatukannya dengan Armenia Kecil sebagai benteng perbatasan kekaisaran Romawi. Di bawah pemerintahan kaisar-kaisar berikutnya, khususnya Trayanus, luas dan peranan provinsi ini maju pesat. Daerah ini menghasilkan banyak domba dan kuda. Jalur perdagangan antara Asia Tengah dan pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam melaluinya dan dapat dengan mudah dicapai dari Tarsus melalui Pintu Gerbang Kikilia.
Kekristenan di daerah ini berkembang sewaktu Kaisar Romawi Konstatinus Agung—yang memeluk Kristen—memindahkan ibu kotanya ke kota yang kini disebut Istanbul—disebut juga Bizantium. Kemudian kota itu diubah namanya seperti nama sang Kaisar Romawi: Konstantinopel. Setelah kekristenan yang berpusat di Roma dan di Istanbul terbelah, kerajaan Romawi di Timur juga dikenal dengan nama Kekaisaran Bizantium. Dan, daerah ini menjadi kiblat kekristenan Timur atau dikenal dengan nama kekristenan Ortodoks.
Pada 29 Mei 1453, kekaisaran Bizantium runtuh setelah diserbu kerajaan bani Ustmaniyah. Di bawah kekhalifahan Turki ini, kekristenan Timur mengalami penyusutan dan gereja-gereja akhirnya menghilang. Termasuk gereja di Kapadokia ini. Kekristenan di daerah itu makin menyusut setelah peristiwa genosida terhadap etnis Armenia pada 1915, empat tahun sebelum perang dunia pertama. Lebih dari 1,5 juta Kristen Armenia dibantai.
Setelah perang dunia I berakhir dengan kekalahan poros Jerman, Italia, dan Kekaisaran Ustmaniyah, kerajaan Turki ini akhir runtuh. Pada waktu kekuasaan kosong, perwakilan Turki dan Pemerintah Yunani membuat perjanjian pada 30 Januari 1923 di Lausanne, Swiss. Isi perjanjiannya adalah pertukaran penduduk Muslim di Yunani dan Kristen di Turki—banyak yang dari Kapadokia. Dari perjanjian itu, sekitar 1,5 juta Kristen Turki harus pindah ke Yunani. Dan, 500.000-an Muslim Yunani harus pindah ke Turki. Pada saat ini dari 75 juta penduduk Turki hanya tersisa sekitar 225.000-an orang Kristen Turki. Kebanyakan di Istanbul.
Gereja ini ditemukan di dunia kota bawah tanah terbesar di wilayah Kapadokia Turki tengah.
Lukisan dinding menggambarkan peristiwa Yesus naik ke Surga. Ada juga yang menunjukkan Yesus menghancurkan si jahat di Pengadilan Akhir Zaman. lukisan dinding lainnya menggambarkan para rasul, orang-orang kudus dan para nabi.
Arkeolog menyarankan gereja bisa berusia lebih dari 1.500 tahun dan masih memegang banyak rahasia yang bisa terungkap, karena hanya atap dan bagian-bagian paling atas dari dinding yang telah ditemukan.
Penemuan ini terjadi saat dimulainya proyek perumahan perkotaan di kota Nevsehir.
“Kita tahu bahwa lukisan dinding tersebut sejauh ini tidak pernah terlihat di gereja lain,” kata Hasan Unver, Wali Kota NevĂ…ehir. “Gereja itu dibangun di bawah tanah dan memiliki lukisan dinding asli yang bertahan sampai hari ini. Tempat ini bahkan lebih besar dari gereja-gereja bersejarah lainnya di Kapadokia.”
“Dilaporkan bahwa beberapa lukisan dinding di sini adalah unik. Ada penggambaran yang menarik, misalnya ikan jatuh dari tangan Yesus Kristus, dia naik ke langit, dan jiwa-jiwa yang jahat dimusnahkan. Ketika gereja benar-benar terungkap, Kapadokia bisa menjadi pusat ziarah gereja Ortodoks,” kata Unver.
Penggalian akan terus dilakukan di musim semi. Ketika pertama kali ditemukan, gereja dipenuhi dengan tanah, dan potongan lukisan harus dikumpulkan secara terpisah. Peneliti utama dari gereja dan kota bawah tanah, Semih Istanbulluoglu, mengatakan, “Struktur ini ditemukan beberapa waktu yang lalu. Lukisan dinding ini akan kembali ke tampilan aslinya setelah restorasi dan pembersihan.”
Kapadokia
Kota Kapadokia adalah salah wilayah dengan komunitas Kristen mula-mula yang cukup signifikan. Penulis surat Petrus menyebut khusus komunitas ini (1 Ptr 1:1). Bisa jadi, komunitas ini terbentuk setelah peristiwa Pentakosta lima puluh hari setelah Kebangkitan Yesus (Kis 2:9), orang-orang Yahudi dari daratan Asia Kecil ini tercatat hadir di Yerusalem.
Daerah ini akhirnya dijadikan sebagai provinsi Romawi oleh Tiberius, 17 M, pada waktu kematian Arkhelaus. Pada tahun 70 M Vespasianus menyatukannya dengan Armenia Kecil sebagai benteng perbatasan kekaisaran Romawi. Di bawah pemerintahan kaisar-kaisar berikutnya, khususnya Trayanus, luas dan peranan provinsi ini maju pesat. Daerah ini menghasilkan banyak domba dan kuda. Jalur perdagangan antara Asia Tengah dan pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam melaluinya dan dapat dengan mudah dicapai dari Tarsus melalui Pintu Gerbang Kikilia.
Kekristenan di daerah ini berkembang sewaktu Kaisar Romawi Konstatinus Agung—yang memeluk Kristen—memindahkan ibu kotanya ke kota yang kini disebut Istanbul—disebut juga Bizantium. Kemudian kota itu diubah namanya seperti nama sang Kaisar Romawi: Konstantinopel. Setelah kekristenan yang berpusat di Roma dan di Istanbul terbelah, kerajaan Romawi di Timur juga dikenal dengan nama Kekaisaran Bizantium. Dan, daerah ini menjadi kiblat kekristenan Timur atau dikenal dengan nama kekristenan Ortodoks.
Pada 29 Mei 1453, kekaisaran Bizantium runtuh setelah diserbu kerajaan bani Ustmaniyah. Di bawah kekhalifahan Turki ini, kekristenan Timur mengalami penyusutan dan gereja-gereja akhirnya menghilang. Termasuk gereja di Kapadokia ini. Kekristenan di daerah itu makin menyusut setelah peristiwa genosida terhadap etnis Armenia pada 1915, empat tahun sebelum perang dunia pertama. Lebih dari 1,5 juta Kristen Armenia dibantai.
Setelah perang dunia I berakhir dengan kekalahan poros Jerman, Italia, dan Kekaisaran Ustmaniyah, kerajaan Turki ini akhir runtuh. Pada waktu kekuasaan kosong, perwakilan Turki dan Pemerintah Yunani membuat perjanjian pada 30 Januari 1923 di Lausanne, Swiss. Isi perjanjiannya adalah pertukaran penduduk Muslim di Yunani dan Kristen di Turki—banyak yang dari Kapadokia. Dari perjanjian itu, sekitar 1,5 juta Kristen Turki harus pindah ke Yunani. Dan, 500.000-an Muslim Yunani harus pindah ke Turki. Pada saat ini dari 75 juta penduduk Turki hanya tersisa sekitar 225.000-an orang Kristen Turki. Kebanyakan di Istanbul.
Feb 4, 2016
Berapa Kali Yesus Diadili Sebelum Disalibkan?
Yesus mengalami enam kali pengadilan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, yaitu:
Demi mendapat persetujuan itu, mereka membawa Yesus kepada Pilatus, wakil pemerintahan Romawi di tanah Israel. Dalam pengadilannya Pilatus tidak menemukan kesalahan politis terhadap Yesus yang bisa membuat-Nya dihukum mati. Karena itu Pilatus mengirim-Nya kepada Herodes, raja boneka di wilayah Galilea yang diangkat pemerintah Romawi. Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes karena Yesus berasal dari daerah Galilea. Tetapi di pengadilan Herodes pun kesalahan Yesus tidak ditemukan, lalu Yesus dikembalikan lagi kepada Pilatus.
Pilatus berbicara kepada Yesus dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa Yesus tidak bersalah apa-apa. Yesus tidak mempunyai keinginan jahat, bukan orang yang memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Lalu Pilatus keluar mendapatkan orang-orang Yahudi dan mengumumkan pembebasan Yesus dari tuduhan-tuduhan mereka: "Aku ini tidak mendapati suatu kesalahan pun pada-Nya."
Seharusnya sampai di sini proses pengadilan itu sudah dapat diakhiri dengan pembebasan Yesus. Akan tetapi, karena desakan-desakan politis, ancaman-ancaman, dan intimidasi dari pihak pemimpin agama Yahudi, Pilatus yang mula-mula berdiri tegak hendak melepaskan Yesus, akhirnya terpaksa menyerah kalah terhadap tuntutan-tuntutan orang Yahudi itu, sehingga karena habis akal ia menyerahkan Yesus ke tangan mereka untuk disalibkan.
Hikmat yang bisa diambil dari pengadilan terhadap Yesus ini adalah: Yesus bukanlah orang berdosa yang harus dijatuhi hukuman mati. Pengadilan demi pengadilan membuktikan Ia bersih dari tuduhan apapun. Walaupun demikian Yesus mau naik juga di atas kayu salib karena Ia mengasihi kita manusia, Ia mau mati demi kita manusia yang berdosa ini.
- Pengadilan di hadapan Hanas (ayah mertua Kayafas)
- Pengadilan di hadapan Kayafas (Imam Besar)
- Pengadilan di hadapan Sanhedrin (Mahkamah Agama)
- Pengadilan di hadapan Pilatus (Gubernur Yerusalem) ke-1
- Pengadilan di hadapan Herodes (Gubernur Galilea)
- Pengadilan di hadapan Pilatus (Gubernur Yerusalem) ke-2
Demi mendapat persetujuan itu, mereka membawa Yesus kepada Pilatus, wakil pemerintahan Romawi di tanah Israel. Dalam pengadilannya Pilatus tidak menemukan kesalahan politis terhadap Yesus yang bisa membuat-Nya dihukum mati. Karena itu Pilatus mengirim-Nya kepada Herodes, raja boneka di wilayah Galilea yang diangkat pemerintah Romawi. Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes karena Yesus berasal dari daerah Galilea. Tetapi di pengadilan Herodes pun kesalahan Yesus tidak ditemukan, lalu Yesus dikembalikan lagi kepada Pilatus.
Pilatus berbicara kepada Yesus dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa Yesus tidak bersalah apa-apa. Yesus tidak mempunyai keinginan jahat, bukan orang yang memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Lalu Pilatus keluar mendapatkan orang-orang Yahudi dan mengumumkan pembebasan Yesus dari tuduhan-tuduhan mereka: "Aku ini tidak mendapati suatu kesalahan pun pada-Nya."
Seharusnya sampai di sini proses pengadilan itu sudah dapat diakhiri dengan pembebasan Yesus. Akan tetapi, karena desakan-desakan politis, ancaman-ancaman, dan intimidasi dari pihak pemimpin agama Yahudi, Pilatus yang mula-mula berdiri tegak hendak melepaskan Yesus, akhirnya terpaksa menyerah kalah terhadap tuntutan-tuntutan orang Yahudi itu, sehingga karena habis akal ia menyerahkan Yesus ke tangan mereka untuk disalibkan.
Hikmat yang bisa diambil dari pengadilan terhadap Yesus ini adalah: Yesus bukanlah orang berdosa yang harus dijatuhi hukuman mati. Pengadilan demi pengadilan membuktikan Ia bersih dari tuduhan apapun. Walaupun demikian Yesus mau naik juga di atas kayu salib karena Ia mengasihi kita manusia, Ia mau mati demi kita manusia yang berdosa ini.
Yusuf Bin Kayafas Dalang Kematian Yesus
Siapa yang tidak kenal dengan nama Kayafas. Dia yang bernama lengkap Yusuf bin Kayafas adalah tokoh agama sekaligus provokator utama demonstrasi di depan istana Pontius Pilatus saat terjadinya pengadilan Yesus. Kitab suci mencatat bahwa berkat kelicikannya mampu memutarbalikkan fakta di depan Pontius Pilatus membuat ribuan orang Israel yang sehari sebelumnya mengelu-elukan Yesus berbalik 180% mengecamNya bahkan menuntut hukuman mati. Seseorang tanpa dibekali keahlian di bidang politik tidak akan mampu meng-hipnotis massa sedemikian hebatnya untuk mendukung rencana politiknya.
Siapa Kayafas ini?
Dari banyak nama yang muncul sekitar menjelang kematian Kristus, Kayafas, yang saat itu menjabat sebagai Imam Agung, menjadi tokoh sentralnya. Dari penangkapan hingga penyaliban Kristus, Kayafaslah otak provokator yang banyak memainkan peran strategis politik dan agama demi tujuan pribadinya.
Kayafas pertama kali disebut dalam PB terdapat dalam Injil Lukas 3:2, ketika itu Yohanes Pembaptis memulai pekerjaannya. Dalam kutipan Injil itu disebutkan bahwa Hanas dan Kayafas adalah seorang Imam Agung.
Sejarah Israel mencatat bahwa Kayafas diangkat menjadi Imam Agung oleh Prokurator Valerius Gratus pada tahun 18 – 36M.
Sayangnya Kitab Suci tidak menjelaskan siapa dan dari suku mana Kayafas ini berasal. Namun jika melihat perkembangan jabatan Imam Agung dan pengaruhnya yang kuat dalam Sanhedrin, nampaknya Kayafas berasal dari golongan orang Saduki.
Orang Saduki dalam Sanhedrin atau Mahkamah Agama pada zaman PB umumnya mempunyai pengaruh politik yang cukup kuat. Pimpinan Mahkamah Agama ini selalu berasal dari kalangan mereka. Berbeda dengan 2 golongan lain dalam Mahkamah Agama yaitu para tuan tanah dan para ahli kitab, orang Saduki ini memiliki kuasa religius dan mengontrol lebih banyak kursi di dewan.
Awal kebenciannya terhadap Yesus
Orang Saduki adalah salah satu dari empat sekte dalam Yudaisme yang memandang bahwa satu-satunya keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa. Mereka selalu mencurigai setiap nabi yang ajarannya memungkinkan perpecahan bangsa. Selain itu demi menjaga privilegi para imam yang mendatangkan keuntungan pribadi, mereka harus memegang erat Pentateukh.
Ajaran kaum Saduki ini banyak ditentang oleh Yesus, bukan karena mereka ahli agama tetapi karena pemahamannya tentang Kitab Suci sungguh menyesatkan banyak orang. Itulah kemudian mengapa orang Saduki begitu amat membenci Yesus saat Yesus benar-benar menyebut kaum Saduki ini adalah sesat (Mark 12 : 24). Ditambah lagi usaha-usaha Kaum Saduki untuk menciptakan opini public yang jelek terhadap Yesus selalu kandas (Mat 22:34) membuat mereka harus bermain kasar untuk mencundangi Yesus (Mark 14:1-2).
Siapakah yang tidak resah dengan munculnya Yesus pada zaman itu jikalau bukan Kayafas, orang yang paling bertanggung jawab terhadap kemurnian jabatan imam-imam agama manakala eksistensinya diremehkan oleh Yesus.
Karena tanggung jawab inilah maka berbagai usaha dilakukan untuk menghadang sepak terjang Yesus. Permainan politis begitu kentara dilakukan Kayafas ini dari cara halus hingga kasar. Lihatlah contoh berikut ini :
- meminta tanda dari surga agar percaya (Mat 16 : 1)
- berdebat soal ajaran agama (Mat 22:23)
- mempertanyakan kuasa Yesus (Mat 21 :23)
- usaha membunuh Yesus (Mark 14 :1-2)
- memfitnah Yesus (Mat 26 :59)
- menghasut orang Israel untuk membunuh Yesus (Mat 27:20)
Apa motivasi Kayafas membunuh Yesus?
Jabatan Imam Besar dalam agama Yudaisme memiliki peranan strategis pada jaman itu. Jabatan ini memungkinkan seseorang bisa hidup nyaman, ekonomi terjamin, dan derajat hidup lumayan terpandang. Dari unsur politis, jabatan ini juga memiliki peranan mengatur orang banyak dalam satu tradisi agama sehingga kadang pemerintahan kurator Romawi sangat mengandalkan wibawa imam agama jika situasi jajahannya tidak terkendali. Maka lengkaplah sudah bahwa jabatan imam-imam agama dalam masyarakat Yahudi saat itu sangat kental dengan nuansa politis. Siapakah yang tidak menginginkan posisi ini saat suatu bangsa sedang tercengkram oleh panjajahan Romawi?
Kehadiran Yesus dengan ajaranNya yang cukup kontroversi, menurut mereka, benar-benar mengancam posisi imam-imam agama. Terlepas apakah mereka secara murni memang benar-benar tulus mempertahankan tradisi Saduki dengan banyak melakukan pertentangan terhadap Yesus, namun berkat daya kritis Yesus terhadap perilaku mereka nampaknya sudah mengancam eksistensi imam-imam agama dari segi ekonomi. Sebab seandainya kritik-kritik Yesus yang 100% benar saat itu didiamkan saja dan orang Yahudi berbalik mengikuti Yesus, darimana lagi sumber kemakmuran yang mereka dapatkan kelak?
Inilah mengapa Kayafas mati-matian mengejar Yesus hingga ke tiang penyaliban yang sesungguhnya tidak hanya masalah perbedaan ajaran tetapi lebih kepada motif politis yang berhubungan dengan sisi ekonomi dan gengsi jabatan atau elite. Jelaslah bahwa kematian Yesus itu berlatar belakang politis.
Dalam hal ini bukan menggugat Tuhan atas skenario yang terjadi pada akhir perjalanan Kristus di dunia, tetapi hanya ingin melihat sisi lain yang terlupakan oleh kita bahwa setiap jengkal peristiwa pasti memiliki latar belakangnya. Tuhan memang sudah menggariskan setiap peristiwa dalam catatanNya dan kita hanya perlu merefleksikan prosesnya. Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kematian Kristus ini, yang jelas Yusuf bin Kayafas, seorang imam agung Yahudi.
Siapa Kayafas ini?
Dari banyak nama yang muncul sekitar menjelang kematian Kristus, Kayafas, yang saat itu menjabat sebagai Imam Agung, menjadi tokoh sentralnya. Dari penangkapan hingga penyaliban Kristus, Kayafaslah otak provokator yang banyak memainkan peran strategis politik dan agama demi tujuan pribadinya.
Kayafas pertama kali disebut dalam PB terdapat dalam Injil Lukas 3:2, ketika itu Yohanes Pembaptis memulai pekerjaannya. Dalam kutipan Injil itu disebutkan bahwa Hanas dan Kayafas adalah seorang Imam Agung.
Sejarah Israel mencatat bahwa Kayafas diangkat menjadi Imam Agung oleh Prokurator Valerius Gratus pada tahun 18 – 36M.
Sayangnya Kitab Suci tidak menjelaskan siapa dan dari suku mana Kayafas ini berasal. Namun jika melihat perkembangan jabatan Imam Agung dan pengaruhnya yang kuat dalam Sanhedrin, nampaknya Kayafas berasal dari golongan orang Saduki.
Orang Saduki dalam Sanhedrin atau Mahkamah Agama pada zaman PB umumnya mempunyai pengaruh politik yang cukup kuat. Pimpinan Mahkamah Agama ini selalu berasal dari kalangan mereka. Berbeda dengan 2 golongan lain dalam Mahkamah Agama yaitu para tuan tanah dan para ahli kitab, orang Saduki ini memiliki kuasa religius dan mengontrol lebih banyak kursi di dewan.
Awal kebenciannya terhadap Yesus
Orang Saduki adalah salah satu dari empat sekte dalam Yudaisme yang memandang bahwa satu-satunya keselamatan yang mereka kenal adalah keselamatan berdasarkan komunitas bangsa. Mereka selalu mencurigai setiap nabi yang ajarannya memungkinkan perpecahan bangsa. Selain itu demi menjaga privilegi para imam yang mendatangkan keuntungan pribadi, mereka harus memegang erat Pentateukh.
Ajaran kaum Saduki ini banyak ditentang oleh Yesus, bukan karena mereka ahli agama tetapi karena pemahamannya tentang Kitab Suci sungguh menyesatkan banyak orang. Itulah kemudian mengapa orang Saduki begitu amat membenci Yesus saat Yesus benar-benar menyebut kaum Saduki ini adalah sesat (Mark 12 : 24). Ditambah lagi usaha-usaha Kaum Saduki untuk menciptakan opini public yang jelek terhadap Yesus selalu kandas (Mat 22:34) membuat mereka harus bermain kasar untuk mencundangi Yesus (Mark 14:1-2).
Siapakah yang tidak resah dengan munculnya Yesus pada zaman itu jikalau bukan Kayafas, orang yang paling bertanggung jawab terhadap kemurnian jabatan imam-imam agama manakala eksistensinya diremehkan oleh Yesus.
Karena tanggung jawab inilah maka berbagai usaha dilakukan untuk menghadang sepak terjang Yesus. Permainan politis begitu kentara dilakukan Kayafas ini dari cara halus hingga kasar. Lihatlah contoh berikut ini :
- meminta tanda dari surga agar percaya (Mat 16 : 1)
- berdebat soal ajaran agama (Mat 22:23)
- mempertanyakan kuasa Yesus (Mat 21 :23)
- usaha membunuh Yesus (Mark 14 :1-2)
- memfitnah Yesus (Mat 26 :59)
- menghasut orang Israel untuk membunuh Yesus (Mat 27:20)
Apa motivasi Kayafas membunuh Yesus?
Jabatan Imam Besar dalam agama Yudaisme memiliki peranan strategis pada jaman itu. Jabatan ini memungkinkan seseorang bisa hidup nyaman, ekonomi terjamin, dan derajat hidup lumayan terpandang. Dari unsur politis, jabatan ini juga memiliki peranan mengatur orang banyak dalam satu tradisi agama sehingga kadang pemerintahan kurator Romawi sangat mengandalkan wibawa imam agama jika situasi jajahannya tidak terkendali. Maka lengkaplah sudah bahwa jabatan imam-imam agama dalam masyarakat Yahudi saat itu sangat kental dengan nuansa politis. Siapakah yang tidak menginginkan posisi ini saat suatu bangsa sedang tercengkram oleh panjajahan Romawi?
Kehadiran Yesus dengan ajaranNya yang cukup kontroversi, menurut mereka, benar-benar mengancam posisi imam-imam agama. Terlepas apakah mereka secara murni memang benar-benar tulus mempertahankan tradisi Saduki dengan banyak melakukan pertentangan terhadap Yesus, namun berkat daya kritis Yesus terhadap perilaku mereka nampaknya sudah mengancam eksistensi imam-imam agama dari segi ekonomi. Sebab seandainya kritik-kritik Yesus yang 100% benar saat itu didiamkan saja dan orang Yahudi berbalik mengikuti Yesus, darimana lagi sumber kemakmuran yang mereka dapatkan kelak?
Inilah mengapa Kayafas mati-matian mengejar Yesus hingga ke tiang penyaliban yang sesungguhnya tidak hanya masalah perbedaan ajaran tetapi lebih kepada motif politis yang berhubungan dengan sisi ekonomi dan gengsi jabatan atau elite. Jelaslah bahwa kematian Yesus itu berlatar belakang politis.
Dalam hal ini bukan menggugat Tuhan atas skenario yang terjadi pada akhir perjalanan Kristus di dunia, tetapi hanya ingin melihat sisi lain yang terlupakan oleh kita bahwa setiap jengkal peristiwa pasti memiliki latar belakangnya. Tuhan memang sudah menggariskan setiap peristiwa dalam catatanNya dan kita hanya perlu merefleksikan prosesnya. Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kematian Kristus ini, yang jelas Yusuf bin Kayafas, seorang imam agung Yahudi.
Feb 3, 2016
Kayafas dan Pontius Pilatus
Dalam empat dasawarasa terakhir ini, penemuan-penemuan spektakuler telah memberikan data yang mendukung latar belakang sejarah Injil. Misalnya, pada tahun 1968, sisa rangka orang yang disalibkan ditemukan di sebuah gua kuburan di Yerusalem utara. Ini penemuan yang penting dan menentukan: Sekalipun orang-orang Roma diketahui telah menyalib ribuan orang yang didakwa penghianat, pemberontak dan perampok, sisa kurban penyaliban belum pernah ditemukan sebelumnya.
Tulang-tulang itu yang disimpan dalam peti mati terbuat dari batu – tampak milik seorang yang berumur duapuluhan. Terdapat bukti bahwa kedua pergelangan tangannya telah dilubangi dengan paku. Kedua lututnya dilipat dan direbahkan ke samping dan sebuah paku besi (masih terdapat di tulang tumit salah satu kaki) di tusukkan menembus kedua tumit. Tulang keringnya patah, mungkin sesuai yang dikatakan di Injil Yohanes (19:32): “Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;”
Telah lama disebutkan bahwa algojo Roma biasanya melemparkan mayat orang-orang yang disalib ke suatu kuburan massal atau membiarkannya tergantung di kayu salib hingga dimakan oleh binatang pemakan bangkai. Namun dengan ditemukannya sisa orang disalib sezaman dengan Yesus dalam suatu kuburan keluarga, ini jelas bahwa orang-orang Roma kadang-kadang membolehkan penguburan, sesuai dengan yang dikisahkan di Alkitab tentang penguburan Yesus.
Ketika sedang membangun sebuah taman tiga kilometer di selatan Bukit Kuil (Temple Mount) pada tahun 1990, para pekerja menemukan ruang kuburan yang tersembunyi, yang didalamnya terdapat 12 peti mati batu yang berasal dari abad pertama. Salah satunya, yang berdekorasi paling indah, menyimpan tulang orang yang berumur enampuluhan. Disitu tertulis “Yehosef bar Qayafa” “Yusuf, anak Kayafas.” Para ahli percaya bahwa itu jenasah Kayafas, seorang Imam Besar di Yerusalem, yang menurut Injil terlibat dalam penangkapan Yesus, menginterogasi-Nya dan menyerahkan-Nya pada Pontius Pilatus untuk disalibkan (Matius 26:57).
Peti mati Kayafas
Beberapa dasawarsa sebelumnya, pada saat penggalian di reruntuhan Caeserea Maritima, tempat kedudukan pemerintah Romawi di Yudea, sebuah balok batu yang memperlihatkan tulisan yang telah rusak ditemukan. Menurut para pakar, tulisan yang lengkap boleh jadi “Pontius Pilatus, gubernur Yudea, telah mempersembahkan pada rakyat Kaesarea, sebuah kuil sebagai penghormatan pada Tiberius.”
Penemuan ini benar-benar penting ini satu-satunya prasasti yang menyebut nama Pilatus, dan mengukuhkan bahwa orang yang disebutkan di Injil sebagai gubernur Roma di Yudea itu memang ada dan memiliki kekuasaan seperti yang dituliskan oleh para penulis Injil.
Catatan arkeologi memang tidak banyak menyebut sejarah Alkitab. Namun para arkeologis yakin bahwa lebih banyak bukti masih terkubur di bawah gurun pasir Timur Tengah – menunggu sampai ditemukan.
Tulang-tulang itu yang disimpan dalam peti mati terbuat dari batu – tampak milik seorang yang berumur duapuluhan. Terdapat bukti bahwa kedua pergelangan tangannya telah dilubangi dengan paku. Kedua lututnya dilipat dan direbahkan ke samping dan sebuah paku besi (masih terdapat di tulang tumit salah satu kaki) di tusukkan menembus kedua tumit. Tulang keringnya patah, mungkin sesuai yang dikatakan di Injil Yohanes (19:32): “Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;”
Telah lama disebutkan bahwa algojo Roma biasanya melemparkan mayat orang-orang yang disalib ke suatu kuburan massal atau membiarkannya tergantung di kayu salib hingga dimakan oleh binatang pemakan bangkai. Namun dengan ditemukannya sisa orang disalib sezaman dengan Yesus dalam suatu kuburan keluarga, ini jelas bahwa orang-orang Roma kadang-kadang membolehkan penguburan, sesuai dengan yang dikisahkan di Alkitab tentang penguburan Yesus.
Ketika sedang membangun sebuah taman tiga kilometer di selatan Bukit Kuil (Temple Mount) pada tahun 1990, para pekerja menemukan ruang kuburan yang tersembunyi, yang didalamnya terdapat 12 peti mati batu yang berasal dari abad pertama. Salah satunya, yang berdekorasi paling indah, menyimpan tulang orang yang berumur enampuluhan. Disitu tertulis “Yehosef bar Qayafa” “Yusuf, anak Kayafas.” Para ahli percaya bahwa itu jenasah Kayafas, seorang Imam Besar di Yerusalem, yang menurut Injil terlibat dalam penangkapan Yesus, menginterogasi-Nya dan menyerahkan-Nya pada Pontius Pilatus untuk disalibkan (Matius 26:57).
Peti mati Kayafas
Beberapa dasawarsa sebelumnya, pada saat penggalian di reruntuhan Caeserea Maritima, tempat kedudukan pemerintah Romawi di Yudea, sebuah balok batu yang memperlihatkan tulisan yang telah rusak ditemukan. Menurut para pakar, tulisan yang lengkap boleh jadi “Pontius Pilatus, gubernur Yudea, telah mempersembahkan pada rakyat Kaesarea, sebuah kuil sebagai penghormatan pada Tiberius.”
Penemuan ini benar-benar penting ini satu-satunya prasasti yang menyebut nama Pilatus, dan mengukuhkan bahwa orang yang disebutkan di Injil sebagai gubernur Roma di Yudea itu memang ada dan memiliki kekuasaan seperti yang dituliskan oleh para penulis Injil.
Catatan arkeologi memang tidak banyak menyebut sejarah Alkitab. Namun para arkeologis yakin bahwa lebih banyak bukti masih terkubur di bawah gurun pasir Timur Tengah – menunggu sampai ditemukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)