Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jun 4, 2018

Perjanjian Lama

Kerajaan Persia menguasai Asia Barat mengakhiri cerita Perjanjian Lama. Nama raja terakhir ditulis dengan Darius, orang Persia - baik Darius II (423 - 404 sebelum Masehi) atau Darius III (336 - 331 sebelum Masehi) raja Persia yang terakhir.

Jika kita membuka Perjanjian Baru, maka ada suatu penguasa dunia yang lain yang menguasai Timur Dekat sehingga dengan sendirinya mencakup seluruh daerah di sekitar Laut Tengah. Lukas menghubungkan kelahiran Yesus dengan perintah Kaisar Agustus, kaisar Romawi pertama (27 sebelum Masehi - 14 Masehi) yang menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia dan mentarikhkan pelayanan Yohanes Pembaptis[/I] dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius[/I] (14 - 37 Masehi), yaitu pengganti Kaisar Agustus.

Hukuman mati atas Yesus dijatuhkan oleh hakim Romawi dan pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan dalam bentuk pelaksanaan Romawi. Seorang warga Romawi memberitakan berita Kristen ini dengan cara yang hebat ke kawasan Laut Tengah dan Perjanjian Baru berakhir dengan kuasa Roma mengancam membinasakan gereja yang malahan telah ditetapkan untuk dikalahkan olehnya.

Antara masa raja Persia terakhir dan pengukuhan kehadiran Roma di Timur Tengah, wilayah ini dikuasai oleh rezim Yunani - Makedonia dari Alexander Yang Agung dan para penerusnya. Rezim ini disinggung secara apokaliptis dalam Daniel dan dalam satu atau dua kitab Perjanjian Lama lainnya namun kitab-kitab apokrip sedikit sekali menceritakan pemegang pemerintahan Yunani-Makedonia, kecuali mengenai zaman singkat abad kedua sebelum Masehi, yang diuraikan oleh kitab-kitab Makabe. Sekalipun demikian, tanpa memiliki beberapa pengetahuan tentang latar belakang dari zaman antar-perjanjian ini, Perjanjian Baru kurang dapat dimengerti secara wajar.

Penaklukan Kerajaan Persia oleh Alexander Yang Agung (331 sebelum Masehi) tidak membawa perubahan konstitusional, baik terhadap Samaria maupun Yudea. Saat itu propinsi-propinsi tersebut diperintah oleh wakil-wakil pemerintah Yunani-Makedonia menggantikan para wakil pemerintah Persia terdahulu dan upeti harus dibayar kepada tuan yang baru sebagai pengganti tuan yang lama. Yahudi perantauan yang tersebar di bawah Kerajaan Persia, sejak dari Susa hingga ke Siena dan Sardis, kini mendapat pusat baru, Alexandria dan Kirene.

Pengaruh kebudayaan Yunani tidak dapat dihindari, tanda-tanda kehadirannya mulai tampak di tengah-tengah mereka. Pengaruh-pengaruh Helenistis dalam beberapa hal dianggap baik, terlebih-lebih pada keadaan antara orang Yahudi yang berbahasa Yunani dari Alexandria. Mereka mengharuskan penerjemahan Pentateukh dan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya ke dalam bahasa Yunani pada abad ketiga dan kedua sebelum Masehi sehingga pengetahuan tentang Allah Israel dapat dimiliki oleh dunia kafir.

Di lain pihak ada kecenderungan meniru corak-corak kebudayaan Helenistis, yang tidak terelakkan bercampur dengan roh kekafiran dan yang dengan jalan-jalan lain juga mengaburkan perbedaan antara umat khas YHVH dengan para tetangga mereka. Sampai sejauh mana suatu keluarga Yahudi berkedudukan tinggi dapat melakukan percampuran, tanpa diganggu nuraninya dengan segi-segi hidup yang tidak layah di bawah pemerintahan Helenistis, dilukiskan oleh Yosefus dalam berita tentang keuntungan-keuntungan Tobia, yang memperkaya diri sebagai pemungut cukai, pertama untuk kepentingan kaum Ptolomeus dan kemudian untuk kepentingan kaum Seleukus.

Di antara dinasti yang mewarisi kerajaan Alexandria. Ada dua yang khusus mempengaruhi sejarah Israel yaitu dinasti Ptolomeus di Mesir dan dinasti Seleukus yang menguasai Siria dan daerah-daerah seberang Efrat. Sejak tahun 323 - 198 sebelum Masehi, pemerintahan Ptolomeus meliputi kawasan dari Mesir dan Asia hingga pegunungan Libanon dan pantai Finisia, termasuk Yudea dan Samaria. Pada tahun 198 sebelum Masehi, kemenangan Seleukus di Panion, di dekat sumber-sumber sungai Yordan, mengharuskan Yudea dan Samaria membayar upeti kepada Antiokh, sebagai ganti Alexandria.

Kekalahan raja dinasty Seleukus, Antiokhus III, atas bangsa Romawi di Magnesia tahun 190 sebelum Masehi serta uang tebusan berat sebagai bebannya mengakibatkan peningkatan pajak yang amat besar atas rakyatnya, termasuk bangsa Yahudi. Ketika anaknya, Antiokhus IV, berusaha memperbaiki keadaan dengan memaksakan kekuasan atas Mesir (pada dua pertempuran tahun 169 dan 168 sebelum Masehi), bangsa Romawi memaksa dia melepaskan ambisinya itu.

Yudea, bagian barat daya kerajaannya, menjadi kawasan strategis yang penting, dan ia merasa ada sebab mendalam untuk mencurigai loyalitas rakyat Yahudi. Berdasarkan nasehat dari para penasehat yang tidak bijaksana, ia mengambil keputusan meniadakan kebangsaan dan keagamaan mereka yang berbeda dengan yang lain-lain. Puncak politik ini berupa penetapan suatu ibadat kafir - penyembahan kepada dewa Zeus Olimpios (secara sindiran diubah oleh orang-orang Yahudi menjadi kebengisan pembinasaan) - di dalam Bait Allah di Yerusalem bulan Desember 167 sebelum Masehi. Bait Suci Samaria di Gerizim juga diubah menjadi tempat penyembahan Zeus Xenios.

Banyak orang Yahudi yang saleh, yang pada zaman itu memilih mati martir daripada membuang agama. Yang lain mengangkat senjata menentang penjajahan kaum Seleukus. Di antara gologan terakhir ini terdapat keluarga imam dari kaum Hasmonia, yang dikepalai oleh Matatias dan kelima anaknya. Di antara kelima anak itu, ada seorang yang amat menonjol, yaitu Yudas Makabe, yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Ia juga menonjol dalam perang gerilya. Kemenangan-kemenangannya yang pertama atas bala tentara raja, menjadikan banyak bangsanya di bawah pimpinannya, termasuk sejumlah besar orang saleh di Israel, para hasidim, berpendapat bahwa perlawanan pasif tidak cukup menghadapi ancaman keberadaan kebangsaan dan keagamaan mereka masa itu.

Raja mengirimkan lagi tentara yang lebih besar untuk memerangi mereka, tetapi tentara ini diobrak-abrik oleh siasat tak terduga dari Yudas dan pasukannya. Raja menjadi jelas bahwa politiknya tidak mengenai sasaran. Yudas pun diminta mengirimkan duta-duta ke Antiokhia guna merundingkan syarat-syarat damai. Antiokhius memiliki rencana-rencana militer untuk menaklukkan kembali daerah-daerah yang memisahkan diri di bagian timur kerajaannya, maka cukup menting baginya memperoleh kepastian di perbatasan dengan Mesir.

Syarat-syarat pokok bagi Yahudi sudah tentu peniadaan secara tuntas larangan pelaksanaan tugas-tugas keagamaan Yahudi. Ini dikabulkan, sehingga orang Yahudi bebas melaksanakan kewajiban agama leluhur mereka. Konsesi ini segera diikuti dengan penyucian Bait Allah dari kultus berhala yang diadakan disitu, serta penggunaan tempat suci itu bagi ibadat kepada Allah Israel. Penggunaan kembali Bait Allah pada akhir tahun 164 sebelum Masehi mungkin tidak termasuk dalam rumusan-rumusan perdamaian, tetapi hal itu agaknya diterima sebagai suatu yang harus diterima. Sejak itu saat penggunaan bait Allah diperingati pada hari raya Hanukkah.

Yudas dan saudara-saudara serta pengikut-pengikutnya tidak puas dengan kemenangan dalam kebebasan beragama itu. Sesudah memperoleh kemenangan-kemenangan dengan kekuatan senjata, mereka meneruskan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan atas kemerdekaan politik. Peresmian penggunaan Bait Allah diikuti dengan memperkuat pertahanan bukit Bait Allah, yang menghadap ke bentang atau Akra yang dikuasai oleh markas tentara kerajaan. Yudas mengirim pasukan bersenjata ke Galilea, Trans-Yordania dan bagian-bagian lain tempat ada masyarakat Yahudi terpencil serta mengembalikan mereka ke wilayah-wilayah aman di daerah Yudea yang telah dikuasai oleh tentaranya.

Pemerintah Seleukus tidak dapat membiarkan tindakan-tindakan permusuhan demikian. Karena itu tentara-tentara lain dikerahkan memerangi Yudas. Yudas gugur dalam pertempuran pada musim semi tahun 160 sebelum Masehi, danuntuk sementara waktu perjuangan yang dipimpinnya nampaknya tidak mempunyai harapan lagi. Peristiwa-peristiwa ini menguntungkan penggantinya terlebih-lebih setelah kematian Antiokhus IV pada tahun 163 sebelum Masehi diikuti oleh perang saudara yang berganti-ganti di kerajaan Seleukus untuk waktu yang lama, yaitu perebutan kekuasaan antara para saingan yang saling menuntut takhta kerajaan dan pengikut-pengikut mereka masing-masing.

Yonatan, saudara Yudas yang menggantinya sebagai pemimpin pihak pemberontak, menyembunyikan diri menunggu waktu yang baik, dan sesudah itu dengan perbuatan-perbuatan diplomatis, dia memperoleh kemenangan dan kemajuan yang menakjubkan. Pada tahun 152 sebelum Masehi, Alexander Balas, yang menuntut takhta dinasti Seleukus atas dasar yang tidak kuat yaitu bahwa ia adalah anak Antiokhus IV, memberi kuasa kepada Yonatan untuk mempertahankan kekuatan militernya di Yudea dan mengakui Yonatan sebagai imam besar Yahudi, sebagai imbalan atas janji Yonatan membantu perjuangannya.

Antiokhus IV mulai campur tangan dalam agama Yahudi yang akhirnya menimbulkan pemberontakan kaum Hasmonia, karena ia memecat imam besar yang sah dari keturunan Zadok dan menempatkan imam-imam besar lain atas pertimbangannya sendiri. Ia berani melawan kebiasaan yang lama. Seorang kaum Hasmonia menerima jabatan imam besar dari seseorang yang gelarnya untuk memberikan jabatan itu didasarkan atas tuntutannya sebagai anak dan pengganti Antiokhus IV.

Golongan orang saleh yang membantu keturunan Hasmonia pada saat kebebasan beragama dapat diterima kembali, merasa puas ketika tujuan itu tercapai. Namun situasi semakin bertambah kritis dengan adanya ambisi kaum Hasmonia atas pemerintahan. Tidak ada segi ambisi-ambisi Hasmonia yang lebih menyusahkan kereka kecuali ambisi memegang jabatan imam besar. Beberapa dari antara mereka menolak mengakui imam besar kecuali dari keturunan Zadok, dan menjauhkan diri dari ibadat di Bait Allah, jika tidak di bawah pengawasan imam yang sah. Mereka pergi ke padang pasir Yudea dan membentuk masyarakat Qumran. Mereka dipandang sebagai salah satu golongan Essen yang bermacam-macam pada zaman itu. Satu cabang dari keturunan Zadok diperkenankan mendirikan tempat suci Yahudi di Leontopolis di Mesir. Tempat suci ini berfungsi dalam pelayanan imam besar di sana. Namun tempat suci di luar tanah Israel tidak didukung oleh para hasidim yang menghormati Hukum Taurat.

Pada tahun 143 sebelum Masehi Yonatan masuk perangkap dan dibunuh oleh salah seorang lawan saingan yamg menuntut kerajaan dinasti Seleukus. Ia digantioleh saudaranya Simon. Di bawah pimpinan Simon, orang Yahudi mendapat kemerdekaan yang sempurna dari belenggu-belenggu kafir. Kemerdekaan ini diberikan dalam sebuah putusan raja Demetrius II dari dinasti Seleukus pada bulan Mei tahun 142 sebelum Masehi. Dengan demikian orang Yahudi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti.

Simon memperkokoh kemenangan diplomatis ini dengan menaklukkan benteng di Gazara (Geser) dan bentang di Yerusalem, pusat kekuasaan dinasti Seleukus yang terakhir. Demetrius mulai berperang dengan bangsa Parti, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Siman, sekalipun jika seandainya ia ingin berbuat demikian. Simon mendapat tanda penghormatan dari sesama Yahudi yang berterima kasih atas kebebasan dan perdamaian yang mereka peroleh. Dalam suatu sidang majelis rakyat Yahudi, September 140 sebelum Masehi, diambil keputusan bahwa Ia akan diangkap sebagai bupati, kepala bangsa, panglima tentara dan imam besar turun temurun. Ketiga macam kekuasaan ini ia berikan kepada keturunan dan penggantinya.

Simon dibunuh di Yerikho pada tahun 135 sebelum Masehi oleh menantinya, Ptolomeus, anak Abubus, yang berharap mendapat kekuasaan tertinggi di Yudea. Tetapi anak Simon, Yohanes Hirkanus, mematahkan rencana pembunuh itu dan meneguhkan kedudukannya sebagai pengganti bapaknya.
Raja dinasti Seleukus, Antiokhus VII, yang berusaha meneguhkan kembali kekuasaan atas Yudea pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Simon, berhasil memaksa Yohanes Hirkanus membayar upeti kepadanya untuk beberapa tahun selama permulaan pemerintahannya. Tetapi kematian Antiokhus VII dalam pertempuran dengan bangsa Parti tahun 129 sebelum Masehi mengakhiri pemerintahan dinasti Seleukus atas Yudea untuk selama-lamanya.

Pada tahun ketujuh pemerintahan Yohanes Hirkanus, status kemerdekaan Yudea dengan kuat diteguhkan yaitu 40 tahun sesudah Antiokhus IV meniadakan konstitusi lama sebagai negara tempat suci otonom di dalam kerajaannya. Darma bakti para hasidim, bakat kemiliteran Yudas dan kenegarawanan Simon, bersamaan denganperpecahan dan kelemahan yang bertambah-tambah dalam pemerintahan dinasti Seleukus, memberi kemenangan lebih banyak kepada Yahudi (dinilai secara lahiriah) daripada mereka yang telah kehilangan karena Antiokhus IV. Maka tidak mengherankan bahwa tahun-tahun pertama kemerdekaan Yohanes Hirkanus itu dipandang sebagai zaman emas.

Pemecahan yang menentukan di antara bagian terbesar para hasidim dan keluarga Hasmonia itu terjadi pada zaman Yohanes Hirkanus. Yohanes dihina, karena orang saleh itu menolak Yohanes terus menjabat jabatan imam besar. Mereka melepaskan diri daripadanya. Sejak waktu itu dan seterusnya mereka tampil dalam sejarah sebagai golongan Farisi, sekalipun belum pasti bahwa sebutan mereka itu (Ibrani perasim = orang-orang yang terpisah) disebabkan peristiwa, bahwa mereka memisahkan diri dari persekutuan dengan keturunan Hasmonia, seperti sering diduga. Sebutan itu agaknya lebih dikarenakan sikap mereka, yang menghindari persekutuan dengan orang-orang yang tidak mengikuti ketaatan mereka terhadap hukum pensucian dan persembahan persepuluhan. Mereka tetap menentang rezim itu selama 50 tahun. Para pemimpin agama yang mendukung rezim itu dan yang menduduki kebangsaan muncul kira-kira pada waktu yang sama dengan sebutan Saduki. Dalam Perjanjian Baru, keluarga imam besar yang kaya termasuk golongan Saduki.

Yohanes Hirkanus memanfaatkan kelemahan kerajaan dinasti Seleukus yang makin bertambah-tambah itu untuk memperluas kuasanya sendiri. Salah satu tindakan yang paling dahulu sesudah ia meneguhkan kemerdekaan bangsa Yahudi, ialah memasuki kawasan Samaria dan menaklukkan kota Samaria yang bertahan satu tahun, tapi kemudian diserbu dan diruntuhkan.

Sikhem juga ditaklukkan dan tempat suci Samaria yang memisahkan diri di bukit Gerizim, yang didirikan menjelang akhir kerajaan Persia, dihancurkan. Orang Samaria minta bantuan raja dinasti Seleukus, tapi bangsa Romawi memperingatkan dia supaya jangan campur tangan. Kaum Hasmonia pada tahap pertama dalam perangnya telah membuat perjanjian persekutuan dengan bangsa Romawi, yang tidak pernah kehilangan kesempatan untuk melemahkan dan menghina dinasti Seleukus dan sekarang perjanjian itu diperbaharui oleh Yohanes.
Di sebelah selatan kerajaannya, Yohanes berperang melawan bangsa Idumea, menaklukkan dan memaksa mereka menerima sunat dan memeluk agama Yahudi. Ia menaklukkan kota-kota Yunani di Trans-Yordania dan memasuki Galilea.

Pekerjaan di Galilea diteruskan oleh anak dan penggantinya, Aristobulus I (104-103 sebelum Masehi), yang memaksa masyarakat Galilea yang ditaklukkan untuk menerima agama Yahudi, seperti yang dilakukan ayahnya terhadap bangsa Idumea.
Menurut Yosefus, Aristobulus mengambil gelar raja sebagai ganti bupati dan memakai mahkota menjadi tanda kedudukannya sebagai raja. Tentu dengan cara ini ia berharap mendapat nama yang lebih besar di antara tetangga yang kafir.

Aristobulus mati sesudah memerintah satu tahun dan diganti oleh saudaranya, Alexander Yaneus (103 - 76 sebelum Masehi), yang kawin dengan janda Aristobulus, Salome Alexandra. Tidak ada seorang imam besar yang dapat digambarkan begitu tidak layak seperti Yaneus. Pada kesempatan-kesempatan upacara agung, ia memang mengikuti gerak-gerak pelayanan yang suci itu, tapi caranya melakukan adalah dengan sengaja merendahkan perasaan-perasaan banyak orang bawahan yang salah (terlebih-lebih Farisi). Ambisi pokok pemerintahannya adalah kemenangan militer. Kemenangan politik ini mengundangan banyak penentangan terhadapnya, tapi menjelang akhir pemerintahan, ia praktis telah menguasai seluruh kawasan yang pernah menjadi kawasan Israel pada zaman kebesaran sejarah bangsa, dengan pengorbanan secara mendalam terhadap segala yang berharga dalam warisan rohani bangsanya.

Kota-kota Yunani di pantai Laut Tengah dan di Trans-Yordania menjadi target khusus bagi serangan-serangannya. Satu demi satu kota-kota itu dikepung dan ditaklukkan. Perusakannya yang tanpa ampun menunjukkan betapa sedikit ia menghargai nilai-nilai hakiki keadaan Helenis. Ia menyesuaikan cara hidupnya dengan cara hidup bangsawan Helenis yang kasar dari Asia Barat.

Rasa tidak senang terhadapnya dari banyak rakyat Yahudi mencapai puncak sedemikian rupa sehingga ketika ia menderita kekalahan yang menghancurkan dari tangan kekuasaan orang-orang Nabati di Trans-Yordania tahun 94 sebelum Masehi, mereka memberontak, bahkan minta pertolongan raja dari dinasti Seleukus, Demetrius III. Namun rakyat Yahudi lainnya, meskipun tidak menyukai Yaneus, berpendapat bahwa minta pertolongan raja dinasti Seleukus untuk memberontak terhadap keluarga Hasmonia, adalah keterlaluan terhadap rasa kebangsaan mereka. Dengan sukarela mereka membantu membela kasus raja yang terjepit itu, memaksa raja mengusir kaum Seleukus. Kebuasan pembalasan yang dilakukan Yaneus terhadap para pemimpin pemberontakan - termasuk beberapa Farisi terkemuka - dikenang sebagai keganasan untuk waktu yang amat lama.

Yaneus mewariskan kerajaannya kepada jandanya, Salome Alexandra, yang memerintah sebagai ratu selama 9 tahun. Ratu Salome memberi jabatan imam besar kepada anaknya yang lebih tua, Hirkanus II. Satu hal penting yang dilakukan oleh ratu ialah ia mengubah politik orang-orang pendahulunya. Ia merangkul Farisi dan memperhatikan nasehat mereka selama pemerintahannya.
Kematiannya di tahun 67 sebelum Masehi diikuti perang saudara antara para pendukung tuntutan-tuntutan kedua anaknya, Hirkanus II dan Aristobulus II, untuk mewarisi kekuasaan tertinggi di Yudea. Aristobulus berjiwa Hasmonia, berambisi dan agresif. Hirkamus tidak berarti, mudah diperalat pendukung tuntutannya demi kepentingan mereka sendiri. Di antara para pendukung itu, terdapat soerang yang paling menonjol yaitu Antipater, orang Idumea, yang ayahnya menjabat bupati di Idumea pada masa pemerintahan Yaneus.

Persaingan antar kedua saudara dan para pengikut masing-masing itu dihentikan oleh orang Romawi pada tahun 63 sebelum Masehi, yang berakibat kemerdekaan Yunani yang singkat di bawah keluarga Hasmonia berakhir.

Pada tahun 66 sebelum Masehi, senat Romawi dan rakyatnye mengutus panglima perang yang paling ulung di masa itu, Pompeus, untuk mengakhiri perang yang telah 20 tahun lamanya antara mereka dengan Mitridates, raja wilayah Pontius. Raja ini telah mendirikan suatu kerajaan bagi dirinya di Asia Barat, kerajaan yang dirampas dari tanah-tanah jajahan keturunan Seleukus dan dari negara-negara tetangganya. Pompeus mengalahkan Mitridates yang lari ke Krimea dan bunuh diri di sana. Setelah Pompeus melakukan hal itu, ia dihadapkan dengan situasi, harus mengatur hidup politik di Asia Barat. Pada tahun 64 sebelum Masehi, ia menggabungkan Siria sebagai propinsi Romawi, dan ia diundang oleh bermacam-macam golongan di negara Yahudi untuk campur-tangan dalam kasus mereka, dan mengakhiri perang saudara antara kedua anak Yaneus.

Karena perhitungan Antipater yang licik, golongan yang mendukung Hirkanus bersedia bekerja sama dengan orang Romawi, dan Yerusalem membuka pintu bagi Pompeus pada musim semi tahun 63 sebelum Masehi. Bait Allah, yang diperkuat secara terpisah dan berada di tangan pengikut Aristobulus, bertahan terhadap kepungan selama tiga bulan, sebelum jatuh ke tangan tentara Pompeus.

Yudea harus membayar upeti kepada Roma. Ia kehilangan kota-kota Yunani yang telah ditaklukkan serta digabungkan kepada Yudea oleh raja-raja kaum Hasmonia. Orang Samaria dibebaskan dari pengawasan Yudea. Hirkanus diteguhkan menduduki jabatan imam besar dan kepemimpinan bangsa. Ia harus puas dengan gelar bupati, sebag orang Romawi menolak mengakui dia sebagai raja. Antipater tetap mendukung dia, tetap memutuskan untuk mengambil keuntungan dari perubahan keadaan yang baru bagi kepentingan sendiri, yang sebagian besar bertindih tepat dengan kepentingan Yudea.

Aristobulus dan keluarganya berkali-kali berusaha membangkitkan pemberontakan terhadap Roma untuk meastikan mereka kekuasaan atas Yudea. Tetapi untuk beberapa tahun usaha-usaha ini gagal. Secara berganti-ganti para bupati Romawi memerintah dengan tangan besi atas Yudea dan Samaria, karena propinsi-propinsi ini berada di tapal batas sebelah timur kekaisaran Romawi, yang membatasinya dengan saingannya, kerajaan Parti.

Kepentingan strategis kawasan ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh penting dalam sejarah Romawi yang mengambil bagian dalam sejarah Yudea pada tahun-tahun itu: Pompeus yang menggabungkannya ke dalam kekaisaran; Krasus, sebagai bupati Siria pada tahun 54-53 sebelum Masehi, merampok Bait Allah di Yerusalem dan kuil-kuil di Siria, ketika ia mencari biaya perang melawan bangsa Parti, tetapi kemudian dikalahkan dan dibunuh oleh mereka di Karre pada tahun 53 sebelum Masehi; Julius Caesar, yang menguasai dunia Romawi sesudah mengalahkan Pompeus di Farsalus, Tesali, pada tahun 43 sebelum Masehi; Antonius, yang menguasai propinsi-propinsi kekaisaran di sebelah timur, sesudah ia dan Oktavianus mengalahkan pembunuh kaisar dan pengikut-pengikut mereka di Filipi pada tahun 32 sebelum Masehi; dan sesudah itu Octavianus sendiri, yang pada tahun 31 sebelum Masehi di Aktisium mengalahkan antonius dan Cleopatra (yang memegang pemerintahan terakhir dari kerajaan Ptolomeus di Mesir) dan sesudah itu (27 sebelum Masehi) memerintah dunia Romawi sendirian sebagai Kaisar Agustus.

Sepanjang seluruh perang saudara antara Romawi dan perang di luar Roma, Antipater dan keluarga menentukan politiknya untuk membantu wakil kuasa utama Romawi di sebelah timur pada setiap saat, siapapun orangnya dan tergolong kelompok yang manapun dia di negara Romawi. Terlebih-lebih Julius Caesar mempunyai alasan untuk berterima kasih atas bantuan Antipater, ketika ia dikepung di Alexandria selama musim dingin tahun 48-47 sebelum Masehi. Karena itu ia memberi hak-hak istimewa, bukan hanya kepada Antipater sendiri, tetapi juga kepada orang Yahudi.

Kepercayaan, yang orang-orang romawi belajar memberikan kepada keluarga Antipater, dijelmakan secara menyolok pada tahun 40 sebelum Masehi, ketika bangsa Parti memasuki Siria dan Palestina dan menjadikan Antigonus, anak terakhir Aristobulus II, dapat bangkit kembali dan menerima takhta kaum Hasmonia serta memerintah sebagai raja dan imam besar Yahudi. Hirkanus II menderita telinganya dipotong untuk menghindarkannya berfungsi lagi sebagai imam besar. Antipater sudah mati, namun suatu usaha dilakukan untuk menangkap dan membasmi keluarganya. Seorang anak, Fasael, ditangkap dan dibunuh, tapi Herodes selama tiga bulan, memastikan Herodes untuk menghadapi kebencian dari rakyat yang baru. Tidak ada usaha Herodes satupun yang dapat mengubah sikap rakyat itu. Antigonus dikirim terbelenggu kepada Antonius, yang memerintahkannya untuk dijatuhi hukuman mati. Herodes berusaha mengesahkan kedudukannya di mata Yahudi dengan mengawini Mariane, putri keturunan Hasmonia, namun perkawinan ini memberi lebih banyak kesukaran dibandingkan pertolongan.

Kedudukan Herodes berbahaya sekali pada enam tahun pertama pemerintahannya. Sekalipun Antonius adalah teman dan tuannya, Cleopatra ingin sekali memasukkan Yudea ke dalam kerajaannya, seperti telah dilakukan oleh para leluhurnya dari dinasti Ptolomeus. Ia mencoba mengambil keuntungan dari wewenangnya atas Antonius untuk keperluan ini.

Penggulingan Antonius dan Cleopatra pada tahun 31 sebelum Masehi, dan peneguhan Herodes dalam kerajaannya oleh pemenang, Octavianus, membawa kelegaan untuknya di luar negeri, tetapi kedalam dalam negeri tidak ada, baik dalam keluarga maupun dalam hubungan dengan bangsa Yahudi. Ia memerintah Yudea dengan tangan besi, dengan melayani kepentingan Roma, bahkan lebih baik daripada seorang bupati Romawi dapat melakukannya. Ia menaklukkan pemberontakan secara kejam.

Sebagai kenangan nyata dari pemerintahannya, ia meninggalkan kota-kota yang baru, umpamanya Sebaste (di tempat kota Samaria yang kuno) dan Kaisarea (sebuah kota bandar dengan pelabuhan buatan di pantai Laut Tengah) dan bangunan-bangunan besar. Dari bangunan-bangunan itu yang paling menonjol ialah Bait Allah di Yerusalem yang diperbaharui dan diperluas.

Ketika Herodes mati pada tahun 4 sebelum Masehi, kerajaannya dibagi di antara ketiga anaknya yang masih hidup. Arkhelaus memerintah Yudea dan Samaria sebagai bupati sampai tahun 6 Masehi; Antipas memerintah Galilea dan Perea sebagai raja seperempat negeri hingga tahun 39 Masehi; Filipus menerima kawasan pemerintahan di bagian timur dan timur laut Danau Galilea, yang telah didamaikan oleh ayahnya demi kepentingan kekaisaran, dan memerintah hingga kematiannya pada tahun 34.

Antipas (Raja Herodes yang disebut dalam cerita Injil) mewarisi ketajaman pandangan politik ayahnya, dan meneruskan tugas yang tidak mengenal pembalasan jasa untuk memajukan kepentingan Roma di Galilea dan Perea serta kawasan-kawasan sekitarnya. Arkhelaus memiliki seluruh kekerasan ayahnya tanpa keahliannya. Segera ia membawa rakyat kepada puncak di mana mereka minta kepada pemerintah Romawi untuk menggantinya, supaya dapat dihindarkan pecah suatu pemberontakan. Karena itu Arkhelaus diberhentikan dan dibuang, dan daerah pemerintahannya disusun kembali sebagai suatu propinsi Romawi tingkat tiga. Supaya upeti tahunan kepada perbendaharaan penjajah dapat ditentukan, maka wali negeri Siria, Kirenius, mengadakan pendaftaran penduduk di Yudea dan Samaria. Pendaftaran penduduk ini membangkitkan pemberontakan Yudas, orang Galilea. Pemberontakan itu ditindas, namun cita-citanya hidup di tengah-tengah golongan Zelot yang berpendapat bahwa pembayaran upeti kepada kaisar atau kepada pemerintah kafir lainnya, adalah perbuatan pengkhianatan terhadap Allah Israel. Kaum Zelot bertahan menentang Roma hingga perang tahun 66 - 73, dengan perusakan Yerusalem.

Sesudah pendaftaran penduduk itu, Yudea - sebagaimana propinsi Yudea dan Samaria itu disebut - menerima seorang wali negeri (procurator). Wali negeri (procurator) ini ditetapkan oleh kaisar, dan di bawah pengawasan umum wali negeri kekaisaran Romawi (legatus) di Siria. Sering ia diambil dari golongan tentara berkuda, bukan dari golongan senat, dan memiliki pasukan bantuan, bukan pasukan legiun, di bawah pemerintahnya.

Pada mulanya para procurator Roma (hingga tahun 41) mendapat hak istimewa untuk menunjuk imam besar Israel - suatu hak istimewa, yang sejak akhir pemerintahan dinasti Hasmonia dimiliki oleh Herodes dan penggantinya, Arkhelaus. Procurator memperdagangkan pelayanan suci itu kepada penawar yang paling tinggi. Karena itu namanya di bidang keagamaan rendah sekali. Sebab jabatan imam besar itu mengetuai Mahkamah Agama (Sanhedrin) atau Majelis Tua-tua, yang mengatur perkara-perkara intern bangsa Yahudi.

Sanhedrin dan pemerintah Romawi di Yudea keduanya mendapat bagian berperan dalam cerita Injil tentang pengadilan Yesus. Pemerintah Romawi menghukum-Nya atas dasar gugatan pokok mengaku sebagai raja Yahudi. Dan inilah tuduhan yang diterakan pada salib-Nya, suatu terjemahan ke dalam istilah-istilah politik dari tuntutannya, mengungkapkan atau mengandung makna: menjadi Mesias.

Ketika imam besar yang mengetuai pemeriksaan yang mendahului penampakan-Nya di depan Pilatus, bertanya dengan terus terang kepada-Nya, apakah Ia Mesias. Ia menjawab bahwa mulai sekarang Anak Manusia akan tampak duduk di sebelah kanan Yang Mahakuas dan datang di atas awan-awan di langit. Dengan kata-kata ini, Ia menghindari implikasi-implikasi politik dari jabatan Mesias seperti digambarkan dengan istilah-istilah warisan kerajaan Daud, dan menunjukkan bahwa pengutusan-Nya itu lebih dikaitkan dengan pengutusan Anak Manusia, yang dijelmakan di dunia ini dalam kerendahan dan penderitaan, tapi yang ditetapkan oleh Allah sebagai Tokoh, melalui siapa maksud-Nya yang baik akan mendapat pemenuhan yang menguntungkan.

Garis-garis pengharapan Mesianis ini dapat dilacak kembali hingga pada Taurat, para Nabi dan Kitab-kitab (Ketubim), hingga kepada nabi-nabi seperti Musa yang disebutkan dalam Ulangan 18:15, hingga kepada Raja yang akan datang dalam Kejadian 49:10; Bilangan 24:17, dan beberapa dari Mazmur kerajaan (terlebih-lebih Mazmur 2 dan 110), hingga kepada hamba Tuhan dalam Yesaya 42:1-53:12, dan hingga kepada yang seperti anak manusia dalam Daniel 7:13 dan ayat berikutnya, untuk tidak menyebut lebih banyak lagi.

Keruntuhan Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda

Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah. Allah menjanjikan Mesias setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Kemudian Allah menegaskan bahwa Mesias akan datang melalui jalur Abraham, Ishak dan Yakub (Kejadian 12:1-3). Yesus Kristus adalah penyebab utama mengapa Allah memilih Israel menjadi umat pilihanNya.

Karena Raja Salomo tidak berpegang teguh pada Tuhan dengan membiarkan penyembahan berhala merusak Israel sehingga menyebabkan Kerajaan Israel terpecah menjadi 2 yaitu, Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) dan Kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan) pada tahun 930 SM.

Keruntuhan Kerajaan Israel (722 SM)
Berikut adalah beberapa raja terakhir yang memimpin Israel sebelum Kerajaan Israel mengalami kehancuran:

Yehu bin Yosafat bin Nimsi, Raja Israel (2 Raja-Raja 9-10)
Yehu menjadi Raja Israel ketika kondisi Israel sangat rusak dibawah kendali Izebel, Ahab, dan Ibu Raja Yehoram. Mereka membunuh nabi-nabi Allah, menyembah berhala dan merusak moral Bangsa Israel dengan percabulan dan sihir (2 Raja-Raja 9:22).Yehu mengawali masa pemerintahannya dengan melakukan apa yang benar dimata Tuhan dan berbuat tepat seperti yang Tuhan inginkan yaitu memusnahkan keturunan Ahab dan menghapus penyembahaan berhala (2 Raja-Raja 10:30). Namun, kebaikan diawal hidupnya menjadi sia-sia karena dirusak oleh dosa. Yehu tidak setia kepada Tuhan dengan segenap hatinya yang membuat ia melenceng dari jalan Tuhan diakhir hidupnya.

Yoahas bin Yehu, Raja Israel (2 Raja-Raja 13:1-9)
Setelah Yehu meninggal, Yoahas, anak Yehu memimpin Kerajaan Israel di Samaria dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, Tuhan pun murka terhadap Israel. Lalu Tuhan membiarkan Bangsa Israel dijajah oleh Hazael, Raja Aram. Sehingga Yoahas meminta belas kasihan dari Tuhan, Tuhan pun mengabulkan permintaan Yoahas karena melihat Bangsa Israel sangat tertindas. Sehingga Bangsa Israel berhasil lepas dari Bangsa Aram dan bersembunyi. Tetapi Bangsa Israel tetap hidup dalam dosa hingga Raja Yoahas meninggal dibunuh dan digantikan oleh anaknya, Yoas.

Yoas bin Yoahas, Raja Israel (2 Raja-Raja 13:10-25)
Yoas, anak Yoahas juga memimpin Kerajaan Israel sama seperti ayahnya yaitu melakukan yang jahat di mata Tuhan. Hingga suatu ketika, Bangsa Israel lelah bersembunyi dan ingin merebut kembali wilayah mereka dari Bangsa Aram. Yoas pun meminta bantuan Nabi Elisa, lalu Nabi Elisa menyuruh Yoas untuk memanahkan anak panah ke timur sebagai tanda kemenangan dari pada Tuhan dan kemenangan bangsa Israel terhadap Aram. Kemudian Elisa menyuruh Yoas mengambil panah tersebut dan menyuruh memukulkan ke tanah. Namun Yoas hanya memukul 3 kali, Elisa berharap Yoas bisa memukul lebih banyak sebagai simbol mengalahkan Aram hingga lenyap. Kemudian Hazael, Raja Aram pun meninggal dan digantikan oleh anaknya Benhadad. Hingga akhirnya, Yoas berhasil mengalahkan Bangsa Aram 3 kali dan merebut kembali kota yang telah di ambil Bangsa Aram.

Yerobeam bin Yoas, Raja Israel (2 Raja-Raja 14:23-29)
Yerobeam bin Yoas menjadi raja Israel setelah Yoas, ayahnya meninggal, ia melakukan yang jahat dimata Tuhan serta tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan sehingga bangsa Israel kembali menyembah berhala. Namun Bangsa Israel menjadi lebih baik karena Tuhan menolong Bangsa Israel melalui Yerobeam. Yerobeam pun meninggal lalu digantikan oleh Zakharia, anaknya.

Zakharia bin Yerobeam, Raja Israel (2 Raja-Raja 15:8-12)
Zakharia bin Yerobeam menjadi Raja Israel, namun ia tetap melakukan apa yang jahat dimata Tuhan, ia tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan sehingga Bangsa Israel tetap jatuh dalam dosa. Zakharia pun dibunuh oleh Salum bin Yabesh di Yibleam. Salum bin Yabesh menjadi Raja Israel setelah membunuh Zakharia bin Yerobeam.

Salum bin Yabesy, Raja Israel (2 Raja-Raja 15:13-16)
Salum memimpin Israel sebulan lamanya, kemudian ia dibunuh oleh Menahem bin Gadi dari Tirza. Lalu Menahem yang menjadi raja Israel menggantikan Salum

Menahem bin Gadi, Raja Israel (2 Raja-Raja 15:17-22)
Menahem menjadi raja Israel dan ia melakukan yang jahat dimata Tuhan sepanjang umurnya. Serta ia juga tidak menjauhkan bukit pengorbanan sehingga Bangsa Israel tetap menyembah berhala. Pul, Raja Asyur datang menyerang Israel. Lalu Menahem memberi 1.000 talenta dari uang rakyat kepada Pul. Kemudian Pul pun kembali ke negerinya. Menahem pun meninggal setelah memimpin sepuluh tahun lamanya.

Pekahya bin Menahem, Raja Israel (2 Raja-Raja 15:23-26)
Pekahya anak Menahem menjadi raja Israel setelah ayahnya meninggal, ia melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Ia pun tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan sama seperti raja-raja sebelumnya. Kemudian ia dibunuh oleh perwiranya, Pekah bin Remalya dibantu oleh Argob, Arye dan lima puluh orang dari Bani Gilead. Pekah bin Remalya menjadi raja Israel setelah membunuh Pekahya.

Pekah bin Remalya, Raja Israel (2 Raja-Raja 15:27-31)
Pekah melakukan apa yang jahat dimata Tuhan dan tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan selama menjadi Raja Israel. Pada zaman kepemimpinan Pekah banyak wilayah Israel yang direbut oleh Bangsa Asyur yang dipimpin oleh Tiglat-Pileser. Kemudian Pekah dibunuh oleh Hosea bin Ela, dan Hosea menggantikannya menjadi raja Israel.

Hosea bin Ela, Raja Israel (2 Raja-Raja 17:1-6)
Hosea bin Ela merupakan raja Israel terakhir sebelum Kerajaan Israel runtuh. Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan namun lebih baik dari raja sebelumnya. Salmaneser, Raja Asyur melawan Hosea dab Hosea kalah sehingga takluk kepadanya. Hosea pun menjadi bergabung dengan kekuatan Mesir. Padahal Mesir merupakan bangsa yang dahulu menjajah Israel.

Bangsa Israel telah melupakan kasih karunia Tuhan yang telah menuntun mereka keluar dari Mesir. Bangsa Israel justru melakukan hal yang jahat di mata Tuhan yaitu mendirikan banyak bukit-bukit pengorbanan dan menyembah berhala. Tuhan telah menegur Bangsa Israel namun mereka tetap tidak mendengarkan. Bangsa Israel menjadi tidak percaya Tuhan dan mempercayai tuhan lain menurut nenek moyang mereka. Mereka bergaya hidup mengikuti bangsa-bangsa disekeliling mereka yang tidak benar dan menolak nabi-nabi yang diutus Tuhan. Mereka juga mengorbankan anak mereka dibukit pengorbanan. Bangsa Israel meninggalkan segala perintah Tuhan. Sehingga Tuhan sakit hati dan murka terhadap Bangsa Israel. Tuhan pun menindas mereka dan menyerahkan Bangsa Israel ketangan perampok-perampok serta menghapus Israel dari keturunan Daud. Bangsa Israel mengangkat Yerobeam bin Nebat menjadi raja, tetapi Yerobeam justru mengakibatkan Bangsa Israel semakin jatuh dalam dosa. Orang Israel diangkut dari tanahnya ke Asyur dan menjadi budak.

Keruntuhan Kerajaan Yehuda (586 SM)
Berikut adalah beberapa raja terakhir yang memimpin Yehuda sebelum Kerajaan Yehuda mengalami kehancuran :

Yoas bin Ahazia, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 11-12)
Yoas menjadi Raja Yehuda tidaklah mudah, ia hampir dibunuh oleh neneknya sendiri, Atalya yang dendam karena anaknya sekaligus ayah Yoas, Ahazia dibunuh oleh Yehu, Raja Israel. Atalya ingin memusnahkan keturunan Daud, termasuk cucunya sendiri. Namun Tuhan menggerakkan hati Yoseba, istri imam besar Yoyada untuk menyembunyikan Yoas bin Ahazia agar tidak dibunuh. Atalya pun akhirnya dihukum mati oleh Bangsa Yehuda dan Yoas bin Ahazia menjadi raja Yehuda.

Yoas bin Ahazia mengawali masa kepemimpinannya sebagai raja Yehuda dengan baik, ia merenovasi rumah Tuhan. Namun sayangnya Yoas tidak menjauhkan bukit penyembahan berhala sehingga bangsa Yehuda kembali terjerumus ke dalam penyembahan berhala. Ketika Yesus mengutus para nabi untuk menegurnya, ia dan para pemimpin Yehuda tidak mau mendengarkan. Yoas bahkan membunuh Zakharia, anak Yoyada, ketika ia berusaha mengingatkan Yoas akan kesalahannya. Hidup Yoas pun berakhir dengan pemberontakan para pegawainya dan ia dibunuh. Meski ia mengawali hidupnya sebagai raja dengan baik, namun ia mengakhirinya dengan tidak baik. Ia merenovasi rumah Tuhan, tetapi ia tidak merenovasi hati dan hidupnya.

Amazia bin Yoas, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 14:1-22)
Amazia bin Yoas menjadi raja Yehuda setelah Yoas, ayahnya meninggal. Ia melakukan yang benar dimata Tuhan, namun ia tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan sehingga Bangsa Yehuda masih menyembah berhala. Amazia pun membunuh semua pegawai yang telah membunuh ayahnya, Yoas. Hingga suatu saat, Amazia menjadi tinggi hati karena merasa hebat sebab ia telah berhasil mengalahkan Bangsa Edom, sepuluh ribu orang. Sehingga Amazia pun mengajak Yoas bin Yoahas, Raja Israel untuk mengadu kekuatan. Karena dipaksa terus-terusan oleh Amazia, Yoas pun melawan Amazia dan karena kesombongannya Amazia kalah. Semua kekayaan Bangsa Yehuda diambil oleh Yoas bin Yoahas, raja Israel

Azarya bin Amazia, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 15:1-7)
Azarya bin Amazia menjadi Raja Yehuda setelah Amazia, ayahnya meninggal. Azarya melakukan yang hal yang benar di mata Tuhan, namun bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan sehingga Bangsa Yehuda masih menyembah berhala. Tuhan pun murka lalu menjatuhkan “tulah” pada raja yaitu Azarya menjadi kusta sampai ia meninggal sehingga Azarya harus tinggal di rumah pengasingan. Yotam, anak Azarya yang menggantikan kepemimpinan ayahnya.

Yotam bin Azarya, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 15:32-38)
Yotam bin Azarya melakukan apa yang benar dimata Tuhan selama memimpin Yehuda, namun ia tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan sama seperti raja-raja sebelumnya. Pada zaman kepemimpinan Yotam, Yehuda diserang Rezin, raja Aram, dan Pekah bin Remalya, raja Israel atas seizin Tuhan. Yotam pun meninggal dan dikubur di kota Daud, bapa leluhurnya. Ahas anaknya menggantikannya menjadi raja.

Ahas bin Yotam, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 16)
Ahas bin Yotam menjadi raja Yehuda dengan tidak melakukan apa yang benar dimata Tuhan. Ia tidak menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan justru ikut mempersembahkan anaknya dibukit tersebut. Ahas tidak mudah dikalahkan musuh saat berperang karena Tuhan selalu menolong dan menjaga Kerajaan Yehuda. Tetapi Ahas tidak bersyukur dan justru meminta pertolongan kepada Raja Asyur, Tiglat-Pileser bukan kepada Tuhan. Ahas mengambil perak dan emas dari rumah Tuhan dan diberikan kepada Raja Asyur sehingga Raja Asyur pun setuju membantu. Ahas kelihatannya melayani Tuhan, tetapi sebenarnya ia melakukan hal tersebut untuk keuntungannya sendiri. Ia banyak menentang peraturan Tuhan. Ahas menggantikan Tuhan dengan berhala, raja Asyur dan dirinya sendiri.

Hizkia bin Ahas, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 18-20)
Hizkia menjadi raja Yehuda setelah Ahas, ayahnya meninggal. Hizkia adalah seorang raja yang saleh dan punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal selalu taat pada perintah Tuhan sehingga dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda (2 Raja-Raja 18:5-6). Sayangnya ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya. Hizkia menjadi sombong dengan memamerkan segala kekayaannya kepada raja-raja lain. Padahal Raja Hizkia mengidap penyakit terminal (penyakit yang mematikan), namun Tuhan berbaik hati dan memperpanjang umur Hizkia 15 tahun. Hizkia telah menyia-nyiakan hidupnya.

Manasye, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 21:1-18)
Manasye menjadi raja Yehuda setelah Hizkia, ayahnya meninggal. Ia masih berumur 12 tahun saat menjadi raja dan ia melakukan yang jahat dimata Tuhan. Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan ayahnya, membangun mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera seperti yang dilakukan Ahab, Raja Israel, dan mempersembahkan anaknya dan dimanfaatkan untuk melakukan ramal dan memanggil roh. Perbuatan Manasye menimbulkan sakit hati Tuhan sehingga Tuhan menggerakkan tentara Asyur untuk menyerang Kerajaan Yehuda serta menangkap, membelenggu dan membawa Raja Manasye sebagai tawanan ke Babel. Setelah menyadari kesalahannya, Raja Manasye bertobat dan merendahkan diri dihadapan Tuhan. Tuhan mengampuni dan memulihkan kedudukan Manasye sebagai Raja Yehuda

Amon bin Manasye, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 21:19-26)
Amon bin Manasye menjadi raja setelah ayahnya, Manasye meninggal. Ia melakukan yang jahat dimata Tuhan dengan menyembah berhala dan tidak taat serta setia pada Tuhan seperti yang ayahnya lakukan. Pegawai-pegawai Amon ingin membunuhnya, namun rakyat Yehuda membunuh semua pegawai yang ingin membunuh Amon dan mengangkat Yosia, anaknya menjadi Raja Yehuda

Yosia bin Amon, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 22-23)
Yosia menjadi Raja Yehuda saat berumur 8 tahun. Ia melakukan apa yang benar dimata Tuhan dan dapat dikatakan ia adalah raja baik terakhir di Yehuda. Yosia menghapuskan penyembahan berhala dan memperbaiki Bait Allah. Saat sedang berlangsung perbaikan Bait Allah, imam besar Hilkia menemukan Kitab Taurat yang selama itu telah hilang. Hilkia dan Yosia membaca kitab tersebut dan mengetahu bahwa Tuhan telah murka kepada Bangsa Yehuda karena selama ini telah berbuat menyimpang dari jalan Tuhan. Yosia memerintahkan Hilkia untuk mencari tahu apa yang akan Tuhan lakukan pada mereka. Lalu Hilkia pergi menemui Hulda, seorang nabiah. Dan Hulda menyampaikan pesan dari Tuhan kepada Hilkia untuk Yosia, yaitu “Yerusalem dan semua rakyatnya akan dihukum sebab mereka telah menyembah berhala dan negeri itu telah dipenuhi dengan kejahatan. Tetapi karena engkau, Yosia, telah melakukan apa yang baik dimata Tuhan, hukuman ini tidak akan datang sampai saat kematianmu.”. Yosia meninggal diusia 39 tahun.

Yoahas bin Yosia, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 23:31-35)
Yoahas bin Yosia diangkat menjadi Raja Yehuda selama 3 bulan setelah ayahnya, Yosia meninggal. Ia melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Ia dikurung oleh Firaun Nekho di Ribla, supaya Yoahas tidak memerintah di Yehuda. Yoahas pun meninggal di Mesir. Firaun Nekho mengangkat Elyakim, anak Yoahas menjadi Raja Yehuda dan mengganti namanya menjadi Yoyakim bin Yoahas.

Yoyakim bin Yoahas, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 23:36 – 24:7)
Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata Tuhan selama menjadi raja Yehuda. Dalam masa pemerintahannya, Bangsa Yehuda berperang melawan Nebukadnezar, Raja Babel. Yoyakim takluk pada raja Nebukadnezar selama 3 tahun, namun Yoyakim akhirnya memberontak padanya. Tuhan menyuruh orang Kasdim, Aram, Moab, bani Amon untuk melawan Yoyakim dan membinasahkan Bangsa Yehuda karena dosa mereka yang bergitu besar. Nebukadnesar, Raja Babel telah berhasil merebut Yehuda.

Yoyakhin, Raja Yehuda (2 Raja-Raja 24:8-17)
Yoyakhin bin Yoyakim menjadi raja Yehuda setelah ayahnya, Yoyakim meninggal. Ia melakukan apa yang jahat dimata Tuhan sama seperti ayahnya. Raja Babel menangkap Yoyakhin, ia merampas segala kekayaan Kerajaan Yehuda. Nebukadnesar mengangkut seluruh penduduk Yerusalem termasuk Yoyakhin ke dalam pembuangan di Babel, tidak ada yang tersisa kecuali rakyat yang lemah. Kemudian Nebukadnezar, Raja Babel mengangkat paman Yoyakhin menjadi raja Yehuda dan mengganti namanya menjadi Zedekia.

13. Zedekia, Raja Yehuda dan Runtuhnya Kerajaan Yehuda (2 Raja-Raja 24:18 -25:30)
Zedekia memerintah Yehuda dengan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Maka Tuhan pun murka dengan mengizinkan Nebukadnezar, Raja Babel dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem. Ia mendirikan tembok raksasa disekeliling Yerusalem sehingga Yerusalem terkepung. Bangsa Yehuda sangat menderita dengan kelaparan yang terjadi. Bangsa Yehuda pun merobohkan tembok kota itu lalu melarikan diri menuju Araba-Yordan. Namun Raja Zedekia berhasil ditangkap oleh tentara Babel saat melarikan diri. Anak-anak Zedekia disembelih di depan Zedekia, mata Zedekia dibutakan dan dia dibelenggu dengan rantai tembaga lalu dibawa ke Babel. Lalu Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Babel pergi ke Yerusalem. Ia membakar semua rumah termasuk rumah Tuhan serta merobohkan tembok disekeliling kota Yerusalem dibantu oleh tentara Kasdim. Rakyat yang tersisa diangkut dan dijadikan budak di Babel. Hanya beberapa orang miskin yang ditinggalkan di Yerusalem.

Dari rakyat yang masih tinggal di tanah Yehuda, mereka mengangkat Gedalya bin Ahikam bin menjadi Gubernur namun tidak lama kemudian ia bunuh oleh Netanya bin Elisama dan 10 orang yang bersama dia

Raja Babel pun telah berganti menjadi Raja Ewil-Merodakh, Raja Ewil menunjukkan belas kasihan kepada Zedekia. Ia pun membebaskan Zedekia dan memberi kedudukan kepadanya di Babel.

Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda telah membuat Allah murka dengan segala kejahatan yang mereka lakukan, sehingga Allah membiarkan Kerajaan Israel dan Yehuda mengalami kehancuran. Selain itu, Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda banyak dipimpin oleh raja yang jahat. Dan raja yang baik pun juga pada akhirnya memiliki cacat cela yang membuat kita sadar bahwa tidak ada raja yang sempurna kecuali Tuhan Yesus.

Perang Yahudi-Romawi

Perang Yahudi-Romawi adalah serangkaian pemberontakan oleh orang-orang Yahudi dari Provinsi Yudea terhadap Kekaisaran Romawi. Beberapa sumber menggunakan istilah ini untuk merujuk hanya pada Perang Yahudi-Romawi Pertama (66–73) dan Pemberontakan Bar Kokhba (132–135). Sedangkan sumber lainnya memasukkan Perang Kitos (115–117) sebagai salah satu perang Yahudi-Romawi, meskipun pemberontakan ini dimulai pada Cyrenaica, dan hanya pada tahap akhir pertempuran benar-benar terjadi di Provinsi Yudea.

Perang Yahudi-Romawi Pertama (66–73) — juga disebut Pemberontakan Yahudi Pertama atau Pemberontakan Besar Yahudi.
Perang Kitos (115–117) — kadang-kadang disebut Perang Kedua Yahudi-Romawi.
Perang Bar Kokhba (132–135) — juga disebut sebagai Perang Kedua Yahudi-Romawi (jika Perang Kitos tidak dihitung), atau Ketiga (jika Perang Kitos dihitung).
Selanjutnya pemberontakan oleh orang Yahudi di Provinsi Yudea:

Pemberontakan Yahudi melawan Gallus (351) — pemberontakan Yahudi yang bersumber dari Sepforis.
Pemberontakan terhadap Heraclius (613) — pemberontakan Yahudi yang bersumber dari Tiberias.

Diaspora Yahudi

Diaspora Yahudi ( "pembuangan") adalah penyebaran orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Secara umum pengertian diaspora dianggap telah dimulai dengan pembuangan di Babel pada 597 SM, setelah sejumlah komunitas Yahudi Timur Tengah terbentuk pada waktu itu sebagai akibat dari kebijakan yang toleran dan kemudian menjadi pusat-pusat kehidupan Torah dan Yudaisme yang penting selama abad-abad berikutnya. Kekalahan orang-orang Yahudi pada Pemberontakan Besar Yahudi pada tahun 70 dan Pemberontakan Bar Kokhba pada 135 dalam menghadapi Kekaisaran Romawi merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan besarnya jumlah dan daerah pemukiman di diaspora, karena banyak orang Yahudi yang tersebar setelah hilangnya negara mereka Yudea atau dijual dalam perbudakan di seluruh kekaisaran.

Istilah ini juga digunakan - dalam pengertian rohani - bagi orang-orang Yahudi yang nenek-moyangnya berganti agama dengan agama-agama di luar Israel, meskipun misalnya orang-orang itu tidak dapat disebut hidup di dalam pembuangan.

Diaspora Pra-Romawi
Setelah kerajaan Yehuda dikalahkan oleh bangsa Khaldea pada 588 SM (lihat pembuangan Babel), dan diangkutnya sejumlah besar penduduknya ke lembah Sungai Efrat, orang-orang Yahudi mempunyai dua titik berkumpul yang utama: Babel dan Tanah Israel.

Meskipun kebanyakan orang Yahudi, khususnya keluarga-keluarga kaya, tinggal di Babel, kehidupan mereka, di bawah rentetan pemerintahan dinasti Akhemenid, Kekaisaran Seleukus, Partia, dan dinasti Sasani, suram dan tidak berarti secara politik. Unsur yang paling miskin namun hidup dari orang-orang yang hidup di pembuangan ini kembali ke Tanah Israel pada pemerintahan dinasti Akhemenid. Di sana, dengan dibangunnya kembali Bait Suci Yerusalem sebagai pusatnya, kelompok ini menata kembali dirinya menjadi sebuah komunitas, yang diwarnai oleh semangat keagamaan yang kuat dan ikatan yang erat dengan Torah, yang sejak itu menjadi pusat identitasnya. Tak lama kemudian kelompok kecil ini semakin bertambah besar dengan datangnya kelompok-kelompok tambahan dari berbagai tempat, lalu bangkitlah suatu kesadaran akan dirinya sendiri, dan mereka mulai berjuang untuk membentuk ikatan politik.

Setelah berbagai perubahan, khususnya yang disebabkan oleh pertikaian internal dalam dinasti Seleukus di satu pihak, dan karena dukungan pihak Roma yang mempunyai kepentingan di pihak lain, perjuangan kemerdekaan Yahudi akhirnya menang. Di bawah para pangeran Hasmonea yang mula-mula adalah imam agung dan kemudian raja, negara Yahudi berjaya dan merebut sejumlah wilayah. Namun, tak lama sesudah itu, terjadilah pertikaian di kalangan keluarga kerajaan. Ditambah dengan ketidakpuasan yang kian bertambah dari orang-orang yang saleh, jiwa bangsa itu, terhadap para penguasa yang tidak lagi memperlihatkan penghargaan terhadap aspirasi sejati bangsanya, menjadikan negara Yahudi itu mangsa yang empuk bagi ambisi-ambisi Roma, pengganti dinasti Seleukus. Pada 63 SM, Pompeyus menyerbu Yerusalem, dan Gabinius memaksa orang-orang Yahudi membayar upeti.

Populasi diaspora awal
Pada pertengahan abad ke-2 SM, penulis Yahudi yang mengarang buku ketiga Oracula Sibyllina, berbicara kepada "bangsa pilihan", katanya: "Setiap daratan penuh dengan engkau, demikian pula setiap lautan." Saksi-saksi yang sangat beraneka ragam, seperti misalnya Strabo, Filo, Seneca, pengarang Kisah para Rasul, dan Yosefus, semuanya memberikan kesaksian terhadap kenyataan bahwa bangsa Yahudi tersebar di seluruh bagian dunia yang diketahui pada waktu itu.

Raja Agripa I, dalam suratnya kepada Caligula, menyebutkan di antara provinsi-provinsi yang dihuni oleh diaspora Yahudi hampir semua negara Helenis dan non-Helenis di Timur. Penyebutan ini sama sekali tidak lengkap, karena Italia dan Kirene tidak diikutsertakan. Penemuan epigrafi dari tahun ke tahun menambah jumlah dari komunitas-komunitas Yahudi yang diketahui. Hanya ada sedikit sekali informasi mengenai seberapa besar sesungguhnya komunitas-komunitas Yahudi yang beraneka ragam ini; dan informasi ini harus diperlakukan dengan hati-hati. Setelah Tanah Israel dan Babel, menurut Yosefus di Suriah terdapat populasi Yahudi yang paling padat; khususnya di Antiokhia dan kemudian di Damsyik. Di Damsyik inilah, pada waktu terjadi pemberontakan besar, 10.000 (menurut sebuah versi yang lain 18.000) orang Yahudi dibantai. Filo menyebutkan bahwa jumlah orang Yahudi di Mesir mencapai 1.000.000 orang; seperdelapan dari seluruh populasinya. Dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain, Alexandria adalah komunitas Yahudi yang paling penting. pada masa Filo, orang Yahudi menghuni dua dari lima bagian kota itu. Menilai dari laporan-laporan mengenai pembantaian besar-besaran pada 115, jumlah penduduk Yahudi di Kirenaika di Siprus, dan di Mesopotamia tentunya juga besar. Di Roma, pada permulaan pemerintahan Kaisar Augustus, ada lebih dari 8.000 orang Yahudi. Inilah jumlah yang mendampingi para utusan yang datang untuk menuntut digulingkannya Arkhelaus. Akhirnya, bila jumlah orang-orang yang ditangkap oleh propraetor Flakus pada tahun 62 benar-benar mewakili pajak didrakhma per kepala selama satu tahun, barangkali dapat kita simpulkan dengan aman bahwa di Asia Kecil penduduk Yahudi berjumlah 45.000 laki-laki, atau jumlah keseluruhannya setidak-tidaknya 180.000 orang.

Bila laporan-laporan ini bisa dipercaya, tampaknya tidak terhindari bahwa komunitas Yahudi yang begitu banyak di daerah-daerah seperti Alexandria tidak seluruhnya terdiri dari emigran. Kemungkinan besar sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang berpindah agama menjadi Yahudi. Perlu diketahui bahwa sebelum kehancuran Bait Allah, komunitas Yahudi melakukan kegiatan misioner. Salah seorang terkenal yang menjadi Yahudi adalah Herodes Agung, seorang Idumaea.

Yudea dihancurkan Romawi

Pemerintahan Romawi berlanjut hingga pecahnya pemberontakan pada 66-70, yang berakhir dengan direbutnya Yerusalem dan dihancurkannya Bait Allah, pusat kehidupan nasional dan keagamaan orang Yahudi di di seluruh dunia. Setelah bencana ini, Yudea membentuk sebuah provinsi Romawi yang terpisah, yang dipimpin oleh seorang wakil resmi pemerintah, pertama-tama sebagai "pro prætore," dan belakangan, "pro consule," yang juga merupakan panglima tentara pendudukan. Penghancuran total atas Yerusalem, dan pembangunan sejumlah pemukiman Yunani dan Romawi di Yudea, menunjukkan rencana terbuka pemerintah Romawi untuk mencegah regenerasi politis negara Yahudi itu. Namun, 40 tahun kemudian orang-orang Yahudi melakukan usaha untuk merebut kembali kemerdekaan mereka yang telah hilang. Dengan lenyapnya Palestina, pertama-tama mereka berusaha membangun di atas persemakmuran Helenisme di Kirene, Siprus, Mesir, dan Mesopotamia. Usaha-usaha ini dijalankan dengan tegas, namun tidak bijaksana, dan ditindas oleh Trayanus (115-117); dan di bawah Hadrianus nasib yang sama pun terjadi pada upaya terakhir dan mulia dari orang-orang Yahudi Palestina untuk merebut kembali kemerdekaan mereka (133-135). Sejak masa ini, meskipun terdapat sejumlah gerakan yang tidak penting di bawah Antoninus, Markus Aurelius, and Severus, orang-orang Yahudi di Palestina, yang kini jumlahnya telah jauh berkurang, miskin, dan kalah, kehilangan dominasi mereka di dunia Yahudi. Orang-orang Yahudi tidak lagi mempunyai alasan untuk berpaut pada suatu tanah air di mana kenangan akan masa lampau mereka yang agung hanya menciptakan gamaran yang lebih pahit dan memalukan tentang masa kini mereka, di mana Yerusalem, dengan nama "Ælia Capitolina," sebuah koloni Romawi, telah menjadi kota yang sama sekali kafir, dan orang Yahudi sendiri dilarang memasukinya, dengan ancaman hukuman mati.

Penyebaran orang Yahudi
Penghancuran Yudea menimbulkan pengaruh yang menentukan terhadap penyebaran orang Yahudi di seluruh dunia, karena pusat peribadahan beralih dari Bait Allah kepada wibawa rabinik.

Sebagian orang Yahudi dijual sebagai budak atau diangkut sebagai tawanan setelah jatuhnya Yudea. Yang lainnya bergabung dengan diaspora yang sudah ada, sementara yang lainnya lagi tinggal di Yudea dan mulai menyusun Talmud Palestina. Orang-orang Yahudi yang hidup di diaspora pada umumnya diterima di dalam Kekaisaran Romawi. Namun kebangkitan agama Kristen menyebabkan munculnya berbagai pembatasan. Pengusiran paksa dan penganiayaan muncul di pusat-pusat internasional kehidupan Yahudi yang seringkali dicari oleh komunitas-komunitas yang tersebar jauh. Orang Yahudi tidak selalu bersatu, karena penyebaran mereka, yang pindah dari Yudea ke Babel ke Spanyol ke Polandia ke Amerika dan akhirnya kembali ke Israel.

Pada Abad Pertengahan, orang Yahudi dibagi menjadi beberapa kelompok regional yang pada masa kini biasanya dimasukkan ke dalam dua golongan besar: orang Yahudi Ashkenazi (orang Yahudi Eropa Utara dan Timur) dan orang Yahudi Sefardim (orang Yahudi Spanyol, Mediterania, dan Timur Tengah). Pengelompokan ini menggabungkan sejarah-sejarah yang paralel -- penganiayaan dan pengusiran paksa yang sama-sama dialami -- yang akhirnya berpuncak pada peristiwa-peristiwa pada abad ke-20 yang menyebabkan terbentuknya Negara Israel.

Diaspora dalam kehidupan orang Yahudi
Antara penghancuran Yudea oleh kekaisaran Romawi dengan pembentukan kembali sebuah negara Yahudi, yaitu Israel pada 1948, semua orang Yahudi dianggap hidup di Diaspora. Saat ini, istilah ini digunakan untuk mengacu kepada orang-orang Yahudi yang hidup di luar Israel.

Berbagai pembuangan dan penganiayaan maupun kondisi dan kesempatan politik dan ekonomi memengaruhi jumlah dan dinamika diaspora Yahudi. Pada 2005, jumlah terbesar orang Yahudi hidup di Amerika Serikat (5.280.000), Bekas Uni Soviet (1.000.000), Perancis (494.000), Argentina (395.000) Kanada (372.000), dan Britania Raya (298.000). Sebagai perbandingan, jumlah penduduk Yahudi di Israel (5.235.000  lebih besar dari di manapun juga kecuali di Amerika Serikat; lihat Demografi Israel.

Kerajaan Yehuda

Kerajaan Yehuda (bahasa Ibrani: מַלְכוּת יְהוּדָה, Modern Malḫut Yəhuda Tiberias Malḵûṯ Yəhûḏāh) hidup pada dua periode dalam sejarah Yahudi. Menurut Alkitab Ibrani, kerajaan muncul di Yehuda setelah wafatnya Saul, saat suku Yehuda mengangkat Daud, yang berasal dari Suku Yehuda, untuk memerintah wilayah tersebut. Setelah tujuh tahun Daud menjadi raja Kerajaan Israel serikat. Selama masa-masa ini, Yerusalem menjadi ibukota dari kerajaan serikat. (2 Samuel 5:6-7) Namun, pada sekitar 930 SM, kerajaan serikat terpecah, dengan sepuluh dari dua belas suku Israel menolak cucu Daud Rehabeam sebagai raja mereka. Kerajaan Yehuda yang baru muncul sebagai salah satu pemerintahan, dan pemerintahan lainnya yang dikenal dengan Kerajaan Israel, atau Israel. Kerajaan Yehuda ini sering disebut sebagai Kerajaan Selatan, sedangkan Kerajaan Israel karena perpecahan tersebut disebut Kerajaan Utara. Yehuda bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. (2 Raja-raja 25:8-21) Dengan pengasingan penduduk dan penghancuran Kuil dan Yerusalem, penghacuran kerajaan selesai sudah.

Dinasti Daud dimulai ketika suku Yehuda mengangkat Daud sebagai raja setelah wafatnya Saul. Garis Daud berlanjut saat ia menjadi raja Kerajaan Israel serikat. Saat kerajaan serikat terpecah, suku Yehuda dan Benyamin tetap mengikuti garis Daud, yang memerintah hingga kerajaan dihancurkan pada tahun 586 SM. Walau begitu, garis Daud tetap dihormati oleh para buangan di Babilonia, yang menghormati Rosh Galut sebagai raja dalam pembuangan.

Kerajaan Yehuda terdiri dari teritori suku Yehuda, Simeon, dan Benyamin, sebuah wilayah dengan sekitar 8.900 km2 (3.436 sq mi). Ibukotanya adalah Yerusalem, yang terletak di teritori suku Benyamin.

Wilayah yang menyusun kerajaan terdiri dari wilayah yang dikenal sebagai Har Yehudah ("pegunungan (wilayah) curam"). Wilayah tersebut dulunya merupakan kediaman bangsa Keni, Kaleb, Otniel, dan di Yerusalem bangsa Yebus.

Kerajaan serikat merupakan kesatuan dari dua belas suku Israel yang hidup di wilayah yang saat ini merupakan Israel dan Palestina modern. Kerajaan ini berdiri dari sekitar 1030-930 SM.

Setelah wafatnya Salomo (Sulayman) pada 931 SM, sepuluh suku di utara menolak menerima Rehabeam sebagai raja mereka, dan sebagai gantinya pada sekitar tahun 930 SM memilih Yerobeam, yang bukan dari garis Daud, sebagai raja mereka. Kerajaan utara kemudian dikenal dengan Kerajaan Israel atau Israel. Pemberontakan terjadi di Sikhem, dan suku Yehuda merupakan yang tersisa pertama kali yang menerima Keluarga Daud. Kemudian, setelah suku Benyamin bergabung dengan Yehuda, Yerusalem (yang terletak di teritori Benyamin: Yosua 18:28) menjadi ibukota kerajaan baru tersebut. Kerajaan selatan disebut dengan kerajaan Yehuda atau Yehuda. 2 Tawarikh 15:9 juga menyebutkan bahwa anggota suku-suku Efraim, Manasye, dan Simeon "melarikan diri" ke Yehuda selama pemerintahan Asa dari Yehuda.

Selama enam puluh tahun pertama, raja-raja Yehuda berusaha mengembalikan otoritas mereka terhadap kerajaan utara, dan terjadi perang yang terus berkecamuk di antara mereka. Selama delapan puluh tahun berikutnya, sudah tidak terjadi lagi perang terbuka di antara mereka, dan kemudian menjadi saling bersekutu, bekerja sama melawan musuh mereka, khususnya Damaskus.

Israel berdiri sebagai sebuah negara merdeka hingga sekitar tahun 720 SM saat terjadi penaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Namun, diperkirakan hanya seperlima populasi (sekitar 40.000) yang benar-benar dipindahkan dari wilayah mereka selama dua periode pengasingan di bawah Tiglath-Pileser III dan Sargon II. Banyak orang Israel juga melarikan diri ke selatan ke Yerusalem, yang menjadi lima kali lipat lebih luas selama periode ini, sehingga didirikan sebuah tembok baru dan sebuah mata air (Siloam) yang disediakan oleh Raja Hizkia.

Setelah kehancuran Israel, Yehuda masih bertahan hingga sekitar satu setengah abad hingga ditaklukkan oleh bangsa Babilonia.

Raja Hizkia dari Yehuda (727-698 SM) dalam Alkitab disebutkan sebagai pemrakarsa pembaharuan yang memaksa hukum Yahudi menolak penyembahan berhala (dalam hal ini, penyembahan terhadap Ba'alim and Asyera di antara dewa-dewa tradisional Timur Dekat).   Selama kekuasaannya juga dibuat "Inskripsi Siloam", yang ditulis dalam abjad Ibrani Kuno.

Manasye dari Yehuda (698-642 SM), mengorbankan putranya kepada Molokh, 2 Raja-raja 21: Dia dan putranya Amon (berkuasa 642-640 SM) membalikkan reformasi Hizkia dan secara resmi mengadakan kembali pemberhalaan. Menurut cerita-cerita kenabian, Manasye meletakkan sebuah berhala berwajah empat di Tempat Maha Kudus dari Tempat-tempat Kudus.

Pada pemerintahan raja Yosia (640-609 SM) terjadi reformasi agama. Menurut Alkitab, saat pemulihan dilakukan di Kuil, sebuah 'Kitab Hukum' ditemukan (kemungkinan Kitab Ulangan). 

Pada 586 SM, bangsa Babilonia, di bawah raja Nebukadnezar II, mengepung Yerusalem. Kuil Pertama dihancurkan begitu pula kota Yerusalem. Hingga saat ini, penghancurkan diperingati oleh orang Yahudi pada 9 Abib, atau Tisha B'Av. 

Akibat penaklukkan ini, banyak penduduk Yehuda diasingkan dari tanah mereka dan disebar ke seluruh Kekaisaran Babilonia, dan kerajaan Yehuda merdeka berakhir. Keluarga Daud masih tetap dihormati dan diterima sebagai pemimpin komunitas Yahudi Babilonia sebagai Rosh Galut. Kerajaan Yahudi dikembalikan oleh para Makabe empat abad kemudian dalam bentuk yang telah dimodifikasi.