Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Oct 22, 2015

Mitos Kutukan Makam Mesir Kuno

Peradaban Mesir Kuno memiliki berbagai peninggalan-peninggalan yang menakjubkan. Makam-makam raja Mesir Kuno juga tak kalah menariknya. Tidak hanya arsitekturnya yang menakjubkan dan terekesan misterius tetapi juga rumor akan adanya harta di dalam makam. Tidak mudah bagi orang untuk masuk ke dalam makam-makam tersebut selain letaknya yang sulit dijangkau juga adanya kabar bahwa makam-makam itu dijaga oleh kutukan.
Kutukan ini untuk memperingatkan orang agar tidak masuk ke dalam makam. Meskipun demikian hal itu tidak menyiutkan nyali para perampok makam kuno. Di Mesir kuno, kutukan kadang-kadang ditempatkan pada pintu masuk makam untuk melindungi monumen suci ini dari para pengangu atau dijarah. Prasasti yang ada di makam terkadang berisi tentang peringatan bahwa sang empunya makam akan hidup kembali untuk membalas dendam terhadap mereka yang telah mengangu makamnya.

Cerita dan rumor seputar kutukan yang ditempatkan di makam dan mumi telah ada selama berabad-abad. Catatan yang ada pada periode abad pertengahan mengatakan bahwa situs pemakaman Mesir Kuno tidak boleh diganggu karena mumi yang berada di dalam memiliki kualitas yang tidak diketahui dan tampak jahat. Penduduk Mesir percaya bahwa kutukan yang ditempatkan di sekitar lokasi pemakaman oleh imam untuk melindungi mumi dan perjalanan spiritual mereka setelah kematian. Keyakinan ini membentuk asumsi tentang apa yang disebut “Kutukan Firaun” - siapa saja yang masuk atau menganggu makam mumi, terutama makam dari Firaun, akan mendapatkan nasib buruk dan kematian yang tak terelakkan.

Kutukan di makam tertulis di tempat peribadatan yang ada di makam, dinding makam, pintu palsu makam, stelae (arca batu dari kebudayaan Mesopotamia), patung-patung dan peti mati. Bahkan salah satu kutukan yang bernama “Kutukan Donkey/ Donkey Curse” mengancam para pelanggar makam dengan pemerkosaan atau pembunuhan oleh binatang Seth (dalam mitologi Mesir Kuno Seth dianggap sebagai dewa gurun, dewa kegelapan dan kekacauan, merupakan gabungan dari hewan aardvark, keledai, dan serigala). Selain itu ada pula kutukan yang berasal dari seorang administrator dari dinasti ke-18 Mesir yaitu Amenhotep, anak dari Hapu. Dia mengancam siapa pun yang akan merusak makamnya serta hukuman bagi pelakunya, seperti mereka akan kehilangan posisi dan kehormatan di dunia, akan dibakar dalam tungku di ritus execration, terbalik dan tenggelam di laut, tidak memiliki penerus, tidak memiliki makam atau penguburan mereka sendiri, dan tubuh mereka akan membusuk karena mereka akan kelaparan tanpa rezeki dan tulang-tulang mereka akan binasa.

Cerita tentang "Kutukan Firaun" dimulai sekitar abad ke-7 Masehi ketika orang-orang Arab menaklukkan Mesir dan tidak bisa membaca hieroglif (tulisan Mesir Kuno). Bagi mereka pembalseman mumi merupakan pemandangan yang aneh untuk dilihat. Banyak cerita yang beredar bahwa jika seseorang memasuki makam dan mengucapkan mantra, mereka akan dapat melihat benda-benda yang ada di dalam makam. Mantra itu juga diyakini dapat membuat mumi menjadi hidup. Mereka percaya bahwa orang-orang Mesir Kuno akan melindungi makam mereka dengan cara gaib atau kutukan pada siapa saja yang masuk. Seorang penulis Arab memperingatkan untuk tidak mengutak-atik mumi atau makam Mesir Kuno karena mereka tahu orang Mesir melakukan sihir selama upacara pemakaman. Buku yang diterbitkan pertama tentang kutukan Mesir diterbitkan pada tahun 1699 dan ratusan yang memilikinya.

Pembukaan makam Raja Tutankhamun pada tahun 1923, mungkin menjadi kasus yang paling terkenal tentang kutukan makam. Hal tersebut telah menimbulkan kepanikan dan keyakinan akan adanya 'Kutukan Firaun'. Beberapa orang yang terlibat dalam upaya pembukaan makam telah mati secara tiba-tiba dan dalam kondisi yang aneh. Sebagian catatan milik Howard Carter (arkeolog Inggria yang memimpin penggalian makam) bahwa ia telah menemukan sebuah tablet tanah liat di makam itu. Setelah diteliti ternyata tablet tersebut berisi kutukan yang berbunyi, "kematian akan membunuh dengan sayapnya siapa mengganggu ketenangan Firaun".

Tanda pertama dari kutukan itu terjadi ketika Carter mengirim seorang utusan ke rumahnya. Pada saat kedatangan, utusan tersebut mendengar teriakan samar dan melihat burung kenari milik Carter dimakan oleh ular kobra (ular kobra merupakan tanda Kekaisaran Mesir Kuno). Dalam waktu tujuh minggu setelah makam dibuka, Earl of Carnarvon, yang telah menemukan makam Tutankhamun bersama Carter, meninggal karena komplikasi dari gigitan nyamuk. Media cepat mengasumsikan terhadap Kutukan Firaun. Conan Doyle, seorang okultis serta penulis Sherlock Holmes, menyebarkan berita seperti yang dilakukan Novelis Mari Corelli yang memperingatkan akan ada konsekuensi bagi siapa saja yang memasuki makam yang sebelumnya telah disegel tersebut.
Meskipun demikian fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang ikut dalam penggalian dan pembukaan makan tersebut hidup panjang dan sehat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dari 58 yang turut serta pada saat makam dan sarkofagus dibuka, hanya delapan meninggal dalam belasan tahun. Sedangkan yang lain masih hidup, termasuk Howard Carter, yang meninggal karena limfoma tahun 1939 pada usia 64.

Dalam beberapa kasus sebagian besar kutukan Mesir yang telah diteliti merupakan jebakan dan penggunaan racun sebagai mantra sihirnya. Misalnya, makam yang disegel, berisi ruang-ruang rahasia yang sulit diakses. Beberapa bagian diblokir dengan lempengan batu besar, ada lubang tersembunyi, pintu perangkap dan kabel yang digunakan sebagai jebakan. Insinyur Mesir kuno juga akan menutupi lantai dan dinding makam dengan bubuk hematit, debu logam tajam yang dirancang untuk menyebabkan kematian yang lambat dan menyakitkan bagi mereka yang menghirupnya, yang kemudian dilepaskan ke udara ketika batu-batu itu tergeser. Ketika Egyptologist Dr Zahi Hawass memasuki Makam Bahariya Oasis pada tahun 2001, timnya menemukan sarkofagus terjebak di jarak 8 inci dari bubuk hematit dan memaksa mereka untuk meninggalkan ekspedisi sampai mereka bisa kembali dengan setelan hazmat (baju pelindung) dan respirator.

Sementara kutukan mungkin dianggap takhayul dari masa lalu, sampai saat ini masih banyak orang yang mempersenjati diri dengan benda-benda atau mantra sebagai pelindung dari kutukan. Studi ilmiah telah mengungkapkan fenomena psikologis yang kuat, di mana orang-orang yang sangat percaya diri mereka dikutuk akhirnya menyerah pada penyakit fisik yang disebabkan oleh stres yang kuat. Dengan cara ini, mungkin kutukan dari zaman kuno tetap ada sampai hari ini.

Arkaim: Peradaban Kuno Misterius di Runsia

Arkaim merupakan sebuah situs arkeologi yang ada di wilayah Rusia. Terletak di padang rumput Ular selatan. Berjarak 8,2 km atau 5,1 mil dari utara Amurskiy, dan 2,3 km dari tenggara Alexandronvskiy, yang merupakan dua desa di Chelyabinsk Oblast, Rusia. Posisi Arkaim juga terletak di sebelah utara perbatasan Kazakhstan.

Para peneliti sering menyebut situs Arkaim ini sebagai Stonehenge-nya Rusia. Bahkan beberapa peneliti percaya bahwa Arkaim dan Stonehenge di Inggris memiliki hubungan dan merupakan observatorium angkasa. Menurut penelitian ada yang berpendapat bahwa situs yang ada di Rusia ini telah ada sejak abad ke-17 SM, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa situs ini telah ada sejak abad ke-20 SM. Jika itu benar, maka tentu saja situs Arkaim ini lebih tua dari situs di Troy dan Piramida Mesir yang baru ada pada 4000 tahun SM. Banyak yang menyebu Arkaim sebagai “Negara Kota” dan diyakini menjadi salah satu zona anomali terkuat di Rusia.

Situs Arkaim tidak hanya meninggalkan reruntuhan bangunan, jalan-jalan, tetapi juga sisa-sisa sistem air, tungku metalurgi, dan tambang. Artefak yang ditemukan di situs ini menunjukkan bahwa Arkaim telah mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Sintashta-Petrovka.

Penduduk setempat percaya bahwa Arkaim merupakan tempat suci. Banyak peziarah datang ke tempat ini sepanjang tahun untuk mendapatkan air dari Sungai Bolshaya Karaganka yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Sedangkan pada musim panas mereka kan melumpuri tubuhnya dengan tanah liat dari situs ini yang dipercaya juga akan dapat membantu mengobati penyakit kulit.
Pegunungan di sekitar benteng Arkaim juga tidak biasa, yang paling terkenal adalah Shamanka atau Bold Mountain. Orang-orang naik ke atas gunung itu untuk mendapatkan energi positif, berdoa, atau bermeditasi. Banyak orang yang memiliki penyakit yang parah dibawa ke sana karena percaya akan mendapatkan penyembuhan. Pengunjung juga datang ke puncak gunung itu untuk melakukan pertobatan. Gunung tersebut diyakini juga memiliki aura cinta yang dapat membawa keberuntungan. Ada pula desas-desus yang mengatakan bahwa gunung itu dapat membuat perempuan dan laki-laki yang datang akan menajdi populer. Di dekat Gunung Shamanka juga terdapat Gunung Grachinaya atau disebut juga Blessed Mountain. Berkebalikan dengan rumor yang ada di Gunung Shamanka, oramg tidak boleh berlama-lama berada di Gunung Grachinaya, karena diyakini mereka berisiko akan kehilangan pikirannya.

Di dalam situs ini juga ditemukan kuburan kuda-kuda, sehingga para peneliti berpendapat bahwa Arkaim juga menjadi rumah bagi Bangsa Arya. Beberpa teks India kuno dan himne yang diyakini ditulis oleh Bangsa Arya menceritakan dan menggambarkan ritual tentang pengorbanan kuda dan penguburannya, yaitu dengan cara bahwa kuda disembelih kemudian ikut dimakamkan dengan tuannya yang talah meninggal.

Perkembangan kota kuno Arkaim ini sangat menakjubkan. Pemukiman dibangun sesuai dengan skema radial, dengan diameter luar lingkaran sekitar 160 m dengan parit sekitar 2 m di sekitar dinding luar dan dinding Arkaim lembarnya hampir 5 m dan tingginya 5 m. Para arkeolog telah menyimpulkan bahwa Arkaim adalah pemukiman terencana. 

Menurut peneliti, kota berkubu ini memiliki serangkaian gerbang, yang berjumlah 4. Gerbang terluas ditempatkan di arah selatan-barat sedangkan sisanya 3 gerbang berorientasi ke arah mata angin. Selain dinding Arkaim, pemukiman penduduk juga memiliki saluran yang lebarnya 2 meter di balik dinding yang terhubung ke parit luar. Menurut arkeolog 35 rumah berdekatan dengan dinding luar, yang masing-masing memiliki pintu keluar ke jalan utama dari pemukiman kuno ini sementara ada juga 25 rumah di bagian dalam dari pemukiman.

Pertahanan pemukiman kuno ini sangat canggih, Arkaim tidak hanya memiliki dinding yang luar biasa dan saluran air yang rumit mereka juga membuat "labirin" di pintu masuk pemukiman ini yang mungkin merupakan benteng perangkap sehingga membuat akses ke kota sangat sulit. Ada teori lain yang menunjukkan bahwa labirin ini tidak dibangun untuk pertahanan melainkan sebagai monumen keagamaan atau sesuatu yang sakral.

Meskipun pemukiman kuno Arkaim telah memperoleh banyak perhatian dari media dan bahkan wisatawan, beberapa peneliti menggambarkan Arkaim sebagai Kota "SWASTIKA" atau "MANDALA" yang merupakan ibukota peradaban kuno Bangsa Arya awal, seperti yang dijelaskan dalam Avesta dan Veda. Tetapi ada juga yang mengatakan semua ini dalam rangka untuk mendapatkan lebih banyak publisitas. Arkaim dinyatakan sebagai cagar arkeologi nasional pada tahun 1991.

Kota Hantu Bhangarh dan Kutukan Orang Suci

Bangunan-bangunan kota yang ditinggalkan di Bhangarh sering dianggap sebagai tempat paling berhantu di India, sampai-sampai Lembaga Survei Arkeologis India melarang pengunjung memasuki lokasi saat matahari tenggelam, dan masyarakat sekitar juga memindahkan tempat tinggal mereka menjauhi bangunan-bangunan ini. Reputasi Bhangarh ini berasal dari dua legenda kuno, salah satunya melibatkan satu orang suci (pendeta) yang mengutuk tempat ini setelah bangunan benteng membayangi tempat persemediannya.

Kota Bhangarh yang terletak di wilayah Rajgarh di Negara bagian Rajasthan, didirikan pertama kali di tahun 1573 dalam pemerintahan Bhagwant Das sebagai tempat tinggal untuk anak keduanya. Bangunan benteng, yang sebenarnya adalah sebuah kota kecil yang terdiri atas kuil istana dan beragam pintu gerbang, meliputi area yang luas di kaki sebuah gunung. Namun terlepas dari keindahan dan pemandangan yang menawan, bangunan ini diliputi oleh cerita-cerita kelam sehingga ditinggalkan di tahun 1783, dengan penduduk local juga memindahkan desa mereka menjauhi tempat ini.

Terlepas dari keindahan desain dari Benteng Bjangarh, penduduk local memindahkan kota mereka dan tempat ini ditinggal lebih dari 200 tahun lalu

Melewati gerbang utama dari kota benteng ini, terdapat area yang disebut Bhoot Bangla (Rumah Hantu) dimana disana terdapat beragam kuil Hindu. Bangunan yang paling spektakuler disini adalah Kuil Hanuman, Kuil Gopinanth, Kuil Someshwat, Kuil Keshav Rai, Kuil Mangla Devi, Kuil Ganesha dan Kuil Navin.
Istana Kerajaan terletak di bagian paling belakang benteng dan dilindungi oleh dua lapis perbentengan yang melintasi lembah. Adapun kota ini dipisahkan dari dataran oleh pagar berlapis lima gerbang.

Legenda Bhangarh

Berdasarkan legenda, Kota Bhangarh dikutuk oleh orang suci yang bernama Baba Balnath yang pada awalnya memberikan restu untuk pembangunan kota ini selama ketinggian bangunannya tidak membayangi lokasi pertapaannya. Balnath memperingatkan jika hal ini terjadi dia akan menghancurkan seluruh kota.
Ternyata kenyataan berkata lain, seorang keturunan pangeran meninggikan istana sehingga bangunan tersebut membayangi tempat persemediaan, kemudian Balnath mengutuk kota ini. Banyak orang percaya jika Balnath dikuburkan disana hingga hari ini.

Legenda kedua berhubungan dengan seorang penyihir yang bernama Singhiya, yang jatuh cinta dengan seorang putri dari Bhangarh yang bernama Ratnavati. Berdasarkan kisah ini, Singhiya merapal mantra dalam sebuah hiasan yang dibeli oleh pembantu putri, sehingga ketika sang putrid menyentuh benda itu, sang putrd akan jatuh cinta padanya. Namun Ratnavati melihat sang penyihir melakukan trik ini sehingga rencananya gagal. Merasa tersakiti, sang penyihir dikatakan telah merapal sebuah kutukan pada kota ini, banyak orang percaya bahwa hantu penyihir telah bergentayang menghantui kota ini. Beberapa penduduk lokal percaya bahwa putri Ratnavati akan berenkarnasi pada tubuh yang baru dan akan mengakhiri kutukan kota ini.

Ketika legenda ini terlihat tidak lebih seperti kisah fantasi, kisah ini ternyata telah tersebar luas, dan banyak orang percaya Lembaga Survei Arkeologis India telah menaruh tanda larangan memasuki Bhangarh setelah matahari terbenam. Penduduk lokal berkata bahwa siapa pun yang berusaha untuk tinggal setelah matahari terbenam akan tidak pernah kembali. Walaupun begitu, kisah ini telah menarik ribuan turis setiap tahunnya, yang penasaran untuk merasakan pengalaman kota hantu dan terkutuk Bhangarh.

Kumari Kandam Benua Yang Hilang

Sebagian besar orang sangat familiar dengan kisah benua yang hilang, Atlantis, dimana legenda mengkisahkan kota yang tenggelam ditelan samudera sebagaimana yang dicatat oleh ahli filsafat Yunan Plato. Hingga saat ini, opini masih terbelah apakah kisah ini harus dipahami sebagai sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi atau hanya dianggap sebagai sebuah dongeng belaka. Jauh di timur Sub-benua India, terdapat kisah yang serupa, walaupun mungkin kurang dikenal jika dibandingkan dengan Atlantis. Kisah ini adalah tentang Benua yang hilang yang disebut Lemuria, dimana seringkali dihubungkan dengan kisah Kumari Kandam yang sering diceritakan oleh masyarakat Tamil.

Istilah Lemuaria awalnya berasal dari sebuah surat adari abad ke-19. Ahli geologis dari Inggris, Philip Sclater dipusingkan oleh keberadaan fosil lemur yang ditemukan di Madagaskar dan India namun tidak ditemukan di daratan benua Afrika dan Timur Tengah. Kemudian di salah satu artikel yang diterbitkannya di 1864 yang berjudul ‘The Mammals of Madagascar’, Sclater mengusulkan bahwa Madagaskar dan India di masa lalu merupakan bagiat dari sebuah benua yang lebih besar, dan daratan yang hilang ini diberi nama “Lemuria”. Teori Sclater ini diterima oleh komunitas ilmuwan saat itu untuk menjelaskan mengapan Lemur dapat bermigrasi dari Madagaskar ke India dan sebaliknya di masa lampau. Dengan munculnya konsep modern tentang continental drift dan lempeng tektonik, usulan Sclater tentang benua yang tenggelam tidak lagi sesuai. Walaupun demikian ide tentang benua yang hilang ini tidak begitu saja sirna, dan beberapa orang masih percaya bahwa Lemuria merupakan benua yang benar-benar ada di masa lalu.

Salah satu yang percaya dengan teori ini adalah kelompok nasionalis Tamil. Istilah Kumari Kandam pertama kali muncul di Kanda Puranam pada abad ke-15, versi Tamil dari Skanda Puranam (salah satu literatur Hindu). Walaupun sebelumnya, cerita tentang daratan kuno yang tenggelam di Semudera Hindia telah dikenal di berbagai literature Tamil sebelumnya. Menurut cerita, dahulu kala terdapat daratan yang suatu ketika diperintah oleh Raja Pandiyan yang kemudian ditelan oleh lautan. Ketika kisah tentang Lemuria dikenal di jaman Kolonial India, negeri tersebut berada dalam periode dimana cerita hikayat mulai dihubung-hubungkan dengan pengetahuan sejarah sebagai sebuah fakta. Sebagai hasil, Lemuria dengan cepat disamakan dengan Kumari Kandam.

Cerita Kumari Kandam tidak hanya dikenal hanya sebagai sebuah kisah semata, namun terlihat juga kental dengan sentiment nasionalis. Dimana dalam kisah tersebut diklaim bahwa Pandiyan merupakan raja dari Kumari Kandam yang pada saat ini memerintah seluruh Benua India, dan berdasarkan hal tersebut peradaban Tamil merupakan peradaban tertua di dunia. Ketika Kumari Kandam tenggelam, penduduknya menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mendirikan berbagai peradaban, karenanya klaim tentang benua yang hilang juga merupakan tempat lahir dari peradaban manusia.

Jadi, seberapa nyatakah kisah Kumari Kanda mini? Berdasarkan penelitian oleh India’s National Institute of Oceanography, tingkat permukaan laut lebih rendah 100 meter sekitar 14.500 tahun yang lalu dan lebih rendah 60 meter sekita 10.00 tahun lalu. Karenanya, sangatlah mungkin bahwa di masa lalu terdapat jembatan darat yang menghubungkan Sri Lanka dengan daratan India. Dengan meningkatnya pemanasan global antara 12.000 dan 10.000 tahun yang lalu, permukaan laut naik yang menghasilkan banjir yang rutin. Hal tersebut mungkin menenggelamkan permukiman pra sejarah yang terletak pada permukaan pesisir yang rendah di wilayah India dan Sri Lanka. Kisah dari bencana ini mungkin disampaikan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi lainnya dan kemudian ditulis sebagai kisah dari Kumari Kandam.

Salah satu bentuk bukti yang digunakan untuk mendukung keberadaan Kumari Kandam adalah Jembatan Adam (Jembatan Rama), yaitu serangkaian bebatuan karang yang terdiri dari karang, pasir, kerikil dan batu-batu kecil lain yang terletak di Selat Palk yang memanjang sepanjang 18 mil dari daratan India ks Sri Lanka. Segaris daratan ini suatu ketika dipercaya merupakan formasi yang natural, namun, pendapat lain yang berdasarkan citra yang diambil oleh satelit NASA memperlihatkan bahwa formasi daratan ini merupakan jembatan panjang putus-putus yang berada di bawah permukaan laut.

Keberadaan dari jembatan di lokasi ini juga didukung oleh legenda kuno lainnya. Berdasarkan Kisah Ramayana, ketika Shinta istrinya disandera di Pulau Lanka. Rama memerintahkan untuk dibangun suatu jembatan untuk membawa prajuri Vanara (manusia kera) menyeberangi lautan ke Pulau Landa.

Sebagaimana mitos-mitos yang lainnya, sepertinya terdapat setidaknya beberapa kebenaran dari legenda Kumari Kandam, namun seberapa besar kebenaran tersebut masih belum dapat ditentukan.

Oase Kuni Yunani di Afganistan

Apa yang akan kita pikirkan pertama kali tentang Afganistan?. Mayoritas akan menjawab bahwa Afganistas erat dengan medan perang. Ya,dapat dikatakan itu benar, karena sekarang ini kondisi wilayah negara Afganistan sedang mengalami konflik perang terutama dengan pasukan Taliban. Mekipun demikian, di dalam negeri Afganistan tersimpan banyak Mahakarya warisan masa lampau. Dan sayangnya tidak semua dapat terjaga dengan baik. Misalnya saja patung Budha Kolosal raksasa yang dipahat di sebuah dinding, peninggalan abad ke-13 M yang ada di Banyamin telah dihancurkan oleh pasukan Taliban. Masih banyak situs kuno lain peninggalan periode pra Islam di Afganistan yang membutuhkan perawatan dan pengawanan agar tidak mengalami hal yang sama seperti di Bamiyan, misalnya situs kota kuno Ai Khanum.

Ai Khanum atau Ai Khanoum atau Ay Khanum yang berrarti “Lady Moon”. Kota ini mulai didirikan pada abad ke-4 SM setelah penaklukan Raja Alexander Agung. Ai Khanum yang terletak di tepi Sungai Oxus menjadi salah satu kota utama dari Kerajaan Balkh-Yunani. Sekarang kota ini termausk ke dalam wilayah Privinsi Takhar, Afganistan, tepatnya pada daratan di sekitar pertemuan Sungai Amu Darya (dulu bernama Oxus) dan Sungai Kokcha.
Sebelum ditemukan kembali oleh arkelolog modern, penduduk setempat telah menemukannya terlebih dahulu dan mereka menggali kemudian mengambil artefak, tembikar dan koin-koin yang tertinggal di situs ini untuk dijual ke pasar gelap. Penduduk menyebutnya sebagai “Kota Kafir” karena situs ini terlihat sebagai sisa medan pertempuran.
Jika berkunjung ke situs Ai Khanum ini, maka kita akan dapat sekalian mengunjungi situs kuno lainnya. Di sebelah utara dan selatan terdapat sebuah daerah yang memiliki lanskap tanah tandus yang bergelombang dan batuan berwarah merah. Tempat tersebut merupakan reruntuhan Kerajaan Kuno Batria. Sementara di sebelah selatan Ai Khanum merupakan daerah lembah hijau yang menjadi tempat reruntuhan patung Budha di Bamiyan. Perjalanan menyusuri bekas Provinsi Balkh utara ini seperti berpetualang dalam lorong waktu. Di tempat ini kita seperti seakan-akan berada pada masa Kekaisaarn Persia, Penaklukan Alexander Agung, dan kedatangan Islam.

Pada tahun 1961, Raja Afganistan yaitu Mohammad Zaher Chach sedang berburu dan tidak sengaja menemukan kota kuno Ai Khanum ini yang diyakini sebagai salah satu Kota Yunani terindah di Asia Tengah. Kota ini 2 km panjang dan lebar 1,5 km, terbagi antara kota atas dan bawah seperti kebanyakan kota-kota Yunani. Ada jalan utama, dan sebagian besar bangunannya bergaya Yunani, namun tidak sepenuhnya. Bahkan, arsitektur kota juga mendapatkan pengaruh dari Iran. Pada masa lampau perkembangan kota ini dapat dibagi menjadi empat tahapan.

Pertama, tahap pendudukan. Periode ini terjadi pada dekade awal abad ke-4 SM yang mencakup tahap pembangunan awal kota yang dilakukan oleh salah satu jenderal Alexander Agung atau Perdiccas. Fase kedua, dimulai pada dekade abad ke-3 SM yang terkait dengan ekspediai Antiochos terhadap para perantau di daerah ini. Ini adalah fase nyata pertama pembangunan kota, dalam rangka Helenisasi dari dunia Helenistik timur
Tahap ketiga dimulai sekitar 170 SM, ketika masa awal Raja Eucratides dan dia meletakkan ibukotanya di sini. Hal ini ditunjukkan dengan bangunan seperti istana atau gimnasium indah. Tahap keempat dimulai sekitar 145 SM, ketika kota jatuh ke penjajah Saka. Kota ini rusak tapi penjajah Sakas menetap di sini selama satu dekade, dan kemudian bangsa Yuezhei menghancurkan kota ini.

Di masa modern ini, arkeolog pertama yang mulai melakukan riset terhadap situs ini merupakan arkelolog Perancis yang bernama Paul Bernard. Ia melakukan riset atara tahun 1964 dan 1978 dengan bekerja sama dengan ilmuwan Rusia. Setelah melakukan riset dan penggalian maka dapat dipetakkan bahwa di wilayah bekas Provinsi Balkh ini (termasuk Ai Khanum) terdapat 135 situs arkeologi yang menarik dan berisi harta kuno. Riset ini harus ditinggalkan karena timbulnya perang antara Afganistas-Uni Soviet di Afganistan, perang saudara diantara penduduk Afganistan, pendudukan Taliban. Situs ini pun dijarah dan menjadi medan pertempuran, akibatnya sekarang situs ini rusak parah dan hanya tertinggal sedikit saja artefak.

Apa yang akan kita pikirkan pertama kali tentang Afganistan?. Mayoritas akan menjawab bahwa Afganistas erat dengan medan perang. Ya,dapat dikatakan itu benar, karena sekarang ini kondisi wilayah negara Afganistan sedang mengalami konflik perang terutama dengan pasukan Taliban. Mekipun demikian, di dalam negeri Afganistan tersimpan banyak Mahakarya warisan masa lampau. Dan sayangnya tidak semua dapat terjaga dengan baik. Misalnya saja patung Budha Kolosal raksasa yang dipahat di sebuah dinding, peninggalan abad ke-13 M yang ada di Banyamin telah dihancurkan oleh pasukan Taliban. Masih banyak situs kuno lain peninggalan periode pra Islam di Afganistan yang membutuhkan perawatan dan pengawanan agar tidak mengalami hal yang sama seperti di Bamiyan, misalnya situs kota kuno Ai Khanum.

Ai Khanum atau Ai Khanoum atau Ay Khanum yang berrarti “Lady Moon”. Kota ini mulai didirikan pada abad ke-4 SM setelah penaklukan Raja Alexander Agung. Ai Khanum yang terletak di tepi Sungai Oxus menjadi salah satu kota utama dari Kerajaan Balkh-Yunani. Sekarang kota ini termausk ke dalam wilayah Privinsi Takhar, Afganistan, tepatnya pada daratan di sekitar pertemuan Sungai Amu Darya (dulu bernama Oxus) dan Sungai Kokcha.
Sebelum ditemukan kembali oleh arkelolog modern, penduduk setempat telah menemukannya terlebih dahulu dan mereka menggali kemudian mengambil artefak, tembikar dan koin-koin yang tertinggal di situs ini untuk dijual ke pasar gelap. Penduduk menyebutnya sebagai “Kota Kafir” karena situs ini terlihat sebagai sisa medan pertempuran.
Jika berkunjung ke situs Ai Khanum ini, maka kita akan dapat sekalian mengunjungi situs kuno lainnya. Di sebelah utara dan selatan terdapat sebuah daerah yang memiliki lanskap tanah tandus yang bergelombang dan batuan berwarah merah. Tempat tersebut merupakan reruntuhan Kerajaan Kuno Batria. Sementara di sebelah selatan Ai Khanum merupakan daerah lembah hijau yang menjadi tempat reruntuhan patung Budha di Bamiyan. Perjalanan menyusuri bekas Provinsi Balkh utara ini seperti berpetualang dalam lorong waktu. Di tempat ini kita seperti seakan-akan berada pada masa Kekaisaarn Persia, Penaklukan Alexander Agung, dan kedatangan Islam.

Pada tahun 1961, Raja Afganistan yaitu Mohammad Zaher Chach sedang berburu dan tidak sengaja menemukan kota kuno Ai Khanum ini yang diyakini sebagai salah satu Kota Yunani terindah di Asia Tengah. Kota ini 2 km panjang dan lebar 1,5 km, terbagi antara kota atas dan bawah seperti kebanyakan kota-kota Yunani. Ada jalan utama, dan sebagian besar bangunannya bergaya Yunani, namun tidak sepenuhnya. Bahkan, arsitektur kota juga mendapatkan pengaruh dari Iran. Pada masa lampau perkembangan kota ini dapat dibagi menjadi empat tahapan.

Pertama, tahap pendudukan. Periode ini terjadi pada dekade awal abad ke-4 SM yang mencakup tahap pembangunan awal kota yang dilakukan oleh salah satu jenderal Alexander Agung atau Perdiccas. Fase kedua, dimulai pada dekade abad ke-3 SM yang terkait dengan ekspediai Antiochos terhadap para perantau di daerah ini. Ini adalah fase nyata pertama pembangunan kota, dalam rangka Helenisasi dari dunia Helenistik timur
Tahap ketiga dimulai sekitar 170 SM, ketika masa awal Raja Eucratides dan dia meletakkan ibukotanya di sini. Hal ini ditunjukkan dengan bangunan seperti istana atau gimnasium indah. Tahap keempat dimulai sekitar 145 SM, ketika kota jatuh ke penjajah Saka. Kota ini rusak tapi penjajah Sakas menetap di sini selama satu dekade, dan kemudian bangsa Yuezhei menghancurkan kota ini.