Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 28, 2015

Yahudi dan Arab/Muslim saling membenci

Pertama-tama, penting untuk dipahami bahwa bukan semua orang Arab adalah Muslim, dan bukan semua Muslim adalah orang Arab. Sementara mayoritas dari orang-orang Arab adalah Muslim, ada banyak orang Arab yang bukan Muslim. Selanjutnya, ada jauh lebih banyak orang-orang bukan Arab yang Muslim. Dibanding dengan orang Arab yang Muslim. Tidak semua orang Arab membenci orang Yahudi, tidak semua kaum Muslim membenci orang-orang Yahudi, dan tidak semua orang Yahudi membenci orang Arab dan Muslim. Kita mesti berhati-hati dan menghindari menyamaratakan semua orang. Namun demikian, setelah mengatakan semua itu, secara umum orang-orang Arab dan Muslim tidak suka dan tidak percaya pada orang-orang Yahudi dan demikian pula sebaliknya.

Kalau ada penjelasan Alkitab secara eksplisit mengenai permusuhan ini, maka hal ini dapat ditelusuri sampai kepada Abraham. Orang-orang Yahudi adalah keturunan dari Ishak, anak Abraham. Orang-orang Arab adalah keturunan Ismael, anak Abraham. Karena Ismael adalah adalah dari hamba perempuan (Kejadian 16:1-16) dan Ishak adalah anak perjanjian yang akan mewarisi janji-janji kepada Abraham (Kejadian 21:1-3) jelaslah akan ada permusuhan antara kedua anak tsb. Sebagai akibat dari Ismael mengejek Ishak (Kejadian 21:9), Sarah membujuk Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismael (Kejadian 21:11-210. Kemungkinan hal ini mengakibatkan Ismael makin membenci Ishak dalam hatinya. Seorang malaikat bahkan bernubuat kepada Hagar bahwa Ismael akan "menentang semua saudaranya" (Kejadian 16:11-12).

Agama Islam yang dipeluk oleh mayoritas orang Arab telah membuat permusuhan ini makin dalam. Qur'an mengandung instruksi yang bertentangan tentang orang-orang Yahudi. Di satu pihak kaum Muslim diminta memperlakukan orang-orang Yahudi sebagai saudara, dan di sisi lain memerintahkan kaum Muslim untuk menyerang orang-orang Yahudi yang menolak untuk pindah ke agama Islam. Qur'an juga memperkenalkan konflik mengenai siapa sebenarnya anak perjanjian. Alkitab Ibrani mengatakan bahwa itu adalah Ishak. Qur'ran mengatakan Ismael. Qur'ran mengatakan bahwa Ismaellah yang hampir dipersembahkan kepada Tuhan, bukan Ishak (bertentangan dengan Kejadian 22). Perdebatan mengenai siapa sebenarnya anak perjanjian menjadi salah satu kontribusi pada kekerasan pada zaman ini.

Namun akar kepahitan antara Ishak dan Ismael dari zaman dulu ini tidak menjelaskan semua kebencian antara orang-orang Yahudi dan Arab pada zaman ini. Kenyataannya, untuk ribuan tahun dari sejarah Timur Tengah, orang-orang Yahudi dan Arab hidup bersama dalam kedamaian dan ketidakpedulian terhadap satu dengan yang lain. Penyebab utama dari kebencian ini berasal dari zaman modern. Setelah Perang Dunia II, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi sebagian dari tanah Israel kepada orang-orang Yahudi, tanah tsb pada waktu itu umumnya didiami oleh orang-orang Arab (orang Palestina). Kebanyakan orang Arab protes keras terhadap didudukinya tanah itu oleh orang-orang Israel. Bangsa Arab bersatu dan menyerang Israel sebagai usaha untuk menghapuskan mereka dari tanah itu, namun mereka kalah telak oleh Israel. Sejak saat itu ada permusuhan besar antara Israel dan bangsa-bangsa Arab tetangganya. Jikalau Anda melihat di peta, Israel memiliki sepotong kecil wilayah yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa Arab yang jauh lebih besar, yaitu Yordania, Siria, Arab Saudi, Irak dan Mesir. Adalah pandangan bahwa, berdasarkan Alkitab, Israel berhak untuk berada sebagai bangsa dengan tanah mereka sendiri – bahwa Allah memberi tanah Israel pada keturunan Yakub, cucu dari Abraham. Pada saat yang sama, dengan teguh bahwa Israel harus berusaha berdamai dan menunjukkan hormat pada tetangga-tetangga Arab mereka. Mazmur 122:6 mengatakan, "Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa."

Zionisme

Dari sisi bahasa, Zionisme berasal dari kata Zion, yaitu nama bukit di kawasan Jerusalem (Al-Quds), yang terkadang dipakai pula untuk menamai dataran tinggi dimana kota Jerusalem berdiri. Dari sisi peristilahan, secara singkat bisa dikatakan bahwa Zionisme adalah suatu paham dan gerakan yang bersifat politis, rasial, dan ekstrim, yang bertujuan untuk menegakkan Negara Khusus bagi Bangsa Yahudi di Palestina, dan melihat hal tersebut sebagai solusi bagi permasalahan-permasalahan orang Yahudi. Adapun sejarah Zionisme secara singkat bisa dipaparkan sebagai berikut:

Gagasan Zionisme mula-mula dicetuskan oleh beberapa agamawan Yahudi. Diantaranya adalah Rabi Judah AlKalai (1798-1878) dan Rabi Zevi Hirsch Kalischer (1795-1874). AlKalai secara aktif membujuk masyarakat untuk bergabung dalam suatu program pemukiman bangsa Yahudi di tanah Palestina. Adapun Kalischer menerbitkan buku "Tuntutan Zionis". Dalam buku tersebut, ia menyarankan kepada orang-orang Yahudi untuk kembali ke Palestina dengan cara melakukan hijrah dan pendudukan. Ia mengajak para investor Yahudi agar memberikan bantuan keuangan yang diperlukan untuk membangun pemukiman-pemukiman dan koloni-koloni pertanian di Palestina. Dan akhirnya Kalischer berhasil mendirikan "Lembaga Bantuan Kolonialisasi Tanah Palestina" yang bekerjasama dengan organisasi "Aliansi Israel Se-Dunia".

Selain AlKalai dan Kalischer, tokoh Yahudi lainnya yang bernama Moses Hess menerbitkan buku dalam bahasa Jerman berjudul "Roma und Jerusalem" (1862), yang memuat pemikiran tentang solusi "masalah Yahudi" di Eropa dengan cara mendorong migrasi orang Yahudi ke Palestina. Menurutt Hess kehadiran bangsa Yahudi di Palestina akan turut membantu memikul "misi orang suci kulit putih untuk mengadabkan bangsa-bangsa Asia yang masih primitif dan memperkenalkan peradaban Barat kepada mereka". Buku ini memuat pemikiran awal kerja-sama konspirasi Yahudi dengan Barat-Kristen menghadapi bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan dunia Islam pada khususnya.

Pada tahun 1880-an, orang-orang Yahudi Rusia mendirikan organisasi yang bernama Hibbat Zion. Kebanyakan Yahudi Rusia terkemuka ikut bergabung dalam organisasi ini. Nama penting yang ikut bergabung dengan Hibbat Zion adalah Leon Pinsker. Pada tahun 1882, Pinsker menerbitkan buku Auto-Emansipation. Dalam buku tersebut ia menyatakan bahwa Yahudi harus memiliki negara sendiri, dan untuk itu para pemimpin Yahudi harus berkumpul untuk membahasnya. Maka pada tahun 1884, Pinsker memimpin konferensi pertama di Kanovitz, Polandia. Konferensi kedua dilaksanakan pada tahun 1887 di Druskieniki. Dalam konferensi ini disepakati untuk menyebut gerakan sebagai Hovevei Zion. Dan Pinsker kembali terpilih untuk memimpin gerakan.

Konferensi ketiga digelar pada tahun 1889. Kemudian konferensi yang keempat dilaksanakan di Odessa. Dalam konferensi yang keempat ini, pemerintah Rusia mengakui secara resmi gerakan Hovevei Zion. Dalam konferensi yang keempat ini pula, diputuskan didirikannya Komite Palestina bermarkas di Odessa. Komite ini dibentuk untuk mendukung para petani dan seniman Yahudi di Palestina. Diputuskan pula untuk mendirikan kantor tetap bagi komite tersebut di Yafa, Palestina, untuk mengawasi aktivitas pembelian tanah. Namun belakangan pemerintahan Turki mencium gelagat tidak baik, sehingga memperketat peraturan migrasi, melarang penjualan tanah, dan akhirnya menutup kantor di Yafa tersebut. Meski demikian, komite ini terus memberikan bantuan bagi koloni-koloni yang telah ada dan menyokong sekolah-sekolah Ibrani yang baru didirikan.

Pada tahun 1893, diadakan Konferensi Yahudi pertama di Berlin, Jerman. Dalam konferensi tersebut, dicapai kesepakatan untuk mendirikan satu organisasi yang utuh, membentuk sebuah kas umum, dan mendukung pemukiman Yahudi di Palestina. Dibawah slogan komite kemanusiaan dan sosial, organisasi tersebut berhasil membangun sejumlah koloni-koloni baru Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1896, Theodor Hertzl, seorang Yahudi Austria, menerbitkan buku Der Judenstaat "Negara Yahudi", yang menjelaskan kaidah-kaidah gerakan Zionisme secara ilmiah dan terorganisir. Dalam buku tersebut, setelah menjelaskan ideologi Zionisme, ia mencanangkan proyek pembangunan Negara Yahudi, yang dimulai dengan pembentukan "Komite Yahudi" yang mengawasi proyek tersebut, dan penunjukan perusahaan Yahudi sebagai pelaksananya. Hertzl berkata, "Tidak ada solusi bagi permasalahan-permasalahan Yahudi kecuali dengan mengumpulkan orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia kedalam satu wilayah. Lalu mendirikan negara mereka sendiri, untuk kemudian menyelesaikan masalah-masalah mereka yang tidak terselesaikan selama hampir dua ribu tahun, setelah diceraiberaikan oleh pasukan Romawi."

Pada tahun 1897, diselenggarakan Konferensi Zionisme Pertama di Basel, Swiss, dibawah pimpinan Hertzl. Dalam konferensi ini, Hertzl menyampaikan pidatonya, mengobarkan semangat kebangkitan, harapan, emosi, dan hasrat yang bergelora dalam jiwa para pendengarnya. Ia mengeksploitasi emosi keberagamaan (keyahudian) demi tujuan-tujuan gagasan Zionisme. Ia adalah seorang sekuler yang tidak meyakini ajaran Taurat, akan tetapi ia menggunakannya secara politis dan ideologis untuk tujuan negara Zionis. Diantara ucapannya: "Jika suatu saat kita berhasil menguasai Jerusalem (Al-Quds), dan aku masih hidup, maka aku akan memusnahkan segala sesuatu yang tidak sakral bagi orang-orang Yahudi di kota tersebut. Aku akan membakar segala peninggalan yang tersimpan didalamnya selama berabad-abad."

Dalam konferensi ini juga berhasil dirumuskan tujuan gerakan Zionisme: "Zionisme bertujuan mendirikan pemukiman bagi bangsa Yahudi di Palestina yang dijamin dengan undang-undang." Disamping itu, konferensi ini juga menetapkan berdirinya Organisasi Zionis, dengan Hertzl sebagai pemimpinnya, bermarkas di Wina, Austria.

Dalam konferensi ini, Hertzl berkata, "Di Basel aku mendirikan Negara Yahudi. Dan jika aku mengatakannya dengan suara lantang, dunia pasti akan menertawakanku. Mungkin dalam waktu lima tahun atau paling lambat lima puluh tahun semuanya baru akan melihatnya!"

Dan benar, Negara Yahudi benar-benar berdiri di Palestina lima puluh tahun setelah pidato Hertzl di Basel, yakni pada tahun 1948 ketika Negara Israel dideklarasikan secara resmi di Palestina.

Konferensi Basel ini memang sangat penting karena merupakan transisi dari konseptualisasi gagasan-gagasan Zionisme menuju tahap realisasi. Dengan demikian perkembangan Zionisme bisa dibedakan menjadi dua tahap. Periode sebelum 1897 adalah peride pembentukan konsep. Sedangkan periode pasca 1897 adalah periode realisasi konsep.

Setelah Konferensi Basel, Hertzl pergi ke ibukota Turki Utsmani menemui Sultan Abdul Hamid II. Perlu diketahui bahwa Turki Utsmani ketika itu sedang dililit hutang besar. Dan pada saat yang sama, di berbagai wilayah Turki Utsmani terjadi pemberontakan.

Di tengah-tengah kondisi seperti ini, Hertzl datang membawa tawaran-tawaran yang menggiurkan kepada Sultan Abdul Hamid. Ia menawarkan kepada Sultan Abdul Hamid pinjaman berjangka panjang dan proyek-proyek untuk menghidupkan perekonomian Turki Utsmani yang hampir tumbang. Selain itu ia juga menawarkan intervensi Rusia dan Inggris untuk menghentikan pemberontakan kaum minoritas yang terjadi di beberapa wilayah Turki Utsmani.

Akan tetapi jawaban Sultan Abdul Hamid melalui sekretaris pribadinya sangat jelas, "Aku tidak sampai hati menjual negara, satu jengkal tanah sekalipun. Negara ini bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku berhasil membangun imperium ini dengan darah mereka. Dan kami tidak akan membiarkan seorangpun merebutnya dari tangan kami. Karena itu, silakan orang-orang Yahudi menyimpan kembali uang mereka!"

Jika kita melihat sikap Sultan Abdul Hamid terhadap tawaran-tawaran yang diajukan Hertzl, kita dapat menyimpulkan bahwa ia sadar akan tujuan-tujuan gerakan Zionisme. Ia membedakan antara Zionisme dan Yahudi. Karena itu ketika menerima Hertzl, ia menerimanya atas pertimbangan bahwa ia adalah seorang Yahudi, pemimpin Yahudi, dan jurnalis terkemuka, bukan karena ia seorang Zionis. Sultan Abdul Hamid memandang Yahudi sebagai bagian dari rakyatnya jika mereka tinggal di Turki Utsmani, dan sebagai bagian dari manusia yang memiliki hak suaka jika mereka tertindas. Sedangkan mengenai Zionisme, ia memandangnya sebagai sebuah bentuk penjajahan dan perampokan. Kesadaran Sultan Abdul Hamid akan bahaya gerakan Zionisme ini sangat nampak ketika ia mengeluarkan Undang-Undang "Paspor Merah" pada tahun 1900, yang melarang Yahudi hijrah ke Palestina, apalagi sampai bermukim disana. Hal ini membuat orang-orang Yahudi dendam kepada Sultan Abdul Hamid. Dan karena itulah, dengan bantuan dari negara-negara kolonial, mereka menyusun rencana untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid dari kekuasaannya. Pada tahun 1909, usaha mereka berhasil. Sultan Abdul Hamid dicopot dari kekuasaannya.

Setelah lobi Hertzl ke Sultan Abdul Hamid gagal, Hertzl mendekati pemerintah Inggris. Kepada Inggris, Hertzl meminta Sinai. Inggris tertarik dengan permintaan Hertzl karena Inggris menginginkan keamanan di sisi timur Terusan Suez. Maka sebuah komite khusus pun dibentuk untuk mengkaji wilayah Sinai, tetapi ternyata hasilnya mengecewakan karena Sinai kekurangan sumber air dan tidak cocok untuk pertanian.

Akhirnya, muncullah Rencana Uganda, yakni rencana pembangunan pemukiman Yahudi di Uganda, Afrika Timur. Tetapi ternyata rencana ini mendapatkan tentangan yang keras dari banyak pihak, sehingga rencana inipun dibatalkan.

Selama masa kepemimpinan Hertzl, beberapa organ Zionisme terpenting yang berhasil diciptakan adalah surat kabar Die Welt (berdiri tahun 1897) sebagai koran resmi kaum Zionis, Jewish Colonial Trust yang berfungsi sebagai Bank Zionis (berdiri tahun 1899), dan Jewish National Fund (berdiri tahun 1901) yang bertugas mendapatkan tanah yang bisa dimiliki oleh bangsa Yahudi.

Gerakan Zionisme Pasca Hertzl

Setelah kematian Hertzl pada tahun 1904, kepemimpinan Zionisme diteruskan oleh David Wolffsohn, bermarkas di Cologne, Jerman. Sebagaimana Hertzl, Wolffsohn juga melakukan lobi-lobi, termasuk kepada Sultan Abdul Hamid. Tahun 1907 Wolffshon mengunjungi Istanbul dan bertemu Sultan Abdul Hamid. Lobi Wolffshon gagal, namun ia berhasil membuka bank di Istanbul "The Anglo-Levantine Banking Co" yang kegiatannya dibawah kekuasaan Jewish Colonial Trust.

Ketika beberapa tahun kemudian Wolffshon mengunjungi Turki, keadaan sudah berubah. Sultan Abdul Hamid sedang berada di ujung tanduk kekuasaannya akibat revolusi yang dilancarkan oleh Turki Muda. Dan pada tahun 1909, Wolffshon kembali mengunjungi Turki. Sebagaimana diketahui, pada tahun ini Sultan Abdul Hamid berhasil dilengserkan dari kekuasaannya.

Pada tahun 1911, Wolffshon mengundurkan diri dari kepemimpinan Zionis, dan digantikan oleh Otto Warburg, bermarkas di Berlin, Jerman. Dan pada tahun 1917, kepemimpinan Zionisme dipegang oleh Chaim Weizmann, bermarkas di London, Inggris. Weizmann secara intens berhubungan dengan tokoh-tokoh pemerintah Inggris seperti Winston Churchill, Lord Balfour, dan Herbert Samuel, dalam rangka memuluskan pendirian negara Yahudi di Palestina.

Ketika meletus Perang Dunia I, yang tidak lain adalah perang antar penjajah, orang-orang Zionis memiliki kekuatan ekonomi yang menakutkan.  Orang-orang Zionis pun bermain di tengah kecamuk Perang Dunia I. Agar dapat memanfaatkan kemenangan salah satu pihak yang bertikai, orang-orang Zionis dipecah menjadi dua. Satu pihak yang dipimpin oleh Chaim Weizmann membuat kesepakatan dengan negara-negara Sekutu (Inggris) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi jika mereka menang perang. Sementara sekelompok Zionis yang lainnya yang dikoordinir oleh Thalat Pasha (Turki) membuat kesepakatan serupa dengan negara-negara Poros (Jerman). Dengan demikian, di tangan Yahudi terdapat dua janji: dengan negara-negara Sekutu dan dengan negara-negara Poros, yang menjamin kehidupan mereka di Palestina.

Ketika ternyata yang menang perang adalah Sekutu, maka perjanjian Turki-Jerman pun terhapus dari peta politik kaum Zionis dan tenggelam di tengah gegap gempita Perjanjian Balfour yang disepakati antara pemerintah Inggris dan kaum Zionis pada tanggal 2 Nopember 1917. Dalam Perjanjian Balfour, pemerintah Inggris menjanjikan satu "tanah air" untuk orang-orang Yahudi di Palestina. Sebagai langkah pelaksanaan Perjanjian Balfour, dibentuklah Komisi Zionis untuk Palestina. Pada April 1918, komisi ini sampai di Palestina, mengawali perjuangan yang berlangsung sampai tiga dasawarsa kemudian.

Pada tanggal 6-11 Mei 1942, para pemimpin Zionis dari 18 negara mengadakan Konferensi Luar Biasa di Hotel Biltmore, New York, Amerika Serikat (biasa disebut dengan Konferensi Biltmore). Konferensi ini dipimpin oleh Chaim Weizmann dan David Ben Gurion. Konferensi ini menghasilkan resolusi yang biasa disebut dengan Program Biltmore, yang merekomendasikan agar

(1) Mandat Inggris di Palestina diakhiri dan digantikan oleh Yahudi, dan
(2) Palestina ditetapkan sebagai "Jewish Commonwelth".

Program Biltmore akhirnya benar-benar direalisasikan ketika pada Mei 1948 Inggris meninggalkan Palestina dan Negara Israel dideklarasikan oleh Kaum Zionis di bumi Palestina.

Struktur Organisasi Zionis

Sebagaimana sudah disebutkan diatas, Organisasi Zionis didirikan pada Konferensi Basel tahun 1897. Berbeda dengan Hibbat Zion dan Hovevei Zion, Organisasi Zionis merupakan sebuah organisasi modern yang diorganisir dengan sangat rapi. Organisasi Zionis beranggotakan semua orang Yahudi yang menerima program Zionis dan membeli shekel. Shekel disini berarti iuran keanggotaan.

Pertumbuhan Organisasi Zionis secara jelas bisa digambarkan dengan meningkatnya jumlah shekel yang diterima oleh organisasi. Sampai dengan tahun 1907, terkumpul 164.333 shekel. Tahun 1913 menjadi 217.231 shekel. Tahun 1921 menjadi 855.590 shekel. Tahun 1939 meningkat menjadi lebih dari 1.000.000 shekel. Dan tahun 1946, menjelang lahirnya Israel, sudah terkumpul 2.159.840 shekel. Ini berarti lebih dari satu juta Yahudi dari berbagai pelosok dunia ketika itu sudah bergabung dengan Organisasi Zionis. Kalau mau dianalogikan, Organisasi Zionis mirip dengan sebuah negara berdaulat dimana para pembayar shekel adalah warga negaranya. Akan tetapi Organisasi Zionis bersifat internasional, tidak dibatasi oleh batas-batas negara.

Dalam Organisasi Zionis, Kongres adalah lembaga tertinggi, yang bertugas mengeluarkan peraturan, memilih Ketua, Eksekutif, Dewan Umum, Yudikatif, dan Bendahara, dan menerima serta mempertimbangkan laporan dari badan-badan tersebut. Sampai dengan tahun 1939, Kongres dilangsungkan setiap tahun (kecuali tahun 1902). Sesudah itu Kongres berlangsung dua tahun sekali (kecuali selama Perang Dunia I). Dan semenjak tahun 1960, Anggaran Dasar menetapkan bahwa Kongres dilaksanakan empat tahun sekali.

Anggaran Dasar 1960 juga melakukan beberapa perubahan mendasar pada struktur Organisasi Zionis.  Nama Organisasi Zionis diubah menjadi Organisasi Zionis Internasional (World Zionist Organization). Anggota organisasi juga tidak lagi individu-individu yang membeli shekel, tetapi lembaga-lembaga kolektif, yakni organisasi teritorial Zionis dan asosiasi-asosiasi wilayah dan antar-wilayah Zionis. Anggaran Dasar 1960 memperkenalkan sistem desentralisasi yang lebih luas. Penekanan diberikan kepada otonomi anggota: "Setiap anggota harus menentukan tindakannya sendiri, juga bentuk dan prosedur organisasinya."

Fosil Neanderthal, Kanibalisme Atau Ritual

Sisa-sisa fosil aneh Neanderthal dari dua orang dewasa dan seorang anak yang ditemukan di situs Marillac menjelaskan kejadian dimana masyarakat Neanderthal dari wilayah Perancis Poitou-Charentes melakukan tindakan mepotong, memukul dan mematahkan tulang rekan mereka yang baru saja meninggal. Fakta ini juga terdapat di beberapa situs Neanderthal lainnnya. Para ilmuwan masih tidak tahu apakah mereka melakukan ini untuk mendapatkan makanan atau untuk pelaksanaan ritual upacara.

Saat ini, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Physical Anthropology untuk pertama kalinya menganalisis fragmen dari tiga orang yang ditemukan antara 1967 dan 1980 di lokasi Perancis menanggalkan sekitar 57600 tahun yang lalu. Ini adalah sebuah diafisis lengkap (bagian tengah tulang panjang) dari radius yang tepat, yang lain dari fibula kiri dan sebagian dari tulang paha kanan. Yang terakhir milik seorang anak.

Profesor di Universitas Complutense Madrid María Dolores Garralda, , seorang peneliti di University of Bordeaux di Perancis dan penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa beberapa kelompok Neanderthal memotong dan mencabik-cabik mayat anak atau orang dewasa tak lama setelah kematian (perimortem) dengan menggunakan instrumen litik.

Bila dibandingkan dengan sisa-sisa manusia Neanderthal dan manusia modern lainnya, para ilmuwan mengkonfirmasi tidak hanya kekuatan dan bentuk bulat tulang Neanderthal, tetapi mereka juga mengidentifikasi pada tiga tulang yang dimanipulasi dibuat sangat lama setelah kematian individu.

Berdasarkan morfologi patah tulang, kemungkina tubuh dimanipulasi tak lama setelah kematian. Tubuh menerima serangkaian pukulan yang mematahkan tulang. Bukti nyata akan gigitan hewan sampai saat ini masih belum ditemui.

Semenjak situs Marillac di Perancis digali, penemuan fosil aneh Neanderthal dari sisa-sisa hewan (90% milik rusa), manusia dan alat-alat Mousterian telah memungkinkan bagi situs tersebut untuk diidentifikasikan sebagai daerah berburu untuk Neanderthal (Homo neanderthalensis). Tapi yang paling mengejutkan tentang situs adalah adanya sejumlah besar sisa-sisa tulang hominid ini, banyak yang belum dianalisis.

Fosil Aneh Neanderthal Dimanipulasi

Fragmen femur, yang tampaknya dari seorang anak yang meninggal pada usia 9 atau 10 tahun, menunjukkan dua tanda dipotong dengan ukuran besar setengah sentimeter terpisah. Dari catatan Garralda tentang morfologi patah tulang adalah kemungkinan bahwa tubuh anak ini dimanipulasi tak lama setelah kematian. Kaki kanan menerima serangkaian pukulan yang mematahkan tulang paha, dan tanda dipotong diidentifikasi sebagai antropik di alam, dengan kata lain dari fosil aneh Neanderthal tersebut tidak ada bukti nyata dari gigitan hewan.

Bagian tepi atas menunjukkan tanda dari" post-mortem "dampak dengan tanda conchoidal (orang-orang yang tidak mengikuti posisi pemisahan alami)," penelitian menetapkan. Wilayah yang lebih rendah lebih jelas, mengalami patahan spiral miring yang tampaknya telah terjadi ketika tulang masih segar.

Penelitian menjelaskan bahwa Tulang dari dua orang dewasa menunjukkan secara signifikan dari tiga striations saling menyilang satu sama lain sementara tulang itu masih segar. Fragmen dari jari-jari, mungkin milik seorang pria, juga memiliki tanda potong kecil dibuat dengan alat-alat batu tak lama setelah kematian.

Para peneliti menegaskan bahwa adapun fibula, meskipun fraktur segar dari kedua kejadian ekstrem tersebut dapat dilihat, ada juga tanda-tanda perkusi di ujung bawah. Tapi tidak ada bukti pemotongan atau jejak gigi karnivora. Berbeda dengan dua fragmen lain dari tulang yang sedang dianalisis dari fosil aneh Neanderthal, fibula menunjukkan banyak kandungan mangan. Mangan adalah mineral yang sangat melimpah di gua yang memberikan tulang warna hitam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tulang tersebut patah ketika masih segar seperti dilakukan dengan sengaja dengan tujuan memisahkan ekstrim atas dan bawah tulang paha, di mana sendi berada.

Fosil Aneh Neanderthal Masih Menjadi Tanda Tanya

Sampai saat ini para ilmuwan arkeolog telah mampu menunjukkan manipulasi di beberapa situs Neanderthal di Eropa, yang tentu saja jauh lebih baru, termasuk dalam kelompok manusia kontemporer, tapi para ilmuwan belum mampu menunjukkan akan konsumsi daging manusia di Neanderthal (meskipun ini memang telah dilakukan pada populasi lain yang jauh lebih modern).

Para Ilmuwan menyimpulkan bahwa sebagai tambahan dari perimortem manipulasi fisik yang dilakukan oleh anggota kelompok, tulang lain yang ditemukan di situs Marillac, juga terfragmentasi, menunjukkan tanda penggerogotan atau pencernaan hewan. tanda ini dan deformasi yang jelas dibedakan dari yang dipelajari dalam tiga diaphysis Neanderthal.

Dalam abad 21 ini praktek seperti ini masih dapat terus berlangsung di bagian belahan lain di dunia. Para ilmuwan masih belum mengetahui tujuan dan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Apakah ini merupakan ritual yang harus di jalani atau karena alasan makanan. Para ahli masih harus berhati-hati dalam menyimpulkan hipotesa tentang kanibalisme. Temuan fosil aneh Neanderthal dari sejumlah besar tulang hewan yang ditemukan di situs yang mungkin saja merupakan makanan Neanderthal.

Piramida Gunung Padang Saksi Peradaban Atlantis

Akhir tahun lalu, tepatnya bulan Desember 2013 situs Piramida Gunung Padang kedatangan tamu arkeolog dan penulis dunia untuk meneliti sejarah peradaban yang hilang di Asia. Graham Hancock secara resmi menceritakan perjalanannya ke Indonesia, dimana dalam pengakuan yang dipublikasi 16 Januari 2014 pada website pribadi miliknya menyatakan Gunung Padang merupakan kunci dan saksi dari peradaban yang hilang.

Graham Hancock adalah seorang penulis dan jurnalis Inggris yang mengkhususkan diri dalam teori kenvensional melibatkan peradaban kuno, monumen batu (megalit), mitos kuno dan astrologi kuno. Dia telah menerbitkan banyak buku dan telah terjual lebih dari lima juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam dua puluh tujuh bahasa. Tetapi metode dan kesimpulannya hanya mendapatkan dukungan sedikit dikalangan akademis, sehingga karyanya dicap sebagai Pseudoarchaeology.

Graham Hancock, Pencarian Atlantis Di Piramida Gunung Padang

Ditemani Dr Natawidjaja, Graham Hancock mengamati situs kuno yang terletak di Jawa Barat, dikelilingi lanskap sawah dan perkebunan teh tak jauh dari kota Bandung. Masyarakat setempat menyebut situs suci sebagai pencerahan yang digunakan untuk meditasi sejak zaman dahulu. Berdasarkan dugaan tanpa penanggalan radio karbon, usia situs dibangun pada tahun 1500 hingga 2500 SM. Tetapi setelah penggalian dan penanggalan radiokarbon pertama menunjukkan hasil berbeda, sekitar 500 sampai 1500 SM. Penggalian lebih dalam menghasilkan bukti berbeda dan mengejutkan, dimana pada kedalaman 90 meter diperkirakan situs dibangun tahun 20,000 hingga 22,000 SM bahkan lebih tua daripada itu.

Situs Piramida Gunung Padang

Secara umum dalam catatan sejarah yang kita kenal, bencana besar pernah terjadi tahun 9600 SM, periode Upper Palaeolithic yang membawa manusia memasuki zaman es. Lebih tepatnya waktu itu Indonesia lebih dikenal sebagai Sundaland yang terdiri dari serangkaian pulau yang menyatu. Tidak ada Laut Merah, Teluk Persia, Sri Lanka menjadi satu dengan India Selatan, Siberia bersatu dengan Alaska, Australia bergabung dengan New Guinea. Hingga Periode itu tiba, es yang menutupi Eropa dan Amerika Utara mencair sehingga permukaan laut yang tadinya lebih rendah 400 meter akhirnya menutupi sebagian besar daratan diseluruh dunia hingga berbentuk benua dan kepulauan saat ini.

Sejarah telah menganggap sebelum tahun 9600 SM nenek moyang manusia merupakan ras pemburu dan pengumpul primitif, tetapi dari segi arsitektur mampu membangun piramida yang saat ini belum sanggup dibuat manusia. Sekitar tahun 4000 SM peradaban meningkat dari segi struktur ekonomi dan sosial, hal ini memungkinkan untuk mendirikan situs megalitik awal. Kota pertama yang telah ditemukan berkisar tahun 3500 SM di Mesopotamia dan setelah itu menyusul Mesir. Di Inggris, juga terdapat situs-situs di Outer Hebrides dan Avebury, Stonehenge diperkirakan sekitar tahun 2400 SM.



Sejarawan dan arkeolog mungkin telah terpengaruh dengan peradaban legendaris yang disebut Atlantis, hal ini disebutkan Plato dalam dialog Timias dan Critias yang menyebut peradaban awal yang mengalami kehancuran total akibat banjir besar dan gempa bumi sekitar tahun 9600 SM. Dari penelitian situs Piramida Gunung Padang, apa yang disebutkan Plato mungkin bukan suatu rekayasa atau hanya sekedar syair puisi. Peradaban itu mengalami ketidakstabilan global antara tahun 10900 dan 9600 SM akibat bencana banjir dan gempa. Inilah zaman yang disebut Younger Dryas, penuh misteri dan gejolak iklim yang belum mampu diungkapkan arkeolog karena kurangnya bukti.

Apa yang telah dilakukan tim arkeolog pada Piramida Gunung Padang telah mendapatkan gambaran lapisan bangunan yang menggunakan unsur megalitik basalt Columnar. Basalt Columnar tidak terbentuk secara alami, tetapi Piramida Gunung Padang telah menggunakannya dalam bentuk yang tidak pernah ditemukan di alam. Secara Geofisika telah jelas bahwa Gunung Padang bukan bukit alami melainkan Piramida buatan manusia, dan asal usul pembangunan piramida ini jauh sebelum akhir zaman es.

Situs ini merupakan saksi besar mampu menjelaskan konstruksi canggih yang (mungkin) juga tenaga ahli yang sama telah membangun piramida Mesir dan situs megalitik Eropa. Piramida Gunung Padang bukan satu-satunya situs yang menimbulkan tanda tanya besar bagi arkeolog, dibelahan dunia lain seperti Turki juga terdapat bukti yang masih digali selama dekade terakhir. Situs itu disebut Gobekli Tepe terdiri dari serangkaian lingkaran batu megalitik besar dengan skala Stonehenge dan memang sengaja dikubur oleh manusia misterius yang membuatnya, kemungkinan dibangun sekitar tahun 8000 SM. Tetapi lingkaran itu telah ada sejak tahun 9600 SM, setidaknya terdapat dua puluh lingkaran pada skala yang sama dan mungkin masih banyak yang terkubur. Menurut Kalus Schimidt, kemungkinan usianya jauh lebih tua daripada yang sudah ditemukan saat ini.

Menurut Graham Hancock, apa yang ditulisnya dalam buku Fingerprints menceritakan sebuah peradaban maju yang dihilangkan dari sejarah dalam bencana global pada akhir zaman es. Tetapi bukti itu belum bisa ditemukan, dimana aspek hipotesis menjadi salah satu alasan yang dikritik banyak arkeolog. Menurutnya, Gobleki Tepe merupakan salah satu pembuktian yang bisa diusut lebih lanjut tentang keberadaan peradaban yang hilang.

Yang paling menarik bagi Hancock adalah Piramida Gunung Padang, sebuah bukti yang selama ini dicari untuk membenarkan teorinya. Dia berharap bahwa situs Gunung Padang mungkin saja "Hall of Records" Atlantis, peradaban yang hilang.




Apr 27, 2015

Genosida Armenia

Setelah pecahnya Perang Dunia Pertama (PD I) pada 28 Juli 1914, Kekaisaran Turki Ottoman mulai membuat rencana untuk mengusir orang-orang Armenia, yang hidup di wilayah kekuasaan mereka. Aksi pembantaian yang berlangsung antara 1915-1923, dimulai pada 24 April 1915 dengan penangkapan dan eksekusi mati terhadap 250 intelektual, serta pemimpin komunitas Armenia di Konstantinopel.

Dilansir dari laman History, genosida terjadi dalam dua fase, yaitu pembunuhan populasi pria melalui eksekusi massal dan kerja paksa, diikuti dengan deportasi wanita, anak-anak dan orang lanjut usia.

Selain diperkosa, wanita dan anak-anak itu diusir keluar tanpa makan dan minum, hingga tewas di padang pasir Suriah. Sedikitnya 1,5 juta orang Armenia dipastikan tewas.
Para ahli sejarah menyebut tragedi kemanusiaan itu sebagai aksi genosida oleh Kekaisaran Turki. Pembantaian terencana dan sistematis, untuk memusnahkan bangsa Armenia.
Hingga saat ini Pemerintah Turki menolak untuk mengakui, besarnya tragedi memilukan yang terjadi, serta mengecam penyebutan bencana kemanusiaan itu sebagai sebuah proses genosida.

Bangsa Armenia telah mendiami Eurasia di Kaukasus selama lebih dari 3.000 tahun, di mana kerajaan Armenia menjadi entitas yang independen, hingga wilayah mereka jatuh dalam kekuasaan Ottoman pada abad ke-15.