Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Nov 10, 2019

Kekaisaran Akhemeniyah

Kekaisaran Persia Akhaimenia  nama dinasti yang berkuasa: Haxāmanišiya) (sek. 550–330 SM), dikenal pula sebagai Kekaisaran Persia Pertama, adalah kekaisaran Persia (Iran) di Asia Selatan dan Barat Daya yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh Koresh Agung, yang menggulingkan konfederasi Medes. Kekaisaran ini meluas hingga pada akhirnya menguasai wilayah yang amat besar di dunia kuno dan pada tahun 500 SM membentang dari Lembah Indus di timur, hingga ke Thrakia dan Makedonia di perbatasan timur laut Yunani. Tidak ada kekaisaran lain sebelum masa itu yang lebih besar daripada Kekaisaran Akhaimenia. Kekaisaran Akhaimenia pada akhirnya menguasai Mesir juga. Kekaisaran ini dipimpin oleh serangkaian raja yang menyatukan suku-suku dan bangsa-bangsanya yang terpisah-pisah dengan membangun jaringan jalan yang rumit.

Bangsa Persia menyebut diri mereka Pars, yang berasal dari nama suku Arya asli mereka Parsa, dan bermukim di daerah yang mereka beri nama Parsua (Persis dalam bahasa Yunani), yang dibatasi oleh Sungai Tigris di barat dan Teluk Persia di timur. Tempat ini menjadi wilayah pusat mereka pada masa Kekaisaran Akhaimenia.  Dari daerah inilah Koresh Agung (Koresh II dari Persia) pada akhirnya muncul dan mengalahkan bangsa Medes, Lydia, dan Kekaisaran Babilonia, membuka jalan untuk penaklukan selanjutnya ke Mesir dan Asia Kecil.

Pada puncak kejayaannya setelah penaklukan Mesir, kekaisaran ini menempati wilayah seluas kira-kira 8 juta km2, meliputi tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Pada wilayah terluasnya, kekaisaran ini juga meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Turki, sebagian Asia Tengah, Pakistan, Thrakia, dan Makedonia, sebagian besar daerah pesisir Laut Hitam, Afghanistan, Irak, Arab Saudi utara, Yordania, Israel, Lebanon, Suriah, serta semua pusat pemukiman di Mesir kuno hingga ke barat sejauh Libya. Dalam sejarah Barat, Kekaisaran Akhaimenia disebutkan sebagai musuh negara-negara kota Yunani[4] selama Perang Yunani-Persia. Kekaisaran ini juga terkenal karena emansipasi terhadap terhadap perbudakan termasuk pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan ke Babilonia dan karena membangun infrastruktur seperti sistem pos, sistem jalan, dan penggunaan bahasa resmi di seluruh wilayah kekuasaannya. Kekaisaran ini menerapkan administrasi birokratis terpusat di bawah pimpinan Kaisar serta memiliki pasukan militer profesional dan pasukan wajib militer yang besar, mengilhami perkembangan serupa di kekaisaran-kekaisaran lain pada masa selanjutnya.

Menurut pandangan tradisional, wilayah Kekaisaran Akhaimenia yang amat luas dan keragaman etnokulturalnya yang luar biasa pada akhirnya menjadi kerugian karena penyerahan kekuasaan kepada pemerintah lokal pada akhirnya melemahkan otoritas pusat milik raja, membuat banyak energi dan sumber daya terbuang akibat harus menghentikan pemberontakan lokal. Ini menjelaskan mengapa ketika Aleksander Agung (Aleksander III dari Makedonia) menginvasi Persia pada tahun 334 SM dia menghadapi suatu kekaisaran terpecah belah dengan pemimpin yang lemah, mudah untuk dihancurkan. Sudut pandang ini ditentang oleh beberapa sejarawan modern yang berpendapat bahwa Kekaisaran Akhaimenia tidak menderita krisis semacam itu pada masa Aleksander, dan bahwa hanya kericuhan pergantian kekuasaan internal yang terjadi di dalam keluarga Akhemenid yang pernah hampir melemahkan kekaisaran. Aleksander, yang merupakan pengagum Koresh Agung,  pada akhirnya menyebabkan keruntuhan dan perpecahan kekaisaran sekitar tahun 330 SM, membuatnya terbagi menjadi Kerajaan Ptolemaik dan Kekaisaran Seleukia, selain juga wilayah-wilayah kecil lainnya yang memedekakan diri pada masa itu. Akan tetapi, kebudayaan Iran di dataran tinggi tengah tetap berkembang dan pada akhirnya kembali berkuasa pada abad ke-2 SM. 

Warisan sejarah Kekaisaran Akhaimenia bukan hanya pengaruh teritorial dan militernya saja, melainkan meliputi pula pengaruh kebudaaan, sosial, dan keagamaan. Banyak orang Athena yang mengadopsi kebiasaan Akhaimenia dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai akibat dari kontak antarbudaya, beberapa karena pernah dikerahkan oleh, atau bersekutu dengan raja Persia. Pengaruh Dekret Pemulihan Koresh Agung disebutkan dalam naskah Yudeo-Kristen, selain itu kekaisaran ini juga amat berperan dalam penyebaran Zoroastrianisme hingga ke timur sejauh Cina. Bahkan Aleksander Agung, yang menaklukkan kekaisaran luas ini, menghormati adat-istiadatnya dan memerintahkan orang Yunani untuk ikut menghormasi raja-raja Persia termasuk Koresh Agung. Aleksander bahkan melakukan proskynesis, suatu adat kerajaan Persia, meskipun banyak diprotes oleh para tentara Makedonianya. Kekaisaran Akhaimenia memberikan pengaruh terhadap politik, warisan dan sejarah Persia modern (kini Iran). Perangaruhnya meliputi pula wilayah Persia sebelumnya yang secara keseluruhan disebut Persia Besar. Prestasi teknik yang penting di Kekaisaran Akhaimenia adalah sistem pengelolaan air Qanat, yang berusia lebih dari 3000 tahun dan memiliki panjang lebih dari 44 mil (71 km.)

Pada tahun 480 SM, diperkirakan bahwa sekitar 50 juta orang tinggal di Kekaisaran Akhaimenia atau sekitar 44% dari seluruh populasi dunia pada masa itu, menjadikannya kekaisaran dengan jumlah penduduk terbanyak.

Nama Persia berasal dari suku India-Eropa yang disebut Parsua. Persia merupakan pengucapan Latin dari orang India-Eropa, Parsua, yang menyebut perbatasan wilayah mereka Persis, sesuai naam suku mereka, suatu daerah yang terletak di sebelah utara Teluk Persia dan sebelah timur sungai Tigris disebut Persis (atau dalam bahasa Persia, Pars). Sejarawan Yunani, Herodotos, menuturkan:

"Bangsa Persia terdiri atas sejumlah suku seperti terdaftar di sini.  suku Pasargadai, Maraphii, dan Maspii, kepada mereka semua suku lainnya bergantung, Pasargadai adalah yang paling terkemuka; mereka memiliki klan Akhaimenid yang melahirkan raja-raja Perseid. Suku-suku lainnya adalah Panthialaei, Derusiaei, Germanii, kesemuanya hidup menetap, sisanya -Dai, Mardi, Dropici, Sagarti, merupakan suku nomaden. "
Kekaisaran Akhemeniyah bukanlah kekaisaran Iran pertama. Pada abad keenam SM suku bangsa Iran lainnya, yaitu bangsa Medes, telah mendirikan Kekaisaran Media. Bangsa Medes pada awalnya merupakan bangsa Iran yang dominan di daerah tersebut, mulai berkuasa pada akhir abad ke-7 SM dan menjadikan Bangsa Persia bagian dari kekaisaran mereka. Bangsa-bangsa Iran sendiri memasuki daerah itu sekitar tahun 1000 SM  dan pada awalnya berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Assyria (911-609 SM). Akan tetapi, bangsa Medes dan persia (bersama dengan bangsa Skythia dan Babilonia) memainkan peranan penting dalam keruntuhan Assyria melalui kerusuhan internal.

Perluasan
Pada abad ke-5 SM Persia telah menguasai wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, pesisir Sudan, Eretria, Armenia, Azerbaijan, Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, Georgia, Makedonia, Uzbekistan, Turki, Bulgaria, Siprus, Kuwait, Mesir, Suriah, Yordania, Israel, Lebanon, sebagian Yunani, Libya, bagian utara Jazirah Arab serta India barat laut.

Perang Yunani-Persia

Setelah menaklukkan Asia Kecil (Turki modern), Persia menempatkan tiran pada tiap negara kota Yunani di sana sebagai pemimpin lokal. Pada tahun 499 SM, Aristagoras, tiran Miletos, bersama dengan satrap Persia, Artaphernes, melaksanakan ekspedisi untuk menaklukkan Naxos. Tujuan Aristagoras adalah untuk meningkatkan posisinya sendiri di Miletos, baik dalam hal keuangan maupun kekuasaan. Misi itu berakhir dengan kegagalan dan akibatnya pihak Persia berencana untuk memecat Aristagoras dari jabatan tiran. Mengahadapi ancaman pemecatan itu, Aristagoras memilih untuk menghasut negara-negara kota Ionia untuk memberontak melawan kekuasaan Persia. Seluruh Ionia terkena hasutannya, terutama karena mereka juga tidak senang dengan para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka. maka terjadilah Pemberontakan Ionia. Pemberontakan juga diikuti oleh kota-kota di Aiolis, Doris, Siprus, dan Karia.

Konflik tersebut berlangsung hingga tahun 493 SM, ketika Persia menyepakati perjanjian damai dengan kota-kota Ionia. Namun pemberontakan itu menjadi fase awal dari konflik yang lebih besar. Selama pemberontakan, dua negara kota di Yunani daratan, yakni Athena dan Eretria, mengirim pasukan dan membantu kota-kota Ionia dalam melawan Persia. Akibatnya Darius murka dan bersumpah akan menghukum dua negara itu. Selain itu, Darius menganggap bahwa situasi politik di Yunani dapat menjadi ancaman bagi kestabilan kekaisarannya. Oleh karena itu, setelah Persia kembali menguasai keadaan di Asia Kecil, Darius memerintahkan dilancarkannya invasi ke Yunani. Pasukan dan armada Persia memperoleh beberapa kesukesan awal di Yunani sebelum akhirnya dikalahkan oleh pasukan Athena, yang dibantu Plataia, dalam Pertempuran Marathon pada tahun 490 SM, yang memaksa pasukan Persia mengakhiri invasinya. Darius berniat untuk kembali menyerbu Yunani namun keburu meninggal dunia.

Xerxes I (485–465 SM, bahasa Persia Lama Xšayārša "Pahlawan Para Raja"), putra Darius, naik takhta dan meneruskan misi ayahnya. Dia mengumpulkan pasukan yang besar dan pada tahun memimpin invasi ke Yunani 480 SM . Dia bersama pasukan darat Persia memasuki Yunani dari utara, menaklukkan Thrakia dan memaksa Makedonia menjadi sekutu Persia. Pasukan daratnya sempat terhenti akibat dihadang sejumlah tentara Yunani, termasuk tiga ratus prajurit Sparta, di Thermopylae, sementara armada lautnya juga sempat tertahan pada Artemision. Namun Persia pada akhirnya bisa melanjutkan invasi.

Persia terus bergerak semakin jauh di Yunani dan menaklukkan kota Athena, yang sudah hampir kosong karena penduduknya telah dievakuasi. Pada akhirnya, dalam suatu pertempuran maritim yang menentukan di Pertempuran Salamis, armada Persia dikalahkan oleh armada gabungan Yunani. Ini membuat Xerxes menarik mundur sebagian besar pasukan daratnya dan kembali ke Persia. Mardonios, seorang jenderal Persia, tetap tinggal di Yunani dan ditugaskan menyelesaikan invasi bersama sisa-sisa pasukan darat Persia. Pada tahun 479 SM, pasukan gabungan Yunani mengalahkan pasukan Mardonios dalam Pertempuran Plataia, dan armada gabungan Yunani menghancurkan armada Persia pada Pertempuran Mykale. Semua kemenangan Yunani ini mengakhiri invasi Persia.

Fase kebudayaan
Xerxes I digantikan oleh Artaxerxes I (465–424 SM), yang memindahkan ibu kota dari Persepolis ke Babylon. Pada masa pemerintahannya bahasa Elam tak lagi digunakan sebagai bahasa pemerintahan, sedangkan bahasa Aram menjadi lebih banyak digunakan. Kemungkinan pada pemerintahannya juga kalender matahari digunakan sebagai kalender nasional. Artaxerxes menjadikan Zoroastrianisme sebagai agama negara sehingga pada masa kini dia disebut juga sebagai Constantinus bagi agama tersebut.

Artaxerxes meninggal di Susa dan jasadnya dibawa ke Persepolis dimakamkan bersama para pendahulunya. Artaxerxes digantikan oleh putra sulungnya Xerxes II, yang dibunuh oleh saudara tirinya hanya beberapa minggu setelah kematian Artaxerxes. Dalam keadaan takhta Persia yang kacau, Darius II mengumpulkan dukungan bagi dirinya dan berarak ke timur, menghukum mati sang pembunuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Persia.

Darius berkuasa sejak tahun 423 SM. Pada tahun 412 SM, atas desakan Tissaphernes, Darius memberi bantuan kepada Athena, kemudian kepada Sparta, yang mana bahwa kedua negara itu sedang berperang dalam konflik yang disebut Perang Peloponnesos. Namun pada tahun 407 SM, putra Darius, Koresh Muda, ditunjuk untuk menggantikan Tissaphernes, dan setelah itu bantuan seluruhnya diberikan hanya bagi Sparta, yang pada akhirnya berhasil mengalahkan Athena pada tahun 404 SM. Pada tahun itu pula Darius jatuh sakit dan meninggal di Babylon. Menjelang kematiannya, istrinya, Parysatis, yang berasal dari Babylon, memohon kepada Darius untuk menjadikan putra keduanya, Koresh Muda, sebagai raja Persia selanjutnya, akan tetapi Darius menolak.

Darius digantikan oleh putra sulungnya Artaxerxes II Memnon. Plutarkhos menuturkan (kemungkinan atas otoritas Ktesias) bahwa Tissaphernes menemui raja baru itu pada hari penobatannya dan memperingatkannya bahwa adiknya, Koresh Muda, berniat membunuhnya pada upaca penobatan. Artaxerxes kemudian menangkap Koresh dan hendak menghukum mati dia namun ibunya Parysatis ikut campur sehingga Koresh selamat. Koresh lalu diberikan jabatan sebagai satrap Lydia, di sana dia mengumpulkan pasukan untuk melakukan pemberontakan. Koresh dan Artaxerxes akhirnya bentrok dalam Pertempuran Kunaxa pada tahun 401 SM, yang berakhir dengan kematian Koresh.

Artaxerxes terus berkuasa dan menjadi raja Akhaimenia yang paling lama memerintah; dia menjadi raja selama sekitar 45 tahun, hingga tahun 358 SM. Selama masa pemerintahannya, Persia mengalami kedamaian dan kestabilan sehingga banyak dibangun monumen. Artaxerxes memindahkan kembali ibu kota ke Persepolis, yang dia perindah, sementara itu Ekbatana, sebagai ibu kota musim panas, diberi banyak tambahan hiasan berupa tiang dan genting yang dilapisi perak dan perunggu. Pada masa pemerintahannya juga, terjadi inovasi luar biasa pada kultus mezbah Zoroaster, dan tersebarnya agama itu ke seluruh Asia Kecil dan Levant, dari Armenia. Karena semua kontribusinya terhadap Persia, enam abad kemudian pendiri Kekaisaran Persia Kedua, Ardeshir I, menyatakan diri adalah keturunan Artaxerxes.

Keruntuhan
Artaxerxs II digantikan oleh Artaxerxes III pada tahun 358 SM. Menurut Plutarkhos, Artaxerxes III berkuasa setelah membunuh delapan saudara tirinya, untuk mengamankan takhtanya.  Pada tahun 343 SM Artaxerxes III mengalahkan Nektanebo II, mengusirnya dari Mesir, dan kembali menjadi Mesir sebagai bagian dari Persia. Masa kekuasaan Persia yang kedua di Mesir ini disebut sebagai dinasti ketiga puluh satu Mesir. Pada tahun 338 SM Artaxerxes III meninggal karena sebab yang tak jelas. Menurut kuneiform dia mati karena sebab alami namun menurut Diodoros, seorang sejarawan Yunani, dia dibunuh oleh Bagoas, salah seorang menterinya.

Artaxerxes III digantikan oleh Artaxerxes IV Arses, yang juga diracuni oleh Bagoas sebelum sempat mulai memerintah. Lebih jauh lagi, Bagoas membunuh semua anak Arses, serta banyak pangeran di Persia. Bagoas lalu menempatkan Darius III (336–330 SM), keponakan Artaxerxes IV, sebagai raja Persia. Setelah berkuasa, Darius yang sebelumnya merupakan satrap Armenia, secara pribadi memerintahkan Bagoas meminum racun. Pada tahun 334 SM, tidak lama setelah Darius menguasai Mesir kembali, Alexandros III dari Makedonia dan pasukannya yang telah banyak bertempur menginvasi Asia Kecil. Alexandrosr meneruskan rencanan ayahnya, Philippos, yang keburu meninggal sebelum sempat melaksanakan rencana invasinya.

Setelah menyeberang ke Asia Kecil, Alexandros mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Granikos (334 SM), disusul oleh Pertempuran Issos (333 SM), dan yang terakhir pada Pertempuran Gaugamela (331 SM). Setelah itu dia berarak menuju Susa dan Persepolis, yang menyerah pada awal 330 SM. Dari sana, Alexandros bergerak ke utara menuju Pasargadae, di sana dia mengunjungi makam Koresh Agung.

Edom

Edom merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir.  Tanah dan penghuni dari Edom ini ditemukan di dataran bagian selatan dan tenggara dari Laut Mati. Edom juga bertetangga dengan Israel di timur dan selatan.  Di dalam Alkitab nama 'Edom' memiliki tiga makna. Makna yang pertama (Kejadian 25:30; 36:1, 8, dan 19) yaitu nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia menukar hak kesulungannya dengan sup merah.  Makna yang kedua (kitab Bilangan 20:18, 20, 21; kitab Amos 1:6, 11; 9:12; kitab Maleakhi 1:4) yaitu Edom sebagai suatu kelompok bangsa.  Makna yang ketiga (kitab Kejadian 32:3; 36:20, 21, 30; kitab Bilangan 24:18) yaitu tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir.  Kata Edom sendiri berarti 'merah'.  Kata ini menunjuk pada sup yang diberikan sebagai ganti hak kesulungannya.  Selain itu, kata ini juga berkaitan dengan kelahiran Esau yang terdapat dalam kitab Kejadian 25:25. Selain itu, kata "merah" ini juga muncul karena warna kemerah-merahan yang ada pada tanah Edom yang di dalam Akitab disebutkan terdiri dari batu yang berwarna merah.  Dalam zaman Romawi atau Perjanjian Baru, wilayah Edom dikenal dengan nama Idumea.

Wilayah Edom mempunyai panjang kurang lebih 160 Km. Daerah ini terbentang mulai dari Wadi Zered sampai ke Teluk Aqaba.  Edom mempunyai empat batas wilayah.   Batas utara adalah Wadi Zered dan teluk Akaba, batas timur adalah Wadi Araba, batas selatan adalah Wadi el-Hesea(yang juga batas dari Moab), dan batas barat adalah padang gurun Araba.   Ia meluas sampai ke sisi Araba, suatu daerah seperti lembah yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mati.  Daerah Edom merupakan daerah yang berbukit-bukit dengan tinggi 1607 m.  Dataran tinggi pada Edom mencapai 5000 m, bahkan bisa mencapai 5600 m.  Tanah yang terdapat di daerah Edom bukanlah tanah yang subur.  Namun, ada beberapa tanah di daerah timurlaut yang baik untuk ditanami. Salah satu hasil pertaniannya adalah anggur (kitab Bilangan 20:17, 19).  Di tanah ini juga hewan ternak dapat merumput. . Tanah Edom sendiri terbagi atas tiga bagian.

Hutan Edom
Jarak hutan Edom ada 70 mil dari utara ke selatan serta kurang lebih 50 mil dari timur ke barat.  Batas utara dari hutan ini adalah Wadi el-Hesea yang memisahkan Edom dari Moab.  Batas timur dari hutan ini adalah padang gurun yang berada beberapa mil dari barat.  Batas selatan dari hutan ini adalah sebuah lereng yang terjal yang bernama Neqb esh-Shtar.  Batas barat dari hutan ini adalah beberapa bukit.  Hutan ini disebut sebagai daerah merah karena terdiri dari tanah merah dan juga batu yang berwarna merah.  Daerah ini juga masih merupakan bagian dari Edom.  Hutan Edom ini juga ditandai dengan beberapa deretan hutan, terutama hutan yang ada pada perbatasan utara.  Daerah ini juga menjadi batas bagi dataran tinggi dan cukup dekat untuk memberi sinyal apabila ada serangan ke Edom.

Daerah-daerah kecil Edom
Daerah kecil ini terletak dari Arabah sampai daerah selatan Neqb esh-Shtar sejauh teluk Akaba.  Daerah ini berada dekat dengan hutan Edom dan berada di bawah kekuasaan Edom.  Daerah ini biasa digunakan sebagai jalur perdagangan untuk pertukarang barang seperti besi dan sebagainya.  Hal inilah yang menyebabkan daerah ini menjadi penting.  Bangsa Edom juga menggunakan daerah ini untuk berdagang besi dan tembaga untuk menambah kekayaan mereka.

Pedalaman Edom
Daerah ini berada dalam wilayah Edom tetapi tidak dikuasai oleh Edom seluruhnya.  Daerah ini biasa ditempati oleh suku-suku yang hidup berpindah-pindah.  suku-suku ini adalah suku Amalek dan suku Kenas.  Dalam kitab Bilangan 20:16 diceritakan bahwa Musa sebagai pemimpin Israel meminta izin untuk dapat melewati daerah ini.  Israel tidak menemukan kesulitan ketika melewati pedalaman Edom dan daerah-daerah kecil di Edom.

Data Arkeologis
Data arkeologis mengenai Edom sangat sedikit atau bisa dikatakan jarang.  Data-data arkeologis mengenai Edom menunjukkan bahwa penduduk Edom baru muncul di akhir zaman perunggu yaitu sekitar 1300 SM.  Ketika awal zaman besi baru ditemukan adanya sebuah kota.  Sebuah materai dari Tell el-Kheleifeh memperlihatkan bahwa naskah yang digunakan oleh orang Edom tidak sama dengan naskah yang dipakai orang Ibrani maupun orang Moab.  Beberapa artefak yang ditemukan dari hasil penelitian arkeologis adalah puisi, alat-alat, dan beberapa ornamen yang mungkin dipakai untuk peribadahan.

Masyarakat Edom
Di dalam Kitab Nabi-nabi diceritakan mengenai hubungan yang erat antara penduduk Edom dengan Israel, hal ini dikarenakan leluhur Edom merupakan Esau (Saudara kembar Yakub yang disebut Israel). Sejak kecil Esau sudah sering disakiti oleh Yakub seperti dicuri hak kesulungan kemudian dicuri pula hak berkatnya dari Ishak, tetapi demikian Esau pun akhirnya tetap mengampuni Yakub (Kejadian 33), bahkan diayat 4 tertulis bahwa Esau berlari menghampiri, memeluk, mencium dan mereka bertangis-tangisan. Dalam dunia Psikologi ini merupakan sebuah rekonsiliasi keluarga yang baik. Semenjak pulihnya hubungan antara kedua saudara kembar ini, hubungan keduanya pun menjadi baik. bahkan Esau tidak segan memberi bantuan kepada Yakub (Kejadian 3:15), hal ini yang kemudian secara turun temurun menjadi budaya saling tolong menolong antara keturunan kedua saudara ini.  Kemungkinan besar masyarakat Edom berasal dari Aram.  Mereka melakukan perkawinan campur dengan orang Kanaan (Kejadian 26:34), Orang-orang Ismael (Kejadian 28:9), dan suku-suku asli Hori dari Seir (Kejadian 36:20).  Masyarakat Edom merupakan masyarakat yang bergerak dalam bidang pertanian.  Mereka memperkaya diri dengan perdagangan besi dan tembaga.  Hal ini dikarenakan pada masa itu besi dan tembaga sangat diperlukan.  Perdagangan tersebut biasa mereka lakukan dengan bangsa Babilonia, Siria, Arab, dan Mesir.  Masyarakat Edom memakai bahasa Ibrani sebagai bahasa sehari-sehari.  mereka juga menganut paham politeis dan dewa-dewa mereka terdapat dalam nama raja-raja mereka.  Sistem pemerintahan mereka adalah monarki.  Sistem ini juga telah dipraktikkan jauh sebelum Israel melakukannya.  Pengangkatan raja dilakukan dengan cara pemilihan oleh orang-orang tertentu seperti imam.

Sejarah
Menurut data arkeologis, Edom telah berpenghuni jauh sebelum zaman Esau.  Kemudian, Esau bermigrasi ke Edom dan menjadi kelompok yang dominan dengan cara bergabung dengan beberapa kelompok, salah satunya adalah suku Hori.  Pada tahun 1850 SM, Edom mengalami kemunduruan budaya karena pada saat itu tanah Edom diduduki oleh bangsa-bangsa pengembara seperti bangsa Filistin.  Berdasarkan keterangan Alkitab, bangsa Edom merupakan bangsa yang sangat sering berperang dengan Israel.  Dalam masa pemerintahan raja Saul, ia juga berperang melawan bangsa Edom walaupun di antara hamba-hambanya terdapat orang Edom (kitab 1 Samuel 14:47; 21:7; 22:19, 18).  Pada masa pemerintahan raja Daud, hal yang sama pun terjadi.  Ia menaklukkan Edom dan menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di seluruh negeri itu (kitab 2 Samuel 8:13-14).  Pada masa pemerintahan ini juga banyak orang Edom yang meninggal.  Yoab yang merupakan panglima Daud turut membantai orang-orang Edom ketika ia tinggal di Edom selama beberapa bulan (kitab 1 Raja-raja 11:15-16).  Namun, tidak semua orang Edom pada saat itu meninggal karena ada yang melarikan diri yaitu Hadad yang kemudian menyebabkan kesulitan-kesulitan pada masa pemerintahan Salomo (kitab 1 Raja-raja 11:14-22).  Pada masa kerajaan Yosafat, orang Edom bersekutu dengan kerajaan Moab dan Amon untuk berperang melawan Yehuda (kitab 2 Tawarikh 20:1).  Namun, pasukan sekutu ternyata justru saling membunuh.  Pada waktu itu, seorang raja Edom (ia mengakui keunggulan Yehuda) memutuskan untuk bergabung dengan Yehuda untuk berperang melawan Mesa, raja Moab (kitab 2 Raja-raja 3:4-27).  Pada masa pemerintahan raja Yoram, Edom kembali memberontak tetapi bisa ditaklukkan (kitab 2 Raja-raja 8:20-22;kitab 2 Tawarikh 21:8-10).  Setelah masa itu, Amazia menyerbu Edom dan membunuh 10.000 orang Edom (kitab 2 Raja-raja 14:7). Setelah itu, dalam pemerintahan Ahas ketika Yehuda diserang oleh Pekah dan Rezin, orang Edom masuk ke Yehuda dan membawa para tawanan (2 Tawarikh 28:17.  Setelah itu, Edom tidak pernah lagi ditaklukkan oleh Yehuda.  Ketika Yehuda jatuh, para nabi mulai menubuatkan kejatuhan Edom sebab Edom bersukacita atas kejatuhan Yehuda.  Edom sendiri jatuh dalam kekuasaan Arab selama abad ke-5 SM dan pada abad ke-3 SM diserbu oleh orang Nabatea.

Pada masa Asyur
Pemberontakan Siria dan sekutu melawan Asyur berakhir pada saat Tiglath-Pileser III menaklukkan mereka pada tahun 732 SM.  Setelah pemberontakan itu Edom jatuh ke dalam perbudakan di bawah Asyur.  Namun tidak berarti bahwa perbudakan di Asyur membawa dampak yang buruk bagi perkembangan Edom.  Bukti arkeologis menunjukkan bahwa beberapa kota yang menjadi sumber kemakmuran bagi Edom dibangun pada zaman bangsa Asyur berkuasa.  Kota-kota tersebut adalah Tawilan, Bozrah, dan Umm el-Biyarah.  Pada masa bangsa Asyur berkuasa, Edom juga menguasai daerah selatan Yehuda.  Pada tahun 735 Sebelum Masehi, Edom menjarah daerah yang bernama Elat.  Dalam Perjanjian Lama, daerah Edom disebutkan mulai dari selatan Yehuda sampai daerah barat Wadi Arabah.

Pada masa Babilonia
Setelah bangsa Asyur mulai berkurang kekuasaannya, Edom mendapat keringanan untuk bebas dari pajak serta pemerintahan Asyur.  Pada masa itu yang berkuasa adalah Nebukadnezar.  Ia memegang kuasa atas wilayah barat setelah tahun 605 SM.  Pada masa itu juga terjadi perbudakan dan salah satu bangsa yang termasuk dalam perbudakan adalah Yehuda.  Dalam masa kejayaan Babilonia, beberapa kali terjadi pemberontakan yang diakukan oleh bangsa Yehuda, Moab, Amon, Tirus, dan Sidon.  Di bawah pemerintahan Babilonia, Edom juga beberapa kali dituduh mengambil kesempatan untuk merampas dan merampok Yehuda.  Hal inilah yang menjadi pembahasan dari beberapa kitab nabi-nabi kecil, salah satunya adalah Kitab Obaja.  Dua hal yang menjadi keluhan dalam kitab-kitab tersebut adalah Edom telah menyerobot tanah Israel dan juga melakukan kesalahan yaitu kekerasan terhadap umat Israel.  Pada sisi lain, Edom juga memberikan tempat perlindungan kepada orang Yahudi untuk melarikan diri dari kekuatan Babilonia.  Namun, tidak ada bukti kuat bahwa Edom membantu bangsa Babilonia secara militer pada tahun 587 SM.  Edom tidak menyerang Babilonia.  Sejarawan Yahudi-Romawi yang bernama Yosefus menyebutkan bahwa Nebukadnezar menaklukkan Moab dan Amon, lima tahun setelah kejatuhan Yerusalem.  Namun, Yosefus tidak menyebutkan bahwa Edom juga diserang dalam peristiwa tersebut.  Akhir dari kerajaan Edom adalah hasil dari suatu operasi militer yang dilakukan oleh Nabonidus pada tahun 552 SM.

Pada masa Persia
Sejarah mengenai Edom dan penduduk Edom pada masa Persia kurang diketahui dengan pasti.  Kebanyakan dari penduduk Edom pada saat itu melanjutkan tradisi yang berkaitan dengan cara hidup mereka.  Beberapa dari mereka hidup di gua dan di kemah.  Mereka juga memanfaatkan tanah mereka dengan memelihara ternak.

Pada masa Romawi
Penduduk Edom dikenal dengan nama Idume selama masa Hellenistik atau periode Romawi.  Salah satu keturunan Edom yang terkenal pada masa itu adalah Herodes Agung.  Cukup sulit untuk menelusuri mengenai Edom atau keturunan Edom setelah masa Roma.  Hal ini dikarenakan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Sesudah Masehi.  Dalam masa Romawi, kata Edom menjadi suatu bentuk kata yang dipakai untuk musuh.  Kata ini dipakai Romawi selama aksi penekanan yang dilakukan pihak Romawi terhadap Yahudi dan Kristen.  Penggunaan kata ini disebabkan oleh rasa benci terhadap bangsa Edom.  Setelah masa pemerintahan Romawi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang Idumea masih ada.

Kerajaan Asiria Baru

Kerajaan Asiria Baru atau Kerajaan Asyur adalah sebuah entitas politik bangsa Asiria di Mesopotamia pada 934 SM sampai 608 SM. Pada masa kejayaan kerajaan ini, bangsa Asiria menjadi bangsa terkuat di dunia, bersaing dengan Babilonia, Mesir, Urartu/Armenia  dan Elam dalam memperebutkan kekuasaan di Timur Dekat dan Mediterania timur, Kerajaan ini menjadi kuat melalui reformasi oleh Tiglath-Pileser III pada abad ke-8 SM.

Asiria pada awalnya merupakan kerajaan Akkadia kecil yang berkembang pada abad ke 23 sampai 21 SM. Raja-raja Asiria hanyalah pemimpin regional dan merupakan bawahan Sargon dari Akkad, yang menyatukan semua bangsa berbahasa Akkadia di Mesopotamia di bawah Kekaisaran Akkadia, yang bertahan dari 2270 SM sampai 2080 SM. Setelah Kekaisaran Akkadia runtuh, bangsa Asiria dan Babilonia dapat berkembang. Pada periode Asiria Lama pada Zaman Perunggu Awal, Asiria menjadi kerajaan di Mesopotamia utara (Irak utara modern), memperebutkan dominasi dan melawan saingannya di Mesopotamia selatan yang juga berbahasa Akkadia, yaitu Babilonia, yang seringkali berada di bawah kekuasaan bangsa Kassit. Pada periode ini, Asiria juga membuat koloni-koloni di Asia Kecil.

Asira mengalami pasang surut kekuasaan pada periode Asiria Pertegahan. Asiria mengalami periode kekasiaran di bawah kekuasaan Shamshi-Adad I pada abad ke-18 dan 17 SM, Setelah itu Asiria berada di bawah dominasi Babilonia, lalu Mittani-Hurria pada abad ke-17 - 15 SM. Asiria kemudian menjadi kerajaan yang kuat pada 1365 SM sampai 1076 SM, yang meliputi pemeritahan raja-raja besar, misalnya Ashur-uballit I, Tukulti-Ninurta I dan Tiglath-Pileser I. Dimulai dengan kampanye Adad-nirari II, Asiria lagi-lagi menjadi kerajaan yang kuat. Kerajaan Asiria menjatuhkan Dinasti Kedua puluh lima Mesir dan menaklukan Mesir, Babilonia, Elam, Urartu, Media, Persia, Mannea, Gutium, Punisia/Kanaan, Aramea (Suriah), Arab, Israel, Yehuda, Palestina, Edom, Moab, Samarra, Kilikia, Siprus, Khaldea, Nabatea, Kommagene, Dilmun menaklukan bangsa Hurria, bangsa Shutu dan bangsa Hittit; mengsuir bangsa Nubia, bangsa Kushit dan bangsa Ethiopia dari Mesir; mengalahkan bangsa Kimmeria dan bangsa Skithia; dan memperoleh upeti dari Frigia, Magan, dan Punt.

Periode Asiria Pertengahan digantikan oleh Kerajaan Asiria Baru (abad ke-14 sampai 10 SM). Beberapa sejarawan, contohnya Richard Nelson Frye, berpendapat bahwa Kerajaan Asiria Baru adalah imperium sesungguhnya yang pertama dalam sejarah manusia. Pada periode ini, bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan, bersama dengan dengan bahasa Akkadia. Asiria juga mengembangkan sistem komunikasi cepat untuk surat-surat pemerintahan dan kebijakan perpindahan penduduk untuk memperkuat politik, ekonomi dan budaya kerajaan.

Kerajaan Asiria Baru ditaklukan oleh persekutuan bangsa Babilonia, bangsa Medes, bangsa Skithia, dan bangsa-bangsa lainnya dalam persitiwa Kejatuhan Nineveh pada 612 SM, serta penghancuran ibu kotanya, Harran, pada 608 SM. Lebih dari setengah abad kemudian, Babilonia dan Asiria menjadi provinsi di Kekaisaran Akhemenia. Setelah runtuh, budaya Asiria tetap berpengaruh terhadap kekaisaran Media dan Persia.

Oct 4, 2019

Yahudi

Yahudi adalah istilah yang merujuk kepada sebuah agama, etnisitas, atau suku bangsa. Sebagai agama, istilah ini merujuk kepada umat yang beragama Yahudi.

Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada suku bangsa yang berasal dari keturunan Eber (Kejadian 10:21) (yang disebut "Ibrani") atau Yakub (yang juga bernama "Israel") anak Ishak anak Abraham (Ibrahim) dan Sara, atau keturunan Suku Yehuda, yang berasal dari Yehuda anak Yakub. Etnis Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak beragama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi.

Agama Yahudi adalah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Agama Yahudi dibahas lebih lanjut dalam artikel agama Yahudi; artikel ini hanya membahas dari segi suku bangsa saja. Kepercayaan semata-mata dalam agama Yahudi tidak menjadikan seseorang menjadi Yahudi. Di samping itu, dengan tidak memegang kepada prinsip-prinsip agama Yahudi tidak menjadikan seorang Yahudi kehilangan status Yahudinya. Tetapi, definisi Yahudi undang-undang kerajaan Israel tidak termasuk Yahudi yang memeluk agama yang lain.

Kata "Yahudi" diambil menurut salah satu marga dari dua belas leluhur Suku Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda. Yehuda ini adalah salah satu dari 12 putera Yakub, seseorang yang hidup sekitar abad 18 SM dan bergelar Israel. Seluruh turunan dari 12 putera Yakub (Israel) itu dikenal dengan sebutan Bangsa Israel (keturunan langsung Israel) yang kemudian berkembang menjadi besar dinamakan menjadi Suku Israel.

Setelah berabad-abad turunan Yahudi berkembang menjadi bagian yang dominan dan mayoritas dari Bangsa Israel, sehingga sebutan Yahudi tidak hanya mengacu kepada orang-orang dari turunan Yahuda, tetapi mengacu kepada segenap turunan dari Israel (Yakub).

Pada awalnya bangsa Yahudi hanya terdiri dari satu kelompok keluarga di antara banyak kelompok keluarga yang hidup di tanah Kan’an pada abad 18 SM. Ketika terjadi bencana kelaparan di Kan’an, mereka pergi mencari makan ke Mesir, yang memiliki persediaan makanan yang cukup berkat peran serta Yusuf. Karena kedudukan Yusuf yang tinggi di Dinasti Hyksos, Mesir, seluruh anggota keluarga Yakub diterima dengan baik di Mesir dan bahkan diberi lahan pertanian di bagian timur laut Mesir.

Pada akhirnya keseluruh bangsa Israel, tanpa memandang warga negara atau tanah airnya, disebut juga sebagai orang-orang Yahudi dan begitu pula semua pemeluk agamanya disebut dengan nama yang sama pula. Meskipun sering mengklaim diri sebagai pewaris keluarga Yakub (orang Israel), hal ini sering dipertanyakan dan oleh berbagai pakar sejarawan, oleh karena sulit untuk membuktikan secara biologis bahwa darah "orang Yahudi" secara langsung memiliki garis keturunan sebagai orang Israel. Sebagaimana orang Israel Samaria (Kesepuluh Suku Israel) yang mengalami pengusiran oleh pasukan Assyiria dan keturunan mereka tidak kembali semuanya ke tanah air melainkan berbaur di antara penduduk bangsa-bangsa lain. Sementara orang Israel Judea, yang beberapa kali mendapat pengusiran di zaman Babilonia dan Romawi, telah berpencar ke berbagai bangsa dengan mengggabungkan diri kepada bangsa-bangsa asing sehingga kehilangan identitas sebagai orang Israel asli walaupun mereka pernah tinggal di tanah air mereka sejak zaman Ezra hingga zaman kaisar Romawi Titus. Banyak pakar sejarawan yang meragukan keaslian ras Yahudi sebagai keturunan orang Israel dan lebih sepakat dengan sebutan bangsa Zionis, sebab pada dasarnya siapapun orang dari berbagai etnis dan latar belakang dapat menjadi orang Yahudi baru (proselit).

Siapakah orang yang berhak disebut Yahudi ?

Halakha, atau hukum-hukum agama Yahudi, memberikan definisi Yahudi kepada seorang yang:

Suku Bangsa Yahudi, suku bangsa ini terbagi lagi menjadi dua:
Seorang anak yang terlahir dari ayah dan ibu Yahudi disebut Yahudi asli,
Seorang anak yang terlahir dari ayah Yahudi dan ibu dari bangsa lain, Yahudi campuran ini termasuk kategori Yahudi Kelas Dua,
Seorang yang memeluk agama Yahudi menurut hukum-hukum Yahudi.
Definisi ini diwajibkan oleh Talmud, sumber Hukum-Hukum Tak-tertulis yang menerangkan Taurat, kitab suci asal hukum-hukum Yahudi (lima kitab pertama kitab Tanakh maupun Perjanjian Lama). Menurut Talmud, definisi ini dipegang semenjak pemberian Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai kira-kira 3.500 tahun dahulu kepada nabi Musa. Sejarawan Yahudi non-Ortodoks berkeyakinan bahwa definisi ini tidak diikuti sehingga tidak lama berlaku, tetapi ia mengaku bahwa definisi ini digunakan sekurang-kurangnya 2.000 tahun sampai saat ini.

Pada akhir abad ke-20, dua kumpulan Yahudi (terutama di Amerika Serikat) yang liberal dari segi teologi, Yahudi Reformasi dan Yahudi Rekonstruksi telah membenarkan orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut untuk menyebut diri mereka sebagai Yahudi. Mereka tidak lagi mewajibkan orang memeluk agama tersebut demi memenuhi adat istiadat pemelukan tradisional, dan mereka menganggap seseorang sebagai Yahudi jika ibu mereka bukan Yahudi, asalkan berayah Yahudi. Yahudi adalah agama tertutup.

Kelompok Yahudi
Dewasa ini ada sejumlah kelompok Yahudi utama:

Kaum Ashkenazim
Kaum Sefardim
Kaum Mizrahim atau "Orang dari Timur"
Anti-semitisme
Artikel utama: Antisemitisme
Selama berabad-abad orang Yahudi banyak mengalami Diskriminasi dari kaum Kristen di Eropa. Diskriminasi terhadap orang Yahudi ini secara khusus disebut antisemitisme. Puncak diskriminasi ini terjadi pada Perang Dunia II, yakni ketika Yahudi dibantai di Eropa oleh kaum Nazi Jerman karena dituduh mengambil kekayaan secara paksa

Bangsa Filistin

Bangsa Filistin (Ibrani: פְּלִשְׁתִּים, Plištim) adalah sebuah bangsa yang disebutkan dalam Alkitab Yahudi dan Kristen. Sumber-sumber Rabinis menerangkan bahwa bangsa Filistin yang disebutkan dalam Kitab Kejadian tidak sama dengan bangsa Filistin yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah deuteronomistis (Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, Kitab Samuel, Kitab Raja-raja).  Kitab-kitab sejarah deuteronomistis menggambarkan negeri bangsa Filistin sebagai sebuah pentapolis di barat daya Levant yang terdiri atas lima negara-kota yakni Gaza, Askelon, Asdod, Ekron, dan Gat, mulai dari Wadi Gaza di selatan sampai ke Sungai Yarkon di utara. Penggambaran ini menampilkan mereka pada suatu masa sebagai salah satu seteru paling berbahaya bagi Kerajaan Israel.  Di lain pihak, kanon Alkitab Kristen Timur, LXX, menggunakan istilah "allophuloi" (bahasa Yunani: ἀλλόφυλοι) yang berarti "bangsa-bangsa lain" sebagai ganti istilah "filistin."

Sejumlah ayat Alkitab mempertalikan bangsa Filistin dengan kelompok-kelompok lain dalam Alkitab seperti orang Kaftorim serta orang Kreti dan orang Pleti, yang telah diidentifikasikan sebagai Kreta sehingga menimbulkan teori yang sudah lama diyakini bahwa mereka berasal dari kawasan Aegea, meskipun kini telah dipertanyakan kembali. Pada 2016, penemuan sebuah lokasi pemakaman bangsa Filistin yang sangat luas, mencakup 150 makam, tampaknya meneguhkan teori akan asal usul Aegea bangsa Filistin. Uji genetis pada tulang-belulang manusia yang didapati dalam penemuan itu tentunya akan menghasilkan informasi yang lebih mendalam lagi.

Etimologi

"Bangsa Filistin" dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab فلستيون, yang merupakan padanan untuk kata Philistinus dalam bahasa Latin Klasik (terdapat dalam karya-karya tulis Yosefus), dari bahasa Yunani akhir Philistinoi (Phylistiim dalam Septuaginta - terdapat dalam karya-karya tulis Filo), dari bahasa Ibrani Plištim, (misalnya dalam Taurat: Kejadian 21:34:(TB), "di negeri [orang?] Plištim" בארץ פלשתים; dalam Kedua Belas Neviyim kecil: Hakim-hakim 14:3:(TB); 1 Samuel:17:36-(TB); Amos 1:8:(TB)), yang berarti "orang-orang Plešt".

Istilah Ibrani "pelisytim" muncul 286 kali dalam naskah Masora dari Alkitab Ibrani (dari jumlah itu, 152 kali muncul dalam Kitab Samuel Pertama). Istilah ini juga muncul dalam Taurat Samaria. Dalam sastra sekunder berbahasa Aram, yakni Penglihatan-penglihatan Amram (4Q543-7), terdapat penggunaan istilah "Filistia". Kitab ini dapat diperkirakan berasal dari zaman "sebelum masa pemerintahan Antiokhus IV dan sebelum timbulnya pemberontakan Ḥasymona'im", mungkin sekali pada masa jabatan Imam Besar Israel Onias II; Kitab Yobel 46:1-47:1 agaknya menggunakan Kitab Penglihatan-penglihatan Amram sebagai salah satu sumbernya. Dalam Alkitab versi Yunani yang disebut Septuaginta, istilah padanannya, phylistiim muncul 12 kali, juga di dalam Pentateukh.

Catatan Alkitab

Tradisi Ibrani yang tercatat dalam Kejadian 10:14 menyatakan bahwa "Filistim" (פלשתים, Ibrani Standar Pəlištim, Ibrani Tiberias Pəlištîm) berasal dari Kasluhim, yaitu keturunan dari Mizraim (Mesir), anak Ham. Bangsa Filistin tinggal di Filistia (פלשת, Ibrani Standar Pəléšet/Pəlášet, Ibrani Tiberias Pəléšeṯ/Pəlāšeṯ) di sepanjang pantai timur Laut Tengah pada masa bangsa Israel menetap di dataran tinggi Yudea. Acuan Alkitab kepada bangsa Filistin yang hidup di daerah ini sebelum masa ini, pada masa Abraham atau Ishak (lihat Kejadian 21:32-34) dianggap anakronistik oleh sebagian ahli modern.

Bangsa ini juga disebut-sebut dalam Kitab Nabi Amos dan digambarkan berasal dari Kaftor: "Bukankah Aku telah menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir, orang Filistin dari Kaftor, dan orang Aram dari Kir?" (Amos 9:7). Kemudian, pada abad ke-7 SM, nabi Yeremia juga menyebutkan bahwa mereka berasal dari Kaftor. Para sarjana menghubungkan Kaftor dengan Siprus dan Kreta serta tempat-tempat lainnya di Laut Tengah sebelah timur.

Penggunaan Istilah
Para penulis Inggris pada abad XIX dan awal abad XX kadang-kadang menyebut orang Arab Palestina sebagai orang "Filistin." Ini dikarenakan keyakinan akan kaitan yang kuat antara bangsa Palestina dengan orang Filistin, dan sebagai ungkapan yang menunjukkan bahwa kata "Filistin" berarti "penduduk asli Palestina".