Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Sep 5, 2019

Pythagoras

Pythagoras dari Samos[a] (lahir sekitar tahun 570 SM - meninggal sekitar tahun 495 SM) adalah seorang filsuf Yunani Ionia kuno dan perintis aliran pythagoreanisme. Ajaran politik dan keagamaannya dikenal di kawasan Magna Graecia pada masanya dan telah memengaruhi pemikiran Plato dan Aristoteles, sehingga secara tidak langsung ia juga telah berdampak terhadap perkembangan filsafat Barat. Rincian mengenai kehidupannya diselubungi legenda, tetapi tampaknya ia adalah anak Mnesarkos, seorang pengukir permata atau saudagar kaya di Pulau Samos, lepas pantai Anatolia. Para ahli modern masih memperdebatkan siapa guru Pythagoras dan pemikir-pemikir mana saja yang pernah memengaruhinya. Walaupun begitu, mereka sepakat bahwa pada kisaran tahun 530 SM, Pythagoras pindah ke Kroton di pesisir Italia dan mendirikan sebuah perkumpulan dengan keanggotaan khusus. Mereka yang ingin bergabung harus diinisiasi terlebih dahulu, dan komunitasnya menjalani gaya hidup bersama dan bertarak. Komunitas ini juga memiliki aturan mengenai makanan. Konon pengikutnya harus vegetarian, tetapi ahli-ahli modern meragukan apakah Pythagoras benar-benar pernah mengharuskan para pengikutnya untuk tidak makan daging sama sekali.

Ajaran yang paling jelas dikemukakan oleh Pythagoras adalah metempsikosis, yaitu keyakinan bahwa setiap jiwa itu abadi, dan setelah kematian, jiwa tersebut akan masuk ke tubuh yang baru. Ia mungkin juga merupakan penggagas doktrin musica universalis, yang menyatakan bahwa planet-planet bergerak sesuai dengan persamaan matematika, sehingga menghasilkan simfoni musik yang tak terdengar. Para ahli masih memperdebatkan apakah beberapa ajaran numerologi dan musik yang dikaitkan dengan nama Pythagoras itu benar-benar dikembangkan olehnya atau merupakan ciptaan pengikutnya setelah ia meninggal, khususnya Filolaos dari Kroton. Setelah Kroton berhasil mengalahkan tetangganya Sibaris sekitar tahun 510 SM, para pengikut Pythagoras berkonflik dengan para pendukung demokrasi, alhasil gedung pertemuan kaum pythagoreanis dibakar. Pythagoras mungkin gugur selama peristiwa ini atau lolos ke Metapontum dan menjemput ajalnya di tempat tersebut.

Pada zaman kuno, nama Pythagoras dikaitkan dengan berbagai penemuan matematika dan ilmiah, seperti teorema Pythagoras, lima bangun ruang, teori kesebandingan, teori bumi bulat, dan gagasan bahwa bintang timur dan barat adalah planet yang sama, yaitu Venus. Konon ia juga adalah orang pertama yang menyebut dirinya sebagai filsuf ("pecinta kebijaksanaan") dan membagi dunia menjadi lima zona iklim. Namun, para ahli sejarah klasik masih memperdebatkan apakah Pythagoras benar-benar telah membuat temuan-temuan ini, dan banyak pencapaian yang dikaitkan dengan namanya mungkin sudah ada sebelumnya atau dicetuskan oleh rekan atau penerusnya. Selain itu, masih diperdebatkan apakah ia benar-benar telah bersumbangsih terhadap bidang matematika atau filsafat alam.

Pemikiran Pythagoras memengaruhi Plato, dan dialog-dialog karya Plato (khususnya Timaios) menunjukkan pengaruh dari ajaran pythagoreanisme. Gagasan pythagoreanisme mengenai kesempurnaan matematis juga berdampak terhadap seni Yunani Kuno. Ajaran pythagoreanisme kembali bangkit pada abad pertama SM di kalangan penganut platonisme pertengahan, yang beriringan dengan kemunculan neopythagoreanisme. Pythagoras terus dianggap sebagai seorang filsuf ulung pada Abad Pertengahan, dan filsafatnya sangat berpengaruh terhadap ilmuwan seperti Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dan Isaac Newton. Simbolisme pythagoreanisme juga digunakan oleh para pengamal esoterisme Barat modern, dan ajarannya seperti yang dirincikan dalam Metamorphoses karya penyair zaman Romawi Ovidius telah memengaruhi gerakan vegetarian modern.

Sumber biografi

Tidak ada tulisan asli Pythagoras yang masih ada hingga zaman modern. Selain itu, hampir tidak ada keterangan mengenai kehidupannya yang dapat dipastikan kebenarannya. Sumber-sumber pertama mengenai kehidupan Pythagoras biasanya singkat, rancu, dan acap kali berupa satir. Sumber pertama yang membahas ajaran Pythagoras adalah sebuah puisi satir yang mungkin ditulis setelah kematiannya oleh Xenofanes dari Kolofon, salah satu orang yang hidup sezaman dengannya.  Dalam puisi ini, Xenofanes menulis bahwa Pythagoras menjadi perantara seekor anjing yang sedang dipukuli, dan Pythagoras mengaku bahwa ia dapat mengenali suara temannya yang sudah tiada dari teriakan anjing tersebut. Alkmeon dari Kroton, seorang dokter yang tinggal di Kroton semasa Pythagoras tinggal di kota tersebut, memasukkan banyak ajaran Pythagoras ke dalam tulisan-tulisannya, dan tulisan-tulisannya menyiratkan bahwa ia kenal dengan Pythagoras secara langsung. Penyair Herakleitos dari Efesos, yang lahir di Pulau Samos dan mungkin hidup pada masa Pythagoras, mengolok Pythagoras sebagai seorang penipu ulung. Herakleitos bahkan pernah berujar, "Pythagoras, anak Mnesarkos, melakukan pembelajaran melalui penyelidikan melebihi siapapun, dan dari tulisan-tulisan tersebut ia menciptakan kebijaksanaan untuk dirinya sendiri banyak pelajaran, tipuan yang berseni."

Penyair Yunani Ion dari Khios (sekitar tahun 480 hingga 421 SM) dan Empedokles dari Acragas (sekitar tahun 493 hingga 432 SM) sama-sama mengagumi Pythagoras dalam puisi-puisi mereka. Sumber pertama yang membahas Pythagoras secara ringkas adalah sejarawan Herodotos dari Halikarnasos (sekitar tahun 484 hingga 420 SM), yang menyebutnya "bukan yang paling remeh" dari orang-orang bijak Yunani, dan berkata bahwa Pythagoras mengajarkan pengikutnya cara agar bisa hidup selamanya. Tulisan-tulisan yang kemungkinan ditulis oleh filsuf beraliran pythagoreanisme, Filolaos dari Kroton (yang hidup pada akhir abad kelima SM), merupakan naskah pertama yang mendeskripsikan teori numerologi dan musik yang belakangan disebut sebagai hasil pemikiran Pythagoras.  Ahli retorika asal Athena yang bernama Isokrates (436–338 SM) adalah orang pertama yang menyebut bahwa Pythagoras pernah mengunjungi Mesir.  Aristoteles juga pernah menulis sebuah risalah yang berjudul Tentang Para Pythagorean, tetapi risalah ini sudah hilang ditelan zaman. Sebagian dari isinya mungkin masih terkandung dalam karyanya yang lain, Protreptikos. Murid-murid Aristoteles, yaitu Dikaiarkos, Aristoksenos, dan Herakleides Pontikos, juga membahas subjek yang sama.

Sebagian besar dari sumber-sumber penting mengenai kehidupan Pythagoras berasal dari zaman Romawi. Menurut ahli sejarah klasik asal Jerman Walter Burkert, pada masa tersebut "sejarah Pythagoreanisme sudah menjadi... rekonstruksi melelahkan dari sesuatu yang sudah hilang dan tiada." Terdapat tiga biografi mengenai Pythagoras dari zaman kuno akhir yang masih bertahan, dan semua karya ini penuh dengan mitos dan legenda. Dari ketiga karya ini, yang paling pertama dan juga paling dihormati adalah Kehidupan dan Pendapat Filsuf-filsuf Tersohor karya Diogenes Laërtius. Biografi yang berikutnya disusun oleh filsuf beraliran neoplatonisme, Porfirios, dan yang ketiga juga dibuat oleh seorang neoplatonis bernama Iamblikos. Salah satu tujuan penulisan kedua biografi ini adalah untuk dijadikan polemik dalam upaya membendung kebangkitan agama Kristen. Kedua sumber menggambarkan pencapaian Pythagoras dengan lebih panjang lebar dan fantastis daripada Diogenes. Porfirios dan Iamblikos menggunakan bahan dari tulisan-tulisan murid-murid Aristoteles yang sudah hilang, dan bahan-bahan yang diambil dari sumber-sumber tersebut umumnya dianggap sebagai bahan yang paling dapat diandalkan.

Kehidupan awal
"Tidak ada satu pun rincian tentang kehidupan Pitagoras yang sama sekali tidak pernah dipertentangkan. Tetapi ada kemungkinan, dengan pemilihan data yang kurang lebih kritis, untuk menyusun kisah yang masuk akal. " Walter Burkert, 1972

Herodotos, Isokrates, dan penulis-penulis awal lainnya sepakat bahwa Pythagoras adalah anak Mnesarkos, dan menurut mereka Pythagoras dilahirkan di Pulau Samos di Kepulauan Aegea timur.   Ayahnya konon adalah seorang pengukir permata atau saudagar kaya, tetapi nenek moyang Pythagoras tidak diketahui dan masih dipertentangkan oleh para ahli. Nama Pythagoras membuatnya dikait-kaitkan dengan pythia (imam agung wanita) dewa Apollo; Aristippos dari Kirene menjelaskan namanya dengan berkata, "Ia menuturkan (ἀγορεύω, agoreúō) kebenaran seperti Pythia [sic] (Πῡθῐ́ᾱ, Pūthíā)".  Sementara itu, sumber yang disusun belakangan menyatakan bahwa nama ibu Pythagoras adalah Pythaïs. Iamblikos menceritakan kisah pythia yang meramalkan kepada ibu Pythagoras yang sedang mengandung bahwa ia akan melahirkan anak lelaki yang sangat molek, bijaksana, dan berguna bagi umat manusia.  Sehubungan dengan tanggal lahirnya, Aristoksenos menyatakan bahwa Pythagoras yang berumur 40 tahun meninggalkan Samos pada masa kekuasaan Polikrates, sehingga kemungkinan ia lahir pada tahun 570 SM.

Pada masa ketika Pythagoras tumbuh besar, Samos merupakan pusat kebudayaan yang dikenal akan teknik arsitekturnya yang maju (seperti yang dapat dilihat dari pembangunan Terowongan Eupalinos) dan akan budaya berpestanya yang liar.  Pulau ini merupakan pusat perdagangan di Kepulauan Aegea, dan para pedagang membawa barang-barang dari kawasan Timur Dekat ke pulau tersebut. Menurut Christiane L. Joost-Gaugier, para pedagang ini hampir pasti juga ikut membawa gagasan-gagasan dan tradisi-tradisi dari Timur Dekat. Masa-masa awal Pythagoras juga beriringan dengan perkembangan filsafat alam di daerah Ionia. Ia hidup sezaman dengan filsuf Anaksimander, Anaksimenes, dan sejarawan Hekataios; ketiga orang ini tinggal di kota Miletos yang terletak di daratan Anatolia tidak jauh dari Samos.

Tempat yang konon pernah disinggahi

Menurut tradisi lisan, Pythagoras mengenyam pendidikannya di kawasan Timur Dekat. Sejarawan pada zaman modern sendiri telah menunjukkan bahwa budaya Yunani Arkais sangat dipengaruhi oleh budaya-budaya di Timur Dekat. Seperti pemikir-pemikir penting lainnya di Yunani Kuno, Pythagoros konon pernah berguru di Mesir. Pada masa Isokrates pada abad keempat SM, keterangan ini sudah diterima sebagai sebuah fakta. Seorang penulis yang bernama Antifon, yang mungkin hidup pada Zaman Helenistik, mengklaim dalam karyanya yang kini sudah hilang ditelan zaman, Tentang Orang-orang dengan Kemampuan Luar Biasa (digunakan sebagai sumber oleh Porfirios), bahwa Pythagoras belajar bahasa Mesir dari Firaun Amasis II. Sumber ini juga mengklaim bahwa ia pernah berguru dengan imam-imam Mesir di Diospolis (Thebes), dan ia adalah satu-satunya orang asing yang diperbolehkan ikut serta dalam ibadah mereka. Sementara itu, menurut teolog Kristen Klemens dari Aleksandria (sekitar tahun 150 hingga 215 M), "Pythagoras adalah murid Soches, seorang nabi agung Mesir, sementara Plato [adalah murid] Sechnuphis dari Heliopolis."

Beberapa penulis kuno mengklaim bahwa Pythagoras belajar ilmu geometri dan doktrin metempsikosis dari Mesir. Namun, penulis-penulis kuno lainnya mengklaim bahwa Pythagoras mempelajari ilmu-ilmu ini dari para majus di Persia atau bahkan dari Zarathustra sendiri. Diogenes Laërtius menegaskan bahwa Pythagoras belakangan mengunjungi Pulau Kreta dan di sana ia mendatangi Gua Ida bersama Epimenides. Pythagoras juga konon belajar aritmetika dari orang-orang Fenisia serta astronomi dari orang-orang Kaldea Pada abad ketiga SM, Pythagoras dilaporkan juga menimba ilmu dari orang Yahudi. Di sisi lain, seorang penulis yang bernama Antonios Diogenes pada abad kedua SM melaporkan bahwa Pythagoras menemukan ilmu-ilmu ini sendirian dengan menggunakan metode penafsiran mimpi. Tokoh sofisme dari abad ketiga Masehi yang bernama Filostratos bahkan mengklaim bahwa Pythagoras tidak hanya pernah berguru di Mesir, tetapi juga di India. Iamblikos semakin menambah jumlah tempat yang mungkin pernah disinggahi Pythagoras dengan mengklaim bahwa ia pernah belajar dari bangsa Kelt dan Iberia.

Orang yang konon pernah menjadi gurunya

Sumber-sumber kuno juga telah mencatat nama berbagai pemikir Yunani sebagai guru Pythagoras. Beberapa sumber menyebutkan nama Hermodamas dari Samos.  Hermodamas mungkin mengikuti tradisi rhapsode asli Samos, dan ayahnya, Kreofilos, konon adalah saingan penyair Homeros.  Sumber lain menyebut nama Bias dari Priene, Thales, atau Anaksimander (murid Thales). Ada pula tradisi lisan yang mengklaim bahwa guru Pythagoras adalah Orfeus, tokoh penyanyi dan penyair dalam mitologi Yunani. Porfirios dan Iamblikos menyebutkan "diskursus suci" yang ditulis oleh Pythagoras mengenai para dewa dengan menggunakan dialek Yunani Doria, dan mereka meyakini bahwa isinya dibacakan kepada Pythagoras oleh seorang imam Orfisme yang bernama Aglaofamus ketika Pythagoras sedang diinisiasi ke dalam kepercayaan orfisme di Leibethra.  Iamblikos menyatakan bahwa Orfeus adalah sosok yang menjadi teladan bagi Pythagoras dalam cara berbicara dan beribadah. Iamblikos bahkan menganggap pythagoreanisme sebagai penggabungan semua hal yang dipelajari oleh Pythagoras dari Orfeus, para imam Mesir, misteri-misteri Eleusinia, dan tradisi-tradisi keagamaan dan filosofis lainnya. Riedweg sendiri berpendapat bahwa walaupun pernyataan ini hanya khayalan, ajaran-ajaran Pythagoras memang dipengaruhi oleh orfisme.

Nama berbagai orang bijak di Yunani telah disebutkan sebagai guru Pythagoras, tetapi Ferekides dari Siros adalah nama yang paling sering disebut. Kisah-kisah mukjizat yang melibatkan Pythagoras maupun Ferekides sering memiliki kesamaan cerita, contohnya kisah yang tokoh utamanya memprediksi kapal karam, cerita ketika sang tokoh memprediksi penaklukan kota Messina, atau kisah lainnya ketika ia minum dari sumur dan memprediksi gempa bumi. Apolonios Paradoksografos yang mungkin hidup pada abad kedua SM menyatakan bahwa gagasan taumaturgi yang dicetuskan oleh Pythagoras itu dipengaruhi oleh Ferekides. Menurut kisah lain (yang dapat ditilik kembali ke filsuf neopitagoreanis yang bernama Nikomakos), ketika Ferekides sudah tua dan sekarat di Pulau Delos, Pythagoras pergi ke pulau tersebut, merawatnya, dan memberinya penghormatan terakhir. Duris, sejarawan dan penguasa Samos, dilaporkan pernah merasa sangat bangga dengan daerahnya karena tulisan di batu nisan Ferekides menyatakan bahwa kebijaksanaan Pythagoras melampaui Ferekides. Dengan adanya banyak sumber yang menyebutkan Ferekides sebagai guru Pythagoras, Riedweg menyimpulkan bahwa mungkin Ferekides memang pernah menjadi guru Pythagoras dalam sejarah. Pythagoras dan Ferekides tampaknya juga memiliki pandangan yang serupa mengenai jiwa dan metempsikosis.

Diogenes Laërtius mengutip pernyataan dari Aristoksenos (abad keempat SM) yang menyatakan bahwa Pythagoras mempelajari sebagian besar dari doktrin moralnya dari seorang imam wanita Delphi yang bernama Themistokleia. Porfirios sepakat dengan pernyataan ini, tetapi menurutnya nama imam wanita tersebut adalah Aristokleia.

Kembali ke Samos dan lalu pindah ke Kroton

Porfirios mengulang catatan sejarah dari Antifon, yang melaporkan bahwa ketika Pythagoras masih berada di Samos, ia mendirikan sebuah sekolah yang disebut "setengah lingkaran".  Di tempat tersebut, orang-orang Samos membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan umum.  Konon sekolah ini sangat terkenal sampai-sampai orang-orang terpintar dari seluruh Yunani datang ke Samos untuk mendengarkan ajaran Pythagoras.  Pythagoras sendiri tinggal di sebuah gua rahasia, dan di situ ia belajar sendiri dan kadang-kadang mengadakan diskursus dengan segelintir teman dekatnya.  Christoph Riedweg, seorang pakar Jerman yang mempelajari pythagoreanisme, menyatakan bahwa mungkin benar Pythagoras pernah mengajar di Samos, tetapi ia memperingatkan bahwa tulisan Antifon tampaknya dibayang-bayangi oleh kepentingan patriotisme Samos.

Sekitar tahun 530 SM, ketika Pythagoras berumur kurang lebih empat puluh tahun, ia meninggalkan Pulau Samos. Sumber-sumber sejarah yang mengagumi Pythagoras mengklaim bahwa ia meninggalkan pulau tersebut karena ia tidak menyukai kekuasaan mutlak Polikrates di Samos yang bertindak sebagai tiran. Riedweg mengamati bahwa penjelasan ini sangat sejalan dengan penekanan dari Nikomakos bahwa Pythagoras mencintai kebebasan sementara musuh-musuhnya menggambarkan Pythagoras sebagai sosok yang memiliki kecenderungan untuk berkuasa dengan sewenang-wenang.  Ia tiba di koloni Yunani di Kroton (kini Crotone di Calabria, Italia), yang saat itu merupakan bagian dari Magna Graecia, daerah pesisir Italia yang ditempati bangsa Yunani.  Semua sumber sejarah sepakat bahwa Pythagoras adalah pribadi yang karismatik dan ia menjadi sosok yang berpengaruh secara politik di tempat tinggal barunya. Ia mengemban tugas sebagai penasihat para petinggi di Kroton.  Biografi-biografi yang ditulis sesudah masanya menceritakan kisah-kisah fantasi mengenai pidato Pythagoras yang begitu meyakinkan sampai-sampai rakyat Kroton bersedia meninggalkan gaya hidup mereka yang mewah dan korup dan beralih ke sistem yang lebih "murni" yang diperkenalkan oleh Pythagoras.

Keluarga dan teman

Diogenes Laërtius menyatakan bahwa Pythagoras "tidak memuaskan diri dengan kenikmatan cinta",  dan ia memperingatkan kepada orang lain untuk hanya berhubungan seks "ketika kamu ingin lebih lemah dari dirimu sendiri". Menurut Porfirios, Pythagoras menikahi Teano, seorang wanita dari Kreta dan putri Pitenaks,  dan mereka dikaruniai beberapa anak. Porfirios menulis bahwa Pythagoras memiliki dua anak lelaki yang bernama Telauges dan Arignote, dan seorang anak perempuan yang bernama Myia, yang "diutamakan di antara para gadis di Kroton, dan, ketika menjadi istri, di antara para wanita yang sudah menikah."  Iamblikos sama sekali tidak menuliskan nama-nama ini,  tetapi ia hanya menyebutkan seorang anak lelaki yang bernama Mnesarkos (nama yang sama dengan ayah Pythagoras). Ia dibesarkan oleh Aristaios, seorang yang didaulat sebagai penerus Pythagoras, dan pada akhirnya Mensarkos menjadi pemimpin sekolah Pythagoras ketika Aristaios sudah terlalu uzur.

Pegulat Milo dari Kroton konon merupakan rekan Pythagoras, dan ia dianggap berjasa menyelamatkan nyawa sang filsuf ketika atap di atasnya hampir runtuh.  Pengaitan ini mungkin tidak tepat karena ada orang lain yang bernama Pythagoras yang merupakan seorang pelatih atletik. Diogenes Laërtius mencatat bahwa istri Milo bernama Myia. Iamblikos menyebut Teano sebagai istri Brotinos dari Kroton. Diogenes Laërtius mengatakan bahwa Teano istri Brotinos merupakan murid Pythagoras, dan istri Pythagoras, Teano, adalah putrinya. Diogenes Laërtius juga mencatat bahwa karya-karya yang mungkin ditulis oleh Teano masih ada pada kehidupan Diogenes, dan ia juga mengutip beberapa pendapat yang konon dikemukakan oleh Teano.  Tulisan-tulisan ini kini dianggap sebagai sebuah pseudopigrafa, atau tulisan yang diklaim sebagai karya penulis tertentu padahal klaim tersebut salah.

Kematian

Ajaran Pythagoras yang menekankan pengabdian dan pertarakan dianggap membantu Kroton mengalahkan dan menghancurkan tetangganya, Sibaris, pada tahun 510 SM.  Setelah itu, beberapa warga penting di Kroton mengusulkan penetapan sebuah konstitusi demokratik, tetapi kelompok pythagoreanis menolaknya. Para pendukung demokrasi yang dipimpin oleh Kilon dan Ninon (Kilon konon marah karena ia dikeluarkan dari perkumpulan Pythagoras) menggerakkan rakyat untuk menentang mereka. Amarah rakyat tampaknya tersulut akibat hasutan bahwa kaum pythagoreanis akan mendirikan sebuah tirani. Para pendukung Kilon dan Ninon menyerang anggota-anggota pythagoreanis yang sedang menggelar pertemuan, bisa jadi di rumah Milo atau di tempat pertemuan lainnya. Catatan sejarah mengenai peristiwa ini seringkali bertentangan dan mungkin tercampur dengan pemberontakan-pemberontakan antipythagoreanis yang meletus pada kemudian hari. Gedung pertemuannya konon dibakar,  dan banyak anggota kelompok pythagoreanis yang tewas.

Beberapa sumber memiliki rincian yang saling bertentangan mengenai kehadiran Pythagoras dalam pertemuan yang berakhir naas tersebut, dan kalau memang ia hadir, sumber-sumber ini juga tidak senada dalam menjelaskan apakah ia berhasil lolos atau tidak. Dalam beberapa sumber kuno, Pythagoras tidak hadir dalam pertemuan ini karena ia sedang berada di Delos untuk merawat Ferekides yang sedang sekarat.  Menurut catatan sejarah lain yang ditulis oleh Dikaiarkos, Pythagoras ada dalam pertemuan tersebut dan berhasil lolos,  dan ia bersama dengan beberapa pengikutnya melarikan diri ke kota Lokris dan memohon suaka, tetapi permintaan mereka ditolak.  Mereka lalu mencapai kota Metapontum dan bernaung di kuil Musai hingga akhirnya mereka menjemput ajalnya di tempat tersebut setelah kelaparan selama empat puluh hari. Kisah lain yang dicatat oleh Porfirios mengklaim bahwa saat musuh-musuh Pythagoras sedang membakar rumah tempat pertemuan kelompoknya, para muridnya yang setia berbaring di atas tanah untuk membentuk "jembatan" yang dapat dilalui oleh Pythagoras untuk melarikan diri dari lalapan api. Pythagoras berhasil lolos, tetapi kematian murid-muridnya yang tercinta sangat meremukkan hatinya hingga ia akhirnya bunuh diri.  Ada legenda lain yang diceritakan oleh Diogenes Laërtius dan Iamblikos, yang menyatakan bahwa Pythagoras nyaris lolos, tetapi ia sampai di ladang kacang dan menolak lari melewati ladang tersebut karena hal ini bertentangan dengan ajarannya, alhasil ia berhenti dan akhirnya dibunuh. Kisah ini tampaknya ditulis oleh Neanthes, tetapi agaknya yang ia ceritakan adalah para anggota pythagoreanis dari masa berikutnya dan bukan Pythagoras sendiri.

Ajaran

Metempsikosis

Walaupun isi ajaran Pythagoras tidak diketahui secara pasti, gagasan-gagasan utamanya secara garis besar masih dapat direkonstruksi. Aristoteles banyak menulis soal ajaran Pythagorean, tetapi tidak menyebut Pythagoras secara langsung. Salah satu doktrin utama Pythagoras adalah metempsikosis, yaitu keyakinan bahwa semua jiwa itu abadi, dan setelah kematian jiwa pindah ke tubuh yang baru.  Ajaran ini disebutkan oleh Xenofanes, Ion dari Kios, dan Herodotos.  Namun, mekanisme atau cara jiwa berpindah ke tubuh lain tidak diketahui secara pasti.

Empedokles menyinggung dalam salah satu puisinya bahwa Pythagoras mungkin pernah mengklaim punya kemampuan untuk mengingat kehidupan-kehidupannya yang sebelumnya. Diogenes Laërtius melaporkan kisah dari Heraklides Pontikos yang menyatakan bahwa Pythagoras memberitahukan kepada orang-orang mengenai empat kehidupan yang pernah ia jalani dan yang ia ingat secara rinci.  Yang pertama adalah kehidupan Aitalides, anak Hermes, dan konon Pythagoras mendapatkan kemampuan tersebut dari Hermes. Kemudian ia terlahir sebagai Euforbos, salah satu tokoh dalam kisah Perang Troya yang diceritakan dalam Iliad. Ia lalu menjadi filsuf Hermotimos, yang mengenali perisai Euforbos di kuil Apollo. Setelah itu ia terlahir sebagai Piros, seorang nelayan dari Delos.  Dikaiarkos juga melaporkan bahwa Pythagoras pernah terlahir sebagai seorang pelacur cantik.

Mistisisme dan numerologi

Keyakinan lain yang telah dikaitkan dengan konsep "keselarasan benda langit", yang menyatakan bahwa planet-planet dan bintang-bintang bergerak sesuai dengan persamaan matematika yang sejalan dengan notasi musik, sehingga menghasilkan simfoni yang tak terdengar.  Menurut Porfirios, Pythagoras juga mengajarkan bahwa ketujuh Musai sebenarnya adalah tujuh planet yang bernyanyi bersama.

Menurut Aristoteles, kaum pythagoreanis menggunakan matematika untuk tujuan mistis dan bukan untuk keperluan sehari-hari.  Mereka meyakini bahwa segala sesuatu terdiri dari angka. Angka satu (monad) melambangkan asal mula segala hal, sedangkan nomor dua (dyad) mewakili materi.  Angka tiga adalah "bilangan ideal" karena memiliki awal, tengah, dan akhir,  dan juga merupakan angka terkecil yang jika dijadikan titik dapat membentuk sebuah segitiga, yang dihormati oleh penganut pythagoreanisme sebagai simbol dewa Apollo. Angka empat adalah lambang empat musim dan empat unsur. Angka tujuh juga dianggap suci karena merupakan jumlah planet (yang telah ditemukan pada saat itu) dan jumlah dawai di alat musik lira, dan juga karena ulang tahun Apollo dirayakan pada hari ketujuh setiap bulannya. Mereka meyakini bahwa bilangan ganjil bersifat maskulin, dan bilangan genap bersifat feminin,  dan angka lima adalah lambang pernikahan karena merupakan hasil penjumlahan dua dan tiga.

Sepuluh dianggap sebagai "bilangan sempurna" dan kaum pythagoreanis menghormatinya dengan cara tidak berkumpul dengan jumlah hadirin yang melebihi sepuluh. Pythagoras dianggap sebagai perancang tetraktis, yaitu segitiga yang terbuat dari sepuluh titik (1 titik di atas, 2 di bawahnya, 3 lagi di bawahnya, dan di paling dasar ada 4). Kaum pythagoreanis menganggap tetraktis sebagai simbol mistik yang terpenting. Iamblikos dalam Kehidupan Pythagoras menyatakan bahwa tetraktis "sangat mengagumkan, dan sangat didewakan oleh mereka yang memahami[nya]," sampai-sampai murid-murid Pythagoras bersumpah dengan menyebut tetraktis.

Para ahli modern memperdebatkan apakah ajaran-ajaran mengenai numerologi ini dikembangkan oleh Pythagoras sendiri atau oleh filsuf-filsuf pythagoreanisme dari masa berikutnya seperti Filolaos dari Kroton.  Dalam kajiannya yang terkenal Lore and Science in Ancient Pythagoreanism, Walter Burkert berpendapat bahwa Pythagoras adalah seorang guru politik dan agama yang karismatik, tetapi beberapa pemikiran filsafat yang dikaitkan dengan namanya mungkin merupakan terobosan karya Filolaos. Menurut Burkert, Pythagoras sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan angka-angka, apalagi memberikan sumbangsih besar dalam bidang matematika.

Pythagoreanisme

Gaya hidup berkelompok

Plato dan Isokrates mengatakan bahwa Pythagoras paling dikenal sebagai perintis gaya hidup yang baru.  Kelompok yang didirikan oleh Pythagoras di Kroton disebut "sekolah", tetapi sebenarnya lebih menyerupai biara.  Anggota kelompok ini berbagi harta benda mereka dan berbakti satu sama lain tanpa memedulikan orang luar.  Sumber-sumber kuno mencatat bahwa kaum pythagoreanis makan bersama seperti orang-orang Sparta. Salah satu pepatah pythagoreanisme adalah "koinà tà phílōn" ("Semua benda bersama-sama di antara teman-teman"). Iamblikos dan Porfirios menuliskan kisah yang rinci mengenai organisasi sekolah ini, walaupun kedua penulis ini tidak tertarik dengan sejarah, tetapi lebih ingin menyajikan Pythagoras sebagai sosok dewata yang dikirim oleh para dewa untuk kemaslahatan umat manusia.  Iamblikos khususnya ingin menyajikan "gaya hidup Pythagorean" sebagai alternatif dari komunitas-komunitas biarawan Kristen pada masanya.

Terdapat dua kelompok dalam aliran pythagoreanisme awal: mathematikoi ("pelajar") dan akousmatikoi ("pendengar").  Akousmatikoi disebut oleh para ahli sebagai "penganut lama" mistisisme, numerologi, dan ajaran-ajaran keagamaan, sedangkan mathematikoi merupakan kelompok yang lebih intelektual dengan pendekatan yang juga lebih rasional dan ilmiah.  Andrew Gregory memperingatkan bahwa bisa jadi perbedaan antara kedua kelompok ini tidaklah besar, dan banyak anggota pythagoreanis yang mungkin berkeyakinan bahwa kedua pendekatan ini sejalan.  Kaum pythagoreanis percaya bahwa musik memurnikan jiwa seperti halnya pengobatan memurnikan tubuh. Salah satu anekdot mengenai Pythagoras menyatakan bahwa ketika ia berhadapan dengan beberapa pemuda mabuk yang mencoba masuk ke rumah seorang perempuan baik-baik, ia menyanyikan lantunan dengan khidmat dan "keinginan yang membara" pada benak pemuda-pemuda tersebut pun sirna. Kaum pythagoreanis juga mementingkan olah raga;  tarian, jalan kaki pada pagi hari dengan pemandangan yang indah, dan atletik menjadi unsur utama dalam gaya hidup Pythagorean. Renungan pada awal dan akhir hari juga disarankan.

Aturan dan larangan

Ajaran Pythagoras dikenal dengan sebutan "simbol-simbol" (symbola), dan para anggota bersumpah bahwa mereka tidak akan membongkar simbol-simbol ini kepada mereka yang bukan anggota.  Mereka yang tidak mematuhi aturan kelompok akan dikeluarkan,  dan anggota lain akan mendirikan batu nisan untuk mereka seolah mereka sudah mati. Beberapa "pepatah lisan" (akoúsmata) yang dikaitkan dengan Pythagoras telah tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan berisi tata cara pengorbanan, penghormatan kepada para dewa, tata cara untuk "pindah dari sini" ke dunia sana,[b] dan tata cara penguburan. Banyak dari pepatah-pepatah ini yang menegaskan pentingnya kesucian dan penghindaran diri dari kenajisan. Sebagai contoh, sebuah pepatah (yang menurut Leonid Zhmud merupakan pepatah yang benar-benar dikatakan oleh Pythagoras sendiri) melarang kaum pythagoreanis mengenakan pakaian dari bulu domba. Pepatah lisan lain melarang mereka memanggang roti, menyodok api dengan pedang, atau memungut remah-remah, dan pepatah pythagoreanis juga menyatakan bahwa seseorang yang ingin memakai sandal sebaiknya memasang yang kanan terlebih dahulu.

Orang-orang yang baru bergabung konon tidak diizinkan bertemu Pythagoras hingga mereka menyelesaikan periode inisiasi selama lima tahun,  dan pada masa tersebut mereka harus tetap diam.  Menurut sumber-sumber sejarah, Pythagoras bisa dibilang progresif dalam memperlakukan wanita,  dan wanita-wanita di sekolah Pythagoras tampaknya berperan penting dalam pengelolaannya.  Iamblikos menuliskan daftar 235 pythagoreanis yang terkenal,  dan 17 dari mereka adalah wanita. Pada masa berikutnya, ada banyak juga filsuf wanita yang turut bersumbangsih dalam perkembangan neopythagoreanisme.

Pythagoreanisme juga mengatur soal makanan. Diduga Pythagoras melarang pengikutnya makan kacang dan daging hewan yang bukan hewan kurban seperti ikan dan unggas. Namun, kedua pernyataan ini telah dipertentangkan.  Aturan makan dalam pythagoreanisme mungkin didorong oleh keyakinan akan doktrin metempsikosis. Beberapa penulis kuno menyatakan bahwa Pythagoras memberlakukan pola makan vegetarian yang ketat.  Eudoksos dari Knidios (murid Arkitas) menulis bahwa Pythagoras tidak hanya menolak makanan dari hewan, tetapi juga menjaga jaraknya dari para juru masak dan pemburu.  Namun, ada sumber lain yang membantah hal ini. Menurut Aristoksenos, Pythagoras mengizinkan segala jenis makanan dari hewan kecuali daging lembu yang dipakai untuk membajak dan domba. Menurut Heraklides Pontikos, Pythagoras memakan daging kurban dan juga menetapkan jenis makanan untuk atlet yang memerlukan daging.

Legenda

Pada masa hidupnya, sosok Pythagoras sudah menjadi subjek legenda-legenda yang mengagung-agungkan atau bersifat hagiografik. Aristoteles menggambarkan Pythagoras sebagai seorang pembuat mukjizat dan semacam sosok supernatural. Dalam sebuah penggalan tulisan, Aristoteles menyatakan bahwa Pythagoras memiliki paha emas, yang ia tunjukkan ke muka umum saat Olimpiade dan juga diperlihatkan kepada Abaris Hiperboreios sebagai bukti identitasnya sebagai "Apollo Hiperboreios". Konon Abaris memberikan sebuah panah emas kepada Pythagoras, yang lalu ia gunakan untuk terbang jarak jauh dan bersuci.  Pythagoras konon pernah terlihat di Metapontum dan Kroton pada saat yang sama. Ketika Pythagoras menyeberangi Sungai Kosas (kini Sungai Basento), "beberapa saksi mata" melaporkan bahwa mereka mendengar sungai itu menyapanya dengan menyebut namanya. Pada zaman Romawi, muncul juga legenda yang mengklaim bahwa Pythagoras adalah anak Apollo.

Pythagoras konon selalu berpakaian putih. Ia juga konon mengenakan bumban emas di atas kepalanya dan memakai celana seperti orang-orang Trakia. Diogenes Laërtius menulis bahwa Pythagoras sangat mahir dalam mengendalikan dirinya sendiri; ia selalu ceria, tetapi tidak pernah tertawa dan juga menjauhi kelakar dan cerita-cerita lucu. Pythagoras konon juga ahli dalam berurusan dengan hewan. Penggalan tulisan Aristoteles mencatat bahwa ketika seekor ular yang mematikan menggigit Pythagoras, ia menggigit balik dan membunuhnya. Porfirios dan Iamblikos sama-sama melaporkan bahwa Pythagoras pernah meyakinkan seekor banteng untuk tidak makan kacang,  dan ia juga pernah meyakinkan seekor beruang jahat untuk bersumpah ia tidak akan melukai makhluk hidup lagi. 

Riedweg menduga bahwa Pythagoras sendiri mungkin mendorong penyebaran legenda-legenda ini,  tetapi menurut Gregory pernyataan ini sama sekali tidak terbukti. Di sisi lain, legenda-legenda anti-Pythagoras juga menyebar.  Diogenes Laërtes menceritakan kisah dari Hermippos dari Samos yang menyatakan bahwa Pythagoras pernah masuk ke ruangan bawah tanah dan memberi tahu kepada semua orang bahwa ia akan masuk ke dunia bawah.  Ia berada di ruangan ini selama berbulan-bulan, sementara ibunya secara diam-diam mencatat segala hal yang terjadi saat Pythagoras sedang tiada.  Sekembalinya Pythagoras dari ruangan ini, ia menceritakan kembali semua hal yang telah terjadi di dunia atas saat ia sedang tiada, dan ia berhasil meyakinkan semua orang bahwa ia benar-benar berada di dunia bawah sampai orang-orang memercayakan istri-istri mereka kepada Pythagoras.

Penemuan yang dikaitkan dengan Pythagoras
Matematika

Walaupun Pythagoras saat ini paling dikenal akan "temuan matematika"nya,  pakar sejarah klasik mempertentangkan klaim bahwa ia telah memberikan sumbangsih besar bagi bidang matematika.  Paling tidak dari abad pertama SM, nama Pythagoras sudah digadang-gadang sebagai penemu "teorema Pythagoras",  yaitu sebuah teorema dalam bidang geometri yang menyatakan bahwa jumlah luas bujur sangkar pada kaki sebuah segitiga siku-siku sama dengan luas bujur sangkar di hipotenusa; dalam kata lain, {\displaystyle a^{2}+b^{2}=c^{2}}{\displaystyle a^{2}+b^{2}=c^{2}}. Menurut legenda umum, setelah ia menemukan teorema ini, Pythagoras mengorbankan seekor lembu atau bahkan seluruh hekatomb (100 ekor sapi) kepada para dewa.  Cendekiawan Romawi Cicero menampik kebenaran kisah ini  karena pada masa tersebut diyakini bahwa Pythagoras melarang pengorbanan darah. Porfirios mencoba menjelaskan kisah ini dengan menegaskan bahwa lembu ini sebenarnya terbuat dari adonan.

Isi dari teorema Pythagoras sendiri sebenarnya sudah dikenal dan diterapkan oleh orang-orang Babilonia dan India berabad-abad sebelum Pythagoras, tetapi ada kemungkinan bahwa Pythagoras adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep ini kepada orang-orang Yunani. Beberapa sejarawan matematika bahkan menduga bahwa Pythagoras dan murid-muridnya adalah orang-orang pertama yang membuktikan teorema ini. Burkert menentang klaim ini dan menganggapnya tidak mungkin benar,  dan ia menegaskan bahwa sumber-sumber kuno tidak pernah menyebut Pythagoras sebagai orang yang membuktikan teorema apapun. Sementara itu, beberapa sumber kuno menyatakan bahwa ia adalah orang pertama yang mengidentifikasi lima bangun ruang dan menemukan teori kesebandingan.

Musik

Menurut legenda, Pythagoras menemukan bahwa notasi musik dapat diubah menjadi persamaan matematika setelah ia melewati tempat kerja seorang pandai besi dan mendengar suara tempaan palu mereka. Ia merasa suara palu ini indah dan harmonis (kecuali untuk satu kombinasi),  dan ia lalu bergegas ke tempat pandai besi tersebut dan mencoba palunya. Ia akhirnya sadar bahwa melodi dari tempaan palu tersebut sebanding dengan ukuran palunya, sehingga ia menyimpulkan bahwa musik itu bersifat matematis.  Namun, legenda ini jelas-jelas salah, karena perbandingan yang tepat adalah panjang dawai dan bukan palu.

Astronomi
Pada zaman kuno, Pythagoras dan orang yang sezaman dengannya, Parmenides dari Elea, dianggap sebagai orang pertama yang mengajarkan bahwa Bumi itu bulat. Mereka juga dikatakan sebagai orang pertama yang menemukan bahwa dunia dapat dibagi menjadi lima zona iklim,  dan bahwa bintang timur dan barat adalah benda langit yang sama (kini dikenal sebagai Venus). Dari dua filsuf ini, Parmenides lebih mungkin menjadi orang pertama yang menemukan hal-hal ini,  dan penghargaan terhadap Pythagoras mungkin muncul dari sebuah puisi pseudopigrafa. Empedokles (yang hidup di Magna Graecia tidak lama setelah Pythagoras dan Parmenides) sendiri sudah tahu bahwa Bumi itu bulat. Selain itu, pada akhir abad kelima SM, fakta ini sudah diterima di kalangan cendekiawan Yunani Kuno.

Pengaruh pada zaman kuno

Pengaruh terhadap filsafat Yunani

Terdapat komunitas-komunitas pythagoreanis yang besar di Magna Graecia, Flious, dan Tiva pada awal abad keempat SM. Pada saat yang sama, filsuf Arkitas yang beraliran pythagoreanisme adalah sosok yang sangat berpengaruh secara politik di kota Tarentum, Magna Graecia. Menurut tradisi lisan, Arkitas terpilih sebagai strategos ("jenderal") sebanyak tujuh kali, padahal orang lain dilarang menjabat selama lebih dari satu tahun.  Arkitas juga dikenal akan kiprahnya sebagai matematikawan dan musisi. Ia adalah sahabat karib Plato dan pernyataannya dikutip dalam dialog Republik karya Plato.  Aristoteles menyatakan bahwa filsafat Plato sangat bergantung kepada ajaran pythagoreanisme. Menurut Charles H. Kahn, dialog-dialog pertengahan Plato seperti (Menon, Faidon, dan Republik) sangat dibumbui oleh unsur pythagoreanisme, dan dialog-dialognya yang terakhir (khususnya Filebos dan Timaios)  sangat bersifat pythagoreanis.

Menurut R. M. Hare, Republik karya Plato mungkin didasarkan pada komunitas kecil yang sangat ketat dan terdiri dari orang-orang dengan pemikiran serupa yang didirikan oleh Pythagoras di Kroton.  Selain itu, Plato mungkin meminjam gagasan Pythagoras bahwa matematika dan pemikiran abstrak merupakan landasan yang kuat untuk filsafat, ilmu pengetahuan, dan moralitas. Plato dan Pythagoras sama-sama memiliki "pendekatan mistis terhadap jiwa dan kedudukannya di dunia jasmani", dan terdapat kemungkinan bahwa keduanya dipengaruhi oleh orfisme. Pakar sejarah filsafat Frederick Copleston menyatakan bahwa teori Plato bahwa jiwa terdiri dari tiga unsur mungkin dipinjam dari kaum Pythagorean. Bertrand Russell dalam karyanya A History of Western Philosophy menyatakan bahwa pengaruh Pythagoras terhadap Plato dan yang lainnya amat besar sehingga ia patut dianggap sebagai filsuf paling berpengaruh sepanjang masa. Ia menyimpulkan bahwa, "Aku tidak tahu orang lain yang sangat berpengaruh seperti dia dalam hal mazhab pemikiran."

Kebangkitan ajaran pythagoreanisme berlangsung pada abad pertama SM,  ketika para filsuf platonisme pertengahan seperti Eudoros dan Filon menyambut kebangkitan pythagoreanisme "baru" di kota Aleksandria. Sementara itu, neopythagoreanisme menjadi aliran yang penting. Filsuf Apollonios dari Tiana dari abad pertama Masehi mencoba meniru Pythagoras dan hidup dengan mengamalkan ajaran-ajaran pythagoreanisme. Filsuf neopythagoreanisme dari abad pertama Moderatos dari Gades juga mengembangkan filsafat bilangan pythagoreanisme dan mungkin menganggap jiwa sebagai "semacam keselarasan matematis."  Seorang matematikawan dan musikolog beraliran neopythagoreanisme yang bernama Nikomakos juga mengembangkan gagasan numerologi dan musik pythagoreanisme. Numenios dari Apamea sendiri menafsirkan ajaran-ajaran Plato berdasarkan doktrin-doktrin pythagoreanisme.

Pengaruh terhadap seni dan arsitektur

Pahatan Yunani mencoba melambangkan kenyataan yang abadi di balik penampilan yang dangkal. Pahatan-pahatan awal dari zaman Arkais merupakan lambang kehidupan dalam bentuk yang sederhana, dan mungkin dipengaruhi oleh filsafat alam pertama Yunani. Orang Yunani Kuno meyakini bahwa alam menunjukkan bentuk idealnya dan diwakilkan oleh suatu "tipe" (εἶδος) yang dihitung secara matematis. Ketika dimensinya diubah, para arsitek mencoba mengungkapkan keabadian melalui matematika. Maurice Bowra meyakini bahwa gagasan ini memengaruhi pemikiran Pythagoras dan murid-muridnya yang berpandangan bahwa "semua hal adalah angka".

Pada abad keenam SM, filsafat bilangan ala pythagoreanis telah merombak seni pahat Yunani. Para pemahat dan arsitek Yunani mencoba mencari hubungan matematis di balik kesempurnaan estetika. Pemahat Polikleitos (yang mungkin mengambil gagasan Pythagoras) menulis dalam karyanya, Kanon, bahwa keindahan itu berupa proporsi, bukan pada unsurnya (bahannya), tetapi pada kesinambungan satu bagian dengan bagian lainnya dan dengan keseluruhannya. Dalam ordo arsitektur Yunani, setiap unsur juga dihitung dan dibangun berdasarkan hubungan matematisnya.

Bangunan tertua yang diketahui dirancang sesuai dengan ajaran pythagoreanis adalah Basilika Porta Maggiore, sebuah basilika bawah tanah yang dibangun pada masa Kaisar Romawi Nero yang dimaksudkan sebagai tempat ibadah rahasia kaum Pythagorean. Basilika ini dibangun di bawah tanah karena kaum pythagoreanis sangat mengutamakan kerahasiaan, dan juga karena adanya legenda bahwa Pythagoras pernah mengasingkan diri di sebuah gua di Pulau Samos.  Apsis basilika ini terletak di timur dan atriumnya di barat untuk menghormati matahari terbit.  Terdapat pintu masuk sempit yang mengarah ke sebuah kolam kecil untuk menyucikan diri. Bangunan ini juga dirancang sesuai dengan numerologi Pythagorean, dan setiap meja di basilika ini dilengkapi dengan tujuh kursi. Terdapat tiga lorong yang mengarah ke satu altar, dan ini merupakan simbol tiga bagian jiwa yang menyatu dengan Apollo.  Apsisnya menggambarkan adegan penyair wanita Sapfo yang melompat dari tebing Lefkada sembari memegang alat musik lira, sementara Apollo berdiri di bawahnya dan mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda perlindungan,  dan ini merupakan simbolisasi ajaran pythagoreanisme mengenai keabadian jiwa.  Bagian dalam basilika ini juga hampir seluruhnya berwarna putih karena warna ini dianggap suci oleh kaum Pythagorean.

Gedung Pantheon di Roma juga dibangun sesuai dengan numerologi pythagoreanisme.  Bentuk bundar kuil ini, poros tengahnya, kubahnya yang berbentuk setengah lingkaran, dan kesesuaiannya dengan empat arah mata angin merupakan simbol keteraturan alam semesta dalam aliran pythagoreanisme. Bukaan yang berbentuk bulat di puncak kubahnya merupakan simbol monad dan dewa matahari Apollo. Dua puluh delapan rusuk yang membentang dari bukaan di atas merupakan simbol bulan, karena dua puluh delapan adalah jumlah bulan dalam kalender bulan Pythagorean. Lima coffer (panel yang menjorok ke dalam) di bawah rusuknya merupakan simbol "pernikahan" atau "keselarasan" matahari dan bulan.

Pengaruh terhadap gereja perdana

Banyak tokoh gereja perdana yang mengagumi Pythagoras.  Uskup Kaesarea Eusebius (hidup sekitar tahun 260 – 340 M) dalam karyanya, Contra Hieroclem, memuji Pythagoras berkat aturannya mengenai ketenangan, kesederhanaannya, moralitasnya yang "luar biasa", dan ajarannya yang bijaksana.  Dalam karyanya yang lain, Eusebius membandingkan Pythagoras dengan Musa. Sementara itu, Bapa Gereja Hieronimus (hidup sekitar tahun 347 – 420 M) dalam salah satu suratnya memuji kebijaksanaan Pythagoras. Dalam suratnya yang lain, ia menganggap Pythagoras sebagai pencetus gagasan mengenai keabadian jiwa, dan ia mengusulkan bahwa orang Kristen mungkin mewarisi gagasan ini darinya. Agustinus dari Hippo (354 – 430 M) menolak ajaran metempsikosis tanpa menyebut nama Pythagoras, tetapi Agustinus masih menyatakan kekagumannya kepada sosok filsuf kuno tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul De Trinitate, Agustinus menyanjung Pythagoras yang menyebut dirinya sebagai philosophos atau "pecinta kebijaksanaan" alih-alih "orang bijak". Di bagian yang lain, Agustinus membela reputasi Pythagoras dan menyatakan bahwa Pythagoras hampir pasti tidak pernah mengajarkan doktrin metempsikosis.

Pengaruh setelah zaman kuno
Pengaruh pada Abad Pertengahan

Pada Abad Pertengahan, Pythagoras dihormati sebagai perintis bidang matematika dan musik, yang merupakan dua dari tujuh pengetahuan budaya. Ia digambarkan dalam manuskrip-manuskrip teriluminasi, dan ia juga menjadi subjek pahatan relief di salah satu pintu masuk Katedral Chartres. Timaeus sendiri adalah satu-satunya dialog Plato yang masih ada di Eropa Barat (dalam bentuk terjemahan bahasa Latin). Setelah membaca dialog ini, Guillaume de Conches (sekitar tahun 1080-1160) mengeluarkan pernyataan bahwa Plato adalah seorang Pythagorean. Pada dasawarsa 1430-an, frater Ambrogio Traversari dari Ordo Camaldolese menerjemahkan Kehidupan dan Pendapat Filsuf-filsuf Tersohor karya Diogenes Laërtius dari bahasa Yunani ke Latin, dan pada dasawarsa 1460-an, filsuf Marsilio Ficino menerjemahkan tulisan Porfirios dan Iamblikos mengenai Pythagoras ke dalam bahasa Latin, yang memungkinkan para cendekiawan di Barat untuk mengkaji kedua karya ini. Pada tahun 1494, pakar neopythagoreanisme Yunani Konstantinos Laskaris menerbitkan Ayat-ayat Emas Pythagoras, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bersama dengan edisi cetak karyanya yang lain Grammatica Graeca, sehingga semakin banyak pembaca di Barat yang dapat mempelajarinya. Pada tahun 1499, ia menerbitkan biografi Pythagoras pertama yang ditulis pada zaman Renaisans dalam karyanya yang berjudul Vitae illustrium philosophorum siculorum et calabrorum dan diterbitkan di Messina.

Pengaruh terhadap ilmu pengetahuan modern
Dalam kata pengantar yang ia tulis untuk bukunya De revolutionibus orbium coelestium (1543), Nicolaus Copernicus menyebutkan berbagai tokoh pythagoreanis sebagai tokoh-tokoh yang sangat memengaruhinya dalam mengembangkan model heliosentris, dan ia dengan sengaja tidak menyebut Aristarkos dari Samos, seorang astronom di luar kelompok pythagoreanis yang telah mengembangkan model heliosentris pada abad keempat SM, karena Copernicus ingin menunjukkan bahwa modelnya itu pada dasarnya Pythagorean.  Johannes Kepler juga menganggap dirinya sebagai seorang pythagoreanis. Ia percaya akan doktrin musica universalis dan upayanya untuk mencari persamaan matematis di balik doktrin ini membuatnya menemukan hukum gerakan planet. Judul buku Kepler mengenai hukum ini adalah Harmonices Mundi, yang mengacu kepada ajaran pythagoreanis yang telah mengilhami dirinya.

Isaac Newton sangat percaya dengan ajaran pythagoreanis mengenai harmoni matematis dan keteraturan alam semesta. Walaupun Newton dikenal jarang mencantumkan nama penemu suatu karya, ia memberikan pengakuan kepada Pythagoras sebagai penemu hukum gravitasi universal.  Albert Einstein percaya bahwa seorang ilmuwan dapat menjadi "seorang Platonis atau Pythagoreanis selama ia menganggap sudut pandang kesederhanaan logika sebagai suatu hal yang harus ada dan efektif untuk penelitiannya."  Filsuf Inggris Alfred North Whitehead berpendapat bahwa "Dalam beberapa hal, Plato dan Pythagoras lebih dekat dengan ilmu fisik modern daripada Aristoteles. Keduanya adalah matematikawan, sementara Aristoteles adalah anak seorang dokter".  Dengan ini Whitehead menyatakan bahwa Einstein dan ilmuwan-ilmuwan modern lain seperti dirinya "mengikuti tradisi Pythagoreanis murni."

Pengaruh terhadap vegetarianisme

Dalam Buku XV Metamorphoses karya Ovidius, terdapat kisah fiksi mengenai Pythagoras yang menganjurkan pengikutnya untuk menjadi vegetarian. Pythagoras kemudian menjadi dikenal oleh para penutur bahasa Inggris pada zaman modern awal melalui terjemahan karya Ovidius ke dalam bahasa Inggris yang dibuat oleh Arthur Golding pada tahun 1567. Progress of the Soul karya John Donne membahas implikasi doktrin yang disampaikan dalam pidato ini, dan Michel de Montaigne mengutip pidato ini tidak kurang dari tiga kali dalam risalahnya Of Cruelty untuk menyampaikan penolakannya secara moral terhadap penganiayaan hewan.  William Shakespeare menyebutkan pidato ini dalam dramanya The Merchant of Venice.  John Dryden memasukkan adaptasi kisah mengenai pidato Pythagoras ini dalam karyanya pada tahun 1700, Fables, Ancient and Modern, sementara fabel Pythagoras and the Countryman karya John Gay dari tahun 1726 menyampaikan kembali tema-tema utama pidato Pythagoras dan mengaitkan karnivorisme dengan tirani. Lord Chesterfield menulis bahwa ia terdorong untuk tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan setelah membaca pidato Pythagoras dalam Metamorphoses karya Ovidius. Sebelum istilah vegetarianisme diciptakan pada dasawarsa 1840-an, vegetarian dalam bahasa Inggris disebut Pythagoreans.  Percy Bysshe Shelley menulis sebuah ode yang berjudul To the Pythagorean Diet, sementara Leo Tolstoy juga mengikuti pola makan Pythagorean.

Pengaruh terhadap esoterisme Barat
Esoterisme Eropa pada zaman modern awal sangat dipengaruhi oleh ajaran Pythagoras.  Cendekiawan humanis Jerman Johannes Reuchlin (1455–1522) menggabungkan pythagoreanisme dengan teologi Kristen dan kabbalah Yahudi,  dan ia berpendapat bahwa kabbalah dan pythagoreanisme sama-sama terilhami dari tradisi Musa, sehingga menurutnya Pythagoras adalah seorang penganut kabbala. Dalam dialognya De verbo mirifico (1494), Reuchlin membandingkan tetraktis dengan nama Tuhan yang tak terucap, YHWH, dan ia memberikan makna simbolis kepada masing-masing dari keempat huruf tersebut sesuai dengan ajaran mistis Pythagorean.

Risalah tiga jilid karya Heinrich Cornelius Agrippa yang terkenal, De Occulta Philosophia, menyebut Pythagoras sebagai seorang "Majusi yang taat" dan ia menyatakan bahwa numerologi mistis Pythagoras bergerak di ranah surgawi.  Kaum Freemason dengan sengaja mendasarkan perkumpulan mereka pada komunitas Pythagoras di Kroton.  Gerakan rosikrusianisme menggunakan simbolisme Pythagoras, dan begitu pula dengan Robert Fludd (1574–1637) yang meyakini bahwa tulisan-tulisan musiknya terilhami dari Pythagoras.  John Dee sangat dipengaruhi oleh ideologi Pythagoras, khususnya ajaran bahwa segala sesuatunya terbuat dari angka. Adam Weishaupt, pendiri Illuminati, sangat mengagumi Pythagoras,  dan dalam bukunya Pythagoras (1787), ia menganjurkan agar masyarakat diubah supaya lebih menyerupai perkumpulan Pythagoras di Kroton. Wolfgang Amadeus Mozart memasukkan simbolisme pythagoreanis dan Freemason ke dalam operanya, Die Zauberflöte.  Sylvain Maréchal dalam karyanya Les Voyages de Pythagore (1799) menyatakan bahwa semua pejuang revolusi dari segala masa adalah "pewaris Pythagoras".

Pengaruh terhadap sastra

Dante Alighieri dibuat takjub oleh numerologi Pythagorean, dan ia mendasarkan deskripsi neraka, purgatorium, dan surga pada angka-angka Pythagorean. Dante menulis bahwa Pythagoras menganggap kesatuan sebagai sesuatu yang baik dan kemajemukan sebagai yang buruk, dan dalam Paradiso XV, 56–57, ia menyatakan: "Lima dan enam, jika dipahami, bersinar dari kesatuan." Angka sebelas dan kelipatannya juga dapat ditemui dalam Divina Commedia, dan setiap buku memiliki tiga puluh tiga canto kecuali Inferno yang memiliki tiga puluh empat canto (canto pertama merupakan pengantar umum). Dalam deskripsi Dante, terdapat lingkaran neraka kedelapan yang disebut malebolge, dan lingkaran ini sendiri terbagi menjadi sepuluh bolgia ("parit"). Dante menulis bahwa bolgia kesembilan kelilingnya 22 mil dan bolgia kesepuluh kelilingnya 11 mil. Angka 22 disebutkan karena merupakan bagian dari pecahan 22  7  yang merupakan perkiraan pi menurut Pythagoras. Neraka, purgatorium, dan surga disebut berbentuk bulat, dan Dante menggunakan ketidakmungkinan dalam menyelesaikan teka teki squaring the circle untuk keagungan Tuhan yang tak terlukiskan. Angka tiga juga sering muncul: Divina Commedia terdiri dari tiga bagian, sementara Beatrice dikaitkan dengan angka sembilan, yang sama dengan tiga kali tiga.

Penganut transendentalisme membaca Kehidupan Pythagoras untuk dijadikan teladan kehidupan. Pemikiran transendentalis Henry David Thoreau sangat dipengaruhi oleh Kehidupan Pythagoras karya Iamblikos yang sudah diterjemahkan oleh Thomas Taylor serta Pepatah-pepatah Pythagoras karya Stobaeus. Pandangan Thoreau tentang alam mungkin juga dipengaruhi oleh gagasan pythagoreanis mengenai bayangan (image) yang sesuai dengan pola dasarnya (archetype). Ajaran musica universalis juga menjadi tema yang muncul berulang kali dalam mahakarya Thoreau yang berjudul Walden.

Mesir Kuno

Mesir Kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika. Peradaban ini terpusat di sepanjang hilir sungai Nil. Peradaban ini dimulai dengan unifikasi Mesir Hulu dan Hilir sekitar 3150 SM,[1] dan selanjutnya berkembang selama kurang lebih tiga milenium. Sejarahnya mengalir melalui periode kerajaan-kerajaan yang stabil, masing-masing diantarai oleh periode ketidakstabilan yang dikenal sebagai Periode Menengah. Mesir Kuno mencapai puncak kejayaannya pada masa Kerajaan Baru. Selanjutnya, peradaban ini mulai mengalami kemunduran. Mesir ditaklukan oleh kekuatan-kekuatan asing pada periode akhir. Kekuasaan firaun secara resmi dianggap berakhir pada sekitar 31 SM, ketika Kekaisaran Romawi menaklukkan dan menjadikan wilayah Mesir Ptolemeus sebagai bagian dari provinsi Romawi. Meskipun ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan politik dan agama secara bertahap di lembah sungai Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan peradaban merdeka Mesir.

Peradaban Mesir Kuno didasari atas pengendalian keseimbangan yang baik antara sumber daya alam dan manusia, ditandai terutama oleh:

irigasi teratur terhadap Lembah Nil; 
pendayagunaan mineral dari lembah dan wilayah gurun di sekitarnya;
perkembangan sistem tulisan dan sastra;
organisasi proyek kolektif;
perdagangan dengan wilayah Afrika Timur dan Tengah serta Mediterania Timur; serta
kegiatan militer yang menunjukkan kekuasaan terhadap kebudayaan negara/suku bangsa tetangga pada beberapa periode berbeda.
Pengelolaan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh penguasa sosial, politik, dan ekonomi, yang berada di bawah pengawasan sosok Firaun.

Pencapaian-pencapaian peradaban Mesir Kuno antara lain: teknik pembangunan monumen seperti piramida, kuil, dan obelisk; pengetahuan matematika; teknik pengobatan; sistem irigasi dan agrikultur; kapal pertama yang pernah diketahui;  teknologi tembikar glasir bening dan kaca; seni dan arsitektur yang baru; sastra Mesir Kuno; dan traktat perdamaian pertama yang pernah diketahui.  Mesir telah meninggalkan warisan yang abadi. Seni dan arsitekturnya banyak ditiru, dan barang-barang antik buatan peradaban ini dibawa hingga ke ujung dunia. Reruntuhan-reruntuhan monumentalnya menjadi inspirasi bagi pengelana dan penulis selama berabad-abad.

Pada akhir masa Paleolitik, iklim Afrika Utara menjadi semakin panas dan kering. Akibatnya, penduduk di wilayah tersebut terpaksa berpusat di sepanjang sungai Nil. Sebelumnya, semenjak manusia pemburu-pengumpul mulai tinggal di wilayah tersebut pada akhir Pleistosen Tengah (sekitar 120 ribu tahun lalu), sungai Nil telah menjadi urat nadi kehidupan Mesir. Dataran banjir Nil yang subur memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan pertanian dan masyarakat yang terpusat dan mutakhir, yang menjadi landasan bagi sejarah peradaban manusia.

Periode Pradinasti

Pada masa pra dan awal dinasti, iklim Mesir lebih subur daripada saat ini. Sebagian wilayah Mesir ditutupi oleh sabana berhutan dan dilalui oleh ungulata yang merumput. Flora dan fauna lebih produktif dan sungai Nil menopang kehidupan unggas-unggas air. Perburuan merupakan salah satu mata pencaharian utama orang Mesir. Selain itu, pada periode ini, banyak hewan yang didomestikasi.

Sekitar tahun 5500 SM, suku-suku kecil yang menetap di lembah sungai Nil telah berkembang menjadi peradaban yang menguasai pertanian dan peternakan. Peradaban mereka juga dapat dikenal melalui tembikar dan barang-barang pribadi, seperti sisir, gelang tangan, dan manik. Peradaban yang terbesar di antara peradaban-peradaban awal adalah Badari di Mesir Hulu, yang dikenal akan keramik, peralatan batu, dan penggunaan tembaga.

Di Mesir Utara, Badari diikuti oleh peradaban Amratia dan Gerzia, yang menunjukkan beberapa pengembangan teknologi. Bukti awal menunjukkan adanya hubungan antara Gerzia dengan Kanaan dan pantai Byblos.

Sementara itu, di Mesir Selatan, peradaban Naqada, mirip dengan Badari, mulai memperluas kekuasaannya di sepanjang sungai Nil sekitar tahun 4000 SM. Sejak masa Naqada I, orang Mesir pra dinasti mengimpor obsidian dari Ethiopia, untuk membentuk pedang dan benda lain yang terbuat dari flake. Setelah sekitar 1000 tahun, peradaban Naqada berkembang dari masyarakat pertanian yang kecil menjadi peradaban yang kuat. Pemimpin mereka berkuasa penuh atas rakyat dan sumber daya alam lembah sungai Nil.  Setelah mendirikan pusat kekuatan di Hierakonpolis, dan lalu di Abydos, penguasa-penguasa Naqada III memperluas kekuasaan mereka ke utara.

Budaya Naqada membuat berbagai macam barang-barang material - yang menunjukkan peningkatan kekuasaan dan kekayaan dari para penguasanya - seperti tembikar yang dicat, vas batu dekoratif yang berkualitas tinggi, pelat kosmetik, dan perhiasan yang terbuat dari emas, lapis, dan gading. Mereka juga mengembangkan glasir keramik yang dikenal dengan nama tembikar glasir bening. Pada fase akhir masa pra dinasti, peradaban Naqada mulai menggunakan simbol-simbol tulisan yang akan berkembang menjadi sistem hieroglif untuk menulis bahasa Mesir kuno.

Periode Dinasti Awal

Pendeta Mesir pada abad ke-3 SM, Manetho mengelompokan garis keturunan firaun yang panjang dari Menes ke masanya menjadi 30 dinasti. Sistem ini masih digunakan hingga hari ini.  Ia memilih untuk memulai sejarah resminya melalui raja yang bernama "Meni" (atau Menes dalam bahasa Yunani), yang dipercaya telah menyatukan kerajaan Mesir Hulu dan Hilir (sekitar 3200 SM). Transisi menuju negara kesatuan sejatinya berlangsung lebih bertahap, berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulis-penulis Mesir Kuno, dan tidak ada catatan kontemporer mengenai Menes. Beberapa ahli kini meyakini bahwa figur "Menes" mungkin merupakan Narmer, yang digambarkan mengenakan tanda kebesaran kerajaan pada pelat Narmer yang merupakan simbol unifikasi.

Pada Periode Dinasti Awal, sekitar 3150 SM, firaun pertama memperkuat kekuasaan mereka terhadap Mesir hilir dengan mendirikan ibu kota di Memphis. Dengan ini, firaun dapat mengawasi pekerja, pertanian, dan jalur perdagangan ke Levant yang penting dan menguntungkan.. Peningkatan kekuasaan dan kekayaan firaun pada periode dinasti awal dilambangkan melalui mastaba (makam) yang rumit dan struktur-struktur kultus kamar mayat di Abydos, yang digunakan untuk merayakan didewakannya firaun setelah kematiannya.  Institusi kerajaan yang kuat dikembangkan oleh firaun untuk mengesahkan kekuasaan negara atas tanah, pekerja, dan sumber daya alam, yang penting bagi pertumbuhan peradaban Mesir kuno.

Kerajaan Lama

Kemajuan dalam bidang arsitektur, seni, dan teknologi dibuat pada masa Kerajaan Lama. Kemajuan ini didorong oleh meningkatnya produktivitas pertanian, yang dimungkinkan karena pemerintahan pusat dibina dengan baik. Di bawah pengarahan wazir, pejabat-pejabat negara mengumpulkan pajak, mengatur proyek irigasi untuk meningkatkan hasil panen, mengumpulkan petani untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan, dan menetapkan sistem keadilan untuk menjaga keamanan.  Dengan sumber daya surplus yang ada karena ekonomi yang produktif dan stabil, negara mampu membiayai pembangunan proyek-proyek kolosal dan menugaskan pembuatan karya-karya seni istimewa. Piramida yang dibangun oleh Djoser, Khufu, dan keturunan mereka, merupakan simbol peradaban Mesir Kuno yang paling diingat.

Seiring dengan meningkatnya kepentingan pemerintah pusat, muncul golongan juru tulis (sesh ) dan pejabat berpendidikan, yang diberikan tanah oleh firaun sebagai bayaran atas jasa mereka. Firaun juga memberikan tanah kepada struktur-struktur kultus kamar mayat dan kuil-kuil lokal untuk memastikan bahwa institusi-institusi tersebut memiliki sumber daya yang cukup untuk memuja firaun setelah kematiannya. Pada akhir periode Kerajaan Lama, lima abad berlangsungnya praktik-praktik feudal pelan-pelan mengikis kekuatan ekonomi firaun. Firaun tak lagi mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar.  Dengan berkurangnya kekuatan firaun, gubernur regional yang disebut nomark mulai menantang kekuatan firaun. Hal ini diperburuk dengan terjadinya kekeringan besar antara tahun 2200 hingga 2150 SM, sehingga Mesir Kuno memasuki periode kelaparan dan perselisihan selama 140 tahun yang dikenal sebagai Periode Menengah Pertama Mesir.

Periode Menengah Pertama Mesir

Setelah pemerintahan pusat Mesir runtuh pada akhir periode Kerajaan Lama, pemerintah tidak lagi mampu mendukung atau menstabilkan ekonomi negara. Gubernur-gubernur regional tidak dapat menggantungkan diri kepada firaun pada masa krisis. Kekurangan pangan dan sengketa politik meningkat menjadi kelaparan dan perang saudara berskala kecil. Meskipun berada pada masa yang sulit, pemimpin-pemimpin lokal, yang tidak berhutang upeti kepada firaun, menggunakan kebebasan baru mereka untuk mengembangkan budaya di provinsi-provinsi. Setelah menguasai sumber daya mereka sendiri, provinsi-provinsi menjadi lebih kaya. Fakta ini dibuktikan dengan adanya pemakaman yang lebih besar dan baik di antara kelas-kelas sosial lainnya.  Dengan meningkatnya kreativitas, pengrajin-pengrajin provinsial menerapkan dan mengadaptasi motif-motif budaya yang sebelumnya dibatasi oleh Kerajaan Lama. Juru-juru tulis mengembangkan gaya yang melambangkan optimisme dan keaslian periode.

Bebas dari kesetiaan kepada firaun, pemimpin-pemimpin lokal mulai berebut kekuasaan. Pada 2160 SM, penguasa-penguasa di Herakleopolis menguasai Mesir Hilir, sementara keluarga Intef di Thebes mengambil alih Mesir Hulu. Dengan berkembangnya kekuatan Intef, serta perluasan kekuasaan mereka ke utara, maka pertempuran antara kedua dinasti sudah tak terhindarkan lagi. Sekitar tahun 2055 SM, tentara Thebes di bawah pimpinan Nebhepetre Mentuhotep II berhasil mengalahkan penguasa Herakleopolis, menyatukan kembali kedua negeri, dan memulai periode renaisans budaya dan ekonomi yang dikenal sebagai Kerajaan Pertengahan.

Kerajaan Pertengahan

Firaun Kerajaan Pertengahan berhasil mengembalikan kesejahteraan dan kestabilan negara, sehingga mendorong kebangkitan seni, sastra, dan proyek pembangunan monumen.  Mentuhotep II dan sebelas dinasti penerusnya berkuasa dari Thebes, tetapi wazir Amenemhat I, sebelum memperoleh kekuasaan pada awal dinasti ke-12 (sekitar tahun 1985 SM), memindahkan ibu kota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Dari Itjtawy, firaun dinasti ke-12 melakukan reklamasi tanah dan irigasi untuk meningkatkan hasil panen. Selain itu, tentara kerajaan berhasil merebut kembali wilayah yang kaya akan emas di Nubia, sementara pekerja-pekerja membangun struktur pertahanan di Delta Timur, yang disebut "tembok-tembok penguasa", sebagai perlindungan dari serangan asing.

Maka populasi, seni, dan agama negara mengalami perkembangan. Berbeda dengan pandangan elitis Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami peningkatan ungkapan kesalehan pribadi. Selain itu, muncul sesuatu yang dapat dikatakan sebagai demokratisasi setelah akhirat; setiap orang memiliki arwah dan dapat diterima oleh dewa-dewa di akhirat. Sastra Kerajaan Pertengahan menampilkan tema dan karakter yang canggih, yang ditulis menggunakan gaya percaya diri dan elok, sementara relief dan pahatan potret pada periode ini menampilkan ciri-ciri kepribadian yang lembut, yang mencapai tingkat baru dalam kesempurnaan teknis.

Penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan, Amenemhat III, memperbolehkan pendatang dari Asia tinggal di wilayah delta untuk memenuhi kebutuhan pekerja, terutama untuk penambangan dan pembangunan. Penambangan dan pembangunan yang ambisius, ditambah dengan meluapnya sungai Nil, membebani ekonomi dan mempercepat kemunduran selama masa dinasti ke-13 dan ke-14. Semasa kemunduran, pendatang dari Asia mulai menguasai wilayah delta, yang selanjutnya mulai berkuasa di Mesir sebagai Hyksos.

Periode Menengah Kedua dan Hyksos

Sekitar tahun 1650 SM, seiring dengan melemahnya kekuatan firaun Kerajaan Pertengahan, imigran Asia yang tinggal di kota Avaris mengambil alih kekuasaan dan memaksa pemerintah pusat mundur ke Thebes. Di sana firaun diperlakukan sebagai vasal dan diminta untuk membayar upeti.  Hyksos ("penguasa asing") meniru gaya pemerintahan Mesir dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Maka elemen Mesir menyatu dengan budaya Zaman Perunggu Pertengahan mereka.

Setelah mundur, raja Thebes melihat situasinya yang terperangkap antara Hyksos di utara dan sekutu Nubia Hyksos, Kerajaan Kush, di selatan. Setelah hampir 100 tahun mengalami masa stagnansi, pada tahun 1555 SM, Thebes telah mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk melawan Hyksos dalam konflik selama 30 tahun.  Firaun Seqenenre Tao II dan Kamose berhasil mengalahkan orang-orang Nubia. Pengganti Kamose, Ahmose I, berhasil mengusir Hyksos dari Mesir. Selanjutnya, pada periode Kerajaan Baru, kekuatan militer menjadi prioritas utama firaun agar dapat memperluas perbatasan Mesir dan menancapkan kekuasaan atas wilayah Timur Dekat.

Kerajaan Baru

Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas pengaruh firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Firaun-firaun Kerajaan juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun juga membangun monumen untuk memuliakan pencapaian mereka sendiri, baik nyata maupun imajiner. Firaun perempuan Hatshepsut menggunakan propaganda semacam itu untuk mengesahkan kekuasaannya. Masa kekuasaannya yang berhasil dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Punt, kuil kamar mayat yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak.

Sekitar tahun 1350 SM, stabilitas Kerajaan Baru terancam ketika Amenhotep IV naik tahta dan melakukan reformasi yang radikal dan kacau. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten. Akhenaten memuja dewa matahari Aten sebagai dewa tertinggi. Ia lalu menekan pemujaan dewa-dewa lain. Akhenaten juga memindahkan ibu kota ke kota baru yang bernama Akhetaten (kini Amarna). Ia tidak memperdulikan masalah luar negeri dan terlalu asyik dengan gaya religius dan artistiknya yang baru. Setelah kematiannya, kultus Aten segera ditinggalkan, dan firaun-firaun selanjutnya, yaitu Tutankhamun, Ay, dan Horemheb, menghapus semua penyebutan mengenai bidaah Akhenaten.

Ramses II naik tahta pada tahun 1279 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada firaun-firaun lain dalam sejarah. Sebagai seorang pemimpin militer yang berani, Ramses II memimpin tentaranya melawan bangsa Het dalam pertempuran Kadesh. Setelah bertempur hingga mencapai kebuntuan (stalemate), ia menyetujui traktat perdamaian pertama yang tercatat sekitar 1258 SM.

Kekayaan menjadikan Mesir sebagai target serangan, terutama oleh orang-orang Laut dan Libya. Tentara Mesir mampu mengusir serangan-serangan itu, namun Mesir akan kehilangan kekuasaan atas Suriah dan Palestina. Pengaruh dari ancaman luar diperburuk dengan masalah internal seperti korupsi, penjarahan makam, dan kerusuhan. Pendeta-pendeta agung di kuil Amun, Thebes, mengumpulkan tanah dan kekayaan yang besar, dan kekuatan mereka memecahkan negara pada masa Periode Menengah Ketiga.

Periode Menengah Ketiga
Setelah kematian firaun Ramses XI tahun 1078 SM, Smendes mengambil alih kekuasaan Mesir utara. Ia berkuasa dari kota Tanis. Sementara itu, wilayah selatan dikuasai oleh pendeta-pendeta agung Amun di Thebes, yang hanya mengakui nama Smendes saja.  Pada masa ini, orang-orang Libya telah menetap di delta barat, dan kepala-kepala suku penetap tersebut mulai meningkatkan otonomi mereka. Pangeran-pangeran Libya mengambil alih delta di bawah pimpinan Shoshenq I pada tahun 945 SM. Mereka lalu mendirikan dinasti Bubastite yang akan berkuasa selama 200 tahun. Shoshenq juga mengambil alih Mesir selatan dengan menempatkan keluarganya dalam posisi kependetaan yang penting. Kekuasaan Libya mulai mengikis akibat munculnya dinasti saingan di Leontopolis, dan ancaman Kush di selatan. Sekitar tahun 727 SM, raja Kush, Piye, menyerbu ke arah utara. Ia berhasil menguasai Thebes dan delta.

Martabat Mesir terus menurun pada Periode Menengah Ketiga. Sekutu asingnya telah jatuh kedalam pengaruh Asiria, dan pada 700 SM, perang antara kedua negara sudah tak terhindarkan lagi. Antara tahun 671 hingga 667 SM, bangsa Asiria mulai menyerang Mesir. Masa kekuasaan raja Kush, Taharqa, dan penerusnya, Tanutamun, dipenuhi dengan konflik melawan Asiria. Akhirnya, bangsa Asiria berhasil memukul mundur Kush kembali ke Nubia. Mereka juga menduduki Memphis dan menjarah kuil-kuil di Thebes.

Periode Akhir

Dengan tiadanya rencana pendudukan permanen, bangsa Asiria menyerahkan kekuasaan Mesir kepada vassal-vassal yang dikenal sebagai raja-raja Sais dari dinasti ke-26. Pada tahun 653 SM, raja Sais Psamtik I berhasil mengusir bangsa Asiria dengan bantuan tentara bayaran Yunani yang direkrut untuk membentuk angkatan laut pertama Mesir. Selanjutnya, pengaruh Yunani meluas dengan cepat. Kota Naukratis menjadi tempat tinggal orang-orang Yunani di delta.

Di bawah raja-raja Sais, Mesir mengalami kebangkitan singkat ekonomi dan budaya. Sayangnya, pada tahun 525 SM, bangsa Persia yang dipimpin oleh Cambyses II memulai penaklukan terhadap Mesir. Mereka berhasil menangkap firaun Psamtik III dalam pertempuran di Pelusium. Cambyses II lalu mengambil alih gelar firaun. Ia berkuasa dari kota Susa, dan menyerahkan Mesir kepada seorang satrapi. Pemberontakan-pemberontakan meletus pada abad ke-5 SM, tetapi tidak ada satupun yang berhasil mengusir bangsa Persia secara permanen.

Setelah dikuasai Persia, Mesir digabungkan dengan Siprus dan Fenisia dalam satrapi ke-6 Kekaisaran Persia Akhemeniyah. Periode pertama kekuasaan Persia atas Mesir, yang juga dikenal sebagai dinasti ke-27, berakhir pada tahun 402 SM. Dari 380–343 SM, dinasti ke-30 berkuasa sebagai dinasti asli terakhir Mesir. Restorasi singkat kekuasaan Persia, kadang-kadang dikenal sebagai dinasti ke-31, dimulai dari tahun 343 SM. Akan tetapi, pada 332 SM, penguasa Persia, Mazaces, menyerahkan Mesir kepada Alexander yang Agung tanpa perlawanan.

Dinasti Ptolemeus
Pada tahun 332 SM, Alexander yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibu kota di Iskandariyah. Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah. Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus.

Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir. Penguasa dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai firaun. Beberapa tradisi akhirnya bergabung. Dewa-dewa Yunani dan Mesir disinkretkan sebagai dewa gabungan (contoh: Serapis). Bentuk skulptur Yunani Kuno juga memengaruhi motif-motif tradisional Mesir. Meskipun telah terus berusaha memenuhi tuntutan warga, dinasti Ptolemeus tetap menghadapi berbagai tantangan, seperti pemberontakan, persaingan antar keluarga, dan massa di Iskandariyah yang terbentuk setelah kematian Ptolemeus IV. Lebih lagi, bangsa Romawi memerlukan gandum dari Mesir, dan mereka tertarik akan situasi politik di negeri Mesir. Pemberontakan yang terus berlanjut, politikus yang ambisius, serta musuh yang kuat di Suriah membuat kondisi menjadi tidak stabil, sehingga bangsa Romawi mengirim tentaranya untuk mengamankan Mesir sebagai bagian dari kekaisarannya.

Dominasi Romawi

Mesir menjadi provinsi Kekaisaran Romawi pada tahun 30 SM setelah Augustus berhasil mengalahkan Mark Antony dan Ratu Cleopatra VII dalam Pertempuran Actium. Romawi sangat memerlukan gandum dari Mesir, dan legiun Romawi, di bawah kekuasaan praefectus yang ditunjuk oleh kaisar, memadamkan pemberontakan, memungut pajak yang besar, serta mencegah serangan bandit.

Meskipun Romawi berlaku lebih kasar daripada Yunani, beberapa tradisi, seperti mumifikasi dan pemujaan dewa-dewa, tetap berlanjut. Seni potret mumi berkembang, dan beberapa kaisar Romawi menggambarkan diri mereka sebagai firaun (meskipun tidak sejauh penguasa-penguasa dinasti Ptolemeus). Pemerintahan lokal diurus dengan gaya Romawi dan tertutup dari gaya Mesir asli.

Pada pertengahan abad pertama, Kekristenan mulai mengakar di Iskandariyah. Agama tersebut dipandang sebagai kultus lain yang akan diterima. Akan tetapi, Kekristenan pada akhirnya dianggap sebagai agama yang ingin menggantikan paganisme dan mengancam tradisi agama lokal, sehingga muncul penyerangan terhadap orang-orang Kristen. Penyerangan terhadap orang Kristen memuncak pada masa pembersihan Diokletianus yang dimulai tahun 303. Akan tetapi, Kristen berhasil menang. Pada tahun 391, kaisar Kristen Theodosius memperkenalkan undang-undang yang melarang ritus-ritus pagan dan menutup kuil-kuil. Iskandariyah menjadi latar kerusuhan anti-pagan yang besar. Akibatnya, budaya pagan Mesir terus mengalami kejatuhan. Meskipun penduduk asli masih mampu menuturkan bahasa mereka, kemampuan untuk membaca hieroglif terus berkurang karena melemahnya peran pendeta kuil Mesir. Sementara itu, kuil-kuil dialihfungsikan menjadi gereja, atau ditinggalkan begitu saja.

Pemerintahan dan ekonomi

Administrasi dan perdagangan

Firaun adalah raja yang berkuasa penuh atas negara setidaknya dalam teori dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber dayanya. Firaun juga merupakan komandan militer tertinggi dan kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya. Yang bertanggung jawab terhadap masalah administrasi adalah orang kedua di kerjaan, sang wazir, yang juga berperan sebagai perwakilan raja yang mengkordinir survey tanah, kas negara, proyek pembangunan, sistem hukum, dan arsip-arsip kerajaan. Di level regional, kerajaan dibagi menjadi 42 wilayah administratif yang disebut nome, yang masing-masing dipimpin oleh seorang nomark, yang bertanggung jawab kepada wazir. Kuil menjadi tulang punggung utama perekonomian yang berperan tidak hanya sebagai pusat pemujaan, namun juga berperan mengumpulkan dan menyimpan kekayaan negara dalam sebuah sistem lumbung dan perbendaharaan dengan meredistribusi biji-bijian dan barang-barang lainnya.

Sebagian besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menggunakan sejenis uang barter  berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya. Pekerja dibayar menggunakan biji-bijian; pekerja kasar biasanya hanya mendapat 5 karung (200 kg) biji-bijian per bulan sementara mandor bisa mencapai 7 karung (250 kg) per bulan. Harga tidak berubah di seluruh wilayah negara dan biasanya dicatat utuk membantu perdagangan; misalnya kaus dihargai 5 deben tembaga sementara sapi bernilai 140 deben. Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia dibanding sebagai uang yang sebenarnya; baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.

Status sosial
Masyarakat Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi menggunakan sistem corvée.  Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka juga berada di bawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno, dan biasa disebut "kelas kilt putih" karena menggunakan linen berwarna putih yang menandai status mereka.  Perbudakan telah dikenal, namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui.

Mesir Kuno memandang pria dan wanita, dari kelas sosial apa pun kecuali budak, sama di mata hukum.  Baik pria maupun wanita memiliki hak untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani, Roma, dan bahkan tempat-tempat lainnya di dunia, wanita di Mesir Kuno memiliki kesempatan memilih dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita seperti Hatshepsut dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun, wanita di Mesir Kuno tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan jarang yang memiliki pendidikan dari rata-rata pria ketika itu.

Sistem hukum
Sistem hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma'at.  Meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.

Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil.  Kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.

Dalam beberapa kasus, negara berperan baik sebagai jaksa dan hakim, serta berhak menyiksa terdakwa dengan pemukulan untuk mendapatkan pengakuan dan nama-nama lain yang bersalah. Tidak peduli apakah tuduhan itu sepele atau serius, juru tulis pengadilan mendokumentasikan keluhan, kesaksian, dan putusan kasus untuk referensi pada masa mendatang.

Hukuman untuk kejahatan ringan di antaranya pengenaan denda, pemukulan, mutilasi di bagian wajah, atau pengasingan, tergantung kepada beratnya pelanggaran. Kejahatan serius seperti pembunuhan dan perampokan makam dikenakan hukuman mati seperti pemenggalan leher, penenggelaman, atau penusukan. Hukuman juga bisa dikenakan kepada keluarga penjahat. Sejak pemerintahan Kerajaan Baru, oracle memiliki peran penting dalam sistem hukum, baik pidana maupun perdata. Prosedurnya adalah dengan memberikan pertanyaan "ya" atau "tidak" kepada dewa terkait sebuah isu. Sang dewa, diwakili oleh sejumlah imam, memberi keputusan dengan memilih salah satu jawaban, melakukan gerakan maju atau mundur, atau menunjuk pada selembar papirus atau ostracon.

Pertanian

Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang.

Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Musim banjir berlangsung dari Juni hingga September, menumpuk lanau kaya mineral yang ideal untuk pertanian di tepi sungai. Setelah banjir surut, musim tanam berlangsung dari Oktober hingga Februari. Petani membajak dan menanam bibit di ladang. Irigasi dibuat dengan parit dan kanal. Mesir hanya mendapat sedikit hujan, sehingga petani sangat bergantung dengan sungai Nil dalam pengairan tanaman. Dari Maret hingga Mei, petani menggunakan sabit untuk memanen. Selanjutnya, hasil panen dirontokan untuk memisahkan jerami dari gandum. Proses penampian menghilangkan sekam dari gandum, lalu gandum ditumbuk menjadi tepung, diseduh untuk membuat bir, atau disimpian untuk kegunaan lain.

Bangsa Mesir menanam gandum emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal lain, sebagai bahan roti dan bir.  Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat. Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya digunakan untuk menenun linen dan membuat pakaian. Papirus ditanam untuk pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Tanaman sayur dan buah tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi bawang perai, bawang putih, melon, squash, kacang, selada, dan tanaman-tanaman lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi wine.

Hewan
Bangsa Mesir percaya bahwa hubungan yang seimbang antara manusia dengan hewan merupakan elemen yang penting dalam susunan kosmos; maka manusia, hewan, dan tumbuhan diyakini sebagai bagian dari suatu keseluruhan.  Hewan, baik yang didomestikasi maupun liar, merupakan sumber spiritualitas, persahabatan, dan rezeki bagi bangsa Mesir Kuno. Sapi adalah hewan ternak yang paling penting; pemerintah mengumpulkan pajak terhadap hewan ternak dalam sensus-sensus reguler, dan ukuran ternak melambangkan martabat dan kepentingan pemiliknya. Selain sapi, bangsa Mesir Kuno menyimpan domba, kambing, dan babi. Unggas seperti bebek, angsa, dan merpati ditangkap dengan jaring dan dibesarkan di peternakan. Di peternakan, unggas-unggas tersebut dipaksa makan adonan agar semakin gemuk. Sementara itu, di sungai Nil terdapat sumber daya ikan. Lebah-lebah juga didomestikasi dari masa Kerajaan Lama, dan hewan tersebut menghasilkan madu dan lilin.

Keledai dan lembu digunakan sebagai hewan pekerja. Hewan-hewan tersebut bertugas membajak ladang dan menginjak-injak bibit ke dalam tanah. Lembu-lembu yang gemuk dikorbankan dalam ritual persembahan. Kuda-kuda dibawa oleh Hyksos pada Periode Menengah Kedua, sementara unta, meskipun sudah ada sejak periode Kerajaan Baru, tidak digunakan sebagai hewan pekerja hingga Periode Akhir. Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa gajah sempat dimanfaatkan pada Periode Akhir, tetapi akhirnya dibuang karena kurangnya tanah untuk merumput.  Anjing, kucing, dan monyet menjadi hewan peliharaan, sementara hewan-hewan seperti singa yang diimpor dari jantung Afrika merupakan milik kerajaan. Herodotus mengamati bahwa bangsa Mesir adalah satu-satunya bangsa yang menyimpan hewan di rumah mereka. Selama periode pradinasti dan akhir, pemujaan dewa dalam bentuk hewan menjadi sangat populer, seperti dewi kucing Bastet dan dewa ibis Thoth, sehingga hewan-hewan tersebut dibesarkan dalam jumlah besar untuk dikorbankan dalam ritual.

Sumber daya alam
Mesir kaya akan batu bangunan dan dekoratif, bijih tembaga dan timah, emas, dan batu-batu semimulia. Kekayaan itu memungkinkan orang Mesir Kuno untuk membangun monumen, memahat patung, membuat alat-alat, dan perhiasan. Pembalsem menggunakan garam dari Wadi Natrun untuk mumifikasi, yang juga menjadi sumber gypsum yang diperlukan untuk membuat plester. Batuan yang mengandung bijih besi dapat ditemukan di wadi-wadi gurun timur dan Sinai yang kondisi alam yang tidak ramah. Membutuhkan ekspedisi besar (biasanya dikontrol negara) untuk mendapatkan sumber daya alam di sana. Terdapat sebuah tambang emas luas di Nubia, dan salah satu peta pertama yang ditemukan adalah peta sebuah tambang emas di wilayah ini. Wadi Hammamat adalah sumber penting granit, greywacke, dan emas. Rijang adalah mineral yang pertama kali dikumpulkan dan digunakan untuk membuat alat-alat, dan kapak Rijang adalah potongan awal yang membuktikan adanya habitat manusia di lembah Sungai Nil. Nodul-nodul mineral secara hati-hati dipipihkan untuk membuat bilah dan kepala panah dengan tingkat kekerasan dan daya tahan yang sedang, dan ini tetap bertahan bahkan setelah tembaga digunakan untuk tujuan tersebut.

Perdagangan
Orang Mesir kuno berdagang dengan negeri-negeri tetangga untuk memperoleh barang yang tidak ada di Mesir. Pada masa pra dinasti, mereka berdagang dengan Nubia untuk memperoleh emas dan dupa. Orang Mesir kuno juga berdagang dengan Palestina, dengan bukti adanya kendi minyak bergaya Palestina di pemakaman firaun Dinasti Pertama. Koloni Mesir di Kanaan selatan juga berusia sedikit lebih tua dari dinasti pertama. Firaun Narmer memproduksi tembikar Mesir di Kanaan, dan mengekspornya kembali ke Mesir.

Paling lambat dari masa Dinasti Kedua, Mesir kuno mendapatkan kayu berkualitas tinggi (yang tak dapat ditemui di Mesir) dari Byblos. Pada masa Dinasti Kelima, Mesir kuno dan Punt memperdagangkan emas, damar, eboni, gading, dan binatang liar seperti monyet.  Mesir bergantung pada Anatolia untuk memasok persediaan timah dan tembaga (keduanya merupakan bahan baku untuk membuat perunggu). Orang Mesir kuno juga menghargai batu biru lazuardi, yang harus diimpor dari Afganistan. Partner dagang Mesir di Laut Tengah meliputi Yunani dan Kreta, yang menyediakan minyak zaitun (selain barang-barang lainnya).  Sebagai ganti impor bahan baku dan barang mewah, Mesir mengekspor gandum, emas, linen, papirus, dan barang-barang jadi seperti kaca dan benda-benda batu.

Bahasa

Perkembangan historis
Bahasa Mesir adalah bahasa Afro-Asiatik yang berhubungan dekat dengan bahasa Berber dan Semit. Bahasa ini memiliki sejarah bahasa terpanjang kedua (setelah Sumeria). Bahasa Mesir telah ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lama. Fase-fase pada bahasa Mesir Kuno adalah bahasa Mesir Lama, Pertengahan, Akhir, Demotik, dan Koptik. Tulisan Mesir tidak menunjukkan perbedaan dialek sebelum Koptik, tetapi mungkin dituturkan dalam dilek-dialek regional di sekitar Memphis dan nantinya Thebes.

Kesusasteraan

Tulisan pertama kali ditemukan di lingkungan kerajaan, terutama pada barang-barang di makam keluarga kerajaan. Pekerjaan menulis biasanya hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang juga menjalankan institusi Per Ankh atau Rumah Kehidupan, serta perpustakaan (disebut Rumah Buku), laboratorium, dan observatorium. Karya-karya literatur yang terkenal sebagian ditulis dalam bahasa Mesir Klasik, yang terus digunakan secara bahasa tertulis hingga sekitar tahun 1300 SM. Bahasa Mesir Akhir mulai digunakan mulai masa Kerajaan Baru sebagaimana direpresentasikan dalam dokumen administratif Ramses, puisi dan kisah cinta, serta teks-teks Demotik dan Koptik. Selama periode ini, berkembang tradisi menulis autografi di makam. Genre ini dikenal sebagai Sebayt (instruksi) dan dikembangkan sebagai usaha untuk menurunkan ajaran dan tuntunan bangsawan terkenal.

Kisah Sinuhe yang ditulis dalam bahasa Mesir Pertengahan juga dapat dikategorikan sebagai literatur Mesir klasik. Contoh lainnya adalah Instruksi Amenemope yang dianggap sebagai mahakarya dalam dunia literatur timur tengah. Pada masa akhir Kerajaan Baru, Bahasa Mesir Akhir lebih banyak digunakan untuk menulis seperti yang terlihat pada Cerita Wenamun dan Instruksi Any. Cerita Wenamun menceritakan kisah tentang bangsawan yang dirampok dalam perjalanannya untuk membeli cedar dari Lebanon dan perjuangannya kembali ke Mesir. Sejak 700 SM, cerita naratif dan instruksi, seperti misalnya Instruksi Onchshesonqy, dan dokumen-dokumen bisnis ditulis dalam bahasa Demotik). Banyak cerita pada masa Yunani-Romawi juga dalam bahasa Demotik, dan biasanya memiliki setting pada masa-masa ketika Mesir merdeka di bawah kekuasaan Firaun agung seperti Ramses II.

Tulisan
Tulisan hieroglif terdiri dari sekitar 500 simbol. Sebuah hieroglif dapat mewakili kata atau suara. Simbol yang sama dapat menyajikan tujuan yang berbeda dalam konteks yang berbeda pula. Hieroglif adalah aksara resmi, digunakan pada monumen batu dan kuburan. Pada penulisan sehari hari, juru tulis membuat tulisan kursif, yang disebut keramat. Tulisan kursif ini lebih cepat dan mudah. Sementara hieroglif formal dapat dibaca dalam baris atau kolom di kedua arah (walaupun biasanya ditulis dari kanan ke kiri), aksara keramat selalu ditulis dari kanan ke kiri, biasanya pada baris horisontal. Sebuah bentuk baru penulisan, demotik, menjadi gaya penulisan umum, dan inilah bentuk tulisan -bersama dengan hieroglif formal - yang menyertai teks Yunani di Batu Rosetta.

Sekitar abad ke-1 Masehi, aksara Koptik mulai digunakan bersama aksara demotik. Koptik adalah modifikasi abjad Yunani dengan penambahan beberapa tanda-tanda demotik. Meskipun hieroglif formal digunakan dalam acara seremonial hingga abad ke-4, menjelang akhir abad hanya segelintir kecil imam yang masih bisa membacanya. Akibat institusi keagamaan tradisional dibubarkan, pengetahuan tulisan hieroglif semakin menghilang. Usaha untuk mengartikannya muncul pada masa Bizantium  dan Islam di Mesir,  tetapi baru pada tahun 1822, setelah penemuan batu Rosetta dan penelitian oleh Thomas Young dan Jean-François Champollion, hieroglif baru dapat diartikan.

Budaya

Kehidupan sehari-hari

Sebagian besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin di siang hari. Setiap rumah memiliki dapur dengan atap terbuka. Di dapur itu biasanya terdapat batu giling untuk menggiling tepung dan oven kecil untuk membuat roti. Tembok dicat warna putih dan beberapa juga ditutupi dengan hiasan berupa linen yang diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.

Bangsa Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, menggunakan minyak wangi dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan kulit. Pakaian dibuat dengan linen sederhana yang diberi warna putih, baik wanita maupun pria di kelas yang lebih elit menggunakan wig, perhiasan, dan kosmetik. Anak-anak tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada usia sekitar 12 tahun, dan pada usia ini laki-laki disunat dan dicukur. Ibu bertanggung jawab menjaga anaknya, sementara sang ayah bertugas mencari nafkah.

Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling populer bagi mereka yang mampu membayar untuk melihatnya. Instrumen yang digunakan antara lain seruling dan harpa, juga instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Pada masa Kerajaan Baru, bangsa Mesir memainkan bel, simbal, tamborine, dan drum serta mengimpor kecapi dan lira dari Asia. Mereka juga menggunakan sistrum, instrumen musik yang biasa digunakan dalam upacara keagamaan.

Bangsa Mesir Kuno mengenal berbagai macam hiburan, permainan dan musik, salah satunya adalah Senet, permainan papan yang bidaknya digerakkan dalam urutan acak. Selain itu mereka juga mengenal mehen. Juggling dan permainan menggunakan bola juga sering dimainkan anak-anak, juga permainan gulat sebagaimana digambarkan dalam makam Beni Hasan.  Orang-orang kaya di Mesir Kuno juga gemar berburu dan berlayar untuk hiburan.

Masakan
Masakan Mesir cenderung tidak berubah selama berabad-abad; Masakan Mesir modern memiliki banyak persamaan dengan Masakan Mesir Kuno. Makanan sehari-hari biasanya mengandung roti dan bir, dengan lauk berupa sayuran seperti bawang merah dan bawang putih, serta buah-buahan berbentuk biji dan ara. Wine dan daging biasanya hanya disajikan pada perayaan tertentu, kecuali di kalangan orang kaya yang lebih sering menyantapnya. Ikan, daging, dan unggas dapat diasinkan atau dikeringkan, serta direbus atau dibakar.

Arsitektur

Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal antara lain: Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi.

Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini. Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit. Beberapa istana Kerajaan Baru yang tersisa, seperti yang terletak di Malkata dan Amarna, menunjukkan tembok dan lantai yang dipenuhi hiasan dengan gambar pemandangan yang indah. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.

Kuil-kuil tertua yang tersisa, seperti yang terletak di Giza, terdiri dari ruang tunggal tertutup dengan lembaran atap yang didukung oleh pilar. Pada Kerajaan Baru, arsitek menambahkan pilon, halaman terbuka, dan ruangan hypostyle; gaya ini bertahan hingga periode Yunani-Romawi. Arsitektur makam tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba, struktur persegi panjang dengan atap datar yang terbuat dari batu dan bata. Struktur ini biasanya dibangun untuk menutupi ruang bawah tanah untuk menyimpan mayat.

Seni

Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Aliran ini memiliki prinsip-prinsip ketat yang harus diikuti, mengakibatkan bentuk aliran ini tidak mudah berubah dan terpengaruh aliran lain. Standar artistik garis-garis sederhana, bentuk, dan area warna yang datar dikombinasikan dengan karakteristik figure yang tidak memiliki kedalaman spasial menciptakan rasa keteraturan dan keseimbangan dalam komposisinya. Perpaduan antara teks dan gambar terjalin dengan indah baik di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung.

Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan.  Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekret kerajaan, atau peristiwa religius. Pada masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam. Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer.

Meskipun bentuknya hampir homogen, pada waktu tertentu gaya karya seni Mesir Kuno terkadang mengikuti perubahan kultural atau perilaku politik. Setelah invasi Hykos di Periode Pertengahan Kedua, seni dengan gaya Minoa ditemukan di Avaris.  Salah satu contoh perubahan gaya akibat adanya perubahan politik yang menonjol adalah bentuk artistik yang dibuat pada masa Amarna: patung-patung disesuaikan dengan gaya pemikiran religius Akhenaten. Gaya ini, yang dikenal sebagai seni Amarna, langsung diganti dan dibuah ke bentuk tradisional setelah kematian Akhenaten.

Agama dan kepercayaan

Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan adanya kehidupan setelah kematian dipegang secara turun temurun. Kuil-kuil diisi oleh dewa-dewa yang memiliki kekuatan supernatural dan menjadi tempat untuk meminta perlindungan, namun dewa-dewa tidak selalu dilihat sebagai sosok yang baik; orang mesir percaya dewa-dewa perlu diberi sesajen agar tidak mengeluarkan amarah. Struktur ini dapat berubah, tergantung siapa yang berkuasa ketika itu.

Dewa-dewa disembah dalam sebuah kuil yang dikelola oleh seorang imam. Di bagian tengah kuil biasanya terdapat patung dewa. Kuil tidak dijadikan tempat beribadah untuk publik, dan hanya pada hari-hari tertentu saja patung di kuil itu dikeluarkan untuk disembah oleh masyarakat. Masyarakat umum beribadah memuja patung pribadi di rumah masing-masing, dilengkapi jimat yang dipercaya mampu melindungi dari marabahaya. Setelah Kerajaan Baru, peran firaun sebagai perantara spiritual mulai berkurang seiring dengan munculnya kebiasaan untuk memuja langsung tuhan, tanpa perantara. Di sisi lain, para imam mengembangkan sistem ramalan (oracle) untuk mengkomunikasikan langsung keinginan dewa kepada masyarakat.

Masyarakat mesir percaya bahwa setiap manusia terdiri dari bagian fisik dan spiritual. Selain badan, manusia juga memiliki šwt (bayangan), ba (kepribadian atau jiwa), ka (nyawa), dan nama. Jantung dipercaya sebagai pusat dari pikiran dan emosi. Setelah kematian, aspek spiritual akan lepas dari tubuh dan dapat bergerak sesuka hati, namun mereka membutuhkan tubuh fisik mereka (atau dapat digantikan dengan patung) sebagai tempat untuk pulang. Tujuan utama mereka yang meninggal adalah menyatukan kembali ka dan ba dan menjadi "arwah yang diberkahi." Untuk mencapai kondisi itu, mereka yang mati akan diadili, jantung akan ditimbang dengan "bulu kejujuran." Jika pahalanya cukup, sang arwah diperbolehkan tetap tinggal di bumi dalam bentuk spiritual.

Adat pemakaman
Orang Mesir Kuno mempertahankan seperangkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah: proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh almarhum di akhirat. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan dinasti keempat, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik.

Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar cartonnage yang telah dicat. Praktik pengawetan mayat asli mulai menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, pada zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitikberatkan pada tampilan luar mumi.

Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal almarhum juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, Kitab Kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.

Militer

Angkatan perang Mesir kuno bertanggung jawab untuk melindungi Mesir dari serangan asing, dan menjaga kekuasaan Mesir di Timur Dekat Kuno. Tentara Mesir kuno melindungi ekspedisi penambangan ke Sinai pada masa Kerajaan Lama, dan terlibat dalam perang saudara selama Periode Menengah Pertama dan Kedua. Angkatan perang Mesir juga bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap jalur perdagangan penting, seperti kota Buhen pada jalan menuju Nubia. Benteng-benteng juga didirikan, seperti benteng di Sile, yang merupakan basis operasi penting untuk melancarkan ekspedisi ke Levant. Pada masa Kerajaan Baru, firaun menggunakan angkatan perang Mesir untuk menyerang dan menaklukan Kerajaan Kush dan sebagian Levant.

Peralatan militer yang digunakan pada masa itu adalah panah, tombak, dan perisai berbahan dasar kerangka kayu dan kulit binatang. Pada masa Kerajaan Baru, angkatan perang mulai menggunakan kereta perang yang awalnya diperkenalkan oleh penyerang dari Hyksos. Senjata dan baju zirah terus berkembang setelah penggunaan perunggu: perisai dibuat dari kayu padat dengan gesper perunggu, ujung tombak dibuat dari perunggu, dan Khopesh (berasal dari tentara Asiatik) mulai digunakan.  Tentara direkrut dari penduduk biasa; namun, selama dan terutama sesudah masa Kerajaan Baru, tentara bayaran dari Nubia, Kush, dan Libya dibayar untuk membantu Mesir.

Teknologi, pengobatan, dan matematika

Teknologi
Dalam bidang tekonologi, pengobatan, dan matematika, Mesir kuno telah mencapai standar yang relatif tinggi dan canggih pada masanya. Empirisme tradisional, sebagaimana dibuktikan oleh Papirus Edwin Smith dan Ebers (c. 1600 SM), ditemukan oleh bangsa Mesir. Bangsa Mesir kuno juga diketahui menciptakan alfabet dan sistem desimal mereka sendiri.

Tembikar glasir bening dan kaca
Bahkan sebelum masa keemasan di bawah kekuasaan Kerajaan Lama, bangsa Mesir kuno telah mampu mengembangkan sebuah material kilap yang dikenal sebagai tembikar glasir bening, yang dianggap sebagai bahan artifisial yang cukup berharga. Tembikar glasir bening adalah keramik yang terbuat dari silika, sedikit kapur dan soda, serta bahan pewarna, biasanya tembaga. Tembikar glasir bening digunakan untuk membuat manik-manik, ubin, arca, dan lainnya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menciptakan tembikar glasir bening, namun yang sering digunakan adalah menaruh bahan baku yang telah diolah menjadi pasta di atas tanah liat, kemudian membakarnya. Dengan teknik yang sama, bangsa Mesir kuno juga dapat memproduksi sebuah pigmen yang dikenal sebagai Egyptian Blue, yang diproduksi dengan menggabungkan silika, tembaga, kapur dan sebuah alkali seperti natron.

Bangsa mesir kuno juga mampu membuat berbagai macam objek dari kaca, namun tidak jelas apakah mereka mengembangkan teknik itu sendiri atau bukan. Tidak diketahui pula apakah mereka membuat bahan dasar kaca sendiri atau mengimpornya, untuk kemudian dilelehkan dan dibentuk, namun mereka dipastikan memiliki kemampuan teknis untuk membuat objek dan menambahkan elemen mikro untuk mengontrol warna dari kaca tersebut. Banyak warna yang dapat mereka ciptakan, termasuk di antaranya kuning, merah, hijau, biru, ungu, putih, dan transparan.

Pengobatan

Permasalahan medis di Mesir kuno kebanyakan berasal dari kondisi lingkungan di sana. Hidup dan bekerja di dekat sungai Nil mengakibatkan mereka terancam penyakit seperti malaria dan parasit schistosomiasis, yang dapat mengakibatkan kerusakan hati dan dan pencernaan. Binatang berbahaya seperti buaya dan kuda nil juga menjadi ancaman. Cedera akibat pekerjaan yang sangat berat, terutama dalam bidang konstruksi dan militer, juga sering terjadi. Kerikil dan pasir di tepung (muncul akibat proses pembuatan tepung yang belum canggih) merusak gigi, sehingga menyebabkan mereka mudah terserang abses.

Hidangan yang dimakan orang kaya di Mesir kuno biasanya mengandung banyak gula, yang mengakibatkan banyaknya penyakit periodontitis.  Meskipun di dinding-dinding makam kebanyakan orang kaya digambarkan memiliki tubuh yang kurus, berat badan mumi mereka menunjukkan bahwa mereka hidup secara berlebihan. Harapan hidup orang dewasa berkisar antara 35 tahun untuk laki-laki dan 30 tahun untuk wanita.

Tabib-tabib Mesir Kuno termasyhur dengan kemampuan pengobatan mereka dan beberapa, seperti Imhotep, tetap dikenang meskipun telah lama meninggal.  Herodotus mengatakan bahwa terdapat pembagian spesialisasi yang tinggi di antara tabib-tabib Mesir; misalnya beberapa tabib hanya mengobati permasalahan pada kepala atau perut, sementara yang lain hanya mengobati masalah mata atau gigi. Pelatihan untuk tabib terletak di Per Ankh atau institusi "Rumah Kehidupan," yang paling terkenal terletak di Per-Bastet semasa Kerajaan Baru dan di Abydos serta Saïs di Periode Akhir. Sebuah papirus medis menunjukkan bahwa bangsa Mesir memiliki pengetahuan empiris soal anatomi, luka, dan perawatannya.

Luka-luka dirawat dengan cara membungkusnya dengan daging mentah, linen putih, jahitan, jaring, blok, dan kain yang dilumuri madu untuk mencegah infeksi. Mereka juga menggunakan opium untuk mengurangi rasa sakit. Bawang putih maupun merah dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kesehatan dan dipercaya dapat mengurangi gejala asma. Ahli bedah mesir mampu menjahit luka, memperbaiki tulang yang patah, dan melakukan amputasi. Mereka juga mengetahui bahwa ada beberapa luka yang sangat serius sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah mebuat pasien merasa nyaman menjelang ajalnya.

Pembuatan kapal

Bangsa Mesir kuno telah tahu bagaimana merakit papan kayu menjadi lambung kapal sejak tahun 3000 SM. Archaeological Institute of America melaporkan bahwa beberapa kapal tertua yang pernah ditemukan berjenis kapal Abydos. Kapal-kapal yang ditemukan di Abydos ini dibuat dari papan kayu yang "dijahit" menggunakan tali pengikat. Awalnya kapal-kapal tersebut diperkirakan sebagai milik Firaun Khasekhemwy karena ditemukan dikubur bersama dan berada di dekat kamar mayat Firaun Khasekhemwy, namun penelitian menunjukkan bawa kapal-kapal itu lebih tua dari usia sang firaun, sehingga kini diperkirakan sebagai kapal milik firaun yang lebih terdahulu. Menurut profesor David O'Connor dari New York University, kapal-kapal itu kemungkinan merupakan kapal milik Firaun Aha.

Namun meskipun bangsa Mesir Kuno memiliki kemampuan untuk membuat kapal yang sangat besar dan mudah dikendalikan di atas sungai Nil, mereka tidak dikenal sebagai pelaut yang handal.

Matematika

Perhitungan matematika tertua yang ditemukan berasal dari periode Naqada, yang juga menunjukkan bahwa bangsa Mesir ketika itu telah mengembangkan sistem bilangan. Nilai penting matematika bagi seorang intelektual kala itu digambarkan dalam sebuah surat fiksi dari zaman Kerajaan Baru. Pada surat itu, penulisnya mengusulkan untuk mengadakan kompetisi antara dirinya dan ilmuwan lain berkenaan masalah penghitungan sehari-hari seperti penghitungan tanah, tenaga kerja, dan padi. Teks seperti Papirus Matematika Rhind dan Papirus Matematika Moskwa menunjukkan bahwa bangsa Mesir Kuno dapat menghitung empat operasi matematika dasar  penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian  menggunakan pecahan, menghitung volume kubus dan piramid, serta menghitung luas kotak, segitiga, lingkaran, dan bola. Mereka memahami konsep dasar aljabar dan geometri, serta mampu memecahkan persamaan simultan.

Notasi matematika Mesir Kuno bersifat desimal (berbasis 10) dan didasarkan pada simbol-simbol hieroglif untuk tiap nilai perpangkatan 10 (1, 10, 100, 1000, 10000, 100000, 1000000) sampai dengan sejuta. Tiap-tiap simbol ini dapat ditulis sebanyak apapun sesuai dengan bilangan yang diinginkan; sehingga untuk menuliskan bilangan delapan puluh atau delapan ratus, simbol 10 atau 100 ditulis sebanyak delapan kali. Karena metode perhitungan mereka tidak dapat menghitung pecahan dengan pembilang lebih besar daripada satu, pecahan Mesir Kuno ditulis sebagai jumlah dari beberapa pecahan. Sebagai contohnya, pecahan dua per tiga (2/3) dibagi menjadi jumlah dari 1/3 + 1/15; proses ini dibantu oleh tabel nilai [pecahan] standar. Beberapa pecahan ditulis menggunakan glif khusus; nilai yang setara dengan 2/3 ditunjukkan oleh gambar di samping.

Matematikawan Mesir Kuno telah mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari teorema Pythagoras. Mereka juga dapat memperkirakan luas lingkaran dengan mengurangi satu per sembilan diameternya dan memangkatkan hasilnya:


Peninggalan

Budaya dan monumen Mesir kuno telah menjadi peninggalan sejarah yang abadi. Pemujaan terhadap dewi Isis, sebagai contoh, menjadi populer pada masa Kekaisaran Romawi. Orang Romawi juga mengimpor bahan bangunan dari Mesir untuk mendirikan struktur dengan gaya Mesir. Sejarawan seperti Herodotus, Strabo dan Diodorus Siculus mempelajari dan menulis tentang Mesir kuno yang kemudian dipandang sebagai tempat yang penuh misteri. Pada Abad Pertengahan dan Renaissance, perkembangan budaya pagan Mesir mulai menurun seiring dengan berkembangnya agama Kristen dan Islam, namun ketertarikan terhadap budaya tersebut masih tersirat dalam karya-karya ilmuwan abad pertengahan, misalnya karya Dhul-Nun al-Misri dan al-Maqrizi.

Pada abad ke-17 dan 18, penjelajah dan turis Eropa membawa banyak barang antik dan menulis tentang kisah perjalanan mereka di Mesir, yang kemudian memancing terjadinya gelombang Egyptomania di Eropa. Ketertarikan tersebut mengakibatkan banyaknya kolektor Eropa yang membeli atau membawa barang-barang antik penting dari Mesir. Meskipun penjajahan kolonial Eropa terhadap mesir mengakibatkan hancurnya benda-benda bersejarah, kehadiran bangsa Eropa juga dampak positif terhadap peninggalan Mesir kuno. Napoleon, misalnya, melakukan pembelajaran pertama mengenai Egiptologi ketika ia membawa 150 ilmuwan dan seniman untuk mempelajari dan mendokumentasi sejarah alam Mesir, yang kemudian dipublikasi dalam Description de l'Ėgypte.  Pada abad ke-20, pemerintah Mesir dan arkeolog mulai melakukan pengawasan terhadap kegiatan penggalian di Mesir dengan membentuk Supreme Council of Antiquities.

Aug 3, 2019

Makam Daniel

Makam Daniel (bahasa Inggris: Tomb of Daniel) secara tradisional diyakini sebagai tempat pemakaman, Daniel, sosok nabi yang dicatat dalam Alkitab. Berbagai lokasi lain telah disebut-sebut sebagai situsnya, tapi makam di Susa, Iran (Persia), adalah yang paling diterima secara luas. Pertama kali diinformasikan di Eropa oleh Benjamin dari Tudela, yang mengunjungi Asia antara tahun 1160 dan 1163

Susa, Iran

Book of Daniel menyebutkan bahwa Daniel tinggal di Babel dan mungkin telah mengunjungi istana Susa, Iran, tetapi tempat di mana dia meninggal tidak disebutkan. Tradisi yang dilestarikan di antara orang-orang Yahudi dan Arab adalah bahwa ia dimakamkan di Susa. Hari ini "Makam Daniel" di Susa adalah atraksi yang populer di kalangan umat Islam setempat dan juga komunitas Yahudi Iran.

Penyebutan awal Makam Daniel Makam yang diterbitkan di Eropa diberikan oleh Benjamin dari Tudela yang mengunjungi Asia antara tahun 1160 dan 1163. Dalam façade salah satu dari banyak sinagoge, ia menunjukkan makam yang menurut tradisi adalah di mana Daniel dikuburkan. Namun, Benjamin menyatakan bahwa makam itu tidak menyimpan jenazah Daniel, yang bekas-bekasnya dikatakan telah ditemukan di Susa sekitar 640 M. Jenazah itu seharusnya membawa keberuntungan, tetapi malah menimbulkan pertengkaran pahit di antara penduduk ke dua sisi sungai Choaspes. Semua orang yang tinggal di sisi yang ditempati oleh Makam Daniel menjadi kaya dan bahagia, sementara orang-orang di sisi seberangnya miskin dan kekurangan. Akibatnya, orang-orang yang miskin itu berharap agar jenazah Daniel dipindahkan ke sisi seberang sungai. Mereka akhirnya sepakat bahwa jenazah itu harus beristirahat bergantian satu tahun pada masing-masing sisi. Perjanjian ini dilakukan selama bertahun-tahun, sampai shah Persia, Sanjar, datang ke kota itu, dan menghentikan aktivitas ini, berpegang bahwa pemindahan tandu jenazah terus-menerus itu tidak hormat terhadap sang nabi. Ia memerintahkan tandu jenzah untuk diikat dengan rantai pada jembatan, tepat di tengah-tengahnya, dan ia mendirikan sebuah kapel di tempat itu untuk orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Raja juga melarang memancing di sungai yang berjarak sekitar satu mil dari tandu jenazah Daniel. Menurut Benjamin, tempat ini adalah salah satu yang berbahaya untuk navigasi, karena orang kafir yang tidak takut Tuhan dikabarkan binasa segera setelah melintasi tempat itu; dan air di bawah tandu itu dibedakan dengan kehadiran banyak ikan mas.

Tradisi Muslim setuju bahwa Daniel dimakamkan di Susa, dan tradisi yang serupa diakui di antara para penulis sastra Suryani. Al-Baladhuri (abad ke-9) mengatakan bahwa ketika sang penakluk Abu Musa Al-Asy'ari datang ke Susa pada tahun 638, ia menemukan peti mati Daniel, yang telah dibawa ke sana dari Babel dalam rangka untuk menurunkan hujan selama periode kekeringan. Abu Musa menyampaikan hal tersebut kepada khalifah Umar, yang memerintahkan agar peti mati itu dikuburkan, dengan cara menurunkan dan menenggelamkannya ke dalam salah satu sungai di dekatnya.

Catatan yang sama diberikan pada abad ke-10 penulis sejarah Arab Ibnu Hawqal yang menulis:

"Di kota Susa ada sebuah sungai dan aku telah mendengar bahwa pada zaman Abu Musa al Ashari ditemukan peti mati di sana yang berisi tulang-tulang Nabi Daniel. Orang-orang sangat menghormatinya dan pada saat kesusahan, kelaparan atau kekeringan mereka membawanya keluar dan berdoa minta hujan. Abu Mousa Al Ashoari memerintahkan agar peti mati itu dibungkus dengan tiga lapisan penutup dan ditenggelamkan di dalam sungai sehingga tidak bisa dilihat. Kuburan itu bisa dilihat oleh siapa saja yang menyelam ke bawah air".

Istakhri memberikan catatan yang sama dan menambahkan bahwa orang-orang Yahudi sudah terbiasa untuk melakukan jalan kaki keliling di sekitar makam Daniel dan menimba air di dekatnya.[8] Al-Muqaddasi mengacu pada perselisihan di antara orang-orang Susa dan orang-orang dari Tustar. Tradisi yang sedikit berbeda dilaporkan oleh Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa jenazah itu ditemukan di Tustar; bahwa pada suatu malam, tiga belas kuburan telah digali, dan jenazah itu dimasukkan ke dalam salah satunya suatu tanda, menurutnya, bahwa umat Islam awal menentang pemujaan terhadap makam orang-orang suci.

William Ouseley dalam Walpole's Memoirs of East mencatat Makam Daniel di Susa sebagai yang terletak di "tempat yang paling indah, dicuci dengan aliran air jernih dan dinaungi oleh pohon-pohon yang berdaun rindang. Bangunan itu bertarikh zaman Mahomedan dan dihuni oleh seorang Dervish (Darwis) yang soliter, yang menunjukkan tempat di mana nabi terkubur di bawah, sebuah mausoleum batu bata kecil dan sederhana, dikatakan (tanpa probabilitas) sebaya dengan kematian-nya. Itu, bagaimanapun, tetapi tanpa tanggal maupun tulisan untuk membuktikan kebenaran atau kepalsuan dari pernyataan Dervish itu. Sungai kecil yang mengalir di kaki gedung itu, disebut Bellerau, dikatakan mengalir langsung di atas Makam nabi, dan dari kejernihan air, peti matinya dapat terlihat di bawah, tetapi Dervish dan penduduk asli yang saya tanyai tidak ingat ada tradisi yang menguatkan fakta tersebut; sebaliknya, telah menjadi kebiasaan orang-orang dari negara itu untuk berziarah kemari pada hari-hari tertentu dari bulan-bulan khusus, ketika mereka mempersembahkan doa-doa mereka di makam yang telah saya sebutkan, dalam permohonan bagi naungan nabi."

Makam yang sekarang direnovasi dan diperbaiki pada tahun 1870 Masehi atas perintah ulama Syiah Sheikh Jafar Shooshtari, dan pekerjaan itu dilaksanakan oleh Haji Mulla Hassan Memar. Kemudian putra Mulla Hassan, Mulla Javad melanjutkan renovasi di situs ini.