Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 9, 2015

Situs Purba 'Neolitikum' di Papua

Balai Arkeologi Jayapura menemukan pemukiman zaman neolitikum dan megalitikum seluas 15.000 meter persegi di Bukit Srobu, antara Kelurahan Abepantai dan Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Kepala Balai Arkeologi Jayapura, Muhammad Irfan mengatakan penemuan itu didasari laporan warga kepada pihaknya awal Februari lalu.

"Jadi setelah dilaporkan kepada Balar Jayapura, kami langsung melakukan survei dan ekskavasi di lapangan. Dan hari ini adalah hari ke-10 penelitian dan ekskavasi," ujar Irfan di Jayapura.

Ia menjelaskan dalam survei, penelitian, dan ekskavasi oleh tim beranggota enam orang itu, yang paling banyak ditemukan adalah cangkang yang diperkirakan jumlahnya ribuan hingga jutaan yang tersebar di Bukit Srobu.  Bukit ini disebut Bukit Kerang oleh warga setempat.

Selain itu, ditemukan pula fragmen-fragmen gerabah bermotif, alat serpih, dan kapak yang merupakan peninggalan periode neolitikum.


Sedangkan temuan dari periode megalitikum, antara lain menhir, meja batu, tangga teras batu, dan bekas pemukiman.

"Ini menandakan penemuan di bukit yang tak jauh dari permukaan laut itu, cukup komplit dan kompleks, karena ada bekas rumah," katanya.

Ketua tim ekskavasi Erlin N.J. Djami yang ditemui di Bukit Srobu, mengatakan selain fragmen gerabah, menhir, dan meja batu, ditemukan juga dakon dan tulang-tulang manusia.

"Menurut pernyataan warga setempat di bukit ini juga pernah jadi tempat bersembunyi tentara Jepang semasa Perang Dunia II. Lalu ada tulang-tulang manusia tapi belum bisa dipastikan apakah itu milik penduduk setempat atau tentara Jepang,"

Balai Arkeologi Jayapura sendiri belum mempunyai laboratorium untuk mengetahui penanggalan pasti dari benda-benda neolitikum dan megalitikum guna meneliti umur tulang-tulang di bukit itu.

"Yang kami sedang kejar adalah penemuan arang atau sisa-sisa dapur memasak untuk bisa diketahui lewat pengukuran karbon," jelas Djami.

Berdasarkan hasil penelitian dan ekskavasi yang akan berakhir 23 Mei 2014 itu, Balai Arkeologi Jayapura segera membuat laporan dan mengusulkan kepada pihak terkait agar Bukit Srobu menjadi situs penelitian atau laboraturium alam bagi pelajar dan mahasiswa di Jayapura dan Papua.

Perhiasan Berusia 2000 Tahun

Peneliti di Inggris menemukan harta karun berupa perhiasan dan uang kuno yang diklaim berusia 2000 tahun. Benda arkeologi ini ditemukan di bawah tanah sebuah toko di Inggris.

Tim Colchester Archaeological Trust menemukan perhiasan dan koin atau uang yang mengungkap waktu masa lampau, peninggalan zaman Romawi. Harta karun ini terkubur di bawah toko Williams & Griffin di Colchester.

Peneliti yang melihat benda bersejarah ini mengungkap tidak ada kerusakan pada koin dan perhiasan. Peneliti kini membersihkan tanah atau debu serta mempelajarinya secara detail.

Walapun potongan benda sejarah ini masih tertutupi dengan tanah atau debu, para ahli berhasil mengidentifikasi. Peneliti mengklaim bahwa benda ini merupakan tiga gelang emas, satu perak, kalung perak, dua gelang perak, kotak kecil berisi empat cincin dan dua pasang anting-anting.

Koin ini diletakkan dalam sebuah tas kecil. Harta karun tersebut saat ini disimpan di laboratorium konservasi yang aman. Peneliti Colchester Archaeological Trust menduga harta karun ini ialah milik perempuan kaya asal Romawi, yang mengubur harta mereka selama kekacauan yang terjadi pada tahun 61 Masehi.

"Kami pikir kami menemukan koleksi perhiasan dari perempuan kaya Romawi yang tinggal di Colchester, yang terkubur di bawah lantai sebuah rumah yang kemudian terbakar habis selama Pemberontakan Boudican pada 61 Masehi," kata peneliti.

Kerangka Manusia dari Kuburan Abad 13

Ratusan kerangka dari kuburan abad pertengahan ditemukan di bawah bangunan Universitas Cambridge di Inggris.

Arkeolog mendapat kesempatan untuk menggali salah satu kuburan abad pertengahan terbesar yang berada di bawah Universitas Cambridge. kuburan itu tak sengaja ditemukan saat tengah dilakukan perbaikan di Old Divinity School di Universitas St. John (bagian dari Cambridge University).

Kerangka-kerangka tersebut diduga berasal dari abad pertengahan di sekira abad ke 13 hingga 15. Hal tersebut dipaparkan oleh Craig Cessford, seorang arkeolog di Cambridge University yang memimpin penggalian dan menerbitkan hasilnya dalam sebuah jurnal dalam edisi terbaru.

Tempat penguburan tersebut dulunya merupakan sebuah rumah sakit bernama St. John the Evangelist yang dibuka pada 1195 dan ditutup pada 1511. Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penduduk kota Cambridge mendirikan rumah sakit tersebut untuk merawat sarjana miskin atau orang celaka lainnya.

Beberapa kerangka yang berhasil ditemukan didiagnosa menderita penyakit serius atau cedera yang membutuhkan perhatian medis. Meski begitu, tak terbukti jika kernagka-kerangka yang terkubur di bawah Cambridge University tersebut merupakan korban wabah Black Death yang memuncak pada di Eropa 1348-1350, dan menewaskan sedikitnya 75 juta orang.

"Ini bisa mencerminkan bahwa peran utama rumah sakit adalah perawatan spiritual dan fisik dari perlakuan buruk dan lemah daripada medis dari sakit dan terluka," tulis Cessford dalam jurnal.

Kuburan yang berada di bawah Universitas Cambridge itu diperkirakan mencapai 1300-an makam dengan posisi masing-masing mayat dalam kondisi terlentang sejajar dengan arah timur-barat, tanpa menggunakan peti mati.

Kuil Kuno Berusia 3.000 Tahun

Arkeolog mengklaim menemukan kuil kuno berusia 3.000 tahun. Kuil yang ditemukan di wilayah Peru utara ini dipercaya sebagai pusat keagamaan tertua.

Situs bersejarah ini diyakini berasal dari budaya pra-Incan Chavin yang ditemukan oleh peneliti asal Peru di zona arkeologi Congona. Penggalian dilakukan selama sebulan yang melibatkan tim khusus dari Royal Tombs of Sipan Museum di Lambayeque.

"Kami berpikir bahwa itu adalah nubuat (ramalan) dari zaman Chavin dengan struktur bawah tanah, kandang dan ruang yang disediakan untuk para pendeta Chavin," kata arkeolog Walter Alva.

Situs yang dijuluki sebagai Oracle of Congona ini diyakini digunakan selama dua periode. Salah satu periodenya menunjukkan budaya Chavin yang pernah berjaya di Peru utara.

"Bagian tengah kuil adalah tempat dua monolit (bongkahan batu besar) yang menunjukkan budaya Chavin," tutur arkeolog. Alva mengungkapkan, arkeolog meneliti setiap lembah di wilayah situs untuk menentukan kebenaran bahwa kuil juga ditujukan untuk pemujaan air dan kesuburan.

Arkeolog setempat berharap bahwa situs ini bisa menjadi objek destinasi wisata daerah. Pekerjaan arkeologi dibiayai oleh sektor swasta dan masyarakat lokal.

Jamban Berusia 500 Tahun di Jerusalem

Sebuah jamban tua berusia 500 tahun ditemukan di kota Jerusalem, Israel. Dalam jamban tersebut ditemukan ribuan telur parasit manusia dan diduga sudah ada sejak tahun 1400-1500 Masehi.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Cambridge di Inggris mengungkap bahwa jamban tersebut ialah para pedagang, peziarah, serta orang-orang Eropa Utara. Parasit-parasit yang ditemukan dalam jamban tersebut juga merupakan jenis umum yang ditemukan dalam kotoran manusia.

"Sementara kita tidak akan pernah tahu pasti mengapa mereka membuat perjalanan ini, peziarah dan pedagang akan menjadi penjelasan yang masuk akal," kata peneliti senior studi tersebut, Piers Mitchell, yang juga merupakan dosen antropologi biologi di University of Cambridge di Inggris.

Sebelumnya pada 1996 para peneliti juga menemukan sebuah jamban di lingkungan penduduk yang mayoritas beragama Kristen di Jerusalam. Jamban tersebut dibangun dengan menggunakan batu, atap berkubah, lantai tanah dan dua saluran jamban di sisi berlawanan, diduga jamban tersebut dulunya dapat digunakan oleh dua orang sekaligus.

Selain mempelajari sisi arkeologi dari bangunan jamban tua tersebut, ilmuwan dari Cambridge University juga meneliti jenis-jenis parasit dalam kotoran manusia itu. Hasilnya, mereka menemukan enam jenis spesies parasit usus, yakni cacing gelang, cacing cambuk, cacing pita pada daging sapi/babi dan cacing pita ikan.

Berbagai cacing parasit yang diteliti oleh ilmuwan tersebut turut menunjukkan asal usul orang-orang yang menggunakan jamban kuno itu. Dugaan kuat orang-orang Eropa Utara, Arab, dan Suriah pedalaman yang aktif menggunakan jamban tersebut.

Di dalam kakus, para peneliti juga menemukan potongan-potongan tembikar Italia, memperkuat gagasan bahwa orang-orang di Eropa dan Yerusalem diperdagangkan satu sama lain selama akhir 1400-an. "Para peneliti tersebut melakukan pekerjaan yang sangat baik menggabungkan arkeologi dan parasitologi," kata Karl Reinhard, seorang profesor ilmu sumber daya alam di Universitas Nebraska, Lincoln.