Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 7, 2015

Tradisi Seks Paling Menjijikkan di Dunia

Tradisi Seks Paling Menjijikan di Dunia. Seks menjadi hal tidak ada habisnya untuk diulas, termasuk kebiasaan berhubungan dengan kelamin menyebar di muka bumi. Beberapa suku di pelbagai negara masih menjalankan tradisi mereka soal bagian sensitif ini namun sangat menjijikkan dan di luar nalar. Tradisi-tradisi ini ada yang telah menghilang namun masih ada saja melakukannya dengan alasan demi kelangsungan cara zaman leluhur.

Seperti apa tradisi berhubungan dengan seks paling menjijikkan di dunia? Berikut ulasan selengkapnya.

  • Yunani kuno mensahkan hubungan pedofilia dan homoseksual
    Jauh sebelum merebaknya pedofilia alias timbul gairah pada bocah lebih muda, dan gay atau percintaan sesama lelaki, Yunani kuno sudah mempraktekkan hubungan itu bahkan mendapat restu dari masyarakat. Di Ibu Kota AThena, percintaan antara lelaki dewasa dengan anak-anak berjenis kelamin sama merupakan tanda cinta terdalam dan hubungan itu berakhir jika si anak, biasa disebut eromenos, telah dewasa dengan tanda-tanda fisik terlihat seperti pertumbuhan kumis dan janggut.

    Lelaki dewasa biasa disebut erastes harus memberikan pendidikan, perlindungan, cinta, dan menyediakan kebutuhan pasangannya. Sementara Eromenos mempersembahkan keindahan, kemudaan, dan layanan cinta.
  • Masturbasi di depan publik zaman Mesir kuno
    Firaun Mesir zaman dulu mengenal tradisi masturbasi di hadapan orang banyak. Dia memuaskan dirinya sendiri hingga orgasme di Sungai Nil agar selalu berkah dan tidak pernah kering.

    Hal itu dia lakukan untuk menghormati Dewa Atum. Salah satu dewa memberi kepuasan pada seks. Selain itu masturbasi depan publik juga berlaku saat Festival Dewa Min menjadi simbol keampuhan daya bercinta Firaun dan ini masih sering dilakukan banyak lelaki Mesir.
  • Tradisi menculik istri orang di Nigeria
    Suku Wodaabe di Nigeria, bagian barat Afrika mengenal tradisi menculik istri sesama anggota suku itu. Syaratnya mereka telah menikah di usia sangat muda sebab perjodohan dan perempuan yang diculik harus istri dari saudara atau mempunyai garis keturunan sama.

    Di masa kini ritual itu menjadi sebuah festival bernama Gerewol. Para lelaki Wodaabe berpakaian adat dan memakai tata rias lalu berdansa untuk memikat perempuan.
  • Tradisi belah penis di suku Aborigin
    Bisa jadi para kaum adam negara lain bersyukur tidak lahir dari suku Aborigin Mardudjara, Australia. Tradisi suku ini cukup membuat bulu kuduk merinding bahkan bagi siapapun membacanya.

    Untuk menjadi lelaki sejati setiap bocah bakal dipotong kulit ujung kemaluannya atau sunat secara sadar dan setelahnya dia harus memakan kulit itu.

    Setelah bekas sunat mengering, kemaluan mereka dipotong memanjang hanya di bagian bawah mulai dari ujung penis hingga buah zakar. Darah yang menetes harus terbakar oleh api di bawahnya. Kemudian hari mereka bakal buang air kecil dari bagian bawah organ intim dan bukan lewat ureta atau saluran pembuangan.
  • Tradisi minum sperma di Papua Nugini
    Sebuah suku di wilayah Sambian, Papua Nugini, mempunyai cara menjijikkan untuk mengubah anak lelaki menjadi pejantan tangguh sesungguhnya.

    Sejak umur tujuh tahun para bocah hidup bersama 10 pria dewasa selama satu dekade. Kulit mereka pun ditusuk dan ditandai agar terbebas dari kontaminasi perempuan. Untuk alasan kaum hawa pula mereka dipaksa memakan tanaman mengandung gula tinggi menyebabkan mimisan dan muntah darah.

    Sebagai puncaknya mereka meminum sperma orang paling tua di kelompok itu dipercaya baik untuk pertumbuhan dan kekuatan. Setelahnya mereka dilepas kembali ke masyarakat.

Hetairai, Pelacur Athena

Selain cantik, mereka harus berpengetahuan luas dan mahir bermain musik. Mereka menjadi teman para pembesar Athena, SOCRATES, filsuf ternama asal Athena, Yunani, memilih mati minum racun ketimbang hidup mengingkari kebenaran. Pengadilan mendakwanya menyebarkan ajaran yang merusak generasi muda. Sebelum mati, masa hidupnya (470 SM-399) sebagian besar dihabiskan untuk bertanya kepada orang-orang untuk membantu orang lain memperoleh wawasan dan pengetahuan yang benar dengan mencari dan mendapatkannya sendiri. Karenanya metode filsafatnya disebut seni kebidanan (maieutika). Dari kesenangannya bertanya-tanya, dia tak disukai sebagian orang, tapi punya banyak kawan. Salah satu kawan akrabnya, Theodote, seorang hetairai atau pelacur kelas atas masa peradaban Yunani Kuno.

Peradaban Yunani Kuno sering disebut sebagai sumber renaissans (kelahiran kembali) di Eropa Barat pada abad ke-15. Kala itu, buah pikir filsuf Yunani Kuno yang mempengaruhi bidang seni, bahasa, sastra, politik, pendidikan, dan ilmu kembali digali. Peradaban Yunani Kuno sendiri merentang waktu hampir sepuluh abad, sejak 8 SM sampai 4 M. Rentang waktu itu terbagi atas masa arkais (750-500 SM), masa klasik (500-323 SM), masa helenistik (323-146 SM), dan masa akhir antikuitas (146 SM-4 M). Negara-kota Athena menjadi pusat tumbuh-kembangnya peradaban negeri ini.

Peradaban ini, selain melahirkan sejumlah ahli pikir, juga memunculkan hetairai. Berbeda dari perempuan Athena umumnya, hetairai menduduki posisi lebih tinggi dalam masyarakat. Para negarawan dan filsuf menghargai mereka.

Perempuan tak punya banyak peran dalam masyarakat Athena. Mereka juga mendapat pembatasan. Mereka tak boleh menjadi pejabat pemerintahan lokal. Membaca dan menulis tak menjadi kewajiban mereka. Sekolah tak mau menerima mereka sampai masa Helenistik. Bersama para budak dan orang asing, perempuan Athena tak punya pengaruh atau hak-hak sipil. Singkatnya, "Menjadi perempuan pada masa Athena Kuno sangat tak menyenangkan," tulis Jørgen Christian Meyer, guru besar Departemen Arkeologi, Sejarah, Kajian Budaya, dan Agama pada Universitas Bergen, Norwegia dalam makalahnya, "Women in Classical Athens."

Seorang perempuan mesti menjadi hetairai jika menginginkan posisi yang lebih tinggi. Menurut Nikolaos A. Vrissimtzis dalam bukunya Erotisme Yunani, "peran perempuan memang direndahkan, tapi kita juga tak bisa berpikir bahwa posisi mereka tak dihargai." Karena itu, beberapa perempuan, terutama imigran dan budak, berupaya menjadi hetairai di Athena.

Pemerintah Athena tak melarang prostitusi. Hal yang sama terjadi pada wilayah Yunani lainnya. Bahkan seorang negarawan, Solon (638 SM-558 SM), menjadi salah satu germo pertama di Athena. Dia membuka rumah bordil. Pelacur rendahan dari berbagai kota di Yunani tersedia di sana, sebab perempuan Athena dilarang menjadi pelacur. Dari rumah bordil itu mereka bisa menapaki karier sebagai hetairai.

Sebutan hetairai kali pertama tersua dalam Histories karya Herodotus (484 SM-425 SM), sejarawan Yunani Kuno. "Sebutan itu ditujukan untuk Rhodopis (569 SM-526 SM), seorang perempuan asal Thrace (Turki) yang pindah ke Naukratis (Mesir), koloni Yunani Kuno," tulis Rebekah Witheley dalam "Courtesans and Kings: Ancient Greek Perspectives on the Hetairai" tesis pada Universitas Calgary, Kanada. Rhodopis dinilai sebagai hetairai pertama dan terkenal di kalangan pembesar Naukratis.

Untuk menjadi hetairai, seorang perempuan tak cukup hanya cantik. Dia mesti meluaskan pengetahuan mengenai bahasa (puisi), filsafat, dan politik. Dia bisa memperolehnya dari pergaulan dengan tetamunya. Keahlian bermain alat musik seperti flute, tamborin, kastanet, dan lyre juga sangat dibutuhkan. Selain itu, mereka harus mahir menari. Inilah yang membedakan hetairai dengan pelacur rendahan dan selir. Berbekal kemampuan itu, mereka melayani tetamu laki-laki dalam symposia, acara minum anggur dan diskusi khusus lelaki yang diakhiri bercinta dengan hetairai. Aktivitas percintaan mereka dapat dilihat pada guci-guci kuno Yunani.   

Hetairai mencapai popularitas pada masa klasik. "Masa ini dinilai banyak sarjana sebagai zaman keemasan Haeterai. Kebanyakan berasal dari luar Athena, namun hidup bersama lelaki Athena," tulis Rebekah. Beberapa tokoh penting Athena seperti Pericles (orator dan negarawan), Praxiteles (seniman patung), dan Epicurus (filsuf) mempunyai hetairai masing-masing. Yang terkenal adalah Aspasia, milik Pericles. "Socrates sangat memuji kemampuan bicaranya," tulis Nikolaos. Tapi, hubungannya dengan Pericles menjadi gunjingan banyak orang. Sebab, Aspasia bukan orang Athena, sedangkan Pericles adalah pembesar Athena.

Hidup hetairai dilimpahi kemewahan dan keistimewaan. Dengan bayaran mahal mereka memiliki rumah dan budak sendiri. Ini melanggar aturan umum masyarakat Athena yang tak membolehkan perempuan memiliki rumah dan budak. Anak-anak mereka juga mewarisi hak-hak istimewa sang ibu. Meski statusnya bukan sebagai warga Athena, anak-anak itu dapat menduduki posisi sebagai jenderal atau anggota senat. Padahal, aturan tak memperkenankan anak hasil hubungan lelaki Athena dengan perempuan luar Athena memperoleh hak-hak politik.

Sebenarnya, hetairai tak menghendaki kehamilan dari hubungan dengan tetamu. Karenanya mereka berhati-hati dalam berhubungan intim. Beberapa cara seperti sanggama terputus, membaca mantera-mantera, meminum ramuan tertentu, dan memakan telur gagak diterapkan. Tapi, karena banyak dari mereka menjadi selir, kehamilan tak terhindarkan. Bagi masyarakat Athena, selir memiliki fungsi sebagai penghasil keturunan atas persetujuan istri sah. Lelaki Athena memelihara selir karena istrinya mandul atau hanya melahirkan anak perempuan.

Hetairai masih ditemukan hingga masa akhir Antikuitas meski popularitasnya menurun. Bahkan, menyebar hingga luar Athena seperti di Corinth, 78 km barat daya Athena. Di kota ini, para hetairai membangun kuil megah dan luas untuk dipersembahkan kepada Aphrodite –dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Namun, kuil ini merupakan peninggalan terakhir hetairai. Memasuki abad ke-4 M, Kristen muncul. Peradaban Romawi perlahan terbit dan Yunani Kuno mulai tenggelam. Hetairai dianggap kotor. Dan lambat-laun namanya menghilang meski profesinya tak pernah ditinggalkan.

Kehidupan Seks di Romawi Kuno



Kehidupan seksual orang Romawi kuno banyak mengadopsi cara orang Yunani. Gaya berhubungan seks paling dasar orang Romawi kuno adalah sang pria mendominasi, sedangkan sang wanita menyerah pasrah. Orang Romawi kuno juga senang mencari dan membeli segala bentuk kesenangan seksual.

Akan ada masalah besar jika melibatkan pria Romawi, yaitu bila menjalin hubungan seksual dengan keturunan kerajaan atau berhubungan seksual dengan istri atau anak perempuan maupun anak laki-laki dari keluarga terpandang di Roma, selain itu bukan menjadi masalah untuk melakukan seks.

Pria Roma juga memperlakukan budak sebagai objek seksual. Bagi mereka, seorang budak tidak lebih dari sekedar property yang dapat mereka gunakan sesukanya. Hal ini berlaku bagi budak pria maupun wanita.

Reformasi moralitas terjadi ketika Kaisar Agustus dimahkotai sebagai seorang Kaisar pada tahun 27 sebelum masehi. Pada masa pemerintahannya membatasi eksploitasi seks dalam permainan politik pemerintahannya.

Dalam 40 tahun masa perang saudara Kaisar Agustus membersihkan rumah-rumah bordil. Dan juga menyalahkan 50 tahun pemerintahan sebelumnya yang tak bermoral. Kemudian membuat peraturan bahwa tindakan penyelewengan seks adalah bentuk kriminalitas.

Peraturan moral ini sangat membatasi libido pria Roma waktu itu. Angka penyelewengan menurun drastis, angka kelahiran yang terkontrol, menjamin kelangsungan pemerintahan roma yang lebih baik untuk masa mendatang. Apakah semuanya berjalan dengan baik ? Ternyata tidak. Hal ini menimbulkan masalah lainnya. Yaitu angka perceraian naik drastis, sedangan angka kelahiran menurun tajam. Pria Roma menjadi enggan berkeluarga dan mereka tidak mempunyai anak.

Melihat fenomena ini akan membawa Roma ke gerbang kehancuran, Kaisar Agustus memperkenalkan suatu program baru tentang nilai-nilai keluarga. Kaisir Agustus melakukan pemaksaan kasar namun tampak halus, yaitu dengan memanfaatkan pajak.

Bagi mereka yang memutuskan berkeluarga dan mempunyai anak akan mendapat keringanan pajak. Namun program reformasi moralitas ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, pria Roma tetap mengikuti pola lama mereka, hidup membujang dan enggan berkeluarga.

Kebebasan berhubungan seks telah mendarah daging di dalam tubuh pria roma dan tidak terkecuali wanita roma. Wanita roma, terutama wanita dari kedudukan terpandang, adalah wanita yang tidak malu melakukan penyelewangan seksual demi mendapat kepuasan. Tercatat dalam sejarah seorang wanita roma pernah memiliki delapan suami dalam 5 musim dingin.

Hal yang sama juga terjadi pada anak perempuan Kaisar Agustus sendiri. Julia putri Kaisar Agustus, meski telah bersuami dan mempunyai banyak anak, sering berganti pasangan tidur dengan kekasih-kekasih gelapnya. Namun, satu hal yang mengagetkan masyarakat roma adalah semua anak-anaknya mirip dengan suaminya dan tak satupun yang mirip dengan selingkuhannya. Apa rahasianya? Ternyata dalam pengakuan Julia, dia selalu memastikan dirinya hamil dulu dengan suaminya sebelum tidur dengan pria lainnya, sebuah ide yang cemerlang.

Seiring dengan berjalannya waktu, seks kembali popular di Roma di abad pertama dan kedua setelah masehi, dan ekonomi Roma kembali membaik. Namun pada abad ketiga, kekaisaran Romawi mulai terguncang oleh invasi kaum barbar.

Pada masa ini, Kaisar Konstantin, kaisar yang memerintah mulai menyelaraskan diri dengan gereja kristiani yang mulai menyebar. Kaum roma melihat bahwa kekaisaran mereka semakin mengalami kemunduran. Ajaran kristiani sedikit banyak mempengaruhi pola pikir kekaisaran Roma dari prospek di dunia ini, dengan prospek didunia mendatang. Akhirnya, kekaisan Romawi tumbang pada tahun 410 sesudah masehi.

Di era yang sama, Jerome dan Degustan meletakan pondasi dasar bagi gereja kriastiani dalam melihat seks dan seksualitas dalam kehidupan manusia. Santo Degustan, sewaktu muda juga seperti pria roma pada umumnya, menikmati kebebasan seks dalam kehidupannya. Namun setelah dia menerima kristen dalam hidupnya, cara pandangnya terhadap seks menjadi berubah.

Pondasi dasar yang diletakkan tentang ajaran seks yang selaras dengan kristiani secara perlahan-lahan dapat diterima di dunia barat, sementara kebebasan seksual dari para leluhur perlahan-lahan memudar ke masa lampau.

Beberapa ribuan tahun kemudian, kehibupan manusia menjadi semakin beradab. Tidak ada lagi perbudakan sex dan masalah sex semakin terkunci rapat diseluruh belahan bumi ini namun pasa suatu saat nanti, terjadi titik balik yang sangat dashyat, tentang perkembangan industrialisasi sex.

Seks Pada Zaman Mesir Kuno

Bangsa Mesir kuno terkenal akan keterbukaannya dalam membicarakan seks. Pada zaman itu, seks sama sekali bukan hal yang tabu, melainkan suatu hal yang patut dibanggakan dan dipuja. Mitologi Mesir kuno bahkan dipenuhi dengan cerita-cerita hubungan percintaan, inses, perzinahan, masturbasi, bahkan homoseksual. Bagi masyarakat Mesir kuno, seks adalah bagian penting dalam hidup, sejak lahir hingga kehidupan sesudah mati.

1. Pernikahan inses

Pernikahan inses menjadi hal yang wajar dalam masyarakat Mesir kuno. Hal ini disebabkan karena digunakannya garis matriarki dalam penentuan pewaris harta dan tahta. Status laki-laki ditentukan dari istrinya. Maka ketika seorang istri meninggal, suaminya tidak lagi berhak atas harta dan jabatan yang ia sandang. Selanjutnya, semua warisan akan jatuh kepada pewaris yang biasanya adalah anak perempuan atau cucu perempuan. Untuk mempertahankan harta, seorang lelaki bisa menikahi anak atau bahkan cucu perempuannya sendiri.

2. Seks bebas untuk wanita lajang

Wanita sangat dihargai dalam masyarakat Mesir kuno. Wanita, terutama yang sudah memiliki anak akan sangat dihormati. Kecantikan wanita bahkan diukur dari kesuburannya, dari anak-anak yang ia lahirkan. Meskipun demikian, wanita yang berzinah akan mendapat hukuman seberat-beratnya dari masyarakat. Akan tetapi kebalikannya, wanita lajang berhak melakukan seks bebas dengan siapa pun yang ia inginkan.

3. Necrophilia

Praktek necrophilia atau bercinta dengan mayat tampaknya sudah banyak dilakukan pada zaman Mesir kuno. Buktinya, sejarah mencatat bahwa laki-laki yang istrinya meninggal tidak langsung mengirimkan mayat sang istri kepada para pembalsem. Tetapi ia akan membiarkannya membusuk di rumah. Para suami ini takut bila mayat istrinya dijadikan obyek seksual oleh para pembalsem.

Sisa Istana Herodes di Yerusalem

Arkeolog mengklaim menemukan sisa-sisa istana Raja Herodes di Yerusalem, dan tempat Yesus Kristus diadili.
Sisa-sisa istana ditemukan setelah penggalian sebuah bangunan tua di dekat Museum Menara Daud, seperti dijelaskan dalam Perjanjian Baru.

Para sarjana mengatakan persidangan berlangsung di kompleks istana Raja Herodes, yang diduga berada di sisi barat kota tepat di bawah museum dan penjara era Ottoman.
Pengadilan berlangsung dekat gerbang dan di trotoir batu. Ini sesuai dengan temuan arkeologi sebelumnya. "Tentu saja tidak ada tulisan yang menyatakan persidangan itu terjadi di sini," ujar Shimon Gibson, profesor arkeologi Universitas North Carolina, di Charlotte, AS.



"Namun, catatan sejarah dan Injil membuat klaim para pakara bahwa di tempat ini Yesus diadili sangat masuk akal," lanjutnya. Temuan ini dipastikan akan mengubah rute mapan peziarah Kristen. Tapi bukan tidak mungkin para peziarah menolak mengubah rute ziarah mereka, terlebih bagi mereka yang berkali-kali melakukannya.

Museum Menara Daud dijadwalkan akan menyusun rencana tur keliling, untuk menemukan daya tarik standar bagi umat Kristen di masa depan.
Penggilan situs istana Raja Herodes dimulai 15 tahun lalu, sebagai bagian rencana memperluas museum. Arkeolog telah lama yakin istana sang raja berada di bawah penjara.