Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 9, 2014

Runtuhnya Kerajaan Asyur,

Sejarah kehancuran peradaban terdahulu tidak hanya disebabkan perang sipil, konflik internal dan eksternal pemerintahan, kerusuhan politik, tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor iklim dan pertumbuhan penduduk. Asiria, atau Asyur merupakan kerajaan yang berpusat disekitar hulu sungai Tigris, Mesopotamia, wilayah Irak. Kerajaan Asyur merupakan salah satu contoh peradaban yang mengalami kehancuran karena ledakan penduduk dan kekeringan.

Salah satu analisis yang diungkapkan Adam Schneider dari Universitas California-San Diego, Amerika Serikat, dan Selim Adali dari Research Center for Anatolian Civilizations di Turki, bahwa kerajaan Asyur yang pernah berdiri di Irak Utara telah mengalami perluasan wilayah secara terus menerus, ledakan penduduk tak terkendali. Makalah ini diterbitkan dalam jurnal Springer, Climatic Change, edisi November 2014.

Runtuhnya Kerajaan Asyur

Asiria, atau Asyur merupakan kerajaan yang berpusat disekitar hulu sungai Tigris, Mesopotamia, wilayah Irak. Pada masa Asiria kuno yang berkembang pada abad ke-20 hingga ke-15 SM, orang-orang Asyur menguasai sebagian besar Mesopotamia Hulu dan sebagian wilayah Asia Kecil. Periode Asiria Pertengahan terjadi pada abad ke-15 hingga ke-10 SM, saat ini pengaruh kerajaan memudar dan bangkit kembali melalui berbagai penaklukan.



Kerajaan Asyur pada zaman besi awal sekitar 911 – 612 SM telah meluas kebeberapa wilayah. Perluasan ini dibawah kepemimpinan Ashurbanipal yang memimpin sekitar tahun 668 – 627 SM, selama beberapa dekade kerajaan Asyur menguasai seluruh wilayah Bulan Sabit Subur hingga akhirnya kalah yang disebabkan perluasan kekuasaan Kerajaan Neo-Babilonia dan Median.

Asyur merupakan nama asli sebuah kota kuno kerajaan Asiria yang mulai berdiri sejak tahun 2600 SM. Wilayah ini merupakan salah satu kota awal yang pernah berdiri, termasuk juga kota Akkadia di Mesopotamia. Pada tahun 2334 sampai 2154 SM, Raja Asiria tunduk pada Sargon dari Akkadia, yang menyatukan semua bangsa Semit Akkadia dan masyarakat Sumeria berbahasa Mesopotamia dibawah Kekaisaran Akkadia. Setelah jatuhnya Kekaisaran Akkadia tahun 2154 SM, Dinasti Uruk Sumeria Ketiga memerintah Asyur Selatan tapi tidak berlangsung lama, sehingga kerajaan Asyur merdeka kembali.

Pada abad ke-9 SM, kerajaan Asyur Irak utara mulai memperluas ke sebagian besar wilayah Near East kuno. Kerajaan Asyur mencapai puncak kejayaan pada awal abad ke-7 SM, mereka termasuk kerajaan terbesar di Near East. Penurunan kejayaan kekaisaran Asyur dimulai pada akhir abad ke-7, hal ini membuat sejarawan bingung menanggapi penyebab kemunduran kerajaan. Sebagian sarjanawan menganggap kemunduran itu disebabkan perang saudara, kerusuhan politik, dan penghancuran ibu kota Asyur, Niniwe, yang dilakukan koalisi Babilonia dan pasukan Median pada tahun 612 SM.

Walaupun berbagai hipotesis dicetuskan sejarawan, kehancuran kerajaan Asyur tetap menjadi misteri, mengapa sebuah negara adidaya militer di zamannya jatuh secara tiba-tiba dan begitu cepat. Menurut Schneider dan Adali, faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk dan kekeringan juga memberi kontribusi terhadap runtuhnya kerajaan Asyur. Data analisis paleoklimatik menunjukkan bahwa kondisi sekitar Near East menjadi lebih kering selama paruh kedua abad ke-7 SM.

Selama ini, wilayah Near East juga mengalami pertumbuhan penduduk yang signifikan ketika masyarakat sekitar kerajaan Asyur ditaklukkan secara paksa dan dipindahkan. Tentunya hal ini secara substansial mengurangi kemampuan kerajaan dalam menghadapi kekeringan parah seperti yang yang melanda wilayah Near East pada tahun 657 SM. Kedua sarjanawan juga berpendapat bahwa dalam lima tahun masa kekeringan, stabilitas politik dan ekonomi dari kerajaan Asyur telah terkikis sehingga serangkaian perang sipil yang fatal telah melemahkan kekuatan militer.

Faktor-faktor demografi dan iklim tentunya memainkan peran secara tidak langsung, secara signifikan telah meruntuhkan Kerajaan Asyur. Schneider dan Adali menganalisa kesejajaran antara runtuhnya Kerajaan Asyur dan beberapa konsekuensi ekonomi dan politik dari perubahan iklim didaerah yang sama saat ini. Kekeringan parah diikuti kerusuhan, kekerasan, yang terjadi di Suriah dan Irak selama akhir abad ke-7 SM. Kemiripan ini sangat mencolok dengan kekeringan parah dan konflik politik kontemporer berikutnya di Suriah dan Irak Utara saat ini.

Pada skala yang lebih global mereka menyimpulkan, bahwa masyarakat modern bisa menggaris bawahi apa yang terjadi ketika kebijakan ekonomi dan politik jangka pendek lebih diprioritaskan, daripada orang-orang yang mendukung ketahanan ekonomi jangka panjang dan pengurangan risikonya. Kerajaan Asyur berkembang sampai batas tertentu untuk memfokuskan tujuan ekonomi atau politik jangka pendek. Hal ini meningkatkan risiko kerajaan Asyur mengalami dampak negatif perubahan iklim, mengingat kapasitas teknologi dan tingkat pemahaman ilmiah tentang alam.

Suku Khoisa 150 Ribu Tahun Tertua Di Dunia

Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU Singapore) dan Penn State University AS telah berhasil menemukan salah satu garis keturunan tertua pada manusia modern melalui urutan gen Khoisa. Khoisa adalah nama pemersatu bagi dua kelompok masyarakat Afrika Selatan, populasi ini memiliki karakteristik linguistik fisik dan diduga berbeda dari budaya Bantu.

Menurut Profesor Stephan Christoph Schuster, temuan ini merupakan yang pertama kalinya menyebutkan tentang sejarah populasi manusia dianalisis dan disesuaikan dengan kondisi iklim bumi selama 200,000 tahun terakhir. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications edisi 4 Desember 2014. Proyek ini melibatkan enam peneliti NTU dan Penn State University. Lembaga lain yang berpartisipasi termasuk Ohio State University dan Sao Paulo State University, Brasil. Prof Schuster akan terus berupaya mencari dan menemukan lebih banyak genetik non-campuran yang berada diwilayah lain, seperti di Amerika Selatan dan Asia Selatan (termasuk Indonesia) dimana suku terasing masih ada.

Genom Tertua Suku Khoisa, Afrika Selatan

Khoisa berasal dari dua kata yaitu pencari makan yang disebut San, atau manusia semak belukar, dan Khoi pastoral dikenal sebagai Hottentots. San termasuk penduduk asli Afrika Selatan sebelum migrasi Bantu selatan dari Afrika Tengah dan Timur mencapai wilayah mereka. Beberapa Khoi ditinggalkan pastoralism dan mengadopsi ekonomi pemburu-pengumpul dari San, mungkin karena iklim kering. Demikian pula, orang-orang Bantu Damara yang bermigrasi ke selatan kemudian meninggalkan pertanian dan mengadopsi ekonomi Khoi. Populasi Khoisa tetap berada didaerah kering, terutama di Gurun Kalahari.

Dalam studi sebelumnya, genom suku Khoisa telah dianalisis oleh tim yang sama pada tahun 2010. Studi baru kali ini menghasilkan urutan genom lengkap berkualitas tinggi yang memungkinkan analisis campuran dan sejarah populasi. Genom Afrika Selatan berkualitas tinggi memungkinkan penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah populasi dan cabangnya.



Para ilmuwan mengurutkan genom yang diambil dari lima orang suku pemburu-pengumpul yang hidup di Afrika Selatan, dan membandingkannya dengan 420,000 varian genetik pada 1462 genom yang diperoleh dari 48 kelompok etnis global. Dengan menggunakan analisis perhitungan canggih, tim ilmuwan menemukan bahwa suku Khoisa di Afrika Selatan secara genetik berbeda, tidak hanya dari Eropa dan Asia, tetapi juga dari semua orang Afrika lainnya.

Para ahli genetik juga menemukan keberadaan individu suku Khoisa dimana nenek moyang mereka tidak kawin silang dengan salah satu kelompok etnis lain selama 150,000 tahun terakhir. Khoisa merupakan kelompok mayoritas yang hidup pada periode waktu sekitar 20,000 tahun yang lalu. Analisis ini menggunakan pengurutan genetik guna mengungkap garis keturunan leluhur dari setiap kelompok etnis, bahkan hingga 200,000 tahun yang lalu. Jika ditemukan individu non campuran seperti kasus Khoisa, hal ini akan menunjukkan bukti terjadinya perubahan genetik penting bagi keturunan nenek moyang mereka, karena kawin silang atau migrasi terjadi selama berabad-abad.

Kelompok Khoisa, kaum pemburu dan pengumpul di Afrika Selatan selalu menganggap dirinya sebagai orang tertua. Studi ini membuktikan bahwa mereka termasuk salah satu yang paling kuno dalam garis keturunan manusia. Dan urutan genom berkualitas tinggi akan membantu ilmuwan lebih memahami sejarah populasi manusia. Data baru yang dikumpulkan memungkinkan ilmuwan lebih memahami bagaimana genom manusia berkembang dan menciptakan pengobatan yang lebih efektif untuk penyakit genetik tertentu.

Dari lima suku yang merupakan anggota tertua dari suku Ju/'hoansi dan suku-suku lain yang tinggal di kawasan laut Namibia, dua orang memiliki genom yang tidak tercampur dengan kelompok etnis lain. Suku Ju/'hoansi terkenal sejak adanya film 'The Gods Must Be Crazy' di tahun 80-an dan 90-an. Menurut Dr Lim Kim Hie, bahwa kelompok ini tampaknya tidak kawin dengan suku tetangga non-Khoisa selama ribuan tahun. Karena orang-orang Khoisa dan manusia modern hidup bersama nenek moyang mereka sekitar 150,000 tahun yang lalu.

Dalam budaya dan tradisi suku Khoisa, perkawinan silang terjadi sangat lama diantara kelompok Khoisa atau hasil perkawinan perempuan yang meninggalkan suku mereka setelah menikah dengan pria non-Khoisa. Bahkan setelah 150,000 tahun, individu tunggal non-campuran atau keturunan mereka yang tidak kawin silang dengan populasi terpisah dapat teridentifikasi dalam populasi Ju/'hoansi.

Dec 4, 2014

Penetapan 25 Desember Hari NATAL

Sesungguhnya, tidak seorang pun tahu kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan ke dalam dunia ini. Tidak ada suatu Akta Kelahiran zaman kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan dia dilahirkan. Tidak ada seorang saksi hidup yang bisa ditanyai.

Berlainan dari tuturan kisah-kisah kelahiran Yesus yang dapat dibaca dalam pasal-pasal permulaan Injil Matius dan Injil Lukas, sebetulnya pada waktu Yesus dilahirkan, bukan di Betlehem, tetapi di Nazaret, tidak banyak orang menaruh perhatian pada peristiwa ini. Paling banyak, ya selain ayah dan ibunya, beberapa tetangganya juga ikut sedikit disibukkan oleh kelahirannya ini, di sebuah kampung kecil di provinsi Galilea, kampung Nazaret yang tidak penting.

Baru ketika Yesus sesudah kematiannya diangkat menjadi sang Mesias Kristen agung oleh gereja perdana, atau sudah dipuja dan disembah sebagai sang Anak Allah, Raja Yahudi, dan Juruselamat, disusunlah kisah-kisah kelahirannya sebagai kelahiran seorang besar yang luar biasa, seperti kita dapat baca dalam pasal-pasal awal Injil Matius dan Injil Lukas (keduanya ditulis sekitar tahun 80-85 M). Penulis Injil Kristen tertua intrakanonik, yakni Injil Markus (ditulis tahun 70 M), sama sekali tidak memandang penting untuk menyusun sebuah kisah kelahiran Yesus.

Dalam tuturan penulis Injil Lukas, kelahiran Yesus diwartakan sebagai kelahiran seorang tokoh Yahudi yang menjadi pesaing Kaisar Agustus, yang sama ilahi dan sama berkuasanya, yang kelahiran keduanya ke dalam dunia merupakan "kabar baik" (euaggelion) untuk seluruh bangsa karena keduanya adalah "Juruselamat" (sōtēr) dunia (bdk Lukas 2:10,11 dan prasasti dekrit Majelis Provinsi Asia tentang Kaisar Agustus yang dikeluarkan tahun 9 M). Dalam tuturan penulis Injil Matius, kanak-kanak Yesus yang telah dilahirkan, yang diberitakan sebagai kelahiran seorang Raja Yahudi, telah menimbulkan kepanikan pada Raja Herodes Agung yang mendorongnya untuk memerintahkan pembunuhan semua anak di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah (Matius 2:2, 3, 16).

Dalam kisah-kisah kelahiran Yesus dalam kedua injil inipun, bahkan dalam seluruh Perjanjian Baru, tidak ada suatu catatan historis apapun yang menyatakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Jika demikian, bagaimana tanggal 25 Desember bisa ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus, hari Natal? Dalam kebudayaan kuno Yahudi-Kristen dan Yunani-Romawi, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan hari kelahiran Yesus.

Cara pertama

Seperti dicatat dalam dokumen Yahudi Rosh Hashana (dari abad kedua), sudah merupakan suatu kelaziman di kalangan Yahudi kuno untuk menyamakan hari kematian dan hari kelahiran bapak-bapak leluhur Israel. Dengan sedikit dimodifikasi, praktek semacam ini diikuti oleh orang-orang Kristen perdana ketika mereka mau menetapkan kapan Yesus Kristus dilahirkan. Sebetulnya, praktek semacam ini berlaku hampir universal dalam orang menetapkan hari kelahiran tokoh-tokoh besar dunia yang berasal dari zaman kuno. Dalam kepercayaan para penganut Buddhisme, misalnya, hari kelahiran, hari pencapaian pencerahan (samma sambuddha) dan hari kematian (parinibbana) Siddharta Gautama sang Buddha dipandang dan ditetapkan (pada tahun 1950 di Sri Langka) terjadi pada hari yang sama, yakni Hari Waisak atau Hari Trisuci Waisak.

Ketika orang-orang Kristen perdana membaca dan menafsirkan Keluaran 34:26b (bunyinya, "Janganlah engkau memasak anak kambing dalam susu induknya"), mereka menerapkannya pada Yesus Kristus. "Memasak anak kambing" ditafsirkan oleh mereka sebagai saat orang Yahudi membunuh Yesus; sedangkan frasa "dalam susu induknya" ditafsirkan sebagai hari pembenihan atau konsepsi Yesus dalam rahim Bunda Maria. Dengan demikian, teks Keluaran ini, setelah ditafsirkan secara alegoris, menjadi sebuah landasan skriptural untuk menetapkan bahwa hari kematian Yesus sama dengan hari pembenihan janin Yesus dalam kandungan ibunya, sekaligus juga untuk menuduh orang Yahudi telah bersalah melanggar firman Allah dalam teks Keluaran ini ketika mereka membunuh Yesus.

Kalau kapan persisnya hari kelahiran Yesus tidak diketahui siapapun, hari kematiannya bisa ditentukan dengan cukup pasti, yakni 14 Nisan dalam penanggalan Yahudi kuno, dan ini berarti 25 Maret dalam kalender Gregorian. Sejumlah bapak gereja, seperti Klemen dari Aleksandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, dan juga sebuah catatan dalam dokumen Acta Pilatus, menyatakan bahwa hari kematian Yesus jatuh pada tanggal 25 Maret. Demikian juga, Sextus Julianus Afrikanus (dalam karyanya Khronografai, terbit tahun 221), dan Santo Agustinus (menulis antara tahun 399 sampai 419), menetapkan 25 Maret sebagai hari kematian Yesus. Dengan demikian, hari pembenihan janin Yesus dalam rahim Maria juga jatuh juga pada 25 Maret.

Kalau 9 bulan ditambahkan pada hari konsepsi Yesus ini, maka hari kelahiran Yesus adalah 25 Desember. Sebuah traktat yang mendaftarkan perayaan-perayaan besar keagamaan, yang ditulis di Afrika dalam bahasa Latin pada tahun 243, berjudul De Pascha Computus, menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Hippolytus, dalam Tafsiran atas Daniel 4:23 (ditulis sekitar tahun 202), menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Sebuah karya yang ditulis dengan tangan, dalam bahasa Latin, pada tahun 354 di kota Roma, yang berjudul Khronografi, juga menyebut 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Meskipun banyak dokumen dari abad ketiga sampai abad keempat menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, tidak semua orang pada waktu itu menyetujui adanya perayaan hari Natal. Origenes, teolog Kristen dari Aleksandria, misalnya, dalam karyanya Homili atas Kitab Imamat, menyatakan bahwa "hanya orang-orang berdosa seperti Firaun dan Raja Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka." Begitu juga, seorang penulis Kristen bernama Arnobus pada tahun 303 memperolok gagasan untuk merayakan hari kelahiran dewa-dewi.

Pada sisi lain, kalangan Montanus menolak kalau kematian Yesus jatuh pada 25 Maret; bagi mereka Yesus wafat pada 6 April. Dengan demikian 6 April juga hari konsepsi Yesus dalam kandungan Maria, ibunya. Kalau setelah 6 April ditambahkan 9 bulan, maka hari kelahiran Yesus jatuh pada 6 Januari. Di kalangan Gereja Timur (yang berbahasa Yunani), berbeda dari Gereja Barat (yang berbahasa Latin), hari Natal tidak dirayakan pada 25 Desember, tetapi pada 6 Januari.

Cara kedua

Sebelum kekristenan lahir dan tersebar di seantero kekaisaran Romawi dan kemudian dijadikan satu-satunya agama resmi (religio licita) kekaisaran melalui dekrit Kaisar Theodosius pada tahun 381, orang Romawi melakukan penyembahan kepada Matahari (= heliolatri).

Dalam heliolatri ini, Dewa Matahari atau Sol menempati kedudukan tertinggi dan ke dalam diri Dewa Sol ini terserap dewa-dewa lainnya yang juga disembah oleh banyak penduduk kekaisaran, antara lain Dewa Apollo (dewa terang), Dewa Elah-Gabal (dewa matahari Syria) dan Dewa Mithras (dewa perang bangsa Persia).

Heliolatri, yakni pemujaan dan penyembahan kepada Dewa Sol sebagai Dewa Tertinggi, menjadi sebuah payung politik-keagamaan untuk mempersatukan seluruh kawasan kekaisaran Romawi yang sangat luas, dengan penduduk besar yang menganut berbagai macam agama dan mempercayai banyak dewa.

Pada tahun 274 oleh Kaisar Aurelianus Dewa Sol ditetapkan secara resmi sebagai Pelindung Ilahi satu-satunya atas seluruh kekaisaran dan atas diri sang Kaisar sendiri dan sebagai Kepala Panteon Negara Roma. Menyembah Dewa Sol sebagai pusat keilahian berarti menyentralisasi kekuasaan politik pada diri sang Kaisar Romawi yang dipandang dan dipuja sebagai titisan atau personifikasi Dewa Sol sendiri.

Dalam heliolatri ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari perayaan religius utama untuk memuja Dewa Sol, hari perayaan yang harus dirayakan di seluruh kekaisaran Romawi. Ketika winter solstice, saat musim dingin ketika matahari (Latin: sol) tampak "diam tak bergeming" (Latin: sistere) di titik terendah di kaki langit Eropa sejak tanggal 21 Desember, persis pada tanggal 25 Desember matahari mulai sedikit terangkat dari kaki langit dan mulai sedikit demi sedikit beranjak naik ke atas, seolah sang Sol ini hidup atau lahir kembali. Peristiwa astronomikal ini ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol tak terkalahkan, bangkit dari kematian, yang dalam bahasa Latinnya disebut sebagai Sol Invictus (=Matahari Tak Terkalahkan). Dengan demikian, tanggal 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan, Dies Natalis Solis Invicti. Karena Kaisar dipercaya sebagai suatu personifikasi Dewa Sol, maka sang Kaisar Romawi pun menjadi Sang Kaisar atau Sang Penguasa Tak Terkalahkan, Invicto Imperatori, seperti diklaim antara lain oleh Kaisar Septemius Severus yang wafat pada tahun 211.

Nah, ketika kekristenan disebarkan ke seluruh kekaisaran Romawi, para pemberita injil dan penulis Kristen, sebagai suatu taktik misiologis mereka, mengambil alih gelar Sol Invictus dan mengenakan gelar ini kepada Yesus Kristus sehingga Yesus Kristus menjadi Matahari Tak Terkalahkan yang sebenarnya. Mereka memakai teks-teks Mazmur 19:5c-6 ("Ia memasang kemah di langit untuk Matahari yang keluar bagaikan Pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya."), Maleakhi 4:2 ("bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.") dan Lukas 1:78-19 ("Oleh rakhmat dan belas kasihan Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya Pagi dari tempat yang tinggi.") sebagai landasan skriptural untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sebenarnya.

Dengan jadinya Yesus Kristus sebagai Sol Invictus baru, maka tanggal 25 Desember sebagai hari natal Dewa Sol juga dijadikan hari Natal Yesus Kristus. Seorang penulis Kristen perdana, Cyprianus, menyatakan, "Oh, betapa ajaibnya: Allah Sang Penjaga, Pemelihara dan Penyelenggara telah menjadikan Hari Kelahiran Matahari sebagai hari di mana Yesus Kristus harus dilahirkan." Demikian juga, Yohanes Krisostomus, dalam khotbahnya di Antikohia pada 20 Desember 386 (atau 388), menyatakan, "Mereka menyebutnya sebagai 'hari natal Dia Yang Tak Terkalahkan'. Siapakah yang sesungguhnya tidak terkalahkan, selain Tuhan kita…?"

Selanjutnya, mulai dari Kaisar Konstantinus yang (menurut sebuah mitologi Romawi) pada 28 Oktober 312 melihat sebuah tanda salib dan sebuah kalimat In Hoc Signo Vinces (="Dengan tanda ini, kamu menang") di awan-awan, perayaan keagamaan yang memuja Sol Invictus pada 25 Desember diubah menjadi perayaan keagamaan untuk merayakan hari Natal Yesus Kristus. Dengan digantinya Dewa Sol dengan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sejati, dan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal Yesus Kristus, sang Kaisar berhasil mengonsolidasi dan mempersatukan seluruh wilayah negara Roma yang di dalamnya warga yang terbesar jumlahnya adalah orang Kristen, yang, menurut Eusebius, adalah warga "Gereja Katolik yang sah dan paling kudus" (Eusebius, Historia Ecclesiastica 10.6).

Dan sejak itu juga, para uskup/paus sama-sama mengendalikan seluruh kekaisaran Roma di samping sang Kaisar sendiri; ini melahirkan apa yang disebut Kaisaropapisme. Kalau sebelumnya heliolatri menempatkan Dewa Sol sebagai Kepala Panteon yang menguasai seluruh dewa-dewi yang disembah dalam seluruh negara Romawi dan sebagai pusat kekuasaan politik, maka ketika Yesus Kristus sudah menjadi Sol Invictus pengganti, sang Kristus inipun mulai digambarkan sebagai sang Penguasa segalanya (=Pantokrator), yang telah menjadi sang Pemenang (=Kristus Viktor) di dalam seluruh kekaisaran Romawi.

Jelas sudah, tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Seperti telah dinyatakan pada awal tulisan ini, kembali perlu ditekankan bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia pada zaman kuno dan pada masa kini mengetahui kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan. Ketika Yesus baru dilahirkan, dia bukanlah seorang penting apapun. Hanya beberapa orang saja yang memedulikannya. Hanya ketika dia sudah diangkat menjadi sang Kristus gereja dan dipercaya sebagai sang Juruselamat dunia, dia baru menjadi penting dan kisah-kisah hebat tentang kelahirannya pun disusun.

Pada zaman gereja awal dulu, orang tidak sepakat kapan persisnya Yesus dilahirkan, meskipun berbagai cara penghitungan telah diajukan; dan juga orang tidak selalu sependapat bahwa hari kelahiran Yesus Kristus perlu dirayakan. Siapapun, dengan suatu pertimbangan teologis kultural, pada masa kini dapat menetapkan sendiri hari Natal Yesus Kristus buat dirinya dan buat komunitas gerejanya. Sebetulnya, cara merayakan Natal Yesus Kristus yang sebenarnya adalah dengan menjelmakan kembali dirinya, terutama bela rasanya, dalam seluruh gerak kehidupan orang yang menjadi para pengikutnya di masa kini.

Dec 2, 2014

Pra Adam, Generasi 10 Ribu Tahun Lalu

Pra-Adam telah menjadi perdebatan berkelanjutan tanpa ada titik penyelesaian, baik dikalangan sejarawan maupun penyaduran teks-teks kuno dan kitab terdahulu. Saat ini, sejarawan banyak yang meyakini bahwa ada makhluk seperti manusia yang hidup di zaman Pra Adam, kontroversi ini terus berlanjut dengan berbagai hipotesis siapa sebenarnya makhluk hidup di Bumi yang menjadi pemimpin sebelum Adam.

Hipotesis Pra-Adamite atau Preadamism adalah keyakinan bahwa manusia ada sebelum Adam, asumsi yang bertentangan dengan keyakinan menggambarkan Adam sebagai manusia pertama seperti yang dinyatakan dalam Alkitab dan Alquran. Preadamism berbeda dari keyakinan Ibrahim secara konvensional, bahwa Adam adalah manusia pertama. Dan sejarah Preadamism mungkin sudah ada sejak kemunculan Pagan awal.

Dalam bahasan ini, beberapa bukti berupa karya tulis Hugh Ross, Dr John R W Stott, Isaac De La Peyrere, memberi bukti secara arkeologis ataupun sisi ilmiah yang disertai dengan dalil yang tertulis dalam literatur Kristen dan Islam syiah. Beberapa pernyataan mereka cukup mengejutkan, bahwa sebelum Adam diturunkan kepermukaan Bumi telah ada generasi-generasi yang sama sekali mirip dengan manusia. Kalangan ilmuwan menyebutnya Hominid, tetapi ada pula yang memberi penjelasan bahwa Chain (Kain, Qabil) salah satu keturunan Adam menikahi manusia Pra Adam, begitupula dengan penduduk kotanya.

Menelusuri Manusia Pra Adam


Hugh Ross menyarankan, bahwa mungkin makhluk yang mirip dengan manusia sebelum turunnya Adam adalah bipedal yang menggunakan peralatan batu menjelajahi bumi selama ratusan ribu hingga jutaan tahun lalu. Ross memang tidak mempercayai evolusi biologis, meskipun dirinya menerima evolusi kosmik dan geologi dan waktu evolusi. Dia mempercayai urutan umum yang sama tentang peristiwa dan urutan yang sama evolusionis, meskipun pada dasarnya dia mepercayai bahwa Tuhan menciptakan Adam dari tanah.

Tetapi, beberapa fosil manusia yang ditemukan justru menunjukkan kehidupan lebih awal dari silsilah Adam, sehingga dia mendalilkan adanya makhluk dengan karakteristik mirip manusia yang punah sebelum Adam dan Hawa turun ke Bumi. Dunia tak lain merupakan tempat kematian, kekerasan dan kerusakan selama jutaan tahun hingga Rose menyatakan, langkah demi langkah pendekatan untuk penciptaan primata bipedal yang bisa kita lihat dalam catatan fosil baru-baru ini mungkin cukup mencerminkan pemahaman Allah tentang kesulitan bentuk kehidupan lain akan bertemu dalam beradaptasi dengan manusia.

Pada tahun 1655, Prancis Isaac La Peyrere menerbitkan teori yang mengatakan bahwa tidak hanya Adam, sebelumnya juga ada makhluk yang sama berasal dari Pra-Adam. Dia bukan diciptakan Allah dari tanah, begitupula istri Chain (Kain, Qabil) dan penduduk kotanya berasal dari pra-Adam.

Pada abad ke-18 dan ke-19, orang-orang berkulit putih dan berkulit hitam tampak jelas dibedakan, minoritas Kristen berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan orang-orang berkulit hitam terpisah dari Adam, sehingga mereka meyakini bahwa ras ini keturunan pra-Adam. Pra-Adamisme berupa polygenism atau beberapa kreasi dari berbagai ras, pendukung gagasan ini sering berpikir bahwa orang-orang berkulit hitam merupakan kelompok makhluk rendah yang dapat diperlakukan sebagai budak. Sehingga teori Pra Adam menjadi pembenaran ilmiah untuk menyebarluaskan perbudakan dan pertahanan rasisme.

Pada abad ke-20 muncul teori Darwin dan penemuan lanjutan dari fosil manusia purba, banyak ilmuwan dan sejarawan mengadopsi evolusi teistik. Mereka beranggapan usia makhluk ini relatif muda daripada Adam, tetapi mereka mengatakan bahwa fosil manusia itu berasal dari makhluk yang mirip dengan manusia pra-Adam. John RW Stott mengatakan, Adam dan Hawa merupakan sejarah tidak bertentangan dengan keyakinan, bahwa beberapa bentuk pra Adam yang disebut Hominid tampaknya telah berada di Bumi selama ribuan tahun sebelumnya. Teori-teori manusia Pra Adam telah digunakan beberapa orang Kristen untuk menyelaraskan ilmu pengetahuan dan Alkitab. Pra-Adamism juga bertentangan dengan kitab suci yang menceritakan tentang Hawa, bahwa Tuhan menciptakannya dari salah satu tulang rusuk Adam dan bukan dari beberapa makhluk yang sudah ada.

Antropolog Marvin Lubenow menjelaskan beberapa bukti yang bersifat perbuatan dosa diduga terjadi pada masa pra-Adam. Catatan fosil manusia, termasuk contoh kanibalisme dan cedera akibat kekerasan, dan berbagai penyakit termasuk sifilis. Menurutnya kebanyakan manusia pra-Adam tampaknya terbiasa dengan pola hidup kekerasan dan tanpa norma berdasarkan tingkat bukti fosil.

Ross meyakini bahwa suku Aborigin dan Indian Amerika hidup sekitar 80,000 hingga 100,000 tahun yang lalu. Tetapi dia menyebutkan batas waktu Adam dan Hawa sekitar 10,000 hingga 25,000 tahun lalu, berarti suku Aborigin dan Indian bukan keturunan Adam dan Hawa.

Ross pernah mengatakan, sekitar 2 hingga 4 juta tahun yang lalu Allah mulai menciptakan mamalia seperti manusia atau hominid. Makhluk-makhluk ini berdiri dengan dua kaki, memiliki otak besar, dan menggunakan alat. Beberapa diantaranya mengubur mayat dan melukis pada dinding gua. Tetapi mereka sangat berbeda, mereka tidak mempunyai semangat, tidak mempunyai hati nurani, tidak menyembah Allah atau mendirikan praktek keagamaan. Dan semua makhluk ini punah, kemudian sekitar 10 hingga 25 ribu tahun yang lalu, Allah menggantinya dengan Adam dan Hawa.

Manusia Pra Adam Dalam Literatur Syiah


Berdasarkan riwayat syiah telah menyebutkan bahwa sebelum turunnya Adam ada beberapa generasi yang mirip dengan manusia, mereka disebut bangsa Nisnas. Allamah Thabathabai mengatakan; Dalam sejarah Yahudi disebutkan, usia jenis manusia semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari 7000 tahun. Tetapi ilmuan Geologi meyakini bahwa usia manusia lebih dari jutaan tahun berdasarkan fosil yang merupakan peninggalan peninggalan manusia. Tidak ada dalil yang menetapkan bahwa fosil ini adalah nenek moyang manusia saat ini, dan juga tidak ada dalil yang bisa menolak kemungkinan bahwa mereka berhubungan dengan salah satu periode Pra-Adam.

Disisi lain, penyusun Tafsir Ayyasyi meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Salim dari Imam Shadiq As yang bersabda: Apabila malaikat tidak melihat makhluk bumi sebelumnya yang menumpahkan darah, dari mana asal mereka, lantas berkata; "Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah?"

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. Yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu kaum lainnya, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana firman-Nya "Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi"

Syaikh Shaduq dalam al-Khishal meriwayatkan Imam Baqir as bersabda: "Allah swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya kemudian punah, dimana tidak satupun alam itu berasal dari generasi Adam Bapak Manusia, dan Allah senantiasa menciptakan mereka dimuka bumi dan mengadakan generasi demi generasi, alam demi alam muncul, hingga akhirnya Dia menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya."

Syaikh Shaduq dalam kitab Tauhid mengutip riwayat dari Imam Shadiq As bersabda: "Kalian mengira bahwa Allah tidak menciptakan manusia lain selain kalian. Bahkan Dia menciptakan ribuan Adam dimana kalian adalah generasi Adam terakhir..."

Al-Khisa,l diriwayatkan dari Imam Shadiq as bersabda: "Allah menciptakan dua belas ribu alam yang masing-masing lebih besar dari tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Tiada satu pun dari penghuni satu alam pernah berpikir bahwa Allah menciptakan alam lainya selain alam (yang ia huni)"

Kain, Anak Adam Bersekutu Dengan Iblis

Kisah Kain (Qabil) anak Adam diceritakan telah menciptakan peradaban diseluruh dunia dan telah mengajarkan rahasia perdukunan termasuk kebijaksanaan terlarang, Hermetik Okultisme. Semua ini dilambangkan melalui Lapsit Exillis atau Cawan Suci, dimana pada akhirnya membawa pertentangan akan kebesaran ilahi, dan mitos dari berbagai budaya dunia menceritakan kisah yang sama. Kain disebut-sebut telah menikah dengan perempuan fana, menciptakan keluarga kerajaan pertama manusia, garis keturunan Cawan Suci yang dilakukan dengan benih ilahi. Keturunan mereka menjadi penguasa bumi, bahkan tercatat mitologi yang mirip disebagian besar dinasti kerajaan didunia sepanjang sejarah, dan tradisi ini masih terus berlanjut sampai sekarang.

Sosok yang mirip dengan penggambaran karakter keturunan Kain dapat ditemukan dalam berbagai mitos dan legenda berbagai bidaya, diantaranya mitologi Kronos (Saturnus), Hermes (Mercury), Zeus, Vulcan, Oceanus, Osiris, Oannes, Dagon, Moloch, dewa Baal, Odin, Wotan, Votan, Viracocha, dan Quetzlcoatl. Beberapa kitab suci juga mengisyaratkan karakter keturunan Kain diantaranya kisah Idris (Henokh), Tubal-Kain, kaum Nuh, Abrahim, Isak, Yakub, Raja Nimrod, Melkisedek, Raja Hiram dari Tirus. Bahkan Kain digambarkan sebagai patung iblis Asmodeus didalam gereja Rennes-le-Chateau-Rex Mundi, berdiri dipintu masuk gereja. Kain tidak selalu digambarkan sebagai laki-laki, karena dalam simbolisme okultisme terkadang bergambar hewan Hermaphroditic bersama permaisurinya, Dewi Venus. Simbolisme ini dipuja oleh para Ksatria Templar dalam bentuk Baphomet.

Kain, Anak Adam Mengajarkan Perdukunan

Dalam Quran, Habel disebut Habil tetapi Kain tidak disebutkan namanya, meskipun tradisi Islam mengenalnya sebagai Qabil. Sementara dalam versi Etiopia, Kain disebut Qayen. Dalam bahasa Arab, perdukunan atau dukun disebut 'Kahin' dan perbuatannya dinamakan 'Kahanah'. Menurut Ibnu Hajar, perdukunan atau kahanah adalah perbuatan seorang dukun yang mengandung pengertian mengetahui ilmu gaib, seperti mengetahui kejadian yang akan datang dengan berdasarkan pada suatu sebab.

Menurut Ibn Taimiyah, bahwa Al-Kahin, Al-A'rraf, dan Al-Munajjim (peramal bintang) merupakan tiga kata yang artinya orang-orang yang memberitakan hal gaib untuk memberikan sesuatu yang akan terjadi, atau menunjukkan barang yang dicari. Perdukunan mengisyaratkan hal gaib dan sesuatu yang bakal terjadi didaarkan atas mantra, atau petunjuk setan dan jin. Kain anak Adam, diceritakan menerima hukuman mengembara di muka bumi, sehingga muncul sebuah legenda bahwa hukuman berlangsung selama-lamanya. Menurut beberapa sumber Islam termasuk Al-Tabari, Ibn Kathir dan al-Tha'labi, Kain bermigrasi ke wilayah Yemen.

Banyak sejarawan alkitab menyakini bahwa garis keturunan yang dianggap menggagas perdukunan mungkin berasal dari Kain, anak Adam. Dalam sudut pandang beberapa rabi terdahulu tercetus gagasan bahwa Kain bukan anak Adam tetapi Samael, dimana ketika Samael melihat Hawa dan menggodanya, dan dia adalah salah satu malaikat yang terusir.

Mitologi Kain dikaitkan dengan Lucifer yang dianggap sebagai anak dari istri Adam, Lilith. Mitologi ini sangat berbeda dari versi pada umumnya yang tertulis dalam kitab suci, Lilith dianggap sebagai permaisuri sebelum turun ke bumi sebagai malaikat yang jatuh. Beberapa legenda tradisi terlihat berbeda dalam menafsirkan asal usul Kain, keduanya melibatkan iblis dan Nefilim. Dan kenyataannya bahwa Lily diambil dari sebutan Lilith, simbol dari garis keturunan ini merupakan Fleur-de-lys atau Flower of Lilith.

Mitologi Lilith ataupun Samael tampaknya memainkan peran berulang dalam seluruh mitos, diantaranya Asmodeus. Tidak hanya Asmodeus terlukis di Rennes-le-Chateau, tetapi juga berperan dalam membangun Kuil Sulaiman. Beberapa pengamat masih bingung, mengapa gambaran sosok Lilith berada di tempat suci sehingga mengaitkannya dengan keturunan Kain. Dalam beberapa tradisi mitologi Asmodeus dimana Musa tengah membelah Laut Merah, sosok ini sebenarnya bukan menggambarkan Tuhan. Meskipun digambarkan sebagai setan tetapi mungkin tidak selalu dipandang demikian, karena pengertian Asmodeus diterjemahkan sebagai Tuhan (Ashma: Tuhan, dan Deus: Tuhan).

Asmodeus atau Ashmedai adalah raja setan yang lebih dikenal dalam Kitab Tobit berperan sebagai antagonis utama. Setan ini juga disebutkan dalam beberapa legenda Talmud, misalnya dalam kisah pembangunan Kuil Sulaiman. Dia dianggap beberapa orang Kristen Renaissance sebagai Raja Sembilan Neraka, dan  disebut sebagai salah satu dari tujuh pangeran neraka. Asmodeus juga disebut-sebut sebagai setan nafsu karena perannya memutar hasrat seksual manusia.

Kain atau Cain mungkin telah menciptakan tradisi sendiri, sebagaimana dibuktikan dalam sebuah sekte Gnostik aneh yang disebut Kaum Cain. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan kecuali dengan membuat perjalanan hidup dengan cara apapun. Epifanius menggambarkan kaum Cain sebagai kelompok yang menguduskan tindakan penuh nafsu atau ilegal ke berbagai makhluk surgawi, seperti sakramen.

Kisah Kain Dalam Kebra Nagast


Menurut sebuah buku yang dihormati bangsa Etiopia berjudul 'The Kebra Nagast, The Book of the Glory of the Kings of Ethiopia', ditranslasikan oleh E A Wallis Budge, disebutkan:

Aku akan menaruh pada tubuh Adam, dan Roh Kudus berkata; 'Aku akan berdiam di jantung para nabi dan yang benar'.
Dan Dia menciptakan Adam dalam gambar dan rupa-Nya sendiri, sehingga Dia akan menghapus setan karena diriNya berada dalam tubuh, dan mungkin membangkitkan Adam bersama dengan orang-orang yang benar untuk memuji-Nya. Aku akan menjadi manusia dan akan berada disegala yang telah kuciptakan, Aku akan berada didalam daging. Setelah Adam diturunkan dan hidup dimuka Bumi, Cain kemudian dilahirkan dengan wajah terlihat marah atau cemberut. Dengan paras yang menggambarkan kejahatan, Adam sedih. Kemudian Abel dilahirkan, Adam melihat bahwa penampilan dan wajahnya terlihat baik. Dia berkata, "ini adalah anakku, pewaris kerajaanku".



Dan ketika mereka tumbuh dewasa bersama, iblis mulai iri padanya dan dia melemparkan sifat iri di jantung Kain pada saudaranya, karena kata-kata ayahnya Adam mengatakan:

Dia yang memiliki wajah yang baik akan menjadi pewaris kerajaan-Ku. Dan untuk saudaranya, karena adiknya berwajah cantik yang lahir dengannya diberikan kepada Abel, bahkan sebagai Tuhan memerintahkan mereka untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Dan wajah adik yang lahir dengan Abel mirip dengan Kain, dan ayah mereka telah memindahkannya dalam pernikahan. Ketika dua saudara mempersembahkan kurban, Allah menerima persembahan Abel dan menolak Kain. Dan karena dengki ini, Kain membunuh Abel.

Pembunuhan saudara pertama kali dilakukan melalui sifat iri iblis pada anak-anak Adam. Dia membunuh saudaranya, Kain gemetar dan ketakutan dan merasa jijik pada ayah dan Tuhannya. Kemudian Seth lahir, Adam memandangnya dan berkata:

Sesungguhnya Allah telah menunjukkan kasih sayang padaku, dan Dia telah diberikan cahaya wajahku. Dalam ingatan sedih aku akan menghibur diri dengannya. Nama-Nya yang akan mengganti pewaris yang harus dihilangkan (Kain), bahkan sampai generasi kesembilan.

Mereka yang termasuk sembilan generasi: Dan Adam meninggal, kemudian Seth memerintah dengan kebenaran. Seth meninggal, dan Henos (Enos) memerintah. Dan Henos meninggal, dan Aynan (Kenan) memerintah. Dan Aynan meninggal, dan Malal'el (Mahalaleel) memerintah. Dan Malal'el meninggal, dan Yarod (Jared) memerintah. Yarod meninggal, Henokh (Enoch) memerintah dengan kebenaran dan takut akan Allah, dan Tuhan menyembunyikannya sehingga dia mungkin tidak melihat kematian, dia menjadi raja dalam daging. Dan setelah Henokh menghilang, Matusala (Metusalah) memerintah. Dan Matusala meninggal, Lamekh memerintah. Lamekh meninggal, Nuh memerintah dengan kebenaran dan mencintai Allah dengan segala karya-karyanya.

Dan manusia terkutuk, Kain anak Adam yang membunuh saudaranya, keturunannya melakukan hal yang sama dan mereka membuat Allah murka dengan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka tidak takut akan Allah didepan matanya, dan mereka tidak pernah mengingat bahwa Dia telah menciptakan mereka, mereka tidak pernah berdoa kepada-Nya, mereka tidak pernah menyembah-Nya, mereka tidak pernah memanggil-Nya, dan mereka tidak pernah memberikan pengorbanan kepada-Nya.

Nay mereka makan, dan minum, dan mereka menari, dan mereka bermain instrumen senar dan menyanyikan lagu cabul. Mereka berbuat najis tanpa hukum, tanpa batas, dan tanpa aturan. Dan kejahatan anak-anak Kain berlipat ganda dalam kebesaran dan kekotoran. Mereka menyatukan benih keledai pada kuda dan muncul (jenis) keledai (baru), Allah tidak memerintahkan, bahkan seperti orang yang memberikan anak mereka kepada orang yang mengingkari Allah, dan keturunan mereka menjadi benih kotor (Gomorraites). Setengah dari mereka berubah menjadi baik dan setengah mereka menjadi jahat. Dan orang yang melakukan kejahatan ini, perhitungan mereka telah disiapkan dan kesalahan mereka abadi.