Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 7, 2014

Aleksander Agung

Aleksander III dari Makedonia (20/21 Juli 356 – 10/11 Juni 323 SM), lebih dikenal sebagai Aleksander Agung (bahasa Yunani: Μέγας Ἀλέξανδρος, Mégas Aléxandros) atau Iskandar Agung, adalah raja Kekaisaran Makedonia (bahasa Yunani: Βασιλεύς Μακεδόνων), sebuah negara di daerah timur laut Yunani. Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya. Dia tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa. Aleksander lahir di Pella pada 356 SM dan merupakan murid seorang filsuf terkenal,Aristoteles. Pada tahun 336 SM Aleksander menggantikan ayahnya, Filipus II dari Makedonia, sebagai pemimpin Makedonia setelah ayahnya dibunuh oleh pembunuh gelap. Filipus sendiri telah menaklukkan sebagian besar negara-kota di daratan utama Yunani ke dalam hegemoni Makedonia, melalui militer dan diplomasi.
Setelah kematian Filipus, Aleksander mewarisi kerajaan yang kuat dan pasukan yang berpengalaman. Dia berhasil mengukuhkan kekuasaan Makedonia di Yunani, dan setelah otoritasnya di Yunani stabil, dia melancarkan rencana militer untuk ekspansi yang tak sempat diselesaikan oleh ayahnya. Pada tahun 334 SM dia menginvasi daerah kekuasaan Persia di Asia Minor dan memulai serangkaian kampanye militer yang berlangsung selama sepuluh tahun. Aleksander mengalahkan Persia dalam sejumlah pertempuran yang menentukan, yang paling terkenal antara lain Pertempuran Issus dan Pertempuran Gaugamela. Aleksander lalu menggulingkan kekuasaan raja Persia, Darius III, dan menaklukkan keseluruhan Kekasiaran Persia (Kekasiaran Akhemeniyah).i Kekaisaran Makedonia kini membentang mulai dari Laut Adriatiksampai Sungai Indus.
Karena berkeinginan mencapai "ujung dunia", Aleksander pun menginvasi India pada tahun 326 SM, namun terpaksa mundur karena pasukannya nyaris memberontak. Aleksander meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM, tanpa sempat melaksakan rencana invasi ke Arabia. Setelah kematian Aleksander, meletuslah serangkaian perang saudara yang memecah-belah kekaisarannya menjadi empat negara yang dipimpin oleh Diadokhoi, para jenderal Aleksander. Meskipun terkenal karena penaklukannya, peninggalan Aleksander yang bertahan paling lama bukanlah pemerintahannya, melainkan difusi budaya yang terjadi berkat penaklukannya.
Berkat penaklukan Aleksander, muncul koloni-koloni Yunani di daerah timur yang berujung pada munculnya budaya baru, yaitu perpaduan kebudayaan Yunani, Mediterrania, Mesir, dan Persia yang disebut dengan Peradaban Hellenis atau Hellenisme. Aspek-aspek Hellenis tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium sampai pertengahan abad 15. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Cina. Khusus di Cina, pengaruh kebudayaan ini dapat ditelusuri di antaranya dengan artefak yang ditemukan di Tunhuang. Aleksander menjadi legenda sebagai pahlawan klasik dan diasosiasikan dengan karakteristik Akhilles. Aleksander juga muncul dalam sejarah dan mitos-mitos di Yunani maupun di luar Yunani. Aleksander menjadi pembanding bagi para jenderal bahkan hingga saat ini,ii dan banyak Akademi militer di seluruh dunia yang mangajarkan siasat-siasat pertempurannya.
Aleksander selama ekspansinya juga mendirikan beberapa kota yang semuanya dinamai berdasarkan namanya, seperti Aleksandria atau Aleksandropolis. Salah satu dari kota bernama Aleksandria yang berada di Mesir, kelak menjadi terkenal karena perpustakaannya yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya serta berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia pada masa itu.
Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Aleksander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia). Gelar yang Agung atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang lain serta keberhasilannya menaklukkan wilayah yang sangat luas.

Kelahiran

Aleksander dilahirkan pada tanggal 20 (atau 21) Juli 356 SM, di Pella, ibu kota Kekaisaran Makedonia di Yunani Kuno. Dia terlahir sebagai putra Filipus II, Raja Makedonia. Ibunya adalah istri keempat Filipus,Olympias, putri Neoptolemos I, raja Epiros. Meskipun Filipus memiliki tujuh atau delapan istri ketika itu, namun Olympias adalah istrinya yang paling utama, barangkali karena dia yang melahirkan Aleksander.
Sebagai anggota dinasti Argead, Aleksander mengklaim diri sebagai keturunan Herakles melalui Karanos dari Makedonia.iv Dari pihak ibunya dan Aiakid, dia mengklaim diri sebagai keturunan Neoptelemos, putraAkhilles.v Keponakan kedua Aleksander adalah jenderal Pyrrhos dari Epiros, yang oleh Hannibal dianggap sebagai komandan sehebat Aleksander atau kedua terhebat setelah Aleksander.
Menurut biografer Yunani kuno, Plutarch, Olympias, pada malam pernikahannya dengan Filipus, bermimpi bahwa rahimnya disambar petir, yang memicu semburan api yang menyebar sampai "jauh dan luas" sebelum padam. Beberapa waktu sebelum pernikahan, dikatakan bahwa Filipus bermimpi melihat dirinya menyegel rahim istrinya dengan menggunakan segel berukir singa. Plutarch mengajukan sejumlah penafsiran tentang mimpi-mimpi itu: bahwa Olympia telah hamil sebelum menikah, ditunjukkan dengan penyegelan rahimnya; atau bahwa ayah Aleksander adalah Zeus. Para sejarawan ada yang berpendapat bahwa Olympias yang ambisius membesar-besarkan cerita mengenai silsilah dewa Aleksander, yang lain berpendapat Olympias memberitahu Aleksander.

Pada hari kelahiran Aleksander, Filipus sedang bersiap-siap untuk mengepung kota Potidea di semenanjung Chalcidike. Pada hari yang sama, Filipus mendapat kabar bahwa jenderalnya Parmenion telah mengalahkan pasukan gabungan Illyria dan Paionia, dan bahwa kuda-kudanya telah memenangkan Olimpiade. Dikatakan pula bahwa pada hari itu, Kuil Artemis di Ephesos—salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno-terbakar. Hegesias dari Magnesia berkata bahwa kuil itu terbakar karena dewi Artemis menghadiri kelahiran Aleksander.

Masa anak-anak

Pada usia-usia awal, Aleksander diasuh oleh susternya, Lanike, saudari Kleitos si Hitam, calon sahabat dan jenderal Aleksander pada masa depan. Pada masa anak-anak, Aleksander belajar pada Leonidas yang disiplin, seorang kerabat ibunya. Aleksander juga berguru pada Lysimakhos. Aleksander dbesarkan sebagai bangsawa muda Makedonia, dia belajar membaca, bermain lira, bertarung, dan berburu.
Ketika Aleksander berusia sepuluh tahun, seorang pedagang kuda dari Thessalia menawarkan seekor kuda pada Filipus. Kuda tersebut diberi harga senilai tiga belas talen. Kuda itu tidak mau ditunggangi oleh siapapun, dan Filipus memerintahkannya untuk dibawa pergi. Akan tetapi, Aleksander berkata bahwa rasa takut kuda itu adalah bayangannya sendiri dan meminta kesempatan untuk memunggangi kuda itu. Aleksander berhasil melakukannya. Menurut Plutarch, Filipus, yang merasa sangat senang melihat keberanian dan ambisi Aleksander, langsung mencium putranya itu dan menyatakan: "Putraku, kau harus menemukan kerajaan yang cukup besar untuk ambisimu. Makedonia terlalu kecil untukmu". Setelah itu Filipus membelikan kuda itu untuk Aleksander. Aleksander menamai kuda itu Bukephalas, bermakna "kepala lembu". Bukephalas akan menjadi teman perjalanan Aleksander dalam penaklukannya sampai ke India. Ketika Bukephalas mati (akibat usia tua, menurut Plutarch, karena sudah berusia tiga puluh tahun), Aleksander menamai sebuah kota sesuai nama kudanya (Bukephala).

Masa remaja dan pendidikan

Ketika Aleksander menginjak usia tiga belas tahun, dia membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi, maka dia pun mencari tutor. Beberapa calon tutornya antara lainIsokrates dan Speusippos, penerus Plato di Akademi Plato. Pada akhirnya, Filipus menawarkan pekerjaan itu pada Aristoteles, yang menerimanya. Filipus memberikan Kuil Para Nimfa di Mieza sebagai ruang belajar mereka. Sebagai imbalan atas pengajarannya, Filipus bersedia untuk membangun kembali kampung halaman Aristoteles diStageira, yang pernah dihancurkan olehnya. Filipus merepopulasi kota itu dengan cara membeli dan memerdekakan para bekas warga yang sempat menjadi budak, atau dengan mengampuni para warga yang berada di pengasingan.
Mieza menjadi sekolah asrama bagi Aleksander dan anak-anak bangsawan Makedonia lainnya, misalnya, Ptolemaios, Hephaistion, dan Kassandros. Banyak murid di sana yang belajar bersama Aleksander kelak menjadi sahabat dan jenderalnya, atau yang lebih sering disebut sebagai 'Rekan'. Di Mieza, Aristoteles mengajari Aleksander dan kawan-kawannya pengobatan, moral, filsafat, agama, logika, dan seni. Berkat ajaran Aristoteles, Aleksander menjadi berminat pada karya-karya Homeros, terutama Iliad. Aristoteles memberi satu salinan Iliad pada Aleksander, yang selalu dibawanya dalam kampanye militernya.

Awal karier dan bangkitnya Makedonia

Ketika Aleksander menginjak usia enam belas tahun, masa belajarnya pada Aristoteles selesai. Filipus, sang raja, berangkat untuk berperang melawan Byzantion, dan Aleksander ditugaskan untuk mengurus kerajaan. Selama Filipus pergi, suku Maedi Thrakia memberontak menentang kekuasaan Makedonia. Aleksander merespon dengan cepat, dia meredam pemberontakan suku Maedi, mengusir mereka dari wilayah mereka, mengisinya dengan orang-orang Yunani, dan mendirikan kota yang dia namai Alexandropolis.
Setelah Filipus kembali dari Byzantion, dia memberi Aleksander sejumlah kecil pasukan dan mengutusnya untuk mnghentikan suatu pemberontakan di Thrakia selatan. Dalam kampanye lainnya melawa kota Perinthos di Yunani, Aleksander disebutkan menyelamatkan nyawa ayahnya. Sementara itu, kota Amphissa mulai mengolah tanah yang dikeramatkan untuk Apollo di dekat Delphi, suatu pelanggaran yang memberi kesempatan bagi Filipus untuk ikut campur lebih jauh dalam urusan Yunani. Masih berada di Thrakia, Filipus menyuruh Aleksander untuk mulai menghimpun pasukan untuk kampanye di Yunani. Sadar dengan adanya kemungkinan negara-negara Yunani lainnya untuk ikut campur, Aleksander memperlihatkan seolah-olah dia hendak menyerang Illyria. Dalam kekisruhan ini, Illyria mengambil kesempatan untuk menginvasi Makedonia, namun Aleksander berhasil menghalau para penyerang itu.
Pasukan Filipus bergabung dengan Aleksander pada tahun 338 SM, dan mereka bergerak ke selatan menuju Thermopylai, yang mereka lakukan setelah menghadapi perlawanan yang keras kepala dari orang-orang Thebes yang menghuninya. Mereka pergi untuk menduduki kota Elateia, berjarak beberapa hari dari kota Athena dan Thebes. Sementara itu, rakyat Athena, dipimpin oleh Demosthenes, memilih untuk bersekutu dengan Thebes dalam perang melawan Makedonia. Baik Athena dan Filipus kemudian mengirim utusan untuk memperoleh keberpihakan Thebes, dan yang berhasil melakukannya adalah Athena. Filipus bergerak menuju Amphissa (secara teoretis beraksi atas permintaan Liga Amphikyton), menangkap tentara bayaran yang dikirim ke sana oleh Demosthenes, dan menerima penyerahan kota itu. Lalu Filipus kembali ke Elateia dan mengirim penawaran perdamaian untuk yang terakhir kalinya pada Athena dan Thebes, yang berujung pada penolakan kedua kota itu.
Patung Aleksander di Museum Arkeologi Istanbul.
Ketika Filipus sedang bergerak ke selatan, dia dihalangi di dekat Khaironeia, Boiotia oleh pasukan Athena dan Thebes. Dalam pertempuran tersebut, Filipus memimpin sayap kanan, dan Aleksander memimpin sayap kiri dengan ditemani oleh para jenderal Filipus yang terpercaya. Berdasarkan sumber-sumber kuno, dua pihak itu bertempur dengan sengit cukup lama. Filipus lalu memerintahkan pasukan di sayap kanan untuk mundur dan memancing hoplite-hoplite Athena supaya mengikutinya dan meninggalkan barisan mereka. Di sayap kiri, Aleksander adalah orang pertama yang berhasil menerobos barisan Thebes, diikuti oleh para jenderal Filipus. Setelah memperoleh terobosan, Filipus memerintahkan pasukannya untuk menekan ke depan dan mengepung musuh. Dengan mundurnya pasukan Athena, pasukan Thebes pun mesti bertempur sendiri; dikeliling oleh musuh, pasukan Thebes pun dikalahkan.
Setelah menang di Khaironeia, Filipus dan Aleksander bergerak tak terhalangi menuju Peloponnesos dan diterima oleh semua kota; namun ketika mereka tiba di Sparta, mereka ditolak dan mereka pun pergi. Di Korinthos, Filipus mendirikan "Aliansi Hellen" (didasarkan pada aliansi anti-Persia dalam Perang Yunani-Persia), dan Filipus diangkat sebagaiHegemon ('Pemimpin Tertinggi') dalam perkumpulan ini, yang oleh para sejarawan modern disebut sebagai Liga Korinthos. Filipus lalu mengumumkan rencananya untuk memimpin perang pembalasan melawan Kekaisaran Akhemeniyah.

Perselisihan

Setelah kembali ke Pella, Filipus jatuh cinta pada Kleopatra Euridike, keponakan salah satu jenderalnya, Attalos. Pernikahan ini membuat posisi Aleksander terhadap takhta menjadi rawan, karena jika Kleopatra Euridike melahirkan seorang putra, maka putra tersebut akan menjadi ahli waris yang sepenuhnya keturunan Makedonia, sedangkan Aleksander hanya separuh berdarah Makedonia. Pada pesta pernikahan, Attalos yang mabuk berdoa pada para dewa semoga pernikahan itu akan menghasilkan ahli waris yang sah untuk takhta Makedonia.
"Pada pesta pernikahan Kleopatra, yang dicintai dan dinikahi oleh Filipus, dia (Kelopatra) terlalu muda untuknya, pamannya Attalos dalam mabuknya meminta rakyat Makedonia untuk memohon pada para dewa supaya memberi pewaris yang sah untuk kerajaan melalui keponakannya. Ini membuat Aleksander sangat marah, sehingga dia melempar gelasnya ke kepalanya, "Kau bajingan." katanya, "Apa, lalu aku pewaris yang tidak sah?" Kemudian Filipus bangkit dan hendak berlari pada putranya; namun entah karena keberuntungan, atau karena Filipus terlalau marah, atau karena terlalu mabuk, Filipus terjatuh ke lantai. Aleksander mencelanya, "Lihat itu." katanya, "pria yang bersiap untuk menyeberangi Eropa menuju Asia, terjatuh hanya ketika hendak berpindah kursi.

Pergi dan kembali

Aleksander kabur dari Makedonia bersama ibunya, yang dia titipkan di saudara ibunya di Dodona, ibu kota Epiros. Aleksander sendiri terus pergi ke Illyria, di sana ia meminta suaka pada raja Illyria dan diperlakukan sebagai tamu oleh rakyat Illyria meskipun Aleksander pernah mengalahkan Illyria dalam pertempuran beberapa tahun sebelumnya. Namun, Filipus masih ingin mengakui Aleksander sebagai putranya, sehingga Aleksander kembali ke Makedonia setelah enam bulan kabur. Dia kembali berkat sahabat keluarganya, Demaratos dari Korinthos, yang melakukan mediasi antara kedua belah pihak.
Setahun kemudian, satrap (gubernur) Persia di Karia, Pixodaros, menawarkan putri sulungnya pada saudara tiri Aleksander, Filipus Arrhidaios. Olympias dan beberapa sahabat Aleksander menduga bahwa tindakan itu menunjukkan Filipus berniat mengangkat Arrhidaios sebagai ahli warisnya. Aleksander bereaksi dengan mengirim seorang aktor, Thessalos dari Korinthos, untuk memberitahu Pixodaros bahwa dia seharusnya tidak menawarkan putrinya pada putra raja yang tidak sah, melainkan pada Aleksander. Ketika Filipus mengetahui ini, dia menghentikan negosiasi dan memarahi Aleksander yang ingin menikahi putri orang Karia. Filipus menjelaskan bahwa dia ingin perempuan yang lebih baik untuk Aleksander. Filipus lalu mengasingkan empat kawan Aleksander, yaitu Harpalos, Neiarkhos, Ptolemaios dan Erigyios. Sedangan Thessalos dibawa ke hadapan Filipus dalam keadaan dirantai.

Naik takhta

Pada tahun 336 SM, Filipus sedang berada di Aigai, menghadiri pernikahan putrinya, Kleopatra, yang menikah dengan saudara Olympia, Aleksander I dari Epiros. Di sana Filipus dibunuh oleh pemimpin pasukan pengawalnya sendiri, Pausanias.vi Ketika Pausanias mencoba kabur, dia tersandung tanaman anggur sehingga dapat dibunuh oleh para pengejarnya, yang meliputi dua rekan Aleksander, Perdikkas dan Leonnatos. Aleksander dengan demikian diangkat sebagai raja olehpasukan Makedonia dan bangsawan Makedonia. Dia berusia dua puluh tahun ketika menjadi raja.

Konsolidasi kekuasaan

Aleksander memulai masa pemerintahannya dengan menyingkirkan orang-orang yang menurutnya berpotensi mengancam takhtanya. Dia menghukum mati sepupunya, Amyntas IV, dan juga membunuh dua pangeran Makedonia dari daerah Lynkestis, sedangkan pangeran ketiga, yaitu Aleksander Lynkestes, diampuni. Sementara itu Olympias, ibu Aleksander, memerintahkan bahwa Kleopatra Euridike dan putrinya, Europa, dikubur hidup-hidup. Ketika Aleksander tahu tentang hal itu, dia marah pada ibunya. Aleksander juga memerintahkan bahwa Attalos harus dibunuh. Attalos sendiri saat itu menjabat sebagai komandan pasukan di Asia Minor. Attalos sempat berkorespondensi dengan Demosthenes, mengenai kemungkinannya untuk kabur ke Athena. Terlepas dari apakah Attalos benar-benar berniat ke Athena atau tidak, dia sudah membuat Aleksander marah. Selain itu, setelah mengetahui bahwa putri dan cucu Attalos mati, Aleksander merasa bahwa Attalos terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Aleksander membiarkan Arrhidaios hidup. Arrhidaios disebutkan menderita cacat mental, kemungkinan akibat diracun oleh Olympias.
Kabar kematian Filipus memicu banyak kota memberontak, termasuk Thebes, Athena, Thessalia, dan suku-suku Thrakia di utara Makedonia. Ketika kabar pemberontakan di Yunani diketahui oleh Aleksander, dia merespon dengan cepat. Meskipun para penasihatnya menyarankannya untuk mempergunakan diplomasi, namun Aleksander memutuskan untuk mengumpulkan 3.000 tentara kavaleri dan bergerak menuju Thessalia, daerah tetangga Makedonia di sebelah selatan. Di sana dia mengetahui bahwa pasukan Thessalia telah menempati jalan di antara Gunung Olimpus dan Gunung Ossa. Aleksander lalu menyuruh pasukannya menaiki Gunung Ossa. Ketika pasukan Thessalia terbangun, mereka melihat bahwa pasukan Aleksander telah berada di sisi belakang mereka. Pasukan Thessalia pun menyerah dan pasukan kavaleri Aleksander bertambah dengan masuknya pasukan Thessalia. Aleksander lalu bergerak menuju Peloponnesos.
Aleksander berhenti sejenak di Thermopylae, di sana dia diakui sebagai pemimpin Liga Amphiktyon. Kemudian dia bergerak ke selatan ke Korinthos. Kota Athena memohon perdamaian dan Aleksander mengampuni Athena. Dia juga mengampuni semua orang yang terlibat dalam pemberontakan. Di Korinthos, terjadi peristiwa terkenal, yaitu pertemuannya dengan Diogenes Sang Kynis, yang memintanya untuk menyingkir sedikit karena dia menghalangi matahari. Di sana juga Aleksander diberikan gelar Hegemon, dan seperti halnya Filipus, Aleksander juga diangkat sebagai komandan dalam perang yang akan dilaksanakan melawan Persia. Ketika sedang berada di Korinthos, Aleksander mendengar berita bahwa suku Thrakia memberontak di utara.

Kampanye Balkan

Sebelum menyerang ke Asia, Aleksander ingin mengamankan perbatasan utaranya; dan, pada musim semi tahun 335 SM, dia berhasil menghentikan beberapa pemberontakan. Mulai dari Amphipolis, dia pertama-tama bergerak ke timur ke negara-negara "Suku-suku Thrakia Merdeka"; dan di Gunung Haimos, pasukan Makedonia menyerang dan mengalahkan pasukan Thrakia. Pasukan Makedonia berarak menuju negaraTriballi, dan berhasil mengalahkan pasukan Triballi di dekat sungai Lyginos (anak sungai Danube). Aleksander kemudian melaju selama tiga hari ke Danube, menghadapi suku Getai di seberang sungai. Dia mengejutkan pasukan Getai dengan menyeberangi sungai pada malam hari. Dia berhasil memaksa pasukan Getai menyerah setelah meletusnya pertempuran kecil. Pasukan Getai mundur dan meninggalkan kota-kota mereka pada pasukan Makedonia. Kemudian terdengar berita bahwa Kleitos, Raja Illyria, dan Raja Glaukias dari Taulanti secara terbuka memberontak melawan otoritas Makedonia. Bergerak ke barat menuju Illyria, Aleksander mengalahkan semua pemberontak itu dan memaksan Kleitos dan Glaukias untuk melarikan diri bersama pasukan mereka. Dengan demikian, perbatasan utara Aleksander pun aman.
Ketika sedang sukses dalam kampanyenya di utara, ternyata Thebes dan Athena sekali lagi memberontak. Aleksander dengan segera menyelesaikan kampanye di utara dan bergegas ke selatan bersama pasukannya. Kota-kota lainnya ragu-ragu, namun Thebes memutuskan untuk memberontak dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Akan tetapi perlawanan itu terbukti tidak efektif. Aleksander sangat marah pada Thebes. Dia membunuhi banyak tentara Thebes, meluluhlantakkan kota itu sampai hancur, menjual penduduknya sebagai budak, dan membagi-bagi wilayah Thebes ke kota-kota Boiotia di sekitarnya. Setelah mendengar berita tentang musnahnya kota Thebes, Athena pun menyerah pada Aleksander. Dengan demikian, seluruh Yunani sudah berada di bawah kekuasaan Aleksander. Setelah Yunani aman, Aleksander pun melaksanakan kampanyenya di Asia. Dia menugaskan Antipatros untuk mengurus Makedonia.

Penaklukan Kekaisaran Persia

Pasukan Aleksander menyeberangi Hellespont pada tahun 334 SM dengan jumlah tentara sekitar 48.100 infantri, 6.100 kavaleri dan armada laut yang terdiri dari 120 kapal dengan kru kapal sekitar 38.000 orang. Pasukan itu berasal dari Makedonia dan dari berbagai negara-kota Yunani, selain juga tentara bayaran, serta pasukan dari Thrakia, Paionia, dan Illyria. Setelah memperoleh kemenangan pertama melawan pasukan Persia dalamPertempuran Granikos, Aleksander menerima penyerahan kota dan harta benda di Sardis, salah satu ibu kota provinsi di Persia. Aleksander lalu bergerak menuju pesisir Ionia. Di Halikarnassos, Aleksander sukses melakukan pengepungan pertamanya. Dia berhasil memaksa musuh-musuhnya, yakni kapten tentara bayaran Memnon dari Rhodes dan satrap Persia di Karia, Orontobates, untuk mundur ke laut. Setelah menaklukkan Karia, Aleksander menugaskan Ada untuk memimpin urusan pemerintahan di Karia. Ada sendiri mengadopsi Aleksander sebagai putranya.
Dari Halikarnassos, Aleksander maju ke pegunungan Lykia dan dataran Pamphylia. Dia menaklukkan semua kota pesisir dengan tujuan untuk menyulitkan armada laut Persia. Jika kota-kota di pesisir dikuasai oleh Aleksander, maka kapal-kapal laut Persia tak akan bisa berlabuh. Mulai dai Pamphylia, di pesisir itu tidak ada lagi pelabuhan yang penting dan Aleksander pun melanjutkan kampanyenya ke daratan dalam. Di Termessos, Aleksander mengampuni kotaPisidia. Di kota Gordium, ibu kota kuno Phrygia, Aleksander menjumpai ikatan Gordia yang terkenal tak dapat dibuka. Menurut legenda, orang yang mampu membukanya akan menjadi "raja Asia". Aleksander merasa bahwa tidak masalah bagaimana ikatan itu dibuka, dan dia pun memotongnya dengan pedangnya.
Levant dan Suriah
Setelah menghabskan musim dinginya dengan melakukan kampanye di Asia Minor, pasukan Aleksander menyeberangi Gerbang Cilicia pada tahun 333 SM, dan mengalahkan pasukan utama Persia di bawah pimpinan Darius III dalam Pertempuran Issus pada bulan November. Darius melarikan diri dari pertempuran sehingga pasukannya kacau balau. Dia meninggalkan istrinya, dua putrinya, ibunya Sisygambis, serta sejumlah besar harta. Setelah itu dia menawarkan kesepakatan damai kepada Aleksander. Darius menawarkan akan menyerahkan seluruh wilayah yang telah ditaklukkan oleh Aleksander serta tebusan sebesar 10.000 talen untuk menebus keluarganya. Aleksander menjawab bahwa karena dia kini adalah raja Asia, maka hanya dia sendirilah yang berhak mengatur masalah pembagian wilayah.
Aleksander bergerak maju untuk menguasai Suriah, serta sebagian besar pesisir Levant. Namun setahun kemudian, pada 332 SM, dia terpaksa harus menyerang Tyre, yang pada akhirnya dia taklukkan melalui pengepungan yang terkenal. Setelah menaklukkan Tyre, Aleksander, membantai semua penduduk prianya, dan menjual semua wanita dan anak-anak sebagai budak.

Mesir

Setelah Aleksander menghancurkan Tyre, sebagian besar kota dalam rute ke Mesir menyerah, kecuali Gaza. Gaza memiliki suatu benteng kuat yang di atas bukit dan sangat terlindung. Pada awal Pengepungan Gaza, Aleksander memanfaatkan alat-alat yang sebelumnya dia pakai ketika menyerang Tyre. Setelah tiga kali gagal menyerang, benteng itu pada akhirnya berhasil ditembus, namun Aleksander harus mendapat luka di bahunya. Seperti halnya di Tyre, semua penduduk pria dibantai, sedangkan semua wanita dan anak-anak dijadikan budak.
Di lain pihak, Yerusalem membuka gerbangnya dan menyerah pada Aleksander. Menurut Yosephus, Aleksander diperlihatkan buku ramalan Daniel, mungkin bab 8, yang isinya adalah bahwa seorang raja Yunani yang kuat akan datang dan menaklukkan Kekaisaran Persia. Setelah melihat isi buku tersebut, Aleksander mengampuni Yerusalem dan terus maju ke Mesir.

Aleksander memasuki Mesir pada tahun 332 SM, di sana dia dipandang sebagai seorang pembebas. Dia memperoleh gelar "penguasa baru alam semesta" dan putra dewaAmun di Orakel Oasis Siwa di gurun Libya. Sejak saat itu, Aleksander kadang disebut sebagai putra asli dari Zeus-Ammon, dan mata uang yang kemudian muncul menggambarkan dirinya dengan hiasan tanduk kambing sebagai simbol kedewaannya. Dalam masa tinggalnya di Mesir, dia mendirikan Aleksandria (Iskandariyah), yang kelak akan menjadi ibu kota Kerajaan Ptolemaik setelah kematian Aleksander.

Persia

Dari Babilonia, Aleksander melaju ke Susa, salah satu ibu kota Persia, dan merebut harta bendanya yang legendaris. Aleksander mengirim sebagian besar pasukannya ke ibu kota seremonial Persia, Persepolis, lewat Jalan Kerajaan, dan dia sendiri memimpin tentara-tentara pilihannya melalui rute langsung ke kota tersebut. Aleksander harus menyerang jalan masuk ke Gerbang Persia (di Pegunungan Zagros modern) yang telah diblok oleh pasukan Persia di bawah pimpinanAriobarzanes dan kemudian menghancuran Persepolis sebelum garnisunnya dapat mengamankan harta benda. Ketika mamsuki Persepolis Aleksander mengizinkan pasukannya untuk menjarah kota dan kemudian menyuruh mereka berhenti. Aleksander tinggal di Persepolis selama lima bulan. Dalam masa tinggalnya di ibu kota, kebakaran terjadi di istana timur Xerxes dan menyebar ke seluruh kota. Banyak dugaan mengenai apakah kebakaran itu terjadi karena kecelakaan, atau sebagai tindakan pembalasan atas pembakaran Akropolis Athena pada masa Perang Yunani-Persia Kedua. Arrianus, dalam salah satu kritiknya mengenai Aleksander, menyatakan, "Aku juga tidak merasa bahwa Aleksander menunjukkan pengertian yang baik dalam tindakan ini atau bahwa dia dapat menghukum rakyat Persia atas tindakan masa lalu."

Kejatuhan Persia

Aleksander lalu pergi mengejar Darius lagi, pertama-tama ke Media, dan kemudian ke Parthia. Raja Persia itu tak lagi dapat mengendalikan nasibnya, dan dia ditawan oleh Bessus, satrapnya di Baktria dan juga kerabatnya. Ketika Aleksander datang, Bessus dan anak buahnya telah menusuk Darius sampai mati. Bessus lalu menyatakan dirinya sebagai penerus Darius dengan nama Artaxerxes V, sebelum kemudian mundur ke Asia Tengah untuk melancarkan serangan gerilya terhadap Aleksander. Mayat Darius dimakamkan oleh Aleksander di dekat makam para pemimpin Akhemeniyah lainnya dengan upacara pemakaman yang suci. Aleksander mengklam bahwa sebelum wafat, Darius telah mengangkat Aleksander sebagai penerus takhta Akhemeniyah. Kekaisaran Akhemeniyah atau Kekaisaran Persia pada umumnya dianggap telah runtuh dengan meninggalnya Darius.

Asia Tengah

Aleksander, kini menganggap diri sebagai penerus sah dari Darius, melihat Bessus sebagai pemberontak yang mengancam takhta Akhemeniyah. Aleksander pun melakukan serangan untuk mengalahkannya. Kampanye militer ini, yang pada awalnya direncanakan untuk melawan Bessus, pada akhirnya menjadi petualangan Aleksander di Asia Tengah. Aleksander mendirikan kota-kota baru, dan semuanya diberi nama Aleksandria, termasuk Kandahar modern di Afghanistan, dan Aleksandria Eskhate ("Yang Terjauh") Tajikistan modern. Kampanye ini membawa Aleksander melewati Media, Parthia, Aria (Afghanistan barat), Drangiana, Arachosia (Afghanistan Tengah dan Selatan), Baktria (Afghanistan Tengah dan Utara), dan Scythia.

Bessus dikhianati pada tahun 329 SM oleh Spitamenes, yang memegang posisi tak jelas dalam kesatrapan Sogdiana. Spitamenes menyerahkan Bessus pada Ptolemaios, salah satu rekan terpercaya Aleksander, dan Bessus pun dihukum mati. Akan tetapi, ketika, di suatu waktu, Aleksander sedang sibuk di Jaxartes dalam rangka menghadapi serbuan pasukan nomad berkuda, Spitamenes malah memimpin pemberontakan di Sogdiana. Aleksander mengalahkan pasukan Scythia dalam Pertempuran Jaxartes dan dengan segera melancarkan kampanye militer melawan Spitamenes. Aleksander berhasil mengalahkannya dalam Pertempuran Gabai. Setelah kalah, Spitamenes dibunuh oleh anak buahnya sendiri, yang kemudian memohon perdamaian pada Aleksander.
Permasalahan
Setelah menguasai Persia, Aleksander mengambil gelar Persia "Raja dari Segala Raja" (Shahanshah) dan mengadopsi beberapa ciri khas Persia dalam hal pakaian dan kebiasaan di istananya. Yang paling terkenal adalah adat proskynesis, kemungkinan adat mencium tangan secara simbolis, atau sujud di tanah, yang biasa orang Persia lakukan di depan atasan mereka. Orang Yunani menganggap bahwa gerakan tersebut hanya boleh dilakukan kepada dewa dan mereka percaya bahwa Aleksander berniat mendewakan dirinya dengan cara menyuruh orang-orang melakukan itu padanya. Akibatnya dia kehilangan banyak simpati dari para anak buahnya, dan pada akhirnya dia meninggalkan kebiasaan tersebut.
Suatu hari rencana pembunuhan terhadap dirinya terungkap. dan salah satu perwiranya, yaitu Philotas, dihukum mati karena tidak dapat menangai rencana pembunuhan itu dengan cepat. Kematian seorang putra mengharuskan ayahnya juga untuk ikut mati, dan demikianlah Parmenion, yang bertugas menjaga harta benda di Ecbatana, dibunuh secara diam-diam atas perintah Aleksander, supaya dia tidak dapat membalaskan kematian putranya. Aleksander juga pernah secara langsung membunuh pria yang pernah menyelamatkan nyawanya di Granikos, yaitu Kleitos si Hitam, ketika mereka sedang mabuk dan berdebat di Maracanda. Di kemudian hari, dalam kampanye di Asia Tengah, rencana pembunuhan kedua terungkap, kali ini diprakarsai oleh pelayan prianya sendiri. sejarawan resminya, Kallisthenes dari Olynthos (yang tak lagi disukai oleh Aleksander karena memimpin oposisi terhadap usahanya untuk memperkenalkan proskynesis), dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut; Namun, tidak pernah ada kesepakatan di antara para sejarawan mengenai keterlibatannya dalam persekongkolan.

Makedonia
Ketika Aleksander pergi ke Asia, dia menugaskan jenderalnya Antipatros, seorang pemimpin dengan pengalaman politik dan militer dan bagian dari "Garda Lama" yang telah melayani Filipus, untuk mengurus Makedonia. Penghancuran Aleksander terhadap kota Thebes telah membuat kota-kota lainnya diam sehingga Yunani terjamin tetap aman selama Aleksander absen. Masalah yang muncul adalah ancaman dari raja Sparta, Agis III, pada tahun 331 SM, yang untungnya dapat diselesaikan oleh Antipatros. Agis dikalahkan dan dibunuh oleh Antipatros dalam suatu pertempuran di Megalopolis setahun kemudian. Antipatros lalu meminta Aleksander untuk menghukum Sparta, namun Aleksander lebih memilih untuk mengampuni mereka. Masalah lainnya adalah perselisihan antara Antipatros dan ibu Aleksander Olympias. Masing-masing dari mereka sama-sama mengeluh kepada Aleksander mengenai yang lainnya. Secara umum, Yunani mengalami periode perdamaian dan kemakmuran selama kampanye militer Aleksander di Asia. Aleksander juga mengirim balik sejumlah besar harta hasil dari penaklukannya, yang berhasil meningkatkan perekonomian dan mengembangkan perdagangan antar daerah di kekaisarannya. Namun dalam prosesnya, Aleksander terus-menerus meminta tambahan pasukan serta penduduk dari Yunani untuk mengisi berbagai daerah di kekaisarannya. Tindakan ini sangat melemahkan Makedonia bertahun-tahun setelah kematiannya, dan akan berujung pada kekalahan dan pendudukan Makedonia oleh Romawi.

Kampanye di India

Invasi ke anak benua India
Aleksander menikah dengan Roxane (Roshanak dalam bahasa Baktria) untuk memperkuat hubungannya dengan kesatrapan di Asia Tengah. Setelah itu Aleksander mengalihkan perhatiannya ke anak benua India. Dia mengundang semua kepala suku dari bekas kesatrapan Gandhara, di daerah utara Pakistan modern, untuk datang dan tunduk di bawah kekuasaannya. Omphis, penguasa Taxila, yang kerajaannya membentang dari Indus sampai Hydaspes, bersedia tunduk, namun para kepala suku dari beberapa klan perbukitan, termasuk bagian-bagian Aspasioi dan Assakenoi dari suku Kambojas (dikenal juga dalam naskah-naskah India sebagai Ashvayanas Dan Ashvakayanas), menolak untuk menyerah.
Pada musim dingin tahun 327/326 SM, Aleksander secara langsung memimpin pasukan untuk menghadapi klan-klan yang tidak mau tunduk kepadanya, antara lain suku Aspasioi dari lembah Kunar, suku Guraeus dari lembah Guraeus, dan suku Assakenoi dari lembah Swat dan Buner. Pertempuran yang sengit terjadi melawan pasukan Aspasioi ketika Aleksander sendiri terluka bahunya oleh panah. Namun pasukan Aspasioi pada akhirnya berhasil dikalahkan. Aleksander kemudian menghadapi pasukan Assakenoi, yang memberikan perlawanan yang luar biasa dari benteng Massaga, Ora dan Aornos. Benteng Massaga berhasil ditaklukkan setelah melalui pertumpahan darah selama beberapa hari dan Aleksander lagi-lagi terluka di bagian pergelangan kakinya. Menurut Curtius, "Aleksander tidak hanya membantai seluruh penduduk Massaga, tetapi juga menghancurkan bangunan-bangunannya". Pembantaian serupa terjadi di Ora, benteng lainnya milik suku Assakenoi. Setelah peristiwa Massaga dan Ora, banyak orang Assakenoi yang menyelamatkan diri ke benteng Aornos. Aleksander mengikuti mereka dan berhasil menaklukkan benteng di atas bukit tersebut setelah melakukan pertempuran yang sangat berdarah selama empat hari.
Setelah menaklukkan Aornos, Aleksander menyeberangi sungai Indus dan bertempur melawan penguasa Punjabi lokal yang bernama Raja Puru, yang menguasai daerah diPunjab. Aleksander mengalahkan Puru melalui pertempuran yang sengit, yaitu Pertempuran Hydaspes pada tahun 326 SM. Aleksander sangat terkesan dengan keberanian Puru dalam pertempuran tersebut dan karena itu seusai pertempuran Aleksander menjalin kerja sama dengannya serta mengangkatnya sebagai salah satu satrap di kerajaannya. Aleksander bahkan menambahkan wilayah yang sebelumnya tidak dikuasai oleh Puru. Alasan lainnya kemungkinan lebih bersifat politis, yaitu karena untuk mengendalikan daerah yang jauh dari Yunani, Aleksander membutuhkan bantuan dan kerja sama dari orang lokal. Aleksander mendirikan dua kota baru di kedua sisi sungai Hydaspes, dan salah satunya dia beri nama Bukephala sebagai penghormatan kepada kuda yang telah membawanya ke India. Kudanya itu meninggal dalam pertempuran. Kota yang satunya dinamai Nikaia (Kejayaan) di situs arkeologis Mong.

Pemberontakan pasukan

Di sebelah timur kerajaan Puru, di dekat Sungai Gangga, berdiri Kekaisaran Nanda di Magadha dan Kekaisaran Ganggaridai di Bengali. Dua kekaisaran itu sangatlah kuat. Pasukan Aleksander kemudian memberontak karena tidak mau lagi menghadapi pasukan India yang kuat. Selain itu mereka juga sudah lelah setelah berperang selama bertahun-tahun. Mereka memberontak di Sungai Hyphasis, menolak untuk maju lebih jauh ke timur. Demikianlah, sungai ini menjadi batas paling timur penaklukan Aleksander.

"Mereka secara kasar menentang Aleksander ketika dia bersikeras ingin menyeberangi sungai Gangga, yang lebarnya, sesuai yang mereka tahu, adalah tiga puluh dua furlong, kedalamannya mencapai seratus depa, sedangkan bantarannya di sisi seberang telah dipenuhi oleh banyak prajurit dan penunggang kuda dan gajah musuh. Karena mereka sudah diberi tahu bahwa pasukan Ganderites dan Praesii telah menanti kedatangan mereka dengan menyiapkan delapan puluh ribu penunggang kuda, dua ratus ribu pasukan pejalan kaki, delapan ribu kereta perang, dan enam ribu gajah perang."

Aleksander berbicara kepada pasukannya dan berusaha untuk membujuk mereka supaya mau berjalan lebih jauh ke India namun Koinos, salah satu jenderalnya, memohon pada Aleksander untuk berubah pikiran dan pulang. Koinos berkata, "Para tentara sudah rindu untuk berjumpa kembali dengan orang tua, istri dan anak-anak mereka. Aleksander menyadari keadaan pasukannya dan dia pun akhirnya setuju. Dia dan pasukannya kemudian berbelok ke selatan dan menyusuri Sungai Indus. Dalam perjalanannya, mereka menaklukkan klan-klan Malli (di Multan modern), dan beberapa suku India lainnya.

Aleksander mengirim sejumlah besar pasukannya ke Carmania (Iran selatan modern) beserta jenderalnya Krateros, dan juga mengirim armada laut untuk mengeksplorasi pesisir Teluk Persia di bawah admiralNearkhos. Sementara dia sendiri memimpin pasukannya untuk mundur ke Persia melalui rute selatan yang lebih sulit di sepanjang Gurun Gedrosia dan Makran (kini bagian dari Iran selatan dan Pakistan selatan). Alekander sampai di Susa pada tahun 324 BC, namun dia kehilangan banyak prajurit akibat kondisi gurun yang keras.

Tahun-tahun terakhir di Persia

Mengetahui bahwa banyak satrap dan gubernur militernya yang bertindak melenceng selama dia absen, Aleksander pun menghukum mati beberapa dari mereka dalam perjalanannya ke Susa sebagai contoh bagi yang lainnya. Sebagai ungkapan terima kasih kepada pasukannya, Aleksander membayar lunas gaji para tentaranya, dan mengumumkan bahwa dia akan mengirim prajurit yang sudah tua dan cacat kembali ke Makedonia dengan dimpimpin oleh Krateros. Namun, pasukannya salah paham atas niat Aleksander. Mereka pun memberontak di kota Opis, menolak untuk dikirim balik dan secara keras mengkritik usahanya untuk menagdopsi adat dan pakaian Persia, dan upaya masuknya para perwira dan tentara Persia ke dalam unit-unit militer Makedonia. Aleksander mengeksekusi para pemimpin pemberontakan tersebut, namun mengampuni para prajuritnya. Setelah tiga hari, Aleksander sadar dia tidak dapat membujuk pasukannya. Aleksander pun tak lagi memasukkan komando Persia ke dalam pasukan Makedonia, sebaliknya gelar-gelar militer Makedonia kini dapat diberikan untuk unit-unit perang Persia. Maka pasukan Makedonia langsung meminta maaf, dan Aleksander memaafkan mereka. Pada malam harinya, Aleksander menggelar acara makan-makan yang dihadiri oleh beberapa ribu prajuritnya, dan mereka makan bersama. Dalam upaya menciptakan perdamaian yang bertahan antara orang-orang Makedonia dan rakyat Persia, Aleksander mengadakan pernikahan massal di Susa antara para perwiranya dengan wanita bangsawan Persia. Akan tetapi, hanya sedikit dari pernikahan tersebut yang bertahan lebih dari setahun. Sementara itu, setelah tiba di istananya, Aleksander mengetahui bahwa beberapa orang telah menodai makam Koresh yang Agung. Aleksander dengan cepat menghukum mati mereka, karena mereka sebenarnya ditugaskan untuk menjaga makam Koresh tersebut, yang sangat dihormati oleh Aleksander.
Setelah Aleksander pergi ke Ekbatana untuk mengambil bagian terbesar dari harta kekayaan Persia, sahabat terdekat dan mungkin kekasihnya, Hephaistion, meninggal karena suatu penyakit, atau barangkali akibat diracun. Arrian menemukan banyak sumber yang meragukan tentang reaksi duka Aleksander atas kematian itu, meskipun hampir semua pendapat setuju bahwa kematian Hephaistion cukup menggucang Aleksander. Dia memerintahkan pelaksananaan pemakaman sahabatnya itu untuk diselenggarakan secara mahal di Babilonia. Selain itu, Aleksander juga memerintahkan dilaksanakannya masa berkabung bersama.
Setelah kembali ke Babilonia, Aleksander merencanakan serengkaian kampanye militer baru, yang akan dimulai dengan invasi ke Jazirah Arab. Namun dia tidak sempat merealisasikan rencana tersebut karena dia meninggal dunia tidak lama setelah kembali ke Babilonia.

Kematian

Pada tanggal 10 atau 11 Juni 323 SM, Aleksander meninggal di istana Nebukadnezar II, di Babilonia pada usia 32 tahun. Rincian mengenai kematian tersebut sedikit berbeda-beda. Catatan Plutarch menceritakan bahwa sekitar 14 hari sebelum kematiannya, Aleksander menjamu admiralnya, Nearkhos, dan menghabiskan malam serta hari berikutnya dengan minum-minum bersama Medios dari Larissa. Aleksander lalu mengalami demam, yang semakin lama semakin parah, sampai-sampai dia tak dapat lagi berbicara. Para tentara menjadi sangat cemas ketika Aleksande hanya dapat mengabaikan tangannya pada mereka. Dua hari kemudian, Aleksander meninggal dunia. Sementara Diodoros menceritakan bahwa Aleksander menderita rasa sakit setelah meneggak semangkuk besar angur yang tidak dicampur untuk menghormatiHerakles, dan wafat setelah mengalami semacam rasa sakit, yang juga disebutkan sebagai alternatif oleh Arrian, namun Plutarch secara khusus membantah klaim ini.
Mengingat aristokrasi Makedonia punya kecenderungan untuk melakukan pembunuhan, maka muncul dugaan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat dibunuh. Diodoros, Plutarch, Arrian dan Yustinus semuanya menyebutkan teori bahwa Aleksander diracun. Plutarch menganggapnya sebagai pemalsuan, sedangkan Diodoros dan Arrian berkata bahwa mereka menyebutkannya hanya demi kelengkapan. Meskipun demikian, catatan-catatan mereka cukup konsisten dalam menduga para tersangka di balik pembunuhan Aleksander, di antaranya adalah Antipatros, yang baru saja diberhentikan dari jabatannya sebagai raja muda Makedonia, dan tersangka lainnya anehnya adalah Olympias. Barangkali datang ke Babilonia untuk menanti hukuman mati, dan telah melihat nasib yang menimpa Parmenion dan Philotas, Antipatros pun menyusun rencana supaya Aleksander diracun oleh putranya Iollas, yang merupakan penuang anggur Aleksander. Bahkan ada dugaan bahwa Aristoteles terlibat dalam konspirasi tersebut. Sebaliknya, argumen terkuat melawan teori racun adalah fakta bahwa ada dua belas hari antara awal sakitnya dan kematiannya; di dunia kuno, racun yang bereaksi lama seperti itu kemungkinan tidak tersedia. Akan tetapi pada tahun 2010, sebuah teori diajukan yang mengindikasikan bahwa keadaan kematian Aleksander sesuai dengan peracunan oleh air sungai Styx (Mavroneri) yang mengandung calicheamicin, suatu bahan berbahaya yang dihasilkan oleh bakteri yang ada di airnya.
Beberapa penyebab alami (penyakit) telah diajukan sebagai penyebab kematian Aleksander; malaria atau demam tifoid adalah kandidat yang jelas. Sebuah artikel tpada tahun 1998 dalam New England Journal of Medicine menyebutkan kematian Aleksander disebabkan oleh pelubangan usus dan kelumpuhan menaik, sedangkan analisis terkini lainnya mengajukan spondilitis pirogenis atau meningitis sebagai penyebabnya. Penyakit lainnya dapat juga menjadi penyebabnya, termasuk pankreatitis akut atau Virus West Nile. Teori penyebab alami juga cenderung menekankan bahwa kesehatan Aleksander mungkin semakin menurun akibat suka minum-minum dan menderita luka-luka dalam perang (termasuk luka di India yang hampir merenggut nyawanya). Lebih jauh lagi, duka cita yang dirasakan oleh Aleksander setelah kematian Hephaestion mungkin ikut memperburuk kesehatannya.

Penyebab lainnya yang diduga mengakibatkan kematian Aleksander adalah overdosis obat-obatan yang mengandung hellebore, sejenis tanaman yang berbahaya jika dikonsumsi dalam dosis yang banyak.

Pemakaman

Jenazah Aleksander disimpan di sarkofagus emas berbentuk tubuhnya (antropoid) dan diisi dengan madu, yang kemudian dimasukkan lagi ke dalam peti mati emas. Berdasarkan Aelianus, seorang peramal bernama Aristandros meramalkan bahwa tanah tempat Aleksander diistirahatkan "akan bahagia dan tak tertaklukkan selamanya". Yang lebih mungkin, para penerusnya barangkali menganggap kepemilikan atas jenazah Aleksander sebagai suatu lambang legitimasi (adalah hak khusus kerajaan untuk memakamkan raja sebelumnya). Bagaimanapun, Ptolemaios mencuri iring-iringan pemakaman, dan membawanya ke Memphis. Penggantinya,Ptolemaios II Philadelphos, memindahkan sarkofagus ke Aleksandria. Sarkofagus itu berada di sana hingga setidaknya Zaman Kuno Akhir. Ptolemaios IX Lathyros, salah satu penerus Ptolemaios I, mengganti sarkofagus emas Aleksander dengan sarkofagus dari kaca. Sarkofagus emasnya dia lelehkan untuk kemudian dibuat menjadi uang koin. Pompeius, Julius Caesar dan Augustus semuanya pernah mengunjungi makam Aleksander di Aleksandria. Augustus diduga mengganggu hidung jenazah Aleksander. Caligula dikatakan mengambil pelindung dada Aleksander dari makam untuk kepentingannya sendiri. Pada tahun 200 M, Kaisar Septimius Severus menutup makam Aleksander untuk umum. Putra dan penggantinya, Caracalla, adalah pengagum berat Aleksander. Dia pernah mengunjungi makam Aleksander pada masa pemerintahannya. Setelah itu, nasib makam tersebut menjadi tidak banyak diketahui.
Sarkofagus yang disebut "Sarkofagus Aleksander" ditemukan di dekat Sidon dan kini berada di Museum Arkeologi Istanbul. Sarkofagus itu dinamai begitu bukan karena di dalamnya ada jenazah Aleksander, tetapi karena di bagian luarnya terdapat relief yang menggambarkan Aleksander dan rekan-rekannya yang sedang berburu dan bertempur melawan pasukan Persia. Awalnya itu dikira sebagai sarkofagus Abdalonymos(meninggal 311 SM), raja Sidon yang diangkat oleh Aleksander segera setelah pertempuran Issus pada tahun 331. Namun, baru-baru ini diduga bahwa sarkofagus itu berasal dari masa yang lebih awal daripada kematian Abdolymos.

Wasiat
Diodoros Sikolos menulis bahwa Aleksander telah memberi instruksi tertulis yang rinci kepada Krateros sebelum meninggal dunia. Meskipun Krateros sudah mulai melaksanakan beberapa perintah Aleksander, namun para penerusnya memilih untuk tidak melaksanakannya lebih lanjut, dengan alasan tidak praktis dan boros. Meskipun demikian, kehendak Aleksander dibacakan kepada pasukannya oleh Perdikkas setelah kematian Aleksander. Wasiat itu menyuruh untuk melakukan ekspansi imiliter ke Mediterania barat dan selatan, membangun monumen, dan pencampuran penduduk Timur dan Barat. Isinya adalah:
  • Membangun makam monumental untuk ayahnya Filipus, "untuk menyamai piramida terbesar di Mesir
  • Mendirikan kuil di Delos, Delphi, Dodona, Dium, Amphipolis, Kirnos, dan sebuah kuil monumental untuk dewi Athena di Troya.
  • Menaklukkan Jazirah Arab dan seluruh Mediterania
  • Berlayar mengelilingi Afrika
  • Mendirikan kota-kota dan "mengirim penduduk dari Asia ke Eropa dan sebaliknya dari Eropa ke Asia, dengan tujuan menyatukan dua benua itu dan persahabatan dengan cara pernikahan antar bangsa dan ikatan keluarga

Pembagian kekaisaran

Kematian Aleksander begitu tiba-tiba sehingga ketika beritanya mencapai Yunani, orang-orang tidak langsung percaya. Aleksander tidak memiliki ahli waris yang sah dan jelas, putranya Aleksander IV dari hubungannya dengan Roxane lahir setelah Aleksander meninggal. Akibatnya muncul pertanyaaan besar mengenai siapa yang akan memimpin kekaisaran yang baru ditaklukkan dan belum tenang ini. Berdasarkan Diodoros, rekan-rekan Aleksander sempat bertanya kepada Aleksander, yang saat itu sedang sekarat, mengenai kepada siapa Aleksander mewarskan kerajaannya. Aleksander menjawab singkat, "tôi kratistôi" ("kepada yang terkuat"). Mengingat bahwa Arrianus dan Plutarch menyatakan bahwa ketika itu Aleksander sudah tidak dapat berbicara, cerita tersebut agak diragukan kebenarannya. Diodoros, Curtius dan Yustinus juga punya cerita yang lebih masuk akal bahwa Aleksander meberikan segelnyakepada Perdikkas, salah satu pengawalnya dan pemimpin pasukan kavaleri rekan. Aleksander melakukannya di depan sejumlah saksi, dan dengan demikian mungkin Aleksander mencalonkan Perdikkas sebagai penerusnya.
Dalam hal apapun, Perdikkas awalnya secara eksplisit menolak mengklaim kekuasaan. Dia malah menginginkan putra Roxane untuk menjadi raja, jika Roxane melahirkan bayi laki-laki. Sementara dia, Krateros, Leonnatos, dan Antipatros akan menjadi penjaga sang raja. Akan tetapi, pasukan infantri, di bawah komandoMeleagros, menolak hal ini dengan alasan mereka tidak diikutsertakan dalam diskusinya. Sebaliknya, mereka mendukung saudara tiri Aleksander, Filipus Arrhidaios. Pada akhirnya, kedua belas pihak berdamai, dan setelah Aleksander IV lahir, dia dan Filipus III diangkat sebagai raja bersama, meskipun itu hanyalah gelar saja.
Tidak lama setelah itu, perselisihan dan persaingan mulai menimpa orang-orang Makedonia. Kesatarapan-kesatrapan yang diserahkan oleh Perdikkas melalui Pembagian Babilonia menjadi basis kekuatan bagi masing-masing jenderal untuk melancarkan tawarannya untuk kekausaan. Setelah Perdikkasn dibunuh oleh pembunuh gelap pada tahun 321 SM, persatuan Makedonia runtuh dan terjadilah perang selama empat puluh tahun antara "Para Penerus" (Diadokhoi). Setelah itu kekaisaran Aleksander terpecah menjadi empat wilayah kekuassaan terpisah yang stabil, yaitu Kerajaan Ptolemaik di Mesir, Kekaisaran Seleukia di Persia,Kerajaan Pergamon di Asia Minor, dan Kerajaan Makedonia di Yunani. Dalam prosesnya, baik Aleksander IV dan Filipus III terbunuh.

Keahlian militer

Aleksander memperoleh gelar "yang Agung" karena kesuksesannya yang tak tertandingi sebagai komandan militer. Dia tidak pernah kalah dalam pertempuran, meskipun sering kalah jumlah dalam banyak pertempuran yang dia lakukan. Kesuksesan ini karena keberhasilannya memanfaatkan keadaan medan perang, penguasaan siasatphalanx dan kavaleri, strategi yang berani, dan terutama kemampuannya untuk membangkitkan kesetiaan yang luar biasa di antara para prajuritnya. Phalanx Makedonia, yang bersenjatakan sarissa, yaitu tombak sepanjang enam meter, telah dikembangkan dan disempurnakan oleh Filipus II melalui latihan yang keras, dan Aleksander mempergunakan kecepatan dan kemampuan manuvernya untuk efek yang besar melawan pasukan Persia yang lebih banyak namun lebih terpisah. Aleksander juga mampu memahami potensi perpecahan di antara pasukannya, yang memiliki bahasa dan senjata yang berebda-beda, dan dia mengatasi hal itu dengan cara terlibat secara langsung dalam pertempuran, dengan tata cara sebagai raja Makedonia.
Dalam pertempuran pertamanya di Asia, yakni di Granikos, Aleksander hanya mengerahkan sedikit pasukannya, kemungkinan 13.000 infantri dengan 5.000 kavaleri. Sementara pasukan Persia yang dihadapinya berjumlah 40.000 prajurit. Aleksander menempatkan pasukan phalanx di bagian tengah dan kavaleri serta pemanah di bagian sayap, dengan demikian barisannya menjadi sama panjang dengan barisan kavaleri Persia yang dia hadapi, yaitu sekitar 3 km (1.86 mil). Pasukan infantri Persia sendiri diposisikan di belakang kavaleri. Dengan siasat tersebut, Aleksander memastikan bahwa pasukannya tidak akan dijepit, sedangkan pasukan phalaxnya, yang bersenjatakan tombak panjang, memiliki keuntungan yang besar terhadap skimitar dan lembing pasukan Persia. Pada akhirnya, kerugian yang dialami pasukan Persia jauh lebih besar daripada kerugian pasukan Makedonia.
Di Issus pada tahun 333 SM, Aleksander pertama kali berhadapan dengan Darius. Ketika itu dia menggunakan metode pemosisian yang sama, dan lagi-lagi phalanx di bagian tengah berhasil mendorong maju karena memiliki keuntungan berupa senjata tombak mereka yang panjang. Ini memungkinkan Aleksander secara langsung memimpin serangan di bagian tengah barisan melawan Darius. Pada akhirnya Darius melarikan diri dan pasukan Persia mundur secara kacau. Dalam pertempuran yang menentukan di Gaugamela, Darius telah melengkapi kereta perang-kereta perangnya dengan sabit pada bagian rodanya untuk memecah barisan phalanx dan kavaleri Aleksander. Menghadapi ini, Aleksander menyusun formasi phalanx ganda, dengan bagian tengahnya membentuk sudut. Ketika kereta perang Persia menyerang, barisan phalanx ini akan memisahkan diri dan kemudian mengelompok kembali. Rencana Aleksander berhasil dan bagian tengah barisan Persia berhasil ditembus. Darius kalah dan dia melarikan diri lagi.
Ketika berhadapan dengan musuh yang bertempur dengan teknik yang tidak dia kenal, seperti misalnya di Asia Tengah dan India, Aleksander dengan cepat mampu menyesuaikan gaya tempur pasukannya. Jadi, di Baktria dan Sogdiana, Aleksander sukses mengerahkan para pelempar lembing dan pemanahnya untuk mencegah kepungan musuh, dan pada saat yang sama dia menumpuk kavaleri di bagian tengah barisan. Di India, ketika berperang melawan korps gajah Raja Puru, pasukan Makedonia bisa menang dengan cara membuka barisan dan mengurung gajah-gajah musuh. Kemudian dengan mengarahkan tombak sarissa mereka ke arah dan menjatuhkan para penunggang gajahnya.

Penampilan fisik
Biografer Yunani Plutarch (ca. 45–120 M) menggambarkan penampilan Aleksander sebagai berikut:

Aleksander memiliki kulit terang, rambut pirang, dan mata biru yang mampu melelehkan hati. Bau harum alami keluar dari tubuhnya, begitu kuat sampai-sampai pakainnya juga ikut wangi.

Sejarawan Yunani lainnya Arrianus (Lucius Flavius Arrianus 'Xenophon' ca. 86 - 160 M) mendeskripsikan Aleksander sebagai:
Komandan yang tampan dan kuat dengan mata yang satu sehitam malam dan mata yang satunya sebiru langit

Banyak penggambaran dan patung yang menggambarkan Aleksander dalam postur tubuh berbentuk S, dengan padangan ke arah atas. Beberapa sejarawan beranggapan bahwa ini menunjukkan Aleksander memiliki cacat fisik. Namun ini juga merupakan konsep seni tradisional Contrapposto yang sering digunakan oleh para pematung kuno dan modern untuk menunjukkan keindahan, keanggunan, dan dominasi sosial. Para sejarawan itu berpendapat bahwa ayah Aleksander, Filipus II, dan saudaranya Filipus Arrhidaios mungkin juga menderita cacat fisik, yang memunculkan kesimpulan bahwa Aleksander menderita gangguan skoliosis bawaan (leher familial dan cacat tulang belakang).

Sebagai contoh, sejarawan Britania modern Peter Green (lahir tahun 1924) mengajukan pendapat mengenai penampilan fisik Aleksander, berdasarkan tinjauannya terhadap patung-patung dan beberapa dokumen kuno:

Secara fisik, Aleksander tidaklah menawan. Bahkan untuk standar Makedonia ia sangat pendek, walaupun gempal dan tangguh. Janggutnya sedikit, dan dia berdiri di hadapan para baron Makedonia dalam keadaan bercukur bersih. Lehernya dalam beberapa cara sedikit memutar, sehingga ia tampak sedang menatap ke arah atas. Matanya (satu biru, satu coklat) memperlihatkan kualitas yang feminin dan berembun. Dia memiliki kulit yang tinggi dan suara yang kasar.

Bahkan ada pendapat dari ahli bedah Hutan Ashrafian bahwa skoliosis yang dialami Aleksander ikut berperan dalam kematian Aleksander, namun sejarawan Yunani kuno Arrianus dari Nikomedia menyatakan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat demam.
Para penulis kuno mencatat bahwa Aleksander Agung sangat sennag dengan penggambaran dirinya oleh Lysippos sehingga di membuat keputusan bahwa para pematung tidak boleh lagi membuat patung dirinya. Lysippos sudah sering menggunakan skema patung Contrapposto untuk menggambarkan Aleksander dan tokoh-tokoh lainnya seperti misalnya Apoxyomenos, Hermes dan Eros. Patung Lysippos yang terkenal karena naturalismenya yang seperti hidup, yang berkebalikan dengan pose statis yang kaku, dipercaya sebagai penggambaran rupa Aleksander yang paling akurat.

Kepribadian

Beberapa sifat Aleksander terbentuk sebagai respon terhadap orang tuanya. Ibunya memiliki ambisi yang besar untuk Aleksander, dan mendorongnya untuk percaya bahwa adalah takdinya untuk menaklukkan Kekaisaran Persia. Dan memang, Olyympias mungkin telah bertindak sampai sejauh meracuni Filipus Arrhidaios dengan tujuan membuatnya cacat, dan mencegahnya menjadi saingan Aleksander. Pengaruh Olympias menanamkan ambisi yang besar dan perasaan akan takdir dalam diri Aleksander, dan Plutarch menceritakan bahwa ambisi Aleksander "menjaga semangatnya tetap serius dan tinggi seiring usianya bertambah". Hubungan Aleksander dengan ayahnya menghasilkan sisi kompetitif dalam kepribadiannya; dia mesti melampaui ayahnya, karena itu kadang-kadang dia bersikap nekat dalam pertempuran.Sementara Aleksander merasa cemas bahwa ayahnya tidak akan mewariskan padanya "pencapaian hebat dan brilian untuk diperlihatkan pada dunia", ia masih berusaha untuk mengecilkan prestasi ayahnya di depan rekan-rekannya.

Patung kepala Aleksander Agung buatan Lysippos, dari Pella,Yunani, abad ke-3 SM.
Sifat Aleksander yang paling jelas adalah sikap pemarah, kasar, dan impulsif,  yang tak diragukan lagi ikut berpengaruh terhadap beberapa keputusan dalam hidupnya. Plutarch berpendapat bahwa sifat ini yang menjadikan Aleksander kecanduan terhadap alkohol. Meskipun Aleksander keras kepala dan tidak menanggapi dengan baik perintah ayahnya, namun dia mudah dibujuk melalui alasa-alasan yang jelas. Dan memang, di samping memiliki temperamen yang berapi-api, ada juga sisi tenang dalam diri Aleksander. Dia itu cerdik, logis, dan memperhitungkan segala kemungkinan. Dia memiliki hasrat yang besar terhadap pengetahuan, dia cinta filsafat, dan dia adalah pembaca yang setia. Sifat-sifat itu tak diragukan berasal dari masa bimbingannya oleh Aristoteles, yang membuat Aleksander menjadi orang yang cerdas dan cepat belajar. Kisah bahwa dia berhasil "menyelesaikan" Simpul Emas menunjukkan kepintarannya. Sisi intelejen dan rasional Aleksander dapat kita lihat dari kemampuan dan keberhasilannya sebagai seorang jenderal. Dia mampu menahan hasratnya untuk memperoleh kenikmatan tubuh, misalnya hubungan seksual, namun dia kurang mampu mengendalikan diri terhadap alkohol.
Aleksander tidak diragukan lagi merupakan orang yang terpelajar, dan sangat menyukai seni maupun ilmu pengetahuan. Akan tetapi dia kurang tertarik pada olahraga, atau Olimpiade, tak seperti ayahnya. Aleksander hanya mencari kejayaan dan ketenaran berdasarkan gagasan-gagasan Homeros. Dia memiliki kharisma yang besar dan kepribadian yang kuat, semua karakteristik itu menjadikannya sebagai pemimpin yang hebat. Ini semakin diperkuat dengan ketidakmampuan para jenderalnya untuk menyatukan Makedonia dan mempertahankan kekaisaran setelah kematiannya. Hanya Aleksander yang memiliki kepribadian dan kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

Megalomania

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dan terutama setelah kematian Hephaistion, Aleksander mulai menunjukkan gejala-gejala megalomania dan paranoia. Pencapaiannya yang luar biasa, ditambah dengan perasaannya yang tak terlukiskan mengenai takdir serta sanjungan rekan-rekannya, mungkin merupakan penyebabnya. Khayalannya tentang keagungan dapat dilihat dari wasiat-wasiat yang dia suruh Krateros untuk dilaksanakan, juga dapat kita lihat dari hasratnya untuk menaklukkan dunia yang dikenal.
Aleksander tampaknya percaya bahwa dia adalah dewa atau setidaknya ingin dirinya didewakan. Olympias selalu menanamkan dalam dirinya bahwa dia adalah putra Zeus. Aleksander juga semakin merasa sebagai keturunan dewa berkat pernyataan dari orakel Amun di Siwa. Sejak itu dia memandang dirinya sendiri sebagai putra Zeus-Ammon. Aleksander mengadopsi beberapa unsur pakaian dan adat Persia di istananya, yang paling terkenal adalah adat proskynesis, suatu praktik yang tidak disetujui oleh anak buah Makedonianya, yang tidak mau melakukannya. Perilaku tersebut membuat Aleksander kehilangan banyak simpati dari para anak buahnya.

Hubungan pribadi

Hubungan emosional terbesar Aleksander sepanjang hidupnya adalah dengan sahabat, jenderal, sekaligus pengawalnya Hephaistion, putra seorang bangsawan Makedonia. Kematian Hephaistion sangat menghancurkan mental Aleksander, dan membuat Aleksander amat berduka cita. Kejadian itu juga ikut berpengaruh pada penurunan kesehatan Aleksander, dan keadaan mental yang melemah pada bulan-bulan terakhir dari masa hidupnya. Aleksander menikah dua kali, pertama denganRoxane, putri bangsawan Baktria Oxyartes, karena cinta, dan yang kedua dengan Stateira II, seorang putri Persia dan anak perempuan Darius III, alasannya lebih bersifat politis. Aleksander memiliki dua orang putra, Aleksander IV dari Makedonia, dari Roxane, dan kemungkinan Herakles dari Makedonia dari Stateira. Aleksander kehilangan satu orang anak ketika Roxane mengalami keguguran di Babilonia.
Seksualitas Aleksander telah menjadi subjek spekulasi dan kontroversi. Tidak disebutkan dalam naskah kuno manapun bahwa Aleksander punya hubungan homoseksual, atau bahwa hubungan Aleksander dengan Hephaistion merupakan hubungan seksual. Akan tetapi, Aelianus, menulis bahwa Aleksander pernah mengunjungi Troya. Di sana Aleksander menaruh karangan bunga di makam Akhilles sedangkan Hephaistion menaruh karangan bunga di makam Patroklos. Ini memunculkan dugaan bahwa mereka adalah sepasang kekasih, seperti halnya Akhilles dan Patroklos. Perlu diingat bahwa kata eromenos (yang tercinta) tidak selalu memiliki makna seksual, Aleksander bisa jadi merupakan seorang biseksual, yang pada masanya tidaklah aneh.

Green berpendapat bahwa hanya ada sedikit bukti dalam naskah kuno yang menceritakan bahwa Aleksander memiliki ketertarikan pada perempuan, selain itu Aleksander baru memiliki anak pada akhir msa hidupnya. Namun, Aleksander masih relatif muda ketika meninggal dunia, dan Ogden berpendapat bahwa catatan pernikahan Aleksander lebih mengesankan daripada ayahnya pada usia yang sama. Selain istri, Aleksander juga memiliki banyak selir. Aleksander mengumpulkan harem dengan gaya raja-raja Persia namun dia tidak terlalu sering menikmati haremnya; yang dengan demikian menunjukkan bahwa Aleksander mampu mengendalikan hasrat seksualnya. Ada kemungkinan bahwa Aleksander adalah orang yang tidak terlalu menyukai hubungan seks. Namun demikian, Plutarch menggambarkan bahwa Aleksander tergila-gila pada Roxane sambil memuju dirinya sendiri karena berhasil membatasi nafsunya pada Roxane. Green mengajukan pendapat bahwa, dalam dalam konteks pada masa itu, Aleksander banyak berhubungan dekat dengan sejumlah perempuan, termasuk Ada dari Karia, yang mengadopsi Aleksander, dan bahkan ibu Darius, Sisygambis, yang diduga meninggal akibat berduka cita setelah Aleksander wafat.

Kerajaan-kerajaan Hellenistik

Peninggalan Aleksander yang paling jelas adalah diperkenalkannya kekuaaan Makedonia di Asia. Banyak dari daerah ini yang tetap berada dalam kekluasaan Makedonia atau di bawah pengaruh Yunani untuk 200-300 tahun berikutnya. Negara-negara penerus Aleksander yang muncul, setidaknya pada awalnya, merupakan kekuatan dominan pada epos ini, dan 300 tahun dalam masa tersebut seringkali disebut sebagai periode Hellenistik.
Batas timur kekasisaran Aleksander sudah mulai runtuh bahkan ketika dia masih hidup. Akan tetapi, kekosongan kekuasaan yang dia tinggalkan di barat laut anak benua India secara langsung memberi kesempatan pada munculnya salah satu dinasti India paling kuat sepanjang sejarah. Para penerus Aleksander tidak terlalu memedulikan daerah ini dan cenderung mengabaikannya, sehingga Chandragupta Maurya (dalam sumber-sumber Eropa disebut Sandrokotto) berhasil mengambil kendali atas Punjabi dan menjadikannya sebagai basis kekuatannya. Dari sana dia mampu menaklukkan Kekaisaran Nanda di India utara. Pada tahu 305 SM, Seleukos, salah satu penerus Aleksander, memimpin pasukan ke India untuk merebut wilayah itu. Pada akhirnya Seleukos malah melakukan pertukaran dengan Chandragupta. Seleukos menyerahkan wilayah tersebut dan Chandragupta memberinya 500 ekor gajah perang. Peristiwa ini pada gilirannya ikut memainkan peranan penting dalam Pertempuran Ipsus, yang juga berpengaruh banyak pada pembagian kekaisaran.

Hellenisasi

Hellenisasi adalah istilah yang dikemukakan oleh sejarawan Jerman Johann Gustav Droysen. Istilah ini merujuk pada penyebaran bahasa, budaya, dan penduduk Yunani ke daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Aleksander. Para sejarawan sepakat bahwa penyebaran ini memang terjadi, karena bukti-buktinya dapat dilihat di kota-kota besar Hellenisttik, contohnya Aleksandria (satu dari sekitar dua puluhan kota yang didirikan oleh Aleksander, Antiokia dan Seleukia (di selatan Baghdad modern). Namun, mengenai seberapa luas dan seberapa dalam penyebaran ini, dan sampai sejauh mana proses itu merupakan kebijakan yang disengaja, masih banyak diperdebatkan. Aleksander sudah jelas melakukan langkah-langkah yang disengaja untuk memasukkan unsur-unsur Yunani ke dalam budaya Persa dan dalam beberapa hal ia berusaha menggabungkan budaya Yunani dan Persia, yang berujung pada cita-citanya untuk menyatukan penduduk Asia dan Eropa. Akan tetapi, para penerusnya terang-terangan menolak kebijakan semacam itu setelah kematian Aleksander. Namun dimikian, Hellenisas tetap saja terjadi di seluruh wilayah bekas kekuasaan Aleksander, dan terlebih lagi, diikuti oleh Orientalisasi, proses oleh negara-negara penerus Aleksander yang berbeda dan berlawanan dengan Hellenisasi itu sendiri.

Berdsarkan asal-usulnya, inti dari budaya Hellenistik pada dasarnya adalah Athena. Dialek Koine Athena telah diadopsi untuk kePerluan resmi lama sebelum masa Filipus II, dan dengan deimikian telah tersebar ke seluruh penjuru dunia Hellenistik, serta menjadi lingua franca melalui penaklukan Aleksander. Lebih jauh lagi, Perencanaan kota, pendidikan, pemerintahan lokal, dan seni pada periode Hellenistik semuanya diddasarkan pada gagasan-gagasan Yunani Klasik, dan berevolusi menjadi bentuk yang baru dan berbeda, yang secara umum dikelompokkan sebagai Hellenistik. Aspek-aspek budaya Hellenistik tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium sampai pertengahan abad ke-15.
Buddha, dalam gaya Buddha-Yunani, abad ke-1 - 2 M, Gandhara(Pakistan modern). Museum nasional Tokyo.
Beberapa pengaruh yang tak biasa dari Hellenisasi dapat dilihat dari India, di daerah tempat berdirinya Kerajaan Yunani-India, yang munculnya relatif terlambat. Di sana, di tempat yang jauh dari Eropa, budaya Yunani tampak bercampur dengan budaya India, dan khususnya dengan agama Buddha. Penggambaran pertama Buddha yang realistis muncul pada masa ini. Buddha digambarkan berdasarkan patung-patung dewa Apollo dari Yunani. Beberapa tradisi Buuddha kemungkinan telah terpengaruh oleh agama Yunani kuno, contohnya konsep Bodhisattva merupakan pengenangan terhadap pahlawan-pahlawan dewata Yunani, dan beberapa praktik ritual Mahayana (membakar dupa, memberi bunga, dan menaruh makanan di altar) mirip dengan yang dilakukan oleh orang Yunani kuno. Buddhisme Zen mengambil beberapa gagasan dari orang-orang stoikYunani, misalnya Zeno. Seorang raja Yunani, Menander I, kemungkinan menjadi penganut Buddha, dan diabadikan dalam literatur Buddha sebaga 'Milinda'.

Pengaruh pada Romawi

Aleksander dan semua yang telah dia lakukan dikagumi oleh banyak orang Romawi. Mereka mengasosiasikan diri mereka sendiri dengan prestasi-prestasi Aleksander. Polybiusmemulai Sejarahnya dengan mengenangkan rakyat Romawi akan tindakan-tindakan Aleksander. Sesudah itu para pemimpin Romawi melihat Aleksander sebagai teladan dan sumber inspirasi bagi mereka. Julius Caesar dilaporkan berurai air mata di Spanyol ketika melihat patung Aleksander, karena dia merasa bahwa pencapaiannya terlalu sedikit jika dibandingkan dengan Aleksander, yang berhasil menaklukkan Persia pada usia yang sama. Pompeius yang Agung menjelajahi daerah-daerah taklukannya di timur dalam rangka mencari jubah Aleksander yang berumur 260 tahun. Pompeius lalu memakai jubah itu sebagai tanda keagungannya. Augustus pernah terlalu semangat menghormati Aleksander sampai-sampai dia mematahkan hidung pada mayat Aleksaner yang telah dimumikan. Augustua melakukannya ketika dia sedang menaruh karangan bunga di makam Aleksander di Aleksandria. Keluarga Macriani, keluarga Romawi yang salah satu anggotnya, yaitu Macrinus, pernah menjadi kaisar, sering menampilkan gambar Aleksander, baik dalam perhiasan, atau dalam sulaman pada pakaian yang mereka kenakan.

Pada musim panas tahun 1995, sebuah patung Aleksander ditemukan dalam penggalian sebuah rumah Romawi di Aleksandria, yang penuh dengan dekorasi dan jalan marmer dan kemungkinan dibangun pada abad pertama M serta ditempati sampai abad ke-3.

Legenda

da banyak cerita legendaris mengenai kehidupan Aleksander Agung. Banyak dari cerita tersebut muncul pada masa hidupnya, kemungkinan dimunculkan oleh Aleksander sendiri. Sejarawan di istana Aleksander, Kallisthenes, menggambarkan bahwa air laut di Sisilia surut sebagai penghormatan pada Aleksander dengan tata cara proskynesis. Menulis tidak lama setelah kematian Aleksander, penulis lainnya, Onesikritos, bahkan sampai menulis bahwa Aleksander membuat janji untuk bertemu dengan Thalestris, ratuasuku Amazon dalam mitoloig. Ketika Onesikritos membacakan cerita itu pada atasannya, salah satu jenderal Aleksander dan kelak menjadi raja, Lysimakhos disebutkan menyindirnya dengan mengatakan, "Aku penasaran saat itu aku ada di mana."
Dalam abad-abad pertama setelah kematian Aleksander, kemungkinan di Aleksandria, sejumlah cerita legenda dikumpulkan menjadi sebuah naskah yang dikenal sebagai Roman Aleksander, yang di kemudian hari secara keliru disebutkan bahwa itu ditulis oleh sejarawan Kallisthenes dan dengan demikian dikenal juga sebagai Pseudo-Kallisthenes. Naskah tersebut mengalami banyak sekali penambahan dan revisi selama Zaman Kuno dan Abad Pertengahan.

Ada juga naskah Iran atau Persia mengenai Aleksander Agung dalam "Shahnameh" atau "Epik Para Raja" oleh Ferdowsi. Nskah terebut berjudul Eskandarnameh. Di situ diceritakan bahwa Aleksander adalah putra Nahid (Lydia) dan dikirim kembali ke Filipus di Makedonia karena ibunya memiliki bau mulut. Lalu diceritakan bahwa nama Eskandar diberikan karena obat yang diberikan untuk ibunya. Para sejarawan Arab kemudian menyebut Aleksander dengan nama Al-Iskandar.

Historiografi

Naskah-naskah kuno yang ditulis oleh orang-orang yang mengenal langsung Aleksander atau yang mengumpulkan informasi dari orang-orang yang bertugas pada Aleksander banyak yang hilang kecuali sedikit inskripsi serta fragmen yang bertahan. Orang-orang sezaman Aleksander yang menulis tentangnya di antaranya adalah sejarawan pribadinyaKallisthenes; jenderal Aleksander Ptolemaios dan Nearkhos; Aristobulos, seorang perwira muda yang ikut dalam kampaye militer Aleksander; dan Onesikritos, ketua juru mudi Aleksander. Karya-karya yang ditulis oleh mereka telah hilang, namun karya-karya yang didasarkan para karya-karya asli itu ada yang bertahan. Lima naskah utama yang masih ada antara lain naskah yang ditulis oleh Arrianus, Curtius, Plutarch, Diodoros, dan Yustinus.

Aleksander Agung dan Dzul Qarnain

Aleksander Agung adalah salah satu tokoh yang dianggap sebagai Dzul Qarnain yang dapat ditemukan pula pada kitab suci Al Qur'an, Surah Al Kahfi 83-101. Dikisahkan bahwa dialah yang mengurung bangsa Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Magog) - yang menurut hadist shahih, bangsa tersebut akan keluar di akhir zaman. Riwayat ini bemula dari saat ia akan menaklukkan suatu daerah, penduduk daerah tersebut tanpa disangka bersedia mengikutinya. Asalkan bangsa Yajuj dan Majuj dikurung. Maka Dzul Qarnain mengurung kedua bangsa tersebut. Maka para penduduk pun bersedia ditaklukkan dengan suka cita.

Anggapan tersebut datang dari kisah Roman Aleksander yang sudah ada sebelum Islam. Beberapa allamah Muslim menolak anggapan Aleksander Agung adalah Dzul Qarnain, sebab Aleksander Agung bukanlah monoteis, sedangkan Dzul-Qarnain adalah penyembah Allah dan hanya seorang penguasa, yang hidup pada masa Nabi Ibrahim. Pendapat ini diriwayatkan oleh Al-Fakihi dari 'Ubaid bin 'Umair, 'Atha` dari Ibnu 'Abbas, 'Utsman bin Saj, Ibnu Hisyam dan Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari jalan Ali bin Ahmad. Kemudian Al-Fakhrurrazi dalam tafsirnya menyatakan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang nabi, sedangkan Aleksander memiliki guru yang bernama Aristoteles dan memerintah negerinya atas perintah Aristoteles.

Tirus, salah satu nubuatan menakjubkan yang telah digenapi

Salah satu Nubuatan yang paling menarik yang telah digenapi adalah Tirus. Dalam nubuatan Tentang Tirus, Injil menunjukan 28 tanda yang spesifik Tentang Tirus. Detail yang dikatakan Tuhan dalam injil sangat Spesifik, Hanya bisa dilakukan oleh mereka yang diberi pengetahuan tentang masa depan. Dan yang menakjubkan lagi adalah, kita yang di Zaman sekarang masih dapat mencari bukti ini dan menemukan, betapa Perkataan Allah benar adanya.
Mari Kita Lihat Nubuatan Allah tentang kota Tirus dalam Yeh 26:1-14:
Yehezkiel 26:1-14
  1. 26:1Pada tahun kesebelas, dalam bulan yang tertentu, pada tanggal satu bulan itu, datanglah firman TUHAN kepadaku
  2. 26:2″Hai anak manusia, oleh karena Tirus berkata mengenai Yerusalem: Syukur! Sudah rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku menjadi penuh, tetapi ia menjadi reruntuhan.
  3. 26:3Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku menjadi lawanmu, hai Tirus. Aku akan menyuruh bangkit banyak bangsa melawan engkau, seperti lautan menimbulkan gelombang-gelombangnya.
  4. 26:4Mereka akan memusnahkan tembok-tembok Tirus dan meruntuhkan menara-menaranya, debu tanahnya akan Kubuang sampai bersih dari padanya dan akan Kujadikan dia gunung batu yang gundul.
  5. 26:5Ia akan menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH; ia akan menjadi jarahan bagi bangsa-bangsa.
  6. 26:6Dan anak-anaknya perempuan, yang tinggal di daratan akan ditewaskan dengan pedang. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.
  7. 26:7Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel, raja segala raja untuk melawan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan tentara yang banyak.
  8. 26:8Anak-anakmu perempuan yang tinggal di daratan akan dibunuhnya dengan pedang; ia akan menimbun tembok pengepungan dan menyusun alat-alat pendobrak dan memasang perisai melawan engkau.
  9. 26:9Tumbukan alat pendobraknya akan dilancarkan terhadap tembok-tembokmu dan menara-menaramu akan dirobohkan dengan beliung-beliungnya.
  10. 26:10Kudanya adalah begitu banyak, sehingga engkau akan ditutupi oleh abu; karena derap pasukan berkudanya dan kertak roda keretanya tembok-tembokmu akan gemetar, kalau ia memasuki pintu-pintu gerbangmu seperti orang memasuki kota yang sudah terbuka karena pendobrakan.
  11. 26:11Dengan kaki kuda-kudanya ia hendak menginjak-injak semua jalan-jalanmu, rakyatmu akan dibunuh dengan pedang, dan tugu-tugu yang kau andalkan akan dirobohkan ke tanah.
  12. 26:12Mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang perniagaanmu; mereka akan meruntuhkan tembok-tembokmu dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan tanahmu akan dibuang ke dalam air.
  13. 26:13Aku akan mengakhiri keramaian nyanyianmu dan suara kecapimu tidak akan kedengaran lagi.
  14. 26:14Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul dan dengan demikian engkau akan menjadi penjemuran pukat, sehingga engkau tidak akan dibangun kembali, sebab Aku, Tuhanlah yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Berikut ini 28 Prediksi atau tentang Nubuatan Tentang Tirus yang dikatakan Allah dalam Yehezkiel 26:1-14 diatas:
  1. Aku akan membawa banyak bangsa untuk melawanmu, seperti Gelombang laut menabrak garis pantaimu.
  2. Mereka akan menghancurkan Tembok kota tirus
  3. Dan meruntuhkan Menaramu
  4. Debu tanahnya akan Kubuang sampai bersih dari padanya
  5. Pulau Tirus tidakakan di huni lagi
  6. Ia akan menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH
  7. Ia akan menjadi jajahan banyak bangsa
  8. Yang tinggal di daratan akan ditewaskan dengan pedang. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN
  9. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH
  10. Aku membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel, raja segala raja untuk melawan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan tentara yang banyak.
  11. Perempuan yang tinggal di daratan akan dibunuhnya dengan pedang
  12. Ia akan menimbun tembok pengepungan
  13. Menyusun alat-alat pendobrak
  14. Memasang perisai melawan engkau
  15. Alat pendobraknya akan dilancarkan terhadap tembok-tembokmu
  16. Menara-menaramu akan dirobohkan
  17. Kudanya adalah begitu banyak, sehingga engkau akan ditutupi oleh abu; karena derap pasukan berkudanya dan kertak roda keretanya tembok-tembokmu akan gemetar, kalau ia memasuki pintu-pintu gerbangmu seperti orang memasuki kota yang sudah terbuka karena pendobrakan
  18. Penunggang kudanya akan melewati jalanan kotamu.
  19. Rakyatmu akan dibunuh dengan pedang
  20. Tugu-tugu yang kau andalkan akan dirobohkan ke tanah
  21. Merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang perniagaanmu
  22. Akan meruntuhkan tembok-tembokmu
  23. Merobohkan rumah-rumahmu yang indah
  24. Batumu, kayumu dan tanahmu akan dibuang ke dalam air
  25. Aku akan mengakhiri keramaian nyanyianmu dan suara kecapimu tidak akan kedengaran lagi.
  26. Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul
  27. Akan menjadi penjemuran pukat
  28. Engkau tidak akan dibangun kembali
Tirus dan Israel adalah patner selama Pemerintahan raja Daud sebagai mitra Pelayaran dengan berbagai Pernak-pernik sebagai barang dagangan mereka. Tirus dan israel pada masa itu tidak terjadi kompetisi tetapi bekerjasana dengan saling menguntungkan satu sama lain. Seperti janji Tuhan kepada Abraham:
"Aku akanmengutukbangsa yang mengutukengkau dan memberkati, yang memerkati Engkau" 

Kira-kira seperti itu Tirus menjadi maju. Bangsa yang mendiami Tirus adalah bangsa Fenesia dan tirus adalah kota Terkaya pada masa itu juga kota Pelabuhan yang sangat berkuasa didunia Keterangan tentang kekayaan dan kemakmuran kota ini dapat dilihat pada Yeh 27:1-25 dan Yes 23:3, 8, 11
Meskipun berjaya dan karena kesombongannya dan kota tersebut bersuka cita atas kejatuhan kota Yerusalem dalam Yeh 26:2-3, Nabi Tuhan Yehezkiel menulis tentang kehancuran kota in. Sejarah menunjukkan Nubuatan digenapi dalam dua tahap: Pertama oleh Nebukadnezar dari babel dan 250 tahun kemudian oleh Alexander the great dari Yunani.

Setelah pengepungan yang melelahkan selama 13 Tahun. Nebukadnezar menaklukkan dan membinasakan kota itu. Namun Nebukadnezar tidak mendapat apa sebagai jarahan karena penguasa Tirus memindahkan kekayaan mereka ke suatu pulau yang berjarak 700-800 meter kearah laut Mediterania. Namun Tuhan tidak melupakan Jasa Nebukadnezar yang telah melakukan Kampanye Perang melawan kota-kota yang dinubuatkan Allah akan dihancurkan seperti Tirus, Sidon dan Mesir. Tuhan kemudian memberikan Mesir sebagai hadiah untuk Nebukadnezar dalam Yeh 29:17-21 dimana Nebukadnezar mengangkut kekayaan bangsa mesir. Nebukadnezar tidak membuang debunya kelaut seperti Nubuatan Allah Yeh 28: 18-20.

250 tahun berikutnya reruntuhan dari daratan tirus itu dibiarkan begitu saja – menjadi suatu tantangan bagi ketepatan nubuatan Firman Allah. Pada waktu bersamaan suatu kota baru yang berjaya sedang bertumbuh dikota itu, yang jaraknya 700-800 meter dari pantai bekas reruntuhan kota tirus yang lama.

Kemudian Alexander agung dengan tentaranya yang tak terkalahkan menyapu bersih ke arah selatan dalam rangka penyerbuan ke arah Mesir pada tahun 332 SM. Ia meminta supaya kota Tirus kepulauan itu menyerah. Penguasa dan penduduk kota tirus menolak, lalu alexander memerintahkan tentaranya untuk mengambil puing-puing kota lama Tirus lalu membuat jalan dengan puing-puing itu 792 meter (2600 feet) panjangnya dan 274 meter (900 feet) lebarnya

Begitu banyaknya kebutuhan bahan puing untuk membuat jalan, sampai debu kota pun di sapu dan dibuang ke laut. Alexander kemudian memimpin bala tentaranya untuk melintasi jalan buatannya dan menaklukkan kota Pulau-Tirus. Separuh kota itu terbakar dan hampir kosong penghuninya.

Dan 28 Point dalam nubuatan Allah tentang kota Tirus akhirnya terpenuhi, seperti yang dikatakan nabi Yehezkiel 1900 tahun lalu sebelum Alexander agung dari yunani datang menggenapi keseluruhan nubutan ini. Poin 26 dan 27 dalam nubuatan Yehezkiel diatas:

26. Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul
27. akan menjadi penjemuran pukat

Sekarang kota pulau Tirus telah menjadi Suatu semenanjung yang terjadi karena pasir yang terbawa arus dan menambah lebarnya jalan buatan Alexander dan pasukannya. Sekarang, kota yang dikalahkan Mebukadnezar dan dibuang Alexander Agung kelaut sudah tidak berbekas lagi. Denga satelit atau google Earth kita dapat melihat bekas kota Tirus ini yang menjadi sebuah semenanjung sekarang:

Dan poin terakhir yakni poin ke 28, Tuhan Allah mengatakan dengan pasti untuk kota Tirus :

Ajaib sekali bagaimana Allah membuktikan ucapan-Nya dengan mendemonstrasikan dalam sejarah peradaban manusia atau sejarah umum Dunia, yang di tulis oleh nabi-Nya Ribuan tahun sebelum kejadian itu terjadi. Jadi hati-hati dengan Nubuatan Allah, sebab semuanya itu "PASTI TERJADI".

Apr 4, 2014

Mikroba, Penyebab Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu?

Dalam sejarah bumi, kepunahan massal diperkirakan terjadi 252 juta tahun lalu, dimana 90 persen spesis Bumi secara tiba-tiba hilang dan dikenal sebagai kepunahan massal terbesar yang pernah terjadi. Ilmuwan sampai saat ini masih belum mengetahui penyebab kepunahaan massal sebenarnya, mereka sulit memprediksi dan berbagai pendapat kontroversial diungkapkan para ilmuwan. 

Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mungkin saja telah memberikan bukti baru yang cukup kuat, dan penyebab kepunahan massal terbesar Bumi disebabkan oleh mikroba. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences oleh tim MIT, profesor geofisika Daniel Rothman, Postdoc Gregory Fournier dan peneliti lainnya dari Cina.

Mikroba Methanosarcina, Dalang Kepunahan Massal Terbesar Dunia

Dalam beberapa teori yang pernah diungkapkan berbagai ilmuwan, spekulasi penyebab kepunahan massal karena jatuhnya asteroid besar, letusan gunung berapi, dan berbagai pendapat lain yang terkadang sulit diterima secara logika. Tetapi dalam penelitian kali ini, metana membentuk mikroba Archea atau disebut Methanosarcina yang secara tiba-tiba menyebar di lautan yang memuntahkan gas metana luar biasa ke atmosfer bumi. 

Secara dramatis proses Methanosarcina telah mengubah iklim dan kimia lautan. Letusan gunung berapi tidak sepenuhnya bertanggung jawab sebagai penyebab kepunahan massal, tetapi pertumbuhan mikroba telah memberi kemampuan khusus untuk menggunakan sumber daya kaya karbon organik, kemudian nutrisi seperti elemen Nikel dipancarkan melalui vulkanisme besar.

Bukti geokimia menunjukkan peningkatan eksponensial karbon dioksida di lautan pada periode Permian Akhir. Genetik juga menunjukkan perubahan dalam Methanosarcina yang memungkinkan terjadinya produksi utama metana dari akumulasi karbon dioksida dalam air. Pada akhirnya, sedimen menunjukkan peningkatan elemen nikel secara mendadak dan tersimpan sampai saat ini.

Methanosarcina adalah genus dari Euryarchaeota Archaea yang menghasilkan metana, satu-satunya metanogen anaerobik yang dikenal  menghasilkan metana menggunakan ketiga jalur metabolik (dikenal metanogenesis). Kebanyakan metanogen memproduksi metana dari karbon dioksida dan gas hidrogen, yang lainnya menggunakan asetat dalam jalur acetoclastic. Selain dua jalur diatas, spesies Methanosarcina juga dapat memetabolisme senyawa karbon alkohol melalui metanogenesis methylotrophic, dan senyawa satu-karbon tersebut termasuk methylamines, methanol, dan methyl thiols.

Mikroba, Penyebab Kepunahan Massal

Karbon dioksida menyebabkan peningkatan signifikan gas metana yang diproduksi pada saat terjadinya kepunahan massal. Beberapa peneliti berpendapat bahwa gas-gas ini mungkin telah dikeluarkan dari gunung berapi yang pada akhirnya menciptakan Siberian Trap (formasi luas batuan vulkanik dihasilkan dari letusan gunung). Tetapi dalam catatan penelitian tim MIT, letusan gunung berapi tidak cukup menjelaskan adanya karbon dioksida yang terdapat dalam sedimen, bahkan perubahan karbon dari waktu ke waktu tidak sesuai dengan perkiraan model vulkanik.

Menurut Fournier, karbon dioksida yang dimuntahkan gunung berapi akan diikuti penurunan secara bertahap. Tetapi sebaliknya penyebaran karbon dioksida sangat cepat dan terus meningkat, hal ini menunjukkan adanya ekspansi mikroba. Pertumbuhan populasi mikroba merupakan fenomena yang mampu meningkatkan produksi karbon, atau bahkan lebih cepat dari perkiraan ilmuwan.
Mikroba Methanosarcina mampu membuat metana sangat cepat, melalui transfer gen dari mikroba lain terjadi sekitar periode Permian Akhir. Studi genetik menyatakan adanya lonjakan pertumbuhan drastis, mikroba lebih cepat mengkonsumsi cadangan karbon organik yang tersimpan dalam sedimen laut.
Mikroba Methanosarcina tidak akan mampu berkembang biak secara cepat jika tidak memiliki nutrisi mineral yang tepat untuk mendukung kehidupan. Mikroba tertentu justru membatasi nikel, hal ini diperoleh dari analisis sedimen di Cina, dan meningkat secara drastis setelah letusan Siberia, sehingga menghasilkan deposito nikel terbesar didunia. Nutrisi elemen nikel inilah yang menyediakan makanan untuk pertumbuhan mikroba Methanosarcina.

Lonjakan metana menghasilkan efek yang sama dengan prediksi model terbaru perubahan suhu global, seperti yang terlihat saat ini terjadi kenaikan suhu ekstrim dan dikombinasikan dengan pengasaman lautan. Hampir semua organisme lautan musnah pada saat kepunahan massal periode Permian Akhir, berdasarkan pengamatan bahwa kerang tidak terbentuk di perairan asam.

Apr 3, 2014

Orang Saduki

Orang Saduki merupakan golongan atau partai utama lainnya pada zaman Tuhan Yesus, meskipun waktu itu pengaruh mereka sudah mulai berkurang. Umumnya mereka terdiri dari pemilik tanah yang kaya-raya, yang pada mulanya berhasil mendapatkan kedudukan yang mnonjol karena melakukan manipulasi secara licik dengan memanfaatkan keadaan politik.

Dalam Sanhedrin (dewan tertinggi orang Yahudi/ Mahkamah Agama) mereka masih menduduki tempat yang kira-kira setara dengan orang Farisi (Kisah 23:6-10). Banyak diantara imam-imam kepala adalah orang-orang Saduki, atau orang-orang yang erat bekerja sama dengan mereka. Dalam soal agama, sikap mereka konservatif, sehingga tidak mau menerima wahyu lain, hanya 5 Kitab Musa saja (Pentateukh). Dengan demikian mereka menolak gagasan-gagasan agama yang lebih baru, seperti keyakinan tentang hidup kekal, kebangkitan, malaikat , setan/roh jahat , yang diakui oleh orang Farisi

Markus 12:18
Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan Kisah 23:8
Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. Sebagai sebuah kelompok minoritas, yang terdiri atas kaum aristokrat, mereka tidak mendapat dukungan dari banyak orang.

ORANG-ORANG SADUKI
Semua sumber data yg ada tidak sepakat dan tidak lengkap untuk memberikan gambaran yg tepat. Di antaranya ialah:
(1) Josephus, BJ2. 119, 164-166; Ant. 13. 171-173, 293-298; 18. 11, 16-17; 20. 199;Vit. 10-11;
(2) Mishnah, 'Erubin 6. 2, Hagigah 2. 4, Makkoth 1. 6, Parah 3. 3, 7, Niddah 4.2, Yadaim 4. 6-8;
(3) PB, Matius 3:7; 16:1, 6, 11, 12; 22:23-34; Markus 12:18-27; Lukas 20:27-38; Kisah 4:1, 2; 5:17; 23:6-8.

Nama dan asal usul golongan Saduki juga diperdebatkan. Nama itu pernah dikatakan berasal dari Zadok, atau yg sezaman dengan Salomo yg keturunannya dipandang sebagai garis keimaman murni (bnd Yeh 44:15 dab; 48:11) atau seorang yg diduga pendiri atau pemimpin mula-mula golongan itu (pernyataan dlm Aboth of Rabbi Nathan 5 bahwa Antigonos dari Soko mempunyai dua murid, Zadok dan Boethus, yg terjerumus ke dalam penyesatan, mungkin sekali tidak mempunyai dasar historis). Tapi keluarga imam besar Hasmonean yg sedang memerintah bukanlah kaum Zadok (1 Makabe 2:1; 14:29), dan 'd' ganda baik dalam bentuk Ibrani maupun Yunani pada nama itu sulit diberi keterangan jika nama itu dijabarkan dari Zadok. T. W Manson menyarankan suatu jabaran dari Yunani syndikoi, 'pengawas fiskal' ('d' ganda itu dijelaskan sebagai akibat dari asimilasi'n'). Hubungannya dengan kata tsaddiq, 'benar', mungkin merupakan persamaan huruf hidup berdasarkan bunyi.

Empat macam teori mengenai asal usul golongan Saduki dengan ringkas digambarkan sebagai berikut. M. H Segal, mengikuti Wellhausen, berpikir bahwa mereka terutama suatu partai politik, berasal dari kaum Helenis Yahudi. G. H Box, mengikuti Geiger, berpendapat bahwa mereka adalah partai agama, dan bahwa beberapa dari ahli Taurat di dalam Kitab-kitab Injil adalah ahli kitab Saduki. L Finkelstein berpendapat, bahwa mereka dulunya adalah suatu badan ningrat pedesaan, sebagai lawan bagi Farisi yg urban. T. W Manson beranggapan, bahwa mereka pada mulanya pejabat-pejabat'negara.

Dalam ihwal tingkah laku kaum Saduki agak tidak berbudi. Kasar terhadap bangsawan seperti terhadap orang asing. Dan mereka menganggap kebajikan bila berdebat dengan guru-guru mereka. Mereka tidak mempunyai pengikut di kalangan rakyat, melainkan terbatas pada kaum kaya. Mereka lebih keras dalam penghakiman ketimbang Yahudi lainnya. Banyak, tapi tidak semua, dari para imam berasal Saduki; namun hampir semua orang Saduki ternyata menjadi imam, terutama keluarga-keluarga imam yg amat berkuasa. Di kalangan kaum Hasmonean yg mula-mula, beberapa orang Saduki memegang jabatan di gerousia ('senat' atau Sanhedrin).

Yohanes Hirkanus, yg merasa dihina oleh desakan Eliazar, anggota perutusan Farisi, supaya mengundurkan diri dari jabatan imam agung yg dipegangnya, beralih pihak dari Farisi kepada Saduki. Kaum Saduki menikmati dukungan para penguasa Hasmonean sampai masa pemerintahan Salome Aleksandra (76-67 sM), yang lebih menyukai kaum Farisi. Di bawah Herodes dan orang Romawi kaum Saduki menguasai Sanhedrin. Partai itu surut bersamaan dengan penghancuran Bait Allah pada thn 70. Bahkan Yosefus mengatakan, bahwa ketika masih berkuasa, kaum Saduki karena takut terhadap rakyat, terpaksa bekerja sama dengan kaum Farisi.

Dalam agama kaum Saduki ditandai oleh konservatisme mereka. Mereka menyangkal keberlakuan yg mantap dari apa pun kecuali hukum-hukum tertulis dari Pentateukh. Mereka menolak ajaran-ajaran yang kemudian tentang jiwa dan kehidupan sesudah kematian, kebangkitan, pahala dan imbalan, malaikat dan setan-setan. Mereka percaya bahwa nasib tidak ada, karena manusia memiliki pilihan bebas tentang baik dan jahat; kemakmuran dan nasib malang merupakan hasil dari perbuatan sendiri.

Orang-orang Saduki

Di samping para orang Esseni dan Farisi, mereka adalah sebuah partai (sebagian besar berhaluan politik) di dalam Yudaisme. Para pengikutnya ditemukan terutama dikalangan aristokrasi para imam dari ibu-kota (rupanya mereka dipanggil menurut Zadok). Mereka utamakan sebuah sikap hidup yang bebas dan berbau duniawi. Lain dari pada orang- orang Farisi. Mereka akui taurat, tetapi di dalam sikapnya yang konservatif itu, mereka buang "tradisi para nenek-moyang", mereka buang pula penjelasan tradisionil dan perkembangan hukum. Mereka tidak mengakui kebangkitan dan kematian (Markus12:18 dsj.) dan berbeda pendapat dalam banyak persoalan rituil maupun yuridis dengan para Farisi. Asal mula partai mereka itu terselubung dalam kegelapan, namun sudah sejak perlawanan kelompok mereka terhadap Yonatan, yang memusatkan kekuasaan
politik dan religius pada Imam Agung (153 sebelum Mas.), kelompok mereka itu sudah memperoleh bentuk tertentu. Di dalam mahkamah agama orang-orang Saduki selalu bisa mempertahankan pengaruhnya, tetapi selalu menjadi musuh orang-orang Farisi. Orang-orang Saduki itu di dalam Injil memang jarang disebut (Misalnya: Matius 3:7; 16:1; Markus 12:18; Lukas 20:27). Meskipun demikian kekuasannya sangat mantap, sebab Imam Agung selalu diambil dari golongan mereka dan mereka lebih mudah menyesuaikan diri mereka pada bangsa Roma. Pada permulaannya mereka hampir tidak pernah mengadakan pertikaian dengan Yesus, namun demikian mereka di kemudian harinya bergabung dengan orang-orang Farisi di dalam rasa kebenciannya terhadap Yesus (Mark 12:18-27 dsj.). Orang-orang Saduki yang bernama Kayafas akhirnya memutuskan hukuman mati. Setelah tahun 70 sesudah Mas. sumber-sumber tentang Orang-orang Saduki sudah tidak terdengar lagi.

Suatu kelompok minoritas dalam Yudaisme abad pertama Masehi. Dalam kepercayaan dan perbuatan, mereka adalah tradisionalis. Di mata mereka penting untuk setia pada ketentuan keanggotaan kebangsaan Yahudi melalui keteguhan memelihara Taurat tertulis dan setia mengambil bagian dalam peribadahan di Bait Allah, tetapi mereka beranggapan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan ketundukannya kepada kekuasaan penjajah Romawi. Mereka menentang pemberontakan bersenjata dan segala persiapan untuk itu. Orang Saduki menolak pengertian Farisi tentang hukum lisan yang sama-sama berlaku dengan hukum tertulis. Oleh sebab itu, mereka adalah penganut setia dari apa yang telah ditetapkan Ezra di zaman bangsa Israel kembali dari pembuangan Babel (abad ke-5 sM). Kompromi dengan pemerintah Roma berarti bahwa Imam Besar ditetapkan oleh pemerintah dan Bait Suci diawasi oleh militer Roma. Maka, kalaupun harus membayar harganya, Israel dimungkinkan memelihara hubungan dengan Allahnya dan menebus dosanya dengan membawa korban. Kepercayaan baru bahwa jiwa manusia itu kekal atau kebangkitan tubuh ditolak oleh kaum Saduki. Setelah pemusnahan Bait Suci tahun 70 M, kaum Saduki tidak ada lagi. Menurut satu teori, mereka adalah penganut Zadok, yang menguasai Bait Suci berabad-abad.

Romawi Kuno

Bangsa Romawi adalah penduduk kota Roma. Kota Roma dimulai dari perkampungan kecil di bukit-bukit Palatine dan Aventine. Diceritakan bahwa Romulus adalah raja pertama Roma, dan pendirian Roma secara tradisional terjadi pada 753 SM. Menurut legenda, Romulus merupakan keturunan pahlawan Troya, Aineias, yang bermigrasi ke Latium (Italia) setelah kejatuhan Troya.

Kerajaan Romawi dipimpin oleh tujuh raja. Raja ketujuhnya dikudeta dan rakyat Romawi menggantikannya dengan sistem pemerintahan republik pada 510 SM, sehingga Kerajaan Romawi berubah menjadi Republik Romawi. Pada masa kerajaan, tiga raja terakhir Romawi berasal dari bangsa Etruria (Toscana modern). Pada waku itu, bangsa Etruria adalah orang-orang yang paling kuat dan berpengaruh. Bangsa Etruria juga mengajari bangsa Romawi mengembangkan tulisan, ilmu pasti, arsitektur, seni, dan agama.

Romawi memenangkan serangkaian perang melawan musuh maupun sekutunya sendiri di daerah Latium. Pada abad ketiga SM, Romawi sukses menaklukan sebagian besar semenanjung Italia. Taras (kelak Tartentum) meminta Pirrhos dari Epiros untuk membebaskan kota-kota Yunani di Italia yang dikuasai oleh Romawi. Pirrhos memenangkan beberapa pertempuran (281-275 SM), namun kehilangan banyak sekali pasukan. Karenanya, Pirrhos pernah berkata, "jika sekali lagi kita menang, kita tetap akan dihancurkan oleh Romawi". Hingga kini, ungkapan "Kejayaan Pirrhos" diucapkan untuk menyatakan suatu kemenangan dengan pengorbanan yang besar.

Pada akhirnya, Romawi mengalahkan Yunani pada Pertempuran Beneventum (275 SM), dan Pirrhos harus angkat kaki dari Italia. Pada saat kampanye militer Pirrhos di Italia dan Sisilia, Kartaghe merupakan sekutu Romawi, karena Pirrhos juga menyerang kota Kartaghe di Sisilia. Tetapi, di kemudian hari Romawi tertarik untuk menguasai Spanyol dan kepulauan Sardinia dan Korsika, yang saat itu dikendalikan oleh Kartaghe. Maka Kartaghe pun berkonfrontasi melawan Romawi dan terjadilan Perang Punik Pertama (264-241 SM). Pada akhirnya Kartaghe terpaksa harus menyetujui perjanjian dari Romawi.

Yang paling terkenal adalah Perang Punik Kedua (218-201 SM) ketika Kartaghe dipimpin oleh jenderal Hannibal Barca. Dengan membawa pasukan besar dari Kartaghe, Hannibal menginvasi Italia dan mengalahkan banyak legion Romawi. Hannibal menggunakan strategi serangan kejutan dan memenangkan pertempuran di Sungai Trebia (218 SM) dan di Danau Trasimene (217 SM). Pada Pertempuran Cannae, Hannibal kembali menunjukkan kehebatannya. Sementara Hannibal memimpin pasukan utamanya untuk menahan pasukan Romawi, sisa pasukannya mengelilingi pasukan Romawi dan memotong jalan keluar mereka. Pasukan Romawi lalu dihantam baik dari belakang maupun dari
kedua sayap. Semua konsul dan dua mantan konsul Romawi terbunuh dalam pertempuran itu. Menurut legenda, Romulus, pendiri kota Roma, dan Remus dibesarkan oleh seekor serigala.

Pertempuran Zama.

Romawi mengalami kerugian yang hebat namun mereka tidak menyerah pada Hannibal. Romawi lalu menunjuk salah satu jenderalnya, Quintus Fabius Maximus Kunktator, sebagai diktator. Strategi Fabius cukup sederhana: ikuti dan ganggu pasukan Hannibal, namun jangan lakukan pertempuran terbuka. Ini adalah jenis perang gerilya. Pada saat yang sama, Romawi mengirim pasukan yang dipimpin oleh Skipio bersaudara untuk menyerang basis Kartaghe di Spanyol, namun mereka terbunuh pada 211 SM. Skipio
lain (anak dari salah satu Skipio yang terbunuh, kelak dikenal sebagai Skipio Afrikanus) memimpin serangan susulan dan berhasil menguasai Karthage Nova (Karthage baru) di Spanyol. Dia juga berhasil mengalahkan dan mengusir Hasdrubal Barca (adik Hannibal) dari Spanyol. Hasdrubal berusaha bergabung dengan kakaknya di Italia, namun usahanya digagalkan. Hasdrubal dikalahkan pada Pertempuran Metaurus (207 SM). Dengan perginya Kartaghe dari Spanyol, Skipio mengalihkan perhatiannya ke pusat pemerintahan Kartagahe, yaitu di Afrika. Hannibal tak punya pilihan selain meninggalkan Italia dan kembali ke Kartaghe.

Sebuah pertempuran besar terjadi di Zama pada 202 SM. Hannibal dan Skipio belum pernah bertempur sebelumnya, namun Skipio telah mempelajari taktik dan strategi Hannibal. Kali ini, pasukan kavaleri Romawi jumlahnya lebih banyak, dan Skipio menggunakan metode pengepungan milik Hannibal. Skipio mengirimkan pasukan kavalerinya untuk menyerang pasukan Hannibal dari belakang. Pada akhirnya, Kartaghe lagi-lagi harus menyetujui perjanjian damai hasil bikinan Romawi. Tetapi, perdamaian dengan Kartaghe tidak menghentikan Romawi untuk mencari daerah jajahan baru di luar Italia. Pada saat kampanye militer Kartaghe di Italia, Filipos V (Philip V) dari Makedonia ikut
membantu Kartaghe. Akibatnya Romawi pun menyerang Makedonia. Filipos V dikalahkan pada pertempuran di Kinosefalai (197 SM). Sekutu Filipos, Antioklos dari Suriah dan Asia Minor, juga ikut diserang dan dikalahkan. Di kemudian hari, Romawi kembali berperang melawan Makedonia, kali ini Makedonia dipimpin oleh putra Filipos V, yaitu Perseus. Makedonia dikalahkan pada pertempuran di Pidna (168 SM) dan Makedonia pun menjadi daerah jajahan Romawi.

Sementara itu Kartaghe di Afrika dan Korintus di Yunani bangkit melawan Romawi. Namun Romawi mampu mengalahkan mereka. Pada 146 SM, Romawi membakar habis kota Kartaghe dan Korintus. Romawi juga menjual semua penduduk Korinthos sebagai budak dan mengambil semua benda seni mereka. Dengan demikian, Afrika dan Yunani pun menjadi daerah kekuasaan Romawi. Pada abad pertama SM, terjadi pemberontakan sipil di kota Roma. Para jenderal Romawi (yang sekalgus merupakan gubernur) saling memperebutkan kekuasaan. Pada 49 SM, terjadi lagi perang sipil antara Julius Caesar dan Pompey Magus. Caesar berhasil mengalahkan Pompey dan kembali ke Roma untuk
membuat beberapa perubahan pada sistem politik Romawi. Namun dia dibunuh pada 44 SM.

Persekutuan sementara didirikan oleh Oktavianus (keponakan Caesar), dan Markus Antonius (Mark Antony), salah satu anak buah Caesar. Mereka berbagi kekuasaan, Oktavianus memerintah wilayah barat, sedangkan Antonius mengurusi wilayah timur, seperti Yunani dan Suriah. Suatu hari, Antonius jatuh cinta pada Cleopatra, ratu Mesir dan mantan kekasih Caesar. Antonius lalu menceraikan saudari Oktavanianus dan menikahi Cleopatra, akibatnya terjadi perang antara keduanya. Oktavianus berhasil mengalahkan Antonius pada pertempuran laut di Aktium pada 31 SM. Antonius dan Cleopatra lalu bunuh diri.

Sebagai satu-satunya pemegang kekuasaan, Oktavianus pun menjadi kaisar pertama Romawi pada 30 SM. Pada 27 SM, Oktavianus kembali ke Roma dan mulai melakukan reformasi pemerintahan. Namanya diganti menjadi Augustus Caesar. Romawi akhirnya kembali pulih setelah perang sipil yang panjang. Karya-karya Virgilus dan Ovidius bermunculan pada periode ini. Selama perang sipil, Romawi memberikan kewarganegaraan Romawi pada para sekutunya, setelah Perang Sosial (91-89 SM). Pada masa Julius Caesar, kewarganegaraan boleh diberikan pada orang non-Italia, misalnya orang Galia, dan pada orang yang ingin tinggal di Kekaisaran Romawi. Salah satu warga Romawi yang terkenal adalah Saulus yang Yahudi, yang kelak dikenal sebagai Rasul Paulus.

Banyak di antara kaisar Romawi yang tak dilahirkan di kota Roma. Mungkin satu-satunya syarat untuk menjadi kaisar Romawi adalah harus warga Romawi. Kadanag, Senat memilih orang sebagai kaisar, namun di lain waktu, kandidat kaisar dicalonkan oleh pasukan Romawi di berbagai provinsi. Augustus meninggalkan dinasti di Romawi setelah dia meninggal pada 41 M. Dia diteruskan oleh pemerintahan Tiberius (14-37 M), Kaligula (37-41 M), Klaudius (41-54 M) dan Nero (54-68 M). Dinasti itu berakhir setelah kaisar Nero wafat pada 68 M. Dia bunuh diri setelah rakyatnya memberontak padanya. Setelah Nero, Romawi dipimpin oleh tiga kaisar dan masa pemerintahan mereka berlangsung pendek.
Pada 69 M, gubernur Romawi, Vespasianus (69-79 M), menjadi kaisar dan mendirikan dinasti yang baru. Di digantikan oleh putranya Titus (79-81 M) dan Domitianus (81-96 M).
Kekaisaran Romawi mencapai level dan stabilitas yang baru ketika dipimpin oleh kaisar Trajanus (98-117 M), Hadrianus (117-138 M) dan Antoninus Pius (138-161 M). Markus Aurelius (161-180 M) harus.