"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan [roti] kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan [hutang] kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan [penghakiman], tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]" (Matius 6:9-13)
Ketika para murid meminta Yesus untuk mengajarkan mereka berdoa, Yesus kemudian memberikan mereka sebuah model doa seperti yang kita baca di atas. Ini tidak berarti bahwa setiap waktu kita harus berdoa dengan kata-kata yang persis sama, tetapi kita harus melihat kepada setiap pernyataan yang ada di dalam doa ini untuk memberikan kita petunjuk bagaimana seharusnya kita berdoa.
Pertama-tama perhatikan di bagian pertamanya di Matius 6:9 kita baca:
"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu"
Jadi kita harus selalu berdoa kepada "Bapa yang ada di Surga" karena Dia-lah yang memberikan segala sesuatu dan hadiah yang sempurna. Dan hadiah yang sempurna yang bisa diberikan kepada kita adalah "keselamatan". Dan pernyataan "dikuduskanlah nama-Mu" berarti bahwa Bapa adalah Allah Yang Maha Kudus, Dia bukan hanya "seseorang" lain yang bisa kita panggil dengan sembarangan seperti "hai", Dia bukan seperti manusia biasa atau ilah-ilah lain. Allah bukanlah siapa yang kita bisa berbuat sembarangan, bicara sembarangan, atau kita permainkan. Allah adalah Allah Yang Maha Kuasa, dari kekal Dia ada, dan Dia memerintah atas segala sesuatu dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang.
Kemudian di Matius 6:12 kita membaca demikian:
"ampunilah kami akan kesalahan [hutang] kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah [berhutang] kepada kami"
Harap diperhatikan bahwa ini adalah doa untuk keselamatan. Dan keselamatan adalah keperluan yang paling penting dari seluruh umat manusia, tidak ada hal lainnya yang lebih penting daripada itu, dan hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa-dosa kita. Ketika kita berbuat dosa hal yang pertama dan terutama adalah dosa tersebut adalah dosa terhadap Tuhan.
Kemudian dalam ayat 13 kita membaca lagi demikian:
"dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan [penghakiman], tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat."
Ini juga adalah permohonan untuk mendapatkan keselamatan. Kata Yunani untuk ungkapan "pencobaan" (pierasmos), dalam bahasa aslinya berarti "penghakiman". Jadi Tuhan menginginkan kita untuk sadar sepenuhnya akan penghakiman Tuhan yang adil di akhir zaman.
Kalau seseorang dicurigai telah melakukan kejahatan maka dia akan dibawa kepada hakim untuk diadili dan ditentukan apakah dia bersalah atau tidak. Kalau dia ditemukan bersalah, hakim akan memutuskan hukuman yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku, dan orang itu harus membayar hukuman tersebut sesuai dengan yang dituntut oleh undang-undang yang berlaku dimana hakim tersebut memerintah.
Dan seluruh umat manusia adalah subjek dari hukum-hukum Tuhan, tetapi kita semua adalah orang-orang yang berdosa (Roma 3:23, 1 Yohanes 1:8), jadi pada hari yang terakhir nanti semua orang yang tidak memiliki Juruselamat sudah pasti akan ditemukan bersalah, dan kita sudah mengetahui bahwa hukumannya adalah kutukan yang kekal. Upah dosa ialah "maut" (Roma 6:23), dan maut yang Tuhan maksudkan disini adalah "kematian kedua" di dalam kekekalan.
Oleh karena itu di dalam doa Bapa Kami kita berkata, "janganlah membawa kami ke dalam penghakiman". Dalam kata lain ini juga adalah permohonan untuk keselamatan. Ketika kita berkata, "ampunilah kami akan kesalahan [atau hutang] kami," itu berarti kita sedang berkata, "Ya Tuhan, selamatkanlah saya."
Dan pernyataan yang selanjutnya juga adalah permohonan untuk keselamatan, disitu kita berkata, "lepaskanlah kami dari pada yang jahat". Nah, dari yang "jahat" manakah kita ingin untuk dilepaskan? Kita ingin dilepaskan dari "murka Allah" yang memang pantas kita dapatkan karena dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita. Kejahatan dari dosa-dosa kita membuat kita berada dibawah murka Allah. Ini disebut kejahatan karena kita memberontak terhadap Allah dan menjadi budak Iblis dan budak dosa. Ingatlah bahwa setiap orang yang belum diselamatkan masih berada di dalam "kerajaan gelap" atau kerajaan Iblis (Kis. 26:18, Kolose 1:13, Efesus 5:8, Yohanes 12:46, 1 Petrus 2:9).
Dalam kitab Kisah Para Rasul 26:18 kita membaca demikian:
"untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan."
Jadi pernyataan "lepaskanlah kami dari pada yang jahat" adalah permohonan untuk keselamatan. Ini adalah doa supaya kita bisa dilepaskan dari murka Allah. Ini adalah doa supaya kita dapat dilepaskan dari upah dosa-dosa kita, yang merupakan hutang yang seharusnya kita bayar. Ini adalah doa supaya kita dilepaskan keluar dari kerajaan Iblis dan dibawa masuk ke dalam kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, tiga permohonan dalam Doa Bapa Kami ini secara efektif adalah sebuah permohonan untuk keselamatan. Dan ketika kita sudah diselamatkan, kita mengetahui bahwa tiga permohonan ini telah dijawab dengan tegas. Ini adalah janji yang indah yang Tuhan nyatakan dalam kitab Wahyu 3:10 dimana Tuhan berkata:
"Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan [penghakiman] yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai [menghakimi] mereka yang diam di bumi."
Ketika kita membaca dengan teliti dan berhati-hati doa Bapa Kami yang ditemukan dalam Matius pasal 6 atau Lukas pasal 11, kita menemukan bahwa ini adalah intisari dari doa keselamatan. Keselamatan adalah keperluan yang paling penting dari seluruh umat manusia. Kalau kita sudah diselamatkan (yaitu mendapatkan "kebangkitan jiwa yang baru" yang diberikan dari atas) kita sudah mempunyai hidup yang kekal. Kita sudah aman dan terlindungi, kita sudah memiliki berkat yang paling baik yang bisa kita dapatkan.
Sejarah Dunia Kuno
Mar 27, 2009
Bertekun Dalam Doa
"Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." (Kolose 4:2)
Doa adalah kesempatan yang indah yang Tuhan berikan kepada kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya di dalam Alkitab, dan kita berbicara kepada Tuhan melalui doa. Akan tetapi ada banyak orang yang berpikir bahwa kita harus memilih kata-kata kita dengan sangat baik sewaktu kita berdoa. Hal tersebut adalah seperti seakan-akan mereka sedang menyampaikan suatu pidato umum. Mereka hendak memastikan bahwa setiap orang akan menyukai apa yang mereka ucapkan. Adalah sangat menyedihkan sewaktu orang-orang memuji seseorang atas sebuah doa yang telah disampaikan. Hal itu menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak memahami maksud pemikirannya secara keseluruhan.
Doa adalah sebuah sikap dimana kita dapat di dalam cara kekanak-kanakan kita sendiri berbicara kepada Tuhan. Maksudnya ialah bahwa kita tidak perlu untuk menjadi seorang jurubicara yang ulung untuk melakukan doa. Kita tidak perlu untuk menjadi seseorang yang ahli berbicara. Kita tidak perlu untuk mampu menghasilkan suatu ungkapan yang sangat baik. Kita hanya hendak mengutarakan kepada Tuhan apa yang ada di dalam hati kita.
Seperti misalnya, sewaktu tiba pada saat makan, kita dapat secara sederhana berdoa kepada Tuhan di dalam nama Yesus, bersyukur kepada-Nya untuk makanan kita dan meminta Dia untuk memberkati-Nya. Dan itu adalah cukup jika kita benar-benar tulus. Tetapi bila kita secara sederhana memiliki kebiasaan rutin untuk mengatakan beberapa kata sebelum kita makan, hal tersebut tidak berarti apa-apa. Jika kita hanya menjalani suatu kegiatan yang rutin, hal itu tidak akan bernilai apa-apa.
Alkitab menyatakan di dalam kitab Mazmur pasal 51 bahwa Tuhan tidak akan memandang hina "hati yang patah dan remuk." Alkitab menyatakan bahwa Allah Roh Kudus sendiri akan mengambil doa-doa kita dan membawa mereka dengan sempurna kepada Tuhan. Kita mungkin sedang berada di dalam penderitaan yang begitu berat di mana hati kita terasa pecah. Kita mungkin dipenuhi rasa syukur dan pujian untuk Tuhan. Dan untuk satu hal, yang paling baik yang dapat kita lakukan adalah untuk berseru kepada Tuhan untuk meminta bantuan. Di dalam kasus yang lain, kita mungkin menyatakan pujian demi pujian yang terbaik untuk memberitahu Tuhan betapa maha besarnya Dia. Tetapi doa bukanlah suatu perkara tentang berapa banyak kita dapat mengutarakan atau betapa baik kita dapat mengutarakannya. Doa merupakan sebuah sikap dari hati.
Kristus sendiri telah memberi kita sebuah contoh tentang doa sebelum makan. Kitab Lukas pasal 24 menguraikan tentang dua orang murid yang sedang berjalan menuju suatu tempat yang bernama Emaus bersama dengan Yesus setelah Dia bangkit dari antara orang mati. Dan mereka berhenti untuk makan, dan setelah Yesus meminta berkat atas makanannya, mata mereka terbuka. Tuhan meminta kita untuk berdoa sebelum makan karena makanan merupakan suatu karunia dari Tuhan. Tetapi kita tidak perlu untuk fasih berbicara sewaktu kita berdoa. Kita dapat secara sederhana mengakui bahwa makanan kita merupakan suatu berkat dari Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya untuk makanan tersebut.
Sewaktu kita berdoa kepada Tuhan sebelum makan, saat itu juga merupakan suatu saat yang baik untuk berterima kasih kepada-Nya untuk hal-hal yang lain. Kita dapat berterima kasih kepada-Nya bahwa hari itu telah merupakan sebuah hari yang baik. Kita dapat berdoa untuk bantuan-Nya sehubungan dengan sesuatu yang mengganggu perasaan kita. Kita dapat berdoa supaya Dia akan menguatkan kita untuk menjadi lebih taat dan setia.
Indahnya adalah kegiatan doa tersebut mengizinkan kita untuk memberitahukan isi hati kita kepada Tuhan walaupun Tuhan sebelumnya telah mengetahui "segala sesuatu" yang kita butuhkan. Dia mengetahui seluruh dari masalah-masalah kita lebih baik dari pada diri kita sendiri. Kita tidak dapat memberitahukan kepada Tuhan apa pun di dalam doa kita sesuatu yang belum Tuhan ketahui. Tetapi adalah menenteramkan untuk memiliki hak yang istimewa untuk dapat membawa perasaan-perasaan kita dan rasa syukur kita serta permohonan-permohonan kita kepada Tuhan. Kita dapat mengemis untuk meminta bantuan-Nya. Kita tidak perlu untuk menjadi terlalu khawatir tentang bagaimana untuk mengucapkan doa-doa kita. Tuhan telah sebelumnya mengetahui seluruh dari kebutuhan kita dan secara sederhana kita dapat berdoa kepada Dia dari lubuk hati kita.
Kitab 1 Yohanes 5:14 berbicata tentang doa demikian:
"Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya."
Doa adalah kesempatan yang indah yang Tuhan berikan kepada kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya di dalam Alkitab, dan kita berbicara kepada Tuhan melalui doa. Akan tetapi ada banyak orang yang berpikir bahwa kita harus memilih kata-kata kita dengan sangat baik sewaktu kita berdoa. Hal tersebut adalah seperti seakan-akan mereka sedang menyampaikan suatu pidato umum. Mereka hendak memastikan bahwa setiap orang akan menyukai apa yang mereka ucapkan. Adalah sangat menyedihkan sewaktu orang-orang memuji seseorang atas sebuah doa yang telah disampaikan. Hal itu menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak memahami maksud pemikirannya secara keseluruhan.
Doa adalah sebuah sikap dimana kita dapat di dalam cara kekanak-kanakan kita sendiri berbicara kepada Tuhan. Maksudnya ialah bahwa kita tidak perlu untuk menjadi seorang jurubicara yang ulung untuk melakukan doa. Kita tidak perlu untuk menjadi seseorang yang ahli berbicara. Kita tidak perlu untuk mampu menghasilkan suatu ungkapan yang sangat baik. Kita hanya hendak mengutarakan kepada Tuhan apa yang ada di dalam hati kita.
Seperti misalnya, sewaktu tiba pada saat makan, kita dapat secara sederhana berdoa kepada Tuhan di dalam nama Yesus, bersyukur kepada-Nya untuk makanan kita dan meminta Dia untuk memberkati-Nya. Dan itu adalah cukup jika kita benar-benar tulus. Tetapi bila kita secara sederhana memiliki kebiasaan rutin untuk mengatakan beberapa kata sebelum kita makan, hal tersebut tidak berarti apa-apa. Jika kita hanya menjalani suatu kegiatan yang rutin, hal itu tidak akan bernilai apa-apa.
Alkitab menyatakan di dalam kitab Mazmur pasal 51 bahwa Tuhan tidak akan memandang hina "hati yang patah dan remuk." Alkitab menyatakan bahwa Allah Roh Kudus sendiri akan mengambil doa-doa kita dan membawa mereka dengan sempurna kepada Tuhan. Kita mungkin sedang berada di dalam penderitaan yang begitu berat di mana hati kita terasa pecah. Kita mungkin dipenuhi rasa syukur dan pujian untuk Tuhan. Dan untuk satu hal, yang paling baik yang dapat kita lakukan adalah untuk berseru kepada Tuhan untuk meminta bantuan. Di dalam kasus yang lain, kita mungkin menyatakan pujian demi pujian yang terbaik untuk memberitahu Tuhan betapa maha besarnya Dia. Tetapi doa bukanlah suatu perkara tentang berapa banyak kita dapat mengutarakan atau betapa baik kita dapat mengutarakannya. Doa merupakan sebuah sikap dari hati.
Kristus sendiri telah memberi kita sebuah contoh tentang doa sebelum makan. Kitab Lukas pasal 24 menguraikan tentang dua orang murid yang sedang berjalan menuju suatu tempat yang bernama Emaus bersama dengan Yesus setelah Dia bangkit dari antara orang mati. Dan mereka berhenti untuk makan, dan setelah Yesus meminta berkat atas makanannya, mata mereka terbuka. Tuhan meminta kita untuk berdoa sebelum makan karena makanan merupakan suatu karunia dari Tuhan. Tetapi kita tidak perlu untuk fasih berbicara sewaktu kita berdoa. Kita dapat secara sederhana mengakui bahwa makanan kita merupakan suatu berkat dari Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya untuk makanan tersebut.
Sewaktu kita berdoa kepada Tuhan sebelum makan, saat itu juga merupakan suatu saat yang baik untuk berterima kasih kepada-Nya untuk hal-hal yang lain. Kita dapat berterima kasih kepada-Nya bahwa hari itu telah merupakan sebuah hari yang baik. Kita dapat berdoa untuk bantuan-Nya sehubungan dengan sesuatu yang mengganggu perasaan kita. Kita dapat berdoa supaya Dia akan menguatkan kita untuk menjadi lebih taat dan setia.
Indahnya adalah kegiatan doa tersebut mengizinkan kita untuk memberitahukan isi hati kita kepada Tuhan walaupun Tuhan sebelumnya telah mengetahui "segala sesuatu" yang kita butuhkan. Dia mengetahui seluruh dari masalah-masalah kita lebih baik dari pada diri kita sendiri. Kita tidak dapat memberitahukan kepada Tuhan apa pun di dalam doa kita sesuatu yang belum Tuhan ketahui. Tetapi adalah menenteramkan untuk memiliki hak yang istimewa untuk dapat membawa perasaan-perasaan kita dan rasa syukur kita serta permohonan-permohonan kita kepada Tuhan. Kita dapat mengemis untuk meminta bantuan-Nya. Kita tidak perlu untuk menjadi terlalu khawatir tentang bagaimana untuk mengucapkan doa-doa kita. Tuhan telah sebelumnya mengetahui seluruh dari kebutuhan kita dan secara sederhana kita dapat berdoa kepada Dia dari lubuk hati kita.
Kitab 1 Yohanes 5:14 berbicata tentang doa demikian:
"Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya."
Rahab
"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai [Israel] itu dengan baik." (Ibrani 11:31)
Alkitab selalu menekankan bahwa Tuhan melihat kepada "hati" bukan kepada penampilan luar. Seseorang dapat tampil sangat suci tetapi seringkali mencemoh orang-orang lainnya yang ia anggap lebih rendah daripadanya. Disisi yang lain ada orang-orang yang dianggap rendah di dalam masyarakat tetapi di dalam hati mereka memiliki rasa hormat yang sangat tinggi dan rasa takut yang sangat besar terhadap Tuhan.
Oleh karena itu kita tidak dapat melihat penampilan luar sebagai ukuran atas keselamatan, akan tetapi kita juga tidak dapat melihat ke dalam hati seseorang, hanya Tuhan yang mengetahui apakah sesungguhnya yang ada di dalam hati seorang manusia. Kita mungkin dapat menipu orang lain bahkan menipu diri kita sendiri, tetapi kita tidak pernah bisa menipu Tuhan.
Dari kisah-kisah yang kita baca di dalam Alkitab adalah sangat mengherankan bahwa Tuhan menyelamatkan Rahab dan Maria Magdalena yang adalah para pelacur. Dan seorang perempuan yang tertangkap basah melakukan perzinahan dalam segala kemungkinannya ia diselamatkan oleh Yesus. Kitab Yohanes 8:10-11 menyatakan demikian:
"Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Dan Rahab yang tinggal di kota Yerikho yang terkutuk memiliki kesaksian yang sangat indah terhadap Tuhan seperti yang kita baca dalam kitab Yosua 2:11 demikian:
"Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah."
Anehnya kita menemukan nama Rahab yang sama di dalam silsilah nenek moyang Yesus dari pihak Yusuf (yang adalah "bapa tiri" Yesus) seperti yang kita baca dalam kitab Matius 1:5-6:
"Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria"
Disini kita menemukan dua perempuan yang bukan berasal dari bangsa Israel. Kita sudah mengetahui Rahab berasal dari kota Yerikho yang dihancurkan sama sekali oleh bangsa Israel dan Rut adalah seorang Moab yang dianggap najis oleh bangsa Israel. Lebih dari itu Salomo anak Daud, raja agung yang membangun Bait Allah, diperanakkan dari Batsyeba, isteri Uria! Bagaimana hal itu mungkin?
Ada satu perempuan lagi yang menarik perhatian kita dalam silsilah ini, yaitu Tamar. Siapakah Tamar? Kitab Matius 1:1-3 mencatat demikian:
Nah, mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah nenek moyang Yesus seharusnya adalah orang-orang yang sangat suci dan tidak pernah berbuat salah? Akan tetapi mereka adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan, hanya Tuhan Yesus yang adalah Allah Manusia yang sama sekali sempurna dan tidak pernah berbuat salah. Bagaimanapun juga ada banyak orang yang akan mencemoh hal ini karena mereka tidak mengerti pelajaran apakah yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita disini.
Sebelum diselamatkan kita adalah adalah para pelacur rohani yang banyak sekali melanggar hukum-hukum Tuhan. Setiap kali kita berbuat dosa kita sedang "berzinah" secara rohani karena sesungguhnya setiap manusia menikah dengan Hukum Tuhan.
Itulah sebabnya Hukum Taurat mengajarkan bahwa orang-orang yang melakukan perzinahan patut untuk dihukum rajam atau dilempari dengan batu sampai mati.
Akan tetapi setelah diselamatkan kita tidak lagi menikah dengan Hukum Tuhan, kita "bercerai mati" dengan Hukum Tuhan karena Ia telah mati di atas kayu salib. Dan kemudian orang-orang yang percaya menjadi pengantin rohani Kristus yang mampu membebaskan kita dari kutuk Hukum Taurat.
Itulah sebabnya Tuhan menekankan beberapa hal yang sangat penting tentang pernikahan dimana Tuhan juga tunduk kepada hukum yang dibuat-Nya sendiri.
Kitab Roma 7:1-4 menjelaskan kepada kita demikian:
"Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum-- bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah."
Alkitab selalu menekankan bahwa Tuhan melihat kepada "hati" bukan kepada penampilan luar. Seseorang dapat tampil sangat suci tetapi seringkali mencemoh orang-orang lainnya yang ia anggap lebih rendah daripadanya. Disisi yang lain ada orang-orang yang dianggap rendah di dalam masyarakat tetapi di dalam hati mereka memiliki rasa hormat yang sangat tinggi dan rasa takut yang sangat besar terhadap Tuhan.
Oleh karena itu kita tidak dapat melihat penampilan luar sebagai ukuran atas keselamatan, akan tetapi kita juga tidak dapat melihat ke dalam hati seseorang, hanya Tuhan yang mengetahui apakah sesungguhnya yang ada di dalam hati seorang manusia. Kita mungkin dapat menipu orang lain bahkan menipu diri kita sendiri, tetapi kita tidak pernah bisa menipu Tuhan.
Dari kisah-kisah yang kita baca di dalam Alkitab adalah sangat mengherankan bahwa Tuhan menyelamatkan Rahab dan Maria Magdalena yang adalah para pelacur. Dan seorang perempuan yang tertangkap basah melakukan perzinahan dalam segala kemungkinannya ia diselamatkan oleh Yesus. Kitab Yohanes 8:10-11 menyatakan demikian:
"Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Dan Rahab yang tinggal di kota Yerikho yang terkutuk memiliki kesaksian yang sangat indah terhadap Tuhan seperti yang kita baca dalam kitab Yosua 2:11 demikian:
"Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah."
Anehnya kita menemukan nama Rahab yang sama di dalam silsilah nenek moyang Yesus dari pihak Yusuf (yang adalah "bapa tiri" Yesus) seperti yang kita baca dalam kitab Matius 1:5-6:
"Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria"
Disini kita menemukan dua perempuan yang bukan berasal dari bangsa Israel. Kita sudah mengetahui Rahab berasal dari kota Yerikho yang dihancurkan sama sekali oleh bangsa Israel dan Rut adalah seorang Moab yang dianggap najis oleh bangsa Israel. Lebih dari itu Salomo anak Daud, raja agung yang membangun Bait Allah, diperanakkan dari Batsyeba, isteri Uria! Bagaimana hal itu mungkin?
Ada satu perempuan lagi yang menarik perhatian kita dalam silsilah ini, yaitu Tamar. Siapakah Tamar? Kitab Matius 1:1-3 mencatat demikian:
"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, [dstnya]"Tamar sebenarnya adalah menantu Yehuda yang berzinah dengannya karena Yehuda tidak mau memberikan anaknya yang bungsu untuk menikah dengan Tamar.
Nah, mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah nenek moyang Yesus seharusnya adalah orang-orang yang sangat suci dan tidak pernah berbuat salah? Akan tetapi mereka adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan, hanya Tuhan Yesus yang adalah Allah Manusia yang sama sekali sempurna dan tidak pernah berbuat salah. Bagaimanapun juga ada banyak orang yang akan mencemoh hal ini karena mereka tidak mengerti pelajaran apakah yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita disini.
Sebelum diselamatkan kita adalah adalah para pelacur rohani yang banyak sekali melanggar hukum-hukum Tuhan. Setiap kali kita berbuat dosa kita sedang "berzinah" secara rohani karena sesungguhnya setiap manusia menikah dengan Hukum Tuhan.
Itulah sebabnya Hukum Taurat mengajarkan bahwa orang-orang yang melakukan perzinahan patut untuk dihukum rajam atau dilempari dengan batu sampai mati.
Akan tetapi setelah diselamatkan kita tidak lagi menikah dengan Hukum Tuhan, kita "bercerai mati" dengan Hukum Tuhan karena Ia telah mati di atas kayu salib. Dan kemudian orang-orang yang percaya menjadi pengantin rohani Kristus yang mampu membebaskan kita dari kutuk Hukum Taurat.
Itulah sebabnya Tuhan menekankan beberapa hal yang sangat penting tentang pernikahan dimana Tuhan juga tunduk kepada hukum yang dibuat-Nya sendiri.
Kitab Roma 7:1-4 menjelaskan kepada kita demikian:
"Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum-- bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah."
Beristirahat Dalam Tuhan
"Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga." (Ibrani 4:10-11)
Ada banyak orang yang kurang mengerti dan bingung tentang "beristirahat" di dalam Tuhan. Di dalam hal kerohanian apakah kita boleh bekerja atau tidak? Apakah kita akan bermalas-malasan saja di atas tempat tidur sambil menunggu Tuhan menyelamatkan kita? Apakah sebenarnya beristirahat di dalam Tuhan itu?
Setelah bekerja menciptakan alam semesta selama enam hari Allah berhenti (beristirahat) pada hari yang ke-tujuh. Akan tetapi inti dari "perhentian" atau "istirahat" ini bukan menunjuk pada pengudusan hari yang ke-tujuh (hari Sabtu) dimana umat Israel tidak boleh melakukan pekerjaan jasmani apapun pada hari tersebut, tetapi ini menunjuk kepada fakta bahwa kita harus beristirahat di dalam pekerjaan atau karya keselamatan yang Allah sediakan melalui Tuhan Yesus Kristus dan sama sekali tidak boleh bergantung kepada pekerjaan-pekerjaan atau usaha-usaha manusia seperti yang diingatkan kepada kita dalam ayat di atas.
Dengan kata lain, "perhentian" atau "istirahat" itu menunjuk kepada Kristus sendiri, seperti yang kita baca dalam kitab Kolose 2:16-17 demikian:
"Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat [semua ini adalah hukum-hukum upacara dalam Perjanjian Lama termasuk sabat hari ke-tujuh]; semuanya ini hanyalah BAYANGAN dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus."
Disini Tuhan sedang menjelaskan suatu prinsip yang sangat penting bahwa kita harus berhenti dari segala hukum-hukum upacara yang kita lakukan sendiri, yaitu pekerjaan-pekerjaan dari tata cara ibadah yang kita lakukan secara jasmani karena semua itu hanyalah "tanda" atau "kiasan" atau "bayangan" yang tidak memiliki isi rohani karena wujud yang sebenarnya berada pada pekerjaan Kristus.
Bila kita bergantung pada pekerjaan-pekerjaan dan usaha-usaha kita sendiri untuk mencapai Surga kita pasti akan gagal, karena kita tidak mungkin mampu untuk menembus "kematian kedua" yang kekal untuk menebus upah dosa-dosa kita. Hanya melalui karya Kristus keselamatan dapat digenapkan, sedangkan pekerjaan-pekerjaan jasmani yang kita lakukan sendiri bagaimanapun alkitabiahnya hal tersebut sama sekali tidak dapat menyelamatkan kita. Ayat-ayat sebelumnya dari Ibrani pasal 4, ayat 8 dan 9 menjelaskan kepada kita demikian:
"Sebab, andaikata Yosua [yaitu imam Perjanjian Lama yang menghormati hari ke-tujuh sabat] telah membawa mereka [umat Israel] masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu HARI LAIN. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah."
Harap diperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya tidak ada ungkapan "hari ke-tujuh" dalam ayat ini, ungkapan itu ditambahkan disitu oleh para penterjemah yang kurang mengerti konteksnya. Sebenarnya ayat ini hanya menunjuk kepada "Sabat" atau "perhentian" atau "istirahat" yang seluruhnya mengacu pada Kristus. Itulah sebabnya Allah berkata tentang "suatu hari lain", yaitu hari Minggu Sabat dari Perjanjian Baru dimana Kristus bangkit (Matius 28, Markus 16, Lukas 24, Yohanes 20).
Ingatlah hanya Tuhan yang dapat membuat domba-domba-Nya berbaring (beristirahat) di padang rumput yang hijau yang merupakan gambaran yang indah dari keselamatan di dalam Tuhan, seperti yang kita baca dalam kitab Matius 11:28-30 demikian:
"Marilah kepada-Ku [yaitu kepada Kristus], semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan [istirahat] kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan [istirahat]. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Dan kitab Efesus 2:8-9 menekankan prinsip yang sangat penting ini demikian:
"Sebab karena kasih karunia [anugrah] kamu diselamatkan oleh iman; itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Dan kitab Roma 11:6 menjelaskan demikian:
"Tetapi jika hal itu [yaitu keselamatan] terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia."
Itulah sebabnya seseorang yang sudah dilahirkan kembali dari atas menghormati Hari Minggu Sabat sebagai hari pekerjaan yang harus dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan rohani supaya Injil Kristus dapat diberitakan dengan sebaik mungkin. Dan sekarang kita mengerti mengapa kitab Yakobus 2:17 berkata sbb:
"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."
Kita hanya harus berhenti dari segala pekerjaan-pekerjaan hukum upacara yang kita lakukan sendiri, karena pekerjaan-pekerjaan jasmani yang kita lakukan sendiri bagaimanapun terlihat baik, kudus dan alkitabiahnya hal-hal tersebut tidak pernah menjadi "dasar" atau "penyebab" dari keselamatan, hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan menurut jadwal dan kehendak-Nya sendiri (Efesus 2:8-9, Titus 3:5, Roma 9:16, Filipi 3:8-9).
Sedangkan pekerjaan-pekerjaan baik yang kita lakukan yang berkenan dimata Tuhan hanya dapat terjadi "setelah" kita diselamatkan, karena hal itu adalah "hasil" atau "akibat" dari keselamatan.
Masalah yang sama ini juga merupakan konflik yang utama antara ahli-ahli hukum Taurat dengan Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi. Selain iri hati, salah satu alasan utama mengapa mereka menyalibkan Yesus adalah karena Ia dan murid-murid-Nya seringkali melanggar kekudusan hari ke-tujuh sabat, puasa jasmani dan hukum-hukum upacara lainnya. Dalam kitab Markus 2:27-28 kita membaca demikian:
"Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."
Sayangnya ada banyak orang yang menggunakan ayat ini justru sebagai alasan untuk terus menguduskan hari ke-tujuh sabat Perjanjian Lama dimana sebenarnya ayat ini menegaskan hal yang sebaliknya. Dalam kitab Yesaya 5:20 Tuhan memperingatkan kepada kita demikian:
"Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit."
Anak-anak Tuhan yang telah diselamatkan melalui "kasih karunia" tidak akan memiliki hubungan yang konsisten dengan anak-anak kegelapan seperti yang kita baca dalam kitab 2 Korintus 6:14 demikian:
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Tidak ada persamaan sama sekali antara orang-orang yang percaya kepada Tuhan saja untuk menggenapkan keselamatan mereka dengan orang-orang yang mempercayai pekerjaan mereka sendiri.
Ada banyak orang yang kurang mengerti dan bingung tentang "beristirahat" di dalam Tuhan. Di dalam hal kerohanian apakah kita boleh bekerja atau tidak? Apakah kita akan bermalas-malasan saja di atas tempat tidur sambil menunggu Tuhan menyelamatkan kita? Apakah sebenarnya beristirahat di dalam Tuhan itu?
Setelah bekerja menciptakan alam semesta selama enam hari Allah berhenti (beristirahat) pada hari yang ke-tujuh. Akan tetapi inti dari "perhentian" atau "istirahat" ini bukan menunjuk pada pengudusan hari yang ke-tujuh (hari Sabtu) dimana umat Israel tidak boleh melakukan pekerjaan jasmani apapun pada hari tersebut, tetapi ini menunjuk kepada fakta bahwa kita harus beristirahat di dalam pekerjaan atau karya keselamatan yang Allah sediakan melalui Tuhan Yesus Kristus dan sama sekali tidak boleh bergantung kepada pekerjaan-pekerjaan atau usaha-usaha manusia seperti yang diingatkan kepada kita dalam ayat di atas.
Dengan kata lain, "perhentian" atau "istirahat" itu menunjuk kepada Kristus sendiri, seperti yang kita baca dalam kitab Kolose 2:16-17 demikian:
"Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat [semua ini adalah hukum-hukum upacara dalam Perjanjian Lama termasuk sabat hari ke-tujuh]; semuanya ini hanyalah BAYANGAN dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus."
Disini Tuhan sedang menjelaskan suatu prinsip yang sangat penting bahwa kita harus berhenti dari segala hukum-hukum upacara yang kita lakukan sendiri, yaitu pekerjaan-pekerjaan dari tata cara ibadah yang kita lakukan secara jasmani karena semua itu hanyalah "tanda" atau "kiasan" atau "bayangan" yang tidak memiliki isi rohani karena wujud yang sebenarnya berada pada pekerjaan Kristus.
Bila kita bergantung pada pekerjaan-pekerjaan dan usaha-usaha kita sendiri untuk mencapai Surga kita pasti akan gagal, karena kita tidak mungkin mampu untuk menembus "kematian kedua" yang kekal untuk menebus upah dosa-dosa kita. Hanya melalui karya Kristus keselamatan dapat digenapkan, sedangkan pekerjaan-pekerjaan jasmani yang kita lakukan sendiri bagaimanapun alkitabiahnya hal tersebut sama sekali tidak dapat menyelamatkan kita. Ayat-ayat sebelumnya dari Ibrani pasal 4, ayat 8 dan 9 menjelaskan kepada kita demikian:
"Sebab, andaikata Yosua [yaitu imam Perjanjian Lama yang menghormati hari ke-tujuh sabat] telah membawa mereka [umat Israel] masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu HARI LAIN. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah."
Harap diperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya tidak ada ungkapan "hari ke-tujuh" dalam ayat ini, ungkapan itu ditambahkan disitu oleh para penterjemah yang kurang mengerti konteksnya. Sebenarnya ayat ini hanya menunjuk kepada "Sabat" atau "perhentian" atau "istirahat" yang seluruhnya mengacu pada Kristus. Itulah sebabnya Allah berkata tentang "suatu hari lain", yaitu hari Minggu Sabat dari Perjanjian Baru dimana Kristus bangkit (Matius 28, Markus 16, Lukas 24, Yohanes 20).
Ingatlah hanya Tuhan yang dapat membuat domba-domba-Nya berbaring (beristirahat) di padang rumput yang hijau yang merupakan gambaran yang indah dari keselamatan di dalam Tuhan, seperti yang kita baca dalam kitab Matius 11:28-30 demikian:
"Marilah kepada-Ku [yaitu kepada Kristus], semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan [istirahat] kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan [istirahat]. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Dan kitab Efesus 2:8-9 menekankan prinsip yang sangat penting ini demikian:
"Sebab karena kasih karunia [anugrah] kamu diselamatkan oleh iman; itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Dan kitab Roma 11:6 menjelaskan demikian:
"Tetapi jika hal itu [yaitu keselamatan] terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia."
Itulah sebabnya seseorang yang sudah dilahirkan kembali dari atas menghormati Hari Minggu Sabat sebagai hari pekerjaan yang harus dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan rohani supaya Injil Kristus dapat diberitakan dengan sebaik mungkin. Dan sekarang kita mengerti mengapa kitab Yakobus 2:17 berkata sbb:
"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."
Kita hanya harus berhenti dari segala pekerjaan-pekerjaan hukum upacara yang kita lakukan sendiri, karena pekerjaan-pekerjaan jasmani yang kita lakukan sendiri bagaimanapun terlihat baik, kudus dan alkitabiahnya hal-hal tersebut tidak pernah menjadi "dasar" atau "penyebab" dari keselamatan, hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan menurut jadwal dan kehendak-Nya sendiri (Efesus 2:8-9, Titus 3:5, Roma 9:16, Filipi 3:8-9).
Sedangkan pekerjaan-pekerjaan baik yang kita lakukan yang berkenan dimata Tuhan hanya dapat terjadi "setelah" kita diselamatkan, karena hal itu adalah "hasil" atau "akibat" dari keselamatan.
Masalah yang sama ini juga merupakan konflik yang utama antara ahli-ahli hukum Taurat dengan Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi. Selain iri hati, salah satu alasan utama mengapa mereka menyalibkan Yesus adalah karena Ia dan murid-murid-Nya seringkali melanggar kekudusan hari ke-tujuh sabat, puasa jasmani dan hukum-hukum upacara lainnya. Dalam kitab Markus 2:27-28 kita membaca demikian:
"Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."
Sayangnya ada banyak orang yang menggunakan ayat ini justru sebagai alasan untuk terus menguduskan hari ke-tujuh sabat Perjanjian Lama dimana sebenarnya ayat ini menegaskan hal yang sebaliknya. Dalam kitab Yesaya 5:20 Tuhan memperingatkan kepada kita demikian:
"Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit."
Anak-anak Tuhan yang telah diselamatkan melalui "kasih karunia" tidak akan memiliki hubungan yang konsisten dengan anak-anak kegelapan seperti yang kita baca dalam kitab 2 Korintus 6:14 demikian:
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Tidak ada persamaan sama sekali antara orang-orang yang percaya kepada Tuhan saja untuk menggenapkan keselamatan mereka dengan orang-orang yang mempercayai pekerjaan mereka sendiri.
Doa Hana
Lalu berdoalah Hana, katanya: "Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu. Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita. Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.
Busur pada pahlawan [orang kuat] telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.
TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.
Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, SEBAB bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa. Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya." (1 Samuel 2:1-10)
Busur pada pahlawan [orang kuat] telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.
TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.
Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, SEBAB bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa. Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya." (1 Samuel 2:1-10)
Subscribe to:
Posts (Atom)