Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 18, 2020

Gog dan Magog

Gog dan Magog (bahasa Ibrani: גּוֹג וּמָגוֹג, Gog u Magog) atau Yakjuj dan Makjuj (bahasa Arab: يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ‎, Yaʾjūj wa Maʾjūj) adalah nama tokoh, kaum, atau negeri dalam Alkitab dan Al-Qur'an (Surah Al-Anbiya ayat 96). Dalam bab 38 Kitab Yehezkiel, Gog adalah nama tokoh, sementara Magog adalah nama negeri asalnya. Dalam bab 10 Kitab Kejadian, Magog adalah nama tokoh, tetapi Gog tidak disebutkan. Berabad-abad kemudian, frasa "Gog dari Magog" dalam Kitab Yehezkiel berubah menjadi "Gog dan Magog" dalam tradisi agama Yahudi. Bentuk inilah yang kemudian hari muncul dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam kumpulan Kitab Suci Perjanjian Baru agama Kristen. Dalam Kitab Wahyu, Gog dan Magog adalah sebutan bagi kumpulan bangsa-bangsa.

Pada zaman Kekaisaran Romawi, Gog dan Magog dihubung-hubungkan dengan legenda Gerbang Aleksander, yang konon didirikan Aleksander Agung untuk merintangi bangsa Gog dan Magog. Bagi sejarawan Flavius Yosefus, Gog dan Magog adalah bangsa keturunan Magog bin Yafet bin Nuh, tokoh yang disebutkan pada bab 10 Kitab Kejadian. Menurutnya, Gog dan Magog sama dengan bangsa Skit. Di tangan para sastrawan Gereja Perdana, Gog dan Magog menjadi bangsa-bangsa akhir zaman, yang pada Abad Pertengahan ditafsirkan sebagai bangsa Viking, bangsa Hun, bangsa Khazar, bangsa Mongol, bangsa Turani, kabilah-kabilah nomaden Erasia, maupun kesepuluh suku Israel yang hilang.

Kisah Gog dan Magog maupun legenda Gerbang Aleksander juga muncul dalam Roman Aleksander. Menurut salah satu versi Roman Aleksander, "Goth dan Magothi" adalah raja-raja pemimpin bangsa-bangsa najis yang dihalau Aleksander ke daerah di balik sebuah celah gunung. Aleksander kemudian menemboki celah gunung itu untuk mencegah mereka keluar dan menganiaya bangsa-bangsa lain. Di dalam Roman Aleksander dan karya-karya sastra turunannya, Gog dan Magog dicitrakan sebagai bangsa-bangsa pemangsa manusia. Gambar Gog dan Magog juga ditampilkan pada peta-peta dunia buatan Abad Pertengahan (mappa mundi), kadang-kadang disertai gambar tembok yang didirikan Aleksander Agung.

Pencampuradukan kisah Gog dan Magog dengan legenda Gerbang Aleksander merembet ke seluruh kawasan Timur Dekat pada abad-abad permulaan agama Kristen dan zaman Islam. Kisah-kisah tersebut muncul dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Kahfi. Dalam surah ini, "Yakjuj dan Makjuj" muncul sebagai dua kaum primitif tak beradab yang diasingkan dari bangsa-bangsa beradab dengan tembok perintang oleh Zulkarnain (Sang Empunya Dua Tanduk), penakluk dan pemimpin besar yang sadik lagi mukmin. Banyak sejarawan dan ahli geografi Muslim pada zaman modern beranggapan bahwa bangsa Viking adalah Gog dan Magog yang muncul kembali. Dewasa ini, Gog dan Magog masih erat dikaitkan dengan fikrah apokaliptis, terutama di Israel dan negara-negara Muslim.

Nama Gog dan Magog disebut bersama-sama dalam Kitab Yehezkiel bab 38. Gog disebutkan sebagai nama seorang tokoh, sementara Magog disebutkan sebagai nama negeri asalnya. Arti nama Gog belum diketahui secara pasti. Apa pun artinya, penulis Kitab Yehezkiel tampaknya tidak mementingkannya. Gog sudah sering diidentikkan dengan sejumlah tokoh sejarah, terutama Giges, Raja Lidia yang hidup pada awal abad ke-7 Pra-Masehi, tetapi banyak ahli menafikan pengidentikan Gog dengan tokoh sejarah manapun.

Dalam bab 10 Kitab Kejadian, Magog disebut sebagai putra Yafet bin Nuh, tetapi Gog tidak disebutkan. Arti nama Magog juga sama tidak jelasnya, tetapi mungkin saja berasal dari frasa mat-Gugu dalam bahasa Asyur yang berarti "Negeri Giges", yakni Lidia. Menurut dugaan lain, nama Gog berasal dari nama Magog atau sebaliknya, dan "Magog" mungkin pula adalah kode untuk Babel.

Frasa "Gog dan Magog" mungkin saja muncul sebagai hasil penyingkatan kalimat "Gog dan/dari negeri Magog", ditilik dari penggunaannya di dalam Septuaginta (terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang dikerjakan beberapa abad menjelang bermulanya tarikh Masehi).  Salah satu contoh pemakaian bentuk gabungan tersebut dalam bahasa Ibrani (Gog u Magog) telah ditemukan, tetapi konteks pemakaiannya tidak jelas, karena hanya terlestarikan dalam selembar fragmen naskah Laut Mati. Dalam Kitab Wahyu, Gog dan Magog diserangkaikan menjadi sebutan bagi bangsa-bangsa di muka bumi yang memusuhi orang-orang kudus. Dalam Kitab Tawarikh pertama, bab 5 ayat ke-4, tercantum nama Gog dari suku Ruben,  tetapi tampaknya Gog dari suku Ruben tidak ada kaitannya dengan Gog dalam Kitab Yehezkiel maupun Magog dalam Kitab Kejadian.

Nama Gogmagog, tokoh raksasa dalam legenda Inggris, mungkin sekali berasal dari frasa Alkitabiah "Gog dan Magog". Sebuah karya sastra cetak belakangan memuat versi cerita rakyatnya yang sudah menyimpang dari cerita asli karena mengubah legenda tentang Gogmagog dan Corineus menjadi cerita tentang dua tokoh raksasa bernama Gog dan Magog. Kedua nama inilah yang akhirnya lekat pada patung Gogmagog dan Corineus di gedung Guildhall, London.

Gog dan Magog dalam kesusastraan Yahudi-Kristen

Alkitab Ibrani

Kitab Yehezkiel mencatat serangkaian penglihatan yang diterima Nabi Yehezkiel, imam Haikal Sulaiman yang ikut digiring ke Babel sebagai orang buangan. Kepada saudara-saudara sebangsanya di tanah buangan, Yehezkiel mengungkapkan bahwa pembuangan yang mereka alami adalah hukuman Allah kepada bangsa Israel karena memungkari-Nya, tetapi Allah akan memulangkan umat-Nya ke Yerusalem bilamana mereka kembali bertakwa kepada-Nya. Wejangan pembangkit iman ini disusul nubuat tentang Gog (Yehezkiel 38–39). Yehezkiel bernubuat bahwa Gog di tanah Magog beserta segenap bala tentaranya akan memerangi bangsa Israel yang sudah dipulihkan Allah, tetapi akan dibinasakan. Sesudah itu, Allah akan menciptakan haikal baru, dan berdiam di tengah-tengah umat-Nya dalam ketenteraman abadi (Yehezkiel 40–48).

"Hai anak manusia, tujukanlah mukamu kepada Gog di tanah Magog, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal, dan bernubuatlah melawan dia, dan katakanlah, beginilah firman Tuhan ALLAH, lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Gog raja agung negeri Mesekh dan Tubal... Orang Persia, Etiopia, dan Put menyertai mereka... orang Gomer dengan seluruh bala tentaranya, Bet-Togarma dari utara sekali dengan seluruh bala tentaranya, banyak bangsa menyertai engkau."

Bukti internal mengisyaratkan bahwa sebagian besar isi bab nubuat tentang Gog disusun lebih kemudian daripada bab-bab yang mendahului maupun bab-bab sesudahnya. Mesekh dan Tubal adalah kerajaan-kerajaan abad ke-7 Pra-Masehi di kawasan tengah Anatolia, yang terletak di sebelah utara Israel. Persia adalah kerajaan yang terletak di sebelah timur Israel. Etiopia dan Put (Libya) adalah kerajaan-kerajan yang terletak di sebelah selatan Israel. Gomer adalah bangsa Kimeri, kabilah nomaden di sebelah utara Laut Hitam, sementara Bet-Togarma terletak di perbatasan Tubal. Dengan demikian, Gog dan para sekutunya merupakan aliansi lintas bangsa di sekeliling Israel. "Tidak jelas mengapa perhatian sang nabi secara khusus diarahkan kepada bangsa-bangsa tersebut," ulas Daniel Isaac Block, ahli kajian Alkitab, "tetapi mungkin sekali lokasi mereka yang jauh dari Israel dan reputasi mereka dalam tindak kekerasan maupun kemisteriusan adalah faktor-faktor yang membuat Gog dan para sekutunya, yang bangkit melawan Allah dan umat-Nya, menjadi lambang-lambang sempurna dari sang seteru purwa". Menurut salah satu penjelasan, Gog dan para sekutunya adalah gabungan dari bangsa-bangsa keturunan Nuh yang diperinci dalam bab 10 Kitab Kejadian dengan mitra-mitra dagang Tirus yang diperinci dalam bab 27 Kitab Yehezkiel, ditambah dengan Persia, dan diposisikan sebagai musuh-musuh Israel pada akhir zaman, dengan menggunakan kata-kata ayat ke-19 dari bab 66 Kitab Yesaya, teks nubuat lain dalam Alkitab tentang akhir zaman.

Meskipun nubuat ini menyebut Gog sebagai musuh Israel di masa mendatang, tidak dapat dipastikan apakah konfrontasi yang dimaksud penulis Kitab Yehezkiel akan terjadi pada "akhir zaman", karena frasa Ibrani "akharit hayamim" (Ibrani: אחרית הימים) dalam Kitab Yehezkiel, yang secara harfiah berarti "hari-hari akhir" dan diterjemahkan menjadi "akhir zaman" dalam Alkitab bahasa Indonesia, mungkin cuma berarti "hari-hari kemudian", dan masih dapat ditafsirkan macam-macam. Para ahli abad ke-20 menggunakan istilah "hari-hari akhir" untuk mendenotasikan eskaton dalam makna yang luwes, tidak harus berarti akhir zaman dan tidak harus pula dikaitkan dengan apokalipsis. Meskipun demikian, utopia yang diuraikan dalam Kitab Yehezkiel bab 40 sampai bab 48 tetap dapat diwacanakan dalam ranah kajian eskatologi, mengingat utopia tersebut adalah produk "konflik sejagat" yang dijabarkan dalam bab-bab sebelum nubuat tentang Gog.

Pada ayat ke-7 dari bab 24 Kitab Ulangan versi Septuaginta, tercantum nama "Gog", alih-alih "Agag".

Dari Kitab Yehezkiel sampai Kitab Wahyu

Dalam kurun waktu beberapa abad selanjutnya, tradisi Yahudi mengubah istilah "Gog dari Magog" ala Kitab Yehezkiel menjadi istilah "Gog dan Magog". Proses perubahan tersebut maupun pergeseran letak geografis Gog dan Magog dapat dilacak pada karya-karya sastra dari kurun waktu tersebut. Sebagai contoh, jilid ke-3 Oracula Sibyllina, yang agaknya adalah hasil karya umat Yahudi Mesir pada pertengahan abad ke-2 Pra-Masehi,  mengubah istilah "Gog dari Magog" ala Kitab Yehezkiel menjadi Gog dan Magog, menghubung-hubungkan takdir mereka dengan tujuh bangsa lain, dan menempatkan negeri mereka "di tengah sungai-sungai Aethiopia". Lokasi tersebut tampaknya aneh, tetapi ilmu geografi kuno memang kadang-kadang menempatkan Etiopia di sebelah Persia, bahkan di sebelah India.  Uraian tentang Gog dan Magog dalam Oracula Sibyllina mengandung kalimat-kalimat yang sangat sukar dipahami. Naskah-naskah Oracula Sibyllina tidaklah seragam dalam mengelompokkan huruf-huruf Yunani pada uraian tersebut menjadi kata-kata, sehingga ada banyak cara berbeda untuk membacanya. Sekelompok naskah Oracula Sibyllina (Kelompok Y) menghubung-hubungkan Gog dan Magog dengan bangsa-bangsa di Eropa Timur, antara lain "orang Marsia dan orang Dakia".

Kitab Yobel, yang berasal dari sekitar waktu yang sama, tiga kali menyebut-nyebut Gog atau Magog. Yang pertama, Magog disebut sebagai cucu Nuh, sama seperti bab 10 Kitab Kejadian. Yang kedua, Gog disebut sebagai negeri yang berbatasan langsung dengan tanah ulayat Yafet. Yang ketiga, sebagian dari tanah ulayat Yafet diberikan kepada Magog.  Liber Antiquitatum Biblicarum, karya sastra dari abad pertama Masehi yang meriwayatkan kembali kisah-kisah Alkitab dari Adam sampai Raja Saul, memuat perincian nama-nama ketujuh putra Magog dan keterangan tentang jumlah keturunan Magog yang mencapai angka "ribuan".  Kitab Taurat Samaria dan Septuaginta kadang-kadang memunculkan nama Gog sebagai ganti nama lain yang tercantum dalam Alkitab Ibrani, atau mengganti nama Gog dalam Alkitab Ibrani dengan nama Magog. Fakta ini mengisyaratkan bahwa nama Gog dan nama Magog dapat saling menggantikan.

Bab 19 ayat ke-11 sampai bab 21 ayat ke-8 Kitab Wahyu, yang diperkirakan berasal dari akhir abad pertama Masehi,  menyebutkan bahwa sesudah seribu tahun dipenjara, Iblis akan dilepaskan, dan akan menghimpun bangsa-bangsa dari empat penjuru bumi, yakni Gog dan Magog, untuk melancarkan perang pamungkas melawan Kristus dan orang-orang kudusnya.

Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang, dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.

Midras

Pemberontakan Bar Kokhba melawan bangsa Romawi pada abad ke-2 Masehi menokohkan pemimpin insani sebagai Almasih terjanji, tetapi sesudah pemberontakan ini berakhir gagal, orang Yahudi mulai memaknai zaman Almasih dari sudut pandang adikodrati. Pertama-tama akan datang Almasih bin Yusuf, tokoh perintis yang akan mengalahkan musuh-musuh Israel, yakni Gog dan Magog, demi melapangkan jalan bagi Almasih bin Daud. Sesudah itu, orang-orang mati akan bangkit, penghakiman ilahi akan digelar, dan orang-orang sadik akan diberi pahala.

Hagadah, teks-teks khotbah dan tafsir nonlegalistik dalam kumpulan sastra rabani klasik, menjadikan Gog dan Magog sebagai dua nama untuk satu bangsa yang sama, yakni bangsa yang akan menjadi seteru Israel dalam perang pamungkas.  Para rabi tidak mengait-ngaitkan bangsa atau negeri tertentu dengan Gog dan Magog di luar dari sebuah lokasi di sebelah utara Israel, tetapi ulama besar Yahudi, Rasyi, menyebut umat Kristen sebagai sekutu Gog dan Magog, dan mengatakan bahwa Allah akan menggagalkan rencana mereka untuk membinasakan bani Israel.

Aleksander Agung

Sejarawan Yahudi abad pertama Masehi, Flavius Yosefus, mengidentikkan Gog dan Magog dengan orang Skit, bangsa barbar penunggang kuda dari daerah sekitar Sungai Don dan Laut Azov. Yosefus menceritakan kembali legenda turun-temurun tentang dikurungnya Gog dan Magog oleh Aleksander Agung di balik gerbang besi di "Pegunungan Kaspia", yang lazimnya diidentikkan dengan Pegunungan Kaukasus. Legenda ini mesti masih hangat diperbincangkan di kalangan umat Yahudi pada masa hidup Yosefus, yang bertepatan dengan permulaan tarikh Masehi. Beberapa abad kemudian, legenda ini muncul dengan banyak bumbu cerita dalam Apokalipsis Pseudo Metodius dan Roman Aleksander.

Karya-karya sastra pelopor berbahasa Suryani
Apokalipsis Pseudo Metodius, yang aslinya ditulis dalam bahasa Suryani, dianggap sebagai sumber cerita Gog dan Magog yang terdapat dalam versi-versi Roman Aleksander Dunia Barat. Legenda Aleksander, salah satu naskah Suryani tertua, memuat cerita tentang Gog dan Magog yang sedikit lain daripada yang lain. Cerita yang sedikit lain ini kemudian disadur menjadi versi Arab yang sudah hilang,  atau menjadi versi Etiopia dan versi-versi Dunia Timur terkemudian dari Roman Aleksander.

Dalam Legenda Aleksander berbahasa Suryani yang diperkirakan ditulis antara tahun 629 sampai tahun 630, Gog (bahasa Suryani: ܓܘܓ, gwg) dan Magog (bahasa Suryani: ܡܓܘܓܵ, mgwg) ditampilkan sebagai raja-raja orang Hun. Legenda Aleksander, yang ditulis seorang sastrawan Kristen di Mesopotamia ini, dianggap sebagai karya sastra pertama yang menghubung-hubungkan Gerbang Aleksander dengan gagasan bahwa Gog dan Magog sudah ditakdirkan berperan dalam apokalipsis.  Menurut Legenda Aleksander, pada permukaan gerbang besi tersebut, Aleksander mengukirkan nubuatnya tentang tanggal kedatangan 24 kabilah orang Hun, yang akan menerobos gerbang itu dan menaklukkan hampir seluruh negeri di muka bumi.

Apokalipsis Pseudo Metodius (abad ke-7  adalah sumber pertama unsur baru dalam tradisi Kristen, yakni cerita tentang dua gunung yang saling merapat membentuk celah sempit yang kemudian ditutupi tembok perintang Gog dan Magog. Gagasan ini juga muncul dalam Al-Qur'an (609–632 Masehi , dan berhasil menyusup ke dalam versi-versi Roman Aleksander Dunia Barat.

Roman Aleksander
Legenda Gog dan Magog tidak terdapat pada versi-versi terdahulu Roman Aleksander Pseudo Kalistenes yang naskah tertuanya diperkirakan berasal dari abad ke-3 Masehi, dan merupakan materi yang baru ditambahkan ke dalam naskah-naskah resensi abad ke-8 Masehi. Versi Yunani yang termuda sekaligus terpanjang memuat kisah tentang bangsa-bangsa najis yang gemar menyantap cacing, anjing, jenazah, dan janin manusia, dipimpin raja-raja bernama Goth dan Magoth. Bangsa-bangsa najis tersebut bersekutu dengan orang Belsiria (suku Bebrikes di Bitinia, kawasan utara Turki saat ini), dan dikurung di balik "Payudara Utara", sepasang gunung yang berjarak lima puluh hari perjalanan ke sebelah utara.

Gog dan Magog muncul dalam versi-versi bahasa Prancis Lama yang terkemudian dari Roman Aleksander. Dalam syair Roman d'Alexandre, Bagian III, gubahan Lambert le Tort (sekitar tahun 1170), Gog dan Magog ("Gos et Margos", "Got et Margot") adalah bangsa-bangsa jajahan Poros, Raja India, penyedia pasukan bantu berkekuatan 400.000 personel.  Sesudah dikepung Aleksander Agung, Gog dan Magog meloloskan diri lewat sebuah ngarai di daerah pegunungan Tus (atau Turs).  Jalan masuk ke ngarai itu kemudian ditutup Aleksander dengan tembok yang akan berdiri kukuh sampai kedatangan Antikristus.  Bagian IV dari syair Roman d'Alexandre menceritakan bahwa tugas menjaga Gog dan Magog, sekaligus tugas memerintah Suriah dan Persia dipercayakan kepada Antigonos, salah seorang pengganti Aleksander Agung.

Gog dan Magog juga muncul dalam Roman de toute chevalerie yang ditulis sekitar tahun 1180. Dalam karya sastra karangan Thomas de Kent ini, Gog dan Magog dicitrakan sebagai masyarakat penghuni gua yang gemar menyantap daging manusia. Kisah serupa muncul dalam bentuk ringkas dalam karya sastra Inggris Pertengahan, King Alisaunder (bait 5938–6287). Dalam karya sastra Prancis abad ke-13, Roman d'Alexandre en prose, Aleksander diceritakan berjumpa dengan sebuah masyarakat kanibal alih-alih dengan Gog dan Magog.  Hal ini disebabkan oleh transmisi cerita yang tidak utuh, karena sumber Roman d'Alexandre en prose, yakni Historia de Preliis, karya sastra Latin karangan Arkipresbiter Leo dari Napoli, tidak mengandung frasa "Gogh et Macgogh", setidaknya dalam beberapa naskah.

Gog dan Magog tidak saja dicitrakan sebagai bangsa pemakan daging manusia, tetapi juga sebagai orang-orang dengan "bentuk hidung seperti paruh burung", misalnya dalam "peta Heinrich dari Mainz", salah satu mappa mundi yang penting.  Gog dan Magog dikarikaturkan menjadi orang-orang dengan bentuk hidung seperti gancu yang menyerang Kota Suci dalam sebuah gambar miniatur naskah Apokalipsis Inggris-Norman.

Pengidentikan dengan peradaban tertentu
Para sastrawan Kristen terdahulu (misalnya Eusebius) kerap mengidentikkan Gog dan Magog dengan kaisar dan bangsa Romawi.  Sesudah Kekaisaran Romawi menjadi negara Kristen, Gog diidentikkan dengan orang Goth oleh Ambrosius (wafat tahun 397), dan dengan orang Skit oleh Hieronimus (wafat tahun 420), sementara Iordanes (wafat sekitar tahun 555) berpendapat bahwa orang Goth, orang Skit, dan orang Amazon sesungguhnya adalah bangsa yang sama. Iordanes juga mengutip keterangan tentang Gerbang Aleksander di Pegunungan Kaukasus. Sastrawan Romawi Timur, Procopius, berpendapat bahwa kaum yang dikurung Aleksander Agung adalah orang Hun, dan seorang rahib Dunia Barat yang bernama Fredegar agaknya sedang teringat pada kisah Gog dan Magog ketika menulis uraiannya tentang kabilah-kabilah biadab dari balik Gerbang Aleksander yang membantu Kaisar Heraclius (610–641) melawan kaum Sarasen.

Kabilah-kabilah nomaden
Sebagaimana kabilah-kabilah penghuni stepa-stepa Erasia yang terus-menerus berganti, demikian pula pengidentikan Gog dan Magog dengan kaum tertentu. Pada abad ke-9 dan ke-10, sebagian pihak mengidentikkan Gog dan Magog dengan negeri orang Khazar (bahasa Latin: Gazari), kabilah dari rumpun bangsa Turk yang sudah memeluk agama Yahudi dan berdaulat atas kawasan Asia Tengah. Christianus, seorang rahib yang hidup pada abad ke-9 di biara Stavelot (kini termasuk wilayah Belgia), mencatat keterangan bahwasanya orang Gazari "hidup di negeri bangsa Gog dan Magog" dan merupakan "kaum bersunat yang mengamalkan seluruh syariat agama Yahudi". Sekitar tahun 921, musafir Arab yang bernama Ibnu Fadlan mencatat keterangan bahwa "menurut pendapat sebagian orang, Gog dan Magog adalah orang Khazar".

Sesudah orang Khazar, muncul orang Mongol, kabilah misterius dan tak terkalahkan yang datang dari timur dan menghancurkan negara-negara khilafah dan kesultanan pada awal abad ke-13. Raja-raja dan para paus mula-mula menyangka orang Mongol adalah angkatan perang Presbiter Yohanes yang dikerahkan untuk menyelamatkan umat Kristen dari rongrongan kaum Sarasen, tetapi manakala orang Mongol menyerbu Polandia dan Hongaria, dan menumpas angkatan perang Kristen, bangsa Eropa menjadi gentar dan menyimpulkan bahwa mereka adalah "Magogoli", keturunan Gog dan Magog, yang sudah keluar dari kurungan Aleksander Agung dan sedang berusaha mengobarkan Armagedon.

Orang Eropa di Tiongkok pada Abad Pertengahan mencatat hal-hal yang mereka jumpai dalam perjalanan ke wilayah Kekaisaran Mongol. Beberapa catatan dan peta mulai menempatkan "Pegunungan Kaspia", berikut Gog dan Magog, persis di sebelah luar Tembok Besar Tiongkok. Riwayat Orang Tartar, catatan perjalanan Frater Carpini ke Mongolia pada tahun-tahun era 1240-an, adalah satu-satunya karya tulis yang menegaskan bahwa Pegunungan Kaspia terletak di Mongolia, "tempat orang-orang Yahudi, yang disebut Gog dan Magog oleh rekan-rekan senegerinya, konon dikurung Aleksander". Pegunungan Kaspia konon dibuat magnetis oleh orang Tartar, sehingga semua perkakas dan senjata berbahan besi akan melayang ke pegunungan itu jika dibawa mendekatinya.  Pada tahun 1251, André de Longjumeau, seorang frater Prancis, memberitahu rajanya bahwa orang Mongol berasal dari padang gurun nun jauh di sebelah timur, dan di balik padang gurun itu terdapat sebuah negeri yang dikurung gunung-gunung, tempat tinggal bangsa-bangsa apokalipsis, "Got dan Margoth".

Gog dan Magog nyatanya memang diyakini orang Mongol sebagai leluhur-leluhur mereka, setidaknya oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebagaimana yang diuraikan musafir Frater Riccoldo da Monte di Croce dalam catatan perjalanannya sekitar tahun 1291, "mereka sendiri mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Gog dan Magog, karena itulah mereka disebut Mogoli, yang sepertinya adalah kekeliruan pelafalan kata Magogoli". Marco Polo, yang melakukan perjalanan sesudah teror permulaan mereda, mula-mula menjadikan Gog dan Magog sebagai bagian dari masyarakat Tartar di daerah Tenduk, tetapi kemudian hari mengklaim bahwa nama Gog dan Magog adalah terjemahan dari kata Ung dan Mungul, nama dua daerah yang masing-masing didiami orang Ung dan orang Mongol.  

Menurut penjelasan yang dikemukakan orientalis Henry Yule, Marco Polo cuma mengacu kepada "Benteng Gog dan Magog", salah satu sebutan bagi Tembok Besar Tiongkok. Penempatan Gog dan Magog nun jauh di sebelah timur Mongolia oleh Frater André de Longjumeau juga telah dijelaskan dengan cara yang sama.

Orang Yahudi yang terkungkung
Sekitar abad ke-12, kesepuluh suku Israel yang hilang mulai diidentikkan dengan Gog dan Magog.  Orang pertama yang melakukannya mungkin sekali adalah Petrus Comestor, yakni dalam Historica Scholastica (sekitar 1169–1173).  Petrus Comestor memang jauh lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh lain sebelumnya, meskipun gagasan serupa sudah pernah dicetuskan Christianus dari Stavelot, yang mengemukakan bahwa orang Khazar, yang kemudian ia diidentikkan dengan Gog dan Magog, adalah salah satu di antara ketujuh suku Hongaria dan sudah memeluk agama Yahudi.

Meskipun perancuan Gog and Magog menjadi orang Yahudi yang terkungkung sudah lumrah dilakukan, beberapa orang, seperti Riccoldo da Monte di Croce dan Vincent de Beauvais, tetap bersikap skeptis dan membedakan suku-suku Israel yang hilang dari Gog dan Magog. Sebagaimana yang sudah dikemukakan sebelumnya, Riccoldo da Monte di Croce melaporkan tentang tradisi rakyat Mongol bahwa mereka adalah keturunan Gog dan Magog. Ia juga membincangkannya dengan pihak-pihak (orang-orang Barat, maupun diajak berdiskusi oleh mereka  yang gampang percaya pada keterangan bahwa orang Mongol mungkin saja adalah orang Yahudi yang terkungkung, tetapi sesudah mempertimbangkan berbagai pendapat yang pro maupun kontra, ia menyimpulkan bahwa pokok bahasan ini adalah sebuah pertanyaan terbuka.

Frater Fransiskan asal Flandria, Willem van Ruysbroeck, yang pernah melihat sendiri tembok yang konon dibangun Aleksander di Derbent, pesisir Laut Kaspia, pada tahun 1254, hanya menyebut kaum yang dikurung dengan tembok itu sebagai "kabilah-kabilah liar" dan "orang-orang nomaden padang gurun",  tetapi salah seorang peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud Willem van Ruysbroeck pastilah orang Yahudi, dan bahwa uraian tersebut ia lahirkan dalam konteks "Gog dan Magog".  Orang Yahudi yang terkungkung kemudian hari disebut "Yahudi Merah" (die roten Juden) di daerah-daerah penutur bahasa Jerman, yakni istilah yang pertama kali dipakai dalam salah satu wiracarita Piala Suci dari tahun-tahun era 1270-an. Dalam wiracarita ini, Gog dan Magog adalah nama dari dua pegunungan yang mengungkung Yahudi Merah.

Sang penulis Pengembaraan Sir John Mandeville, salah satu buku terlaris pada abad ke-14, menceritakan pengalamannya menjumpai orang Yahudi di Asia Tengah, tempat mereka dipenjarakan selaku Gog dan Magog oleh Aleksander Agung. Orang-orang Yahudi tersebut diceritakan sedang menyusun rencana untuk kabur dan bergabung dengan orang Yahudi di Eropa untuk menghancurkan umat Kristen.

Gog dan Magog dalam tradisi Islam

Gog dan Magog muncul dengan sebutan Yakjuj dan Makjuj dalam dua surah Al-Qur'an, yakni Surah Al-Kahfi dan Surah Al-Anbiya. Menurut Al-Qur'an, Yakjuj dan Makjuj ditaklukkan oleh Zulkarnain (Sang Empunya Dua Tanduk), tokoh yang seringkali diidentikkan dengan Aleksander Agung atau Koresy Agung, meskipun belum ada kata mufakat.  Tatkala mencapai ujung dunia, Zulkarnain mendapati "suatu kaum yang sukar memahami ucapannya". Kaum ini memohon Zulkarnain mendirikan pengalang untuk memisahkan mereka dari Yakjuj dan Makjuj, kabilah-kabilah yang sudah "menimbulkan celaka besar di muka bumi". Zulkarnain menyanggupi permohonan mereka, dan tidak lupa mewanti-wanti bahwa bila sudah genap waktunya (akhir zaman), Allah akan meniadakan pengalang itu, sehingga Yakjuj dan Majuj akan berbondong-bondong keluar dari kungkungannya.

Tradisi-tradisi Islam terdahulu diikhtisarkan Zakaria Alqazwini (wafat tahun 1283) ke dalam dua karya tulis populer yang secara singkat disebut Kosmografi (Keajaiban Makhluk-Makhluk dan Keganjilan-Keganjilan yang Maujud) dan Geografi (Petilasan Negeri-Negeri dan Riwayat Hamba-Hamba Allah). Menurut Zakaria Alqazwini, Yakjuj dan Makjuj mendiami tepi laut yang mengelilingi bumi, dan hanya Allah yang sanggup menghitung jumlahnya. Tinggi badan mereka hanya separuh dari tinggi badan manusia normal, jari-jarinya bercakar alih-alih berkuku, memiliki ekor berbulu dan sepasang telinga berbulu berukuran raksasa, yang mereka gunakan sebagai lapik tidur dan selimut.  Setiap hari mereka mencakar tembok pengalang sampai nyaris bobol, tetapi bila malam tiba, mereka akan berhenti dan beristirahat seraya berkata, kita tuntaskan besok, tetapi setiap malam Allah membuat tembok pengalang kembali utuh seperti sediakala. Suatu ketika kelak, manakala Yakjuj dan Makjuj berhenti mencakar tembok saat malam tiba, salah seorang di antara mereka akan berkata, insya Allah kita tuntaskan besok, maka keesokan paginya, tembok itu tidak kembali utuh seperti yang sudah-sudah, dan akhirnya dapat dibobol. Saat berhasil membobol tembok pengalang, jumlah Yakjuj dan Makjuj sudah menjadi sedemikian banyaknya sehingga "jika barisan depannya berada di Suriah, maka barisan belakangnya berada di Khorasan".

Bermacam-macam bangsa maupun kaum dalam sejarah pernah dianggap sebagai Yakjuj dan Makjuj. Ketika mengancam Bagdad dan kawasan utara Iran, bangsa Turk dianggap sebagai Yakjuj dan Makjuj. Kemudian hari, ketika bangsa Mongol meluluhlantakkan Baghdad pada tahun 1258, merekalah yang dianggap sebagai Yakjuj dan Makjuj. Tembok pengalang yang memisahkan mereka dari bangsa-bangsa beradab lazimnya dianggap berlokasi di Armenia dan Azerbaijan, tetapi tembok yang dilihat sudah bobol dalam mimpi Khalifah Al-Watsiq pada tahun 842, sampai-sampai sang khalifah memerintahkan seorang pejabat bernama Sallam untuk pergi memeriksanya, mungkin berkaitan dengan legenda Ergenekon.  Sallam kembali lewat dua tahun kemudian dan melaporkan bahwa ia sudah meninjau sendiri tembok itu maupun menara tempat Zulkarnain menyimpan perkakas-perkakas kerjanya, dan semuanya masih utuh. Apa yang dilihat Sallam tidak sepenuhnya jelas, tetapi mungkin saja ia berhasil sampai ke Gerbang Giok dan pos pabean paling barat di perbatasan Tiongkok. Kemudian hari, Ibnu Battutah, musafir abad ke-14, melaporkan bahwa tembok pengalang Yakjuj dan Makjuj terletak enam puluh hari perjalanan jauhnya dari Zaitun, kota di daerah pesisir Tiongkok. Penerjemah karya tulis Ibnu Battutah menambahkan keterangan bahwa sang musafir mungkin keliru menyangka Tembok Besar Tiongkok sebagai tembok pengalang yang didirikan Zulkarnain .

Menurut sumber-sumber Syiah, Yakjuj dan Makjuj tidak termasuk bani Adam (umat manusia). Dalam Al-Kafi, salah satu kitab utama dalam kumpulan hadis Syiah, dikatakan bahwa menurut riwayat yang diterima dari Ibnu Abbas, ketika ia bertanya kepada Ali mengenai "jenis-jenis makhluk", Ali menjawab bahwa Allah sudah menciptakan "1.200 jenis makhluk yang hidup di muka bumi, 1.200 jenis makhluk yang hidup di laut, 70 jenis makhluk dari bani Adam, dan manusia adalah bani Adam, kecuali Yakjuj dan Makjuj". Riwayat ini bertentangan dengan banyak riwayat dalam sumber-sumber Sunni, termasuk riwayat-riwayat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, yang mengindikasikan bahwa Yakjuj dan Makjuj memang berasal dari bani Adam, sebagaimana yang diyakini oleh mayoritas ulama.  

Berbagai ahli sejarah dan geografi pada zaman modern beranggapan bahwa orang Viking berikut keturunannya adalah Yakjuj dan Makjuj, karena bangsa asing asal Skandinavia itu secara mendadak muncul dan mengemuka dalam sejarah Eropa. Pada berbagai kesempatan dalam sejarah, musafir-musafir maupun penjajah-penjajah Viking dipandang sebagai para penjarah yang bengis. Banyak dokumen bersejarah menyiratkan bahwa aksi-aksi penaklukan wilayah lain dilancarkan orang Viking untuk membalas tindakan para misionaris Kristen menginfiltrasi wilayah-wilayah suku, dan mungkin juga untuk membalas perlakuan Karel Agung dan sanak saudaranya di selatan terhadap orang Viking dalam Perang Saksen. Riset-riset yang dilakukan para profesor dan filsuf seperti Allama Muhammad Iqbal, Said Abul Ala Mawdudi, yang memainkan peran penting di panggung politik Inggris maupun Asia Selatan, dan akademisi Amerika Serikat, Abu Ammaar Yasir Qadhi, serta eskatolog Karibia, Imran N. Hosein, memperbandingkan bahasa, perilaku, dan aktivitas seksual kabilah-kabilah Yakjuj dan Makjuj dengan bahasa, perilaku, dan aktivitas seksual orang Viking.

Menurut Sahih Muslim, nabi Islam, Muhammad, pernah bersabda:

Syahdan suatu kaum, yang dilindungi Allah dari padanya (Dajjal), akan datang kepada Isa bin Maryam (Alaihis Salam), dan ia akan menyeka wajah mereka, dan memberitahukan derajat mereka di firdaus kelak. Ketika itulah Allah akan berfirman kepada Isa (Alaihis Salam), "telah Aku datangkan dari antara hamba-hamba-Ku, orang-orang yang tidak dapat dilawan siapa pun, maka bawalah olehmu orang-orang itu dengan aman ke Tur." Lalu Allah akan melepas Yakjuj dan Makjuj, dan mereka akan berbondong-bondong turun dari setiap lereng. Yang terdahulu dari antara mereka akan melewati danau Tabariyah dan meminum airnya, dan bilamana yang terakhir dari antara mereka melewati danau itu, ia akan berkata, "dulu pernah ada air di sini."

Sejumlah ulama berusaha menghubung-hubungkan bagian akhir dari tafsir mengenai Yakjuj dan Makjuj tersebut dengan Danau Tiberias, danau air tawar berpermukaan terendah di Planet Bumi yang kini dikenal dengan sebutan Danau Galilea, demikian pula dengan Laut Mati.

Sejarawan dan mufasir, Ibnu Katsir, mengemukakan teori-teori serupa dalam bukunya, Al-Bidaya wa'l-Nihaya.

Menurut Ahmadiyah
Mirza Ghulam Ahmad (wafat tahun 1908), pengasas gerakan Ahmadiyah, mengidentikkan Yakjuj dan Makjuj dengan negara-negara Eropa bentukan bangsa-bangsa rumpun Slavi dan rumpun Jermani, mengacu kepada kebijakan politik mereka yang bermuka dua dan mengguncang perdamaian dunia. Tafsir-tafsir Ahmadiyah didasarkan pada kaitan etimologis dari frasa Arab Yaʾjūj wa Maʾjūj dengan tema-tema semburan api, ketergesa-gesaan, dan air mendidih yang melandasinya. Tema semburan api dan air mendidih diartikan sebagai pemanfaatan api dan uap air secara besar-besaran untuk kepentingan industri oleh bangsa-bangsa tersebut, sementara tema ketergesa-gesaan diartikan sebagai karakter politik mereka yang penuh gejolak.  Sejalan dengan tafsir-tafsir tersebut, konflik antara Rusia dan Amerika Serikat selaku dua negara adidaya, maupun persaingan sengit antara sistem komunis dan sistem kapitalis, berikut dampaknya terhadap bangsa-bangsa di dunia, dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang selaras dengan ramalan-ramalan tentang Yakjuj dan Makjuj. Kekuatan-kekuatan tersebut tidak dapat dikalahkan dengan ketangguhan militer, tetapi lewat doa dan inayah ilahi.  Oleh karena itu, Islam dipandang sebagai satu-satunya kekuatan yang kelak mampu mempersatukan orang-orang dari pelbagai bangsa, seturut ketentuan ilahi yang sudah tersurat dalam Al-Qur'an (Surah Al-kahfi ayat 99).

Gog dan Magog dalam fikrah apokaliptis modern
Pada awal abad ke-19, sejumlah rabi Hasidi beranggapan bahwa invasi Prancis ke Rusia di bawah komando Napoleon adalah "Perang Gog dan Magog". Namun seiring berjalannya waktu, ekspektasi-ekspektasi apokaliptis lambat laun memudar, karena masyarakat Eropa mulai mengadopsi wawasan dunia yang kian lama kian sekuler. Perkembangan semacam ini tidak terjadi di Amerika Serikat, karena menurut hasil angket tahun 2002, 59% warga Amerika Serikat percaya bahwa peristiwa-peristiwa yang diramalkan dalam Kitab Wahyu pasti akan terjadi. Semasa Perang Dingin, gagasan bahwa Republik Soviet Rusia memainkan peran Gog menjadi populer, karena dalam Kitab Yehezkiel berbahasa Ibrani, Gog disebut Ros Mesyek (Rais Mesekh, diterjemahkan LAI menjadi "raja agung negeri Mesekh"), mirip-mirip bunyinya dengan Rusia-Moskwa.  Bahkan ada orang-orang Rusia yang menerima gagasan tersebut, agaknya tanpa mempedulikan implikasinya (yang penting punya leluhur tokoh Alkitab), demikian pula Ronald Reagan.

Pasca-Perang Dingin, sejumlah penganut paham Milenarianisme masih mengidentikkan Gog dengan Rusia, tetapi mereka kini cenderung menyoroti sekutu-sekutu Rusia dari negara-negara Islam, khususnya Iran.  Bagi penganut paham Mileniarisme yang paling fanatik, hitungan mundur menuju Armagedon dimulai dengan kembalinya orang Yahudi ke Israel, disusul segera dengan tanda-tanda lanjutan yang menunjukkan semakin dekatnya pertempuran pamungkas dengan senjata nuklir, yakni integrasi Eropa, penyatuan kembali Yerusalem oleh Israel dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967, dan perang-perang yang dilancarkan Amerika Serikat di Afganistan dan Teluk Persia.  Ada selentingan bahwa pada awal Invasi Irak tahun 2003, Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, berkata kepada Presiden Prancis, Jacques Chirac, "Gog dan Magog sedang bergiat di Timur Tengah." Konon Presiden Bush menambahkan, "konfrontasi ini adalah kehendak Allah, yang ingin memakai konflik ini untuk melenyapkan musuh-musuh umat-Nya sebelum zaman baru bermula." Para pejabat pemerintahan Presiden Bush mengklaim bahwa tidak ada rekaman percakapan tersebut, dan ucapan-ucapan semacam itu "sama sekali tidak terkesan seperti kata-kata Bush."

Dalam tradisi apokaliptis Islam, akhir zaman akan didahului pelepasan Yakjuj dan Makjuj, dan pembinasaan Yakjuj dan Makjuj oleh Allah dalam waktu satu malam akan mengawali hari kebangkitan (bahasa Arab: يَوْم الْقِيَامَة‎‎, Yaumul Qiyamah). Interpretasi ulang pada umumnya tidak berlanjut selepas masa klasik, tetapi kebutuhan-kebutuhan dunia modern telah menghasilkan satu kumpulan baru karya sastra apokaliptis yang mengidentikkan Yakjuj dan Makjuj dengan negara-negara komunis, Rusia dan Tiongkok.  Salah satu persoalan yang harus dihadapi para penulis karya-karya sastra tersebut adalah tembok pengalang Yakjuj dan Makjuj, yang tidak ditemukan di dunia modern. Jawaban-jawaban yang mereka berikan bervariasi. Beberapa penulis mengemukakan bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah orang Mongol, dan tembok pengalang sudah tidak ada lagi saat ini, sementara penulis-penulis lain berdalih tembok pengalang tersebut tidak kasatmata. 

No comments: