Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

May 30, 2022

Berusia 1600 Tahun, Sisa Bangunan Gereja Turki Ini Ditemukan di Bawah Danau

Penemuan sebuah gereja berusia 1600 tahun tergenang di sebuah danau di Turki dianggap sebagai bukti iman yang bertahan di negara itu selama berabad-abad lamanya.

Para arkeolog belum lama ini menemukan sisa gereja itu di Kota Iznik, Turki. Kota Iznik juga dikenal dengan nama Nicea, yang saat ini adalah Turki bagian barat laut. Mereka mengklaim bahwa sisa gereja itu berada di kedalaman 5-7 meter.

"Kami menemukan sisa-sisa gereja. Ini dalam rencana basilika dan memiliki tiga ruangan," kata Mustafa Sahin, profesor arkeolog di Universitas Bursa Uludag.

Bangunan ini pertama kali ditemukan dari foto udara yang diambil pada tahun 2014 silam.

"Saat aku pertama kali melihat gambar danau itu, aku cukup terkejut melihat struktur gereja yang sangat jelas. Aku melakukan survei lapangan di Iznik (sejak 2006) dan belum menemukan struktur yang luar biasa seperti itu," kata Sahin.

Dalam kisahnya, Neophytos tewas ditangan pasukan Diokletianus. Setelah itu orang-orang percaya di sana membangun basilika tepat dimana dia dibunuh oleh tentara Romawi, yaitu di tepi Danau Iznik. Sementara pembangunan basilika itu diduga kuat dilakukan pada tahun 325 oleh Kaisar Konstantin Agung.

"Kemungkinan besar (gereja) itu dibangun pada tahun 325 setelah pertemuan dewan pertama di Iznik. Atas apapun, kamu berpikir kalau gereja dibangun pada abad ke-4," katanya.

Namun gereja itu akhirnya hancur ketika gempa bumi melanda Turki pada tahun 740 masehi. Gereja itupun mulai tenggelam di bawah permukaan danau dan hanya menyisakan pondasi lantai dan dinding. Sementara reruntuhannya tak lagi tampak.

Menyusul temuan ini, para arkeolog rencananya akan dipamerkan kepada publik. Pemerintah setempat akan menjadikan sisa bangunan gereja itu sebagai museum arkeologi bawah laut pertama di Turki.

Pemerintah akan membangun menara onservasi setinggi 20 meter di sekitar danau dan membangun klub selam bagi pengunjung yang ingin menjelajah situs itu secara langsung ke dasar danau. Rencananya museum ini akan resmi dibuka tahun depan.

Turki, Tempat Lahirnya Gereja Mula-mula Yang Kini Hampir Mati.

Pada 3 Agustus 2019 lalu, Turki untuk pertama kalinya mengizinkan pembangunan gereja baru dalam kurun waktu 100 tahun sejak berdirinya negara republik pada tahun 1923. Bahkan Presiden Recep Tayyip Erdogan hadir pada acara peletakan batu pertama tersebut.

Gereja yang mendapatkan izin untuk membangun gereja baru tersebut adalah dari sinode Kristen Ortodok Suriah. Gereja tersebut didesain akan dapat menampung sekitar 700 jemaat. Gereja Kristen Ortodok Suriah di Istanbul sendiri diperkirakan memiliki 17.000 jemaat dan memiliki sebuah gereja namun jaraknya jauh. Gereja yang baru ini akan dibangaun di dekat Bandar Udara Ataturk di seberang selat Bosporus.

"Sudah merupakan tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhan kaum minoritas itu dengan mengizinkan pembangunan rumah ibadah", demikian pernyataan Erdogan yang dirilis oleh laman DW.com.

Populasi penduduk Kristen Turki saat ini

Saat ini penganut agama Kristen di Turki hanya sekitar 0.3-0.4 persen dari total populasi penduduk, atau sekitar 200 ribu hingga 320 ribu orang saja dari sekitar 80 juta penduduk Turki. Umat Kristen Turki mayoritas dari Gereja Ortodoks, yaitu sekitar 80-90 jemaat. Sisanya adalah Gereja Katolik, Protestan, Injili dan sejumlah kecil kelompok karismatik.

Turki, tempat lahirnya gereja mula-mula

Sejarah Kekristenan di Turki sangat panjang, hingga bisa ditarik hingga 2.000 tahun lalu. Rasul Paulus dan juga jemaat mula-mula yang saat itu tersebar membawa berita Injil ke wilayah yang saat ini disebut Turki tersebut, hal ini kita bisa baca dan telusuri dengan membaca kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat  Paulus.

Bahkan Rasul Yohanes di Pulau Patmos menuliskan dalam kitab Wahyu peringatan kepada ke tujuh jemaat kota yang berada di sebelah barat Turki, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia (Wahyu 1:11).

Pada masa-masa awal di jaman Rasul Paulus  karena tekanan dan aniaya dari Romawi, gereja mula-mula adalah gerakan bawah tanah, dimana mereka beribadah di rumah-rumah dan tempat-tempat yang tersembunyi. Di wilayah Turki inilah pertama kalinya sebutan Kristen muncul, yang mengacu kepada para pengikut Kristus.

Pernah menjadi pusat Kekristenan

Namun sekitar 300 tahun sejak masa gereja mula-mula, dibawah kepemimpinan Kaisar Konstantine gereja memasuki masa keemasannya dan menjadi agama negara. Kota Byzantium yang sekarang bernama Istanbul menjadi pusat Kekristenan.

Kekaisaran Byzantium memegang peranan penting dalam Kekristenan, hal ini dilihat dari fakta bahwa pada masa kekaisaran  inilah diselenggarakannya tujuh pertemuan Konsili, yaitu Konsili Nicea (325), Konsili Konstantinopel I (381), Konsili Efesus (431), Konsili Kalsedon (451), Konsili Konstantinopel II (553), Konsili Konstantinopel III (680) dan Konsili Nicea (787).

Runtuhnya Kekristenan di Turki

Terjadinya Perpecahan Besar, yaitu munculnya Gereja Timur yaitu Gereja Ortodoks dan Gereja Barat yaitu Katolik Roma, hal ini menjadi awal melemahnya Kekristenan, terutama di Turki.

Jatuhnya ibu kota Kekaisaran Bizantium yaitu Konstantinopel ke tangan Kesultanan Ottoman Turki pada tahun 1453 menambah tekanan pada orang-orang Kristen saat itu. Dengan politik Islamisasi membuat Kekristenan secara pelan-pelan kehilangan pengaruh di Turki.

Runtuhnya Kesultanan Ottoman pada Perang Dunia I, tidak membawa angin segar bagi umat Kristen saat itu. Pada tahun 1915, sekitar 1 juta orang Armenia dan Suriah tewas di wilayah Turki, hal itu memperlemah peran Gereja Ortodoks Armenia dan membuat tensi politik dengan Rusia dimana Anatolia, yang merupakan pusat Gereja Ortodoks Armenia berada.

Setelah berdirinya Republik Turki, berbagai tekanan dan diskriminasi terus dialami oleh kelompok minoritas baik keagamaan maupun etnis. Hal ini memaksa jutaan orang pergi meninggalkan Turki, termasuk kelompok minoritas Kristen Ortodoks Yunani yang memiliki kembali ke negara asalnya.

Hanya ada 2 gereja yang resmi diakui oleh negara Turki sejak tahun 1923

Sejak berdirinya negara Republik Turki pada tahun 1923, negara tersebut hanya mengaku dua gereja yang resmi, yaitu Gereja Ortodoks Yunani dan Gereja Ortodoks Armenia. Jika jemaat kedua gereja ini disatukan maka jumlahnya mendekati 70% dari total keseluruhan orang Kristen di Turki.

Tambahnya adalah Kristen Ortodoks Suriah yang tidak masuk dalam perlindungan Perjanjian Lausanne, sebuah perjanjian perdamaian yang dilakukan di Swiss pada tahun 1923. Namun pada tahun 2000, setelah melewati proses pengadilan yang panjang, Gereja Protestan Istambul di Altintepe akhirnya mendapatkan ijin resmi dan pengakuan negara.

Kondisi Kekristenan Turki saat ini

Dibawah pemerintahan Erdogan, setelah peristiwa kudeta 2016, banyak kelompok minoritas di Turki mengalami tekanan. Termasuk gereja dan orang-orang Kristen.

Bukan hanya dari pemerintah, kelompok radikal pun menyebarkan sentimen anti-Kekristenan dan mengkaitkan Kristen dengan paham barat. Pesan yang mereka tekankan adalah orang Kristen bukanlah rakyat Turki, dan bahkan paham radikal ini mulai disebarkan di sekolah-sekolah.

Menjawab pertanyaan apakah Kekristenan akan bisa bangkit kembali di Turki? Maka jawabannya adalah tentu dengan seijin Tuhan, hal itu bisa terjadi. Namun dengan kondisi saat ini maka kemungkinan yang bisa tergambar adalah gereja di Turki harus kembali kepada bentuk gereja mula-mula, yaitu gereja bawah tanah.

Mari berdoa agar dari tempat lahirnya gereja mula-mula ini, umat Kristen disana mengalami kebangunan rohani kembali. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu kepada jemaat Efesus, kiranya mereka kembali kepada kasih mula-mula mereka (Wahyu 2:4-5).

Jan 29, 2022

Perempuan misterius 7.200 tahun di Sulawesi

Perempuan misterius 7.200 tahun di Sulawesi, temuan terbaru yang 'menambah warna ras kepada Indonesia'

Kepingan misteri siapa nenek moyang Indonesia satu per satu mulai terkuak.

Temuan terbaru kerangka manusia yang sejauh ini diyakini tertua ada di Sulawesi dan dibuktikan sebagai manusia modern gelombang awal yang menduduki Nusantara. Ini sekaligus menambah teka-teki baru bagi kalangan ilmuan untuk menelusuri asal-usulnya.

Namun, rasa penasaran harus terhenti sejauh ini, karena masih terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah lainnya yang ditemukan, tapi belum diteliti karena persoalan anggaran.

Profesor Akin Duli meloncat-loncat kegirangan setelah menutup sambungan telepon. Sekretarisnya sampai keheranan, tertawa dan bertanya-tanya.

"Ada berita gembira dari lapangan, ada temuan bagus," kata Guru Besar Program Studi S2 Arkeologi, Universitas Hasanuddin ini mengingat waktu pertama kali mendapat informasi temuan rangka manusia prasejarah di Leang Panninge, Sulawesi, pertengahan 2015.

"Rupanya teman-teman di lapangan ada yang sampai guling-guling dirinya di situ. Karena ini temuan langka, dalam situs yang tidak terganggu, dan kita yakin bahwa ini data yang paling baik," kata Prof Akin kepada BBC News Indonesia.

Prof Akin Duli adalah salah satu pimpinan tim arkeolog gabungan Universitas Hasanuddin dan Universiti Sains Malaysia yang mulai melakukan ekskavasi di Gua Paninnge atau Leang Panninge (Panninge = "kelalawar" dalam Bahasa Bugis) pertengahan 2015.

Namun, saat itu kerangka manusia prasejarah ini tak langsung diangkat ke permukaan karena "harus menggunakan alat yang lengkap".

Akhirnya lubang ekskavasi ditutup, dan baru dibuka kembali pada 2017. Rangka dibawa ke Laboratorium Unhas. Namun Laboratorium di sana belum mumpuni mendeteksi usia, sampai DNA rangka tersebut.

"Waktu itu kita jadi bingung, saya coba konsultasi ke Lab tertua di Amerika, di Beta Analytic Inc. Ternyata biayanya cukup tinggi. Waktu itu baru tahap awal sudah minta Rp300 juta, saya tak punya uang," kata Prof Akin.

Pada 2018, Adam Brumm, profesor arkeologi dari Universitas Griffith Australia membawa tim untuk mengkaji kerangka tersebut, sebelum akhirnya menjalin kerja sama dengan peneliti DNA asal Jerman dari Max Planck Institute for Science of Human History, Selina Carlhoff pada 2019. Pusat Penelitian Arkeologi Jakarta dan Balai Arkeologi Makassar juga berkontribusi dalam penelitian ini.

Kerja sama lintas institusi penelitian dan universitas ini membuahkan hasil berupa kajian ilmiah yang dipublikasi dalam jurnal nature pada 25 Agustus 2021.

Kerangka manusia itu diketahui perempuan berusia 17-18 tahun, dimakamkan sekitar 7.300 - 7.200 tahun silam. Dari hasil penelusuran DNA menunjukkan manusia prasejarah ini memiliki latar belakang genetik Austromelanesoid, yang deskripsi penampakkannya seperti orang-orang Papua dan Aborigin di Australia.

"Saya yakin bahwa orang Bugis-Makassar ada juga darah Austromelanesoid-nya. Cuma mungkin DNA prosentasenya kecil," kata Prof Akin.

Para peneliti kemudian menamai perempuan yang mati muda ini, Bessek—istilah penghormatan kepada perempuan yang baru lahir dalam budaya Bugis.

Besse "dikuburkan" dalam posisi tertelungkup, dan di sekitar rangkanya diapit beberapa bongkahan batu.

Dalam makam tua itu juga ditemukan budaya-budaya di masanya seperti mata panah bergerigi (Maros Points), beberapa alat-alat batu lain, serta tulang binatang.

Leang Panninge sebagai kawasan industri purba

Para peneliti juga menemukan "satu mobil" peninggalan budaya prasejarah di dalam Leang Panninge. Di antaranya kapak batu, mata panah, pisau batu, termasuk hal yang diyakini sisa makanan mereka berupa tulang babi, rusa, tikus, kelelawar, dan siput air tawar.

Prof Akin juga meyakini Leang Panninge saat itu digunakan sebagai kawasan industri membuat alat-alat berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Hal ini berdasarkan temuan berupa "pembentuk alat batu, sisa-sisa tatal alat batu," katanya.

Temuan ini merupakan artefak batu yang paling khas dengan era pemburu-pengumpul di Sulawesi antara 8000 - 1500 tahun yang lalu, apa yang disebut sebagai budaya "Toalean".

Penamaan ini berdasarkan penelitian naturalis dan etnolog asal Swiss, Paul dan dan Fritz Sarasin (1893-1896) di Celebes, dan memperkenalkan orang-orang di dalam gua dari peninggalannya sebagai To Ala sebagai penanda budaya di Sulawesi Selatan.

"Toala dalam bugis itu orang yang tinggal di hutan-hutan di gunung-gunung," kata Prof Akin.

Apakah mereka bunuh-bunuhan, melebur atau bergeser?

Dari mana asal Besse dan ke mana keturunannya? Hal itu masih teka-teki bagi para ilmuan. Tapi dari kajian ilmiah ini setidaknya ditemukan latar belakang genetika Asia Timur, Austromelanesoid dan Denisovan.

Peneliti genetika dari Eijkman Institute, Pradiptajati Kusuma mengatakan hal yang mengejutkan dari temuan ini adalah latar belakang genetika Asia Timur sebelum era neolitikum (zaman batu).

"Sedangkan selama ini yang diketahui adalah latar belakang genetik Asia di populasi Indonesia Timur itu berasal dari latar belakang genetik Austronesia. Maka ini hal baru," katanya.

Besse sejauh ini diyakini sebagai manusia penjelajah yang tiba lebih dulu di Nusantara sebelum Austronesia yang masuk ke Nusantara antara 4500 - 2000 tahun lalu.

Dalam Teori Out of Taiwan, orang-orang berbahasa Austronesia diyakini keluar dari Taiwan atau Kepulauan Famosa pada 5000 tahun lalu. Mereka bergerak ke arah Filipina, lalu bergerak melintasi kepulauan Indonesia, hingga ke arah pacific. Ciri-ciri fisik Austronesia diyakini kulit sawo matang, rambut lurus, mata cokelat, dan hidung pesek.

Dalam kajian kekinian, latar belakang Austromelanesoid dengan ciri fenotip Papua dan Aborigin, bergerak makin kuat ke arah Timur.

"Jadi semakin bergerak ke Timur dari garis Wallacea itu sampai ke Papua, itu latar belakang genetik Papuanya itu semakin tinggi. Jadi ada gradien," lanjut Pradiptajati, yang mengatakan latar belakang Papua makin tipis ketika ke arah Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

Sementara itu, latar belakang genetik Denisovan juga semakin kuat ditemukan pada wilayah Indonesia bagian Timur sebesar 6%, dan makin menipis pada orang-orang yang berada di Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Denisovan merupakan sepupu dari Homo Sapiens (manusia modern) yang ditemukan di gua Denisova di Siberia, diperkirakan punah pada 20 -10 ribu tahun lalu. Latar belakang genetiknya masih melekat pada manusia-manusia modern saat ini—kita.

Menurut arkeolog dari Unhas, Iwan Sumantri ada sejumlah teori mengenai jejak sejarah berikutnya dari keluarga besar Besse di Sulawesi. "Apakah mereka bunuh-bunuhan, apakah mereka berkontestasi, apakah mereka saling melebur?"

Itu masih perlu bukti empirik lainnya, kata Iwan.

Namun, Iwan meyakini Besse dan keluarganya bergeser ke arah Timur Indonesia, setelah Austronesia mulai menjelajah Nusantara. Mereka kalah bersaing dalam teknologi.

"Misalnya mereka [Austronesia] sudah menggunakan perahu bercadik, sudah bisa domestifikasi binatang dan tumbuhan, mereka membawa padi dan tangga, membawa pinang, membawa babi, dan seterusnya.

"Itu yang tidak dimiliki oleh orang-orang Austromelanesoid," lanjut Iwan. Tapi bagaimana pun kata dia, "dalam arkeologi kita tidak berbicara untuk satu fakta. Tapi harus banyak fakta untuk bisa kita kemudian menghubungkan."

Apakah Bessek generasi seniman lukisan purba?

Di kawasan Karst Maros-Pangkajene Kepulauan, Sulawesi tersimpan ratusan gua yang di dalamnya terdapat jejak-jejak purbakala. Satu di antaranya lukisan gua tertua di dunia ditaksir berusia 45.000 tahun lalu.

Sejauh ini belum ada peninggalan Besse yang menghubungkan bahwa generasinya yang melukis gua-gua di Maros-Pangkep. Tapi temuan budaya seperti pmata panah batu bergerigi [Maros Points] di Leang Paninnge juga ditemukan di gua-gua yang terdapat lukisan purba.

"Ada Maros Points, jadi hampir semua gua yang menyimpan, atau gua ditemukan maros points biasanya punya gambar," kata Iwan.

Di Leang Panninge sendiri tak ditemukan adanya lukisan purba, tapi "Boleh jadi lumut itu menghapus atau lumutnya menutupi gambar, atau menghapus, atau mengklotokan."

Sementara itu, Basran Burhan yang ikut dalam proses ekskavasi Leang Panninge mengatakan keberadaan Besse diperkirakan berada di periode "sebelum Austronesia [datang], dan setelah Rock Arts [lukisan purba]".

"Sampai sekarang belum ada yang menunjukkan, bahwa mereka punya kemampuan untuk melukis. Belum ada lukisan yang ditemukan di periode itu," kata Basran.

Temuan 4-5 kerangka manusia prasejarah lainnya

Tim arkeolog dari Unhas saat ini menyatakan masih menyimpan 4-5 kerangka manusia prasejarah, tapi apakah mereka seniman yang melukis gua purba, generasi Besse atau penjelajah dari Taiwan?

Jawaban itu masih harus disimpan dulu, karena penelitian masih berlanjut.

"Di sekitar itu juga, penelitian di Bontocane [Kab. Bone], daerah Leang-Leang, kita juga dapatkan potongan-potongan rangka manusia. Tapi, yaitu tadi, karena kita keterbatasan anggaran, belum dianalisis di laboratorium," kata Prof Akin.

Sejauh ini temuan rangka-rangka tersebut dikatakan "dalam keadaan aman, karena kita sudah tahu bagaimana caranya mengamankan data."

Prof Akin Duli mengatakan biaya yang dikeluarkan untuk satu kerangka manusia, mulai dari tahap survei, ekskavasi hingga penentuan usia dan DNA-nya bisa menghabiskan Rp1 miliar.

Selama ini, hasil temuan-temuan prasejarah khususnya di Sulawesi sangat bergantung dari kerja sama pihak luar seperti Griffith University.

"Dan mungkin teman-teman dari Jerman mulai tertarik, ya kita akan fokus pada analisis-analisis pada rangka manusia," kata Prof Akin.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, Laode Muhammad Aksa mengatakan bekerja sama dengan pihak luar "lebih memudahkan karena mereka yang menentukan umur itu, mereka punya biaya dan akses."

"Mungkin biaya ada, tapi nanti aksesnya bagaimana?" kata Ako—sapaan Laode Muhammad Aksa bertanya-tanya.

Lagi pula, tambah Ako, pihaknya lebih memprioritaskan pada upaya pelestarian dalam penganggaran. Seperti Leang Panninge yang saat ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan zonasi, sehingga tak bisa sembarangan pembangunan di lakukan di kawasan tersebut.

"Lokasi itu sudah terlindungi dengan menempatkan juru pelihara," tambah Ako.

Namun, tambahnya, untuk penelitian lebih lanjut dan mendalam, itu sangat tergantung kebijakan pusat. "Kami kan tergantung perintah. Perintah artinya, kalau sistem penganggarannya untuk penentuan umur [penelitian], [tapi] karena kita kan orientasinya lebih ke pelestarian."

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud-Ristek, Hilmar Farid menyatakan sejauh ini pihaknya fokus terhadap pelestarian. Untuk penelitian dan eksplorasi kata dia, masih bekerja sama dengan luar negeri.

"Karena pengadaan fasilitas itu [laboratorium] memang biayanya tidak kecil, dan kita juga punya problem SDM... SDM ahli untuk periode ini misalnya juga tidak terlalu banyak di Indonesia ini," kata Hilmar Farid kepada BBC News Indonesia.

Saat ini, catatan dari direktorat kebudayaan terdapat 90.000 situs sejarah di Indonesia. Namun baru sekitar 10-15% yang sudah diteliti dengan kaidah-kaidah ilmiah. "Jadi kita masih punya banyak sekali pekerjaan rumah, dan memang ada rencana dari pemerintah untuk membuat pusat konservasi," lanjut Hilmar.

Terlebih lagi di masa pandemi, banyak anggaran yang dialihkan untuk prioritas kesehatan, sehingga "saat ini memang fokuksnya pada perlindungan. Jadi mengamankan saja terlebih dahulu."

Indonesia sebagai 'melting pot' segala ras manusia

Bagi Iwan Sumantri, temuan ini menambah keyakinannya yang sudah lebih dari tiga dekade menjadi arkeolog bahwa Indonesia merupakan "melting pot" atau kuali percampuran ras manusia seluruh dunia.

"Indonesia menjadi melting pot, daerah percampuran, sehingga tidak ada satu pun etnis yang mengatakan diri, atau mengatakan saya adalah asli Indonesia," katanya.

Ia menyusun hal ini sejak mulai dari kedatangan ras Austromelanesoid, Austronesia [melayu], pecampuran genetik Denisovan dan Neanderthal, Mongoloid, India, Persia sampai Eropa.

"Ras besar ini kemudian memberikan warna, kepada Indonesia mereka datang kemudian membawa budaya masing-masing, kemudian kita anut. Jadi pengetahuan arkeologi, memberikan kesadaran kepada saya soal keindonesiaan," kata Iwan.

Saat ini terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah yang menunggu untuk diteliti lebih jauh. Menguak misteri asal-usul mereka bergantung dari kerja sama dari lembaga atau institusi penelitian dari luar negeri. Tanpa itu, kemungkinan mereka akan menunggu selamanya di tempat aman, dan tak direkam dalam sejarah.

Nov 29, 2021

Situs Majapahit ditemukan di Kota Malang

Sebagian benda bersejarah di situs purbakala yang diduga bangunan rumah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit di Kabupaten Malang. telah dicuri oleh warga setempat, kata seorang saksi mata.

Situs tersebut baru saja ditemukan di salah-satu jalur pembangunan Jalan Tol Pandaan-Malang, Jawa Timur, persisnya di kawasan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sejak temuan situs ini diberitakan media massa secara meluas, warga mendatangi situs yang sebagian besar berupa struktur batu bata kuno tersebut.

Pengrusakan situs Majapahit: 'Ada saksi yang diancam dengan pistol'
Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit sebagai kerajaan Islam
Kepedulian arkeolog Mundardjito dan kerusakan situs Majapahit
Salah-seorang warga setempat, Mohammad Arifin, mendatangi situs yang terletak di kilometer 37 jalan tol yang menghubungkan Kota Pandaan dan Malang.

Sejak empat bulan lalu, Arifin mengaku berulangkali mendatangi situs bersejarah itu. Upaya ini juga dilakoni beberapa orang tetangganya.

Dalam jarak sekitar 300 meter dari lokasi temuan situs tersebut, Arifin mengaku menemukan pecahan gerabah, patahan keris, uang koin, perhiasan emas, serta bokor berbahan kuningan.

"Tinggal ambil saja (koin dalam jumlah puluhan). Sampai lupa pekerjaan," ungkapnya, kemudian tertawa ringan, seperti dilaporkan wartawan di Malang, Eko Widianto, untuk BBC News Indonesia.

Puluhan koin tersebut dia temukan terpisah di beberapa sudut situs tersebut. Dan ketika hujan redah, 'harta karun' itu bermunculan ke atas permukaan tanah, katanya.

Arifin lantas mengungkapkan 'keberuntungan' temannya yang menemukan perhiasan emas di situs tersebut.

"Teman saya menemukan perhiasan emas, bokor dan guci utuh," ungkapnya.

Arifin sendiri menyimpan beragam artefak, mulai pecahan keramik, koin dengan tulisan huruf Cina, serta pecahan keramik atau gerabah.

Ketika ditanya apakah temuan itu sudah diserahkan kepada Balai Pemelihara Cagar Budaya (BPCB), Arifin mengatakan: "Kalau diminta dinas purbakala, saya akan serahkan, (tapi) asal ada imbalannya. Kalau tidak (diberi imbalan), ya, untuk koleksi saja."

Sejumlah warga setempat dilaporkan masih menyimpan temuan mereka, tetapi ada yang sudah menjualnya, ungkapnya.

Di lokasi situs bersejarah itu, sampai akhir pekan lalu, sering dijumpai beberapa orang yang mendekat dan mengorek reruntuhan bangunan batu bata setinggi sekitar empat meter.

Sekitar sebulan silam, pekerja proyek jalan tol sedang menggali dan mengenai sebagian tumpukan bata setinggi empat meter yang terletak di sisi barat proyek jalan tol.

Dilihat secara fisik, batu bata itu lebih besar ketimbang batu bata yang dijualn sekarang. Ukuran panjangnya sekitar 38cm, lebar 25cm, dengan tebal tujuh cm.

Polisi dilibatkan selidiki benda cagar budaya

Petugas Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur telah turun ke lokasi situs tersebut setelah ada laporan pencurian beberapa benda yang diduga sebagai artefak.

Mereka mengaku sudah mengecek dan melakukan koordinasi dengan berbagai otoritas, termasuk kepolisian, untuk apa yang mereka sebut sebagai "menyelamatkan bangunan" tersebut.

Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran
Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang?
Rumah-rumah 'jengki: Kembalinya selera budaya era 1950-an
"Kita sudah berkoordinasi dengan polisi, dan penyidik polisi yang akan menelusuri," kata Koordinator Wilayah Malang BPCB Trowulan Jawa Timur, Haryoto, kepada wartawan di lokasi situs tersebut.

Benda cagar budaya, kata Haryoto, merupakan barang bersejarah yang penting untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

"Sehingga ada sanksi hukum bagi siapa saya yang menyalahgunakan termasuk memperjualbelikan," katanya.

'Akan ada imbalan bagi yang mengembalikan'
Lebih lanjut Haryoto mengatakan, pihaknya menyediakan imbalan bagi warga yang secara sukarela menenyerahkan benda cagar budaya temuannya.

Menurutnya, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan kepala desa setempat untuk melaporkan jika ada temuan cagar budaya.

"Jangan sampai barang yang memiliki nilai sejarah hilang tak berbekas," katanya.

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono juga meminta agar penemuan benda cagar budaya "harus dilaporkan agar tak rusak atau hilang".

Warga yang menemukan tidak boleh menjual ke pasar gelap, "karena akan menghilangkan informasi mengenai peradaban masa lalu," kata Dwi Cahyono.

Perkampungan kuno peninggalan Kerajaan Majapahit?

Arkeolog Dwi Cahyono mengaku bahwa dirinya sudah mendatangi lokasi dan melakukan identifikasi terhadap struktur bangunan berbahan bata tersebut.

"Diperkirakan bangunan tersebut berasal dari abad ke 14 atau 15 pada era Majapahit. Terlihat dari bentuk batu bata yang berserakan," ungkapnya, menganalisa.

"Tangga bangunan masih terlihat," ujarnya.

Menurutnya, bangunan situs bersejarah ini menghadap ke sungai Amprong yang hanya berjarak sekitar 100 meter.

"Posisinya ada di lereng atau bagian bawah perbukitan Buring atau warga menyebut Gunung Buring. Sedangkan pada masa Singhasari dan Majapahit dikenal dengan sebutan Gunung Malang," paparnya.

Masjid kuno 'multi etnik' Angke yang dirancang dan dibangun orang Cina
Cornelis Chastelein, ' Belanda Depok' dan daerah otonom zaman kolonial
Berkunjung ke museum 'pembunuh kolonialisme' di Rangkasbitung
Lebih lanjut Dwi Cahyono mengatakan, harus dilakukan eskavasi lebih lanjut untuk mengetahui bangunan benda cagar budaya tersebut.

Dilihat dari temuan artefak yang ada, Dwi memperkirakan kawasan tersebut merupakan perkampungan kuno.

"Dengan struktur penduduk yang kaya karena menyimpan perhiasan emas dan koin negara asing," ungkapnya.

'Sekarpuro kawasan penting Era Majapahit'

Dwi Cahyono mengatakan, Desa Sekarpuro merupakan kawasan penting di masa Kerajaan Majapahit masih berkuasa.

Saat itu ada dua Nagari bawahan kerajaan Majapahit, yakni Nagari Tumapel dan Kabalan. "Kedua Nagari dipisahkan sungai Amprong," katanya.

"Nagari Kabalan dipimpin Kusumawarddhani yakni putri mahkota Raja Majapahit Hayam Wuruk. Kelak suami Kusumawarddhani, Wikramawardhhana menjadi Raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk," paparnya.

Dwi meyakini situs ini merupakan peninggalan Majapahit didasarkan keberadaan batu bata yang disebutnya lazim sebagai bahan bangunan pada masa itu.

"Sedangkan koin atau uang logam dan keramik merupakan produk impor dari Cina. Ini bukti bahwa Nagari Kabalan merupakan kota dengan peradaban modern, karena sudah menjalin interaksi dengan Cina dan negera luar,"

Bagaimana rumah para pembuat Stonehenge?

Lima rumah zaman Neolitik di sekitar Stonehenge direka ulang untuk mengungkap bagaimana para pembuat monumen batu itu hidup 4.500 tahun lampau.

Rumah dengan satu kamar berukuran lima meter dibuat menggunakan kapur dan jerami berdasarkan rujukan sisa arkeologis di dinding Durrington yang dekat dengan wilayah itu.

Susan Greaney, dari English Heritage, mengatakan rumah-rumah ini adalah hasil dari "bukti arkeologi, taksiran ilmiah, dan banyak pekerjaan fisik,"

Pada pengunjung nantinya bisa mengunjungi rumah rekaan zaman Neolitik ini.

Sisa-sisa arkeologis dari dinding Durrington - yang berasal dari zaman yang sama dengan pembuatan Stonehenge - tidak hanya menunjukkan lantai bangunan tetapi juga lubang dinding yang bisa mencerminkan ukuran dan tata ruangnya.

"Kita tahu, misalnya, bahwa tiap rumah memiliki perapian dan lantai dibuat dengan menggunakan kapur," kata Greaney.

"Dan jauh dari kesan gelap dan primitif, rumah mereka sangat terang dan berudara segar dengan dinding kapur yang dirancang untuk memantulkan cahaya matahari dan menahan hangatnya api."

Dia mengatakan bahwa proyek ini merupakan sebuah "pembelajaran yang luar biasa" bagi 60 relawan yang terlibat di dalamnya.

"Sekarang pengunjung dapat melangkah masuk ke pintu rumah ini dan mendapatkan arti sebenarnya tentang kehidupan sehari-hari di zaman ketika Stonehenge dibangun."

Rumah rekaan ini dilengkapi dengan sejumlah dekorasi seperti replika kapak Neolitik, tembikar dan artefak lainnya.