Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Dec 1, 2016

Gereja Di Abad Pertengahan

Keadaan gereja pada abad pertengahan diwarnai oleh berbagai masalah. Beberapa masalah yang akan dibahas disini adalah kebudayaan, kehidupan rohani, dan politik pada masa tersebut, yang menjadi latar belakang gerakan reformasi.

Kebudayaan

Kehidupan kebudayaan di Eropa pada saat itu dipengaruhi oleh suatu kebangkitan minat terhadap kebudayaan kuno yang disebut Reinaisans (mulai sekitar abad XIII-XIV). Gerakan ini mendorong orang meminati kembali karya – karya klasik budaya Yunani, dari lingkungan kafir, dan belakangan, dari lingkungan gereja mula – mula. Kritik diberikan terhadap gereja yang telah menyalahgunakan kekuasaan. Minat terhadap karya – karya klasik gereja menolong orang untuk membaca teks-teks  Alkitab dalam bahasa asliya, bebas dadri penafsiran paus dan pimpinan gereja pada waktu itu. Pada tahun 1400-an, mesin cetak ditemukan, sehingga orang dapat memperbanyak tulisan dengan sangat mudah dan cepat. Hal ini di kemudian hari mempercepat penyebaran ide- ide baru, dan juga pencetakan Alkitab dalam bahasa sehari – hari.

Kehidupan Rohani

Gereja di masa – masa menjelang reformasi menghadapi tantangan – tantangan dari berbagfai pihak yang menuntut pembaruan. Gerakan – gerakan ini menyerang struktur gereja yang hierarkhis dan legalistik.  Muncul gerakan – gerakan yang menamai dirinya Waldens (Alpen) yang dipimpin oleh Peter Waldo, Kaum Lollard (Inggris) yang dipengaruhi oleh John Wycliff, dan kaum Husit di Bohemia yang diilhami oleh kritik dari Yohanes Hus.

Banyak pemimpin gereja yang menyeleweng dan menyalahgunakan kekuasaan. Terjadi  praktek simony, yatiu penjualan berkat – berkat rohani sehingga siapa pun bisa diselamatkan dengan membeli surat pembebasan siksa neraka (indulgensia).  Penjualan indulgensia juga untuk membiayai pembangunan gedung gereja Santo Petrus di  Vatikan.

Simoni juga dilakukan dalam jual-beli jabatan gerejawi, sehingga siapa pun dpat menjadi pejabat gereja, uskup, dengan uangnya. Tidak mengheranakan kalau kiemudian terjadi perebutan kekuasaan bahkan sampai tingkat kepausan. Kepercayaan atas diri Paus pun hilang karena ia harus menyingkir dari Roma ke Avignon.

Di lingkungan gereja mucul pula petanyaan yang besar : siapakah yang memilikki kekuasaan tertinggi,m Paus ataukah persidangan gereja (konsili) ? Paus, yang sudah terbiasa menikmati kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kaisar, tidak ingin kekuasaannya dibatasi. Di pihak lain, ada cukup banyak pemimpin gereja yang mengatakan bahwa kalau kekuasaan tidak dibatasi, akan muncul kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan tersebut.

Politik

Dalam lingkup politik, muncul kesadaran baru akan ras dan etnis bangsa – bangsa Eropa. Eropa yang tadinya bersatu di bawah kekaisaran Roma Suci, kini terpecah – pecah di antara bebagai kepangeranan yang ingin memisahakn diri sebagai bangsa sendiri,m dengan identitas dan bahawsanya sendiri pula. Di lingkungan ekonomi, muncul ketidakpuaswan di antara kaum petani yang dieksploitasi. Berkemjbang pula suatu kelas ekonomi yang baru, yaitu kaum borjuis. Mereka mempunyai tuntutan – tuntutan yang kian meningkat sehingga mengacaukan sistem ekonomi yang lama.

Peter Waldo

Peter Waldo (1140~1218) adalah pendiri dari gerakan kaum Waldens. Waldo berasal dari kalangan awam, dan bukan imam Gereja Katolik. Waldo berupaya memperbaiki kehidupan gereja pada waktu itu dengan cara mengajar orang-orang tentang Kristus dan mempraktikkan hidup miskin. Perlahan-lahan, pada tahun 1177, Waldo mulai mendapatkan pengikut yang disebut kaum Waldens. Kaum Waldens ini melakukan kegiatan dengan berpasangan, lalu menyebar dan mengajarkan ajaran agama Kristen kepada orang-orang. Karena gerakan ini berada di luar struktur gereja yang resmi, maka kaum Waldens tidak mendapat pengakuan dari gereja. Hal itu berakibat pengucilan dari Paus Lucius III pada tahun 1184. Pada tahun 1207, Paus Innocentius III menawarkan kepada para Waldens untuk diterima oleh gereja, jika mereka mau tunduk kepada gereja. Sebagian kaum ini mau menerima tawaran tersebut namun sebagian lagi tidak. Akhirnya pada tahun 1924, Paus mengutuk kaum Waldens yang belum tunduk pada gereja sehingga mereka ditindas.

John Wycliffe

John Wycliffe (nama keluarganya juga ditulis sebagai Wyclif, Wycliff, Wiclef, Wicliffe, atau Wickliffe; lahir: ~1324 – wafat: 31 Desember 1384) adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris, yang dikenal sebagai filsuf, teolog, pengkhotbah, penterjemah dan tokoh reformasi Kristen di Inggris. Ia dikenal melalui karyanya menerjemahkan Alkitab dari [bahasa Latin]] ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1382, yang dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe", karena ingin agar semua orang dapat membaca Alkitab. Karya inilah yang mempengaruhi terjemahan-terjemahan Alkitab kemudian. Pada tahun 1371 doktrin-doktrin Wycliffe mengenai kekayaan gereja dianggap cocok bagi pemerintah sekuler saat itu, sebab gereja sangat kaya dan memiliki kurang lebih sepertiga dari seluruh tanah di Inggris. Namun demikian, gereja masih menuntut kebebasan pajak dari pemerintah. Doktrin-doktrin Wycliffe cocok dipakai untuk memaksa para rohaniawan yang segan membayar, sehingga dengan begitu pemerintah dapat membiayai perang yang mahal melawan Prancis.

Wycliffe menikmati perlindungan John dari Gaunt, adipati Lancaster. Namun, pada 1377 Raja Edward III meninggal dan kekuasaan John dari Gaunt berkurang, sehingga turut memengaruhi kehidupan Wycliffe juga. Di samping itu, pada 1378 dimulai skisma besar ketika dua atau lebih paus yang bersaingan dapat diadu satu dengan yang lain. Pemerintah Inggris tidak lagi memerlukan doktrin Wycliffe untuk mengontrol gerakan gereja. 

Jan Hus ( Yohanes Hus)

Jan Hus, juga dikenal sebagai Yohanes Hus (sekitar 1369 - 1415) adalah seorang pemikir dan reformator agama dari Ceko (yang saat itu tinggal di wilayah itu dan dikenal sebagai Bohemia). Ia memulai suatu gerakan keagamaan yang didasarkan pada gagasan-gagasan John Wycliffe. Para pengikutnya dikenal sebagai kaum Hussit. Gereja Katolik menganggap ajaran-ajarannya sesat, dan Hus dikucilkan pada 1411, dikutuk oleh Konsili Konstanz, dan dibakar di tiang pada 6 Juli 1415, di Konstanz, Jerman. Jan Hus dibakar pada tiang

Hus adalah seorang perintis gerakan Protestan. Tulisan-tulisannya yang luas menyebabkan ia menduduki tempat terkemuka dalam sejarah sastra Ceko. Ia pun memperkenalkan penggunaan diakritik (khususnya tanda baca háček) dalam ejaan Ceko untuk mewakili masing-masing suara dengan sebuah simbol. Sekarang patung Jan Hus terdapat di lapangan lama di kota Praha, yang disebut Staroměstské náměstí.

Hari Jan Hus (Den upálení mistra Jana Husa) pada 6 Juli adalah peringatan eksekusi Jan Hus, adalah sebuah hari libur di Republik Ceko.

Pembelajaran dari Gereja Mula-mula

Sejarah dapat mengajarkan begitu banyak hal kepada manusia, baik melalui hal-hal baik dan indah maupun tidak baik dan bencana sekalipun. Ada satu macam sejarah yang sangat penting yang harus dipelajari oleh seluruh umat Tuhan, yaitu sejarah Gereja. Melalui sejarah Gereja, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang memegang kuasa atas seluruh sejarah. Di dalam artikel ini, kita akan melihat apa yang diajarkan oleh sejarah Gereja pada abad pertama.

Gereja Didirikan oleh Yesus Kristus 

Banyak hal yang terjadi dalam sejarah Gereja pada abad pertama. Namun sebelum membahas hal itu, kita harus mengingat kembali awal mulanya Gereja berdiri. Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus mengatakan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan Yesus ini? Hal ini adalah jaminan yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang jaminan ini sudah dibuktikan kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu abad pertama. Begitu banyak hal yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata dunia, seharusnya Gereja tidak dapat bertahan sama sekali.

Dikatakan bahwa Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak tantangan, yaitu serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja, penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri, dan tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat bahwa ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami tantangan-tantangan ini, Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga bukan saja bisa bertahan tetapi malah berkembang dengan pesat. Apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di balik hal ini? Mari kita mempelajarinya dengan saksama sehingga kita, sebagai Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan perjuangan Gereja yang sudah dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan Tuhan. Hal ini diperlukan demi melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang akan datang sehingga kita dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan pekerjaan Tuhan melalui Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja Tuhan.

Gereja pada Abad Pertama 

Gereja pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja pada zaman rasul-rasul (apostolic age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah kenaikan Tuhan Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes. Periode Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M. Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat di kota Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil perjuangan para rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak mempertobatkan orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan orang-orang non-Yahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia.

Namun di tengah-tengah kisah perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal yang disayangkan terjadi seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi karena adanya beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memberitakan Injil dan melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di antara jemaat. Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan sangat jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan dari agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari politik.

Di dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa para rasul sering kali diadili secara tidak adil, dihukum penjara, cambuk, dan sebagainya. Dicatat mulai dari pasal 5 bahwa para pemimpin agama Yahudi merasa iri dengan perkembangan kekristenan saat itu dan akhirnya memasukkan rasul-rasul ke penjara. Ini diperkirakan terjadi pada tahun 30-40 M. Dimulai dari periode inilah penganiayaan kepada Gereja Mula-mula banyak sekali terjadi. Para rasul adalah sekelompok orang Kristen yang mengalami penganiayaan terlebih dahulu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian baru dimulailah penganiayaan terhadap jemaat Kristen. Mari kita melihat hal ini dengan lebih mendetail.

Penganiayaan terhadap para pengikut Yesus diawali dengan pembunuhan Stefanus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 7. Ia memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan dituduh mengajarkan ajaran sesat sehingga ia dibawa ke hadapan imam besar dan dihakimi. Setelah memberikan pembelaan diri berupa pesan Injil Yesus Kristus, para pemimpin agama Yahudi merasa tertusuk hatinya dan akhirnya menjatuhkan kepadanya hukuman mati dengan cara dirajam dengan batu. Menurut cerita yang diturunkan melalui tradisi oral, pada saat itu Stefanus dibawa ke luar kota, dimasukkan ke dalam lubang yang sudah digali di tanah dan kepalanya dibiarkan di atas lubang tersebut dan ia dirajam dengan batu sampai mati. Hal ini terjadi delapan tahun setelah Kristus disalibkan (±35 M). Ia adalah martir pertama yang dengan berani terus bersaksi mengenai Injil. Setelah kematian Stefanus inilah orang-orang Yahudi menganiaya jemaat Kristen yang ada di Yerusalem dan menyebabkan banyak dari jemaat tersebut tersebar ke Yudea dan Samaria (Kis. 8:1).

Setelah Stefanus, Rasul Yakobus anak Zebedeus dicatat menjadi martir pada zaman pemerintahan Raja Herodes Agrippa I di sekitar tahun 44 M. Ia adalah rasul pertama yang menjadi martir dan ia mati dipenggal kepalanya bersama dengan seorang yang menangkapnya. Orang ini melihat keberanian Rasul Yakobus berjalan ke tempat eksekusi dan mendengarkan Injil yang diberitakan oleh Rasul Yakobus sehingga ia bertobat dan akhirnya mati dipenggal bersama dengan Rasul Yakobus. Pada saat yang sama, dua dari tujuh diaken, yaitu Timon dan Parmenas dari Filipi dan Makedonia juga mati dibunuh oleh karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Sepuluh tahun kemudian (54 M) Filipus pun mati martir setelah dipenjara dan dicambuk. Akhirnya ia disalibkan di Hierapolis, Frigia.

Rasul Tomas dicatat kemungkinan pergi ke India dan mendirikan jemaat di sana. Dari pencatatan sejarah, ia dihukum mati oleh penduduk lokal sekitar pertengahan abad pertama. Orang kafir menjadi marah dan menusuk Rasul Tomas dengan tombak dan melemparkannya ke dalam nyala api oven. Bersamaan dengan itu, Rasul Matius yang pergi ke Etiopia pun juga mati martir. Rasul Matius dihukum mati setelah melayani kurang lebih lima tahun dengan badannya direbahkan ke tanah dan akhirnya dipancung kepalanya di kota Nadabah atau Naddayar (60 M). Lalu Yakobus, adik Tuhan Yesus (yang menulis surat Yakobus), dicatat mati martir pada tahun 66 M. Setelah imam besar Ananus menghakimi Yakobus, ia menjatuhkan hukuman mati, namun pencatatan sejarah menyatakan cara kematiannya kurang jelas. Ada yang mencatat bahwa ia dirajam batu hingga mati, ada juga yang mengatakan bahwa ia dilempar dari menara Bait Allah namun masih belum juga mati sehingga akhirnya dipukul kepalanya dengan pentung besi.

Rasul Andreas, saudara Petrus, yang pergi mengabarkan Injil ke daerah Asia Minor, mati martir di Edessa dengan cara disalibkan pada kayu salib yang berbentuk X yang kemudian dikenal dengan Salib Santo Andreas. Markus dicatat mati martir ketika ia berbicara menentang perayaan Serapis orang Alexandria, dan menurut tradisi ia mati dengan cara diseret sampai tubuhnya terkoyak-koyak. Rasul Petrus dicatat mati martir di Roma pada zaman Nero dengan cara disalib terbalik karena ia merasa tidak layak disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhannya. Kisah ini dapat dilihat juga dalam film Quo Vadis. Rasul Paulus yang sudah dipenjara berkali-kali akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan melawan kaisar. Ia dibawa ke tiang eksekusi dan dipancung kepalanya pada tahun 66 M, tepat empat tahun sebelum Yerusalem jatuh dan Bait Allah dihancurkan. Yudas, saudara Tuhan Yesus, juga mati martir dengan cara disalibkan di Edessa, Mesopotamia, sekitar tahun 72 M.

Bartolomeus dicatat pergi berkhotbah di beberapa negara di Asia, kemudian ia dikatakan menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa India Timur dan mengajarkannya di sana. Musuh-musuhnya dengan kejam memukuli dia dan akhirnya ia mati disalibkan. Lukas yang setia mengikuti Rasul Paulus dalam perjalanan misinya, pergi memberitakan Injil setelah Paulus dijatuhi hukuman mati. Dicatat bahwa ia melayani Tuhan tanpa gangguan karena ia tidak memiliki istri atau anak, dan pada saat berusia 84 tahun ia jatuh tertidur di Boeatia, penuh dengan Roh Kudus. Tetapi ada catatan lain yang mengatakan bahwa ia pergi ke Yunani dan memberitakan Injil di sana. Ia mati martir dengan digantung pada pohon zaitun di Atena pada tahun 93 M. Penganiayaan terhadap Gereja bukan hanya terjadi kepada para rasul, tetapi juga kepada jemaat awam. Mulai dari jemaat di Yerusalem seperti yang dicatat di Kisah Para Rasul 8:1, sampai pada penganiayaan yang terjadi di bawah pemerintahan Nero. Jemaat di Yerusalem mendapatkan penyesahan yang tidak habis-habis oleh para pemimpin agama Yahudi. Bahkan sebelum bertobat, Rasul Paulus pun banyak menganiaya bahkan membunuh orang Kristen. Memang tidak banyak catatan yang menjelaskan mengenai hal ini dengan jelas. Namun penganiayaan terhadap jemaat Kristen sangat jelas dicatat dalam zaman pemerintahan Nero.

Ia menganiaya orang Kristen dengan sangat kejam. Bahkan dikatakan bahwa Nero adalah orang gila yang diilhami imajinasi Iblis yang menganiaya orang Kristen. Ketika kota Roma dilalap api yang dinyalakan oleh Nero sendiri, orang-orang di kota itu mempersalahkan Nero sebagai pelaku pembakaran tersebut. Tetapi Nero malah mempersalahkan sekelompok orang Kristen di kota Roma, sehingga kemarahan orang Roma ditimpakan kepada orang Kristen yang pada waktu itu sudah diketahui oleh Nero bahwa mereka pasti tidak bisa apa-apa. Orang-orang Kristen disalibkan untuk mengajukan penghinaan kepada Kristus yang juga mati disalib. Bahkan banyak yang disiksa dengan cara dijahit kepada kulit binatang buas dan dirobek-robek oleh anjing ganas. Lalu orang Kristen diberikan pakaian yang sudah dibalut lilin dan kemudian diikat pada tiang di kebun Nero serta dibakar untuk menjadi obor penerang dalam pesta yang Nero adakan. Kadang mereka diikat dan dibakar untuk menjadi lampu penerang pada jalan-jalan di kota Roma.

Masih banyak hal yang begitu mengerikan terjadi kepada orang Kristen pada abad pertama. Namun artikel ini tidak akan dapat memuat seluruhnya. Fokus dari pembahasan mengenai sejarah Gereja abad pertama ini adalah menganalisis mengapa di tengah tantangan yang ada dan begitu menekan, kekristenan bukan hanya dapat bertahan tetapi justru berkembang dan bertumbuh dengan demikian cepat sehingga tidak ada suatu apa pun yang dapat menahannya. Mari kita mengingat bahwa Gereja didirikan oleh Tuhan.

Gereja diberikan suatu jaminan oleh Tuhan Yesus bahwa bahkan alam maut tidak akan menguasainya. Kita melihat memang demikian yang terjadi pada Gereja di abad pertama, bahkan ketika begitu banyak orang mati menjadi martir, kekristenan justru semakin kuat dan membangkitkan semangat orang-orang Kristen untuk semakin taat kepada Tuhan. Dari sini kita bisa melihat bahwa Allah Tritunggal memberikan anugerah yang memelihara keberadaan Gereja-Nya di sepanjang sejarah bahkan sampai pada zaman kita di abad ke-21. Satu hal yang harus kita syukuri dan responi dengan baik. Selain dari jaminan yang diberikan oleh Kristus, ada hal lain yang bisa dipelajari yaitu kerohanian dari Gereja Mula-mula yang membuat mereka dapat bertahan dalam penganiayaan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa di atas batu karang ini Ia akan mendirikan Gereja-Nya. Batu karang itu adalah pengakuan Rasul Petrus yang menjawab pertanyaan dari Tuhan Yesus, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawaban Rasul Petrus adalah, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Maka kita bisa melihat bahwa pengenalan akan Kristus yang benar menjadi dasar bagi berdirinya Gereja. Tanpa dasar ini, maka Gereja tidak akan dapat berdiri dengan teguh. Pengenalan akan Kristus sebagai Tuhan dan Allah menjadikan suatu fondasi bagi Gereja untuk berdiri di atasnya.

Selain itu, dalam Kisah Para Rasul pasal 2 dinyatakan bahwa setelah Petrus memberitakan Injil, tiga ribu orang bertobat dan mereka masuk menjadi Gereja Kristus, mereka dicatat sebagai orang-orang yang “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. ... Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah” (Kis. 2:42, 46-47).

Ibadah yang mereka lakukan sungguh-sunguh, kemudian mereka juga bertekun di dalam pengajaran para rasul, serta mengadakan perjamuan kudus dan berdoa kepada Tuhan. Dengan cara inilah mereka terus menambah pengetahuan akan Allah dan mendapatkan kekuatan untuk dapat bertahan di dalam penganiayaan sekalipun. Alkitab mencatat bahwa dalam masa penganiayaan itu, orang Kristen malah bergembira karena boleh menderita bagi Tuhan dan terus-menerus memberitakan Injil kepada orang lain sehingga mereka bertambah banyak.

Kita harus mengakui bahwa kita, Gereja di abad ke-21, sangat dipengaruhi oleh pemikiran zaman ini sehingga banyak dari kita melupakan hal mendasar di dalam kehidupan bergereja. Kerohanian tidak kita perhatikan dengan baik. Hal ini menyebabkan kemunduran iman dan mengakibatkan kita tidak bisa setia kepada Tuhan. Kita begitu mudah digeser dari fokus hidup yang benar. Pdt. Dr. Stephen Tong selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh melupakan segala pekerjaan Tuhan yang sudah dilakukan-Nya dalam zaman lampau. Maka beliau sering sekali mengajarkan kepada kita supaya kita tidak menjadi orang seperti yang Hegel katakan, “We learn from history that man does not learn anything from history.”

Mari kita merefleksikan hidup kita dan kembali belajar dari Gereja di abad pertama yang mendapatkan kekuatan untuk bertahan serta berkembang dalam pengenalan akan Tuhan Yesus yang benar. Mari kembali kepada panggilan kita sebagai Gereja milik Kristus yang sudah didirikan di atas dasar batu karang yang teguh, sehingga kita bisa meneruskan mata rantai Gereja Tuhan kepada generasi berikutnya.

Teladan yang diberikan oleh Gereja Mula-mula harus kita ikuti dan kembangkan supaya Gereja bisa menyatakan terang Injil Kristus kepada seluruh dunia. Maka kita harus bertekun di dalam pembelajaran firman Tuhan dan bertekun dalam ibadah serta doa kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan untuk tetap setia kepada-Nya. Kiranya Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita supaya dapat hidup sebagai Gereja yang mampu meneruskan apa yang sudah dimulai dengan baik oleh Gereja di abad pertama.

Timeline Sejarah Gereja pada Abad Pertama

30 M Sejarah Gereja pada abad pertama dimulai dalam tahun ini, tahun di mana Tuhan Yesus disalibkan dan mati, bangkit dari kematian dan naik ke sorga.

30 M Tepat setelah kenaikan Tuhan Yesus, kekristenan dimulai dengan kurang lebih tiga ribu orang percaya dan berpusat di Yerusalem. Dalam waktu satu tahun, kekristenan meningkat menjadi kurang lebih sepuluh ribu orang percaya.

30-40 M Dalam kurun waktu ini, Rasul Petrus memimpin gerakan Kristen mula-mula.

30 M Pelemparan batu terhadap Stefanus menyebabkan orang-orang Kristen tersebar (tanggal tepatnya tidak diketahui).

32 M Rasul Paulus bertobat (tanggal tepatnya tidak diketahui).

40 M Istilah “Kristen” pertama kali digunakan di Antiokhia (Kis. 11:26).

41 M Kaisar Kaligula mengumumkan bahwa ia akan mendirikan sebuah patung dirinya di dalam Bait Allah di Yerusalem. Ia dibunuh sebelum dapat melakukannya.

48-49 M Perjalanan misi pertama Rasul Paulus. Paulus mulai mengajar bahwa orang-orang non-Yahudi tidak perlu disunat untuk menjadi Kristen.

49 M Suetonius, seorang sejarawan Roma, melaporkan bahwa “sejak orang-orang Yahudi terus-menerus menyebabkan gangguan dalam hasutan dari Kristus, dia (Kaisar Klaudius) mengusir mereka keluar dari Roma.” Priskila dan Akwila merupakan bagian dari orang-orang yang diusir ini (Kis. 18:2).

50 M Council of Jerusalem dipangggil untuk menentukan apakah kepercayaan Paulus mengenai orang non-Yahudi tidak harus disunat benar atau tidak; keputusan dibuat dan menyatakan bahwa Paulus benar (Kis. 15).

50 M Dalam tahun ini, orang-orang Kristen mulai menyembah Tuhan pada hari Minggu dan berbeda dengan Sabat Yahudi yang dilakukan pada hari Sabtu.

50-58 M Perjalanan misi kedua dan ketiga Rasul Paulus. Kekristenan melangkah maju hingga mencapai Turki dan Yunani. Paulus menuliskan surat-suratnya pada periode waktu ini.

60-62 M Paulus ditangkap dan dibawa ke Roma. Kitab Kisah Para Rasul diakhiri dengan Paulus di dalam penjara rumah di Roma.

64 M Api di Roma. Dimulai pada tanggal 18 Juli, api membakar seluruh Roma dan menghanguskan 70% kota dalam periode waktu satu minggu. Beberapa warga kota menuduh Kaisar Nero yang menyalakan api. Tetapi Nero malah melimpahkan kesalahan itu dan menunjuk kepada grup kecil orang Kristen yang melakukannya (padahal mereka tidak bersalah).

66 M Orang Yahudi memberontak terhadap penjajahan Romawi dan memenangkan kembali kerajaan mereka. Beberapa bukti menunjukkan bahwa orang-orang Kristen melarikan diri ke Pella.

67 M Diperkirakan pada tahun ini Rasul Petrus dan Paulus menjadi martir di Roma di bawah pemerintahan Nero.

68 M Dipercaya bahwa Injil Markus dituliskan pada akhir tahun 60-an. Injil Matius dan Lukas diperkirakan datang dalam waktu yang sama atau mungkin juga dari 10-15 tahun setelahnya.

70 M Orang Romawi mengambil alih kembali Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah di bawah serangan Jenderal Titus.

70-95 M Pengetahuan akan penyebaran dan pengembangan kekristenan ditinggalkan pada periode ini.

81-96 M Domitianus menjadi kaisar Romawi. Dia memulai penganiayaan pertama terhadap orang Kristen oleh karena iman mereka.

95 M Rasul Yohanes berada di pulau Patmos oleh karena penganiayaan oleh Domitianus.

95 M Council of Jamnia. Konsili ini merupakan kumpulan dari para pemimpin Yahudi dan membuat beberapa keputusan yang disebut 18 benedictions. Dan dalam poin keduabelas dinyatakan, “Semoga kaum Nasrani (orang-orang Kristen) dan para penyesat menghilang secepatnya.” Mereka menarik garis pembatas yang tegas antara kekristenan dan Yudaisme, dan orang Yahudi mana pun yang menjadi Kristen tidak diterima di sinagoge.

96 M Domitianus meninggal dan Rasul Yohanes pindah ke Efesus di mana kemungkinan ia meninggal di sana pada tahun 100.

96-98 M Nerva menjadi kaisar Romawi dan tidak ada bukti yang menyatakan penganiayaan terhadap orang Kristen.

98-117 M Trajan menjadi kaisar Romawi dan terdapat beberapa penganiayaan terhadap orang Kristen tetapi tidak sampai menyebar.

Eusebius ”Bapak Sejarah Gereja”?


Pada tahun 325 M, Kaisar Romawi Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Tujuannya: menuntaskan perdebatan sengit tentang hubungan Allah dengan Putra-Nya. Di antara mereka, hadir seorang pria yang dianggap paling terpelajar pada masanya, Eusebius dari Kaisarea. Eusebius telah mempelajari Alkitab dengan rajin dan adalah seorang pembela monoteisme Kristen.

Pada Konsili Nicea, ”Konstantin sendiri menjadi ketua,” kata Encyclopædia Britannica, ”dengan aktif memimpin pembahasan, dan secara pribadi mengusulkan  rumusan krusial yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, yakni ’satu zat dengan sang Bapak’  arena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.” Apakah Eusebius salah seorang yang terkecuali itu? Hikmah apa yang dapat kita tarik dari pendirian yang ia ambil? Mari kita lihat latar belakang Eusebius kualifikasi dan pencapaiannya.

Tulisan-Tulisannya yang Tersohor

Kemungkinan besar, Eusebius lahir di Palestina sekitar tahun 260 M. Sejak usia dini, ia berkolega dengan Pamfilus, seorang pengawas gereja di Kaisarea. Eusebius bergabung dengan sekolah teologis Pamfilus, dan menjadi seorang siswa yang serius. Ia sangat memanfaatkan perpustakaan Pamfilus yang besar. Eusebius membaktikan dirinya untuk belajar, teristimewa belajar Alkitab. Ia juga menjadi sahabat setia Pamfilus, belakangan menyebut dirinya ”Eusebius putra Pamfilus”.

Sehubungan dengan aspirasinya, Eusebius menyatakan, ”Merupakan tujuan saya untuk menulis suatu kisah tentang suksesi Rasul-Rasul kudus serta masa-masa yang telah berlalu sejak hari Juru Selamat kita sampai pada hari kita; untuk menceritakan bagaimana banyak peristiwa penting yang konon terjadi dalam sejarah gereja; dan untuk menyebutkan orang-orang yang telah memerintah dan mengetuai gereja dalam paroki-paroki yang paling terkemuka, dan orang-orang yang dalam tiap-tiap generasi telah memberitakan firman ilahi secara lisan maupun tulisan.”

Eusebius dikenang karena karyanya yang sangat dihargai berjudul History of the Christian Church (Sejarah Gereja Kristen). Kesepuluh jilidnya yang diterbitkan sekitar tahun 324 M dianggap sebagai sejarah gerejawi terpenting yang ditulis pada zaman kuno. Sebagai hasil pencapaian ini, Eusebius menjadi terkenal sebagai bapak sejarah gereja.

Selain Church History, Eusebius menulis Chronicle, dalam dua jilid. Jilid yang pertama adalah ringkasan sejarah universal. Pada abad keempat, jilid itu menjadi naskah standar bagi referensi kronologi dunia. Jilid yang kedua mencantumkan tanggal-tanggal peristiwa bersejarah. Dengan menggunakan kolom-kolom sejajar, Eusebius memperlihatkan suksesi keluarga kerajaan dari berbagai bangsa.

Eusebius menulis dua karya bersejarah lainnya, yang berjudul Martyrs of Palestine dan Life of Constantine. Karya yang pertama mencakup tahun 303-310 M, dan membahas para martir dari periode itu. Eusebius pastilah seorang saksi mata peristiwa-peristiwa tersebut. Karya yang belakangan, yang diterbitkan dalam rangkaian empat buku setelah kematian Kaisar Konstantin pada tahun 337 M, memuat perincian historis yang berharga. Sebaliknya dari sejarah yang terus terang, buku itu sebagian besar adalah suatu eulogi (pujian).

Karya apologetika Eusebius mencakup jawaban kepada Hierocles gubernur Romawi pada zamannya. Ketika Hierocles membuat tulisan yang menentang orang Kristen, Eusebius merespons dengan pembelaan. Selain itu, untuk mendukung kepenulisan ilahi dari Tulisan-Tulisan Kudus, ia menulis 35 buku, yang dianggap sebagai karya paling penting dan terperinci di kelasnya. Kelima belas buku pertama berupaya membela diterimanya tulisan-tulisan kudus Ibrani oleh orang Kristen. Sedangkan 20 buku lainnya membuktikan bahwa orang Kristen dibenarkan untuk melangkahi perintah Yahudi dan untuk menerima prinsip dan praktek yang baru. Secara keseluruhan, buku-buku ini memberikan pembelaan yang komprehensif terhadap Kekristenan sesuai dengan pemahaman Eusebius.

Masa hidup Eusebius kira-kira 80 tahun (± 260-±340 M), menjadi salah seorang penulis paling produktif pada zaman dahulu. Tulisannya mencakup peristiwa pada tiga abad pertama M hingga pada masa Kaisar Konstantin. Di bagian akhir kehidupannya, karyanya sebagai penulis dibarengi dengan kegiatannya sebagai uskup Kaisarea. Kendati paling dikenal sebagai sejarawan, Eusebius juga adalah seorang apologis, topografer, pengkhotbah, kritikus, dan penulis eksegesis.

Motif Gandanya

Mengapa Eusebius memulai proyek-proyek hebat yang tiada duanya ini? Jawabannya ditemukan dalam kepercayaannya bahwa ia sedang hidup pada masa transisi ke suatu zaman baru. Ia merasa bahwa peristiwa-peristiwa besar telah terjadi selama generasi-generasi yang lalu dan suatu kisah tertulis dibutuhkan bagi generasi mendatang.

Eusebius memiliki tujuan tambahan yakni sebagai apologis (pembela). Ia percaya bahwa Kekristenan berasal dari Allah. Tetapi, beberapa orang menyerang gagasan ini. Eusebius menulis, ”Merupakan tujuan saya juga untuk mencantumkan nama dan jumlah dan kekerapan orang-orang yang melalui cinta akan inovasi telah membuat kekeliruan-kekeliruan terbesar, dan secara salah menyebut diri mereka penemu pengetahuan, yang mirip serigala-serigala garang yang tanpa belas kasihan menghancurkan kawanan Kristus.”

Apakah Eusebius menganggap dirinya seorang Kristen? Tampaknya demikian, karena ia menyebut Kristus sebagai ”Juru Selamat kita”. Ia menyatakan, ”Merupakan niat saya  untuk menceritakan kemalangan yang langsung menimpa segenap bangsa Yahudi sebagai akibat rencana jahat mereka terhadap Juru Selamat kita, dan mencatat cara-cara dan masa-masa sewaktu Firman Allah diserang oleh orang Kafir, dan untuk menggambarkan karakter orang-orang yang pada berbagai periode telah berjuang demi hal itu meskipun menghadapi darah dan siksaan, serta konfesi yang telah dibuat pada zaman kita, serta kemurahan hati dan pertolongan baik hati yang diberikan Juru Selamat kita kepada mereka semua.”

Penelitiannya yang Ekstensif

Jumlah buku yang secara pribadi dibaca dan dirujuk Eusebius sangat banyak. Hanya melalui tulisan-tulisan Eusebius-lah banyak individu terkemuka pada ketiga abad pertama Tarikh Masehi disingkapkan. Catatan-catatan berguna yang menyingkapkan informasi tentang gerakan-gerakan penting muncul hanya dalam tulisannya. Kisah itu berasal dari sumber-sumber pengetahuan yang kini tidak tersedia lagi.

Dalam mengumpulkan bahan, Eusebius rajin dan saksama. Tampaknya, ia dengan hati-hati berupaya membedakan antara laporan yang dapat dipercaya dan yang tidak. Namun, karyanya tidak selalu bebas cela. Kadang-kadang, ia salah menafsirkan dan bahkan salah memahami orang-orang dan tindakan mereka. Dalam kronologi, ia kadang-kadang tidak akurat. Dan juga, keterampilan penyajian Eusebius kurang artistik. Akan tetapi, terlepas dari bukti kekurangan, karyanya yang banyak itu dianggap sebagai suatu harta yang tak ternilai.

Pencinta Kebenaran?

Eusebius prihatin mengenai isu yang tidak menentu tentang keterkaitan antara Bapak dan Putra. Apakah sang Bapak telah ada sebelum sang Putra, seperti yang dipercayai Eusebius? Atau, apakah sang Bapak dan sang Putra ada secara bersamaan? ”Jika mereka ada secara bersamaan,” ia bertanya, ”bagaimana sang Bapak menjadi Bapak dan sang Putra menjadi Putra?” Bahkan, ia mendukung kepercayaannya dengan rujukan Alkitab, dengan mengutip Yohanes 14:28, yang mengatakan bahwa ”Bapak lebih besar daripada aku”, dan Yohanes 17:3, yang menyebut Yesus disebut pribadi yang ’diutus’ oleh satu-satunya Allah yang benar. Sewaktu menyinggung Kolose 1:15 dan Yohanes 1:1, Eusebius berpendapat bahwa Logos, atau Firman, adalah ”gambar Allah yang tidak kelihatan” Putra Allah.

Namun, yang sangat mengherankan, pada penutupan Konsili Nicea, Eusebius memberikan dukungannya kepada pandangan yang berlawanan. Bertentangan dengan pendiriannya yang berdasarkan Alkitab bahwa Allah dan Kristus bukan pribadi sederajat yang ada secara bersamaan, ia setuju dengan sang kaisar.

Eusebius menyerah kepada tekanan pada Konsili Nicea dan mendukung suatu doktrin yang tidak berdasarkan Alkitab? Apakah ia memiliki tujuan politis dalam benaknya? Bahkan, mengapa ia menghadiri konsili itu? Meskipun semua uskup dipanggil, sebenarnya hanya sebagian kecil 300 uskup yang hadir. Apakah Eusebius mungkin khawatir mengenai kelangsungan status sosialnya? Dan, mengapa Kaisar Konstantin menghargainya sedemikian tinggi? Pada konsili itu, Eusebius duduk di sebelah kanan kaisar.

Tampaknya Eusebius mengabaikan tuntutan Yesus bahwa para pengikutnya ”bukan bagian dari dunia”. (Yohanes 17:16; 18:36) ”Hai, para pezina, tidak tahukah kamu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?” tanya Yakobus sang murid. (Yakobus 4:4) Dan, sungguh tepat peringatan Paulus, ”Jangan memikul kuk secara tidak seimbang bersama orang-orang yang tidak percaya”! (2 Korintus 6:14) Semoga kita tetap terpisah dari dunia seraya kita ”menyembah [sang Bapak] dengan roh dan kebenaran”. Yohanes 4:24.

Sejarah Gereja Mula-Mula

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan menunggu di sana sampai Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka. Dengan kuasa yang diberikan Roh Kudus itu Yesus berjanji akan memperlengkapi murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-saksi, bukan hanya di Yerusalem tapi juga di ke ujung-ujung bumi (Kis. 1:1-11). Janji itu digenapi oleh Kristus dan perintah itu ditaati oleh murid-murid-Nya. 

Permulaan Gereja 

Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya "aku memanggil/memerintahkan". Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Kristus. 

Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum kenaikan ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul dengan setia dijalankan oleh murid-murid-Nya. Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di perbagai tempat di dunia (ujung-ujung dunia). 

Gereja Di Palestina 
  • Gereja pertama lahir di Yerusalem (Kis. 1:8) 
  • Petrus dan beberapa murid-murid Tuhan Yesus yang lain membawa Injil ke Yudea (Kis. ps. 1-7).
  • Filipus dan murid-murid yang lain pergi ke Samaria dan sekitarnya (ps. 8).
2. Gereja di luar Palestina 
  • Petrus membawa Injil ke Roma
  • Paulus ke Asia Kecil dan Eropa (Kis. ps. 10-28)
  • Apolos ke Mesir (Kis. ps. 18)
  • Filipus ke Etiopia (Kis. ps. 8).
  • Sebelum tahun 100 M, Injil sudah tersebar ke Siria, Persia, Afrika (Kis. 9)
  • Lalu ke ujung-ujung bumi (Siria, Persia, Gaul, Afrika Utara, Asia & Eropa). 
Pertumbuhan Dan Tantangan 

Gereja/jemaat yang baru berdiri mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kuasa Roh Kudus sangat nyata hadir di tengah jemaat. Namun demikian tantangan dan kesulitan juga mewarnai pertumbuhan jemaat mula-mula itu. Tapi luar biasa, justru karena keadaan yang sulit itu gereja semakin berkembang. 

Agama Negara 

Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Salah satu peraturan yang muncul pada masa pemerintahannya adalah menyembah kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun mereka masih diijinkan melakukan penyembahan kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka sendiri. 

Namun demikian ada kekecualian untuk orang-orang Yahudi yang mempunyai agama Yudaisme yang menjunjung tinggi monotheisme, mereka tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Hal ini terjadi karena mereka takut kalau orang Yahudi memberontak. 

Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya dianggap sebagai salah satu sekte agama Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen pertama tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Tetapi setelah orang- orang Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen (puncak peristiwa penyalipan Kristus) barulah pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru. Sejak saat itu keharusan menyembah kepada Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-orang Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh pada peraturan ini mendapat hukuman dan penganiayaan yang sangat berat. 

Penganiayaan terhadap orang Kristen. 

Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada Kristus ditunjukkan dengan secara setia menjalankan pengajaran Alkitab dan menolak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Karena sebab itulah orang-orang Kristen sering harus membayar harga yang mahal demi kepercayaan mereka kepada Kristus, antara lain adalah dengan penganiayaan. 

Beberapa penyebab penganiayaan: 
  • Karena orang Kristen menolak untuk menyembah Kaisar. 
  • Karena orang Kristen dituduh melakukan hal-hal yang menentang kemanusiaan, mis. menolak menjadi tentara, mengajarkan tentang kehancuran dunia, membiarkan perpecahan keluarga, dll. 
  • Karena orang Kristen dituduh mempraktekkan immoralitas dan kanibalisme, misalnya melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan, dosa inses, makan darah dan daging manusia.
3. Hasil dari penganiayaan. 

Memang ada banyak orang Kristen yang mati dalam penganiayaan dan pembunuhan, namun demikian jumlah orang Kristen tidak semakin berkurang malah semakin bertambah banyak. 
  • Orang Kristen semakin berani. Sekalipun dianiaya mereka tetap mempertahankan iman mereka (mis. Surat Petrus). 
  • Kekristenan semakin menyebar keluar dari Yerusalem, yaitu ke daerah-daerah sekitarnya, dan ke seluruh dunia. 
  • Orang-orang Kristen semakin memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka betu-betul menjadi saksi yang hidup. 
Lahirnya Jemaat Kristen 

Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu terkunci di Yerusalem pada hari-hari pertama setelah kebangkitan Yesus, para murid mengetahui bahwa lebih mudah berbicara tentang mengubah dunia daripada pergi keluar dan melakukannya. Tetapi tidak lama kemudian, sesuatu terjadi yang bukan hanya mengubah jalan pikiran mereka, tetapi yang juga memberanikan mereka untuk menyampaikan iman mereka dengan cara yang menggoncangkan seluruh dunia Romawi. 

Hanya lima puluh hari setelah kematian Yesus, Petrus berdiri di depan suatu kerumunan orang banyak di Yerusalem, dan dengan berani menyatakan kerajaan Allah telah datang, dan Yesuslah Raja dan Mesiasnya. Pada waktu itu Yerusalem penuh dengan peziarah-peziarah yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Roma untuk merayakan Pesta Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara, mereka tidak hanya mengerti pemberitaannya tetapi juga, dalam jumlah yang luar biasa besarnya, memberikan respons terhadapnya. Ketika Petrus menyatakan mereka harus menjadi murid-murid Yesus dengan bertobat dari dosa dan menerima hidup baru yang diberikan Allah, tiga ribu orang menerima seruannya dan menyerahkan diri mereka kepada Yesus (Kis. 2:14-42). 

Apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga murid-murid Yesus mengalami transformasi dalam hidup mereka? Jawabannya terdapat dalam pembukaan pidato Petrus. Sebab ketika ia berdiri dan berbicara kepada orang banyak itu, Petrus mengingatkan mereka tentang suatu nats Perjanjian Lama yang menggambarkan bahwa datangnya abad baru adalah masa di mana Roh Allah akan bekerja dengan cara baru dalam hidup orang-orang. Sewaktu nabi-nabi Perjanjian Lama memandang ke masa depan, beberapa dari mereka menyadari bahwa masalah manusia tidak pernah akan selesai hingga suatu hubungan baru dijalin antara manusia dan Allah. Dosa dan ketidaktaatan manusia telah mengakibatkan kekacauan, tetapi dalam abad baru Allah tidak hanya menuntut ketaatan - Ia akan memberi mereka kekuatan moral yang baru dan kemampuan untuk menjadi manusia seperti yang dimaksudkan Allah (Yer. 31:31-34). Dalam nubuat Yoel (2:28-32), kekuatan baru untuk hidup ini dihubungkan dengan pemberian Roh Allah - dan Petrus mengambil perikop tersebut sebagai natsnya, serta menyatakan nats tersebut sedang dipenuhi dalam pengalaman murid-murid Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, orang-orang sekarang dapat mempunyai hubungan baru dengan Allah sendiri. Dari pengalamannya sendiri, Petrus tahu bahwa hal itu benar. 

Bagi Petrus dan murid-murid lainnya, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ketika mereka menghadapi tugas yang begitu besar dan yang tidak mungkin dilaksanakan - yang dipercayakan Yesus kepada mereka, tanpa disangka-sangka suatu kuasa yang memberi hidup masuk ke dalam kehidupan mereka. Kuasa itu merupakan suatu dinamika moral dan spiritual yang memperlengkapi para murid supaya memberi kesaksian tentang iman yang baru. Kuasa itu adalah kuasa Roh Kudus dan akan menjadikan mereka seperti Yesus. Tidaklah mudah menggambarkan dalam kata-kata apa yang mereka alami. Tetapi sebagai akibatnya, kepercayaan mereka yang ragu-ragu dan tidak pasti kepada Yesus dan janji-janji-Nya secara luar biasa diteguhkan. Sejak saat itu dan seterusnya, mereka yakin janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam hidup mereka sendiri - dan mereka sangat yakin bahwa Yesus yang hidup ada dan hadir bersama mereka secara unik. Jemaat telah lahir. 

Seluruh kehidupan para murid mengalami perombakan sedemikian rupa, sehingga tidak diperlukan argumen lain untuk meyakinkan mereka bahwa pengalaman mereka sehari-hari merupakan akibat langsung dari kuasa dan kehadiran Yesus di dalam hidup mereka. Petrus, Yohanes dan yang lain- lainnya memiliki kuasa guna melakukan tindakan-tindakap hebat dalam nama Yesus (Kis. 2:43; 3:1-10) - dan tentunya Petrus diberikan kemampuan secara tak disangka-sangka untuk berbicara dengan kuasa kepada orang banyak yang berkumpul di Yerusalem. 

Sebagai akibat semuanya ini, para rasul dan orang-orang Kristen baru begitu dikuasai oleh cinta-kasih kepada Yesus yang hidup dan kerinduan untuk melayani-Nya, sehingga kebutuhan-kebutuhan kehidupan sehari-hari terlupakan. Orang-orang Kristen selalu "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2:42). Mereka malahan menjual harta mereka dan mengumpulkan hasil penjualan sehingga mereka dapat hidup sebagai suatu persekutuan sejati dari pengikut-pengikut Yesus. Mencari uang bukan lagi merupakan haI yang terpenting dalam hidup. Satu-satunya hal yang penting adalah memuji Allah, dan membawa berita yang-mengubah hidup kepada orang-orang lain (Kis. 2:44,47; 4:32,35). 

Jemaat bertumbuh. 

Pada hari-hari pertama kehidupan jemaat di Yerusalem, persahabatan terbuka dan gaya hidup sederhana dalam jemaat purba pasti terlihat sebagai menyingsingnya suatu zaman yang baru. Tetapi tidak perlu waktu lama sebelum persoalan-persoalan lain yang lebih rumit muncul, untuk memperingatkan Petrus dan lain-lainnya bahwa kerajaan Allah belum tiba dalam segala kepenuhannya. Persekutuan yang baru tergalang merupakan bukti bahwa umat baru sudah ada. Tetapi seturut berlalunya waktu, ketegangan antara masa sekarang dan masa depan yang begitu fundamental dalam pengajaran Yesus mempunyai dampak yang mengganggu kelanjutan hidup persekutuan kristen yang sedang berkembang. Selama masa hidup Yesus, gerakan mesianik baru yang dibangun-Nya itu pada umumnya hanyalah merupakan bidat setempat dalam agama Yahudi Palestina. Semua murid merupakan orang Yahudi. Walaupun logika pemberitaan dan teladan perilaku Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang-orang bukan-Yahudi tidak dikecualikan dari keanggotaan persekutuan, hubungan orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi tidaklah merupakan persoalan besar pada waktu itu. Orang-orang bukan-Yahudi yang bertemu dengan Yesus adalah pribadi-pribadi tersendiri (Mrk. 7:24-30; Luk. 7:1-10). Jumlah mereka tidak besar, dan bagaimanapun juga banyak dari mereka mungkin sekali menghadiri upacara-upacara agama di sinagoge, meskipun mereka belum memeluk agama Yahudi. 

Tetapi tidak lama kemudian, para pengikut Yesus dipaksa untuk mencurahkan perhatian besar terhadap seluruh persoalan hubungan antara orang-orang percaya Yahudi dan bukan-Yahudi. Walaupun mereka tidak menyadarinya, peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta yang direkam pada bagian Kisah Para Rasul merupakan suatu peristiwa yang menentukan dalam kehidupan jemaat muda usia itu (Kis. 2). Sebab ketika banyak di Petrus berdiri dan menerangkan ajaran Kristen kepada orang kosmolitan, Yerusalem, ia berhadapan dengan sidang pendengar yang terdiri dari "orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit" (Kis. 2:5). Tentu saja mereka semua menaruh perhatian terhadap agama Yahudi, kalau tidak mereka tidak akan mengadakan perjalanan ke Yerusalem guna menghadiri perayaan keagamaan. Tetapi tidak semua orang bukan-Yahudi di antara mereka sudah menjadi penganut penuh agama Yahudi yang menerima seluruh hukum Yahudi - sedangkan mereka yang berasal dari keluarga Yahudi pun diberbagai tempat dari kekaisaran Roma, mempunyai latar belakang dan pandangan yang agak berlainan dengan orang Yahudi yang dilahirkan dan dibesarkan di Palestina sendiri. Mayoritas dari orang banyak yang mendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta mungkin sekali merupakan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, yang telah berziarah ke Yerusalem dalam rangka pesta agama Yahudi yang besar itu. Banyak dari mereka yang baru untuk pertama kalinya mengunjungi Yerusalem. Walaupun tempat tinggal mereka sangat jauh, mereka selalu menggandrungi Yerusalem serta Bait Allah. Yang merupakan tempat suci pusat agama mereka, sama halnya bagi orang Yahudi yang tinggal di Palestina. Petrus dan murid-murid lainnya tidak ragu-ragu bahwa kabar baik tentang Yesus harus disampaikan juga kepada orang-orang tersebut. Memang, banyak persamaan di antara mereka. Para murid sendiri merupakan pendukung setia dari upacara-upacara ibadah di sinagoge. Mereka juga memelihara pesta-pesta agama Yahudi Yang besar, dan kadang-kadang mereka malahan berkhotbah di pelataran Bait Allah (Kis. 3:1-16). Hal ini merupakan sesuatu yang Yesus sendiri tidak dapat lakukan tanpa kekhawatiran akan akibat-akibatnya, dan walaupun Petrus dan Yohanes kemudian ditangkap dan dituduh di hadapan mahkamah agama Yahudi, mereka segera dibebaskan, dan satu-satunya pembatasan yang dikenakan ke atas mereka adalah supaya "sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus" (Kis. 4:18). Terlepas dari iman mereka kepada Yesus yang terasa aneh, tindak-tanduk mereka pada umumnya dapat diterima oleh para penguasa Yahudi. 

Gereja Di Antiokhia 

Kota Antiokhia dibangun oleh Seleukus Nicator dalam tahun 300 Sm. Di bawah pemerintahan raja-raja Seleuk yang pertama ia berkembang dengan pesat. Pada mulanya kota ini sepenuhnya dihuni oleh orang-orang Yunani, namun kemudian orang-orang Siria menetap di luar tembok kota dan akhirnya menyatu dengan kota sejalan dengan perkembangan kota itu. Unsur penduduk yang ketiga adalah orang-orang Yahudi, banyak di antaranya yang merupakan keturunan dari penghuni kota pertama yang didatangkan dari Babilon. Mereka mempunyai hak-hak yang sama dengan orang Yunani dan tetap menjalankan ibadat mereka di sinagoge-sinagoge. Di bawah pemerintahan Romawi, Antiokhia menjadi makmur. Karena merupakan pintu gerbang militer dan perniagaan ke Timur, ia menjadi kota yang terbesar setelah Roma dan Aleksandria. 

Tahun berdirinya gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga 40. Untuk mendapatkan ukuran dan reputasi yang cukup berarti hingga dapat menarik perhatian gereja di Yerusalem (11:22) tentu dibutuhkan beberapa waktu. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi Antiokhia, di mana ia bekerja entah selama berapa lama, dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar menjadi pembantunya (11:22-26). Mereka bekerja bersama-sama selama; sekurang-kurangnya satu tahun setelah itu (11:26) sebelum Agabus meramalkan bahaya kelaparan yang akan menimpa dunia "pada zaman Claudius" (11:28). Makna yang tersirat dalam ayat ini adalah bahwa; ramalan ini diberikan sebelum Claudius naik takhta pada tahun 41, dan bahwa bahaya kelaparan terjadi sesudah itu. Data kronologis lainnya diperoleh dari penyebutan tentang Herodes Agripa I (12:1), yang meninggal dunia pada tahun 44. Mungkin pelayanan di Antiokhia dimulai sekitar tahun 33 hingga 35. Bila dana bantuan kelaparan dikumpulkan sekitar tahun 44, Barnabas pasti telah mulai menjalin hubungannya dengan Antiokhia sekitar tahun 41, yang berarti bahwa Paulus mulai menjalankan tugasnya di sana pada tahun 42. 

Meskipun kronologi ini tidak dapat dikatakan pasti, ia cukup sesuai dengan perkembangan kegiatan Paulus yang diketahui. Bila ia menjadi percaya dalam tahun 31 atau katakanlah 32, dan menghabiskan waktu tiga tahun di kawasan Damsyik (Galatia 1:18), ia akan tiba di Yerusalem sebelum tahun 35. Bila ia menghabiskan waktu selama satu atau dua tahun di Yerusalem sebelum kembali ke Tarsus (Kisah 9:28-30), maka ketika Bamabas datang untuk menyertainya dalam tugas barunya ia tentu sudah berkhotbah selama lima tahun di Tarsus dan Kilikia. Nampaknya ada suatu kesenjangan waktu yang cukup besar di sini, tetapi banyak kesenjangan lain dalam karangan Lukas mengenai perkara yang sama pentingnya hingga keadaan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa. 

Gereja di Antiokhia cukup penting, karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk dari gereja bagi bangsa-bangsa lain. Rumah di keluarga Kornelius tidak dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsa-bangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin gereja. Secara bergantian, Petrus, Barnabas, Titus, Yohanes Markus, Yudas Barsabas, Silas, dan bila naskah Barat benar, penulis dari buku ini sendiri, semuanya dihubungkan dengan gereja di Antiokhia. Patut untuk diperhatikan bahwa dapat dikatakan mereka semuanya terlibat dalam misi kepada bangsa-bangsa lain dan disebut-sebut dalam Surat Kiriman Paulus maupun di dalam Kisah Para Rasul. 

Kitab-kitab Injil mungkin berasal dari Antiokhia. Kemungkinan hubungan di antara Markus dan Lukas maupun kenyataan pertemuan mereka di Roma barangkali dapat menjawab beberapa masalah yang sering diperdebatkan dalam masalah Sinoptis. Ignatius, uskup di Antiokhia pada akhir abad yang pertama, nampaknya nyaris hanya mengutip dari Matius, ketika ia berbicara mengenai Injil, seolah-olah Injil Matius adalah satu-satunya Injil Sinoptis yang diketahuinya. Streeter mempertahankan pendapatnya secara panjang lebar bahwa Injil Matius berasal dari Antiokhia, karena ia digunakan oleh Ignatius dan di dalam Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul, keduanya menurutnya adalah dokumen-dokumen orang Siria. Bila ketiga Injil Sinoptis menanamkan dasarnya pada suasana yang hidup dalam khotbah lisan gereja di Antiokhia, pelayanan firman mereka kepada dunia dapat dikatakan merupakan warisan dari gereja ini kepada bangsa-bangsa lain yang percaya dari masa yang lalu maupun masa sekarang. 

Gereja di Antiokhia juga tersohor karena guru-gurunya. Di antara mereka yang disebut di dalam Kisah Para Rasul 13:1, hanya Barnabas dan Paulus yang baru dikenal dalam beberapa penyebutan belakangan, tetapi pelayanan mereka pasti telah membuat gereja ini terkenal sebagai pusat pengajaran. Jelas sekali bahwa Antiokhia telah mengalahkan Yerusalem sebagai pusat pengajaran Kristen dan sebagai markas misi penginjilan. 

Mungkin perkembangan Antiokhia makin dipercepat oleh penindasan Herodes dalam tahun 44. Gereja di Yerusalem selalu dalam keadaan kekurangan dana, karena banyak anggota jemaat yang miskin yang harus selalu ditunjang oleh sumbangan-sumbangan. Bahaya kelaparan itu pasti makin melemahkan mereka, meskipun ada dana sumbangan dari Antiokhia (11:28-30). Penindasan di bawah Herodes mengakibatkan kematian Yakobus, anak Zebedeus (12:2), dan Petrus juga nyaris kehilangan nyawanya (12:17). Kisah selingan dalam 12:1-24 hanya memberikan gambaran sekilas tentang keadaan di Yerusalem, tetapi ia menunjukkan gereja yang tetap setia bertahan meskipun tekanan begitu berat, yang terus berusaha mempertahankan keberadaannya sampai saat yang terakhir. 

Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini. "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" seperti Herodian berarti "milik Herodes". Mungkin nama ini dimaksudkan sebagai suatu ejekan, tetapi watak para Rasul dan kesaksian yang mereka sampaikan memberikan arti yang menyanjung. 

Misi Kepada Bangsa-Bangsa Lain 

Pada tahun 46 atau sekitarnya gereja di Antiokhia telah tumbuh menjadi suatu kelompok yang mantap dan aktif. Mereka memperdalam pengetahuannya tentang iman, reputasi mereka sudah tersohor di seluruh kota hingga mereka sudah dianggap sebagai suatu kelas tersendiri sebagai orang-orang Kristen, dan mereka mendukung suatu ekspedisi ke Yerusalem untuk menyampaikan sumbangan bagi mereka yang menderita karena kelaparan. Ketika mereka sedang menjalankan ibadah sebagaimana biasanya, datanglah panggilan untuk meng-"khususkan Barnabas dan Saulus" (13:2) untuk melakukan suatu tugas khusus. Untuk menaati perintah Roh Kudus, gereja mengkhususkan kedua orang ini untuk menjalankan tugas yang baru dan mengutus mereka untuk menjalankan misinya. 

Siprus 

Tujuan pertama dari kegiatan mereka adalah Siprus, tempat asal Barnabas (4:36). Mungkin gereja mempunyai beberapa kepentingan di sana, karena "orang Siprus" (11:20) termasuk di antara mereka yang pertama-tama mengabarkan Injil di Antiokhia. Barnabas dan Saulus, disertai Yohanes Markus sebagai pembantu mereka, mengunjungi sinagoge-sinagoge dan memberitakan kabar baru di sana. Ketika berselisih dengan Elimas yang berusaha membelokkan iman gubernur, Paulus tampil ke depan. Karena ia tahu akan ilmu-ilmu setan yang dianut Elimas, Paulus mengecamnya di muka umum, dan mengutuknya. Gubernur terpesona melihat hukuman yang segera jatuh pada Elimas, dan "percaya" (13:12). 

Tidak ada catatan statistik tentang hasil penginjilan di Siprus, tetapi ada suatu perubahan penting yang terjadi. Dalam Kisah Para Rasul 13:2 kelompok mereka disebut "Barnabas dan Saulus," yang menempatkan Barnabas pada posisi yang lebih menonjol sebagai penginjil yang lebih senior, dan menyebut Paulus dengan nama Yahudinya. Dalam Kisah Para Rasul 13:13 peristilahan yang dipakai berubah menjadi "Paulus dan kawan-kawannya," dengan menggunakan nama Yunani Paulus. Dari titik inilah di kisah ini Paulus menjadi tokoh yang paling menonjol. Pelayanan di Siprus mengungkapkan bakat kepemimpinan Paulus dan menempatkannya sebagai pemimpin misi dengan suara bulat. 

Dalam periode yang sama ada dua peristiwa lain yang terjadi. Paulus meninggalkan Siprus dan pindah ke Asia Kecil, dan Yohanes Markus mengundurkan diri dari kelompok mereka serta kembali ke Yerusalem. Bagi Paulus ini adalah awal dari proyek penginjilan sedunia untuk mewartakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum terjamah. Markus nampaknya seolah-olah telah menyimpang secara tidak benar dari suatu program yang sudah ditetapkan. Apakah ia merasa iri hati karena saudaranya, Barnabas, yang didudukkan di tempat kedua, atau ia merasa takut memasuki wilayah yang liar di pedalaman Asia Kecil, atau ia mempunyai perbedaan prinsip dengan Paulus, tidak pernah diceritakan. Yang jelas ia tidak mau melanjutkan perjalanannya lebih lanjut dan kembali pulang. 

Antiokhia di Pisidia 

Khotbah Paulus di dalam sinagoge di Antiokhia di Pisidia, dikutip secara panjang lebar oleh Lukas (Kisah 13:16-43). Secara umum gaya pidatonya menyerupai gaya Stefanus, karena ia menggunakan cara pendekatan dengan mengulang kembali sejarah hubungan Allah dengan bangsa Israel. Tema utamanya diperkenalkan dalam ayat 23: "dari keturunannyalah sesuai dengan yang telah dijanjikannya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus . . . " Pengembangan tema ini tidak jauh menyimpang dari khotbah-khotbah apostolik yang telah dikutip dalam pasal-pasal Kisah Para Rasul terdahulu, tetapi ketika Paulus tiba pada puncak pidatonya ia mengemukakan suatu unsur yang baru: 

Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa (Kisah 13:38-39). 

Meskipun Petrus telah memaklumkan kebangkitan dan pengampunan dari dosa melalui Kristus (2:32, 36, 38; 3:15, 19; 5:30-31; 10:40, 43), baru pertama kali itulah ada orang mengatakan dengan jelas bahwa setiap orang dapat dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Dibenarkan berarti dinyatakan benar, atau secara hukum dianggap benar. Jaminan akan keselamatan dapat diperoleh hanya dengan iman kepada . Allah, berarti hukum Taurat akan kehilangan artinya dan menjadi sia-sia. 

Ini adalah suatu terobosan yang baru dan berani dalam kebenaran tentang Kristus. 

Akibat dari pernyataan ini timbul dua macam reaksi. Di satu pihak ada tanggapan luar biasa atas pidato Paulus, karena "pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah" (13:44). Di lain pihak, orang-orang Yahudi yang menentang mereka penuh dengan perasaan dengki hingga merasa iri hati dan memfitnah (13:45). Akhirnya Paulus menyatakan bahwa ia akan berpaling kepada bangsa-bangsa lain, yang sebagian daripadanya sudah menjadi percaya (13:48). Maka gereja yang baru di Antiokhia di Pisidia tidak berpusat pada orang-orang Yahudi melainkan pada orang-orang bukan Yahudi.

Ikonium, Listra, dan Derbe 
Keadaan yang sama terjadi di kota Ikonium, yang terletak agak ke sebelah tenggara dari Antiokhia. Jemaat Kristen yang subur dibangun di dalam sinagoge, tetapi pertentangan pendapat begitu hebat hingga para pengkhotbah diusir dari kota dan bersembunyi di kota-kota sekitarnya, yaitu Listra dan Derbe. 

Di Listra Paulus menghadiri orang-orang yang memuja berhala. Imam dewa Zeus yang datang dari luar kota (14:13), ketika melihat bagaimana Paulus menyembuhkan orang lumpuh mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun ke bumi, dan mencoba untuk mempersembahkan kurban bagi mereka. Protes keras Paulus terhadap kesalahan ini, menimbulkan gagasan baru bagi metode pendekatannya ke dalam alam pemikiran kafir, yang buta terhadap Perjanjian Lama. Ia dan Barnabas berbicara tentang Allah yang esa yang memberikan "hujan dari langit dan ... musim-musim subur" (14:17), suatu titik pertemuan yang dapat diterima oleh para petani sederhana di kawasan itu apakah mereka mempunyai pengetahuan formal tentang teologi atau tidak. 

Pelayanan mereka di Listra terputus oleh serangan mendadak dari orang-orang Yahudi yang memusuhi mereka dari Antiokhia di Pisidia dan Ikonium, yang membujuk orang-orang yang kurang berpengetahuan dan mudah terpengaruh itu bahwa Paulus adalah seorang tukang propaganda yang berbahaya. Ia dilempari batu dan diseret ke luar kota seperti orang mati, tetapi ia sadar kembali lalu meninggalkan kota itu menuju ke Derbe untuk mengajar di sana. Setelah menghimpun sejumlah orang percaya di kota itu, Paulus dan Barnabas menoleh kembali kepada jejak-jejak yang mereka tinggalkan, untuk memperkokoh dan membenahi gereja- gereja yang telah mereka bangun. Mereka kembali ke Antiokhia Siria untuk melaporkan apa-apa yang telah diperbuat Allah bersama mereka, dan menunjukkan bagaimana " . . . ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (14:27). 

Tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa laporan perjalanan ini sangat penting. Hal ini membawa Paulus ke garis depan sebagai seorang pemimpin gereja, dan menyejajarkannya dengan para rasul (band. Galatia 2:7-9). Ia juga memberikan andil bagi pendidikan Yohanes Markus, meskipun nampaknya ia sudah membuat suatu kegagalan besar. Hubungan awal dengan Timotius mungkin terjadi selama perjalanan ini, karena Paulus berbicara tentang pengalamannya di kawasan ini ketika ia menulis kepada Timotius bertahun-tahun sesudahnya (2Timotius 3:11). Di atas segalanya, ia menandai suatu tolok ukur baru di dalam pemikiran teologis gereja, karena dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ini lahirlah ajaran Paulus tentang pembenaran karena iman. 

Roma dan Kekaisaran Romawi Kuno Saksi Pergulatan Kekristenan dan Paganisme

Sejarah Kota Roma memang dapat dikatakan sangat dramatis. Berada di kawasan Lazio dan menjadi Ibu Kota dari Italia, Kota Roma, yang saat ini ditinggali oleh 2,9 juta orang, menyimpan sejuta pergolakan sejarah antara paganisme Romawi kuno (agama penyembahan terhadap berhala) dan sebuah agama yang termasuk dalam lingkup agama samawi, yakni Kristen.

Negara Kota Vatikan dengan misa agung yang sering disiarkan beberapa stasiun televisi di Indonesia juga berada persis di pusat Kota Roma.

Dikelilingi oleh dinding setinggi ± 12 meter, dengan luas tidak lebih dari 0,44 kilometer persegi dan penduduk tidak lebih dari 900 orang, Vatikan merupakan negara-Kota terkecil di dunia. Sejarah Vatikan bisa dikatakan merupakan bagian dari sejarah Roma yang tidak terpisahkan.

Sejarah awal tersebarnya Kristen di Roma sendiri dimulai dari kegiatan misionaris Paulus. Paulus awal mulanya menyebarkan ajaran kristen di Asia Kecil (kawasan Turki dan sekitarnya di masa kini) dan Yunani yang masa itu berada dibawah Romawi, sebelum akhirnya menyebarkannya ke Kota Roma.

Di masa itu penganut Kristen awal, yang mayoritas kaum miskin dan budak, menghadapi banyak ancaman penyiksaan dan bahkan kematian oleh  Kaisar dan petinggi Romawi yang masih pagan. Hanya setelah Kaisar Romawi Konstantin Agung (272M-337M) berkuasa dari tahun 306-337M, agama Kristen memasuki masa keemasannya. Konstantin secara resmi melegalkan ritual Kristen di publik pada 313M namun ia tidak pula melarang paganisme dan sejak itu gereja-geraja dibangun diseluruh pelosok negeri Romawi.

Terlepas dari sejarawan yang meragukan kekristenan Konstantin dan alasan mengapa ia begitu membela agama Kristen yang baru ini, diketahui bahwa Konstantin dibaptis sesaat sebelum meninggalnya dan ibunya Helena merupakan seorang Kristen.

Sejarawan pun tidak dapat memastikan apa model Kristen yang dianut oleh Konstantin dan ibunya. Sebagai catatan bahwa model agama Kristen pada masa awal berbeda dengan Kristen setelah zaman Konsili Nicaea.

Konsili Nicaea sendiri dilangsungkan pada tahun 325M untuk memutuskan kepercayaan orthodox Kristen bagi semua gereja. Pada masa itu terjadi perselisihan didalam Gereja Kristen Alexandria antara Pendeta Arian (250-336M) dari Alexandria Mesir yang anti-trinitas (ia meyakini bahwa Yesus adalah anak Tuhan, diciptakan tidak dilahirkan dari Tuhan Bapa, namun terpisah dari Bapa dan juga tunduk pada Bapa, dan ia menolak gagasan Yesus sebagai Tuhan Anak) dan Uskup Alexandre I (wafat 326/328M) dan Pendeta Athanasius (296-373M) juga dari Alexandria Mesir (keduanya meyakini bahwa Yesus adalah dilahirkan tidak diciptakan, Anak Tuhan dari zat Bapa, menyatu dengan Bapa dan juga sebagai Tuhan).

Konsili Nicaea sendiri akhirnya mengokohkan pandangan yang terakhir ini dan menegaskan juga bahwa Tuhan Anak dan Bapa selalu abadi bersama-sama dan tidak ada zaman ketika Anak tidak bersama bapa, dan menolak pandangan bahwa Anak dapat binasa atau berubah, melainkan selalu sempurna.

Konsili Nicea
Jikalau ajaran Arian yang diunggulkan dalam sidang Konsili Nicaea tentulah wajah Kristen lebih mirip dengan ajaran Islam

Menjelang akhir masa kekuasaannya, Konstantin diketahui memerintahkan penghancuran beberapa kuil-kuil didalam wilayah kekuasaannya.

Adalah putranya Konstantius II yang membuat hukum anti-Pagan yang tidak hanya menutup seluruh kuil  paganisme bahkan melarang ritual Pagan dengan ancaman hukuman mati. Persekusi terhadap pagan sempat berkurang dari tahun 361-375M dibawah Kaisar Jovian, Valentinian I, dan Valens, namun mencuat kembali setelah itu dibawah kepemimpinan Uskup Ambrose dari Milan. Kaisar Theodosius bahkan menerbitkan “dekrit Theodosian” yang menyatakan perang terhadap paganisme, yang kembali melanjutkan persekusi dan pelarangan terhadap ibadah di kuil-kuil pagan.

Sekilas sejarah kekaisaran Romawi ini mengisahkan kepada kita pentingnya arti kekuasaan bagi penyebaran agama. Kristen yang datang dengan terinjak-injak di dalam kekaisaran Romawi akhirnya mencuat dan unggul sebagai agama kekaisaran dan bahkan berbalik melakukan persekusi yang lebih sistematis terhadap kaum pagan.  Relasi kekuasaan terhadap agama didalam gereja Kristen juga berpengaruh besar dalam membangun standar orthodoxy. Jikalau ajaran Arian yang diunggulkan dalam sidang Konsili Nicaea tentulah wajah Kristen sangatlah berbeda pada masa kini dan mungkin ajaran kristen akan lebih dekat dengan ajaran Islam yang berlandaskan Tauhid atau Keesaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun sejarah konsili mencatat bahwa dari pekiraan sekitar 250 hingga 318 hadirin pada sidang konsili tersebut, hanya dua orang yang mendukung Arian. Dua orang ini bersama Arian akhirnya diasingkan ke Illyria yang terletak dikawasan Balkan sekarang.

Perkembangan Kristen yang kemudian menjelma menjadi sebuah agama kekaisaran dan mengawali persekusi terhadap kaum pagan tidak berarti bahwa unsur-unsur ajaran Kristen terlepas dari pengaruh pagan.