Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jul 8, 2016

Agama di tanah Batak

Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah “dewa-dewa”. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada arwah leluhur serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan).

Orang Batak percaya kepada arwah leluhur yang dapat menyebabkan beberapa penyakit atau malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan orang Batak di dunia ini dan yang sangat dekat sekali dengan aktifitas manusia.

Sebelum orang Batak mengenal tokoh dewa-dewa orang India dan istilah “Debata”, sombaon yang paling besar orang Batak (kuno) disebut “Ompu Na Bolon” (Kakek/Nenek Yang Maha Besar). Ompu Nabolon (pada awalnya) bukan salah satu dewa atau tuhan tetapi dia adalah yang telah dahulu dilahirkan sebagai nenek moyang orang Batak yang memiliki kemampuan luar biasa dan juga menciptakan adat bagi manusia. Tetapi setelah masuknya kepercayaan dan istilah luar khususnya agama Hindu; Ompu Nabolon ini dijadikan sebagai dewa yang dipuja orang Batak kuno sebagai nenek/kakek yang memiliki kemampuan luar biasa. Untuk menekankan bahwa “Ompu Nabolon” ini sebagai kakek/nenek yang terdahulu dan yang pertama menciptakan adat bagi manusia, Ompu Nabolon menjadi “Mula Jadi Nabolon” atau “Tuan Mula Jadi Nabolon”. Karena kata Tuan, Mula, Jadi berarti yang dihormati, pertama dan yang diciptakan merupakan kata-kata asing yang belum pernah dikenal oleh orang Batak kuno. Selanjutnya untuk menegaskan pendewaan bahwa Ompu Nabolon atau Mula Jadi Nabolon adalah salah satu dewa terbesar orang Batak ditambahkanlah di depan Nabolon atau Mula Jadi Nabolon itu kata ‘Debata’ yang berarti dewa (jamak) sehingga menjadi “Debata Mula Jadi Nabolon”.

Parmalim sebenarnya adalah identitas pribadi, sementara kelembagaannya disebut Ugamo Malim. Pada masyarakat kebanyakan, Parmalim sebagai identitas pribadi itu lebih populer dari “Ugamo Malim” sebagai identitas lembaganya Berjuang bagi Parmalim bukan hal baru, karena leluhur pendahulunya dari awal dan akhir hidupnya selalu dalam perjuangan. Perjuangan dimulai sejak Raja Sisingamangaraja menyatakan “tolak” kolonialisme Belanda yang dinilai merusak tatanan kehidupan masyarakat adat dan budaya

Raja Monang Naipospos adalah Pengurus Pusat Ugamo Malim, sebuah agama kepercayaan yang lahir dari kebudayaan Batak. Agama ini merupakan peninggalan Raja Batak Sisingamangaraja. Kini pusat agama Parmalim terbesar berada di Desa Hutatinggi, 4 kilometer dari kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara. Orang lebih mengenalnya sebagai Parmalim Hutatinggi. Di desa ini ada rumah ibadah orang Parmalim yang disebut Bale Pasogit.

Mereka beribadah setiap hari sabtu dan memiliki dua hari peringatan besar setiap tahunnya yaitu Sipaha Sada dan Sipaha Lima. Sipaha Sada ini dilakukan saat masuk tahun baru Batak yang dimulai setiap bulan Maret. Dan Sipaha Lima yang dilakukan saat bulan Purnama yang dilakukan antara bulan juni-juli.

Dalam upacara, laki-laki yang telah menikah biasanya mengunakan sorban seperti layaknya orang muslim, sarung dan Ulos (selendang batak). Sementara yang wanitanya bersarung dan mengonde rambut mereka. Semua acara Parmalin dipimpin langsung oleh Raja Marnokkok Naipospos. Kakek Raja Marnokkok adalah Raja Mulia Naipospos yang menjadi pembantu utama Sisingamangaraja XI. Kini penganut Parmalin ini mencapai 7000 orang termasuk yang bukan orang batak. Mereka tersebar di 39 tempat di Indonesia termasuk di Singkil Nanggroe Aceh Darussalam.

Kitab-Kitab Dalam Agama Parmalim
Kitab Batara Guru
Kitab ini berisi seluruh rahasia Allah tentang terjadinya bumi dan manusia beserta kodrat kehidupan dan kebijakan manusia yang tercermin pada Batara Guru yang mempunyai lambang hitam.
Kitab Debata Sorisohaliapan
Kitab ini berisi tatanan hidup manusia, mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak dapat dilakukan sesuai dengan titah dan peraturan sesuai dengan budaya masing-masing.
Kitab Mangala Bulan
Kitab Mangala Bulan menerangkan tentang cerminan kekuatan Allah. Kitab ini menceritakan kekuatan manusia dalam menjalani hidup termasuk bumi dan seni bela diri batak dalam menjalani hidup sehari-hari. Kitab ini terbagi atas dua jenis
Debata Asi-Asi
Kitab ini menerangkan tentang inti dari Kitab Batara Guru, Debata Sorisohaliapan, Mangala Bulan (Debata Natolu) dan induk dari segala kitab. Kitab ini juga berisi tentang ilmu pengetahuan manusia, karena manusia adalah titisan Debata Asi-asi.
Kitab Boru Debata
Kitab ini berisikan tentang kehidupan wanita hingga memperoleh anak termasuk para putri titisan Allah juga mengenai para ratu air.
Kitab Pengobatan
Kitab ini menerangkan tentang bagaimana manusia agar selalu sehat, bagi orang sakit menjadi sembuh, bagaimana agar dekat dengan Tuhan dan bagaimana cara melaksanakan budaya ritual agar manusia itu sehat. Dalam kehidupan orang batak segala sesuatunya termasuk mengenai pengobatan selalu seiring dengan budaya ritual dan barang pusaka peninggalan leluhur jaman dahulu untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari mara bahaya. Kitab ini dibagi empat bagian.
Falsafah Batak
Kitab ini berisi tentang adat istiadat, budaya, hukum, aksara seni tari, seni musik terutama bidang pemerintahan kerajaan sosial ekonomi.
Kitab Pane Nabolon
Sejak zaman dahulu orang batak sudah mengetahui perjalanan bulan dan bintang setiap harinya. Parhalaan Batak adalah cerminan pane nabolon hukum alam terhadap setiap manusia. Apa yang akan terjadi besok, kelak menjadi apa anak yang baru lahirkan , bagaimana nasib seseorang, barang hilang serta langkah yang baik bagi orang Batak sudah merupakan kebiasaan pada zaman dahulu kala demikian halnya dalam mengadakan pesta ritual segalanya lebih dahulu membuka buku parhalaan (Buku Perbintangan). Kitab ini di bagi dua bagian.
Kitab Raja Uhum Manisia
Kitab ini adalah kitab yang berisi penghakiman.
Agama Islam

Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.

Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833. Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 – 1820 dan kemudian mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekera san senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.

Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.

Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya. Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam k eturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga Singamangaraja X.

Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding – satu lawan satu sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta ben danya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.

Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas ditangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar ?yang datang bersama pasukan Paderi, dibawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao) memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja.

Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela.

Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalamsuatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir. Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.

Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dib ebani dengan batu-batu supaya tenggelam.

Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu

Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah An gkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi’ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki.

Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan.

Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.

Pada 9 Rabiu’ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak!

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampi r seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak.

Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.

Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7/4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan.

Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan. Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan.

Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X. Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.

Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

Islam di tanah Batak. Yang meliputi tanah Batak pedalaman yang sering disebut pusat tanah Batak atau Batak utara, Barus, Mandailing, Angkola atau Batak selatan, Gayo, Simalungun, Karo dan kawasan Batak di sekitar sungai Asahan sampai ke hilir sungainya di sumatera bagian timur.

633-661

Disinyalir pemerintahan Khulafa’ Al Rasyidin telah menjalin hubungan dengan beberapa kerajaan di Sumatera, termasuk Batak. Tapi hubungan itu masih sekedar hubungan antar negara dalam sebuah upaya untuk menjalin hubungan kerjasama ekonomi. Kapur barus, emas, merica dan rempah-rempah lainnya. Sumatera dikenal dengan istilah Zabag. Beberapa catatan mengenai kedatangan utusan dan pelaut muslim ke Barus dan pelabuhan sumatera lainnya yang dikuasasi Sriwijaya pernah didokumentasikan.

661-750

Pelaut-pelaut Arab yang Islam mulai berdatangan secara intens di masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Kedatangan mereka untuk misi dagang tersebut telah membentuk kantong-kantong muslim di tanah Batak, khususnya Barus, yang tentunya terjadinya transfer ilmu pengetahuan kepada penduduk setempat melalui medium non-formal.

718-726

Islam berkembang pesat di tanah Barus. Di lain pihak Islam berkembang di Sumatera masuknya beberapa raja Sriwijaya kepada Islam. Diantaranya Sri Indra Warman di Jambi.

730

Pedagang Arab di pesisir Sumatera mendapat persaingan dari pedagang Cina yang sangat aktif menyebarkan agama buddha mahayana. Kerajaan-kerajaan buddha dengan Sriwijaya-nya menjadi kekuatan yang sangat kuat menguasai sebagian besar pelabuhan-pelabuhan penting di Nusantara. Diyakini orang-orang Sriwijaya ini juga berhasil memasukkan ajaran Buddha ke komunitas Batak khusunya yang di Mandailing.

851

Seorang pedagang Arab berhasil mendokumentasikan kedatangannya di kota Barus. Laporan Sulaiman itu pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36). Disinyalir bahwa para pendatang asing seperti Romawi, Yunani, Arab, Cina, India, Persia dan dari kepulauan Indonesia lainnya telah membangun kantong-kantong pemukiman yang lengkap dengan prasarana pendukungnya di Barus. Penambangan emas dan perkebunan kamper tersebut merupakan contoh bahwa kedua komoditas ini telah diolah secara modern dan bukan didapat secara tradisional di hutan-hutan.

Sekarang ini ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan (Dada Meuraxa dalam Ali Hasymi, Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia, bandung PT Al Ma’arif 1987). Kehidupan yang mapan itu pula memungkinkan mereka untuk hidup secara permanen di kawasan ini yang sudah pasti didukung oleh sarana pengembangan ilmu pengetahuan agar mereka tidak tertinggal dengan pesaing lainnya.

Sebagai pelabuhan yang sangat masyhur, Barus menjadi tujuan pendidikan tertua bagi masyarakat Batak. Hal ini dikarenakan bahwa Barus merupakan wilayah Batak yang paling mudah dicapai oleh orang-orang Batak dari pedalaman yang ingin menimba ilmu. Jalan-jalan menuju Barus telah dirintis rapi oleh pedagang-pedagang Batak yang ingin menjual kemenyan dan membeli produk jadi dari Barus. Sampai era tahun 1980-an, madrasah-madrasah tradisional Barus masih menjadi primadona tujuan pendidikan di tanah Batak sebelum akhirnya digantikan oleh Mandailing dengan pesantren-pesantrennya yang sudah modern.

Masuknya gelombang pedagang dan saudagar ke Barus mengakibatkan penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Fansur, Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya. Walaupun begitu, mayoritas masyarakat Batak di sentral Batak masih menganut agama asli Batak. Kelompok Marga Tanjung di Fansur, marga Pohan di Barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah.

900

Ibnu Rustih kurang lebih pada tahun 900 M menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79). Sementara itu tahun 902, Ibn Faqih melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).

Sambil berdagang, para saudagar-saudagar Batak, marga Hutagalung, Pasaribu, Pohan dan Daulay biasanya akan memberikan ceramah dan majlis pendidikan kepada penduduk Batak pedalaman. Tradisi ini masih berlangsung sampai era 1980-an di negeri Rambe, Sijungkang dan lain sebagainya. Di daerah Bakkara, komunitas yang aktif dalam pendidikan Islam adalah kalangan Marpaung sejak abad-15. Pembelajaran secara cuma-cuma dan gratis ini bisa diartikan sebagai taktik dagang untuk mendekatkan mereka dengan penduduk setempat.

976-1168

Paham syiah mulai datang ke daerah Barus. Hal itu karena ekspansi perdagangan Dinasti Fatimiyah Mesir.

1128-1204

Kota Barus, dan beberapa daerah Batak lainnya seperti Gayo pernah direbut oleh Kesultanan Daya Pasai, dengan rajanya Kafrawi Al Kamil. Ekspanasi ini terlaksana dengan motif monopoli perekonomian. Sistem pendidikan yang lebih sitematis dari kalangan syiah menjadi marak di Barus dan daerah Batak lainnya. Kalangan intelektual Batak mulai unjuk gigi. Khususnya mereka kawin campuran dengan pedagang asing dari Arab, India dan Persia. Namun penguasaan pihak Aceh tersebut berlangsung hanya sementara. Di Barus kepemimpinan Dinasti Pardosi yang menjadi penguasa tunggal menjadi kesultanan Batak muslim yang sangat kuat. Kesultanan ini mempunyai aliansi yang kuat dengan Aceh, khusunya Singkel dan Meulaboh.

Kerajaan Batak Hatorusan yang menjadi penguasa di Barus dan pesisir Sumatera bagian barat sejak abad sebelum masehi tidak tampak hegemoninya. Disinyalir keturunannya menjadi raja-raja huta di Sorkam dengan penduduknya yang bermarga Pasaribu. Pada abad ke-16, Kerajaan Hatorusan ini muncul kembali dengan naiknya Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menjadi Sultan Barus Hilir. Dinasti Pardosi kemudian dikenal sebagai Sultan Barus Hulu.

Persaingan politik antar mereka membuat kedua kesultanan ini sering berpecah. Sultan di Hulu lebih dekat kepada Aceh dan yang di Hilir lebih dekat kepada Minang. Minang dan Aceh sendiri merupakan dua kekuatan yang saling berkompetisi dalam memperebutkan pengaruh di Barus. Baik pada saat mereka Islam maupun Buddha dan Hindu

Kalangan intelektual Arab mulai berdatangan ke Barus. Ekspor kapur barus meningkat tajam seiring dengan meningkatnya permintaan. Barus menjadi rebutan banyak kekuatan asing dan lokal. Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai ekport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan.

Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aslinya adalah orang-orang Pakpak dan Toba (Associate Prof. Dr Helmut Lukas, Bangkok 2003).

1275-1292

Orang-orang Hindu Jawa mulai unjuk gigi dengan Ekspedisi Pamalayu kerajaan Singosari. Beberapa daerah Batak dijadikan menjadi kerajaan Hindu, khususnya yang di Simalungun. Pihak Hindu Jawa yang menggantikan kekuatan Buddha mengancam perdagangan saudagar-saudagar muslim yang didukung oleh Kesultanan Daya Pasai dengan beberapa sekutunya seperti Kesultanan Samudera Pasai, Kesultanan Kuntu Kampar, Aru Barumun, Bandar Kalipah dan lain-lain.

1285-1522

Kesultanan Samudera Pasai mulai tampak ke permukaan dengan raja pertamanya Sultan Malik Al Shaleh, seorang putera Batak Gayo, bekas prajurit Kesultanan Daya Pasai. Samudera Pasai berdiri di atas puing-puing kerajaan Nagur di sungai Pasai, yang dirobohkan oleh orang Batak Karo.

Uniknya, kesultanan ini telah memakai paham syafii yang menjadi kompetitor terhadap syiah yang sudah lama menancapkan kekuatan politik dan budayanya kepada masyarakat Indonesia. Sistem pendidikan ala syafii mulai masuk ke tanah Batak.

Kesultanan Samudera Pasai sekarang ini dikenal sebagai kesultanan Aceh karena secara geografis memang terletak di tanah Aceh. Namun sebagai sebuah kesultanan yang dibangun oleh maha putera Batak Gayo dari Nagur, posisinya tidak dapat dihilangkan dalam percaturan sistem budaya dan pendidikan di tanah Batak.

Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa Portugis.

Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya Pasai. Sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.

Sepeninggalannya (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299. Malik Al Mansyur sangat berbeda keyakinannya dengan keluarganya yang sunni. Dia adalah penganut taat syiah yang kemudian menjadikan kesultanannya sebagai daerah syiah. Dengan demikian dia dapat dijadikan sebagai tokoh Batak Syiah (Gayo). Semua ini dikarenakan karena dia menikah dengan putri Nur Alam Kumala Sari binti Sultan Muhammad Al Kamil, pemimpin di Kesultanan Muar Malaya yang syiah.

Kekuasaan Kesultanan Aru Barumun terletak di sekitar area sungai Barumun yang menjadi titik penting perdagangan antara Padanglawas sampai Sungai Kampar. Penghasilan negara didapat dari ekspor dan impor merica dan lain sebagainya. Kesultanan Aru barumun berhubungan baik dengan pihak Cina pada era Dinasti Ming (1368-1643). Pada periode 1405-1425 beberapa utusan dari Cina pernah singgah, di antaranya Laksamana Ceng Ho dan Laksamana Haji Kung Wu Ping. Di era ini paham Hanafi ikut serta dalam memperkaya khazanah sistem pendidikan di tanah Batak, karena para utusan dari Cina yang muslim tersebut menganut faham hanafi dalam praktek sehari-hari. Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Barumun adalah sebagai berikut:

Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)
Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)
Sultan Firman Al Karim (1336-1361)

Pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.
Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)
Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina
Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama ‘Adji Alasa’ (A dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.
Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.
Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.
Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun diserang oleh kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.
Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)
Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.
Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.
Semua anggota dinasti di atas adalah bersuku Batak Gayo. Saat menurunnya kekuasaan Kesultan Aru, maka pihak Aceh mulai menancapka hegemoninya di Aru Barumun. Pihak Aceh berkompetisi dengan para bajak laut Eropa di kekosongan kekuatan politik di daerah tersebut.

Pada tahun 1802-1816, di bawah pimpinan Fachruddin Harahap, seorang Batak Mandailing, dengan gelar Baginda Soripada, penduduk khususnya dari Gunung Tua merebut bagian hulu dari bekas Kesultanan Aru Barumun. Semua lambang kerajaan disita termasuk cap dan simbol-simbol lainnya.

1331-1364

Era Majapahit. Hegemoni kekuatan Imperialisme Hindu Jawa di Nusantara, tak terkecuali tanah Batak. Perkembangan pendidikan di tanah Batak sedikit tidak mengalami penambahan yang signifikan. Kekuatan penduduk yang menjadi militer di tanah Batak sibuk membendung kekuatan Majapahit dengan bantuan pihak Aceh. Panglima Mula Setia dan Samudera Pasai berhasil mengusir kekuatan Majapahit dari Sumatera bagian Utara. Pada tahun 1409, tentara Majapahit dimusnahkan oleh kekuatan tentara Pagarruyung di Minang, Sumatera Barat. Kekuatan Majapahit melemah

1345

Kedatangan para intelektual Arab dan asing kembali terjadi di beberapa kota pelabuhan di Sumatera. Tidak terkecuali Barus. Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112).

1450-1515

Samudera Pasai menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sosial mazhab syafii yang bersaing melawan pusat-pusat pendidikan dan sosial syiah yang banyak bertebaran di beberapa tempat di Sumatera termasuk tanah batak.

1451

Misi pedagang dari Malaka yang menjadi sekutu Samudera Pasai berhasil menjalin kerjasama ekonomi dengan para saudagar Batak di sepanjang sungai Asahan. Tokoh seperti Datuk Sahilan menjadi inspirator bagi saudagar Batak untuk masuk agama Islam (Syafii). Di pedalaman Batak pada tahun 1450-1500 M, Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dan Sungai Karang.

Antara tahun 1450-1818 M, kelompok marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Mesjid pribumi pertama didirikan oleh penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400 tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan Tanjung Balai. Setiap beberapa kilometer sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat transaksi komoditas perdagangan.

Dominasi pedagang muslim marga Hutagalung dalam bidang ekonomi di Tanah Batak terjadi antara 1513-1818 M. Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung. Marga Hutagalung menjadi komunitas Islam syiah di pedalaman Batak.

Abad 15-16

Barus dengan kepemimpinan Dinasti Pardosi yang menjadi Sultan Hulu dan Dinasti Pasaribu yang menjadi Sultan Hilir Barus, membangun sistem pendidikan yang modern di Barus. Zaman kejayaan pendidikan Islam muncul di era ini. Beberapa tokoh intelektual lokal bermunculan. Barus menjadi kota tujuan utama musafir asing.

Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya “Suma Oriental” bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedaganga asing.

Dia menambahkan bahwa di antara komoditas penting yang dijual dalam jumlah besar di Barus ialah emas, sutera, benzoin, kapur barus, kayu gaharu, madu, kayu manis dan aneka rempah-rempah (Armando Cartesao, The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Rodrigues, Nideln-Liechtenstein: Kraus Reprint Ltd,.1967; hal. 161-162).

Seorang penulis Arab terkenal Sulaiman al-Muhri juga mengunjungi Barus pada awal abad ke-16 dan menulis di dalam bukunya al-Umdat al-Muhriya fi Dabt al-Ulum al-Najamiyah (1511) bahwa Barus merupakan tujuan utama pelayaran orang-orang Arab, Persia dann India. Barus, tulis al-Muhri lagi, adalah sebuah pelabuhan yang sangat terkemuka di pantai Barat Sumatera

Pada pertengahan abad ke-16 seorang ahli sejarah Turki bernama Sidi Ali Syalabi juga berkunjung ke Barus, dan melaporkan bahwa Barus merupakan kota pelabuhan yang penting dan ramai di Sumatera. (Lihat. L.F. Brakel, Hamza Pansuri, JMBRAS vol. 52, 1979).

Sebuah misi dagang Portugis mengunjungi Barus pada akhir abad ke-16, dan di dalam laporannya menyatakan bahwa di kerajaan Barus, benzoin putih yang bermutu tinggi didapatkan dalam jumlah yang besar. Begitu juga kamfer yang penting bagi orang-orang Islam, kayu cendana dan gaharu, asam kawak, jahe, cassia, kayu manis, timah, pensil hitam, serta sulfur yang dibawa ke Kairo oleh pedagang-pedagang Turki dan Arab. Emas juga didapatkan di situ dan biasanya dibawa ke Mekkah oleh para pedagang dari Minangkabau, Siak, Indragiri, Jambi, Kanpur, Pidie dan Lampung. (Lihat B.N. Teensma, “An Unkown Potugese Text on Sumatera from 1582″, BKI, dell 145, 1989)

Agama Kristen

Pekabaran Injil atau Zending sudah memasuki Indonesia pada masa pendudukan Portugis di kepulauan Maluku (1512-1605) ditandai dengan menetapnya beberapa misionaris Yesuit (Katolik Roma) di Ternate, pada tahun 1522.

Penakluk VOC (Verenigde OosIndicshe Compagine) terhadap Portugis di Maluku pada tahun 1605 memulai babak baru Pekabaran Injil oleh Gereja Protestan. Akan tetapi, awal abad ke-19 tetap dicatat sebagi masa-masa bersejarah Pekabaran Injil di Indonesia, dengan bekerjanya sejumlah organisasi Zending oleh Gereja-gereja Protestan dari Belanda dan Jerman (baca : Pekabaran Injil di Indonesia).

Organisasi Pekabaran Injil Belanda yang sudah melakukan misinya di Indonesia adalah Nederlandse Zendeling Genootschap (NZG), dimulai selama Belanda di bawah kekuasaan Perancis (1795-1813) dan Indonesia di bawah pemerintahan sementara Inggris (Gubenur Jenderal Refles (1811-1816). Perhimpunan Belanda lainnya yang menyusul adalah Nederlandse Zendingsvereniging (NZV),

Utrechtse Zendingsvereniging (UZV), sedangkan dari Jerman adalah Rheinische Missinsgesekkschaft (RM). Biasanya pekabaran Injil dilakukan tersebar di koloni-koloni pemerintah Belanda di sejumlah pulau di Indonesia, antara lain di Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Irian, Halmahera, Buru, Poso, Sangir, dan Talaud.

Ketika pekabaran Injil sudah dilakukan secara sistematis di sejumlah daerah di Indonesia tidak demikian halnya di Tanah Batak (Utara). Kawasan ini masih sangat tertutup seperti dikelilingi kabut misteri. Suku Batak Toba yang mendiaminya tetap asyik dengan kehidupan sosial yang dicengkeram agama suku, masih pele begu, peradaban yang cenderung primitif karena hidup dalam permusuhan, perbudakan, penculikan, perampokan, perjudian, dan kanibalisme. Maka istilah “Jangan coba-coba mendekati orang Batak” memaksa Burton dan Ward menarik langkah mereka mundur dari Tanah Batak saat berkunjung Juli 1824. Burton dan Ward adalah utusan Babtist Church of England, tercatat sebagai misionaris pertama yang mengunjungi Tanah Batak.

Setelah kunjungan Burton dan Ward, ditaksir pada tahun 1825, pasukan Padri dan Bonjol, Minagkabau yang dipimpin Tuanku Rao menyerang Tanah Batak. Serangan mendadak berkekuatan 15.000 pasukan berkuda membasmi lebih dari separuh komunitas Batak Toba, peristiwa genocide (pembantaian suku) yang sangat mengerikan dalam sejarah Batak. Sebagian korban meninggal diakibatkan epidemi ganas yang berasal dari bangkai binatang peliharaan dan mayat-mayat yang tidak sempat dikubur.

Penyerangan Padri menimbulkan trauma di kalangan suku Batak Toba dan sangat menaruh curiga pada setiap pendatang. Bisa jadi sikap itulah yang diperlihatkan peristiwa Samuel Munson dan Henry Lyman yang mati martir di Sisangkak (sekarang masuk Kecamatan Adiankoting) 28 Juli 1834. Dua misionaris utusan Gereja Amerika dibunuh Raja Panggalamei. Mayat mereka di pertontonkan di sebuah pekan di Lobupining, tidak jauh dari Sisangkak, sebagai tanda kemenangan. Konon, mayat kedua martir itu dimakan hingga tinggal kerangka.

Mundurnya Burton Ward serta tewasnya Munson-Lyman menjadi alasan pembenaran bagi pemeritah Hindia Belanda melarang para misionaris memasuki Tanah Batak. Belanda sendiri sudah menguasai Sumatera Barat dan Tanah Batak Bagian selatan (Mandailing dan Angkola) setelah berhasil menaklukkan pasukan Padri dalam perang yang disebut Padri Oorlog (perang Padri) pada tahun 1837. Pada tahun itu juga Belanda telah menarik garis-garis perbatasan antara daerah-daerah Batak yang mereka kuasai dengan daerah Batak yang belum dikuasai. Daerah Batak yang diuasai Belanda adalah pantai Barus, Natal, Mandailing, Barumun, Sosa, Padang, Batak Angkola, dan Sisirok. Daerah-daerah itu disebut Keresidenan Tapanuli dipimpin seorang residen berkedudukan di Sibolga. Sedangkan daerah Batak yang belum dikuasai Belanda disebut “Daerah Batak Merdeka” (De Onafhankelijke Bataklanden) terdiri dari kawasan yang didiami Batak Toba, yaitu Silindung, Humbang, Toba, dan Samosir.

Misionaris Ermelo

Secara umum Pekabaran Injil di dunia adalah mengkuti pembukaan segala benua melalui gerakan imperialisme dan kolonialisme. Maka, tak heran apabila mesionaris perintis di Tanah Batak tertahan di Sipirok dan Angkola yang sudah masuk dalam penaklukan Belanda, belum masuk ke Tanah Batak sebelum daerah itu betul-betul masuk dalam kekuasaan Belanda .

Setelah Burton-Ward dan Munson-Lyman, misionaris perintis lain yang menyusul adalah Gerrit van Asselt. Dia diutus Ds Wetteven dari kota Ermello, Belanda, tiba di Sumatra Mei 1856 dan berpos di Sipirok ,1857. Organisasi yang megirimkan Gerrit van Asselt sangat kecil, bahkan dalam buku Sejarah Gereja, karangan Dr.H .Berkog dan Dr. IH Enklar sama sekali tidak disebut-sebut. Ada yang mencatat Zending Ermello berada di bawah naungan Nederlandse Zendingsvereniging (NZV). Akan tetapi, karena NZV baru berdiri pada tahun 1856, besar kemungkinan Zending Ermello berada di bawah naungan Nederandse Zending-Genootschap (NZG) yang berdiri pada tahun 1797, sebuah organisasi Zending dari mana NZV berasal.

Karena ketiadaan dana Gerrit van Asselt pun membiayai sendiri tugas–tugasnya sebagai penginjil. Hasilnya tentu tidak maksimal karena konsentrasinya terbagi sebagai opzichter (pelaksana) pembangunan jalan di Sibolga dan kemudian menjadi opzichter (administrator) gudang kopi milik Belanda di sipirok. Zending Ermelo mengirimkan lagi beberapa misionaris mendaampingi Gerrit van Asselt, yaitu FG Betz, Dammerboer, Koster, dan van Dallen. Misionaris menyusul ini bekerja sebagai tukang, mengingatkan model Pekabaran Injil yang dilakukan Ds. OG Heldring di Irian, Sangir dan Talaud.

Koster dan van Dalen ditempatkan di Pargarutan. Van Dallen kemudian pindah ke Simapilapil. Dammerbooer jadi opzichter di sekolah Belanda sebelum ke Huta Rimbaru dan masuk ke Mission Java Komite. Gerrit van Asselt sendiri pada 31 Maret 1961 membaptis orang Batak Kristen pertama, Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon di Sipirok.

Misionaris Utasan Rheinische Missionsgesellschaft

Semangat Pekabran Injil de Eropah tak lagi tergantung pada kerjasama suatu Gereja dengan pemerintahnya yang melakukan kolinialisasi ke berbagai benua. Di Jerman, di tepi sungai Zending. Rheinische Missionsgesellschaft (RM) yang berdiri pada tahun 1818 mengutus misionaris ke daratan luas dan suku-suku bangsa besar di Afrika dan Tiongkok, termasuk ke Indonesia yang berada di bawah penguasaan Belanda.

Di Indonesia, RM pertama sekali mengkosentrasikan perkerjaannya di Kalimantan Tenggara sejak tahun 1836. Pada tahun 1859 meletus Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Hidayat. Perang tersebut menelan banyak korban tewas-termasuk 4 pendeta, 3 istri, dan 2 anak Mereka. RM terpaksa mengundurkan Pekabaran Injil di sana lalu memindahkannya ke Tanah Batak (1861), Nias (1865), Mentawai (1901), dan Enggano (1903), Pekabaran Injil yang ditinggalkan RMG di Kalimantan Tenggara diteruskan Basler Mission Dari Swiss.

Pemindahan Zendeling dari Kalimantan ke Tanah Batak terkait dengan penugasan pimpinan RM, Inspektur Dr.Friedrich Fabri kepada misionaris yang tertahan di Batavia akibat Perang Banjar, pada tahun 1860. Ketika itu Febri berkunjung ke Amsterdam, Belanda. Dia sangat tertarik pada dokumen van der Took mengenai suku Batak Toba yang ditelitinya pada tahun 1849. Fabri mengutus Hoefen mengunjungi Tanah Batak, dan berdasarkan laporan Hoefen RM menugaskan dua misionaris, Klammer yang bertahan di Batavia dan Heine yang langsung didatangkan dari Barmen, ke Tanah Batak. Keduanya tiba di Sibolga 17 Agustus 1961 dan memilih Sipirok sebagai pos utama. Heine dan Klammer tinggal melapor ke residen Tapanuli di Sibolga karena Fabri sudah lebih dahulu meminta izin atas penugasan kedua misionaris itu ke pemerintahan Belanda.

Dengan demikian telah bertugas misionaris Sending Emelo dan RM di perbatasan Tanah Batak Utara dan Tanah Batak Selatan. Karena Pekabaran Injil bersifat supra nasional, atas koordinasi Zending Emelo dan RM, Betz dan van Asset bergabung dengan Heine dan Klammer di bawah naungan RM. Keempat misionaris itu melakukan rapat pembagian tugas pada 7 Oktober 1861. Bentz mendapat tugas di tempat pelayanan yang telah dia buka sebelumnya, yaitu Bungabondar, Klammer di Sipirok, sedangkan Heine dan van Asselt di Pangaloan. Tanggal pembagian tugas inilah yang kemudian dicatat sebagai hari jadi atau lahirnya HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).

Missionaris Nommensen


Ingwer Ludwig Nommensen (1834-1918) merupakan tokoh sentral Pekabaran Injil di Tanah Batak. Dialah yang kemudian dijuluki sebagai “Rasul Batak” yang menjadikan suku Batak Toba menjadi suku bangsa maju.

Dia menginjakkan kaki di Barus Juni 1862, ditempatkan oleh rekan-rekan pendahulunya di Parausorat Desember 1862, lalu menginjakkan kaki di Silindung November 1863. Pekerjaan di perbatasan, menurutnya tidak memadai karena dominan penduduknya sudah memeluk agama Islam. Tak ada cara lain kecuali memasuki Tanah Batak, Silindung adalah pilihan utama karena jumlah penduduknya sangat besar, meskipun ditentang pemerintah Hindia Belanda, harus ditempuh melalui medan yang berat yaitu hutan belantara yang penuh marabahaya, serta kemungkinan ditolak bahkan bisa terbunuh.

Dr.H.Berkof dan Dr.IH Enklaar dalam sejarah Gereja mencatat, ”sungguhpun mula-mula pekerjaannya (pekerjaan Nommensen) amat susah dan ia sering ditimpa sengsara dan bahaya, tetapi ia bernubuat: Aku melihat seluruh daerah ini ditaburi dengan gedung-gedung gereja dan sekolah! Sekarang ramalan itu sudah di genapi, karena oleh strategi Zending yang cakap, pimpinan yang kuat, pekerja yang banyak dan latihan pengantar-pengantar jemaat dan guru sekolah dengan secukupnya dari permulaan, maka lama kelamaan Gereja Kristus di Tanah Batak meluas sampai menjadi Gereja muda paling besar di dunia.”

Lothar Schreiner,dalam bukunya Adat dan Injil membuat tahapan sejarah pengkristenan orang Batak denga merujuk pada tugas pelayanan Ingwer Ludwig Nommensen dan di mulainya pekabaran Injil oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft) di tanah Batak.

1861-1881:
di sebut sebagai peletakan dasar-dasar pertama perkabaran Injil oleh Nommensen dan PH johansen di lembah silindung,dengan sokongan kuat dari penguasa lokal Raja Pontas Lumbantobing,di susul dengan penerjemahan kitab-kitab dasar untuk jemaat-jemaat, yakni Katekismus Kecil pada tahun 1874 dan perjanjian baru pada tahun 1878.Tata Gereja yang pengaruhnya paling dalam serta lama karena berlaku sampai tahun 1930, diberlakukan mula-mula pada tahun 1881.

1881-1901:

Nommensen memindahkan tempat kediamannya ke Toba dan merencanakan serta memimpin sendiri pekerjaannya. Didirikanlah jemaat-jemaat dalam wilayah yang semakin luas di daerah-daerah danau Toba dan di tampung golongan-golongan besar, sehingga terbentuklah suatu gereja suku. Pada tahun 1885 pendeta-pendeta pertama ditahbiskan. Sampai dengan tahun 1901 sudah 48.000 orang Batak dibaptiskan.

1901-1918:

Prakarsa Nommensen termasuk melakukan pekabaran Injil ke Batak Simalungun. Di Simalungun pengkristenan tidak lagi berlangsung begitu sistematis sebagaimana terjadi di kalangan Batak Toba. Barulah setelah tahun 1940 sebagian besar orang-orang Batak Simalungun berhasil dikristenkan.

1918-1940:

Dengan pekerjaan J.Warneck sebagai Ephorus menggantikan Nommensen yang meninggal dunia pada tahun 1918, melalui suatu tata gereja yang baru membuat Gereja Batak mandiri secara yuridis. (Dalam bukunya Lothar Schreiner menyebut HKBP dengan Gereja Batak). Barulah pada 1940 HKBP berhasil mandiri dalam arti yang sebenarnya, yakni ketika para zendeling jerman diinternir dan sinode memilih seorang pendeta Batak, K.Sirait menjadi ephorus.

1940-1954:

Pendudukan Jepang dan masa revolusi di Indonesia. Pendidikan pendeta dan penyelenggaraan jemaat-jemaat dilakukan tanpa bantuan dan sokongan luar negeri. Hubungan-hubungan dengan luar negeri pulih ketika HKBP menjadi anggota yang ikut mendirikan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1948) dan dengan pengakuan Iman sendiri (1951) memasuki Federasi Gereja-gereja Lutheran se-Dunia(1952).

1954-hingga buku Gereja dan Injil,ini diterbitkan pada tahun 1972:

Ditandai dengan didirikannya Universitas Nommensen (1954) dengan kira-kira 3.000 mahasiswa pada tahun 1971,dan suatu tata gereja baru (1962) yang dengannya dihapuskan sinode distrik. HKBP juga mengembangkan usaha pendidikan dan penginjilan dikalangan orang-orang Jawa di Sumatera Timur, orang-orang Sakai di Riau, dan di Malaysia. Pada permulaan tahun 1960-an HKBP hampir mempunyai 900.000 anggota di sumatera dan banyak jemaat di pulau lainnya dan di Singapura.

Dalam perkembangannya HKBP beberapa kali mengalami peristiwa “ditinggalkan jemaat”, di mulai tahun 1927 dengan berdirinya Mission Batak, disusul Huria Christen Batak (HCB), Punguan Kristen Batak (PKB), dan Huria Kristen Indonesia (HKI). Pada tahun 1964 sejumlah anggota keluar dan menamakan diri Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI). Atas kemelut HKBP yang terjadi pada tahun 1990-an sejumlah anggota juga banyak yang pindah ke Gereja lain. Menurut Almanak HKBP tahun 2007 HKBP memiliki 3.139 gereja yang tersebar di Indonesia bahkan di Singapura dan Amerika Serikat. Dengan jumlah lebih dari 5 juta jemaat HKBP di catat sebagai lembaga keagamaan dengan jumlah angota terbesar ketiga setelah Nahdatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah.

Kehidupan Nomensen

Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr. Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?

Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan. Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak. Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun.

Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselscha ft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun. Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.

Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.

Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.

Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.

Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.

Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.

Dari Norsdtrand ke Silindung

Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Belanda).

Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.” Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr. H. N. Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.

Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga. Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.

Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.

Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya. Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.

Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.

Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.

Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.

Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.

Misi zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.

Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman. Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada. Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah mulai usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.

Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur. Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.

Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.

Tercatat pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.

Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.

Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.

Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.

Jul 6, 2016

Alquran membuktikan kepalsuan Alquran


“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa semisal  Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” Sura 17:88 .

“Air dari atap, jatuhnya kepelimpahan juga”!
Itulah peribahasa Melayu yang tepat bagi sosok yang belum jelas urapan kenabiannya, tetapi mencoba memaksakan diri dengan caranya sendiri untuk naik ke jenjang nabi-nabi yang absah. Alhasil, semua usaha dan perkataannya tampak over-simplisistis, terasa tidak pas ke hati, banyak yang misterius, simpang siur dan tambal sulam, dan akhirnya ia bak air dari atap yang jatuh-nya kembali kepelimpahan juga!

Sederhana saja, Nabi yang diutus oleh Tuhan akan diperlengkapi oleh Tuhan sendiri dengan tanda-tanda kenabian yang cukup dan sejati. Ia samasekali tak perlu menyiasati apa apa untuk pembuktian - atau mendalil-dalil - kecuali berjalan lurus menuruti Yang Mengutusinya. Sebaliknya “nabi-nabian” sungguh harus mencari akal-muakal bagaimana agar orang-orang bisa mempercayai dirinya dengan mengklaim dan menyodorkan bukti-bukti versinya sendiri. Ada banyak versi yang dapat dimainkan. Tetapi khusus yang akan diteropong disini ialah versi yang membual, dan versi yang menggertak, alias menantang. Namun semuanya kelak kepergok kosong atau bahkan terjebak dalam fakta-fakta yang justru memperlihatkan bukti kebalikannya.

Membual ilmu kenabian 

Semua nabi telah datang dan pergi, yang benar-benar nabi maupun yang nabi-nabian. Kita tahu bahwa yang “nabi-nabian” selalu over-concern dengan jati-diri kenabiannya. Maka ia cenderung merekayasa bual-bualan tentang hal-hal ghaib yang menarik namun yang sesungguhnya tidak dikuasainya. Menurut Muhammad, total ada 124.000 rasul-rasul Islamik yang diutus Allah keseluruh muka bumi Hadis riwayat At-Tirmidzy, dari Abi Zar ra.  dan mencakupi setiap bangsa-bangsa dunia, dan yang berbicara dalam bahasa kaumnya. Wah, kisah demikian sungguh merupakan konsep pemahaman yang hebat! Sebab disitu tercermin keadilan Allah bagi setiap bangsa yang mendapatkan jatah “kue-pewahyuan-Nya”!

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap bangsa untuk menyerukan : Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut ilah ” Sura 16:36, terjemahan penulis. Bandingkan dengan terjemahan Depag dan lain-lain yang tampak sengaja menghilangkan kata ‘seorang’ karena hendak mengaburkan makna aslinya, seolah Allah telah mengutus rasul Muhammad pada semua umat .

Padahal yang telah diutus kesetiap bangsa disini bukanlah Muhammad, melainkan tiap-tiap nabi lokal untuk kaumnya, yang mencapai 124.000 rasul itu! Tetapi siapakah mereka itu? Sayang Muhammad hanya mampu menyebut 25 nama nabi dalam Al-Quran. Selebihnya tidak terjelaskan selamanya, kecuali dikatakan bahwa setiap rasul itu adalah “berbahasa kaumnya sendiri, supaya dia menerangkan kepada mereka…”Sura 14:4 . Ini adalah yang telah Allah utus dalam waktu perfect/past-tense.

Kalau begitu, siapakah nabi-nabi Allah SWT yang telah diutus untuk bangsa dan kaumnya? Dan apa Kalimat atau pesan-pesan Allah yang diturunkan lewat setiap mereka? Sebab Kalimat Allah tidak terhapuskan oleh manusia dan tidak ada perubahan baginya Sura 6:34, 10:64 dll .

Untuk India apakah ia Krisna Dwaipayana Wyasa Maharesi Abyasa  atau Siddharta Gautama yang adalah nabinya Hindu-Budha?

Untuk Tiongkok apakah ia Kong Hu Cu atau Lao Tse?

Untuk Indonesia, yang belum ada “bangsa Indonesia” di abad itu, melainkan antara lain bangsa bangsa Kutai dan Taruma, maka manakah nabi-nabinya? Apakah Mulawarman dari Kutai atau Purnawarman dari Tarumanegara atau lainnya? Bagaimana dengan Amerika dan Australia dengan bangsa Indian dan Aborigin-nya? Atau bangsa dan kaum Papua di zaman jahiliah?

Benarkah sekian banyak nabi itu telah betul-betul menyerukan dan menyembah Allah SWT monotheist  dan menjauhi thaghut, ataukah malahan menyembah “thaghut” dan tidak pernah kenal apa dan siapa itu Allah islamik? Dimanakah kitab-kitab atau bahkan jejak-jejak islamik mereka dalam history, science dan arkeologi? Tidak ada! Itulah bualan “kenabian” dan pembodohan bagi umat yang mau dibuntukan otaknya!

Namun Muslim percaya saja atas apa yang dikatakan itu, dan bahkan lebih lanjut hanyut mengamini Quran Sura 2:285:

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. 

Mereka mengatakan : "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat."

Dan ini melengkapi dengan sempurna kemampuan Muhammad dalam berkhayal jauh melampaui dunia logika, serta sekaligus mampu mengajak para pengikutnya untuk percaya. Sebab sesungguhnya khayalan ini memberi implikasi teramat besar bahwa setiap Muslim harus tahu dan beriman “kami dengar dan kami taat”  kepada 124.000 rasul yang tidak satupun diantara-nya boleh dibeda-bedakan! Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya tahu dan siapa yang sungguh mempersamakan kenabian setiap mereka? Apakah bahkan Muhammad sendiri terlihat tahu siapa-siapa seratusan ribu nabi-nabi koleganya itu, dan beriman sama kepada setiapnya? Bukankah yang ia tahu hanya sebatas 25 rasul, dan itupun harus dibeda-bedakannya karena Allah sendiri telah membedakan rasul yang satu terhadap yang lainnya Sura 2:253 ! Suatu inkonsistensi telanjang!

Lewat waktu dan keadaan yang terus berjalan dan pengetahuan yang makin berkembang hasil dengar-dengaran dan pembelajaranya , maka agaknya Muhammad tidak bisa mempertahankan lagi semua apa yang telah terlanjur diucapkannya sendiri atas nama wahyu, sehingga terjadi kerancuan wahyu yang eskalatif dan tak terselesaikan: yang satu tidak konsisten dengan yang lain! Karena inkonsistensinya banyak dan tersebar luas, maka untuk mengatasinya secara potong kompas, dia memberlakukan apa yang para ulama Islam sebut sebagai doktrin nasakh dan mansukh: Yaitu konsep pembatalan/penggantian/perubahan ayat yang satu dengan yang lain Sura 2:106 . Tidak tahukah Muhammad bahwa konsep pembatalan “wahyu dengan wahyu” ini adalah suatu kemustahilan bagi Allah seperti yang diserukannya sendiri dalam Sura 6:34, 10:64, 18:27 diatas? Apakah Muhammad juga tidak tahu akan seruannya bahwa penggantian wahyu dengan “wahyu bantahan” adalah suatu pertentangan-wahyu yang mencirikan kepalsuan wahyu itu sendiri Sura 4:82 ? Dan apakah Muhammad juga tidak sadar bahwa “konsep nasakh-mansukh” demikian telah diberi ciri khusus oleh Musa dalam Taurat-Nya, yang dinamainya: “perkataan atas nama Allah yang tidak terjadi dan tidak sampai”. Dan untuk nabi yang ditandai demikian, Musa telah menamakan dia nabi-bualan! Keluaran 18:22  

Kita membaca banyak lagi bualan Muhammad terhadap bangsanya yang belum banyak memahami ilmu-langit. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang orang Yahudi dan Nasrani ketika dibuali. Maka kita sekarang disini bisa mengerti kenapa orang-orang Yahudi di zaman Muhammad banyak yang memperolok-olok Muhammad yang banyak membual atau menggertak. Tidak fair jikalau mereka dipersalahkan sepihak. Sebab kita sendiri juga akan bersikap sinis bilamana ada orang disamping kita yang terus membual seperti yang dilakukan Muhammad dulu tercatat dalam Hadis Shahih Bukhari , apalagi bila bualannya sebagai nabi justru atas hal-hal “trivial” yang sepele, tidak bernilai teologis, dan bahkan konyol. Misalnya mengumbar bahwa ia tahu akan hal-hal ghaib ini dan itu tanpa sanggup membuktikan, sampai-sampai keterusan menentang apa yang ditegaskan Allah kepadanya untuk dibaca-ulang kepada umatnya:

”Dan aku tidak mengatakan kepada kamu bahwa : Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib Sura 11:31 .

Faktanya Muhammad justru bertubi-tubi mengklaim mengetahui hal-hal ghaib, antara lain seperti berikut ini:

Air kencing unta bisa jadi obat sehat
Panasnya api neraka yang menyebabkan demam
Melihat neraka, banyak berisi wanita
Melihat Isa, warna kulitnya kemerah-merahan
Tahu makam Musa, di dekat tumpukan katsibil ahmar
Tahu Adam, setinggi 60 hasta, atau 30 meter
Melihat sebagian kaum Israel dikutuk dan menjadi tikus-tikus
Menyatakan orang Yahudi akan berubah menjadi babi dan monyet
Tahu kenapa seorang anak menjadi mirip ayahnya atau ibunya

Melihat Jibril punya 600 sayap

Menyatakan para malaikat tidak akan menemani kelompok orang yang bepergian dengan membawa lonceng Dawud, Buku 14, no.2548. Itu sebabnya a.l. Somalia kini mengharamkan lonceng di sekolah-sekolah maupun gereja. Padahal bunyi lonceng tadinya adalah salah satu tanda dimana Muhammad menerima wahyu yang mulia . Dst.
Ini hanya sebagian terkecil dari umbaran hatinya, dan belum termasuk ajaran-ajarannya, seumpama menyamakan orang kafir sebagai binatang yang sejahat-jahatnya Sura 8:55 . Jadi siapa yang sesungguhnya mulai memprovokasi olok-olokan terhadap Muhammad selama ini, jikalau bukan pernyataan-pernyatannya sendiri? Kenapa Yesus, Krisna, Sidharta Gautama, Kong Hu Cu, Plato, Socrates, bahkan nabi dan filsuf sekte-sekte agama palsu lain sekalipun, tidak diolok-olok seperti Muhammad? Kenapa Muslim selalu menuntut agar nabinya dihormati, dihormati dan dihormati? Semua pihak sadar bahwa penghormatan adalah urusan batin yang tak bisa dituntut atau dipaksakan. Dan yang namanya nabi, malaikat, dan Tuhan, sungguh tak memerlukan penghormatan-munafik dari si jahat. Itu malah haram dan najis! Adakah penjelasan Islamik yang obyektif terhadap fenomena tuntutan untuk sebuah penghormatan yang “bersifat sampah” ini? Apakah Muhammad membutuhkan sampah semacam ini ataukah doa shalawat

Menggertak seluruh manusia dan jin 

Merisaukan tanda kenabiannya yang rapuh, Muhammad mendapat ilham baru. Ya, sebagai nabi Allah, Muhammad sedikitnya memang harus memperlihatkan apa yang menjadikan dia layak dan sah disebut nabi. Maka tidak cukup dengan bualan tentang jumlah sosok nabi sedunia, Muhammadpun merasa perlu meyakinkan seluruh manusia, bahwa apa yang diucapkannya adalah betul ucapan-ucapan wahyu surgawi yang tidak tertandingi oleh mahkluk manapun yang ada.

Memang bilamana kita membaca Al-Quran dengan seksama, maka di seluruh Al-Quran tampak kesibukan Muhammad yang mengatasnamakan Allah , dikerahkan untuk meyakinkan dirinya sebagai rasul utusan Allah. Padahal, seperti yang telah dijelaskan di depan, Tuhan telah otomatis memperlengkapi pembuktian itu secara melekat dalam diri setiap nabiNya, sehingga tak perlu ada usaha akal-akalan yang harus ditambahkan manusia untuk pengabsahannya. Kepada orang-orang Yahudi yang tegar tengkuk, Yesus bahkan tidak ingin berlelah membuktikan dirinya sebagai Mesias, kecuali hanya perlu diperhadapkan kepada mereka hanya satu mukjizat saja, yaitu tanda nabi Yunus. Ia berkata: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” Matius 12:39, yaitu tanda kebangkitannya dari kematian 3 hari . 

Tetapi tidak demikian dengan Muhammad. Merasa tanda kenabian dirinya belum terdukung dengan saksi dan tanda ilahi, maka ia akhirnya menggertak dengan menantang “angkatan yang jahat” dari Quraisy, Yahudi , Nasrani dan segala jin yang ada untuk berkontes membuat sebuah “quran tandingan” yang diistilahkannya sebagai “Surat Semisal Quran”, disingkat SSQ.

“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa semisal  Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” Sura 17:88, penekanan dari penulis .

Itu adalah sebuah ayat yang sangat terkenal di kalangan Muslim. Itu dianggap sebagai kemenangan Islam bahwa Al-Quran dan Muhammad tidak terbantahkan ucapan kebenarannya, dari dulu sampai selamanya.

Muhammad berkeyakinan bahwa kehebatan Al-Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua mahkluk dan jin karena ia merupakan mukjizat yang dikhususkan Allah sebagai tanda kenabiannya yang terbesar dan terakhir. Namun ia lupa bahwa ini hanyalah tantangan insani yang dibisiki “Jibril” untuk sebuah writing skill tulis menulis sebuah Al-Quran. Itu pasti bukan sebuah tantangan dengan unsur-unsur langit atau keilahian yang bersifat adikodrati.

Itu sesungguhnya sama saja dengan Einstein atau Shakespeare atau Beethoven yang mengklaim kenabiannya dari Allah SWT apabila tak ada orang dan jin yang membuktikan kepakarannya melebihi dirinya dalam bidang science, sastra, dan musik berturut-turut! Atau andaikata Anda menemukan sebuah batu-akik yang super-unik, lalu Anda menetapkannya sebagai batu dari surga semacam Hajar-Aswad?  karena merasa tidak ada orang lain yang mampu menemukan batu yang sama, atau yang bisa menandinginya! 

Kebiasaan Muhammad mengganti-ganti ayat nasakh-mansukh, seperti yang disinggung diatas membuatnya terlalu mudah untuk mengganti kriteria tantangan dari “menulis sebuah Al-Quran” menjadi “menulis 10 Surat  saja. Bahkan kemudian Muhammad lebih jauh kebablasan dengan mengubahnya lagi menjadi satu Sura saja  semisal Quran. Artinya Sura yang mana saja. Penggantian-penggantian wahyu dadakan ini sungguh aneh luar biasa, namun tidak pernah dipersoalkan oleh teolog Muslim. Ini aneh! Maka kita akan segera paparkan kenapa tantangan ini sampai perlu diubah dua kali berturut-turut oleh Muhammad dalam rentang tempo yang tidak lama.

“Jika kamu tetap  dalam keraguan tentang Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami Muhammad , buatlah satu surat saja  yang semisal Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain allah, jika kamu orang yang memang benar” Sura 2:23, 10:37-38 .

Disinilah awal kehancuran wibawa Al-Quran sebagai wahyu Allah! Karena ternyata ada banyak orang biasa yang lebih dari mampu menyambut tantangan Muhammad yang satu ini. Orang yang bodoh sekalipun akan segera merasakan bahwa tantangan semacam ini sangat konyol karena tampak hakekatnya bukan dari jenis tantangan adi-kodrati, melainkan murni tantangan duniawi-insani belaka, yang mudah sekali disamai atau bahkan diungguli orang dalam kontes surat-menyurat.

Semula, orang-orang diluar Islam hanya mendiamkan tantangan naif tersebut. Mereka hanya menggeleng-geleng kepala dan merasa apatis melayaninya karena tidak mau ikut dalam kebodohan yang menghabiskan waktu secara sia-sia. Tetapi celakanya, justru karena didiamkan begitu, Muslim mendapatkan signal yang salah, seolah memang benarlah apa yang diperkatakan oleh Muhammad, bahwa tidak ada orang atau setan manapun yang mampu menyambut tantangan hebat “surat semisal Quran” tersebut! Ini menjadikan semuanya lebih konyol lagi! Ayat tantangan tersebut makin dikibarkan untuk mendewakan verbatim Muhammad, sekaligus melecehi writing skill manusia sepanjang masa…

Baiklah. Agar tidak berlarut-larut dalam kebodohan ini, mari kita periksa apa hebatnya Sura Langit ini, lalu kita layani dengan demonstrasikan betapa mudahnya orang perorang memenangkan kontes yang “memustahilkan” peniruan Sura Al-Quran ini. Mari kita ambil satu Sura Al-Kaafiruun sebagai contoh aktuil. Kebetulan Sura Al-Kaafiruun memang telah dianggap oleh Muslim sebagai Sura hebat pembebas kesyirikan yang perlu dibaca sebelum tidur HR Ahmad 5/456 . Membaca Sura ini juga dikatakan oleh Muhammad diriwayatkan Anas  sebagai sebanding dengan membaca seperempat Al-Quran:

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. 
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 
5. dan kamu tidak pernah pula  menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." Sura 109:1-6  

Apanya yang dahsyat atau yang terhubung dengan kodrat ilahiah disitu? Adakah kriteria-kriteria disitu yang menuntun kita menemukan kebenaran bahwa Sura ini berasal dari Allah atau dari manusia? Apa ada seperempat Al-Quran disitu? Dapatkah Muhammad dan Anda sedikit menjelaskan dimananya itu seperempat isi atau nilai Al-Quran? Ini bualan yang hina dan fatal terhadap Firman Allah! Yesus berkata, “Katakan YA diatas ya; dan TIDAK diatas tidak”. Dan tampaknya Muhammad justru bermain-main dengan kata-kata Al-Quran yang adalah wahyu Allah yang dibawakannya. Betapapun kita menabi-nabikan seseorang, kita tidak boleh membiarkan pesonanya mematikan akal-budi dan suara nurani terdalam yang Tuhan berikan kepada kita. Baca dan teropong ayat-ayatnya, dan tidak akan muncul disitu apa yang spesial kaitannya dengan “unsur-unsur langit”, yang tersurat ataupun yang tersirat! Unsur langit tidak tercari ditumpukan aksara dan kaligrafi Arab ataupun susunannya di kertas-emas yang membentuk kitab Al-Quran. Yang ada hanyalah semacam berita, pesan dan pernyataan tertentu, yang dalam sura ini mirip sebagai sebuah debat kecil yang bisa diperkatakan oleh setiap manusia, dan berakhir pada penutup debat lintas umat: untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.

Apabila sura ini mau dianggap unik dalam style, itu semata-mata style, sama seperti Anda tidak akan menemukan diri Anda kembaran sama 100% dengan seseorang lainnya. Essensinya bukan apa yang tampak atau yang dirasakan, melainkan apakah “keunikan” demikian menjadikan ia wahyu dibalik mulut Muhammad? Tidak ada ayat dan logika yang menghubungkan aksara, kefasihan dan style berbahasa dengan keilahian. Kitab Zabur dan Amsal Sulaiman penuh dengan bahasa puitis tinggi yang isinya menggentarkan pembacanya. Tetapi Daud Musa, Isa dan semua nabi-nabi lain!  tidak pernah mengklaim “kitabnya” sebagai mujizat kenabian. Daud dan para nabi mengklaim itu adalah pernyataan, ajaran, dan pesan-pesan Tuhan yang menyelamatkan manusia. Dan orang-orang, termasuk Muslim mempercayainya karena ia sudah DISAHKAN oleh nabi Samuel dengan pengurapan minyak Tuhan, dan “sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud” 1 Samuel 12,13 . Tetapi siapa yang sudah men-sahkan Muhammad sebagai nabi? Tidak ada ! , kecuali klaim Khadijah dan dirinya sendiri, yang dipercayai Muhammad, karena itulah yang diingininya! Maka tidak mengherankan bahwa Muhammad merasa sangat perlu mencari apa-apa lainnya yang bisa dijadikan “alat bukti” kenabiannya, termasuk kitabnya!

Tetapi bukankah para pemuja fanatik Shakespeare juga dapat mengklaim buku-bukunya bersumber dari sorga? Lalu apakah Muslim yang berkeberatan atas klaim itu harus membantahnya dengan mengarang “buku semisal Shakespeare”? Dan bila Muslim tidak melakukannya, maka NAH, BENARLAH; BUKU INI SUNGGUH DARI SORGA! Tidakkah itu kenaifan yang sangat menyesatkan

Tantangan Muhammad yang salah-wahyu 

Diatas sempat disinggung tentang sebuah keanehan yang luar biasa! Muhammad tiba-tiba mengubah tantangannya dari menulis sebuah Al-Quran menjadi cukup menulis 10 Sura Al-Quran saja. Lalu segera disusulkan lagi menjadi satu sura saja? Ada apakah ini? Tidakkah itu ajaib, karena tak ada orang dan jin manapun yang menawar-nawar kepada Allah? Adakah Muslim yang tahu apa pasalnya lalu pura-pura tak tahu? Dan kenapa muncul angka 10, dan bukan 11 atau 9? Atau kenapa bukan7 melengkapi 7 ayat As-Sab’ul Matsani yang dibaca berulang-ulang? Atau bukan 57 Sura, yaitu separuhnya jumlah Sura-sura Quran? Kenapa tak ada sarjana Islam yang menjelaskan maksud dan tujuan perubahan Kalimat Allah yang aneh, radikal dan sistematis itu?

Memang ada beberapa ulama yang berkata sekenanya bahwa perubahan tantangan itu dari seluruh Quran menjadi 10 dan 1 Sura   itu justru menunjukkan kehebatan dan bukan kelemahan tantangan. Zakir Naik, pendebat ulung Islam malah berkata bahwa perubahan itu diadakan karena Allah ingin mempermudah penantangnya. Sungguh jawaban yang sembarangan, karena tidak mempersoalkan inti teologinya, yaitu: kenapa Allah sampai harus mengubah-ubahkan KalimatNya yang kekal tanpa ada setan yang menawar? Muslim mendalilkan hebatnya mukjizat Al-Quran sehingga tak perlu banyak-banyak melainkan cukup satu sura mana saja untuk menantang setiap tiruan manusia atau jin. Oke, kalau begitu kenapa harus dimulai dengan seisi Al-Quran lalu berubah menjadi 10 Sura, dan lalu 1 Sura? Tidakkah Allah memutuskan sesuatu yang benar, sekali Ia memutuskan?

Muslim dan non-Muslim masih perlu terus bertanya, kenapa jin harus diikut sertakan? Aha! Tidakkah itu karena Muhammad justru pernah dikelabui oleh setan yang juga ahli “menulis ayat” dan menggulirkan “ayat-ayat setan”, lalu ayat-ayat keliru tersebut harus dihapuskan Allah kembali? Ini berbekas pada Sura 53:19-22 yang dipertegas dalam Sura 22:52 yang menuduh bahwa syaitan memang memasukkan “ayatnya” kepada setiap nabi yang diutus Allah! Disinilah ter-refleksi hal yang sama, bahwa wahyu awalnya kepada Muhammad adalah wahyu yang keliru, dan sejak itu wahyu harus terus didandani agar masuk akal untuk menjadi bagian wahyu! Mari kita lihat awalnya:

“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” Sura 17:88 .

Kita tahu bahwa Sura ini adalah Sura Makkiyah yang diwahyukan di Mekah. Jadi, yang namanya Al-Quran keseluruhannya itu belum ada ketika itu, melainkan baru terturun sebagian ayat-ayat dan sura-nya. Mungkin sekitar dua pertiga Al-Quran dan belum sungguh-sungguh terkumpul dalam lembaran suhuf atau mushaf. Jadi, disaat Muhammad mengeluarkan tantangan Sura Semisal Quran SSQ  ini, maka porsi Al-Quran-mentah unfinished scattered Quran  manakah yang beliau maksudkan sesungguhnya, mengingat Quran yang utuh belum ada, sementara ayat dan sura terus bertambah setiap waktu mengikuti wahyu yang terturun?!

Muhammad tampaknya diam-diam menyadari hal ini setelah terlanjur. Itu sebabnya tak lama kemudian iapun terpaksa mengubahnya, demi tantangan tersebut bisa dikuantifikasikan. Iapun mengkoreksinya, dan memilih 10 sura! Kita dapat merasa bahwa ketetapan baru ini bukan karena Allah betul-betul perlu melakukannya maka nantinya dibatalkan lagi , melainkan karena Muhammad berada dalam suasana tekanan dituduh membuat Al-Qurannya sendiri:

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “Kalau demikian , maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya  selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar” Sura 11:13 . 

Dan benar, ia segera mengubahnya lagi, agaknya karena mulai disadari bahwa landasan penetapan 10 sura itu tidak mantap. Orang akan layak bertanya kenapa 10, dan bukan 11 atau 9 sura, atau 7, dan bilangan-bilangan ganjil lainnya. Bukankah bilangan-bilangan ganjil adalah favoritnya Muhammad, dari pencaharian malam Qadar yang diharuskan tanggal ganjil hingga kepada jumlah batu yang harus ganjil bilangannya untuk ber-cebok?

Muhammad bukan orang yang bodoh. Melebihi orang lainnya, ia sendiri tentu akan lebih mempersoalkan kenapa harus 10 Sura. Sudah pas kah dan kokohkah itu sebagai tantangan Allah? Tetapi bukankah setiap Sura Al-Quran yang mana saja adalah hasil pewahyuan yang sama adikodratinya, dan yang sama melebihi kemampuan manusia dan jin untuk menirukannya? Bukankah setiap sesuatu dari Al-Quran itu adalah bacaan yang agung dan menggentarkan? Jikalau begitu maka penetapan 10 SSQ adalah berlandaskan iman yang buruk. Ini tentu mengganggu dan menggelisahkan. Maka tidak mengejutkan bahwa Muhammad pada akhirnya terpaksa mengubah kembali “wahyu-sepuluh” menjadi “wahyu-satu” SSQ, karena setiapnya adalah juga mukjizat langit yang sama utuh dan agungnya dengan Sura yang lain. Ini lebih make sense.

Sebagai tambahan, Muhammad mungkin juga meyadari bahwa merujuk kepada kumpulan 10 Sura akan terlalu rentan terhadap inkonsistensi yang bakal terdapat didalam kumpulan tersebut, mengingat ada kemungkinan ayat-ayat nasikh dan mansukh yang terdapat didalamnya lihat dibawah . Para teolog bahkan ikut menambahkan lagi bahwa tampaknya Muhammad juga terilhami oleh apa yang dilakukan oleh Yesus, yaitu menantang para Ahli Taurat bukan dengan mengajukan berpuluh-puluh tanda dan mukjizat yang telah dilakukanNya, melainkan cukup satu, yaitu TANDA NABI YUNUS! Matius 12:40; 16:4; Lukas 11:29 

Keseluruhannya, tampak dengan jelas bahwa wahyu Jibril telah di-edit-edit ulang tanpa dengan penjelasan apapun dari pihak yang mewahyu. Alangkah submissive-nya Muhammad terhadap Jibril yang bolak balik datang merevisi wahyu dengan tidak sekalipun mempertanyakan alasan revisi itu sendiri. Muhammad seharusnya layak memperbandingkan dirinya dengan Maryam - yang ketika dikabarkan Jibril tentang kehamilannya yang tak masuk akal itu - langsung bertanya ditempat: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan pula  seorang pezina!" Kenapa Tuhan memberikan hak tanya-langsung bagi semua nabi-nabi/nabiah lainnya kecuali Muhammad seorang?! Inilah yang menambahi fakta bahwa wahyu yang diperoleh Muhammad itu berseberangan dengan wahyu pendahulunya.

Maka seperti yang dicetuskan dalam Al-Quran, orang-orangpun ramai berkata: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu". Akibatnya, demi membungkamkan teriakan ini maka lahirlah tantangan atau gertakan Muhammad untuk acara kontes surat menyurat semisal Quran!

Tantangan Quran disambut 

Telah disebutkan bahwa ada banyak pihak yang telah menyambut tantangan Muhammad dalam SSQ, walau sebenarnya lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa masuk kedalam tantangan tersebut adalah kebodohan belaka. Namun perlu dicamkan bahwa tujuan para penyambut tantangan itu bukan untuk mencari kemenangan pribadi, melainkan hanya untuk menunjukkan betapa pihak yang mengidolakan kehebatan linguistik Al-Quran yang dianggap superlatif itu hanyalah korban pembiusan opium yang perlu dibukakan penglihatannya. Soalnya mereka-mereka ini tampaknya tidak mampu lagi melihat secara bening apa yang sesungguhnya telah terjadi didunia selama ini. Mari kita mengungkapkannya dengan hati yang prihatin:
  • Secara ringkas saja, lihat buku “The Islamic Invasion” Robert Morey, Harvest House Publishers, halaman 126. Disitu tercantum nama-nama dari pihak yang menyambut tantangan Muhammad yang satu ini. Mereka menyodorkan “Sura Semisal Quran” karya mereka. Nama mereka adalah Nadir bin Haritha, Hamzah bin Ahed, dan Maslema. Tetapi tidak ada satu pakar Islam yang muncul untuk berkomentar dan mau melayani mereka yang datang memenuhi undangan resmi Muhammad.
  • Bahkan Dr.William Campbell telah menyodorkan tiga SSQ yang paling mudah dan terbuka untuk dicarikan sumbernya! Itu terambil dari Kitab Mazmur Zabur  pasal 103 dengan 22 ayat  yang terkenal dari Raja Daud, yang secara objektif dinilai mengandung keindahan dan nilai-nilai puitis yang khas Ibrani. Kemudian disusul dengan dua petikan kotbah Yesus di Bukit, Matius 6:16-24 dan juga Matius 7:1-5. Inilah Sura-sura yang terambil dari Alkitab yang dianggap korup oleh Muslim jadi memenuhi syarat bahwa ayat dan surat ini adalah ciptaan manusia dan setan , karena isi atau ajaran-ajarannya disitu tidak sejalan dengan Al-Quran.
Banyak orang Muslim bahkan tidak tahu bahwa Al-Quran koleksi Ubai bin Ka’b mushaf Ubai sesungguhnya memuat dua Sura extra, yaitu Sura 115 Sura al-Khafdh  dan Sura 116 Sura al-Khal’ yang kini dihilangkan dari Al-Quran yang dibaca oleh para Muslim dewasa ini. Padahal Ubai adalah salah satu dari penulis dan pengajar Al-Quran yang paling dipuji oleh Muhammad. Begitu pula dengan Quran koleksi Ibnu Abbas juga memuat kedua Sura tadi, dan bahkan Umar bin Khattab sendiri pernah mengajikan kedua Sura tersebut. Kedua Sura ekstra itu secara lengkap disajikan berikut ini Rekonstruksi Sejarah al-Quran, by Taufik Adnan Amal, p.231 .
  • Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang

    1  Ya Allah, kami memohon kepada-Mu pertolongan dan ampunan.
    2  Kami menyanjung-Mu dan tidak bersikap kafir kepada-Mu.
    3  Kami ungkapkan puja-puji kepada-Mu dan kami tinggalkan orang-orang yang berlaku curang kepada Mu.

    Dengan nama Allah yang pengasih, yang penyayang

    1  Ya, Allah, kepada-Mu lah kami menyembah.
    2  Dan kepada-Mu lah kami bersembahyang serta bersujud.
    3  Dan kepada-Mu lah kami berjalan bergegas-gegas serta bersegera.
    4  Kami berharap akan limpahan rahmat-Mu.
    5  Dan kami takut akan azab-Mu.
    6  Sesungguhnya azab-Mu menimpa semua orang yang kafir.

    Oleh pihak Islam main-stream kedua sura itu dianggap sebagai bukan bagian Al-Quran. Namun, sebelum divonis-kan begitu, semestinya para Sahabat Nabi harus menyidik dan memastikannya dengan cara mempertandingkan kedua sura tersebut terhadap Sura Al-Quran yang lain, sebagaimana yang telah dirumuskan Muhammad. Bukankah metode dan kriterianya telah disediakan Muhammad demi menyingkirkan setiap surat yang tidak sejatinya Al-Quran? Kini, setelah keduanya dianggap sebagai “non-Surat”, maka per-definisi, jadilah keduanya bagian dari “Sura Semisal Quran”, dan mereka sangat layak dipertandingkan dengan Sura 106 atau 103 dll. Tetapi dimana pula sarjana Muslim yang mau menyelenggarakan kontes SSQ ini dan sekaligus memastikan pemenangnya? Kembali tak ada yang berani mencari kebenaran SSQ ini atau Al-Quran, kepalsuan SSQ ini atau Al-Quran.

    Kenapa begitu masa bodo dan loyo, diakhir lap balapan? Padahal diawal lap balapan, ayat tantangannya sendiri begitu heroik dan dipuja-puji?!

    Jawabnya ada dua:

    1 . Karena tidak ada Muslim yang berani dan mampu menjurikannya! Disebabkan oleh metode rumusannya sendiri kacau, multi interpretasi dan gelap, tidak berwibawa sebagai wahyu Tuhan yang bisa diaplikasikan.

    2 . Karena Sura Asli Al-Quran dipastikan akan kalah kontes melawan SSQ pilihan. Dalam penjurian yang fair dan obyektif ke batin terdalam, Anda akan merasa banyak pesan-pesan wahyu yang tidak pas kehati. Penterjemah tampak sibuk merekonsiliasikan terjemahannya dan dengan catatan kaki. Anda juga mendapati banyak cacat dan kekurangan dari surat-surat yang tak ter-rekonsiliasi lihat sub F dibawah . Sebagai juri, Anda akan cenderung mendiskualifikasi superioritas suratnya sebagai man-made Sura only!

    Alhasil, yang berani dan mampu dilakukan oleh mereka yang merasa berkuasa  cuma menjatuhkan ketok-palu vonis duniawi terhadap SSQ yang otomatis diharuskan masuk tong sampah!
  • Internet AOL sempat menayangkan 77 SSQ sesaat. Namun apa yang terjadi? Heboh, amok dan teror besar dari para Islamist melanda AOL yang dituduh menghujat Al-Quran dan Islam, dicap mencoba menerbitkan Al-Quran palsu dll. Padahal mereka yang meng-on-line-kan SSQ itu adalah pihak undangan yang diundang oleh Al-Quran dan Muhammad sendiri dalam tantangan resminya! Dan yang namanya SSQ - Surat Semisal Quran - selalu bukan Al-Quran, tetapi ia bukan pula Al-Quran palsu, melainkan adalah himpunan teks yang dianggap sebagai “Sura Quran Plus” sampai ia dibuktikan sebalik-nya! Karena nilai PLUS-nya diatas kertas, maka ia justru DI-TUNGGU-TUNGGU Allah SWT dan Muhammad dan semua pihak untuk dijejerkan disamping Al-Quran untuk diberi nilainya yang sejati. Jadi seyogyanya teman-teman Muslim harus menghormati, bukan malah jadi naik pitam terhadap peredaran “Sura Semisal Quran” ini, karena memang ia diundang secara beradab oleh Allah sendiri untuk memenuhi tantangannya!

    Tuduhan emosional bahwa SSQ itu adalah Al-Quran palsu adalah sudah mencerminkan kekalahan telak dari Muslim yang tidak memahami apa itu SSQ menurut Al-Quran. Mereka buta huruf tentang Al-Quran, dan sesat tentang Sura Semisal Quran! Lihatlah apa yang dilaporkan oleh harian Republika:

    Pemalsu Al-Qur’an itu Bernama Anis Shorrosh

    Siapakah pengarang Al-Qur’an Palsu yang pernah menghebohkan di Surabaya, Padang dan beberapa daerah lain beberapa waktu yang lalu? Dialah Dr Anis Shorrosh, pastor evangelist Amerika yang mengaku lahir di Nazareth. Dia juga mengajar di sejumlah sekolah teologi dunia. Hal ini bisa dibuktikan melalui situs Islam in Focus [www.www.islam-in-focus.com /TheTrueFurqan.htm], dia menawarkan ‘kitabnya’Al-Furqanul Haqq atau The True Furqan…. Dia menyusun kitab dalam 77 surat dengan text Arab klasik plus terjemahan-nya dalam bahasa Inggris. Versi lengkap dari karangan Shorrosh itu pernah dimuat dalam situs SuraLikeIt via American On Line [AOL]. Karena menimbulkan keresahan dan sejumlah protes dari kelompok muslim AS, AOL kemudian membekukan situs itu. Meski begitu, beberapa isi kitab itu masih tersedia gratis di beberapa situs. 
  • Menyambut tantangan Muhammad secara konkret, berikut adalah contoh materi SSQ yang terambil dari salah satu “Sura” tersebut di salah satu internet, yaitu www.suralikeit.com yang justru amat lantang untuk bertanding melawan Sura Quran. Ia tidak usah memilih surat yang normatif, tetapi malah mempersilahkan Muslim memilih Sura terbesar manapun dari Quran, termasuk sura Al-Fatihah yang disebut Ummul Quran dan Al-Quranul ‘Azhim yang mana sholat Muslim hanya sah jikalau ia ikut dibacakan.

    Inilah Sura Ad-Du’a the Prayer , karangan manusia biasa, yang mengambil sumber pengilhaman dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus Al-Masih kepada murid-muridNya: 

    01 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    02 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    03 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    04 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    05 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    06 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
    07 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
    08 وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى
    09 فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ
    10 وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ
    11 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

    Maka setelah penyodoran ini, apakah lalu para-pakar Islam dapat dengan obyektif dan lapang dada memutuskan dengan berkata bahwa Al-Fatihah lebih hebat? Redaksi bahasanya lebih tinggi? Lebih luas relevansi dan applikasinya? Cakupannya lebih mulia dan universal? Silahkan pentaskan keseluruh dunia! Siapa yang sanggup dan mau menjadi jurinya! Sebab ini adalah bagian dari seruan perintah  Allah SWT. Tetapi kenyataannya terbalik. Sungguh belum ditemukan satupun Muslim yang begitu taat dan beriman kepada Allahnya sehingga mau dan bisa membentuk panitya untuk menyambut-hormat kontes tulis-menulis SSQ ini untuk disebar luaskan secara terbuka dalam multi-media, termasuk surat kabar, TV, radio, internet, face-book, kotbah-kotbah dimesjid dll. Soalnya selama ini, usaha secuil kearah itu saja sudah diancam dengan macam-macam tuduhan, terror dan amok, yang kesemuanya melanggar undangan tantangan Muhammad. Dengan demikian kembali dapat kita simpulkan secara faktual, bahwa apa yang dapat diserukan dengan mudah oleh Muhammad untuk menantang SSQ, tidaklah dapat dijalankan oleh para pengikutnya untuk menyambutnya. Jadi betapa inkonklusif , bodo, dan sia-sianya tantangan Allah yang satu ini! Apakah Ia Allah? Wahyu yang mengundang secara elegan pada awalnya, namun berujung pada penjurian yang mustahil bisa diactionkan oleh pihak Muslim manapun? Karena tak tahu bagaimana menyambut SSQ yang sudah dihadirkan didepan mata, maka yang mungkin dilakukan Muslim hanyalah menjadi-kan dirinya marah dan brutal. Mereka menuduh secara membabi buta bahwa yang disodorkan itu adalah Al-Quran Palsu, menghujat Allah! 
  • Sura Quran yang tak terungguli? Apanya?

    Akhirnya masih ada batu sandungan terbesar yang praktis tidak ditampilkan oleh Muslim dan sarjana Islam tatkala mereka mendewakan keseluruhan kwalitas Sura Langit itu. Pertanyaannya: keseluruhan kualitas apa? Tidakkah Muslim sadar bahwa isi dan bentuk sura-sura Quran justru banyak ditandai dengan cacat yang melekat sejak lahirnya?
Ia tidak pernah sempurna seperti yang dislogankan. Makin muluk dan heroik ia dislogankan, makin lebar ia terpuruk kedalam kecatatannya yang tak tersembunyikan. Mari kita simak hanya beberapa saja:
Ia banyak berisi huruf/ kata-kata aneh yang total misterius hingga kini dan kekal fawatih al-suwar: alif, laam, mim, shad dll , dan karenanya ia mubasir sebagai sebuah pesan Ilahi. Atas fakta ini saja, maka seharusnya Sura yang bagian isinya tak jelas dan misterius ini sudah harus di-diskualifikasi dalam kontes tulis-menulis SSQ yang Muhammad tantangkan! Anda tidak bisa memasukkan bahasa UFO kedalam sistim pertandingan bahasa dunia!
Ayat dan Sura praktis tanpa setting background, sehingga tidak diketahui ceritanya kapan dan dimana, dan lebih jauh dikacaukan dengan tidak tersusunnya secara kronologis. Lihat Sura Maryam, lalu Anda bertanya dimana Jibril mengunjunginya dan kapan? Tak ada setting Israel sedikitpun ditampilkan untuk mendukung otentisitas kisahnya, padahal itu tersedia dalam cacatan sejarah dan diketahui jutaan orang dalam masa-nya. Simak pula wahyu-wahyu pertama yang diturunkan bagi Muhammad. Dimanakah Sura-nya ditempatkan? Ternyata ditempatkan dalam Sura ke-96 Sura al-Alaq , bukan sura kesatu. Tetapi itupun tidak semua ayat-nya merupakan wahyu yang diturunkan paling awal, melainkan hanya 5 ayat pertama saja, lalu diputus dan disusul oleh 5 ayat pertama dari sura 74 dst secara berlompatan. Ini menurut versi Muslim mayoritas, dan dianggap baik-baik saja saking terbiasanya, dan karena tak bisa didandani lagi. “You take it or you leave it”. Tetapi bagi Panitia Kontes Surat–Menyurat dengan predikat surat sempurna , maka Sura dengan isi seperti “kutu-loncat” ini adalah bagian yang harus di-disqualified!

Isinya tanpa topikal dan non-sistematis, sulit ditelusuri siapa dan apa keperluannya. Bahkan mengurutkan nama-nama nabi saja tidak beres. Lihat Sura 6:83-86, disitu ditampilkan 18 nabi sekaligus yang semestinya berarti sangat penting dan strategis yang akan disampaikan Allah. Tetapi sayang, dalam penyampaian dengan kronologi dan sistematisasi yang kacau ala Al-Quran, maka Anda hanya menemukan pesan-pesan yang “redundant”, bukan yang signifikan! Tak ada Muslim yang dapat menjawab kenapa Sura Langit ini mengurutkan para nabi dalam sistim yang anti-kronologi demikian? Dr. Quraish Shihab sendiri berkata: hanya Allah yang tahu!

Mustahil Allah tidak serapi-rapi sifat-Nya 

Muslim terpaksa berputar-putar membela surat dengan susunan kacau yang menjadi ciri Al Qur’anul Karim itu. Sering kita mendengar alasan “itulah design Allah”, atau malah sebaliknya, “susunan itu tidak dipentingkan Allah”. Atau bahkan dibela dengan alasan bahwa itulah susunan surgawi yang dimensinya tidak terkungkung oleh urutan duniawi! Dikatakan juga bahwa Kitab demikian dapat langsung dibaca sekali buka, tidak perduli terbuka kepada halaman mana saja! Tidak disadari, bahwa retorika yang menyesatkan ini langsung akan menempatkan Allah sebagai pihak yang ikut-ikut kacau bersama manusia. Ketika susunan Kalam Allah yang diperuntukkan bagi manusia itu tidak serapi-rapi sifat-Nya, maka manusia tidak lagi mengerti dimana letak keagungan-Nya yang sebenarnya. Dan ketika Kalam Allah yang awalnya turun dari langit menurut kronologi itu Sura 96, lalu 74 dst , lalu harus dibongkar-pasang demi melawan kronologi itu sendiri, maka tak ada manusia yang mampu lagi untuk memahami siapakah yang sebenar-nya ditargetkan Allah untuk disampaikan pewahyuanNya? Manusiakah atau diri Allah sendiri! Orang juga akan segera menggugat Maha-presisi dan efisiennya Allah. Sebab praktis bongkar pasang kronologi itu akan berarti bahwa Allah sudah menurunkan Quran DUA kali secara terpisah: 1  menurunkan isi-ayat, dan 2  menyusul menurunkan bentuk urutan ayatnya. Padahal keduanya dwitunggal yang tak terpisahkan untuk setiap komunikasi! Tak ada Taurat, Zabur, Injil dan Kitab apapun juga didunia yang mana Tuhan yang Maha Tahu harus “menurunkannya” dua kali lalu baru menyatukannya seperti Quran! What If Quran is not the Word of God?

Terjadi sisipan ayat yang aneh di tengah-tengah narasi Sura yang sedang berjalan. Ini menjadikan Sura yang mau dipertandingkan gugur seketika!

Contoh mencolok pada Sura 5:3, 3a . Diharamkan bagimu memakan  bangkai, darah, daging babi daging hewan  yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan diharamkan bagimu  yang disembelih untuk berhala 3b . Dan diharamkan  juga mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu  adalah kefasikan. 3c . Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan  agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. 3d . Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat 3a, b, d menyangkut haram-halal makanan dan undian. Namun tiba-tiba terselip ayat 3c yang sangat TERKENAL, karena para mainstream Islam menganggapnya sebagai AYAT TERAKHIR, ayat pamitan Allah dan Jibril dari seluruh pewahyuan Quran! Anehnya konten ayat ini berbicara jauh menyimpang dari pengamalan haram-halal yang sedang hangat diserukan sebelumnya, dan posisinya sebagai ayat terakhir Al-Quran kok bisa menyelinap sebagai ayat sempalan untuk Sura 5:3! Apakah surat demikian masih bisa dikonteskan dalam skala kesempurnaan Ilahi?

Dan yang paling tragis adalah bahwa telah terjadi perbantahan-perbantahan internal antar isi ayat surat yang satu dengan lainnya. Dalam Islam ini dikenal dengan “nasakh” ayat pengganti  dan “mansukh”ayat yang diganti . Dan ayat-ayat ini telah tersebar dalam banyak Sura yang sampai hari ini terus diperdebatkan oleh teolog Muslim sendiri. Mereka menghitung ada 40 Sura yang dinyatakan berisi ayat-ayat yang digantikan Allah SWT As-Suyuthi, al-Itqan fi-‘Ulum Al-Quran 2/p.21 . Nah, ketika ada Sura x  yang isinya mengandung ayat mansukhah, maka kontestan SSQ yang memilih Sura x  ini untuk diperhadapkan dengan SSQ-nya, tentu ia akan otomatis menjadi pemenang, karena Sura x  tersebut sesungguhnya telah dinyatakan Allah tidak berlaku! Sesuatu yang tidak valid tidak bisa diselipkan untuk tampil dalam kontes manapun lagi. Perubahan arah kiblat dari Yerusalem ke Ka’bah adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah Sura Al-Baqara 2:180-181 yang dinasakhkan oleh ayat mewaris yang berlaku saat ini sesuai dengan Sura 4:11. Dua wahyu ketetapan yang dibuat Allah untuk saling membantah, dan berakhir dengan mengkotakkan yang satu, walau Allah telah menegaskan ancamanNya atas pelaku NASAKH.

2:180 . “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan tanda-tanda  maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, ini adalah  kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya”.

4:11 . “Allah mensyari'atkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk  anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan… dst …Ini adalah ketetapan dari Allah…”

Apakah Anda Juri kontes surat-menyurat tidak mempertimbangkan cacat ini sebagai faktor negatif dari “kehebatan & kesempurnaan” Kalimat dan Sura Langit? Kesempurnaan mencakup unsur kekekalan. Dimanakah kekekalan kesempurnaannya bila mulut Allah sudah tampak mencla-mencle lewat waktu beberapa saat saja? Kini, bilamana seorang “kafir” menyodorkan SSQ untuk dikonteskan melawan Sura Al-Baqara yang telah mengimpoten-kan ayat diatas, maka apakah sang Juri yang adil tidak men-disqualifikasikan Sura Al-Baqara tersebut karena kecacatan-nya yang struktural? Alhasil, kembali kepokok judul artikel ini yang harus kita semua jawab:

“What If Sura-Semisal-Quran malah membuktikan kepalsuan Al-Quran?”

Sekarang, bagaimana dengan tantangan Yesus?

Seperti Muhammad, Yesus sebagai utusan BapaNya juga mengalami tuntutan dari kaumNya untuk menunjukkan tanda kenabianNya. Dia ditantang untuk membuktikan jatidiri dan sumber otoritasNya. Maka Yesuspun melayani tantangan tersebut dengan cara menantangkan balik kepada mereka yang tak percaya. Namun sebaliknya dari Muhammad, Yesus tidak marah-marah dan melaknati lawanNya. Ia menantangnya khusus secara rohani, lurus, sederhana, tidak diulang-ulang ganti kriteria yang berbeda-beda, tidak membutuhkan penjurian, pasti, instan hasil pemenangnya, tidak akan menjadi bahan AMOK bagi pengikut dan musuh-musuhNya! Alangkah hebatnya, bukan? Kita mengharapkan ada penghargaan dan hormat nurani Muslim yang jujur bagi Dia, setelah memperbandingkannya dengan tantangan ala Muhammad.

Disini, Yesus meng-“entertain” tantangan dengan balik menyodorkan dua pernyataan yang adi-kodrati - bukan cara kontes-kontesan insani - sehingga konklusinya telak, langsung dan final, tidak usah sistim juri-jurian:
“Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku Yesus  berbuat dosa?”. Yohanes 8:46  
Semua peserta kontes terdiam! Semua ciut! Tidak ada manusia dan nabi manapun yang berani menyodorkan pernyataan demikian satu terhadap lainnya. Tidak ada siapapun yang berani menyanggahnya. Karena apa? Karena dua hal mendasar: 1. Karena semua orang dan nabi berdosa. Muhammad-pun berdosa dan minta ampunan Sura 47:19, HS.Bukhari 1732 dll . Dan 2. Karena hanya Yesuslah yang suci-murni kodratNya. Ia tidak berdosa atau pernah tampak meminta ampun kepada Bapa. Dengan demikian kontes ini dimenangkan telak oleh Yesus dengan sekali terjang! 
“Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. [yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah Tubuh Nya sendiri, yang mati 3 hari namun dibangkitkan kembali]”. Yohanes2:18-22 
Inilah yang dikenal dengan istilah “Tanda Nabi Yunus” yang memang dikhususkan untuk Anda dan saya sebagai bagian dari “angkatan yang jahat dan tidak setia”Matius 12:39 . Dan tanda itu betul terjadi di depan begitu banyak saksi hidup, lawan dan kawan, semuanya mutawatir sah dalam setiap jenjang kesaksian  meriwayatkan kebangkitanNya. Kubur Muhammad berisi. Kubur Yesus kosong! Posisi Muhammad sedang menunggu hari penghakiman dialam antah berantah disebut Barzak ; Yesus berada disurga disisi Tuhan, menunggu saat penghakiman!

Tampak disini bahwa tantangan Yesus tidak membutuhkan sistem kontes skill-skill-an atau kriteria-kriteriaan dari panitia. Menghadapi Yesus, tidak ada juri yang perlu menengahi atau membantu. Selidikilah baik-baik bagaimana Yesus menghadapi musuh terbesar-Nya sendirian. Ia tidak menghasut murid-muridnya untuk membela diri-Nya dalam keadaan yang tergenting sekalipun. Tidak seperti Muhammad, Dia tidak membutuhkan para pengikutNya menjadi tameng “dimedan perang”, Ia maju ke depan menghadapi para serdadu agama. Dia menghadap Mahkamah Agama, Pilatus dan Raja Herodes sendirian. Yesus sendirilah yang langsung mengalahkan setiap penyanggahNya, termasuk setan dan iblis. Ia tidak berkata seperti Muhammad: “Aku berlindung kepada Tuhan dari jin dan manusia. Ia berkata: “Enyahlah engkau, Iblis!” Dan itulah yang terjadi.

Berkuasa dan tidak berkuasa mengusir setan seharusnya dimaknai Muslim secara penuh, bukan hanya dari kulit. Sebab Ia yang berotoritas terhadap setan berarti - implisit dan explisit - bahwa TANTANGANNYA tidak akan terkalahkan oleh setan, apalagi manusia! Sebaliknya ia yang hanya mampu minta perlindungan Tuhan hanyalah menyodorkan tantangan insani yang justru amat rentan diungguli manusia, apalagi JIN. Bukti kerentanan tantangan Muhammad terlihat dari begitu banyak pasal yang telah kita perlihatkan diatas, dimulai dengan bualan 124.000 nabi islamik, dan berubah-ubahnya kriteria SSQ tanpa alasan. Dari menulis sebuah Al-Quran, berubah menjadi 10 Surat dan, berakhir menjadi 1 Surat saja, namun tidak akan bakalan ada Muslim yang sanggup meng-eksekusikan kontesnya dengan semestinya! Tantangan Muhammad sudah dijawab banyak manusia. Tantangan Yesus tidak terjawab.

Tetapi tantangan Yesus bukanlah sekedar ditujukan kepada para pemimpin Yahudi yang paling tegar tengkuk diabad kesatu, melainkan terlebih-lebih kini ditujukan kepada Anda-anda yang kini bisa mem-bandingkannya dengan tantangan SSQ dari Muhammad. Dan Anda akan menemukan bahwa tidak ada caranya untuk ber-apologi bahwa tantangan Muhammad itu adalah tantangan surgawi. Tidak ada rasul terakhir yang jatidirinya begitu tidak terdukung seperti Muhammad, dan tidak ada tanda dan tantangan manapun daripadanya yang meneguhkan Quran sebagai mujizat ilahi, melainkan malah mengkonfirmasikan apa yang pernah diserukan oleh orang-orang Arab kafir dizamannya: "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu” Sura 11:13 .

Kesimpulan: Tantangan Muhammad dalam wahyuNya sudah disambut dan disodorkan oleh “para-kafir” ke tangan Muslim baik-baik. Tetapi justru tak ada Muslim yang mampu dan berani menilainya dengan baik-baik. Firman Tuhan gagal dan abortif dalam perjalanannya, padahal dimana-mana Tuhan selalu menegaskan FirmanNya niscaya berhasil:
“Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” Yesaya 55:11 . “Firman Tuhan tidak mungkin gagal” !!! Roma 9:6 .

Muslim tak ada senjata keniscayaan apapun yang dapat membenarkan kenabian ‘Nabinya’, kecuali mendalil-dalil, mengancam dan amok. Dan itu yang malah membuktikan kekalahannya lebih jauh, karena itu hanya menunjukkan bahwa mereka kehabisan semua sumber dayanya!

Sebaliknya tantangan Yesus TELAH keluar menjadi pemenang, sejak abad kesatu dan seterusnya disegala jagad. Karena apa? Jawabnya sesederhana tantanganNya, yaitu seperti yang tercantum dalam Sura Ali Imran 3:45 dan 21:91. Isa Almasih satu-satunya sosok yang paling terkemuka di dunia dan di alam akhirat! Dialah Tanda yang besar bagi semesta alam! Dia bukan menantang untuk egoNya, atau demi mengutuk Anda. Yesus tidak mengenal cara-cara bermubahalah sambil melaknati musuhNya Sura 3:61 , melainkan justru untuk menawarkan kesela-matan kepada Anda dan saya. Kalimat tantanganNya belum cukup dipetik diatas, kini kini kami lengkapkan buat renungan Anda secara mendalam,

“Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” Yohanes 8:46