Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Mar 26, 2013

Sosok Intelijen Anti-Islam

Sosoknya dikenal sebagai tangan kanan Soeharto. Ia menggunakan siasat "Pancing dan Jaring" untuk memberangus gerakan Islam. Umat Islam disusupi dan dipancing untuk bertindak ekstrem, setelah itu dijaring untuk diberangus atau dikendalikan.

Namanya Ali Moertopo. Meski Muslim, dalam karir intelijen dan militernya ia dikenal sebagai arsitek pemberangus gerakan Islam pada masa Orde Baru.

Ia menjadikan umat Islam sebagai lawan, bukan kawan. Untuk memuluskan misinya, ia berkolaborasi dengan kelompok anti-Islam, di antaranya kelompok Serikat Jesuit, kejawen, dan para pengusaha naga yang menjadi pilar kekuatan Orde Baru. Mereka tak hanya mengebiri kekuatan Islam secara politik, tetapi juga memarjinalkan perekonomian umat Islam.

Ali Moertopo dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 23 September 1924. Sebagai tangan kanan penguasa Orede Baru, Seoharto,  beberapa jabatan mentereng di dunia militer, intelijen, dan pemerintahan pernah dipegangnya, yaitu; Deputi Kepala Operasi Khusus (1969-1974), Wakil Kepala Bidang Intelijen Negara (1974-1978), Penasihat Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Golkar, dan Menteri Penerangan RI (1978-1983).

Hampir semua posisi dan karir yang didudukinya, berkaitan dengan upaya menyingkirkan peranan umat Islam dan memberangus gerakan Islam. Pada pemilu tahun 1971, Moertopo memobilisasi kekuatan militer untuk menekan para mantan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk memilih Golkar. Sedangkan saat menjabat sebagai Kepala Operasi Khusus (Opsus), lembaga yang dikenal angker pada saat itu, Ali Moertopo banyak melakukan upaya-upaya penyusupan (desepsi, penggalangan dan pemberangusan gerakan Islam).

Siasat "Pancing dan Jaring" digunakan oleh Moertopo untuk menyusup ke kalangan Islam, melakukan pembusukan dengan berbagai upaya provokasi, kemudian memberangusnya. Operasi intelijen tersebut pada saat ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Densus 88, sebuah detasemen yang juga dikendalikan oleh musuh-musuh Islam, dengan tujuan yang sama. Beberapa peristiwa seperti Komando Jihad, tragedi Haur Koneng, penyerangan Polsek Cicendo, Jamaah Imran, dan Tragedi pembajakan pesawat Woyla, tak lepas dari siasat licik Moertopo. Stigma "ekstrem kanan" yang ditujukan kepada umat Islam dan "ekstrem kiri" yang ditujukan kepada anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga hasil dari kerja intelijen Moertopo.

Umat Islam dipancing, kemudian dijaring dan diberangus. Sebagian yang tak kuat iman, dikendalikan kemudian digalang untuk bekerjasama dengan penguasa. Pada peristiwa Komando Jihad misalnya, simpatisan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII), dipropaganda dan dimobilisasi oleh Ali Moertopo untuk melakukan perlawanan terhadap ancaman Komunis dari Utara (Vietnam). Ali Moertopo kemudian mendekati beberapa orang tokoh DI, yaitu Haji Ismail Pranoto, Haji Danu Muhammad Hassan, Adah Djaelani, dan Warman untuk menggalang kekuatan umat Islam, yang memang sangat memendam luka sejarah terhadap komunisme.

Setelah ribuan umat Islam termobilisasi di Jawa dan Sumatera, dengan siasat liciknya, Moertopo kemudian menuduh umat Islam akan melakukan tindakan subversif dengan mendirikan Dewan Revolusi Islam lewat sebuah organisasi "Komando Jihad (KOMJI)". Mereka kemudian digulung dan dicap sebagai "ekstrem kanan". Istilah "Komando Jihad" muncul pada tahun 1976 sampai 1982. Selain KOMJI, rekayasa intelijen juga terlihat jelas dalam kasus Jamaah Imran, Cicendo, dan pembajakan pesawat DC-9 Woyla. Jamaah Imran adalah kumpulan anak-anak muda yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein, pria asal Medan. Aktivitas kelompok yang didirikan pada 7 Desember 1975 ini berpusat di Bandung, Jawa Barat.

Ali Moertopo

Kelompok ini berobsesi ingin membangun sebuah komunitas Muslim yang melaksanakan syariat Islam secara murni. Untuk menjalankan misinya, menurut laporan intelijen, mereka mendirikan Dewan Revolusi Islam Indonesia (DRII). Istilah Jamaah Imran juga diberikan oleh aparat, bukan penamaan yang dibuat kelompok anak muda tersebut. Kasus Jamaah Imran mencuat ke publik saat terjadi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung, pada 11 Maret 1981. Peristiwa itu bermula ketika polisi menahan anggota jamaah tersebut karena kasus kecelakaan. Kemudian mereka berusaha membebaskan anggotanya dengan melakukan penyerangan bersenjata. Peristiwa berdarah itu menjadi legitimasi aparat untuk melakukan penangkapan anggota Jamaah tersebut.

Peristiwa Cicendo berlanjut dengan aksi pembajakan pesawat terbang DC 9 Woyla GA 208 dengan rute Jakarta-Palembang pada Sabtu, 28 Maret 1981. Pembajakan tersebut dilakukan oleh lima orang anggota Jamaah Imran dengan membelokkan pesawat menuju Bandara Don Muang, Thailand. Drama pembajakan ini berhasil ditumpas oleh Pasukan Khusus TNI di bawah pimpinan LB Moerdani dan Sintong Pandjaitan. Mengapa sekelompok anak muda itu begitu radikal dan berani melakukan perlawanan terhadap pemerintah? Setelah diusut, sikap radikal kelompok itu ternyata diciptakan oleh seorang intel ABRI yang bernama Johny alias Najamuddin yang menyusup dalam Jamaah Imran.

Johny yang sudah diterima oleh jamaah tersebut kemudian melakukan beragam provokasi dengan menebar kebencian kepada ABRI. Johny kemudian 'membeberkan rahasia' ABRI yang dikatakan akan melakukan de-islamisasi di Indonesia. Untuk itu, Johny merencanakan agenda besar: melakukan perlawanan terhadap ABRI. Di tengah sikap ABRI yang memang telah membuka "front" terhadap umat Islam, para anggota Jamaah Imran kemudian terbujuk dengan gagasan Johny.

Tanpa sepengetahuan para anggota jamaah lainnya, Johny membuat dokumentasi setiap aktivitas yang dilakukan jamaah tersebut. Dengan skenario licik, Johny kemudian membuat rencana untuk melakukan operasi pencurian senjata api  di Pusat Pendidikan Perhubungan TNI AD pada 18 November 1980. Senjata curian itulah yang kemudian dilakukan untuk menyerang Polsek Cicendo. Anehnya, Johny yang telah menghasut anggota Jamaah Imran untuk menyerang markas polisi tersebut, ternyata tak menampakkan batang hidungnya saat peristiwa terjadi. Bahkan saat polisi melakukan aksi besar-besaran untuk menangkap Jamaah Imran, Johny 'lolos' dari penangkapan.

Johny akhirnya tewas dieksekusi anggota Jamaah ini di suatu tempat. Saat persidangan kasus ini digelar di pengadilan, majelis hakim menolak untuk membuka identitas Johny. Selain itu, Jaksa penuntut umum juga selalu mementahkan usaha untuk mengorek identitas pria itu lebih dalam. Jenderal Soemitro, seniornya Ali Moertopo di lingkungan militer, dalam biografinya menyebut kasus Jamaah Imran, peristiwa penyerangan terhadap Golkar di Lapangan Banteng, dan pembajakan Pesawat Woyla sebagai rekayasa Opsus (Operasi Khusus) Ali Moertopo yang  menerapkan teori "Pancing dan Jaring".

Dalam kasus Jamaah Imran, kata Seomitro, Opsus memakai tokoh Imran yang bernama asli Amran. Selama lima tahun Imran dibiayai oleh Ali Moertopo belajar di Libya untuk mempelajari Islam dan ilmu terorisme. Imran Kemudian dimunculkan sebagai sosok yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia kembali. Soemitro juga menceritakan, laporan intelijen menyebut tujuan operasi Woyla  untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto dan mendiskreditkan umat Islam. Operasi ini ingin memunculkan kesan bahwa kelompok Islam cenderung radikal dan masih memiliki keinginan untuk mendirikan negara Islam seperti halnya DI/TII.

Inilah yang kata Soemitro disebut sebagai teori "Pancing dan Jaring", dimana umat Islam dirangkul (dibina, pen) terlebih dahulu, lalu dikipasi untuk memberontak, baru kemudian ditumpas sendiri oleh Opsus.

Jenderal Soemitro menceritakan, "Kecurigaan saya terhadap kasus Woyla, mulai muncul, ketika ada laporan bahwa sebetulnya Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Jenderal TNI M Jusuf akan membawa Awaloedin Djamin yang notabene memiliki pasukan anti-teror untuk menyelasaikan kasus pembajakan tersebut.

Namun, rencana itu tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan Jusuf, tidak tahu siapa yang mengubahnya. Akhirnya yang berangkat bukan lagi pasukan Awaloedin Djamin, melainkan pasukan RPKAD yang dipimpin Sintong Pandjaitan.

Ini yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, mengapa RPKAD yang berangkat, bukannya polisi. Dari situ saya bisa menganalisis bahwa ada dua komando, yakni yang langsung ke jalur Pangab, dan satunya lagi: Jalur invisible hand!" (Lihat, biografi Jenderal Soemitro yang ditulis oleh Ramadhan K.H, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994 dan buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari '74,  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Untuk memuluskan langkah-langkah politik Islamophobia, kelompok militer anti-Islam yang dikomandoi oleh Ali Moertopo, oknum pengusaha etnik Cina, Serikat Jesuit, dan pejabat sekular-kejawen, mendirikan sebuah lembaga think tank bernama Centre for Strategic and International Studies (CSIS)  pada 1 September 1971, bermarkas di Tanah Abang III, Jakarta Pusat. Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani (penasihat kebatinan Soeharto) menjadi sosok yang berada di belakang CSIS. Lembaga ini kemudian membuat masterplan pembangunan Orde Baru yang sangat menguntungkan pemerintah, pengusaha etnik Cina dan kelompok Kristen.

Sementara umat Islam dianggap sebagai bahaya yang mengancam, yang bercita-cita mendirikan negara Islam. Mereka masih menjadikan isu "Darul Islam" sebagai jualan untuk memberangus gerakan Islam. Selain pula mewaspadai kebangkitan Islam politik yang pada masa lalu direpresentasikan melalui kekuatan Partai Masyumi. Kelompok Kristen dan oknum pengusaha etnik Cina yang merapat ke militer, meyakinkan pemerintah dan tentara, bahwa jika umat Islam berkuasa, maka akan terjadi diktator mayoritas, dimana penegakan syariat Islam akan diberlakukan.

Pemerintah yang ketika itu mabuk kekuasaan dan tentara yang diindoktrinasi untuk mewaspadai ancaman terhadap kebhinekaan Pancasila, kemudian termakan isu tersebut, sehingga memposisikan umat Islam sebagai bahaya. Agenda politik kelompok anti Islam ini berhasil menciptakan konglomerasi dan gurita bisnis antara penguasa dan pengusaha. Di antara jaringan bisnis tersebut adalah Pan Group milik Panlaykim dan Mochtar Riady, PT Tri Usaha Bakti milik Soedjono Hoemardani, Pakarti Grup milik Lim Bian Kie dan Panlaykim, dan Berkat Grup milik Yap Swie Kie.

Masuknya kekuatan konglomerat dalam lingkaran Orde Baru membuat rezim tersebut semakin kuat. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa Orde Baru dibangun oleh empat pilar kekuatan, yaitu ABRI, Birokrat, Golkar dan konglomerat. Keempat pilar tersebut memainkan peran penting dalam memarjinalkan peran politik umat Islam saat itu. Kolaborasi rezim Orba dengan pengusaha Katolik/Cina di antaranya dengan membuat kebijakan yang memotong urat nadi ekonomi umat Islam dan menghidupkan kelompok kecil Cina keturunan.

Sentra-sentra ekonomi umat Islam seperti di Pekalongan, Solo, Pekajangan, Majalaya, dan lain-lain, dengan aneka kebijakan pemerintah dapat dikerdilkan. Jaringan perbankan dan sektor keuangan lainnya juga berhasil mereka kuasai. Karena itu, ketika Orba berkuasa, gurita bisnis kelompok ini begitu perkasa dan dapat memengaruhi kebijakan pemerintah.

Siapa Ali Moertopo sesungguhnya?

Mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro mengatakan asal usul Ali Moertopo sangat gelap, sehingga banyak rumor yang beredar tentang sosoknya.

Ali Moertopo

Kasman Singodimedjo, tokoh Islam yang pada zaman Soekarno aktif di militer mengatakan, Ali Moertopo adalah bekas intel tentara Angkatan Laut Belanda (Netherland Information Service) yang ditangkap Hizbullah di daerah Tegal, Jawa Tengah. Saat ditangkap, Ali Moertopo nyaris dibunuh. Ia kemudian dijadikan double agent oleh Hizbullah.

Versi lain, seperti diceritakan Adam Malik, Ali Moertopo adalah pendiri AKOMA (Angkatan Komunis Muda) yang berafiliasi pada partai Murba Alimin, yang berhaluan Sneevliet. Meski tidak percaya bahwa Moertopo bekas pentolan salah satu organisasi Komunis, Soemitro menceritakan kisah yang dikait-kaitkan dengan sosok Komunis Moertopo.

Saat ada seorang staf Moertopo ingin membuat tulisan tentang "Peristiwa Tiga Daerah" yang menyebutkan Komunis sebagai dalang dari peristwa itu, Moertopo membentaknya. "Mau Apa? Mau mendiskreditkan saya?"
Moertopo juga dikenal dekat dengan Kolonel Marsudi, salah seorang anggota PKI yang pernah menjadi Direktur Opsus. Selama di Opsus, Marsudi selalu berada di belakang layar dan sangat tertutup.

Marsudi pun disebut-sebut sebagai pendiri Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), organisasi mahasiswa underbouw PKI. Cerita mengenai ini diungkap dalam buku biografi Jenderal Soemitro, senior Ali Moertopo di lingkungan militer, yang ditulis oleh Ramadhan K.H.

Dalam catatan Jenderal Soemitro, jauh-jauh hari Ali Moertopo sudah merencanakan CSIS dan Opsus sebagai alat untuk memperkuat dan mengamankan rezim Orba. Ali Moertopo yang melihat kekuatan Islam sebagai gerakan yang bisa mengancam 'gerak laju pembangunan', mencari partner yang bisa diajak untuk sama-sama menjegal gerakan Islam. Dan partner tersebut adalah kelompok Katolik yang tergabung dalam Ordo Jesuit. Ali Moertopo didekati kelompok ini karena posisinya sebagai orang dekat Soeharto dan mempunyai pengaruh di ABRI. Kabarnya, Ali Moertopo sudah didekati kelompok ini sejak tahun 1960-an.

Ali Moertopo sendiri sudah mengetahui bahaya dari kelompok Orde Jesuit ini, yang ia sebut lebih berbahaya dari komunisme karena terdiri dari para intelektual adventurir. Namun, kata Ali, kedekatannya dengan kelompok itu adalah untuk meredam gerakan mereka, atau dalam bahasanya "untukmengandangkannya ketimbang bergerak liar".

Apakah dalam rangka "mengandangkan" Orde Jesuit ini juga, kemudian Ali Moertopo menjadikan rumah Pater Beek (tokoh Jesuit Indonesia) di jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, sebagai markas Opsus? Saat peristiwa 15 Januari 1974, Ali Moertopo diduga terlibat penunggangan aksi apel mahasiswa yang menolak kedatangan PM Jepang yang berujung pada kerusuhan di Jakarta.

Tujuan manuver politik Moertopo adalah untuk menyingkirkan orang-orang yang mencoba mendekati Soeharto dan menjadi rival politiknya. Untuk menggambarkan bahwa dia orang yang bisa mengendalikan kebijakan politik Orde Baru, Benny Moerdani, kadernya Moertopo, pernah mengatakan, "Kuda boleh berganti, tapi saisnya tetap satu".

Artinya, siapapun bisa menggantikan Soeharto, asalkan tetap bisa dikendalikan oleh Moertopo dan kelompoknya.

Setelah peristiwa 15 Januari 1974, Ali Moertopo melakukan lobi politik kepada Presiden Soeharto untuk memanggil Benny ke Jakarta agar ditempatkan dalam jajaran penting di militer. Keseriusan Ali Moertopo untuk menempatkan kadernya dalam posisi strategis di elit militer terlihat dengan menelepon langsung Benny yang saat itu berada di Korea Selatan. Kemudian, dengan diantar sendiri oleh Ali Moertopo, Benny menghadap langsung ke Soeharto. Oleh penguasa Orde Baru itu Benny diserahi jabatan sebagai Ketua G-I Asisten Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan Polri.

Selain itu, Benny juga ditugaskan untuk membantu Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Jika 'Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam' di bagian sebelumnya mengungkap sosok Ali Moertopo, di bagian ketiga ini menyingkap kader atau penerusnya Ali Moertopo, yaitu Benny Moerdani yang juga dikenal sangat memusuhi umat Islam. Benny diduga berada di balik tragedi berdarah  Tanjung Priok, 1984. Pada masanya, militer Indonesia pernah dilatih di Israel.

Raut wajahnya keras dan kaku. Terkesan angker dan tak bersahabat. Itulah Leonardus Benjamin "Benny" Moerdani, sosok jenderal militer  pada masa Orde Baru yang dikenal sangat benci Islam dan kaum Muslimin. Benny Moerdani adalah orang kepercayaan Ali Moertopo. Benny sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Moertopo untuk menggantikannya dalam menjalankan tugas mengawasi bahaya "ekstrem kanan", yang tak lain adalah gerakan Islam.

Benny Moerdani lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Di kalangan Katolik, jenderal yang dikenal ahli intelijen ini sangat dibangga-banggakan. Benny bisa dibilang sebagai representasi kelompok Katolik yang mempunyai posisi penting dalam lingkaran militer dan kekuasaan Orde Baru pada masa lalu. Sebagai kader Moertopo, Benny pernah diangkat menjadi wakilnya ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Ia juga termasuk sosok yang terlibat dalam pembentukan Centre for International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tank yang sangat dekat dengan Orde Baru, didukung oleh para birokrat Kejawen dan pengusaha etnik Cina yang saat itu membangun gurita dalam lingkar elit kekuasaan Orde Baru.

Di kalangan tentara Muslim, Benny Moerdani dikenal sangat tidak aspiratif terhadap kelompok Islam. Almarhum mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Ka-BAKIN), Letjend TNI Z.A Maulani pernah mengatakan, pada masa Benny Moerdani menjadi panglima ABRI, sangat sulit mendapatkan masjid atau mushalla di komplek dan barak-barak militer.

Keberadaan tempat ibadah umat Islam tersebut dikontrol begitu ketat. Bahkan, pada masa itu banyak tentara Muslim yang tidak berani mengucapkan "Asssalamu'alaikum" ketika  berada di lingkungan militer.

Benny pernah melontarkan pernyataan kontroversial yang melarang umat Islam mengucapkan salam. Dalam sebuah rapat kabinet bidang Polkam, Jaksa Agung Ali Said pernah dibentak oleh Benny karena mengucapkan "salam" dalam rapat tersebut. "Indonesia bukan negara Islam, tak perlu ucapkan salam," bentaknya saat itu.

Peristiwa pembajakan pesawat yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi kelompok jihad, juga digagalkan atas peran Moerdani. Ia terlibat dalam aksi pembebasan para sandera dan penangkapan orang-orang yang dianggap sebagai "teroris" atau "ekstrem kanan" ketika itu.

Pasca Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) yang diduga kuat melibatkan operasi intelijen Ali Moertopo, Presiden Soeharto memanggil Moerdani yang ketika itu sedang bertugas sebagai konsulat di KBRI Korea Selatan untuk datang menghadap. Belakangan diketahui, pemanggilan Moerdani ke Jakarta oleh Presiden Soeharto adalah hasil lobi-lobi Ali Moertopo untuk menempatkan kader pentingnya di lingkaran presiden.

Dengan diantar oleh Moertopo, Moerdani kemudian bertemu Pak Harto. Setelah pertemuan, Moerdani kemudian diangkat oleh Soeharto sebagai Ketua G-1 Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan kepolisian. Selain itu Moerdani juga diperbantukan untuk BAKIN. Karir militer Benny Moerdani terus melesat, meskipun ketika itu umat Islam mulai mencurigai sepak terjangnya yang sangat antipati terhadap aspirasi Islam.

Benny Moerdani dilibatkan dalam menangani intelijen Kopkambtib dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Intelijen, sebuah lembaga yang dikenal sangat angker dan ditakuti pada masa Orde Baru.
Para ulama, khatib, mubaligh dan aktivis Islam pernah merasakan bagaimana bengisnya lembaga ini dalam memosisikan Islam sebagai ancaman dan lawan. Moerdani bahkan diduga berada di balik perpecahan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga terbentuklah dua HMI: HMI Dipo dan HMI MPO.

Tahun 1983, ketika Benny Moerdani diangkat sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Yusuf, umat Islam makin khawatir dengan sepak terjangnya. Moerdani kemudian melakukan berbagai upaya restrukturisasi secara drastis, dengan menempatkan tentara-tentara yang Nasrani dalam jajaran penting di militer. Benny Moerdani juga dicurigai dalam menjegal karir para perwira ABRI Muslim. Tak heran, jika ada yang menyebut telah terjadi kristenisasi di tubuh ABRI di bawah kepemimpinan Benny Moerdani. Dalam persepsi Benny Moerdani, semua gerakan Islam adalah ancaman, sebagaimana DI/TII pada masa lalu yang kemudian ditumpas.

Benny Moerdani yang pernah terlibat dalam operasi menumpas DI/TII dan PRRI/Permesta tidak bisa membuang persepsi negatif terhadap gerakan Islam, sehingga menjadikan Islam sebagai ancaman yang membahayakan keutuhan NKRI. Berbeda dengan Ali Moertopo yang kerap pamer kekuasaan, Benny justru dikenal sebagai sosok yang misterius dan penuh rahasia. Meski sama-sama haus kekuasaan, Bennyi bermain "cantik" untuk menjalankan obesesinya tersebut. Sebagai orang yang malang melintang di dunia intelijen, segala tindakan ia perhitungkan dengan matang dan sangat tertutup. Bahkan ihwal tentara yang sering kali di latih di Israel pun, pada masa Benny Moerdani tidak terungkap, tertutup rapat.

Di kalangan tentara Muslim, isu tentang militer yang dilatih di Israel pada masa Benny Moerdani sudah santer terdengar. Benny menyadari posisinya sebagai bagian dari kelompok minoritas di Indonesia. Itu membuanya sulit untuk menggapai puncak kekuasaan di republik ini. Karena itu, dengan kelihaiannya ia berperan sebagai king maker, orang yang mempengaruhi pihak yang berkuasa. Kepada perwira kopassus di akhir tahun 1980-an Benny pernah berseloroh, "Buat apa jadi orang yang berkuasa, jika bisa dengan tanpa risiko kita mengontrol orang yang berkuasa."

Karena itu, Benny membuat strategi agar orang yang berkuasa nanti, meskipun berasal dari kalangan Islam, namun bisa dengan leluasa ia atur. Itulah yang menyebabkan ia menjegal habis-habisan langkah Soedharmono untuk menjadi wakil presiden, karena Sudharmono bukan sosok yang bisa ia atur, di samping, menurutnya, Soedharmono dekat dengan kalangan santri. Benny kemudian menjadikan Naro sebagai calon wakil presiden yang ia gadang.

Benny juga dikenal lihai dalam mendekati kelompok Islam yang pernah memendam kekecewaan dengan Masyumi. Ia melakukan politik belah bambu dengan mendekati kiai dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU), dan menginjak kelompok lain yang berseberangan dengan NU.

Pertentangan antara NU sebagai kelompok tradisionalis Islam dengan kelompok Masyumi sebagai santri modernis ia pertajam. Karenanya, Benny kerap bersafari dari pesantren ke pesantren NU dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk melakukan politik pecah belah tersebut. Safari bersama dilakukan Benny dan Gus Dur di tengah kecaman umat Islam yang menuntut Benny bertanggung jawab dalam tragedy pembantaian umat Islam Tanjung Priok, di Jakarta pada 12 September 1984. Saat peristiwa Priok, Benny sedang berada di Jakarta. Bahkan pada tengah malam usai tragedi pembantantaian, Benny sudah berada di lokasi kejadian.

Pada dini harinya ia langsung meluncur ke rumah sakit dan sempat menghitung jumlah mayat yang tergeletak di rumah sakit. Anehnya, sampai akhir hayatnya, Benny Moerdani sama sekali tidak tersentuh hukum dalam tragedi berdarah ini.

Benny & Try Sutrisno pasca Peristiwa Priok

Leonardus Benny Moerdani meninggal di Jakarta, pada 29 Agustus 2004 dalam usia 72 tahun, karena menderita stroke. Kepergiannya mendapatkan penghormatan yang luar biasa di kalangan militer. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Bendera setengah tiang selama tujuh hari dikibarkan di lingkungan militer. Setelah Moerdani tiada, siapakah sosok intelijen anti Islam yang menggantikannya?

Kamu berilah mereka itu makan

Kristus sudah beristirahat ke suatu tempat yang terpencil bersama murid‑murid‑Nya, tetapi saat tenang yang jarang didapati ini dengan segera berakhir. Murid‑murid mengira bahwa mereka harus beristirahat di tempat mereka tidak akan diganggu; tetapi setelah orang banyak lepas dari Guru Ilahi, mereka itu bertanya: "Di manakah Ia?" Beberapa dari antara orang banyak itu telah memperhatikan arah mana yang telah ditempuh oleh Kristus bersama murid‑murid‑Nya. Banyak yang berjalan kaki menempuh daratan untuk menjumpai mereka, sedangkan yang lain mengikuti dengan menggunakan perahu. Hari Raya Pasah telah dekat, dan dari jauh dan dekat, rombongan musafir sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem berkumpul hendak melihat Yesus. Jumlah mereka makin bertambah‑tambah banyaknya sehingga telah berkumpul kira‑kira lima ribu orang laki‑laki banyaknya selain wanita dan anak‑anak. Sebelum Kristus mencapai pantai, orang banyak itu sedang menunggu Dia. Tetapi Ia mendarat tanpa diperhatikan oleh mereka itu dan menggunakan sedikit waktu bersama murid‑murid‑Nya.

Dari lereng bukit Ia memandang rombongan orang banyak, dan hati‑Nya terharu oleh perasaan simpati. Meski pun terganggu dari tidurnya, namun Ia tidak marah. Ia melihat suatu kebutuhan yang lebih besar yang menuntut perhatian‑Nya di saat Ia memperhatikan orang banyak datang makin bertambah banyak. "Jatuhlah belas kasihan‑Nya akan mereka itu, karena sekaliannya letih lesu dan bercerai‑berai seperti domba yang tiada bergembala." Dengan meninggalkan istirahat‑Nya Ia mencari suatu tempat yang menyenangkan di mana Ia dapat melayani mereka. Mereka tidak mendapat pertolongan dari imam‑imam dan penghulu‑penghulu; tetapi air hidup yang menyembuhkan jiwa itu telah mengalir dari Kristus di saat Ia mengajarkan kepada orang banyak tentang jalan keselamatan.

Orang banyak mendengar perkataan kemurahan mengalir dengan limpahnya dari bibir Anak Allah. Mereka telah mendengar firman yang penuh belas kasihan, sangat sederhana dan sangat jelas sehingga firman itu bagaikan minyak dari Gilead bagi jiwa mereka. Penyembuhan oleh tangan Ilahi‑Nya membawa kegembiraan dan hidup bagi yang mati serta kesenangan dan kesehatan pada mereka yang menderita penyakit. Hari itu bagi mereka tampaknya sebagai surga di atas bumi, sehingga mereka lupa waktu makan.

Akhirnya hari telah banyak dipergunakan. Matahari sudah terbenam di ufuk barat, namun orang banyak belum juga pulang. Yesus telah bekerja sepanjang hari itu tanpa makan atau istirahat. Wajahnya kelihatan pucat karena lelah dan lapar, dan murid‑murid‑Nya meminta pada‑Nya supaya berhenti bekerja seberat itu. Tetapi Ia tidak dapat menarik Diri dari desakan orang banyak yang mengerumuni Dia.

Akhirnya murid‑murid itu datang kepada‑Nya, mendesak supaya demi kepentingan mereka sendiri orang banyak itu disuruh pulang. Banyak yang telah datang dari tempat yang jauh, dan belum makan sejak pagi. Mereka sebenarnya dapat membeli makanan di kampung‑kampung dan di kota‑kota di sekitar tempat itu. Tetapi Yesus berkata: "Kamu berilah mereka itu makan," lalu Ia berpaling kepada Pilipus, bertanya: "Dari manakah dapat kita membeli roti, supaya orang banyak ini makan?" Dikatakan‑Nya hal ini hanyalah untuk menguji iman murid‑murid itu. Pilipus melihat lautan manusia itu dan ia merasa sangat mustahil menyediakan makanan bagi orang yang demikian banyak hingga mereka kenyang. Ia menjawab bahwa dengan roti seharga dua ratus keping perak belurn juga mencukupi keperluan orang yang demikian banyaknya, walau pun tiap‑tiap orang mendapat hanya sedikit. Yesus menanyakan berapa banyak makanan yang boleh didapat di antara orang banyak ini. "Di sini ada seorang budak," kata Andreas, "yang menaruh roti jelai lima ketul dengan ikan kecil dua ekor; tetapi apakah gunanya itu pada orang sebanyak ini?" Yesus menyuruh agar makanan‑makanan itu dibawa kepada‑Nya. Kemudian disuruh‑Nya murid‑murid mendudukkan orang banyak di tempat yang banyak rumputnya dengan berkelompok‑kelompok yang terdiri dari lima puluh orang atau seratus orang, untuk menjaga ketertiban dan agar semua dapat melihat apa yang hendak diperbuat‑Nya. Apabila hal ini telah selesai dilakukan Yesus mengambil makanan itu: "Lalu Ia menengadah ke langit serta memberi berkat, kemudian Ia memecahkan roti itu, serta memberikan kepada murid‑murid‑Nya, dan murid‑murid pula memberikan kepada orang banyak itu." "Maka makanlah sekaliannya sampai kenyang. Kemudian diangkat oranglah segala sisanya dua belas bakul penuh, selain daripada sisa ikan itu."

Ia yang mengajar orang banyak akan jalan untuk memperoleh damai dan kebahagiaan juga sangat memikirkan keperluarn jasmani sama seperti keperluan rohani mereka. Orang banyak telah letih dan lemah. Di antara orang banyak itu terdapatlah ibu‑ibu yang sedang menggendong bayi‑bayi mereka, dan kanak‑kanak yang bergantung pada baju mereka. Banyak yang berdiri berjam‑jam lamanya. Perhatian mereka begitu terpaku pada perkataan Kristus, sehingga mereka lupa duduk, dan begitu padatnya orang banyak itu sehingga ada bahayanya saling menginjak satu dengan yang lain. Yesus memberikan mereka kesempatan untuk beristirahat, dan Ia menyuruh mereka supaya duduk. Di tempat itu banyak rumput, dan sekaliannya dapat beristirahat dengan senang.

Kristus tidak pernah mengadakan suatu mukjizat kecuali untuk keperluan yang sungguh‑sungguh dan tiap‑tiap mukjizat itu bersifat untuk memimpin orang banyak kepada pohon kehidupan yang daun daunnya untuk menyembuhkan bangsa‑bangsa. Makanan yang sederhana yang diedarkan oleh tangan murid‑murid mengandung suatu pelajaran yang amat penting. Makanan yang sederhanalah yang telah disediakan: ikan dan roti adalah makanan setiap hari bagi para nelayan yang hidup di pesisir Tasik Galilea. Sebenarnya Kristus dapat menghidangkan di hadapan orang banyak itu suatu santapan yang mewah, tetapi makanan yang hanya memuaskan hawa nafsu itu tidak mengandung pelajaran buat mereka. Kristus mengajar mereka dengan pelajaran ini bahwa bekal alamiah yang disediakan Allah bagi manusia sebenarnya diputar balikkan. Belum pernah orang banyak itu menikmati pesta mewah yang disediakan untuk memuaskan nafsu buruk sebagaimana orang banyak ini dapat menikmati istirahat dan makanan yang sederhana yang diadakan Kristus yang begitu jauh dari kediaman manusia.

Jikalau manusia dewasa ini berlaku sederhana di dalam kebiasaan mereka, hidup sesuai dengan hukum alam, sebagaimana Adam dan Hawa pada awal dunia, maka akan limpahlah persediaan bagi keperluan manusia. Akan berkuranglah keperluan yang diangan‑angankan, dan lebih banyak kesempatan bekerja di dalam cara‑cara Allah. Tetapi roh cinta diri dan pemanjaan hawa nafsu itulah yang telah membawa dosa dan malapetaka ke dalam dunia ini, oleh sifat bermewah‑mewahan di satu pihak dan kekurangan di pihak yang lain.

Yesus tidak berusaha menarik orang banyak kepada‑Nya dengan memuaskan keinginan akan kemewahan. Kepada rombongan yang amat besar itu, yang telah letih dan lapar sepanjang hari‑hari yang mengesankan itu, makanan yang sederhana itu adalah suatu jaminan bukan hanya mengenai kuasa‑Nya, tetapi juga mengenai pemeliharaan‑Nya yang penuh kasih sayang bagi mereka akan kebutuhan hidup sehari‑hari. luruselamat tidak menjanjikan kemewahan dunia kepada pengikut‑pengikut‑Nya; rnakanan mereka sederhana, bahkan berkekurangan; nasib mereka mungkin di dalarn kemiskinan, tetapi firman‑Nya menjanjikan bahwa keperluan mereka akan dicukupkan, dan Ia telah menjanjikan yang jauh lebih baik daripada kekayaan duniawi,—penghiburan yang kekal akan kehadiran‑Nya sendiri.

Dalam memberi makan lima ribu orang ini, Yesus mengangkat tudung dari dunia alam, lalu menunjukkan kuasa yang senantiasa dipraktekkan demi kebaikan itu. Di dalam penyabitan bumi Allah sedang mengadakan suatu mukjizat setiap hari. Melalui perantaraan alam pekerjaan yang serupa itu juga dilengkapkan di dalam memberi makan orang banyak itu. Manusia menyediakan tanah dan menabur benih, tetapi hidup yang daripada Allah yang menyebabkan benih itu berkecambah. Hujan, udara dan cahaya matahari yang dari Allah itulah yang menyebabkan benih itu mengeluarkan, "mula‑mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu." Mrk. 4:28. Allahlah yang memberi makan manusia berjuta‑juta setiap hari dari tuaian di ladang‑ladang di bumi. Manusia dipanggil untuk mengerjakannya bersama Allah di dalam pemeliharaan gandum dan penyediaan ketul roti, dan oleh sebab ini mereka kehilangan pandangan akan wakil ilahi itu. Mereka tidak memuliakan Allah yang sepatutnya karena nama‑Nya suci. Pekerjaan kuasa‑Nya dianggap disebabkan oleh sebab alamiah atau alat manusia. Manusia dipermuliakan di tempat Allah, dan pemberian‑Nya yang mulia diselewengkan untuk kepentingan diri sendiri, dan menjadi suatu kutuk gantinya menjadi berkat. Allah berusaha mengubah semua perkara ini. Ia rindu agar perasaan kita yang tumpul ini dipertajam untuk memperhatikan kebajikan‑Nya yang penuh kasihan itu lalu memuliakan Dia karena bekerjanya kuasa‑Nya. Ia rindu agar kita mengenal Dia di dalam pemberian‑Nya, supaya itu dapat menjadi suatu berkat bagi kita sebagai yang dikehendaki‑Nya. Untuk maksud inilah maka mukjizat‑mukjizat Kristus diadakan.

Setelah orang banyak itu diberi makan, masih berkelimpahan juga sisanya. Tetapi Ia yang mempunyai segala sumber kuasa yang tiada terbatas itu berkata: "Kumpulkanlah segala sisanya, supaya barang apa pun jangan terbuang." Perkataan ini lebih berarti daripada menaruh roti ke dalam bakul. Di dalamnya terkandung dua buah pelajaran. Tiada yang boleh terbuang‑buang. Janganlah kita menyia‑nyiakan keuntungan jasmani. Kita jangan melalaikan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi seseorang. Biarlah segala sesuatu dikumpulkan yang dapat memenuhi keperluan seseorang yang lapar di dunia ini. Demikian pulalah yang patut dilakukan terhadap perkara‑perkara rohani. Apabila sisa‑sisa yang dimasukkan dalam bakul sudah dikumpulkan, orang banyak itu teringat akan sahabat‑sahabat mereka di rumah. Mereka mau agar sahabat‑sahabatnya juga dapat menikmati roti yang telah diberkati Kristus. Isi bakul‑bakul roti itu telah dibagi‑bagi pada mereka yang memerlukannya, dan dibawa pulang ke tempat mereka yang terpencar‑pencar di sekitar daerah itu. Demikian juga orang yang telah hadir pada pesta ini memberikan kepada orang lain roti yang telah turun dari surga, untuk memuaskan jiwa yang lapar. Mereka patut mengulangi apa yang mereka telah pelajari mengenai perkara‑perkara ajaib yang datang daripada Allah. Tiada yang patut terbuang percuma. Tiada sepatah kata pun yang berhubungan dengan keselamatan kekal yang terbuang percuma di atas tanah.

Mukjizat tentang beberapa ketul roti ini mengajarkan suatu pelajaran tentang ketergantungan pada Allah. Bila Kristus memberi makan lima ribu orang, tiada bahan makanan di tangan‑Nya. Kelihatannya la tiada mempunyai ikhtiar atas perintah‑Nya. Di sinilah Ia, bersama lima ribu orang, di samping wanita dan anak‑anak di padang belantara. Ia tidak mengundang orang banyak itu supaya mengikut Dia; mereka datang tanpa undangan atau perintah; tetapi Ia tahu bahwa sesudah mereka mendengar petunjuk‑petunjuk‑Nya begitu lama, mereka akan merasa lapar dan capek; karena Ia juga satu dengan mereka di dalam memerlukan makanan. Mereka sangat jauh dari rumah, dan malam sudah hampir tiba. Banyak dari antara mereka itu tidak mempunyai apa‑apa untuk membeli makanan. Ia yang demi kepentingan mereka telah berpuasa selama empat puluh hari di padang belantara tidak akan membiarkan mereka menderita pulang ke rumah dengan puasa pula. Takdir Allah telah menempatkan Yesus di mana Ia berada; dan Ia bergantung kepada Bapa‑Nya yang di surga untuk menyediakan sesuatu meringankan kekurangan orang banyak.

Dan bila kita terbawa ke tempat‑tempat yang sulit, kita patut bergantung kepada Allah. Kita patut menggunakan kebijaksanaan dan pertimbangan dalam setiap tindakan hidup, agar jangan, dengan gerakan‑gerakan yang sembrono, kita menjerumuskan diri kita ke dalam ujian. Kita janganlah menerjunkan diri kita ke dalam kesukaran, melalaikan perlengkapan yang telah disediakan Allah dan menyalah gunakan kemampuan yang telah diberikan‑Nya kepada kita. Pekerja‑pekerja Kristus patut menurut petunjuk‑petunjuk‑Nya dengan seksama. Pekerjaan itu adalah milik Allah, dan jikalau kita mau mendatangkan berkat kepada orang lain rencana‑Nya haruslah diikuti. Diri sendiri janganlah dijadikan sebagai pusat perhatian; jangan menghormati diri. Jikalau kita merencanakan menurut pendapat kita sendiri, Tuhan akan meninggalkan kita dengan segala kesalahan kita. Tetapi apabila, setelah mengikuti perintah‑Nya, kita terbawa ke tempat‑tempat yang sulit, Ia akan melepaskan kita. Janganlah kita menyerah dalam kekecewaan kita, tetapi dalam setiap kesukaran patutlah kita mencahari pertolongan‑Nya, yang mempunyai sumber‑sumber tiada batasnya atas perintah‑Nya. Sering kita dikelilingi keadaan‑keadaan yang sukar, tetapi kemudian di dalam keyakinan yang penuh, kita harus bergantung pada Allah. Ia akan memelihara setiap jiwa yang berada dalam kebimbangan melalui pencobaan supaya tetap pada jalan Tuhan.

Kristus telah menyuruh kita melalui seorang nabi: "Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar" dan "membawa ke rumahmu orang yang miskin yang tak punya rumah" dan  "apabila kamu melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian" Yesaya 58:7‑10. Ia berkata kepada kita: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." Markus 16:15. Tetapi betapa sering hati kita kecewa, dan iman kita tawar, karena kita merasa bahwa begitu besar kekurangan kita, dan betapa kecilnya daya yang ada dalam tangan kita. Seperti Andreas yang melihat lima ketul roti, dan dua ekor ikan kecil, kita berkata: "Tetapi apakah gunanya itu pada orang sebanyak ini?" Sering kita ragu‑ragu, enggan memberikan segala sesuatu yang ada pada kita, takut menggunakan dan digunakan untuk orang lain. Tetapi Yesus telah menyuruh kita: "Kamu berilah mereka itu makan." Perintah‑Nya adalah merupakan sebuah janji; dan dibalik janji itu terdapatlah kuasa yang serupa yang telah memberi makan orang banyak di tepi tasik itu.

Di dalam perbuatan Kristus menyediakan keperluan jasmani orang banyak yang lapar itu, terdapatlah suatu pelajaran rohani yang amat dalam bagi semua pekerjaan‑Nya. Kristus menerima dari bapa; Ia memberikan kepada murid‑murid; murid‑murid membagikan pada orang banyak; dan orang banyak kepada orang lain. Maka segala orang yang dipersatukan di dalam Kristus akan menerima daripada‑Nya roti hidup, makanan dari surga, dan membagi­ kannya kepada orang lain.

Dengan bersandar sepenuhnya pada Allah, Yesus mengambil ketul roti yang sedikit itu; dan walau pun pada saat itu ia mempunyai suatu keluarga kecil yang terdiri dari murid‑murid, namun Ia tidak mengundang mereka untuk memakannya, melainkan membagikan pada mereka supaya diedarkan kepada orang banyak. Makanan itu bertambah‑tambah di tangan‑Nya; dan tangan murid‑murid yang diulurkan kepada Kristus Sendiri Roti Hidup itu, tidak pernah hampa. Lumbung yang kecil itu telah memenuhi harapan semua orang banyak itu. Setelah keperluan orang banyak dicukupkan, sisa‑sisanya dikumpulkan dan Kristus dengan murid‑murid‑Nya makan bersama makanan yang berharga yang telah disediakan dari surga.

Murid‑murid menjadi saluran komunikasi antara Kristus dan orang banyak. Hal ini haruslah menjadi suatu perkara yang menguatkan hati murid‑murid‑Nya dewasa ini. Kristus ialah pusat yang besar, sumber segala kekuatan. Murid‑murid‑Nya menerima keperluan daripada‑Nya. Manusia yang paling pintar, dan yang paling rohani sekali pun, dapat memberi hanyalah sebagaimana yang mereka terima. Dari diri mereka sendiri mereka tidak dapat menyediakan apa pun untuk memenuhi keperluan jiwa. Kita dapat memberikan hanya apa yang kita terima dari Kristus; dan kita dapat menerima hanya jika kita membagikan kepada orang lain. Jika kita terus memberi, makin banyak lagi yang akan kita terima; dan makin banyak kita beri makin banyak pula kita akan terima. Oleh karena itu kita dapat terus percaya, menaruh harap, menerima, dan membagikan.

Pekerjaan membangunkan kerajaan Kristus berjalan terus, walau pun tampaknya bergerak dengan pelahan dan tampaknya mustahillah menentang kemajuan itu. Pekerjaan itu dari Allah, dan Ia akan menyediakan daya upaya serta mengirimkan pembantu‑pembantu, yang benar, murid‑murid yang tekun dan jujur, yang tangan‑tangannya dipenuhi dengan makanan bagi orang banyak yang kelaparan itu. Allah tidak pernah melupakan mereka yang bekerja dengan kasih membagikan sabda yang hidup kepada jiwa yang akan binasa, yang mengulurkan tangan mereka minta makanan bagi jiwa‑jiwa yang lain yang sedang lapar.

Di dalam pekerjaan kita bagi Allah terbentanglah marabahaya yang terlalu besar buat talenta dan kesanggupan kita untuk dapat melakukannya. Demikianlah kita kehilangan pandangan akan Seorang Pekerja yang amat berkuasa. Sangat sering pekerja‑pekerja Kristus gagal menyadari tanggung jawabnya pribadi. Ia berada dalam bahaya memindahkan tanggung jawabnya pada organisasi, gantinya bergantung pada Tuhan yang menjadi sumber segala kekuatan. Adalah suatu kesalahan besar untuk berharap pada kepintaran manusia atau jumlah bilangan di dalam pekerjaan Allah. Pekerjaan yang sukses bagi Kristus tidaklah banyak bergantung kepada jumlah atau talenta melainkan pada kesucian maksud, pada kesederhanaan dalam iman yang sungguh‑sungguh. Tugas pribadi haruslah ditunaikan, tanggung jawab pribadi harus dipikul, usaha pribadi haruslah diadakan bagi orang‑orang yang tidak mengenal Kristus. Gantinya memindahkan tanggung jawabmu kepada seseorang yang pada anggapanmu lebih banyak dikaruniai kemampuan daripada engkau, bekerjalah sesuai dengan kesanggupanmu.

Bila engkau mendapat pertanyaan: "Dari manakah dapat kita membeli roti, supaya orang banyak ini makan?" janganlah jawabmu seperti seorang yang tidak mempunyai iman. Apabila murid‑murid mendengar perintah Juruselamat: "Berikanlah mereka makan," segah macam kesulitan timbul di dalam pikiran mereka. Pertanyaan mereka ialah: Apakah kami harus pergi jauh ke kampung‑kampung untuk membeli makanan? Begitu pula dewasa ini, bila orang banyak merindukan roti hidup, anak‑anak Allah bertanya: Apakah kita akan memanggil seorang dari tempat yang jauh, supaya datang dan memberi makan mereka? Tetapi apa kata Yesus? "Suruhlah duduk sekalian orang itu," dan diberinya makan mereka itu di sana. Maka bila engkau dikelilingi oleh jiwa‑jiwa yang berkekurangan, ketahuilah bahwa Kristus ada di sana. Berhubunganlah dengan Dia. Bawalah ketul rotimu kepada Yesus.

Peralatan yang ada pada kita mungkin tidak cukup untuk pekerjaan itu; tetapi jikalau kita maju dalam iman, percaya di dalam kuasa Allah yang memenuhi segala sesuatu, maka sumber yang limpah akan dibukakan di hadapan kita. Jikalau pekerjaan itu adalah daripada Allah, Ia Sendiri yang akan menyediakan alat untuk menyelesaikannya. Ia akan memberi pahala bagi orang yang jujur dan tekun kepada‑Nya. Walau pun hanya sedikit tetapi jika digunakan dengan bijaksana dan dengan sehemat‑hematnya di dalam pekerjaan Tuhan yang di surga akan bertambah pada saat kita memberi. Di dalam tangan Kristus persediaan makanan yang sedikit tidak akan berkurang hingga orang banyak itu dipuaskan. Jikalau kita datang kepada Sumber segala kekuatan, dengan tangan iman kita terulur untuk menerima, kita akan dibantu dalam pekerjaan kita, walau pun di dalam masa yang sulit sekalipun, dan akan diberi kesanggupan untuk memberikan roti hidup itu kepada orang lain.

Tuhan berkata: "Berilah dan kamu akan diberi." "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis:

"Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."


Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami." Lukas 6:38; 2 Korintus 9:6-11.

Mar 25, 2013

Petra, Kota Kuno

Misteri seputar Kota Petra di Yordania Selatan masih menanti untuk diungkap.

Terletak di tengah-tengah ngarai di lokasi padang gurun yang lembab, Petra dulunya pernah merupakan sebuah kota pusat perdagangan sekaligus ibukota dari Kerajaan Nabatean. Orang-orang Nabatea berasal dari Arab bagian Barat Laut. Mereka tinggal di wilayah Yordania tetapi berpindah-pindah sampai membentuk kerajaan abad 312 SM.

Saat Roma menyerang dan menduduki kota itu pada 106 M, keruntuhan Petra dimulai. Serangkaian gempa bumi yang melanda, serta munculnya jalur-jalur perdagangan baru memaksa Petra mencapai titik nadir di masa Kekaisaran Byzantine pada sekitar pertengahan abad 700 M.



Kemudian kota dibiarkan kosong dan terbengkalai selama beberapa abad. Reruntuhan kota yang terkubur di bawah tanah akhirnya ditemukan oleh seorang wisatawan Eropa yang menyamar dalam pakaian Beduin untuk berbaur masuk ke dalam masyarakat lokal, pada awal tahun 1800.

Tak mengherankan, sebab Petra sangat spektakuler. Di Petra terdapat amat banyak bangunan religius semacam kuil, biara, makam, atau tempat pengorbanan. Semua bangunan tersusun dari batu pasir nan kokoh, dengan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan Arab. Keindahannya luar biasa.

Alkisah suku Nabatea memang hebat dalam hal arsitektur tata kota. Kemampuan mereka juga menghasilkan inovasi-inovasi dalam sistem irigasi, transportasi, dan penyimpanan.

Namun hingga saat ini, pengetahuan tentang suku Nabatea tergolong masih sedikit, belum lengkap. Begitu pun mengenai Petra sendiri. "Baru lima belas persen dari kota yang kita sudah berhasil temukan, di bawah permukaan masih terdapat 85 persen sisanya, tak tersentuh," ungkap Zeidoun Al-Muheisen, seorang arkeolog Jordan's Yamouk University.

Bagaimana pun, para ahli arkeologi dan kepurbakalaan berpendapat bahwa mendalami penggalian misteri kota yang hilang ini juga akan membawa kepada jawaban atas sejarah dan peradaban suku Nabatea, yang sejauh ini diyakini berperan penting memegang kontrol luas di area Yordania sampai ke Jazirah Arab.