Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Nov 24, 2009

Tiga Kematian

"Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya: "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala Ketetapan, Perintah, Peraturan dan Ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju"  (1 Raja-raja 2:1-3)

Ini adalah pesan-pesan terakhir dari raja Daud kepada anaknya Salomo sebagai pewaris kerajaannya. Dan mungkin tidak ada nasihat yang lebih baik lagi daripada nasihat seorang ayah kepada anaknya ketika ia akan meninggalkan dunia ini. Hal ini berbicara tentang "kematian secara fisik" -- yang merupakan bukti bahwa manusia benar-benar berdosa. Kita mengerti hal ini karena dalam kitab Kejadian 2:17 Tuhan berkata demikian:

"tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Nah, apakah Adam dan Hawa mati pada saat mereka makan buah dari pohon itu? Tidak, mereka tidak mati secara "fisik", tetapi pada saat mereka melakukan pelanggaran tersebut mereka mati secara rohani. Kitab Kejadian 5:5 menjelaskan bagaimana Adam telah hidup, disitu kita baca demikian:

"Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati."

Akan tetapi kitab Ayub 34:15 meningatkan kepada kita demikian:

"maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu."

Adalah sangat menarik bahwa di dalam kitab Kejadian 2:17 kata Ibrani untuk ungkapan "pastilah" dan ungkapan "mati" adalah kata yang identik. Jadi frasa kata ini secara harafiah berarti, "matilah engkau pasti mati". Disini Tuhan bukan hanya menekankan proses dan kepastian dari kematian secara fisik, tetapi Dia juga menunjuk kepada kematian rohani, yaitu "kematian kedua" di dalam kekekalan. Kitab Wahyu 20:14 menyatakan kepada kita demikian:

"Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api."

Dan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dosa menyebabkan kematian rohani, seperti yang dinyatakan dalam kitab Yakobus 1:14-15 demikian:

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."

Karena Adam dan Hawa merupakan simbol atau gambaran dari umat manusia, maka kutuk Tuhan akan kematian yang kekal juga berlaku untuk semua keturunan mereka, seperti yang dinyatakan dalam kitab Roma 5:12 demikian:

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [yaitu Adam], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.... "

Dan lebih jauh, kitab Mazmur 51:5 menunjukkan kepada kita demikian:

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku."

Jadi walaupun manusia dilahirkan hidup secara fisik, tetapi sesungguhnya secara rohani ia adalah mati, seperti yang dinyatakan dalam kitab Kolose 2:13 demikian:

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita... "

Kemudian menunjuk kepada orang-orang percaya sejati sebagai "umat Yahudi rohani", kitab Roma 2:29 memberitahukan kepada kita suatu bentuk sunat yang diperlukan untuk bisa masuk ke dalam kerajaan Allah, disitu kita baca demikian:

"Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya [yaitu Yahudi di dalam hati] dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harafiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah."

Orang-orang yang tidak memiliki Juruselamat adalah mati secara rohani dari sejak mereka dilahirkan dan mereka akan tetap terus berada dalam keadaan itu untuk selama-lamanya. Oleh karen itu tidaklah mengherankan kalau ada pertanyaan yang diangkat dalam kitab Maleakhi 3:2 demikian:

"Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri?"

Dan kitab Daniel 7:9-10 dan kitab Wahyu 20:12b dan 15 menekankan peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari penghakiman yang sedang mendekat itu, disitu kita baca demikian:

"Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab......... Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.......... Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu."

Nov 19, 2009

Anugrah Takut Akan Allah

"tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."  (Ayub 28:28)

Seperti halnya rasa takut dapat memberikan kita kesehatan dan keuntungan dalam beberapa hal, rasa takut akan Allah juga adalah sesuatu hal yang sangat berharga bagi kesehatan jiwa kita. Hikmat dan pengertian yang sejati keduanya adalah "hadiah" atau anugrah dari Allah yang sebenarnya tidak pantas untuk kita dapatkan. Pada kenyataannya tidak ada seorangpun yang pantas untuk mendapatkan anugrah rasa takut akan Allah sama halnya seperti anugrah keselamatan itu sendiri, mengingat sifat alami manusia yang sangat berdosa.

Kitab Daniel 9:8-9 adalah penjelasan yang kontras tentang belas kasihan Allah dan kejahatan manusia, dalam ayat itu kita membaca demikian:

"TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia"

Bahkan setelah kita diselamatkan, perjuangan terbesar kita adalah untuk melawan keinginan berdosa yang ada di dalam "tubuh" kita yang terus-menerus berperang melawan "jiwa" kita. Seorang anak Allah yang telah ditebus akan turut merasakan pengakuan Petrus di dalam Lukas 5:8 yang kita baca demikian:

"Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Dan Yakub yang berada dibawah inspirasi dari Allah Roh Kudus berkata dalam kitab Kejadian 32:10 demikian:

"sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini...."

Jadi bagaimana seseorang bisa mendapatkan rasa takut akan Allah? Dalam kitab Yohanes 3:27 Allah memberikan kita prinsip yang sangat-sangat penting, disitu kita baca demikian:

"... Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga."

Dan kalau kita benar-benar jujur terhadap diri kita sendiri, kita akan mengakui bahwa segala sesuatu yang anda dan saya miliki diberikan oleh Allah sebagai anugrah -- yaitu hadiah yang sama sekali tidak pantas kita dapatkan. Kitab Yakobus 1:17 menunjukkan kenyataan ini demikian:

"Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna [yaitu keselamatan], datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran [yaitu 100% anugrah dalam semua aspek-aspeknya]."

Diturunkan dari atas, dari surga, dari Allah -- dan diberikan kebawah kepada kita. Kitab 2 Timotius 1:9 mencatat demikian:

"Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman"

Itulah sebabnya mengapa kitab Yunus 2:9 menjelaskan sebagai berikut:

" ....Keselamatan adalah dari TUHAN!"

Keselamatan yang sejati berasal dari Allah dan diberikan kepada kita oleh Allah supaya kita berbaik kembali kepada Allah. Kitab Efesus 2:8 dengan jelas menyatakan demikian:

"Sebab karena kasih karunia [anugrah] kamu diselamatkan oleh iman; itu [yaitu iman itu] bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah..."

Dan kitab 1 Korintus 4:7 bertanya demikian:

"Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?"

Dan kitab Titus 3:4-5 menyatakan demikian:

"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus"

Setelah kita diselamatkan kita juga terus diingatkan untuk menjalankan hidup kita di dalam rasa takut akan Allah seperti yang ditunjukkan dalam kitab Yesaya 26:12 di Perjanjian Lama demikian:

"Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan Damai Sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami."

Dan kitab Ibrani 12:28 secara tidak langsung juga menunjukkan bagaimana hidup yang baru di dalam Kristus dinyatakan demikian:

"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut... "

Perhatikan bagaimana dua ayat-ayat tersebut menekankan pekerjaan dari Allah Roh Kudus (yaitu kasih karunia Allah), yang adalah faktor yang dominan baik ketika Allah menarik kita ke dalam program keselamatan-Nya maupun setelah kita diselamatkan. Kitab 1 Petrus 1:17 menambahkan demikian:

"Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini...."

Kemudian 2 Korintus 7:1 juga menjelaskan prinsip yang sangat penting ini demikian:

"Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah."

Kita diperintahkan untuk memuliakan Allah melalui kehidupan kita dan segala yang kita miliki -- waktu kita, talenta kita, uang kita, serta kata-kata dan tindakan kita. Dan setelah semuanya dilakukan dengan rendah hati kita akan berkata dengan pernyataan yang ditemukan dalam Lukas 17:10 sbb:

"Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Kalau kita belum memilikinya -- biarlah Allah memberikan kita anugrah "rasa takut kepada-Nya" sesuai dengan kasih dan pengampunan-Nya yang tidak terhingga.

Nov 17, 2009

Menghakimi

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu."  (Matius 7:1-4)

Salah satu dosa yang kita mudah untuk jatuh ke dalamnya adalah keinginan untuk menghakimi orang lain. Adalah mudah untuk melihat dosa-dosa orang yang lain akan tetapi kita tidak menyadari dosa-dosa kita sendiri. Kita mendapatkan ide dari betapa biasanya dosa ini ketika kita melihat bagaimana Yesus sang Juruselamat dihakimi dengan tidak adil dan banyak disalah mengerti bahkan sampai hari sekarang ini. Dengarkanlah apa Tuhan Yesus katakan mengenai bagaimana tidak konsisten-nya penghakiman manusia dalam kitab Yohanes 7:24 demikian:

"Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan Adil."

Dan kitab Yohanes 8:15 menunjuk kepada pusat dari permasalahannya, disitu kita baca demikian:

"Kamu menghakimi menurut ukuran manusia... "

Lebih jauh kitab 1 Korintus 4:5 menambahkan demikian:

"Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah."

Kitab Roma 2:16 berbicara mengenai hari terakhir itu demikian:

"Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus."

Dan Roma 2:1 dan 3 berkata demikian:

"Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama...... Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?"

Sesunguhnya Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, bukan untuk orang-orang yang sudah merasa dirinya benar. Dalam kitab Matius 7:5 Yesus berkata demikian:

"Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Sebelum diselamatkan, dalam sifat alaminya, seluruh umat manusia adalah munafik, seperti yang kita lihat dalam kitab Matius 15:7-9 dimana Tuhan menentang pemimpin-pemimpin rohani yang ada pada zaman dahulu dan juga pada hari sekarang ini, dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia [yaitu perintah-perintah manusia yang dicampur dengan perintah Tuhan]."

Akan tetapi ingatlah, hanya Tuhan yang mengetahui dengan pasti siapakah mereka-mereka yang "munafik", dan ayat ini menunjuk kepada "masalah hati" atau masalah rohani yang ada di dalam diri mereka semua yang belum benar-benar dilahirkan kembali dari atas.

Kitab Ibrani 3:12 dan 19 menekankan kebenaran ini demikian:

"Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup..... Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka."

Dan kitab Matius 5:20 menekankan apa yang diperlukan untuk bisa masuk ke dalam kerajaan Allah, demikian:

"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu TIDAK akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."

 Dengan demikian "kebenaran" macam apakah yang dimiliki orang para pemimpin agama yang ada pada zaman Yesus dan rasul-rasul? Itu adalah kebenaran buatan manusia, kebenaran yang palsu, yang hanya dapat memimpin mereka kepada hukuman kutukan yang kekal. Apa yang betul-betul kita perlukan adalah "jubah kebenaran Kristus", seperti yang dibicarakan dalam kitab Wahyu 19:8 demikian:

"Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) [** dalam Alkitab King James hanya dikatakan Kebenaran orang-orang kudus, bukan perbuatan orang-orang kudus]"

Individu-individu yang percaya merupakan anggota dari Tubuh Kristus, atau para pengantin rohani Kristus, yang telah diberikan karunia "jubah kebenaran Kristus" -- sehingga mereka telah sungguh-sungguh diselamatkan dari atas. Dan perhatikan bagaimana Tuhan menekankan kenyataan bahwa Dia-lah yang memberikan anugrah "jubah kebenaran" tersebut, yaitu keselamatan, kepada para penerima yang sebenarnya tidak layak untuk mendapatkan anugrah tersebut.

Mengapa kita semua tidak layak? Kita tidak layak karena berdasarkan kelahiran, dan berdasarkan sifat alaminya, kita adalah "mati secara rohani" di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita, dan karena kita berpikir bahwa kita adalah cukup baik untuk menerima atau menghargai pemberian Tuhan.

Dalam kitab Matius 22:11-14 kita melihat perumpamaan tentang seseorang yang tidak mempunyai jubah (baju) pesta untuk acara pernikahan Anak Domba di akhir zaman, dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Ketika Raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."

Perumpamaan ini bukan hanya menunjuk kepada etiket atau kebiasaan yang berlaku di dunia ini, tetapi hal itu sangat menekankan tentang apa yang diperlukan untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kitab Yesaya 61:10 membantu kita untuk melihat kebenaran ini dengan lebih jelas lagi demikian:

"Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan Kebenaran dan Puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa."

Nov 11, 2009

Roh Kudus dan Alkitab

"Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai Fajar menyingsing dan Bintang Timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat [kitab suci] dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan [Allah] Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.  (2 Petrus 1:19-21)

Dalam waktu kita bersama kali ini kita akan melihat hubungan antara Allah Roh Kudus dan Kitab Suci. Adalah sangat penting untuk kita ketahui bahwa Allah Roh Kudus adalah "Pengarang" dari Firman Allah, Alkitab. Dalam kitab Kisah Para Rasul 4:25 kita membaca demikian:

"Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? [Mazmur 2:1]"

Dengan kata lain, orang-orang kudus pada zaman dahulu telah menulis Kitab Suci berdasarkan inspirasi atau ilham dari Allah. Itulah sebabnya kita harus selalu -- membandingkan ayat suci dengan ayat suci yang lain untuk benar-benar mengerti apa yang ada dalam pandangan Allah. Dan kitab Efesus 6:17 menjelaskan bahwa Firman Allah adalah pedang Roh yang amat tajam, disitu kita baca demikian:

"dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,"

Nah mengapa Allah menggunakan gambaran "pedang" sebagai satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk menyerang dalam catatan persenjataan orang-orang yang percaya? Kitab Ibrani 4:12 memberikan jawabannya demikian:

"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

Jadi ya, Pedang Allah yang bermata dua ini memiliki kekuatan untuk mengakibatkan "kematian rohani" (menghukum) ataupun juga "kehidupan rohani" (keselamatan). Ketika kita mempelajari Alkitab, kita akan melihat bahwa Alkitab terutama perduli dengan dua kerajaan rohani - yaitu, kerajaan Allah dan kerajaan Iblis (Kolose 1:13, Kis. 26:18). Dan dua kerajaan ini dipimpin oleh dua roh yang berbeda -- Roh Kebenaran (yaitu Allah dan orang-orang yang percaya) dan roh yang menyesatkan (yaitu Iblis dan orang-orang yang tidak percaya). Di seluruh dunia ini hanya ada dua kerajaan rohani ini dan tidak ada orang yang dapat berdiri ditengah-tengah.

Hal ini dinyatakan dalam kitab 1 Yohanes 4:6 yang berkata demikian:

"Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan."

Dan kitab Yohanes 14:17 menambahkan demikian:

"yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu [yaitu Roh Kudus = Roh Allah = Roh Kristus]."

Sedang kitab Roma 8:9 yang berbicara mengenai keselamatan menjelaskan demikian:

"Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."

Dalam kitab Efesus 2:2 kita membaca tentang sifat alami manusia ketika kita dilahirkan sebagai anak-anak Adam dan kebanyakan dari umat manusia ini akan terus berada di dalam jalan ini dan akan mati di dalam kehancuran kekal. Dalam ayat itu kita membaca:

"Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa [yaitu Iblis], yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka."

Disisi yang lain, kita sangat membutuhkan Allah Roh Kudus dan Firman yang sejati untuk menggenapkan keselamatan kita. Allah Roh Kudus berkerja melalui kata-kata yang ada tertulis di dalam Kitab Suci seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma 10:17:

"Jadi, iman [yaitu kata yang sama dengan keselamatan] timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan."

Ini adalah caranya dimana seseorang menerima anugrah keselamatan, yaitu hidup yang kekal. Dan ini adalah apa yang digambarkan dalam kitab Lukas 4:18-19 ketika Yesus berbicara tentang dikuatkan oleh Roh Kudus untuk menyelesaikan tugas menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Disitu kita baca:

"Roh Tuhan [Roh Kudus] ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik [Injil] kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, ....."

Dan inilah sebabnya dalam kitab Yohanes 3:5 Yesus berkata demikian:

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari Air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Dan dalam kitab Yohanes 6:63 Tuhan lebih jauh menekankan demikian:

"Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan Hidup."

Allah menjelaskan masalah yang ada pada manusia dan sekaligus juga jalan keluar yang hanya Allah saja yang dapat memberikannya kepada kita dalam kitab Yehezkiel 36:26 demikian:

"Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan Roh yang baru di dalam batinmu dan AKU akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."

Dan kitab Yohanes 15:26 menyebut Roh Allah atau Roh Kudus sebagai "Sang Penghibur" dan "Roh Kebenaran", dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku."

Dan kitab Yohanes 16:13-14 menambahkan demikian:

"Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan MEMULIAKAN Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."

Jadi apakah sebenarnya yang terjadi dalam keselamatan? Kebanyakan organisasi gereja dan denominasi-denominasi sama sekali tidak mengerti tentang hal ini bahwa di dalam Alkitab Allah menggunakan beberapa analogi atau gambaran sebagai lambang dari bagaimana dan dimana seseorang dapat dilahirkan kembali dari atas, atau menjadi diselamatkan. Satu dari gambaran tersebut adalah penyunatan jasmani. Kemudian Allah memberitahukan kepada kita bahwa penyunatan secara fisik tidak akan menghasilkan apa-apa secara rohani karena hal itu hanyalah "bayangan" dan itu melayani sebagai "tanda" atau gambaran atau perumpamaan dari isi rohani yang sebenarnya. Hal ini dijelaskan dalam kitab Roma 2:29 (dan banyak ayat-ayat lainnya) demikian:

"Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya [yaitu Yahudi atau Israel di dalam hati] dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harafiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah."

Ketika di dalam Alkitab Allah menunjuk kepada "hati" atau "roh" atau "pikiran" (seperti yang kita baca dalam Yehezkiel 36:26 di atas), Allah sedang berbicara tentang "jiwa" kita, yaitu bagian yang tidak kelihatan dari pribadi kita. Dan untuk alasan ini dalam kitab Filipi 3:3 Allah menyatakan demikian:

"karena kitalah [yaitu orang-orang yang percaya] orang-orang bersunat [rohani], yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah [jasmani]."

Allah seringkali berbicara tentang penyunatan yang hanya bisa dimengerti dengan benar ketika kita melihatnya sebagai "penyunatan secara rohani". Dan kitab Titus 3:5-7 menggambarkan kebenaran rohani ini demikian:

"pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, BUKAN karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya [anugrah-Nya] oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya [yaitu anugrah-Nya], berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita."


Nov 10, 2009

Tahta Daud

Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: "Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda." Lalu berkatalah Natan kepada raja: "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau."

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman. Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan menggembalakan umat-Ku Israel, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu.

Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, ANAK KANDUNGMU, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya UNTUK SELAMA-LAMANYA [Yohanes 2:19-21, Roma 1:1-4].

Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka AKU akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.  Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh UNTUK SELAMA-LAMANYA di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh UNTUK SELAMA-LAMANYA."

Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud. Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH. Apakah yang dapat dikatakan Daud kepada-Mu lebih lagi dari pada itu. Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini, ya Tuhan ALLAH?

Oleh karena Firman-Mu dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukannya kepada hamba-Mu ini. Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Nya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umat-Nya?

Engkau telah mengokohkan bagi-Mu umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. MAKA nama-Mu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepada-Mu.

Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah KEBENARAN; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk SELAMA-LAMANYA. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk SELAMA-LAMANYA."  (2 Samuel 7:1-29)