Apologi adalah pembelaan iman secara ilmiah terhadap serangan-serangan para tokoh filsafat Yunani yang bukan Kristen pada masa Gereja Purba, terhadap argumentasi-argumentasi agama lain, terhadap kritik-kritik masa Fajar Budi seperti munculnya paham-paham rasionalisme, marxisme dan ateisme yang menyerang keberadaan dan pemahaman iman Gereja, dan terhadap godaan-godaan dari luar maupun dari dalam hatinya sendiri.[1] Apologi, menurut artian kata yang sempit adalah hasil karya beberapa pengarang yang disebut para apologet. Pengarang gerejani menulis buku-buku apologi pada abad kedua sesudah masehi. Para pengarang gerejani tersebut seperti Aristides, Yustinus, Ireneus dan Antagoras. Selain itu juga muncul pendapat-pendapat bahwa iman sebagai rahmat yang ilahi tidak dapat mungkin dibela dengan argumen-argumen yang rasional, bahkan timbul bahaya bahwa iman akan dikosongkan oleh cara berpikir yang manusiawi. Pandangan ini mengandaikan bahwa iman semata-mata irasional, supra-irasional dan subyektif saja. Rahmat dan iman yang dianugerahkan Allah tidak bertentangan dengan akal sehat melainkan menyempurnakan.
Sejarah Dunia Kuno
Nov 11, 2018
Apologi
Nov 6, 2018
Aristippos
Aristippos adalah salah seorang filsuf dari Mazhab Hedonis. Ia adalah pendiri mazhab tersebut. Karena ia berasal dari kota Kirene, maka Mazhab Hedonis dikenal juga dengan sebutan Mazhab Kirene.
Aristippos adalah teman sekaligus salah seorang murid Sokrates. Ia mengembangkan pandangan Sokrates bahwa keutamaan hidup manusia adalah mencari "yang baik". Usaha tersebut serupa dengan Mazhab Sinis namun mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang "yang baik" itu.
Riwayat Hidup
Aristippos berasal dari Kirene, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 435 SM dan meninggal sekitar tahun 335 SM. Ketika ia masih berada di Kirene, ia mendapat pengaruh dari pemikiran Mazhab Phytagoras. Sejak tahun 416 SM, ia berada di Athena dan berguru pada Sokrates di sana
Setelah Sokrates wafat, ia menjadi seorang guru filsafat yang dibayar, dan berkeliling ke beberapa tempat. Pada awalnya ia mengajar di Athena, namun kemudian berpindah ke tempat-tempat lainnya. Ia diketahui pernah mengunjungi Sirakusa dan Aegina, sebelum akhirnya kembali ke Kirene dan membuka sekolah di situ.
Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Arete dan seorang cucu laki-laki yang bernama sama dengannya, Aristippos. Anak perempuan dan cucunya meneruskan sekolah Mazhab Hedonis tersebut.
Pemikiran Tentang Kesenangan
Aristippos menafsirkan konsep "yang baik" dari Sokrates sebagai kesenangan (dalam bahasa Yunani hedone). Maksudnya kesenangan di sini adalah bukan saja kesenangan ragawi tetapi juga kesenangan rohani. Karena pengajarannya itulah, aliran pemikiran dari Aristippos ini disebut Mazhab Hedonis. ]
Akan tetapi, orang yang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan tanpa batas, sebab kesenangan yang tak terbatas pada akhirnya akan mengakibatkan kesusahan. Yang harus dikejar adalah kesenangan maksimal yang diserta kesusahan secara minimal. Untuk itu, rasio manusia bertugas untuk menentukan apa yang harus dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan secara maksimal dan merasakan kesusahan secara minimal. Karena itu, dalam perspektif Aristippos, pengendalian diri dan asketisme amat diperlukan dalam mencapai hidup yang ideal.
Pengaruh
Aristippos memberikan pengaruh terhadap filsuf-filsuf lain yang melanjutkan Mazhab Hedonis. Beberapa orang filsuf yang terkenal dari masa selanjutnya adalah Theodorus, Hegesias, dan Euhemerus.
Aristippos adalah teman sekaligus salah seorang murid Sokrates. Ia mengembangkan pandangan Sokrates bahwa keutamaan hidup manusia adalah mencari "yang baik". Usaha tersebut serupa dengan Mazhab Sinis namun mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang "yang baik" itu.
Riwayat Hidup
Aristippos berasal dari Kirene, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 435 SM dan meninggal sekitar tahun 335 SM. Ketika ia masih berada di Kirene, ia mendapat pengaruh dari pemikiran Mazhab Phytagoras. Sejak tahun 416 SM, ia berada di Athena dan berguru pada Sokrates di sana
Setelah Sokrates wafat, ia menjadi seorang guru filsafat yang dibayar, dan berkeliling ke beberapa tempat. Pada awalnya ia mengajar di Athena, namun kemudian berpindah ke tempat-tempat lainnya. Ia diketahui pernah mengunjungi Sirakusa dan Aegina, sebelum akhirnya kembali ke Kirene dan membuka sekolah di situ.
Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Arete dan seorang cucu laki-laki yang bernama sama dengannya, Aristippos. Anak perempuan dan cucunya meneruskan sekolah Mazhab Hedonis tersebut.
Pemikiran Tentang Kesenangan
Aristippos menafsirkan konsep "yang baik" dari Sokrates sebagai kesenangan (dalam bahasa Yunani hedone). Maksudnya kesenangan di sini adalah bukan saja kesenangan ragawi tetapi juga kesenangan rohani. Karena pengajarannya itulah, aliran pemikiran dari Aristippos ini disebut Mazhab Hedonis. ]
Akan tetapi, orang yang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan tanpa batas, sebab kesenangan yang tak terbatas pada akhirnya akan mengakibatkan kesusahan. Yang harus dikejar adalah kesenangan maksimal yang diserta kesusahan secara minimal. Untuk itu, rasio manusia bertugas untuk menentukan apa yang harus dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan secara maksimal dan merasakan kesusahan secara minimal. Karena itu, dalam perspektif Aristippos, pengendalian diri dan asketisme amat diperlukan dalam mencapai hidup yang ideal.
Pengaruh
Aristippos memberikan pengaruh terhadap filsuf-filsuf lain yang melanjutkan Mazhab Hedonis. Beberapa orang filsuf yang terkenal dari masa selanjutnya adalah Theodorus, Hegesias, dan Euhemerus.
Theophrastus
Theophrastus (Bahasa Yunani Θεόφραστος, lahir 370 SM — wafat 285 SM), adalah seorang filsuf Yunani Kuno. Ia merupakan penerus Aristoteles di sekolah Peripatetik, dan ia sendiri berasal dari Eressos di Pulau Lesbos. Kisah hidup dan biografinya diceritakan dalam Hidup dan Pendapat dari Para Filsuf Terkemuka karangan Diogenes Laertius. Nama depannya adalah Tyrtamus, namun kemudian ia dipanggil dengan nama "Theosprastos", yang diberikan oleh Aristoteles kepadanya. Menurut beberapa sumber, nama ayahnya adalah Messapus, yang menikah dengan Argiope dan juga ayah dari Cecyron, tetapi ini belum dipastikan.
Ia pertama kali mengenal filosofi dari Leucippus atau Alcippus di Lesbos. Setelah itu ia pergi ke Athena, dan menjadi anggota kelompok Plato. Setelah meninggalnya Plato, Theophrastus mengikuti Aristoteles, dan menemaninya ke Stagira. Disana ia berteman akrab dengan Callisthenes, yang kemudian belajar bersama-sama Aleksander Agung.
Aristoteles menjadikannya sebagai wali dari anak-anaknya, serta mewariskan perpustakaan dan karya-karya aslinya pada Theophrastus dan mengangkatnya sebagai penerusnya di Lyceum (sekolah Yunani). Eudemus dari Rhodes juga menginginkan jabatan tersebut, dan Aristoxenus disebutkan marah atas pilihan Aristoteles. Dalam pimpinannya sekolah tersebut menjadi sangat maju--menurut Diogenes jumlah siswa pernah mencapai 2000. Menander merupakan salah satu muridnya. Theosprastus sangat terkenal pada zamannya, ia dihormati oleh Philip II, Cassander dan Ptolemy.
Theophrastus memimpin sekolah Peripatetic selama 35 tahun, dan meninggal pada umur 85, menurut Diogenes. Konon ia berkata "Kita meninggal ketika kita baru mulai hidup." Ia lalu dimakamkan secara besar-besaran, dan "seluruh rakyat Athena, amat menghormatinya, mengantarnya ke kuburnya" (Diogenes Laertius).
Ia pertama kali mengenal filosofi dari Leucippus atau Alcippus di Lesbos. Setelah itu ia pergi ke Athena, dan menjadi anggota kelompok Plato. Setelah meninggalnya Plato, Theophrastus mengikuti Aristoteles, dan menemaninya ke Stagira. Disana ia berteman akrab dengan Callisthenes, yang kemudian belajar bersama-sama Aleksander Agung.
Aristoteles menjadikannya sebagai wali dari anak-anaknya, serta mewariskan perpustakaan dan karya-karya aslinya pada Theophrastus dan mengangkatnya sebagai penerusnya di Lyceum (sekolah Yunani). Eudemus dari Rhodes juga menginginkan jabatan tersebut, dan Aristoxenus disebutkan marah atas pilihan Aristoteles. Dalam pimpinannya sekolah tersebut menjadi sangat maju--menurut Diogenes jumlah siswa pernah mencapai 2000. Menander merupakan salah satu muridnya. Theosprastus sangat terkenal pada zamannya, ia dihormati oleh Philip II, Cassander dan Ptolemy.
Theophrastus memimpin sekolah Peripatetic selama 35 tahun, dan meninggal pada umur 85, menurut Diogenes. Konon ia berkata "Kita meninggal ketika kita baru mulai hidup." Ia lalu dimakamkan secara besar-besaran, dan "seluruh rakyat Athena, amat menghormatinya, mengantarnya ke kuburnya" (Diogenes Laertius).
Sofis
Sofis adalah nama yang diberikan kepada sekelompok filsuf yang hidup dan berkarya pada zaman yang sama dengan Sokrates. Mereka muncul pada pertengahan hingga akhir abad ke-5 SM. Meskipun sezaman, kaum sofis dipandang sebagai penutup era filsafat pra-sokratik sebab Sokrates akan membawa perubahan besar di dalam filsafat Yunani. Golongan sofis bukanlah suatu mazhab tersendiri, sebab para filsuf yang digolongkan sebagai sofis tidak memiliki ajaran bersama ataupun organisasi tertentu. Karena itu, sofisme dipandang sebagai suatu gerakan dalam bidang intelektual di Yunani saat itu yang disebabkan oleh beberapa faktor yang timbul saat itu.
Kemunculan Kaum Sofis
Kaum Sofis muncul pada pertengahan abad ke-5 SM. Beberapa orang filsuf sofis yang terkenal tidak berasal dari Athena, namun semua nya pernah mengunjungi dan berkarya di Athena. Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kaum sofis.
Perkembangan Athena
Setelah perang dengan Persia usai pada tahun 449 SM, Athena berkembang pesat di dalam bidang politik dan ekonomi. Perikles adalah tokoh yang berhasil memimpin Athena saat itu hingga Athena berhasil menjadi pusat seluruh Yunani. Sebelumnya, filsafat dan ilmu pengetahuan lain kurang berkembang di Athena, melainkan di tempat-tempat lain. Namun setelah Athena menjadi pusat politik dan ekonomi Yunani, dengan segera Athena juga menjadi pusat dalam bidang intelektual dan kultural.
Kebutuhan akan Pendidikan
Bersamaan dengan meningkatnya kemakmuran warga Athena, maka dirasakan juga kebutuhan di dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang utama pada waktu itu adalah pendidikan yang memampukan seseorang untuk berbicara dengan baik dan meyakinkan di depan umum. Hal itu berkaitan dengan kemajuan di bidang politik, yakni dengan sistem demokrasi diterapkan di Athena. Sistem demokrasi Athena menggunakan pemungutan suara terbanyak di dalam pengadilan maupun sidang umum. Oleh karena itu, para pemuda yang merupakan calon-calon pemimpin harus dilatih untuk dapat berbicara dengan meyakinkan supaya dapat ikut serta dalam kehidupan politik. Di sinilah kaum sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan tersebut. Kaum sofis mengajarkan ilmu-ilmu seperti matematika, astronomi, dan tata bahasa, di samping ilmu retorika yang merupakan ilmu terutama. Selain memiliki murid-murid yang berasal dari kalangan atas, para sofis juga memberi ceramah-ceramah untuk rakyat.
Perjumpaan dengan Pelbagai Kebudayaan
Kemajuan Athena juga mendorong perjumpaan dengan orang-orang dari pelbagai bangsa yang memiliki adat istiadat, hukum, ilmu pengetahuan, dan filsafat yang berbeda. Hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai etika, tradisi-tradisi, bahkan kepercayaan religius. Kaum sofis banyak berbicara apakah peraturan-peraturan yang ada berdasarkan kesepakatan sosial atau adat kebiasaan saja (nomos) ataukah berdasarkan pada kodrat manusia (physis). Pada umumnya, kaum sofis menyatakan bahwa kehidupan sosial tidak memiliki dasar kodrat manusia, dan merupakan kesepakatan manusiawi saja.
Para Filsuf Sofis
Di dalam sejarah filsafat, dikenal beberapa nama filsuf yang termasuk di dalam kaum sofis. Nama-nama tersebut adalah Protagoras dari Abdera, Xeniades dari Korintus, Gorgias dari Leontinoi, Lycophron, Prodikos dari Keos, Thrasymakos dari Chalcedon, Hippias dari Elis, dan Antiphon and Kritias dari Athena. Dari beberapa nama filsuf tersebut, hanya Protagoras, Gorgias, Prodikos, Hippias, dan Antiphon, yang fragmen-fragmen tulisannya masih tersimpan sehingga pengajarannya dapat diketahui. Hanya ada sedikit sekali tulisan yang berbicara mengenai Thrasymakos dan Kritias. Sedangkan untuk Lycophron dan Xeniades, sama sekali tidak ada fragmen tulisan mereka yang tersimpan.
Pengaruh
Di dalam sejarah filsafat, kaum sofis sering dipandang secara negatif. Misalnya saja, mengajar untuk mendapatkan uang yang banyak, menghalalkan segala cara untuk memenangkan argumentasi, serta mengajarkan relativisme. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu adalah adanya pernyataan dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles terhadap kaum sofis. Akan tetapi, kini telah ada usaha-usaha untuk menilai kaum sofis secara positif. Berikut adalah beberapa sumbangan kaum sofis terhadap perkembangan filsafat:
Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikiran filsafatnya. Tidak hanya itu, bahkan pemikiran manusia itu sendiri dijadikan tema filsafat mereka. Contohnya adalah pandangan Prodikos tentang dewa-dewi sebagai proyeksi pemikiran manusia, atau pandangan Protagoras tentang proses pemikiran untuk mengenali sesuatu.
Kaum sofis merupakan pionir dalam hal pentingnya bahasa di dalam filsafat. Hal itu terlihat dari berkembangnya retorika dan juga pentingnya pemakaian kata yang tepat. Selain itu, kaum sofis juga menciptakan gaya bahasa baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar seperti Herodotus dan Thukydides, amat dipengaruhi oleh mereka. Kemudian etika kaum sofis juga memengaruhi dramawan-dramawan tersohor seperti Sophokles dan Euripides.
Kritik kaum sofis terhadap pandangan tradisional mengenai moral membuka cakrawala pemikiran baru terhadap etika rasional dan otonom.
Kaum sofis memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Karena itu, secara tidak langsung, kaum sofis memberikan sumbangan besar terhadap filsafat zaman klasik dengan tiga filsuf utama tersebut.
Kemunculan Kaum Sofis
Kaum Sofis muncul pada pertengahan abad ke-5 SM. Beberapa orang filsuf sofis yang terkenal tidak berasal dari Athena, namun semua nya pernah mengunjungi dan berkarya di Athena. Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kaum sofis.
Perkembangan Athena
Setelah perang dengan Persia usai pada tahun 449 SM, Athena berkembang pesat di dalam bidang politik dan ekonomi. Perikles adalah tokoh yang berhasil memimpin Athena saat itu hingga Athena berhasil menjadi pusat seluruh Yunani. Sebelumnya, filsafat dan ilmu pengetahuan lain kurang berkembang di Athena, melainkan di tempat-tempat lain. Namun setelah Athena menjadi pusat politik dan ekonomi Yunani, dengan segera Athena juga menjadi pusat dalam bidang intelektual dan kultural.
Kebutuhan akan Pendidikan
Bersamaan dengan meningkatnya kemakmuran warga Athena, maka dirasakan juga kebutuhan di dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang utama pada waktu itu adalah pendidikan yang memampukan seseorang untuk berbicara dengan baik dan meyakinkan di depan umum. Hal itu berkaitan dengan kemajuan di bidang politik, yakni dengan sistem demokrasi diterapkan di Athena. Sistem demokrasi Athena menggunakan pemungutan suara terbanyak di dalam pengadilan maupun sidang umum. Oleh karena itu, para pemuda yang merupakan calon-calon pemimpin harus dilatih untuk dapat berbicara dengan meyakinkan supaya dapat ikut serta dalam kehidupan politik. Di sinilah kaum sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan tersebut. Kaum sofis mengajarkan ilmu-ilmu seperti matematika, astronomi, dan tata bahasa, di samping ilmu retorika yang merupakan ilmu terutama. Selain memiliki murid-murid yang berasal dari kalangan atas, para sofis juga memberi ceramah-ceramah untuk rakyat.
Perjumpaan dengan Pelbagai Kebudayaan
Kemajuan Athena juga mendorong perjumpaan dengan orang-orang dari pelbagai bangsa yang memiliki adat istiadat, hukum, ilmu pengetahuan, dan filsafat yang berbeda. Hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai etika, tradisi-tradisi, bahkan kepercayaan religius. Kaum sofis banyak berbicara apakah peraturan-peraturan yang ada berdasarkan kesepakatan sosial atau adat kebiasaan saja (nomos) ataukah berdasarkan pada kodrat manusia (physis). Pada umumnya, kaum sofis menyatakan bahwa kehidupan sosial tidak memiliki dasar kodrat manusia, dan merupakan kesepakatan manusiawi saja.
Para Filsuf Sofis
Di dalam sejarah filsafat, dikenal beberapa nama filsuf yang termasuk di dalam kaum sofis. Nama-nama tersebut adalah Protagoras dari Abdera, Xeniades dari Korintus, Gorgias dari Leontinoi, Lycophron, Prodikos dari Keos, Thrasymakos dari Chalcedon, Hippias dari Elis, dan Antiphon and Kritias dari Athena. Dari beberapa nama filsuf tersebut, hanya Protagoras, Gorgias, Prodikos, Hippias, dan Antiphon, yang fragmen-fragmen tulisannya masih tersimpan sehingga pengajarannya dapat diketahui. Hanya ada sedikit sekali tulisan yang berbicara mengenai Thrasymakos dan Kritias. Sedangkan untuk Lycophron dan Xeniades, sama sekali tidak ada fragmen tulisan mereka yang tersimpan.
Pengaruh
Di dalam sejarah filsafat, kaum sofis sering dipandang secara negatif. Misalnya saja, mengajar untuk mendapatkan uang yang banyak, menghalalkan segala cara untuk memenangkan argumentasi, serta mengajarkan relativisme. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu adalah adanya pernyataan dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles terhadap kaum sofis. Akan tetapi, kini telah ada usaha-usaha untuk menilai kaum sofis secara positif. Berikut adalah beberapa sumbangan kaum sofis terhadap perkembangan filsafat:
Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikiran filsafatnya. Tidak hanya itu, bahkan pemikiran manusia itu sendiri dijadikan tema filsafat mereka. Contohnya adalah pandangan Prodikos tentang dewa-dewi sebagai proyeksi pemikiran manusia, atau pandangan Protagoras tentang proses pemikiran untuk mengenali sesuatu.
Kaum sofis merupakan pionir dalam hal pentingnya bahasa di dalam filsafat. Hal itu terlihat dari berkembangnya retorika dan juga pentingnya pemakaian kata yang tepat. Selain itu, kaum sofis juga menciptakan gaya bahasa baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar seperti Herodotus dan Thukydides, amat dipengaruhi oleh mereka. Kemudian etika kaum sofis juga memengaruhi dramawan-dramawan tersohor seperti Sophokles dan Euripides.
Kritik kaum sofis terhadap pandangan tradisional mengenai moral membuka cakrawala pemikiran baru terhadap etika rasional dan otonom.
Kaum sofis memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Karena itu, secara tidak langsung, kaum sofis memberikan sumbangan besar terhadap filsafat zaman klasik dengan tiga filsuf utama tersebut.
Plato
Plato (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua. Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).
Ciri-ciri Karya-karya Plato
Bersifat Sokratik
Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya.
Berbentuk dialog
Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi
Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea adalah dunia yang melamaui manusia maka idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada dunia idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia Indrawi
Dunia indrawi adalah dunia nyata yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indra kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Dunia Idea
Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Pandangan Uphy tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan Cippe Plato tentang Karya Seni
Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik). Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide. Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide. Ia berpendapat bahwa Kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.
Dialog-dialog Plato
Dialog awal
Apologi
Kharmides
Krito
Euthyphro
Alcibiades Pertama
Hippias Mayor
Hippias Minor
Ion
Lakhes
Lysis
Dialog awal/pertengahan
Euthydemus
Gorgias
Menexenus
Meno
Protagoras
Dialog pertengahan
Kratylus
Phaedo
Phaedrus
Republik
Simposium
Dialog pertengahan-akhir
Parmenides
Theaetetus
Dialog akhir
Sang Sofis
Sang Negarawan
Timaeus
Kritias
Philebus
Yang diragukan otentisitasnya
Klitophon
Epinomis
Surat-surat
Hipparkhus
Minos
Para Kekasih yang Bersaing
Alcibiades Kedua
Theages
Ciri-ciri Karya-karya Plato
Bersifat Sokratik
Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya.
Berbentuk dialog
Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi
Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea adalah dunia yang melamaui manusia maka idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada dunia idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia Indrawi
Dunia indrawi adalah dunia nyata yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indra kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Dunia Idea
Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Pandangan Uphy tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan Cippe Plato tentang Karya Seni
Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik). Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide. Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide. Ia berpendapat bahwa Kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.
Dialog-dialog Plato
Dialog awal
Apologi
Kharmides
Krito
Euthyphro
Alcibiades Pertama
Hippias Mayor
Hippias Minor
Ion
Lakhes
Lysis
Dialog awal/pertengahan
Euthydemus
Gorgias
Menexenus
Meno
Protagoras
Dialog pertengahan
Kratylus
Phaedo
Phaedrus
Republik
Simposium
Dialog pertengahan-akhir
Parmenides
Theaetetus
Dialog akhir
Sang Sofis
Sang Negarawan
Timaeus
Kritias
Philebus
Yang diragukan otentisitasnya
Klitophon
Epinomis
Surat-surat
Hipparkhus
Minos
Para Kekasih yang Bersaing
Alcibiades Kedua
Theages
Subscribe to:
Posts (Atom)