Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Aug 3, 2018

Kekaisaran Persia

Kekaisaran Persia (Persia: امپراتوری ایران) adalah sejumlah kekaisaran bersejarah yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Saat ini, istilah Persia sering merujuk kepada Iran; Persia digunakan untuk isu sejarah, dan kebudayaan, dan Iran digunakan untuk isu politik. Bangsa yang dikemudian hari memproklamirkan diri sebagai Republik Islam Iran ini didominasi oleh Syi'ah.

Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran, diikuti dengan peradaban Elam. Pada milenium kedua, dan ketiga, Bangsa Arya hijrah ke Iran, dan mendirikan kekaisaran pertama Iran, Kekaisaran Media (728SM-550SM). Kekaisaran ini telah menjadi simbol pendiri bangsa, dan juga kekaisaran Iran, yang disusul dengan Kekaisaran Akhemeniyah (648SM–330SM) yang didirikan oleh Koresh yang Agung.

Koresh Agung juga terkenal sebagai pemerintah pertama yang mewujudkan undang-undang mengenai hak-hak kemanusiaan, tertulis di atas artefak yang dikenal sebagai Silinder Koresh. Ia juga merupakan pemerintah pertama yang memakai gelar Agung dan juga Shah Iran. Di zamannya, perbudakan dilarang di kawasan-kawasan taklukannya (juga dikenal sebagai Kekaisaran Persia.) Gagasan ini kemudian memberi dampak yang besar pada peradaban-peradaban manusia setelah zamannya.

Kekaisaran Persia kemudian diperintah oleh Cambyses selama tujuh tahun (531SM - 522SM) dan kemangkatannya disusul dengan perebutan kuasa. Akhirnya Darius yang Agung (522SM -486SM) menang, dan dinyatakan sebagai raja.

Ibu kota Persia pada zaman Darius dipindahkan ke Susa dan ia mulai membangun Persepolis. Sebuah terusan di antara Sungai Nil dan Laut Merah turut dibangun, dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan Suez. Sistem jalan juga turut diperbaharui, dan sebuah jalan raya dibangun menghubungkan Susa, dan Sardis. Jalan raya ini dikenal sebagai Jalan Kerajaan.

Selain itu, mata uang syiling dalam bentuk daric (syiling emas) dan juga Shekel (syiling perak) diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahasa Persia Kuno turut diperkenalkan, dan diterbitkan di dalam prasasti-prasasti kerajaan.

Di bawah pemerintahan Koresh yang Agung, dan Darius yang Agung, Kekaisaran Persia menjadi sebuah kekaisaran yang terbesar, dan terkuat di dunia zaman itu. Pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan sikap toleransi, dan menghormati budaya-budaya, dan agama-agama lain di kawasan jajahannya.

Kekaisaran Seleukus (330SM ~ 248SM)
Pada tahun 330SM Kekaisaran Akhemeniyah diserang oleh Kerajaan Yunani yang di pimpin salah satu jenderal dari Alexander Agung yang bernama Seleukus dan lahirlah pemerintahan baru Persia yaitu Kekaisaran Seleukus dari Yunani. Seleukus mengangkat dirinya menjadi Kaisar setelah Alexander Agung wafat.

Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248SM – 224M)

Parthia bermula dengan Dinasti Arsacida yang menyatukan, dan memerintah dataran tinggi Iran, yang juga turut menaklukkan wilayah timur Yunani pada awal abad ketiga Masehi, dan juga Mesopotamia antara tahun 150 SM dan 224 M. Parthia juga merupakan musuh bebuyutan Romawi di sebelah timur, dan membatasi bahaya Romawi di Anatolia. Tentara-tentara Parthia terbagi atas dua kelompok berkuda, tentara berkuda yang berperisai, dan membawa senjata berat, dan tentara berkuda yang bersenjata ringan, dan kudanya lincah bergerak. Sementara itu, tentara Romawi terlalu bergantung kepada infantri, menyebabkan Romawi sukar untuk mengalahkan Parthia. Tetapi, Parthia kekurangan teknik dalam perang tawan, menyebabkan mereka sukar mengawal kawasan taklukan. Ini menyebabkan kedua belah pihak gagal mengalahkan satu sama lain.

Kekaisaran Parthia tegak selama lima abad (Berakhir pada tahun 224 M,) dan raja terakhirnya kalah di tangan kekaisaran lindungannya, yaitu Sassania.

Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651)

Ardashir I, shah pertama Kekaisaran Sassania, mula membangun kembali ekonomi, dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Orang-orang Sassania menamakan kekaisaran mereka Erānshahr (atau Iranshæhr, "Penguasaan Orang Arya".)

Sejarah Iran seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-Qādisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzād, seorang jenderal Persia, dikritik kerana keputusannya untuk berperang dengan orang Arab di bumi Arab sendiri. Kekalahan Sassania di Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan, dan akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh, dan kebudayaan Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia.

Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–1400)

Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada masa yang sama juga sebagai muslim. Pada abad ke-8 M, Parsi memberi bantuan kepada Abbassiyah memerangi tentara Umayyah, karena Bani Umayyah hanya mementingkan bangsa Arab, dan memandang rendah kepada orang Persia. Pada zaman Abbassiyah, orang-orang Persia mulai melibatkan diri dalam administrasi kerajaan. Sebagian mendirikan dinasti sendiri.

Pada abad kesembilan, dan kesepuluh, terdapat beberapa kebangkitan ashshobiyyah Persia yang menentang gagasan Arab sebagai Islam, dan Muslim. Tetapi kebangkitan ini tidak menentang identitas seorang Islam. Salah satu dampak kebangkitan ini ialah penggunaan bahasa Persia sebagai bahasa resmi Iran (hingga hari ini.)

Pada zaman ini juga, para ilmuwan Persia menciptakan Zaman Kegemilangan Islam. Sementara itu Persia menjadi tumpuan penyebaran ilmu sains, filsafat, dan teknik. Ini kemudian memengaruhi sains di Eropa, dan juga kebangkitan Renaissance.

Bermula pada tahun 1220, Parsi dimasuki oleh tentera Mongolia di bawah pimpinan Genghis Khan, diikuti dengan Tamerlane, dimana kedua penjelajah ini menyebabkan kemusnahan yang parah di Persia.

Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran Modern (1501 – 1979)

Parsi mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun 1501. Dinasti Safawi kemudian menjadi salah sebuah penguasa dunia yang utama, dan mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran. Di bawah pemerintahannya, arsitektur Persia berkembang kembali, dan menyaksikan pembangunan monumen-monumen yang indah. Kejatuhan Safawi disusuli dengan Persia yang menjadi sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Britania (yang menggunakan pengaruh Dinasti Qajar). Namun begitu, Iran tetap melestarikan kemerdekaan, dan wilayah-wilayahnya, menjadikannya unik di rantau itu. Modernisasi Iran yang bermula pada lewat abad ke-19, membangkitkan keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Ini menyebabkan terjadinya Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga 1911. Pada tahun 1921, Reza Khan (juga dikenal sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta melalui perebutan kekuasaan dari Qajar yang semakin lemah. Sebagai penyokong modernisasi, Shah Reza memulai pembangunan industri modern, jalan kereta api, dan pendirian sistem pendidikan tinggi di Iran. Malangnya, sikap aristokratik, dan ketidakseimbangan pemulihan kemasyarakatan menyebabkan banyak rakyat Iran tidak puas.

Pada Perang Dunia II, tentara Inggris, dan Uni Soviet menyerang Iran dari 25 Agustus hingga 17 September 1941, untuk membatasi Blok Poros, dan menggagas infrastruktur penggalian minyak Iran. Blok Sekutu memaksa Shah untuk melantik anaknya, Mohammad Reza Pahlavi menggantikannya, dengan harapan Mohammad Reza menyokong mereka.

Malangnya, pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis. Dengan bantuan dari Amerika, dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran, tetapi pada masa yang sama menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan intelijennya, SAVAK. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi oposisi, dan pengkritik aktif terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza, dan kemudian ia dipenjarakan selama delapan belas bulan. Melalui nasihat jenderal Hassan Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri, dan diantar ke Turki dan selepas itu ke Irak.
Kitab Yudit adalah salah satu kitab deuterokanonika, termasuk dalam Septuaginta serta dalam Perjanjian Lama Kristen Katolik dan Ortodoks Timur, namun dikecualikan dari naskah-naskah Yahudi dan digolongkan sebagai Apokrifa oleh Protestan. Kitab ini disebut kitab yang inspirasional umat melawan semua penjajah yang hendak menajiskan tempat suci. 

Nama Yudit (bahasa Ibrani: יְהוּדִית - Yəhudit - Yəhûḏîṯ yang artinya "terpuji" atau "perempuan Yahudi") dalam bentuk feminim dari kata Yehuda. Menurut Irene Nowell, nama Yudit berasal dari kata Yudahite yang artinya perempuan Yahudi. 

Penulis kitab Yudit dijelaskan pada pasal 8-9:14, mulai pasal 8:1 diketahui bahwa Yudit adalah seorang Israel sejati. Menurut David Michael Lindsey, Kitab Yudit ditulis sekitar abad ke-6 SM oleh seorang pahlawan perempuan yang dikenal dengan janda muda Manasye. Penulisan dipengaruhi peristiwa-peristiwa Makabe. 

Status janda Yudit dalam tradisi Israel merupakan simbol kelemahan, orang yang tidak mempunyai kekuatan di masyarakat. Oleh karena itu, perlu hukum yang mengatur agar para janda dapat dilindungi, seperti kasus perkawinan levirat. Selain itu, kelemahan para janda juga terbukti dalam pelbagai pemberitaan para nabi untuk melindungi hak para janda, secara khusus menekankan perlindungan Allah. Data tersebut adalah informasi yang dicatat Yudit terkait kematian Manasye, suami Yudit pada pasal 8:2-6. Yudit juga dikenal sebagai wanita yang cantik dan elok parasnya pada Pasal 8:7. Selain cantik dan elok, ada indikasi bahwa dia adalah wanita kaya dari warisan Manasye yang berupa emas dan perak, budak-budak dan sahaya-sahaya, ternak dan ladang pada pasal 8:7b dan seorang yang saleh atau takut akan Allah, pada pasal 8:8. Dalam masyarakat yang dikuasai laki-laki, Yudit tampil memimpin, meminta para penatua kota berkumpul dan membagi tugas. Bila para tetua hanya berpikir tentang kebutuhan praktis sehari-hari, tentang air minum. Yudit menjunjung tinggi namanya sebagai Israel sejati, yang diperjuangkan ialah keselamatan bangsa dan Negara. Dalam pertimbangannya, situasi itu meminta risiko yang harus diperhitungkan masak-masak; kecuali tindakan tersebut akan menjadi contoh dan menimbulkan semangat juang yang tinggi. Keberaniannya menggerakkannya untuk berpikir demi kepentingan orang lain, umat Israel, kenisah dan tempat suci. Ia mencerminkan kebijaksanaan putri dari Abel-Bet-Maakha yang mengusulkan eksekusi Seba, supaya kepentingan seluruh bangsa terjamin. 

Selain itu Yudit juga digambarkan sebagai seorang pemberani pada pasal 9:9-27 dan bijaksana pasal 9:28-29. Gambaran ini didukung oleh ahli-ahli Katolik, seperti Craghan dan Kodell. 

Setting

Kitab Yudit mempunyai setting yang tragis yang menarik bagi para patriot Yahudi dan memperingatkan kepada para pembacanya agar menaati Hukum agama Yahudi. Narasi Kitab Yudit dimulai dari seorang janda Manasye yang saleh, yang kecewa dengan saudara-saudara sebangsanya karena tidak mau melawan para penjajah asing mereka. Namanya adalah Yudit, yang dalam bahasa Ibrani berarti "Perempuan Yahudi". Ia berhasil menyelamatkan Israel dari penghancuran total yang dilakukan oleh tentara Asyur. Dalam kitab ini berisi macam-macam sindiran terhadap era Asyur, Babel, dan Persia. 

Yudit, disertai oleh hamba perempuannya Abra yang setia meskipun mungkin agak enggan, pergi ke kemah jenderal musuh, Holofernes. Ia pelan-pelan memikatnya, menjanjikan pelayanan seksual dan informasi tentang bangsa Israel. Setelah mendapatkan kepercayaannya (meskipun ia tidak memenuhi janjinya), ia memperoleh akses ke kemahnya pada suatu malam sementara Holofernes sedang tertidur karena mabuk. Yudit memenggal kepalanya, lalu membawanya dan memperlihatkannya kepada orang-orang Holofernes. Setelah kematian Holofernes Bangsa Asyur mengalami kekacauan dan Israel diselamatkan oleh tangan seorang perempuan. 

Menurut Nowell, kelalaian Holofernes disebabkan kecantikan Yudit. Perjuangannya diwarnai dan didasarkan atas pengalaman religius yang mendalam dan hidupnya dijadikan pujian bagi Allah. Sebagai pejuang ia tidak kehilangan sosok feminin yang lembut, cantik dan anggun. Seluruh pribadinya mencerminkan kelembutan, kecantikan dan keanggunan. Yudit juga seorang sosok ibu yang mandiri dan kreatif dan hal tersebut ditunjukkan dalam kedewasaannya. Ia menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk menghadapi musuh ketika seluruh bangsanya digelisahkan oleh lawan. Bagi Yudit, kekerasan harus dilawan dengan kelembutan. Meskipun banyak orang yang mencoba mendekatinya, Yudit tetap tidak menikah hingga akhir hayatnya. 

Konteks Umat Israel Pada Masa Yudit

Kecenderungan sosial Israel pada masa Yudit tidak terlepas dari masuknya budaya helenisasi yang dipersonifikasikan oleh kekuatan Nebukadnezar dan panglimanya Holofernes ke dalam kehidupan umat baik dalam aspek sosial, politik, budaya, ekonomi dan keagamaan. Kebijakan helenisasi ini terus dipaksakan hingga mengakibatkan terancamnya kehidupan beriman umat Israel kepada Yahwe. Isi kebijakan tersebut yakni orang-orang Yahudi harus meninggalkan praktik-praktik tradisional seperti cara beribadah, sunat dan melupakan aturan mengenai makanan yang halal dan haram.  Sebaliknya, orang-orang Yahudi dipaksa untuk mengambil alih cara berpikir dan beribadah Yunani yang bagi orang-orang Yahudi itu adalah sebuah pelacuran terhadap Yahwe. Dalam situasi seperti ini, Wismoady mengatakan bahwa terdapat kelompok Yahudi yang berjuang menentang helenisasi yang dianggap bertentangan dengan iman Israel. Vriezen menjelaskan bahwa walaupun ancaman tersebut, bangsa Israel semakin bertekad untuk mempertahankan warisan rohani yang dimilikinya dengan menolak secara tegas segala sesuatu yang mengancam kestabilan struktur agama. Hal ini digambarkan pada pasal 7:19-32, di mana umat yang mulai berputus asa dan menganjurkan untuk melibatkan diri dalam kebijakan helenisasi: 
hendaklah kamu sekarang memanggil mereka dan menyerahkan seluruh kota kepada laskar Holofernes serta seluruh bala tentaranya untuk dirampasi. Lebih baik kita menjadi rampasan mereka. Memang kita akan menjadi budak, tetapi kita akan hidup terus dan tidak usah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian kanak-kanak kita dan bagaimana isteri dan anak-anak kita kehilangan nyawanya.” ”Saran itu mengguncang iman pemimpin umat sehingga ia (pemimpin umat: Uzia) mengeluarkan pernyataan mencobai Allah pada pasal 7:30.
tetapkan hati, saudara-saudara! Hendaknya kita tahan lima hari lagi. Jika hari-hari itu berlalu dengan tidak ada pertolongan datang, maka aku hendak berbuat sebagaimana telah saudara-saudara katakan.” ”
Kontras dengan mereka dalam situasi yang demikian, sebagian masyarakat (diwakili oleh Yudit) tetap berpegang pada tradisi iman mereka, bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa dan tidak bisa diatur oleh kehendak manusia. Yudit mengakui bahwa Allah adalah pahlawan yang akan melindungi dan menolong mereka pada waktu yang Ia kehendaki. 

Konsili Nicea Pertama

Konsili Nicea Pertama (bahasa Inggris: First Council of Nicaea; bahasa Yunani: Νίκαια [ˈni:kaɪja]), terkadang dilafalkan Konsili Nikea atau Konsili Nisea, merupakan salah satu konsili para uskup Kristen yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantinus I pada tahun 325. Konsili ekumenis pertama ini merupakan upaya pertama untuk mencapai konsensus dalam Gereja melalui suatu sidang yang mewakili seluruh dunia Kekristenan, kendati konsili-konsili sebelumnya, termasuk Konsili Yerusalem sebagai konsili Gereja pertama, sudah pernah bersidang untuk menyelesaikan hal-hal yang diperdebatkan. Konsili ini dipimpin oleh Hosius, uskup Korduba yang berada dalam persekutuan dengan Sri Paus. 

Pencapaian utamanya adalah penyelesaian isu Kristologis mengenai kodrat Putra Allah dan hubungannya dengan Allah Bapa, pembentukan bagian pertama Pengakuan Iman Nicea, menetapkan keseragaman waktu perayaan Paskah, dan pengundangan hukum kanon awal. 

Konsili Nicea I merupakan konsili ekumenis pertama dalam Gereja. Hasil terpentingnya adalah keseragaman doktrin Kristen untuk yang pertama kalinya, disebut Pengakuan Iman Nicea. Dengan terbentuknya pengakuan iman (kredo atau syahadat) tersebut, terbentuk suatu preseden bagi berbagai konsili para uskup (Sinode-sinode) baik yang sifatnya setempat maupun regional untuk menyusun pernyataan-pernyataan keimanan dan kanon-kanon ortodoksi doktrinal—guna mewujudkan kesatuan keyakinan bagi seluruh dunia Kekristenan.

"Ekumenis" berasal dari kata dalam bahasa Yunani (bahasa Yunani Kuno: οἰκουμένη) yang berarti "seluruh dunia", namun umumnya diasumsikan sebatas pada Bumi yang dihuni sejauh yang dikenal, dan saat ini terkait dengan sejarah sama artinya dengan Kekaisaran Romawi; penggunaan paling awal atas istilah tersebut untuk menyebut suatu konsili terdapat dalam Riwayat Hidup Konstantinus 3.6 karya Eusebius sekitar tahun 338, yang menyatakan kalau "ia mengundang [untuk menghadiri] suatu Konsili Ekumenis" (bahasa Yunani Kuno: σύνοδον οἰκουμενικὴν συνεκρότει) serta surat tahun 382 yang ditujukan kepada Paus Damasus I dan para uskup Latin dari Konsili Konstantinopel I. 

Salah satu tujuan diselenggarakannya konsili ini adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat yang timbul dari dalam Gereja Aleksandria mengenai kodrat Putra dalam hubungannya dengan Bapa: secara khusus mengenai apakah Putra telah 'diperanakkan' oleh Bapa dari wujud-Nya sendiri, dan karenanya tidak memiliki awal, atau tercipta dari ketiadaan, dan karenanya memiliki suatu awal. St. Aleksander dari Aleksandria dan Athanasius berpegang pada pendapat pertama; seorang presbiter populer bernama Arius, yang dari namanya muncul istilah Arianisme, berpegang pada pendapat kedua. Hampir semua peserta konsili memutuskan bahwa kalangan Arian keliru (dari perkiraan 250–318 peserta konsili, semuanya selain 2 orang menandatangani kredo tersebut dan kedua orang ini, bersama dengan Arius, diasingkan ke Illyria). 

Hasil lain konsili ini adalah kesepakatan mengenai waktu perayaan Paskah, hari raya terpenting dalam kalender gerejawi, ditetapkan dalam sebuah surat kepada Gereja Aleksandria yang secara sederhana dinyatakan:
Kami juga mengirimkan kabar baik penyelesaian [isu] terkait paskah suci, yaitu bahwa sebagai jawaban atas doa-doamu permasalahan ini juga telah terselesaikan. Semua saudara di Timur yang sampai sekarang mengikuti praktik Yahudi mulai saat ini akan merayakan kebiasaan dari jemaat Roma dan dari kamu sendiri serta dari kita semua yang sejak zaman kuno telah memilihara Paskah bersama-sama denganmu. 
Konsili Nicea memiliki arti penting historis sebagai upaya pertama untuk meraih konsensus dalam Gereja melalui musyawarah yang mewakili keseluruhan umat Kristiani. Konsili ini merupakan kesempatan pertama di mana aspek-aspek teknis Kristologi didiskusikan. Melaluinya ditetapkan suatu preseden bagi konsili-konsili umum selanjutnya untuk menerapkan kredo-kredo dan kanon-kanon. Konsili ini secara umum dipandang sebagai permulaan periode tujuh Konsili Ekumenis pertama dalam Sejarah Kekristenan.

Sifat dan tujuan

Konsili Nicea I dihimpunkan oleh Kaisar Konstantinus Agung atas rekomendasi suatu sinode yang dipimpin oleh Hosius dari Korduba pada Masa Paskah tahun 325. Sinode tersebut bertujuan melakukan investigasi atas permasalahan yang timbul akibat kontroversi Arian di kawasan Timur yang berbahasa Yunani. Bagi kebanyakan uskup, ajaran-ajaran Arius dipandang sesat dan berbahaya bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pada musim panas tahun 325, para uskup dari seluruh provinsi dipanggil ke Nicea, suatu tempat yang cukup mudah diakses oleh banyak delegasi, khususnya mereka yang datang dari Asia Kecil, Georgia, Armenia, Siria, Palestina, Mesir, Yunani, dan Trakia.

Konsili ini merupakan konsili umum pertama dalam sejarah Gereja sejak Konsili Apostolik di Yerusalem, konsili Apostolik yang menetapkan kondisi-kondisi bagaimana kaum non-Yahudi dapat bergabung dengan Gereja. Dalam Konsili Nicea, "Gereja telah mengambil langkah besar pertamanya untuk mendefinisikan secara lebih tepat doktrin yang diwahyukan sebagai tanggapan atas tantangan dari suatu teologi sesat." 

Para peserta

Konstantinus mengundang keseluruhan 1.800 uskup Gereja Kristen di dalam Kekaisaran Romawi (sekitar 1.000 uskup di Timur dan 800 uskup di Barat), namun jumlah hadirin kurang dari 1.800 dan tidak diketahui secara pasti. Menurut perhitungan Eusebius dari Kaisarea, jumlah peserta lebih dari 250 uskup, sementara perhitungan Athanasius dari Aleksandria adalah 318 uskup, dan Eustasius dari Antiokhia memperkirakan "sekitar 270" uskup (ketiganya hadir di konsili ini). Belakangan, Sokrates Skolastikus mencatat ada lebih dari 300 uskup, sementara Evagrius, Hilarius dari Poitiers, Hieronimus, Dionysius Exiguus, dan Rufinus mencatat ada 318 uskup. Jumlah 318 uskup ini terlestarikan dalam liturgi-liturgi Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria.[butuh rujukan]

Delegasi-delegasi datang dari masing-masing wilayah Kekaisaran Romawi, termasuk Britania. Para uskup yang berpartisipasi diberi perjalanan gratis pulang-pergi dari takhta episkopal mereka masing-masing ke tempat berlangsungnya konsili, serta penginapan cuma-cuma. Para uskup ini tidak datang sendirian; masing-masing diizinkan membawa serta dua orang imam dan tiga orang diakon, sehingga jumlah total hadirin mungkin di atas 1.800 orang. Eusebius berbicara mengenai rombongan besar para pengiring yang terdiri atas para imam, diakon, dan akolit yang hampir tak terhitung jumlahnya.

Mayoritas peserta konsili adalah para uskup dari Timur. Dari antara mereka, peringkat pertamanya adalah ketiga patriark: Aleksander dari Aleksandria, Eustasius dari Antiokhia, dan Makarius dari Yerusalem. Banyak dari para Bapa Konsili yang hadir misalnya, Pafnusius dari Thebes, Potamon dari Heraklea, dan Paulus dari Neokaisarea telah mempertahankan diri sebagai para pengaku iman dan datang ke konsili dengan tanda-tanda penganiayaan yang masih berbekas di wajah mereka. Posisi ini didukung oleh sejarawan patristik bernama Timothy Barnes dalam buku karyanya yang berjudul Constantine and Eusebius. Secara historis, pengaruh para pengaku iman yang mengalami penganiayaan ini dipandang substansial, namun keilmuan terbaru mempertanyakan hal ini. 

Para peserta terkemuka lainnya yaitu Eusebius dari Nikomedia; Eusebius dari Kaisarea, yang diklaim sebagai sejawan pertama gereja; kondisi-kondisi faktual mengemukakan bahwa Nikolas dari Myra turut hadir (kisah hidupnya merupakan sumber legenda Sinterklas); Aristakes dari Armenia (putra Santo Gregorius Sang Pencerah); Leonsius dari Kaisarea; Yakub dari Nisibis, seorang mantan pertapa; Hipasius dari Granga; Protogenes dari Sardika; Melitius dari Sebastopolis; Akilius dari Larissa (dianggap Athanasius dari Thessalia) dan Spiridon dari Tremitus, seorang uskup yang mencari nafkah dengan menjadi seorang gembala. Peserta yang berasal dari luar Kekaisaran Romawi adalah Yohanes, uskup Persia dan India, Teofilus, seorang uskup Gothik, dan Stratofilus, uskup Pitius dari Georgia.

Provinsi-provinsi berbahasa Latin mengutus sekurang-kurangnya lima wakil: Markus dari Italia, Sesilianus dari Afrika, Hosius dari Hispania, Nikasius dari Gallia, dan Domnus dari provinsi Danube.

Di antara para asisten terdapat Athanasius dari Aleksandria, seorang diakon muda dan pendamping Uskup Aleksander dari Aleksandria. Athanasius kelak membaktikan hampir sebagian besar sisa umurnya untuk berjuang melawan paham Arianisme. Aleksander dari Konstantinopel, yang kelak menjadi seorang presbiter, juga hadir mewakili uskupnya yang sudah lanjut usia. 

Para pendukung Arius misalnya Sekundus dari Ptolemais, Teonus dari Marmarika, Sfirius, dan Dates, kesemuanya berasal dari Pentapolis Libya. Para pendukung yang lain misalnya Eusebius dari Nikomedia, Paulinus dari Tirus, Aktius dari Lydda, Menofantus dari Efesus, dan Teognus dari Nicea. 

"Dengan mengenakan kain ungu dan emas, Konstantinus melakukan arak-arakan masuk seremonial pada pembukaan konsili, mungkin di awal bulan Juni, namun dengan penuh penghormatan menempatkan para uskup duduk di depannya." Menurut deskripsi Eusebius, Konstantinus "sendiri lewat di tengah-tengah majelis, seperti seorang utusan surgawi dari Allah, mengenakan busana berkilauan seakan-akan terbuat dari berkas-berkas cahaya, memantulkan cahaya bersinar dari jubah ungunya, serta dihiasi kemegahan perhiasan emas dan ratna mutu manikam." Sang kaisar hadir sebagai seorang pengamat dan hadirin, tetapi tidak turut serta dalam pemungutan suara apapun. Konstantinus mengorganisir Konsili menurut tata cara Senat Romawi. Hosius dari Kordoba kemungkinan menjadi pemimpin musyawarah; ia mungkin adalah salah seorang legatus kepausan. Eusebius dari Nikomedia kemungkinan menyampaikan kata sambutan. 

Agenda dan prosedur

Agenda konsili ini mencakup:

* Pertanyaan kaum Arian mengenai hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putra (bukan hanya mengenai inkarnasi Putra sebagai Yesus, tetapi juga mengenai kodrat Putra sebelum penciptaan dunia ini); yaitu apakah Bapa dan Putra satu dalam kehendak ilahi saja atau juga satu hakikat?
* Waktu perayaan Paskah
* Skisma Meletia
* Beragam hal terkait disiplin gereja, yang menghasilkan dua puluh kanon
Struktur Gereja: difokuskan pada pengurutan episkopatMartabat kaum klerus: isu-isu penahbisan di semua level serta kesesuaian perilaku dan latar belakang bagi imamRekonsiliasi orang yang murtad: menetapkan norma-norma untuk silih dan tanda pertobatan di hadapan publikPenerimaan kembali kaum bidah dan skismatik ke dalam Gereja: termasuk isu-isu seputar kapan dibutuhkan penahbisan dan/atau pembaptisan ulangPraktik liturgis: termasuk penempatan para diakon, dan praktik berdiri saat doa selama perayaan liturgi 
Konsili ini resmi dibuka pada tanggal 20 Mei, di bagian tengah istana kekaisaran di Nicea, dengan diskusi-diskusi pendahuluan mengenai pertanyaan Arian. Dalam diskusi-diskusi ini, beberapa tokoh yang menonjol adalah Arius dengan beberapa pengikutnya. "Sekitar 22 uskup dalam konsili itu, dipimpin oleh Eusebius dari Nikomedia, hadir sebagai pendukung Arius. Akan tetapi tatkala beberapa bagian yang lebih mengejutkan dari tulisan-tulisannya dibacakan, hampir semuanya dipandang sebagai penghujatan." Uskup Teognis dari Nicea dan Maris dari Kalsedon termasuk dalam golongan yang sebelumnya berpihak pada Arius.

Eusebius dari Kaisarea meminta hadirin untuk mempertimbangkan kredo pembaptisan yang dipergunakan keuskupannya di Kaisarea, Palestina, sebagai suatu bentuk rekonsiliasi. Mayoritas uskup menyetujuinya. Dahulu para akademisi berpikir bahwa Kredo Nicea yang asli didasarkan pada pernyataan Eusebius itu. Saat ini kebanyakan akademisi berpikir bahwa Kredo tersebut berasal dari kredo pembaptisan di Yerusalem, sebagaimana dikemukakan oleh Hans Lietzmann.

Para uskup ortodoks mendapat persetujuan dari setiap orang atas proposal-proposal mereka mengenai Kredo tersebut. Setelah bersidang sebulan penuh, konsili mengundangkan Kredo Nicea asli pada tanggal 19 Juni. Pengakuan iman ini diadopsi oleh semua uskup "kecuali dua [uskup] dari Libya yang sejak semula terkait erat dengan Arius". Tidak ada catatan sejarah yang secara eksplisit menulis ketidaksetujuan mereka; tanda tangan para uskup tidak tercantum dalam Kredo tersebut.

Kontroversi Arian

Kontroversi Arian timbul di Aleksandria ketika presbiter Arius yang baru dipulihkan posisinya mulai penyebarkan pandangan doktrinal yang bertentangan dengan pandangan uskupnya, St. Aleksander dari Aleksandria. Isu-isu yang diperdebatkan berpusat pada kodrat dan hubungan Allah Bapa dan Allah Putra (Yesus). Perbedaan pendapat tersebut timbul dari ide-ide berbeda mengenai Kebapaan dan apa maknanya bagi Yesus sebagai putra-Nya. Aleksander menyatakan bahwa Putra (Yesus) adalah ilahi dalam arti yang sama seperti Bapa, sama kekalnya dengan Bapa, jika tidak maka tidak mungkin Yesus menjadi seorang Putra sejati. Arius menekankan supremasi dan kekhasan Allah Bapa, yang berarti bahwa hanya Bapa yang mahakuasa dan tak terbatas, dan karenanya keilahian Bapa tentu lebih besar dari Putra. Arius mengajarkan bahwa Putra memiliki suatu awal, dan bahwa Putra tidak memiliki keabadian maupun keilahian sejati Bapa, tetapi dijadikan "Allah" atas izin dan kuasa Bapa, dan dengan demikian Putra adalah ciptaan Allah yang pertama kali dan paling sempurna. 

Perdebatan dan diskusi Arian pada konsili ini berlangsung dari 20 Mei 325 sampai sekitar 19 Juni 325. Menurut laporan-laporan legendaris, perdebatan menjadi sedemikian panas hingga pada satu titik, Arius ditampar wajahnya oleh Nikolas dari Myra, yang kelak dikanonisasi. Laporan ini hampir pasti diragukan kebenarannya, karena Arius sendiri tidak mungkin hadir di ruang konsili mengingat kenyataan bahwa ia bukan seorang uskup. 

Kebanyakan perdebatan berkisar seputar perbedaan antara "dilahirkan" atau "diciptakan" dan "diperanakkan".[a] Kaum Arian menganggap istilah-istilah tersebut sama, sementara para pengikut Aleksander membedakannya. Makna yang tepat dari banyak kata yang dipergunakan dalam perdebatan-perdebatan di Nicea masih belum jelas bagi para penutur bahasa-bahasa lain. Kosakata Yunani seperti "esensi" (ousia), "substansi" (hipostasis), "kodrat" (physis), "pribadi" (prosopon) mengandung beragam makna yang berasal dari para filsuf pra-Kristiani, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman bila tidak diterangkan. Kata homoousia, khususnya, pada awalnya tidak disukai oleh banyak uskup karena keterkaitannya dengan kaum Gnostik (yang menggunakannya dalam teologi mereka) yang dipandang sebagai bidah, dan karena ajaran-ajaran mereka telah dikutuk pada Sinode-sinode Antiokhia tahun 264–268.

Argumen Arianisme

Menurut laporan-laporan yang masih terlestarikan, presbiter Arius memberikan argumen atas supremasi Allah Bapa, dan menyatakan bahwa Putra Allah diciptakan sebagai suatu tindakan dari kehendak Bapa, dan karenanya Putra merupakan makhluk ciptaan Allah, diperanakkan langsung dari yang tak terbatas, Allah yang kekal. Arius beralasan bahwa Putra merupakan ciptaan pertama Allah, sebelum segala masa. Pendapatnya dengan demikian menyatakan bahwa Putra memiliki awal, dan karenanya hanya Bapa yang tidak memiliki awal mula. Arius juga berpendapat bahwa segala sesuatu yang lain diciptakan melalui Putra. Sehingga, menurut kaum Arian, hanya Putra yang secara langsung diciptakan dan diperanakkan dari Allah; karena itu terdapat suatu waktu di mana Ia tidak memiliki eksistensi. Arius meyakini bahwa Putra Allah memiliki kehendak bebas tersendiri terkait apa yang benar dan apa yang salah, dan "dalam arti seorang putra yang sesungguhnya, Ia tentu ada setelah Bapa, oleh karenanya tentu ada waktu di mana Ia tidak ada, dan dengan demikian Ia adalah seorang makhluk yang terbatas", dan bahwa Ia berada di bawah Allah Bapa. Dengan alasan-alasan tersebut Arius bersikeras bahwa keilahian Bapa lebih besar daripada Putra. Kaum Arian mengutip kata-kata dalam Kitab Suci seperti "Bapa lebih besar dari pada Aku", dan juga "yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan". 

Argumen yang menentang Arianisme

Pandangan yang menentang berasal dari gagasan bahwa memperanakkan Putra dengan sendirinya berarti dalam kodrat Bapa, yang adalah kekal. Dengan demikian, Bapa senantiasa adalah seorang Bapa, dan baik Bapa maupun Putra senantiasa ada bersama-sama, setara dan sehakikat (konsubstansial). Argumen yang menentang pandangan Arian tersebut karenanya menyatakan bahwa Firman "diperanakkan dalam kekekalan", sehingga tanpa awal mula. Mereka yang menentang Arius ini meyakini bahwa pandangan Arian menghancurkan kesatuan Kebapaan, dan menjadikan Putra tidak setara dengan Bapa. Mereka menegaskan bahwa pandangan semacam itu bertentangan dengan kata-kata dalam Kitab Suci seperti "Aku dan Bapa adalah satu" dan "Firman itu adalah Allah", sebagaimana ayat-ayat tersebut ditafsirkan. Sama seperti Athanasius,  mereka menyatakan bahwa Putra tidak memiliki awal, tetapi memiliki suatu "derivasi kekal" dari Bapa sehingga sama kekalnya dengan Ia, dan setara dengan Allah dalam segala aspek. 

Hasil perdebatan
Konsili Nicea mendeklarasikan bahwa Putra adalah "Allah benar" (Allah yang sejati), sama kekalnya dalam Bapa dan diperanakkan dari substansi-Nya yang sama, dengan alasan bahwa doktrin tersebut merupakan kodifikasi terbaik penyajian berdasarkan Alkitab mengenai Putra serta keyakinan Kristiani sesuai tradisi mengenai Putra yang diwariskan dari para Rasul. Keyakinan ini diungkapkan oleh para uskup dalam Pengakuan Iman Nicea (Syahadat Nicea, atau Kredo Nicea), yang kelak membentuk dasar dari apa yang sejak saat itu dikenal sebagai Syahadat Nicea–Konstantinopel. 

Syahadat Nicea

Salah satu proyek yang dilakukan oleh Konsili Nicea adalah penyusunan suatu Syahadat atau Pengakuan Iman (Kredo), yakni suatu pernyataan dan ringkasan iman Kristiani. Telah ada beberapa kredo pada saat itu; banyak kredo yang diterima oleh para peserta konsili ini, termasuk Arius. Sejak awal mula Kekristenan, beragam kredo disusun sebagai suatu sarana identifikasi bagi penganut Kristiani/Kristen, sebagai sarana penerimaan dan pengakuan, khususnya saat pembaptisan.

Di Roma, misalnya, Pengakuan Iman Rasuli (Syahadat Para Rasul) populer, khususnya untuk penggunaan dalam masa Prapaskah dan Paskah. Dalam Konsili Nicea, satu kredo khusus digunakan untuk mendefinisikan iman Gereja secara jelas, untuk menerimakan mereka yang mengakukannya, dan mengecualikan mereka yang tidak mengakukannya.

Beberapa elemen khas dalam Kredo Nicea, kemungkinan berasal dari Hosius, turut disertakan. Beberapa elemen secara khusus disertakan untuk melawan sudut pandang kaum Arian. 

* Yesus Kristus dideskripsikan sebagai "Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar",[b] menyatakan keilahian-Nya.
* Yesus Kristus dikatakan "dilahirkan, bukan dijadikan",[c] menegaskan bahwa Ia bukan ciptaan yang dibawa ke dalam keberadaan dari ketiadaan, tetapi Putra Allah yang sejati, dibawa ke dalam keberadaan 'dari substansi Bapa'.
* Yesus Kristus dikatakan "sehakikat dengan Bapa". Eusebius dari Kaisarea mengaitkan istilah homoousios, atau konsubstansial, yaitu "dari substansi yang sama" (dengan Bapa), dengan Konstantinus yang pada titik ini mungkin memilih untuk menggunakan kewenangannya. Namun signifikansi klausul tersebut dianggap sangat ambigu, dan isu-isu yang diangkatnya mendapat pertentangan di kemudian hari.
Di bagian akhir kredo disertakan suatu daftar anatema, dimaksudkan untuk secara eksplisit menyangkal klaim-klaim yang dinyatakan kaum Arian.

* Pandangan bahwa 'pernah ada suatu waktu Ia tidak ada' ditolak untuk mempertahankan kesetaraan kekekalan Putra dengan Bapa.
* Pandangan bahwa Ia 'mungkin mengalami perubahan atau dapat berubah sewaktu-waktu' ditolak untuk mempertahankan bahwa Putra sama seperti Bapa yang berada di luar segala bentuk kelemahan ataupun kekurangan, dan yang terpenting adalah Ia tidak dapat jatuh dari kesempurnaan moral yang absolut.

Dengan demikian, bukannya suatu kredo pembaptisan yang dapat diterima baik oleh kaum Arian maupun oleh yang menentang mereka, konsili ini mengundangkan satu kredo yang jelas bertentangan dengan paham Arianisme dan tidak sesuai dengan inti keyakinan mereka. Naskah pengakuan iman tersebut terlestarikan dalam sepucuk surat dari Eusebius kepada jemaatnya, dalam tulisan Athanasius, dan tulisan-tulisan yang lain. Kendati paling vokal menentang pihak Arian, pihak Homoousian (dari kata Yunani Koine yang diterjemahkan menjadi "dari substansi yang sama") yang dikutuk di Konsili Antiokhia tahun 264–268 itu tergolong minoritas, Kredo tersebut diterima oleh konsili ini sebagai suatu ungkapan iman bersama para uskup dan iman kuno segenap Gereja.

Uskup Hosius dari Korduba, salah seorang Homoousian yang teguh, mungkin telah membantu menuntun konsili mencapai konsensus. Selama berlangsungnya konsili, dia adalah orang kepercayaan kaisar dalam segala hal terkait Gereja. Nama Hosius tertera paling atas dalam daftar nama para uskup, dan Atanasius mengaitkan perumusan kredo yang sesungguhnya dengan Hosius. Para pemimpin besar seperti Eustasius dari Antiokhia, Aleksander dari Aleksandria, Athanasius, dan Marselus dari Ancyra, semuanya berpegang pada posisi Homoousian.

Meskipun bersimpati pada Arius, Eusebius dari Kaisarea berpegang pada keputusan-keputusan konsili ini, menerima keseluruhan kredo. Terdapat sedikit uskup yang awalnya mendukung Arius. Setelah sebulan berdiskusi, pada tanggal 19 Juni, hanya tersisa 2 uskup yang mendukungnya: Teonas dari Marmarika di Libya, dan Sekundus dari Ptolemais. Maris dari Kalsedon, yang awalnya mendukung Arianisme, menyetujui keseluruhan kredo tersebut. Demikian pula Eusebius dari Nikomedia dan Teognis dari Nice juga menyetujuinya, kecuali untuk pernyataan tertentu.

Kaisar Konstantinus menepati pernyataan awalnya: siapa pun yang menolak Kredo tersebut akan diasingkan. Arius, Teonas, dan Sekundus, menolaknya dan dengan demikian mereka diasingkan ke Iliria, selain juga diekskomunikasi. Karya-karya tulis Arius diperintahkan untuk disita dan dibakar, sementara para pendukungnya dianggap sebagai "musuh-musuh Kekristenan". Bagaimanapun, kontroversi Arian berlanjut di berbagai wilayah kekaisaran. 

Kredo tersebut diamendemen ke versi barunya melalui Konsili Konstantinopel I pada tahun 381.

Pemisahan perhitungan Paskah dari kalender Yahudi

Hari raya Paskah berkaitan dengan Paskah Yahudi dan Perayaan Roti Tidak Beragi, karena umat Kristiani meyakini bahwa penyaliban dan kebangkitan Yesus terjadi pada saat perayaan-perayaan tersebut.

Saat masa kepemimpinan Paus Sixtus I, beberapa kalangan Kristiani telah menetapkan Paskah pada hari Minggu di bulan lunar Nisan. Untuk menentukan bulan lunar yang ditetapkan sebagai Nisan, umat Kristiani mengandalkan masyarakat Yahudi. Kelak, pada abad ke-3, beberapa kalangan Kristiani mulai mengungkapkan ketidakpuasan dengan metode yang mereka pandang sebagai ketidakberaturan kalender Yahudi. Mereka berpendapat bahwa kaum Yahudi kontemporer mengidentifikasi bulan lunar yang salah sebagai bulan Nisan, memilih bulan dengan hari ke-14 yang jatuh sebelum ekuinoks musim semi. 

Umat Kristiani, menurut para pemikir tersebut, seharusnya meninggalkan kebiasaan yang bergantung pada para narasumber Yahudi dan melakukan perhitungan sendiri untuk menentukan bulan apa yang akan disebut Nisan, menetapkan Paskah sesuai perhitungan independen ini, Nisan Kristiani, yang akan selalu menempatkan perayaan tersebut setelah ekuinoks. Mereka menjustifikasi perubahan tradisi ini dengan alasan bahwa pada kenyataannya kalender Yahudi kontemporer yang telah melanggar tradisi dengan mengabaikan ekuinoks, dan pada zaman dahulu tanggal 14 Nisan tidak pernah mendahului ekuinoks. Kalangan yang lain merasa bahwa praktik adat yang bergantung pada kalender Yahudi seharusnya dilanjutkan, sekalipun perhitungan Yahudi keliru jika dilihat dari sudut pandang Kristiani. 

Perdebatan antara mereka yang menginginkan perhitungan independen dan mereka yang ingin terus mengandalkan kalender Yahudi terselesaikan secara resmi melalui Konsili Nicea, yang mengesahkan prosedur independen yang telah digunakan selama beberapa waktu di Roma dan Aleksandria. Mulai saat itu, Paskah ditetapkan sebagai hari Minggu dalam suatu bulan lunar yang dipilih sesuai dengan kriteria Kristiani pada dasarnya, suatu Nisan Kristiani—bukan dalam bulan Nisan yang didefinisikan oleh kaum Yahudi. Mereka yang menginginkan untuk terus bergantung pada kalender Yahudi (disebut "kaum protopaskit" oleh para sejarawan di kemudian hari) didesak untuk beralih ke posisi mayoritas. Bahwa tidak semua dari mereka segera melakukannya terungkap dari keberadaan berbagai khotbah, kanon, dan traktat yang dituliskan untuk menentang praktik protopaskit pada akhir abad ke-4.

Dua aturan tersebut, independensi dari kalender Yahudi dan keseragaman di seluruh dunia, merupakan satu-satunya aturan terkait Paskah yang secara eksplisit ditetapkan oleh Konsili Nicea. Tidak disebutkan rincian cara perhitungan; hal ini dilakukan dalam praktik di lapangan, suatu proses yang membutuhkan waktu berabad-abad dan menghasilkan sejumlah kontroversi. (Lihat pula Computus dan Reformasi tanggal Paskah.) Secara khusus, konsili ini tampaknya tidak mendekretkan kalau Paskah harus jatuh pada hari Minggu. 

Demikian pula konsili ini juga tidak mendekretkan kalau Paskah harus bertepatan dengan 14 Nisan (hari pertama Perayaan Roti Tidak Beragi, umumnya sekarang disebut "Paskah Yahudi") dalam kalender Ibrani. Dengan memberlakukan peralihan ke perhitungan independen, konsili ini telah memisahkan perhitungan Paskah dari segala ketergantungan, positif ataupun negatif, pada kalender Yahudi. "Zonaras proviso", klaim bahwa Paskah harus selalu jatuh pada 14 Nisan dalam kalender Ibrani, tidak dirumuskan sampai beberapa abad kemudian. Pada saat itu, akumulasi kesalahan dalam kalender lunar dan solar Julian mengungkapkan kalau Paskah Julian selalu mengikui 14 Nisan Ibrani. 

Skisma Meletian

Perlawanan terhadap skisma Meletian, suatu sekte awal yang memisahkan diri, merupakan hal penting lainnya yang terjadi sebelum Konsili Nicea. Diputuskan bahwa Meletius harus tetap tinggal di kotanya sendiri di Likopolis, Mesir, tetapi tanpa menjalankan otoritas atau kekuasaannya untuk menahbiskan klerus baru; ia dilarang masuk ke lingkungan perkotaan ataupun keuskupan lain dengan tujuan menahbiskan warganya. Gelar episkopal Meletius dipertahankan, tetapi perlu dilakukan penumpangan tangan kembali pada para klerus yang ditahbiskan olehnya, karena tahbisan yang dilakukan oleh Meletius dipandang tidak valid. Klerus yang ditahbiskan oleh Meletius diminta untuk memberikan prioritas kepada mereka yang ditahbiskan oleh Aleksander, dan mereka tidak dapat melakukan apapun tanpa persetujuan Uskup Aleksander. 

Dalam hal wafatnya seorang klerus atau uskup non-Meletian, takhta yang kosong dapat diberikan kepada seorang Meletian asalkan ia layak dan pemilihannya diratifikasi oleh Aleksander. Adapun terhadap Meletius sendiri, hak-hak episkopal dan prerogatifnya dicabut. Bagaimanapun, perlakuan-perlakuan lunak ini tampak sia-sia; kaum Meletian bergabung dengan kaum Arian dan menyebabkan lebih banyak pertikaian daripada sebelumnya, menjadi bagian dari musuh-musuh terburuk Athanasius. Paham Meletian hilang sepenuhnya sekitar pertengahan abad ke-5.

Pengundangan hukum kanon

Konsili mengundangkan dua puluh hukum gereja yang baru, yang disebut kanon, (meskipun ada ketidaksepakatan mengenai jumlah tepatnya), yaitu aturan-aturan kedisiplinan yang tidak berubah. Ke-20 hukum tersebut, sebagaimana tercantum dalam Para Bapa Nicea dan Pasca-Nicea, adalah sebagai berikut:

1. larangan pengebirian diri sendiri
2. penetapan syarat-syarat minimum untuk katekumen (calon baptis)
3. melarang kehadiran seorang perempuan yang lebih muda di rumah seorang rohaniwan karena hal itu dapat menyebabkan kecurigaan terhadap sang rohaniwan (disebut virgines subintroductae, yang mempraktikkan Sineisaktisme)
4. penahbisan seorang uskup di hadapan sekurang-kurangnya tiga uskup provinsial dan pengukuhan oleh uskup metropolit
5. dua sinode wilayah harus diselenggarakan setiap tahunnya
6. pengakuan otoritas istimewa para patriark dari Aleksandria (paus), Antiokhia, dan Roma (Sri Paus), atas wilayah mereka masing-masing
7. pengakuan terhadap hak-hak kehormatan takhta Yerusalem
8. penentuan syarat kesepakatan dengan kaum Novatian, suatu sekte awal
9–14. penentuan syarat untuk prosedur yang lunak terhadap mereka yang mengingkari imannya selama penganiayaan pada masa Lisinius
15–16. larangan pemecatan imam
17. larangan riba di antara kaum rohaniwan
18. uskup dan presbiter didahulukan sebelum diakon dalam menerima Ekaristi (Komuni Kudus);
19. pernyataan tidak validnya baptisan yang dilakukan oleh para bidah Paulian;
20. larangan berlutut pada hari Minggu dan selama Pentakosta (50 hari setelah Paskah). Berdiri adalah postur berdoa normatif pada saat tersebut, dan masih berlaku di kalangan Kekristenan Timur. Berlutut dianggap paling tepat untuk doa penitensial, berbeda dengan sifat meriah Masa Paskah dan pengenangannya setiap hari Minggu. Kanon ini sendiri dirancang hanya untuk memastikan keseragaman praktik selama waktu yang ditetapkan.

Pada tanggal 25 Juli 325, saat akhir konsili, para bapa konsili merayakan peringatan 20 tahun pemerintahan Kaisar Konstantinus. Dalam pidato perpisahannya, Konstantinus memberitahukan kepada hadirin betapa ia membenci kontroversi dogmatis; ia ingin Gereja hidup dalam keharmonisan dan damai. Dalam sebuah surat edaran, ia mengumumkan tercapainya kesatuan praktik oleh seluruh Gereja pada hari perayaan Paskah Kristen.

Dampak dari konsili

Dampak jangka panjang dari Konsili Nicea bermakna penting. Untuk pertama kalinya, perwakilan dari banyak uskup Gereja bersidang untuk menyepakati suatu pernyataan doktrinal. Juga untuk pertama kalinya, seorang kaisar menggunakan kewenangannya untuk mengumpulkan para uskup, dan menggunakan kekuasaan negara untuk secara efektif memberlakukan keputusan konsili.

Namun, dalam jangka pendek, konsili ini tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah-masalah yang menjadi tujuan diadakannya konsili; suatu periode konflik dan pergolakan masih terus berlanjut selama beberapa waktu. Konstantinus sendiri digantikan oleh dua kaisar Arian di Kekaisaran Timur: Konstantius II putranya dan Valens. Valens tidak dapat menyelesaikan isu-isu gerejawi yang penting, dan tidak mampu melawan St. Basilius berkenaan dengan Kredo Nicea. 

Kekuasaan kaum pagan di dalam kekaisaran berupaya untuk mempertahankan dan membangun paganisme kembali ke takhta kaisar (lih. Arbogastes dan Yulianus yang Murtad). Kaum Arian dan Meletian dengan segera memperoleh kembali hampir semua hak mereka yang sebelumnya dihilangkan, dan akibatnya, paham Arianisme terus menyebar serta menyebabkan perpecahan dalam Gereja selama sisa abad ke-4. Eusebius dari Nikomedia, seorang uskup Arian dan sepupu Konstantinus I, menggunakan pengaruhnya di istana untuk pelan-pelan mengalihkan keberpihakan Konstantinus dari uskup-uskup ortodoks Nicea ke kaum Arian. 

Eustasius dari Antiokhia diturunkan dari jabatannya dan diasingkan pada tahun 330. Athanasius, yang menggantikan Aleksander sebagai Uskup Aleksandria, diturunkan dari jabatannya oleh Sinode Tirus I pada tahun 335 dan Marselus dari Ancyra menyusulnya pada tahun 336. Arius sendiri kembali ke Konstantinopel untuk dapat diterima kembali ke dalam Gereja, namun ia wafat sebelum memperoleh penerimaan. Konstantinus wafat pada tahun berikutnya, setelah akhirnya menerima baptisan dari seorang uskup Arian bernama Eusebius dari Nikomedia, dan "dengan meninggalnya dia putaran pertama dalam pertempuran setelah Konsili Nicea berakhir". 

Peran Konstantinus

Dalam Kekaisaran Romawi, Kekristenan statusnya ilegal hingga pada tahun 313 kaisar Konstantinus dan Lisinius mengeluarkan suatu edik yang dikenal sebagai Edik Milan. Namun demikian, Kekristenan Nicea tidak menjadi agama negara Kekaisaran Romawi hingga dikeluarkannya Edik Tesalonika pada tahun 380. Selama beberapa waktu, paganisme masih legal dan terlihat dalam urusan-urusan publik. Uang logam dan motif resmi Konstantinus yang lain, sampai Konsili Nicea, telah mengaitkannya dengan kultus pagan Sol Invictus. Pada mulanya, Konstantinus mendorong pembangunan kuil-kuil baru dan menoleransi pengurbanan-pengurbanan tradisional. Pada masa pemerintahannya kelak, ia memerintahkan penjarahan dan penghancuran kuil-kuil Romawi.   

Peran Konstantinus berkenaan dengan Nicea adalah sebagai pimpinan sipil yang tertinggi dan otoritas dalam kekaisaran. Sebagai Kaisar, ia bertanggung jawab untuk memelihara ketertiban sipil, dan ia berupaya agar Gereja menyatukan pikiran dan damai. Ketika pertama kali diberitahu mengenai pergolakan di Aleksandria karena perselisihan Arian, ia "sangat gelisah" dan "menegur" Arius maupun Uskup Aleksander karena gangguan tersebut dan membiarkannya diketahui publik. Selain itu ia juga sadar akan "keragaman pendapat" berkenaan dengan perayaan Paskah, dan berharap agar kedua masalah tersebut terselesaikan, maka ia mengutus Uskup Hosius dari Kordova (Hispania) "yang terhormat" untuk menyelenggarakan suatu konsili gereja lokal dan "mempertemukan mereka yang terbagi". Ketika utusan itu gagal, ia mengorganisir suatu sinode di Nicea, mengundang "tokoh-tokoh gereja yang paling terkemuka di setiap negeri". 

Konstantinus membantu menghimpun konsili dengan mengatur agar biaya perjalanan pulang-pergi para uskup ke dan dari takhta episkopal masing-masing, serta akomodasi di Nicea, ditutup dari dana publik. Ia juga menyediakan dan menyiapkan sebuah "aula besar ... di istana" sebagai tempat berdiskusi sehingga para peserta "harus diperlakukan dengan lebih bermartabat". Ketika menyampaikan sambutan dalam pembukaan konsili, ia "menghimbau para Uskup untuk [mencapai] kebulatan suara dan kerukunan" serta meminta mereka untuk menuruti Kitab Suci dengan mengatakan: "Maka dari itu, biarlah semua perselisihan kontroversial disingkirkan; dan mari kita mencari dalam kata yang terinpirasi ilahiah solusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dipermasalahkan." Lalu perdebatan seputar Arius dan doktrin Gereja dimulai. "Kaisar menaruh perhatian dengan kesabaran pada pidato-pidato kedua belah pihak" dan "tunduk" pada keputusan para uskup. Para uskup pertama-tama menyatakan ajaran-ajaran Arius sebagai anatema, merumuskan kredo sebagai suatu pernyataan dari doktrin yang benar. Ketika Arius dan dua pengikutnya menolak untuk menyetujui pernyataan itu, para uskup menjatuhkan hukuman klerikal dengan mengekskomunikasi mereka dari Gereja. Konstantinus menghormati keputusan klerikal tersebut, dan melihat potensi berlanjutnya kerusuhan, sehingga ia juga menjatuhkan hukuman sipil, yaitu mengasingkan mereka ke tempat pembuangan.

Kesalahpahaman

Tidak ada catatan sejarah tentang pembahasan apa pun seputar kanon Alkitab di Konsili Nicea. Perkembangan kanon Alkitab berlangsung berabad-abad, dan hampir terselesaikan (dengan pengecualian yang dikenal sebagai Antilegomena, teks-teks tertulis yang autentisitas atau nilainya diperdebatkan) pada saat fragmen Muratori ditulis. 

Pada tahun 331, Konstantinus menugaskan penyalinan lima puluh Alkitab untuk Gereja Konstantinopel, namun informasi lainnya hanya diketahui sedikit saja (tidak dapat dipastikan apakah permintaannya adalah lima puluh salinan dari keseluruhan Perjanjian Lama dan Baru, hanya Perjanjian Baru, atau hanya Injil). Beberapa akademisi meyakini kalau permintaannya ini mendorong dilakukannya penyusunan kanon. Dalam Kata Pengantar Kitab Yudit tulisan Hieronimus, ia mengklaim bahwa Kitab Yudit "ditetapkan oleh Konsili Nicea untuk diperhitungkan dalam keseluruhan Kitab Suci", sehingga beberapa kalangan mengemukakan bahwa hal ini berarti Konsili Nicea membahas dokumen apa saja yang termasuk dalam kitab suci, tetapi mungkin lebih tepat jika diartikan bahwa Konsili ini sekadar menggunakan Kitab Yudit dalam pembahasan seputar hal-hal yang lain dan dengan demikian kitab tersebut seharusnya dianggap kanonik.

Sumber utama dari gagasan bahwa Alkitab diciptakan di Konsili Nicea tampaknya berasal dari Voltaire, yang mempopulerkan suatu cerita kalau kanon Alkitab ditetapkan melalui penempatan semua kitab yang dinominasikan di sebuah altar selama Konsili berlangsung dan kemudian mengambil kitab-kitab yang tidak terjatuh. Sumber asli "anekdot fiktif" tersebut adalah Synodicon Vetus, sebuah laporan pseudo-historis dari tahun 887 M mengenai konsili-konsili awal Gereja: 

Kitab-kitab kanonik dan apokrif dibedakan dengan cara berikut: di rumah Allah kitab-kitab tersebut ditempatkan di altar suci; kemudian konsili meminta kepada Tuhan dalam doa agar karya-karya yang terinspirasi didapati berada di atas dan--sebagaimana terjadi dalam kenyataannya--yang palsu di bawah." (Synodicon Vetus, 35)

Trinitas

Konsili Nicea utamanya berkenaan dengan isu keilahian Yesus Kristus. Lebih dari satu abad sebelumnya istilah "Tritunggal" atau "Trinitas" (Τριάς dalam bahasa Yunani) digunakan dalam tulisan-tulisan Origenes (185–254) dan Tertulianus (160–220), sementara suatu pendapat umum tentang "tiga yang ilahi", dalam pengertian tertentu, diungkapkan dalam tulisan-tulisan abad ke-2 dari Polikarpus, Ignatius dari Antiokhia, dan Yustinus Martir. Di Nicea, pertanyaan-pertanyaan terkait Roh Kudus belum terjawab secara keseluruhan hingga hubungan antara Bapa dan Putra terselesaikan sepenuhnya sekitar tahun 362. Dengan demikian doktrin dalam suatu bentuk yang lebih lengkap belum dirumuskan hingga diselenggarakannya Konsili Konstantinopel pada tahun 360 M, dan bentuk finalnya dirumuskan pada tahun 381 M, yang utamanya disusun oleh Gregorius dari Nyssa. 

Konstantinus

Konstantinus mengupayakan suatu gereja yang bersatu melalui penyelenggaraan Konsili Nicea, namun di dalam konsili ini ia tidak memaksakan pandangan kaum Homoousian mengenai kodrat Yesus Kristus (lih. Peran Konstantinus).

Konstantinus tidak menugaskan pembuatan Alkitab dalam bentuk apapun saat berlangsungnya konsili ini. Ia menugaskan penyalinan lima puluh Alkitab pada tahun 331 untuk digunakan dalam gereja-gereja di Konstantinopel, yang saat itu merupakan kota baru. Tidak ditemukan bukti historis yang menunjukkan keterlibatannya dalam pemilihan kitab-kitab yang termasuk dalam Alkitab-Alkitab tersebut.

Kendati Konstantinus menunjukkan ketertarikan dan simpatinya terhadap Gereja, ia belum dibaptis hingga sekitar 11 atau 12 tahun setelah konsili ini, menunda pembaptisan sampai ia dapat sebanyak mungkin terbebaskan dari dosa sesuai dengan keyakinan bahwa semua dosa diampuni sepenuhnya melalui pembaptisan. 

Sinode

Sinode menurut sejarah adalah sidang majelis Gereja yang lazimnya diselenggarakan untuk memutuskan perkara doktrin, tadbir, atau pengajuan permohonan resmi. Pada zaman modern, kata ini seringkali digunakan sebagai sebutan bagi badan pengurus Gereja tertentu, bersidang maupun tidak bersidang. Adakalanya kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Gereja yang dipimpin oleh suatu sinode.

Kata "sinode" berasal dari kata σύνοδος (sinodos) dalam bahasa Yunani yang berarti "sidang majelis" atau "muktamar", semakna dengan kata concilium (konsili) dalam bahasa Latin. Mula-mula sinode adalah muktamar para uskup, dan sampai sekarang masih digunakan sebagai sebutan bagi muktamar para uskup dalam Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Oriental, dan Gereja Ortodoks Timur.

Kadang-kadang frasa "sinode umum" atau "konsili umum" digunakan sebagai sebutan bagi konsili oikumene (muktamar waligereja sedunia). Kata "sinode" juga digunakan sebagai sebutan bagi majelis permusyawaratan uskup-uskup tertinggi dalam Gereja-Gereja Ortodoks Timur bertaraf swakepala (bahasa Yunani: αὐτοκεφαλία, autokefalia). Tata kelola Gereja-Gereja Katolik Timur bertaraf kebatrikan dan keuskupan agung utama juga dipercayakan kepada suatu sinode tetap.

Gereja Ortodoks
Di kalangan Gereja Ortodoks, sinode para uskup adalah sidang majelis para uskup di tiap-tiap Gereja swatantra. Sinode para uskup merupakan sarana utama untuk memilih uskup-uskup dan menetapkan tertib hukum gerejawi antarkeuskupan.

Sobor (bahasa Slavi Gereja: съборъ, sidang majelis) adalah pertemuan resmi atau muktamar para uskup bersama utusan-utusan dari kalangan rohaniwan dan umat awam sebagai perwujudan Gereja untuk membahas perkara-perkara iman, kesusilaan, tata ibadat, serta tertib hukum dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Sinode di Gereja-Gereja Barat juga mirip dengan sobor namun lazimnya terbatas untuk kalangan para uskup saja. 

Istilah sobor digunakan sebagai padanan bagi kata "sinode" oleh Gereja Ortodoks Timur di negara-negara penutur Rumpun bahasa Slavi (Gereja Ortodoks Rusia, Gereja Ortodoks Ukraina, Gereja Ortodoks Bulgaria, Gereja Ortodoks Serbia, Gereja Ortodoks Makedonia), dan digunakan pula oleh Gereja Ortodoks Rumania (Gereja Ortodoks Timur di Rumania, salah satu negara penutur rumpun bahasa Romawi).

Sidang majelis
Utusan-utusan dari kalangan rohaniwan dan umat awam diikutsertakan guna menelaah mufakat Gereja mengenai perkara-perkara penting; meskipun demikian, para uskup merupakan majelis tinggi dalam sobor, dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat oleh umat awam.

Menurut keterangan dalam naskah Tawarikh Rus Kiev, sobor pertama Gereja Slavi Timur diselenggarakan di Kiev pada 1051. Semenjak itu sobor diselenggarakan secara berkala; salah satu sobor yang istimewa adalah sobor 1415 yang menetapkan pembentukan metropolia tersendiri bagi jemaat-jemaat di wilayah Kadipaten Agung Lituania. 

Sidang-sidang sobor yang penting dalam Sejarah Gereja Ortodoks Rusia adalah:
* Sobor Vladimir pada 1276* Sobor Stoglav (Sobor Seratus Bab) pada 1551* Sobor Moskwa 1666–1667, diselenggarakan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul akibat perombakan-perombakan gerejawi yang dilakukan oleh Batrik Nikon* Sobor Seluruh Rusia 1917, yang memulihkan Kebatrikan Moskwa dan memilih Santo Tikhon menjadi Batrik Moskwa modern yang pertama* Sobor Seluruh Rusia 1988, diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 1000 tahun Pembaptisan Rus untuk menuntun Gereja selepas glasnost, seiring mengendurnya cengkeraman Soviet dari Gereja
Seorang uskup boleh saja menyelenggarakan sobor di keuskupan yang dipimpinnya. Sobor tingkat keuskupan ini diselenggarakan untuk membahas perkara-perkara penting, dan dihadiri oleh utusan-utusan dari kalangan rohaniwan, biara-biara, serta paroki-paroki di wilayah keuskupan yang bersangkutan. Sobor semacam ini dapat diselenggarakan setahun sekali atau hanya bila dirasa perlu.

Gereja Katolik
Dalam Gereja Katolik, istilah sinode dan konsili secara teoretis bermakna sama, karena meskipun berasal dari dua bahasa yang berbeda, yakni bahasa Yunani dan bahasa Latin, kedua-duanya berarti muktamar otoritatif para uskup demi kepentingan tadbir Gereja di bidang ajaran (iman dan kesusilaan) atau tata kelola (tata tertib atau hukum). Meskipun demikian, pada zaman modern, sinode dan konsili dijadikan sebutan khusus bagi bentuk-bentuk tertentu dari muktamar para uskup, sehingga makna kedua istilah ini tidak lagi benar-benar berpadanan. Pada umumnya sinode diselenggarakan tiga tahun sekali, sehingga disebut sebagai "sidang umum biasa" (Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup). Akan tetapi, sinode-sinode "luar biasa" (Sidang Umum Luar Biasa Sinode Para Uskup) dapat saja diselenggarakan untuk membahas permasalahan-permasalahan tertentu. Ada pula sinode-sinode "istimewa" yang diselenggarakan demi kepentingan Gereja di wilayah atau kawasan geografis tertentu, misalnya sinode istimewa yang diselenggarakan pada 10-24 Oktober 2010 untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi Gereja di Timur Tengah (Sidang Istimewa Sinode Para Uskup untuk Timur Tengah).

Sinode para uskup

Jika "sinode" dan "konsili" biasanya mengacu pada suatu pertemuan tidak tetap, maka istilah "Sinode Para Uskup" digunakan sebagai sebutan bagi suatu badan tetap yang dibentuk pada 1965 sebagai badan penasihat Sri Paus. Sinode para uskup menyelenggarakan sidang-sidang yang menghimpun uskup-uskup dan pemimpin-pemimpin tarekat yang dipilih oleh konferensi-konferensi waligereja atau serikat-serikat pemimpin tarekat, atau yang ditunjuk oleh Sri Paus, guna memberi suara atas proposal-proposal (propositiones) yang akan diajukan untuk dipertimbangkan oleh Sri Paus, dan yang pada praktiknya digunakan oleh Sri Paus sebagai dasar pembuatan "imbauan apostolik pascasinode" Sri Paus mengenai tema-tema yang dibahas. Meskipun boleh menyuarakan kehendak bersama, sinode para uskup tidak mengeluarkan keputusan, kecuali jika diberi wewenang untuk itu oleh Sri Paus dalam kasus-kasus tertentu, dan sekalipun telah diberi wewenang untuk itu, keputusan sinode para uskup masih harus meminta pengesahan dari Sri Paus. Sri Paus berkedudukan sebagai ketua sidang atau pihak yang berwenang menunjuk ketua sidang, pihak yang berwenang menentukan agenda sidang, serta pihak yang berwenang membuka, menunda, dan mengakhiri sidang.

Tema-tema sinode Katolik modern:
"Uskup: Pelayan Injil Yesus Kristus untuk pengharapan dunia", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-10, 1998"Ekaristi: Sumber dan puncak dari hidup dan misi Gereja", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-11, 2005"Firman Allah dalam hidup dan misi Gereja", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-12, 2008"Evangelisasi baru untuk menyebarkan iman Kristen", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-13, 2012"Tantangan-tantangan pastoral keluarga dalam konteks evangelisasi", tema Sidang Umum Luar Biasa Sinode Para Uskup, 2014
Konsili

Muktamar-muktamar para uskup di wilayah Kekaisaran Romawi sudah diselenggarakan semenjak pertengahan abad ke-3 Masehi. Konsili Nikea I yang diselenggarakan pada 325 Masehi terhitung sebagai muktamar para uskup yang kedua puluh. Sesudah konsili ini, masih ada ratusan lagi penyelenggaraan muktamar para uskup sampai abad ke-6. Muktamar-muktamar para uskup yang diselengarakan atas persetujuan kaisar dan yang seringkali dihadiri pula olehnya, disebut sebagai muktamar yang "oikumene", artinya "sedunia" (dunia yang dikenal oleh masyarakat di belahan dunia barat kala itu). Dalam hukum kanon Gereja Katolik sekarang ini, istilah "konsili" lazimnya digunakan sebagai sebutan bagi muktamar-muktamar yang diselenggarakan tidak secara berkala, dan dihadiri oleh seluruh uskup yang senegara, sekawasan, atau sedunia, dengan maksud untuk membahas dan menetapkan aturan-aturan yang bersifat mengikat. Penjelasan mengenai konsili dalam hukum kanon adalah sebagai berikut:

* Konsili oikumene adalah muktamar yang diselenggarakan tidak secara berkala, dan yang dihadiri oleh segenap uskup dalam persekutuan dengan Sri Paus, dan yang bersama-sama dengan Sri Paus merupakan kewenangan legislatif tertinggi dari Gereja sejagat (kanon 336). Hanya Sri Paus yang berhak menyelenggarakan, menunda, dan membubarkan suatu konsili oikumene; Sri Paus juga memimpin jalannya konsili oikumene atau memilih orang lain untuk memimpin serta menentukan agenda (kanon 338). Kekosongan Takhta Suci secara otomatis menunda jalannya suatu konsili oikumene. Hukum-hukum atau ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh suatu konsili oikumene memerlukan konfirmasi dari Sri Paus, yakni satu-satunya pihak yang berhak mengundang-undangkan hukum-hukum atau ajaran-ajaran itu (kanon 341). Peran Sri Paus dalam suatu konsili oikumene adalah salah satu ciri khas Gereja Katolik.

* Konsili-konsili paripurna, yakni muktamar-muktamar segenap uskup yang senegara (termasuk negara yang hanya merupakan satu provinsi gerejawi), diselenggarakan oleh konferensi waligereja nasional.

* Konsili-konsili provinsial, yang dihadiri uskup-uskup dalam satu provinsi gerejawi yang lebih kecil daripada suatu negara, diselenggarakan oleh uskup metropolit dengan persetujuan sebagian besar uskup sufragan dalam provinsi gerejawi yang bersangkutan.

Konsili paripurna dan konsili provinsial digolongkan sebagai konsili partikuler. Konsili partikuler adalah konsili yang dihadiri oleh segenap uskup yang sewilayah (termasuk uskup-uskup koajutor dan uskup-uskup auksilier) serta para waligereja lainnya yang mengepalai gereja-gereja partikular di wilayah yang sama (misalnya para abas teritorial dan para vikaris apostolik). Setiap peserta memiliki hak suara dalam perumusan keputusan konsili. Selain itu, ada pula pihak-pihak yang menurut hukum termasuk bagian dari majelis konsili namun hanya selaku penasihat, yakni para vikaris jenderal dan vikaris uskup, para rektor universitas Katolik, para dekan fakultas teologi dan hukum kanon, para pemimpin tarekat religius yang telah dipilih untuk menghadiri konsili oleh seluruh pemimpin tarekat religius di wilayah gerejawi yang bersangkutan, para rektor seminari yang dipilih untuk menghadiri konsili oleh seluruh rektor seminari di wilayah gerejawi yang bersangkutan, dan dua orang anggota dari setiap dewan kapitel katedral, dewan rohaniwan, atau dewan pastoral di wilayah gerejawi yang bersangkutan (kanon 443). Pihak yang berhak menyelenggarakan konsili juga boleh memilih orang-orang tertentu sebagai wakil umat beriman (termasuk umat awam) untuk ikut serta dalam konsili selaku penasihat.

Muktamar-muktamar lintas negara yang dihadiri oleh seluruh uskup di kawasan tertentu juga disebut konsili, misalnya Konsili-konsili Kartago yang dihadiri oleh seluruh uskup di Afrika Utara.

Pada Abad Pertengahan, ada beberapa konsili yang disebut konsili legatina, yakni konsili yang diselenggarakan di bawah pimpinan seorang utusan paus, bukan oleh paus atau uskup. 

Sinode

Sinode-sinode Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur sama saja dengan sinode-sinode di Gereja-Gereja Ortodoks, yakni sarana untuk memilih uskup-uskup dan mengundangkan hukum-hukum gerejawi lintas keuskupan. Meskipun demikian, istilah sinode dalam hukum kanon Ritus Latin digunakan sebagai sebutan bagi muktamar-muktamar yang bersifat representatif, tematis, non-legislatif (tidak merumuskan aturan, hanya sekadar merumuskan saran) atau campuran dari sifat-sifat itu, atau muktamar-muktamar yang tidak memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai "konsili", misalnya:

*  Sinode keuskupan, yakni muktamar tidak tetap dari para rohaniwan dan umat awam di suatu gereja partikuler yang diselenggarakan oleh uskup pemimpin keuskupan yang bersangkutan (atau oleh prelatus lain jika gereja partikuler yang bersangkutan bukan sebuah keuskupan) untuk memutuskan perkara-perkara hukum. Hanya uskup yang memiliki wewenang legislatif; peserta sinode keuskupan lainnya hanya berhak mengajukan usul atau memberikan saran. Menurut hukum, orang-orang yang harus diundang menghadiri sebuah sinode keuskupan adalah semua uskup koadjutor atau uskup auksilier, para vikaris jenderal dan vikaris uskup, para officialis (pejabat mahkamah keuskupan), para dekan keuskupan ditambah satu orang imam dari masing-masing wilayah yang dipimpin seorang dekan keuskupan, dewan rohaniwan, para kanonik dari dewan katedral (jika ada), rektor seminari, beberapa pemimpin tarekat religius dalam wilayah keuskupan yang bersangkutan, dan umat awam yang dipilih oleh dewan pastoral keuskupan yang bersangkutan, meskipun uskup boleh mengundang pihak-pihak lain atas kehendaknya sendiri untuk menghadiri sinode (kanon 463).

Konferensi waligereja

Konferensi waligereja nasional adalah salah satu hasil dari Konsili Vatikan II. Konferensi waligereja nasional adalah badan tetap yang beranggotakan seluruh uskup Ritus Latin di negara tertentu dan pihak-pihak lain yang menurut hukum setara dengan para uskup (yakni para abas teritorial). Uskup-uskup dari Gereja-Gereja sui juris lain dan para nuncio menurut hukum bukanlah anggota konferensi waligereja, namun konferensi waligereja boleh mengundang mereka sebagai penasihat maupun sebagai peserta dengan hak suara (kanon 450).

Jika konsili (kanon 445) dan sinode keuskupan (kanon 391 dan 466) memiliki wewenang legislatif paripurna dalam lingkup kewenangannya masing-masing, maka konferensi waligereja hanya boleh mengeluarkan aturan-aturan pelengkap bilamana diberi kewenangan untuk itu oleh hukum kanon atau oleh maklumat dari Takhta Suci. Selain itu, setiap aturan pelengkap harus disetujui oleh dua pertiga anggota konferensi dan dikaji oleh Takhta Suci (kanon 455) agar berkekuatan hukum. Tanpa kewenangan dan kajian tersebut, konferensi waligereja hanya bersifat deliberatif dan tidak memiliki wewenang atas para waligereja atau keuskupan yang menjadi anggotanya.

Gereja Anglikan

Di gereja-gereja yang tergabung dalam persekutuan Anglikan, sinode adalah muktamar majelis gereja yang dipilih oleh rohaniwan dan umat awam. Sebagian besar gereja Anglikan memiliki hierarki sinode yang bersifat kewilayahan. Dalam hierarki kewilayahan ini, sinode tertinggi adalah Sinode Umum; para uskup, rohaniwan, dan umat awam merupakan "majelis-majelis" di dalam sinode ini.

Sinode keuskupan diselenggarakan oleh seorang uskup (laki-laki maupun perempuan) di dalam keuskupan yang dipimpinnya. Sinode keuskupan terdiri atas rohaniwan dan umat awam yang terpilih.

Sinode dekanat diselenggarakan oleh Dekan Pedesaan (atau Dekan Wilayah). Sinode dekanat terdiri atas semua rohaniwan yang memiliki izin kerja di paroki-paroki dalam wilayah dekanat yang bersangkutan, ditambah umat awam yang terpilih.

Gereja Lutheran

Dalam tradisi gereja Lutheran, sinode dapat merupakan suatu wilayah administratif setempat yang serupa dengan sebuah diosis, seperti misalnya Sinode Daerah Minneapolis dari Evangelical Lutheran Church in America (Gereja Lutheran Injili di Amerika), atau menunjuk kepada keseluruhan tubuh gereja, seperti misalnya Lutheran Church - Missouri Synod (Gereja Lutheran - Sinode Missouri, sebuah denominasi Lutheran yang konservatif). Kadang-kadang kata ini juga digunakan untuk pertemuan para pendeta dari sebuah diosis. Dalam hal ini, kata tersebut tidak mengandung makna administratif.

Gereja Presbiterian

Dalam sistem pemerintahan Gereja Presbyterian kata sinode adalah tingkat administrasi antara klasis setempat dan General Assembly (Sidang Raya), sebagai lembaga tertinggi pemerintahannya. Beberapa denominasi menggunakan kata sinode, seperti misalnya Presbyterian Church in Canada (Gereja Presbyterian di Kanada), Uniting Church in Australia (Gereja Bersatu di Australia), dan Presbyterian Church (USA) (Gereja Presbyterian di AS). Namun, sebagian gereja lainnya tidak menggunakan kata sinode sama sekali, dan Gereja Skotlandia membubarkan sinodenya pada tahun 1980-an, lihat Daftar Sinode dan klasis Gereja Skotlandia.

Gereja Kalvinis

Dalam gereja-gereja Kalvinis di Swiss dan Jerman Selatan, tempat gereja-gereja Kalvinis ditata sebagai gereja-gereja mandiri yang dinamai menurut wilayahnya (mis. Gereja Reformasi Injili Zürich, Gereja Reformasi Berne), sinode mempunyai kedudukan sejajar dengan Persidangan Umum dari Gereja-gereja Presbyterian. Di Belanda, Gereja-gereja Reformasi (dan di kalangan Gereja-gereja Reformasi orang-orang Belanda di Amerika Utara), "sinode" adalah persidangan denominasi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari masing-masing klasis setempat.

Gereja Kristus di Kongo

Di Republik Demokratik Kongo, sebagian besar denominasi Protestan telah bergabung menjadi satu lembaga keagamaan yang diberi nama Gereja Kristus di Kongo (GKK). Di dalam negara Kongo sendiri, GKK hanya disebut sebagai "gereja Protestan". Dalam struktur GKK, sinode nasional merupakan sidang raya yang diikuti oleh semua gereja anggota GKK. Dari Sinode ini dibentuk sebuah Panitia Eksekutif, dan sekretariat. Ada pula sinode-sinode GKK di setiap provinsi dalam wilayah negara Kongo. Sinode-sinode tingkat daerah ini disebut "sinode provinsi". GKK terdiri atas 62 denominasi Protestan.

Sinode-sinode terkenal

Sinode-sinode Antiokhia, 264-269
Sinode-sinode Kartago 251, 255, 256, 348, 411, 418, 419, 424
Sinode Ankira 314 (membahas para pelaku bestialitas menurut usia)
Sinode Pertama di Tirus dan Yerusalem 335
Sinode Ganggra 340
Sinode Hipo 393
Sinode Seleukia-Ktesifon 410
Sinode Beth Lapat 484
Konsili-konsili Toledo, 400-1583
Sinode Mâcon 585 (membahas persepuluhan)
Sinode Whitby 664
Konsili Soissons 744
Sinode Jenazah 897
Sinode Erfurt 932
Sinode Augsburg 952 & 1062
Sinode Ráth Breasail, 1111
Sinode Kells, 1152
Sinode Cashel 1172
Sinode Verona, 1184 (membahas kaum Waldens)
Sinode Diamper, 1599
Sinode Dordrecht 1618/1619
Sinode Jassy, 1642
Sinode Yerusalem, 1672
Konsili Pan-Ortodoks, 2016

Perang Salib Albigensian

Perang Salib Albigensian atau Perang Salib Kataris (1209–1229) adalah suatu kampanye militer selama 20 tahun yang diprakarsai oleh Paus Innosensius III untuk menghapuskan paham Katarisme di Languedoc, di selatan Perancis. Perang Salib ini utamanya dilaksanakan oleh pemimpin monarki Perancis dan dengan segera menggunakannya untuk kepentingan politik, sehingga tidak hanya menyebabkan penurunan jumlah penganut Katarisme secara signifikan tetapi juga penataan kembali County Toulouse, yang membawanya ke dalam lingkungan monarki Perancis, serta memudarkan budaya kedaerahannya yang berbeda dan pengaruh besar dari Comte Barcelona.

Sekte Kataris dari abad pertengahan tersebut, yang menjadi target perang salib ini, berasal dari suatu gerakan reformasi dalam gereja-gereja Bogomil dari Dalmasia dan Bulgaria yang menyerukan untuk kembali pada pesan Kristen akan kesempurnaan, kemiskinan, dan pewartaan. Teologi mereka pada dasarnya adalah dualis. Mereka menjadi dikenal sebagai kaum Albigens, karena terdapat banyak penganutnya di kota Albi dan daerah sekitarnya pada abad ke-12 dan ke-13. 

Antara tahun 1022–1163 mereka dikutuk oleh delapan konsili gereja setempat, yang mana yang terakhir diselenggarakan di Tours menyatakan bahwa semua kaum Albigens "seharusnya dipenjarakan dan harta benda mereka disita", dan oleh Konsili Lateran III pada tahun 1179. Berbagai upaya diplomasi Paus Innosensius III untuk menghapuskan paham Katarisme hanya menghasilkan sedikit kesuksesan. Setelah pembunuhan legatusnya, yaitu Pierre de Castelnau, pada tahun 1208, Paus Innosensius III menyatakan suatu perang salib terhadap kaum Kataris. Ia menawarkan lahan-lahan para bidat Kataris kepada setiap bangsawan Perancis yang bersedia untuk mengangkat senjata. Setelah beberapa keberhasilan awal, para baron Perancis menghadapi suatu pemberontakan di Languedoc yang menyebabkan intervensi pasukan kerajaan Perancis.

Perang Salib Albigensian juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan.