Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Aug 3, 2018

Sinode

Sinode menurut sejarah adalah sidang majelis Gereja yang lazimnya diselenggarakan untuk memutuskan perkara doktrin, tadbir, atau pengajuan permohonan resmi. Pada zaman modern, kata ini seringkali digunakan sebagai sebutan bagi badan pengurus Gereja tertentu, bersidang maupun tidak bersidang. Adakalanya kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Gereja yang dipimpin oleh suatu sinode.

Kata "sinode" berasal dari kata σύνοδος (sinodos) dalam bahasa Yunani yang berarti "sidang majelis" atau "muktamar", semakna dengan kata concilium (konsili) dalam bahasa Latin. Mula-mula sinode adalah muktamar para uskup, dan sampai sekarang masih digunakan sebagai sebutan bagi muktamar para uskup dalam Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Oriental, dan Gereja Ortodoks Timur.

Kadang-kadang frasa "sinode umum" atau "konsili umum" digunakan sebagai sebutan bagi konsili oikumene (muktamar waligereja sedunia). Kata "sinode" juga digunakan sebagai sebutan bagi majelis permusyawaratan uskup-uskup tertinggi dalam Gereja-Gereja Ortodoks Timur bertaraf swakepala (bahasa Yunani: αὐτοκεφαλία, autokefalia). Tata kelola Gereja-Gereja Katolik Timur bertaraf kebatrikan dan keuskupan agung utama juga dipercayakan kepada suatu sinode tetap.

Gereja Ortodoks
Di kalangan Gereja Ortodoks, sinode para uskup adalah sidang majelis para uskup di tiap-tiap Gereja swatantra. Sinode para uskup merupakan sarana utama untuk memilih uskup-uskup dan menetapkan tertib hukum gerejawi antarkeuskupan.

Sobor (bahasa Slavi Gereja: съборъ, sidang majelis) adalah pertemuan resmi atau muktamar para uskup bersama utusan-utusan dari kalangan rohaniwan dan umat awam sebagai perwujudan Gereja untuk membahas perkara-perkara iman, kesusilaan, tata ibadat, serta tertib hukum dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Sinode di Gereja-Gereja Barat juga mirip dengan sobor namun lazimnya terbatas untuk kalangan para uskup saja. 

Istilah sobor digunakan sebagai padanan bagi kata "sinode" oleh Gereja Ortodoks Timur di negara-negara penutur Rumpun bahasa Slavi (Gereja Ortodoks Rusia, Gereja Ortodoks Ukraina, Gereja Ortodoks Bulgaria, Gereja Ortodoks Serbia, Gereja Ortodoks Makedonia), dan digunakan pula oleh Gereja Ortodoks Rumania (Gereja Ortodoks Timur di Rumania, salah satu negara penutur rumpun bahasa Romawi).

Sidang majelis
Utusan-utusan dari kalangan rohaniwan dan umat awam diikutsertakan guna menelaah mufakat Gereja mengenai perkara-perkara penting; meskipun demikian, para uskup merupakan majelis tinggi dalam sobor, dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat oleh umat awam.

Menurut keterangan dalam naskah Tawarikh Rus Kiev, sobor pertama Gereja Slavi Timur diselenggarakan di Kiev pada 1051. Semenjak itu sobor diselenggarakan secara berkala; salah satu sobor yang istimewa adalah sobor 1415 yang menetapkan pembentukan metropolia tersendiri bagi jemaat-jemaat di wilayah Kadipaten Agung Lituania. 

Sidang-sidang sobor yang penting dalam Sejarah Gereja Ortodoks Rusia adalah:
* Sobor Vladimir pada 1276* Sobor Stoglav (Sobor Seratus Bab) pada 1551* Sobor Moskwa 1666–1667, diselenggarakan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul akibat perombakan-perombakan gerejawi yang dilakukan oleh Batrik Nikon* Sobor Seluruh Rusia 1917, yang memulihkan Kebatrikan Moskwa dan memilih Santo Tikhon menjadi Batrik Moskwa modern yang pertama* Sobor Seluruh Rusia 1988, diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 1000 tahun Pembaptisan Rus untuk menuntun Gereja selepas glasnost, seiring mengendurnya cengkeraman Soviet dari Gereja
Seorang uskup boleh saja menyelenggarakan sobor di keuskupan yang dipimpinnya. Sobor tingkat keuskupan ini diselenggarakan untuk membahas perkara-perkara penting, dan dihadiri oleh utusan-utusan dari kalangan rohaniwan, biara-biara, serta paroki-paroki di wilayah keuskupan yang bersangkutan. Sobor semacam ini dapat diselenggarakan setahun sekali atau hanya bila dirasa perlu.

Gereja Katolik
Dalam Gereja Katolik, istilah sinode dan konsili secara teoretis bermakna sama, karena meskipun berasal dari dua bahasa yang berbeda, yakni bahasa Yunani dan bahasa Latin, kedua-duanya berarti muktamar otoritatif para uskup demi kepentingan tadbir Gereja di bidang ajaran (iman dan kesusilaan) atau tata kelola (tata tertib atau hukum). Meskipun demikian, pada zaman modern, sinode dan konsili dijadikan sebutan khusus bagi bentuk-bentuk tertentu dari muktamar para uskup, sehingga makna kedua istilah ini tidak lagi benar-benar berpadanan. Pada umumnya sinode diselenggarakan tiga tahun sekali, sehingga disebut sebagai "sidang umum biasa" (Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup). Akan tetapi, sinode-sinode "luar biasa" (Sidang Umum Luar Biasa Sinode Para Uskup) dapat saja diselenggarakan untuk membahas permasalahan-permasalahan tertentu. Ada pula sinode-sinode "istimewa" yang diselenggarakan demi kepentingan Gereja di wilayah atau kawasan geografis tertentu, misalnya sinode istimewa yang diselenggarakan pada 10-24 Oktober 2010 untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi Gereja di Timur Tengah (Sidang Istimewa Sinode Para Uskup untuk Timur Tengah).

Sinode para uskup

Jika "sinode" dan "konsili" biasanya mengacu pada suatu pertemuan tidak tetap, maka istilah "Sinode Para Uskup" digunakan sebagai sebutan bagi suatu badan tetap yang dibentuk pada 1965 sebagai badan penasihat Sri Paus. Sinode para uskup menyelenggarakan sidang-sidang yang menghimpun uskup-uskup dan pemimpin-pemimpin tarekat yang dipilih oleh konferensi-konferensi waligereja atau serikat-serikat pemimpin tarekat, atau yang ditunjuk oleh Sri Paus, guna memberi suara atas proposal-proposal (propositiones) yang akan diajukan untuk dipertimbangkan oleh Sri Paus, dan yang pada praktiknya digunakan oleh Sri Paus sebagai dasar pembuatan "imbauan apostolik pascasinode" Sri Paus mengenai tema-tema yang dibahas. Meskipun boleh menyuarakan kehendak bersama, sinode para uskup tidak mengeluarkan keputusan, kecuali jika diberi wewenang untuk itu oleh Sri Paus dalam kasus-kasus tertentu, dan sekalipun telah diberi wewenang untuk itu, keputusan sinode para uskup masih harus meminta pengesahan dari Sri Paus. Sri Paus berkedudukan sebagai ketua sidang atau pihak yang berwenang menunjuk ketua sidang, pihak yang berwenang menentukan agenda sidang, serta pihak yang berwenang membuka, menunda, dan mengakhiri sidang.

Tema-tema sinode Katolik modern:
"Uskup: Pelayan Injil Yesus Kristus untuk pengharapan dunia", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-10, 1998"Ekaristi: Sumber dan puncak dari hidup dan misi Gereja", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-11, 2005"Firman Allah dalam hidup dan misi Gereja", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-12, 2008"Evangelisasi baru untuk menyebarkan iman Kristen", tema Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-13, 2012"Tantangan-tantangan pastoral keluarga dalam konteks evangelisasi", tema Sidang Umum Luar Biasa Sinode Para Uskup, 2014
Konsili

Muktamar-muktamar para uskup di wilayah Kekaisaran Romawi sudah diselenggarakan semenjak pertengahan abad ke-3 Masehi. Konsili Nikea I yang diselenggarakan pada 325 Masehi terhitung sebagai muktamar para uskup yang kedua puluh. Sesudah konsili ini, masih ada ratusan lagi penyelenggaraan muktamar para uskup sampai abad ke-6. Muktamar-muktamar para uskup yang diselengarakan atas persetujuan kaisar dan yang seringkali dihadiri pula olehnya, disebut sebagai muktamar yang "oikumene", artinya "sedunia" (dunia yang dikenal oleh masyarakat di belahan dunia barat kala itu). Dalam hukum kanon Gereja Katolik sekarang ini, istilah "konsili" lazimnya digunakan sebagai sebutan bagi muktamar-muktamar yang diselenggarakan tidak secara berkala, dan dihadiri oleh seluruh uskup yang senegara, sekawasan, atau sedunia, dengan maksud untuk membahas dan menetapkan aturan-aturan yang bersifat mengikat. Penjelasan mengenai konsili dalam hukum kanon adalah sebagai berikut:

* Konsili oikumene adalah muktamar yang diselenggarakan tidak secara berkala, dan yang dihadiri oleh segenap uskup dalam persekutuan dengan Sri Paus, dan yang bersama-sama dengan Sri Paus merupakan kewenangan legislatif tertinggi dari Gereja sejagat (kanon 336). Hanya Sri Paus yang berhak menyelenggarakan, menunda, dan membubarkan suatu konsili oikumene; Sri Paus juga memimpin jalannya konsili oikumene atau memilih orang lain untuk memimpin serta menentukan agenda (kanon 338). Kekosongan Takhta Suci secara otomatis menunda jalannya suatu konsili oikumene. Hukum-hukum atau ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh suatu konsili oikumene memerlukan konfirmasi dari Sri Paus, yakni satu-satunya pihak yang berhak mengundang-undangkan hukum-hukum atau ajaran-ajaran itu (kanon 341). Peran Sri Paus dalam suatu konsili oikumene adalah salah satu ciri khas Gereja Katolik.

* Konsili-konsili paripurna, yakni muktamar-muktamar segenap uskup yang senegara (termasuk negara yang hanya merupakan satu provinsi gerejawi), diselenggarakan oleh konferensi waligereja nasional.

* Konsili-konsili provinsial, yang dihadiri uskup-uskup dalam satu provinsi gerejawi yang lebih kecil daripada suatu negara, diselenggarakan oleh uskup metropolit dengan persetujuan sebagian besar uskup sufragan dalam provinsi gerejawi yang bersangkutan.

Konsili paripurna dan konsili provinsial digolongkan sebagai konsili partikuler. Konsili partikuler adalah konsili yang dihadiri oleh segenap uskup yang sewilayah (termasuk uskup-uskup koajutor dan uskup-uskup auksilier) serta para waligereja lainnya yang mengepalai gereja-gereja partikular di wilayah yang sama (misalnya para abas teritorial dan para vikaris apostolik). Setiap peserta memiliki hak suara dalam perumusan keputusan konsili. Selain itu, ada pula pihak-pihak yang menurut hukum termasuk bagian dari majelis konsili namun hanya selaku penasihat, yakni para vikaris jenderal dan vikaris uskup, para rektor universitas Katolik, para dekan fakultas teologi dan hukum kanon, para pemimpin tarekat religius yang telah dipilih untuk menghadiri konsili oleh seluruh pemimpin tarekat religius di wilayah gerejawi yang bersangkutan, para rektor seminari yang dipilih untuk menghadiri konsili oleh seluruh rektor seminari di wilayah gerejawi yang bersangkutan, dan dua orang anggota dari setiap dewan kapitel katedral, dewan rohaniwan, atau dewan pastoral di wilayah gerejawi yang bersangkutan (kanon 443). Pihak yang berhak menyelenggarakan konsili juga boleh memilih orang-orang tertentu sebagai wakil umat beriman (termasuk umat awam) untuk ikut serta dalam konsili selaku penasihat.

Muktamar-muktamar lintas negara yang dihadiri oleh seluruh uskup di kawasan tertentu juga disebut konsili, misalnya Konsili-konsili Kartago yang dihadiri oleh seluruh uskup di Afrika Utara.

Pada Abad Pertengahan, ada beberapa konsili yang disebut konsili legatina, yakni konsili yang diselenggarakan di bawah pimpinan seorang utusan paus, bukan oleh paus atau uskup. 

Sinode

Sinode-sinode Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur sama saja dengan sinode-sinode di Gereja-Gereja Ortodoks, yakni sarana untuk memilih uskup-uskup dan mengundangkan hukum-hukum gerejawi lintas keuskupan. Meskipun demikian, istilah sinode dalam hukum kanon Ritus Latin digunakan sebagai sebutan bagi muktamar-muktamar yang bersifat representatif, tematis, non-legislatif (tidak merumuskan aturan, hanya sekadar merumuskan saran) atau campuran dari sifat-sifat itu, atau muktamar-muktamar yang tidak memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai "konsili", misalnya:

*  Sinode keuskupan, yakni muktamar tidak tetap dari para rohaniwan dan umat awam di suatu gereja partikuler yang diselenggarakan oleh uskup pemimpin keuskupan yang bersangkutan (atau oleh prelatus lain jika gereja partikuler yang bersangkutan bukan sebuah keuskupan) untuk memutuskan perkara-perkara hukum. Hanya uskup yang memiliki wewenang legislatif; peserta sinode keuskupan lainnya hanya berhak mengajukan usul atau memberikan saran. Menurut hukum, orang-orang yang harus diundang menghadiri sebuah sinode keuskupan adalah semua uskup koadjutor atau uskup auksilier, para vikaris jenderal dan vikaris uskup, para officialis (pejabat mahkamah keuskupan), para dekan keuskupan ditambah satu orang imam dari masing-masing wilayah yang dipimpin seorang dekan keuskupan, dewan rohaniwan, para kanonik dari dewan katedral (jika ada), rektor seminari, beberapa pemimpin tarekat religius dalam wilayah keuskupan yang bersangkutan, dan umat awam yang dipilih oleh dewan pastoral keuskupan yang bersangkutan, meskipun uskup boleh mengundang pihak-pihak lain atas kehendaknya sendiri untuk menghadiri sinode (kanon 463).

Konferensi waligereja

Konferensi waligereja nasional adalah salah satu hasil dari Konsili Vatikan II. Konferensi waligereja nasional adalah badan tetap yang beranggotakan seluruh uskup Ritus Latin di negara tertentu dan pihak-pihak lain yang menurut hukum setara dengan para uskup (yakni para abas teritorial). Uskup-uskup dari Gereja-Gereja sui juris lain dan para nuncio menurut hukum bukanlah anggota konferensi waligereja, namun konferensi waligereja boleh mengundang mereka sebagai penasihat maupun sebagai peserta dengan hak suara (kanon 450).

Jika konsili (kanon 445) dan sinode keuskupan (kanon 391 dan 466) memiliki wewenang legislatif paripurna dalam lingkup kewenangannya masing-masing, maka konferensi waligereja hanya boleh mengeluarkan aturan-aturan pelengkap bilamana diberi kewenangan untuk itu oleh hukum kanon atau oleh maklumat dari Takhta Suci. Selain itu, setiap aturan pelengkap harus disetujui oleh dua pertiga anggota konferensi dan dikaji oleh Takhta Suci (kanon 455) agar berkekuatan hukum. Tanpa kewenangan dan kajian tersebut, konferensi waligereja hanya bersifat deliberatif dan tidak memiliki wewenang atas para waligereja atau keuskupan yang menjadi anggotanya.

Gereja Anglikan

Di gereja-gereja yang tergabung dalam persekutuan Anglikan, sinode adalah muktamar majelis gereja yang dipilih oleh rohaniwan dan umat awam. Sebagian besar gereja Anglikan memiliki hierarki sinode yang bersifat kewilayahan. Dalam hierarki kewilayahan ini, sinode tertinggi adalah Sinode Umum; para uskup, rohaniwan, dan umat awam merupakan "majelis-majelis" di dalam sinode ini.

Sinode keuskupan diselenggarakan oleh seorang uskup (laki-laki maupun perempuan) di dalam keuskupan yang dipimpinnya. Sinode keuskupan terdiri atas rohaniwan dan umat awam yang terpilih.

Sinode dekanat diselenggarakan oleh Dekan Pedesaan (atau Dekan Wilayah). Sinode dekanat terdiri atas semua rohaniwan yang memiliki izin kerja di paroki-paroki dalam wilayah dekanat yang bersangkutan, ditambah umat awam yang terpilih.

Gereja Lutheran

Dalam tradisi gereja Lutheran, sinode dapat merupakan suatu wilayah administratif setempat yang serupa dengan sebuah diosis, seperti misalnya Sinode Daerah Minneapolis dari Evangelical Lutheran Church in America (Gereja Lutheran Injili di Amerika), atau menunjuk kepada keseluruhan tubuh gereja, seperti misalnya Lutheran Church - Missouri Synod (Gereja Lutheran - Sinode Missouri, sebuah denominasi Lutheran yang konservatif). Kadang-kadang kata ini juga digunakan untuk pertemuan para pendeta dari sebuah diosis. Dalam hal ini, kata tersebut tidak mengandung makna administratif.

Gereja Presbiterian

Dalam sistem pemerintahan Gereja Presbyterian kata sinode adalah tingkat administrasi antara klasis setempat dan General Assembly (Sidang Raya), sebagai lembaga tertinggi pemerintahannya. Beberapa denominasi menggunakan kata sinode, seperti misalnya Presbyterian Church in Canada (Gereja Presbyterian di Kanada), Uniting Church in Australia (Gereja Bersatu di Australia), dan Presbyterian Church (USA) (Gereja Presbyterian di AS). Namun, sebagian gereja lainnya tidak menggunakan kata sinode sama sekali, dan Gereja Skotlandia membubarkan sinodenya pada tahun 1980-an, lihat Daftar Sinode dan klasis Gereja Skotlandia.

Gereja Kalvinis

Dalam gereja-gereja Kalvinis di Swiss dan Jerman Selatan, tempat gereja-gereja Kalvinis ditata sebagai gereja-gereja mandiri yang dinamai menurut wilayahnya (mis. Gereja Reformasi Injili Zürich, Gereja Reformasi Berne), sinode mempunyai kedudukan sejajar dengan Persidangan Umum dari Gereja-gereja Presbyterian. Di Belanda, Gereja-gereja Reformasi (dan di kalangan Gereja-gereja Reformasi orang-orang Belanda di Amerika Utara), "sinode" adalah persidangan denominasi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari masing-masing klasis setempat.

Gereja Kristus di Kongo

Di Republik Demokratik Kongo, sebagian besar denominasi Protestan telah bergabung menjadi satu lembaga keagamaan yang diberi nama Gereja Kristus di Kongo (GKK). Di dalam negara Kongo sendiri, GKK hanya disebut sebagai "gereja Protestan". Dalam struktur GKK, sinode nasional merupakan sidang raya yang diikuti oleh semua gereja anggota GKK. Dari Sinode ini dibentuk sebuah Panitia Eksekutif, dan sekretariat. Ada pula sinode-sinode GKK di setiap provinsi dalam wilayah negara Kongo. Sinode-sinode tingkat daerah ini disebut "sinode provinsi". GKK terdiri atas 62 denominasi Protestan.

Sinode-sinode terkenal

Sinode-sinode Antiokhia, 264-269
Sinode-sinode Kartago 251, 255, 256, 348, 411, 418, 419, 424
Sinode Ankira 314 (membahas para pelaku bestialitas menurut usia)
Sinode Pertama di Tirus dan Yerusalem 335
Sinode Ganggra 340
Sinode Hipo 393
Sinode Seleukia-Ktesifon 410
Sinode Beth Lapat 484
Konsili-konsili Toledo, 400-1583
Sinode Mâcon 585 (membahas persepuluhan)
Sinode Whitby 664
Konsili Soissons 744
Sinode Jenazah 897
Sinode Erfurt 932
Sinode Augsburg 952 & 1062
Sinode Ráth Breasail, 1111
Sinode Kells, 1152
Sinode Cashel 1172
Sinode Verona, 1184 (membahas kaum Waldens)
Sinode Diamper, 1599
Sinode Dordrecht 1618/1619
Sinode Jassy, 1642
Sinode Yerusalem, 1672
Konsili Pan-Ortodoks, 2016

Perang Salib Albigensian

Perang Salib Albigensian atau Perang Salib Kataris (1209–1229) adalah suatu kampanye militer selama 20 tahun yang diprakarsai oleh Paus Innosensius III untuk menghapuskan paham Katarisme di Languedoc, di selatan Perancis. Perang Salib ini utamanya dilaksanakan oleh pemimpin monarki Perancis dan dengan segera menggunakannya untuk kepentingan politik, sehingga tidak hanya menyebabkan penurunan jumlah penganut Katarisme secara signifikan tetapi juga penataan kembali County Toulouse, yang membawanya ke dalam lingkungan monarki Perancis, serta memudarkan budaya kedaerahannya yang berbeda dan pengaruh besar dari Comte Barcelona.

Sekte Kataris dari abad pertengahan tersebut, yang menjadi target perang salib ini, berasal dari suatu gerakan reformasi dalam gereja-gereja Bogomil dari Dalmasia dan Bulgaria yang menyerukan untuk kembali pada pesan Kristen akan kesempurnaan, kemiskinan, dan pewartaan. Teologi mereka pada dasarnya adalah dualis. Mereka menjadi dikenal sebagai kaum Albigens, karena terdapat banyak penganutnya di kota Albi dan daerah sekitarnya pada abad ke-12 dan ke-13. 

Antara tahun 1022–1163 mereka dikutuk oleh delapan konsili gereja setempat, yang mana yang terakhir diselenggarakan di Tours menyatakan bahwa semua kaum Albigens "seharusnya dipenjarakan dan harta benda mereka disita", dan oleh Konsili Lateran III pada tahun 1179. Berbagai upaya diplomasi Paus Innosensius III untuk menghapuskan paham Katarisme hanya menghasilkan sedikit kesuksesan. Setelah pembunuhan legatusnya, yaitu Pierre de Castelnau, pada tahun 1208, Paus Innosensius III menyatakan suatu perang salib terhadap kaum Kataris. Ia menawarkan lahan-lahan para bidat Kataris kepada setiap bangsawan Perancis yang bersedia untuk mengangkat senjata. Setelah beberapa keberhasilan awal, para baron Perancis menghadapi suatu pemberontakan di Languedoc yang menyebabkan intervensi pasukan kerajaan Perancis.

Perang Salib Albigensian juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan.

Jul 7, 2018

Gnostisisme

Gnostisisme merujuk pada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliran sinkretisme pada zaman dahulu kala. Gerakan ini mencampurkan berbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalah agama dualistik, yang dipengaruhi dan memengaruhi filosofi Yunani, Yudaisme, dan Kekristenan.

Istilah gnōsis merujuk pada suatu pengetahuan esoteris yang telah dipaparkan. Dari sana manusia melalui unsur-unsur rohaninya diingatkan kembali akan asal-muasal mereka dari Tuhan yang superior. Yesus Kristus dipandang oleh sebagian sekte Gnostis sebagai perwujudan dari makhluk ilahi yang menjadi manusia untuk membawa gnōsis ke bumi.

Pada mulanya Gnostisisme dianggap sebagai cabang aliran sesat dari Kekristenan, namun sekte Gnostis telah ada sejak sebelum kelahiran Yesus[2][3]. Keberadaan kaum Gnostik sejak Abad Pertengahan semakin berkurang dikarenakan pengikutnya memeluk Islam atau akibat dari Perang Salib Albigensian (1209–1229). Gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.

Surat-surat Paulus

Surat-surat Paulus adalah sebutan untuk kumpulan 14 kitab dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen yang secara tradisional diyakini ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun ada keraguan bahwa Surat Ibrani, yang tidak memuat nama penulis, termasuk kumpulan ini.

Terdapat konsensus yang hampir universal dalam studi Perjanjian Baru modern di mana kepengarangan Paulus tidak terbantahkan pada kitab-kitab berikut:

Surat Roma
Surat 1 Korintus
Surat 2 Korintus
Surat Galatia
Surat Filipi
Surat 1 Tesalonika
Surat Filemon

Sejumlah surat lain yang memuat nama Paulus sebagai penulisnya masih diperdebatkan pada zaman modern ini:

Surat Efesus
Surat Kolose
Surat 2 Tesalonika
Surat 1 Timotius
Surat 2 Timotius
Surat Titus.

Sejumlah sarjana bahkan memberi label Surat Efesus, dan tiga surat penggembalaan (1 dan 2 Timotius, serta Titus) sebagai pseudepigrafa. 

Ada pula dua contoh surat pseudonymous (bukan ditulis oleh pengarang asli) yang memuat nama Paulus di luar Perjanjian Baru yaitu Surat Laodikea dan Surat 3 Korintus.

Surat Ibrani sebenarnya anonim, tidak memuat nama penulisnya, tetapi secara tradisional dianggap bagian tulisan Paulus. Bapa gereja Origenes dari Aleksandria menolak anggapan ini, melainkan menduga bahwa surat itu ditulis orang lain, meskipun isinya memuat ajaran asli Paulus. Kebanyakan sarjana modern menerima bahwa surat itu bukan ditulis oleh Paulus dan mengusulkan berbagai kemungkinan tokoh sebagai pengarangnya. 

Kriteria yang digunakan oleh para pakar
Para pakar menggunakan sejumlah metoda historiografi dan kritisisme tinggi untuk menentukan apakah suatu teks benar-benar dikarang oleh penulis sebagaimana yang dipercayai. Metoda utama untuk meneliti surat-surat Paulus adalah sebagai berikut:

Bukti internal
Ini terdiri dari: apa yang ditulis sendiri oleh penulis mengenai dirinya dalam surat tersebut, baik secara eksplisit sang pengarang mengidentifikasi diri sendiri  atau secara implisit memberikan detail otobiografi. Bukti ini penting meskipun ada permasalahannya. Misalnya, karena penulis Surat Ibrani tidak pernah menyebutkan namanya, para pakar mulai dari yang paling awal, Origenes dari Aleksandria pada abad ke-3 meragukan bahwa Paulus adalah penulisnya.

Nama         Pengirim

Surat Roma                 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan                                               dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 
Surat 1 Korintus           Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus                                            Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita 
Surat 2 Korintus          Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari                                    Timotius saudara kita 
Surat Galatia               Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh                                                seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang                                            telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan dari semua saudara                                    yang ada bersama-sama dengan aku 
Surat Efesus               Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah 
Surat Filipi                  Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus 
Surat Kolose               Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara                                     kita 
Surat 1 Tesalonika Dari Paulus, Silwanus dan Timotius 
Surat 2 Tesalonika Dari Paulus, Silwanus dan Timotius 
Surat 1 Timotius Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita,                                         dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita 
Surat 2 Timotius Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan                                      janji tentang hidup dalam Kristus Yesus 
Surat Titus               Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman                                        orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran                                                        seperti yang tampak dalam ibadah kita, dan berdasarkan pengharapan                                          akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah                                                      dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu yang                                            dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan                                              Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah,                                            Juruselamat kita. 
Surat Filemon         Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius                                            saudara kita 

Bukti eksternal
Ini meliputi rujukan, baik eksplisit maupun implisit, pada teks tersebut, khususnya pada waktu-waktu awal dari mereka yang memiliki akses pada sumber tepercaya yang sekarang hilang. Rujukan eksplisit dapat berupa penyebutan nama teks atau surat, atau bentuk yang dapat dikenali dari teks tersebut. Contohnya adalah daftar kitab-kitab Alkitab yang diterima, misalnya Fragmen Muratori, atau isi dari naskah kuno, misalnya Papirus 46. Sayangnya, saksi-saksi semacam ini seringkali rusak atau terlalu muda tarikhnya untuk membantu pemastian.

Rujukan implisit berupa kutipan surat-surat Paulus, khususnya secara tidak langsung atau tidak disebutkan sumbernya, maupun penyampaian ide atau frasa yang muncul pada tulisan-tulisan tersebut. Penggunaan rujukan semacam ini menandakan bahwa bahan yang dikutip sudah ada pada saat bukti eksternal itu dibuat. Contohnya, Surat kedua kepada jemaat Tesalonika disebutkan namanya oleh Irenaeus pada pertengahan abad ke-2, juga oleh Yustinus Martir dan Ignatius dari Antiokhia; sehingga tidak mungkin surat tersebut ditulis setelah zaman mereka. Di sisi lain, kurangnya saksi dari sumber kuno mengindikasikan tarikh pembuatan lebih muda, suatu argumen bisu. Namun, cara berpikir demikian juga berbahaya, karena ketidaklengkapan catatan sejarah: banyak teks kuno hilang, rusak atau sudah diubah.

Tempat dalam sejarah
Suatu naratif mengenai kehidupan dan pelayanan Paulus yang ditulis independen pada Kisah Para Rasul, digunakan untuk menentukan tarikh dan kepengarangan surat-surat Paulus dengan memastikan lokasi pembuatan dalam konteks kehidupannya. Misalnya, Paulus menyebutkan bahwa ia berada dalam penjara dalam Surat Filemon 1:7; berdasarkan pernyataan ini, J. A. T. Robinson berpendapat bahwa surat itu ditulis ketika Paulus dipenjarakan di Kaisarea, sementara W. M. Ramsay berpendapat bahwa Paulus saat itu dipenjarakan di Roma, sedangkan yang lain menempatkannya di Efesus. Satu kesulitan dengan posisi ini adalah keterbatasan data yang tersedia mengenai latar belakang sejarah Paulus, dan ini terutama berkenaan dengan narasi Kisah Para Rasul sebelum kematian Paulus. Diyakini bahwa kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh teman seperjalanan Paulus.

Bahasa dan gaya
Kosakata, struktur kalimat, pemakaian kiasan dan frasa-frasa umum, dan lain-lain, dianalisis konsistensinya dengan karya-karya pengarang lainnya yang sudah dapat dipastikan. Gaya yang mirip menandakan kepengarangan yang sama, sedangkan kosakata yang sangat berbeda mengindikasikan pengarang yang berbeda. Contohnya, E. J. Goodspeed berargumen bahwa kosakata Surat Efesus menunjukkan kaitan sastra dengan Surat Klemens yang Pertama, yang ditulis di akhir abad ke-1. Demikian pula E. Percy berargumen bahwa perkataan dan gaya bahasa dalam Surat Kolose lebih kuat kemiripannya dengan kepengarangan Paulus. Tentunya gaya bahasa dapat bervariasi karena alasan-alasan lain selain kepengarangan, misalnya topik surat, penerima, keadaan penulisan, atau sekadar kedewasaan dari pihak penulis.

Isi dan teologi
Mirip dengan bukti internal, konsistensi doktrin dan perkembangannya diteliti dibandingkan karya-karya pengarang yang sudah dapat dipastikan. Topik teologi seperti eschaton atau Hukum Musa dapat muncul pada karya-karya berbeda, tetapi dengan corak yang serupa. Suatu sudut pandang yang konsisten menandakan pengarang yang sama; pengajaran yang bertolak belakang atau tidak berkaitan mengindikasikan pengarang yang berbeda. Contohnya, W. Michaelis melihat kemiripan Kristologi antara surat-surat penggembalaan dan karya-karya Paulus yang tak terbantahkan, sehingga berargumen mendukung kepengarangan Paulus. 

Surat-surat yang tidak terbantahkan

Penamaan "undisputed" (tak terbantahkan) pada sejumlah surat menunjukkan konsensus para pakar secara tradisional mengakui bahwa Paulus adalah pengarang setiap surat tersebut.  Namun, masih ada juga yang memperdebatkan Surat Galatia. Lebih lagi, kesatuan surat-surat itu juga dipertanyakan oleh sejumlah pakar. Surat 1 dan 2 Korintus pernah dicurigai oleh beberapa pakar sebagai gabungan beberapa surat pribadi. Masih ada diskusi mengenai kemungkinan interpolasi penting. Namun, korupsi tekstual semacam itu sukar dilacak maupun dipastikan.

Surat Roma
Surat 1 Korintus
Surat 2 Korintus
Surat Galatia
Surat Filipi
Surat 1 Tesalonika
Surat Filemon

Ketujuh surat tersebut dikutip dan disinggung oleh sumber-sumber paling awal, dan dimasukkan dalam setiap kanon kuno, termasuk oleh Marsion (~140).  Tidak ada catatan keraguan para pakar mengenai kepengarangannya sampai abad ke-19, yaitu sekitar 1840, pakar Jerman scholar Ferdinand Christian Baur (Tübingen School) hanya menerima empat surat bermuatan nama Paulus sebagai surat asli yang dinamakannya Hauptebriefe (Surat Roma, Surat 1 & 2 Korintus, dan Surat Galatia). Hilgenfeld (1875) dan H. J. Holtzmann (1885) menerima tujuh surat terdaftar di atas, dengan menambahkan Surat Filemon, 1 Tesalonika, dan Filipi. Pada awal 1990-an pengaruh Tübingen School merosot dan hipotesis Baur banyak ditinggalkan. Sekarang hanya sedikit pakar yang menentang daftar tujuh surat ini, yang semuanya memuat topik, penekanan, kosakata dan gaya yang mirip. Juga tampak keseragaman doktrin mengenai Hukum Musa, Kristus, dan iman.

Surat Kolose
Meskipun Surat Kolose disebutkan oleh saksi-saksi yang sama dengan surat-surat tak terbantahkan, kepengarangan Paulus diperdebatkan oleh sejumlah pakar modern. Pertama kali diragukan oleh F. C. Baur, meskipun pakar lain yang meneliti berdasarkan analisis yang sama, misalnya H. J. Holtzmann, berpendapat bahwa teks Surat Paulus yang pendek ini memuat sejumlah interpolasi dari penyunting kemudian. Dasar keberatannya adalah surat ini bertujuan membantah ajaran Gnostisisme, suatu ajaran yang tidak meluas sebelum awal abad ke-2. Pendapat ini dipertanyakan dalam analisis Gnostisisme oleh R. Wilson, yang yang menyatakan bahwa anggapan paralelisme tidak mempunyai dukungan. Terjalin hubungan penting antara Surat Kolose dan Filemon, salah satu surat tak terbantahkan. Tercatat nama Arkhipus pada kedua surat (Filemon 1:2, Kolose 4:17), dan salam untuk kedua surat itu memuat nama-nama yang mirip (Filemon 1:23-24, Kolose 4:10-14). Namun meskipun hubungan ini dapat menjadi bukti pengarang yang sama, ada yang secara skeptis menuduh hal itu dihasilkan oleh seorang pemalsu yang ulung.

Surat Efesus
Pada awal Surat Efesus tertulis nama Paulus, yang identik dengan Surat 2 Korintus dan Surat Kolose. Tidak ada keraguan pada gereja awal bahwa Paulus menulis surat itu, karena dikutip secara otoritatif oleh para bapa gereja, termasuk Tertullian, Klemens dari Aleksandria, dan Irenaeus. Surat itu juga muncul pada Kanon Marcion (tahun 140) dan Fragmen Muratori (tahun 180).

Keotentikan surat ini pertama kali diperdebatkan oleh pakar Renaissance Belanda, Desiderius Erasmus, dan kemudian oleh sejumlah pakar modern.

Surat 2 Tesalonika
Surat ini termasuk ke dalam daftar Kanon Marsion dan Fragmen Muratori; disebut namanya oleh Irenaeus, dan dikutip oleh Ignatius, Yustinus, dan Polycarpus.[36] Pada zaman modern, keraguan atas kepengarangan Paulus diajukan oleh H. J. Holtzmann dan G. Hollmann (lihat di atas).

Sejarah kanon surat-surat Paulus

Tidak ada daftar yang terlestarikan dari Perjanjian Baru Kristen dari abad ke-1 sampai awal abad ke-2. Ignatius dari Antiokhia, yang menulis sekitar tahun 110, tampaknya mengutip dari Surat Roma, 1 Korintus, Efesus, Kolose dan 1 Tesalonika, mengindikasikan bahwa surat-surat itu ada pada zaman Ignatius menulis karya-karyanya. Ignatius tampaknya tidak mengutip dari Surat 2 Tesalonika. Di sisi lain, Polikarpus (69-156 M) tidak hanya mengutip dari Surat 2 Tesalonika, tetapi juga Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Kisah Para Rasul, Surat 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Ibrani, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 3 Yohanes. Pakar Bruce Metzger menyatakan "Dapat ditemukan pada karya Klemens work[(150–215 M)] kutipan dari semua kitab dalam Perjanjian Baru kecuali Surat Filemon, Surat Yakobus, 2 Petrus, 2 Yohanes dan 3 Yohanes."

Kanon tertua yang memuat surat-surat Paulus berasal dari abad ke-2:

Sebuah kanon yang disusun oleh Marsion, pendiri Marsionisme. Ia memasukkan 10 surat Paulus, tidak memasukkan surat penggembalaan (Titus, 1 dan 2 Timotius), serta Surat Ibrani.
Papirus 46, salah satu naskah kuno Perjanjian Baru tertua (sekitar tahun 200), memuat 8 pasal terakhir Surat Roma, semua pasal Surat Ibrani, semua Surat 1 dan 2 Korintus, semua Surat Efesus, Galatia, Filipi, Kolose; dan dua pasal Surat 1 Tesalonika. Karena sebagian rusak, tidak ada konsensus bahwa surat-surat lain yang tidak dimuat itu hilang atau sengaja tidak dimuat. Pakar Young Kyu Kim memberi tarikh Papirus 46 pada abad ke-1 sebelum pemerintahan Domitian (sebelum tahun 81) meskipun pakar lain menentang pendapat itu. 

Antiokhos

Antiokhos IV Epiphanes (memerintah tahun 175-164 SM; juga dieja "Antiokhus Epifanes") merupakan seorang raja pada kekaisaran Seleukia. Ia adalah putra dari Antiokhos III yang sempat dijadikan sandera di kota Roma pada peristiwa perdamaian Aparnea. Pada tahun 177 SM ia dibebaskan dan posisinya digantikan oleh Demitrios, anak dari Seleukos IV. Antiokhos kemudian memilih untuk tinggal di Atena. Setelah Seleukos IV dibunuh akibat pengaruh dari Heliodoros, Antiokhos IV segera menjadi penguasa sesudah menyingkirkan Heliodoros terlebih dahulu. 

Pemerintahan

Hal yang ditakutkan oleh Anthiokhos IV Epifanes adalah pecahnya kerajaan. Oleh sebab itu, ia giat melakukan upaya helenisasi supaya kesatuan kerajaannya tetap terjamin. Helenisasi yang dilakukannya sangat berpengaruh besar terutama bagi kehidupan masyarakat dan budaya orang-orang Yahudi. Apalagi dalam helenisasi, orang-orang diminta ikut berpartisipasi dalam upacara persembahan korban bagi dewa-dewa. 

Akibat ulahnya sendiri yang dianggap keterlaluan, mulailah muncul pemberontakan dalam kota. Antiokhos menjadi sangat marah dan bertekad memberi pelajaran kepada orang-orang yang menentangnya terutama orang-orang Yahudi. Ia mengeluarkan sebuah larangan bagi orang-orang Yahudi menjalankan hukum-hukum dan adat-istiadat mereka. Berbagai praktik ibadah orang Yahudi tidak boleh dilakukan dan setiap pelanggarnya akan menerima hukuman mati. Puncak dari tindakan Antiokhos ini adalah saat ia menempatkan altar dewa Zeus Olympus di atas altar Bait Allah dan meletakkan daging babi untuk dipersembahkan sebagai sesajen pada tanggal 25 Kislew 168 SM, yang menyulut pemberontakan Yudas Makabe untuk menyucikan kembali Bait Allah serta dimulainya hari raya Hanukkah sejak tanggal 25 Kislew 165 SM. 

Kematian

Antiokhus IV meninggal pada tahun 164 SM (tahun ke-149 kekaisaran Seleukia) setelah mendengar kabar kekalahan pasukannya di Persia dan Yudea. Flavius Yosefus mencatat dalam bukunya "Sejarah Kuno Orang Yahudi" sebagai berikut:

"Sekitar waktu ini, raja Antiokhus, ketika pergi ke negeri-negeri sebelah atas, mendengar bahwa ada satu kota yang kaya di Persia, bernama Elymais; dan di sana ada sebuah kuil Diana yang sangat kaya, dan penuh dengan berbagai sumbangan yang diterimanya; juga senjata-senjata dan perisai-perisai dada, yang setelah diselidiki, diketahuinya telah ditinggalkan di sana oleh Alexander, putra Philip, raja Makedonia. Dan didorong oleh motif-motif ini, ia segera berangkat ke Elymais, dan menyerangnya, dan mengepungnya. Namun mereka yang di dalamnya tidak takut atas seranganya, mau pun pengepungannya, melainkan melawannya dengan gagah berani, sehingga ia kehilangan harapan; karena mereka mengusirkan dari kota itu, dan keluar dan mengejarnya, sedemikian jauhnya sehingga ia harus melarikan diri sampai sejauh Babel, dan kehilangan tentara dalam jumlah sangat besar. Dan ketika ia berduka atas kekecewaan ini, sejumlah orang mengabarkan kepadanya perihal kekalahan para komandannya yang ditinggalkannya untuk berperang melawan Yudea, dan betapa bertambah kuatnya orang Yahudi. Ketika kedukaan mengenai perkara ini ditambahkan ke persoalan sebelumnya, ia menjadi tertegu, dan karena kecemasan itu ia jatuh sakit, yang berlangsung sangat lama, dan ketika rasa sakitnya meningkat pada dirinya, maka ia akhirnya sadar bahwa ia akan segera mati; maka ia memanggil sahabat-sahabatnya, dan mengatakan bahwa penyakitnya itu parah; dan mengaku bahwa musibah ini menimpanya karena penindasan yang dilakukannya terhadap bangsa Yahudi, ketika ia menjarah bait suci mereka, dan menghina Allah mereka; dan ketika selesai berkata demikian, ia melepaskan nyawanya. Dengan demikian orang akan bertanya-tanya akan Polybius dari Megalopolis, yang, meskipun adalah orang baik, tetapi mengatakan bahwa "Antiokhus mati karena ia berniat menjarah kuil Diana di Persia;" karena berniat melakukan sesuatu, tetapi tidak benar-benar melakukannya, tidaklah patut dihukum. Namun jika Polybius berpikir bahwa Antiokhus kehilangan nyawanya karena alasan itu, adalah lebih masuk akal kalau raja ini mati karena ia menjarah dan menajiskan bait suci di Yerusalem. Namun kami tidak akan berdebat mengenai hal ini dengan mereka yang berpikir bahwa alasan yang diberikan oleh Polybius dari Megalopolis ini lebih dekat dengan kebenaran daripada yang kami berikan." "Antiokhus ini mati pada tahun ke-149"