Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Nov 1, 2017

Kekaisaran Parthia

Kekaisaran Parthia (/ˈpɑːrθiən/; 247 SM – 224 M), dikenal pula sebagai Kekaisaran Arsakid (/ˈɑːrsəsɪd/; bahasa Persia modern: اشکانیان Ashkāniān), adalah kekuatan politik dan kebudayaan Iran yang besar di Persia kuno. Nama Arsakid berasal dari Arsakes I dari Parthia yang, sebagai pemimpin suku Parni, mendirikan kekaisaran ini pada pertengahan abad ke-3 SM setelah dia menaklukkan wilayah Parthia di timur laut Iran, yang ketika itu merupakan sebuah kesatrapan (provinsi) yang memberontak terhadap Kekaisaran Seleukia. Mithridates I dari Parthia (berkuasa sek. 171–138 SM) sangat meluaskan kekaisaran dengan merebut Media dan Mesopotamia dari kekuasaan Seleukia. Pada puncak kejayaannya, Kekaisaran Parthia terbentang dari bagian utara Efrat, di tempat yng kini menjadi Turki tenggara, hingga Iran timur. Kekaisaran ini, terletak di jalur perdagangan Jalan Sutra antara Kekaisaran Romawi di Cekungan Mediterania dan Kekaisaran Han di Cina, menjadi pusat perdagangan dan perniagaan.

Bangsa Parthia banyak mengadopsi seni, arsitektur, kepercayaan keagamaan, dan lambang kerajaan dari kekaisaran mereka yang memiliki kebudayaan yang beragam. Di Kekaisaran Parthia terdapat kebudayaan Persia, Hellenistik, serta banyak kebudayaan lokal. Kira-kira selama separuh masa keberadaannya, para penguasa Parthia mengadopsi kebudayaan Yunani, meskipun pada akhirnya menggunakan tradisi Iran. Para penguasa Parthia memiliki gelar "Raja Segala Raja" dan mengklaim sebagai pewaris takhta Kekaisaran Akhemeniyah; dan memang, mereka menerima banyak raja lokal sebagai negara bawahan yang oleh Kekaisaran Akhemeniyah ditunjuk secara terpusat, meskipun sebagian besar sebagai satrap yang otonom. Kekaisaran Parhia memang menunjukkan sejumlah kecil satrap, sebagian besar di luar Iran, namun kesatrapan-kesatrapan ini lebih kecil dan kurang berkuasa dibanding kesatrapan pada masa Akhemeniyah. Dengan perluasan kekuasaan Parthia, pusat pemerintahan berpindah dari Nisa, Turkmenistan ke Ktesiphon di sepanjang Tigris (sebelah selatan Baghdad modern, Irak), meskipun beberapa tempat lainnya juga digunakan sebagai ibu kota.

Musuh awal Kekaisaran Parthia adalah adalah Kekaisaran Seleukia di barat dan bangsa Skythia di timur. Akan tetapi, seiring Partia meluas ke arah barat, mereka mulai menghadapi konflik dengan Kerajaan Armenia, dan pada akhirnya dengan Republik Romawi akhir. Romawi dan Parthia bersaing satu sama lain untuk menjadikan raja-raja Armenia sebagai klien bawahan mereka. Parthia dengan mudah mengalahkan Marcus Licinius Crassus pada Pertempuran Carrhae pada tahun 53 SM, dan pada tahun 40–39 SM, pasukan Parthia merebut seluruh Levant, kecuali Tyre, dari kekuasaan Romawi. Akan tetapi, Markus Antonius memimpin serangan balasan terhadap Parthia dan beberapa kaisar Romawi menginvasi Mesopotamia selama Perang Romawi-Parthia. Romawi beberapa kali menaklukkan Kota Seleukia dan Ktesiphon selama konflik tersebut, namun tidak pernah mampu menguasainya untuk waktu yang lama. Perang saudara yang sering terjadi antara para pesaing takhta Parthia terbukti lebih berbahaya daripada invasi asing, dan kekuasaan Parthia runtuh ketika Ardashir I, penguasa Estakhr di Fars, memberontak terhadap Parthia dan membunuh pemimpin terakhir mereka, Artabanos IV, pada tahun 224 M. Ardashir mendirikan Kekaisaran Sassaniyah, yang berkuasa di Iran dan Timur Dekat hingga penaklukan Muslim pada abad ke-7 M, meskipun dinasti Arsakid tetap bertahan melalui Dinasti Arsakid Armenia.

Sumber-sumber asli Parthia, yang ditulis dalam bahasa Parthia, bahasa Yunani dan bahasa-bahasa lainnya, sangat sedikit jumlahnya dibanding sumber Sassaniyah dan bahkan Akhemeniyah, yang berasal dari masa yang lebih awal. Selain lembaran kuneiform, fragmen ostraka, prasasti batu, koin drakhma, dan dokumen perkamen, sebagian besar sejarah Parthia diketahui dari sumber-sumber luar, yang terutama meliputi catatan sejarah Yunani dan Romawi, juga catatan sejarah Cina karena Parthia menjadi pasar bagi barang-barang Cina. Karya seni Parthia oleh para sejarawan dianggap sebagai sumber valid untuk memahami beragam aspek dalam masyarakat dan kebudayaan yang tidak terdapat dalam sumber tulisan.

Sejarah Kekaisaran Parthia

Sebelum Arsaces I dari Parthia mendirikan Dinasti Arsacid, dia menjabat sebagai kepala suku dari kaum Parni, sebuah suku orang Iran kuno dari Asia Tengah dan salah satu dari beberapa suku nomaden di dalam konfederasi Dahae. Kaum Parni kemungkinan besar menggunakan Bahasa Iran Timur, kebalikan dari Bahasa Iran Barat yang pada saat itu digunakan di daerah Parthia. Parthia sendiri merupakan Provinsi yang letaknya ada di Timur Laut, dahulunya di bawah kekuasaan Kekaisaran Achaemenid, dan selanjutnya Kekaisaran Seleukia. Setelah menaklukkan daerah tersebut, kaum Parni kemudian mengadopsi Bahasa Parthia sebagai bahasa resmi kerajaan, digunakan bersama-sama dengan Bahasa Persia Tengah, Bahasa Aramaic, Bahasa Yunani, Bahasa Akkadia, Bahasa Sogdia dan bahasa-bahasa lainnya di dalam daerah-daerah multibahasa yang mereka akan taklukkan nantinya.

Kekaisaran Sasaniyah

Kekaisaran Persia Sassania (bahasa Persia: دودمان ساساني) (diucapkan [ˈsæsənɪd]; disebut juga Kekaisaran Sassania, Kekaisaran Sasania, atau Kekaisaran Sassaniyah) adalah kekaisaran bangsa Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia yang kedua. Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir dan dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M. Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.

Kekaisaran Sassania didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV (bahasa Persia: اردوان, Ardavan); dan kekaisaran ini berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sasania terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yaitu pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah kekaisaran ini meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, bagian timur Turki, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasia, Asia Tengah dan Arabia. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Libanon juga sementara waktu merupakan wilayah kekaisaran ini.

Bangsa Sassania menamakan kerajaan mereka Eranshahr Eranshahr.svg (Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia Baru. Masa kekuasaan Sassania terbentang sepanjang periode Abad Kuno Akhir (bahasa Inggris: Late Antiquity), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sassania menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, veksiloid Kekaisaran Sassania adalah Derafsh Kaviani. Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sassania melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya adalah di Asia Tengah.

Persia memiliki pengaruh yang cukup besar pada kebudayaan Romawi selama masa Sassania, dan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang pada alamatnya bertuliskan kata "kepada saudaraku". Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, Afrika, Cina, dan India, serta berperan penting dalam pembentukan seni-seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania.

Sejarah

Asal mula dan sejarah awal (205–310)
Dinasti Sassania didirikan oleh Ardashir I (226–241), seorang keturunan kaum pendeta Dewi Anahita di Istakhr, Pars (Fars), yang pada awal abad ke-3 telah berhasil menjadi gubernur wilayah tersebut. Ayahnya Pabag (juga disebut Papak atau Babak), awalnya adalah penguasa kota kecil bernama Kheir. Ia tahun 205 berhasil menggulingkan Gocihr, raja terakhir dinasti Bazrangid (yaitu penguasa lokal Pars yang merupakan sekutu dari Parthia) dan mengangkat dirinya sendiri menjadi penguasa baru. Ibunya, Rodhagh, adalah putri dari gubernur provinsi Persis. Nama dinasti ini sendiri berasal dari kakek pihak ayah Ardashir I, yaitu Sassan, seorang pendeta besar Kuil Anahita.

Usaha Pabag menguasai daerah tersebut pada awalnya luput dari perhatian kaisar dinasti Ashkâniâ Artabanus IV, yang saat itu sedang terlibat perseteruan dinasti dengan saudaranya Vologases (Walakhsh) VI di Mesopotamia. Dengan menggunakan peluang yang tercipta karena terjadinya perseteruan tersebut, Pabag dan anak tertuanya Shapur berhasil memperluas kekuasaan mereka ke seluruh Persis. Kejadian-kejadian selanjutnya tidak begitu jelas, karena sedikitnya sumber-sumber sejarah. Meskipun demikian sesuatu hal yang pasti ialah ketika Pabag meninggal tahun 220, Ardashir yang ketika itu adalah gubernur Darabgird terlibat dalam perebutan kekuasaan melawan kakaknya Shapur. Sumber-sumber sejarah menceritakan bahwa tahun 222, Shapur yang akan berangkat untuk menemui saudaranya tewas ketika atap sebuah bangunan runtuh menimpanya.

Ardashir kemudian memindahkan pusat kekuasaannya lebih jauh lagi ke selatan Persis, dan mendirikan ibukotanya di Ardashir-Khwarrah (dahulunya adalah Gur, saat ini adalah kota Firouzabad). Kota ini, yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan mudah dipertahanan melalui jalur-jalur tebing sempitnya, menjadi pusat dari berbagai usaha Ardashir dalam mengembangkan kekuasaannya. Kota ini dikelilingi oleh tembok kota yang tinggi dan melingkar, kemungkinan ditiru dari Darabgird, dan di bagian utara terdapat istana besar yang sisa-sisa bangunannya sekarang pun masih dapat dilihat.

Setelah membangun kekuasaannya atas Persis, Ardashir I dengan cepat meluaskan wilayahnya, menuntut upeti dari para penguasa lokal Fars, dan berhasil memperoleh kendali atas provinsi-provinsi sekitarnya yaitu Kerman, Isfahan, Susiana, dan Mesene. Perluasan kekuasaan ini segera saja menarik perhatian Artabanus IV (216–224), yaitu penguasa atasan (overlord) Ardashir I. Artabanus IV awalnya memerintahkan gubernur Khuzestan untuk menyerang Ardashir pada tahun 224, akan tetapi ini berakhir dengan kemenangan besar bagi Ardashir. Artabanus sendiri akhirnya memimpin penyerangan kedua atas Ardashir I pada tahun 224. Pasukan keduanya bertempur di Hormizdeghan, dan Artabanus IV tewas terbunuh. Ardashir I terus melanjutkan menyerang provinsi-provinsi sebelah barat Kekaisaran Parthia (Ashkâniâ) yang telah tumbang itu. Tahun 226, Ardashir I dimahkotai di Ctesiphon sebagai penguasa tunggal Persia, mengambil gelar Syahansyah, atau "Raja Segala Raja" (berbagai prasasti juga menyebutkan tokoh Adhur-Anahid sebagai "Ratu Segala Ratu", tetapi hubungannya dengan Ardashir belum dapat dipastikan). Dengan demikian, berakhirlah Kekaisaran Parthia yang telah berumur 400 tahun dan dimulailah pemerintahan Sassania yang akan berlangsung selama empat abad.

Dalam beberapa tahun selanjutnya, dan setelah melalui pemberontakan lokal di beberapa tempat, Ardashir I melanjutkan meluaskan kekaisaran barunya tersebut ke arah timur dan barat laut. Ia menaklukkan provinsi-provinsi Sistan, Gorgan, Khorasan, Margiana (sekarang di Turkmenistan), Balkh, dan Khwarezmi. Ia juga berhasil menaklukkan Bahrain dan Mosul ke dalam kekuasaan Sassania. Prasasti-prasasti Sassania terkemudian juga mengklaim menyerahnya para raja Kushan, Turan, dan Mekran kepada Ardashir, meskipun bila dilihat dari bukti numismatik, lebih mungkin bahwa mereka menyerah kepada anak Ardashir, yaitu Shapur I. Di sisi lain, penyerangan-penyerangan Ardashir ke arah barat terhadap Hatra, Armenia, dan Adiabene tidaklah terlalu berhasil. Tahun 230, ia menyerbu jauh ke dalam wilayah kekuasaan Romawi, dan serangan balasan Romawi dua tahun kemudian berakhir tanpa kemenangan yang jelas.

Putra Ardashir I, Shapur I (241–272), melanjutkan ekspansi kekaisaran dengan menaklukkan Baktria dan bagian barat dari Kekaisaran Kushan, serta melakukan beberapa penyerangan terhadap Romawi. Ketika menyerbu bagian Mesopotamia yang dikuasai Romawi, Shapur I berhasil merebut Carrhae dan Nisibis, akan tetapi jenderal Romawi Timesitheus tahun 243 mengalahkan tentara Persia di Rhesaina dan memperoleh kembali wilayah-wilayah yang hilang. Kaisar Romawi Gordian III (238–244) yang selanjutnya bergerak untuk menguasai hilir sungai Eufrat berhasil dikalahkan di Meshike (244), menyebabkan Gordian dibunuh oleh pasukannya sendiri; dan Shapur berhasil memperoleh perjanjian perdamaian dengan kondisi yang sangat menguntungkan dari kaisar baru Romawi Philip Si Arab (244–249). Shapur mendapatkan pembayaran sebesar 500.000 denari beserta pembayaran bulanan selanjutnya. Shapur segera saja melanjutkan perang dan mengalahkan tentara Romawi pada Barbalissos (252), kemudian menyerbu Syria dan menaklukkan Antiokhia (253 atau 256). Serangan balasan Romawi di bawah Kaisar Valerian (253–260) berakhir dengan kehancuran, saat pasukan Romawi dikalahkan dan dikepung pada Edessa dan Valerian secara licik ditangkap oleh Shapur pada perundingan perdamaian, dan menjadi tawanan Shapur sepanjang hidupnya. Shapur I merayakan kemenangannya dan keberhasilan luar biasanya menangkap seorang kaisar Romawi dengan relief-relief batu di Naqsh-e Rostam dan Bishapur, serta prasasti monumental dalam bahasa Persia dan Yunani di daerah sekitar Persepolis. Ia terus saja berusaha melanjutkan kesuksesannya dengan bergerak menuju Anatolia (260), akan tetapi berakhir dengan kemundurannya yang berantakan karena kekalahannya di tangan tentara Romawi dan sekutunya Palmyra, yang dipimpin oleh Odaenathus. Selir-selir Shapur tertangkap, serta seluruh wilayah Romawi yang sebelumnya dikuasainya juga terlepas kembali.

Shapur I melaksanakan berbagai rencana pembangunan secara intensif. Ia mendirikan banyak kota, yang sebagian penduduknya adalah imigran yang berasal dari berbagai wilayah Romawi. Di antara para imigran terdapat kaum Kristen, yang memperoleh kebebasan menjalankan ajaran agamanya di bawah pemerintahan Sassania. Dua kota, yaitu Bishapur dan Nishapur dinamakan berdasarkan namanya. Shapur I secara khusus mendukung Manikheisme. Ia melindungi Mani (yang mendedikasikan salah satu kitabnya, Shabuhragan, untuk Shapur I) dan mengirimkan banyak misionaris Manikheisme sampai ke luar wilayahnya. Shapur I juga menjalin persahabatan dengan rabbi Babilonia yang bernama Shmuel. Persahabatan ini menyebabkan komunitas Yahudi setempat memperoleh sedikit kelonggaran dari penerapan berbagai hukum yang menekan, yang dikenakan kepada mereka.

Raja-raja selanjutnya menerapkan kebijakan yang berkebalikan dari Shapur I mengenai toleransi agama. Penerus Shapur I, Bahram I (273–276) menghukum Mani dan para pengikutnya berdasarkan desakan dari pendeta Magi Zoroaster. Bahram I memenjarakan Mani dan memerintahkan untuk membunuhnya. Menurut sebuah legenda, Mani meninggal di penjara ketika sedang menunggu eksekusinya, sedangkan menurut cerita lainnya ia disiksa dan dipenggal.

Selanjutnya Bahram II (276–293) meneruskan kebijakan ayahnya dalam masalah agama. Pada masa pemerintahannya, ibukota Sassania Ctesiphon mengalami penghancuran oleh Romawi, yaitu di bawah pimpinan kaisar Romawi Carus (282–283). Demikian pula sebagian besar wilayah Armenia, yang selama setengah abad berada dalam penguasaan Persia, pada masa pemerintahannya diserahkan kepada Diocletian (284–305).

Bahram III hanya memerintah secara singkat (293), dan penerusnya Narseh (293–302) kemudian kembali mengobarkan pertempuran terhadap Romawi. Setelah mengalami kesuksesan awal terhadap Kaisar Galerius (293–305 sebagai Caesar, 305–311 sebagai Augustus) pada pertempuran di dekat Callinicum di Sungai Euphrates tahun 296, Narseh secara meyakinkan berhasil dikalahkan dalam penyergapan ketika ia sedang bersama haremnya di Armenia tahun 297. Dalam perjanjian yang mengakhiri perang ini, Sassania setuju menyerahkan lima provinsi di sebelah timur Sungai Tigris dan bersedia untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Armenia dan Georgia. Setelah kekalahan yang menghancurkan ini, Narseh mengundurkan diri tahun 301 dan meninggal dalam kesedihan setahun kemudian. Putra Narseh, Hormizd II (302–309), kemudian naik tahta. Meskipun ia berhasil menekan pemberontakan di Sistan dan Kushan, Hormizd II juga seorang penguasa yang lemah, dan ia tidak mampu mengontrol para bangsawan. Ia terbunuh oleh serangan suku Badui ketika sedang berburu pada tahun 309.

Kerajaan Iberia

SIberia (bahasa Georgia — იბერია, bahasa Latin: Iberia dan bahasa Yunani kuno: Ἰβηρία), dikenal pula sebagai Iveria (bahasa Georgia: ივერია), adalah nama yang diberikan oleh orang Yunani dan Romawi kuno kepada Kerajaan Georgia Kartli (abad ke-4 hingga abad ke-5 M), berkaitan dengan bagian timur dan barat dari Goergia modern. istilah Iberia Kaukasus (atau Iberia Timur) digunakan untuk membedakannya dari Semenanjung Iberia, di mana terdapat negara Spanyol, Portugal, Gibraltar dan Andorra.

Orang Iberia Kaukasus menjadi basis untuk kenegaraan Georgia pada masa selanjutnya dan, bersama dengan Kolkhis (negara Georgia barat awal) menjadi inti dari bangsa Georgia (atau Kartvelia) modern.

Sejarah awal
Area ini dihuni pada masa awal oleh beberapa suku yang saling berkerabat dalam kebudayaan Kura-Araxes, yang secara kolektif disebut bangsa Iberia (bangsa Iberia Timur) oleh para sejarawan kuno. Penduduk lokal menyebut negara mereka Kartli berdasarakan nama seorang pemimpin mitos, Kartlos. Suku Moschi, yang disebutkan oleh beragam sejarawan klasik, dan kemungkinan keturunan mereka, yaitu suku Sasper (yang disebutkan oleh Herodotos), kemungkinan memainkan peranan penting dalam konsolidasi suku-suku yang menghuni daerah tersebut. Suku Moschi bergerak pelan ke timur laut dan mendirikan pemukiman di sepanjang perjalanan mereka. Pemukiman utamanya adalah Mtskheta, yang kelak menjadi ibukota kerajaan Georgia. Suku Mtskheta di kemudian hari dipimpin oleh pemimpin yang oleh penduduk lokal dikenal sebagai mamasakhlisi (“bapak rumah tangga” dalam bahasa Georgia).

Sumber Georgia dari Abad Pertengahan, Moktsevai Kartlisai (“Konversi Kartli”) juga menceritakan tentang Azo dan rakyatnya, yang datang dari Arian-Kartli – tempat awal dari bangsa proto-Iberia, yang dikuasai oleh Kekaisaran Akhemenia (Persia) hingga kekaisaran tersebut runtuh – untuk menetap di situs di mana Mtskheta akan didirikan. Risalah Georgai lainnya Kartlis Tskhovreba (“Sejarah Kartli”) mengklaim bahwa Azo adalah perwira dalam pasukan Aleksander Agung, yang membantai sebuah keluarga penguasa lokal dan menaklukan wilayah tersebut, hingga akhirnya dikalahkan pada akhir abad ke-4 SM oleh Pangeran Pharnavaz, yang ketika itu merupakan kepala suku lokal.

Kisah mengenai invasi Aleksander ke Kartli, meskipun seluruhnya fiktif, mencerminkan berdirinya monarki Georgia pada periode Hellenistik dan keinginan para penulis Georgia pada masa selanjutnya untuk menghubungkan peristiwa tersebut dengan Aleksander, yang merupakan seorang penguasa yang terkenal.

Diansti Pharnavazid

Pharnavaz, yang berhasil memenangkan persaingan kekuasaan, menjadi Raja Iberia pertama (sek. 302 - sek. 237 SM). Menghalau sebuah invasi, ia berhasil menduduki wilayah di sekitarnya, termasuk bagian yang besar dari negara Georgia barat Kolkhis (secara lokal dikenal sebagai Egrisi), dan tampaknya mampu membuat negaranya yang baru berdiri untuk diakui oleh Kekaisaran Seleukia di Suriah. Pharnavaz kemudian berfokus pada proyek-proyek sosial, termasuk membangun citadel di ibukota, yaitu Armaztsikhe, dan patung dewa Armazi. Ia juga mereformasi bahasa tulis Georgia, dan menciptakan sistem adminsitrasi baru, membagi negara menjadi beberapa county yang disebut saeristavo. Para penerusnya berhasil menguasai celah pegunungan di Kaukasus dengan Daryal (dikenal pula sebagai Gerbang Iberia) menjadi celah yang yang paling penting.

Setelah mengalami masa kemakmuran, Iberia menderita peperangan yang tak kunjung henti ketika mereka dipaksa bertahan menghadapi banyaknya serbuan ke wilayahnya. Sebagian wilayah Iberia, yang direbut dari Kerajaan Armenia, pada abad ke-2 SM direbut kembali oleh Armenia, sedangkan daerah Kolkhis memisahkan diri untuk kemudian mendirikan kepangeranan terpisah (sceptuchoi). Pada akhir abad ke-2 SM, Raja Dinasti Pharnavazid, Farnadjom digulingkan oleh rakyatnya sendiri dan tahta kerajaan diserahkan kepada pangeran Armenia Arshak yang naik tahta sebagai penguasa Iberia pada 93 SM, dan mendirikan dinasti Arshakid.

Periode Romawi

Karena memiliki kedekatan dengan Armenia dan Pontos, Iberia pun diserbu pada tahun 65 SM oleh jenderal Romawi, Pompeius, yang ketika itu sedang berperang dengan Mithradates VI dari Pontos, dan Armenia. Akan tetapi Romawi tidak menaklukan Iberia secara permanen. Sembilan belas tahun kemudian, Romawi lagi-lagi bergerak menuju Iberia (36 SM) dan memaksa Raja Pharnavaz II untuk bergabung dakam kampanye Romawi melawan Albania. Sementara kerajaan Georgia lainnya di Kolkhis dijadikan provinsi Romawi, Iberia menerima perlindungan imperial Romawi. Sebuah prasasti batu ditemukan di Mtskheta dan menggambarkan penguasa abad ke-1, Mihdrat I (58-106 M) sebagai "sahabat para Kaisar" dan raja dari "rakyat Iberia yang menyayangi Romawi." Kaisar Vespasianus membentengi situs kuno Arzami Mtskheta untuk para raja Iberia pada tahun 75 M.

Selama dua abad berikutnya, terjadi keberlanjutan pengaruh Romawi di daerah tersebut, namun pada masa pemerintahan Raja Pharsman II (116 – 132 M) Iberia memperoleh sebagian kekuasannya. Hubungan antara Kaisar Romawi, Hadrianus dengan Pharsman II menjadi tengang, meskipun Hadrianus dikatakan ingin menenangkan Pharsman. Akan tetapi, baru pada masa penerus Hadrianus, yaitu Antoninus Pius, bahwa hubungan ini membaik, bahkan hingga Pharsman dikatakan mengunjungi Roma, di mana Dio Cassius melaporkan bahwa sebuah patung dibuat untuk menghormatinya dan bahwa diberikan hak untuk berkurban. Periode ini membawa perubahan besar bagi status politik Iberia karena Romawi mengakui Iberia sebagai sekutu, alih-alih status lama mereka sebagai negara bawahan, sebuah situasi politik yang tetap sama, bahkan semasa pertikaian antara Kekaisaran Romawi dengan Parthia.

Antara Romawi dan Persia

Peristiwa yang menentukan bagi sejarah Iberia adalah berdirinya Kekaisaran Sassania pada tahun 224 SM. Dengan bergantinya kekuasaan Parthia yang lemah dengan sebuah negara yang terpusat dan kuat, orientasi politik Iberia pun berpindah dari Kekaisaran Romawi. Iberia menjadi negara upeti bagi Sassania selama masa pemerintahan Syapur I (241-272 M). Hubungan antara dua negara ini tampaknya ramah pada awalnya, karena Iberia ikut membantu Sassania dalam kampanyenya melawan Romawi, dan raja Iberia Amazasp III (260-265 M) dinyatakan sebagai petinggi negara Sassania, bukan seorang bawahan yang ditaklukan melalui kekerasan. Namun kecenderungan agresfi Sassania terjadi ketika mereka menyebarkan Zoroastrianisme di Iberia antara tahun 260-an dan 290-an M.

Akan tetapi dalam Perdamaian Nisibis (298 M) ketika Kekaisaran Romawi menguasai Iberia Kaukasus lagi sebagai negara bawahan dan mengakui pemerintahan di seluruh area Kaukasus, Romawi mengakui Mirian III, raja pertama dari dinasti Khosroid, sebagai Raja Iberia.

Iran

Sejarah Iran, yang lazim disebut Persia oleh dunia Barat, merupakan bagian dari sejarah sebuah kawasan luas yang dikenal dengan sebutan Iran Raya. Iran Raya atau Persia Raya membentang dari Anatolia, Bosforus, dan Mesir di sebelah barat sampai ke perbatasan dengan India Kuno dan Syr Darya di sebelah timur, serta dari Kaukasus dan Stepa Eurasia di sebelah utara sampai ke Teluk Persia dan Teluk Oman di sebelah selatan.

Iran adalah lokasi dari salah satu peradaban besar dunia yang tertua dan berkesinambungan, dengan pemukiman-pemukiman perkotaan bersejarah yang bermula sejak 4000 SM. Bagian barat dan barat daya dari dataran tinggi Iran turut berperan dalam sejarah Timur Dekat Kuno sejak permulaan Zaman Perunggu, dimulai dari bangsa Elam dan kemudian bangsa-bangsa lain seperti Kass, Mannea, dan Guti. Georg Wilhelm Friedrich Hegel menjuluki bangsa Persia sebagai Bangsa bersejarah yang pertama. Bangsa Mede mempersatukan seluruh Iran menjadi satu bangsa dan satu kekaisaran pada 625 SM. Kekaisaran Akhaimenia (550–330 SM) yang didirikan oleh Koresy Agung adalah kekaisaran pertama bangsa Persia, membentang dari Balkan sampai ke Afrika Utara dan Asia Tengah, meliputi tiga benua, dan berpusat di Persis (Persepolis). Inilah kekaisaran terbesar pertama sekaligus kekaisaran pertama di dunia. Kekaisaran Persia yang pertama ini adalah satu-satunya peradaban sepanjang sejarah dunia yang merangkum lebih dari 40% populasi global, yakni sekitar 49,4 juta jiwa dari keseluruhan populasi dunia yang berjumlah 112,4 juta jiwa sekitar tahun 480 SM. Kekaisaran Akhaimenia kelak digantikan oleh Kekaisaran Seleukia, Parthia, dan Sasania, yang berturut-turut menguasai Iran hampir 1000 tahun lamanya dan menjadikan Iran sekali lagi bangkit sebagai sebuah negara adikuasa di dunia. Seteru utama Persia adalah Kekaisaran Romawi serta penggantinya, Kekaisaran Bizantium.

Kekaisaran Persia bermula sejak Zaman Besi, seiring arus kedatangan bangsa Iran ke wilayah itu. Bangsa Iran kelak menurunkan bangsa Mede, kekaisaran Akhaimenia, Parthia, dan Sasania di Zaman Klasik.

Meskipun suatu ketika menjadi kekaisaran besar yang adikuasa setelah menaklukkan wilayah yang sangat luas, Iran pun pernah mengalami invasi, yakni oleh bangsa Yunani, bangsa Arab, bangsa Turk, dan bangsa Mongol. Iran terus-menerus menegaskan kembali jati diri bangsanya dari abad ke abad dan telah berkembang menjadi sebuah entitas politik dan budaya yang khas.

Penaklukan kaum Muslim atas Persia (633–656) merupakan akhir bagi Kekaisaran Sasania sekaligus menjadi titik balik dalam sejarah bangsa Iran. Islamisasi Iran yang berlangsung dari abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi pada akhirnya meredupkan Ajaran Zoroaster di Iran dan daerah-daerah bawahannya. Sekalipun demikian, pencapaian-pencapaian peradaban Persia sebelumnya tidak punah begitu saja, tetapi hampir sepenuhnya diserap oleh peradaban dan pemerintahan Islam yang baru.

Iran, dengan sejarah panjang peradaban dan kekaisarannya, mengalami penderitaan besar di akhir Abad Pertengahan dan permulaan zaman modern. Banyaknya invasi suku-suku pengembara, yang pemimpin-pemimpinnya berhasil menjadi penguasa Iran, telah berdampak negatif pada negeri ini.

Iran sekali lagi dipersatukan menjadi sebuah negara pada 1501 oleh wangsa Safawi, yang mengalihkan mazhab agama Islam di Iran dari Sunni ke Syi'ah sebagai agama resmi kekaisaran. Keputusan ini merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah Islam. Kembali menjadi sebuah negara adikuasa, yang kali ini berdampingan dengan negara adikuasa lain yakni Kekaisaran Osmanli, seteru utama mereka selama berabad-abad, Iran menjadi sebuah negara monarki dipimpin seorang kaisar yang nyaris tak terputus sejak 1501 sampai Revolusi Iran pada 1979, ketika Iran secara resmi menjadi sebuah Republik Islam pada 1 April 1979.

Sepanjang paruh pertama abad ke-19 Iran kehilangan wilayah luas di Kaukasus (silih-berganti lepas dan kembali ke dalam kekuasaan Iran dalam rentang waktu ribuan tahun), meliputi kawasan timur Georgia, Dagestan, Azerbaijan, dan Armenia sekarang ini, yang jatuh ke tangan Kekaisaran Rusia, tetangga sekaligus saingannya yang dengan pesat bertumbuh dan berekspansi, setelah Perang Rusia-Persia pada 1804–1813 dan 1826–1828.

Zaman Batu Tua

Artefak arkeologi terawal di Iran ditemukan di situs Kasyafrud dan situs Ganj Par yang diduga berumur 100.000 tahun dari pertengahan Zaman Batu Tua. Alat-alat batuMousterian buatan Neandertal juga telah ditemukan. Terdapat lebih banyak lagi peninggalan peradaban Neandertal yang berasal dari pertengahan Zaman Batu Tua, yang sebagian besar ditemukan di daerah Zagros dan sebagian kecil ditemukan di Iran Tengah di situs-situs purbakala seperti Kobeh, Kunji, Gua Bisitun, Tamtama, Warwasi, dan Gua Yafteh. Pada 1949, seruas tulang pengumpil manusia Neanderthal ditemukan oleh Carleton S. Coon di Gua Bisitun. Bukti-bukti dari zaman penghujung Zaman Batu Tua dan zaman Epipaleolitikum yang diketahui sebagaian besar berasal dari Pegunungan Zagros di gua-gua Kermansyah dan Khorramabad serta sejumlah kecil situs purbakala di Alborz dan Iran Tengah.

Zaman Batu Muda sampai Zaman Tembaga

Di antara artefak-artefak purbakala dari Tepe Sarab di Provinsi Kermanshah, terdapat pula patung-patung mini manusia dan hewan berumur 10.000 tahun. Komunitas-komunitas pertanian seperti Chogha Golan pada 10.000 SM serta pemukiman-pemukiman seperti Chogha Bonut (desa terawal di Elam) pada 8000 SM, mulai berkembang di daerah Pegunungan Zagros dan sekitarnya di kawasan barat Iran. Sekitar waktu yang sama, di Ganj Dareh, masih di kawasan barat Iran, diproduksi bejana-bejana lempung dan patung-patung mini manusia dan hewan dari terakota terawal yang diketahui.

Kawasan barat daya Iran adalah bagian dari Hilal subur tempat sebagian besar tanaman pangan perdana umat manusia dibudidayakan, di desa-desa seperti Susa (tempat sebuah pemukiman mungkin pertama kali didirikan seawal 4395 cal SM) dan pemukiman-pemukiman seperti Chogha Mish, semenjak 6800 SM; berbuyung-buyung tuak anggur berumur 7.000 tahun yang ditemukan pada penggalian arkeologi di Pegunungan Zagros (kini dipajang di University of Pennsylvania) serta reruntuhan pemukiman-pemukiman berumur 7000 tahun seperti Tepe Sialk merupakan buktinya. Dua pemukiman bangsa Iran dari Zaman Batu Muda adalah Peradaban Sungai Zayandeh dan Ganj Dareh.

Zaman Perunggu

Informasi lebih lanjut: Tepe Sialk, Peradaban Jiroft, Elam, Peradaban Kura–Aras, Kekaisaran Akkadia, Bangsa Kass dan Bangsa Mannea
Beberapa tempat yang sekarang ini merupakan bagian dari kawasan barat laut Iran adalah bagian dari peradaban Kura–Aras (ca. 3400 SM — ca. 2000 SM), yang membentang sampai ke wilayah-wilayah terdekat yakni Kaukasus dan Anatolia.

Susa adalah salah satu pemukiman tertua yang diketahui baik di Iran maupun di dunia. Berdasarkan penentuan umur dengan uji C14, kota ini mulai ditempati semenjak 4395 SM, mendahului zaman peradaban di Mesopotamia. Sudah menjadi persepsi umum di kalangan arkeolog bahwa Susa merupakan bagian dari Uruk, negara kota bangsa Sumeria. Dalam perjalanan sejarahnya, Susa kemudian menjadi ibu kota Elam, yang muncul sebagai sebuah negara pada 4000 SM. Ada pula lusinan situs prasejarah di seluruh dataran tinggi Iran yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan peradaban-peradaban dan pemukiman-pemukiman perkotaan kuno pada milenium ke-4 SM.

Salah satu peradaban terawal di dataran tinggi Iran adalah peradaban Jiroft di kawasan tenggara Iran, dalam wilayah Provinsi Kerman. Situs Jiroft adalah salah satu situs arkeologi yang paling kaya akan artefak di Timur Tengah. Penggalian-penggalian arkeologi di Jiroft berhasil menemukan beberapa benda yang berasal dari milenium ke-4 SM. Terdapat sejumlah besar benda berhiaskan ukiran-ukiran hewan, makhluk-makhluk mitologi, dan motif-motif arsitektur yang memiliki ciri khas tersendiri. Benda-benda beserta hiasan-hiasan yang terdapat padanya itu tidak memiliki kemiripan dengan apa pun yang pernah dilihat para arkeolog. Banyak di antaranya yang terbuat dari klorit, sejenis batu lunak berwarna kelabu kehijauan; benda-benda lain terbuat dari tembaga, perunggu, terakota, dan bahkan lapis lazuli. Penggalian-penggalian yang belum lama ini dilakukan di situs-situs itu berhasil menemukan peninggalan tertulis terawal yang mendahului prasasti-prasasti Mesopotamia.

Terdapat keterangan-keterangan tertulis tentang banyak peradaban kuno lain di dataran tinggi Iran sebelum kemunculan bangsa Iran pada permulaan Zaman Besi. Pada permulaan Zaman Perunggu terjadi kenaikan urbanisasi ke negara-negara kota terorganisir, dan penemuan tulisan (Zaman Uruk) di Timur Dekat. Meskipun Elam di Zaman Perunggu mempergunakan tulisan dari masa-masa sebelumnya, aksara Proto-Elam masih belum terpahami, dan keterangan-keterangan tertulis dari Sumer mengenai Elam pun langka.

Sejarawan Rusia, Igor M. Diakonoff, berpendapat bahwa populasi dataran tinggi Iran sekarang ini kebanyakan adalah keturunan dari puak-puak non-Persia: "Bahwasanya pribumi dataran tinggi Iranlah, bukannya suku-suku Proto-Indo-Eropa dari Eropa, yang merupakan nenek moyang utama, dalam arti fisik, dari bangsa Iran yang ada sekarang ini."

Permulaan Zaman Besi 

Keterangan-keterangan tertulis bertambah banyak seiring bangkitnya Kekaisaran Asiria Baru yang mencatat mengenai tindakan-tindakan penerobosan dari dataran tinggi Iran. Seawal abad ke-20 SM, suku-suku berdatangan ke dataran tinggi Iran dari Stepa Pontus–Kaspia. Kedatangan bangsa Iran ke dataran tinggi Iran memaksa bangsa Elam melepas satu demi satu daerah-daerah kekuasaannya dan berlindung di Elam, Khuzestan dan sekitarnya, yang baru semenjak itu bertumpang-tindih wilayah dengan Elam. Bahman Firuzmandi berpendapat bahwa bangsa Iran selatan mungkin saja berbaur dengan bangsa Elam yang mendiami dataran tinggi Iran. Menjelang pertengahan milenium pertama SM, bangsa Media, Persia, dan Parthia meramaikan dataran tinggi Iran. Sampai dengan bangkitnya bangsa Media, kesemuanya tunduk di bawah ketuanan Asiria, sebagaimana halnya dengan seluruh Timur Dekat. Pada paruh pertama dari milenium pertama SM, wilayah-wilayah yang kini menjadi Azerbaijan Iran dipersatukan dengan Urartu.

Kekaisaran Persia.

Kekaisaran Persia (Persia: امپراتوری ایران) adalah sejumlah kekaisaran bersejarah yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Saat ini, istilah Persia sering merujuk kepada Iran; Persia digunakan untuk isu sejarah, dan kebudayaan, dan Iran digunakan untuk isu politik. Bangsa yang dikemudian hari memproklamirkan diri sebagai Republik Islam Iran ini didominasi oleh Syi'ah.

Peta Kekuasaan Persia Persian Empire Map - berbagaireviews.com

Kekaisaran Persia adalah sejumlah kekaisaran bersejarah yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Saat ini nama Persia dan Iran sudah menjadi kebiasaan; Persia digunakan untuk isu sejarah dan kebudayaan dan Iran digunakan untuk isu politik.

Sejarah Pendiri Kerajaan Persia.

Dia ini Cyrus Yang Agung pendiri Kekaisaran Persia. Mulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia menghalau melalui kemenangan-kemenangan pertempuran yang cemerlangan. Tiga kerajaan besar (Medes, Lydian, dan Babilon), dan menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai India hingga Laut Tengah. Cyrus (atau Kurush nama Persinya) dilahirkan sekitar tahun 590 SM di propinsi Persis (kini Fars), di barat daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan propinsi Kerajaan Medes. Cyrus berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan Raja Medes. Tradisi yang timbul belakangan bikin dongeng menarik menyangkut diri Cyrus ini, seakan-akan mengingatkan orang akan dongeng Yunani mengenai Raja Oedipus. Menurut dongeng ini, Cyrus adalah cucu Astyages Raja Medes.

Sebelum Cyrus lahir, Astyages mimpi bahwa cucunya suatu saat akan menghalaunya dari tahta. Raja keluarkan perintah supaya semua bayi yang baru lahir dibunuh habis. Tetapi, pejabat yang dipercaya melakukan pembunuhan itu tak sampai hati melakukan pembunuhan durjana itu, tetapi diteruskannya perintah itu kepada penggembala dan istrinya supaya melaksanakannya. Namun mereka ini pun tak sampai hati. Mereka bukannya membunuh bayi lelaki melainkan memeliharanya sebagai anak sendiri. Akhirnya, ketika sang bocah tumbuh dewasa, memang betul-betul dia menumbangkan raja dari tahtanya.

Bangsa Medes dan Persia berdekatan satu sama lain, baik disebabkan asal-usul maupun persamaan bahasa. Karena Cyrus tetap meneruskan sebagian besar hukum-hukum Medes dan sebagian besar prosedur administrasi pemerintahan, kemenangannya atas Medes hanyalah merupakan sekedar perubahan dinasti dan bukannya suatu penaklukan oleh bangsa asing. Tetapi, Cyrus segera menampakkan keinginannya melakukan penaklukan ke luar. Sasaran pertamanya adalah Kerajaan Lydian di Asia Kecil, dikuasai oleh Raja Croesus, seorang yang kekayaannya seperti dongeng. Besi Cyrus tak ada artinya jika dibandingkan emasnya Croesus.


Menjelang tahun 546 SM Cyrus menaklukkan Kerajaan Lydian dan menjebloskan Croesus ke dalam bui. Cyrus kemudian mengalihkan perhatiannya ke jurusan timur, dan dalam serentetan pertempuran, dia taklukkan semua bagian timur Iran dan dimasukkannya ke dalam wilayah kekuasaan kerajaannya. Pada tahun 540 SM, Kekaisaran Persia membentang ke timur sejauh Sungai Indus dan Jaxartes (kini Syr Darya di Asia Tengah). Dengan terlindungnya bagian belakang. Cyrus dapat memusatkan perhatian pada yang paling berharga dari segalanya. Kekaisaran Babylon yang makmur loh jinawi, terletak di pusat Mesopotamia tetapi dapat mengawasi segenap daerah “bulan sabit subur” (Fertile Crescent) Timur Tengah. Tidak seperti Cyrus, penguasa Babylon Nabonidus tidaklah populer di kalangan rakyat. Tatkala tentara Cyrus maju bergerak, pasukan Babylon bertekuk di lutut Cyrus tanpa suatu perlawanan. Karena Kekaisaran Babylon meliputi juga Suriah dan Palestina, kedua daerah ini pun dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Cyrus. Cyrus mengabiskan waktu beberapa tahun untuk mengkonsolidasi penguasaannya dan mengorganisir kembali kekaisaran yang begitu besar yang telah direbutnya. Kemudian dia pimpin Angkatan Bersenjata menuju timur laut menaklukkan Massagetae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Caspia. Orang-orang Persia peroleh kemenangan pada saat-saat kontak senjata pertama. Tetapi pada pertempuran kedua, pertempuran tahun 529 SM, mereka terkalahkan dan Cyrus penguasa kekaisaran di dunia yang pernah ada saat itu terbunuh.

Kekaisaran Media dan Kekaisaran Akhemeniyah (3200SM – 330SM).

Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran, diikuti dengan peradaban Elam. Pada milenium kedua, dan ketiga, Bangsa Arya hijrah ke Iran, dan mendirikan kekaisaran pertama Iran, Kekaisaran Media (728SM-550SM). Kekaisaran ini telah menjadi simbol pendiri bangsa, dan juga kekaisaran Iran, yang disusul dengan Kekaisaran Akhemeniyah (648SM–330SM) yang didirikan oleh Koresh yang Agung.

Koresh Agung juga terkenal sebagai pemerintah pertama yang mewujudkan undang-undang mengenai hak-hak kemanusiaan, tertulis di atas artefak yang dikenal sebagai Silinder Koresh. Ia juga merupakan pemerintah pertama yang memakai gelar Agung dan juga Shah Iran. Di zamannya, perbudakan dilarang di kawasan-kawasan taklukannya (juga dikenal sebagai Kekaisaran Persia.) Gagasan ini kemudian memberi dampak yang besar pada peradaban-peradaban manusia setelah zamannya.

Kekaisaran Persia kemudian diperintah oleh Cambyses selama tujuh tahun (531SM - 522SM) dan kemangkatannya disusul dengan perebutan kuasa. Akhirnya Darius yang Agung (522SM -486SM) menang, dan dinyatakan sebagai raja.

Ibu kota Persia pada zaman Darius dipindahkan ke Susa dan ia mulai membangun Persepolis. Sebuah terusan di antara Sungai Nil dan Laut Merah turut dibangun, dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan Suez. Sistem jalan juga turut diperbaharui, dan sebuah jalan raya dibangun menghubungkan Susa, dan Sardis. Jalan raya ini dikenal sebagai Jalan Kerajaan.

Selain itu, mata uang syiling dalam bentuk daric (syiling emas) dan juga Shekel (syiling perak) diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahasa Persia Kuno turut diperkenalkan, dan diterbitkan di dalam prasasti-prasasti kerajaan.

Di bawah pemerintahan Koresh yang Agung, dan Darius yang Agung, Kekaisaran Persia menjadi sebuah kekaisaran yang terbesar, dan terkuat di dunia zaman itu. Pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan sikap toleransi, dan menghormati budaya-budaya, dan agama-agama lain di kawasan jajahannya.

Kekaisaran Seleukus (330SM ~ 248SM).

Pada tahun 330SM Kekaisaran Akhemeniyah diserang oleh Kerajaan Yunani yang di pimpin salah satu jenderal dari Alexander Agung yang bernama Seleukus dan lahirlah pemerintahan baru Persia yaitu Kekaisaran Seleukus dari Yunani. Seleukus mengangkat dirinya menjadi Kaisar setelah Alexander Agung wafat.

Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248SM – 224M).

Parthia bermula dengan Dinasti Arsacida yang menyatukan, dan memerintah dataran tinggi Iran, yang juga turut menaklukkan wilayah timur Yunani pada awal abad ketiga Masehi, dan juga Mesopotamia antara tahun 150 SM dan 224 M. Parthia juga merupakan musuh bebuyutan Romawi di sebelah timur, dan membatasi bahaya Romawi di Anatolia. Tentara-tentara Parthia terbagi atas dua kelompok berkuda, tentara berkuda yang berperisai, dan membawa senjata berat, dan tentara berkuda yang bersenjata ringan, dan kudanya lincah bergerak. Sementara itu, tentara Romawi terlalu bergantung kepada infantri, menyebabkan Romawi sukar untuk mengalahkan Parthia. Tetapi, Parthia kekurangan teknik dalam perang tawan, menyebabkan mereka sukar mengawal kawasan taklukan. Ini menyebabkan kedua belah pihak gagal mengalahkan satu sama lain. Kekaisaran Parthia tegak selama lima abad (Berakhir pada tahun 224 M,) dan raja terakhirnya kalah di tangan kekaisaran lindungannya, yaitu Sassania.

Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651).


Ardashir I, shah pertama Kekaisaran Sassania, mula membangun kembali ekonomi, dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Orang-orang Sassania menamakan kekaisaran mereka Erānshahr (atau Iranshوhr, "Penguasaan Orang Arya").

Sejarah Iran seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-Qâdisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzâd, seorang jenderal Persia, dikritik kerana keputusannya untuk berperang dengan orang Arab di bumi Arab sendiri. Kekalahan Sassania di Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan, dan akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh, dan kebudayaan Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia.


Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–1400).

Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada masa yang sama juga sebagai muslim. Pada abad ke-8 M, Parsi memberi bantuan kepada Abbassiyah memerangi tentara Umayyah, karena Bani Umayyah hanya mementingkan bangsa Arab, dan memandang rendah kepada orang Persia. Pada zaman Abbassiyah, orang-orang Persia mulai melibatkan diri dalam administrasi kerajaan. Sebagian mendirikan dinasti sendiri.

Pada abad kesembilan, dan kesepuluh, terdapat beberapa kebangkitan ashshobiyyah Persia yang menentang gagasan Arab sebagai Islam, dan Muslim. Tetapi kebangkitan ini tidak menentang identitas seorang Islam. Salah satu dampak kebangkitan ini ialah penggunaan bahasa Persia sebagai bahasa resmi Iran (hingga hari ini). Pada zaman ini juga, para ilmuwan Persia menciptakan Zaman Kegemilangan Islam. Sementara itu Persia menjadi tumpuan penyebaran ilmu sains, filsafat, dan teknik. Ini kemudian memengaruhi sains di Eropa, dan juga kebangkitan Renaissance. Bermula pada tahun 1220, Parsi dimasuki oleh tentera Mongolia di bawah pimpinan Genghis Khan, diikuti dengan Tamerlane, dimana kedua penjelajah ini menyebabkan kemusnahan yang parah di Persia.

Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran Modern (1501 – 1979).

Parsi mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun 1501. Dinasti Safawi kemudian menjadi salah sebuah penguasa dunia yang utama, dan mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran. Di bawah pemerintahannya, arsitektur Persia berkembang kembali, dan menyaksikan pembangunan monumen-monumen yang indah. Kejatuhan Safawi disusuli dengan Persia yang menjadi sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Britania (yang menggunakan pengaruh Dinasti Qajar). Namun begitu, Iran tetap melestarikan kemerdekaan, dan wilayah-wilayahnya, menjadikannya unik di rantau itu. Modernisasi Iran yang bermula pada lewat abad ke-19, membangkitkan keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Ini menyebabkan terjadinya Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga 1911. Pada tahun 1921, Reza Khan (juga dikenal sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta melalui perebutan kekuasaan dari Qajar yang semakin lemah. Sebagai penyokong modernisasi, Shah Reza memulai pembangunan industri modern, jalan kereta api, dan pendirian sistem pendidikan tinggi di Iran. Malangnya, sikap aristokratik, dan ketidakseimbangan pemulihan kemasyarakatan menyebabkan banyak rakyat Iran tidak puas.

Pada Perang Dunia II, tentara Inggris, dan Uni Soviet menyerang Iran dari 25 Agustus hingga 17 September 1941, untuk membatasi Blok Poros, dan menggagas infrastruktur penggalian minyak Iran. Blok Sekutu memaksa Shah untuk melantik anaknya, Mohammad Reza Pahlavi menggantikannya, dengan harapan Mohammad Reza menyokong mereka.


Malangnya, pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis. Dengan bantuan dari Amerika, dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran, tetapi pada masa yang sama menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan intelijennya, SAVAK. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi oposisi, dan pengkritik aktif terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza, dan kemudian ia dipenjarakan selama delapan belas bulan. Melalui nasihat jenderal Hassan Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri, dan diantar ke Turki dan selepas itu ke Irak.