Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 9, 2015

Makam Istri Firaun

Makam Ratu Mesir yang sebelumnya tidak diketahui dan ditemukan di area pekuburan piramida sebelah barat daya Kairo merupakan istri Firaun Neferefre. Penguasa di daratan Mesir ini pernah berjaya pada 4.500 tahun lalu.


Dilansir Livescience, pejabat setempat mengatakan bahwa makam tersebut ialah milik Queen Khentakawess III, istri dari Firaun Neferefre. Kuburan ratu ini ditemukan dalam komplek pemakaman Neferefre di Abu Sur.

Abu Sur merupakan daerah pekuburan yang didedikasikan untuk firaun yang ada di Dinasti Kelima dari Kerajaan Lama (2494 - 2345 sebelum masehi). Arkeolog dari Czech Institute of Egyptology mengatakan, ini merupakan penemuan nama Ratu Mesir dari yang sebelumnya tidak diketahui.

"Ini merupakan pertama kalinya kami menemukan nama dari ratu ini, yang tidak diketahui sebelum penemuan makamnya," terang Mamdouh al-Damaty dari Ministry of Antiquities.

Awalnya, arkeolog mengira bahwa nama Ratu Mesir ini ialah Khentakawess, tetapi rupanya Ratu Mesir ini ialah Khentakawess III. Nama dari Ratu Mesir ini terukir di dinding bagian makam, yang tampaknya dibuat oleh pendirinya.

Makam dengan batu prasasti itu juga mengidentifikasi bahwa Ratu Mesir ini sebagai "mother of the king", yang mengarah pada Pharaoh Menkauhor Kaiu. Pharaoh Menkauhor Kaiu ialah penguasa ketujuh dari Dinasti Kelima, yang berkuasa pada 2422 hingga 2414 sebelum masehi.

Di bagian atas permukaan tanah dari makam itu terdiri dari 'mastaba'. Mastaba merupakan struktur berbentuk persegi panjang datar beratap dengan sisi miring yang dibangun dari batu bata atau batu. Di makam tersebut, arkeolog menemukan dua lusin peralatan yang terbuat dari batu kapur dan tembaga.

Apr 1, 2015

Amerika Keturunan Kolonisasi Dan Perdagangan Budak

Analisis tim ilmuwan dari Oxford University telah menemukan jejak genetik perdagangan budak dan kolonisasi yang bermigrasi ke Amerika, terjadi ratusan tahun yang lalu. Studi ini berdasarkan perbandingan gen orang Amerika Utara dan Selatan saat ini dengan populasi Afrika dan Eropa.

Studi genetik ini telah mengungkap migrasi yang sebelumnya tidak diketahui, ilmuwan menemukan pendonor genetik dari Basque di wilayah Maya Meksiko modern. Hal ini menunjukkan bahwa Basque juga ikut dalam kolonisasi Amerika melalui kolonisasi Spanyol atau gelombang migrasi. Mereka juga menemukan perbedaan keturunan Eropa antara penduduk kepulauan Karibia dan populasi Amerika daratan, dan sangat mungkin perbedaan ini mencerminkan pola migrasi berbeda antara Karibia dan daratan Amerika.

Bukti Genetik Orang Amerika

Tim dari ilmuwan University College London dan Universita 'del Sacro Cuore Roma, mereka menganalisa lebih dari 4000 sampel DNA yang dikumpulkan sebelumnya dari 64 populasi berbeda. Sampel DNA meliputi beberapa lokasi di Eropa, Afrika dan Amerika. Menurut studi, migrasi secara umum berasal dari Afrika dan Eropa ke Amerika selama beberapa ratus tahun terakhir. Ilmuwan membandingkan pendonor DNA Afrika dan populasi Eropa dengan populasi Amerika sebagai penerima DNA. Tehnik ini untuk melacak asal usul nenek moyang Amerika Utara dan Selatan.

Dampak genetik terbesar dibawa melalui perdagangan budak yang akhirnya menjadi populasi Amerika. Mayoritas keturunan Afrika-Amerika memiliki keturunan yang mirip dengan orang-orang Yoruba di Afrika Barat. Semua ini menjelaskan bahwa sebagian besar budak Afrika berasal dari wilayah ini. Di daerah-daerah Amerika dibawah kekuasaan Spanyol, populasi ini juga memiliki keturunan yang berhubungan dengan Senegal dan Gambia. Sekitar sepertiga budak Spanyol-Amerika yang dikirim pada abad ke-17 berasal dari daerah ini, bukti genetik ini jelas ditemukan pada orang Amerika modern.

Menurut profesor Cristian Capelli dari Departemen Zoologi di Universitas Oxford, dalam stdui ini mereka menemukan bahwa profil genetik orang Amerika jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. Analisa ini menemukan bukti bahwa;

Spanyol menyumbang sebagian besar keturunan Eropa di Amerika Hispanik/Latino, sumber genetik orang Eropa dari Afrika-Amerika dan Barbadian berasal dari Inggris.
Basque adalah kelompok etnis berbeda yang tersebar saat ini di Spanyol dan Perancis, kelompok ini berkontribusi genetik kecil tapi berbeda dengan populasi Amerika Selatan, termasuk Maya di Meksiko.
Kepulauan Karibia-Puerto Rico dan Republik Dominika secara genetik mirip satu sama lain dan berbeda dari populasi lain, mungkin mencerminkan pola migrasi berbeda antara Karibia dan daratan Amerika.
Jika dibandingkan dengan Amerika Selatan, orang-orang Karibia seperti Barbados berkontribusi genetik lebih besar daripada Afrika.
Nenek moyang orang Yoruba dari Afrika Barat, mereka dikenal sebagai salah satu kelompok etnis Afrika terbesar, diduga pendonor gen Afrika terbesar ke semua penduduk Amerika.
Proporsi keturunan Afrika bervariasi diseluruh benua, dimulai dari hampir nol pada suku Maya Meksiko hingga 87 persen pada orang Barbados saat ini.
Italia selatan dan Sisilia juga menyumbang genetik pada orang Eropa yang kini signifikan hidup di Kolombia dan Puerto Rico, sejalan dengan sejarah imigran Italia ke Amerika pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Salah satu kelompok keturunan Afrika-Amerika di Amerika Serikat memiliki keturunan Perancis, dalam sejarah imigrasi Perancis bergerak ke Selatan Amerika Serikat.

Proporsi gen dari Eropa dibandingkan sumber Afrika bervariasi dari individu ke individu dalam populasi penerima.
Spanyol menyumbang sebagian besar keturunan Eropa di Amerika Hispanik/Latino, sumber genetik orang Eropa dari Afrika-Amerika dan Barbadian berasal dari Inggris.
Basque adalah kelompok etnis berbeda yang tersebar saat ini di Spanyol dan Perancis, kelompok ini berkontribusi genetik kecil tapi berbeda dengan populasi Amerika Selatan, termasuk Maya di Meksiko.
Kepulauan Karibia-Puerto Rico dan Republik Dominika secara genetik mirip satu sama lain dan berbeda dari populasi lain, mungkin mencerminkan pola migrasi berbeda antara Karibia dan daratan Amerika.
Jika dibandingkan dengan Amerika Selatan, orang-orang Karibia seperti Barbados berkontribusi genetik lebih besar daripada Afrika.
Nenek moyang orang Yoruba dari Afrika Barat, mereka dikenal sebagai salah satu kelompok etnis Afrika terbesar, diduga pendonor gen Afrika terbesar ke semua penduduk Amerika.
Proporsi keturunan Afrika bervariasi diseluruh benua, dimulai dari hampir nol pada suku Maya Meksiko hingga 87 persen pada orang Barbados saat ini.
Italia selatan dan Sisilia juga menyumbang genetik pada orang Eropa yang kini signifikan hidup di Kolombia dan Puerto Rico, sejalan dengan sejarah imigran Italia ke Amerika pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Salah satu kelompok keturunan Afrika-Amerika di Amerika Serikat memiliki keturunan Perancis, dalam sejarah imigrasi Perancis bergerak ke Selatan Amerika Serikat.

Proporsi gen dari Eropa dibandingkan sumber Afrika bervariasi dari individu ke individu dalam populasi penerima.

  • Spanyol menyumbang sebagian besar keturunan Eropa di Amerika Hispanik/Latino, sumber genetik orang Eropa dari Afrika-Amerika dan Barbadian berasal dari Inggris.
  • Basque adalah kelompok etnis berbeda yang tersebar saat ini di Spanyol dan Perancis, kelompok ini berkontribusi genetik kecil tapi berbeda dengan populasi Amerika Selatan, termasuk Maya di Meksiko.
  • Kepulauan Karibia-Puerto Rico dan Republik Dominika secara genetik mirip satu sama lain dan berbeda dari populasi lain, mungkin mencerminkan pola migrasi berbeda antara Karibia dan daratan Amerika.
  • Jika dibandingkan dengan Amerika Selatan, orang-orang Karibia seperti Barbados berkontribusi genetik lebih besar daripada Afrika.
  • Nenek moyang orang Yoruba dari Afrika Barat, mereka dikenal sebagai salah satu kelompok etnis Afrika terbesar, diduga pendonor gen Afrika terbesar ke semua penduduk Amerika.
  • Proporsi keturunan Afrika bervariasi diseluruh benua, dimulai dari hampir nol pada suku Maya Meksiko hingga 87 persen pada orang Barbados saat ini.
  • Italia selatan dan Sisilia juga menyumbang genetik pada orang Eropa yang kini signifikan hidup di Kolombia dan Puerto Rico, sejalan dengan sejarah imigran Italia ke Amerika pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
  • Salah satu kelompok keturunan Afrika-Amerika di Amerika Serikat memiliki keturunan Perancis, dalam sejarah imigrasi Perancis bergerak ke Selatan Amerika Serikat.
  • Proporsi gen dari Eropa dibandingkan sumber Afrika bervariasi dari individu ke individu dalam populasi penerima.

Studi ini menganalisa sampel DNA yang dikumpulkan dari orang-orang Barbados, Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, Meksiko, Puerto Rico, dan Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Mereka menggunakan teknik yang disebut analisis berbasis Haplotype untuk membandingkan pola gen penerima dan populasi pendonor didaerah asal imigran. Orang Afrika dan Eropa secara genetik serupa dan ilmuwan menggunakan resolusi skala ini untuk menemukan kombinasi kelompok sehingga menciptakan jenis campuran yang sekarang mendiami Amerika.

Neanderthal Punah Di Semenanjung Iberia

Sejak kapan Neanderthal (Homo neanderthalensis) menghilang di Eropa? Sampai saat ini, banyak analisa ilmiah telah diterbitkan mengungkap waktu menghilangnya Neanderthal di Eropa sekitar 40,000 tahun yang lalu. Dalam sebuah studi baru justru menjelaskan bahwa Neanderthal punah di Semenanjung Iberia, sekitar 45,000 tahun yang lalu.

Artikel ilmiah sebelumnya diterbitkan dalam jurnal Nature edisi Agustus 2014 menyebutkan bahwa Neanderthal Eropa menghilang antara 41,000 hingga 39,000 tahun yang lalu. Analisa ini berdasarkan temuan fosil disitus yang terletak di Laut Hitam Rusia yang berbatasan dengan garis pantai Atlantik Spanyol. Tetapi menurut analisa terbaru berdasarkan data yang ditemukan disitus El Salt, Valencia-Spanyol, Neanderthal punah mungkin sejak 45,000 tahun yang lalu di Semenanjung Iberia.

Neanderthal Menghilang Di Semenanjung Iberia

Penanggalan baru menetapkan pengurangan populasi diwilayah ini berpengaruh diantara Neanderthal terakhir dan manusia modern secara anatomis. Fakta ini dibuktikan secara arkeologis melalui hiatus sedimen yang ditemukan disitus El Salt dan juga lokasi lain Semenanjung Iberia.

Bertila Galvan menegaskan bahwa kedua kesimpulan yang diperoleh tahun 2014 dan saat ini saling melengkapi dan tidak bertentangan. Sampai saat ini, tidak ada tanggal yang pasti yang menjelaskan fosil di Spanyol, beberapa pendapat menyebut keberadaan Neanderthal sebelum 43,000 dan 45,000 tahun yang lalu. Kapan tepatnya waktu terakhir biasanya diberi label meragukan atau memiliki bukti yang sangat kecil.


Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature mengusulkan waktu sekitar 40,000 tahun lalu dan hampir tidak ada bukti tentang kelompok manusia di wilayah Eurasia, tetapi juga mengakui bahwa proses menghilangnya Neanderthal sangat kompleks dan memanifestasikan dirinya dengan cara regionalisasi berdasarkan keanehan di tempat yang berbeda. Studi ini mempertanyakan Neanderthal punah di Semenanjung Iberia lebih lama terjadi 43,000 tahun yang lalu. Tim ilmuwan menyediakan data khusus dalam penelitian terakhir di El Salt, dimana bukti arkeologi sangat kuat dalam hal fosil.

Studi ini termasuk solid dan berbasis bukti informasi dari situs lain di wilayah itu, dimana hal ini memungkinkan menghilangnya Neanderthal secara regional dan terbatas pada Semenanjung Iberia. Hal ini juga berlaku pada sisa-sisa yang ditemukan disitus Spanyol lainnya. Beberapa catatan benda litik dan sisa-sisa fauna (kambing, kuda dan rusa) serta urutan stratigrafi El Salt, menduga keberadaan terakhir Neanderthal pada sebuah situs terjadi sekitar 30,000 tahun lalu.

Fosil enam gigi yang baru-baru ini ditemukan mungkin milik Homo Neanderthalensis dewasa, dan temuan ini mewakili individu dari salah satu kelompok terakhir Neanderthal yang menduduki situs ataupun daerah. Analisis dengan teknik resolusi tinggi menggabungkan data Palaeo Environmental dan arkeologi, menjelaskan lemahnya populasi atau bukan berakhir mendadak melainkan bertahap. Proses ini terjadi selama beberapa ribu tahun dimana kelompok manusia mulai berkurang jumlahnya.

Komunitas Neanderthal punah secara bertahap bertepatan dengan perubahan iklim yang menciptakan kondisi lingkungan kering dan dingin berlebihan. Iklim ini berdampak pada kehidupan dan mengakibatkan populasi berkurang. Manusia modern secara anatomis tidak memiliki peran dalam punahnya Neanderthal, tidak memperburuk iklim dan kehadiran manusia modern jauh setelah punahnya Neanderthal.

Lilith, Istri Pertama Adam Menolak Surga

Siapakah Lilith? Dia adalah sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Yahudi dengan asal-usul misterius dan kemudian juga muncul di Mesopotamia, dimana mitos ini menceritakan Lilith sebagai pasangan pertama Adam. Lilith digambarkan sebagai mantan pasangan Adam tertulis dalam Alphabet of Ben Sira. Lilith diciptakan setara dengan Adam, dan ketika Adam meminta bahwa derajat pria lebih tinggi darinya, Lilith mengucapkan nama Tuhan dan terbang melarikan diri ke Laut Merah.

Adam mengeluh kepada Tuhan dan kemudian Tuhan mengirim tiga malaikat untuk membawa Lilith kembali ke taman Eden. Lilith menolak, dengan alasan bahwa Tuhan telah menciptakannya dengan membawa penyakit pada bayi-bayinya dan membuat perjanjian dengan para malaikat bahwa dia tidak akan membahayakan setiap bayi yang memiliki nama-nama malaikat yang ditulis diatas tempat tidur bayi, dan seratus anaknya akan tewas dalam sehari. Kisah ini menjelaskan mengapa Lilith menjadi salah satu wanita pertama yang mengorbankan surga dan anak-anaknya sendiri daripada berada dibawah seorang pria, dalam bahasa sekarang dikenal 'kesetaraan gender' yang sering terjadi pada wanita karir.

Dalam legenda Lilith dikaitkan dengan jimat dan Zohar, ringkasan mistisisme Yahudi dan pengetahuan tentang alam roh. Zohar menggambarkan dirinya sebagai Ular dan Lilith menjadi istri Sammael dari kalangan malaikat. Lilith muncul dalam astrologi dan terkait dengan fase-fase Bulan dan bintang Algol.

Legenda Lilith, Wanita Pertama Menolak Surga

Alphabet of ben Sirakh (Alphabetum Siracidis, Othijoth ben Sira) adalah teks anonim abad pertengahan yang terinspirasi Kebijaksanaan Sirakh sekitar tahun 700 SM hingga 1000 SM. Teks ini merupakan kompilasi dari dua daftar peribahasa, 22 dalam bahasa Aram dan 22 dalam bahasa Ibrani yang diatur dalam abjad Acrostics. Setiap pepatah diikuti komentar Haggadic, teks ini juga dianggap sebagai satir dan berisi referensi masturbasi, hubungan sedarah, dan pengobatan perut kembung.

Teks Alphabet of ben Sirakh telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Yiddish, Yahudi-Spanyol, Perancis dan Jerman, terjemahan bahasa Inggris parsial muncul di Stern dan Mirsky tahun 1998. Dalam teks ini disebutkan:
Nebukadnezar berkata: "Sembuhkan anakku. Jika tidak, aku akan membunuhmu." Ben Sira langsung duduk dan menulis jimat dengan Nama Suci dan dia menulis diatasnya nama malaikat yang berguna sebagai obat dalam bentuk dan gambar, dengan sayap mereka, tangan dan kaki. Nebukadnezar menatap jimat itu: "Siapa ini?"
Para malaikat yang bertugas mengobati, mereka Snvi, Snsvi, dan Smnglof (Senoy, Sansenoy dan Semangelof). Sementara Allah menciptakan Adam sendirian, Dia berkata: "Ini tidak baik bagi seorang manusia hidup sendirian". Dia juga menciptakan seorang wanita dari bumi, sebagaimana Dia telah menciptakan Adam, dan memanggilnya Lilith. Adam dan Lilith mulai berseteru, Lilith berkata; "Aku tidak akan dibawahmu,' dan Adam berkata: "Aku tidak akan berada dibawahmu, tapi diatas. Bagimu lebih sesuai berada diposisi bawah, sementara aku menjadi orang yang unggul." Lilith menjawab: "Kita sama sebab kita berdua diciptakan dari bumi." Tapi mereka tidak akan mendengarkan satu sama lain, ketika Lilith melihat hal ini dia diucapkan 'Nama tak terlukiskan' dan terbang meninggalkan Adam berdiri dalam doa dihadapan Pencipta: "Penguasa alam semesta, wanita yang Kau berikan kepadaku telah melarikan diri." Yang Mahakudus memberkatinya, mengirim tiga malaikat untuk membawa Lilith kembali.
Yang Kudus berkata kepada Adam: "Jika dia setuju datang kembali, apa yang dilakukannya baik. Jika tidak, dia harus menerima seratus anak-anaknya mati setiap hari." Para malaikat segera berangkat dan mengejar Lilith, mereka menyalip di tengah laut, di perairan perkasa dimana Mesir ditakdirkan tenggelam. Mereka mengatakan firman Allah, tapi Lilith tidak ingin kembali. Para malaikat berkata, 'Kami akan menenggelamkanmu di laut."
"Tinggalkan aku!" katanya. "Aku diciptakan hanya untuk membawa penyakit pada bayi. Jika bayi laki-laki, aku memiliki kuasa atas dirinya selama delapan hari setelah kelahirannya, dan jika perempuan, selama dua puluh hari."
Ketika malaikat mendengar kata-kata Lilith, mereka bersikeras agar dia kembali. Tapi Lilith bersumpah kepada mereka dengan nama Allah yang hidup dan yang kekal. "Setiap kali aku melihat Mu atau nama Mu atau bentuk Mu dalam jimat, aku tidak akan berkuasa atas bayi-bayi itu." Dia juga setuju menerima seratus anak-anaknya meninggal setiap hari. Oleh karena itu, setiap hari seratus setan binasa dan untuk alasan yang sama, kita menulis nama-nama malaikat di jimat pada anak-anak. Ketika Lilith melihat nama-nama mereka, dia ingat akan sumpahnya, dan bisa memulihkan anak-anak.

Lilith, Ibu Dari Anak-Anak Setan

Asal bahasa Lilith kemungkinan besar dari kepercayaan Sumeria kuno, roh malam yang memangsa manusia ketika mereka tidur. Lilith mungkin menyerupai Ardat Lili, atau sosok yang merayu laki-laki di malam hari dan mencuri sperma mereka untuk mengembang biak-kan anak-anak setan. Dia juga disebut-sebut Lilitu, roh malam bersayap yang memangsa wanita, memangsa wanita-wanita bersalin dan bayi yang dilahirkan.


Di Sumeria, Lilith diterjemahkan dalam kata 'Lil' yang berarti air, nafas, dan roh, kemungkinan besar identik dengan udara dan roh. Hal ini juga berkaitan dengan ejaan asli Liloth yang diterjemahkan dalam bahasa Ibrani sebagai roh. Nama Lilith juga dikaitkan dengan terjemahan Kramer dalam Epos Gilgamesh (ki-Sikil lil-la-ke). Meskipun terjemahan Kramer diartikan sebagai 'Gadis Lila, tercinta, pendamping, ataupun pembantu', kata ini menyiratkan bahwa setan atau pendamping spiritual 'Lila' berada di pohon. Lila juga diartikan sebagai 'malam' dan 'kabut' yang berhubungan dengan monster malam.

Entitas lain dalam legenda Lilith terkait dengan Lamia yang menyerang ibu-ibu hamil, merayu laki-laki dan melahap organ internal. Lamia juga dikenal sebagai pembunuh anak yang mirip dengan kisah Lilith, dia membunuh anak-anak manusia karena membunuh anaknya sendiri. Lamia memiliki hubungan cinta dengan Zeus, dan kecemburuan Hera menyebabkan dirinya membunuh anak-anak Lamia. Dan sebagai pembalasan, Lamia mulai menculik dan membunuh anak-anak manusia.

Bangsa Ibrani telah lama mengadopsi mitos ini, nama Lilith atau Liloth kemungkinan besar berkembang sejak tahun 600 SM, atau setelah pembuangan Ibrani di Babilonia. Beberapa bukti ditemukan pada mangkuk mantera Ibrani yang digunakan sebagai perlindungan, diduga dibuat tahun 600 SM, setidaknya tiga ratus tahun sebelum adanya Ben Sira.

Sebelum adanya Alphabet of Ben Sira, ada juga cerita rakyat Yahudi tentang seorang wanita yang menggunakan 'Nama Tuhan yang tak terlukiskan' agar bisa keluar dari dominasi seksual, diceritakan:
"Ketika para malaikat datang ke bumi untuk persembahan dan memperhatikan anak-anak perempuan dengan segala kasih karunia dan kecantikan mereka, mereka tidak bisa menahan gairah mereka. Shemhazai melihat seorang gadis bernama Istehar, dan dia jatuh hatinya kepadanya. Istehar berjanji untuk menyerahkan diri padanya, jika dia mengajarinya 'Nama tak terlukiskan' dengan cara mengangkat dirinya ke surga. Dia menyetujui permintaan itu.
Tetapi begitu dia tahu, dia mengucapkan 'Nama tak terlukiskan' itu dan naik ke surga tanpa memenuhi janjinya kepada malaikat Shemhazai. Tuhan berkata "Karena dia terus menyendiri dari dosa, Kami akan menempatkan dirinya diantara tujuh bintang, dan bahwa laki-laki mungkin tidak akan pernah melupakannya" kemudian Istehar dimasukkan ke dalam konstelasi Pleiades."
Legenda Istehar/Istahar juga sama dengan kisah Dewi Yunani Astraea, mungkin diadopsi oleh orang-orang Yahudi Hellenic untuk menciptakan cerita tentang Nefilim (setengah dewa) dan banjir besar di Bumi. Salah satu naskah Lamashtu dari Mesopotamia diterjemahkan Professor David Bernat, Religion Department, Wellesley College:

    Yang Agung putri dari Surga yang menyiksa bayi
    Tangannya jaring, pelukannya adalah kematian
    Dia kejam, mengamuk, marah, pemangsa
    Seorang pelari, pencuri, adalah putri dari Surga
    Dia menyentuh perut wanita yang bersalin
    Dia menarik keluar bayi perempuan hamil
    Putri Surga adalah salah satu dewa, saudara laki-lakinya
    Tanpa anak sendiri.
    Kepalanya adalah kepala singa
    Tubuhnya adalah tubuh keledai
    Dia mengaum seperti singa
    Dia terus-menerus melolong seperti iblis anjing

Dalam legenda disebutkan bahwa Lilith menemukan tempat istirahat di reruntuhan dan kehancuran. Lilith juga terkait dengan Lamashtu, salah satu Dewi Babilonia yang dikenal mencekik dan meminum darah bayi. Lamashtu digambarkan sebagai Putri dari Surga, sesuai dengan penciptaan Lilith langsung dari Tuhan. Dia digambarkan memiliki kepala singa dan payudaranya menyusui anjing dan babi. Dia menaiki bagian belakang keledai menuju dunia bawah, dimana ujung perahu berukir kepala ular. Ruang antara gambar kakinya terdapat kalajengking sesuai dengan zodiak Scorpio. Dan dia disebut-sebut sebagai istri Raja Iblis yang dikeluarkan dari taman surga.

Suku Mistik Semenanjung Arab Yang Hilang

Suku Al Sulaba, merupakan salah satu suku nomaden di Semenanjung Arab (Arab Peninsula) yang dianggap suku aneh yang hidup di gurun, oasis, wadi, bukit, dan gunung-gunung. Suku ini mampu melintasi dataran kering, beberapa sumber menyebut mereka Al Sulban yang diartikan sebagai salib atau Al-Khlawiyah, sebuah nama yang diambil dari Khala yang berarti padang gurun, nama yang menyiratkan sebutan anjing pariah. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, suku yang rendah hati, jumlahnya kecil, kekuatan (militer) lemah, status rendah dan sederhana, bahkan asal-usulnya tidak diketahui di kalangan orang Arab.

Suku Al Sulaba tidak memiliki wilayah kesukuan atau deereh atau negara di padang pasir. Mereka tersebar dari gurun Suriah di utara (sekitar Palmyra) hingga ke Mossul dan gurun selatan-timur di Irak, bahkan sampaui ke Najd dan wilayah ekstrim Hijaz barat selatan Arab Saudi dan Dahna diluar Kuwait. Al Sulaba mengklaim nama mereka berasal dari kata Salb, yang berarti kaku atau sulit, mereka mengindikasikan diri bahwa mereka adalah yang pertama dari kalangan orang-orang Arab. Mereka mengaku sebagai umat pilihan Allah, meskipun semua orang Arab lainnya menolak dan menghina.

Misteri Suku Al Sulaba

Kebiasaan aneh Al Sulaba terlihat dalam pernikahan dan khitanan untuk mendirikan sebuah salib kayu yang ditutupi dengan kain merah dan dihiasi dengan bulu, melambangkan undangan yang merayakan. Kaum pria dan wanita muda membentuk dua baris berlawanan satu sama lain, mereka menari di sekitar salib, dekat satu sama lain sampai mereka hampir menyentuh. Dan laki-laki diperbolehkan untuk mencium bahu perempuan dalam tarian tersebut. Al Sulaba menikahi pasangan diantara kelompok mereka sendiri dengan kesepakatan antara kedua mempelai dan setelah mendapat persetujuan dari orang tua. Tidak ada Badui lain diperbolehkan menikahi seorang wanita dari suku Al Sulaba, meskipun banyak yang mengakui bahwa perempuan Al-Sulaba termasuk yang tercantik diwilayah padang pasir.

Dalam upacara pemakaman dan berdoa, suku Al Sulaba memiliki kebiasaan yang berbeda dari Badui lainnya. Mereka tidak berziarah ke Mekah, tetapi ke Harran di Irak. Beberapa orang pria diduga menjaga kitab suci mirip dengan Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Kasdim atau Asyur. Mereka menghormati bintang utara yang disebut Jah karena merupakan titik tetap yang memandu penjelajah, juga menghormati bintang lainnya di Capricorn. Untuk menunjukkan rasa hormat, mereka berdiri tegak menghadap bintang dengan tangan terentang, sehingga tubuh menyerupai salib.


Suku Al Sulaba hidup dengan cara berburu, terutama memburu rusa untuk mendapatkan makanan dan kulit yang akan dikenakan sebagai pakaian. Mereka juga memakan hewan lainnya termasuk belalang, dan hampir apapun yang mereka temukan, bahkan suku Al-Sulaba memakan bangkai, darah, dan daging anjing. Suku ini memiliki metode khas berburu rusa, menutupi diri dengan kulit rusa dan mengikuti mangsa sampai mencapai jangkauan senjata. Terkadang menyamar hingga cukup dekat untuk menangkap hewan hidup-hidup.

Asal Usul Suku Al Sulaba Semenanjung Arab

Salah satu sumber sastra pertama yang menceritakan tentang suku Al Sulaba adalah Suleiman Al-Bustani, sebuah tulisan yang diterbitkan Al-Muqtataf dimana suku nomaden ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu Badui, semi Badui, dan orang Badui dari suku Badui. Al Sulaba dimasukkan ke dalam kategori ketiga dan dijelaskan dalam teori yang menyatakan bahwa mereka berasal dari Tentara Salib, Al-Salibiyeen (bahasa Arab) setelah Mameluks mengalahkan dan membubarkan pasukan itu. Kemudian Al-Bustani menjelaskan lebih luas tentang Al-Sulaba dalam tulisannya Da'erat Al Ma'aref, sebuah ensiklopedia yang diterbitkan oleh Butrus Al-Bustani pada tahun 1911. Karya ini membenarkan teori bahwa suku Al Sulaba berasal dari Tentara Salib.

Studi antropolog yang dilakukan Henry Filed mengacu pada berbagai suku dan bangsa-bangsa Timur tengah, dia mempelajari lebih dari seratus orang Al Sulaba yang tinggal disekitar Kuwait dan mengatakan bahwa mereka merupakan kelompok terpisah. Sebagian besar karena penghinaan orang Arab yang menahan mereka, mencegah dari pembauran dan pencampuran dengan orang lain. Mereka memiliki ciri-ciri kepala panjang dan sempit dengan mata hitam.


Salah satu deskripsi paling menarik tentang suku Al-Sulaba diungkapkan oleh Lady Anne Blunt. Dia menggambarkan dua pemuda dari suku itu sebagai keindahan seni dengan wajah sempurna, mata berbentuk almond, gigi putih, dan kulit seperti gading. Dia juga menggambarkan seorang wanita setinggi empat kaki dan seorang gadis kecil sebagai makhluk yang paling menyenangkan yang pernah dilihatnya. Dia menggambarkan suku Al Sulaba sangat singkat tapi sangat proporsional, dengan tangan dan kaki yang sangat kecil disertai senyum aneh seperti orang yang takut. Reaksi terkejut digambarkan melalui mata yang membuat mereka terlihat seperti makhluk liar daripada manusia. Lady Anne menyimpulkan bahwa Al-Sulaba yang bukan Gipsi atau Arab, tetapi mereka berasal dari India seperti Gipsi.

Al Sulaba diyakini telah tersebar di padang gurun untuk menghindari serangan Tamerlane di Baghdad. Pendapat ini berdasarkan beberapa ekspresi Al-Sulaba yang mirip dengan dialek India, beberapa mitos Al Sulaba mirip dengan orang-orang yang ada dalam buku Seribu Satu Malam, dan banyak kelompok Al Sulaba hidup berdekatan dengan Teluk.

Penulis lainnya juga menjelaskan tentang suku Al Sulaba, salah satunya W Pierre, dia mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang Arab yang masuk Islam pada periode akhir, kebiasaan suku Al Sulaba dan status rendah hati menunjukkan bahwa mereka adalah korban bencana terdahulu. Sementara Antropolog Perancis selama berada di Suriah dan Lebanon mengembangkan teori bahwa suku Al-Sulaba berasal dari asal-usul ras non-Arab, mungkin saja dari India yang dibawa ke Baghdad sebagai musisi yang melayani masa pemerintahan khalifah Abbasiyah.

Tetapi salah satu penjelajah pertama seperti Karsten Neibuhr, yang saat itu mengunjungi Al Hijaz dan Yamen, dia menjelaskan bahwa Al-Sulaba tidak ada sebelum era ini. John Burkehardt, dia juga menggambarkan Al Sulaba sebagai suku dari utara yang tidak menggunakan kuda atau unta, yang ada hanya tenda tipis dan hidup dengan cara berburu. Suku Al Sulaba mengandalkan beg diantara suku-suku lain untuk mendapatkan mesiu atau sarana untuk membeli. John tidak menyinggung keberadaan Al Sulaba berasal dari India.

Perjalanan Sir Richard Burton pada tahun 1853, dia menyebut suku Al Sulaba dengan nama Khlawiyah, tetapi tidak mengacu pada keberadaan asal mereka terlibat Perang Salib ataupun menyebut orang-orang Kristen terlibat didalamnya. Dia mengatakan bahwa suku Al Sulaba membenci suku Haytam yang berdiam di sekitar Yanbu', mereka bekerja sebagai tukang pateri, peternak anjing Saluqi, dan keledai digunakan sebagai mahar untuk perempuan.

Sementara itu, orang pertama yang menjelaskan keberadaan Al Sulaba kemungkinan berasal dari Kristen adalah William Belgrave dari Inggris. Belgrave berangkat ke Semenanjung pada tahun 1862 dan yang menerbitkan buku perjalanannya pada tahun 1866. Dia menyebut suku Al Sulaba sebagai penyembuh yang paling terampil di kalangan Badui. Belgrave mengatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Arab dan mereka mengaku sebagai orang utara yang terlihat dari fitur kulit dan wajah umumnya tampan. Spontanitas suku Al Sulaba pada lawan umumnya bersifat curiga antar sesama penghuni padang pasir. Dia menyatakan bahwa nama dan kebiasaan mereka berasal dari Kristen, tapi tidak menyebutkan asalnya dari pasukan Perang Salib.

Pendapat lain meyakini bahwa mereka Gipsi dan dibuktikan dalam migrasi tahunan Al Sulaba pada akhir musim dingin di Efrat untuk berburu keledai liar untuk mengembangkan populasi diantara kelompoknya sendiri. Tidak seperti pendapat Belgrave, pendapat lain mejelaskan bahwa suku Al-Sulaba berpenampilan jelek, hidup sebagai parasit yang mengklaim kemiskinan meskipun mereka kaya, namun mereka mengubur uang mereka untuk mempertahankannya, dan mencari nafkah secukupnya dengan cara mengemis, bermain-main, dan berburu.

William Writ mulai mencari asal-usul suku Al Sulaba di Semenanjung Arab, dia meneruskan teori bahwa suku ini melarikan diri dari pengepungan Karbala, meninggalkan kelompok mereka sehingga yang tertinggal habis dibantai. Sejak saat itu, Al Sulaba dianggap terkutuk dan memalukan setara dengan wanita. Akibatnya, mereka dianggap tidak layak menaiki atau memiliki kuda, tunggangan Al Sulaba terbatas pada keledai. Menurut teori ini, mereka meyakini Ismailiyah dan tidak seperti penghuni gurun lainnya, mereka tidak dendam kepada siapa pun dan tidak berbahaya.