Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 15, 2014

Kakbah

Kakbah (bahasa Arab: الكعبة, transliterasi: Ka'bah) adalah sebuah bangunan mendekati bentukkubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.
Sejarahwan, narator dan lainnya memiliki pendapat berbeda tentang siapa yang telah membangun Kakbah. Beberapa pendapat itu ada yang mengatakan Malaikat, Adam dan Syits. Dimensi struktur bangunan kakbah lebih kurang berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali 12,62m. Juga disebut dengan nama Baitullah.

Sejarah perkembangan

Kakbah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab:بيت العتيق, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Kakbah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kotaMekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad pada salah satu sudut Kakbah, namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kotaMadinah, bangunan Kakbah yang semula rumah ibadah agama monotheisme (Tauhid) ajaran Nabi Ibrahim telah berubah menjadi kuil pemujaan bangsa Arab yang di dalamnya diletakkan sekitar 360 berhala/patung yang merupakan perwujudan tuhan-tuhan politheisme bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi,Allah Sang Maha Pencipta tidak boleh dipersekutukan dan disembah bersamaan dengan benda atau makhluk apapun jua dan tidak memiliki perantara untuk menyembahNya serta tunggal tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an). Kakbah akhirnya dibersihkan dari patung-patung agama politheisme ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah dan dikembalikan sebagai rumah ibadah agama Tauhid (Islam).
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya'ibah sebagai pemegang kunci kakbah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifahAbu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.



Bangunan Kakbah

Pada awalnya bangunan Kakbah terdiri atas dua pintu serta letak pintu Kakbah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Kakbah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan biaya,[rujukan?] maka bangunan Kakbah dibuat hanya satu pintu. Adapula bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Kakbah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Kakbah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.
Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali Kakbah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam sebuah hadits perkataannya: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Kakbah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Kakbah", sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu diatas pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan penguasa daerah Syam (Suriah, Yordania danLebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Kakbah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Kakbah berdasarkan bangunan di masa Nabi Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi Nabi Ibrahim. Kakbah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali kakbah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Kakbah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

Jan 10, 2014

Suku Batak Toba, Pernah Hampir Punah

Berbicara tentang Suku Batak ibarat menjelajahi sebuah aliran sungai yang tidak berujung. Ada banyak cerita ataupun sejarah yang berhubungan dengan salah satu suku bangsa Indonesia ini terputus bahkan datang tanpa sumber yang jelas. Mulai dari asal-usul, sejarah dan peradabannya hampir tidak satupun bisa dirangkai menjadi sebuah cerita utuh yang dapat dipercaya kebenarannya. Mengapa?, dan salah siapa?. Tentu tidak ada pihak yang dapat disalahkan dengan kenyataan ini. Namun siapa yang harus bertanggung jawab jika ternyata ada sebuah sejarah yang sengaja dikaburkan bahkan ditutupi kebenarannya?. Tentu juga tidak ada yang dapat dimintai pertanggung jawaban untuk kasus ini. Yang pasti ini menjadi tugas semua generasi bangsa dari suku manapun. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati dan mengenang sejarahnya.

Ada Apa Dengan Suku Batak Toba?

Menurut Samuel Hutagalung dalam bukunya berjudul, "Zending, Rasisme dan Kolonialisme". Orang-orang Batak Toba telah mengalami banyak penindasan dan pergumulan era pra-agama. Bahkan dalam sebuah catatan awal melaporkan adanya migrasi dari selatan Tapanuli ke arah utara. Migrasi ini sebagai akibat serangan mematikan dari pasukan Padri yang dipimpin Imam Bonjol bagi Batak Mandailing yang menolak menerima perintahnya. Besarnya migrasi dari selatan Tapanuli yang sudah dikuasai pasukan Padri memaksa Imam Bonjol melanjutkan serangannya ke arah utara Tapanuli tempat berdomisilinya Batak Toba melalui Sipirok. Pasukan Paderi yang di Sumatera Barat telah membantai saudara-saudara kandung mereka kaum adat yang tak mau tunduk pada pemaksaan kehendak Tuanku Imam Bonjol masuk menjajah Tanah Batak dan kali ini dibantu oleh Batak Mandailing yang sudah menjadi bagian dari Pasukan Paderi. Raja Sisingamangaraja X dipenggal oleh kaum "Monjo" (Bonjol) ini dan kediamannya di Bakara telah dihancurkan. Seorang saksi hidup marga Daulae dari Mandailing melaporkan kebiadaban pasukan Paderi, "…tak terhitung lagi banyaknya orang yang tewas disembelih Paderi. Ribuan rumah dibakar Paderi di kampung itu, lebih seribu orang diikat Paderi untuk dijual sebagai budak, ibu-ibu dan anak gadis diperkosa Paderi dan mereka bawa entah kemana, ke tempat yang tidak diketahui di mana adanya, ribuan lagi menyelamatkan nyawa lari ke hutan belantara, diantara mereka ada yang mati kelaparan." Seorang wanita yang berhasil lari dari tawanan tentara penjajah Paderi melaporkan bahwa Tuanku Imam Bonjol punya tiga orang isteri dan empat selir. Seorang isteri Imam Bonjol mau melarikan diri tetapi dibunuh oleh anak Iman Bonjol yakni Sutan Sedi. Pada masa itu Pasukan Paderi punya kebiasaan menculik wanita-wanita Batak untuk dijual sebagai budak. Jelaslah kehidupan Bangsa Batak, khususnya Batak Toba bukanlah kehidupan yang aman dan damai di era pra-agama.

Tahun 1816-1833 merupakan masa paling kelam dalam sejarah Batak, khususnya Batak Toba. Pasukan Paderi menjajah dan menghancur leburkan suku Batak Toba, Pasukan Paderi berhasil menang melawan orang Batak Toba, diperkiran sekitar 75% orang Batak Toba terbunuh termasuk anak-anak dan perempuan. Sisanya 25% yang tersisa adalah mereka-mereka yang melarikan diri ke hutan dan kelompok-kelompok yang tunduk pada pasukan Paderi. Kekalahan telak suku Batak Toba ini tidak membuat pasukan Paderi berhenti menghancurkan tanah Batak. Pasukan Paderi bermaksud menjadikan utara Tapanuli sama seperti daerah selatan yang sudah lebih dulu tunduk kepadanya.

Diselamatkan Oleh Yang Mati.

Masih menurut Samuel Hutagalung, walaupun pasukan Paderi berhasil menang melawan orang Batak yang masih hidup namun pasukan Paderi dikalahkan secara telak oleh orang-orang Batak yang sudah mati. Mayat-mayat orang-orang Batak yang ditelantarkan pasukan Paderi tanpa dikubur, karena mereka orang kafir yang tak layak dapat penghormatan akhirnya membusuk dan menyebarkan penyakit yang justru menyerang kaum Paderi. Terpaksa pasukan Paderi mundur hingga ke Mandailing dengan korban jiwa yang cukup besar pada pasukannya. Kemunduran pasukan Paderi dari tanah Batak Toba meninggalkan banyak kepedihan. Luka dan trauma yang mendalam akibat pembunuhan massal ala Paderi ini mengakibatkan orang-orang Batak Toba menjadi orang-orang yang penuh kecurigaan. Menutup diri pada dunia luar sampai era waktu yang tidak jelas (karena terbukti sekarang orang-orang Batak adalah orang-orang yang sudah terbuka terhadap dunia luar). Dan tentunya kecurigaan ini berakibat pada misionaris Kristen yang datang. Ada banyak yang terbunuh sebagai akibat kecurigaan yang berlebihan ini. Orang-orang Batak Toba yang tersisa berharap mereka tidak ingin menjadi korban pembantaian kedua kalinya.

Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Sejarahnya.

Sebagai generasi muda Indonesia sekaligus generasi muda Batak, tentu sejarah ini sangat menyakitkan sekali. Bisa dibayangkan, sesama suku bangsa saling melakukan pembunuhan yang saya sendiri mengkategorikan ini sebagai "genosida". Sayangnya kisah ini tidak masuk dalam buku-buku sejarah Indonesia namun pasti tercatat dalam sejarah dunia. Benar-benar sangat disayangkan lagi, ketika Tuanku Imam Bonjol sang penggerak pembunuhan terdaftar dalam salah satu nama list Pahlawan Nasional. Ada sekitar 13-15 juta orang Batak di dunia, dan separuhnya adalah Batak Toba. Berarti jika peristiwa ini tidak terjadi, di negara tercinta ini akan diisi oleh 25 juta orang lebih orang Batak yang tentu diharapkan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik.

Catatan ini saya rangkum dari berbagai sumber. Mohon maaf bila terdapat kekeliruan. Besar harapan saya kita semua dan khususnya generasi muda Batak dapat memberikan sumbangsih dalam mencari kebenaran sejarah ini. Dan harapan terbesar saya juga, apabila kebenaran sejarah ini sudah teruji, tentu ini wajib dimasukkan dalam buku sejarah nasional Indonesia dan mendesak pengakuan dan permohonan maaf pihak keluarga Imam Bonjol kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya orang Batak Toba. Sebagaimana Belanda pernah melakukan permohonan maaf kepada kita pada peristiwa Rawa Gede. Sekali lagi mohon maaf kepada pihak-pihak yang mungkin tersinggung dengan catatan ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya

Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak

Selama ini banyak dari kita orang Batak hanya mengetahui kisah mengenai Sisingamangaraja X dari satu sisi saja, yaitu mitos tentang tewasnya Sisingamangaraja X setelah kepalannya dipenggal oleh Tuanku Rao dan kepala Sisingamangaraja terbang ke langit. Namun bagaimanakah kisah pertarungan antara Sisingamangaraja X dengan Tuanko Rao yang sesungguhnya? Artikel kali ini dikutip oleh Batara R. Hutagalung dari Buku Tuanko Rao karangan Mangaradja Onggang Parlindungan

Buku Tuanku Rao

Perang Padri (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.

Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.
Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 – 1820 dan kemudian mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.

Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.
Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya.

Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga Singamangaraja X. Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- sesuai tradisi Batak.

Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao) memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.

Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.

Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.
 
Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak. Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda. Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.

Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.

Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

Tsunami Dunia

Pengertian Tsunami

Tsunami merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa asli Jepang. Artinya adalah gelombang yang berada di laut yang bisa terjadi karena adanya suatu gempa tektonik yang berada di dalam laut (dasar). Gempa yang bisa menimbulkan gelombang tsunami ini kebanyakan berupa suatu gempa yang di dalamnya terdapat sistem fokus dengan tipe berjenis besar namun ada pula yang jenis normal.
Tsunami ini seringkali menimbulkan bencana yang luar biasa dahsyatnya. Bisanya memakan korban jiwa manusia yang banyak. Bahkan sampai saat ini belum ditemukan cerita atau sejarah tsunami yang terjadi tanpa memakan korban manusia.

Sejarah Tsunami Dunia
Berdasarkan catatan yang ada sejarah tsunami yang terjadi di dunia antara lain adalah pada tahun 1896 persisnya pada tanggal 15 bulan Juni, ada tsunami yang terjadi di negara tempat kata ini berasal. Apalagi kalau bukan Jepang. Tinggi dari gelombang yang ditimbulkan mencapai duapuluh tiga meter dan mampu menghilangkan nyawa orang sebanyak 26.000. Kemudian pada tahun yang sama di bulan Desember bencana ini mampu membuat hancur kota Santa Barbara yang berada di negara bagian California Amerika Serikat.
Lalu pada akhir bulan Januari tahun 1906, tsunami menunjukan giginya lagi dengan meratakan sebuah kota di Kolumbia dengan tanah. Jumlah korban yang tewas sebanyak 1.500 jiwa serta ribuan orang lain yang terluka sekaligus kehilangan tempat tinggal. Disusul kemudian pada tanggal 1 bulan April tahun 1946 meluluh lantakan kepulaun Aleut dan membuat 159 manusia kehilangan nyawa mereka.
Sementara itu, pada tanggal 22 bulan Mei tahun 1960, tsunami berkelana lagi dengan membawa ombak setinggi sebelas meter di Chili dan Hawai. Masing-masing negara ini kehilangan warganya sebanyak enampuluh ribu dan enampuluh satu orang. Dari sini kemudian Tsunami pindah ke Alaska pada tanggal 28 bulan Maret tahun 1964. Di tempat yang terkenal sangat tenang ini tsunami memusnahkan kehidupan tiga desa sekaligus dan mengirim 107 dan 15 jiwa menuju alam baka. Sedangkan di Philipina, persisnya di daerah Moro, pada tanggal enam belas Agustus tahun 1976, juga mendapat tamu yang tidak disukai ini dengan membantai sekitar lima ribu orang hingga tewas.

Sejarah Tsunami di Indonesia

Pertama kali negara Indonesia kedatangan tsunami pada tahun 1883 bersamaan dengan gunung Krakatau yang sedang meletus. Waktu itu ombak yang ditimbulkan gara-gara bencana ini mencapai lebih dari 120 kilometer dan menewaskan sedikitnya tigapuluh enam ribu orang. Dan setelah bencana ini, Tsunami makin rajin mendatangi Indonesia. Dalam kurun waktu antara 1900 sampai dengan tahun 1996, paling tidak tsunami telah menebar bencana di negeri ini sebanyak tujuh belas kali. Yang terbanyak adalah di daerah Indonesia bagian timur.
Bencana tsunami terbesar di dunia juga terjadi di negara kita, yaitu di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Jadi satu hari setelah Natal dan enam hari sebelum perayaan tahun baru. Bukan hanya Indonesia, semua orang di seluruh dunia ikut berbela sungkawa gara-gara begitu dahsyatnya bencana yang diakibatkan oleh tsunami ini. Bayangkan ada lebih dari 250.000 orang meregang nyawa. Ini yang hanya di Aceh saja. Padahal gelombang tinggi yang ditimbulkan juga mencapai negara lain hingga Thailand dan Maladewa. Pasti jumlah korban yang jatuh makin banyak lagi.
Dan yang terakhir belum lama ini, tsunami kembali melepas rindunya di Indonesia. Persisnya di daerah Mentawai pulau Sumatera. Menurut catatan sementara, jumlah korban yang meninggal adalah sekitar 450 orang.

Tsunami Terbesar Sepanjang Sejarah

Tsunami yang melada Aceh pada 2004 yang lalu dan tsunami yang melanda Mentawai, Sumatera Barat pada 2010 yang lalu, masih menyisakan duka yang mendalam bagi para keluarga yang ditinggalkan. Tsunami yang melanda dua daerah di Pulau Sumatera ini telah memakan banyak korban jiwa, khususnya tsunami Aceh. Selain korban jiwa, tsunami pun telah menyebabkan kerugian fisik yang besar. Namun, walaupun bencana menimpa kedua daerah ini, kehidupan harus tetap berjalan.
Nah, dalam sejarah tsunami dunia, ada beberapa bencana tsunami yang tergolong tsunami besar. Berikut ini penjelasannya.

1. Tsunami Krakatau pada 1883
Salah satu tsunami terbesar sepanjang sejarah manusia, yaitu tsunami Krakatau yang terjadi pada 1883. Letusan Gunung Krakatau merupakan salah satu bencana terbesar yang terjadi pada zamannya. Saat itu, Gunung Krakatau meletus dengan mengeluarkan abu yang sangat dahsyat. Tak hanya letusan, bencana itu pun menimbulkan bencana tsunami yang mahadahsyat.
Akibat letusan Gunung Krakatau, siklus cuaca bumi terganggu dalam jangka waktu yang lama. Erupsi Gunung Krakatau menimbulkan lautan lava yang sangat luas. Erupsi dari letusan ini pun menyebabkan lempengan bawah laut bergeser sehingga menimbulkan tsunami. Menurut catatan sejarah, tsunami Krakatau meluas hingga selatan Afrika dan pantai barat Amerika. Sungguh sebuah bencana tsunami yang besar.

2. Tsunami Jepang pada 1498
Pada 1498, Jepang dikejutkan dengan datangnya sebuah bencana yang sangat besar, yaitu bencana tsunami. Bencana tsunami ini berawal dari gempa besar yang berkekuatan 8,6 skala richter yang menguncang perairan Jepang. Gempa besar itu menimbulkan tsunami dengan tinggi sekitar 17 meter. Bencana tsunami ini menelan korban jiwa sekitar 31 ribu jiwa.

3. Tsunami Lisboa pada 1755
Salah satu tsunami terbesar yang pernah terjai dalam sejarah, yaitu tsunami Lisboa. Tsunami yang menghantam Lisboa pada 1755 ini berawal dari gempa berkekuatan 9 skala richter yang terjadi di lautan Atlantik. Gempa yang terjadi di lautan Atlantik itu menyebabkan gelombang tsunami dengan tinggi 400 kaki. Tsunami tersebut menimpa Kota Lisboa, Portugal dan menewaskan sekitar 60 ribu jiwa. Sunnguh srebuah bencana tsunami yang mengerikan.

4. Tsunami Italia pada 1908
Salah satu tsunami terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah, yaitu tsunami Italia. Tsunami yang terjadi pada 1908 ini menerjang pantai Messina, Italia. Tsunami diawali dengan gempa yang terjadi di laut. Tsunami yang menerjang Italia ini menewaskan sekitar 75 ribu jiwa.

5. Tsunami Aceh
Salah satu tsunami terbesar yang terjadi sepanjang sejarah, yaitu tsunami yang menghantam Aceh. Bencana tsunami yang menimpa Aceh ini terjadi pada akhir Desember 2004. Tsunami ini diawali oleh gempa yang terjadi di Samudera Hindia, dekat Pulau Sumatera. Gempa berkekuatan 9,3 skala richter ini menimbulkan gelombang tsunami dengan ketinggian 80 kaki. Sebagian besar gelaombang tsunami itu melanda wilayah Aceh sehingga meluluhlantakkan Aceh. Sekitar ratusan ribu korban jiwa tewas akibat bencana tsunami Aceh ini.
Selain menimpa Aceh, gelombang tsunami ini pun menimpa Srilangka, Maladewa, dan Thailand. Selain korban jiwa, tentunya tsunami yang melanda Aceh ini telah menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada di Aceh. Akibatnya, Aceh ibarat kota mati. Peristiwa ini dikenang sebagai bencana terdahsyat dalam sejarah dunia modern.