"Rasul" Paul, sejaman tapi lebih muda sedikit dari Nabi Isa, tak syak lagi penyebar Agama Nasrani yang paling terkemuka. Pengaruhnya dalam teologi Kristen jelas menunjukkan yang paling mantap, paling berjangkau jauh dibanding semua penulis dan pemikir Kristen lainnya.
Paul, juga terkenal dengan panggilan Saul, dilahirkan di Tarsus, sebuah kota di Cilicia (kini Turki), beberapa tahun sebelum tiba era Kristen. Biarpun seorang warga Romawi, dia lahir sebagai Yahudi, pendalam bahasa Ibrani di masa muda dan memperoleh pendidikan mendalam perihal ke-Yahudian, dia juga belajar dagang dan bikin kemah. Selaku pria remaja dia berangkat ke Darussalam bekerja di bawah bimbingan pendeta Gamaliel, seorang guru Yahudi kenamaan. Walaupun Paul dan Isa berbarengan ada di Darussalam saat itu, tapi amat diragukan keduanya pernah bertemu muka.
Sesudah "mangkat"-nya Isa, orang-orang Kristen dianggap selaku pembangkang dan karenanya digasak habis-habisan. Mula-mula Paul ikut menghantam, tapi dalam perjalanan menuju Damsyik di matanya seakan terbayang Isa berbicara dengannya dan segera Paul masuk Nasrani. Ini merupakan titik balik penting dalam kehidupan pribadinya. Jika dulunya jadi ]awan dan tukang gebuk orang Kristen, kini dia berubah menjadi penyebar dan penganjur paling gigih dan paling berpengaruh untuk kepentingan Agama Nasrani.
Paul menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis dan memperdalam ke-Kristenan. dan meraih banyak pemeluk berbondong-bondong memasuki Agama Nasrani. Selama kegiatan dakwahnya dia melakukan perjalanan kian-kemari secara kerap, baik ke Asia Kecil, Yunani, Suriah dan Palestina. Menghadapi orang-orang Yahudi Paul tidak keliwat sukses, bahkan lebih sering menimbulkan pertentangan dan dalam banyak peritiwa jiwanya sering terancam. Khotbah menghadapi orang non-Yahudi, Paul teramatlah menonjolnya dan peroleh sukses besar sehingga sering dia diberi julukan "Rasul orang-orang non-Yahudi." Tak seorang pun bisa mengungguli kehebatan Paul dalam penyebaran Agama Nasrani.
Sesudah menyelesaikan tiga kali perjalanan panjang menyebar agama di dalam wilayah bagian timur Kekaisaran Romawi, Paul kembali ke Darussalam. Apa lacur, begitu sampai begitu diamankan, dan diboyong ke Roma ke depan pengadilan. Sejarah tak begitu jelas mencatat bagaimana ujung pengadilan itu, bahkan tak jelas pula apakah sejak itu dia pernah dapat meninggalkan Roma. Akhirnya, diperkirakan tahun 64 M Paul dibunuh dekat kota Roma.
Pengaruh Paul dalam perkembangan Agama Nasrani dapat diukur dari tiga hal. Pertama, sukses besarnya dalam penyebaran agama. Kedua, tulisan-tulisannya yang menyusun bagian-bagian penting Perjanjian Baru. Ketiga, peranannya dalam hal pengembangan teologi Kristen.
Dari 27 buku Perjanjian Baru, tak kurang 14 dihubungkan dengan jasa Paul. Meskipun ilmuwan modern berpendapat 4 atau 5 buku dari 14 itu ditulis oleh orang lain, namun tak diragukan lagi bahwa Paullah orang terpenting secara pribadi menulis Perjanjian Baru.
Pengaruh Paul di bidang teologi Kristen betul-betul tak terperikan besarnya. Ide-idenya termasuk hal-hal sebagai berikut: Isa tidak cuma nabi yang mengesankan tapi juga suci. Isa wafat demi dosa-dosa kita dan penderitaannya dapat membebaskan kita. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari dosa-dosa hanya dengan mencoba melaksanakan perintah-perintah yang tertera dalam Injil, tapi hanya bisa dengan jalan menerima Isa sepenuh jiwa. Sebaliknya, apabila manusia menerima dan percaya Isa, segala dosa-dosanya akan dimaafkan. Paul juga menjelaskan doktrin-doktrinnya mengenai ihwal dosa (lihat Romans 5: 12:19).
Karena kepatuhan kepada hukum semata tidak cukup untuk menjamin kebebasan, Paul menegaskan bahwa tak ada gunanya memeluk Agama Nasrani seraya tetap bersiteguh di soal batasan-batasan Yahudi apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak, serta percuma saja jika masih mengamalkan aturan-aturan Musa atau masih disunat. Seberapa pemuka-pemuka Kristen saat itu menentang keras pendapat Paul dalam segi ini. Dan andaikata sikap mereka ini menyebar luas, sangatlah disangsikan Agama Nasrani bisa berkembang begitu cepat di seluruh Kekaisaran Romawi.
Paul tak pernah kawin, walaupun tak ada cara membuktikannya, jelas Paul tak pernah adakan hubungan kelamin dengan wanita. Pandangannya mengenai seks dan wanita sudah terikat dengan kitab suci, karena itu membawa pengaruh besar pada sikap-sikapnya di belakang hari. Dalilnya yang masyhur dalam kaitan ini tercantum dalam (I Corinthians 7:8-9) yang bunyinya: "Kuserukan kepada para lelaki yang tak kawin dan para janda adalah baik bagi mereka jika mereka mematuhi petuahku dan menyontoh ihwal diriku. Tapi jika mereka tak bisa bertahan, biarkanlah mereka kawin karena bagaimanapun kawin itu masih lebih baik daripada dibakar."
Paul juga punya pendirian yang tegas mengenai status wanita yang layak: "Biarkanlah wanita-wanita itu belajar apa saja secara diam-diam dan saya tidak merasa risau apabila mereka juga mengajar ataupun oleh sebab satu dan lain hal menguasai kaum pria, asal saja secara diam-diam. Soalnya karena Adamlah yang menyebabkan adanya Hawa." (I Timothy 2: 11-13). Sikap yang lebih tegas dikemukakan pula dalam I Corinthias 11:7-9. Memang, kalimat-kalimat Paul sudah pernah jadi pendapat banyak tokoh sejamannya. Yang perlu dicatat adalah Isa sendiri tak pernah tampil dengan pernyataan-pernyataan serupa itu.
Paul, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan Agama Nasrani dari sekte Yahudi menjadi agama besar dunia. Ide sentralnya tentang kesucian Isa dan pengakuan berdasar kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya.
Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Augustine, Aquinas, Luther dan Calvin, semuanya terpengaruh oleh tulisan-tulisan Paul. Begitu mendalamnya pengaruh Paul sampai-sampai banyak sarjana beranggapan Paul-lah yang jadi pendiri Agama Nasrani, dan bukannya Isa. Tentunya anggapan ini keliwat berlebihan. Biar bagaimana, taruhlah pengaruh Paul tidak bisa disejajarkan dengan Isa, yang sudah pasti dia jauh lebih hebat dari pemikir Nasrani yang mana pun juga.
Sejarah Dunia Kuno
Jun 3, 2013
Mossad
Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (Ibrani: המוסד למודיעין ולתפקידים מיוחדים, "Institut Intelijen dan Operasi Khusus"; bahasa Arab: الموساد للاستخبارات والمهام الخاصة al-Mōsād lil-Istikhbārāt wal-Mahāmm al-Khāṣṣah) adalah dinas rahasia Israel dan sering disingkat sebagai Mossad. Operasinya terutama mengawasi bangsa-bangsa dan organisasi Arab di seluruh dunia.
Mossad merupakan dinas intelijen yang dianggap momok bagi dunia Arab. Sepak terjangnya dalam mengacak-acak sejumlah negeri membuatnya diakui sebagai salah satu dinas intelijen terbaik dan tersukses di dunia. Lembaga ini bertanggung jawab untuk intelijen, misi penyamaran, dan kontra teroris. Mossad juga bertanggung jawab atas pemindahan warga Yahudi keluar dari Suriah, Iran, dan Ethiopia. Agen-agennya aktif dalam pembentukan sejumlah negara komunis di Barat dan PBB.
Mossad dibentuk Perdana Menteri Israel David ben Gurion pada 1 April 1951, selain intelijen militer dan kontra intelijen (Shin Bet). Pada pembetukannya, ia berkata bahwa tujuan Mossad ialah, "Untuk negara kita yang sejak berdirinya telah berada di bawah ancaman musuh-musuhnya. Konstitusi intelijen ialah garis terdepan pertahanan...Kita harus belajar dengan baik cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekeliling kita."
Mossad berkantor pusat di Tel Aviv. Pada 1980-an, personilnya diperkirakan berjumlah 1500-2000 orang. Secara tradisional, direkturnya dirahasiakan, namun pada Maret 1996, pemerintah Israel mengumumkan pada publik MayJen Danny Yatom sebagai direktur menggantikan Shabtai Shavit yang dipecat awal 1996.
Diduga Mossad bertanggung jawab atas sejumlah operasi intelijen di dunia, khususnya yang terjadi di seputar konflik TimTeng. Mereka telah menempatkan umat bangsa Arab sebagai ancaman utama Israel. Mereka memiliki klab malam di Libanon, the Star, yang kerap menjadi ajang pertemuan para agennya.
Sepanjang 1970-an, Mossad membunuh pejuang PLO yang terlibat peristiwa September Hitam yang menewaskan sejumlah atlet Israel pada Olimpiade di München, Jerman. Mossad juga yang menghancurkan kantor PLO di Tunis, Tunisia pada April 1988, dan membunuh salah satu pejabat pentingnya Abu Jihad.
Pada Maret 1990 agen Mossad kembali beraksi. Kini korbannya ialah ilmuwan Kanada Gerald Bull yang merancang senjata super untuk Irak. Ia dibunuh di apartemennya di Brussel, Belgia. Pembunuhan ini sukses menghentikan proyek pembuatan senjata itu.
Mossad dianggap salah satu dinas intelijen yang paling sukses di dunia. Namun dinas rahasia ini pernah pula beberapa kali melakukan kesalahan-kesalan besar. Antara lain mereka pernah membunuh orang secara tidak sengaja yaitu, Ahmed Bouchiki di Lillehammer Norwegia pada tahun 1973 yang dikira Ali Hassan Salameh, salah seorang aktivis Palestina yang memimpin Gerakan September Hitam dan menyulik serta membunuh kontingen Olimpis Israel di München pada tahun 1972. Yang paling fatal dan memalukan ialah kegagalannya mencegah pembunuhan PM Israel Yitzhak Rabin. Para agennya kecolongan saat warga Yahudi Ortodoks, Yigal Amir membawa senjata dan menembak Rabin. Hal ini memaksa pemerintahan Israel memecat direktur Mossad Shabtai Shavit dan digantikan MayJen Danny Yatom.
Mossad merupakan dinas intelijen yang dianggap momok bagi dunia Arab. Sepak terjangnya dalam mengacak-acak sejumlah negeri membuatnya diakui sebagai salah satu dinas intelijen terbaik dan tersukses di dunia. Lembaga ini bertanggung jawab untuk intelijen, misi penyamaran, dan kontra teroris. Mossad juga bertanggung jawab atas pemindahan warga Yahudi keluar dari Suriah, Iran, dan Ethiopia. Agen-agennya aktif dalam pembentukan sejumlah negara komunis di Barat dan PBB.
Mossad dibentuk Perdana Menteri Israel David ben Gurion pada 1 April 1951, selain intelijen militer dan kontra intelijen (Shin Bet). Pada pembetukannya, ia berkata bahwa tujuan Mossad ialah, "Untuk negara kita yang sejak berdirinya telah berada di bawah ancaman musuh-musuhnya. Konstitusi intelijen ialah garis terdepan pertahanan...Kita harus belajar dengan baik cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekeliling kita."
Mossad berkantor pusat di Tel Aviv. Pada 1980-an, personilnya diperkirakan berjumlah 1500-2000 orang. Secara tradisional, direkturnya dirahasiakan, namun pada Maret 1996, pemerintah Israel mengumumkan pada publik MayJen Danny Yatom sebagai direktur menggantikan Shabtai Shavit yang dipecat awal 1996.
Diduga Mossad bertanggung jawab atas sejumlah operasi intelijen di dunia, khususnya yang terjadi di seputar konflik TimTeng. Mereka telah menempatkan umat bangsa Arab sebagai ancaman utama Israel. Mereka memiliki klab malam di Libanon, the Star, yang kerap menjadi ajang pertemuan para agennya.
Sepanjang 1970-an, Mossad membunuh pejuang PLO yang terlibat peristiwa September Hitam yang menewaskan sejumlah atlet Israel pada Olimpiade di München, Jerman. Mossad juga yang menghancurkan kantor PLO di Tunis, Tunisia pada April 1988, dan membunuh salah satu pejabat pentingnya Abu Jihad.
Pada Maret 1990 agen Mossad kembali beraksi. Kini korbannya ialah ilmuwan Kanada Gerald Bull yang merancang senjata super untuk Irak. Ia dibunuh di apartemennya di Brussel, Belgia. Pembunuhan ini sukses menghentikan proyek pembuatan senjata itu.
Mossad dianggap salah satu dinas intelijen yang paling sukses di dunia. Namun dinas rahasia ini pernah pula beberapa kali melakukan kesalahan-kesalan besar. Antara lain mereka pernah membunuh orang secara tidak sengaja yaitu, Ahmed Bouchiki di Lillehammer Norwegia pada tahun 1973 yang dikira Ali Hassan Salameh, salah seorang aktivis Palestina yang memimpin Gerakan September Hitam dan menyulik serta membunuh kontingen Olimpis Israel di München pada tahun 1972. Yang paling fatal dan memalukan ialah kegagalannya mencegah pembunuhan PM Israel Yitzhak Rabin. Para agennya kecolongan saat warga Yahudi Ortodoks, Yigal Amir membawa senjata dan menembak Rabin. Hal ini memaksa pemerintahan Israel memecat direktur Mossad Shabtai Shavit dan digantikan MayJen Danny Yatom.
Nubuatan Yang Digenapi
Pada waktu kedatangan Tuhan yang diharapkan itu berlalu pada musim semi 1844 tanpa terjadi apa-apa, mereka yang dengan iman menantikan kedatangan-Nya, untuk sementara dilanda kebimbangan dan ketidakpastian. Sementara dunia ini menganggap mereka telah kalah telak dan terbukti menjadi korban penipuan, sumber konsolidasi mereka masih tetap firman Allah. Banyak yang terus menyelidiki Alkitab, memeriksa kembali tanda-tanda dan bukti-bukti iman mereka, dan dengan seksama menyelidiki dan mempelajari nubuatan-nubuatan untuk mendapatkan terang lebih jauh. Kesaksian Alkitab yang mendukung posisi mereka tampak jelas dan meyakinkan. Tanda-tanda yang tidak bisa salah menunjukkan kedatangan Kristus sebagai sudah dekat. Berkat khusus dari Tuhan, baik dalam pertobatan orang-orang berdosa maupun kebangunan kehidupan kerohanian orang-orang Kristen, telah menyaksikan bahwa pekabaran itu datangnya dari Surga. Dan walaupun orang-orang percaya itu tidak dapat menerangkan kekecewaan mereka, mereka merasa yakin bahwa Allah telah menutnun mereka dalam pengalaman-pengalaman masa lalu.
Dijalin dengan nubuatan-nubuatan yang mereka anggap sebagai yang diterapkan pada kedatangan kedua kali, adalah ajaran atau petunjuk yang khusunya sesuai dengan keadaan mereka yang tidak menentu dan dalam keadaan tegang, dan mendorong mereka menunggu dengan sabar dalam iman bahwa apa yang sekarang gelap kepada pengertia mereka akan menjadi jelas pada waktunya.
Di antara nubuatan-nubuatan itu yang terdapat dalam Habakuk 2:1-4, "Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu Tuhan menjawab aku demikian: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."
Pada permulaan tahun 1842, petunjuk yang diberikan dalam nubuatan ini "tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya," telah mendorong Charles Fitch untuk menerbitkan satu peta nubuatan untuk menggambarkan penglihatan Daniel dan Wahyu. Penerbitan peta ini dianggap sebagai kegenapan perintah yang diberikan oleh Habakuk. Namun, tak seorangpun memperhatikan bahwa penundaan pelakasanaan penglihatan itu waktu menunggu ada dinyatakan dalam nubuatan yang sama. Setelah kekecewaan itu, maka ayat ini tampak jelas, "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab ia sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh . . . . Orang benar akan hidup oleh percayanya" (Habakuk 2:1-4).
Sebahagian dari nubuatan Jehezkiel juga menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi orang-orang percaya: Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku, "Hai anak manusia, sindiran apakah itu yang hidup di antara kamu di tanah Israel yang berbunyi sudah lama berselang tetapi satu penglihatanpun tak jadi? Oleh sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan Allah: Aku akan menghentikan sindirian ini dan orang tidak akan mengucapkannya lagi ditanah Israel. Sebaliknya katakanlah kepada mereka: Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi. Sebab tidak akan ada lagi penglihatan yang menipu ataupun tenungan yang menyesatkan di tengah-tengah kaum Israel, sebab Aku Tuhan, akan berfirman dan apa yang Kufirmankan akan terjadi dan firman itu tidak akan ditunda-tunda lagi, sebab masa hidupmu, hai kamu pemberontak, Aku akan mengucapkan suatu firmn dan Aku akan menggenapinya, demikianlah firman Tuhan Allah." (Yehez. 12:21-25,27-28).
Mereka yang sedang menantikan bersukacita, percaya bahwa Ia yang mengetahui akhir dari permulaan telah memelihara mereka sepanjang zaman dan yang melihat sebelumnya kekecewaan mereka, telah memberikan kepada mereka keberanian dan pengharapan. Kalau bukan bagian ayat-ayat Alkitab yang seperti ini, yang mengingatkan mereka agar menunggu dengan sabar dan berpegang teguh pada firman Allah, iman mereka sudah gagal dalam cobaan seperti itu.
Perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25 juga menggambarkan pengalaman orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan (orang-orang Advent). Dalam Matius 24, dalam jawaban kepada pertanyaan murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya dan akhir dari dunia ini, Kristus telah menunjukkan beberapa peristiwa-peristiwa paling penting dalam sejarah dunia ini dan sejarah gereja mulai dari kedatangan-Nya yang pertama sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua, seperti kebinasaan Yerusalem, kesusahan besar yang menimpa gereja di bawah penganiayaan kekafiran dan kepausan, gelapnya matahari dan bulan, dan jatuhnya bintang-bintang. Setelah itu Ia berbicara mengenai kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya, dan menghubungkan dengan kedua golongan hamba yang menantikan kedatangan-Nya. Fatsal dua puluh lima dimulai dengan kata-kata, "Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis." Di sini diungkapkan kehidupan gereja pada akhir zaman, sama seperti yang ditunjukkan pada penghabisan fatsal 24. Dalam perumpamaan ini pengalaman mereka digambarkan dalam satu peristiwa pernikahan cara Timur.
"Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima diantaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!"
Kedatangann Kristus, sebagaimana diumumkan oleh pekabaran malaikat yang pertama, diketahui dilambangkan oleh kedatangan mempelai laki-laki. Pembaharuan yang meluas melalui pemberitaan kedatangan-Nya yang segera menerangkan arti kepergian gadis-gadis itu. Dalam perumpamaan ini, sebagaimana halnya dalam Matius 24, ada dua golongan yang ditunjukkan. Semua telah membawa pelitanya, Alkitab, dan oleh terangnya pergi keluar menyambut mempelai. Tetapi sementara "gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak," "gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka." Golongan yang terakhir ini telah menerima kasih karunia Allah, kuasa Roh Kudus yang menerangi dan membaharui, yang membuat firman-Nya jadi lampu kepada kakinya dan terang kepada jalannya. Dalam takut akan Allah mempelajari Alkitab untuk mengetahui kebenaran dan dengan sungguh-sungguh berusaha agar mempunyai hati dan hidup yang murni dan bersih. Mereka mempunyai pengalaman pribadi, iman kepada Allah dan kepada firman-Nya, yang tidak bisa dihilangkan oleh kekecewaan dan penangguhan kedatangan Kristus. Yang lain "membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak." Mereka tergerak hanya oleh dorongan hati. Rasa takut mereka telah dibangkitkan oleh pekabaran yang sungguh-sungguh, tetapi mereka bergantung kepada iman saudara-saudaranya tanpa mengerti kebenaran sepenuhnya, atau tanpa kasih karunia sejati bekerja di dalam hatinya. Mereka ini pergi menyambut Tuhan dengan pengharapan penuh pada prospek upah yang segera. Tetapi mereka tidak bersedia dan bersiap bagi penangguhan dan kekecewaan. Bilamana pencobaan datang, iman mereka gagal dan terang mereka padam.
"Tetapi karena mempelai itu tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur." Penangguhan kedatangan mempelai laki-laki adalah mengumpamakan berlalunya waktu yang diharapkan Tuhan datang, kekecewaan dan sepertinya penangguhan. Dalam masa yang tidak tentu ini, orang-orang yang perhatiannya tidak mendalam dan yang setengah-setengah hati segera mulai goyang, dan usaha-usaha mereka mengendor. Tetapi mereka yang imannya didasarkan atas pengetahuan pribadi Alkitab, mempunyai batu karang yang teguh tempatnya berpijak, yang tidak bisa dihanyutkan oleh gelombang kekecewaan. "Mengantuklah mereka semua, lalu tertidur." Satu kelompok tidak perduli dan meninggalkan iman mereka, dan satu kelompok lain menunggu dengan tabah dan sabar sampai terang yang lebih jelas diberikan. Tetapi, pada malam pencobaan itu kelompok terakhir ini, sebegitu jauh, kehilangan semangat dan penyerahan mereka. Orang-orang yang setengah hati dan yang mempunyai pengetahuan yang dangkal tidak boleh lagi bersandar kepada iman saudara-saudaranbya. Masing-masing harus berdiri atau jatuh atas dirinya sendiri.
Kira-kira pada waktu ini, fanatisisme mulai muncul. Beberapa orang yang mengaku percaya sungguh-sungguh pada pekabaran itu, menolak firman Allah sebagai penuntun yang mutlak atau tidak bisa salah, dan menyatakan dituntun oleh Roh, menyerahkan dirinya dikendalikan oleh perasaan, kesan dan imaginasi mereka sendiri. Sebagian menampakkan kesungguh-sungguhan yang buta dan fanatisisme sempit, menolak semua orang yang tidak setuju pendapat mereka. Pendapat-pendapat dan kekhawatiran fanatik mereka tidak mendapat simpati dari pengikut-pengikut Advent yang besar itu. Namun, mereka menjadi celaan bagi kepentingan kebenaran.
Dengan cara ini Setan berusaha untuk menentang dan menghancurkan pekerjaan Allah. Orang-orang sangat digemparkan oleh pergerakan advent. Ribuan orang-orang berdosa bertobat dan orang-orang yang setia dengan rela bekerja menyiarkan kebenaran, bahkan pada masa penangguhan itu. Raja kejahatan kehilangan pengikutnya, dan untuk mendatangkan celaan kepada pekerjaan Allah, ia berusaha menipu beberapa orang yang mengaku beriman, dan mendorong mereka melampaui batas atau ekstrim. Dan kemudian agen-agennya siap untuk menangkap setiap kesalahan, setiap kegagalan, setiap tindakan yang tidak sesuai atau tidak senonoh dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan orang-orang dan dibesar-besarkan agar orang-orang Advent itu dan imannya dibenci orang. Dengan demikian, semakin banyak jumlah mereka yang bisa dikumpulkan membuat pengakuan iman pada kedatangan Kristus kedua kali sementara kuasanya mengendalikan hati mereka, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh oleh menarik perhatian kepada mereka sebagai wakil dari seluruh umat percaya.
Setan adalah "pendakwa saudara-saudara" (Wah. 12:10), dan adalah roh Setan yang mengilhami orang-orang untuk memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan umat Allah, dan menunjukkannya dan menyiarkannya kepada orang-orang lain, sementara perbuatan-perbuatan baik mereka berlalu tanpa disebut-sebut. Setan selalu giat pada waktu Allah bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pada waktu anak-anak Allah datang berkumpul di hadirat Tuhan, Setan juga menyusup bersama mereka. Pada setiap kebangunan rohani ia siap sedia membawa mereka yang tidak disucikan hatinya dan yang pikirannya tidak seimbang. Pada waktu orang-orang ini menerima beberapa bagian dari kebenaran, Setanpun bekerja melalui mereka untuk mengemukakan teori-teori yang akan menipu orang yang tidak waspada. Tak seorangpun terbukti menjadi seorang Kristen yang benar hanya karena ia berada di antara anak-anak Allah, bahkan di rumah perbaktian sendiri dan di sekeliling meja perjamuan Tuhan. Setan sering di sana pada saat-saat yang paling khidmat dalam bentuk mereka yang bisa dipakainya sebagai agennya.
Raja kejahatan memperebutkan setiap inci kemajuan dimana umat Tuhan maju dalam perjalanan mereka menuju kota surgawi. Sepanjang sejarah gereja tidak ada kemajuan pembaharuan yang diperoleh tanpa menemui hambatan yang serius. Demikian juga pada zaman Paulus. Dimana saja rasul itu membangun sebuah gereja, di sana ada beberapa orang yang mengaku menerima iman, tetapi yang membawa ajaran yang menyimpang atau bida'ah, yang jika di terima akan menghilangkan kecintaan kepada kebenaran. Luther juga menderita kebingungan dan tekanan besar dari orang-orang fanatik yang mengatakan bahwa Allah telah berbicara lansung melalui mereka, yang, lalu menetapkan buah pikiran dan pendapat-pendapat mereka di atas kesaksian Alkitab. Banyak yang kurang iman dan pengalaman, tetapi yang merasa cukup percaya pada diri sendiri dan yang suka mendengar dan menceriterakan sesuatu yang baru, diperdaya oleh keangkuhan guru-guru baru, dan bergabung dengan agen-agen Setan dalam kerjanya merobek-robek apa yang Allah suruh Luther bangun. Begitu juga Wesley bersaudara dan yang lain-lain, yang telah menjadi berkat bagi dunia oleh pengaruh dan iman mereka, menemui tipu muslihat Setan dalam setiap langkahnya. Setan mendorong orang-orang yang terlalu bersemangat, yang tidak berpikiran stabil, dan yang tidak disucikan menjadi fanatik dalam berbagai tingkatan.
William Miller tidak bersimpati dengan pengaruh-pengaruh yang menuntun kepada kefanatikan. Ia menyatakan, bersama Luther, bahwa setiap roh harus diuji dengan firman Allah. "Sijahat itu," kata Miller, "mempunyai kuasa besar atas pikiran sebagian orang sekarang ini. Dan bagaimanakah kita tahu jenis roh yang ada pada mereka? Alkitab menjawab, 'Dari buahnya kamu mengetahui' . . . . Ada banyak roh yang pergi ke dunia ini. Dan kita disuruh untuk menguji roh-roh itu. Roh yang tidak membuat kita hidup sungguh-sungguh dan tenang, benar, dan saleh di dunia sekarang ini, ia bukan Roh Kristus. Saya semakin yakin bahwa Setan memegang peranan penting dalam gerakan pengacauan ini . . . . Banyak di antara kita, yang pura-pura disucikan seluruhnya, mengikuti tradisi manusia, dan nyata-nyata adalah bodoh mengenai kebenaran seperti yang lain-lain yang tidak berpura-pura." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp 236,237,282. "Roh kesalahan akan menuntun kita jauh dari kebenaran. Dan Roh Allah akan menuntun kita ke dalam kebenaran. Tetapi, katamu, seseorang mungkin bersalah, tetapi berpikir bahwa ia mempunyai kebenaran. Lalu apa? Kami menjawab, 'Bahwa Roh dan Firman itu tidak bertentangan'. Jikalau seseorang memyakinkan dirinya sendiri dengan firman Allah dan menemukan keharmonisan yang sempurna dengan seluruh firman itu, ia boleh percaya bahwa ia mempunyai kebenaran. Tetapi jikalau ia temukan roh yang menuntunnya itu tidak harmonis atau selaras dengan seluruh maksud hukum atau buku Allah, maka baiklah ia berhati-hati berjalan, agar jangan tertangkap jerat sijahat." The Advent Herald and Signs of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 23 (Jan. 15, 1845), "Saya sering mendapatkan lebih banyak bukti kesalehan dalam hati melalui mata yang bersinar, pipi yang basah, dan ucapan yang tersendat-sendat dari pada semua suara gaduh dalam dunia Kristen." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp.236,237,282.
Pada zaman Pembaharuan musuh-musuhnya menuduhkan semua kejahatan kefanatikan kepada orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh menentang kefanatikan itu. Cara yang sama ditempuh oleh penentang-penentang pergerakan advent. Kaum ekstremis dan kaum fanatik tidak puas dengan salah melukiskan dan membesar-besarkan kesalahan, mereka menyebarkan laporan-laporan palsu yang sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan kebenaran. Orang-orang ini digiatkan oleh prasangka buruk dan kebencian. Ketenangan mereka diganggu oleh pemberitaan kedatangan Kristus yang sudah di muka pintu. Mereka takut kalau-kalau itu benar, namun masih berharap supaya tidak benar, dan inilah rahasia pertentangan mereka melawan orang-orang Advent dan kepercayaan mereka.
Fakta bahwa orang-orang fanatik berusaha menjadi sejajar dengan orang Advent sehingga tidak lagi menjadi alasan mengatakan bahwa gerakan itu tidak berasal dari Allah seperti kehadiran orang-orang fanatik dan penipu-penipu dalam gereja pada zaman Paulus atau Luther menjadi alasan yang cukup untuk mengutuk pekerjaan mereka. Biarlah umat Allah bangun dari tidurnya, dan memulai pekerjaan pertobatan dan pembaharuan yang sungguh-sungguh. Biarlah mereka menyelidiki Alkitab untuk mengetahui kebanaran yang di dalam Kristus. Biarlah mereka mengadakan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah, sehingga tidak lagi ada tanda-tanda bahwa Setan masih giat dan siap siaga. Setan akan menunjukkan kuasanya dengan berbagai macam penipuan yang mungkin menggerakkan seluruh malaikat yang sudah jatuh untuk membantunya.
Bukanlah pekabaran kedatangan kedua kali yang menimbulkan kefanatikan dan perpecahan. Hal ini nyata pada musim panas 1844 pada waktu orang-orang Advent berada dalam keadaan ragu dan bingung mengenai posisi mereka yang sebenarnya. Penyiaran pekabaran malaikat yang pertama dan "seruan tengah malam" cenderung secara langsung menindas kefanatikan dan pertikaian. Orang-orang yang turut dalam gerakan yang sungguh-sunmgguh ini hidup secara harmonis. Hati mereka dipenuhi kasih satu sama lain dan kasih kepada Yesus, yang mereka harapkan kedatangan-Nya yang segera. Hal satu iman, satu pengharapan yang berbahagia mengangkat mereka mengatasi pengendalian setiap pengaruh manusia, dan terbukti sebagai perisai melawan serangan-serangan Setan.
"Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, maka mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka." (Matius 25:5-7). Pada musim panas tahun 1844, yaitu pertengahan antara musim panas dan musim gugur pada tahun itu juga, waktu yang diperkirakan sebelumnya nubuatan 2300 hari akan berakhir,, yang kemudian diketahui diperpanjang, pekabaran itu disiarkan dalam kata-kata Alkitab, 'Mempelai datang! Songsonglah dia!'"
Yang menuntun kepada pergerakan ini ialah karena ditemukan bahwa dekrit Artahsasta mengenai pembangunan kembali Yerusalem yang menjadi permulaan masa 2300 hari itu, mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM, dan bukan pada permulaan tahun sebagaimana dipercayai sebelumnya. Dengan menghitung mulai dari musim gugur 457 SM, yang 2300 tahun (hari) itu akan berakhir pada musim gugur tahun 1844 Diagram opposite page 328; also Appendix.
Argumentasi yang dikutip dari lambang-lambang Perjanjian Lama juga menunjuk kepada musim gugur sebagai peristiwa yang dilambangkan dengan "penyucian kaabah" yang harus terjadi. Hal ini sangat jelas jika diperhatikan cara yang berhubungan dengan kedatangan pertama digenapi.
Penyembelihan Domba Paskah adalah bayang-bayang kematian Kristus. Paulus berkata, "Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus." (1Kor. 5:7). Berkas buah-buah sulung yang pada waktu Paskah dilambai-lambaikan di hadirat Tuhan adalah lambang kebangkitan Kristus. Paulus berkata mengenai kebangkitan Tuhan dan umat-umat-Nya, "Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya." (1 Kor. 15:23).
Seperti berkas-berkas yang dilambai-lambaikan itu, yaitu buah-buah yang pertama masak yang dikumpulkan sebelum musim menuai, Kristuslah buah sulung dari penuaian kekal umat tebusan yang pada kedatangan-Nya kelak akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan.
Lambang ini sudah digenapi bukan saja peristiwanya tetapi juga waktunya. Pada hari ke empat belas bulan yang pertama orang Yahudi pada hari dan bulan mana domba Paskah disembelih selama lima belas abad, Kristus, pada waktu memakan Paskah bersama murid-murid-Nya, memulaikan pesta yang memperingati kematian-Nya sendiri sebagai "anak domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini." Pada malam itu juga ia telah ditangkap oleh tangan-tangan jahat untuk disalibkan dan dibunuh. Dan sebagai yang dilambangkan berkas buah sulung yang dilambaikan itu, Tuhan kita telah dibangkitkan dari kematian pada hari yang ketiga, "sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal! (1 Kor. 15:20), sebagai contoh dari semua orang-orang benar yang dibangkitkan, yang mempunyai tubuh yang hina akan diubahkan, "sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia." (Fil. 3:21).
Dengan cara yang sama, lambang-lambang yang berhubungan dengan kedatangan kedua kali harus digenapi pada waktu yang ditentukan dalam lambang upacara kaabah. Di bawah tatanan Musa, penyucian kaabah, atau hari garfirat atau hari Pendamaian, dilakukan pada hari ke sepuluh bulan yang ke tujuh penanggalan Yahudi (Imamat 16:29-34). Pada waktu imam besar keluar dari dalam kaabah dan memberkati orang Israel setelah ia menadakan penyucian bagi semua bangsa itu, dan dengan demikian menghapuskan dosa mereka dari dalam kaabah. Jadi dipercayai bahwa Kristus, Imam Besar Agung kita, akan datang untuk menyucikan dunia ini oleh membinasakan dosa dan orang-orang berdosa, dan memberkati umat-Nya yang menantikan-Nya dengan berkat kekekalan. Hari kesepuluh dari bulan ketujuh, hari besar penyucian, hari Grafirat, waktu penyucian kaabah, yang pada tahun 1844 jatuh pula tanggal 22 Oktober, dianggap sebagai hari kedatangan Tuhan. Ini sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikemukakan, bahwa masa 2300 hari akan berakhir pada musim gugur, dan kesimpulan itu kelihatannya tidak dapat ditolak.
Dalam perumpamaan Marius 25, masa menunggu dan mengantuk diikuti oleh kedatangan mempelai laki-laki. Ini sesuai dengan argumentasi yang baru saja dikemukakan, baik dari nubuatan maupun dari lambang-lambang. Keduanya membawa keyakinan yang kuat akan kegenapannya, dan "seruan di tengah malam" itu telah disiarkan oleh ribuan orang percaya.
Bagaikan gelombang pasang, pergerakan ini menyapu seluruh negerei. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung dan ke tempat-tempat yang jauh terpencil pekabaran itu disampaikan, sampai umat Tuhan yang menunggu benar-benar dibangunkan. Kefanatikan lenyap sebelum pengumuman ini bagaikan embun pagi sebeleum matahari terik. Orang-orang percaya melihat kebingungan dan kebimbangan mereka dibuangkan, dan pengharapan serta keberanian menggerakkan hati mereka. Pekerjaan ini terbebas dari ekstrim yang biasanya selalu menandai bilamana kebangunan manusia tanpa pengendalian pengaruh firman dan Roh Allah. Sama halnya dengan orang Israel zaman dahulu yang merendahkan diri dan kembali kepada Tuhan setelah adanya pekabaran teguran dari hamba-hamba Tuhan. Pekerjaan itu mempunyai ciri yang menandai pekerjaan Allah pada segala zaman. Hanya sedikit saja perasaan sangat gembira, tetapi lebih suka menyelidiki hati, pengakuan dosa, dan melupakan keduniawaian. Beban roh mereka yang menderita adalah persiapan untuk bertemu dengan Tuhan. Ada doa untuk ketabahan, dan penyerahan tanpa pamrih kepada Allah.
Miller berkata, dalam menjelaskan pekerjaan itu, "Tidak ada pernyataan sukacita yang besar: yaitu sepertinya disembunyikan untuk peristiwa di masa datang, di mana semua Surga dan dunia akan bersukacita bersama dengan sukacita yang tak terucapkan dan yang penuh kemuliaan. Tidak ada teriakan: inipun, dicadangkan bagi teriakan dari Surga. Penyanyi-penyanyi diam: mereka menunggu untuk bergabung dengan rombongan malaikat, paduan suara dari Surga . . . . Tidak ada bentrokan perasaan: semua sehati dan sepikir." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 270,271. Seorang lain yang berpatisipasi dalam pergerakan ini menyaksikan, "Dimana-mana gerakan itu menghasilkan penyelidikan hati yang mendalam dan merendahkan jiwa di hadirat Allah Yang Mahatinggi. Gerakan itu menyebabkan berhenti mengasihi perkara-perkara duniawi, menyembuhkan pertentangan dan perselisihan, mengakui kesalahan-kesalahan, semua dinyatakan di hadirat Allah; dan orang-orang yang menyesal dan mau bertobat dan yang hancur hatinya, memohon pengampunan dan penerimaan dari Allah. Gerekan itu menyebabkan orang merendahkan diri dan jiwa seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sebagaimana Allah memerintahkan melalui nabi Yoel, pada waktu hari Allah yang besar itu sudah dekat, orang-orang merobek hatinya dan bukan pakaiannya, dan berbalik kepada Allah dengan berpuasa dan menangis serta berkabung. Sebagaimana Allah berkata melalui nabi Zakaria, roh karunia dan permohonan dicurahkan ke atas anak-anak-Nya; mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, sehingga ada dukacita besar di negeri itu . . . dan mereka yang memandang kepada Tuhan menderita jiwa mereka dihadapan-Nya." Bliss, in Adventist Shield and Riview, Vol. I, p. 271 (Jan. 1845).
Dari semua pergerakan keagamaan besar sejak zaman rasul-rsaul, tidak ada yang lebih terbebas dari ketidaksempurnaan manusia dan tipu muslihat Setan daripada musim gugur 1844 itu. Bahkan sekarangpun setelah berselang beberapa tahun, semua yang ambil bagian dalam pergerakan itu dan yang telah beridiri teguh di atas landasan kebenaran, masih merasakan pengaruh kudus pekerjaan yang berbahagia itu, dan menyaksikan bahwa pergerakan itu datang dari Allah.
Pada waktu panggilan, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" yang menunggu "bangun semuanya, lalu membereskan pelita mereka." Mereka mempelajari firman Allah dengan perhatian yang sungguh-sungguh yang sebelumnya belum diketahui. Malaikat-malaikat dikirimkan dari Surga untuk membangunkan mereka yang tawar hati, dan menyediakan mereka untuk menerima pekabaran itu. Pekerjaan itu tidak bergantung kepada kebijaksanaan dan pengetahuan manusia, tetapi kepada kuasa Allah. Bukanlah orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling rendah hati dan yang paling berserah yang pertama sekali mendengar dan menuruti panggilan itu. Para petani meninggalkan tanamannya di ladang, ahli mekanik meletakkan peralatan mereka, dan dengan air mata dan sukacita mereka pergi keluar memberitakan amaran itu. Mereka yang dulunya memimpin pekerjaan ini adalah di antara orang yang terakhir yang bergabung dengan pergerakan ini. Pada umumnya gereja-gereja menutup pintu kepada pekabaran ini, dan sekelompok besar yang menerima pekabaran itu menarik diri dari persekutuan. Dengan pertolongan Allah, penyiaran ini bersatu dengan pekabaran malaikat yang kedua, dan memberikan kuasa kepada pekerjaan itu.
Pekabaran, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" bukanlah masalah argumentasi walaupun bukti Alkitab jelas dan nyata. Bersama seruan itu ada kuasa yang mendorong yang menggerakkan jiwa. Tidak ada keragu-raguan dan tidak ada yang perlu dipertanyakan. Pada peristiwa kemenangan Kristus memasuki kota Yerusalem, orang-orang yang berkumpul dari segala penjuru untuk merayakan pesta, berkumpul di Bukit Zaitun, dan pada waktu mereka bergabung dengan khalayak ramai yang mengikuti Yesus, mereka mendapat inspirasi saat itu dan turut berseru, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 21:9). Demikianlah juga orang-orang yang tidak percaya yang datang berkumpul pada pertemuan-pertemuan orang Advent, sebagian karena ingin tahu, sebagian semata-mata cuma mau mencemoohkan saja, merasakan kuasa yang memyakinkan menolong pekabaran itu, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!"
Pada waktu itu ada iman yang membawa jawaban kepada doa, iman yang menghargai yang membawa upah. Seperti curahan hujan ke atas tanah yang kering, Roh karunia turun ke atas orang-orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Mereka yang mengharapkan segera berdiri muka dengan muka dengan Penebus mereka, merasakan sukacita yang sungguh-sungguh yang tak terucapkan. Kuasa melembutkan dan menaklukkan dari Roh Kudus melelehkan hati, pada waktu berkat-berkat-Nya dikaruniakan dengan limpahnya kepada yang setia dan percaya.
Dengan hati-hati dan sungguh-sungguh mereka yang menerima pekabaran itu, sampai pada waktu dimana mereka mengharap bertemu dengan Tuhan mereka. Pada setiap pagi mereka merasakan bahwa adalah kewajiban mereka yang pertama untuk memastikan penerimaan mereka akan Allah. Hati mereka dipersatukan dengan erat, dan mereka banyak berdoa bersama orang orang lain dan untuk satu sama lain. Mereka sering bertemu di tempat-tempat terasing untuk bergaul dengan Allah, dan suara pengantaraan atau syafaat naik ke Surga dari ladang-ladang dan dari hutan-hutan. Kepastian perkenan Juru Selamat lebih penting bagi mereka daripada makanan mereka sehari-hari. Dan jikalau awan menggelapkan pikiran mereka, mereka tidak akan berhenti sebelum awan itu berlalu. Sementara mereka merasakan kesaksian karunia yang mengampuni itu, mereka rindu untuk melihat Dia yang dikasihi jiwa mereka.
Tetapi sekali lagi mereka terpaksa mengalami kekecewaan. Waktu yang diharap-harapkan berlalu, dan Juru selamat tidak kelihatan. Dengan keyakinan yang tidak goyang mereka telah mengharapkan kepada kedatangan-Nya, dan sekarang mereka merasa seperti Maryam pada waktu datang ke kubur Yesus Juru Selamat itu dan mendapati kubur itu kosong, ia berseru sambil menangis, "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan." (Yoh. 20:13).
Suatu perasaan luar biasa, suatu ketakutan bahwa pekabaran itu mungkin benar, yang untuk sementara waktu telah menjadi kekang bagi dunia yang tidak percaya. Setelah berlalunya waktu, hal ini tidak hilang dengan segera. Pada mulanya mereka yang tidak percaya itu tidak berani menunjukkan perasaan menang atas mereka yang kecewa. Tetapi pada waktu tanda-tanda murka Allah tidak tampak, maka hilanglah rasa takut mereka, dan kembali mereka mencela dan mencemooh. Sekelompok besar orang yang telah mengaku percaya pada kedatangan Tuhan yang segera, meninggalkan iman mereka. Beberapa orang yang begitu yakin akan kedatangan Tuhan itu terluka sangat dalam oleh karena kesombongan mereka sehingga mereka ingin melarikan diri dari dunia ini. Seperti nabi Yunus, mereka mengeluh kepada Allah, dan ingin mati saja daripada hidup. Mereka yang mendasarkan imannya atas pendapat orang-orang lain dan bukan atas firman Allah, sekarang siap untuk mengubah pandangan mereka. Orang pengolok-olok memenangkan orang yang lemah dan pengecut ini kedalam kelompok mereka, dan semua ini bersatu menyatakan bahwa tidak ada lagi ketakutan atau pengharapan kedatangan Tuhan. Waktu sudah berlalu, Tuhan tidak datang, dan dunia mungkin akan tetap sama selama ribuan tahun lagi.
Orang-orang percaya yang sungguh-sungguh dan setia telah mengorbankan segalanya bagi Kristus, dan telah merasakan hadirat-Nya seperti belum pernah sebelumnya. Mereka percaya telah memberikan amaran terakhir kepada dunia ini, dan berharap akan diterima dengan segera ke dalam persekutuan Tuhan dengan malaikat-malaikat surgawi. Sedemikian jauh mereka telah menarik diri dari persekutuan orang-orang yang tidak menerima pekabaran itu. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka berdoa, "Datanglah Tuhan Yesus, datanglah segera." Tetapi Ia tidak datang. Dan sekarang mereka harus menanggung kembali beban berat kehidupan dan kebingungan, dan menanggung cemoohan, dan ejekan para pencemooh dunia ini merupakan cobaan berat iman dan kesabaran mereka.
Tetapi kekecewaan ini tidak sebesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu kedatangan Kristus yang pertama. Pada waktu Yesus mengendarai seekor keledai dengan kemenangan memasuki kota Yerusalem, para pengikut-Nya percaya bahwa ia sudah mau menduduki takhta Daud dan membebaskan orang-orang Israel dari penindas-penindasnya. Dengan harapan-harapan yang tinggi dan antisipasi sukacita, mereka berlomba satu sama lain untuk menunjukkan penghormatan kepada Raja mereka. Banyak yang membentangkan pakaian mereka sebagai karpet di jalan yang akan dilalui-Nya , atau menyebarkan daun-daun palem dihadapan-Nya. Dalam sukacita mereka yang sangat besar, mereka bersatu dan berseru dengan gembira, "Hosana bagi anak Daud!" Pada waktu orang-orang Farisi terganggu dan marah oleh karena luapan kegembiraan besar ini, mereka meminta agar Yesus menegur murid-murid-Nya itu. Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak." (Luk. 19:40). Nubuatan harus digenapi. Murid-murid itu sedang melaksanakan rencana Allah, namun mereka menderita kekecewaan pahit. Tetapi beberapa hari telah berlalu sebelum mereka menyaksikan kematian Juru Selamat yang memilukan itu dan meletakkan-Nya di dalam kubur. Yang mereka nantikan belum terwujud sedikitpun, pada hal semua harapan-harapan mereka telah sirna bersama Yesus. Mereka tidak mengerti sebelum Tuhan mereka keluar dari kubur dalam kemenangan, bahwa semua telah diramalkan terlebih dahulu oleh nubuatan, dan "bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." (Kis. 17:3).
Lima ratus tahun sebelumnya, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Zakaria, "Bersorak-soraklah dengan nyaring hai putri Sion, bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zak. 9:9). Sekiranya murid-murid itu menyadari bahwa Kristus akan dihakimkan dan dibunuh, mereka tidak akan menggenapi nubuatan ini.
Dengan cara yang sama, Miller dan rekan-rekannya menggenapi nubuatan dan menyampaikan suatu pekabaran yang telah diramalkan oleh Ilham Allah yang harus disampaikan kepada dunia ini. Tetapi mereka tidak dapat menyampaikan pekabaran itu sekiranya mereka mengeri dengan sepenuhnya nubuatan-nubuatan yang menunjukkan kekecewaan mereka, dan menyampaikan pekabaran yang lain untuk diberitakan kepada segala bangsa sebelum Tuhan datang. Pekabaran malaikat yang pertama dan kedua diberikan pada waktu yang tepat, dan menyelesaikan pekerjaan yang dirancang Allah untuk diselesaikan oleh mereka.
Dunia sedang mengharapkan dan menantikan bahwa jika waktu berlalu dan Kristus tidak datang, maka seluruh sistem Adventisme akan menyerah dan ditinggalkan. Tetapi sementara banyak yang meninggalkan iman mereka, di bawah cobaan yang keras, ada sebagian orang yang tetap berdiri teguh. Buah-buah Pergerakan Advent itu, roh kerendahan dan penyelidikan hati, roh penolakan dunia dan roh pembaharuan hidup yang telah membantu pekerjaan, menyaksikan semuanya itu berasal dari Allah. Mereka tidak berani menyangkal bahwa kuasa Roh Suci telah menyaksikan penyiaran kedatangan Tuhan kedua kali, dan mereka tidak dapat menemukan kesalahan dalam perhitungan-perhitungan mereka mengenai masa-masa nubuatan. Penentang yang paling keras dan mampupun tidak berhasil menjatuhkan sistem penafsiran nubuatan mereka. Mereka tidak dapat menyetujui, tanpa bukti-bukti dari Alkitab, utnuk meninggalkan pendirian yang telah dicapai dengan penyelidikan Alkitab yang sungguh-sungguh dan penuh doa, dan dengan pikiran yang diterangi oleh Roh Allah, dan hati yang telah dibakar oleh kuasa-Nya yang hidup. Pendirian yang telah menahan kritik yang paling pedas dan perlawanan pahit dari guru-guru agama dan kaum cendekiawan dunia, dan yang telah berdiri teguh melawan kekuatan gabungan ilmu dan kefasihan berbicara, dan begitu juga ejekan penghinaan kaum terhormat maupun yang hina.
Benar ada kegagalan dalam hal kejadian yang dinantikan, tetapi inipun tidak bisa menggoyahkan iman mereka atas firman Allah. Pada waktu Yunus memberitakan di jalan-jalan kota Niniwe bahwa dalam waktu empat puluh hari kota itu akan dimusnahkan, Tuhan berkenan menerima pertobatan orang-orang Niniwe, dan memperpanjang masa percobaan mereka. Namun, pekabaran Yunus adalah berasal dari Allah, dan Niniwe diuji sesuai dengan kehendak-Nya. Orang-orang Advent percaya bahwa sama seperti itu Allah telah menuntun mereka untuk memberikan amaran penghakiman. Mereka menyatakan, "Pekabaran itu telah menguji hati semua orang yang mendengarkannya, dan membangunkan suatu kerinduan kepada kedatangan Tuhan. Atau hal itu mendatangkan kebenaran, lebih atau kurang mengetahui mengenai kedatangan-Nya, tetapi Allah mengetahui Pekabaran itu telah menarik satu garis sehingga mereka yang mau memeriksai hatinya sendiri, boleh mengetahui di pihak mana mereka berada sekiranya Tuhan datang apakah mereka akan berseru, 'Lihat, inilah Allah kita, kita telah menantikan-Nya, dan Ia akan menyelamatkan kita,' atau mereka akan berseru kepada batu-batu dan gunung-gunung untuk menimpa mereka dan menyembunyikan mereka dari wajah Dia yang duduk di atas takhta, dan dari murka Anak Domba. Dengan demikian, Allah, sebagaimana kita percayai, telah menguji umat-Nya, telah mencoba iman mereka, telah membuktikan mereka, dan melihat apakah mereka menciut pada masa pencobaan dari posisi dimana Dia mungkin cocok menempatkan mereka; dan apakah mereka akan meninggalkan dunia dan bergantung sepenuhnya kepada firman Allah. The Advent Herald and Singns of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 14 (13 Nov. 1844).
Perasaan orang-orang yang masih percaya bahwa Allah telah menuntun mereka dalam pengalaman di masa lalu, dinyatakan dalam kata-kata William Miller, "Sekiranya saya bisa mengulangi hidupku kembali, dengan bukti yang sama yang saya punyai kemudian, saya mengakui secara jujur kepada Allah dan kepada manusia, bahwa saya akan berbuat seperti apa yang telah saya perbuat." "Aku harap aku telah membasuh jubahku dari darah orang-orang. Aku merasa bahwa aku telah membebaskan diriku sendiri dari semua kesalahan dan tuduhan, sejauh itu berada dalam kuasaku." "Meskipun aku telah dua kali kecewa," tulis hamba Allah ini, "aku belum ambruk atau tawar hati . . . . Harapanku dalam kedatangan Kristus tetap sekuat yang biasanya. Aku telah lakukan hanya apa yang aku rasa adalah tugasku untuk melakukannya, setelah mempertimbangkan selama bertahun-tahun. Jikalau aku salah, itu hanyalah dalam bidang kedermawanan, kasih kepada sesama manusia, dan keyakinan tugas kepada Allah." "Satu perkara aku tahu, aku telah menyiarkan yang kupercayai, dan Allah telah menyertai aku. Kuasanya telah dinyatakan dalam pekerjaanku, sehingga menghasilkan banyak kebaikan." "Ribuan orang dalam segala rupa manusia telah mempelajari Alkitab oleh mengkhotbahkan waktu, dan oleh itu, melalui iman dan siraman darah Kristus, telah diperdamaikan kepada Allah." Bliss, "Memoirs Wm. Miller," pp. 256,255,277,280,281. "Aku tidak pernah meramahi senyum orang sombong, atau merasa takut bilamana dunia ini bermuka masam. Aku tidak mau membeli persetujuan mereka, dan juga tidak mengundang kebencian mereka. Aku tidak akan pernah mencari hidupku di tangan mereka, atau merasa takut kalau kehilangan hidupku, saya harap jika Allah dalam pemeliharaan-Nya menghendaki demikian." White, J., "Life of William Miller," p. 315.
Allah tidak melupakan umat-Nya. Roh-Nya masih tinggal bersama mereka yang tidak terburu-buru menyangkal terang yang telah mereka terima, dan mencela Pergerakan Advent. Dalam surat kepada Iberani ada kata-kata dorongan dan amaran kepada yang dicobai dan yang menunggu pada krisis ini, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup." (Iberani 10:35-39).
Bahwa nasehat ini ditujukan kepada gereja pada akhir zaman nyata dari kata-kata yang menunjukkan kepada dekatnya kedatangan Tuhan, "Sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Dan dengan jelas menyatakan bahwa akan ada seperti penundaan, dan bahwa Tuhan seolah-olah menangguhkan kedatangan-Nya. Petunjuk yang diberikan di sini terutama diberikan sesuai dengan pengalaman orang-orang Avent pada zaman ini. Orang yang diberi amanat di sini berada dalam bahaya karam kapal iman. Mereka telah melakukan kehendak Allah dalam mengikuti tuntunan Roh-Nya dan firman-Nya. Namun demikian, mereka tidak mengerti maksud Allah dalam pengalaman masa lalu mereka, atau dapat melihat dan membedakan jalan-jalan yang terbentang dihadapan mereka, dan mereka tergoda meragukan apakah Allah benar-benar menuntun mereka. Pada waktu ini firman ini dapat diterapkan, "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman." Pada waktu sinar terang "seruan di tengah malam" telah bersinar ke jalan mereka, dan telah melihat nubuatan dibuka meterainya, dan tanda-tandanya yang digenapi dengan segera mengatakan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat, mereka telah berjalan dengan penglihatan sebagaimana sebelumnya. Tetapi sekarang tertunduk oleh pengharapan yang mengecewakan, mereka dapat berdiri hanya oleh iman pada Allah dan firman-Nya. Dunia pengolok-olok berkata, "Engka sudah tertipu. Sangkallah imanmu, dan katakanlah bahwa Pergerakan Advent itu berasal dari Setan." Tetapi firman Tuhan menyatakan, "Dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." Menyangkal iman mereka sekarang dan menyangkal kuasa Roh Kudus yang telah menolong pekabaran itu adalah mengundurkan diri dan binasa. Mereka didorong dan diberanikan berdiri teguh oleh kata-kata Rasul Paulus, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu;" "sebab kamu memerlukan ketekunan," "sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Satu-satunya tindakan mereka yang aman ialah mengasihi terang yang mereka telah terima dari Allah, dan berpegang teguh kepada janji-janji-Nya, serta terus menyelidiki Alkitab. Dan dengan tekun dan tabah menanti dan berjaga untuk menerima terang lebih lanjut.
Dijalin dengan nubuatan-nubuatan yang mereka anggap sebagai yang diterapkan pada kedatangan kedua kali, adalah ajaran atau petunjuk yang khusunya sesuai dengan keadaan mereka yang tidak menentu dan dalam keadaan tegang, dan mendorong mereka menunggu dengan sabar dalam iman bahwa apa yang sekarang gelap kepada pengertia mereka akan menjadi jelas pada waktunya.
Di antara nubuatan-nubuatan itu yang terdapat dalam Habakuk 2:1-4, "Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu Tuhan menjawab aku demikian: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."
Pada permulaan tahun 1842, petunjuk yang diberikan dalam nubuatan ini "tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya," telah mendorong Charles Fitch untuk menerbitkan satu peta nubuatan untuk menggambarkan penglihatan Daniel dan Wahyu. Penerbitan peta ini dianggap sebagai kegenapan perintah yang diberikan oleh Habakuk. Namun, tak seorangpun memperhatikan bahwa penundaan pelakasanaan penglihatan itu waktu menunggu ada dinyatakan dalam nubuatan yang sama. Setelah kekecewaan itu, maka ayat ini tampak jelas, "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab ia sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh . . . . Orang benar akan hidup oleh percayanya" (Habakuk 2:1-4).
Sebahagian dari nubuatan Jehezkiel juga menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi orang-orang percaya: Lalu datanglah firman Tuhan kepadaku, "Hai anak manusia, sindiran apakah itu yang hidup di antara kamu di tanah Israel yang berbunyi sudah lama berselang tetapi satu penglihatanpun tak jadi? Oleh sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan Allah: Aku akan menghentikan sindirian ini dan orang tidak akan mengucapkannya lagi ditanah Israel. Sebaliknya katakanlah kepada mereka: Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi. Sebab tidak akan ada lagi penglihatan yang menipu ataupun tenungan yang menyesatkan di tengah-tengah kaum Israel, sebab Aku Tuhan, akan berfirman dan apa yang Kufirmankan akan terjadi dan firman itu tidak akan ditunda-tunda lagi, sebab masa hidupmu, hai kamu pemberontak, Aku akan mengucapkan suatu firmn dan Aku akan menggenapinya, demikianlah firman Tuhan Allah." (Yehez. 12:21-25,27-28).
Mereka yang sedang menantikan bersukacita, percaya bahwa Ia yang mengetahui akhir dari permulaan telah memelihara mereka sepanjang zaman dan yang melihat sebelumnya kekecewaan mereka, telah memberikan kepada mereka keberanian dan pengharapan. Kalau bukan bagian ayat-ayat Alkitab yang seperti ini, yang mengingatkan mereka agar menunggu dengan sabar dan berpegang teguh pada firman Allah, iman mereka sudah gagal dalam cobaan seperti itu.
Perumpamaan sepuluh anak dara dalam Matius 25 juga menggambarkan pengalaman orang-orang yang percaya kepada kedatangan Tuhan (orang-orang Advent). Dalam Matius 24, dalam jawaban kepada pertanyaan murid-murid-Nya mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya dan akhir dari dunia ini, Kristus telah menunjukkan beberapa peristiwa-peristiwa paling penting dalam sejarah dunia ini dan sejarah gereja mulai dari kedatangan-Nya yang pertama sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua, seperti kebinasaan Yerusalem, kesusahan besar yang menimpa gereja di bawah penganiayaan kekafiran dan kepausan, gelapnya matahari dan bulan, dan jatuhnya bintang-bintang. Setelah itu Ia berbicara mengenai kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya, dan menghubungkan dengan kedua golongan hamba yang menantikan kedatangan-Nya. Fatsal dua puluh lima dimulai dengan kata-kata, "Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis." Di sini diungkapkan kehidupan gereja pada akhir zaman, sama seperti yang ditunjukkan pada penghabisan fatsal 24. Dalam perumpamaan ini pengalaman mereka digambarkan dalam satu peristiwa pernikahan cara Timur.
"Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima diantaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!"
Kedatangann Kristus, sebagaimana diumumkan oleh pekabaran malaikat yang pertama, diketahui dilambangkan oleh kedatangan mempelai laki-laki. Pembaharuan yang meluas melalui pemberitaan kedatangan-Nya yang segera menerangkan arti kepergian gadis-gadis itu. Dalam perumpamaan ini, sebagaimana halnya dalam Matius 24, ada dua golongan yang ditunjukkan. Semua telah membawa pelitanya, Alkitab, dan oleh terangnya pergi keluar menyambut mempelai. Tetapi sementara "gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak," "gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka." Golongan yang terakhir ini telah menerima kasih karunia Allah, kuasa Roh Kudus yang menerangi dan membaharui, yang membuat firman-Nya jadi lampu kepada kakinya dan terang kepada jalannya. Dalam takut akan Allah mempelajari Alkitab untuk mengetahui kebenaran dan dengan sungguh-sungguh berusaha agar mempunyai hati dan hidup yang murni dan bersih. Mereka mempunyai pengalaman pribadi, iman kepada Allah dan kepada firman-Nya, yang tidak bisa dihilangkan oleh kekecewaan dan penangguhan kedatangan Kristus. Yang lain "membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak." Mereka tergerak hanya oleh dorongan hati. Rasa takut mereka telah dibangkitkan oleh pekabaran yang sungguh-sungguh, tetapi mereka bergantung kepada iman saudara-saudaranya tanpa mengerti kebenaran sepenuhnya, atau tanpa kasih karunia sejati bekerja di dalam hatinya. Mereka ini pergi menyambut Tuhan dengan pengharapan penuh pada prospek upah yang segera. Tetapi mereka tidak bersedia dan bersiap bagi penangguhan dan kekecewaan. Bilamana pencobaan datang, iman mereka gagal dan terang mereka padam.
"Tetapi karena mempelai itu tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur." Penangguhan kedatangan mempelai laki-laki adalah mengumpamakan berlalunya waktu yang diharapkan Tuhan datang, kekecewaan dan sepertinya penangguhan. Dalam masa yang tidak tentu ini, orang-orang yang perhatiannya tidak mendalam dan yang setengah-setengah hati segera mulai goyang, dan usaha-usaha mereka mengendor. Tetapi mereka yang imannya didasarkan atas pengetahuan pribadi Alkitab, mempunyai batu karang yang teguh tempatnya berpijak, yang tidak bisa dihanyutkan oleh gelombang kekecewaan. "Mengantuklah mereka semua, lalu tertidur." Satu kelompok tidak perduli dan meninggalkan iman mereka, dan satu kelompok lain menunggu dengan tabah dan sabar sampai terang yang lebih jelas diberikan. Tetapi, pada malam pencobaan itu kelompok terakhir ini, sebegitu jauh, kehilangan semangat dan penyerahan mereka. Orang-orang yang setengah hati dan yang mempunyai pengetahuan yang dangkal tidak boleh lagi bersandar kepada iman saudara-saudaranbya. Masing-masing harus berdiri atau jatuh atas dirinya sendiri.
Kira-kira pada waktu ini, fanatisisme mulai muncul. Beberapa orang yang mengaku percaya sungguh-sungguh pada pekabaran itu, menolak firman Allah sebagai penuntun yang mutlak atau tidak bisa salah, dan menyatakan dituntun oleh Roh, menyerahkan dirinya dikendalikan oleh perasaan, kesan dan imaginasi mereka sendiri. Sebagian menampakkan kesungguh-sungguhan yang buta dan fanatisisme sempit, menolak semua orang yang tidak setuju pendapat mereka. Pendapat-pendapat dan kekhawatiran fanatik mereka tidak mendapat simpati dari pengikut-pengikut Advent yang besar itu. Namun, mereka menjadi celaan bagi kepentingan kebenaran.
Dengan cara ini Setan berusaha untuk menentang dan menghancurkan pekerjaan Allah. Orang-orang sangat digemparkan oleh pergerakan advent. Ribuan orang-orang berdosa bertobat dan orang-orang yang setia dengan rela bekerja menyiarkan kebenaran, bahkan pada masa penangguhan itu. Raja kejahatan kehilangan pengikutnya, dan untuk mendatangkan celaan kepada pekerjaan Allah, ia berusaha menipu beberapa orang yang mengaku beriman, dan mendorong mereka melampaui batas atau ekstrim. Dan kemudian agen-agennya siap untuk menangkap setiap kesalahan, setiap kegagalan, setiap tindakan yang tidak sesuai atau tidak senonoh dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan orang-orang dan dibesar-besarkan agar orang-orang Advent itu dan imannya dibenci orang. Dengan demikian, semakin banyak jumlah mereka yang bisa dikumpulkan membuat pengakuan iman pada kedatangan Kristus kedua kali sementara kuasanya mengendalikan hati mereka, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh oleh menarik perhatian kepada mereka sebagai wakil dari seluruh umat percaya.
Setan adalah "pendakwa saudara-saudara" (Wah. 12:10), dan adalah roh Setan yang mengilhami orang-orang untuk memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan umat Allah, dan menunjukkannya dan menyiarkannya kepada orang-orang lain, sementara perbuatan-perbuatan baik mereka berlalu tanpa disebut-sebut. Setan selalu giat pada waktu Allah bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pada waktu anak-anak Allah datang berkumpul di hadirat Tuhan, Setan juga menyusup bersama mereka. Pada setiap kebangunan rohani ia siap sedia membawa mereka yang tidak disucikan hatinya dan yang pikirannya tidak seimbang. Pada waktu orang-orang ini menerima beberapa bagian dari kebenaran, Setanpun bekerja melalui mereka untuk mengemukakan teori-teori yang akan menipu orang yang tidak waspada. Tak seorangpun terbukti menjadi seorang Kristen yang benar hanya karena ia berada di antara anak-anak Allah, bahkan di rumah perbaktian sendiri dan di sekeliling meja perjamuan Tuhan. Setan sering di sana pada saat-saat yang paling khidmat dalam bentuk mereka yang bisa dipakainya sebagai agennya.
Raja kejahatan memperebutkan setiap inci kemajuan dimana umat Tuhan maju dalam perjalanan mereka menuju kota surgawi. Sepanjang sejarah gereja tidak ada kemajuan pembaharuan yang diperoleh tanpa menemui hambatan yang serius. Demikian juga pada zaman Paulus. Dimana saja rasul itu membangun sebuah gereja, di sana ada beberapa orang yang mengaku menerima iman, tetapi yang membawa ajaran yang menyimpang atau bida'ah, yang jika di terima akan menghilangkan kecintaan kepada kebenaran. Luther juga menderita kebingungan dan tekanan besar dari orang-orang fanatik yang mengatakan bahwa Allah telah berbicara lansung melalui mereka, yang, lalu menetapkan buah pikiran dan pendapat-pendapat mereka di atas kesaksian Alkitab. Banyak yang kurang iman dan pengalaman, tetapi yang merasa cukup percaya pada diri sendiri dan yang suka mendengar dan menceriterakan sesuatu yang baru, diperdaya oleh keangkuhan guru-guru baru, dan bergabung dengan agen-agen Setan dalam kerjanya merobek-robek apa yang Allah suruh Luther bangun. Begitu juga Wesley bersaudara dan yang lain-lain, yang telah menjadi berkat bagi dunia oleh pengaruh dan iman mereka, menemui tipu muslihat Setan dalam setiap langkahnya. Setan mendorong orang-orang yang terlalu bersemangat, yang tidak berpikiran stabil, dan yang tidak disucikan menjadi fanatik dalam berbagai tingkatan.
William Miller tidak bersimpati dengan pengaruh-pengaruh yang menuntun kepada kefanatikan. Ia menyatakan, bersama Luther, bahwa setiap roh harus diuji dengan firman Allah. "Sijahat itu," kata Miller, "mempunyai kuasa besar atas pikiran sebagian orang sekarang ini. Dan bagaimanakah kita tahu jenis roh yang ada pada mereka? Alkitab menjawab, 'Dari buahnya kamu mengetahui' . . . . Ada banyak roh yang pergi ke dunia ini. Dan kita disuruh untuk menguji roh-roh itu. Roh yang tidak membuat kita hidup sungguh-sungguh dan tenang, benar, dan saleh di dunia sekarang ini, ia bukan Roh Kristus. Saya semakin yakin bahwa Setan memegang peranan penting dalam gerakan pengacauan ini . . . . Banyak di antara kita, yang pura-pura disucikan seluruhnya, mengikuti tradisi manusia, dan nyata-nyata adalah bodoh mengenai kebenaran seperti yang lain-lain yang tidak berpura-pura." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp 236,237,282. "Roh kesalahan akan menuntun kita jauh dari kebenaran. Dan Roh Allah akan menuntun kita ke dalam kebenaran. Tetapi, katamu, seseorang mungkin bersalah, tetapi berpikir bahwa ia mempunyai kebenaran. Lalu apa? Kami menjawab, 'Bahwa Roh dan Firman itu tidak bertentangan'. Jikalau seseorang memyakinkan dirinya sendiri dengan firman Allah dan menemukan keharmonisan yang sempurna dengan seluruh firman itu, ia boleh percaya bahwa ia mempunyai kebenaran. Tetapi jikalau ia temukan roh yang menuntunnya itu tidak harmonis atau selaras dengan seluruh maksud hukum atau buku Allah, maka baiklah ia berhati-hati berjalan, agar jangan tertangkap jerat sijahat." The Advent Herald and Signs of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 23 (Jan. 15, 1845), "Saya sering mendapatkan lebih banyak bukti kesalehan dalam hati melalui mata yang bersinar, pipi yang basah, dan ucapan yang tersendat-sendat dari pada semua suara gaduh dalam dunia Kristen." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp.236,237,282.
Pada zaman Pembaharuan musuh-musuhnya menuduhkan semua kejahatan kefanatikan kepada orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh menentang kefanatikan itu. Cara yang sama ditempuh oleh penentang-penentang pergerakan advent. Kaum ekstremis dan kaum fanatik tidak puas dengan salah melukiskan dan membesar-besarkan kesalahan, mereka menyebarkan laporan-laporan palsu yang sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan kebenaran. Orang-orang ini digiatkan oleh prasangka buruk dan kebencian. Ketenangan mereka diganggu oleh pemberitaan kedatangan Kristus yang sudah di muka pintu. Mereka takut kalau-kalau itu benar, namun masih berharap supaya tidak benar, dan inilah rahasia pertentangan mereka melawan orang-orang Advent dan kepercayaan mereka.
Fakta bahwa orang-orang fanatik berusaha menjadi sejajar dengan orang Advent sehingga tidak lagi menjadi alasan mengatakan bahwa gerakan itu tidak berasal dari Allah seperti kehadiran orang-orang fanatik dan penipu-penipu dalam gereja pada zaman Paulus atau Luther menjadi alasan yang cukup untuk mengutuk pekerjaan mereka. Biarlah umat Allah bangun dari tidurnya, dan memulai pekerjaan pertobatan dan pembaharuan yang sungguh-sungguh. Biarlah mereka menyelidiki Alkitab untuk mengetahui kebanaran yang di dalam Kristus. Biarlah mereka mengadakan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah, sehingga tidak lagi ada tanda-tanda bahwa Setan masih giat dan siap siaga. Setan akan menunjukkan kuasanya dengan berbagai macam penipuan yang mungkin menggerakkan seluruh malaikat yang sudah jatuh untuk membantunya.
Bukanlah pekabaran kedatangan kedua kali yang menimbulkan kefanatikan dan perpecahan. Hal ini nyata pada musim panas 1844 pada waktu orang-orang Advent berada dalam keadaan ragu dan bingung mengenai posisi mereka yang sebenarnya. Penyiaran pekabaran malaikat yang pertama dan "seruan tengah malam" cenderung secara langsung menindas kefanatikan dan pertikaian. Orang-orang yang turut dalam gerakan yang sungguh-sunmgguh ini hidup secara harmonis. Hati mereka dipenuhi kasih satu sama lain dan kasih kepada Yesus, yang mereka harapkan kedatangan-Nya yang segera. Hal satu iman, satu pengharapan yang berbahagia mengangkat mereka mengatasi pengendalian setiap pengaruh manusia, dan terbukti sebagai perisai melawan serangan-serangan Setan.
"Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, maka mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka." (Matius 25:5-7). Pada musim panas tahun 1844, yaitu pertengahan antara musim panas dan musim gugur pada tahun itu juga, waktu yang diperkirakan sebelumnya nubuatan 2300 hari akan berakhir,, yang kemudian diketahui diperpanjang, pekabaran itu disiarkan dalam kata-kata Alkitab, 'Mempelai datang! Songsonglah dia!'"
Yang menuntun kepada pergerakan ini ialah karena ditemukan bahwa dekrit Artahsasta mengenai pembangunan kembali Yerusalem yang menjadi permulaan masa 2300 hari itu, mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM, dan bukan pada permulaan tahun sebagaimana dipercayai sebelumnya. Dengan menghitung mulai dari musim gugur 457 SM, yang 2300 tahun (hari) itu akan berakhir pada musim gugur tahun 1844 Diagram opposite page 328; also Appendix.
Argumentasi yang dikutip dari lambang-lambang Perjanjian Lama juga menunjuk kepada musim gugur sebagai peristiwa yang dilambangkan dengan "penyucian kaabah" yang harus terjadi. Hal ini sangat jelas jika diperhatikan cara yang berhubungan dengan kedatangan pertama digenapi.
Penyembelihan Domba Paskah adalah bayang-bayang kematian Kristus. Paulus berkata, "Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus." (1Kor. 5:7). Berkas buah-buah sulung yang pada waktu Paskah dilambai-lambaikan di hadirat Tuhan adalah lambang kebangkitan Kristus. Paulus berkata mengenai kebangkitan Tuhan dan umat-umat-Nya, "Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya." (1 Kor. 15:23).
Seperti berkas-berkas yang dilambai-lambaikan itu, yaitu buah-buah yang pertama masak yang dikumpulkan sebelum musim menuai, Kristuslah buah sulung dari penuaian kekal umat tebusan yang pada kedatangan-Nya kelak akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan.
Lambang ini sudah digenapi bukan saja peristiwanya tetapi juga waktunya. Pada hari ke empat belas bulan yang pertama orang Yahudi pada hari dan bulan mana domba Paskah disembelih selama lima belas abad, Kristus, pada waktu memakan Paskah bersama murid-murid-Nya, memulaikan pesta yang memperingati kematian-Nya sendiri sebagai "anak domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini." Pada malam itu juga ia telah ditangkap oleh tangan-tangan jahat untuk disalibkan dan dibunuh. Dan sebagai yang dilambangkan berkas buah sulung yang dilambaikan itu, Tuhan kita telah dibangkitkan dari kematian pada hari yang ketiga, "sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal! (1 Kor. 15:20), sebagai contoh dari semua orang-orang benar yang dibangkitkan, yang mempunyai tubuh yang hina akan diubahkan, "sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia." (Fil. 3:21).
Dengan cara yang sama, lambang-lambang yang berhubungan dengan kedatangan kedua kali harus digenapi pada waktu yang ditentukan dalam lambang upacara kaabah. Di bawah tatanan Musa, penyucian kaabah, atau hari garfirat atau hari Pendamaian, dilakukan pada hari ke sepuluh bulan yang ke tujuh penanggalan Yahudi (Imamat 16:29-34). Pada waktu imam besar keluar dari dalam kaabah dan memberkati orang Israel setelah ia menadakan penyucian bagi semua bangsa itu, dan dengan demikian menghapuskan dosa mereka dari dalam kaabah. Jadi dipercayai bahwa Kristus, Imam Besar Agung kita, akan datang untuk menyucikan dunia ini oleh membinasakan dosa dan orang-orang berdosa, dan memberkati umat-Nya yang menantikan-Nya dengan berkat kekekalan. Hari kesepuluh dari bulan ketujuh, hari besar penyucian, hari Grafirat, waktu penyucian kaabah, yang pada tahun 1844 jatuh pula tanggal 22 Oktober, dianggap sebagai hari kedatangan Tuhan. Ini sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikemukakan, bahwa masa 2300 hari akan berakhir pada musim gugur, dan kesimpulan itu kelihatannya tidak dapat ditolak.
Dalam perumpamaan Marius 25, masa menunggu dan mengantuk diikuti oleh kedatangan mempelai laki-laki. Ini sesuai dengan argumentasi yang baru saja dikemukakan, baik dari nubuatan maupun dari lambang-lambang. Keduanya membawa keyakinan yang kuat akan kegenapannya, dan "seruan di tengah malam" itu telah disiarkan oleh ribuan orang percaya.
Bagaikan gelombang pasang, pergerakan ini menyapu seluruh negerei. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung dan ke tempat-tempat yang jauh terpencil pekabaran itu disampaikan, sampai umat Tuhan yang menunggu benar-benar dibangunkan. Kefanatikan lenyap sebelum pengumuman ini bagaikan embun pagi sebeleum matahari terik. Orang-orang percaya melihat kebingungan dan kebimbangan mereka dibuangkan, dan pengharapan serta keberanian menggerakkan hati mereka. Pekerjaan ini terbebas dari ekstrim yang biasanya selalu menandai bilamana kebangunan manusia tanpa pengendalian pengaruh firman dan Roh Allah. Sama halnya dengan orang Israel zaman dahulu yang merendahkan diri dan kembali kepada Tuhan setelah adanya pekabaran teguran dari hamba-hamba Tuhan. Pekerjaan itu mempunyai ciri yang menandai pekerjaan Allah pada segala zaman. Hanya sedikit saja perasaan sangat gembira, tetapi lebih suka menyelidiki hati, pengakuan dosa, dan melupakan keduniawaian. Beban roh mereka yang menderita adalah persiapan untuk bertemu dengan Tuhan. Ada doa untuk ketabahan, dan penyerahan tanpa pamrih kepada Allah.
Miller berkata, dalam menjelaskan pekerjaan itu, "Tidak ada pernyataan sukacita yang besar: yaitu sepertinya disembunyikan untuk peristiwa di masa datang, di mana semua Surga dan dunia akan bersukacita bersama dengan sukacita yang tak terucapkan dan yang penuh kemuliaan. Tidak ada teriakan: inipun, dicadangkan bagi teriakan dari Surga. Penyanyi-penyanyi diam: mereka menunggu untuk bergabung dengan rombongan malaikat, paduan suara dari Surga . . . . Tidak ada bentrokan perasaan: semua sehati dan sepikir." Bliss, "Memoirs of Wm. Miller," pp. 270,271. Seorang lain yang berpatisipasi dalam pergerakan ini menyaksikan, "Dimana-mana gerakan itu menghasilkan penyelidikan hati yang mendalam dan merendahkan jiwa di hadirat Allah Yang Mahatinggi. Gerakan itu menyebabkan berhenti mengasihi perkara-perkara duniawi, menyembuhkan pertentangan dan perselisihan, mengakui kesalahan-kesalahan, semua dinyatakan di hadirat Allah; dan orang-orang yang menyesal dan mau bertobat dan yang hancur hatinya, memohon pengampunan dan penerimaan dari Allah. Gerekan itu menyebabkan orang merendahkan diri dan jiwa seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sebagaimana Allah memerintahkan melalui nabi Yoel, pada waktu hari Allah yang besar itu sudah dekat, orang-orang merobek hatinya dan bukan pakaiannya, dan berbalik kepada Allah dengan berpuasa dan menangis serta berkabung. Sebagaimana Allah berkata melalui nabi Zakaria, roh karunia dan permohonan dicurahkan ke atas anak-anak-Nya; mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, sehingga ada dukacita besar di negeri itu . . . dan mereka yang memandang kepada Tuhan menderita jiwa mereka dihadapan-Nya." Bliss, in Adventist Shield and Riview, Vol. I, p. 271 (Jan. 1845).
Dari semua pergerakan keagamaan besar sejak zaman rasul-rsaul, tidak ada yang lebih terbebas dari ketidaksempurnaan manusia dan tipu muslihat Setan daripada musim gugur 1844 itu. Bahkan sekarangpun setelah berselang beberapa tahun, semua yang ambil bagian dalam pergerakan itu dan yang telah beridiri teguh di atas landasan kebenaran, masih merasakan pengaruh kudus pekerjaan yang berbahagia itu, dan menyaksikan bahwa pergerakan itu datang dari Allah.
Pada waktu panggilan, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" yang menunggu "bangun semuanya, lalu membereskan pelita mereka." Mereka mempelajari firman Allah dengan perhatian yang sungguh-sungguh yang sebelumnya belum diketahui. Malaikat-malaikat dikirimkan dari Surga untuk membangunkan mereka yang tawar hati, dan menyediakan mereka untuk menerima pekabaran itu. Pekerjaan itu tidak bergantung kepada kebijaksanaan dan pengetahuan manusia, tetapi kepada kuasa Allah. Bukanlah orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling rendah hati dan yang paling berserah yang pertama sekali mendengar dan menuruti panggilan itu. Para petani meninggalkan tanamannya di ladang, ahli mekanik meletakkan peralatan mereka, dan dengan air mata dan sukacita mereka pergi keluar memberitakan amaran itu. Mereka yang dulunya memimpin pekerjaan ini adalah di antara orang yang terakhir yang bergabung dengan pergerakan ini. Pada umumnya gereja-gereja menutup pintu kepada pekabaran ini, dan sekelompok besar yang menerima pekabaran itu menarik diri dari persekutuan. Dengan pertolongan Allah, penyiaran ini bersatu dengan pekabaran malaikat yang kedua, dan memberikan kuasa kepada pekerjaan itu.
Pekabaran, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!" bukanlah masalah argumentasi walaupun bukti Alkitab jelas dan nyata. Bersama seruan itu ada kuasa yang mendorong yang menggerakkan jiwa. Tidak ada keragu-raguan dan tidak ada yang perlu dipertanyakan. Pada peristiwa kemenangan Kristus memasuki kota Yerusalem, orang-orang yang berkumpul dari segala penjuru untuk merayakan pesta, berkumpul di Bukit Zaitun, dan pada waktu mereka bergabung dengan khalayak ramai yang mengikuti Yesus, mereka mendapat inspirasi saat itu dan turut berseru, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 21:9). Demikianlah juga orang-orang yang tidak percaya yang datang berkumpul pada pertemuan-pertemuan orang Advent, sebagian karena ingin tahu, sebagian semata-mata cuma mau mencemoohkan saja, merasakan kuasa yang memyakinkan menolong pekabaran itu, "Mempelai datang! Songsonglah Dia!"
Pada waktu itu ada iman yang membawa jawaban kepada doa, iman yang menghargai yang membawa upah. Seperti curahan hujan ke atas tanah yang kering, Roh karunia turun ke atas orang-orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Mereka yang mengharapkan segera berdiri muka dengan muka dengan Penebus mereka, merasakan sukacita yang sungguh-sungguh yang tak terucapkan. Kuasa melembutkan dan menaklukkan dari Roh Kudus melelehkan hati, pada waktu berkat-berkat-Nya dikaruniakan dengan limpahnya kepada yang setia dan percaya.
Dengan hati-hati dan sungguh-sungguh mereka yang menerima pekabaran itu, sampai pada waktu dimana mereka mengharap bertemu dengan Tuhan mereka. Pada setiap pagi mereka merasakan bahwa adalah kewajiban mereka yang pertama untuk memastikan penerimaan mereka akan Allah. Hati mereka dipersatukan dengan erat, dan mereka banyak berdoa bersama orang orang lain dan untuk satu sama lain. Mereka sering bertemu di tempat-tempat terasing untuk bergaul dengan Allah, dan suara pengantaraan atau syafaat naik ke Surga dari ladang-ladang dan dari hutan-hutan. Kepastian perkenan Juru Selamat lebih penting bagi mereka daripada makanan mereka sehari-hari. Dan jikalau awan menggelapkan pikiran mereka, mereka tidak akan berhenti sebelum awan itu berlalu. Sementara mereka merasakan kesaksian karunia yang mengampuni itu, mereka rindu untuk melihat Dia yang dikasihi jiwa mereka.
Tetapi sekali lagi mereka terpaksa mengalami kekecewaan. Waktu yang diharap-harapkan berlalu, dan Juru selamat tidak kelihatan. Dengan keyakinan yang tidak goyang mereka telah mengharapkan kepada kedatangan-Nya, dan sekarang mereka merasa seperti Maryam pada waktu datang ke kubur Yesus Juru Selamat itu dan mendapati kubur itu kosong, ia berseru sambil menangis, "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan." (Yoh. 20:13).
Suatu perasaan luar biasa, suatu ketakutan bahwa pekabaran itu mungkin benar, yang untuk sementara waktu telah menjadi kekang bagi dunia yang tidak percaya. Setelah berlalunya waktu, hal ini tidak hilang dengan segera. Pada mulanya mereka yang tidak percaya itu tidak berani menunjukkan perasaan menang atas mereka yang kecewa. Tetapi pada waktu tanda-tanda murka Allah tidak tampak, maka hilanglah rasa takut mereka, dan kembali mereka mencela dan mencemooh. Sekelompok besar orang yang telah mengaku percaya pada kedatangan Tuhan yang segera, meninggalkan iman mereka. Beberapa orang yang begitu yakin akan kedatangan Tuhan itu terluka sangat dalam oleh karena kesombongan mereka sehingga mereka ingin melarikan diri dari dunia ini. Seperti nabi Yunus, mereka mengeluh kepada Allah, dan ingin mati saja daripada hidup. Mereka yang mendasarkan imannya atas pendapat orang-orang lain dan bukan atas firman Allah, sekarang siap untuk mengubah pandangan mereka. Orang pengolok-olok memenangkan orang yang lemah dan pengecut ini kedalam kelompok mereka, dan semua ini bersatu menyatakan bahwa tidak ada lagi ketakutan atau pengharapan kedatangan Tuhan. Waktu sudah berlalu, Tuhan tidak datang, dan dunia mungkin akan tetap sama selama ribuan tahun lagi.
Orang-orang percaya yang sungguh-sungguh dan setia telah mengorbankan segalanya bagi Kristus, dan telah merasakan hadirat-Nya seperti belum pernah sebelumnya. Mereka percaya telah memberikan amaran terakhir kepada dunia ini, dan berharap akan diterima dengan segera ke dalam persekutuan Tuhan dengan malaikat-malaikat surgawi. Sedemikian jauh mereka telah menarik diri dari persekutuan orang-orang yang tidak menerima pekabaran itu. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka berdoa, "Datanglah Tuhan Yesus, datanglah segera." Tetapi Ia tidak datang. Dan sekarang mereka harus menanggung kembali beban berat kehidupan dan kebingungan, dan menanggung cemoohan, dan ejekan para pencemooh dunia ini merupakan cobaan berat iman dan kesabaran mereka.
Tetapi kekecewaan ini tidak sebesar yang dialami oleh murid-murid pada waktu kedatangan Kristus yang pertama. Pada waktu Yesus mengendarai seekor keledai dengan kemenangan memasuki kota Yerusalem, para pengikut-Nya percaya bahwa ia sudah mau menduduki takhta Daud dan membebaskan orang-orang Israel dari penindas-penindasnya. Dengan harapan-harapan yang tinggi dan antisipasi sukacita, mereka berlomba satu sama lain untuk menunjukkan penghormatan kepada Raja mereka. Banyak yang membentangkan pakaian mereka sebagai karpet di jalan yang akan dilalui-Nya , atau menyebarkan daun-daun palem dihadapan-Nya. Dalam sukacita mereka yang sangat besar, mereka bersatu dan berseru dengan gembira, "Hosana bagi anak Daud!" Pada waktu orang-orang Farisi terganggu dan marah oleh karena luapan kegembiraan besar ini, mereka meminta agar Yesus menegur murid-murid-Nya itu. Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak." (Luk. 19:40). Nubuatan harus digenapi. Murid-murid itu sedang melaksanakan rencana Allah, namun mereka menderita kekecewaan pahit. Tetapi beberapa hari telah berlalu sebelum mereka menyaksikan kematian Juru Selamat yang memilukan itu dan meletakkan-Nya di dalam kubur. Yang mereka nantikan belum terwujud sedikitpun, pada hal semua harapan-harapan mereka telah sirna bersama Yesus. Mereka tidak mengerti sebelum Tuhan mereka keluar dari kubur dalam kemenangan, bahwa semua telah diramalkan terlebih dahulu oleh nubuatan, dan "bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." (Kis. 17:3).
Lima ratus tahun sebelumnya, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Zakaria, "Bersorak-soraklah dengan nyaring hai putri Sion, bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zak. 9:9). Sekiranya murid-murid itu menyadari bahwa Kristus akan dihakimkan dan dibunuh, mereka tidak akan menggenapi nubuatan ini.
Dengan cara yang sama, Miller dan rekan-rekannya menggenapi nubuatan dan menyampaikan suatu pekabaran yang telah diramalkan oleh Ilham Allah yang harus disampaikan kepada dunia ini. Tetapi mereka tidak dapat menyampaikan pekabaran itu sekiranya mereka mengeri dengan sepenuhnya nubuatan-nubuatan yang menunjukkan kekecewaan mereka, dan menyampaikan pekabaran yang lain untuk diberitakan kepada segala bangsa sebelum Tuhan datang. Pekabaran malaikat yang pertama dan kedua diberikan pada waktu yang tepat, dan menyelesaikan pekerjaan yang dirancang Allah untuk diselesaikan oleh mereka.
Dunia sedang mengharapkan dan menantikan bahwa jika waktu berlalu dan Kristus tidak datang, maka seluruh sistem Adventisme akan menyerah dan ditinggalkan. Tetapi sementara banyak yang meninggalkan iman mereka, di bawah cobaan yang keras, ada sebagian orang yang tetap berdiri teguh. Buah-buah Pergerakan Advent itu, roh kerendahan dan penyelidikan hati, roh penolakan dunia dan roh pembaharuan hidup yang telah membantu pekerjaan, menyaksikan semuanya itu berasal dari Allah. Mereka tidak berani menyangkal bahwa kuasa Roh Suci telah menyaksikan penyiaran kedatangan Tuhan kedua kali, dan mereka tidak dapat menemukan kesalahan dalam perhitungan-perhitungan mereka mengenai masa-masa nubuatan. Penentang yang paling keras dan mampupun tidak berhasil menjatuhkan sistem penafsiran nubuatan mereka. Mereka tidak dapat menyetujui, tanpa bukti-bukti dari Alkitab, utnuk meninggalkan pendirian yang telah dicapai dengan penyelidikan Alkitab yang sungguh-sungguh dan penuh doa, dan dengan pikiran yang diterangi oleh Roh Allah, dan hati yang telah dibakar oleh kuasa-Nya yang hidup. Pendirian yang telah menahan kritik yang paling pedas dan perlawanan pahit dari guru-guru agama dan kaum cendekiawan dunia, dan yang telah berdiri teguh melawan kekuatan gabungan ilmu dan kefasihan berbicara, dan begitu juga ejekan penghinaan kaum terhormat maupun yang hina.
Benar ada kegagalan dalam hal kejadian yang dinantikan, tetapi inipun tidak bisa menggoyahkan iman mereka atas firman Allah. Pada waktu Yunus memberitakan di jalan-jalan kota Niniwe bahwa dalam waktu empat puluh hari kota itu akan dimusnahkan, Tuhan berkenan menerima pertobatan orang-orang Niniwe, dan memperpanjang masa percobaan mereka. Namun, pekabaran Yunus adalah berasal dari Allah, dan Niniwe diuji sesuai dengan kehendak-Nya. Orang-orang Advent percaya bahwa sama seperti itu Allah telah menuntun mereka untuk memberikan amaran penghakiman. Mereka menyatakan, "Pekabaran itu telah menguji hati semua orang yang mendengarkannya, dan membangunkan suatu kerinduan kepada kedatangan Tuhan. Atau hal itu mendatangkan kebenaran, lebih atau kurang mengetahui mengenai kedatangan-Nya, tetapi Allah mengetahui Pekabaran itu telah menarik satu garis sehingga mereka yang mau memeriksai hatinya sendiri, boleh mengetahui di pihak mana mereka berada sekiranya Tuhan datang apakah mereka akan berseru, 'Lihat, inilah Allah kita, kita telah menantikan-Nya, dan Ia akan menyelamatkan kita,' atau mereka akan berseru kepada batu-batu dan gunung-gunung untuk menimpa mereka dan menyembunyikan mereka dari wajah Dia yang duduk di atas takhta, dan dari murka Anak Domba. Dengan demikian, Allah, sebagaimana kita percayai, telah menguji umat-Nya, telah mencoba iman mereka, telah membuktikan mereka, dan melihat apakah mereka menciut pada masa pencobaan dari posisi dimana Dia mungkin cocok menempatkan mereka; dan apakah mereka akan meninggalkan dunia dan bergantung sepenuhnya kepada firman Allah. The Advent Herald and Singns of the Times Reporter, Vol. VIII, No. 14 (13 Nov. 1844).
Perasaan orang-orang yang masih percaya bahwa Allah telah menuntun mereka dalam pengalaman di masa lalu, dinyatakan dalam kata-kata William Miller, "Sekiranya saya bisa mengulangi hidupku kembali, dengan bukti yang sama yang saya punyai kemudian, saya mengakui secara jujur kepada Allah dan kepada manusia, bahwa saya akan berbuat seperti apa yang telah saya perbuat." "Aku harap aku telah membasuh jubahku dari darah orang-orang. Aku merasa bahwa aku telah membebaskan diriku sendiri dari semua kesalahan dan tuduhan, sejauh itu berada dalam kuasaku." "Meskipun aku telah dua kali kecewa," tulis hamba Allah ini, "aku belum ambruk atau tawar hati . . . . Harapanku dalam kedatangan Kristus tetap sekuat yang biasanya. Aku telah lakukan hanya apa yang aku rasa adalah tugasku untuk melakukannya, setelah mempertimbangkan selama bertahun-tahun. Jikalau aku salah, itu hanyalah dalam bidang kedermawanan, kasih kepada sesama manusia, dan keyakinan tugas kepada Allah." "Satu perkara aku tahu, aku telah menyiarkan yang kupercayai, dan Allah telah menyertai aku. Kuasanya telah dinyatakan dalam pekerjaanku, sehingga menghasilkan banyak kebaikan." "Ribuan orang dalam segala rupa manusia telah mempelajari Alkitab oleh mengkhotbahkan waktu, dan oleh itu, melalui iman dan siraman darah Kristus, telah diperdamaikan kepada Allah." Bliss, "Memoirs Wm. Miller," pp. 256,255,277,280,281. "Aku tidak pernah meramahi senyum orang sombong, atau merasa takut bilamana dunia ini bermuka masam. Aku tidak mau membeli persetujuan mereka, dan juga tidak mengundang kebencian mereka. Aku tidak akan pernah mencari hidupku di tangan mereka, atau merasa takut kalau kehilangan hidupku, saya harap jika Allah dalam pemeliharaan-Nya menghendaki demikian." White, J., "Life of William Miller," p. 315.
Allah tidak melupakan umat-Nya. Roh-Nya masih tinggal bersama mereka yang tidak terburu-buru menyangkal terang yang telah mereka terima, dan mencela Pergerakan Advent. Dalam surat kepada Iberani ada kata-kata dorongan dan amaran kepada yang dicobai dan yang menunggu pada krisis ini, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup." (Iberani 10:35-39).
Bahwa nasehat ini ditujukan kepada gereja pada akhir zaman nyata dari kata-kata yang menunjukkan kepada dekatnya kedatangan Tuhan, "Sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Dan dengan jelas menyatakan bahwa akan ada seperti penundaan, dan bahwa Tuhan seolah-olah menangguhkan kedatangan-Nya. Petunjuk yang diberikan di sini terutama diberikan sesuai dengan pengalaman orang-orang Avent pada zaman ini. Orang yang diberi amanat di sini berada dalam bahaya karam kapal iman. Mereka telah melakukan kehendak Allah dalam mengikuti tuntunan Roh-Nya dan firman-Nya. Namun demikian, mereka tidak mengerti maksud Allah dalam pengalaman masa lalu mereka, atau dapat melihat dan membedakan jalan-jalan yang terbentang dihadapan mereka, dan mereka tergoda meragukan apakah Allah benar-benar menuntun mereka. Pada waktu ini firman ini dapat diterapkan, "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman." Pada waktu sinar terang "seruan di tengah malam" telah bersinar ke jalan mereka, dan telah melihat nubuatan dibuka meterainya, dan tanda-tandanya yang digenapi dengan segera mengatakan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat, mereka telah berjalan dengan penglihatan sebagaimana sebelumnya. Tetapi sekarang tertunduk oleh pengharapan yang mengecewakan, mereka dapat berdiri hanya oleh iman pada Allah dan firman-Nya. Dunia pengolok-olok berkata, "Engka sudah tertipu. Sangkallah imanmu, dan katakanlah bahwa Pergerakan Advent itu berasal dari Setan." Tetapi firman Tuhan menyatakan, "Dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." Menyangkal iman mereka sekarang dan menyangkal kuasa Roh Kudus yang telah menolong pekabaran itu adalah mengundurkan diri dan binasa. Mereka didorong dan diberanikan berdiri teguh oleh kata-kata Rasul Paulus, "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu;" "sebab kamu memerlukan ketekunan," "sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." Satu-satunya tindakan mereka yang aman ialah mengasihi terang yang mereka telah terima dari Allah, dan berpegang teguh kepada janji-janji-Nya, serta terus menyelidiki Alkitab. Dan dengan tekun dan tabah menanti dan berjaga untuk menerima terang lebih lanjut.
Dalamnya Makna Tanda Salib
Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salibyang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tandasalib ini kemanapun kita berada.
Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.
Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai "tefilin" yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…" Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.
Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja
Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:
Cara membuat tanda salib
Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).
Umumnya caranya adalah demikian:
Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: "Atas nama Bapa"), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan "dan Putera", kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan "dan Roh Kudus" Amin). Dan tangan kembali terkatup.
Kapan kita membuat tanda salib?
Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.
Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai "tefilin" yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…" Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.
Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja
Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:
- Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: "Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib."
- St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36) mengajarkan, "Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat."
- St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, "Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini."
- St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, "Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya."
The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right
Cara membuat tanda salib
Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).
Umumnya caranya adalah demikian:
Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: "Atas nama Bapa"), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan "dan Putera", kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan "dan Roh Kudus" Amin). Dan tangan kembali terkatup.
Kapan kita membuat tanda salib?
- Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.
- Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.
- Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)
- Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.
- Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,
- Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.
- Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberikati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.
Misteri Natal-Kebenaran tentang Natal
Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)
Herbert W Armstrong
Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen "Plain Truth" yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas. Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.
Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang, India, Afrika Selatan, China, Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik.
Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy.
Kenangan Natal Dimasa Kecilku
Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal, saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.
Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.
Mengapa kita bersikap demikian?
Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat.
Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan … larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan seterusnya …
Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?
Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.
SEJARAH NATAL
Yesus Maryam
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas."
"Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
"In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world."
"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."
Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism."
"Natal bukanlah upacara – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
"Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…" (The "Communion," which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "…A feast was established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed."
"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."
Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.
YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER
Kelahiran Yesus
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:
"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan:
"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."
Penggembala domba
Adam Clarke melanjutkan:
"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."
"Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".
Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.
Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.
PROSES NATAL MASUK KE GEREJA
New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul "Christmas" menguraikan dengan jelas sebagai berikut:
"How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the year and the 'new sun'… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ's birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival."
"Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari."
Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari "Sunday" sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – Yesus).
Demikianlah asal usul "Christmas – Natal" yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.
Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:
"Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN … The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…"
"Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…"
ASAL USUL NATAL
Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?
Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud – di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.
Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajaan di dunia.
Nama "Nimrod" dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata "Marad" yang artinya "dia membangkang atau murtad" (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata "Marad" dengan kata Arab "Ridda" atau "murtad". Pen)
Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati.
Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal.
Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai "Anak Suci dari Sorga". Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan.
Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!
Trinity pagan
Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut "Kristen," dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: "Silent Night" atau "Holy Night" yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.
Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu – Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat?
Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia:
"Katakan dengan lantang, dan jangan menghiraukan penghinaan mereka! Kumandangkan suaramu seperti terompet! Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!" Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bible (Alkitab).
Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.
Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.
Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal, meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!
Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan "Chaldean Mysteries" (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.
ASAL MULA POHON NATAL
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian "Matahari Tua" dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly Berries" juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.
Holy Berries
Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut: "The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times."
"Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen."
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
"The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era."
"Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."
Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:
"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…"
St Nicholas
"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…"
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?
Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:
"Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!"
Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:
"Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan."
Oleh karena itu, upacara "Si Santa Tua" itu juga merupakan Setan.
Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:
"Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (II Korintus 11:14)
Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.
KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL
Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:
"Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan."
"Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang."
Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:
"Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri."
"Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik."
Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal. Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?
HADIAH NATAL
Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah "The Christmas Shopping Season – Musim Belanja Natal" yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:
"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"
Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:
"The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."
Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.
Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari"
– yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus
– dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:
"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
HADIAH UNTUK YESUS
Happy Birthday
Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?
Jawabannya adalah "Tidak." Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya.
Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya.
Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut:
"Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the presence of kings and great personages, without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly discored South Sea Islands."
"Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan)."
Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.
Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.
NATAL MEMULIAKAN TUHAN?
Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal, sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme:
1. Banyak yang mengajukan alasan: "Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang tahunnya."
Kami akan menjawab dengan pasti "Tidak bisa". Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah dijelaskan:
"Sinners alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka."
Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.
2. Ada pula yang beralasan: "Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus Kristus." Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:
"Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata: "Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau berlaku begitu." Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka." (Ulangan 12:30-31)
Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan "menurut kata hati kita sendiri." Yesus telah bersabda:
"Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:24)
Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut:
"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17)
Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.
Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:
"Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia."
Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi:
"Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri."
Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan berfirman:
"Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu."
Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal.
Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.
TANPA DISADARI KITA KEMBALI KE MASA BABILONIA
Christmas atau Natal telah menjadi musim panen para pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan oleh perusahaan advertising setiap tahun. Anda selalu melihat Santa Claus yang dipajang di setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita untuk merayakan "Beautiful Christmas Spirit". Koran yang selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan musim kaum kafir tersebut di tajuk rencananya. Orang yang mudah terbius oleh tradisi ini, akan marah bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal "Christmas Spirit = Semangat Natal" yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan. Sebagaimana rayuan setan lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti "Malaikat Pembawa Terang" yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar dihabiskan begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah bagian dari sistem perekonomian Babilonia.
Sebagaimana yang telah diramalkan oleh Bibel (Alkitab), kita merasa berada di negara Kristen, padahal kita di Babilonia, tetapi kita tidak menyadarinya. Ingatlah pesan Alkitab yang berbunyi sebagai berikut:
"Pergilah kamu hai umatKu, pergilah dari padanya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya." (Wahyu 18:4)
Oleh karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, lebih baik dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.
Herbert W Armstrong
Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen "Plain Truth" yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas. Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.
Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang, India, Afrika Selatan, China, Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik.
Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy.
Kenangan Natal Dimasa Kecilku
Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal, saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.
Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.
Mengapa kita bersikap demikian?
Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat.
Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan … larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan seterusnya …
Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?
Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.
SEJARAH NATAL
Yesus Maryam
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas."
"Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
"In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world."
"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."
Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism."
"Natal bukanlah upacara – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
"Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…" (The "Communion," which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "…A feast was established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed."
"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."
Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.
YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER
Kelahiran Yesus
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:
"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan:
"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."
Penggembala domba
Adam Clarke melanjutkan:
"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."
"Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".
Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.
Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.
PROSES NATAL MASUK KE GEREJA
New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul "Christmas" menguraikan dengan jelas sebagai berikut:
"How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the year and the 'new sun'… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ's birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival."
"Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari."
Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari "Sunday" sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – Yesus).
Demikianlah asal usul "Christmas – Natal" yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.
Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:
"Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN … The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…"
"Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…"
ASAL USUL NATAL
Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?
Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud – di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.
Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajaan di dunia.
Nama "Nimrod" dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata "Marad" yang artinya "dia membangkang atau murtad" (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata "Marad" dengan kata Arab "Ridda" atau "murtad". Pen)
Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati.
Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal.
Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai "Anak Suci dari Sorga". Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan.
Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!
Trinity pagan
Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut "Kristen," dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: "Silent Night" atau "Holy Night" yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.
Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu – Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat?
Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia:
"Katakan dengan lantang, dan jangan menghiraukan penghinaan mereka! Kumandangkan suaramu seperti terompet! Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!" Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bible (Alkitab).
Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.
Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.
Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal, meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!
Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan "Chaldean Mysteries" (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.
ASAL MULA POHON NATAL
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian "Matahari Tua" dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly Berries" juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.
Holy Berries
Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut: "The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times."
"Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen."
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
"The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era."
"Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."
Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:
"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…"
St Nicholas
"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…"
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?
Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:
"Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!"
Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:
"Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan."
Oleh karena itu, upacara "Si Santa Tua" itu juga merupakan Setan.
Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:
"Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (II Korintus 11:14)
Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.
KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL
Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:
"Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan."
"Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang."
Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:
"Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri."
"Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik."
Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal. Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?
HADIAH NATAL
Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah "The Christmas Shopping Season – Musim Belanja Natal" yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:
"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"
Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:
"The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."
Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.
Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari"
– yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus
– dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:
"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
HADIAH UNTUK YESUS
Happy Birthday
Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?
Jawabannya adalah "Tidak." Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya.
Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya.
Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut:
"Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the presence of kings and great personages, without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly discored South Sea Islands."
"Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan)."
Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.
Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.
NATAL MEMULIAKAN TUHAN?
Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal, sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme:
1. Banyak yang mengajukan alasan: "Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang tahunnya."
Kami akan menjawab dengan pasti "Tidak bisa". Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah dijelaskan:
"Sinners alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka."
Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.
2. Ada pula yang beralasan: "Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus Kristus." Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:
"Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata: "Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau berlaku begitu." Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka." (Ulangan 12:30-31)
Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan "menurut kata hati kita sendiri." Yesus telah bersabda:
"Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:24)
Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut:
"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17)
Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.
Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:
"Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia."
Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi:
"Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri."
Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan berfirman:
"Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu."
Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal.
Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.
TANPA DISADARI KITA KEMBALI KE MASA BABILONIA
Christmas atau Natal telah menjadi musim panen para pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan oleh perusahaan advertising setiap tahun. Anda selalu melihat Santa Claus yang dipajang di setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita untuk merayakan "Beautiful Christmas Spirit". Koran yang selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan musim kaum kafir tersebut di tajuk rencananya. Orang yang mudah terbius oleh tradisi ini, akan marah bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal "Christmas Spirit = Semangat Natal" yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan. Sebagaimana rayuan setan lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti "Malaikat Pembawa Terang" yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar dihabiskan begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah bagian dari sistem perekonomian Babilonia.
Sebagaimana yang telah diramalkan oleh Bibel (Alkitab), kita merasa berada di negara Kristen, padahal kita di Babilonia, tetapi kita tidak menyadarinya. Ingatlah pesan Alkitab yang berbunyi sebagai berikut:
"Pergilah kamu hai umatKu, pergilah dari padanya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya." (Wahyu 18:4)
Oleh karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, lebih baik dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)