Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Apr 1, 2013

Temuan Arkeologi di Gunung Padang

Ada yang baru dari hasil eskavasi di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Ternyata ada struktur menarik di situs megalitikum itu. Di lapisan bawah tanah, di kedalaman 4,5 meter ditemukan teknologi unik.

"Di antara struktur tersebut ditemukan pecahan logam besi sepanjang 10 centimeter. Selain itu di antara batu-batu terdapat lapisan semen purba yang berfungsi sebagai perekat,"

Pembangunan itu diduga dilakukan oleh beberapa generasi. Karena setelah teknik dengan semen dan pecahan logam besi, pembangunan setelahnya hanya batu yang ditumpuk. Hal itu bisa dilihat dari hasil dating carbon yang dilakukan.



Hasil Laboratorium Beta Analityc Radiocarbon Dating (BETA) di Miami, Amerika Serikat, yang diakui secara internasional, berhasil menentukan umur atau usia absolut situs ini. Pada kedalaman 0,5 meter situs ini berusia 500 Sebelum Masehi (SM). Pada kedalaman 3 meter, situs ini berusia 4700 SM.

"Ditemukannya struktur batu pada kedalaman tersebut membuktikan bahwa di Indonesia pernah ada bangunan yang dibuat oleh manusia pada 4700 SM atau jauh lebih tua dari bangunan-bangunan kuno yang ada di dunia. Sebagai pembanding, bangunan piramida di Mesir dibuat pada sekitar 3000 SM. Hasil ekskavasi arkeologi di Gunung Padang ini tentu saja telah mengubah peradaban dunia,"

Sebagai pembanding, Candi Prambanan yang dibuat pada sekitar 800 Masehi didirikan di atas tanah urukan setebal 14 meter.

"Jika di Gunung Padang ditemukan susunan batu buatan manusia sampai dengan kedalaman 8 meter, maka dunia pun akan tercengang. Pada kedalaman tersebut kemungkinan akan ditemukan bukti peradaban umat manusia pada 11600 SM. Padahal peradaban besar dunia baik di Mesopotamia, Mesir, Cina, maupun Yunani yang tertua berusia sekitar 4000 SM,"

Israel Kuno

Sama seperti bangsa-bangsa di Timur Dekat Kuno lainnya, keluarga Israel juga menganut sistem patriakhal, di mana tampuk kepemimpinan keluarga dipegang dan diwariskan di antara para lelaki. Hal ini tentu saja memiliki pengaruh bagi cara pandang dan peraturan yang ada saat itu mengenai kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada pembedaan mengenai hak dan kewajiban antara pria dan wanita.

Masalah di atas sudah pernah dibahas dalam paper kelompok dengan tema besar, keluarga Israel Kuno. Dalam paper tersebut, ada beberapa hal menarik mengenai posisi wanita dalam keluarga Israel. Hal-hal itu akan dibahas oleh penulis secara khusus dalam paper akhir semester ini.

KELUARGA ISRAEL KUNO
           
Kedudukan wanita dalam keluarga Israel, kita perlu memiliki gambaran mengenai kondisi keluarga Israel secara umum. Namun karena keterbatasan sumber, gambaran yang akan diuraikan harus dibatasi untuk keluarga dengan status ekonomi menengah ke atas.

Dalam sejarah, kata "keluarga" bisa saja menunjuk kepada struktur sosial yang lebih luas. Dalam kitab Perjanjian Lama, kata yang sering digunakan adalah mišpāhāh. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang berbeda, misalnya bangsa-bangsa (Kej 10:5, 32; 12:3; Amos 3:2), Israel secara keseluruhan (Amos3:1) atau suku tertentu (Hak 13:2). Kata ini sering juga digunakan dalam penulisan silsilah, termasuk kepala kaum keluarga secara biologis (Kel 6:14, 25; Bil 1:2). Dengan demikian kata mišpāhāh ini sebenarnya lebih cocok diartikan sebagai "klan" atau extended family.

Yang dimaksud dengan extended family adalah keluarga-keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah) yang berasal dari leluhur yang sama dan memutuskan untuk tinggal dalam rumah-rumah yang dibangun berdempetan. Mereka ini hidup berdampingan dengan memperhatikan hak dan kewajiban antar keluarga inti dan biasanya dipimpin oleh seorang patriakh, atau kepala keluarga. Dengan demikian, pemahaman mengenai keluarga di Israel lebih luas daripada pemahaman yang ada sekarang ini, yang mencakup ayah dengan istri-istrinya, anak-anak serta istri-istri mereka, dan keturunan selanjutnya, bahkan juga para budak mereka.

PERNIKAHAN DAN PERCERAIAN

Dalam Alkitab, istilah menikah sering digantikan dengan kata-kata "mengambil seorang istri". Pernikahan bukan hanya menjadi urusan kedua mempelai melainkan urusan kepala keluarga masing-masing dengan membayar mas kawin untuk pihak perempuan. Contohnya adalah pengaturan pernikahan antara Ishak dan Ribka yang melibatkan Abraham dan Betuel, sebagai kepala keluarga masing-masing.
Meskipun demikian, tidak pernah dicatat bahwa ada pernikahan yang dipaksakan oleh pihak kepala keluarga, tanpa persetujuan dari wanita itu sendiri. Dalam hal ini, wanita masih diberikan hak untuk menentukan kehendaknya dan bukan begitu saja "dibeli" dengan mas kawin dalam jumlah tertentu. Tujuan mas kawin tersebut adalah untuk membayar keluarga perempuan atas kerugian karena kehilangan satu tenaga kerja, setelah sang anak perempuan ikut ke rumah suaminya.

Pada awal sejarah Israel, pernikahan biasanya berupa monogami, dimana seorang laki-laki hanya menikahi satu orang istri. Tetapi jika istri itu mandul, suaminya diperbolehkan mengambil istri muda untuk melanjutkan keturunannya. Istri pertama tetap diutamakan daripada istri muda. Kalau masih ada istri yang lain, istri tersebut dianggap sebagai budak. Dari situlah timbul adat, bahwa laki-laki diperbolehkan memperistri beberapa perempuan, tetapi pada kenyataannya hanya sedikit yang mampu melakukannya, karena suami wajib menafkahi istri-istrinya.

Dalam hukum Israel, seorang suami bisa menuntut cerai istrinya dengan beberapa alasan, misalnya ketidakperawanan sang istri ketika dinikahi atau kemandulan. Meskipun demikian, wewenang seorang suami untuk menceraikan istrinya ada batasnya, salah satu contohnya, jika tanpa dasar menuduh istrinya tidak perawan lagi pada waktu menikah dan ternyata tuduhan itu tidak terbukti maka suami tidak berhak lagi menceraikan istrinya. Tetapi, jika tuduhan itu terbukti, perempuan itu akan dihukum mati dengan dilempari batu di depan pintu rumah ayahnya untuk memperbaiki reputasi keluarganya dengan melakukan zinah.
Oleh karena itu, bukti bahwa seorang perempuan masih perawan harus disimpan dengan baik. Bukti itu biasanya berupa pakaian atau kain yang terkena noda menstruasi terakhir sebelum menikah atau dari hubungan seks pertama kali setelah menikah.

PERCABULAN DAN ZINAH

Hukum yang ada di Israel sangat keras mengenai kedua hal ini, terutama mengenai perzinahan. Hal ini dilatarbelakangi oleh sistem patrilineal, yang menuntut kejelasan, bahwa anak yang dilahirkan oleh sang istri adalah benar-benar keturunan suaminya.

Orang Israel  dengan jelas membedakan zinah dengan percabulan. Zinah merupakan persetubuhan dengan istri orang lain sedangkan percabulan adalah perbuatan seksual antara orang yang belum menikah. Percabulan dianggap hampir sama dengan pelacuran. Kalau suami bersetubuh dengan wanita yang belum menikah, hal itu dianggap sebagai percabulan saja. Yang dihukum mati hanya yang terbukti berzinah. Aturan ini memang lebih memberatkan para istri, yang benar-benar dibatasi .

Meskipun demikian, tidak selamanya sistem patrilineal mendatangkan kerugian bagi kaum perempuan. Dalam sistem ini, seksualitas seorang perempuan dianggap sangat penting karena kemampuannya untuk melahirkan anak. Selama perempuan itu masih perawan, ia dianggap aset yang bernilai untuk dijadikan calon istri. Oleh sebab itu, jika seorang laki-laki berani memperkosa perempuan yang belum menikah, ia bisa saja dibunuh oleh keluarga dari perempuan meskipun ia setuju untuk menikahinya. Contohnya adalah kisah Dina dan saudara laki-lakinya dalam kitab Kejadian 34 dan cerita Tamar, Absalom dan Amnon dalam 2 Samuel 13.

PERAN WANITA DALAM KELUARGA

Meskipun bangsa Israel menganut sistem patriakhal, di mana laki-laki menjadi kepala keluarga, kaum perempuan tidak semerta-merta harus selalu tunduk dan tidak memiliki kekuasaan sama sekali. Sebaliknya, seorang perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam mempertahankan kestabilan hidup sebuah rumah tangga. Jika seorang kepala keluarga memiliki wewenang mutlak dalam menentukan hukum atau peraturan keluarga, pembagian tugas dan kerja, serta hubungan dengan pihak di luar lingkungan keluarga, seorang istri memiliki wewenang mutlak dalam mengurus rumah tangganya sendiri.

Seorang istri memiliki tanggung jawab dan terlibat dalam berbagai kegiatan seperti mempersiapkan makanan dan memproduksi kain linen untuk pakaian. Perempuan Israel juga sekali-kali ikut bekerja di ladang gandum dan anggur seperti yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Mediterania yang lain. Selain itu, seorang istri juga dituntut untuk bisa mengatur rumah tangganya dan mendidik anak-anaknya.

Kalimat terakhir dari paragraf di atas sering dipahami dengan terlalu sederhana oleh banyak orang. Mungkin perlu diingatkan kembali, bahwa  keluarga di Israel jauh lebih besar dari keluarga yang sekarang ini dan bahkan juga termasuk para budak mereka. Sebuah extended family bisa terdiri dari sekedar lima belas orang atau mencapai ratusan orang, jika mereka memiliki status ekonomi yang tinggi. Ini berarti bahwa, mengatur sebuah rumah tangga di Israel bukan tugas yang mudah. Dibutuhkan kemampuan administrasi dan manajerial yang tinggi untuk bisa mengatur orang-orang yang sebanyak itu.

Lagi pula, yang dimaksud dengan tugas mengatur rumah tangga bukan hanya sekedar menyiapkan makanan dan pakaian bagi seisi rumah. Seorang istri bertanggung jawab mengatur keuangan keluarganya, sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga bahkan di saat musim dingin ketika usaha pertanian menjadi tidak mungkin dilakukan. Hal ini termasuk menjual kain atau pakaian yang telah selesai diproduksi, mengawasi jalannya usaha keluarga, dan mengatur pembelian properti dalam rumah tangga.

Untuk mempermudah pengaturan tugas ini, para istri dalam sebuah extended family atau klan, menentukan seorang matriakh sebagai pemimpin mereka. Biasanya, yang dipilih adalah yang paling tua atau yang berasal dari keluarga dengan status sosial tertinggi di antara yang lain. Matriakh inilah yang memiliki wewenang penuh atas rumah tangganya dengan dibantu oleh para perempuan yang lain dalam keluarga. Ia juga bertugas menyelesaikan perselisihan antar perempuan, jika itu terjadi.
Yang tidak kalah penting dari tugas seorang istri adalah tanggung jawab mendidik anak. Hal ini juga jangan disamakan dengan apa yang terjadi sekarang ini. Pada zaman bangsa Israel hidup di tanah Kanaan, belum ada institusi pendidikan seperti sekolah. Oleh karena itu, pendidikan seorang anak, baik masalah moral, religius dan pengetahuan umum, menjadi tanggung jawab keluarga. Seorang ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ketika seorang anak laki-laki beranjak dewasa, ia diharapkan telah memiliki pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk kemudian melanjutkan pendidikannya bersama sang ayah, mengenai hal-hal yang harus ditangani oleh para pria dalam keluarga dan masyarakat. Sementara itu, anak perempuan tetap dididik oleh ibunya untuk mempersiapkan diri menjadi seorang istri yang cakap dan mampu mengatur rumah tangganya sendiri kelak.

HAK PERLINDUNGAN
           
Dalam kehidupannya, seorang perempuan harus terus menerus tunduk di bawah kekuasaan laki-laki. Ketika ia masih anak-anak, ia harus taat kepada ayahnya dan ketika ia menikah, ia harus taat kepada suaminya. Hal ini mungkin telihat sangat berat, tapi kita juga bisa melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda. Selain memiliki wewenang atas istri dan anak-anaknya, seorang suami juga memiliki kewajiban yang mengikat, bahwa harus bisa menjamin kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya.

Hal ini juga berarti bahwa, hidup seorang perempuan selalu berada di bawah perlindungan dan jaminan pihak laki-laki. Jika ayahnya meninggal sebelum ia menikah, tanggung jawab untuk melindungi dan menghidupinya diambil alih oleh saudara laki-lakinya. Bahkan jika, seorang perempuan Israel dijual sebagai budak, ia tetap memiliki hak untuk dilindungi oleh tuannya. Haknya sebagai budak ini, diatur dalam hukum Taurat dan tertulis dalam kitab Keluaran 21: 7-11.
           
REFLEKSI DAN PENUTUP


Dari uraian di atas, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi kehidupan kaum perempuan di Israel Kuno. Sistem keluarga patriakhal memang mempengaruhi kondisi kehidupan para perempuan. Mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk memegang kekuasan di luar keluarganya sendiri, kecuali mungkin beberapa tokoh Alkitab, seperti Deborah dan Ester. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa.

Sebaliknya, seorang wanita dituntut untuk memiliki kecakapan yang tinggi dalam mengatur kehidupan rumah tangga keluarganya. Dalam kitab Amsal 31:10-31, tertulis amsal puji-pujian untuk istri yang cakap. Dalam beberapa terjemahan bahasa inggrisnya, terdapat berbagai sebutan untuk seorang perempuan yang mampu melakukan tugasnya sebagai pengurus rumah tangga dengan baik. Berikut ini akan saya lampirkan beberapa terjemahan tersebut.

DBY Proverbs 31:10 Who can find a woman of worth? for her price is far above rubies.
KJV Proverbs 31:10 Who can find a virtuous woman? for her price is far above rubies.
NIV Proverbs 31:10 A wife of noble character who can find? She is worth far more than rubies.
RSV Proverbs 31:10 A good wife who can find? She is far more precious than jewels.

Demikian seorang istri yang memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan yang takut akan Tuhan, dianggap begitu berharga.
Jika kita melihat dari sisi ini, maka jelas bahwa pra-anggapan yang ada mengenai kondisi kehidupan perempuan yang tertindas di dalam sistem keluarga patriakhal terbukti tidak benar, setidaknya dalam lingkup bangsa Israel. Seorang wanita juga dipandang sebagai seseorang yang mampu dan bahkan, sama seperti laki-laki, ia dinilai bukan hanya berdasarkan kecantikan tetapi juga kemampuannya di bidang-bidang tertentu. Yang berbeda hanyalah bentuk dari keahlian dan tanggung jawab yang dituntut untuk dimiliki seorang perempuan dan laki-laki.

Bahkan sebenarnya seorang perempuan memiliki keuntungan melalui sistem ini. Ia berhak untuk mendapat perlindungan sepanjang hidupnya dan tetap memiliki keleluasaan untuk melakukan semua pekerjaannya, karena kaum pria biasanya memang tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga. Dalam kitab taurat, kita bisa menemukan peraturan-peraturan yang menjamin perlindungan bagi kaum perempuan.
           
Hal ini juga sebaiknya tidak kita lihat dari sudut pandang yang negatif, bahwa perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah. Menurut penulis, perlindungan ini dimaksudkan untuk menjamin kebebasan para perempuan untuk menggunakan segala potensinya dalam tugasnya sehari-hari tanpa harus merasa terancam akan nasib dan masa depannya. Untuk bisa mengabdikan dirinya dalam "pekerjaan"-nya mengurus dan menjamin kehidupan begitu banyak orang, ia harus terlebih dahulu merasa aman dan terjamin, agar kemudian tidak terjadi penyimpangan. Orang yang tidak merasa aman akan posisi dan kehidupan nyaman yang ia miliki saat itu, cenderung untuk berbuat curang dan akhirnya akan merugikan seluruh keluarganya.

Jika kita mengaitkannya dengan kehidupan di era modern ini, telihat jelas bahwa kaum perempuan yang ada sekarang masih harus banyak belajar dari pendahulu-pendahulunya. Sekarang ini banyak perempuan yang menuntut persamaan dengan laki-laki, tanpa benar-benar memahami maknanya. Banyak juga yang memahami istilah emansipasi wanita dengan persamaan secara mutlak. Hal ini jelas-jelas tidak mungkin, karena pada dasarnya Allah telah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan untuk maksud dan tujuan yang berbeda.

Lagi pula, yang terlihat sekarang ini adalah bahwa kaum perempuan mulai melupakan tugas dan tanggung jawabnya yang utama, yang telah dijalani para pendahulunya sejak ribuan tahun yang lalu. Banyak perempuan yang menggeluti bidang-bidang baru yang dulunya hanya lazim dipelajari dan dipraktekan oleh laki-laki. Ini sebenarnya bukan sesuatu yang buruk, mengingat  hal yang sama juga dilakukan oleh kaum pria. Hanya saja, kecenderungan yang ada dalam masa sekarang ini adalah kaum wanita mulai menghindari tanggung jawabnya sebagi pengurus rumah tangga dan guru pertama bagi anak-anaknya.

Jika hal ini terus berlangsung, siapa yang akan peduli pada nasib keluarganya sendiri? Bukankah keluarga itu begitu penting dan merupakan titik awal seorang anak belajar bermasyarakat? Jika dalam keluarganya sendiri, ia harus melihat persaingan tiada akhir antara orang tuanya dalam karir dan ketidakpedulian sebagai efek sampingnya, bagaimana anak itu bisa tumbuh dengan memahami makna keluarga yang sesungguhnya?

Penulis Kitab Taurat

1. Taurat

Sering kita mendengar adanya hiruk-pikuk tentang pertentangan-pertentangan pendapat mengenai hasil penelitian akan bagian dari Alkitab oleh para ahli. Hal ini dapat kita maklumi adanya, karena setiap manusia memang terlahir dengan memiliki sifat ingin mengetahui suatu hal. Dan setiap manusia juga memiliki beragam pemikiran sehingga akan menimbulkan suatu hasil penelitian atau pengamatan yang berbada pula.

Di antara bagian-bagian di dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa Kitab Taurat-lah yang paling sering mendapatkan perhatian. Baik di dalam isi, penulisan, dan juga hal-hal lain yang bersangkutan dengan Taurat. Hal ini tentu ada alasannya, antara lain adalah karena isi dari kitab Taurat tersebut. Dan pada saat ini kita akan membahas lebih jauh pendapat-pendapat para peneliti tentang siapakah sebenarnya sang penulis kitab Taurat ini. Apakah Musa seorang diri? Atau ada orang lain yang ikut andil di dalamnya?

2. Arti Kata Taurat

Kelima kitab pertama di dalam Perjanjian Lama; Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan disebut Kitab Taurat. Kitab Taurat ini merupakan serangkaian kitab yang melukiskan alur kehidupan iman Israel dengan Musa sebagai pusatnya, oleh karena itu kelima kitab ini juga diberi nama kitab Musa atau Taurat Musa.  Kata Taurat berasal dari bahasa Ibrani, tora. Dan jika diterjemahkan dalam Perjanjian Baru dengan bahasa Yunani adalah nomos, (misalnya dalam Matius 5:17; Lukas 16:17; Kisah Para Rasul 7:53; 1Korintus 9:8). Arti kata Taurat sendiri mempunyai banyak makna. Antara lain adalah Taurat sebagai hukum, pengajaran dan petunjuk. Ada juga yang mengartikan sebagai suatu ajaran atau instruksi.

Nama lain yang digunakan untuk menyebut Kitab Taurat adalah Pentateukh yang berasal dari bahasa Yunani, penta dan touchis yang berarti lima kotak. Kotak yang dimaksudkan di sini adalah gulungan dari kulit atau papirus untuk bahan penulisan yang disimpan dalam kotak-kotak. Di dalam studi Alkitab juga dikenal istilah Tetrateukh, yaitu keempat kitab pertama, Kejadian sampai dengan Bilangan. Dan Hexateukh, yaitu keenam kitab pertama, Kejadian sampai dengan Yosua.

3. Lahirnya Teori-teori Sumber

3.1 Penyebab lahirnya teori sumber

Harus diakui bahwa manusia terpelajar mulai abad XX telah memiliki pengetahuan yang cukup bagus, sehingga disamping itu sering juga timbul keragu-raguan terhadap analisir religius dan moral. Dan dari hal itulah timbul tokoh-tokoh beriman yang berusaha untuk menggali dan mencari pemahaman akan kehendak Allah dalam hidup ini.

Iman yang dimiliki oleh manusia dapat berkembang dalam inteligensi yang tinggi juga, sesuai dengan pemahaman manusia: fides querens intellectum, yang artinya adalah iman mencari adanya pengertian. dan di dalam tradisi Israel, sudah tampak bagaimana iman itu me\ancari pengertian dan terus menerus dipahami dalam konteks kehidupan.

Hal lain yang menjadikan Taurat sebagai sasaran empuk untuk dijadikan bahan galian dalam mencari kebenaran tentang penulisan adalah pada abad Pencerahan, kebanyakan orang Yahudi dan orang Kristen.

3.2 Berbagai Teori-teori Sumber

Berkembangnya metode ilmiah yang bersamaan, baik empiris maupun positivisme ilmiah, teologi deisme dalam agama dan teori evolusi yang berkenaan dengan asal mula segala sesuatu pastilah akan memenuhi pandangan-pandangan yang lazim pada penulisan kitab Taurat. Dan sebagai akibatnya, muncullah beberapa hipotesis atau pendekatan utama terhadap keberadaan kitab Taurat dari para cendekiawan yang telah berlangsung selama tiga abad.

3.2.1 Hipotesis Penulis Tunggal

Tradisi Ibrani, Samaria dan Kristen berpendapat bahwa Musa-lah yang menuliskan dan menyusun semua bagian dari kitab Taurat, kecuali dalam Ulangan 34, yaitu mengenai kisah kematiannya sendiri.

Hipotesis ini menunjukan adanya pengilhaman Allah dan asal-usul tertulis yang asli melalui Musa. Dan semua bagian dari isi kitab Taurat diakui keberadaannya. Ketepatan dan  sifat dari sejarah yang terdapat di dalamnya, dan juga semau angka dan mujizat yang diceritakan pada masa Israel.

3.2.2 Hipotesis Penulis Tunggal-Beberapa Penyunting

Hipotesis ini sudah merupakan hasil dari sebuah penelitian Alkitabiah yang rasionil selama zaman Pencerahan. Suatu tantangan serius terhadap orang-orang yang mempunyai pandangan bahwa hanya Musa-lah yang menulis dan juga menyunting kitab Taurat. Hipotesis ini mencoba untuk menanggapi secara jujur akan keberatan-keberatan terhadap Musa yang merupakan penulis dan penyunting satu-satunya. Pernyataan yang digunakan adalah yang berkaitan dengan cara penulisannya, yaitu gaya bahasa dan kosakata yang berbeda-beda.

Pandangan ini berpendapat bahwa: (1) musa adalah penyusun sumber-sumber tertulis yang ada ke dalam Kitab Kejadian; (2) Musa adalah penulis sebagian besar dari empat kitab lain (Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan); (3) Hanya sedikit penyutingan yang dilakukan oleh Musa, mungkin telah diselesaikan dalam bentuknya yang seperti sekarang ini oleh para tua-tua pada zaman Yosua, atau bahkan pada zaman Samuel.

3.2.3  Hipotesis Banyak Penulis-Beberapa Penyunting

Hipotesis inilah yang paling sering dan paling ramai dibicarakan oleh para pengamat Alkitab masa kini. Yaitu memisah-misahkan bagian dari Kitab Taurat menurut gaya bahasa dan gaya penulisannya.

a. Pemikir Adanya Teori Sumber

Sejak semula orang-orang berpendapat bahwa kitab Taurat dikarang oleh Musa. Tetapi pendapat ini hanya bertahan sampai pada abad ke-XVIII. Dan sejak itu, mulai ada keraguan terhadap pendapat itu. Dan dengan teori ini, Jean d'Astruc mengecam pandangan kritis dari pihak Spinoza. Sedikit tentang Spinoza, Benedict Spinoza adalah seorang Yahudi Spanyol yang berpendapat bahwa Musa-lah satu-satunya orang yang menuliskan Kitab Taurat. Yang terkenal dengan tilisannya di tahun 1670, Tractatus Theologico-Poloticus. Dia menyatakan bahwa semua kitab taurat diliskan oleh Musa, hanya di dalam Imamat 34, cerita mengenai kematiannya yang dituliskan oleh orang lain, tetapi tetap saja semuanya itu dianggap sebagai karya Musa secara keseluruhan.

Munculnya berbagai teori  mengenai sumber rekontruksi Pentateukh dan Hexateukh memunculkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan sumber historis E. Dan pertanyaan-pertanyaan itu telah dikemukakan oleh sarjana-sarjana terkemuka dalam bidang itu di masa itu. Antara lain adalah P. Volz, W. Rudolph, dan S. Mowinckel. Dalam tahun 1970-an pertanyaan-pertanyaan yang bersifat paling serius adalah yang disebut sebagai sumber J (Yahwis) dan sumber P (Para Penulis Keimaman). Bermacam-macam masalah dalam sumber P dan juga dalam sumber D (Deuteronumis) telah diselidiki, dan banyak hal baru yang menguraikan berbagai aspek penyaduran sumber-sumber atau sumber-tradisi dan menilai akibat teologis dari penelitian sejarah tradisi.

Keragu-raguan itu pertama dipelopori oleh Jean d'Astruc yang mengatakan bahwa di dalam menulis dan juga mengarang, Musa menggunakan bahan-bahan dari dua sumber besar dan dua sumber kecil. Dan dari sumber besar ini dia membedakan dengan berdasarkan penggunaan sebutan bagi Allah, yaitu sumber yang digunakan adalah "Elohim" dan "Yahwe".

Kemudian menyusul pula J.G. Eichhorn, yang setelah dia mempelajari pendapat dari Jean d'Astruc, dia mengembangkannya menjadi lebih radikal. Dia mengatakan bahwa bukanlah Musa yang mengarang kitab Taurat, melainkan orang lain yang namanya tidak diketahui. Dan dia juga menyatukan dua sumber yang disebutkan oleh Jean d'Astruc tersebut.

b. Teori-teori Sumber

Dan akhirnya sampai pada abad ke-XIX, penyelidikan terhadap Taurat mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dan tokohnya adalah A. Kuenen dan J. Wellhausen. Buku tulisan dari Wellhausen yang terkenal adalah Prolegomena to the History of Ancient Israel yang pertama dipublikasikan pada tahun 1878. Dimana teorinya menjadi standard Perjanjian Lama yang liberal lebih dari setengah abad dan tetap menjadi suara yang mempunyai kekuatan. Menurut dua ahli ini terdapat empat sumber di dalam kitab Taurat yang dipakai oleh Musa. Keempat sumber itu adalah:

1. Sumber yang menggunakan nama "Yahwe"

Sumber Y ini ditulis oleh seorang pengarang dari Kerajaan Selatan dari Yudea selama abad ke-9 SM, atau sekitar 850 SM. Nama Yahwe sangat menonjol pada kitab ini. Sumber ini menuliskan sejarah Israel dari masa penciptaan sampai kelepasan (keluaran). Dan dapat kita lihat dengan jelas di dalam Kejadian 2:4b-31. Yang ditekankan dalam sumber ini adalah tentang panggilan Allah. Yaitu saat Allah memanggil Israel untuk menjadi umat-Nya, dimana Allah berjanji akan memberikan anugrah-Nya atas mereka.

Di sana sangat terlihat corak pada seluruh kisah para leluhur dalam iman dan juga dalam kisah penggambaran di padang gurun. Sampai sumber ini muncul pada cerita-cerita rakyat. Gaya cerita di dalam penggolongan ini disimpulkan dengan gaya cerita yang merupakan kekuatan sumber ini. Di mana bahan ceritanya berasal dari masyarakat, baik lisan atau tertulis, yang dijadikan oleh penulis di dalam suatu kidung atau kisah.

2. Sumber yang menggunakan nama "Elohim"

Sumber E ditulis oleh seorang Israel dari kerajaan utara pada abad ke-8 SM, atau 750 SM. Yaitu selama perwahyuan diri Allah, seperti yang ada pada Keluaran 3:14. Dan nama Elohim dipakai sampai cerita panggilan Musa. Sumber ini berkembang sekitar abad IX di utara, dan didukung oleh para ahli kitab.

Setelah cerita tentang panggilan Musa, ternya penilis sumber ini juga menggunakan nama Yahwe. Dimana ada dua nama digabung menjadi satu. Diperkirakan bahwa sumber ini ada beberapa waktu setelah kejatuhan Samaria oleh Asyur pada tahun 772 SM, dengan orang Yehuda sebagai editornya.

Sumber ini cenderung bersifat moraltis dan nubuat, dimana juga menyanjung Yakub dan Yusuf, dan menitikberatkan suku-suku utara beserta tempat-tempat ibadahnya. Dari cara penulisan dan gaya bahasa, sumber E ini mempunyai kemiripan dengan sumber Y, yaitu dalam hal menututurkan suatu kisah, namun para cendekiawan Kitab Suci berpendapat bahwa pada sumber E, tidak begitu pandai dalam mengisahkannya, bahkan ada pandangan bahwa sumber E ini menghindari adanya gambaran anthropomorfitis tentang Allah. Allah lebih nampak melalui mimpi, tanda, atau suara malaikat serta melalui theophania (penampakan Allah dalam kekuatan istimewa).

3. Sumber yang menggunakan nama "Deuteronomis"

Sumber ini dianggap berasal dari suatu "aliran" yang menghasilkan kitab Ulangan, yang ada pada masa nabi-nabi awal masa pemerintahan Yosia (sekitar 630-600 SM) yaitu sekitar 621 SM. bahkan dikatakan bahwa Deuteronomis adalah sebuah kaum yang mengembangkan tafsiran tradisi kuno pada kitab Ulangan.

Sumber ini juga menonjol akan panggilan Allah kepada bangsa Israel dan juga ditandai dengan adanya gaya khotbah atau pemberian nasihat dan pemakaian kosakata hikum perjanjian. Secara teologis, sumber ini membatasi adanya penyembahan terhadap Yahwa ke satu pusat menyembahan , dan juga adanya ungkapan ketaatan yang ketat kepada penafsiran "berkat" dan "kutuk" pada sejarah Israel. Dan ternyata, sumber ini banyak memberikan pengaruh pada kitab-kitab historis, dari kitab Kejadian sampai kitab raja-Raja.

4. Sumber yang menggunakan nama "Prister Codex" atau "Tradisi Imam"

Gaya bahasa yang dipakai disini begitu resmi dan terkendali, namun suka mengulang-ulang dan kurang imaginatif. dan nampak adanya pengaruh pada wawasannya dan amat menghindari gambaran Allah yang anthropofistis. Di sini, Allah digambarkan tanpa saingan, agung, dan berkuasa. maksud dari sumber P ini adalah untuk mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa kudus Allah.

Sumber ini terkenal oleh gaya keseragaman dan penyusunannya yang rapi. Dan juga penggunaan kata-kat klise, seperti "inilah daftar keturunan dari". Sumber utamanya adalah adanya liturgi, ritual daftar silsilah dan statistik, berbagai ketetapan hukun dan perintah, yang semuanya nampak jelas merupakan kepentingan keimaman Israel. Oleh karena itu, sumber ini diduga adalah karya imam-imam pada masa pasca pembuangan sekitar tahun 500-450 SM. Tradisi ini dinyatakan sebagai tradisi yang relatif paling muda, karena diperkirakan berkembang pada saat menjelang pembuangan.

3.2.4 Hipotesis tradisi Lisan

Dan kemudian ada juga hipotesis yang menyatakan bahwa dalam penyampaian sejarah dan kisah-kisah rakyat Israel, digunakan metode lisan. namun kemudian terdapat para penganjur yang menginginkan adanya penulisan terhadap kisah-kisah ini dengan menjadikannya ke dalam suatu dokumen.

4. Tangggapan Terhadap Teori-teori

4.1 Bebepara tanggapan

Penelitian terakhir cenderung menekankan kesatuan Taurat, tanpa menolak kemungkinan adanya beberapa sumber yang digunakan dalam pembentukan kesatuan itu. Banyak kritik sumber dan hipotesis yang dihasilkan dan bersifat dugaan dan problematik.

Diantara ahli-ahli yang pertama menaruh perhatian dan mengkritik pandangan ini adalah B.D.Eerdmans, ia memprotes adanya teori tersebut sebagai teori yang memecah-mecah cerita yang seharusnya dipandang sebagai satu kesatuan. Dia menolak sumber P sebagai suatu sumber yang berdiri sendiri, dia juga keberatan membagi-bagi sumber Y dan E atas dasar nama-nama Allah.

Sedangkan Gunkel yang pada dasarnya menerima kerangka teori sumber-sumber ini memberi dorongan baru pada penelitian krisis kira-kira tahun 1900 dengan memperkenalkansejarah bentuk sastra. pendekatan ini mengakibatkan munculnya pandangan radikal yang ekstrim.

4.2 Alasan Bahwa Musa Adalah Penulis Tunggal

Kita dapat melihat bagaimana para ahli berusaha dalam mengerti dan mengembangkan sesuatu, tetapi dalam hal ini, kita tidak dapat asal menerima teorti-teori tersebut. Karena tidak ada alasan yang kuat dalam kebenarannya, atau untuk menerimanya. Malah secara tegas kita tidak dapat menerimanya. Kita mempunyai alasan yang kuat untuk menolak teori-teori itu. Dan kita mempunyai dua jawaban untuk dapat menyanggah teori tersebut, yaitu[26] :

a. negatif; Jika memang bukan Musa-lah yang menuliskan kitab Taurat, maka Yesus pernah melakukan kesalahan. Karena Yesus pernah mengatakan bahwa Musa-lah satu-satunya orang yang menulis kitab Taurat (Lukas 24:4). dan kesimpulannya, jika Yesus pernah melakukan kesalahan, maka Yesus bukanlah Tuhan.

b. positif; Jika salah satu bagian dari Alkitab mempunyai kesalahan, berarti ada kemungkinan bagian lain juga mempunyai kesalahan. Itu berarti kita tidak dapat mempercayai isi Alkitab jika terdapat kesalahan di dalamnya. Itu adalah hal yang berbahaya, karena berarti semua cerita, fakta, dan sejarah yang ada juga salah.

5. Kesimpulan

Kelima Kitab Taurat adalah suatu kesatuan, dimana terdapat unsur-unsur yang menyatukannya, yaitu janji, pemilihan, pembebasan, ikatan perjanjian, hukum dan tanah perjanjian. salah satu unsiur yang menjadi pusat semua pengakuan itu adalah peristiwa keluaran dari Mesir. Peristiwa yang dituliskan dalam kitab taurat ini bukanlah suatu gagasan abstrak yang bersifat teologis, namun merupakan peristiwa sejarah yang dialami oleh bangsa tertentu.

Mengenai sumber-sumber yang ada, dalam ini orang harus membiarkan Alkitab berbicara dan tidak menentukan lebih dahulu jenis sastra dan teologi yang diajarkan. Dan sumber-sumber tersebut haruslah diterima sebagai teori tang bersifat sementara. dan tetap harus terbuka tergadap perubahan dan modifikasi setelah diperoleh lebih banyak pengertian.

Apa yang menjadi alasan para pemikir untuk dapat membagi kitab Taurat menjadi beberapa bagian itu tidaklah mempunyai alasan yang kuat untuk dapat dipegang. memang kita sebagai manusia diciptakan untuk memiliki perasaan ingin tahu untuk hal-hal tertentu, apalagi hal-hal yang di luar logika manusia. Tuhan juga telah memberikan manusia alat untuk berpikir secara sitematika, agar kita dapat berusaha untuk mencari tahu tentang hal-hal yang dimaksudkan dalam kehendah Allah. Namun, kita harus terus memperhatikan isi dari pada Alkitab, bukan mencari hal yang tersembunyi di baliknya. Dan untuk masalah teori-teori ini, kita harus mempunyai pegangan dan pandangan yang teguh. Kita tidak dapat sembarangan menerima pendapat dan pandangan orang, walaupun kita merasa orang tersebut lebih pandai dari kita dalam teologia. Hal itu tidak menjamin bahwa mereka adalah benar. Karena semua kebenaran hanya ada pada Alkitab.

Membayangkan Salib

Pekerjaan Kristus di dunia ini sedang mendekati akhirnya. Di hadapan‑Nya, dalam latar belakang yang jelas, terbentanglah pemandangan ke arah mana kaki‑Nya sedang melangkah. Sedangkan sebelum Ia mengambil kemanusiaan pada diri‑Nya, Ia melihat jauhnya jalan yang harus ditempuh‑Nya agar dapat menyelamatkan yang hilang. Setiap kepedihan yang melukai hati‑Nya, setiap hinaan yang ditimpakan ke atas kepala‑Nya, setiap penderitaan yang harus ditanggung‑Nya, terpampang di hadapan‑Nya sebelum Ia mengesampingkan mahkota dan jubah kerajaan‑Nya, dan turun dari takhta, untuk menutupi keilahian‑Nya dengan kemanusiaan. Jalan dari palungan ke Golgota semuanya terbuka di hadapan mata‑Nya. Ia mengetahui dukacita yang akan datang kepada‑Nya. Ia mengetahui semuanya, namun Ia berkata, "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Mzm. 40:8, 9.

Di hadapan‑Nya Ia senantiasa melihat hasil tugas‑Nya. Kehidupan‑Nya di dunia yang penuh dengan pekerjaan berat dan pengorbanan diri, digembirakan oleh harapan bahwa tidaklah sia‑sia la menanggung segala penderitaan ini. Dengan memberikan hidup‑Nya untuk hidup manusia, Ia akan mengembalikan dunia kepada kesetiaan terhadap Allah. Meski pun baptisan darah harus mula‑mula diterima, meski pun dosa‑dosa dunia menjadi beban jiwa‑Nya yang tidak bersalah; meski pun bayang dukacita yang tidak terperikan ada di atas‑Nya, namun karena kesukaan yang dihadapkan kepada‑Nya, Ia memilih menanggung salib, dan tidak menghiraukan malu.

Peristiwa‑peristiwa yang dihadapi‑Nya masih tersembunyi dari rekan‑rekan sekerja‑Nya yang terpilih itu, tetapi saatnya sudah dekat bila mereka harus melihat kesengsaraan‑Nya. Mereka harus melihat Dia yang sudah mereka kasihi dan percayai, yang sudah diserahkan ke tangan musuh‑musuh‑Nya, dan tergantung di salib Golgota. Tidak lama kemudian Ia harus meninggalkan mereka untuk menghadapi dunia tanpa penghiburan hadirat‑Nya yang kelihatan. Ia mengetahui alangkah pahitnya kebencian, dan kurang percaya akan menganiayakan mereka, dan Ia ingin mempersiapkan mereka untuk ujian mereka.

Yesus dan murid‑murid‑Nya kini sudah datang ke salah satu kota di sekitar Kaisaria Pilipi. Mereka sudah di seberang perbatasan Galilea, di suatu daerah di tempat penyembahan berhala merajalela. Ke sinilah murid‑murid ditarik dari pengaruh "Yudaisme" yang besar itu, dibawa ke dalam hubungan yang lebih dekat dengan perbaktian kafir. Di sekeliling mereka ditunjukkan bentuk‑bentuk ketakhyulan yang terdapat di segala bagian dunia. Yesus merindukan agar suatu pandangan tentang perkara‑perkara ini dapat memimpin mereka untuk merasakan tanggung jawab mereka kepada orang kafir. Selama Ia tinggal di daerah ini, Ia berusaha menghindari mengajar orang banyak, dan mengabdikan diri‑Nya lebih banyak untuk murid‑murid‑Nya.

Ia hampir akan memberitahukan kepada mereka tentang penderitaan yang menunggu Dia. Tetapi mula‑mula Ia mengasingkan diri, dan mendoakan agar hati mereka disediakan untuk menerima perkataan‑Nya. Ketika menggabungkan diri dengan mereka, Ia tidak dengan segera menyampaikan hal yang hendak diberikan‑Nya. Sebelum melakukannya, Ia memberi mereka suatu kesempatan untuk mengaku iman mereka kepada‑Nya, agar mereka dapat dikuatkan guna menghadapi ujian yang akan datang. Ia bertanya, "Menurut kata orang, siapakah Anak Manusia?"

Dengan sedihnya murid‑murid terpaksa mengakui bahwa Israel sudah gagal mengenal Mesias. Ada pula yang menyatakan Dia Anak Daud, ketika mereka melihat mukjizat‑mukjizat‑Nya. Orang banyak yang sudah diberi makan di Baitsaida telah begitu ingin untuk memaklumkan Dia raja Israel. Banyak orang bersedia menerima Dia sebagai nabi, tetapi mereka tidak percaya bahwa Ialah Mesias.

Kini Yesus menanyakan pertanyaan kedua, yang berhubungan dengan murid‑murid sendiri: "Tetapi kata kamu ini, Siapakah Aku?" Petrus menjawab, "Tuhanlah Kristus, Anak Allah yang hidup."

Sejak mulanya Petrus sudah percaya bahwa Yesus ialah Mesias. Banyak orang lain yang sudah diyakinkan oleh khotbah Yohanes Pembaptis, dan yang telah menerima Kristus, mulai meragukan mengenai tugas Yohanes ketika ia dipenjarakan dan dibunuh; dan kini mereka meragukan bahwa Yesus adalah Mesias, yang sudah lama sekali mereka nantikan. Banyak dari antara murid‑murid‑Nya yang telah sungguh‑sungguh mengharapkan Yesus mengambil tempat‑Nya di takhta Daud, meninggalkan Dia ketika mereka melihat bahwa Ia tidak mempunyai niat seperti itu. Tetapi Petrus dan rekan‑rekannya tidak berbalik dari kesetiaan mereka. Peri laku yang ragu‑ragu di pihak orang‑orang yang memuji kemarin dan mempersalahkan hari ini tidaklah merusak iman pengikut Kristus yang sejati itu. Petrus menyatakan, "Tuhanlah Kristus, Anak Allah yang hidup." Ia tidak menunggu kehormatan raja untuk memahkotai Tuhannya, melainkan menerima Dia dalam kerendahan‑Nya.

Petrus telah mengungkapkan iman keduabelas murid itu. Meski pun demikian murid‑murid itu masih jauh dari pengertian akan tugas Kristus. Perlawanan dan gambaran yang salah di pihak imam‑imam dan penghulu‑penghulu, meski pun tidak dapat membalikkan mereka dari Kristus, namun masih menyebabkan kebingungan besar bagi mereka. Mereka tidak melihat jalan mereka dengan jelas. Pengaruh pendidikan mereka yang mula‑mula, ajaran rabbi‑rabbi, kuasa tradisi, masih menghambat pandangan mereka akan kebenaran. Sekali‑sekali cahaya yang mulia dari Yesus bersinar kepada mereka, namun sering mereka bagaikan orang‑orang yang meraba‑raba di antara bayang‑bayang. Tetapi pada hari ini, sebelum mereka dibawa berhadap‑hadapan dengan ujian besar untuk iman mereka, Roh Kudus memenuhi mereka dengan kuasa. Seketika lamanya mata mereka dipalingkan dari "barang yang kelihatan" untuk "memandang yang tidak kelihatan." 2 Kor. 4:18. Di bawah samaran kemanusiaan mereka melihat kemuliaan Anak Allah.

Yesus menjawab kepada Petrus dengan berkata, "Berbahagialah, engkau, hai Simon, anak Yunus! Karena bukannya keadaan manusia yang menyatakan hal ini kepadamu, melainkan Bapa‑Ku yang di surga."

Kebenaran yang telah diakui oleh Petrus merupakan dasar iman orang percaya. Justeru itulah yang telah dinyatakan Kristus Sendiri sebagai hidup kekal. Tetapi hanya memiliki pengetahuan ini bukannya menjadi alasan untuk memuliakan diri sendiri. Bukannya dengan hikmat atau kebaikannya sendiri kebenaran itu telah dinyatakan kepada Petrus. Manusia tidak pernah dapat memperoleh suatu pengetahuan Ilahi dengan kuasanya sendiri. Ia "tingginya seperti langit--apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati--apa yang dapat kauketahui?" Ayub 11:8. Hanyalah roh pengangkatan dapat menyatakan kepada kita perkara Allah secara mendalam, "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia." "Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah." 1 Kor. 2:9, 10. "Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia," dan kenyataan bahwa Petrus melihat kemuliaan Kristus membuktikan bahwa ia telah "menerima pengajaran dari Bapa." Mzm. 25:14; Yoh. 6:45. Ah, sungguh, "Berbahagialah engkau, hai Simon, anak Yunus! Karena bukannya keadaan manusia yang menyatakan hal itu kepadamu."

Yesus meneruskan: "Aku pun berkata kepadamu, bahwa engkau inilah Petrus, dan di atas batu ini Aku akan membangunkan sidang‑Ku; dan segala pintu alam maut pun tiada akan dapat mengalahkan dia." Kata Petrus berarti sebuah batu—sebuah batu yang berguling‑guling. Petrus bukannya gunung batu yang di atasnya sidang didirikan. Segala pintu alam maut mengalahkan dia ketika ia menyangkali Tuhannya dengan kutukan dan sumpah. Sidang didirikan di atas Seorang yang tidak dapat dialahkan oleh pintu alam maut.

Berabad‑abad sebelum kedatangan Juruselamat Musa telah menunjukkan kepada Gunung Batu keselamatan Israel. Penulis Mazmur telah menyanyikan "Gunung Batuku." Yesaya telah menulis, "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh." Ul. 34:4. Mzm. 62:7; Yes. 28:16. Petrus sendiri, yang menulis dengan ilham mengenakan nubuatan ini kepada Yesus. Ia mengatakan, "Jik kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani." 1 Petr. 2:3‑5.

"Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." 1 Kor. 3:11. "Di atas batu ini," kata Yesus, "Aku akan membangunkan sidang‑Ku." Di hadirat Allah, dan segala makhluk‑makhluk cerdas di sorga dihadiri oleh tentara alam maut yang tidak kelihatan, Kristus mendirikan sidang‑Nya di atas Gunung Batu yang hidup. Gunung Batu itu ialah diri‑Nya Sendiri, tubuh‑Nya sendiri, yang dipecahkan dan dihancurkan bagi kita. Terhadap sidang yang didirikan di atas dasar inilah pintu alam maut pun tidak dapat menang.

Alangkah kecilnya sidang itu kelihatan ketika Kristus mengucapkan perkataan ini! Hanya sedikit sekali orang percaya, yang segala kuasa Setan dan kuasa orang jahat ditujukan kepada mereka, meski pun demikian para pengikut Kristus tidak usah khawatir. Karena kekuatan mereka didirikan di atas Gunung Batu, maka mereka tidak dapat dikalahkan.

Selama enam ribu tahun iman sudah bertumpu pada Kristus. Selama enam ribu tahun banjir dan topan kemarahan Setan sudah dikalahkan di atas Gunung Batu keselamatan; tetapi Gunung Batu itu berdiri dengan tidak bergerak.

Petrus telah mengungkapkan kebenaran yang menjadi dasar iman sidang itu, dan kini Yesus menghormati dia sebagai wakil segenap rombongan orang percaya. Ia berkata, "Maka Aku akan memberi kepada engkau anak kerajaan surga; dan barang apa yang engkau ikatkan di atas bumi, itu pun terikat juga di surga, dan barang apa yang engkau orakkan di atas bumi, itu pun terorak juga di surga."

"Anak kunci kerajaan surga," ialah sabda Kristus. Segala perkataan Kitab Suci adalah milik‑Nya, dan terrnasuk yang di sini. Perkataan ini mempunyai kuasa untuk membuka dan menutup surga. Hal itu menyatakan keadaan yang dengannya manusia diterima atau ditolak. Demikianlah orang‑orang yang memasyhurkan sabda Allah menjadi suatu bau hayat menuju hidup atau bau maut menuju mati. Pekerjaan mereka adalah suatu tugas yang sarat dengan hasil abadi.

Juruselamat tidak menyerahkan pekerjaan Injil kepada Petrus secara pribadi. Beberapa waktu kemudian, ketika mengulangi perkataan yang diucapkan kepada Petrus, Ia mengenakannya langsung kepada sidang. Dan bahan yang sama diucapkan juga kepada keduabelas murid sebagai wakil‑wakil rombongan orang percaya. Sekiranya Yesus telah menyerahkan sesuatu wewenang khusus kepada salah seorang murid‑Nya melebihi murid‑murid yang lain, maka kita tidak akan sering melihat mereka bertengkar mengenai siapa seharusnya yang terbesar. Sudah tentu mereka tunduk kepada kehendak Tuhannya, dan menghormati orang yang telah dipilih‑Nya.

Gantinya menunjuk seorang menjadi kepala mereka, Kristus mengatakan kepada murid‑murid, "Janganlah kamu disebut Rabi," "janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias." Mat. 23:8, 10.

"Kepala dari tiap‑tiap laki‑laki ialah Kristus." "Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus", dan "Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu." 1 Kor. 11:3; Ef. 1:22, 23. Sidang didirikan di atas Kristus sebagai dasarnya, sidang itu harus mentaati Kristus sebagai kepalanya. Sidang itu tidak seharusnya bergantung pada manusia, atau dikendalikan oleh manusia. Banyak orang menuntut bahwa suatu jabatan dengan tanggung jawab besar dalam sidang memberi mereka wewenang untuk mendiktekan apa yang akan dipercayai oleh orang lain dan apa yang akan mereka lakukan. Tuntutan ini tidak dibenarkan Allah. Juruselamat menyatakan, "Kamu sekalian ini bersaudara." Semuanya mudah terkena pencobaan, dan ada kemungkinan berbuat kekeliruan. Kita tidak dapat bergantung pada makhluk yang terbatas untuk mendapat bimbingan. Gunung Batu iman ialah hadirat Kristus di dalam sidang. Padanyalah yang paling lemah sekali pun boleh bergantung, dan mereka yang menganggap diri paling kuat sekali pun akan terbukti paling lemah, kecuali mereka menjadikan Kristus menjadi kesanggupan bagi mereka. "Kutuklah orang yang harap pada manusia dan yang menaruh daging akan lengannya," Tuhan bagaikan "Gunung Batu dan perbuatan‑Nya tiada berkecelaan." "Berbahagialah kiranya segala orang yang percaya akan Dia."

Sesudah pengakuan Petrus, Yesus memerintahkan murid‑murid agar tidak menceritakan kepada seorang jua pun bahwa Ialah Kristus. Perintah ini diberikan sebab perlawanan yang nekad di pihak ahli taurat dan orang Farisi. Lebih dari itu, orang banyak dan murid‑murid sekali pun mempunyai suatu pengertian yang sangat keliru tentang Mesias, sehingga suatu pengumuman tentang Dia kepada khalayak ramai tidak akan memberi mereka pendapat yang betul tentang tabiat‑Nya atau pekerjaan‑Nya. Tetapi dari hari ke hari Ia menyatakan diri‑Nya kepada mereka sebagai Juruselamat, dan dengan demikian Ia ingin memberikan kepada mereka suatu pengertian yang benar tentang Dia sebagai Mesias.

Murid‑murid masih mengharapkan agar Kristus memerintah sebagai seorang putera duniawi. Meskipun sudah lama Ia menyembunyikan rencana‑Nya, namun mereka percaya bahwa Ia tidak akan selamanya tinggal dalam kemiskinan dan dalam keadaan tidak dikenal; waktunya sudah dekat bila Ia akan mendirikan kerajaan‑Nya. Bahwa kebencian imam‑imam dan rabbi‑rabbi tidak pernah akan dikalahkan, bahwa Kristus akan ditolak oleh bangsa‑Nya sendiri, dihukum sebagai seorang penipu, dan disalibkan sebagai seorang penjahat, pikiran seperti itu tidak pernah timbul dalam hati murid‑murid. Tetapi saat kuasa kegelapan sudahlah dekat, dan Yesus harus memaparkan kepada murid‑murid‑Nya tentang pertentangan yang ada di depan mereka. Ia merasa sedih sementara Ia menantikan ujian itu.

Sampai saat itu Ia telah menahan diri dari memberitahukan kepada mereka sesuatu berkenaan dengan penderitaan dan kematian‑Nya. Dalam percakapan‑Nya dengan Nikodemus Ia berkata, "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal." Yoh. 3:14, 15. Tetapi murid‑murid tidak mendengar hal ini dan sekiranya mereka mendengarnya, mereka tidak akan mengerti. Tetapi sekarang mereka sudah bersama‑sama dengan Yesus, mendengarkan perkataan‑Nya, melihat perbuatan‑Nya, sehingga meski pun keadaan di sekitar‑Nya sangat hina, dan Ia mendapat perlawanan dari pihak imam‑imam dan orang banyak, namun mereka dapat ikut serta dalam kesaksian Petrus, "Tuhanlah Kristus, Anak Allah yang hidup." Sekarang sudah tibalah saatnya selubung yang menyembunyikan masa depan pun tersingkaplah. "Daripada masa itu mulailah Yesus menyatakan kepada murid‑murid‑Nya bahwa Ia wajib pergi ke Yerusalem, lalu merasai banyak sengsara daripada orang tua‑tua, dan daripada kepala imam dan ahli taurat, sehingga dibunuh kemudian Ia bangkit pula pada hari yang ketiga."

Dalam keadaan bungkam karena kesedihan dan keheranan, murid‑murid mendengarkannya. Kristus telah menerima pengakuan tentang Dia sebagai Anak Allah, dan sekarang perkataan‑Nya yang menunjuk kepada penderitaan dan kematian‑Nya tampaknya tidak dapat dipahami. Petrus tidak dapat tinggal diam. Ia berpaut pada Tuhannya, seakan‑akan menarik Dia dari nasib yang mengancam, sambil berseru "Dijauhkan Allah, ya Tuhan! Sekali‑kali jangan perkara ini akan jadi pada‑Mu."

Petrus mengasihi Tuhannya, tetapi Yesus tidak memuji dia karena menyatakan kerinduan untuk melindungi Dia dari penderitaan. Perkataan Petrus tidaklah sedemikian rupa sehingga dapat menjadi suatu pertolongan dan penghiburan kepada Yesus dalam ujian besar yang dihadapi‑Nya. Hal itu tidak sesuai baik dengan tujuan rahmat Allah terhadap dunia yang hilang, mau pun dengan pelajaran pengorbanan diri yang hendak diajarkan Yesus oleh teladan‑Nya sendiri. Petrus tidak ingin melihat salib dalam pekerjaan Kristus. Kesan yang hendak diberikan oleh perkataannya sangatlah bertentangan dengan kesan yang hendak diberikan oleh Kristus pada pikiran para pengikut‑Nya, dan Juruselamat tergerak untuk mengucapkan salah satu tempelakan yang paling keras yang pernah keluar dari bibir‑Nya: "Pergilah ke belakang Aku, hai Iblis! Engkaulah menjadi suatu penyesat bagi‑Ku, karena bukannya engkau memikirkan barang daripada Allah, melainkan barang daripada manusia."

Setan berusaha mengecewakan Yesus, dan membalikkan Dia dari tugas‑Nya; dan Petrus dalam kasih yang buta, sedang memberikan suara kepada pencobaan. Putera kejahatan adalah sumber buah pikiran itu. Ajakannya ada di belakang permohonan yang membujuk itu. Di padang belantara, Setan telah menawarkan kerajaan dunia kepada Kristus dengan syarat meninggalkan jalan kerendahan hati dan pengorbanan. Sekarang ia mengemukakan pencobaan yang sama kepada murid Kristus. Ia sedang berusaha menetapkan pandangan Petrus pada kemuliaan duniawi, supaya ia tidak melihat salib yang diinginkan Yesus supaya dilihatnya. Dan dengan perantaraan Petrus, Setan sekali lagi melancarkan pencobaan kepada Yesus. Tetapi Juruselamat tidak menghiraukannya, pikiran‑Nya tertuju kepada murid‑Nya. Setan telah menyelang antara Petrus dan Tuhannya, supaya hati murid itu tidak akan terharu oleh memandang peri hal Kristus direndahkan baginya. Perkataan Kristus diucapkan, bukannya kepada Petrus, melainkan kepada seorang yang sedang berusaha memisahkan dia dari Penebusnya. "Pergilah ke belakang Aku, hai Iblis." Jangan lagi menyelang antara Aku dengan hamba‑Ku yang mudah berbuat kesalahan. Biarlah Aku datang muka dengan muka dengan Petrus, supaya Aku menyatakan rahasia kasih‑Ku kepadanya.

Hal itu menjadi suatu pelajaran yang pahit bagi Petrus, dan yang dipelajarinya dengan lambatnya, bahwa jalan Kristus di dunia ini terletak melalui kesengsaraan dan sifat merendahkan diri. Murid itu mundur dari persekutuan dengan Tuhannya dalam penderitaan. Tetapi dalam kepanasan dapur api ia harus mempelajari berkatnya. Lama sesudah saat itu, ketika tubuhnya yang selalu giat bekerja sudah bungkuk karena pekerjaan bertahun‑tahun lamanya, ia menulis, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya." 1 Petr. 4:12, 13.

Sekarang Yesus menjelaskan kepada murid‑murid‑Nya bahwa hidup‑Nya sendiri yang penuh penyangkalan diri merupakan suatu teladan untuk hidup mereka yang semestinya. Setelah memanggil orang banyak yang tinggal lama‑lama di dekat tempat itu untuk datang kepadaNya dengan murid‑murid‑Nya, Ia berkata, "Jikalau barang siapa hendak mengikut Aku haruslah ia menyangkali dirinya serta menanggung salibnya, lalu mengikut Aku." Salib itu dihubungkan dengan kuasa Roma. Itulah alat untuk jenis kematian yang paling bengis dan menghinakan diri. Para penjahat yang paling hina dituntut menanggung salib ke tempat pelaksanaan hukuman mati; dan sering ketika salib itu sudah hampir diletakkan di atas bahu, mereka menolak dengan kekerasan yang penuh perasaan putus asa, sampai mereka dikuasai, dan alat penyiksa diikatkan pada mereka. Tetapi Yesus menyuruh para pengikut‑Nya mengangkat salib dan menanggungnya seperti Dia. Bagi murid‑murid, perkataan‑Nya, meski pun dipahami dengan samar‑samar, menunjukkan kepada penyerahan diri mereka kepada sifat merendahkan diri yang paling pahit, penyerahan diri meski pun sampai kepada maut karena nama Kristus. Tidak ada penyerahan diri yang lebih sempurna dapat digambarkan oleh perkataan Juruselamat. Tetapi segala perkara ini telah diterima‑Nya bagi mereka. Yesus tidak menganggap surga suatu tempat yang dirindukan sementara kita dalam keadaan hilang. Ia meninggalkan istana surga untuk hidup yang penuh celaan dan hinaan, serta kematian yang memalukan. Ia yang kaya dengan harta benda surga yang tak ternilai, menjadi papa, supaya oleh kepapaan‑Nya kita boleh menjadi kaya. Kita harus mengikuti jalan yang ditempuh‑Nya.

Kasih bagi jiwa‑jiwa yang baginya Kristus mati berarti menyalibkan diri sendiri. Sejak saat itu ia yang menjadi seorang anak Allah harus memandang dirinya sebagai suatu mata rantai dalam rantai yang diulurkan untuk menyelamatkan dunia, satu dengan Kristus dalam rencana kemurahan‑Nya, keluar dengan Dia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Orang Kristen harus senantiasa menyadari bahwa ia sudah memusatkan dirinya kepada Allah, dan bahwa dalam tabiat ia harus menyatakan Kristus kepada dunia. Pengorbanan diri, simpati, kasih yang ditunjukkan dalam kehidupan Kristus hendaknya kelihatan kembali dalam kehidupan pekerja Allah.

"Karena barang siapa yang hendak memeliharakan nyawanya, ia akan kehilangan nyawa; tetapi barangsiapa yang kehilangan nyawanya oleh karena Aku, ialah akan memeliharakan nyawa." Sifat mementingkan diri adalah kematian. Tidak ada alat tubuh dapat hidup sekiranya pelayanannya dibatasinya baginya sendiri. Jantung yang gagal mengirimkan darah yang memberi hidup ke tangan dan kepala, akan segera kehilangan kekuatannya. Sebagaimana darah yang memberi hidup, demikian juga halnya dengan kasih Kristus yang tersebar melalui setiap bagian tubuh‑Nya yang bersifat gaib. Kita adalah anggota‑anggota satu dengan yang lain, dan jiwa yang enggan membagikan akan binasa. Dan "apakah untungnya kepada seorang," kata Yesus, "Jikalau ia beroleh segenap dunia ini, tetapi jiwanya binasa?" Atau apakah yang patut diberi orang akan menebus jiwanya?"

Di balik kemiskinan dan kehinaan masa sekarang, Ia mengalihkan perhatian murid‑murid kepada kedatangan‑Nya dalam kemuliaan, bukannya dalam keindahan takhta duniawi, melainkan dengan kemuliaan Allah dan balatentara surga. Dan kemudian la berkata, "Ia akan membalas kepada tiap‑tiap orang menurut perbuatannya." Kemudian untuk memberanikan mereka Ia memberikan janji, "Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu; ada beberapa orang yang herdiri di sini, yang tiada akan merasai mati sebelum dilihatnya Anak Manusia datang dengan kerajaan‑Nya." Tetapi murid‑murid tidak mengerti perkataan‑Nya. Kemuliaan tampaknya sangat jauh. Mata mereka menatapi pandangan yang lebih dekat, hidup dalam kemiskinan di dunia, kehinaan, dan penderitaan. Apakah harapan mereka yang menggembirakan tentang kerajaan Mesias harus dibatalkan? Tidakkah mereka akan melihat Tuhan mereka dinaikkan ke takhta Daud? Mungkinkah Kristus harus hidup sebagai seorang kelana yang hina dan tidak berumah, dihinakan, ditolak, dan dibunuh? Kesusahan menekan hati mereka karena mereka mengasihi Tuhan. Kebimbangan juga mengganggu pikiran mereka, karena tampaknya tidak masuk akal bahwa Anak Allah harus ditaklukkan kepada kehinaan sekejam itu. Mereka menanyakan mengapa Ia rela pergi ke Yerusalem untuk menghadapi perlakuan yang telah dikatakan‑Nya kepada mereka harus didapat‑Nya di sana. Bagaimanakah Ia dapat menyerah pada nasib seperti itu, dan meninggalkan mereka dalam kegelapan yang lebih besar daripada kegelapan yang dalamnya mereka meraba‑raba sebelum Ia menyatakan diri‑Nya kepada mereka?

Murid‑murid memberikan alasan bahwa di daerah Kaisaria Pilipi, Kristus tidak dapat dicapai oleh Herodes dan Kayapas. Tidak suatu pun dikhawatirkan‑Nya dari kebencian orang Yahudi atau dari kuasa orang Roma. Mengapa tidak bekerja disana jauh dari orang Farisi? Mengapa Ia perlu menyerahkan diri‑Nya kepada kematian? Jika Ia harus mati, bagaimanakah boleh jadi kerajaan‑Nya akan didirikan dengan teguh sehingga pintu alam maut pun tidak akan mengalahkan dia? Bagi murid‑murid hal ini sungguh merupakan suatu rahasia.

Pada saat ini mereka sedang mengadakan perjalanan sepanjang pesisir Laut Galilea ke arah kota di mana segala harapan mereka akan dihancurkan. Mereka tidak berani memprotes Kristus, tetapi mereka bercakap‑cakap bersama‑sama dalam nada yang rendah dan sedih mengenai apa yang akan terjadi pada masa depan. Di tengah kesangsian mereka sekali pun mereka berpegang pada anggapan bahwa sesuatu keadaan yang tidak diharapkan lebih dulu dapat mengelakkan nasib yang tampaknya menunggu Tuhan mereka. Demikianlah mereka susah hati dan bimbang, harap‑harap cemas, selama enam hari yang suram itu.