Sejarah Dunia Kuno

2021 a year of miracles and 'unlocking' millions

Jan 14, 2010

Ukuran Sejati Sebuah Kesuksesan

Bila kita menilai kesuksesan berdasarkan standard duniawi, kita sampai pada kesimpulan bahwa karir kepemimpinan Paulus telah gagal total dan sangat mengecewakan.

Pada masa-masa terakhir hidupnya, ketika Paulus menulis surat 2 Timotius, satu-satunya orang di dunia luar yang bisa berhubungan dengannya adalah Lukas (4:11). Paulus ditempatkan di penjara bawah tanah Romawi, menderita kedinginan menjelang musim dingin (ayat 13, 21), tanpa harapan untuk lepas dari ancaman hukuman mati yang telah dijatuhkan pada dirinya. Ia menderita siksaan kejam dari orang-orang yang membencinya. Ia bahkan ditinggalkan dan disangkal oleh beberapa sahabatnya. Ia menulis:

"Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes."

Asia kecil merupakan wilayah misi Paulus. Dan Efesus, tempat Timotius melayani, adalah ibukota Asia Kecil. Jadi Paulus bukan sedang mengatakan sesuatu yang belum diketahui Timotius. Pada masa aniaya itu, berteman dengan Paulus menjadi sangat beresiko, sehingga beberapa anak didik rohaninya tega menyangkal dan meninggalkannya. Orang-orang berpikiran dangkal, mungkin berpikir tragis sekali akhir hidup Paulus, ia sudah ditaklukan sedemikian rupa oleh para musuhnya.

Kegagalan? Yang sebenarnya adalah, rasul Paulus sama sekali bukanlah pemimpin yang gagal, apapun ukuran yang digunakan untuk menilainya. Pengaruh karyanya terasa seantero dunia sampai hari ini. Sebaliknya, Nero, penguasa korup Kekaisaran Romawi yang memerintahkan kematian Paulus, adalah salah satu figur hina dalam sejarah. Hal ini mengingatkan kita bahwa pengaruh adalah ujian sejati bagi kepemimpinan seseorang, bukan kekuasaan atau jabatan. Ternyata, dengan meneliti kehidupan pelayanan Paulus hingga kesudahannya, kita belajar banyak bagaimana mengukur sukses atau gagalnya seorang pemimpin.

Masa tahanan dan pengadilan Paulus yang pertama berakhir saat Nero membebaskannya sebelum tahun 64 masehi, karena ia menulis surat 1 Timotius dan Titus sebagai seorang bebas (1 Timotius 3:14-15; 4:13; Titus 3:12). Tapi kebebasan itu tidak lama. Bulan Juli tahun 64, 7 dari 14 wilayah di kota Roma terbakar. Ketika api pertama hampir berhasil dipadamkan, tiupan angin lebih dahulu membuat api menjalar ke wilayah lain. Kabar burung yang beredar adalah bahwa Nero sendiri yang memerintahkan pembakaran kota untuk memenuhi ambisinya mendirikan proyek pembangunan termasuk istana emas bagi dirinya.

Untuk mencegah kecurigaan, Nero menyalahkan orang-orang Kristen sebagai penyebab kebakaran. Itulah permulaan dari kampanye akbar dan agresif dari pemerintah Romawi untuk menghancurkan gereja. Orang Kristen di Roma ditangkapi dan dieksekusi secara sangat kejam. Ada yang tubuhnya dijahitkan ke kulit binatang, lalu dikeroyok dan dirobek-robek sampai mati oleh gigitan anjing. Yang lainnya dipaku ke tiang, tubuhnya dilumur ter dan dibakar hidup-hidup sebagai obor yang menerangi pesta pora Nero. Dan ada banyak lagi yang dipenggal kepalanya, diumpankan kepada singa, atau mengalami berbagai perlakuan sadis lainnya.

Selama masa aniaya itu, Paulus kembali ditahan oleh penguasa Romawi, dibawa ke Roma untuk dianiaya dan disiksa (2 Timotius 4:17), dan akhirnya dieksekusi sebagai pengkhianat, karena ketaatannya yang mati-matian terhadap Kristus. Pada waktu masa penahanan pertamanya di Roma, Paulus dikenakan tahanan rumah (Kisah 28:16, 30). Ia masih boleh berkotbah dan mengajar kepada para penjenguknya (ayat 23). Meskipun berada dalam pengawalan ketat tentara Romawi, ia diperlakukan hormat. Pengaruh pelayanannya bahkan terasa sampai ke istana Kaisar (Filipi 4:22).

Pada masa penahanan kedua Paulus, kondisinya sangat jauh berbeda. Ia benar-benar diisolasi dari dunia luar dan dirantai dalam penjara bawah tanah (2 Timotius 1:16). Kemungkinan besar tempat penahanannya adalah penjara Mamertine, yang lokasinya berdekatan dengan forum Romawi, sempit, gelap, berdinding batu kasar, pintu masuknya hanya berupa lubang kecil seukuran pas badan di bagian langit-langitnya. Ruangannya yang hanya berukuran separuh garasi mobil ini kadang diisi sampai dengan 40 orang tahanan. Sesak, gelap, bau busuk melengkapi penderitaan yang tak terkira.

Ruangan penjara itu masih ada sampai masa kini, bahkan tetap mencekam, mengerikan, menimbulkan rasa klaustrofobia. Di tempat seperti inilah Paulus menghabiskan hari-hari terakhir dalam hidupnya.

Tidak ada catatan pasti tentang proses eksekusi Paulus, tapi yang pasti ia tahu akhir hayatnya telah tiba saat menulis surat 2 Timotius. Terbukti ia sudah diadili dan divonis karena berkotbah tentang Kristus, dan kemungkinan hari eksekusinya sudah dijadwalkan. Ia menulis kepada Timotius, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." (2 Timotius 4:6)

Secara wajar harusnya ada kesan kesedihan mendalam dalam surat terakhir Paulus ini. Tapi nyatanya topik yang dominan adalah kemenangan, bukan kekalahan. Paulus menulis surat terakhir kepada Timotius untuk menyemangati sang gembala muda itu supaya berani dan yakin teguh dalam meneruskan teladan yang dipelajarinya dari sang rasul pembimbingnya. Jauh dari kesan menyerah karena kegagalan, Paulus menyuarakan sorak kemenangan:

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya. " (2 Timotius 4:7-8)

Menjelang kematiannya, Paulus sama sekali tidak merasakan takut, patah semangat, ataupun hasrat untuk tetap hidup di dunia ini. Ia tidak sabar ingin bersama Kristus dan bersiap-siap untuk menerima upah di kehidupan yang akan datang. Karenanya, saat ia menelaah kembali perjalanan hidupnya, ia tidak menunjukan penyesalan, ketidakpuasan ataupun merasa ada yang kurang lengkap. Tidak ada tugas, sekecil apapun, yang terabaikan olehnya. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Tuhan, seperti disebut dalam Kisah 20:24, ia telah berharap dan berdoa bahwa ia "dapat mencapai garis akhir".

Paulus mengukur kesuksesannya sendiri sebagai pemimpin, sebagai rasul, dan sebagai seorang Kristen, -- yang berarti ia tetap setia kepada Kristus dan menjaga keutuhan kabar baik (Injil Kristus) sesuai dengan apa yang diterimanya. Ia memproklamirkan Firman Tuhan dengan penuh kesetiaan dan tanpa takut. Dan sekarang ia menyerahkan tongkat estafet kepada Timotius dan orang-orang "yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." (2 Timotius 2:2)

Karenanya, Paulus menghadapi kematiannya dengan semangat kemenangan dan sukacita mendalam. Ia telah mengalami kasih karunia Tuhan menyelesaikan semua yang telah dirancangkan-Nya di dalam dia dan melalui dia, dan dia sudah siap bertemu muka dengan Kristus.

Pekerjaan Iman

"pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya [anugrah-Nya] oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh [Allah] Roh Kudus"  (Titus 3:5)

Tuhan telah memasukkan beberapa ayat di dalam Alkitab yang kelihatannya mengajarkan bahwa ada pra-syarat tertentu yang harus ada atau kita lakukan sebelum kita dapat diselamatkan. Akan tetapi, itu adalah perangkap yang Tuhan buat untuk orang-orang yang ingin untuk "bekerja" untuk "menyelamatkan" diri mereka. Supaya kita benar-benar dapat mengerti sifat alami dari Keselamatan, kita harus dengan sangat berhati-hati membandingkan ayat suci yang satu dengan ayat suci yang lain. Seperti misalnya, dalam kitab 1 Tesalonika 1:3 kita membaca:

"Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita."

Di dalam ayat ini Tuhan menunjukkan bahwa "iman" (kepercayaan) adalah sebuah "pekerjaan". Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "iman" adalah kata kerja. Kata yang sama, sebagai kata sifat, diterjemahkan sebagai "percaya". Oleh karena itu, untuk memiliki "iman" atau "percaya" kepada Kristus adalah pekerjaan yang kita lakukan. Dan Alkitab dengan jelas menekankan bahwa tidak ada pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri untuk membuat kita diselamatkan.

Dalam kitab Galatia 2:16 kita membaca demikian:

"Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat."

Nah, ayat ini menjelaskan bahwa manusia tidak "dibenarkan" (yaitu diselamatkan) melalui pekerjaannya sendiri, seperti menerima Yesus, percaya kepada Tuhan Yesus, melakukan upacara baptis air, menerima komuni secara tetap, memakai jilbab, memelihara janggut, ziarah ke Yerusalem, memotong kurban, memelihara hari raya, dll.

Orang-orang yang tidak diselamatkan pada tahap tertentu dapat "percaya" kepada Kristus, tetapi "iman" tersebut tidak dapat menyelamatkannya. Jika Tuhan benar-benar menyelamatkan seseorang, maka ia akan benar-benar percaya di dalam Kristus dengan sepenuh hati. Akan tetapi iman yang demikian bukanlah "dasar" atau "penyebab" dari keselamatan, itu adalah "hasil" dari keselamatan.

"Iman" adalah "pekerjaan", tetapi Kristus telah menyelesaikan segala pekerjaan yang dibutuhkan untuk keselamatan sejak sebelum dunia dijadikan. Jadi tidak ada sesuatu apapun yang dapat kita perbuat untuk menyumbang kepada keselamatan kita, -- seluruh pujian, kemegahan, kemuliaan dan kehormatan atas keselamatan hanya dapat diberikan kepada Tuhan.

Tetapi bagaimanapun juga Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa memohon belas kasihan-Nya. Ingatlah kita hanya dapat "dibenarkan" oleh iman milik Kristus, bukan oleh "iman" kita sendiri atau oleh suatu "pekerjaan" yang kita lakukan sendiri. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa "tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum."

Tuhan mendemonstrasikan prinsip bahwa manusia tidak dapat melakukan pekerjaan untuk keselamatannya dengan memberikan Sabat hari ke-tujuh kepada bangsa Israel Perjanjian Lama. Dalam kitab Keluaran 31:13 kita membaca:

"Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu."

Tuhan menggunakan Sabat hari ke-tujuh sebagai "tanda" (peringatan atau perumpamaan atau gambaran) yang menunjukkan bahwa Dia-lah yang harus "menguduskan" (yaitu menyelamatkan) umat Israel. Hal itu menunjuk kepada sifat dasar dari Keselamatan. Tuhan melarang manusia untuk bekerja pada hari itu untuk mengillustrasikan bahwa Dia telah menyelesaikan semua pekerjaan yang dibutuhkan untuk Keselamatan. Dan segala pelanggaran dari hukum upacara ini hukumannya adalah maut.

Dalam kitab Keluaran 31:14 kita membaca demikian:

"Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya."

Dengan cara yang sama, jika seseorang percaya di dalam suatu pekerjaan yang dilakukannya sendiri untuk menjadi diselamatkan, maka dia masih berada di bawah murka Tuhan. Tuhan menyatakan betapa seriusnya pelanggaran dari hukum upacara ini di dalam kitab Bilangan 15:32-36. Kisah tersebut menunjukkan bahwa seorang laki-laki ditemukan sedang mengumpulkan beberapa kayu api pada Sabat hari ke-tujuh. Dan Tuhan memberikan perintah bahwa ia harus dihukum mati. Pertama-tama kelihatannya sangat janggal bahwa dia harus dihukum mati hanya karena mengumpulkan beberapa kayu api, dimana dia melanggar peraturan dari hari ke-tujuh Sabat. Tetapi kemudian kita mengerti mengapa hukuman yang berat ini harus diterapkan karena mengingat bahwa Tuhan memberikan hari ke-tujuh Sabat untuk menggambarkan sifat dasar dari Keselamatan.

Tuhan menggunakan hal itu sebagai suatu demonstrasi bahwa manusia tidak dapat memberikan sumbangan sekecil apapun untuk menjadikan dirinya diselamatkan. Jika kita percaya di dalam suatu pekerjaan apa saja yang kita lakukan sendiri supaya kita dapat menjadi diselamatkan, maka kita masih belum diselamatkan dan masih berada dibawah murka Tuhan yang mengerikan.

Sayangnya orang-orang yang masih berada di dalam jemaat-jemaat sedang mengikuti suatu rencana "Injil lakukan sendiri" yang diajarkan oleh institusi gereja-gereja. Mereka telah tertipu untuk mempercayai bahwa ada suatu "pekerjaan" yang harus mereka lakukan untuk "menyelamatkan" diri mereka sendiri. Mungkin mereka diberitahukan supaya mereka "menerima" Kristus, dibaptis di dalam air, percaya di dalam Tuhan Yesus, atau menjadi anggota tetap di dalam suatu jemaat, dll. Dan mereka diyakinkan bahwa jika mereka mengikuti peraturan-peraturan ini, maka mereka akan "diselamatkan".

Akan tetapi mereka telah tertipu. Keselamatan yang sejati adalah seratus persen kasih karunia (anugrah) dari Tuhan. Dan sama seperti laki-laki yang mengumpulan beberapa kayu api pada hari ke-tujuh Sabat, mereka akan jatuh ke dalam hukuman yang mengerikan. Mereka akan ditinggal dibelakang pada saat Pengangkatan (rapture), dan masuk ke dalam murka Tuhan pada Hari Penghakiman.

Salah pengertian tentang sifat dasar dari Keselamatan ini adalah salah satu dari kesalahan besar yang dilakukan oleh institusi gereja-gereja. Adalah sangat mengejutkan untuk menyadari bagaimana memalukannnya denominasi-denominasi telah salah menafsirkan Alkitab mengenai topik yang sangat penting ini.

Pada hari sekarang ini tidak ada denominasi yang mengerti dengan benar subjek yang sangat kritis ini. Tuhan telah "memeterai" beberapa informasi tentang Keselamatan sehingga hal itu tersembunyi sampai kita berada sangat dekat dengan akhir zaman (Daniel 12:9). Dan sekarang Dia telah membuka mata rohani kita kepada pengertian yang menyeluruh dari topik yang sangat penting ini.

Walaupun bebearapa hal yang kita pelajari baru-baru ini sangat menekan, tetapi masih ada berita yang menggembirakan, yaitu hari ini masih merupakan Hari Keselamatan. Tuhan masih menyelamatkan suatu "kumpulan besar orang banyak". Mungkin anda telah mengikuti suatu rencana keselamatan dari "Injil lakukan sendiri" dan telah diyakinkan bahwa anda telah diselamatkan, tetapi sekarang masih ada waktu bagi Tuhan untuk benar-benar menyelamatkan anda. Jika anda dengan berhati-hati memeriksa ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan Keselamatan, anda akan mengerti bahwa sama sekali tidak ada suatu pekerjaan apapun yang dapat anda lakukan sendiri untuk menjadi diselamatkan. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa anda tidak dapat menjadi diselamatkan lagi.

Mungkin anda adalah salah seorang pilihan Tuhan. Anda dapat mulai untuk memohon dan menangis kepada Tuhan untuk meminta belas kasihan-Nya. Mengakui bahwa anda berdosa dan anda telah mengikuti suatu injil yang salah, dan anda harus berdoa supaya jikalau mungkin Tuhan akan memberikan anugrah-Nya kepada anda untuk menyelamatkan anda. Setiap orang masih memiliki kemungkinan yang besar bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Setiap orang mungkin saja adalah seorang pilihan Tuhan. Berdoalah kepada Tuhan memohon belas kasihan. Teruslah berdoa untuk belas kasihan-Nya dan kita harus "menunggu" Tuhan untuk Keselamatan (Mazmur 130:5). Jangan menaruh percaya anda di dalam suatu pekerjaan apapun yang anda lakukan sendiri. Sadarilah bahwa anda hanyalah para pembuat dosa yang pantas untuk menerima murka Tuhan. Dalam kitab Zefanya 2:3 kita membaca:

"Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri [yaitu di bumi], yang melakukan Hukum-Nya; carilah Keadilan, carilah Kerendahan Hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN."

Ayat ini ditujukan kepada "orang-orang yang rendah hati di bumi", orang-orang yang dengan berhati-hati "melakukan hukum-hukum Tuhan". Ini menunjukkan bahwa mereka telah mencoba dengan sekuat tenaga untuk mematuhi Alkitab, yaitu kitab hukum Tuhan. Mereka telah mencari "Kebenaran" dan "Kerendahan Hati". Akan tetapi ada banyak kebanggaan (kemegahan) di dalam hati manusia, dan dalam kitab Mazmur 51:17 Tuhan berkata demikian:

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."

Berikanlah segala pujian, kemuliaan dan kemegahan atas Keselamatan hanya Tuhan, dan jangan memegahkan diri kita sendiri. Tuhan menyediakan contoh dari pertobatan di dalam perumpamaan tentang Pemungut Pajak dan Seorang Farisi di dalam kitab Lukas 18:10-14. Pemungut pajak pada waktu itu sangat dibenci oleh bangsa Yahudi. Akan tetapi, pemungut pajak di dalam kisah ini sangat merendahkan dirinya di hadapan Tuhan seperti yang kita baca di dalam Lukas 18:13 demikian:

"Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini."

Kisah ini menunjukkan bagaimana caranya kita datang ke hadapan Tuhan Yang Maha Kudus. Sama seperti pemungut pajak ini, kita harus menyadari bahwa sesungguhnya kita hanya pantas untuk menerima murka Tuhan, tetapi kita dapat berdoa supaya jikalau mungkin Dia berkenan memberikan belas kasihan-Nya kepada kita. Dan ketika kota Niniwe hampir dihancurkan mereka bertobat dengan sangat merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mereka mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu. Dalam kitab Yunus 3:8-9 kita membaca demikian:

"Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."

Jan 12, 2010

Nyanyian Daud

Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. Ia berkata: "Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan Penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, JURUSELAMATKU; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan. TERPUJILAH Tuhan, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.  Sesungguhnya gelora-gelora maut telah mengelilingi aku, banjir-banjir jahanam [=injil-injil palsu - the floods of ungodly men] telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.

Lalu bergoyang dan bergoncanglah bumi, dasar-dasar langit gemetar dan bergoyang, oleh karena bernyala-nyala murka-Nya. Asap membubung dari hidung-Nya, Api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya. Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya. Ia mengendarai kerub, lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin. Dan Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. Karena sinar kilat di hadapan-Nya bara api menjadi menyala. TUHAN mengguntur dari langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya [=Firman-Nya]. Dilepaskan-Nya panah-panah, sehingga diserakkan-Nya mereka, yakni kilat-kilat, sehingga dikacaukan-Nya mereka. Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut, alas-alas dunia tersingkap karena hardikan TUHAN karena hembusan nafas dari hidung-Nya. Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir.

Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah, dari pada orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku. Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN adalah sandaran bagiku; Ia membawa aku keluar ke tempat lapang [Yohanes 10:9], Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku. TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik. Sebab segala Hukum-Nya kuperhatikan, dan dari Ketetapan-Nya aku tidak menyimpang; aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya.

Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kaurendahkan. Karena Engkaulah Pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku. Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok.

Adapun Allah, Jalan-Nya sempurna; Sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi Perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita? Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga. Juga Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, dan kebaikan-Mu telah membuat aku besar. Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.

Aku mengejar musuhku sampai mereka kupunahkan, dan tidak berbalik sebelum mereka kuhabiskan; aku menghabiskan dan meremukkan mereka, sehingga mereka tidak bangkit lagi, dan mereka rebah di bawah kakiku. Engkau telah mengikat pinggangku dengan keperkasaan untuk berperang, Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku. Kaubuat musuhku lari dari padaku, orang-orang yang membenci aku, mereka kubinasakan. Mereka berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang menyelamatkan, mereka berteriak kepada TUHAN, tetapi Ia tidak menjawab mereka. Aku menggiling mereka halus-halus seperti debu tanah, aku menumbuk mereka dan menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. Dan Engkau meluputkan aku dari perbantahan bangsaku; Engkau memelihara aku sebagai kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang tidak kukenal menjadi hambaku; orang-orang asing tunduk menjilat kepadaku, baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku.  Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari kota kubunya dengan gemetar.

TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku, Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, dan yang telah membebaskan aku dari pada musuhku. Dan Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari para penindas. Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya TUHAN, di antara bangsa-bangsa, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya."  (2 Samuel 22:1-51)

NB: Di dalam Alkitab Daud seringkali digunakan sebagai gambaran yang agung dari Tuhan Yesus Kristus.

Jan 11, 2010

Kebenaran

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Lukas 6:46)

Adalah sangat mengagumkan bahwa Tuhan menyatakan kebenaran dari Firman-Nya kepada orang-orang yang menjadi anak-anak-Nya melalui kelahiran kembali dari surga. Kitab Lukas 10:21 menyatakan kepada kita demikian:

"Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil [yaitu bayi-bayi]. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu."

Dan dalam cara yang sama, kitab Yesaya 54:13 menjelaskan demikian:

"Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka"

Akan tetapi, Tuhan juga menunjukkan bahwa bahwa kebenaran yang dinyatakan-Nya harus dipatuhi. Satu lagi contoh yang cukup jelas dari kepentingan untuk mematuhi Tuhan dengan segenap hati ditemukan dalam kitab 1 Samuel 15:19-23 dimana Saul, raja yang pertama dari Israel (yang sesungguhnya bukan merupakan orang yang diselamatkan), ditegur oleh Tuhan melalui nabi Samuel karena dosa dari pemberontakannya, disitu kita baca demikian:

"Mengapa engkau tidak mendengarkan [yaitu tidak mematuhi] suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?" Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal." Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

Orang percaya yang sejati akan memiliki motivasi yang jujur, kuat dan terus-menerus untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan dan menyadari karya Tuhan di dalam dirinya "baik untuk kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan Tuhan" seperti yang diajarkan dalam kitab Filipi 2:13. Dan dalam kitab 2 Timotius 2:15 kita membaca nasihat yang berikut ini:

"Usahakanlah [yaitu rajinlah] supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu."

Kita mengetahui bahwa kita harus "membandingkan hal yang rohani dengan yang rohani" atau membandingkan ayat yang satu dengan ayat yang lain yang berbicara tentang hal yang sama di dalam seluruh Alkitab, mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh jemaat di kota Berea seperti yang kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul 17:10-11 demikian:

"Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi. Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

Dengan kata lain, Tuhan memberikan kepada umat Kristen pedang bermata dua, atau "pedang Roh", yang menunjuk kepada Alkitab. Ini adalah pedang yang paling tajam di seluruh alam semesta ini karena satu sisinya memiliki kekuatan untuk menyebabkan "penghakiman yang kekal", dan sisi yang lainnya memiliki kekuatan untuk membangkitkan jiwa-jiwa yang tadinya mati secara rohani kepada "kehidupan yang kekal".

Demikianlah kita harus menggunakan "pedang" ini dengan sangat berhati-hati dan penuh hormat ketika mencoba untuk memotong atau "menafsirkan Alkitab dengan benar" dengan cara "membandingkan hal yang rohani dengan yang rohani" seperti yang kita baca dalam kitab 1 Korintus 2:13. Biarlah saya tambahkan disini, janganlah anda menjadi terlalu cemas bila ada sesuatu yang tidak anda mengerti. Karena hal yang sama juga terjadi pada semua umat Kristen dalam satu hal atau lainnya. Teruskanlah membaca dan mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh karena kemungkinannya anda akan membaca ayat yang lain yang akan menolong anda untuk menerangkan ayat-ayat yang sebelumnya tidak anda mengerti.

Pada kenyataannya ada beberapa kebenaran yang sulit untuk dimengerti oleh pikiran kita yang terbatas. Siapakah yang dapat mengerti seluruhnya tentang Allah Tritunggal yang tidak terbatas? Bagaimana tentang kekekalan Allah? Kita percaya bahwa hal-hal ini adalah kebenaran, dan percaya bahwa Alkitab adalah -- Firman Allah Yang Hidup. Dan kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang sangat kecil yang tidak berarti apa-apa sedangkan Allah adalah Maha Besar dan merupakan segala-galanya!

Nabi Ayub menyatakan dalam kitab Ayub 37:5 demikian:

"Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita"

Dan kitab Roma 11:33 membuat pernyataan yang sama, disitu kita baca demikian:

"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!"

Jan 7, 2010

Damai Sejahtera

"kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu." (Lukas 19:42)

Alasan mengapa Tuhan Yesus disebut sebagai "Raja Damai" adalah karena Ia datang untuk memberikan "damai sejahtera yang kekal" kepada umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, yang berdasarkan sifat alaminya sudah mati di dalam dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggarannya. Hal ini dapat terlihat dalam ayat-ayat seperti Mazmur 38:3, dimana kata Ibrani yang sama untuk ungkapan "damai" diterjemahkan sebagai "istirahat". Dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat [yaitu tidak ada istirahat] pada tulang-tulangku oleh karena dosaku"

Sesungguhnya ada perang rohani yang sangat besar yang terjadi antara orang-orang yang belum diselamatkan dengan Tuhan, seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma 8:7 demikian:

"Sebab keinginan daging [yaitu orang-orang yang belum diselamatkan] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya."

Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai ungkapan "damai" adalah shalowm, dan raja Salomo (yaitu orang yang membangun Bait Allah) yang merupakan gambaran yang agung dari Tuhan Yesus, namanya dalam bahasa Ibrani adalah "shelomoh" yang merupakan akar dari kata "shalowm".

Kitab 1 Tawarikh 22:9 juga menegaskan demikian:

"Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera [yaitu kedamaian] dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya."

Dan lebih lanjut kitab Efesus 2:11-17 menekankan kepada kita kedamaian macam apakah yang akan diberikan oleh Kristus, disitu kita membaca demikian:

"Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat"

Dan kitab Roma 5:1 menekankan bahwa seseorang diselamatkan (atau dibenarkan) oleh iman "milik" Kristus, yang memberikan "perdamaian dengan Allah". Dalam ayat itu kita membaca demikian:

"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman [yaitu Kristus], kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus."

Kedamaian yang hanya dapat diberikan oleh Sang Juruselamat juga ditunjukkan dalam Perjanjian Lama di kitab Yesaya 9:7, yang kita baca demikian:

"Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini."

Kita juga menemukan pernyataan-pernyataan lainnya yang menjelaskan sifat dari kedamaian (atau penebusan) yang diberikan oleh Tuhan dalam ayat-ayat berikut ini:

Bilangan 6:26: "TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera."

Mazmur 29:11: "TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera! [yaitu damai sejahtera]"

Yesaya 26:3: "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."

Yesaya 32:18: "Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman."

Dan kitab Yesaya 53:5 menggambarkan penderitaan besar yang harus ditanggung oleh Kristus untuk setiap dari umat pilihan-Nya, disitu kita membaca demikian:

"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan [yaitu damai sejahtera] bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Akan tetapi sangat menyedihkan sekali bahwa pada saat sekarang ini kita telah berada dalam "Masa Siksaan Yang Dahsyat" atau "Masa Kesusahan Yang Besar", yang merupakan saat terjadinya penipuan rohani secara besar-besaran di dalam institusi gereja-gereja dan jemaat-jemaat di seluruh dunia. Dalam kitab Matius 24:21 dan 24 kita membaca demikian:

"Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi .......... Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga."

Alasan mengapa situasi yang mengerikan ini terjadi adalah karena Tuhan telah selesai menggunakan gereja-gereja secara organisasi untuk memberitakan Injil Anugrah kepada dunia, sama halnya seperti ketika Tuhan selesai menggunakan Bait Suci di Yerusalem dan rumah-rumah ibadat orang Yahudi setelah peristiwa kayu salib. Pada kenyataannya, Tuhan telah memerintahkan orang-orang percaya yang sejati untuk keluar (meninggalkan) dari institusi gereja-gereja setempat dalam kepatuhan mereka terhadap Kitab Suci seperti yang kita baca dalam Wahyu 18:4 dan 8 yang berkata demikian:

"Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab itu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari, yaitu sampar dan perkabungan dan kelaparan; dan ia akan dibakar dengan api, karena Tuhan Allah, yang menghakimi dia, adalah kuat."

Dan kitab Markus 13:9 dan 14 yang bernubuat tentang akhir zaman menyatakan demikian:

"Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. Apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya para pembaca hendaklah memperhatikannya maka orang-orang yang di Yudea [yaitu orang-orang percaya sejati] haruslah melarikan diri ke pegunungan [yaitu kembali kepada Firman Tuhan, Alkitab]."

Pada hari sekarang ini rasa keamanan atau "kedamaian" yang salah telah diajarkan oleh banyak orang dalam berbagai media pengajaran agama di seluruh dunia. Akan tetapi perhatikanlah peringatan keras yang ada di dalam ayat-ayat berikut ini:

Kitab 1 Tesalonika 5:2-3 menyatakan demikian: "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin mereka pasti tidak akan luput." [yaitu seorang yang hamil pasti tidak akan luput dari rasa sakit]

Kitab Yeremia 23:17 menasihatkan demikian: "mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista Firman TUHAN: Kamu akan selamat! [yaitu mendapatkan kedamaian] dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!"

Dan kitab Yehezkiel 13:16 bersaksi demikian: "yaitu nabi-nabi Israel yang bernubuat tentang Yerusalem dan melihat baginya suatu penglihatan mengenai damai sejahtera, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, demikianlah Firman Tuhan ALLAH."