Rasa keterikatan yang hangat dan bersifat pribadi, atau kasih sayang yang dalam, misalnya terhadap sahabat, orang tua atau anak, dan lain-lain; perasaan senang atau suka yang hangat; selain itu, kasih sayang penuh kebaikan yang Allah miliki terhadap ciptaan-Nya atau kasih sayang penuh hormat yang sepatutnya mereka berikan kepada Allah; selain itu, kasih sayang penuh kebaikan hati yang dengan patut diperlihatkan oleh ciptaan Allah kepada satu sama lain; kasih sayang atau cinta yang kuat atau penuh gairah terhadap lawan jenis, yang menjadi dorongan emosi untuk ikatan suami istri. Salah satu sinonim kasih adalah "pengabdian".
Selain arti-arti di atas, Alkitab juga menyebutkan tentang kasih yang dibimbing oleh prinsip, seperti kasih akan keadilbenaran atau bahkan kasih terhadap musuh, meskipun seseorang mungkin tidak menyayanginya. Segi atau pernyataan kasih ini adalah pengabdian yang tidak mementingkan diri kepada keadilbenaran serta kepedulian yang tulus akan kesejahteraan kekal orang lain, yang dibarengi pernyataan aktif demi kebaikan mereka.
Kata kerja 'a•hev′ atau 'a•hav′ ("mengasihi") dan kata benda 'a•havah′ ("kasih") adalah kata-kata yang terutama digunakan dalam bahasa Ibrani untuk kasih dengan arti-arti di atas, dan dari konteksnya dapat ditentukan arti serta tingkatan yang dimaksud.
Kitab-Kitab Yunani Kristen terutama menggunakan berbagai bentuk kata a•ga′pe, fi•li′a, dan dua kata yang berasal dari stor•ge′ (e′ros, cinta kepada lawan jenis, tidak digunakan). A•ga′pe muncul lebih sering daripada yang lain.
Mengenai kata benda a•ga′pe dan kata kerja a•ga•pa′o, Vine's Expository Dictionary of Old and New Testament Words mengatakan, "Kasih hanya dapat diketahui melalui tindakan yang dihasilkannya. Kasih Allah nyata dari tindakan-Nya memberikan Putra-Nya, I Yohanes 4:9, 10. Tetapi jelas itu bukan kasih untuk kepuasan diri, atau kasih sayang, dalam arti bahwa kasih itu tidak digugah karena sifat baik apa pun di pihak objeknya, Rm. 5:8. Kasih itu diperlihatkan karena Allah menghendakinya sebagai pilihan atas dasar pertimbangan yang matang, dilakukan tanpa penyebab yang dapat ditunjuk kecuali bahwa sifat itu adalah watak Allah Sendiri, bdk. Ul. 7:7, 8."—1981, Jil. 3, hlm. 21.
Sehubungan dengan kata kerja fi•le′o, Vine berkomentar, "[Fileo] hendaknya dibedakan dari agapao karena alasan ini, yakni fileo lebih mendekati kasih sayang yang lembut. . . . Selain itu, tindakan mengasihi (fileo) kehidupan, yang disebabkan oleh hasrat yang berlebihan untuk mempertahankannya, tanpa memperhatikan tujuan kehidupan yang sebenarnya, akan mendapat teguran Tuan, Yohanes 12:25. Sebaliknya, tindakan mengasihi kehidupan (agapao) sebagaimana digunakan di I Ptr. 3:10, berarti berpaling kepada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupan. Di ayat itu, kata fileo kurang cocok."—Jil. 3, hlm. 21, 22.
Exhaustive Concordance of the Bible karya James Strong, dalam kamus Yunaninya (1890, hlm. 75, 76), menyatakan tentang fi•le′o, "Berteman dengan (menyukai [seseorang atau suatu benda]), yaitu memiliki kasih sayang bagi (yang menunjukkan keterikatan yang bersifat pribadi, atas dasar emosi atau perasaan; sedangkan [a•ga•pa′o] lebih luas, khususnya mencakup kemampuan untuk menilai sesuatu dan kemauan sendiri sebagai hasil pertimbangan yang matang; [a•ga•pa′o] menyangkut prinsip, kewajiban, dan hal yang patut . . . )."—Lihat KASIH SAYANG.
Oleh karena itu, a•ga′pe mengandung makna kasih yang dibimbing, atau dikendalikan, oleh prinsip. Kasih ini tidak selalu mencakup perasaan sayang dan suka. Bahwa a•ga′pe bisa disertai perasaan sayang dan kehangatan dapat dilihat dalam banyak ayat. Di Yohanes 3:35, Yesus mengatakan "Bapak mengasihi [a•ga•pai′] Putra." Di Yohanes 5:20, ia mengatakan, "Bapak memiliki kasih sayang [fi•lei′] terhadap Putra."
Tentu kasih Allah bagi Yesus Kristus disertai dengan kasih sayang yang limpah. Yesus juga menjelaskan, "Dia yang mengasihi [a•ga•pon′] aku akan dikasihi [a•ga•pe•the′seÀtai] oleh Bapakku, dan aku akan mengasihi [ a•ga•pe′so] dia." (Yoh 14:21) Kasih yang dimiliki oleh Bapak dan Putra ini disertai kasih sayang yang lembut terhadap orang-orang yang pengasih tersebut. Para penyembah Allah harus mengasihi Dia dan Putra-Nya, juga mengasihi sesama mereka, dengan cara yang sama.—Yoh 21:15-17.
Jadi, meskipun bercirikan respek akan prinsip, a•ga′pe bukannya tanpa perasaan; jika demikian, a•ga′pe tidak akan ada bedanya dengan keadilan yang kaku. Tetapi kasih ini tidak diatur oleh perasaan atau emosi; ia tidak pernah mengabaikan prinsip. Orang Kristen selayaknya memperlihatkan a•ga′pe terhadap orang-orang yang mungkin tidak mereka sayangi atau sukai, melakukannya demi kesejahteraan orang-orang tersebut. (Gal 6:10) Namun, meskipun tidak disertai perasaan sayang, mereka bisa merasakan keibaan hati dan kepedulian yang tulus terhadap sesama manusia, hingga batas dan dengan cara yang diperbolehkan dan dibimbing oleh prinsip.
Akan tetapi, meskipun a•ga′pe memaksudkan kasih yang dikendalikan oleh prinsip, ada prinsip yang baik dan yang buruk. Karena dibimbing oleh prinsip-prinsip yang buruk, bisa saja orang memperlihatkan a•ga′pe yang salah. Sebagai contoh, Yesus mengatakan, "Jika kamu mengasihi [ a•ga•pa′te] orang yang mengasihi kamu, apa kelebihannya bagimu? Karena bahkan orang-orang berdosa mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Dan jika kamu melakukan kebaikan kepada orang yang melakukan kebaikan kepadamu, sesungguhnya apa kelebihannya bagi kamu? Bahkan orang-orang berdosa melakukan yang sama. Juga, jika kamu memberikan pinjaman tanpa bunga kepada orang yang darinya kamu mengharapkan untuk menerima, apa kelebihannya bagi kamu? Bahkan orang-orang berdosa memberikan pinjaman tanpa bunga kepada orang-orang berdosa agar mereka mendapatkan kembali sebanyak itu juga." (Luk 6:32-34) Prinsip yang diikuti orang seperti itu: 'Saya akan berbuat baik kepada Anda jika Anda berbuat baik kepada saya.'
Rasul Paulus mengatakan tentang orang yang pernah bekerja bersamanya, "Demas telah meninggalkan aku karena ia mengasihi [a•ga•pe′sas] sistem sekarang ini." (2Tim 4:10) Demas agaknya mengasihi dunia ini karena prinsip bahwa mengasihi dunia akan mendatangkan keuntungan materi. Yesus mengatakan, "Manusia mengasihi [e•ga′peÀsan] kegelapan sebaliknya daripada terang, karena perbuatan mereka fasik. Karena ia yang mempraktekkan hal-hal yang keji membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, agar perbuatan-perbuatannya tidak dicela." (Yoh 3:19, 20) Merupakan suatu kebenaran atau prinsip bahwa kegelapan turut menyembunyikan perbuatan-perbuatan fasik, oleh karena itulah mereka mengasihi kegelapan.
Yesus memerintahkan, "Kasihi [a•ga•pa′te] musuh-musuhmu." (Mat 5:44) Allah sendiri menetapkan prinsiWhya, sebagaimana dinyatakan rasul Paulus, "Allah merekomendasikan kasihnya [a•ga′pen] sendiri kepada kita dalam hal, sementara kita masih berdosa, Kristus mati bagi kita. . . . Karena jika pada waktu kita adalah musuh, kita dirukunkan dengan Allah melalui kematian Putranya, terlebih lagi sekarang setelah kita dirukunkan, kita akan diselamatkan oleh kehidupannya." (Rm 5:8-10) Contoh menonjol dari kasih semacam itu adalah cara Allah berurusan dengan Saul dari Tarsus, yang menjadi rasul Paulus. (Kis 9:1-16; 1Tim 1:15) Oleh karena itu, mengasihi musuh harus dikendalikan oleh prinsip yang ditetapkan Allah dan hendaknya dilakukan demi menaati perintah-perintah-Nya, tidak soal kasih demikian disertai kehangatan atau perasaan sayang, atau tidak.
Allah. Rasul Yohanes menulis, "Allah adalah kasih." (1Yoh 4:8) Ia adalah personifikasi kasih, yang merupakan sifat-Nya yang dominan. Akan tetapi, fakta itu tidak dapat dibalik, tidaklah benar jika dikatakan bahwa 'kasih (sifat abstrak) adalah Allah'. Ia menyingkapkan diri-Nya dalam Alkitab sebagai Pribadi dan secara kiasan menyebutkan bahwa Ia memiliki "mata", "tangan", "hati", "jiwa", dan lain-lain. Ia juga mempunyai sifat-sifat lain, seperti keadilan, kuasa, dan hikmat. (Ul 32:4; Ayb 36:22; Why 7:12) Lagi pula, Ia memiliki kapasitas untuk membenci, sifat yang sama sekali berlawanan dengan kasih. Kasih-Nya akan keadilbenaran mengharuskan Dia untuk membenci kefasikan. (Ul 12:31; Ams 6:16) Kasih mencakup perasaan dan ungkapan kasih sayang yang hangat dan bersifat pribadi, yang hanya dapat dimiliki suatu pribadi, atau yang dapat diulurkan kepada suatu pribadi. Dan Putra Allah, Yesus Kristus, pasti bukan suatu sifat abstrak; ia berkata bahwa ia ada bersama Bapaknya, bekerja bersama-Nya, menyenangkan Dia, dan mendengarkan Dia, juga bahwa para malaikat melihat muka Bapaknya; hal-hal ini mustahil jika Allah sekadar sifat abstrak.—Mat 10:32; 18:10; Yoh 5:17; 6:46; 8:28, 29, 40; 17:5.
Bukti kasih-Nya. Ada banyak sekali bukti bahwa Allah, sang Pencipta dan Allah alam semesta, adalah kasih. Fakta itu dapat terlihat dari ciptaan fisik. Sungguh besar perhatian yang telah dicurahkan untuk membuat segala ciptaan itu demi kesehatan, kesenangan, dan kesejahteraan manusia! Manusia dibuat tidak untuk sekadar hidup tetapi untuk menikmati makanan, merasa senang dengan melihat berwarna-warninya dan indahnya ciptaan, bermain dengan binatang dan menikmati pergaulan dengan sesama manusia, dan mendapatkan kesukaan dari tak terhitung banyaknya kesenangan hidup. (Mz 139:14, 17, 18) Namun, Allah telah mempertunjukkan lebih banyak kasih-Nya dengan membuat manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26, 27), disertai kapasitas untuk memiliki kasih serta kerohanian, dan dengan menyingkapkan diri-Nya kepada manusia melalui Firman-Nya dan roh kudus-Nya.—1Kor 2:12, 13.
Kasih Allah terhadap umat manusia bagaikan kasih seorang Bapak terhadap anak-anaknya. (Mat 5:45) Tidak ada yang tidak Ia berikan jika itu demi kebaikan mereka, tidak soal pengorbanan apa pun yang harus Ia lakukan; kasih-Nya melampaui apa pun yang dapat kita rasakan atau ungkapkan. (Ef 2:4-7; Yes 55:8; Rm 11:33) Manifestasi terbesar kasih-Nya, hal paling pengasih yang dapat dilakukan orang tua, telah Ia lakukan bagi umat manusia, yaitu memberikan kehidupan Putra-Nya sendiri yang setia, satu-satunya yang diperanakkan. (Yoh 3:16) Sebagaimana ditulis rasul Yohanes, "Mengenai kita, kita mengasihi, karena dia
pertama-tama mengasihi kita." (1Yoh 4:19) Jadi, Ia adalah Sumber kasih. Paulus, rekan rasul Yohanes, menulis, "Sebab hampir tidak ada orang yang mau mati bagi orang yang adil-benar; sesungguhnya, bagi orang yang baik,mungkin seseorang bahkan berani mati. Tetapi Allah merekomendasikan kasihnya sendiri kepada kita dalam hal, sementara kita masih berdosa, Kristus mati bagi kita."—Rm 5:7, 8; 1Yoh 4:10.
Kasih abadi Allah. Kasih Allah bagi hamba-hamba-Nya yang setia bersifat abadi, tidak berkesudahan atau memudar, tidak soal keadaan para hamba-Nya, senang atau susah, atau problem apa pun yang mungkin menimpa mereka, besar atau kecil. Rasul Paulus berseru, "Sebab aku yakin bahwa baik kematian atau kehidupan atau malaikat-malaikat atau pemerintah-pemerintah atau perkara-perkara yang ada sekarang atau perkara-perkara yang akan datang atau kuasa-kuasa atau ketinggian atau kedalaman atau apa pun yang diciptakan, tidak ada yang akan sanggup memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuan kita."—Rm 8:38, 39.
Kedaulatan Allah didasarkan atas kasih. Allah bangga akan fakta bahwa kedaulatan-Nya dan dukungan yang diberikan ciptaan-Nya kepada kedaulatan-Nya terutama didasarkan atas kasih. Ia hanya menginginkan memilih untuk melayani di bawah kedaulatan-Nya daripada mencoba independen, karena mereka memiliki pengetahuan tentang Dia dan tentang kasih, keadilan, serta hikmat-Nya, yang mereka sadari jauh mengungguli sifat-sifat mereka sendiri. (Mz 84:10, 11) Si Iblis gagal dalam hal ini, dengan egois ia berupaya independen, demikian juga Adam dan Hawa. Si Iblis bahkan menantang cara Allah memerintah, dengan seolah-olah mengatakan bahwa Allah memerintah dengan cara yang tidak pengasih dan tidak adil-benar (Kej 3:1-5), dan bahwa makhluk-makhluk ciptaan Allah melayani Dia bukan karena kasih, melainkan karena sifat mementingkan diri.—Ayb 1:8-12; 2:3-5. pribadi-pribadi yang mengasihi kedaulatan-Nya karena sifat-sifat-Nya yang baik dan karena kedaulatan-Nya adil-benar, pribadi-pribadi yang lebih menyukai kedaulatan-Nya di atas segala hal lain. (1Kor 2:9)
Mereka membiarkan si Iblis hidup dan menguji hamba-hamba-Nya, bahkan Putra Allah satu-satunya yang diperanakkan, sampai mati. Allah menubuatkan kesetiaan Yesus Kristus. (Yes 53) Bagaimana sampai Ia berani menubuatkan hal itu, mempertaruhkan kata-katanya pada diri Putra-Nya? Karena kasih. Allah mengenal Putra-Nya dan mengetahui kasih yang Putra-Nya miliki bagi Dia dan bagi keadilbenaran. (Ibr 1:9) Ia mengenal Putra-Nya dengan sangat akrab dan saksama. (Mat 11:27) Ia sepenuhnya percaya dan yakin akan kesetiaan Putra-Nya. Dan lebih dari itu, "kasih . . . adalah ikatan pemersatu yang sempurna". (Kol 3:14) Kasih adalah ikatan yang paling kuat di alam semesta, kasih sempurna yang menyatukan Putra dan Bapak tanpa dapat dipisahkan. Untuk alasan-alasan serupa, Allah dapat percaya kepada organisasi hamba-hamba-Nya, karena tahu bahwa kasih akan membuat kebanyakan di antara mereka teguh berpaut pada Dia di bawah ujian dan bahwa organisasi makhluk-makhluk ciptaan-Nya tidak akan pernah meninggalkan-Nya secara keseluruhan.—Mz 110:3.
Yesus Kristus. Karena selama waktu yang tak terhitung lamanya Yesus bergaul sangat erat dengan Bapaknya, Sumber kasih, dan mengenal Dia dengan sangat akrab dan saksama, Yesus dapat mengatakan, "Ia yang telah melihat aku telah melihat Bapak juga." (Yoh 14:9; Mat 11:27) Karena itu, kasih Yesus lengkap, sempurna. (Ef 3:19) Ia memberi tahu murid-muridnya, "Tidak seorang pun mempunyai kasih yang lebih besar daripada ini, bahwa seseorang menyerahkan jiwanya demi kepentingan sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13) Ia pernah mengatakan kepada mereka, "Aku memberikan kepadamu perintah baru, agar kamu mengasihi satu sama lain; sebagaimana aku telah mengasihi kamu, agar kamu juga mengasihi satu sama lain." (Yoh 13:34) Perintah ini baru, karena dalam Hukum, yang ditaati oleh Yesus dan murid-muridnya pada waktu itu, terdapat perintah, "Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri." (Im 19:18; Mat 22:39) Hukum memang menuntut agar mengasihi orang lain seperti diri sendiri, tetapi tidak menuntut kasih yang rela berkorban, kasih yang bahkan rela menyerahkan nyawa demi orang lain. Kehidupan dan kematian Yesus menjadi contoh kasih yang dituntut oleh perintah baru ini. Selain berbuat baik setiap ada kesempatan, seorang pengikut Kristus diperintahkan untuk berinisiatif, di bawah bimbingan Kristus, untuk membantu orang lain dalam hal rohani dan hal-hal lain. Ia harus aktif mengupayakan kebaikan mereka. Pengabaran dan pengajaran kabar baik kepada orang lain, bahkanmungkin kepada musuh, adalah salah satu pernyataan kasih yang terbesar, karena bisa mendatangkan kehidupan abadi bagi mereka. Orang Kristen harus 'memberikan bukan saja kabar baik Allah, melainkan juga jiwanya sendiri' dalam membantu dan bekerja bersama orang-orang yang menerima kabar baik. (1Tes 2:8) Dan ia harus siap menyerahkan jiwanya (kehidupannya) demi kepentingan mereka.—1Yoh 3:16.
Caranya Memiliki Kasih. Melalui roh kudus, pria dan wanita pertama diciptakan untuk hingga taraf tertentu memiliki sifat dominan Allah ini, yaitu kasih, dan dengan kapasitas untuk memperlihatkan, memperluas, dan memperkaya kasih itu. Kasih adalah buah roh Allah. (Gal 5:22) Kasih ilahi bukan sifat yang kita miliki tanpa tahu sebabnya, tidak seperti kesanggupan fisik atau mental tertentu, misalnya kecantikan jasmani, bakat musik, atau sifat-sifat bawaan serupa. Kasih ilahi tidak dapat dimiliki seseorang tanpa pengetahuan tentang Allah dan dinas kepada-Nya atau tanpa renungan dan penghargaan. Hanya dengan memupuk kasih sajalah kita bisa menjadi peniru Allah, Sumber kasih. (Mz 77:11; Ef 5:1, 2; Rm 12:2) Adam tidak memupuk kasih kepada Allah; ia tidak menyempurnakan kasihnya. Hal itu terlihat dari kenyataan bahwa ia tidak berada dalam persatuan dengan Allah, tidak terikat kepada Allah dengan ikatan yang sempurna itu. Meskipun demikian, sekalipun telah menjadi tidak sempurna dan berdosa, Adam mewariskan kepada keturunannya, 'menurut gambarnya',kesanggupan dan kapasitas untuk mengasihi. (Kej 5:3) Umat manusia pada umumnya menyatakan kasih, tetapi sering kali kasih yang telah disesatkan, rusak, dan menyimpang.
Kasih bisa disesatkan. Karena alasan-alasan tersebut, nyatalah bahwa kita dapat memiliki kasih sejati yang terarah dengan benar hanya jika kita mengikuti roh Allah dan pengetahuan yang berasal dari Firman-Nya. Sebagai contoh, orang tua bisa jadi sayang kepada anaknya. Tetapi ia mungkin membiarkan kasih itu berkembang ke arah yang buruk atau ia bisa disesatkan karena perasaan sentimentil, dengan memberi anak itu segala-galanya dan menuruti semua keinginannya. Ia mungkin tidak menjalankan wewenangnya sebagai orang tua dalam memberikan disiplin dan sekali-sekali benar-benar memukulnya. (Ams 22:15) Apa yang disangka sebagai kasih itu sesungguhnya adalah gengsi keluarga, yang sama dengan sifat mementingkan diri. Alkitab mengatakan bahwa orang demikian bukannya menjalankan kasih, melainkan kebencian, karena ia tidak mengambil haluan yang akan menyelamatkan kehidupan sang anak.—Ams 13:24; 23:13, 14.
Kasih demikian bukan kasih yang berasal dari Allah. Kasih ilahi mendorong orang melakukan apa yang baik dan berguna bagi orang lain. "Kasih membangun." (1Kor 8:1) Kasih bukan perasaan sentimentil. Sifat ini teguh, kuat, dibimbing oleh hikmat ilahi, pertama-tama berpaut kepada apa yang murni dan benar. (Yak 3:17) Allah mempertunjukkannya kepada Israel, yang Ia hukum dengan keras karena ketidaktaatan, demi kesejahteraan kekal mereka sendiri. (Ul 8:5; Ams 3:12; Ibr 12:6) Rasul Paulus mengatakan kepada orang-orang Kristen, "Kamu bertekun sebagai suatu disiplin. Allah berurusan denganmu seperti dengan seorang putra. Sebab apakah ada putra yang tidak didisiplin oleh bapaknya? . . . Selanjutnya, kita mempunyai bapak jasmani yang mendisiplin kita, dan kita menaruh respek kepada mereka. Tidakkah kita akan lebih tunduk lagi kepada Bapak dari kehidupan rohani kita, dan beroleh kehidupan? Karena mereka mendisiplin kita untuk waktu yang singkat menurut apa yang kelihatannya baik bagi mereka, tetapi ia melakukannya demi keuntungan kita agar kita dapat mengambil bagian dari kekudusannya. Memang, tampaknya setiap disiplin pada saat diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi memedihkan hati; namun setelah itu, bagi mereka yang telah dilatih olehnya, itu akan menghasilkan buah suka damai, yakni keadilbenaran."—Ibr 12:7-11.
Pengetahuan mengarahkan kasih ke jalan yang benar. Kasih harus ditujukan pertama-tama kepada Allah, di atas segala-galanya. Kalau tidak, kasih akan menyimpang dan bahkan mengarah kepada penyembahan makhluk ciptaan atau benda. Pengetahuan akan maksud-tujuan Allah sangat penting, karena dengan demikian orang akan tahu apa yang paling baik bagi kesejahteraan dirinya serta orang lain, dan akan tahu caranya menyatakan kasih dengan benar. Kasih kita kepada Allah haruslah dengan 'segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan' kita. (Mat 22:36-38; Mrk 12:29, 30) Kasih seharusnya bukan sekadar pernyataan lahiriah, melainkan cerminan segenap batin seseorang. Kasih melibatkan emosi. (1Ptr 1:22) Tetapi jika pikiran tidak diperlengkapi dengan pengetahuan tentang apa itu kasih sejati dan caranya bertindak, kasih dapat dinyatakan ke arah yang salah. (Yer 10:23; 17:9; bdk. Flp 1:9.) Pikiran harus tahu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, maksud-tujuan-Nya, dan bagaimana Ia menyatakan kasih. (1Yoh 4:7) Selaras dengan hal ini, dan karena kasih adalah sifat yang paling penting, pembaktian kepada Allah ditujukan kepada pribadi Allah sendiri (yang memiliki sifat dominan kasih) dan bukan kepada suatu pekerjaan atau tujuan. Kemudian, kasih harusdiperlihatkan dengan jiwa kita, setiap unsur tubuh kita; dan segenap kekuatan harus dikerahkan untuk mengupayakannya.
Kasih itu luas jangkauannya. Kasih sejati, yang adalah buah roh Allah, luas jangkauannya. (2Kor 6:11-13) Kasih tidak pelit, sempit, atau terbatas. Agar lengkap, kasih harus dibagikan kepada orang-orang lain. Seseorang harus pertama-tama mengasihi Allah (Ul 6:5), Putra-Nya (Ef 6:24), dan selanjutnya segenap persekutuan saudara-saudara Kristennya di seluruh dunia (1Ptr 2:17; 1Yoh 2:10; 4:20, 21). Suami harus mengasihi istri; dan istri mengasihi suami. (Ams 5:18, 19; Pkh 9:9; Ef 5:25, 28, 33) Kasih harus dinyatakan kepada anak-anak. (Tit 2:4) Kita harus mengasihi seluruh umat manusia, bahkan musuh, dan memperlihatkan perbuatan-perbuatan Kristen kepada mereka. (Mat 5:44; Luk 6:32-36) Ketika mengulas tentang buah-buah roh, Alkitab mengatakan, "Tidak ada hukum yang menentang hal-hal demikian." (Gal 5:22, 23) Kasih ini tidak dapat dibatasi oleh suatu hukum. Kepada orang yang patut mendapatkannya, kasih dapat diperlihatkan kapan saja atau di mana saja, seluas-luasnya. Malah, satu-satunya utang yang harus dibayarkan orang Kristen kepada satu sama lain ialah kasih. (Rm 13:8) Kasih kepada satu sama lain ini adalah tanda pengenal orang Kristen sejati.—Yoh 13:35.
Penerapan Kasih Ilahi. Kasih, seperti halnya Allah, terlalu luar biasa untuk didefinisikan. Lebih mudah untuk menguraikan bagaimana kasih diterapkan. Dalam pembahasan berikut tentang sifat bagus ini, akan diperlihatkan bagaimana orang Kristen harus menerapkan kasih. Ketika menulis tentang pokok ini, rasul Paulus pertama-tama menandaskan betapa pentingnya kasih bagi seorang Kristen yang beriman lalu menjabarkan bagaimana kasih bertindak tanpa mementingkan diri, "Kasih itu panjang sabar dan baik hati. Kasih tidak cemburu, tidak membual, tidak menjadi besar kepala, tidak berlaku tidak sopan, tidak memperhatikan kepentingan diri sendiri, tidak terpancing menjadi marah. Kasih tidak mencatat kerugian. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilbenaran, tetapi bersukacita karena kebenaran. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mempunyai harapan akan segala sesuatu, bertekun menanggung segala sesuatu."—1Kor 13:4-7.
"KASIH ITU PANJANG SABAR DAN BAIK HATI." Kasih bisa dengan sabar bertahan menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan dan kesalahan orang lain, karena ada tujuannya, yaitu untuk mengupayakan agar para pelakukesalahan itu atau orang-orang lain yang terlibat di dalamnya mendapatkan keselamatan akhir, dan juga, yang terpenting, untuk membenarkan kedaulatan Allah. (2Ptr 3:15) Kasih itu baik hati, apa pun bentuk provokasinya. Tidak ada hal baik yang dapat dihasilkan jika seorang Kristen berlaku kasar atau keras terhadap orang lain. Meskipun demikian, kasih bisa tegas dan melakukan tindakan hukum demi
keadilbenaran. Pihak yang memiliki wewenang dapat mendisiplin pelaku kesalahan, tetapi sekalipun demikian, mereka hendaknya berlaku baik hati. Tindakan yang tidak baik hati tidak akan mendatangkan manfaat bagi si penasihat yang tidak baik hati ataupun bagi orang yang melakukan ketidakadilbenaran itu, malah dapat semakin menjauhkan orang itu dari pertobatan dan perbuatan yang benar.—Rm 2:4; Ef 4:32; Tit 3:4, 5.
"KASIH TIDAK CEMBURU." Kasih tidak iri apabila orang lain memperoleh hal-hal baik, malah turut bersukacita apabila melihat sesamanya mendapatkan kedudukan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kasih tidak iri bahkan jika musuh menerima hal-hal yang baik. Kasih murah hati. Allah menurunkan hujan atas orang-orang yang adil-benar dan yang tidak adil-benar. (Mat 5:45) Hamba-hamba Allah yang memiliki kasih puas dengan apa yang mereka miliki (1Tim 6:6-8) dan dengan kedudukan mereka, tidak melampaui batas atau secara mementingkan diri berupaya mendapatkan kedudukan orang lain. Setan si Iblis secara mementingkan diri dan dengki melampaui batas, bahkan ingin agar Yesus Kristus memberikan penyembahan kepadanya.—Luk 4:5-8.
Kasih "TIDAK MEMBUAL, TIDAK MENJADI BESAR KEPALA". Kasih tidak berupaya mendapatkan pujian dan kekaguman makhluk lain. (Mz 75:4-7; Yud 16) Orang yang memiliki kasih tidak akan merendahkan orang lain agar dirinya tampak lebih hebat. Sebaliknya, ia akan meninggikan Allah dan dengan tulus membesarkan hati serta membina orang lain. (Rm 1:8; Kol 1:3-5; 1Tes 1:2, 3) Ia akan bahagia melihat orang Kristen lain membuat kemajuan. Dan ia tidak akan menyombongkan apa yang bakal ia lakukan. (Ams 27:1; Luk 12:19, 20; Yak 4:13-16) Ia sadar bahwa segala sesuatu dapat ia lakukan berkat kekuatan yang berasal dari Allah. (Mz 34:2; 44:8) Allah memberi tahu Israel, "Biarlah orang yang membual, membual karena hal ini, yaitu karena memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang aku, bahwa akulah Allah, Pribadi yang menunjukkan kebaikan hati yang penuh kasih, keadilan dan keadilbenaran di bumi; sebab hal-hal inilah yang kusenangi."—Yer 9:24; 1Kor 1:31.
KASIH "TIDAK BERLAKU TIDAK SOPAN". Kasih mempunyai tata krama yang baik, tidak terlibat dalam perilaku yang tidak sopan, seperti penganiayaan seksual atau tingkah laku yang menggegerkan. Kasih adalah kebalikan dari sifat yang kasar, vulgar, tidak sopan, menghina, atau tidak respek terhadap siapa pun. Dalam penampilan atau tindakannya, orang yang memiliki kasih tidak akan melakukan hal-hal yang mengganggu saudara-saudara Kristennya. Kepada sidang di Korintus, Paulus menginstruksikan, "Biarlah segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur." (1Kor 14:40) Kasih juga akan menggerakkan orang untuk berjalan dengan penuh hormat di mata orang-orang yang bukan Kristen.—Rm 13:13; 1Tes 4:12; 1Tim 3:7.
KASIH "TIDAK MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN DIRI SENDIRI". Kasih mengikuti prinsip, "Biarlah masing-masing tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain." (1Kor 10:24) Dalam hal inilah kepedulian akan kesejahteraan kekal orang lain menjadi nyata. Kepedulian yang tulus terhadap orang lain adalah salah satu motivator terkuat dalam kasih dan juga salah satu hal yang hasil-hasilnya paling efektif dan bermanfaat. Orang yang memiliki kasih tidak menuntut agar segala sesuatu dilakukan menurut cara dia. Paulus mengatakan, "Bagi yang lemah aku menjadi lemah, agar aku dapat memperoleh yang lemah. Aku telah menjadi segala sesuatu bagi segala macam orang, agar aku dengan segala cara dapat menyelamatkan beberapa orang. Namun aku melakukan segala sesuatu demi kepentingan kabar baik, agar aku dapat ikut mengambil bagian dari kabar baik itu bersama orang-orang lain." (1Kor 9:22, 23) Kasih juga tidak menuntut "hak-hak"-nya; ia lebih peduli terhadap kesejahteraan rohani orang lain.—Rm 14:13, 15.
KASIH "TIDAK TERPANCING MENJADI MARAH". Kasih tidak mencari-cari kesempatan atau dalih untuk menjadi marah. Kasih tidak cenderung untuk melampiaskan kemarahan, yang adalah perbuatan daging. (Gal 5:19, 20) Orang yang memiliki kasih tidak mudah sakit hati terhadap apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain. Ia tidak takut "martabat" dirinya disinggung.
KASIH "TIDAK MENCATAT KERUGIAN". (Harfiah, kasih tidak "menghitung hal buruk"; Int.) Kasih tidak menganggap dirinya dirugikan sehingga mencatat kerugian itu seolah-olah 'dalam buku rekening', sebagai sesuatu yang pada waktunya harus dibereskan, atau dibayar atau dibalas, seraya membiarkan hubungan antara pihak-pihak yang bertikai itu terputus. Hal itu sama saja dengan semangat mendendam, yang dikutuk dalam Alkitab. (Im 19:18; Rm 12:19) Kasih tidak akan menuduhkan motif-motif yang jahat kepada orang lain tetapi cenderung memberikan kelonggaran dan tidak mencurigai orang lain.—Rm 14:1, 5.
KASIH "TIDAK BERSUKACITA KARENA KETIDAKADILBENARAN, TETAPI BERSUKACITA KARENA KEBENARAN". Kasih bersukacita karena kebenaran sekalipun kebenaran itu mematahkan kepercayaan yang sebelumnya dianutatau pernyataan yang telah diucapkan. Kasih berpaut pada Firman kebenaran Allah. Kasih selalu memihak yang benar, tidak senang dengan perbuatan salah, dusta, atau segala bentuk ketidakadilan, siapa pun korbannya, sekalipun ia seorang musuh. Akan tetapi, jika ada sesuatu yang salah atau menyesatkan, kasih tidak takut untuk angkat suara demi kebenaran dan demi orang lain. (Gal 2:11-14) Selain itu, ia lebih suka membiarkan diri dirugikan ketimbang melakukan kesalahan lain dalam upaya membereskan persoalannya. (Rm 12:17, 20) Tetapi jika ada orang yang dengan patut dikoreksi oleh seseorang yang memiliki wewenang, orang yang pengasih tidak akan secara sentimentil berpihak kepada orang yang ditegur serta mencari kesalahan pada koreksi atau orang yang mengoreksi. Tindakan itu bukan pernyataan kasih terhadap orang tersebut. Orang yang dikoreksi itu mungkin akan senang, tetapi ia justru akan dirugikan dan bukannya dibantu.
KASIH "MENANGGUNG SEGALA SESUATU". Ia rela bertekun, menderita demi keadilbenaran. Terjemahan harfiahnya, "kasih menutupi segala sesuatu". ( Int) Orang yang memiliki kasih tidak akan cepat menyingkapkan kepada pihak lain orang yang telah berbuat salah kepadanya. Jika kesalahannya tidak terlalu serius, ia akan mengabaikannya. Jika ternyata serius, dan apabila prosedur yang Yesus sarankan di Matius 18:15-17 memang cocok diterapkan, ia akan mengikutinya. Dalam kasus-kasus demikian, jika orang itu meminta maaf setelah kesalahannya diberitahukan kepadanya secara pribadi, dan memperbaiki yang rusak, orang yang memiliki kasih akan memperlihatkan bahwa pengampunannya nyata, bahwa masalahnya telah sama sekali ditutup, seperti yang telah Allah lakukan.—Ams 10:12; 17:9; 1Ptr 4:7, 8.
KASIH "PERCAYA SEGALA SESUATU". Kasih beriman akan hal-hal yang Allah katakan dalam Firman kebenaran-Nya, sekalipun hal-hal yang kelihatan tampaknya bertentangan dan dunia yang tidak percaya mencemoohnya. Kasihini, khususnya terhadap Allah, adalah pengakuan bahwa Ia benar, didasarkan atas riwayat kesetiaan dan keterandalan-Nya, sebagaimana kita mengenal dan mengasihi seorang sahabat sejati yang setia dan tidak ragu-ragu apabila ia memberitahukan sesuatu yang mungkin tidak ada buktinya. (Yos 23:14) Kasih mempercayai semua yang Allah katakan, walaupun hal itu mungkin belum dapat dipahami sepenuhnya, dan rela menunggu dengan sabar hingga hal itu dijelaskan secara lebih lengkap atau hingga hal itu dipahami dengan jelas. (1Kor 13:9-12; 1Ptr 1:10-13) Kasih juga yakin bahwa Allah membimbing Kristen dan hamba-hamba-Nya yang terlantik dan bahwa Allah mendukung keputusan-keputusan mereka yang berdasarkan Firman Allah. (1Tim 5:17; Ibr 13:17) Akan tetapi, kasih bukannya naif, sebab kasih mematuhi nasihat Firman Allah untuk 'menguji pernyataan-pernyataan terilham itu untuk melihat apakah itu berasal dari Allah', dan kasih menguji segala sesuatu dengan Alkitab sebagai tolok ukur. (1Yoh 4:1; Kis 17:11, 12) Kasih akan membuat seseorang yakin akan saudara-saudara Kristennya yang setia; seorang Kristen tidak akan mencurigai mereka atau tidak mempercayai mereka kecuali ada bukti kuat bahwa mereka bersalah.—2Kor 2:3; Gal 5:10; Flm 21.
Sejarah Dunia Kuno
Sep 4, 2009
Mengalahkan Depresi- Cara Orang Lain Dapat Membantu
Mungkinkah Lingkungan Rumah Anda Menyebabkan Depresi?
Apakah harga diri diremehkan dengan komentar yang sembrono seperti Coba kamu menjadi istri yang lebih baik?' 'Saya mencintai anda walaupun anda orang macam itu', atau 'Mengapa kamu selalu begitu sembrono?' Apakah perasaan bersalah terus diungkit-ungkit dengan membuat pasangan hidup selalu merasa bertanggung jawab, tidak soal fakta-faktanya? Apakah suasana di rumah tidak menganjurkan keterbukaan dalam hal emosi, dan membuat orang yang tidak menahan emosi tampak lemah? Apakah ada yang dibuat merasa harus hampir sempurna agar memenuhi pengharapan pasangan hidup? Apakah komunikasi yang terbuka dan langsung terhalang?
Mengalahkan Depresi—Cara Orang Lain Dapat Membantu
Dalam beberapa hari saja Ana sudah tiga kali menelepon jarak jauh tanpaalasanapapun.Ibunya, Kay, memperhatikan bahwa suaranya kedengaran kosong. "Tampaknya seperti suara orang yang tertekan," ulas Kay. "Walaupun ia tidak mengeluh, nada suaranya menyatakan dengan jelas, 'Saya perlu bantuan!'" Hati Kay berdebar-debar sewaktu ia merasa ada yang tidak beres.
"Saya memberitahu anak saya bahwa saya akan ke sana besok!" ingat Kay. "Ana mulai menangis, berkata dengan nada bergetar 'Baiklah,' dan kemudian meletakkan teleponnya." Begitu tiba, ibunya terkejut mengetahui bahwa Ana telah menyatakan kepada teman-temannya bahwa ia sangat putus asa dan merasa diri tidak berharga. Ia bahkan telah memikirkan untuk bunuhdiri! Walaupun demikian, dukungan yang Kay berikan selama kunjungan lima hari membantu memulihkan keadaan anaknya. Itu merupakan titikbalik."Halini memberikan saya suatu pelajaran tentang mendengarkan," ingat sang ibu. "Bisa saja ia bunuh diri, dan betapa menyedihkan jika kami tidak membantu sewaktu ia membutuhkan."
Bantuan orang lain sering kali dapat mempengaruhi antara hidup dan mati bagi seorang yang sangat tertekan. Apakah perasaan anda sama peka seperti Kay? Karena setiap tahun seratus juta orang di seluruh dunia mengalami depresi yang parah, ada kemungkinan teman atau sanak keluarga anda akan mengalaminya. Tetapi membantu orang yang menderita depresi berat dapat menjengkelkan.
Dr. Leonard Cammer dalam bukunya Up From Depression (Bangkit Dari Depresi) menceritakan tentang seorang ibu yang kehabisan akal dengan anaknya yang menderita depresi. Sewaktu ia dan putranya berbicara dengan dokter, ia mengeluh, "Ia begitu saja pindah dan menganggap seolah-olah kita tidak ada di sana. Ia tahu kami mencintai dia. Mengapa ia harus melukai hati kami? Anda tidak tahu apa yang telah saya alami, Dokter." Dr. Cammer berkata, "Jika saja ibu itu tahu penderitaan yang ia alami! . . . Orang yang menderita depresi merasa menjadi beban bagi keluarga. Tetapi ia juga beban bagi diri sendiri, karena ia tidak berdaya memperbaikikeadaannyadanmaluserta merasa diri hina. Maka satu-satunya jalan adalah semakin menyendiri." Kurangnya kepekaan di pihaksang ibu memperburuk keadaan. Karena itu, untuk membantu, pertama-tama yang diperlukan adalah . . .
Tenggang Rasa
Tenggang rasa, atau "satu perasaan", adalah usaha untuk mengerti emosi orang lain. (1 Petrus 3:8) Sadarilah bahwa orang yang menderita depresi benar-benar sakit. Kesedihannya itu sungguh-sungguh dan bukan dibuat-buat. "Menangislah dengan orang yang menangis," nasihat rasul Paulus. (Roma 12:15) Dengan kata lain, berupayalah mengerti penderitaan yang dirasakan orang yang menderita depresi.
Walaupun anda tidak dapat mengetahui dengan jelas perasaannya, anda dapat memperlihatkan minat yang sungguh-sungguh untuk ingin tahu. Anjurkanorang itu untuk berbicara, dan sewaktu ia mengutarakan perasaannya, berupayalah menyelami jiwanya, menempatkan diri anda dalam posisinya. Hindari pernyataan menuduh seperti, 'Anda seharusnya tidak merasa demikian' atau, 'Itu sikap yang salah'. Emosi orang yang tertekan sangat peka, dan komentar-komentar yang demikian kritis hanya membuat dia merasa diri lebih buruk. Biasanya ia merasa diri tidak berharga.
Membangun Kembali Harga Diri
Untuk memulihkan harga dirinya, anda harus menggugah cara berpikir orang tersebut. Dengan sangat lembut, bantulah dia untuk melihat bahwa penilaian dirinya sendiri yang rendah itu tidak benar. Tetapi sekedar memberikan pujian yang berlebihan, memberitahukan bahwa ia adalah 'orang yang hebat', bukanlah jawabannya. "Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka," kata Amsal 25:20. Upaya yang dangkal demikian membuat orang yang menderita depresi menjadi dingin dan kesal secara emosi, karena hal itu jarang memberikan alasan mengapa orang itu merasa diri tidak berharga.
Misalnya, seorang yang tertekan mungkin berkata, 'Saya rasa saya orang bodoh dan saya tidak pernah akan berguna.' Dengan cara yang tidak menantang anda dapat bertanya, 'Coba beritahu saya mengapa anda merasa demikian?' Seraya ia mulai menjelaskan, dengarkan dengan saksama. Perhatian yang sedemikian akrab meyakinkan dia bahwa apa yang ia katakan cukup baik. Seraya ia menyatakan diri, anda dapat mengajukan lebih banyak pertanyaan untuk membantu dia mengenali dan mengoreksi cara berpikir yang menyebabkan depresi.
Ajukan pertanyaan yang sederhana, langsung, bukan dengan mencaci, tetapi dengan maksud membuat orang itu berpikir. (Lihat kotak, halaman 18.) Jika anda memperhatikan bahwa orang itu melakukan hal-hal yang menambah problemnya, maka dengan cara yang tidak menuduh, anda dapat bertanya dengan ramah, 'Apakah hal yang anda lakukan sampai saat ini membantu anda? Apakah anda perlu melakukan sesuatu yang lain?' Meminta dia memberikan saran-saran mungkin dapat memulihkan sedikit rasa percaya diri.
Orangyangmenderitadepresicenderungmengabaikansemua sifat-sifatnyayangbaik; maka pusatkan perhatiannya pada sifat kepribadian yang baik dan kecakapannya. Pria mungkin sangat cakap memelihara tanaman atau ahli masak. Wanita mungkin telah membesarkan anak-anak yang bahagia dan stabil. Carilah hal-hal yang telah berhasil dilakukan oleh orang yang tertekan itu dan tariklah perhatiannya pada hal-hal tersebut. Mungkin anda dapat menyuruh dia menulis beberapa hal ini untuk ditinjau kembali nanti. Juga ada baiknya bila orang itu dapat menggunakan bakatnya untuk membantu anda.
Misalnya, Maria, seorang penjahit yang mahir, menjadi sangat murung. Salah seorang temannya bertanya, "Maukah anda membantu saya memilih bahan dan sebuah pola? Saya ingin menjahit baju." Maria menawarkan diri untuk menjahitkan baju itu untuknya. "Oh, kamu mau?" kata temannya. Beberapa waktu kemudian, ia sangat berterima kasih kepada Maria untuk baju itu dan menulis mengenai semua pujian yang ia terima. "Keyakinan diri saya bertambah dan hidup saya jadi lebih cerah," kata Maria. "Saya kemudian tahu bahwa ia pernah mengalami depresi dan mengetahui bahwa tugas ini akan sangat membantu. Dan memang demikian. Lebih banyak yang ia lakukan bagi saya daripada apa yang saya lakukan bagi dia."
Maka bantulah orang yang tertekan untuk mengembangkan tujuan jangka pendek tertentu yang dapat dilakukan sesuai dengan kesanggupan dan keadaannya. Ini mungkin menyangkut pekerjaan rumah yang sederhana, kerajinan tangan, atau bahkan kata-kata yang menyenangkan. Seperti seorang wanita yang menderita depresi berkata, "Saya akan berupaya setiap hari untuk mengucapkan hal yang membina kepada keluarga saya atau seorang teman." Berhasil mencapai tujuan yang kecil ini dapat membentuk harga diri.
Apabila si Penderita Adalah Teman Hidup Anda
Dugaan pertama dari kebanyakan orang yang teman hidupnya menderita depresi adalah bahwa mereka, sedikit banyak, bertanggung jawab atas rasa murungdaripasangannya. Ini menimbulkan perasaan bersalah yang akhirnya,menimbulkanpercekcokan.Namun,depresi tidak. perlu menandakan bahwa perkawinan seseorang tidak berhasil.
Setelahmempelajari kehidupan 40 wanita yang tertekan, Myrna Weissman dan Eugene Paykel dalam buku mereka The Depressed Woman (Wanita yang Menderita Depresi) menyimpulkan, "Tidak semua wanita yang menderita depresi mempunyai perkawinan yang buruk sebelum mereka sakit. Dalam sejumlah perkawinan kami menemukan bahwa komunikasi yang bebas dan terbuka, kepekaan bersama akan kebutuhan masing-masing, . . . telah ada sebelum rasa murung muncul. Penyakit itu cukup menegangkan hubungan itu."—Cetak miring ditambahkan.
Tetapi, kadang-kadang, walaupun tidak selalu menyebabkan depresi, hubunganyangtegang atau berpisah dengan pasangan hidup dapat menciptakan suasana yang membuat depresi lebih mungkin terjadi. Beberapa faktor yang menyebabkan depresi terdaftar dalam kotak pada halaman 20. Seorang suami yang istrinya menderita depresi dan mencoba bunuh diri mengakui, "Saya kurang serius dalam mengawasi kebutuhan emosi dan rohaninya. Bagi saya ia hanyalah seorang teman sekamar dan bukan sebagai istri. Saya terlalu sibuk membantu orang lain sehingga tidak memberikan keyakinan dan kehangatan yang ia dambakan dan butuhkan. Saya harus memperbaiki diri dalam komunikasi dan juga dalam membagi diri dan kehidupan saya dengan dia." Apakah ada hal-hal yang mungkin anda perhatikan dalam keluarga anda yang perlu diperbaiki? Tetapi apa lagi yang akan membantu teman hidup?
Sabar, Sabar, Sabar! Karena seorang yang menderita depresi sakit secara emosional, ia mungkin menyerang pasangan hidup. Victoria, yang menderita depresi hebat, mengakui, "Saya benci pada diri sendiri dan merasa tidak keruan. Saya yakin suami saya dan anak-anak ingin mengunci saya dalam kamar kecil dan membuang kunci itu. Namun, saya mendengar ratusan kali, 'Kami mencintai anda; kami tahu anda tidak bermaksud demikian' atau, 'Anda hanya capek'." Ya, sadarilah bahwa orang itu akan mengatakan banyak hal yang tidak ia maksudkan. Bahkan Ayub, seorang beriman,mengakuibahwakarena kesedihannya "kata-kataku kurang hati-hati serta terburu-buru". (Ayub 6:3) Dengan mengerti bahwa bukan anda yang menjadi sasaran akan membantu anda menjawab dengan lemah lembut dan ramah yang biasanya akan meredakan suasana. (Amsal 15:1; 19:11) Jangan berharap pasangan anda sembuh dalam waktu sekejap.
Berikan Dukungan Rohani dan Emosi. Banyak orang yang menderita depresi telah merasakan bahwa perhimpunan ibadat menyediakan dorongan rohani untuk bertahan. (Ibrani 10:25) Tetapi, Irene, yang menderita depresi selama 18 bulan, mengakui, "Suatu malam sebelum pergi ke perhimpunan, saya menangis karena saya hampir tidak berani bertemu dengan siapapun." Ia menambahkan, "Tetapi suami saya menganjurkan saya, dan setelah berdoa, kami sekeluarga pergi. Walaupun saya harus menahan air mata selama perhimpunan, saya begitu bersyukur kepada Allah karena memberikan saya kekuatan untuk berada di sana."
Selain bantuan rohani, teman hidup yang menderita depresi perlu diyakinkan bahwa anda memberi dukungan emosi. Irene mengungkapkan bagaimana suaminya melakukan hal ini, "Di rumah setelah anak-anak tidur, suami dan saya berbicara, dan kadang-kadang saya akan menangis hampir satu jam. Dukungannya yang penuh pengertian begitu membantu. Ia berdoa dengan saya, mendengarkan saya, atau membiarkan saya menangis di pundaknya—apa saja yang saya perlukan pada waktu itu." Karena seorang Kristen ingin menyenangkan pasangannya, seringlah yakinkan teman hidup yang menderita depresi bahwa itulah yang ia lakukan.—1 Korintus 7:33,34.
Sediakan Bantuan Fisik. Pekerjaan rumah yang rutin dan pemeliharaan anak-anak mungkin tiba-tiba tampak sangat berat bagi seorang istri yang menderita depresi. Sang suami (demikian juga anak-anak) dapat membantu dengan membersihkan rumah dan memasak. Berupayalah untuk tidak bertanya apa yang harus dilakukan, karena hal ini akan menambah tekanan. "Suami saya, Bob, tidak membiarkan segala sesuatu menumpuk di hadapan saya pada waktu itu. Ia bertindak sebagai penyangga," ulas Elizabeth, seorang ibu yang menderita depresi. "Saya harus memusatkan diri untuk menjadi baik." Ia menambahkan, "Dokter tidak hanya memberi resep obat tetapi juga memberitahukan saya untuk berolahraga setiap hari. Bob menganjurkan saya untuk mengikuti saran dokter. Kami berjalan setiap hari." Mengadakan perjalanan yang direncanakan dengan baik bersama orang yang menderita depresi juga membantu. Ini semua menuntut banyak inisiatif di pihak suami.
Bantuan dari Orang Lain
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran," kata Amsal 17:17. Persahabatan yang sejati nyata selama masa yang sukar, seperti masa depresi. Bagaimana seorang teman dapat membantu?
"Sewaktu saya menderita depresi, seorang teman menulis surat kepada sayabeberapakalidanselalu mengikutsertakan ayat-ayat yang menganjurkan," kata Maria. "Saya akan membaca surat itu berulang kali,
membacanya sambil menangis. Surat-surat demikian seperti emas bagi saya." Surat-surat, kartu dan telepon yang menganjurkan sangat dihargai. Kunjungan yang hangat juga membantu. "Jika tidak ada yang datang, itu memperkuat gagasan bahwa kita sama sekali seorang diri," sambung Elizabeth. "Berdoa bersama orang itu, menceritakan pengalaman yang menganjurkan, bahkan masak dan membawa makanan seperti seorang anggota keluarga. Seorang teman membuatkan saya sebuah kotak tempat menyimpan barang-barang kecil. Membuka barang-barang itu satu per satu memberikan kesenangan yang tak terduga."
Tentu, dalam hal-hal seperti berbelanja dan melakukan pekerjaan rumah bagi orang yang menderita depresi, hendaknya penuh pengertian. Dengarkan dia. Jangan bersikeras melakukan sesuatu jika ia tidak ingin hal itu dikerjakan. Kadang-kadang, mengetahui bahwa ada yang melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan mungkin menambah perasaan bersalah. Orang yang menderita depresi mungkin lebih senang jika hal itu tidak dikerjakan.
Gembala rohani, dalam sidang Kristen juga telah menyediakan bantuan yang sangat berharga. Irene menjelaskan, "Saya berbicara dengan dua orang penatua tentang persoalan saya. (Suami saya ikut bersama saya untuk memberikan dukungan.) Ini langkah yang besar dan sangat membantu saya. Saya merasa bahwa pria-pria ini benar-benar memperhatikan saya." Dengan penuh perhatian mendengarkan dan dengan benar-benar mempersiapkan diri, pria-pria ini dapat 'menghibur mereka yang tawar hati'.—1 Tesalonika 5:14; Amsal 12:18.
Mengetahuiwaktunyauntukmencari bantuan para ahli sangat penting—sebenarnya, hal itu dapat menyelamatkan jiwa! Kadang-kadang keadaan menjadi begitu parah sehingga harus diatur agar orang yang menderita depresi itu mendapat perawatan para ahli. Jangan menunggu sampai orang yang menderita depresi itu yang mengambil keputusan. Sering kali itu berarti mengatur untuk membuat janji yang diperlukan bagi dia. Anda dapat meyakinkan dia dengan mengatakan, 'Saya yakin penyakit anda tidak serius, tetapi itu harus diperiksa supaya kita tidak ragu-ragu. Walaupun saya sangat mengasihimu, saya bukan dokter.' Harus ramah tetapi tegas!
Membantu seorang teman atau pasangan hidup mengalahkan depresi bukan tugas yang mudah, tetapi ketekunan mungkin dapat menyelamatkan jiwa. Sering kali, perhatian anda akan sangat membantu. Misalnya, Margaret, sewaktu ia menjadi murung sekali, memberi tahu suaminya bahwa ia ingin menyerah dan mati. Dengan hangat suaminya mengatakan, "Saya akan membantu anda untuk tidak menyerah." Terharu melihat perhatiannya, Margaret menjelaskan, "Saya tahu saat itu juga bahwa saya dapat bertahan." Ia memang berhasil dan akhirnya dapat mengalahkan depresinya.
Bertukarpikiran dalam Cara yang Membangun Harga Diri Seorang wanita, yang perkawinannya berantakan karena suaminya tidak setia, menjadi tertekan dan ingin bunuh diri. Ia kemudian mengungkapkan hal itu kepada seorang penasihat yang mahir, "Tanpa Raymond, saya merasa tidak berharga . . . Saya tidak dapat hidup bahagia tanpa Raymond." Penasihat itu bertanya, "Pernahkah anda sendiri merasa bahagia ketika bersama Raymond?" Jawabnya, "Tidak, kami bertengkar terus dan saya merasa lebih tidak enak." Ia melanjutkan, "Anda mengatakan anda merasa tidak berharga tanpa Raymond. Sebelum anda bertemu Raymond, apakah anda merasa diri tidak berharga?" "Tidak, saya merasa diri berharga," kata wanita yang menderita depresi itu tanpa berpikir. Penasihat itu kemudian menjawab, "Jika anda merasa diri berharga sebelum anda mengenal Raymond, mengapa anda memerlukan dia untuk menjadi berharga sekarang?" Membahas kasus ini dalam bukunya "Cognitive Therapy and the Emotional Disorders" [Terapi Pengertian dan Gangguan Emosi], Dr. Aaron Beck mengatakan, "Dalam wawancara yang berikut, ia mengatakan hal yang sungguh-sungguh mengena sasaran yaitu, Bagaimana ia dapat menjadi 'tidak berharga' tanpa Raymond—sewaktu ia telah hidup bahagia dan menjadi orang yang memadai sebelum mengenal dia?" Ia mengatasi depresinya.
Apakah harga diri diremehkan dengan komentar yang sembrono seperti Coba kamu menjadi istri yang lebih baik?' 'Saya mencintai anda walaupun anda orang macam itu', atau 'Mengapa kamu selalu begitu sembrono?' Apakah perasaan bersalah terus diungkit-ungkit dengan membuat pasangan hidup selalu merasa bertanggung jawab, tidak soal fakta-faktanya? Apakah suasana di rumah tidak menganjurkan keterbukaan dalam hal emosi, dan membuat orang yang tidak menahan emosi tampak lemah? Apakah ada yang dibuat merasa harus hampir sempurna agar memenuhi pengharapan pasangan hidup? Apakah komunikasi yang terbuka dan langsung terhalang?
Mengalahkan Depresi—Cara Orang Lain Dapat Membantu
Dalam beberapa hari saja Ana sudah tiga kali menelepon jarak jauh tanpaalasanapapun.Ibunya, Kay, memperhatikan bahwa suaranya kedengaran kosong. "Tampaknya seperti suara orang yang tertekan," ulas Kay. "Walaupun ia tidak mengeluh, nada suaranya menyatakan dengan jelas, 'Saya perlu bantuan!'" Hati Kay berdebar-debar sewaktu ia merasa ada yang tidak beres.
"Saya memberitahu anak saya bahwa saya akan ke sana besok!" ingat Kay. "Ana mulai menangis, berkata dengan nada bergetar 'Baiklah,' dan kemudian meletakkan teleponnya." Begitu tiba, ibunya terkejut mengetahui bahwa Ana telah menyatakan kepada teman-temannya bahwa ia sangat putus asa dan merasa diri tidak berharga. Ia bahkan telah memikirkan untuk bunuhdiri! Walaupun demikian, dukungan yang Kay berikan selama kunjungan lima hari membantu memulihkan keadaan anaknya. Itu merupakan titikbalik."Halini memberikan saya suatu pelajaran tentang mendengarkan," ingat sang ibu. "Bisa saja ia bunuh diri, dan betapa menyedihkan jika kami tidak membantu sewaktu ia membutuhkan."
Bantuan orang lain sering kali dapat mempengaruhi antara hidup dan mati bagi seorang yang sangat tertekan. Apakah perasaan anda sama peka seperti Kay? Karena setiap tahun seratus juta orang di seluruh dunia mengalami depresi yang parah, ada kemungkinan teman atau sanak keluarga anda akan mengalaminya. Tetapi membantu orang yang menderita depresi berat dapat menjengkelkan.
Dr. Leonard Cammer dalam bukunya Up From Depression (Bangkit Dari Depresi) menceritakan tentang seorang ibu yang kehabisan akal dengan anaknya yang menderita depresi. Sewaktu ia dan putranya berbicara dengan dokter, ia mengeluh, "Ia begitu saja pindah dan menganggap seolah-olah kita tidak ada di sana. Ia tahu kami mencintai dia. Mengapa ia harus melukai hati kami? Anda tidak tahu apa yang telah saya alami, Dokter." Dr. Cammer berkata, "Jika saja ibu itu tahu penderitaan yang ia alami! . . . Orang yang menderita depresi merasa menjadi beban bagi keluarga. Tetapi ia juga beban bagi diri sendiri, karena ia tidak berdaya memperbaikikeadaannyadanmaluserta merasa diri hina. Maka satu-satunya jalan adalah semakin menyendiri." Kurangnya kepekaan di pihaksang ibu memperburuk keadaan. Karena itu, untuk membantu, pertama-tama yang diperlukan adalah . . .
Tenggang Rasa
Tenggang rasa, atau "satu perasaan", adalah usaha untuk mengerti emosi orang lain. (1 Petrus 3:8) Sadarilah bahwa orang yang menderita depresi benar-benar sakit. Kesedihannya itu sungguh-sungguh dan bukan dibuat-buat. "Menangislah dengan orang yang menangis," nasihat rasul Paulus. (Roma 12:15) Dengan kata lain, berupayalah mengerti penderitaan yang dirasakan orang yang menderita depresi.
Walaupun anda tidak dapat mengetahui dengan jelas perasaannya, anda dapat memperlihatkan minat yang sungguh-sungguh untuk ingin tahu. Anjurkanorang itu untuk berbicara, dan sewaktu ia mengutarakan perasaannya, berupayalah menyelami jiwanya, menempatkan diri anda dalam posisinya. Hindari pernyataan menuduh seperti, 'Anda seharusnya tidak merasa demikian' atau, 'Itu sikap yang salah'. Emosi orang yang tertekan sangat peka, dan komentar-komentar yang demikian kritis hanya membuat dia merasa diri lebih buruk. Biasanya ia merasa diri tidak berharga.
Membangun Kembali Harga Diri
Untuk memulihkan harga dirinya, anda harus menggugah cara berpikir orang tersebut. Dengan sangat lembut, bantulah dia untuk melihat bahwa penilaian dirinya sendiri yang rendah itu tidak benar. Tetapi sekedar memberikan pujian yang berlebihan, memberitahukan bahwa ia adalah 'orang yang hebat', bukanlah jawabannya. "Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka," kata Amsal 25:20. Upaya yang dangkal demikian membuat orang yang menderita depresi menjadi dingin dan kesal secara emosi, karena hal itu jarang memberikan alasan mengapa orang itu merasa diri tidak berharga.
Misalnya, seorang yang tertekan mungkin berkata, 'Saya rasa saya orang bodoh dan saya tidak pernah akan berguna.' Dengan cara yang tidak menantang anda dapat bertanya, 'Coba beritahu saya mengapa anda merasa demikian?' Seraya ia mulai menjelaskan, dengarkan dengan saksama. Perhatian yang sedemikian akrab meyakinkan dia bahwa apa yang ia katakan cukup baik. Seraya ia menyatakan diri, anda dapat mengajukan lebih banyak pertanyaan untuk membantu dia mengenali dan mengoreksi cara berpikir yang menyebabkan depresi.
Ajukan pertanyaan yang sederhana, langsung, bukan dengan mencaci, tetapi dengan maksud membuat orang itu berpikir. (Lihat kotak, halaman 18.) Jika anda memperhatikan bahwa orang itu melakukan hal-hal yang menambah problemnya, maka dengan cara yang tidak menuduh, anda dapat bertanya dengan ramah, 'Apakah hal yang anda lakukan sampai saat ini membantu anda? Apakah anda perlu melakukan sesuatu yang lain?' Meminta dia memberikan saran-saran mungkin dapat memulihkan sedikit rasa percaya diri.
Orangyangmenderitadepresicenderungmengabaikansemua sifat-sifatnyayangbaik; maka pusatkan perhatiannya pada sifat kepribadian yang baik dan kecakapannya. Pria mungkin sangat cakap memelihara tanaman atau ahli masak. Wanita mungkin telah membesarkan anak-anak yang bahagia dan stabil. Carilah hal-hal yang telah berhasil dilakukan oleh orang yang tertekan itu dan tariklah perhatiannya pada hal-hal tersebut. Mungkin anda dapat menyuruh dia menulis beberapa hal ini untuk ditinjau kembali nanti. Juga ada baiknya bila orang itu dapat menggunakan bakatnya untuk membantu anda.
Misalnya, Maria, seorang penjahit yang mahir, menjadi sangat murung. Salah seorang temannya bertanya, "Maukah anda membantu saya memilih bahan dan sebuah pola? Saya ingin menjahit baju." Maria menawarkan diri untuk menjahitkan baju itu untuknya. "Oh, kamu mau?" kata temannya. Beberapa waktu kemudian, ia sangat berterima kasih kepada Maria untuk baju itu dan menulis mengenai semua pujian yang ia terima. "Keyakinan diri saya bertambah dan hidup saya jadi lebih cerah," kata Maria. "Saya kemudian tahu bahwa ia pernah mengalami depresi dan mengetahui bahwa tugas ini akan sangat membantu. Dan memang demikian. Lebih banyak yang ia lakukan bagi saya daripada apa yang saya lakukan bagi dia."
Maka bantulah orang yang tertekan untuk mengembangkan tujuan jangka pendek tertentu yang dapat dilakukan sesuai dengan kesanggupan dan keadaannya. Ini mungkin menyangkut pekerjaan rumah yang sederhana, kerajinan tangan, atau bahkan kata-kata yang menyenangkan. Seperti seorang wanita yang menderita depresi berkata, "Saya akan berupaya setiap hari untuk mengucapkan hal yang membina kepada keluarga saya atau seorang teman." Berhasil mencapai tujuan yang kecil ini dapat membentuk harga diri.
Apabila si Penderita Adalah Teman Hidup Anda
Dugaan pertama dari kebanyakan orang yang teman hidupnya menderita depresi adalah bahwa mereka, sedikit banyak, bertanggung jawab atas rasa murungdaripasangannya. Ini menimbulkan perasaan bersalah yang akhirnya,menimbulkanpercekcokan.Namun,depresi tidak. perlu menandakan bahwa perkawinan seseorang tidak berhasil.
Setelahmempelajari kehidupan 40 wanita yang tertekan, Myrna Weissman dan Eugene Paykel dalam buku mereka The Depressed Woman (Wanita yang Menderita Depresi) menyimpulkan, "Tidak semua wanita yang menderita depresi mempunyai perkawinan yang buruk sebelum mereka sakit. Dalam sejumlah perkawinan kami menemukan bahwa komunikasi yang bebas dan terbuka, kepekaan bersama akan kebutuhan masing-masing, . . . telah ada sebelum rasa murung muncul. Penyakit itu cukup menegangkan hubungan itu."—Cetak miring ditambahkan.
Tetapi, kadang-kadang, walaupun tidak selalu menyebabkan depresi, hubunganyangtegang atau berpisah dengan pasangan hidup dapat menciptakan suasana yang membuat depresi lebih mungkin terjadi. Beberapa faktor yang menyebabkan depresi terdaftar dalam kotak pada halaman 20. Seorang suami yang istrinya menderita depresi dan mencoba bunuh diri mengakui, "Saya kurang serius dalam mengawasi kebutuhan emosi dan rohaninya. Bagi saya ia hanyalah seorang teman sekamar dan bukan sebagai istri. Saya terlalu sibuk membantu orang lain sehingga tidak memberikan keyakinan dan kehangatan yang ia dambakan dan butuhkan. Saya harus memperbaiki diri dalam komunikasi dan juga dalam membagi diri dan kehidupan saya dengan dia." Apakah ada hal-hal yang mungkin anda perhatikan dalam keluarga anda yang perlu diperbaiki? Tetapi apa lagi yang akan membantu teman hidup?
Sabar, Sabar, Sabar! Karena seorang yang menderita depresi sakit secara emosional, ia mungkin menyerang pasangan hidup. Victoria, yang menderita depresi hebat, mengakui, "Saya benci pada diri sendiri dan merasa tidak keruan. Saya yakin suami saya dan anak-anak ingin mengunci saya dalam kamar kecil dan membuang kunci itu. Namun, saya mendengar ratusan kali, 'Kami mencintai anda; kami tahu anda tidak bermaksud demikian' atau, 'Anda hanya capek'." Ya, sadarilah bahwa orang itu akan mengatakan banyak hal yang tidak ia maksudkan. Bahkan Ayub, seorang beriman,mengakuibahwakarena kesedihannya "kata-kataku kurang hati-hati serta terburu-buru". (Ayub 6:3) Dengan mengerti bahwa bukan anda yang menjadi sasaran akan membantu anda menjawab dengan lemah lembut dan ramah yang biasanya akan meredakan suasana. (Amsal 15:1; 19:11) Jangan berharap pasangan anda sembuh dalam waktu sekejap.
Berikan Dukungan Rohani dan Emosi. Banyak orang yang menderita depresi telah merasakan bahwa perhimpunan ibadat menyediakan dorongan rohani untuk bertahan. (Ibrani 10:25) Tetapi, Irene, yang menderita depresi selama 18 bulan, mengakui, "Suatu malam sebelum pergi ke perhimpunan, saya menangis karena saya hampir tidak berani bertemu dengan siapapun." Ia menambahkan, "Tetapi suami saya menganjurkan saya, dan setelah berdoa, kami sekeluarga pergi. Walaupun saya harus menahan air mata selama perhimpunan, saya begitu bersyukur kepada Allah karena memberikan saya kekuatan untuk berada di sana."
Selain bantuan rohani, teman hidup yang menderita depresi perlu diyakinkan bahwa anda memberi dukungan emosi. Irene mengungkapkan bagaimana suaminya melakukan hal ini, "Di rumah setelah anak-anak tidur, suami dan saya berbicara, dan kadang-kadang saya akan menangis hampir satu jam. Dukungannya yang penuh pengertian begitu membantu. Ia berdoa dengan saya, mendengarkan saya, atau membiarkan saya menangis di pundaknya—apa saja yang saya perlukan pada waktu itu." Karena seorang Kristen ingin menyenangkan pasangannya, seringlah yakinkan teman hidup yang menderita depresi bahwa itulah yang ia lakukan.—1 Korintus 7:33,34.
Sediakan Bantuan Fisik. Pekerjaan rumah yang rutin dan pemeliharaan anak-anak mungkin tiba-tiba tampak sangat berat bagi seorang istri yang menderita depresi. Sang suami (demikian juga anak-anak) dapat membantu dengan membersihkan rumah dan memasak. Berupayalah untuk tidak bertanya apa yang harus dilakukan, karena hal ini akan menambah tekanan. "Suami saya, Bob, tidak membiarkan segala sesuatu menumpuk di hadapan saya pada waktu itu. Ia bertindak sebagai penyangga," ulas Elizabeth, seorang ibu yang menderita depresi. "Saya harus memusatkan diri untuk menjadi baik." Ia menambahkan, "Dokter tidak hanya memberi resep obat tetapi juga memberitahukan saya untuk berolahraga setiap hari. Bob menganjurkan saya untuk mengikuti saran dokter. Kami berjalan setiap hari." Mengadakan perjalanan yang direncanakan dengan baik bersama orang yang menderita depresi juga membantu. Ini semua menuntut banyak inisiatif di pihak suami.
Bantuan dari Orang Lain
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran," kata Amsal 17:17. Persahabatan yang sejati nyata selama masa yang sukar, seperti masa depresi. Bagaimana seorang teman dapat membantu?
"Sewaktu saya menderita depresi, seorang teman menulis surat kepada sayabeberapakalidanselalu mengikutsertakan ayat-ayat yang menganjurkan," kata Maria. "Saya akan membaca surat itu berulang kali,
membacanya sambil menangis. Surat-surat demikian seperti emas bagi saya." Surat-surat, kartu dan telepon yang menganjurkan sangat dihargai. Kunjungan yang hangat juga membantu. "Jika tidak ada yang datang, itu memperkuat gagasan bahwa kita sama sekali seorang diri," sambung Elizabeth. "Berdoa bersama orang itu, menceritakan pengalaman yang menganjurkan, bahkan masak dan membawa makanan seperti seorang anggota keluarga. Seorang teman membuatkan saya sebuah kotak tempat menyimpan barang-barang kecil. Membuka barang-barang itu satu per satu memberikan kesenangan yang tak terduga."
Tentu, dalam hal-hal seperti berbelanja dan melakukan pekerjaan rumah bagi orang yang menderita depresi, hendaknya penuh pengertian. Dengarkan dia. Jangan bersikeras melakukan sesuatu jika ia tidak ingin hal itu dikerjakan. Kadang-kadang, mengetahui bahwa ada yang melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan mungkin menambah perasaan bersalah. Orang yang menderita depresi mungkin lebih senang jika hal itu tidak dikerjakan.
Gembala rohani, dalam sidang Kristen juga telah menyediakan bantuan yang sangat berharga. Irene menjelaskan, "Saya berbicara dengan dua orang penatua tentang persoalan saya. (Suami saya ikut bersama saya untuk memberikan dukungan.) Ini langkah yang besar dan sangat membantu saya. Saya merasa bahwa pria-pria ini benar-benar memperhatikan saya." Dengan penuh perhatian mendengarkan dan dengan benar-benar mempersiapkan diri, pria-pria ini dapat 'menghibur mereka yang tawar hati'.—1 Tesalonika 5:14; Amsal 12:18.
Mengetahuiwaktunyauntukmencari bantuan para ahli sangat penting—sebenarnya, hal itu dapat menyelamatkan jiwa! Kadang-kadang keadaan menjadi begitu parah sehingga harus diatur agar orang yang menderita depresi itu mendapat perawatan para ahli. Jangan menunggu sampai orang yang menderita depresi itu yang mengambil keputusan. Sering kali itu berarti mengatur untuk membuat janji yang diperlukan bagi dia. Anda dapat meyakinkan dia dengan mengatakan, 'Saya yakin penyakit anda tidak serius, tetapi itu harus diperiksa supaya kita tidak ragu-ragu. Walaupun saya sangat mengasihimu, saya bukan dokter.' Harus ramah tetapi tegas!
Membantu seorang teman atau pasangan hidup mengalahkan depresi bukan tugas yang mudah, tetapi ketekunan mungkin dapat menyelamatkan jiwa. Sering kali, perhatian anda akan sangat membantu. Misalnya, Margaret, sewaktu ia menjadi murung sekali, memberi tahu suaminya bahwa ia ingin menyerah dan mati. Dengan hangat suaminya mengatakan, "Saya akan membantu anda untuk tidak menyerah." Terharu melihat perhatiannya, Margaret menjelaskan, "Saya tahu saat itu juga bahwa saya dapat bertahan." Ia memang berhasil dan akhirnya dapat mengalahkan depresinya.
Bertukarpikiran dalam Cara yang Membangun Harga Diri Seorang wanita, yang perkawinannya berantakan karena suaminya tidak setia, menjadi tertekan dan ingin bunuh diri. Ia kemudian mengungkapkan hal itu kepada seorang penasihat yang mahir, "Tanpa Raymond, saya merasa tidak berharga . . . Saya tidak dapat hidup bahagia tanpa Raymond." Penasihat itu bertanya, "Pernahkah anda sendiri merasa bahagia ketika bersama Raymond?" Jawabnya, "Tidak, kami bertengkar terus dan saya merasa lebih tidak enak." Ia melanjutkan, "Anda mengatakan anda merasa tidak berharga tanpa Raymond. Sebelum anda bertemu Raymond, apakah anda merasa diri tidak berharga?" "Tidak, saya merasa diri berharga," kata wanita yang menderita depresi itu tanpa berpikir. Penasihat itu kemudian menjawab, "Jika anda merasa diri berharga sebelum anda mengenal Raymond, mengapa anda memerlukan dia untuk menjadi berharga sekarang?" Membahas kasus ini dalam bukunya "Cognitive Therapy and the Emotional Disorders" [Terapi Pengertian dan Gangguan Emosi], Dr. Aaron Beck mengatakan, "Dalam wawancara yang berikut, ia mengatakan hal yang sungguh-sungguh mengena sasaran yaitu, Bagaimana ia dapat menjadi 'tidak berharga' tanpa Raymond—sewaktu ia telah hidup bahagia dan menjadi orang yang memadai sebelum mengenal dia?" Ia mengatasi depresinya.
Perceraian
Ketika memusatkan perhatian pada perceraian di Hong Kong, tempat kebudayaan Timur dan Barat bersisi-sisian, Asia Magazine mengatakan, Kurangnyakomunikasi, ketidaksetiaan, kesulitan dan ketidakcocokanseksual adalah faktor-faktor yang biasanya menjadi penyebab konflik perkawinan bagi pasangan-pasangan Cina maupun Barat." Situasinya sama di mana-mana di seluruh dunia.
Kaum pria maupun wanita dengan sikap mental mendahulukan karier tak segan mengorbankan keluarga mereka demi pekerjaan. Jadi, mereka menutup kesempatan untuk komunikasi keluarga. Karena merasa lelah setelah bekerja seharian, sang suami tenggelam dalam surat kabar. Junichi dan istrinya mengelola tiga restoran dan bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam di tempat yang berbeda-beda. "Benar-benar tidak ada komunikasi di antara kami sebagai suami-istri," demikian pengakuan Junichi. Kurangnya komunikasi ini mengarah kepada masalah-masalah perkawinan yang serius.
Faktor lain yang mengarah kepada hancurnya ikatan perkawinan adalah pandangan masyarakat tentang seks di luar nikah. Seks di luar nikah begitu merajalela sekarang sehingga 20 persen dari kaum pria dan 8 persen dari kaum wanita yang menjadi responden suatu pol di Jepang, mengaku telah melakukan kontak seksual di luar hubungan perkawinan monogami mereka selama tahun yang lalu. Wanita karier di Jepang yang menjalin hubungan dengan pria yang bukan suaminya telah lazim. Wanita itu berpindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya, dengan berpikir, "Jika ketahuan suami saya, saya ceraikan saja dia." Masyarakat modern tutup mata terhadap hubungan gelap ini.
Masyarakat ini pula yang memajukan sikap aku-dulu, sehingga suami maupun istri memusatkan perhatian kepada diri sendiri, yang akhirnya mengarah kepada ketidakcocokan, penyebab lain dari perceraian. "Sejak semula perkawinan kami rapuh, sehingga kami bisa saja berpisah setiap saat," kata Kiyoko. "Segera setelah kami menikah, suami saya menyuruh saya menjadi robot dan hanya melakukan segala yang diperintahkannya. Ketika segala sesuatu berjalan baik baginya, halnya tidak begitu buruk, namun ketika timbul masalah, ia tidak mau mengakui kesalahannya dan menyalahkan orang-orang lain. Saya turut dipersalahkan, karena saya sering memberontak melawan wewenangnya. Saya merasa sangat sulit untuk mematuhi suami saya bila ia sedang berlaku tidak adil."
Alasan-alasan lain untuk bercerai adalah kekerasan dan pemabukan, problem-problem keuangan, masalah dengan mertua, dan penganiayaan mental.
Apa di Balik Semua Ini?
Betapapun beragam alasan untuk bercerai, terdapat alasan lain lagi di balik arus di seluruh dunia ini. Meskipun dunia Timur menyalahkan pengaruh masyarakat Barat atas masalah ini, dihalalkannya perceraian di Barat baru menjadi fenomena belakangan ini saja. Sebenarnya, perceraian di Amerika Serikat meningkat tiga kali lipat dan di Inggris empat kali lipat hanya dalam beberapa dekade belakangan ini. Andrew J. Cherlin dari Lembaga Urban (organisasi riset yang menyelidiki masalah-masalah sosial dan ekonomi di Amerika Serikat), meskipun mengakui bahwa penyebab meningkatnya angka perceraian tidak dimengerti sepenuhnya, menyebutkan "kenaikan jumlah wanita yang independen secara ekonomi" dan "perubahan sikap masyarakat pada umumnya" adalah beberapa dari faktor-faktor yang menyebabkan kecenderungan tersebut.
Bagi kaum wanita di Amerika Serikat, serta negeri-negeri industri lainnya, menikah dan bekerja di luar rumah tidak lagi dianggap aneh. Akan tetapi, peranan suami dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sangat lamban peningkatannya. Tidak heran bahwa ada wanita-wanita yang menggerutu, "Apa yang paling dibutuhkan seorang karyawati adalah seorang istri!"
Sementara kaum wanita bekerja membanting tulang untuk mencuci baju, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan mengurus anak-anak, di Amerika Serikat, "banyak pria senang menghabiskan waktu untuk mengatakan bahwa itu adalah keharusan untuk memperlancar hubungan antar manusia di tempat kerja, padahal mereka tidak memperlancar hubungan antar manusia di rumah. Karena kaum pria, menurut logika mereka sendiri, adalah pencari nafkah, kaum wanita dan anak-anak tidak boleh mengeluh. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya wanita yang bekerja, pemikiran demikian dianggap sekadar mencari-cari alasan. 'berkeluyuran'", kata buku The Changing American Family and Public Policy. Ini terjadi di seluruh dunia, kata para antropolog. Di Jepang, tidak aneh bagi kaum pria untuk pergi beramah-tamah seusai kerja. Mereka
Faktor utama lainnya yang menyumbang kepada kegagalan perkawinan adalah "perubahan sikap masyarakat pada umumnya" atau, sebagaimana dinyatakan Journal of Marriage and the Family, "merosotnya kelanggengan perkawinan sebagai sesuatu yang ideal". Bagi mempelai pria dan wanita tahun 1990-an, ikrar perkawinan tradisional yang berbunyi "hingga kematian memisahkan kita berdua" tidak lagi berarti. Mereka terus mencari teman hidup yang lebih baik. Jika itu cara pengantin baru memandang ikatan mereka, seberapa kuatkah ikatan itu nantinya?
Perubahan-perubahan sosial ini sama sekali tidak mengejutkan para pelajar Alkitab. Buku yang terilham ini menyingkapkan bahwa kita telah hidup dalam "hari-hari terakhir", yang merupakan "masa-masa kritis yang sulit dihadapi". Orang-orang "menjadi pencinta diri sendiri, . . . tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak mau bersepakat". (2 Timotius 3:1-3) Maka, bagi orang-orang yang mencintai dirinya sendiri melebihi teman hidup mereka, yang menjadi tidak loyal kepada pasangan hidupnya, dan yang tidak mau bersepakat dalam perkawinan mereka, perceraian menjadi satu-satunya jalan keluar bagi masalah-masalah perkawinan mereka.
Pintu bagi Kehidupan yang Lebih Bahagia?
Perceraian, dalam kebanyakan kasus, tidak terbukti sebagai pintu menuju kebahagiaan. "Perceraian bersifat menipu," kata peneliti kesehatan mental bernama Judith Wallerstein setelah melakukan survei selama 15 tahun terhadap 60 pasangan yang bercerai. "Ditinjau dari segi hukum, perceraian adalah peristiwa tunggal, namun ditinjau dari segi psikologi, perceraian adalah suatu mata rantai—kadang-kadang berupa mata rantai tanpa akhir—dari peristiwa-peristiwa, relokasi, dan perubahan hubungan secara radikal selama suatu periode tertentu." Penelitiannya memperlihatkan bahwa kehidupan dari seperempat kaum wanita dan seperlima kaum pria belum kembali normal satu dekade setelah bercerai.
Yang khususnya peka adalah anak-anak korban perceraian. Dari riset yang sama, Wallerstein mendapati bahwa sesungguhnya bagi semua anak yang terlibat, perceraian menimbulkan "pengaruh-pengaruh yang tidak diperkirakan sebelumnya, yang sifatnya sangat kuat dan menyeluruh". Beberapa anak yang menyangkal adanya perasaan negatif atas perceraian orang-tua mereka bisa jadi tiba-tiba mendapati emosi-emosi demikian timbul di kemudian hari sewaktu mereka mencari teman hidup.
Ini bukannya memaksudkan bahwa semua korban perceraian tidak akan pernah menemukan kebahagiaan, karena beberapa memang bahagia. Bagi mereka, suatu kepribadian yang baru muncul, biasanya dari sisa-sisa kepribadian lama. Misalnya, setelah guncangan serta dukacita dan keraguan akan harga diri akibat perceraian berlalu, teman hidup yang tidak bersalah dapat tampil dari cobaan tersebut sebagai sosok yang lebih tangguh, bersemangat dan utuh.
Seorang istri yang suaminya meninggalkan dia demi wanita lain menjelaskan bahwa setelah sakit hati dan kemarahan mulai reda, "Anda mendapati bahwa kepribadian Anda telah berubah. Perasaan Anda telah berubah. Anda tidak dapat lagi menjadi pribadi sebagaimana sebelumnya". Ia menyarankan, "Gunakan waktu untuk mengenali diri Anda sendiri sebagai suatu pribadi kembali. Dalam perkawinan, teman hidup pada umumnya menekan kegemaran dan keinginan mereka yang berbeda demi pasangan mereka, namun setelah bercerai, gunakan waktu untuk mencari tahu apa yang sekarang Anda gemari dan tidak gemari. Jika Anda mengubur perasaan Anda, Anda menguburnya hidup-hidup. Suatu hari, perasaan-perasaan itu akan kembali dan Anda akan terpaksa menghadapinya. Maka lebih baik Anda segera hadapi perasaan Anda dan upayakan untuk mengatasinya."
Karena meningkatnya kesadaran akan masalah-masalah yang timbul akibat perceraian, orang-orang semakin kurang tertarik dengan pilihan ini. Majalah Time melaporkan bahwa suatu kelompok kecil penasihat yang jumlahnya semakin bertambah kini menganjurkan, "Pertahankan perkawinan kalian" kepada pasangan suami-istri yang sedang menghadapi masalah. David Elkind dari Universitas Tufts menulis, "Mengalami perceraian agak serupa dengan mengalami patah kaki sewaktu main ski: Tidak soal seberapa banyak orang mengalami patah kaki di lapangan ski, itu tidak membuat kaki Anda yang patah berkurang rasa sakitnya."
Perceraian bukanlah jalan keluar yang mudah untuk mengatasi masalah-masalah perkawinan. Kalau begitu, apa cara yang lebih baik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam perkawinan?
Pembubaran resmi perkawinan. Jadi, pemutusan ikatan perkawinan antara suami dan istri. Berbagai istilah bahasa asli untuk "perceraian" secara harfiah berarti "menyuruh pergi" (Ul 22:19, Rbi8, ctk.), "membebaskan" atau "membiarkan pergi" (Mat 1:19, Int; 19:3, Rbi8, ctk.), "menghalau; mengusir" (Im 22:13, Rbi8, ctk.), dan "memutuskan".—Bdk. Ul 24:1, 3; istilah "surat cerai" di ayat itu secara harfiah berarti "buku pemutusan".
Sewaktu Allah mempersatukan Adam dan Hawa dalam ikatan perkawinan, Ia tidak membuat pengaturan untuk perceraian. Yesus Kristus menjelaskan hal ini ketika menjawab orang Farisi yang bertanya, "Apakah menurut hukum seorang pria diperbolehkan menceraikan istrinya atas dasar apa pun?" Kristus memperlihatkan bahwa Allah bermaksud agar pria meninggalkan bapaknya dan ibunya serta berpaut pada istrinya, dan keduanya menjadi satu daging. Kemudian Yesus menambahkan, "Sehingga mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging. Oleh karena itu, apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia." (Mat 19:3-6; bdk. Kej 2:22-24.) Lalu orang Farisi bertanya, "Kalau begitu, mengapa Musa menetapkan untuk memberikan surat cerai dan menceraikan wanita itu?" Kristus menjawab, "Musa, oleh karena kedegilan hatimu, membuat kelonggaran bagimu untuk menceraikan istrimu, tetapi halnya tidak demikian sejak semula."—Mat 19:7, 8.
Walaupun ada kelonggaran bagi orang Israel untuk bercerai dengan berbagai alasan, Allah membuat peraturan sehubungan dengan perceraian dalam Hukum yang Ia berikan kepada Israel melalui Musa. Ulangan 24:1 berbunyi, "Apabila seorang pria mengambil seorang wanita dan menjadikan dia miliknya, sebagai istrinya, dan jika dia tidak mendapat perkenan di matanya karena ia menemukan sesuatu yang tidak pantas padanya, maka ia harus menulis surat cerai bagi dia dan menaruh itu di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya." Apa persisnya "sesuatu yang tidak pantas" (harfiah, "keadaan telanjang") tidak dinyatakan secara spesifik. Hal itu bukan perzinaan sebab hukum Allah kepada Israel menetapkan bahwa orang yang bersalah karena melakukan perzinaan harus dihukum mati, bukan sekadar diceraikan. (Ul 22:22-24) Tidak diragukan, pada mulanya 'perbuatan tidak pantas' yang dapat dijadikan dasar oleh suami Ibrani untuk menceraikan istrinya itu menyangkut masalah-masalah serius, mungkin sang istri memperlihatkan sikap yang sangat tidak respek kepada suaminya atau mendatangkan aib atas rumah tangga. Karena Hukum menyebutkan secara eksplisit bahwa "engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri", tidaklah masuk akal untuk berasumsi bahwakesalahan-kesalahan sepele dapat digunakan seenaknya sebagai dalih untuk menceraikan istri.—Im 19:18.
Pada zaman Maleakhi, banyak suami Yahudi mengkhianati istri mereka, menceraikannya dengan segala macam alasan, menyingkirkan istri masa muda mereka, mungkin agar dapat mengawini wanita kafir yang lebih muda.Bukannya menjunjung hukum Allah, para imam membiarkan hal ini sehingga Allah sangat tidak senang. (Mal 2:10-16) Pria-pria Yahudi menggunakan banyak alasan untuk bercerai sewaktu Yesus Kristus berada di bumi, yangditunjukkan oleh pertanyaan orang Farisi kepada Yesus, "Apakah menurut hukum seorang pria diperbolehkan menceraikan istrinya atas dasar apapun?"—Mat 19:3.
Seorang pria Israel biasa membayar maskawin untuk wanita yang akan menjadi istrinya, dan wanita itu dianggap sebagai miliknya. Walaupun istri menikmati banyak berkat dan hak istimewa, peranannya dalam perkawinan adalah sebagai bawahan. Kedudukannya diperlihatkan lebih lanjut dalam Ulangan 24:1-4, yang menunjukkan bahwa suami dapat menceraikan istri tetapi tidak disebutkan bahwa istri dapat menceraikan suami. Karena dianggap sebagai milik suami, istri tidak dapat menceraikan suami. Dalam sejarah sekuler, peristiwa pertama yang dicatat tentang wanita di Israel yang mencoba menceraikan suaminya adalah ketika Salome, saudara Raja Herodes, mengirimkan kepada suaminya, gubernur Idumea, surat cerai yang membubarkan perkawinan mereka. (Jewish Antiquities, XV, 259 [vii, 10]) Petunjuk bahwa wanita telah mulai mengajukan perceraian sewaktu Yesus berada di bumi atau bahwa ia menubuatkan perkembangannya terlihat dari kata-kata Kristus, "Seandainya seorang wanita, setelah menceraikan suaminya, menikah dengan orang lain, ia berbuat zina."—Mrk 10:12.
Surat Cerai. Walaupun kelonggaran untuk bercerai yang semula dalam hukum Musa belakangan telah disalahgunakan, kita hendaknya tidak menarik kesimpulan bahwa mudah saja bagi seorang suami Israel untuk menceraikan istrinya. Ada formalitas tertentu yang harus ia jalani. Ia perlu menulis sebuah dokumen, "menulis surat cerai bagi dia". Suami yang memutuskan bercerai harus "menaruh [surat] itu di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya". (Ul 24:1) Meskipun Alkitab tidak memberikan perincian lain tentang prosedur tersebut, langkah hukum itu tampaknya mencakup konsultasi dengan pria-pria yang memang berwenang, yang pertama-tama berupaya mendamaikan pasangan itu. Waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sertifikat itu dan melaksanakan perceraian secara hukum memberikan kesempatan kepada suami guna mempertimbangkan kembali keputusannya untuk bercerai. Harus ada dasar untuk perceraian, dan apabila peraturan ini diterapkan dengan benar, hal itu secara masuk akal mencegah tindakan gegabah untuk mengajukan cerai. Dengan demikian, hak dan kepentingan istri juga terlindung. Alkitab tidak menyingkapkan apa isi "surat cerai".
Kemungkinan Kawin Lagi bagi Pasangan yang Sudah Bercerai. Ulangan 24:1-4 juga menetapkan bahwa wanita yang diceraikan "harus keluar dari rumahnya, lalu pergi dan boleh menjadi milik pria lain", artinya wanita itu bebas untuk kawin lagi. Disebutkan juga, "Apabila pria yang kemudian ini menjadi benci kepadanya dan menulis surat cerai bagi dia dan menaruhnya di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau apabila pria yang kemudian mengambilnya sebagai istrinya itu mati, maka pemiliknya yang pertama yang telah menyuruh dia pergi tidak boleh mengambilnya kembali untuk dijadikan istri setelah wanita itu dicemari; sebab hal itu adalah sesuatu yang memuakkan di hadapan Allah, dan engkau tidak boleh mendatangkan dosa atas negeri yang Allah, berikan kepadamu sebagai milik pusaka." Suami yang terdahulu tidak boleh mengambil kembali istri yang sudah ia ceraikan, barangkali untuk mencegah kemungkinan rekayasa di antara dia dan istri yang telah kawin lagi itu untuk memaksanya bercerai dari suami kedua atau menyebabkan kematiannya, sehingga ia dapat menikah lagi dengan suami yang sebelumnya. Jika teman hidupnya yang terdahulu mengambil dia kembali, hal itu najis di pandangan Allah; suami pertama akan membuat dirinya kelihatan bodoh karena telah menyuruh istrinya pergi sebagai wanita yang menurutnya telah melakukan "sesuatu yang tidak pantas" dan kemudian, setelah dia secara sah dinikahi pria lain dan digunakan sebagai istrinya, pria itu mengambil dia kembali.
Tidak diragukan, fakta bahwa suami yang semula tidak dapat menikahi kembali istri yang telah diceraikan sesudah sang istri menjadi milik pria lain, sekalipun pria tersebut telah menceraikan dia atau mati, membuat suami yang mempertimbangkan perceraian itu berpikir serius sebelum bertindak untuk mengakhiri perkawinan. (Yer 3:1) Akan tetapi, tidak disebutkan bahwa ia dilarang mengawini kembali istri yang diceraikan jika sang istri belum kawin lagi setelah ikatan perkawinan mereka terputus secara resmi.
Menyuruh Pergi Istri-Istri Kafir. Sebelum orang Israel memasuki Tanah Perjanjian, mereka diberi tahu untuk tidak membentuk ikatan pernikahan dengan penduduknya yang kafir. (Ul 7:3, 4) Meskipun demikian, pada zaman Ezra, orang-orang Yahudi telah memperistri wanita-wanita asing, dan dalam doa kepada Allah, Ezra mengakui kesalahan mereka sehubungan dengan hal ini. Sebagai tanggapan atas desakan Ezra dan sebagai pengakuan akan kesalahan mereka, pria-pria Israel yang telah memperistri wanita-wanita asing itu menyuruh mereka pergi "beserta putra-putra mereka".—Ezr 9:10–10:44.
Akan tetapi, orang Kristen, yang berasal dari segala bangsa (Mat 28:19), tidak boleh menceraikan teman hidup yang bukan penyembah Allah, mereka bahkan tidak dianjurkan untuk berpisah dari pasangan hidup demikian, sebagaimana terlihat dari nasihat Paulus yang terilham. (1Kor 7:10-28) Namun, bagi yang baru mau menikah, orang Kristen dinasihati untuk menikah "asalkan dalam Tuhan".—1Kor 7:39.
Yusuf Mempertimbangkan Perceraian. Dalam masa pertunangan dengan Yusuf, tetapi sebelum mereka dipersatukan, Maria didapati hamil melalui roh kudus, dan kisah itu menyatakan, "Namun Yusuf, suaminya, karena ia adil-benar dan tidak mau menjadikan dia tontonan umum, berniat menceraikan dia dengan diam-diam." (Mat 1:18, 19) Di kalangan orang Yahudi pada waktu itu, pertunangan adalah pengaturan yang mengikat, karena itu kata "menceraikan" digunakan secara tepat di ayat itu.
Jika seorang gadis yang sudah bertunangan dengan sukarela melakukan hubungan dengan pria lain, ia harus dirajam sampai mati sama seperti seorang wanita pezina. (Ul 22:22-29) Dalam kasus-kasus yang dapat mengakibatkan seseorang dirajam sampai mati, dua saksi dibutuhkan untuk meneguhkan kesalahan orang tersebut. (Ul 17:6, 7) Jelas, Yusuf tidak mempunyai saksi melawan Maria. Maria hamil, tetapi Yusuf tidak memahami masalah itu sepenuhnya sampai malaikat Allah memberinya penjelasan. (Mat 1:20, 21) Tidak disebutkan apakah tindakan 'menceraikan dengan diam-diam' yang ia pertimbangkan mencakup pemberian surat cerai atau tidak; tetapi kemungkinan besar Yusuf akan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang diuraikan di Ulangan 24:1-4, mungkin menceraikan dia di hadapan dua saksi saja sehingga masalahnya diselesaikan secara hukum tanpa perlu mempermalukan Maria. Walaupun tidak memerinci seluruh prosedur yang hendak dilakukan Yusuf, Matius menunjukkan bahwa Yusuf ingin memperlihatkan belas kasihan terhadap Maria. Yusuf tidak dianggap sebagai orang yang tidak adil-benar untuk perbuatannya itu, tetapi sebaliknya, "karena ia adil-benar dan tidak mau menjadikan dia tontonan umum" itulah ia "berniat menceraikan dia dengan diam-diam".—Mat 1:19.
Situasi yang Tidak Memungkinkan Perceraian di Israel. Menurut hukum yang Allah berikan kepada Israel, ada keadaan-keadaan yang tidak memungkinkan perceraian. Misalnya, seorang pria memperistri seorang wanita, melakukan hubungan dengan dia, lalu menjadi benci kepadanya. Pria itu dapat dengan curang menyatakan bahwa wanita itu bukan perawan sewaktu ia mengawininya, dengan demikian secara tidak benar menuduh dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan mencoreng nama baik wanita itu. Apabila orang tua perempuan itu memberikan bukti bahwa putri mereka masih perawan pada saat pernikahannya, pria-pria kota harus mendisiplin si penuduh palsu itu. Mereka harus mendenda dia sebesar seratus syekel perak ($220), memberikannya kepada bapak perempuan itu, dan dia akan terus menjadi istri pria itu, karena dikatakan bahwa, "Dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya." (Ul 22:13-19) Selain itu, jika didapati bahwa seorang pria menyergap seorang perawan yang belum bertunangan dan melakukan hubungan dengannya, ditetapkan bahwa, "Pria yang tidur dengan perempuan itu harus memberikan kepada bapak perempuan itu lima puluh syekel perak [$110], dan dia harus menjadi istrinya karena ia telah merendahkan dia. Ia tidak boleh menceraikan dia selama hidupnya."—Ul 22:28, 29.
Bagi orang Kristen, apa satu-satunya alasan berdasarkan Alkitab untuk bercerai?
Yesus Kristus, dalam Khotbah di Gunung, menyatakan, "Lagi pula telah dikatakan, 'Barang siapa menceraikan istrinya, hendaklah ia memberinya surat cerai.' Akan tetapi, aku mengatakan kepadamu bahwa setiap orang yang menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, menjadikan dia sasaran perzinaan, dan barang siapa menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina." (Mat 5:31, 32) Selain itu, setelah memberi tahu orang Farisi bahwa kelonggaran dalam hukum Musa untuk menceraikan istri bukanlah penyelenggaraan yang berlaku "sejak semula", Yesus mengatakan, "Aku mengatakan kepadamu bahwa barang siapa menceraikan istrinya, kecuali atas dasar percabulan, dan menikah dengan orang lain, berbuat zina." (Mat 19:8, 9) Dewasa ini, pada umumnya "percabulan" dibedakan dari "perzinaan". Menurut penggunaan modern kedua kata itu, orang yang bersalah karena melakukan percabulan adalah orang yang belum menikah yang secara sukarela melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Pezina adalah orang yang telah menikah yang secara sukarela melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya yang bukan teman hidupnya yang sah. Akan tetapi, istilah "percabulan" adalah terjemahan untuk kata Yunani por•nei′a dan mencakup segala jenis hubungan seks yang tidak sah di luar perkawinan menurut Alkitab. Oleh karena itu, kata-kata Yesus di Matius 5:32 dan 19:9 berarti bahwa satu-satunya dasar untuk bercerai yang benar-benar memutuskan ikatan perkawinan adalah jika salah seorang teman hidup melakukan por•nei′a. Pengikut Kristus dapat menggunakan alasan ini untuk bercerai jika ia menghendakinya, dan perceraian demikian membebaskan dia untuk menikah dengan orang Kristen yang memenuhi syarat.—1Kor 7:39.
Amoralitas seksual dengan sesama jenis (homoseksualitas) yang dilakukan oleh seseorang yang telah menikah adalah najis dan menjijikkan. Jika tidak bertobat, orang seperti itu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Dan tentu saja, bestialitas dikutuk dalam Alkitab. (Im 18:22, 23; Rm 1:24-27; 1Kor 6:9, 10) Perbuatan-perbuatan yang sangat menjijikkan itu tergolong dalam istilah por•nei′a yang luas. Patut diperhatikan juga, di bawah Hukum Musa, pelaku homoseksualitas dan bestialitas dihukum mati, sehingga teman hidup yang tidak bersalah bebas untuk kawin lagi.—Im 20:13, 15, 16.
Yesus Kristus menunjukkan bahwa "setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadap dia sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya". (Mat 5:28) Namun, Yesus tidak mengatakan bahwa apa yang ada dalam hati, tetapi belum dilakukan, dapat menjadi dasar perceraian. Kata-kata Kristus memperlihatkan bahwa hati harus dijaga bersih dan seseorang tidak boleh mengembangkan pikiran dan hasrat yang tidak patut.—Flp 4:8; Yak 1:14, 15.
Hukum para rabi Yahudi menitikberatkan tugas orang yang telah menikah untuk melaksanakan kewajiban perkawinan dan memperbolehkan suami menceraikan istri yang tidak dapat menghasilkan keturunan. Akan tetapi, Alkitab tidak memberi orang Kristen hak menceraikan pasangan mereka untuk alasan demikian. Kemandulan selama bertahun-tahun tidak membuat Abraham menceraikan Sara, Ishak menceraikan Ribka, Yakub menceraikan Rakhel, atau imam Zakharia menceraikan Elisabet.—Kej 11:30; 17:17; 25:19-26; 29:31; 30:1, 2, 22-25; Luk 1:5-7, 18, 24, 57.
Tidak ada ayat dalam Alkitab yang mengizinkan seorang Kristen menceraikan pasangan hidupnya karena dia secara fisik tidak dapat melaksanakan kewajiban perkawinan, atau karena dia hilang ingatan atau mengidap penyakit yang menjijikkan atau tidak dapat disembuhkan. Kasih yang harus diperlihatkan orang Kristen akan mendorong dia, bukan untuk menceraikan teman hidup demikian, melainkan untuk merawatnya dengan penuh belas kasihan. (Ef 5:28-31) Alkitab juga tidak memberi orang Kristen hak untuk menceraikan teman hidup karena perbedaan agama; sebaliknya Alkitab memperlihatkan bahwa dengan tetap tinggal bersama teman hidup yang tidak seiman, orang Kristen dapat memenangkan orang itu kepada iman sejati.—1Kor 7:12-16; 1Ptr 3:1-7.
Dalam Khotbahnya di Gunung, Yesus mengatakan bahwa "setiap orang yang menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, menjadikan dia sasaran perzinaan, dan barang siapa menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina". (Mat 5:32) Dengan mengatakan demikian, Kristus memperlihatkan bahwa jika suami menceraikan istrinya bukan dengan alasan "percabulan" (por•nei′a), ia membuat istrinya dapat melakukan perzinaan di masa mendatang. Alasannya, perceraian demikian tidak secara benar memutuskan ikatan antara istri yang tidak berzina dan suaminya, sehingga tidak membebaskannya untuk menikah dengan pria lain serta melakukan hubungan seks dengan suami lain. Sewaktu mengatakan bahwa barang siapa "menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina", Kristus memaksudkan wanita yang diceraikan bukan atas dasar "percabulan" (por•nei′a). Wanita itu, walaupun bercerai secara hukum, belum bercerai menurut Alkitab.
Seperti Matius (Mat 19:3-9), Markus mencatat pernyataan Yesus kepada orang Farisi mengenai perceraian dan mengutip kata-kata Kristus, demikian, "Barang siapa menceraikan istrinya dan menikah dengan orang lain, berbuat zina terhadap istrinya, dan seandainya seorang wanita, setelah menceraikan suaminya, menikah dengan orang lain, ia berbuat zina." (Mrk 10:11, 12) Pernyataan serupa dicatat di Lukas 16:18, yang berbunyi, "Setiap orang yang menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain berbuat zina, dan dia yang menikahi seorang wanita yang diceraikan seorang suami berbuat zina." Jika hanya melihat ayat-ayat itu, seolah-olah para pengikut Kristus dilarang untuk bercerai apa pun alasannya, atau setidaknya ayat-ayat itu menunjukkan bahwa orang yang bercerai tidak berhak kawin lagi kecuali pasangan hidup orang yang diceraikan itu telah mati. Akan tetapi, kata-kata Yesus yang dicatat oleh Markus dan Lukas harus dipahami dengan mempertimbangkan pernyataan yang lebih lengkap yang dicatat oleh Matius. Ia menambahkan frasa "kecuali atas dasar percabulan" (Mat 19:9; lihat juga Mat 5:32), yang memperlihatkan bahwa apa yang Markus dan Lukas tulis ketika mengutip perkataan Yesus tentang perceraian berlaku jika dasar perceraian itu bukan "percabulan" (por•nei′a) yang dilakukan oleh pasangan hidup yang tidak setia.
Akan tetapi, Alkitab tidak mewajibkan seseorang menceraikan pasangan hidup yang berzina tetapi bertobat. Suami atau istri Kristen dapat mengulurkan belas kasihan dalam kasus demikian, sama seperti Hosea tampaknya mengambil kembali Gomer, istrinya yang berzina, dan sama seperti Allah mengulurkan belas kasihan kepada Israel yang bertobat dari perzinaan rohani.—Hos 3.
Standar Allah yang semula dipulihkan. Jelaslah, pernyataan Yesus Kristus menunjukkan bahwa orang harus kembali kepada standar yang tinggi untuk perkawinan yang pada mulanya ditetapkan oleh Allah, dan juga memperlihatkan bahwa orang-orang yang mau menjadi murid Yesus harus berpaut pada standar yang tinggi tersebut. Walaupun kelonggaran yang diberikan Hukum Musa masih berlaku pada waktu itu, orang-orang yang ingin menjadi murid sejati Yesus, yang melakukan kehendak Bapaknya dan 'melakukan' atau melaksanakan perkataan Yesus (Mat 7:21-29), tidak akan lagi memanfaatkan kelonggaran demikian untuk memperlihatkan 'kedegilan hati' terhadap teman hidup mereka. (Mat 19:8) Sebagai murid sejati, mereka tidak mau melanggar prinsip-prinsip ilahi yang semula mengenai perkawinan dan menceraikan teman hidup atas dasar apa pun selain apa yang Yesus sebutkan, yakni "percabulan" (por•nei′a).
Orang lajang yang melakukan percabulan dengan seorang pelacur menjadikan dirinya "satu tubuh" dengan pelacur itu. Demikian pula, seorang pezina menjadikan dirinya "satu tubuh", bukan dengan istri sahnya, melainkan dengan orang amoral yang dengannya ia melakukan hubungan seks. Dengan demikian, sang pezina berdosa tidak saja terhadap tubuhnya sendiri tetapi juga terhadap istri sahnya yang hingga saat itu masih "satu daging" dengannya. (1Kor 6:16-18) Karena itu, perzinaan memberikan dasar yang benar untuk memutuskan ikatan perkawinan sesuai dengan prinsip-prinsip ilahi, dan jika dasar tersebut memang ada, perceraian akan membubarkan secara resmi dan tuntas suatu perkawinan yang sah, sehingga pasangan hidup yang tidak bersalah bebas untuk kawin lagi secara terhormat.—Ibr 13:4.
Kaum pria maupun wanita dengan sikap mental mendahulukan karier tak segan mengorbankan keluarga mereka demi pekerjaan. Jadi, mereka menutup kesempatan untuk komunikasi keluarga. Karena merasa lelah setelah bekerja seharian, sang suami tenggelam dalam surat kabar. Junichi dan istrinya mengelola tiga restoran dan bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam di tempat yang berbeda-beda. "Benar-benar tidak ada komunikasi di antara kami sebagai suami-istri," demikian pengakuan Junichi. Kurangnya komunikasi ini mengarah kepada masalah-masalah perkawinan yang serius.
Faktor lain yang mengarah kepada hancurnya ikatan perkawinan adalah pandangan masyarakat tentang seks di luar nikah. Seks di luar nikah begitu merajalela sekarang sehingga 20 persen dari kaum pria dan 8 persen dari kaum wanita yang menjadi responden suatu pol di Jepang, mengaku telah melakukan kontak seksual di luar hubungan perkawinan monogami mereka selama tahun yang lalu. Wanita karier di Jepang yang menjalin hubungan dengan pria yang bukan suaminya telah lazim. Wanita itu berpindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya, dengan berpikir, "Jika ketahuan suami saya, saya ceraikan saja dia." Masyarakat modern tutup mata terhadap hubungan gelap ini.
Masyarakat ini pula yang memajukan sikap aku-dulu, sehingga suami maupun istri memusatkan perhatian kepada diri sendiri, yang akhirnya mengarah kepada ketidakcocokan, penyebab lain dari perceraian. "Sejak semula perkawinan kami rapuh, sehingga kami bisa saja berpisah setiap saat," kata Kiyoko. "Segera setelah kami menikah, suami saya menyuruh saya menjadi robot dan hanya melakukan segala yang diperintahkannya. Ketika segala sesuatu berjalan baik baginya, halnya tidak begitu buruk, namun ketika timbul masalah, ia tidak mau mengakui kesalahannya dan menyalahkan orang-orang lain. Saya turut dipersalahkan, karena saya sering memberontak melawan wewenangnya. Saya merasa sangat sulit untuk mematuhi suami saya bila ia sedang berlaku tidak adil."
Alasan-alasan lain untuk bercerai adalah kekerasan dan pemabukan, problem-problem keuangan, masalah dengan mertua, dan penganiayaan mental.
Apa di Balik Semua Ini?
Betapapun beragam alasan untuk bercerai, terdapat alasan lain lagi di balik arus di seluruh dunia ini. Meskipun dunia Timur menyalahkan pengaruh masyarakat Barat atas masalah ini, dihalalkannya perceraian di Barat baru menjadi fenomena belakangan ini saja. Sebenarnya, perceraian di Amerika Serikat meningkat tiga kali lipat dan di Inggris empat kali lipat hanya dalam beberapa dekade belakangan ini. Andrew J. Cherlin dari Lembaga Urban (organisasi riset yang menyelidiki masalah-masalah sosial dan ekonomi di Amerika Serikat), meskipun mengakui bahwa penyebab meningkatnya angka perceraian tidak dimengerti sepenuhnya, menyebutkan "kenaikan jumlah wanita yang independen secara ekonomi" dan "perubahan sikap masyarakat pada umumnya" adalah beberapa dari faktor-faktor yang menyebabkan kecenderungan tersebut.
Bagi kaum wanita di Amerika Serikat, serta negeri-negeri industri lainnya, menikah dan bekerja di luar rumah tidak lagi dianggap aneh. Akan tetapi, peranan suami dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sangat lamban peningkatannya. Tidak heran bahwa ada wanita-wanita yang menggerutu, "Apa yang paling dibutuhkan seorang karyawati adalah seorang istri!"
Sementara kaum wanita bekerja membanting tulang untuk mencuci baju, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan mengurus anak-anak, di Amerika Serikat, "banyak pria senang menghabiskan waktu untuk mengatakan bahwa itu adalah keharusan untuk memperlancar hubungan antar manusia di tempat kerja, padahal mereka tidak memperlancar hubungan antar manusia di rumah. Karena kaum pria, menurut logika mereka sendiri, adalah pencari nafkah, kaum wanita dan anak-anak tidak boleh mengeluh. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya wanita yang bekerja, pemikiran demikian dianggap sekadar mencari-cari alasan. 'berkeluyuran'", kata buku The Changing American Family and Public Policy. Ini terjadi di seluruh dunia, kata para antropolog. Di Jepang, tidak aneh bagi kaum pria untuk pergi beramah-tamah seusai kerja. Mereka
Faktor utama lainnya yang menyumbang kepada kegagalan perkawinan adalah "perubahan sikap masyarakat pada umumnya" atau, sebagaimana dinyatakan Journal of Marriage and the Family, "merosotnya kelanggengan perkawinan sebagai sesuatu yang ideal". Bagi mempelai pria dan wanita tahun 1990-an, ikrar perkawinan tradisional yang berbunyi "hingga kematian memisahkan kita berdua" tidak lagi berarti. Mereka terus mencari teman hidup yang lebih baik. Jika itu cara pengantin baru memandang ikatan mereka, seberapa kuatkah ikatan itu nantinya?
Perubahan-perubahan sosial ini sama sekali tidak mengejutkan para pelajar Alkitab. Buku yang terilham ini menyingkapkan bahwa kita telah hidup dalam "hari-hari terakhir", yang merupakan "masa-masa kritis yang sulit dihadapi". Orang-orang "menjadi pencinta diri sendiri, . . . tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak mau bersepakat". (2 Timotius 3:1-3) Maka, bagi orang-orang yang mencintai dirinya sendiri melebihi teman hidup mereka, yang menjadi tidak loyal kepada pasangan hidupnya, dan yang tidak mau bersepakat dalam perkawinan mereka, perceraian menjadi satu-satunya jalan keluar bagi masalah-masalah perkawinan mereka.
Pintu bagi Kehidupan yang Lebih Bahagia?
Perceraian, dalam kebanyakan kasus, tidak terbukti sebagai pintu menuju kebahagiaan. "Perceraian bersifat menipu," kata peneliti kesehatan mental bernama Judith Wallerstein setelah melakukan survei selama 15 tahun terhadap 60 pasangan yang bercerai. "Ditinjau dari segi hukum, perceraian adalah peristiwa tunggal, namun ditinjau dari segi psikologi, perceraian adalah suatu mata rantai—kadang-kadang berupa mata rantai tanpa akhir—dari peristiwa-peristiwa, relokasi, dan perubahan hubungan secara radikal selama suatu periode tertentu." Penelitiannya memperlihatkan bahwa kehidupan dari seperempat kaum wanita dan seperlima kaum pria belum kembali normal satu dekade setelah bercerai.
Yang khususnya peka adalah anak-anak korban perceraian. Dari riset yang sama, Wallerstein mendapati bahwa sesungguhnya bagi semua anak yang terlibat, perceraian menimbulkan "pengaruh-pengaruh yang tidak diperkirakan sebelumnya, yang sifatnya sangat kuat dan menyeluruh". Beberapa anak yang menyangkal adanya perasaan negatif atas perceraian orang-tua mereka bisa jadi tiba-tiba mendapati emosi-emosi demikian timbul di kemudian hari sewaktu mereka mencari teman hidup.
Ini bukannya memaksudkan bahwa semua korban perceraian tidak akan pernah menemukan kebahagiaan, karena beberapa memang bahagia. Bagi mereka, suatu kepribadian yang baru muncul, biasanya dari sisa-sisa kepribadian lama. Misalnya, setelah guncangan serta dukacita dan keraguan akan harga diri akibat perceraian berlalu, teman hidup yang tidak bersalah dapat tampil dari cobaan tersebut sebagai sosok yang lebih tangguh, bersemangat dan utuh.
Seorang istri yang suaminya meninggalkan dia demi wanita lain menjelaskan bahwa setelah sakit hati dan kemarahan mulai reda, "Anda mendapati bahwa kepribadian Anda telah berubah. Perasaan Anda telah berubah. Anda tidak dapat lagi menjadi pribadi sebagaimana sebelumnya". Ia menyarankan, "Gunakan waktu untuk mengenali diri Anda sendiri sebagai suatu pribadi kembali. Dalam perkawinan, teman hidup pada umumnya menekan kegemaran dan keinginan mereka yang berbeda demi pasangan mereka, namun setelah bercerai, gunakan waktu untuk mencari tahu apa yang sekarang Anda gemari dan tidak gemari. Jika Anda mengubur perasaan Anda, Anda menguburnya hidup-hidup. Suatu hari, perasaan-perasaan itu akan kembali dan Anda akan terpaksa menghadapinya. Maka lebih baik Anda segera hadapi perasaan Anda dan upayakan untuk mengatasinya."
Karena meningkatnya kesadaran akan masalah-masalah yang timbul akibat perceraian, orang-orang semakin kurang tertarik dengan pilihan ini. Majalah Time melaporkan bahwa suatu kelompok kecil penasihat yang jumlahnya semakin bertambah kini menganjurkan, "Pertahankan perkawinan kalian" kepada pasangan suami-istri yang sedang menghadapi masalah. David Elkind dari Universitas Tufts menulis, "Mengalami perceraian agak serupa dengan mengalami patah kaki sewaktu main ski: Tidak soal seberapa banyak orang mengalami patah kaki di lapangan ski, itu tidak membuat kaki Anda yang patah berkurang rasa sakitnya."
Perceraian bukanlah jalan keluar yang mudah untuk mengatasi masalah-masalah perkawinan. Kalau begitu, apa cara yang lebih baik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam perkawinan?
Pembubaran resmi perkawinan. Jadi, pemutusan ikatan perkawinan antara suami dan istri. Berbagai istilah bahasa asli untuk "perceraian" secara harfiah berarti "menyuruh pergi" (Ul 22:19, Rbi8, ctk.), "membebaskan" atau "membiarkan pergi" (Mat 1:19, Int; 19:3, Rbi8, ctk.), "menghalau; mengusir" (Im 22:13, Rbi8, ctk.), dan "memutuskan".—Bdk. Ul 24:1, 3; istilah "surat cerai" di ayat itu secara harfiah berarti "buku pemutusan".
Sewaktu Allah mempersatukan Adam dan Hawa dalam ikatan perkawinan, Ia tidak membuat pengaturan untuk perceraian. Yesus Kristus menjelaskan hal ini ketika menjawab orang Farisi yang bertanya, "Apakah menurut hukum seorang pria diperbolehkan menceraikan istrinya atas dasar apa pun?" Kristus memperlihatkan bahwa Allah bermaksud agar pria meninggalkan bapaknya dan ibunya serta berpaut pada istrinya, dan keduanya menjadi satu daging. Kemudian Yesus menambahkan, "Sehingga mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging. Oleh karena itu, apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia." (Mat 19:3-6; bdk. Kej 2:22-24.) Lalu orang Farisi bertanya, "Kalau begitu, mengapa Musa menetapkan untuk memberikan surat cerai dan menceraikan wanita itu?" Kristus menjawab, "Musa, oleh karena kedegilan hatimu, membuat kelonggaran bagimu untuk menceraikan istrimu, tetapi halnya tidak demikian sejak semula."—Mat 19:7, 8.
Walaupun ada kelonggaran bagi orang Israel untuk bercerai dengan berbagai alasan, Allah membuat peraturan sehubungan dengan perceraian dalam Hukum yang Ia berikan kepada Israel melalui Musa. Ulangan 24:1 berbunyi, "Apabila seorang pria mengambil seorang wanita dan menjadikan dia miliknya, sebagai istrinya, dan jika dia tidak mendapat perkenan di matanya karena ia menemukan sesuatu yang tidak pantas padanya, maka ia harus menulis surat cerai bagi dia dan menaruh itu di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya." Apa persisnya "sesuatu yang tidak pantas" (harfiah, "keadaan telanjang") tidak dinyatakan secara spesifik. Hal itu bukan perzinaan sebab hukum Allah kepada Israel menetapkan bahwa orang yang bersalah karena melakukan perzinaan harus dihukum mati, bukan sekadar diceraikan. (Ul 22:22-24) Tidak diragukan, pada mulanya 'perbuatan tidak pantas' yang dapat dijadikan dasar oleh suami Ibrani untuk menceraikan istrinya itu menyangkut masalah-masalah serius, mungkin sang istri memperlihatkan sikap yang sangat tidak respek kepada suaminya atau mendatangkan aib atas rumah tangga. Karena Hukum menyebutkan secara eksplisit bahwa "engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri", tidaklah masuk akal untuk berasumsi bahwakesalahan-kesalahan sepele dapat digunakan seenaknya sebagai dalih untuk menceraikan istri.—Im 19:18.
Pada zaman Maleakhi, banyak suami Yahudi mengkhianati istri mereka, menceraikannya dengan segala macam alasan, menyingkirkan istri masa muda mereka, mungkin agar dapat mengawini wanita kafir yang lebih muda.Bukannya menjunjung hukum Allah, para imam membiarkan hal ini sehingga Allah sangat tidak senang. (Mal 2:10-16) Pria-pria Yahudi menggunakan banyak alasan untuk bercerai sewaktu Yesus Kristus berada di bumi, yangditunjukkan oleh pertanyaan orang Farisi kepada Yesus, "Apakah menurut hukum seorang pria diperbolehkan menceraikan istrinya atas dasar apapun?"—Mat 19:3.
Seorang pria Israel biasa membayar maskawin untuk wanita yang akan menjadi istrinya, dan wanita itu dianggap sebagai miliknya. Walaupun istri menikmati banyak berkat dan hak istimewa, peranannya dalam perkawinan adalah sebagai bawahan. Kedudukannya diperlihatkan lebih lanjut dalam Ulangan 24:1-4, yang menunjukkan bahwa suami dapat menceraikan istri tetapi tidak disebutkan bahwa istri dapat menceraikan suami. Karena dianggap sebagai milik suami, istri tidak dapat menceraikan suami. Dalam sejarah sekuler, peristiwa pertama yang dicatat tentang wanita di Israel yang mencoba menceraikan suaminya adalah ketika Salome, saudara Raja Herodes, mengirimkan kepada suaminya, gubernur Idumea, surat cerai yang membubarkan perkawinan mereka. (Jewish Antiquities, XV, 259 [vii, 10]) Petunjuk bahwa wanita telah mulai mengajukan perceraian sewaktu Yesus berada di bumi atau bahwa ia menubuatkan perkembangannya terlihat dari kata-kata Kristus, "Seandainya seorang wanita, setelah menceraikan suaminya, menikah dengan orang lain, ia berbuat zina."—Mrk 10:12.
Surat Cerai. Walaupun kelonggaran untuk bercerai yang semula dalam hukum Musa belakangan telah disalahgunakan, kita hendaknya tidak menarik kesimpulan bahwa mudah saja bagi seorang suami Israel untuk menceraikan istrinya. Ada formalitas tertentu yang harus ia jalani. Ia perlu menulis sebuah dokumen, "menulis surat cerai bagi dia". Suami yang memutuskan bercerai harus "menaruh [surat] itu di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya". (Ul 24:1) Meskipun Alkitab tidak memberikan perincian lain tentang prosedur tersebut, langkah hukum itu tampaknya mencakup konsultasi dengan pria-pria yang memang berwenang, yang pertama-tama berupaya mendamaikan pasangan itu. Waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sertifikat itu dan melaksanakan perceraian secara hukum memberikan kesempatan kepada suami guna mempertimbangkan kembali keputusannya untuk bercerai. Harus ada dasar untuk perceraian, dan apabila peraturan ini diterapkan dengan benar, hal itu secara masuk akal mencegah tindakan gegabah untuk mengajukan cerai. Dengan demikian, hak dan kepentingan istri juga terlindung. Alkitab tidak menyingkapkan apa isi "surat cerai".
Kemungkinan Kawin Lagi bagi Pasangan yang Sudah Bercerai. Ulangan 24:1-4 juga menetapkan bahwa wanita yang diceraikan "harus keluar dari rumahnya, lalu pergi dan boleh menjadi milik pria lain", artinya wanita itu bebas untuk kawin lagi. Disebutkan juga, "Apabila pria yang kemudian ini menjadi benci kepadanya dan menulis surat cerai bagi dia dan menaruhnya di tangannya dan menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau apabila pria yang kemudian mengambilnya sebagai istrinya itu mati, maka pemiliknya yang pertama yang telah menyuruh dia pergi tidak boleh mengambilnya kembali untuk dijadikan istri setelah wanita itu dicemari; sebab hal itu adalah sesuatu yang memuakkan di hadapan Allah, dan engkau tidak boleh mendatangkan dosa atas negeri yang Allah, berikan kepadamu sebagai milik pusaka." Suami yang terdahulu tidak boleh mengambil kembali istri yang sudah ia ceraikan, barangkali untuk mencegah kemungkinan rekayasa di antara dia dan istri yang telah kawin lagi itu untuk memaksanya bercerai dari suami kedua atau menyebabkan kematiannya, sehingga ia dapat menikah lagi dengan suami yang sebelumnya. Jika teman hidupnya yang terdahulu mengambil dia kembali, hal itu najis di pandangan Allah; suami pertama akan membuat dirinya kelihatan bodoh karena telah menyuruh istrinya pergi sebagai wanita yang menurutnya telah melakukan "sesuatu yang tidak pantas" dan kemudian, setelah dia secara sah dinikahi pria lain dan digunakan sebagai istrinya, pria itu mengambil dia kembali.
Tidak diragukan, fakta bahwa suami yang semula tidak dapat menikahi kembali istri yang telah diceraikan sesudah sang istri menjadi milik pria lain, sekalipun pria tersebut telah menceraikan dia atau mati, membuat suami yang mempertimbangkan perceraian itu berpikir serius sebelum bertindak untuk mengakhiri perkawinan. (Yer 3:1) Akan tetapi, tidak disebutkan bahwa ia dilarang mengawini kembali istri yang diceraikan jika sang istri belum kawin lagi setelah ikatan perkawinan mereka terputus secara resmi.
Menyuruh Pergi Istri-Istri Kafir. Sebelum orang Israel memasuki Tanah Perjanjian, mereka diberi tahu untuk tidak membentuk ikatan pernikahan dengan penduduknya yang kafir. (Ul 7:3, 4) Meskipun demikian, pada zaman Ezra, orang-orang Yahudi telah memperistri wanita-wanita asing, dan dalam doa kepada Allah, Ezra mengakui kesalahan mereka sehubungan dengan hal ini. Sebagai tanggapan atas desakan Ezra dan sebagai pengakuan akan kesalahan mereka, pria-pria Israel yang telah memperistri wanita-wanita asing itu menyuruh mereka pergi "beserta putra-putra mereka".—Ezr 9:10–10:44.
Akan tetapi, orang Kristen, yang berasal dari segala bangsa (Mat 28:19), tidak boleh menceraikan teman hidup yang bukan penyembah Allah, mereka bahkan tidak dianjurkan untuk berpisah dari pasangan hidup demikian, sebagaimana terlihat dari nasihat Paulus yang terilham. (1Kor 7:10-28) Namun, bagi yang baru mau menikah, orang Kristen dinasihati untuk menikah "asalkan dalam Tuhan".—1Kor 7:39.
Yusuf Mempertimbangkan Perceraian. Dalam masa pertunangan dengan Yusuf, tetapi sebelum mereka dipersatukan, Maria didapati hamil melalui roh kudus, dan kisah itu menyatakan, "Namun Yusuf, suaminya, karena ia adil-benar dan tidak mau menjadikan dia tontonan umum, berniat menceraikan dia dengan diam-diam." (Mat 1:18, 19) Di kalangan orang Yahudi pada waktu itu, pertunangan adalah pengaturan yang mengikat, karena itu kata "menceraikan" digunakan secara tepat di ayat itu.
Jika seorang gadis yang sudah bertunangan dengan sukarela melakukan hubungan dengan pria lain, ia harus dirajam sampai mati sama seperti seorang wanita pezina. (Ul 22:22-29) Dalam kasus-kasus yang dapat mengakibatkan seseorang dirajam sampai mati, dua saksi dibutuhkan untuk meneguhkan kesalahan orang tersebut. (Ul 17:6, 7) Jelas, Yusuf tidak mempunyai saksi melawan Maria. Maria hamil, tetapi Yusuf tidak memahami masalah itu sepenuhnya sampai malaikat Allah memberinya penjelasan. (Mat 1:20, 21) Tidak disebutkan apakah tindakan 'menceraikan dengan diam-diam' yang ia pertimbangkan mencakup pemberian surat cerai atau tidak; tetapi kemungkinan besar Yusuf akan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang diuraikan di Ulangan 24:1-4, mungkin menceraikan dia di hadapan dua saksi saja sehingga masalahnya diselesaikan secara hukum tanpa perlu mempermalukan Maria. Walaupun tidak memerinci seluruh prosedur yang hendak dilakukan Yusuf, Matius menunjukkan bahwa Yusuf ingin memperlihatkan belas kasihan terhadap Maria. Yusuf tidak dianggap sebagai orang yang tidak adil-benar untuk perbuatannya itu, tetapi sebaliknya, "karena ia adil-benar dan tidak mau menjadikan dia tontonan umum" itulah ia "berniat menceraikan dia dengan diam-diam".—Mat 1:19.
Situasi yang Tidak Memungkinkan Perceraian di Israel. Menurut hukum yang Allah berikan kepada Israel, ada keadaan-keadaan yang tidak memungkinkan perceraian. Misalnya, seorang pria memperistri seorang wanita, melakukan hubungan dengan dia, lalu menjadi benci kepadanya. Pria itu dapat dengan curang menyatakan bahwa wanita itu bukan perawan sewaktu ia mengawininya, dengan demikian secara tidak benar menuduh dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan mencoreng nama baik wanita itu. Apabila orang tua perempuan itu memberikan bukti bahwa putri mereka masih perawan pada saat pernikahannya, pria-pria kota harus mendisiplin si penuduh palsu itu. Mereka harus mendenda dia sebesar seratus syekel perak ($220), memberikannya kepada bapak perempuan itu, dan dia akan terus menjadi istri pria itu, karena dikatakan bahwa, "Dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya." (Ul 22:13-19) Selain itu, jika didapati bahwa seorang pria menyergap seorang perawan yang belum bertunangan dan melakukan hubungan dengannya, ditetapkan bahwa, "Pria yang tidur dengan perempuan itu harus memberikan kepada bapak perempuan itu lima puluh syekel perak [$110], dan dia harus menjadi istrinya karena ia telah merendahkan dia. Ia tidak boleh menceraikan dia selama hidupnya."—Ul 22:28, 29.
Bagi orang Kristen, apa satu-satunya alasan berdasarkan Alkitab untuk bercerai?
Yesus Kristus, dalam Khotbah di Gunung, menyatakan, "Lagi pula telah dikatakan, 'Barang siapa menceraikan istrinya, hendaklah ia memberinya surat cerai.' Akan tetapi, aku mengatakan kepadamu bahwa setiap orang yang menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, menjadikan dia sasaran perzinaan, dan barang siapa menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina." (Mat 5:31, 32) Selain itu, setelah memberi tahu orang Farisi bahwa kelonggaran dalam hukum Musa untuk menceraikan istri bukanlah penyelenggaraan yang berlaku "sejak semula", Yesus mengatakan, "Aku mengatakan kepadamu bahwa barang siapa menceraikan istrinya, kecuali atas dasar percabulan, dan menikah dengan orang lain, berbuat zina." (Mat 19:8, 9) Dewasa ini, pada umumnya "percabulan" dibedakan dari "perzinaan". Menurut penggunaan modern kedua kata itu, orang yang bersalah karena melakukan percabulan adalah orang yang belum menikah yang secara sukarela melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Pezina adalah orang yang telah menikah yang secara sukarela melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya yang bukan teman hidupnya yang sah. Akan tetapi, istilah "percabulan" adalah terjemahan untuk kata Yunani por•nei′a dan mencakup segala jenis hubungan seks yang tidak sah di luar perkawinan menurut Alkitab. Oleh karena itu, kata-kata Yesus di Matius 5:32 dan 19:9 berarti bahwa satu-satunya dasar untuk bercerai yang benar-benar memutuskan ikatan perkawinan adalah jika salah seorang teman hidup melakukan por•nei′a. Pengikut Kristus dapat menggunakan alasan ini untuk bercerai jika ia menghendakinya, dan perceraian demikian membebaskan dia untuk menikah dengan orang Kristen yang memenuhi syarat.—1Kor 7:39.
Amoralitas seksual dengan sesama jenis (homoseksualitas) yang dilakukan oleh seseorang yang telah menikah adalah najis dan menjijikkan. Jika tidak bertobat, orang seperti itu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Dan tentu saja, bestialitas dikutuk dalam Alkitab. (Im 18:22, 23; Rm 1:24-27; 1Kor 6:9, 10) Perbuatan-perbuatan yang sangat menjijikkan itu tergolong dalam istilah por•nei′a yang luas. Patut diperhatikan juga, di bawah Hukum Musa, pelaku homoseksualitas dan bestialitas dihukum mati, sehingga teman hidup yang tidak bersalah bebas untuk kawin lagi.—Im 20:13, 15, 16.
Yesus Kristus menunjukkan bahwa "setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadap dia sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya". (Mat 5:28) Namun, Yesus tidak mengatakan bahwa apa yang ada dalam hati, tetapi belum dilakukan, dapat menjadi dasar perceraian. Kata-kata Kristus memperlihatkan bahwa hati harus dijaga bersih dan seseorang tidak boleh mengembangkan pikiran dan hasrat yang tidak patut.—Flp 4:8; Yak 1:14, 15.
Hukum para rabi Yahudi menitikberatkan tugas orang yang telah menikah untuk melaksanakan kewajiban perkawinan dan memperbolehkan suami menceraikan istri yang tidak dapat menghasilkan keturunan. Akan tetapi, Alkitab tidak memberi orang Kristen hak menceraikan pasangan mereka untuk alasan demikian. Kemandulan selama bertahun-tahun tidak membuat Abraham menceraikan Sara, Ishak menceraikan Ribka, Yakub menceraikan Rakhel, atau imam Zakharia menceraikan Elisabet.—Kej 11:30; 17:17; 25:19-26; 29:31; 30:1, 2, 22-25; Luk 1:5-7, 18, 24, 57.
Tidak ada ayat dalam Alkitab yang mengizinkan seorang Kristen menceraikan pasangan hidupnya karena dia secara fisik tidak dapat melaksanakan kewajiban perkawinan, atau karena dia hilang ingatan atau mengidap penyakit yang menjijikkan atau tidak dapat disembuhkan. Kasih yang harus diperlihatkan orang Kristen akan mendorong dia, bukan untuk menceraikan teman hidup demikian, melainkan untuk merawatnya dengan penuh belas kasihan. (Ef 5:28-31) Alkitab juga tidak memberi orang Kristen hak untuk menceraikan teman hidup karena perbedaan agama; sebaliknya Alkitab memperlihatkan bahwa dengan tetap tinggal bersama teman hidup yang tidak seiman, orang Kristen dapat memenangkan orang itu kepada iman sejati.—1Kor 7:12-16; 1Ptr 3:1-7.
Dalam Khotbahnya di Gunung, Yesus mengatakan bahwa "setiap orang yang menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, menjadikan dia sasaran perzinaan, dan barang siapa menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina". (Mat 5:32) Dengan mengatakan demikian, Kristus memperlihatkan bahwa jika suami menceraikan istrinya bukan dengan alasan "percabulan" (por•nei′a), ia membuat istrinya dapat melakukan perzinaan di masa mendatang. Alasannya, perceraian demikian tidak secara benar memutuskan ikatan antara istri yang tidak berzina dan suaminya, sehingga tidak membebaskannya untuk menikah dengan pria lain serta melakukan hubungan seks dengan suami lain. Sewaktu mengatakan bahwa barang siapa "menikahi wanita yang diceraikan berbuat zina", Kristus memaksudkan wanita yang diceraikan bukan atas dasar "percabulan" (por•nei′a). Wanita itu, walaupun bercerai secara hukum, belum bercerai menurut Alkitab.
Seperti Matius (Mat 19:3-9), Markus mencatat pernyataan Yesus kepada orang Farisi mengenai perceraian dan mengutip kata-kata Kristus, demikian, "Barang siapa menceraikan istrinya dan menikah dengan orang lain, berbuat zina terhadap istrinya, dan seandainya seorang wanita, setelah menceraikan suaminya, menikah dengan orang lain, ia berbuat zina." (Mrk 10:11, 12) Pernyataan serupa dicatat di Lukas 16:18, yang berbunyi, "Setiap orang yang menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain berbuat zina, dan dia yang menikahi seorang wanita yang diceraikan seorang suami berbuat zina." Jika hanya melihat ayat-ayat itu, seolah-olah para pengikut Kristus dilarang untuk bercerai apa pun alasannya, atau setidaknya ayat-ayat itu menunjukkan bahwa orang yang bercerai tidak berhak kawin lagi kecuali pasangan hidup orang yang diceraikan itu telah mati. Akan tetapi, kata-kata Yesus yang dicatat oleh Markus dan Lukas harus dipahami dengan mempertimbangkan pernyataan yang lebih lengkap yang dicatat oleh Matius. Ia menambahkan frasa "kecuali atas dasar percabulan" (Mat 19:9; lihat juga Mat 5:32), yang memperlihatkan bahwa apa yang Markus dan Lukas tulis ketika mengutip perkataan Yesus tentang perceraian berlaku jika dasar perceraian itu bukan "percabulan" (por•nei′a) yang dilakukan oleh pasangan hidup yang tidak setia.
Akan tetapi, Alkitab tidak mewajibkan seseorang menceraikan pasangan hidup yang berzina tetapi bertobat. Suami atau istri Kristen dapat mengulurkan belas kasihan dalam kasus demikian, sama seperti Hosea tampaknya mengambil kembali Gomer, istrinya yang berzina, dan sama seperti Allah mengulurkan belas kasihan kepada Israel yang bertobat dari perzinaan rohani.—Hos 3.
Standar Allah yang semula dipulihkan. Jelaslah, pernyataan Yesus Kristus menunjukkan bahwa orang harus kembali kepada standar yang tinggi untuk perkawinan yang pada mulanya ditetapkan oleh Allah, dan juga memperlihatkan bahwa orang-orang yang mau menjadi murid Yesus harus berpaut pada standar yang tinggi tersebut. Walaupun kelonggaran yang diberikan Hukum Musa masih berlaku pada waktu itu, orang-orang yang ingin menjadi murid sejati Yesus, yang melakukan kehendak Bapaknya dan 'melakukan' atau melaksanakan perkataan Yesus (Mat 7:21-29), tidak akan lagi memanfaatkan kelonggaran demikian untuk memperlihatkan 'kedegilan hati' terhadap teman hidup mereka. (Mat 19:8) Sebagai murid sejati, mereka tidak mau melanggar prinsip-prinsip ilahi yang semula mengenai perkawinan dan menceraikan teman hidup atas dasar apa pun selain apa yang Yesus sebutkan, yakni "percabulan" (por•nei′a).
Orang lajang yang melakukan percabulan dengan seorang pelacur menjadikan dirinya "satu tubuh" dengan pelacur itu. Demikian pula, seorang pezina menjadikan dirinya "satu tubuh", bukan dengan istri sahnya, melainkan dengan orang amoral yang dengannya ia melakukan hubungan seks. Dengan demikian, sang pezina berdosa tidak saja terhadap tubuhnya sendiri tetapi juga terhadap istri sahnya yang hingga saat itu masih "satu daging" dengannya. (1Kor 6:16-18) Karena itu, perzinaan memberikan dasar yang benar untuk memutuskan ikatan perkawinan sesuai dengan prinsip-prinsip ilahi, dan jika dasar tersebut memang ada, perceraian akan membubarkan secara resmi dan tuntas suatu perkawinan yang sah, sehingga pasangan hidup yang tidak bersalah bebas untuk kawin lagi secara terhormat.—Ibr 13:4.
Sep 3, 2009
Perjuangan Hidup
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." (Ayub 1:21-22)
Ada banyak orang-orang yang tidak percaya mengerutu dan mengeluh tentang nasibnya dimana sesungguhnya mereka secara total memusatkan diri pada keinginan-keinginan dunia ini dan hidup tanpa Roh Kudus.
Akan tetapi ketika melihat contoh-contoh yang Tuhan berikan di dalam Alkitab kita menjadi kagum tentang bagaimana orang-orang yang percaya dapat bertahan di dalam ujian-ujian yang sangat yang berat. Seperti Ayub contohnya ia adalah seorang yang sangat saleh yang bahkan tidak berani untuk berbuat dosa baik di dalam pikiran maupun perkataan.
Kitab Ayub 1:5b mencatat demikian:
"keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa."
Dan Ayub 2:9-10 menyatakan demikian:
"Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya."
Pada akhirnya, oleh karena kasih karunia Tuhan, Ayub lulus dari segala ujian yang sangat berat ini setelah ia merendahkan dirinya di hadapan Tuhan (Ayub 42). Sesungguhnya Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah contoh utama yang harus selalu menjadi fokus dari orang-orang yang percaya, sebagai manusia -- kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi lebih tinggi ataupun menjadi lebih rendah daripada-Nya. Segala perjuangan dan penderitaan yang kita alami di dunia ini tidak akan seberapa bila dibandingkan dengan kutukan kekal yang Kristus harus tanggung untuk menebus upah dosa-dosa umat-Nya. Kristus yang tidak berdosa telah dinyatakan berdosa oleh karena dosa-dosa kita.
Kitab Yesaya 53:6-7 yang bernubuat tentang peristiwa kayu salib menyatakan demikian:
"Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN [Allah] telah menimpakan kepadanya [yaitu kepada Kristus] kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya."
Ketika Kristus diadili di depan Pilatus Ia mungkin saja berteriak-teriak dengan keras bahwa sesungguhnya Ia tidak bersalah, tetapi Kristus tidak berbuat demikian karena Ia tahu bahwa Ia harus menggenapi nubuat Kitab Suci.
Contoh lainnya yang dapat kita lihat tentang perjuangan hidupnya adalah Rasul Paulus. Dan Paulus bukanlah seseorang yang sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tetapi ia adalah seseorang yang sedang bekerja untuk Tuhan. Dan lihatlah ia tidak mengeluh malah bersukacita ketika ia menerima siksaan demi siksaan dari orang-orang yang mengaku sebagai orang yang percaya (umat Yahudi) dan juga siksaan dari orang-orang yang tidak percaya. Betapa teladan yang sangat baik yang ia berikan bagi umat Kristen.
Masih ada banyak lagi contoh-contoh dari Pahlawan Iman yang harus kita pelajari seperti yang dinyatakan dalam kitab Ibrani 11:31-34:
"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang [= Firman Tuhan yang menghukum -- Ibrani 4:12], telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing [=injil-injil palsu -- 2 Raja 23:5]."
Dan akhirnya dalam kitab Matius 6:31-33 Tuhan menasihatkan kepada kita demikian:
"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Nah ini adalah janji Tuhan, kalimat ini bukanlah pikiran-pikiran kosong ataupun gagasan secara filosofis belaka. Tuhan memerintahkan kita untuk berpikir mengenai hal-hal yang rohani (kekal), sehingga hidup kita bisa menjadi berkat rohani dan Tuhan akan memelihara kita. Dia akan memelihara kita sesuai dengan kasih karunia-Nya.
Ada banyak orang-orang yang tidak percaya mengerutu dan mengeluh tentang nasibnya dimana sesungguhnya mereka secara total memusatkan diri pada keinginan-keinginan dunia ini dan hidup tanpa Roh Kudus.
Akan tetapi ketika melihat contoh-contoh yang Tuhan berikan di dalam Alkitab kita menjadi kagum tentang bagaimana orang-orang yang percaya dapat bertahan di dalam ujian-ujian yang sangat yang berat. Seperti Ayub contohnya ia adalah seorang yang sangat saleh yang bahkan tidak berani untuk berbuat dosa baik di dalam pikiran maupun perkataan.
Kitab Ayub 1:5b mencatat demikian:
"keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa."
Dan Ayub 2:9-10 menyatakan demikian:
"Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya."
Pada akhirnya, oleh karena kasih karunia Tuhan, Ayub lulus dari segala ujian yang sangat berat ini setelah ia merendahkan dirinya di hadapan Tuhan (Ayub 42). Sesungguhnya Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah contoh utama yang harus selalu menjadi fokus dari orang-orang yang percaya, sebagai manusia -- kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi lebih tinggi ataupun menjadi lebih rendah daripada-Nya. Segala perjuangan dan penderitaan yang kita alami di dunia ini tidak akan seberapa bila dibandingkan dengan kutukan kekal yang Kristus harus tanggung untuk menebus upah dosa-dosa umat-Nya. Kristus yang tidak berdosa telah dinyatakan berdosa oleh karena dosa-dosa kita.
Kitab Yesaya 53:6-7 yang bernubuat tentang peristiwa kayu salib menyatakan demikian:
"Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN [Allah] telah menimpakan kepadanya [yaitu kepada Kristus] kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya."
Ketika Kristus diadili di depan Pilatus Ia mungkin saja berteriak-teriak dengan keras bahwa sesungguhnya Ia tidak bersalah, tetapi Kristus tidak berbuat demikian karena Ia tahu bahwa Ia harus menggenapi nubuat Kitab Suci.
Contoh lainnya yang dapat kita lihat tentang perjuangan hidupnya adalah Rasul Paulus. Dan Paulus bukanlah seseorang yang sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tetapi ia adalah seseorang yang sedang bekerja untuk Tuhan. Dan lihatlah ia tidak mengeluh malah bersukacita ketika ia menerima siksaan demi siksaan dari orang-orang yang mengaku sebagai orang yang percaya (umat Yahudi) dan juga siksaan dari orang-orang yang tidak percaya. Betapa teladan yang sangat baik yang ia berikan bagi umat Kristen.
Masih ada banyak lagi contoh-contoh dari Pahlawan Iman yang harus kita pelajari seperti yang dinyatakan dalam kitab Ibrani 11:31-34:
"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang [= Firman Tuhan yang menghukum -- Ibrani 4:12], telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing [=injil-injil palsu -- 2 Raja 23:5]."
Dan akhirnya dalam kitab Matius 6:31-33 Tuhan menasihatkan kepada kita demikian:
"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Nah ini adalah janji Tuhan, kalimat ini bukanlah pikiran-pikiran kosong ataupun gagasan secara filosofis belaka. Tuhan memerintahkan kita untuk berpikir mengenai hal-hal yang rohani (kekal), sehingga hidup kita bisa menjadi berkat rohani dan Tuhan akan memelihara kita. Dia akan memelihara kita sesuai dengan kasih karunia-Nya.
Sep 1, 2009
Perhitungan Raja
"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang Raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun HARUS mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (MATIUS 18:15-17, 21-35)
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang Raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun HARUS mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (MATIUS 18:15-17, 21-35)
Subscribe to:
Posts (Atom)