"supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?" (Yohanes 12:38)
Dalam ayat ini kita menemukan pertanyaan-pertanyaan retoris, yaitu bahwa mereka yang untuk siapa Kristus datang akan menolak Dia. Mereka tidak akan percaya tentang apa yang dikatakan Alkitab tentang kedatangan-Nya. Bangsa Israel pada zaman itu mencari seorang Mesias yang akan datang sebagai raja duniawi yang besar, yang datang menunggangi seekor kuda putih, untuk membebaskan mereka dari jajahan Romawi. Mereka menginginkan seorang raja yang akan datang dengan bermacam-macam kemuliaan duniawi. Dan ketika Yesus datang seperti yang telah Ia lakukan, mereka tidak mengenali-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan, sebab sesungguhnya mereka tidak benar-benar mempercayai Kitab Suci.
Kapan saja kita belajar untuk mempercayai Alkitab, untuk mendengar secara mutlak apa yang dinyatakan Firman Tuhan, maka kita akan tiba pada Kebenaran yang sesungguhnya dan kemudian berbagai hal yang indah mulai terjadi dalam kehidupan kita karena kita mengetahui bahwa kita sudah menjadi anak-anak Tuhan.
Kitab Yesaya 53:2-6 yang berbicara tentang Kristus berkata demikian:
"Sebagai taruk Ia [yaitu Mesias yang dijanjikan itu] tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas [yaitu akar - KJV] dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian."
Apakah yang dimaksudkan Tuhan dengan gaya bahasa ini? Bagaimana mungkin Ia menyebut Mesias yang adalah Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan, yang menjadi Juruselamat dari orang-orang yang akan percaya kepada-Nya adalah suatu "akar". Dan apa hubungannya dengan tanah kering?
Anda lihat, disini Tuhan sedang menggunakan suatu gambaran fisik untuk mempertunjukkan kepada kita suatu gambaran "rohani". Gambaran fisik yang Tuhan sedang lukiskan adalah suatu tanah yang tidak disirami untuk waktu yang sangat lama. Tanah itu sangat kering dan tandus. Tanah itu keras seperti paku. Bencana kekeringan telah menyerang. Tidak ada tanaman yang sedang tumbuh. Tidak ada hujan untuk waktu yang sangat-sangat lama. Dan ini merupakan suatu hal mengerikan.
Tetapi akhirnya, disitu ada suatu tanaman kecil yang mulai tumbuh. Dan anda ingin tahu, dari mana dia mendapatkan makanannya? Ini adalah tanaman yang begitu kecil. Dan anda bisa takut bahwa hanya dengan diperhatikan saja dia itu akan mati dan tidak lagi hidup disana. Namun anda juga menjadi sangat gembira melihat dia sebab dia sedang bertumbuh disana. Dan seperti anda mengamati bahwa tanaman yang mulai sebagai semaian sangat kecil itu sungguh mulai tumbuh dan tumbuh dan menjadi semakin kuat. Dan anda sangat herang anda ingin tahu bagaimana tanaman ini bisa keluar, tanaman yang kecil dan lembut ini bisa keluar dari tanah yang begitu kering.
Itu adalah gambarannya secara fisik. Tetapi didalamnya Tuhan juga sedang melukiskan kepada kita suatu gambaran mengenai kondisi bangsa Israel dan dunia ini pada zaman ketika Yesus datang sebagai Mesias. Sepanjang masa-masa ketika Yesaya sedang menulis kitab-kitab ini, Tuhan mengangkat nabi-nabi berulang kali, dan Ia memberikan wahyu rahasia ini langsung melalui para nabi ini kepada bangsa Israel, dan bangsa-bangsa lain disekitarnya seperti bangsa Babel, Asyur, Moab dan Mesir. Tuhan memberikan wahyu-wahyu ini kepada mereka. Tuhan sedang berbicara kepada dunia menyangkut hari itu. Ini adalah sekitar 2,800 tahun yang lalu. Dan meskipun Tuhan tidak berkata kepada keseluruhan dunia, Ia sedang menyampaikan berita ini kepada sebagian besar dari dunia yang ada pada saat itu.
Jadi datanglah "kasih karunia" memasuki dunia. Ada orang-orang yang diselamatkan, yaitu orang-orang yang belajar untuk mengetahui bahwa Tuhan adalah Juruselamat, sang Penebus. Kita membaca mengenai orang-orang seperti Musa, Daud, Salomo, Ayub, Yeremia, Yehezkiel, Yesaya dan Daniel. Semua orang ini diselamatkan sebab Tuhan telah memberikan Firman-Nya kepada mereka. Pada zaman itu mereka tidak memiliki keseluruhan Alkitab seperti yang kita miliki sekarang ini, pada saat mereka hanya memiliki beberapa gulungan saja. Mereka hanya memiliki sangat sedikit saja dari seluruh Alkitab yang kita miliki sekarang. Akan tetapi lihatlah apa yang dikatakan oleh nabi Ayub dalam kitab Ayub 19:25 demikian:
"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu."
Dan kitab Keluaran 33:17 menyatakan demikian:
"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia [anugrah] di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."
Kemudian sekitar tahun 400 atau 450 Sebelum Masehi, sekitar 400 tahun sebelum Kristus dilahirkan, Allah sama sekali membungkam Dirinya, jadi untuk 400 tahun itu tidak pernah ada wahyu ilahi yang datang dari Allah. 400 tahun itu sangat lama waktunya dan tidak ada pembukaan dari Surga. Seolah-olah Tuhan telah memberikan punggungnya terhadap bumi ini. Dan selama jangka periode itu mereka tidak memiliki keseluruhan Alkitab seperti apa yang kita miliki sekarang ini. Mereka hanya memiliki sebagian dari apa yang kita sebut sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Dan Kitab Suci itu tidak bisa didapatkan di-mana-mana, masih sangat mahal harganya. Pada saat itu mesin cetak belum ditemukan. Hanya ada sangat sedikit gulungan-gulungan kitab. Dan sebagai konsekwensinya hanya ada sangat sedikit orang yang percaya di seluruh dunia. Ada beberapa di dalam bangsa Israel, dan hanya ada sedikit sekali orang yang percaya di tempat-tempat lain.
Tetapi pada dasarnya seolah-olah tidak ada hubungan lagi antara Tuhan dengan dunia ini. Dunia telah menjadi suatu gurun pasir. Dunia dan bangsa Israel juga, yang telah menikmati segala perlakuan khusus, secara rohani telah menjadi suatu gurun pasir yang sangat kering. Tidak ada kehidupan rohani yang berarti yang dapat terlihat.
Maka terjadilah suatu dunia yang telah menjadi kering seluruhnya. Dan kemudian, lihatlah, suatu tanaman kecil mulai tumbuh. Tanaman kecil itu adalah fakta bahwa bayi Yesus telah dilahirkan. Ia dilahirkan disuatu palung …...bayangkan ……. suatu palungan, yaitu tempat "minuman ternak". Mesias macam apa ini? Pasti bukanlah Mesias yang diinginkan oleh dunia. Dan Tuhan meramalkan semuanya ini ketika Ia mengumumkan di Yesaya 53:
"Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya ...."
Sejarah Dunia Kuno
Jul 27, 2009
Petrus batu sandungan
"Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:21-23)
Di dalam ayat-ayat ini Yesus sedang bernubuat tentang apa yang akan terjadi pada-Nya, dan hal itu sudah pasti akan terjadi karena Ia datang untuk menjadi Mesias sang Penebus. Dan Yesus harus melalui pengalaman yang sangat buruk demi orang-orang yang Ia datang untuk Ia selamatkan.
Sedangkan Petrus adalah salah satu dari para rasul yang sangat mengasihi Yesus. Dan disini Yesus tidak sedang berkata bahwa Petrus sudah menjadi Iblis, Petrus bukan pengikut Iblis, Petrus adalah seorang anak Allah yang sejati. Tetapi pada waktu itu Petrus sedang mengatakan sesuatu yang menyenangkan Iblis. Jadi kadang-kadang seorang percaya yang sejati juga dapat menjadi batu sandungan bagi yang lainnya jika ia tidak segera menyadarinya. Di tempat lainnya kita juga membaca tentang Petrus, yang disebut Kefas, seorang percaya yang sejati, yang dididik oleh Tuhan Yesus sendiri, jatuh ke dalam dosa kemunafikan tentang hal bercampur dengan
orang-orang yang bukan Yahudi, tetapi rasul Paulus menegurnya supaya ia menyadari kesalahannya (Galatia 2:11-14).
Jadi pada saat itu kira-kira Yesus berkata demikian, "Petrus, pada titik ini kamu sama seperti Iblis. Inilah yang Iblis ingin kamu katakan kepada-Ku." Iblis itu ingin berkata, "Tidak usahlah kamu melakukan perkara pembayaran upah dosa-dosa umat pilihan, mengapa kamu harus menderita?" Jadi kemudian Yesus berkata kepada Petrus, "Ketika kamu berkata bahwa Aku harus menjauhi hal itu, kamu berkata sama seperti Iblis."
Dan Iblis mengetahui kalau Yesus berhasil pergi ke kayu salib, Yesus akan menjadi pemenang. Kristus datang untuk membangun suatu kerajaan rohani bagi kemuliaan diri-Nya sendiri. Dan Dia dapat melakukan itu hanya bila Ia menderita di kayu salib.
Di dalam ayat-ayat ini Yesus sedang bernubuat tentang apa yang akan terjadi pada-Nya, dan hal itu sudah pasti akan terjadi karena Ia datang untuk menjadi Mesias sang Penebus. Dan Yesus harus melalui pengalaman yang sangat buruk demi orang-orang yang Ia datang untuk Ia selamatkan.
Sedangkan Petrus adalah salah satu dari para rasul yang sangat mengasihi Yesus. Dan disini Yesus tidak sedang berkata bahwa Petrus sudah menjadi Iblis, Petrus bukan pengikut Iblis, Petrus adalah seorang anak Allah yang sejati. Tetapi pada waktu itu Petrus sedang mengatakan sesuatu yang menyenangkan Iblis. Jadi kadang-kadang seorang percaya yang sejati juga dapat menjadi batu sandungan bagi yang lainnya jika ia tidak segera menyadarinya. Di tempat lainnya kita juga membaca tentang Petrus, yang disebut Kefas, seorang percaya yang sejati, yang dididik oleh Tuhan Yesus sendiri, jatuh ke dalam dosa kemunafikan tentang hal bercampur dengan
orang-orang yang bukan Yahudi, tetapi rasul Paulus menegurnya supaya ia menyadari kesalahannya (Galatia 2:11-14).
Jadi pada saat itu kira-kira Yesus berkata demikian, "Petrus, pada titik ini kamu sama seperti Iblis. Inilah yang Iblis ingin kamu katakan kepada-Ku." Iblis itu ingin berkata, "Tidak usahlah kamu melakukan perkara pembayaran upah dosa-dosa umat pilihan, mengapa kamu harus menderita?" Jadi kemudian Yesus berkata kepada Petrus, "Ketika kamu berkata bahwa Aku harus menjauhi hal itu, kamu berkata sama seperti Iblis."
Dan Iblis mengetahui kalau Yesus berhasil pergi ke kayu salib, Yesus akan menjadi pemenang. Kristus datang untuk membangun suatu kerajaan rohani bagi kemuliaan diri-Nya sendiri. Dan Dia dapat melakukan itu hanya bila Ia menderita di kayu salib.
Angka di dalam Alkitab
Berikut ini adalah ringkasan dari kemungkinan arti rohani angka-angka di dalam Kitab Suci:
- Angka 2 bila ada arti rohaninya menunjuk kepada "pemegang dari Alkitab" (gereja), hal itu ditunjukkan oleh "dua saksi" di Wahyu pasal 11, dan ketika ke-70 murid diutus "berdua-dua" di Lukas pasal 10, dan illustrasi lainnya yang semacam itu di dalam Alkitab.
- Angka 3 beberapa kali digunakan untuk menunjuk kepada "maksud dan tujuan Allah." Angka 3 ini disebutkan lebih dari 15 kali pada saat-saat mendekati kayu salib. Contohnya ada 3 murid yang pergi bersama Yesus ke gunung tranfigurasi dimana mereka melihat Musa dan Elia, ada 3 murid yang diajak Yesus di taman Getsemani untuk berdoa, dan Yesus berdoa 3 kali supaya cawan penderitaan itu diangkat daripada-Nya, Yudas menerima 30 uang perak dari imam-imam kepala atas upah penghianatannya, Petrus menyangkal Yesus 3 kali, ada 3 kayu salib, ada 3 bahasa yang ditulis pada kayu salib "Yesus Raja orang Yahudi", Yesus berseru dengan suara nyaring pada jam 3 sore, Yesus berada di dalam perut bumi selama 3 hari 3 malam, dll. Semua hal ini menunjukkan bahwa sudah merupakan "maksud dan tujuan" Allah supaya Kristus pergi ke kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat-Nya.
- Angka 4 secara rohani menunjuk kepada sesuatu yang universal. Misalnya 4 penjuru bumi atau 4 penjuru mata angin. Jadi kalau ada arti rohaninya angka 4 biasanya menunjuk kepada "seluruh dunia."
- Angka 5 secara rohani menunjuk kepada dua hal, ini bisa menunjuk "kasih Tuhan" dan pada sisi yang lain bisa juga menunjuk kepada "penghakiman Tuhan." Jadi disini ada dua sisi yang berbeda dalam satu uang logam.
- Angka 6 kalau ada arti rohaninya, biasanya menunjuk kepada "pekerjaan" (work). Ingatlah dalam kitab Kejadian pasal 1 Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu 6 hari.
- Angka 7 secara rohani menunjuk kepada "kesempurnaan" (perfection) dari segala sesuatu yang dibicarakan. Misalnya ada 7 hari dalam seminggu, dan ada 7 roh jahat yang merasuki seseorang di Matius 12:45, ini bukan berarti bahwa ada tepat 7 roh jahat di dalam diri orang tersebut tetapi ini berarti kuasa Iblis sudah sempurna di dalam dirinya. Kemudian Tuhan juga berbicara mengenai 7 Roh Allah yang menunjuk kepada "Allah Roh Kudus" (Wahyu 5:6, 4:5, 3:1.)
- Angka 10 sama dengan angka 100 atau 1000 menunjuk kepada "kepenuhan" (completeness) dari segala sesuatu yang dibicarakan. Misalnya di Mazmur 105:8, kita baca:
"Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,"
Dalam konteks ini cukup jelas bahwa ungkapan "seribu angkatan" di kalimat yang kedua digunakan untuk mengulang ungkapan "selama-lamanya" di kalimat yang pertama. Sama juga halnya dengan perumpamaan tentang
domba yang hilang (Matius 18:12) dan uang dirham yang hilang (Lukas 15:8), Tuhan menggunakan 100 domba dan 10 dirham sebagai simbol yang menunjuk kepada "kepenuhan" dari semua orang-orang pilihan yang Tuhan
sudah rencanakan untuk Ia cari dan selamatkan.
- Angka 12 juga menunjuk kepada "kepenuhan" (fullness), misalnya ada 12 suku Israel dan ada 12 rasul.
- Angka 13 menunjuk kepada akhir zaman, atau "kepenuhan yang sempurna" (super fullness).
- Angka 17 menunjuk kepada "keselamatan" atau Surga. Kita bisa melihat mengenai hal ini dalam kitab Yohanes 21:10 yaitu pada waktu ada 153 ekor ikan yang ditangkap tetapi "jala-nya tidak koyak". Ini terjadi pada akhir dari pelayanan Yesus. Angka 153 adalah hasil dari 3 x 3 x 17. Angka 3 menunjuk kepada maksud dan tujuan dari Allah. Jadi angka153 menunjuk kepada mereka-mereka yang akan diselamatkan. Angka 17 menunjuk kepada kenyataan bahwa sudah merupakan maksud dan tujuan Allah untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah Ia rencanakan untuk Ia selamatkan untuk hidup bersama-sama dengan-Nya di dalam Surga.
- Angka 2 bila ada arti rohaninya menunjuk kepada "pemegang dari Alkitab" (gereja), hal itu ditunjukkan oleh "dua saksi" di Wahyu pasal 11, dan ketika ke-70 murid diutus "berdua-dua" di Lukas pasal 10, dan illustrasi lainnya yang semacam itu di dalam Alkitab.
- Angka 3 beberapa kali digunakan untuk menunjuk kepada "maksud dan tujuan Allah." Angka 3 ini disebutkan lebih dari 15 kali pada saat-saat mendekati kayu salib. Contohnya ada 3 murid yang pergi bersama Yesus ke gunung tranfigurasi dimana mereka melihat Musa dan Elia, ada 3 murid yang diajak Yesus di taman Getsemani untuk berdoa, dan Yesus berdoa 3 kali supaya cawan penderitaan itu diangkat daripada-Nya, Yudas menerima 30 uang perak dari imam-imam kepala atas upah penghianatannya, Petrus menyangkal Yesus 3 kali, ada 3 kayu salib, ada 3 bahasa yang ditulis pada kayu salib "Yesus Raja orang Yahudi", Yesus berseru dengan suara nyaring pada jam 3 sore, Yesus berada di dalam perut bumi selama 3 hari 3 malam, dll. Semua hal ini menunjukkan bahwa sudah merupakan "maksud dan tujuan" Allah supaya Kristus pergi ke kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat-Nya.
- Angka 4 secara rohani menunjuk kepada sesuatu yang universal. Misalnya 4 penjuru bumi atau 4 penjuru mata angin. Jadi kalau ada arti rohaninya angka 4 biasanya menunjuk kepada "seluruh dunia."
- Angka 5 secara rohani menunjuk kepada dua hal, ini bisa menunjuk "kasih Tuhan" dan pada sisi yang lain bisa juga menunjuk kepada "penghakiman Tuhan." Jadi disini ada dua sisi yang berbeda dalam satu uang logam.
- Angka 6 kalau ada arti rohaninya, biasanya menunjuk kepada "pekerjaan" (work). Ingatlah dalam kitab Kejadian pasal 1 Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu 6 hari.
- Angka 7 secara rohani menunjuk kepada "kesempurnaan" (perfection) dari segala sesuatu yang dibicarakan. Misalnya ada 7 hari dalam seminggu, dan ada 7 roh jahat yang merasuki seseorang di Matius 12:45, ini bukan berarti bahwa ada tepat 7 roh jahat di dalam diri orang tersebut tetapi ini berarti kuasa Iblis sudah sempurna di dalam dirinya. Kemudian Tuhan juga berbicara mengenai 7 Roh Allah yang menunjuk kepada "Allah Roh Kudus" (Wahyu 5:6, 4:5, 3:1.)
- Angka 10 sama dengan angka 100 atau 1000 menunjuk kepada "kepenuhan" (completeness) dari segala sesuatu yang dibicarakan. Misalnya di Mazmur 105:8, kita baca:
"Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,"
Dalam konteks ini cukup jelas bahwa ungkapan "seribu angkatan" di kalimat yang kedua digunakan untuk mengulang ungkapan "selama-lamanya" di kalimat yang pertama. Sama juga halnya dengan perumpamaan tentang
domba yang hilang (Matius 18:12) dan uang dirham yang hilang (Lukas 15:8), Tuhan menggunakan 100 domba dan 10 dirham sebagai simbol yang menunjuk kepada "kepenuhan" dari semua orang-orang pilihan yang Tuhan
sudah rencanakan untuk Ia cari dan selamatkan.
- Angka 12 juga menunjuk kepada "kepenuhan" (fullness), misalnya ada 12 suku Israel dan ada 12 rasul.
- Angka 13 menunjuk kepada akhir zaman, atau "kepenuhan yang sempurna" (super fullness).
- Angka 17 menunjuk kepada "keselamatan" atau Surga. Kita bisa melihat mengenai hal ini dalam kitab Yohanes 21:10 yaitu pada waktu ada 153 ekor ikan yang ditangkap tetapi "jala-nya tidak koyak". Ini terjadi pada akhir dari pelayanan Yesus. Angka 153 adalah hasil dari 3 x 3 x 17. Angka 3 menunjuk kepada maksud dan tujuan dari Allah. Jadi angka153 menunjuk kepada mereka-mereka yang akan diselamatkan. Angka 17 menunjuk kepada kenyataan bahwa sudah merupakan maksud dan tujuan Allah untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah Ia rencanakan untuk Ia selamatkan untuk hidup bersama-sama dengan-Nya di dalam Surga.
Jul 24, 2009
Tumpuan kakiNya
"Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya [yaitu berdiri] dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia [yaitu Orang ini atau Imam ini], setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya." (Ibrani 10:11-13)
Bagian Alkitab ini sedang menekankan ke-imam-an dari Tuhan Yesus Kristus dan kenyataan bahwa Ia adalah Imam Besar Agung yang mengurbankan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba yang tidak bercacat supaya kita dapat dibebaskan dari semua dosa-dosa kita.
Pada kenyataannya, dalam sifat alaminya, manusia telah memberontak dan menjadi "musuh" Allah, dan sekarang Iblis sendiri telah menjadi raja rohani atas mereka (Kolose 1:13, Kis. 26:18, Efesus 5:8, 1 Petrus 2:9).
Dan sekarang kita memiliki alam semesta yang berada dibawah kutuk. Sebenarnya alam semesta ini berada di bawah kutuk oleh karena manusia sendiri, yang merupakan ciptaan yang tertinggi dan terhormat. Manusia yang sudah diberikan kuasa atas ciptaan ini telah memberontak melawan Allah sehingga mereka menjadi subjek dari kematian, menjadi subjek dari kehancuran. Dan Allah juga telah mengutuk seluruh alam semesta ini karena kalau tidak kita akan memiliki penguasa yang tidak sempurna (yaitu manusia) dalam alam semesta yang sempurna. Dan itu akan merupakan situasi yang terbalik yang tidak akan berlangsung lama. Jadi seluruh bumi yang sekarang ini telah berada dibawah kutuk.
Sekarang Tuhan telah memberikan Iblis kuasa atas seluruh alam semesta ini karena hak penaklukannya terhadap Adam dan Hawa (yaitu manusia). Kemudian adalah satu hal untuk membayar upah dari semua dosa-dosa umat pilihan yang juga telah memberontak, tetapi Tuhan masih harus berurusan dengan alam semesta ini, dan dengan malaikat-malaikat yang jatuh, dan dengan mereka semua yang tidak diselamatkan, yaitu hamba-hamba Iblis. Tuhan masih harus berurusan dengan mereka semua. Tuhan harus menghancurkan mereka. Tuhan harus menang terhadap mereka. Tuhan harus mengambil seluruh kekuasaan kembali dari Iblis.
Jadi Kristus harus datang bukan saja sebagai Imam Besar untuk membayar upah dosa-dosa kita, tetapi Ia juga harus datang sebagai Raja untuk menaklukkan Iblis, dan mengalahkan orang-orang yang tidak diselamatkan dari dunia ini, dan memenangkan hak untuk menumpahkan murka-Nya terhadap mereka. Mereka akan dibawa ke hadapan tahta penghakiman Tuhan, dan mereka akan ditemukan bersalah, dan kemudian mereka akan dibuang ke dalam Neraka yang kekal.
Dalam kitab Mazmur 110 kita menemukan pernyataan bahwa Allah Yehovah berkata tentang Mesias yang akan datang sebagai Tuhan. Akan tetapi sebenarnya Yehovah dan Kristus adalah satu dan sama, dan itu adalah misteri ilahi dari Allah Tri-tunggal -- yang tidak dapat kita mengerti secara penuh. Dalam kitab Mazmur 110:1-7 kita membaca demikian:
"Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN [yaitu Yehovah] kepada tuanku [dalam bahasa aslinya ini adalah kata "Tuhan"]: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentara bangsa-Mu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan KEKUDUSAN [yaitu Kristus Sang Firman]; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. TUHAN [yaitu Yehovah] telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk
selama-lamanya, menurut Melkisedek." TUHAN ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas. Dari sungai di tepi jalan ia minum, oleh sebab itu ia mengangkat kepala."
Kita menemukan ungkapan "Duduk di sebelah kanan Allah sampai musuh-musuh-Nya dijadikan tumpuan kaki-Nya" di banyak tempat di dalam Alkitab. Seperti misalnya dalam kitab Matius 22:45 Yesus bertanya kepada ahli-ahli hukum Taurat dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang ada pada waktu itu: "Jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Dan disitu Yesus sedang mengutip dari Mazmur 110:1 yang kita baca di atas.
Dengan kata lain, ada pertanyaan yang diangkat disini, bagaimana mungkin Anak Daud yang adalah seorang manusia menjadi Tuhan atas Daud yang adalah Raja dari Israel? Jadi ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh bangsa Israel dan pemimpin-pemimpin agama mereka. Tentu saja kita dapat mengerti hal ini karena kita mengetahui bahwa Kristus adalah Allah Yang Kekal dan juga datang sebagai Anak Manusia, dan oleh karena itu Dia dapat berkuasa dan memerintah.
Kemudian fokus yang Allah tekankan adalah Ia harus duduk di sebelah kanan Allah sampai semua musuh-musuh-Nya dibuat menjadi tumpuan kaki-Nya. Dalam kitab Efesus 1:19-23 kita membaca demikian:
"dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan TIAP-TIAP NAMA yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu."
Sebenarnya ungkapan "diletakkan dibawah kaki" adalah gaya bahasa yang Allah gunakan untuk menunjuk pada "kemenangan total" atau penaklukkan atas musuh. Kitab Mazmur 47:2-3 menyatakan demikian:
"Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita"
Jadi anda melihat bahwa ini gambaran dari menjadi pemenang yang berjalan maju, atau berjalan di atas orang-orang yang tidak diselamatkan, yang menunjukkan bahwa mereka telah ditaklukkan secara total.
Kemudian mari kita melihat pada contoh lainnya dimana Allah menggunakan gambaran yang sama. Allah menggunakan gaya bahasa yang seperti ini di banyak tempat di dalam Alkitab. Dalam kitab Maleakhi 4:2-3 kita membaca demikian:
"Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya [yaitu Kristus]. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang. Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam."
Ungkapan "Surya Kebenaran" sudah tentu menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 1:16). Dan pada hari penghakiman yang terakhir kita akan ada bersama-sama dengan Tuhan Yesus untuk membawa orang-orang yang tidak diselamatkan kepada penghakiman. Dan untuk menunjukkan fakta bahwa mereka telah ditaklukkan, bahwa mereka akan dimusnahkan untuk selama-lamanya, Allah menggunakan gambaran bahwa mereka adalah "abu yang berada di bawah telapak kaki."
Apakah anda dapat mengerti mengapa Allah menggunakan ungkapan "abu" ? Itu adalah karena Allah menggambarkan Neraka sebagai "lautan api", dimana asapnya naik ke atas sampai selama-lamanya. Dan itu adalah gaya bahasa yang menekankan kengerian yang dahsyat dari Neraka. Sekarang disini kita membaca dalam Ibrani 10 bahwa Dia masih menunggu, sedangkan dalam Efesus 5 dikatakan bahwa semuanya telah dilakukan. Dan lihatlah dalam kitab Matius pasal 28 dimana kita menemukan ini dijelaskan dalam sudut pandang yang lainnya. Dalam Matius 28:18 kita membaca demikian:
"Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus"
Nah, disini dikatakan "segala kuasa" sudah diberikan kepada Kristus. Apakah yang terjadi? Apakah Kristus sudah memerintah atas musuh-musuh-Nya? Apakah mereka sudah berada di bawah tumpuan kaki-Nya, atau mereka masih harus dibawa ke bawah tumpuan kaki-Nya?
Kedua hal ini adalah benar. Dalam satu pengertian, Iblis telah diberikan pukulan yang mematikan ketika Kristus pergi ke kayu salib. Ingatlah kita membaca dalam kitab Wahyu 13:3 yang berbicara tentang Iblis, yaitu binatang yang keluar dari dalam laut, demikian:
"Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu."
Satu hal yang harus kita ingat ketika membahas hal ini, Kristus adalah AKU ADALAH AKU ADA (THE GREAT I AM - Keluaran 3:14). Dia berasal dari kekekalan yang lampau dan berlanjut terus sampai kekekalan yang akan datang. Segala sesuatu tentang Dia secara prinsip telah selesai dilakukan sejak sebelum dunia dijadikan, walaupun masih harus dilakukan, karena Dia berasal dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang.
Seperti misalnya kitab Wahyu menyatakan Yesus sebagai "Anak Domba yang disembelih sejak sebelum dunia dijadikan" (Wahyu 13:8). Sekarang jika Ia adalah Anak Domba yang telah disembelih sejak sebelum dunia dijadikan itu berarti implikasi dari kayu salib akan ditanggung oleh siapa yang ditetapkan untuk menanggungnya. Dalam kata lain, hal ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Imam Besar Agung dan juga seorang Raja dan Ia harus datang untuk melakukan semuanya.
Kenyataan bahwa Ia adalah "Anak Domba yang disembelih sejak sebelum dunia dijadikan" berarti Ia sudah memerintah sebagai "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" dari sejak dahulu kala. Dari sejak permulaan Dia sudah duduk disebelah kanan Allah dan sudah diberikan kuasa atas segala sesuatu di dalam ciptaan yang sekarang maupun ciptaan yang akan datang. Semua hal ini secara prinsip telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan.
Akan tetapi ada pengertian lainnya. Dia masih harus duduk di sebelah kanan Allah sampai musuh-musuh-Nya dibuat menjadi tumpuan kaki-Nya. Sekarang ketika Ia pergi ke kayu salib, dalam cara yang sangat dramatis kita melihat kemenangan-Nya atas musuh-musuh-Nya. Dia memberikan Iblis pukulan yang mematikan walaupun secara prinsip semuanya hal ini telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan. Akan tetapi Ia masih harus menunggu. Mengapa? Karena masih ada aspek-aspek dari hal ini yang harus digenapi. Kita membaca tentang Iblis yang berjalan-jalan seperti singa yang mengaum dan kitab Wahyu pasal 13 berbicara tentang Iblis yang "dilepaskan" untuk sedikit waktu lamanya pada akhir zaman. Dan kitab Wahyu 13:7 menubuatkan demikian:
"Dan ia [yaitu Iblis] diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih."
Ini kedengarannya sepertinya Iblis masih belum ditundukkan oleh Yesus. Ini kedengarannya bahwa Iblis adalah pemenangnya. Akan tetapi, pukulan yang mematikan yang diterima Iblis pada peristiwa kayu salib, akan menemukan kegenapannya yang total pada hari penghakiman yang terakhir. Pada hari penghakiman yang terakhir Iblis akan dibuang ke dalam Neraka. Kita membaca mengenai hal ini dalam kitab Wahyu 19:20 dimana Tuhan menggunakan gambaran dari seekor binatang dan seorang nabi palsu. Dan nabi palsu ini merupakan gambaran dari pengikut-pengikut Iblis. Dalam ayat itu kita membaca demikian:
"Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda [yaitu mujizat simeon] di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang."
Jadi disini kita melihat bahwa dalam satu pengertian Kristus adalah "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" dari sejak permulaan waktu, dan dalam pengertian lain Dia menjadi "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" ketika Ia duduk disebelah kanan Allah seperti yang kita baca dalam kitab Efesus pasal 1. Dan Ia diberikan kuasa atas segala sesuatu baik yang ada di dunia yang sekarang maupun di dunia yang akan datang. Dan dalam pengertian lainnya Ia akan menjadi "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" secara total ketika hari penghakiman yang terakhir tiba dan Ia akan melenyapkan segala kejahatan dan menghancurkannya seluruhnya ketika Ia membuang mereka semua ke dalam Neraka, dan itu termasuk Iblis dan semua malaikat yang jatuh, dan semua mereka yang memberontak melawan Dia, sehingga lenyaplah segala "permusuhan". Hal itu akan hilang sama sekali.
Itulah sebabnya mengapa dalam kitab Ibrani 10:13 kita membaca bahwa:
"Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya."
Jadi sebenarnya secara prinsip Kristus telah menang dan memerintah dan Ia akan menjadi pemenang yang total di akhir zaman. Segala sesuatu yang Tuhan rencanakan pasti akan terjadi walaupun di dalam prinsip semua hal ini telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan.
Bagian Alkitab ini sedang menekankan ke-imam-an dari Tuhan Yesus Kristus dan kenyataan bahwa Ia adalah Imam Besar Agung yang mengurbankan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba yang tidak bercacat supaya kita dapat dibebaskan dari semua dosa-dosa kita.
Pada kenyataannya, dalam sifat alaminya, manusia telah memberontak dan menjadi "musuh" Allah, dan sekarang Iblis sendiri telah menjadi raja rohani atas mereka (Kolose 1:13, Kis. 26:18, Efesus 5:8, 1 Petrus 2:9).
Dan sekarang kita memiliki alam semesta yang berada dibawah kutuk. Sebenarnya alam semesta ini berada di bawah kutuk oleh karena manusia sendiri, yang merupakan ciptaan yang tertinggi dan terhormat. Manusia yang sudah diberikan kuasa atas ciptaan ini telah memberontak melawan Allah sehingga mereka menjadi subjek dari kematian, menjadi subjek dari kehancuran. Dan Allah juga telah mengutuk seluruh alam semesta ini karena kalau tidak kita akan memiliki penguasa yang tidak sempurna (yaitu manusia) dalam alam semesta yang sempurna. Dan itu akan merupakan situasi yang terbalik yang tidak akan berlangsung lama. Jadi seluruh bumi yang sekarang ini telah berada dibawah kutuk.
Sekarang Tuhan telah memberikan Iblis kuasa atas seluruh alam semesta ini karena hak penaklukannya terhadap Adam dan Hawa (yaitu manusia). Kemudian adalah satu hal untuk membayar upah dari semua dosa-dosa umat pilihan yang juga telah memberontak, tetapi Tuhan masih harus berurusan dengan alam semesta ini, dan dengan malaikat-malaikat yang jatuh, dan dengan mereka semua yang tidak diselamatkan, yaitu hamba-hamba Iblis. Tuhan masih harus berurusan dengan mereka semua. Tuhan harus menghancurkan mereka. Tuhan harus menang terhadap mereka. Tuhan harus mengambil seluruh kekuasaan kembali dari Iblis.
Jadi Kristus harus datang bukan saja sebagai Imam Besar untuk membayar upah dosa-dosa kita, tetapi Ia juga harus datang sebagai Raja untuk menaklukkan Iblis, dan mengalahkan orang-orang yang tidak diselamatkan dari dunia ini, dan memenangkan hak untuk menumpahkan murka-Nya terhadap mereka. Mereka akan dibawa ke hadapan tahta penghakiman Tuhan, dan mereka akan ditemukan bersalah, dan kemudian mereka akan dibuang ke dalam Neraka yang kekal.
Dalam kitab Mazmur 110 kita menemukan pernyataan bahwa Allah Yehovah berkata tentang Mesias yang akan datang sebagai Tuhan. Akan tetapi sebenarnya Yehovah dan Kristus adalah satu dan sama, dan itu adalah misteri ilahi dari Allah Tri-tunggal -- yang tidak dapat kita mengerti secara penuh. Dalam kitab Mazmur 110:1-7 kita membaca demikian:
"Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN [yaitu Yehovah] kepada tuanku [dalam bahasa aslinya ini adalah kata "Tuhan"]: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentara bangsa-Mu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan KEKUDUSAN [yaitu Kristus Sang Firman]; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. TUHAN [yaitu Yehovah] telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk
selama-lamanya, menurut Melkisedek." TUHAN ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas. Dari sungai di tepi jalan ia minum, oleh sebab itu ia mengangkat kepala."
Kita menemukan ungkapan "Duduk di sebelah kanan Allah sampai musuh-musuh-Nya dijadikan tumpuan kaki-Nya" di banyak tempat di dalam Alkitab. Seperti misalnya dalam kitab Matius 22:45 Yesus bertanya kepada ahli-ahli hukum Taurat dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang ada pada waktu itu: "Jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Dan disitu Yesus sedang mengutip dari Mazmur 110:1 yang kita baca di atas.
Dengan kata lain, ada pertanyaan yang diangkat disini, bagaimana mungkin Anak Daud yang adalah seorang manusia menjadi Tuhan atas Daud yang adalah Raja dari Israel? Jadi ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh bangsa Israel dan pemimpin-pemimpin agama mereka. Tentu saja kita dapat mengerti hal ini karena kita mengetahui bahwa Kristus adalah Allah Yang Kekal dan juga datang sebagai Anak Manusia, dan oleh karena itu Dia dapat berkuasa dan memerintah.
Kemudian fokus yang Allah tekankan adalah Ia harus duduk di sebelah kanan Allah sampai semua musuh-musuh-Nya dibuat menjadi tumpuan kaki-Nya. Dalam kitab Efesus 1:19-23 kita membaca demikian:
"dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan TIAP-TIAP NAMA yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu."
Sebenarnya ungkapan "diletakkan dibawah kaki" adalah gaya bahasa yang Allah gunakan untuk menunjuk pada "kemenangan total" atau penaklukkan atas musuh. Kitab Mazmur 47:2-3 menyatakan demikian:
"Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita"
Jadi anda melihat bahwa ini gambaran dari menjadi pemenang yang berjalan maju, atau berjalan di atas orang-orang yang tidak diselamatkan, yang menunjukkan bahwa mereka telah ditaklukkan secara total.
Kemudian mari kita melihat pada contoh lainnya dimana Allah menggunakan gambaran yang sama. Allah menggunakan gaya bahasa yang seperti ini di banyak tempat di dalam Alkitab. Dalam kitab Maleakhi 4:2-3 kita membaca demikian:
"Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya [yaitu Kristus]. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang. Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam."
Ungkapan "Surya Kebenaran" sudah tentu menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 1:16). Dan pada hari penghakiman yang terakhir kita akan ada bersama-sama dengan Tuhan Yesus untuk membawa orang-orang yang tidak diselamatkan kepada penghakiman. Dan untuk menunjukkan fakta bahwa mereka telah ditaklukkan, bahwa mereka akan dimusnahkan untuk selama-lamanya, Allah menggunakan gambaran bahwa mereka adalah "abu yang berada di bawah telapak kaki."
Apakah anda dapat mengerti mengapa Allah menggunakan ungkapan "abu" ? Itu adalah karena Allah menggambarkan Neraka sebagai "lautan api", dimana asapnya naik ke atas sampai selama-lamanya. Dan itu adalah gaya bahasa yang menekankan kengerian yang dahsyat dari Neraka. Sekarang disini kita membaca dalam Ibrani 10 bahwa Dia masih menunggu, sedangkan dalam Efesus 5 dikatakan bahwa semuanya telah dilakukan. Dan lihatlah dalam kitab Matius pasal 28 dimana kita menemukan ini dijelaskan dalam sudut pandang yang lainnya. Dalam Matius 28:18 kita membaca demikian:
"Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus"
Nah, disini dikatakan "segala kuasa" sudah diberikan kepada Kristus. Apakah yang terjadi? Apakah Kristus sudah memerintah atas musuh-musuh-Nya? Apakah mereka sudah berada di bawah tumpuan kaki-Nya, atau mereka masih harus dibawa ke bawah tumpuan kaki-Nya?
Kedua hal ini adalah benar. Dalam satu pengertian, Iblis telah diberikan pukulan yang mematikan ketika Kristus pergi ke kayu salib. Ingatlah kita membaca dalam kitab Wahyu 13:3 yang berbicara tentang Iblis, yaitu binatang yang keluar dari dalam laut, demikian:
"Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu."
Satu hal yang harus kita ingat ketika membahas hal ini, Kristus adalah AKU ADALAH AKU ADA (THE GREAT I AM - Keluaran 3:14). Dia berasal dari kekekalan yang lampau dan berlanjut terus sampai kekekalan yang akan datang. Segala sesuatu tentang Dia secara prinsip telah selesai dilakukan sejak sebelum dunia dijadikan, walaupun masih harus dilakukan, karena Dia berasal dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang.
Seperti misalnya kitab Wahyu menyatakan Yesus sebagai "Anak Domba yang disembelih sejak sebelum dunia dijadikan" (Wahyu 13:8). Sekarang jika Ia adalah Anak Domba yang telah disembelih sejak sebelum dunia dijadikan itu berarti implikasi dari kayu salib akan ditanggung oleh siapa yang ditetapkan untuk menanggungnya. Dalam kata lain, hal ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Imam Besar Agung dan juga seorang Raja dan Ia harus datang untuk melakukan semuanya.
Kenyataan bahwa Ia adalah "Anak Domba yang disembelih sejak sebelum dunia dijadikan" berarti Ia sudah memerintah sebagai "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" dari sejak dahulu kala. Dari sejak permulaan Dia sudah duduk disebelah kanan Allah dan sudah diberikan kuasa atas segala sesuatu di dalam ciptaan yang sekarang maupun ciptaan yang akan datang. Semua hal ini secara prinsip telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan.
Akan tetapi ada pengertian lainnya. Dia masih harus duduk di sebelah kanan Allah sampai musuh-musuh-Nya dibuat menjadi tumpuan kaki-Nya. Sekarang ketika Ia pergi ke kayu salib, dalam cara yang sangat dramatis kita melihat kemenangan-Nya atas musuh-musuh-Nya. Dia memberikan Iblis pukulan yang mematikan walaupun secara prinsip semuanya hal ini telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan. Akan tetapi Ia masih harus menunggu. Mengapa? Karena masih ada aspek-aspek dari hal ini yang harus digenapi. Kita membaca tentang Iblis yang berjalan-jalan seperti singa yang mengaum dan kitab Wahyu pasal 13 berbicara tentang Iblis yang "dilepaskan" untuk sedikit waktu lamanya pada akhir zaman. Dan kitab Wahyu 13:7 menubuatkan demikian:
"Dan ia [yaitu Iblis] diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih."
Ini kedengarannya sepertinya Iblis masih belum ditundukkan oleh Yesus. Ini kedengarannya bahwa Iblis adalah pemenangnya. Akan tetapi, pukulan yang mematikan yang diterima Iblis pada peristiwa kayu salib, akan menemukan kegenapannya yang total pada hari penghakiman yang terakhir. Pada hari penghakiman yang terakhir Iblis akan dibuang ke dalam Neraka. Kita membaca mengenai hal ini dalam kitab Wahyu 19:20 dimana Tuhan menggunakan gambaran dari seekor binatang dan seorang nabi palsu. Dan nabi palsu ini merupakan gambaran dari pengikut-pengikut Iblis. Dalam ayat itu kita membaca demikian:
"Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda [yaitu mujizat simeon] di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang."
Jadi disini kita melihat bahwa dalam satu pengertian Kristus adalah "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" dari sejak permulaan waktu, dan dalam pengertian lain Dia menjadi "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" ketika Ia duduk disebelah kanan Allah seperti yang kita baca dalam kitab Efesus pasal 1. Dan Ia diberikan kuasa atas segala sesuatu baik yang ada di dunia yang sekarang maupun di dunia yang akan datang. Dan dalam pengertian lainnya Ia akan menjadi "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" secara total ketika hari penghakiman yang terakhir tiba dan Ia akan melenyapkan segala kejahatan dan menghancurkannya seluruhnya ketika Ia membuang mereka semua ke dalam Neraka, dan itu termasuk Iblis dan semua malaikat yang jatuh, dan semua mereka yang memberontak melawan Dia, sehingga lenyaplah segala "permusuhan". Hal itu akan hilang sama sekali.
Itulah sebabnya mengapa dalam kitab Ibrani 10:13 kita membaca bahwa:
"Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya."
Jadi sebenarnya secara prinsip Kristus telah menang dan memerintah dan Ia akan menjadi pemenang yang total di akhir zaman. Segala sesuatu yang Tuhan rencanakan pasti akan terjadi walaupun di dalam prinsip semua hal ini telah diselesaikan sejak sebelum dunia dijadikan.
Baptis Pencucian dari dosa dosa kita
Pada hari sekarang ini ada banyak ajaran yang salah mengenai kata "baptis" di dalam Alkitab sehingga sering membawa kita kepada kesalahan yang sangat serius pada pengajaran tentang dasar dari keselamatan. Oleh karena itu sangat penting sekali kalau kita mengerti dengan jelas ajaran Alkitab mengenai baptisan. Pertama-tama di dalam Alkitab kata "baptis" selalu berarti disucikan/dibersihkan/dibasuh. Dan kita dibersihkan dari dosa-dosa kita ketika Allah Roh Kudus menerapkan Firman Tuhan di dalam kehidupan kita seperti yang kita baca di Yohanes 3:3-6 demikian:
"Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali [yaitu menerima kebangkitan jiwa yang baru], ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari Air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari DAGING, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh."
Jadi baptisan ini bukan menunjuk kepada suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, tetapi ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam semua aspek-aspeknya. Perhatikan dalam kitab Yehezkiel 36:24-27 Tuhan berkata demikian:
"AKU akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu [yaitu Tanah Perjanjian atau Kerajaan Surga]. AKU akan mencurahkan [yaitu memercikkan atau sprinkle - KJV] kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu AKU akan mentahirkan kamu. Kamu akan KUBERIKAN hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan AKU akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan KUBERIKAN kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan KUBERIKAN diam di dalam batinmu dan AKU akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya."
Pada kenyataannya kita tidak dapat memberikan kepada diri kita sendiri "kebangkitan jiwa yang baru", pada kenyataannya kita tidak dapat pergi ke dalam Neraka yang kekal untuk menebus upah dosa-dosa kita dan kemudian keluar lagi dari sana. Hanya Allah sendiri yang dapat berbuat demikian.
Kemudian adalah benar kalau kita melihat di dalam kamus kata Yunani Baptizo kadang dapat diartikan sebagai celup atau selam, akan tetapi Alkitab menggunakan kata "Bapto" yang berarti dicelup dan kata Baptizo dan Baptismos yang berarti "disucikan/dibersihkan/dibasuh" secara berbeda.
Contoh yang cukup jelas dari hal ini bisa kita lihat dalam kitab Markus 7:3-4 yang kita baca demikian:
"Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan [baptizo] tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci [baptismos] cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga [dan meja makan - KJV]."
Disini kita melihat bahwa kita tidak mencelup perkakas atau "meja makan" untuk membersihkannya, tetapi kita membasuhnya dengan air untuk membuatnya menjadi bersih. Dan kita harus ingat bahwa arti rohani dari ungkapan "air" di dalam Alkitab adalah "Injil" atau Gospel (God's Spell).
Ini menerangkan bahwa kata "baptis" di dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada "penyucian" atau "pembersihan" atau "pembasuhan". Di dalam seluruh Alkitab kata ini tidak pernah berarti untuk dicelup atau diselam.
Ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" (Mat. 3:16, Kis. 8:38-39) tidak selalu berarti bahwa mereka melakukan upacara baptis air secara selam. Bila airnya hanya ada sampai sebatas mata kaki atau lutut kita juga bisa menggunakan ungkapan "keluar dari air" atau "turun ke dalam air". Dalam kitab Kisah Para Rasul 8:38-39 sangat jelas dikatakan bahwa mereka "berdua" yaitu Filipus dan sida-sida Etiopia itu turun ke dalam air dan "mereka berdua" keluar dari air. Oleh karena itu tidak mungkin kalau ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" itu berarti baptisan secara selam.
Lagipula Yesus harus melakukan upacara baptis air dengan cara yang sama persis seperti cara imam-imam keturunan Harun, yaitu suku Lewi, di dalam Perjanjian Lama melakukan upacara baptis air, yaitu dengan cara membasuh "tangan dan kaki" mereka dengan air yang ada di bejana tembaga yang terletak di Bait Suci.
Dalam hukum Taurat di kitab Keluaran 30:17-21 kita membaca demikian:
"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya. Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh TANGAN dan KAKI mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk SELAMA-LAMANYA, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."
Tetapi karena Yesus adalah keturunan Daud dari suku Yehuda dan imam-imam adalah keturunan suku Lewi maka untuk resminya Allah mempersiapkan Yohanes Pembaptis (Yahya bin Zakaria) seorang imam keturunan Harun untuk membaptis Yesus di sungai Yordan karena Yesus tidak dapat menggunakan bejana tembaga yang ada di dalam Bait Suci.
Sebenarnya bejana pembasuhan dan ruang maha suci secara harafiah berada di kota Yerusalem di Timur Tengah, sedangkan mezbah Yesus adalah kayu salib dan tempat yang maha kudus itu adalah Surga sendiri dimana Allah berada (Ibrani 8:1-2, Ibrani 9:24). Oleh karena itu hal ini cukup berbeda dengan bejana tembaga di Bait Suci yang digunakan untuk upacara pembasuhan imam-imam Perjanjian Lama.
Perhatikan setelah Yesus dibaptis di Sungai Yordan, langit terbuka dan "Roh Allah" yang berbentuk seperti burung merpati turun ke atas Yesus. Hal ini menunjuk kepada "baptisan rohani" atau "baptisan Roh Kudus" yang juga disebut sebagai "minyak urapan" dalam Perjanjian Lama.
Para imam keturunan Harun harus diurapi dengan "minyak" setelah mereka dibasuh dengan air. Mereka harus ditahbiskan dengan "minyak urapan yang kudus" sebelum mereka dapat melayani sebagai imam (Keluaran 30:22-31). Di dalam Alkitab "minyak" secara rohani adalah simbol dari "Roh Kudus". Dan Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14, Ibrani 5:6, Ibrani 7) jadi Dia juga harus memenuhi tata cara ibadah yang ada di dalam Perjanjian Lama.
Dapatkah anda melihat bagaimana semua hal ini berhubungan dengan sangat erat? Begitulah karakter dari Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara tentang hal yang sama yaitu YESUS KRISTUS (Yohanes 5:39).
Ia yang tidak berdosa tetapi telah menjadi berdosa karena dosa-dosa kita dan Ia telah mengosongkan diri-Nya dari segala kemuliaan yang dimiliki-Nya dan sepenuhnya menyamakan diri dengan manusia yang berdosa (2 Korintus 5:21, Filipi 2:6-7).
Jadi Yesus harus mengikuti tata cara ibadat dari imam-imam Perjanjian Lama karena Yesus adalah Imam Besar Agung yang kekal untuk selama-lamanya, dan pengurapan tidak harus dengan minyak yang merupakan simbol dari Roh Kudus, tetapi Ia diurapi langsung dengan Roh Kudus yang digambarkan seperti burung merpati di hadapan orang banyak. Dalam kitab Matius 3:16-17 kita membaca demikian:
"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Disini Yesus diurapi untuk tugas-Nya sebagai Imam Besar Agung dan rasul Petrus menegaskan hal ini lagi dalam kitab Kisah Para Rasul 10:38 demikian:
"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa ........... "
Setelah Yesus dibasuh air dan diurapi Roh Kudus, sekarang Ia siap melayani sebagai Imam Besar Agung (Imam Mahdi) untuk mempersembahkan kurban bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Jadi sebenarnya disini Yesus memiliki peran ganda, Ia bukan saja datang sebagai Imam Besar Agung yang bertugas mengurbankan kurban yang tidak bercacat untuk dosa-dosa umat-Nya tetapi Ia juga sekaligus adalah Anak Domba yang tidak bercacat (yaitu tidak pernah berbuat dosa baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan) yang menyerahkan tubuh dan darah-Nya sekali untuk selama-lamanya sebagai kurban penebus dosa yang sesuai dengan syarat-syarat Allah.
Sekarang kita melihat dengan cukup jelas bahwa upacara baptis air hanyalah sebuah "tanda" atau kiasan atau bayangan atau perumpamaan dimana hal ini menunjuk kepada pembersihan yang sudah terjadi atau yang kita harapkan akan terjadi di dalam kehidupan kita, yaitu, pembersihan dari dosa-dosa kita (pembersihan rohani).
Semua referensi yang kita miliki di dalam Alkitab tentang kata Yunani Baptizo atau Baptismos yang diterjemahkan menjadi ungkapan "baptisan" atau "membaptis" memiliki pengertian baptisan rohani, yaitu penyucian/pembasuhan/pembersihan yang akan dilakukan oleh Tuhan untuk menyelamatkan kita.
Sekarang kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata dalam kitab Markus 16:16 demikian:
"Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."
Cukup jelas dinyatakan disini bahwa baptisan adalah suatu syarat yang harus dipenuhi supaya kita dapat diselamatkan. Tetapi ini tidak menunjuk kepada upacara baptis air secara fisik atau suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, karena bukanlah sejumlah air betulan yang akan membasuh dosa-dosa kita, hal ini menunjuk kepada penyucian/pembasuhan/pembersihan yang dilakukan oleh Allah Roh Kudus ketika Ia menerapkan Firman Tuhan di dalam kehidupan kita.
Jika satu buah dosa yang paling kecil saja tidak diserahkan untuk ditanggungkan kepada Tuhan Yesus, sehingga Ia menderita murka Allah bagi dosa tersebut, maka orang itu tidak dapat diselamatkan. Tetapi semua orang yang Allah rencanakan untuk Ia selamatkan akan diselamatkan karena seluruh dosa-dosa mereka sudah ditanggungkan kepada Tuhan Yesus Kristus.
Dan bukti dari keselamatan itu adalah kita memiliki iman untuk percaya dengan sepenuh hati dan memiliki kemauan yang jujur, sungguh-sungguh dan terus menerus untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Dan "Iman" atau Kepercayaan tersebut adalah hasil dari karya Tuhan bukan karya kita sendiri.
Demikian juga dengan baptisan yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti Markus 16:16. Dalam kitab Kisah Para Rasul 2:38 kita baca demikian:
"Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus."
Kita harus mengerti bahwa upacara baptis air secara harafiah bukanlah baptisan yang dimaksudkan di dalam ayat ini. Baptisan ini adalah baptisan rohani yang kita alami sebagaimana Tuhan melalui Firman-Nya membersihkan dosa-dosa kita. Hanya ketika Tuhan menerapkan pembasuhan atau pembersihan rohani ini di dalam hidup kita maka kita dapat diselamatkan.
Perintah untuk bertobat dan dibaptis adalah sama dengan pernyataan rasul Paulus kepada sipir penjara di Filipi ketika ia mengatakan kepadanya supaya ia "percaya kepada Tuhan Yesus" (Kis. 16:31).
Orang-orang yang berbicara kepada rasul Petrus di Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti sipir penjara di Filipi yang belum diselamatkan dan masih berada dalam keadaan "mati atau sakit secara rohani" (Roma 3:10-12, Yohanes 5:25, Yohanes 11:25, 1 Korintus 15:22, Efesus 2:1). Dan untuk membasuh dosa-dosa mereka atau untuk sampai kepada suatu syarat supaya mereka dapat percaya kepada Kristus dengan sepenuh hati adalah sesuatu hal yang tidak mampu untuk mereka lakukan sendiri. Tuhan-lah yang harus melakukan karya itu di dalam diri mereka. Itulah sebabnya kita membaca prinsip Alkitab yang sangat penting di Efesus 2:8-9 demikian:
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Kita tidak pernah dapat diselamatkan oleh suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, pekerjaan keselamatan seluruhnya harus dilakukan secara rohani oleh Tuhan. Adalah benar bahwa seseorang yang belum diselamatkan juga mampu berbalik dari dosa ini atau dosa itu, akan tetapi pertobatan yang merupakan "hasil" dari keselamatan yang sejati adalah kita harus secara utuh berbalik ke arah yang berlawanan dari arah yang kita jalani sebelumnya. Dan seserang yang masih mati secara rohani tidak mampu untuk melakukan hal ini.
Untuk percaya dengan segenap hati, untuk bertobat dengan segenap hati, untuk dibaptis (yaitu dibersihkan dari dosa-dosa kita) semua ini harus dilakukan oleh Tuhan. Tuhan-lah yang harus menyucikan kita dari semua dosa-dosa kita, Tuhan-lah yang harus memberikan kepada kita "kebangkitan jiwa/roh yang baru" sehingga hidup kita akan berbalik dari melayani diri sendiri kepada melayani Tuhan.
Tuhan harus memberikan kita Iman sehingga selanjutnya kita percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati, yaitu, kita akan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa apa yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah mutlak benar dan memiliki otoritas yang tertinggi dan terutama di atas segala sesuatu yang lain.
Dengan cara yang sama kita dapat mengerti perintah yang diberikan kepada Paulus, atau Saulus dari Tarsus, setelah ia dibutakan selama tiga hari dan ketika Yesus menampakkan diri kepadanya. Kita membaca bahwa seorang pengikut jalan Tuhan yang bernama Ananias berkata kepada Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul 22:16 demikian:
"Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah [yaitu bangkitlah], berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"
Beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa ayat ini adalah bukti tertulis bahwa upacara baptis air adalah syarat mutlak bagi keselamatan. Tetapi seperti yang telah kita pelajari, hal itu adalah mustahil. Sesungguhnya air betulan secara harafiah tidak disebutkan di dalam ayat ini atau juga dalam kitab Markus 16:16 atau di Kisah Rasul 2:38. Sesungguhnya apa yang terjadi adalah Ananias yang beriman melalui karya yang dilakukan oleh Tuhan memerintahkan Paulus untuk bangun (menjadi bangkit secara rohani) dan dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosanya oleh karya Roh Kudus).
Tentu saja Paulus tidak dapat melakukan hal-hal itu sendirian. Hanya Tuhan saja yang mampu melakukan hal-hal itu, sehingga kita dapat mengerti bahwa inilah saat keselamatan bagi dirinya. Ini tidak disebabkan karena Paulus dalam suatu cara telah ikut berusaha dalam suatu perbuatan atau pekerjaan tertentu untuk membuat dirinya diselamatkan. Pada kenyataannya pada waktu itu Paulus, yang adalah Saulus dari Tarsis, masih berada dalam pemberontakan yang keras terhadap jalan Tuhan. Paulus sedang menangkapi dan membunuh pengikut-pengikut "jalan Tuhan" (Injil Kasih Karunia). Dan Tuhan-lah yang harus melakukan semua pekerjaan-pekerjaan untuk membangkitkan jiwanya dari kematian rohani dan menghapuskan semua dosa-dosanya.
Dan bukti bahwa ini adalah saat keselamatan ketika Tuhan menyembuhkan Paulus dapat dilihat dalam pernyataan di kitab Kisah Para Rasul 9:18 yang kita baca demikian:
"Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis."
Ada selaput yang gugur dari matanya mengingatkan kita tentang pernyataan dalam kitab 2 Korintus 3:14-16 yang berkata demikian:
"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca Perjanjian Lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya KRISTUS saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan [yaitu Kristus], maka selubung itu diambil dari padanya."
Dengan kata lain, gugurnya selaput dari mata Paulus ini berarti mata rohaninya telah dibuka. Ia telah diselamatkan, telah disembuhkan secara rohani dan dosa-dosanya telah dihapuskan. Jadi kesimpulan yang kita dapatkan adalah di dalam Perjanjian Baru kata "baptisan" selalu digunakan untuk menerangkan "penyucian" atau "pembersihan" atau "pembasuhan" dari dosa-dosa kita.
Kata ini tidak pernah berarti untuk dicelup atau diselam. Dalam Perjanjian Lama, sebagai bagian dari tata cara ibadat, tiga metode diterapkan untuk menandakan penyucian rohani: kurban darah, kurban bakaran dan pembasuhan secara fisik. Tetapi tidak satupun dari tindakan tersebut yang dapat menyediakan penyucian rohani yang sebenarnya. Mereka hanya bernilai sebagai "bayangan" atau tanda atau kiasan yang menunjuk kepada penyucian yang akan disediakan melalui kematian dan kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus.
Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah sama seperti baptisan yang diberikan oleh murid-murid pada waktu "sebelum" peristiwa penyaliban, jadi pada dasarnya itu adalah sama dengan tata cara ibadat baptisan dalam Perjanjian Lama walaupun artinya rohaninya jauh lebih bermakna karena saat penyaliban sudah hampir tiba. Sedangkan baptisan Perjanjian Baru (yaitu baptisan Roh Kudus untuk penyucian dosa-dosa kita) dimulai "setelah" peristiwa kayu salib.
Dengan kata lain, sama seperti semua upacara-upacara ibadat semua upacara pembasuhan yang dilakukan di dalam Perjanjian Lama sebelum peristiwa kayu salib, bersama dengan pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan para murid adalah "bayangan" yang menunjuk kepada penyucian/pembasuhan/pembersihan yang disediakan oleh karya Tuhan Yesus Kristus pada kayu salib.
Itulah sebabnya dalam kitab Kisah Para Rasul 19:3-5 kita membaca demikian:
"Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes." Kata Paulus: "Baptisan Yohanes [yaitu baptisan jasmani] adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus PERCAYA kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus [yaitu baptisan rohani]."
Ketika Yesus menderita di kayu salib, Ia disucikan atau dibersihkan dari semua dosa-dosa yang ditanggungkan kepada diri-Nya. Jadi Ia menyediakan pembasuhan yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya sebagai penebus dari dosa-dosa mereka. Dan lebih lanjut, Yesus menggenapi seluruh hukum-hukum upacara yang merupakan bayangan di dalam Perjanjian Lama yang menunjuk kepada tindakan pembasuhan pada peristiwa kayu salib (Kolose 2:16-17).
"Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali [yaitu menerima kebangkitan jiwa yang baru], ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari Air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari DAGING, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh."
Jadi baptisan ini bukan menunjuk kepada suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, tetapi ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam semua aspek-aspeknya. Perhatikan dalam kitab Yehezkiel 36:24-27 Tuhan berkata demikian:
"AKU akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu [yaitu Tanah Perjanjian atau Kerajaan Surga]. AKU akan mencurahkan [yaitu memercikkan atau sprinkle - KJV] kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu AKU akan mentahirkan kamu. Kamu akan KUBERIKAN hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan AKU akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan KUBERIKAN kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan KUBERIKAN diam di dalam batinmu dan AKU akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya."
Pada kenyataannya kita tidak dapat memberikan kepada diri kita sendiri "kebangkitan jiwa yang baru", pada kenyataannya kita tidak dapat pergi ke dalam Neraka yang kekal untuk menebus upah dosa-dosa kita dan kemudian keluar lagi dari sana. Hanya Allah sendiri yang dapat berbuat demikian.
Kemudian adalah benar kalau kita melihat di dalam kamus kata Yunani Baptizo kadang dapat diartikan sebagai celup atau selam, akan tetapi Alkitab menggunakan kata "Bapto" yang berarti dicelup dan kata Baptizo dan Baptismos yang berarti "disucikan/dibersihkan/dibasuh" secara berbeda.
Contoh yang cukup jelas dari hal ini bisa kita lihat dalam kitab Markus 7:3-4 yang kita baca demikian:
"Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan [baptizo] tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci [baptismos] cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga [dan meja makan - KJV]."
Disini kita melihat bahwa kita tidak mencelup perkakas atau "meja makan" untuk membersihkannya, tetapi kita membasuhnya dengan air untuk membuatnya menjadi bersih. Dan kita harus ingat bahwa arti rohani dari ungkapan "air" di dalam Alkitab adalah "Injil" atau Gospel (God's Spell).
Ini menerangkan bahwa kata "baptis" di dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada "penyucian" atau "pembersihan" atau "pembasuhan". Di dalam seluruh Alkitab kata ini tidak pernah berarti untuk dicelup atau diselam.
Ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" (Mat. 3:16, Kis. 8:38-39) tidak selalu berarti bahwa mereka melakukan upacara baptis air secara selam. Bila airnya hanya ada sampai sebatas mata kaki atau lutut kita juga bisa menggunakan ungkapan "keluar dari air" atau "turun ke dalam air". Dalam kitab Kisah Para Rasul 8:38-39 sangat jelas dikatakan bahwa mereka "berdua" yaitu Filipus dan sida-sida Etiopia itu turun ke dalam air dan "mereka berdua" keluar dari air. Oleh karena itu tidak mungkin kalau ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" itu berarti baptisan secara selam.
Lagipula Yesus harus melakukan upacara baptis air dengan cara yang sama persis seperti cara imam-imam keturunan Harun, yaitu suku Lewi, di dalam Perjanjian Lama melakukan upacara baptis air, yaitu dengan cara membasuh "tangan dan kaki" mereka dengan air yang ada di bejana tembaga yang terletak di Bait Suci.
Dalam hukum Taurat di kitab Keluaran 30:17-21 kita membaca demikian:
"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya. Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh TANGAN dan KAKI mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk SELAMA-LAMANYA, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."
Tetapi karena Yesus adalah keturunan Daud dari suku Yehuda dan imam-imam adalah keturunan suku Lewi maka untuk resminya Allah mempersiapkan Yohanes Pembaptis (Yahya bin Zakaria) seorang imam keturunan Harun untuk membaptis Yesus di sungai Yordan karena Yesus tidak dapat menggunakan bejana tembaga yang ada di dalam Bait Suci.
Sebenarnya bejana pembasuhan dan ruang maha suci secara harafiah berada di kota Yerusalem di Timur Tengah, sedangkan mezbah Yesus adalah kayu salib dan tempat yang maha kudus itu adalah Surga sendiri dimana Allah berada (Ibrani 8:1-2, Ibrani 9:24). Oleh karena itu hal ini cukup berbeda dengan bejana tembaga di Bait Suci yang digunakan untuk upacara pembasuhan imam-imam Perjanjian Lama.
Perhatikan setelah Yesus dibaptis di Sungai Yordan, langit terbuka dan "Roh Allah" yang berbentuk seperti burung merpati turun ke atas Yesus. Hal ini menunjuk kepada "baptisan rohani" atau "baptisan Roh Kudus" yang juga disebut sebagai "minyak urapan" dalam Perjanjian Lama.
Para imam keturunan Harun harus diurapi dengan "minyak" setelah mereka dibasuh dengan air. Mereka harus ditahbiskan dengan "minyak urapan yang kudus" sebelum mereka dapat melayani sebagai imam (Keluaran 30:22-31). Di dalam Alkitab "minyak" secara rohani adalah simbol dari "Roh Kudus". Dan Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14, Ibrani 5:6, Ibrani 7) jadi Dia juga harus memenuhi tata cara ibadah yang ada di dalam Perjanjian Lama.
Dapatkah anda melihat bagaimana semua hal ini berhubungan dengan sangat erat? Begitulah karakter dari Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara tentang hal yang sama yaitu YESUS KRISTUS (Yohanes 5:39).
Ia yang tidak berdosa tetapi telah menjadi berdosa karena dosa-dosa kita dan Ia telah mengosongkan diri-Nya dari segala kemuliaan yang dimiliki-Nya dan sepenuhnya menyamakan diri dengan manusia yang berdosa (2 Korintus 5:21, Filipi 2:6-7).
Jadi Yesus harus mengikuti tata cara ibadat dari imam-imam Perjanjian Lama karena Yesus adalah Imam Besar Agung yang kekal untuk selama-lamanya, dan pengurapan tidak harus dengan minyak yang merupakan simbol dari Roh Kudus, tetapi Ia diurapi langsung dengan Roh Kudus yang digambarkan seperti burung merpati di hadapan orang banyak. Dalam kitab Matius 3:16-17 kita membaca demikian:
"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Disini Yesus diurapi untuk tugas-Nya sebagai Imam Besar Agung dan rasul Petrus menegaskan hal ini lagi dalam kitab Kisah Para Rasul 10:38 demikian:
"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa ........... "
Setelah Yesus dibasuh air dan diurapi Roh Kudus, sekarang Ia siap melayani sebagai Imam Besar Agung (Imam Mahdi) untuk mempersembahkan kurban bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Jadi sebenarnya disini Yesus memiliki peran ganda, Ia bukan saja datang sebagai Imam Besar Agung yang bertugas mengurbankan kurban yang tidak bercacat untuk dosa-dosa umat-Nya tetapi Ia juga sekaligus adalah Anak Domba yang tidak bercacat (yaitu tidak pernah berbuat dosa baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan) yang menyerahkan tubuh dan darah-Nya sekali untuk selama-lamanya sebagai kurban penebus dosa yang sesuai dengan syarat-syarat Allah.
Sekarang kita melihat dengan cukup jelas bahwa upacara baptis air hanyalah sebuah "tanda" atau kiasan atau bayangan atau perumpamaan dimana hal ini menunjuk kepada pembersihan yang sudah terjadi atau yang kita harapkan akan terjadi di dalam kehidupan kita, yaitu, pembersihan dari dosa-dosa kita (pembersihan rohani).
Semua referensi yang kita miliki di dalam Alkitab tentang kata Yunani Baptizo atau Baptismos yang diterjemahkan menjadi ungkapan "baptisan" atau "membaptis" memiliki pengertian baptisan rohani, yaitu penyucian/pembasuhan/pembersihan yang akan dilakukan oleh Tuhan untuk menyelamatkan kita.
Sekarang kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata dalam kitab Markus 16:16 demikian:
"Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."
Cukup jelas dinyatakan disini bahwa baptisan adalah suatu syarat yang harus dipenuhi supaya kita dapat diselamatkan. Tetapi ini tidak menunjuk kepada upacara baptis air secara fisik atau suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, karena bukanlah sejumlah air betulan yang akan membasuh dosa-dosa kita, hal ini menunjuk kepada penyucian/pembasuhan/pembersihan yang dilakukan oleh Allah Roh Kudus ketika Ia menerapkan Firman Tuhan di dalam kehidupan kita.
Jika satu buah dosa yang paling kecil saja tidak diserahkan untuk ditanggungkan kepada Tuhan Yesus, sehingga Ia menderita murka Allah bagi dosa tersebut, maka orang itu tidak dapat diselamatkan. Tetapi semua orang yang Allah rencanakan untuk Ia selamatkan akan diselamatkan karena seluruh dosa-dosa mereka sudah ditanggungkan kepada Tuhan Yesus Kristus.
Dan bukti dari keselamatan itu adalah kita memiliki iman untuk percaya dengan sepenuh hati dan memiliki kemauan yang jujur, sungguh-sungguh dan terus menerus untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Dan "Iman" atau Kepercayaan tersebut adalah hasil dari karya Tuhan bukan karya kita sendiri.
Demikian juga dengan baptisan yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti Markus 16:16. Dalam kitab Kisah Para Rasul 2:38 kita baca demikian:
"Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus."
Kita harus mengerti bahwa upacara baptis air secara harafiah bukanlah baptisan yang dimaksudkan di dalam ayat ini. Baptisan ini adalah baptisan rohani yang kita alami sebagaimana Tuhan melalui Firman-Nya membersihkan dosa-dosa kita. Hanya ketika Tuhan menerapkan pembasuhan atau pembersihan rohani ini di dalam hidup kita maka kita dapat diselamatkan.
Perintah untuk bertobat dan dibaptis adalah sama dengan pernyataan rasul Paulus kepada sipir penjara di Filipi ketika ia mengatakan kepadanya supaya ia "percaya kepada Tuhan Yesus" (Kis. 16:31).
Orang-orang yang berbicara kepada rasul Petrus di Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti sipir penjara di Filipi yang belum diselamatkan dan masih berada dalam keadaan "mati atau sakit secara rohani" (Roma 3:10-12, Yohanes 5:25, Yohanes 11:25, 1 Korintus 15:22, Efesus 2:1). Dan untuk membasuh dosa-dosa mereka atau untuk sampai kepada suatu syarat supaya mereka dapat percaya kepada Kristus dengan sepenuh hati adalah sesuatu hal yang tidak mampu untuk mereka lakukan sendiri. Tuhan-lah yang harus melakukan karya itu di dalam diri mereka. Itulah sebabnya kita membaca prinsip Alkitab yang sangat penting di Efesus 2:8-9 demikian:
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu [yaitu iman atau kepercayaan tersebut] bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Kita tidak pernah dapat diselamatkan oleh suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, pekerjaan keselamatan seluruhnya harus dilakukan secara rohani oleh Tuhan. Adalah benar bahwa seseorang yang belum diselamatkan juga mampu berbalik dari dosa ini atau dosa itu, akan tetapi pertobatan yang merupakan "hasil" dari keselamatan yang sejati adalah kita harus secara utuh berbalik ke arah yang berlawanan dari arah yang kita jalani sebelumnya. Dan seserang yang masih mati secara rohani tidak mampu untuk melakukan hal ini.
Untuk percaya dengan segenap hati, untuk bertobat dengan segenap hati, untuk dibaptis (yaitu dibersihkan dari dosa-dosa kita) semua ini harus dilakukan oleh Tuhan. Tuhan-lah yang harus menyucikan kita dari semua dosa-dosa kita, Tuhan-lah yang harus memberikan kepada kita "kebangkitan jiwa/roh yang baru" sehingga hidup kita akan berbalik dari melayani diri sendiri kepada melayani Tuhan.
Tuhan harus memberikan kita Iman sehingga selanjutnya kita percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati, yaitu, kita akan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa apa yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah mutlak benar dan memiliki otoritas yang tertinggi dan terutama di atas segala sesuatu yang lain.
Dengan cara yang sama kita dapat mengerti perintah yang diberikan kepada Paulus, atau Saulus dari Tarsus, setelah ia dibutakan selama tiga hari dan ketika Yesus menampakkan diri kepadanya. Kita membaca bahwa seorang pengikut jalan Tuhan yang bernama Ananias berkata kepada Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul 22:16 demikian:
"Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah [yaitu bangkitlah], berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"
Beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa ayat ini adalah bukti tertulis bahwa upacara baptis air adalah syarat mutlak bagi keselamatan. Tetapi seperti yang telah kita pelajari, hal itu adalah mustahil. Sesungguhnya air betulan secara harafiah tidak disebutkan di dalam ayat ini atau juga dalam kitab Markus 16:16 atau di Kisah Rasul 2:38. Sesungguhnya apa yang terjadi adalah Ananias yang beriman melalui karya yang dilakukan oleh Tuhan memerintahkan Paulus untuk bangun (menjadi bangkit secara rohani) dan dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosanya oleh karya Roh Kudus).
Tentu saja Paulus tidak dapat melakukan hal-hal itu sendirian. Hanya Tuhan saja yang mampu melakukan hal-hal itu, sehingga kita dapat mengerti bahwa inilah saat keselamatan bagi dirinya. Ini tidak disebabkan karena Paulus dalam suatu cara telah ikut berusaha dalam suatu perbuatan atau pekerjaan tertentu untuk membuat dirinya diselamatkan. Pada kenyataannya pada waktu itu Paulus, yang adalah Saulus dari Tarsis, masih berada dalam pemberontakan yang keras terhadap jalan Tuhan. Paulus sedang menangkapi dan membunuh pengikut-pengikut "jalan Tuhan" (Injil Kasih Karunia). Dan Tuhan-lah yang harus melakukan semua pekerjaan-pekerjaan untuk membangkitkan jiwanya dari kematian rohani dan menghapuskan semua dosa-dosanya.
Dan bukti bahwa ini adalah saat keselamatan ketika Tuhan menyembuhkan Paulus dapat dilihat dalam pernyataan di kitab Kisah Para Rasul 9:18 yang kita baca demikian:
"Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis."
Ada selaput yang gugur dari matanya mengingatkan kita tentang pernyataan dalam kitab 2 Korintus 3:14-16 yang berkata demikian:
"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca Perjanjian Lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya KRISTUS saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan [yaitu Kristus], maka selubung itu diambil dari padanya."
Dengan kata lain, gugurnya selaput dari mata Paulus ini berarti mata rohaninya telah dibuka. Ia telah diselamatkan, telah disembuhkan secara rohani dan dosa-dosanya telah dihapuskan. Jadi kesimpulan yang kita dapatkan adalah di dalam Perjanjian Baru kata "baptisan" selalu digunakan untuk menerangkan "penyucian" atau "pembersihan" atau "pembasuhan" dari dosa-dosa kita.
Kata ini tidak pernah berarti untuk dicelup atau diselam. Dalam Perjanjian Lama, sebagai bagian dari tata cara ibadat, tiga metode diterapkan untuk menandakan penyucian rohani: kurban darah, kurban bakaran dan pembasuhan secara fisik. Tetapi tidak satupun dari tindakan tersebut yang dapat menyediakan penyucian rohani yang sebenarnya. Mereka hanya bernilai sebagai "bayangan" atau tanda atau kiasan yang menunjuk kepada penyucian yang akan disediakan melalui kematian dan kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus.
Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah sama seperti baptisan yang diberikan oleh murid-murid pada waktu "sebelum" peristiwa penyaliban, jadi pada dasarnya itu adalah sama dengan tata cara ibadat baptisan dalam Perjanjian Lama walaupun artinya rohaninya jauh lebih bermakna karena saat penyaliban sudah hampir tiba. Sedangkan baptisan Perjanjian Baru (yaitu baptisan Roh Kudus untuk penyucian dosa-dosa kita) dimulai "setelah" peristiwa kayu salib.
Dengan kata lain, sama seperti semua upacara-upacara ibadat semua upacara pembasuhan yang dilakukan di dalam Perjanjian Lama sebelum peristiwa kayu salib, bersama dengan pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan para murid adalah "bayangan" yang menunjuk kepada penyucian/pembasuhan/pembersihan yang disediakan oleh karya Tuhan Yesus Kristus pada kayu salib.
Itulah sebabnya dalam kitab Kisah Para Rasul 19:3-5 kita membaca demikian:
"Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes." Kata Paulus: "Baptisan Yohanes [yaitu baptisan jasmani] adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus PERCAYA kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus [yaitu baptisan rohani]."
Ketika Yesus menderita di kayu salib, Ia disucikan atau dibersihkan dari semua dosa-dosa yang ditanggungkan kepada diri-Nya. Jadi Ia menyediakan pembasuhan yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya sebagai penebus dari dosa-dosa mereka. Dan lebih lanjut, Yesus menggenapi seluruh hukum-hukum upacara yang merupakan bayangan di dalam Perjanjian Lama yang menunjuk kepada tindakan pembasuhan pada peristiwa kayu salib (Kolose 2:16-17).
Subscribe to:
Posts (Atom)